Kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan ....

kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan ....

Sekitar tahun 1524, Sunan Gunung Jati bersama anaknya, Maulana Hasanuddin, setelah mampir sebentar di Banten, kemudian menuju Banten Girang, ibu kota Kerajaan Sunda-Banten. Mereka segera pergi ke Gunung Pulasari yang menjulang di atas Teluk Lada. Seolah-olah gunung itu tujuan utamanya.

Sebab, gunung itu merupakan wilayah Bhramana Kandali. Di sana tinggal 800 ajar-ajar (pendeta) yang dipimpin oleh Prabu Pucuk Umun. Penting bagi mereka mendatangi gunung keramat itu untuk menaklukkan secara batin kerajaan yang mereka incar sebelum merebutnya secara militer. Saat itu, pengaruh Pakuan-Pajajaran atas Sunda-Banten melemah. Dalam Sajarah Banten, Pucuk Umun, yang digambarkan sebagai Panembahan Banten –sama dengan raja Sunda dalam sumber-sumber Portugis– menyatakan bahwa Pakuan-Pajajaran tidak lagi dipimpin oleh seorang raja melainkan oleh sejumlah bupati.

“Dapat diperkirakan bahwa negeri Banten memanfaatkan kelemahan Pajajaran untuk mendapatkan kembali kedaulatannya,” tulis Claude Guillot dalam Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X–XVII. Baca juga: Taktik Banten Taklukkan Pakuan Pajajaran Kerajaan Demak juga memanfaatkan merosotnya Pakuan-Pajajaran untuk mengincar Sunda-Banten.

Sekitar tahun 1520, Kerajaan Demak telah melancarkan beberapa kali serangan militer yang gagal. Ancaman Demak itu membuat penguasa Sunda-Banten meminta bantuan Portugis di Malaka.

“Untuk mempertahankan diri, Sunda-Banten cenderung meminta bantuan pada Malaka daripada Pakuan,” tulis Claude Guillot. Sebagai imbalan, Sunda-Banten menawarkan kepada Portugis kemudahan dalam berniaga dan biaya pembangunan benteng pertahanan asalkan menempatkan pasukan di dalamnya.

Pembangunan benteng direncanakan di muara Sungai Cisadane, di perbatasan barat kerajaan, untuk menahan serangan dari Demak. Portugis terlambat menanggapi tawaran itu. Di pengujung tahun 1526, Hasanuddin bersama dua ribu pasukan Demak merebut pelabuhan Banten dalam beberapa hari pertempuran. Mereka juga menghabisi pelaut kapal jenis brigantin yang karam karena khawatir orang Portugis itu akan membantu Sunda-Banten.

Setelah menguasai pelabuhan Banten, pasukan Demak menaklukkan Banten Girang, ibu kota Sunda-Banten, yang terletak sekitar sepuluh kilometer dari hulu pelabuhan. Baca juga: Mataram Batal Menyerang Banten Keberhasilan pasukan Demak itu karena pemimpin Sunda-Banten telah meninggal sekitar tahun 1526. “Pemimpin kota ini (Pucuk Umun, red.), yang dinamakan Sanghyang oleh sumber Portugis, baru saja meninggal, dan mungkin peristiwa inilah penyebab melemahnya perlawanan militer,” tulis Claude Guillot.

Selain itu, Hasanuddin juga mendapatkan bantuan dari dalam, yaitu Ki Kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan .

dan Agus Jo, petinggi Sunda-Banten, yang telah masuk Islam. “Dengan bantuan dari dalam, Ki Jongjo, salah seorang petinggi kota yang menjadi mualaf dan memihak kepada kaum Islam, pasukan Demak merebut pelabuhan Banten kemudian ibu kota Banten Girang,” tulis Claude Guillot.

Ki Jong dan Agus Jo disebut seorang ponggawa dari Pakuan-Pajajaran. Namun, Claude Guillot berpendapat bahwa Ki Jong dan Agus Jo adalah seorang Tionghoa atau berdarah Tionghoa.

Alasannya jauh sebelum masuknya Islam, orang Tionghoa telah datang ke Banten. Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya banyak pecahan keramik Cina di Banten Girang dan sekitarnya dari masa sebelum Dinasti Ming. Baca juga: Perang Banten-Cirebon di Akhir Ramadan “Juga terdapat tradisi penduduk terhadap dua makam yang masih ada di Banten Girang saat ini. Kedua makam ini dipercaya berada di tempat istana raja non-Islam terakhir, Pucuk Umun. Tradisi menyebutkan bahwa makam-makam itu adalah makam dua orang Tionghoa, Ki Jong dan Agus Jo, yang setelah memeluk agama Islam bekerja pada Raja Hasanuddin,” tulis Claude Guillot.

Ragam Pusaka Budaya Banten, yang diterbitkan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang, menyebut Sunan Gunung Jati menjadi penguasa pertama di Banten, tetapi tak mengangkat dirinya sebagai sultan, melainkan diserahkan kepada anaknya, Hasanuddin. Hasanuddin menikah dengan putri Sultan Demak Tranggana pada 1526, dan diangkat sebagai Sultan Banten yang pertama pada 1552.

Hasanuddin memerintah selama beberapa tahun di Banten Girang. Para pendeta yang telah memeluk Islam disarankan hidup menetap di Gunung Pulasari. Sebab, jika tempat itu sampai kosong akan menjadi tanda berakhirnya Tanah Jawa. Dalam Babad Banten diceritakan bahwa penduduk Banten Girang yang tidak mau masuk Islam melarikan diri ke pegunungan selatan yang sampai sekarang dihuni oleh keturunan mereka, yaitu orang Baduy. Kenyataan ini didukung kebiasaan orang Baduy berziarah ke Banten Girang. Baca juga: Raja Demak Terakhir Dimakamkan di Banten Sunan Gunung Jati kemudian memerintahkan Hasanuddin untuk memindahkan istana ke kawasan pesisir pantai di pantai utara Pulau Jawa bagian barat.

Setelah memastikan tempat untuk ibu kota yang kini dikenal dengan Banten Lama, Sunan Gunung Jati memberikan petunjuk kepada Hasanuddin agar di tempat itu dibangun keraton, alun-alun, dan pasar. “Jadi, dinasti Islam bukanlah pendiri Banten,” tulis Claude Guillot. “Sebenarnya dinasti ini merebut kekuasaan dalam sebuah negara yang memiliki sejarah panjang.” • Historia berhak me-non aktifkan account yang melanggar atau menggunakan program ilegal untuk mendapatkan poin tanpa pemberitahuan dahulu • Historia bekerja sama dengan pihak ke-3 untuk transaksi redeem point, dalam hal ini pihak ke-3 adalah GetPlus • Historia hanya menjadi platform untuk mengumpulkan poin, redeem poin hanya bisa dilakukan di platform pihak ke-3, dalam hal ini GetPlus • Setelah user redeem point di platform pihak ke-3, maka semua activity yang dilakukan menjadi tanggung jawab pihak ke-3 • Historia sebagai partner tidak bertanggung jawab apabila terjadi maintenance web, maintenance produk, dan atau hal - hal lainnya yang terjadi di pihak ke-3 maupun yang terjadi di Historia.id yang dapat mengganggu dalam perolehan poin user maupun dalam keterlambatan masuknya poin user • Historia sebagai partner tidak bertanggung jawab atas hilangnya Poin perolehan, dan atau perbedaan jumlah poin segala transaksi akan tercatat di dalam applikasi pihak ke-3 • Historia sebagai partner tidak bertanggung jawab atas perubahan-perubahan syarat & ketentuan yang dilakukan pihak ke-3 • Historia sebagai partner tidak bertanggung jawab atas data yang ada di pihak ke-3 • Historia sebagai partner tidak bertanggung jawab atas redeem yang dilakukan user di pihak ke-3 • Historia sebagai partner tidak bertanggung jawab atas hadiah yang disediakan oleh pihak ke-3 • Syarat dan Ketentuan lebih lanjut: https://www.mygetplus.id/terms-and-conditions Si A adalah petani yang sukses dan kaya suatu hari si A bertemu dengan si B yang juga petani yang lebih sukses dan kaya darinya keadaan tersebut membu … at si A tidak dapat senang pertanyaan yang sesuai dengan peristiwa tersebut adalah?.A.

si A senang bergibah B. si A melakukan fitnah C. terdapat sikap hasad dalam.diri di A D. si A dendam dengan si B ​
Hallo, Selamat Datang di Pendidikanmu.com, sebuah web tentang seputar pendidikan secara lengkap dan akurat. Saat ini admin pendidikanmu mau berbincang-bincang berhubungan dengan materi Kerajaan Banten? Admin pendidikanmu kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan . berbincang-bincang secara detail materi ini, antara lain: letak, sejarah, silsilah, masa kejayaan, runtuh, aspek kehidupan dan peninggalan.

Daftar Isi • Letak Kerajaan Banten • Sejarah Kerajaan Banten • Silsilah Kerajaan Banten • Masa Kejayaan Kerajaan Banten • Runtuhnya Kerajaan Banten • Raja-Raja Yang Terkenal Kerajaan Banten • Kehidupan Politik Kerajaan Banteng • Kehidupan Eknomi Kerajaan Banteng • Kehidupan Sosial Kerajaan Banteng • Kehidupan Budaya Kerajaan Banteng • Peninggalan Kerajaan Banten • Posting terkait: Letak Kerajaan Banten Secara geografis, Kerajaan Banten terletak di propinsi Banten.Wilayah kekuasaan Banten meliputi bagian barat Pulau Jawa, seluruh wilayah Lampung, dan sebagian wilayah selatan Jawa Barat.

Situs peninggalan Kerajaan Banten tersebar di beberapa kota seperti Tangerang, Serang, Cilegon, dan Pandeglang. Pada mulanya, wilayah Kesultanan Banten termasuk dalam kekuasaan Kerajaan Sunda. Kerajaan Banten menjadi penguasa jalur pelayaran dan perdagangan yang melalui Selat Sunda.Dengan posisi yang strategis ini Kerajaan Banten berkembang menjadi kerajaan besar di Pulau Jawa dan bahkan menjadi saingan berat bagi VOC di Batavia.

VOC merupakan perserikatan dagang yang dibuat oleh kolonial Belanda di wilayah kepulauan Nusantara. Sejarah Kerajaan Banten Kesultanan ini berawal sekitar tahun 1526 ketika Demak memperluas pengaruhnya dengan menaklukkan beberapa kawasan pelabuhan dan menjadikannya pangkalan militer serta kawasan perdagangan.

Pasukan Demak dipimpin oleh Fatahillah ( Faletehan) menantu Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Djati) dan adik ipar Fatahillah yaitu Pangeran Sabakingking atau lebih sohor dengan sebutan Maulanan Hasanuddin. Pada awalnya, kawasan Banten dikenal dengan nama Banten Girang yang merupakan bagian dari kerajaan Sunda (Pajajaran) yang bercorak Hindu.

Kedatangan pasukan kerajaan dibawah pimpinan Fatahillah dan Maulana Hasanuddin ke kawasan tersebut selain untuk perluasan wilayah juga sekaligus penyebaran dakwah Islam. Karena dipicu oleh adanya kerjasama Sunda-Portugis dalam bidang ekonomi dan politik, hal ini dianggap dapat membahayakan kedudukan Kerajaan Demak selepas kekalahan mereka mengusir Portugis dari Malaka tahun 1513.

Atas perintah Sultan Trenggono, Fatahillah ditugaskan untuk melakukan penyerangan dan penaklukkan Pelabuhan Sunda Kelapa, tetapi sebelum menyerang Banten, konon Fatahillah terlebih dahulu berkonsolidasi dengan mertuanya Syarif Hidayatullah yang saat itu diberikan kekuasaan oleh Sultan Demak untuk memerintah Cirebon.

Pada 1522, pasukan Demak dan Cirebon bergabung menuju Banten dibawah pimpinan Fatahillah, Syarif Hidayatullah, dan Maulana Hasanuddin juga ikut serta dalam penyerangan tersebut, Fatahillah mendirikan benteng pertahanan yang dinamakan Surosowan, yang kemudian hari menjadi pusat pemerintahan, yakni Kesultanan Banten. Pada tahun 1526 Banten berhasil direbut, termasuk Pelabuhan Sunda Kelapa yang waktu itu merupakan pelabuhan utama Kerajaan Pajajaran, kemudian diganti namanya menjadi Jayakarta.

Penguasaan atas Jayakarta berhasil menghambat gerak maju Portugis baik dari segi politis maupun ekonomis. Selanjutnya, pusat pemerintahan yang semula berkedudukan di Banten Girang dipindahkan ke Surosowan yang dekat pantai, hal ini dimaksudkan untuk memudahkan hubungan antara pesisir Sumatera sebelah barat melalui Selat Sunda dan Selat Malaka.

Pada masa itu Malaka telah jatuh dibawah kekuasaan Portugis, sehingga banyak pedagang yang mengalihkan jalur perdagangannya ke Sulat Sunda. Atas penunjukkan sultan Demak, pada tahun 1526 Maulana Hasanuddin diangkat sebagai Adipati Banten. Pada tahun 1552, Banten diubah menjadi kerajaan vassal dari Demak, dengan Maulana Hasanuddin sebagai pemimpinnya. Seiring kemunduran Demak terutama setelah meninggalnya Sultan Trenggana, Banten melepaskan diri dari vassal kerajaan Demak dan menjadi kesultanan yang mandiri.

Kota Surosowan didirikan sebagai ibu kota atas petunjuk Syarif Hidayatullah dan Maulana Hasanuddin menjadi sultan pertama, kendati demikian, Fatahillah tetap dianggap sebagai peletak dasar kesultanan Banten. Silsilah Kerajaan Banten • Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570) • Sultan Maulana Yusuf (1570-1580) • Sultan Maulana Muhammad (1580-1596) • Pangeran Ratu (1596-1651) • Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1672) • Sultan Haji (1672-1686) • Abdul Fadhl / Sultan Yahya (1687-1690) • Abul Mahasin Zainul Abidin (1690-1733) • Muhammad Syifa Zainul Ar / Sultan Arifin (1750-1752) • Muhammad Wasi Zainifin (1733-1750) • Syarifuddin Artu Wakilul Alimin (1752-1753) • Muhammad Arif Zainul Asyikin (1753-1773) • Abul Mafakir Muhammad Aliyuddin (1773-1799) • Muhyiddin Zainush Sholihin (1799-1801) • Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801-1802) • Wakil Pangeran Natawijaya (1802-1803) • Aliyuddin II (1803-1808) • Wakil Pangeran Suramanggala (1808-1809) • Muhammad Syafiuddin (1809-1813) • Muhammad Rafiuddin (1813-1820) Masa Kejayaan Kerajaan Banten Banten mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa.

Kejayaan tersebut berhasil diraih dalam berbagai bidang seperti politik, ekonomi, perdagangan, kebudayaan, maupun keagamaan. Dalam bidang politik misalnya, Banten selalu membangun hubungan persahabatan dengan daerah-daerah lainnya. Daerah-daerah sahabat Banten yang berada di wilayah nusantara antara lain Cirebon, Lampung, Gowa, Ternate, dan Aceh. Selain itu, Kesultanan Banten juga menjalin hubungan persahabatan dengan negara-negara lain yang jauh dari nusantara.

Salah satunya adalah dengan mengirim utusan diplomatik ke Inggris yang dipimpin oleh Tumenggung Naya Wipraya dan Jaya Sedana pada 10 November 1681. Dalam bidang ekonomi, Sultan Ageng Tirtayasa berhasil mengembangkan perdagangan Banten. Pada masanya, Banten menjadi salah satu tempat transit utama perdagangan internasional. Pedagang-pedagang dari berbagai negara, seperti Inggris, Perancis, Denmark, Portugis, Iran, India, Arab, Cina, Jepang, Filipina, Malayu, dan Turki datang ke sini untuk memasarkan barang komoditas dari negeri mereka.

Walaupun saat itu Banten menghadapi persaingan dengan VOC, tetapi Sultan Ageng Tirtayasa tetap mampu menarik pedagang mancanegara tersebut untuk tetap berdagang di Banten. Hal ini disebabkan Banten tidak menerapkan monopoli perdagangan seperti yang dijalankan oleh VOC. Sultan Ageng Tirtayasa juga mendirikan keraton baru di wilayah Tirtayasa untuk memperkuat pertahanan kesultanannya.

Dengan pembangunan keraton ini, wilayah Tirtayasa terus dibuka. Beliau membangun jalan dari Pontang ke Tirtayasa.

Tidak hanya itu, Sultan Ageng juga membuka lahan-lahan persawahan sepanjang jalan tersebut serta mengembangkan pemukiman warga di daerah Tangerang. Berita Terkait Perjanjian Kalijati Runtuhnya Kerajaan Banten Pada masa Sultan Ageng Tirtayasa berkuasa, Belanda sudah memulai taktik untuk menghancurkan Banten dari dalam, yakni dengan menghasut Sultan Haji, putra dari Sultan Ageng Tirtayasa. Belanda mengadu domba Sultan Haji dengan ayahnya. Mereka menyebarkan isu bahwa orang yang akan menjadi pewaris tahta Banten adalah Pangeran Purbaya saudara Sultan Kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan .

Hal ini membuat Sultan Haji merasa iri hati dan memutuskan untuk melancarkan serangan melawan ayahnya sendiri. Dengan bantuan Belanda, Sultan Haji akhirnya dapat melumpuhkan kesultanan Banten. Bahkan, karena peperangan antara ayah dan anak ini, Keraton Surosowan yang dibangun oleh nenek moyangnya hancur rata dengan tanah. Sultan Ageng Tirtayasa akhirnya dipenjara di Batavia hingga meninggal pada tahun 1692.

Alhasil, Sultan Haji yang bekerja sama dengan Belanda pun naik tahta. Sejak saat itu, Kesultanan Banten sangat dipengaruhi oleh Belanda.

kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan ....

Terlebih lagi setelah Sultan Haji mengadakan perjanjian dengan pihak Belanda. Namun, perjanjian yang dilakukan oleh Sultan Haji dengan Belanda ini justru merugikan Sultan Haji.

Beliau harus membayar 12.000 ringgit dan menyetujui pendirian Benteng Speelwijk. Akibatnya, ekonomi dan politik Banten di monopoli oleh Belanda. Pergantian sultan selalu dicampuri dengan kepentingan Belanda. Pemberontakan pun terus terjadi. Kesultanan Banten perlahan-lahan mulai mengalami kemunduran.

Puncaknya, pada tahun 1808 Belanda menghancurkan Istana Surosowan dan menggantinya dengan Kabupaten Serang, Waringin, dan Lebak di bawah pemerintahan Hindia-Belanda. Pada tahun 1813, Pemerintahan Inggris membubarkan Kesultanan Banten dan Pangeran Syafiudin yang sedang berkuasa dipaksa untuk turun tahta.

Saat itulah Kesultanan Banten runtuh. • Perang Saudara Sekitar tahun 1680 muncul perselisihan dalam Kesultanan Banten, akibat perebutan kekuasaan dan pertentangan antara Sultan Ageng dengan putranya Sultan Haji.Perpecahan ini dimanfaatkan oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang memberikan dukungan kepada Sultan Haji, sehingga perang saudara tidak dapat dielakkan.

Sementara dalam memperkuat posisinya, Sultan Haji atau Sultan Abu Nashar Abdul Qahar juga sempat mengirimkan 2 orang utusannya, menemui Raja Inggris di London tahun 1682 untuk mendapatkan dukungan serta bantuan persenjataan. Dalam perang ini Sultan Ageng terpaksa mundur dari istananya dan pindah ke kawasan yang disebut dengan Tirtayasa, namun pada 28 Desember1682 kawasan ini juga dikuasai oleh Sultan Haji bersama VOC. Sultan Ageng bersama putranya yang lain Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf dari Makasar mundur ke arah selatan pedalaman Sunda.

Namun pada 14 Maret1683 Sultan Ageng tertangkap kemudian ditahan di Batavia. Sementara VOC terus mengejar dan mematahkan perlawanan pengikut Sultan Ageng yang masih berada dalam pimpinan Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf.

kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan ....

Pada 5 Mei1683, VOC mengirim Untung Surapati yang berpangkat letnan beserta pasukan Balinya, bergabung dengan pasukan pimpinan Letnan Johannes Maurits van Happel menundukkan kawasan Pamotan dan Dayeuh Luhur, di mana pada 14 Desember1683 mereka berhasil menawan Syekh Yusuf. Sementara setelah terdesak akhirnya Pangeran Purbaya menyatakan menyerahkan diri.

Kemudian Untung Kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan . disuruh oleh Kapten Johan Ruisj untuk menjemput Pangeran Purbaya, dan dalam perjalanan membawa Pangeran Purbaya ke Batavia, mereka berjumpa dengan pasukan VOC yang dipimpin oleh Willem Kuffeler, namun terjadi pertikaian di antara mereka, puncaknya pada 28 Januari1684, pos pasukan Willem Kuffeler dihancurkan, dan berikutnya Untung Surapati beserta pengikutnya menjadi buronan VOC.

Sedangkan Pangeran Purbaya sendiri baru pada 7 Februari1684 sampai di Batavia. Raja-Raja Yang Terkenal Kerajaan Banten Antara lain sebagai berikut: • Maulana Hasanuddin Maulana Hasanuddin berandil besar dalam meletakkan fondasi Islam di Nusantara hal ini dibuktikan dengan berbagai bangunan peribadatan seperti masjid dan sarana-sarana pendidikan Islam seperti pesantren.

Ia juga dikenal sebagai sultan yang secara berkala mengirim mubaligh ke berbagai daerah yang telah dikuasainya. Pada masa jayanya, wilayah kekusaan Kesultanan meliputi Serang, Pandeglang, Lebak dan Tanggerang. • Maulana Yusuf Ia melanjutkan ekspansi Banten ke kawasan pedalaman Sunda dengan menaklukan Pakuan Pajajaran tahun 1579. Islam pun masuk ke wilayah pedalaman tersebut.

• Pangeran Ratu Sultan ini dikenal karena melakukan hubungan diplomasi dengan negara-negara lain termasuk dengan Raja Inggris, James I tahun 1605 dan tahun 1629 dengan Charles I. • Sultan Ageng Tirtayasa Pada masa pemerintahannya kesultanan Banten mengalami puncak kejayaaan. Banten semakin mengandalkan dan mengembangkan perdagangan.

Monopoli atas lada di Lampung menempatkan Banten sebagai pedagang perantara dan salah satu pusat niaga yang penting. Banten menerapkan cukai atas kapal-kapal yang singgah Banten. Pemungutan ini dilakukan oleh Syahbandar yang berada di kawasan yang dinamakan Pabean. Berita Terkait Hak Istimewa VOC Kehidupan Politik Kerajaan Banteng Seiring kemunduran Demak terutama setelah meninggalnya Sultan Trenggono, Banten yang sebelumnya vassal (kerajaan bawahan) Demak melepaskan diri dan menjadi kesultanan yang mandiri.

Kota Surosowan didirikan sebagai ibu kota atas petunjuk Syarif Hidayatullah dan Maulana Hasanuddin menjadi sultan pertama. Pada masa jayanya, wilayah kekuasaan Kesultanan Banten meliputi Serang, Pandeglang, Lebak, dan Tanggerang.

Banten semakin maju di bawah pemerintahan Sultan Hasanudin karena didukung oleh faktor-faktor berikut ini: • Letak Banten yang strategis terutama setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis, Banten menjadi bandar utama karena dilalui jalur perdagangan laut. • Banten menghasilkan rempah-rempah lada yang menjadi perdagangan utama bangsa Eropa menuju Asia. Penguasa Banten selanjutnya adalah Maulana Yusuf (1570-1580), putra Hasanuddin.

Di bawah kekuasaannya Kerajaan Banten pada tahun 1579 berhasil menaklukkan dan menguasai Kerajaan Pajajaran (Hindu).

kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan ....

Akibatnya pendukung setia Kerajaan Pajajaran menyingkir ke pedalaman, yaitu daerah Banten Selatan, mereka dikenal dengan Suku Badui. Maulana Yusuf digantikan oleh Maulana Muhammad (1580-1596). Pada akhir kekuasaannya, Maulana Muhammad menyerang Kesultanan Palembang. Dalam usaha menaklukkan Palembang, Maulana Muhammad tewas dan selanjutnya putra mahkotanya yang bernama Pangeran Ratu naik takhta.

Ia bergelar Sultan Abul Mufakhir Mahmud Abdul Kadir. Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaan pada masa putra Pangeran Ratu yang bernama Abdul Fattah yang bergelar Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682).Sultan Ageng mengadakan pembangunan, seperti jalan, pelabuhan, pasar, masjid yang pada dasarnya untuk meningkatkan kehidupan sosial ekonomi masyarakat Banten.

Namun sejak VOC turut campur tangan dalam pemerintahan Banten, kehidupan sosial masyarakatnya mengalami kemerosotan. Keadaan semakin memburuk ketika terjadi pertentangan antara Sultan Ageng dan Sultan Haji, putranya dari selir. Pertentangan ini berawal ketika Sultan Ageng mengangkat Pangeran Purbaya (putra kedua) sebagai putra mahkota.

Pengangkatan ini membuat iri Sultan Haji. Berbeda dengan ayahnya, Sultan Haji memihak VOC. Bahkan, dia meminta bantuan VOC untuk menyingkirkan Sultan Ageng dan Pangeran Purbaya. Sebagai imbalannya, VOC meminta Sultan Haji untuk menandatangani perjanjian pada tahun 1682 yang isinya, antara lain, Belanda mengakui Sultan Haji sebagai sultan di Banten; Banten harus melepaskan tuntutannya atas Cirebon; Banten tidak boleh berdagang lagi di daerah Maluku.

Pada tahun 1683, Sultan Ageng tertangkap oleh VOC sedangkan Pangeran Purbaya dapat meloloskan diri. Setelah menjadi tawanan Belanda selama delapan tahun, Sultan Ageng wafat (1692).

Adapun Pangeran Purbaya tertangkap oleh Untung Suropati, utusan Belanda, dan wafat pada tahun 1689. Kehidupan Eknomi Kerajaan Banteng Banten di bawah pemerintahan sultan ageng tirtayasa dapat berkembang menjadi bandar perdagangan dan pusat penyebaran agama islam.

Adapun faktor-faktornya ialah: • letaknya strategis dalam lalu lintas perdagangan. • jatuhnya malaka ke tangan portugis, sehingga para pedagang islam tidak lagi singgah di malaka namun langsung menuju banten, banten mempunyai bahan ekspor penting yakni lada.

Pada masa Sultan Ageng antara 1663 dan 1667 pekerjaan pengairan besar dilakukan untuk mengembangkan pertanian. Antara 30 dan 40 km kanal baru dibangun dengan menggunakan tenaga sebanyak 16.000 orang. Di sepanjang kanal tersebut, antara 30 dan 40 ribu hektar sawah baru dan ribuan hektar perkebunan kelapa ditanam. 30 000-anpetani ditempatkan di atas tanah tersebut, termasuk orang Bugis dan Makasar. Perkebunan tebu, yang didatangkan saudagar Cina pada tahun 1620-an, dikembangkan.

Banten yang menjadi maju banyak dikunjungi pedagang-pedagang dari arab, gujarat, persia, turki, cina dan sebagainya. Di kota dagang banten segera terbentuk perkampungan-perkampungan menurut asal bangsa itu, seperti orang-orang arab mendirikan kampung pakojan, orang cina mendirikan kampung pacinan, orang-orang indonesia mendirikan kampung banda, kampung jawa dan sebagainya. Kehidupan Sosial Kerajaan Banteng Sejak banten di-islamkan oleh fatahilah (faletehan) tahun 1527, kehidupan sosial masyarakat secara berangsur- angsur mulai berlandaskan ajaran-ajaran islam.

Kehidupan sosial masyarakat banten semasa sultan ageng tirtayasa cukup baik, karena sultan memerhatikan kehidupan dan kesejahteran rakyatnya. Namun setelah sultan ageng tirtayasa meninggal, dan adanya campur tangan belanda dalam berbagai kehidupan sosial masyarakat berubah merosot tajam.

Kehidupan Budaya Kerajaan Banteng Masyarakat yang berada pada wilayah Kesultanan Banten terdiri dari beragam etnis yang ada di Nusantara, antara lain: Sunda, Jawa, Melayu, Bugis, Makassar, dan Bali. Beragam suku tersebut memberi pengaruh terhadap perkembangan budaya di Banten dengan tetap berdasarkan aturan agama Islam.

Pengaruh budaya Asia lain didapatkan dari migrasi penduduk Cina akibat perang Fujian tahun 1676, serta keberadaan pedagang India dan Arab yang berinteraksi dengan masyarakat setempat.

Dalam bidang seni bangunan Banten kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan . seni bangunan Masjid Agung Banten yang dibangun pada abad ke-16. Selain itu, Kerajaan Banten memiliki bangunan istana dan bangunan gapura pada Istana Kaibon yang dibangun oleh Jan Lucas Cardeel, seorang Belanda yang telah memeluk agama Islam.

Sejumlah peninggalan bersejarah di Banten saat ini dikembangkan menjadi tempat wisata sejarah yang banyak menarik kunjungan wisatawan dari dalam dan luar negeri. Peninggalan Kerajaan Banten Peninggalan pertama dari Kesultanan Banten adalah Masjid Agung Banten. Masjid Agung Banten dibangun oleh Sultan Banten, yakni Maulana Hassanuddin dan putranya Maulana Yusuf pada bulan Dzulhijjah tahun 966 H atau 1566 M.

Masjid Agung ini merupakan salah satu peninggalan yang sangat penting dikarenakan itu adalah salah satu dari 4 komponen utama yang “wajib” ada di pusat kota Jawa zaman dahulu. Masjid ini berlokasi di Desa Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Provinsi Banten. Berita Terkait Materi Perjanjian Roem Royen Masjid Agung Banten memiliki keunikan arsitektur tersendiri. Hal ini dikarenakan Masjid Agung Banten dirancang oleh tiga orang arsitek yang berasal dari tiga bangsa yang berbeda.

Tiga orang arsitektur tersebut adalah Raden Sepat, seorang arsitek yang berasal dari Majapahit yang juga menggarap Masjid Cirebon, Tjek Ban Tjut yang berasal dari Cina serta Hendrik Lucaz Kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan ., seorang Belanda yang sudah masuk Islam dan menjadi anggota kesultanan.

Masjid ini memiliki tiga corak arsitektur yang berbeda. Yang pertama, arsitektur lokal yang bisa terlihat dari empat sakaguru yang menopang masjid ini. Di tengahnya terdapat mimbar berukiran lokal.

Arsitektur kedua adalah Cina yang terlihat dari bentuk atap paling atas masjid yang khas dengan bentuk atap Cina. Selain menegaskan kebudayaan Cina, atap masjid yang bertingkat lima juga menyimbolkan rukun Islam. Arsitektur yang ketiga adalah Belanda yang dipoleskan pada Menara setinggi 24 m yang berdiri tegak di sebelah timur masjid.

Dengan model tangga spiral serta kepala dua tingkatnya, menara ini menjadi pelengkap tiga kebudayaan yang diabadikan. Pada zaman dahulu menara ini difungsikan untuk mengumandangkan adzan serta sebagai menara pandang lepas pantai atau mercusuar. Karena hasil karyanya ini, dua dari mereka dianugerahi gelar Bangsawan yaitu Tjek Ban Tjut yang diberi nama Pangeran Adiguna dan Hendrik Lucaz Cardeel dengan nama Pangeran Wiraguna. Selain bangunan-bangunan di atas, di kompleks masjid ini juga ada sebuah paviliun di sebelah selatan masjid yang bernama Tiyamah.

Bangunan ini berbentuk persegi empat bertingkat. Bangunan ini biasanya digunakan untuk musyawarah tentang permasalahan keagamaan. Di kawasan ini terdapat juga makam Raja- raja Kesultanan Banten.

kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan ....

Kini masjid ini menjadi salah satu objek wisata yang padat dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai daerah yang biasanya bermaksud untuk berziarah. Namun, tidak jarang juga masjid ini menjadi tujuan bagi turis-turis asing yang ingin melihat keindahan sisa-sisa kejayaan Kesultanan Banten. Peninggalan lain dari Kesultanan Banten adalah Keraton Surosowan.

Keraton Surosowan pertama kali didirikan oleh Sultan Hassanudin (1552-1570). Nama Surosowan diberikan oleh sultan sendiri dengan petunjuk dari ayahnya, Sunan Gunung Jati. Surosowan juga memiliki nama-nama lain seperti gedong kedaton Pakuwuan dan “ Fort Diamond” yang berarti kota intan.

Nama “ Fort Diamond” diberikan oleh orang-orang Belanda. Sejak pertama kali dibangun, Keraton Surosowan telah mengalami berbagai perubahan bentuk. Mengikuti pola yang sama dengan pusat kota Jawa pada umumnya, keraton ini terletak di sebelah selatan alun-alun dengan masjid di sebelah barat keraton, pasar karatangu di sebelah timurnya, dan dilengkapi dengan pelabuhan yang ada di sebelah utara.

Di keraton ini juga diletakkan sebuah batu keramat yang juga terdapat di alun-alun bernama Watu Gilang. Konon, batu ini merupakan mandat dari Sunan Gunung Jati. Jika batu ini bergeser dari tempatnya, itu berarti tidak lama lagi Kesultanan Banten akan mengalami keruntuhan. Pada tahun 1596, keraton ini masih terlihat sangat sederhana yakni berupa bangunan rumah yang dikelilingi oleh pagar dan beberapa bangunan yang berada di selatan alun-alun. Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, Keraton ini mengalami kehancuran total hingga rata dengan tanah akibat adanya perang antara Sultan dengan anaknya sendiri yakni Sultan Haji.

Setelah Sultan Haji naik tahta, keraton Surosowan dibangun kembali dengan bantuan Belanda. Bangunan ini dirancang oleh seorang arsitek Belanda yang bernama Hendrik Lucaszoon Cardeel pada tahin 1680-1681. Namun, pada tahun 1808, keraton ini kembali dihancurkan oleh Belanda setelah terjadi perselisihan antara Sultan dengan Belanda. Dan sekarang sisa-sisa reruntuhan Keraton Surosowan ini kita lihat di Kampung Kasemen, kecamatan Kasemen, kabupaten Serang.

Selain dua peninggalan di atas, masih ada beberapa peninggalan lainnya. Salah satunya adalah Benteng Speelwijk. Benteng ini didirikan pada tahun 1684-1685. Namanya diambil dari nama seorang gubernur Jenderal VOC yang bernama Speelma. Bangunan ini diarsitekturi oleh Hendrik Lucaszoon Cardeel yang juga merancang arsitektur Masjid Agung Banten. Benteng Speelwijk merupakan lambang keruntuhan kedaulatan dan independensi Kesultanan Banten.

Dengan didirikannya benteng ini oleh VOC, berarti Kesultanan Banten sudah berada di bawah kendali VOC. Posting terkait: • Pengertian WHO, Sejarah, Tujuan dan Fungsi Serta Kegiatan WHO • Sejarah dan Perkembangan Bank Rakyat Indonesia • Materi Tentang Kerajaan Kediri Posting pada Sejarah Ditag apa yang kamu ketahui tentang fatahillah, aria sabakingking, cerita sejarah banten lama, ciri ciri keturunan banten, demak mencapai puncak kejayaan pada masa, dispereert niet yang berarti, drama kerajaan banten singkat, faktor kemajuan kerajaan banten, gambar peta konsep kerajaan banten, gelar raja dengan konsep islam yaitu, istri sultan hasanudin banten, kata pengantar makalah kerajaan banten, kehidupan ekonomi kerajaan banten, kehidupan politik kerajaan banten, keistimewaan sultan baabullah dari ternate, kejayaan kerajaan banten, kemajuan dan kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan .

kerajaan banten, kemajuan yang dicapai oleh kerajaan makassar, kemunduran kerajaan banten brainly, kerajaan demak berdiri dilatarbelakangi oleh, kerajaan islam banjar, kerajaan ternate dan tidore terletak di pulau, keruntuhan kerajaan banten, kesultanan cirebon, kesultanan makassar, kota kuno banten, lampung diserahkan kepada voc pada tahun, latar belakang berdirinya kerajaan banten, letak kerajaan banten, letak kerajaan cirebon, makalah kerajaan banten, peninggalan kerajaan banten, peninggalan kerajaan banten brainly, peninggalan sultan agung, penyebab kemunduran kerajaan gowa tallo, perang saudara di banten disebabkan oleh, peristiwa penting kerajaan banten, perkembangan kerajaan banten, peta konsep kerajaan banten, poto sultan banten, ppt kerajaan banten, puncak kejayaan banten tercapai pada tahun, raja raja kerajaan banten, raja terakhir kerajaan banten, ratu pembayun banten, runtuhnya kerajaan banten, runtuhnya mataram islam, sejarah berdirinya kerajaan banjar, silsilah kerajaan banten, silsilah kerajaan banten brainly, silsilah keturunan tubagus, silsilah sultan ageng tirtayasa, wawasan banten Pos-pos Terbaru • Pengertian Evolusi • Pengertian Proxy • Pengertian Koordinasi • Pengertian Hipotesis • Materi Korupsi • Materi Seni Anyam • Total Quality Management • Pusat Pertumbuhan adalah • Pengertian Media Gambar • Pengertian Gerhana Matahari • Pengertian Etimologi • Pengertian Penelitian • Pengertian APBD • Pengertian Kredit • Pengertian Kebijakan Moneter Bank Sentral • Cara Mengatasi Inflasi • Materi Planet • Tujuan Otonomi Daerah • Materi Scanner • Materi Seni Tradisional Kerajaan Banten - Foto : id(dot)wikipedia(dot)org Kerajaan Banten atau yang dulunya dikenal sebagai Kesultanan Banten merupakan kerajaan Islam yang berdiri di Provinsi Banten.

Kerajaan Islam ini memiliki perjalanan yang cukup panjang hingga akhirnya tergantikan oleh sistem pemerintahan Hindia-Belanda yang saat itu tengah berkuasa di Indonesia. Perjalanan Kerajaan Di Banten Situasi Banten Lama -Foto : map-bms(dot)wikipedia(dot)org Sebelum resmi menjadi sebuah kerajaan Islam, Banten dulunya dikenal sebagai Banten Girang yang merupakan bagian dari Kerajaan Sunda.

Sekitar tahun 1526, Kerajaan Demak yang merupakan kerajaan Islam terbesar kala itu melakukan penaklukan di kawasan pesisir barat Pulau Jawa.

Penaklukan yang dilakukan Kerajaan Demak juga berdampak pada wilayah Banten Girang yang berada dekat dengan pelabuhan-pelabuhan yang kemudian berhasil dikuasai. Kedatangan Kerajaan Demak yang dipimpin oleh Maulana Hasanudin sebenarnya dilatarbelakangi oleh adanya jalinan kerjasama antara Kerajaan Sunda dan Portugal dibidang politik dan ekonomi. Hal ini dikhawatirkan dinilai dapat membahayakan kedudukan Kerajaan Demak yang telah berhasil mengalahkan Portugal di Melaka pada 1513.

Sultan Maulana Hasanudin Banten - Foto : jakartapedia(dot)bpadjakarta(dot)net Selain itu, pasukan bersama Maulana Hasanudin juga berhubungan dengan usaha Kerajaan Demak untuk menyebarkan ajaran Islam ke seluruh Nusantara. Oleh karena itu, atas perintah Trenggana juga Fatahillah, sekitar tahun 1527 Pelabuhan Kelapa yang kala itu merupakan pelabuhan utama Kerajaan Sunda berhasil ditaklukan.

Selain membangun benteng pertahanan di wilayah Banten, Maulana Hasanudin juga memperluas kekuasaannya di daerah penghasil lada, Lampung. Maulana Hasanudin yang merupakan utusan dari Kerajaan Demak juga berperan dalam penyebaran agama Islam di kawasan tersebut dan melakukan kerjasama perdaangan dengan Raja Malangkabu yang sekarang dikenal sebagai Minangkabau dari Kerajaan Inderapura.

Raja Malangkabu yang kala itu dipimpin oleh Sultan Munawar Syah kemudian menganugerahi Maulana Hasanudin dengan keris. Kondisi Banten Sekitar Tahun 1600-an - Foto : mirajnews(dot)com Seiring dengan kemunduran Kerajaan Demak yang telah ditinggalkan oleh Trenggono wafat, Banten pun akhirnya memisahkan diri dari Demak dan menjadi kerajaan yang Mandiri.

Awal berdirinya Kerajaan Banten dimulai oleh naik tahtanya Maulana Yusuf yang merupakan anak dari Maulana Hasanudin. Sekitar tahun 1570, Maulana Yusuf yang baru naik tahta kemudian menaklukan Pakuan Pajajaran. Melalui ekspansi ke kawasan pedalaman Sunda, pada 1579 Pakuan Pajajaran pun berhasil ditaklukan.

Setelah berhasil menaklukan Pakuan Pajajan, Maulana Yusuf yang digantikan oleh anaknya yang bernama Maulana Muhammad mencoba menguasai Palembang pada 1596. Hal ini dilakukan untuk mempersempit langkah Portugal di Nusantara. Namun, ditengah penaklukan yang dilakuka, Maulana Muhammad meninggal dan gagal akan usahanya dalam menyelamatkan Nusantara dari tangan Portugal ketika itu.

Sultan Ageng Tirtayasa - Foto : zonangelmu(dot)blogspot(dot)com Kerajaan Islam dari Banten pun semakin lama semakin Berjaya, puncaknya di tahun 1651-1682 ketika Kerajaan di Banten tersebut dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Dibawah pimpinannya, Banten berhasil memiliki armada sekelas Eropa, bahkan mempekerjakan orang Eropa untuk Kesultanan Banten kala itu.

Di masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, Banten berhasil menaklukan Kerajaan Tanjungpura yang kini dikenal sebagai wilayah Kalimantan Barat pada tahun 1661. Banten juga pada masa itu berusaha keluar dari cengkraman VOC yang sebelumnya telah memblokade kapal-kapal dagang yang akan berlayar menuju Banten.

Ilustrasi Pertempuran VOC dan Kesultanan Banten 1680-an - Foto : historia(dot)id Kemajuan Kesultanan Banten dibawah pimpinan Sultan Ageng Tirtayasa pun terus berjalan, hingga sekitar tahun 1680an, perselisihan dalam Kesultanan Banten pun terjadi. Kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan . dalam Kerajaan Banten ini disebabkan oleh adanya perebutan kekuasaan dan pertentangan antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji yang merupakan anaknya sendiri.

Konflik intern ini dimanfaatkan oleh VOC yang memberikan dukungan serta bantuan persenjataan kepada pihak Sultan Haji, sehingga perang saudara pun akhirnya terjadi.

kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan ....

Hubungan VOC dan Sultan Haji Banten - Foto : ft-untirta(dot)ac(dot)id Dari perang saudara yang tidak lain adalah anaknya sendiri, Sultan Ageng pun akhirnya terpaksa mundur dari istana dan pindah ke kawasan yang dikenal dengan sebutan Tirtayasa. Namun pada 28 Desember 1682, kawasan Tirtayasa ini pun dikuasai oleh pihak Sultan Haji dan VOC dan membuat Sultan Ageng bersama putra yang lain pun mundur dari Makasar menuju selatan ke arah pedalaman Sunda.

Kemudian pada 14 Maret 1683, Sultan Ageng pun tertangkap dan ditahan di Batavia. Ditangkapnya Sultan Ageng ternyata tidak membuat pihak VOC berhenti. Pada 5 Mei 1683 VOC kemudian mengutus Untung Surapati yang berpangkat letnan bersama pasukan Balinya bergabung dengan pasukan dari Letnan Johannes Maurits van Happel untuk menaklukan kawasan Pamotan dan Dayeuh Luhur.

Pasukan yang dipimpin oleh dua orang berpangkat letnan itu pun pada 14 Desember 1683 kemudian berhasil menaklukan daerah tersebut dan menangkap Syekh Yusuf yang merupakan anak dari Sultan Ageng yang ikut dalam pertempuran Sultan Ageng. Pangeran Purbaya yang juga anak Sultan Ageng kemudian menyerahkan diri karena kondisinya yang semakin terdesak.

Untung Surapati - Foto : ruanasagita(dot)blogspot(dot)com Penyerahan diri putra dari Sultan Ageng ini pun tidak dilewatkan begitu saja oleh pihak musuh.

Untung Surapati yang pada saat itu menjadi pemimpin pasukan, diperintahkan oleh Kapten Johan Ruisj untuk menjemput Pangeran Purbaya. Ditengah perjalanan untuk membawa Pangeran Purbaya ke Batavia, pasukan Untung Surapati dihadang oleh pasukan VOC yang dipimpin oleh Willem Kuffeler yang mengakibatkan pertempuran di antara pasukan besar tersebut.

Pada 28 Januari 1684, pos pasukan Willem Kuffeler berhasil dihancurkan oleh pasukan Untung Surapati yang kahirnya menyebabkan Untung Surapati menjadi buronan VOC. Disamping itu, Pangeran Purbaya yang menjadi tawanan pun tetap berhasil dibawa ke Batavia pada 7 Febuari 1684. Syekh Yusuf dan Pangeran Purbaya Banten - Foto : humaspdg(dot)wordpress(dot)com Kerajaan Banten yang dipimpin oleh Sultan Haji pun berjalan dengan baik hingga pada tahun 1687, Sultan Haji pun meninggal dunia.

Disaat inilah VOC mulai mencengkram pengaruhnya di kerajaan Islam di Pulau Jawa tersebut. Sepeninggalnya Sultan Haji, pengangkatan Sultan Banten pun kini diambil alih oleh Gubernur Hindia-Belanda. Dan kedudukan Sultan Haji pun digantikan oleh Sultan Abu Fadhl Muhammad Yahya yang berkuasa selama tiga tahun.

Selepas Sultan Abu Fadhl Muhammad Yahya, kepemimpinan Kesultanan Banten pun digantikan oleh saudaranya, yaitu Pangeran Adipati yang diberi gelar Sultan Abu Mahasin Muhammad Zainul Abidin. Pangeran Adipati ini juga dikenal sebagai raja dengan gelar Kang Sinuhun ing Nagari Banten. Herman Willem Deandels - Foto : majalah(dot)tempo(dot)co Selepas pergantian Kesultanan Banten tersebut, Gubernur Jendral Hindia-Belanda yang kala itu dipimpin oleh Herman Willem Deandels memerintahkan kepada Sultan Banten memindahkan ibukotanya ke Anyer dan menyediakan tenaga kerja untuk membangun Jalan Raya Pos.

pembangunan jalan raya tersebut bertujuan untuk mempertahankan Pulau Jawa dari Serangan Inggris. Namun, Sultan Banten yang kala itu dipimpinn oleh Sultan Abu Mahasin Muhammad Zainul Abidin menolak. Penolakan Sultan Abu Mahasin Muhammad Zainul Abidin ini membuat Willem Deandels murka dan melakukan penyerangan atas Banten.

Tidak hanya itu, pasukan dari Willem Deandels pun menghancurkan Istana Surosowan yang merupakan tempat tinggal sultan beserta keluarga. Sultan beserta keluarga kemudian disekap di Istana Surosowan atau Puri Intan dan dipenjarakan di Benteng Speelwijk. Sisa-sisa Benteng Speelwijk - Foto : portal(dot)cbn(dot)net(dot)id Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqin yang merupakan sultan yang menggantikan Sultan Abu Mahasin Muhammad Zainul Abidin kemudian diasingkan dan dibuang ke Batavia.

Dari peristiwa tersebut, wilayah Kerajaan Banten pun menjadi wilayah kekuasaan Hindia-Belanda dengan ditandai oleh pengumuman resmi dari Deandels pada 22 November 1808. Masa Kerajaan Banten - Foto : id(dot)wikipedia(dot)org Akhirnya pada tahun 1813, pemerintahan kolonial Inggris yang kala itu berkuasa ditanah Nusantara resmi menghapus Kesultanan Banten.

Pada tahun yang sama pula Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin yang merupakan pimpinan dari sisa-sisa kerajaan di Banten tersebut dilucuti dan dipaksa turun tahta oleh Thomas Stamford Raffles.

Inilah masa dimana Kerajaan di Banten pun berakhir. Baca juga : Tempat Wisata di Bandung Barat yang Punya Keunikan
Kesulatan Banten adalah salah satu kerajaan islam yang pernah mencapai puncak kejayaan yang luar biasa selama hampir 3 abad. Kesultanan terbentuk di Provinsi Banten berawal sekitar tahun 1526, ketika Kerajaan Demak memperluas pengaruhnya ke kawasan pesisir barat Pulau Jawa, dengan menaklukan beberapa kawasan pelabuhan kemudian menjadikannya sebagai pangkalan militer serta kawasan perdagangan.

Dalam proses perluasan kawasan itu Maulana Hasanuddin, putera Sunan Gunung Jati berperan dalam penaklukan tersebut dan beliau mendirikan benteng pertahanan yang dinamakan Surosowan, inilah awal cikal bakal berdirinya kesultanan banten.

Berdasarkan data arkeologis, masa awal masyarakat Banten dipengaruhi oleh beberapa kerajaan yang membawa keyakinan Hindu-Budha, seperti Tarumanagara, Sriwijaya dan Kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan . Sunda. Sebelum Islam berkembang di Banten, masyarakat Banten masih hidup dalam tata cara kehidupan tradisi prasejarah dan dalam abad-abad permulaan masehi ketika agama Hindu berkembang di Indonesia.

Hal ini dapat dilihat dari peninggalan purbakala dalam bentuk prasasti arca-arca yang bersifat Hiduistik dan bangunan keagamaan lainnya.

kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan ....

Sumber naskah kuno dari masa pra Islam menyebutkan tentang kehidupan masyarakat yang menganut Hindu. Selain itu di Banten terdapat sisa-sisa kebudayaan megalitik tua (4500 SM hingga awal masehi) seperti menhir di lereng gunung Karang di Padeglang, dolmen dan patung-patung simbolis dari desa Sanghiang Dengdek di Menes, kubur tempayan di Anyer, kapak batu di Cigeulis, batu bergores di Ciderasi desa Palanyar Cimanuk, dan lain sebagainya.

(Sukendar;1976:1-6) Penggunaan alat-alat kebutuhan yang dibuat dari perunggu yang terkenal dengan kebudayaan Dong Son (500-300 SM) juga mempengaruhi penduduk Banten. Hal ini terlihat dengan ditemukannya kapak corong terbuat dari perunggu di daerah Pamarayan, Kopo Pandeglang, Cikupa, Cipari dan Babakan Tanggerang.

Baca Juga : Sejarah Kerajaan Islam Kesultanan Kadriah Pontianak Kalimantan Barat Pada awalnya Kawasan Banten juga dikenal dengan Banten Girang merupakan bagian dari Kerajaan Sunda. Kedatangan pasukan Kerajaan Demak di bawah pimpinan Maulana Hasanuddin ke kawasan tersebut selain untuk perluasan wilayah juga sekaligus penyebaran dakwah Islam. Kemudian dipicu oleh adanya kerjasama Sunda-Portugal dalam bidang ekonomi dan politik, hal ini dianggap dapat membahayakan kedudukan Kerajaan Demak selepas kekalahan mereka mengusir Portugal dari Melaka tahun 1513.

Atas perintah Trenggana, bersama dengan Fatahillah melakukan penyerangan dan penaklukkan Pelabuhan Kelapa sekitar tahun 1527, yang waktu itu masih merupakan pelabuhan utama dari Kerajaan Sunda. Penyebaran Islam di Banten dilakukan oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, pada tahun 1525 M dan 1526 M.

Seperti di dalam naskah Purwaka Tjaruban Nagari disebutkan bahwa Syarif Hidayatullah setelah belajar di Pasai mendarat di Banten untuk meneruskan penyebaran agama Islam yang sebelumnya telah dilakukan oleh Sunan Ampel. Pada tahun 1475 M, beliau menikah dengan adik bupati Banten yang bernama Nhay Kawunganten, dua tahun kemudian lahirlah anak perempuan pertama yang diberinama Ratu Winahon dan pada tahun berikutnya lahir pula pangeran Hasanuddin.

(Atja;1972:26) Setelah Pangeran Hasanuddin menginjak dewasa, syarif Hidayatullah pergi ke Cirebon mengemban tugas sebagai Tumenggung di sana. Adapun tugasnya dalam penyebaran Islam di Banten diserahkan kepada Pangeran Hasanuddin, di dalam usaha penyebaran agama Islam Ini Pangeran Hasanuddin berkeliling dari daerah ke daerah seperti dari G.

Pulosari, G. Karang bahkan sampai ke Pulau Panaitan di Ujung Kulon. (Djajadiningrat;1983:34) Sehingga berangsur-angsur penduduk Banten Utara memeluk kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan .

Islam. (Roesjan;1954:10) Dalam Babad Banten menceritakan bagaimana Sunan Gunung Jati bersama Maulana Hasanuddin, melakukan penyebaran agama Islam secara intensif kepada penguasa Banten Girang beserta penduduknya. Beberapa cerita mistis juga mengiringi proses islamisasi di Banten, termasuk ketika pada masa Maulana Yusuf mulai menyebarkan dakwah kepada penduduk pedalaman Sunda, yang ditandai dengan penaklukan Pakuan Pajajaran. Selain mulai membangun benteng pertahanan di Banten, Maulana Hasanuddin juga melanjutkan perluasan kekuasaan ke daerah penghasil lada di Lampung.

Ia berperan dalam penyebaran Islam di kawasan tersebut, selain itu ia juga telah melakukan kontak dagang dengan raja Malangkabu(Minangkabau, Kerajaan Inderapura), Sultan Munawar Syah dan dianugerahi keris oleh raja tersebut. Islam menjadi pilar pendirian Kesultanan Banten, Sultan Banten dirujuk memiliki silsilah sampai kepada Nabi Muhammad, dan menempatkan para ulama memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan masyarakatnya, seiring itu tarekat maupun tasawuf juga berkembang di Banten.

kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan ....

Sementara budaya masyarakat menyerap Islam sebagai bagian yang tidak terpisahkan. Beberapa tradisi yang ada dipengaruhi oleh perkembangan Islam di masyarakat, seperti terlihat pada kesenian bela diri Debus. Karena semakin besar dan maju daerah Banten, maka pada tahun 1552 M, Kadipaten Banten dirubah menjadi negara bagian Demak dengan Pangeran Hasanuddin sebagai Sultannya.

Atas petunjuk dari Syarif Hidayatullah pusat pemerintahan Banten dipindahkan dari Banten Girang ke dekat pelabuhan di Banten Lor yang terletak dipesisir utara yang sekarang menjadi Keraton Surosowan. (Djajadiningrat;1983:144) Pada tahun 1568 M, saat itu Kesultanan Demak runtuh dan digantikan kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan . Panjang, Barulah Sultan Hasanuddin memproklamirkan Banten sebagai negara merdeka, lepas dari pengaruh Demak atau pun Panjang (Hamka;1976:181) Disamping itu Banten juga menjadi pusat penyebaran agama Islam, banyak orang-orang dari luar daerah yang sengaja datang untuk belajar, sehingga tumbuhlah beberapa perguruan Islam di Banten seperti yang ada di Kasunyatan.

Ditempat ini berdiri masjid Kasunyatan yang umurnya lebih tua dari masjid Agung Banten. (Ismail;1983:35) Disinilah tempat tinggal dan mengajarnya Kiayi Dukuh yang bergelar Pangeran Kasunyatan guru dari Pangeran Yusuf. (Djajadiningrat;1983:163) Seiring dengan kemunduran Demak terutama setelah meninggalnya Trenggana, Banten yang sebelumnya vazal dari Kerajaan Demak, mulai melepaskan diri dan menjadi kerajaan yang mandiri. Maulana Yusuf anak dari Maulana Hasanuddin, naik tahta pada tahun 1570 melanjutkan ekspansi Banten ke kawasan pedalaman Sunda dengan menaklukkan Pakuan Pajajaran tahun 1579.

Kemudian ia digantikan anaknya Maulana Muhammad, yang mencoba menguasai Palembang tahun 1596 sebagai bagian dari usaha Banten dalam mempersempit gerakan Portugal di nusantara, namun gagal karena ia meninggal dalam penaklukkan tersebut. Pada masa Pangeran Ratu anak dari Maulana Muhammad, ia menjadi raja pertama di Pulau Jawa yang mengambil gelar "Sultan" pada tahun 1638 dengan nama Arab Abu al-Mafakhir Mahmud Abdulkadir.

Pada masa ini Sultan Banten telah mulai secara intensif melakukan hubungan diplomasi dengan kekuatan lain yang ada pada waktu itu, salah satu diketahui surat Sultan Banten kepada Raja Inggris, James I tahun 1605 dan tahun 1629 kepada Charles I.

Setelah Banten muncul sebagai kerajaan yang mandiri, penguasanya menggunakan gelar Sultan, sementara dalam lingkaran istana terdapat gelar Pangeran Ratu,Pangeran Adipati, Pangeran Gusti, dan Pangeran Anom yang disandang oleh para pewaris. Pada pemerintahan Banten terdapat seseorang dengan gelarMangkubumi, Kadi, Patih serta Syahbandar yang memiliki peran dalam administrasi pemerintahan.

Sementara pada masyarakat Banten terdapat kelompokbangsawan yang digelari dengan tubagus (Ratu Bagus), ratu atau sayyid, dan golongan khusus lainya yang mendapat kedudukan istimewa adalah terdiri atas kaum ulama, pamong praja, serta kaum jawara. Pusat pemerintahan Banten berada antara dua buah sungai yaitu Ci Banten dan Ci Karangantu. Di kawasan tersebut dahulunya juga didirikan pasar, alun-alun danIstana Surosowan yang dikelilingi oleh tembok beserta parit, sementara disebelah utara dari istana dibangun Masjid Agung Banten dengan menara berbentukmercusuar yang kemungkinan dahulunya juga berfungsi sebagai menara pengawas untuk melihat kedatangan kapal di Banten.

Berdasarkan Sejarah Banten, lokasi pasar utama di Banten berada antara Masjid Agung Banten dan Ci Banten, dan dikenal dengan nama Kapalembangan. Sementara pada kawasan alun-alun terdapat paseban yang digunakan oleh Sultan Banten sebagai tempat untuk menyampaikan maklumat kepada rakyatnya. Secara keseluruhan rancangan kota Banten berbentuk segi empat yang dpengaruhi oleh konsep Hindu-Budha atau representasi yang dikenal dengan namamandala.

Selain itu pada kawasan kota terdapat beberapa kampung yang mewakili etnis tertentu, seperti Kampung Pekojan (Persia) dan Kampung Pecinan. Kesultanan Banten telah menerapkan cukai atas kapal-kapal yang singah ke Banten, pemungutan cukai ini dilakukan oleh Syahbandar yang berada di kawasan yang dinamakan Pabean.

Salah seorang syahbandar yang terkenal pada masa Sultan Ageng bernama Syahbandar Kaytsu. Baca Juga : Sejarah Perkembangan Islam di Pulau Jawa Kesultanan Banten merupakan kerajaan maritim dan mengandalkan perdagangan dalam menopang perekonomiannya. Monopoli atas perdagangan lada di Lampung, menempatkan penguasa Banten sekaligus sebagai pedagang perantara dan Kesultanan Banten berkembang pesat, menjadi salah satu pusat niaga yang penting pada masa itu.

Perdagangan laut berkembang ke seluruh Nusantara, Banten menjadi kawasan multi-etnis. Dibantu orang Inggris,Denmark dan Tionghoa, Banten berdagang dengan Persia, India, Siam, Vietnam, Filipina, Cina dan Jepang. Masa Sultan Ageng Tirtayasa (bertahta 1651-1682) dipandang sebagai masa kejayaan Banten. Di bawah dia, Banten memiliki armada yang mengesankan, dibangun atas contoh Eropa, serta juga telah mengupah orang Eropa bekerja pada Kesultanan Banten. Dalam mengamankan jalur pelayarannya Banten juga mengirimkan armada lautnya ke Sukadana atau Kerajaan Tanjungpura (Kalimantan Barat sekarang) dan menaklukkannya tahun1661.

Pada masa ini Banten juga berusaha keluar dari tekanan yang dilakukan VOC, yang sebelumnya telah melakukan blokade atas kapal-kapal dagang menuju Banten. Sekitar tahun 1680 muncul perselisihan dalam Kesultanan Banten, akibat perebutan kekuasaan dan pertentangan antara Sultan Ageng dengan putranya Sultan Haji. Perpecahan ini dimanfaatkan oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang memberikan dukungan kepada Sultan Haji, sehingga perang saudara tidak dapat dielakkan.

Sementara dalam memperkuat posisinya, Sultan Haji atau Sultan Abu Nashar Abdul Qahar juga sempat mengirimkan 2 orang utusannya, menemui Raja Inggris di London tahun 1682 untuk mendapatkan dukungan serta bantuan persenjataan.

Dalam perang ini Sultan Ageng terpaksa mundur dari istananya dan pindah ke kawasan yang disebut dengan Tirtayasa, namun pada 28 Desember 1682 kawasan ini juga dikuasai oleh Sultan Haji bersama VOC. Sultan Ageng bersama putranya yang lain Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf dari Makasar mundur ke arah selatan pedalaman Sunda.

Namun pada 14 Maret 1683 Sultan Ageng tertangkap kemudian ditahan di Batavia. Sementara VOC terus mengejar dan mematahkan perlawanan pengikut Sultan Ageng yang masih berada dalam pimpinan Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf.

Pada 5 Mei 1683, VOC mengirim Untung Surapati yang berpangkat letnan beserta pasukan Balinya, bergabung dengan pasukan pimpinan Letnan Johannes Maurits van Happel menundukkan kawasan Pamotan dan Dayeuh Luhur, di mana pada 14 Desember 1683 mereka berhasil menawan Syekh Yusuf.

Sementara setelah terdesak akhirnya Pangeran Purbaya menyatakan menyerahkan diri. Kemudian Untung Surapati disuruh oleh Kapten Johan Ruisj untuk menjemput Pangeran Purbaya, dan dalam perjalanan membawa Pangeran Purbaya ke Batavia, mereka berjumpa dengan pasukan VOC yang dipimpin oleh Willem Kuffeler, namun terjadi pertikaian di antara mereka, puncaknya pada 28 Januari 1684, pos pasukan Willem Kuffeler dihancurkan, dan berikutnya Untung Surapati beserta pengikutnya menjadi buronan VOC.

Sedangkan Pangeran Purbaya sendiri baru pada 7 Februari 1684 sampai di Batavia. Bantuan dan dukungan VOC kepada Sultan Haji mesti dibayar dengan memberikan kompensasi kepada VOC di antaranya pada 12 Maret 1682, wilayah Lampung diserahkan kepada VOC, seperti tertera dalam surat Sultan Haji kepada Mayor Issac de Saint Martin, Admiral kapal VOC di Batavia yang sedang berlabuh di Banten.

Surat itu kemudian dikuatkan dengan surat perjanjian tanggal 22 Agustus 1682 yang membuat VOC memperoleh hak monopoli perdagangan lada di Lampung. Selain itu berdasarkan perjanjian tanggal 17 April 1684, Sultan Haji juga mesti mengganti kerugian akibat perang tersebut kepada VOC. Setelah meninggalnya Sultan Haji tahun 1687, VOC mulai mencengkramkan pengaruhnya di Kesultanan Banten, sehingga pengangkatan para Sultan Banten mesti mendapat persetujuan dari Gubernur Jendral Hindia-Belanda di Batavia.

Sultan Abu Fadhl Muhammad Yahya diangkat mengantikan Sultan Haji namun hanya berkuasa sekitar tiga tahun, selanjutnya digantikan oleh saudaranya Pangeran Adipati dengan gelar Sultan Abul Mahasin Muhammad Zainul Abidin dan kemudian dikenal juga dengan gelar Kang Sinuhun ing Nagari Banten. Perang saudara yang kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan .

di Banten meninggalkan ketidakstabilan pemerintahan masa berikutnya. Konfik antara keturunan penguasa Banten maupun gejolak ketidakpuasan masyarakat Banten, atas ikut campurnya VOC dalam urusan Banten. Perlawanan rakyat kembali memuncak pada masa akhir pemerintahan Sultan Abul Fathi Muhammad Syifa Zainul Arifin, di antaranya perlawanan Ratu Bagus Buang dan Kyai Tapa.

kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan ....

Akibat konflik yang berkepanjangan Sultan Banten kembali meminta bantuan VOC dalam meredam beberapa perlawanan rakyatnya sehingga sejak 1752 Banten telah menjadi vassal dari VOC. Pada tahun 1808 Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1808-1810, memerintahkan pembangunan Jalan Raya Pos untuk mempertahankan pulau Jawa dari serangan Inggris.

Daendels memerintahkan Sultan Banten untuk memindahkan ibu kotanya ke Anyer dan menyediakan tenaga kerja untuk membangun pelabuhan yang direncanakan akan dibangun di Ujung Kulon.

Sultan menolak perintah Daendels, sebagai jawabannya Daendels memerintahkan penyerangan atas Banten dan penghancuran Istana Surosowan. Sultan beserta keluarganya disekap di Puri Intan (Istana Surosowan) dan kemudian dipenjarakan di Benteng Speelwijk. Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqinkemudian diasingkan dan dibuang ke Batavia. Pada 22 November 1808, Daendels mengumumkan dari markasnya di Serang bahwa wilayah Kesultanan Banten telah diserap ke dalam wilayah Hindia Belanda.

Kesultanan Banten resmi dihapuskan tahun 1813 oleh pemerintah kolonial Inggris. Pada tahun itu, Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin dilucuti dan dipaksa turun tahta oleh Thomas Stamford Raffles.

Peristiwa ini merupakan pukulan pamungkas yang mengakhiri riwayat Kesultanan Banten. Baca Juga : Sejarah Kisah Sunan Gunung Jati Walisongo
Sebelum resmi menjadi sebuah kerajaan Islam, Banten dulunya dikenal sebagai Banten Girang yang merupakan bagian dari Kerajaan Sunda. Sekitar tahun 1526, Kerajaan Demak yang merupakan kerajaan Islam terbesar kala itu melakukan penaklukan di kawasan pesisir barat Pulau Jawa. Penaklukan yang kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan .

Kerajaan Demak juga berdampak pada wilayah Banten Girang yang berada dekat dengan pelabuhan-pelabuhan yang kemudian berhasil dikuasai.

Kedatangan Kerajaan Demak yang dipimpin oleh Maulana Hasanudin sebenarnya dilatarbelakangi oleh adanya jalinan kerjasama antara Kerajaan Sunda dan Portugal dibidang politik dan ekonomi. Hal ini dikhawatirkan dinilai dapat membahayakan kedudukan Kerajaan Demak yang telah berhasil mengalahkan Portugal di Melaka pada 1513.

Sultan Maulana Hasanudin Banten - Foto : jakartapedia(dot)bpadjakarta(dot)net Selain itu, pasukan bersama Maulana Hasanudin juga berhubungan dengan usaha Kerajaan Demak untuk menyebarkan ajaran Islam ke seluruh Nusantara. Oleh karena itu, atas perintah Trenggana juga Fatahillah, sekitar tahun 1527 Pelabuhan Kelapa yang kala itu merupakan pelabuhan utama Kerajaan Sunda berhasil ditaklukan.

Selain membangun benteng pertahanan di wilayah Banten, Maulana Hasanudin juga memperluas kekuasaannya di daerah penghasil lada, Lampung. Maulana Hasanudin yang merupakan utusan dari Kerajaan Demak juga berperan dalam penyebaran agama Islam di kawasan tersebut dan melakukan kerjasama perdaangan dengan Raja Malangkabu yang sekarang dikenal sebagai Minangkabau dari Kerajaan Inderapura. Raja Malangkabu yang kala itu dipimpin oleh Sultan Munawar Syah kemudian menganugerahi Maulana Hasanudin dengan keris.

Kondisi Banten Sekitar Tahun 1600-an - Foto : mirajnews(dot)com Seiring dengan kemunduran Kerajaan Demak yang telah ditinggalkan oleh Trenggono wafat, Banten pun akhirnya memisahkan diri dari Demak dan menjadi kerajaan yang Mandiri. Awal berdirinya Kerajaan Banten dimulai oleh naik tahtanya Maulana Yusuf yang merupakan anak dari Maulana Hasanudin.

Sekitar tahun 1570, Maulana Yusuf yang baru naik tahta kemudian menaklukan Pakuan Pajajaran. Melalui ekspansi ke kawasan pedalaman Sunda, pada 1579 Pakuan Pajajaran pun berhasil ditaklukan. Setelah berhasil menaklukan Pakuan Pajajan, Maulana Yusuf yang digantikan oleh anaknya yang bernama Maulana Muhammad mencoba menguasai Palembang pada 1596.

Hal ini dilakukan untuk mempersempit langkah Portugal di Nusantara. Namun, ditengah penaklukan yang dilakuka, Maulana Muhammad meninggal dan gagal akan usahanya dalam menyelamatkan Nusantara dari tangan Portugal ketika itu. Sultan Ageng Tirtayasa - Foto : zonangelmu(dot)blogspot(dot)com Kerajaan Islam dari Banten pun semakin lama semakin Berjaya, puncaknya di tahun 1651-1682 ketika Kerajaan di Banten tersebut dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa.

Dibawah pimpinannya, Banten berhasil memiliki armada sekelas Eropa, bahkan mempekerjakan orang Eropa untuk Kesultanan Banten kala itu. Di masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, Banten berhasil menaklukan Kerajaan Tanjungpura yang kini dikenal sebagai wilayah Kalimantan Barat pada tahun 1661.

Banten juga pada masa itu berusaha keluar dari cengkraman VOC yang sebelumnya telah memblokade kapal-kapal dagang yang akan berlayar menuju Banten. Ilustrasi Pertempuran VOC dan Kesultanan Banten 1680-an - Foto : historia(dot)id Kemajuan Kesultanan Banten dibawah pimpinan Sultan Ageng Tirtayasa pun terus berjalan, hingga sekitar tahun 1680an, perselisihan dalam Kesultanan Banten pun terjadi. Konflik dalam Kerajaan Banten ini disebabkan oleh adanya perebutan kekuasaan dan pertentangan antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji yang merupakan anaknya sendiri.

Konflik intern ini dimanfaatkan oleh VOC yang memberikan dukungan serta bantuan persenjataan kepada pihak Sultan Haji, sehingga perang saudara pun akhirnya terjadi.

Hubungan VOC dan Sultan Haji Banten - Foto : ft-untirta(dot)ac(dot)id Dari perang saudara yang tidak lain adalah anaknya sendiri, Sultan Ageng pun akhirnya1 Bahasa Jawa Banten adalah bahasa yang dipergunakan di wilayah Banten bagian utara yang merupakan percampuran bentuk-bentuk tertentu dari bahasa Sunda, bahasa Jawa serta elemen lainya, Bahasa Jawa Banten ini banyak dipengaruhi oleh Bahasa Cirebon dan Sunda dialek Barat, [1] tetapi terdapat pula pengaruh Bahasa Arab, Melayu, Belanda, dan Inggris.

[2] [3] 2 8 Oktober 1526 M (1 Muharam 933 H) - 1552 M, [4] status Kesultanan Banten adalah sebagai Kadipaten (Provinsi) di bawah kesultanan Cirebon. [5] Kerajaan Kutai 400–1635 Kerajaan Tarumanagara 450–900 Kerajaan Kalingga 594–782 Kerajaan Melayu 671–1375 Kerajaan Sriwijaya 671–1183 Kerajaan Sunda 662–1579 Kerajaan Galuh 669–1482 Kerajaan Mataram 716–1016 Kerajaan Bali 914–1908 Kerajaan Kahuripan 1019–1045 Kerajaan Janggala 1045–1136 Kerajaan Kadiri 1045–1221 Kerajaan Singasari 1222–1292 Kerajaan Majapahit 1293–1478 Penyebaran Islam 800–1600 Kesultanan Peureulak 840–1292 Kerajaan Aru 1225–1613 Kesultanan Ternate 1257–1914 Kesultanan Samudera Pasai 1267–1521 Kesultanan Gorontalo 1300–1878 Kesultanan Gowa 1320–1905 Kerajaan Pagaruyung 1347–1833 Kerajaan Kaimana 1309–1963 Kesultanan Brunei 1368–1888 Kesultanan Melaka 1405–1511 Kesultanan Sulu 1405–1851 Kesultanan Cirebon 1445–1677 Kesultanan Demak 1475–1554 Kesultanan Bolango 1482–1862 Kesultanan Aceh 1496–1903 Kesultanan Banten 1526–1813 Kesultanan Banjar 1526–1860 Kerajaan Kalinyamat 1527–1599 Kesultanan Johor 1528–1877 Kesultanan Pajang 1568–1586 Kesultanan Mataram 1586–1755 Kerajaan Fatagar 1600–1963 Kesultanan Bima 1620–1958 Kesultanan Sumbawa 1674–1958 Kesultanan Kasepuhan 1679–1815 Kesultanan Kanoman 1679–1815 Kesultanan Siak 1723–1945 Kesunanan Surakarta 1745–1946 Kesultanan Yogyakarta 1755–1945 Kesultanan Kacirebonan 1808–1815 Kesultanan Deli 1814–1946 Kesultanan Lingga 1824–1911 • l • b • s Kesultanan Banten adalah sebuah kerajaan Islam yang pernah berdiri di wilayah Banten, Indonesia.

Berawal sekitar tahun 1526, ketika kesultanan Demak memperluas pengaruhnya ke kawasan pesisir barat Pulau Jawa, dengan menaklukkan beberapa kawasan pelabuhan kemudian menjadikannya sebagai pangkalan militer serta kawasan perdagangan sebagai antisipasi terealisasinya perjanjian antara kerajaan Sunda dan Portugis tahun 1522 m.

Maulana Hasanuddin, putra Sunan Gunung Jati [6] berperan dalam penaklukan tersebut. Setelah penaklukan tersebut, Maulana Hasanuddin mengembangkan benteng pertahanan yang dinamakan Surosowan (dibangun 1600 M) menjadi kawasan kota pesisir yang kemudian hari menjadi pusat pemerintahan setelah Banten menjadi kesultanan yang berdiri sendiri.

Pernah menjadi pusat perdagangan besar di Asia Tenggaraterutama ladakerajaan ini kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan . puncaknya pada akhir abad ke-16 dan pertengahan abad ke-17. Pada akhir abad ke-17 pentingnya dibayangi oleh Bataviadan akhirnya dianeksasi ke Hindia Belanda pada tahun 1813.

kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan ....

Wilayah intinya sekarang membentuk provinsi Indonesia dari Banten. Saat ini, di Banten LamaMasjid Agung Banten menjadi tujuan penting bagi wisatawan dan peziarah dari seluruh Indonesia dan dari luar negeri. hampir 3 abad Kesultanan Banten mampu bertahan bahkan mencapai kejayaan yang luar biasa, yang di waktu bersamaan penjajah dari Eropa telah berdatangan dan menanamkan pengaruhnya.

Perang saudara, dan persaingan dengan kekuatan global memperebutkan sumber daya maupun perdagangan, serta ketergantungan akan persenjataan telah melemahkan hegemoni Kesultanan Banten atas wilayahnya. Kekuatan politik Kesultanan Banten akhir runtuh pada tahun 1813 setelah sebelumnya Istana Surosowan sebagai simbol kekuasaan di Kota Intan dihancurkan, dan pada masa-masa akhir pemerintahannya, para Sultan Banten tidak lebih dari raja bawahan dari pemerintahan kolonial di Hindia Belanda.

Daftar isi • 1 Pembentukan awal • 1.1 Penguasaan Banten • 1.2 Penyatuan Banten • 1.3 Penguasaan Lampung • 1.3.1 Perluasan dakwah di Lampung • 1.3.2 Pembagian kerajaan Pugung • 2 Banten sebagai kesultanan • 2.1 Pembagian wilayah taklukan antara kesultanan Banten dengan kesultanan Cirebon • 2.2 Perluasan wilayah ke Lampung • 2.2.1 Masyarakat Lampung Abung seba ke Banten • 2.3 Hubungan erat kesultanan Banten dan Inggris • 2.3.1 Blokade Vereenigde Oostindische Compagnie dan Peristiwa Pabaranang • 2.3.2 Penyerangan kapal dagang kesultanan Banten oleh Vereenigde Oostindische Compagnie • 2.3.3 Penjajakan perdamaian dengan Belanda • 3 Puncak kejayaan • 3.1 Perintah penanaman lada dan perlawanan dari masyarakat • 3.2 Penguasaan Sukadana • 3.3 Pengaturan lada di Bengkulu • 3.4 Banten dalam Kasus Perwalian kesultanan Cirebon dan perjuangan Raden Trunajaya • 3.4.1 Lepasnya Karawang kepada Belanda dari Cirebon dan pembebasan para pangeran Cirebon • 3.4.2 Penyerangan Banten atas loji Belanda dan disingkirkannya wakil Mataram di Cirebon • 3.4.3 Penobatan anak-anak Sultan Cirebon Abdul Karim • 3.4.4 Misi Rijckloff van Goens menghancurkan kesultanan Banten • 3.4.5 Pribawa dan masuknya Belanda pada Perjanjian 1681 • 3.4.6 Kesultanan Banten menyerang loji Belanda di Indramayu • 3.4.7 Jacob van Dyck dan surat Belanda 1680 • 3.4.8 Pangeran Haji dan kekalahan pasukan gerilya kesultanan Banten di Cirebon • 3.4.9 Perjanjian 1681 • 4 Perang saudara • 5 Penurunan • 6 Penghapusan kesultanan Banten dan lepasnya Lampung • 7 Agama • 8 Kependudukan • 9 Perekonomian • 10 Pemerintahan • 11 Warisan sejarah • 12 Daftar Sultan Banten • 12.1 Kesultanan Banten sebagai Negara Berdaulat • 13 Lihat pula • 14 Bacaan lanjut • 15 Pranala luar • 16 Catatan kaki Pembentukan awal [ sunting - sunting sumber ] Palangka Sriman Sriwacana "Sang Susuktunggal inyana nu nyieuna palangka Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran nu mikadatwan Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, inyana Pakwan Sanghiyang Sri Ratu Dewata." Artinya: "Sang Susuktunggal ialah yang membuat takhta Sriman Sriwacana (untuk) Sri Baduga Maharaja ratu penguasa di Pakuan Pajajaran yang bersemayam di keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati yaitu istana Sanghiyang Sri Ratu Dewata." Penguasaan Banten [ sunting - sunting sumber ] Pada tahun 1522, [7] Maulana Hasanuddin membangun kompleks istana yang diberi nama keraton Surosowan, pada masa tersebut dia juga membangun alun-alun, pasar, masjid agung serta masjid di kawasan Pacitan.

[8] Sementara yang menjadi pucuk umum (penguasa) di Wahanten Pasisir adalah Arya Surajaya (putra dari Sang Surosowan dan paman kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan . Maulana Hasanuddin) setelah meninggalnya Sang Surosowan pada 1519 M. Arya Surajaya diperkirakan masih memegang pemerintahan Wahanten Pasisir hingga tahun 1526 M. [9] Pada tahun 1524 M, Sunan Gunung Jati bersama pasukan gabungan dari kesultanan Cirebon dan kesultanan Demak mendarat di pelabuhan Banten [10] Pada masa ini tidak ada pernyataan yang menyatakan bahwa Wahanten Pasisir menghalangi kedatangan pasukan gabungan Sunan Gunung Jati sehingga pasukan difokuskan untuk merebut Wahanten Girang Dalam Carita Sajarah Banten dikatakan ketika pasukan gabungan kesultanan Cirebon dan kesultanan Demak mencapai Wahanten Girang/Banten Girang adalah pusat kekuasaan kerajaan Banten pra Islam.

Di sini terdapat watu gigilang (batu yang bersinar) yang merupakan tahta Prabu Pucuk Umun, Ratu Pandita ‘Hindu’ yang terakhir. Di sana juga terdapat dua makam keramat kakak beradik, Ki Mas Jong dan Ki Agus Ju yang merupakan penduduk Banten Girang pertama yang memeluk Islam dan berpihak kepada Maulana Hasanuddin.

Ki Mas Jong sendiri menurut Sajarah Banten adalah seorang Ponggawa penting dari Pakuan Pajajaran yang ditempatkan di Banten Girang. Ki Mas Jong adalah pendukung utama Maulana Hasanuddin, dan kemudian diangkat sebagai Mahapatih atau Tumenggung. Ki Mas Jong memainkan peranan penting dalam penaklukan Pakuan Pajajaran pada pertengahan abad ke-16.

Dalam sumber-sumber lisan dan tradisional diceritakan bahwa pucuk umum (penguasa) Banten Girang yang terusik dengan banyaknya aktivitas dakwah Maulana Hasanuddin yang berhasil menarik simpati masyarakat termasuk masyarakat pedalaman Wahanten yang merupakan wilayah kekuasaan Wahanten Girang, sehingga pucuk umum Arya Suranggana meminta Maulana Hasanuddin untuk menghentikan aktivitas dakwahnya dan menantangnya sabung ayam (adu ayam) dengan syarat jika sabung ayam dimenangkan Arya Suranggana maka Maulana Hasanuddin harus menghentikan aktivitas dakwahnya.

Sabung Ayam pun dimenangkan oleh Maulana Hasanuddin dan dia berhak melanjutkan aktivitas dakwahnya. [11] Arya Suranggana dan masyarakat yang menolak untuk masuk Islam kemudian memilih masuk hutan di wilayah Selatan. Sepeninggal Arya Suranggana, kompleks Banten Girang digunakan sebagai pesanggrahan bagi para penguasa Islam, paling tidak sampai di penghujung abad ke-17. [12] Penyatuan Banten [ sunting - sunting sumber ] Atas petunjuk ayahnya yaitu Sunan Gunung Jati, Maulana Hasanuddin kemudian memindahkan pusat pemerintahan Wahanten Girang ke pesisir di kompleks Surosowan sekaligus membangun kota pesisir.

kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan ....

{INSERTKEYS} [13] Kompleks istana Surosowan tersebut akhirnya selesai pada tahun 1526. [7] Pada tahun yang sama juga Arya Surajaya pucuk umum (penguasa) Wahanten Pasisir dengan sukarela menyerahkan kekuasaannya atas wilayah Wahanten Pasisir kepada Sunan Gunung Jati, akhirnya kedua wilayah Wahanten Girang dan Wahanten Pasisir disatukan menjadi Wahanten yang kemudian disebut sebagai Banten dengan status sebagai depaten (provinsi) dari kesultanan Cirebon pada tanggal 1 Muharram 933 Hijriah (sekitar tanggal 8 Oktober 1526 M), [4] kemudian Sunan Gunung Jati kembali ke kesultanan Cirebon dan pengurusan wilayah Banten diserahkan kepada Maulana Hasanuddin, dari kejadian tersebut sebagian ahli berpendapat bahwa Sunan Gunung Jati adalah Sultan pertama di Banten [14] meskipun demikian Sunan Gunung Jati tidak menahbiskan dirinya menjadi penguasa (sultan) di Banten [15] Alasan-alasan demikianlah yang membuat pakar sejarah seperti Hoesein Djajadiningrat berpendapat bahwa Sunan Gunung Jatilah yang menjadi pendiri Banten dan bukannya Maulana Hasanuddin.

Menurut catatan dari Joao de Barros, semenjak Banten dan Sunda Kelapa dikuasai oleh kesultanan Islam, Banten lah yang lebih ramai dikunjungi oleh kapal dari berbagai negara. [13] Penguasaan Lampung [ sunting - sunting sumber ] Pada tahun 1525, Syarief Hidayatullah memasuki wilayah Labuhan Meringgai di Kerajaan Pugung [16] Menurut Nurhalim (Raja Adat Melinting, Lampung Timur) kedatangan Syarief Hidayatullah ke Pugung pada awalnya dikarenakan oleh surat yang dikirimkan Ratu Galuh (penguasa Pugung, istri dari Anak Dalem Kesuma Ratu) melalui burung merpati yang bermaksud meminta pertolongan kepada penguasa diluar pulau untuk membantu Pugung menghadapi perampok dan bajak laut yang telah meresahkan [17] Menurut Budiman Yaqub ( Radin Kusuma Yuda) seorang budayawan dan sejarawan daerah Lampung Selatan, Syarief Hidayatullah ketika akan memasuki wilayah Pugung beliau melihat cahaya kilat yang tegak dari langit.

[18] Sesampainya Syarief Hidayatullah di kerajaan Pugung beliau bersedia membantu Ratu Galuh menangani perampokan dengan satu syarat yaitu jika perampokan berhasil diatasi, maka Ratu Galuh dan pengikutnya bersedia untuk memeluk agama Islam [19] Pasca berhasil diatasinya para perampok tersebut, Syarief Hidayatullah kemudian mulai menyebarkan dakwah Islam di wilayah kerajaan Pugung.

Ratu Galuh beserta pengikutnya bersedia menerima ajaran Islam dengan dibimbing oleh Syarief Hidayatullah [19] Syarief Hidayatullah kemudian mengajukan lamaran kepada Ratu Galuh untuk menikahi anaknya yaitu putri Sinar Alam, namun dikarenakan ada peraturan adat di kerajaan Pugung di mana putri pertama harus menikah dengan keluarga yang masih kerabat kerajaan Pugung maka lamaran tersebut ditolak, menurut Budiman Yaqub, Ratu Galuh kemudian menawarkan putri Kandang Rarang anak dari Minak Raja Jalan [19] agar menjadi istri Syarief Hidayatullah dan disetujui, dari pernikahan dengan putri Kandangan Rarang, Syarief Hidayatullah memiliki seorang putera yang diberi nama Muhammad Sholeh atau masyarakat Lampung mengenalnya dengan nama Minak Gejala Ratu.

[19] Syarief Hidayatullah kemudian pergi meninggalkan istrinya dan anaknya untuk kembali berdakwah dan pulang ke Cirebon, Syarief Hidayatullah menitipkan sebuah cincin kepada istrinya Kandang Rarang yang kelak harus diberikan kepada putera mereka Muhammad Sholeh [19] Beberapa lama setelah kepergiannya, Syarief Hidayatullah kembali ke kerajaan Pugung untuk menengok istrinya Kandang Rarang dan anaknya Muhammad Sholeh, di sana Syarief Hidayatullah mengetahui jika putri Sinar Alam anak dari Dalem Kesuma Ratu dengan Ratu Galuh belum juga menikah, Syarief Hidayatullah kemudian mengajukan lamaran kembali untuk menikahinya dan disetujui, dari pernikahannya dengan putri Sinar Alam, Syarief Hidayatullah dikaruniai seorang putera yang diberi nama Muhammad Aji Saka [20] atau yang menurut Nurhalim (Raja Adat Melinting) namanya adalah Minak Gejala Bidin, [19] dari keturunan Muhammad Aji Saka inilah kemudian lahir pahlawan nasional asal Lampung yang bernama Radin Inten II [20] Perluasan dakwah di Lampung [ sunting - sunting sumber ] Dengan masuknya masyarakat adat Pugung ke dalam Islam, maka secara berangsur-angsur masyarakat Lampung dalam rumpun adat Lampung Peminggir yang berada di pantai selatan Lampung memeluk agama Islam [16] Wilayah-wilayah di Lampung secara berangsur-angsur berada di bawah kendali kesultanan Cirebon [21] hingga pada sekitar tahun 1530, Cirebon berhasil menguasai Lampung dan menempatkannya di bawah kendali Depati Banten [22] Depati Banten (gubernur Banten) pada masa itu, Maulana Hasanuddin sangat tertarik dengan wilayah Lampung dikarenakan wilayah ini dianggap menguntungkan untuk menghasilkan lada.

Pada masa itu para penguasa di Lampung suka menjual lada dengan harga tinggi guna mendapatkan berbagai barang komoditas. [21] Pembagian kerajaan Pugung [ sunting - sunting sumber ] Pembagian terhadap kerajaan Pugung dimulai ketika Muhammad Sholeh dan Muhammad Aji Saka datang ke kesultanan Cirebon untuk menemui ayahnya Syarief Hidayatullah, di Cirebon mereka didik dengan ilmu syariat (agama Islam) dan keahlian bela diri, setelah keilmuan dan kemampuan anak-anaknya dirasa cukup, Syarief Hidayatullah menyuruh mereka kembali ke Pugung, kepada Muhammad Sholeh dia diberikan sebuah kotak kayu yang pada sisinya bertuliskan bacaan surat al Fatihah, shalawat nariyah dan ayat kursi dan kotak tersebut hanya boleh dibuka di saat penobatannya sebagai penguasa di Pugung sementara kepada Muhammad Aji Saka Syarief Hidayatullah memerintahkannya untuk mencari gunung tinggi di wilayahnya yang memiliki batu putih, Muhammad Aji Saka kemudian menemukan gunung yang sesuai dengan deskripsi ayahnya yaitu gunung Rajabasa [23] Di Labuhan Meringgai kemudian diadakan musyawarah untuk membagi dua kerajaan Pugung, Muhammad Sholeh kemudian naik takhta menjadi penguasa di Labuhan Meringgai dan membuka kotak dari ayahnya, di dalam kotak berisi selembar kain yang bertuliskan ratu darah putih, menurut Nurhalim (Raja Adat Melinting) arti dari ratu darah putih adalah pemimpin yang adil dan bijaksana, bersih dari segala sikap yang tercela, [23] kerajaan yang dipimpin oleh Muhammad Sholeh kemudian dikenal dengan nama keratuan (kerajaan) darah putih Melinting atau kerajaan Melinting, sementara Muhammad Aji Saka memilih untuk menetap di wilayah gunung Rajabasa, wilayah kekuasaannya kemudian dikenal dengan nama keratuan (kerajaan) darah putih Rajabasa [23] Kerajaan-kerajaan darah putih ini kemudian menjadi wilayah penyebaran agama Islam yang di Lampung sekaligus mampu membawa masyarakat rumpun adat Lampung Peminggir untuk memeluk Islam [16] Banten sebagai kesultanan [ sunting - sunting sumber ] Kesultanan Demak menggelar musyawarah dalam menyikapi peristiwa meninggalnya Pati Unus ( depati Banten sekaligus putera mahkota Kesultanan demak) di Demak, Maulana Yusuf atau Raden Abdullah selaku anak dari penguasa depati Banten pada saat armada demak ,Mendaratkan pasukan Banten di teluk Banten, Yusuf atau Raden Abdullah diajak pula untuk turun di Banten untuk tidak melanjutkan perjalanan pulang ke Demak, Para komandan dan penasehat armada yang masih saling berkerabat satu sama lain sangat khawatir kalau Yusuf atau Raden Abdullah akan dibunuh dalam perebutan tahta mengingat sepeninggal Pati Unus.

Pembagian wilayah taklukan antara kesultanan Banten dengan kesultanan Cirebon [ sunting - sunting sumber ] Pasca perjanjian damai Cirebon dengan kerajaan Pajajaran pada tahun 1530 dan setelah kesultanan Banten berdiri pada tahun 1552, maka wilayah antara sungai Angke dan sungai Cipunegara dibagi dua. Menurut Carita Sajarah Banten, Sunan Gunung Jati [24] pada abad ke 15 [25] membagi wilayah antara sungai Angke dan sungai Cipunegara menjadi dua bagian dengan sungai Citarum sebagai pembatasnya, sebelah timur sungai Citarum hingga sungai Cipunegara masuk wilayah Kesultanan Cirebon yang sekarang menjadi Kabupaten Karawang, Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Subang dan sebelah barat sungai Citarum hingga sungai Angke menjadi wilayah bawahan Kesultanan Banten dengan nama Jayakarta.

[2]' [26] Pada tahun 1568, [27] Maulana Hasanuddin sebagai penguasa Banten yang juga membawahi wilayah Jayakarta mengangkat menantunya yaitu Kawis Adimarta (Tubagus Angke) suami dari Ratu Ayu Fatimah (anak ke enam dari Maulana Hasanuddin) [28] sebagai penguasa Jayakarta, sebelumnya, sejak peristiwa penaklukan Kelapa pada tahun 1527 hingga diangkatnya Kawis Adimarta pada tahun 1568, wilayah ini berada di bawah kekuasaan Fadillah Khan [29] Perluasan wilayah ke Lampung [ sunting - sunting sumber ] Maulana Hasanuddin juga melanjutkan perluasan kekuasaan ke Lampung.

Pada tahun 1530 ketika wilayah adat Lampung Peminggir telah memeluk agama Islam dan berada di bawah kekuasaan Syarief Hidayatullah [16] wilayah adat Lampung Abung (Pepadun) belum ada yang berada di bawah kekuasaan Syarief Hidayatullah, bahkan pada masa kekuasaan Maulana Hasanuddin sebagai Sultan Banten, masyarakat adat Lampung Abung (Pepadun) belum ada yang melakukan seba (menghadap Sultan) ke Banten, masyarakat Lampung Abung (Pepadun) pada masa itu masih mempertahankan adat istiadatnya yang bercorak animisme.

[16] Pada sekitar awal abad ke-16 memang ada seorang minak dari kalangan masyarakat adat Lampung Abung (Pepadun) yang telah memeluk Islam seperti Minak Sangaji (dari kalangan Tulang Bawang) yang merupakan suami dari Bolan, namun Minak Sangaji diperkirakan menerima Islam bukan dari kesultanan Banten melainkan dari Melaka [16] Maulana Hasanuddin berperan dalam penyebaran Islam di kawasan Lampung, selain itu ia juga telah melakukan kontak dagang dengan raja Malangkabu (Minangkabau, Kerajaan Inderapura), Sultan Munawar Syah dan dianugerahi keris oleh raja tersebut.

[2] Maulana Yusuf anak dari Maulana Hasanuddin, naik takhta pada tahun 1570 [30] melanjutkan ekspansi Banten ke kawasan pedalaman Sunda dengan menaklukkan Pakuan Pajajaran tahun 1579. Kemudian ia digantikan anaknya Maulana Muhammad, yang mencoba menguasai Palembang tahun 1596 sebagai bagian dari usaha Banten dalam mempersempit gerakan Portugal di Nusantara, tetapi gagal karena ia meninggal dalam penaklukan tersebut. [31] Masyarakat Lampung Abung seba ke Banten [ sunting - sunting sumber ] Pasca meninggalnya Sultan Banten Maulana Muhammad pada tahun 1596 pada penyerangan ke Palembang atas bujukan Pangeran Mas (putera Arya Penggiri, cucu Sunan Prawoto dari kesultanan Demak) yang berambisi menjadi penguasa Palembang [32] dan pasca meninggalnya Unyai terjadilah perselisihan di antara anak cucu Minak Paduka Begeduh, perselisihan tersebut berkenaan dengan persoalan seba (menghadap sultan), seba ke Banten atau ke Palembang [33] hingga salah satu dari mereka bergabung mengikuti kekuasaan kesultanan Banten [16] dan yang satunya lagi seba ke Palembang dan meninggalkan wilayah adat Lampung Abung.

Minak Paduka Begeduh memiliki 4 orang anak, yaitu Unyi, Nunyai, Nuban (perempuan) dan Subing. Minak Paduka Begeduh merupakan anak dari Minak Rio Begeduh, cucu dari Indra Gajah dan cicit dari Umpu Serunting yang mendirikan keratuan (kerajaan) Pemanggilan. [16] Minak Paduka Begeduh memiliki dua orang istri yaitu Minak Majeu Lemaweng dari keratuan (kerajaan) Pogung dan Minak Munggah di Abung dari Selebar [33] Perwakilan dari masyarakat adat Abung yang seba (menghadap sultan) ke Banten adalah Minak Semelesem (cucu Unyai), [16] sementara dari kalangan masyarakat adat Lampung Abung (Pepadun) yang memilih untuk seba (menghadap sultan) ke Palembang adalah Mukodum muter alam, beliau kemudian tidak kembali lagi ke wilayah adat Lampung Abung dan memilih untuk membentuk masyarakat Kayu Agung dan menetap di sana.

[33] Hubungan erat kesultanan Banten dan Inggris [ sunting - sunting sumber ] Pada masa Pangeran Ratu anak dari Maulana Muhammad, ia menjadi raja pertama di Pulau Jawa yang mengambil gelar " Sultan" pada tahun 1638 dengan nama Arab Abu al-Mafakhir Mahmud Abdulkadir.

Pada masa ini Sultan Banten telah mulai secara intensif melakukan hubungan diplomasi dengan kekuatan lain yang ada pada waktu itu, salah satu diketahui surat Sultan Banten kepada Raja Inggris, James I tahun 1605 dan tahun 1629 kepada Charles I. [2] Pada tahun 1629, Sultan Banten Abu al Mafakir Mahmud Abdul Kadir mengirimkan surat kepada penguasa Inggris Raja Charles I menyatakan kegembiraannya karena orang-orang Inggris mau membuka lagi kantor dagangnya di Banten, selain itu Sultan Abu al Mafakir Mahmud Abdul Kadir juga meminta bantuan persenjataan dan mesiu kepada Inggris, hal tersebut berguna untuk memperkuat pertahanan kesultanan Banten [2]' [34] Permintaan kesultanan Banten akan senjata dan mesiu sangat dimungkinkan untuk menghindari peristiwa penyerangan wilayah Banten pada 1626 terulang, saat itu dua tahun setelah serah terima kuasa mutlak dari wali Sultan Banten yaitu Pangeran Ranamanggala, Mataram pada masa kekuasaan Sultan Agung Hanyakrakusuma melakukan penyerangan kembali kepada kesultanan Banten yang kali ini dibantu oleh Palembang, namun penyerangan ini juga tidak berhasil [24] Blokade Vereenigde Oostindische Compagnie dan Peristiwa Pabaranang [ sunting - sunting sumber ] Sikap Bersahabat kesultanan Banten dengan Inggris ini bertolak belakang dengan sikap yang diambil kesultanan Banten kepada Belanda.

Pada tahun 1633, Vereenigde Oostindische Compagnie melakukan penyerangan ke wilayah kesultanan Banten di antaranya Tanahara, Anyer, dan Lampung, hal tersebut dikarenakan menurut Vereenigde Oostindische Compagnie orang Banten banyak yang melalukan pengrusakan dan perampokan kepada aset dan barang milik Vereenigde Oostindische Compagnie, pada bulan November terjadi peperangan besar antara kesultanan Banten dengan Vereenigde Oostindische Compagnie, pihak kesultanan Banten berhasil mengalahkan pasukan Vereenigde Oostindische Compagnie yang pada masa itu sedang lemah akibat berperang dengan Mataram [35] Pada tanggal 5 Januari 1634 Vereenigde Oostindische Compagnie mengirimkan lagi pasukan laut yang lebih kuat untuk mengepung Surosowan, maka diadakanlah blokade menyeluruh atas wilayah perairan teluk Banten.

Pengepungan Vereenigde Oostindische Compagnie di perairan Tanahara dapat digagalkan oleh pasukan yang dipimpin Tubagus Singaraja, pejabat kesultanan Banten di Tanahara, sedangkan pengepungan di perairan pelabuhan Banten, baru dapat digagalkan setelah digunakan taktik yang baru [35] yaitu dengan melakukan pembakaran blokade Vereenigde Oostindische Compagnie dengan kapal besar yang disebut Barungut, kapal Barungut yang sebelumnya diperbaiki di Batavia pada malam harinya dibakar atas usul Wangsadipa, [2] peristiwa pembakaran blokade ini dikenal dengan nama Pabaranang.

[36] Pembakaran blokade laut Vereenigde Oostindische Compagnie oleh kesultanan Banten terbagi dalam dua sesi, sesi pertama terjadi pada malam hari di tanggal 4 dan 5 Januari 1634 dan sesi kedua terjadi pada malam hari di tanggal 10 dan 11 Januari 1634.

[24] [34] Penyerangan kapal dagang kesultanan Banten oleh Vereenigde Oostindische Compagnie [ sunting - sunting sumber ] Satu tahun setelah peristiwa Pabaranang yaitu pada tahun 1635 Belanda kembali melakukan penyerangan terhadap Banten kali ini yang menjadi sasarannya adalah kapal dagang Banten yang mengangkut cengkeh dari Ambon, [34] Pangeran Anom (Abu al Ma'ali Ahmad) yang merupakan anak dari Sultan Banten Abu al Mafakir Mahmud Abdul Kadir sekaligus wakilnya lantas mengirimkan surat kepada Raja Charles I dari Inggis untuk meminta bantuan menghadapi Vereenigde Oostindische Compagnie di Batavia, Pangeran Abu al Ma'ali Ahmad meminta agar Inggris mau mengirimkan prajuritnya dalam membantu kesultanan Banten menghadapi Vereenigde Oostindische Compagnie namun jika Inggris berkeberatan atau tidak bersedia dengan alasan apapun maka Pangeran hanya akan meminta bantuan persenjataan saja, yakni meriam dan mesiu [2]' [34] Penjajakan perdamaian dengan Belanda [ sunting - sunting sumber ] Pada tahun 1636 kesultanan Banten melakukan penjajakan perdamaian dengan Belanda, pada masa ini situasi keamanan cenderung kondusif, Hindia Belanda pada saat itu ada di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Antonio van Diemen yang mulai menjabat sejak 1 Januari 1636.

Pada masa penjajakan perdamaian ini kesultanan Banten pun mulai mengimbau kepada seluruh masyarakat di wilayah kesultanan Banten agar mulai menanam lada. Pada tahun 1639 perjanjian perdamaian berhasil dicapai [34] Puncak kejayaan [ sunting - sunting sumber ] De Stad Bantam, lukisan cukilan lempeng logam (engraving) karya François Valentijn, Amsterdam, 1726 [37] Kesultanan Banten merupakan kerajaan maritim dan mengandalkan perdagangan dalam menopang perekonomiannya.

Monopoli atas perdagangan lada di Lampung, menempatkan penguasa Banten sekaligus sebagai pedagang perantara dan Kesultanan Banten berkembang pesat, menjadi salah satu pusat niaga yang penting pada masa itu.

[38] Perdagangan laut berkembang ke seluruh Nusantara, Banten menjadi kawasan multi-etnis. Dibantu orang Inggris, Denmark dan Tionghoa, Banten berdagang dengan Persia, India, Siam, Vietnam, Filipina, Tiongkok dan Jepang. [39] Perintah penanaman lada dan perlawanan dari masyarakat [ sunting - sunting sumber ] Imbauan penanaman kembali lada yang telah dimulai sejak 1636 menemui perlawanan masyarakat di daerah Lampung dan Bengkulu, masyarakat kerajaan-kerajaan di Bengkulu yang berada di bawah kendali kesultanan Banten seperti Selebar misalnya melawan imbauan penanaman lada yang mulai terkesan memaksa [34] Penguasaan Sukadana [ sunting - sunting sumber ] Masa Sultan Ageng Tirtayasa (bertakhta 1651-1682) dipandang sebagai masa kejayaan Banten.

[40] Di bawah dia, Banten memiliki armada yang mengesankan, dibangun atas contoh Eropa, serta juga telah mengupah orang Eropa bekerja pada Kesultanan Banten. [30] Dalam mengamankan jalur pelayarannya Banten juga mengirimkan armada lautnya ke Sukadana atau Kerajaan Tanjungpura ( Kalimantan Barat sekarang) dan menaklukkannya tahun 1661. [41] Pada masa ini Banten juga berusaha keluar dari tekanan yang dilakukan VOC, yang sebelumnya telah melakukan blokade atas kapal-kapal dagang menuju Banten.

[30] Pengaturan lada di Bengkulu [ sunting - sunting sumber ] Pada tanggal 12 Februari 1663, Sultan Banten Abdul Fatah mengeluarkan keputusan membolehkan komoditas lada dijual kepada siapa saja namun lada yang hendak tersebut harus terlebih dahulu dibawa ke Banten, jika keputusan pengaturan penjualan lada ini dilanggar maka sebagai hukumannya istri dan anaknya akan dibawa ke Banten [42] Banten dalam Kasus Perwalian kesultanan Cirebon dan perjuangan Raden Trunajaya [ sunting - sunting sumber ] Pada saat Pangeran Girilaya dan kedua anak tertuanya yaitu Martawijaya dan Kartawijaya diundang ke Mataram untuk menerima upacara penghormatan atas naiknya Pangeran Girilaya menjadi penguasa Cirebon namun ternyata tidak kunjung kembali, kesultanan Cirebon mengalami perguncangan karena tidak adanya pemimpin di kesultanan Cirebon.

{/INSERTKEYS}

kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan ....

Pada masa tersebut untuk menghindari kesultanan Cirebon dari kekacauan dikarenakan di keraton Cirebon Pangeran Girilaya masih memiliki keturunan dari istri-istrinya yang lain seperti Pangeran Ketimang dan Pangeran Giyanti (anak Pangeran Girilaya dari istrinya yang merupakan keturunan bangsawan Cirebon) dan Bagus Jaka (anak Pangeran Girilaya dengan istrinya yang merupakan rakyat biasa), maka Sultan Ageng Tirtayasa dari kesultanan Banten menunjuk pangeran Wangsakerta (adik pangeran Martawijaya dan Kartawijaya) untuk menjadi wali sultan sampai ayahnya kembali.

[43] Keluarga akhirnya menyetujui pangeran Wangsakerta menjadi Wali sampai kembalinya ayahnya pangeran Girilaya dari Mataram. Lepasnya Karawang kepada Belanda dari Cirebon dan pembebasan para pangeran Cirebon [ sunting - sunting sumber ] Sepeninggal sultan Agung Hanyaraka Kusuma dari Mataram, penerusnya yaitu Amangkurat I bersikap lebih lunak kepada Belanda, perjanjian antara keduanya untuk saling membantu pun dilakukan, pada masa pemberontakan Trunojoyo, Mataram meminta bantuan Belanda untuk memadamkannya, Belanda yang diwakili Admiral Speelman (yang dikemudian hari menjadi Gubernur Jendral Cornelis Speelman) melalui Syahbandar Jepara yaitu Wangsadipa mengajukan syarat yaitu perluasan wilayah kekuasaan Belanda hingga sungai Cipunegara (di bagian utara) terus menyusuri ke selatan hingga bertemu kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan .

Syarat tersebut dibawa oleh residen James Cooper pada tanggal 4 Maret 1677 dan diterima oleh sultan Mataram, Amangkurat I dan putranya (beberapa bulan sebelum Trunojoyo merebut ibu kota Mataram tanggal 28 Juni 1677 dan membebaskan putra-putra pangeran Girilaya yang ditahan oleh Mataram yaitu Martawijaya dan Kartawijaya). [44] Syarat tersebut kemudian disetujui oleh Amangkurat I walau wilayah yang diminta sebagiannya adalah milik kesultanan Cirebon yaitu wilayah Karawang atau sebagian masyarakat mengenalnya dengan Rangkas Sumedang (wilayah antara sungai Citarum dan Cibeet hingga sungai Cipunegara yang sekarang menjadi kabupaten Karawang, kabupaten Purwakarta dan kabupaten Subang), para pangeran Cirebon ditahan sebagai garansi Cirebon mau melepaskan wilayah pesisir bagian baratnya untuk Belanda.

[44] Pangeran Wangsakerta yang berada di Cirebon dan menjadi wali setelah ayahnya (pangeran Girilaya) tidak kunjung kembali dari Mataram akibat ditahan oleh Amangkurat I kemudian meminta bantuan kesultanan Banten, sultan Ageng Tirtayasa kemudian mengirimkan bantuan persenjataan kepada Trunojoyo dengan memintanya untuk membebaskan para pangeran Cirebon yang ditahan oleh Mataram, ketika Trunojoyo berhasil merebut keraton Mataram, orang-orang yang ada di dalamnya kemudian ditawan dan dibawa ke Kediri, [45] awalnya Tronojoyo tidak mengetahui bahwa para pangeran Cirebon ada di antara para tahanan yang dibawa ke Kediri, setelah memeriksa para tahanan yang berasal dari Mataram dan menemukan para pangeran Cirebon, Trunojoyo kemudian membebaskan mereka dengan hormat dan mengirimnya ke kesultanan Banten.

[44] Posisi Cirebon yang sedang lemah pada saat itu ditambah dengan kosongnya kursi sultan dan hanya diisi oleh seorang wali sultan saja membuat kesultanan Cirebon belum bisa merebut kembali wilayah Karawang yang direbut Belanda secara ilegal dan paksa dengan bantuan Amangkurat I dari Mataram, sehingga ketika kedua pangeran Cirebon kembali dari Banten dan mewarisi kesultanan Cirebon dengan nama Kasepuhan dan Kanoman mereka mewarisi wilayahnya yang telah dikurangi wilayah Karawang yang diambil paksa tersebut, sehingga wilayah kekuasaan kesultanan Cirebon paling barat ialah wilayah Kandang Haur dan sekitarnya hingga batas sungai Cipunegara.

Penyerangan Banten atas loji Belanda dan disingkirkannya wakil Mataram di Cirebon [ sunting - sunting sumber ] Pada akhir tahun 1676, sebuah kapal dari Cirebon yang berlabuh di Banten memberitahu bahwa Pekalongan sudah berhasil dikuasai pasukan Trunajaya pada sekitar 25 Desember 1676, penguasa daerah pesisir pada masa itu Singawangsa diberitakan ikut dengan para pasukan Trunajaya [46] Pada tanggal 2 Januari 1677, Tegal berhasil dikuasai pasukan Trunajaya tanpa kekerasan [46] Pada tanggal 5 Januari 1677, pasukan Trunajaya yang dipimpin oleh Ngabehi Sindukarti (paman Trunajaya) dan Ngabehi Langlang Pasir sampai di pelabuhan Cirebon dengan 12 kapal berisi 150 pasukan, mereka menuntut agar wakil Mataram yang ditempatkan di Cirebon sebagai Syahbandar yaitu Martadipa menyerah dan menyetujui syarat-syaratnya, yaitu [47] 1.

Cirebon tidak lagi membayar pajak kepada Mataram, 2. Tentara Madura harus melindungi anak-anak dan wanita, 3. Sandera Cirebon tidak ada lagi yang dikirim ke Mataram, 4. Selanjutnya Cirebon berada di bawah pemerintahan rajanya sendiri, 5. Cirebon berada di bawah pertanggungan hak-hak Sultan Banten, 6.

Orang Cirebon menyokong Banten dengan senjata serta mengakui Sultan Banten sebagai pelindung Syarat-syarat tersebut disertai peringatan dengan ancaman seandainya tidak diterima. [47] Martadipa yang pada saat itu telah berusia lanjut akhirnya menerima syarat yang disodorkan kepadanya atas nama Raden Trunajaya [46] dan bersedia menyerahkan kekuasaannya kepada keturunan atau kerabat dekat Sultan Abdul Karim (Sultan Cirebon yang ditawan Mataram) [48] Penobatan anak-anak Sultan Cirebon Kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan .

Karim [ sunting - sunting sumber ] Pembagian terhadap kesultanan Cirebon secara resmi terjadi pada tahun 1679 saat Pangeran Martawijaya dan Kartawijaya dinobatkan menjadi sultan di keraton Pakungwati, kesultanan Cirebon, sebelum kedua pangeran kembali ke Cirebon setelah diselamatkan oleh Tronojoyo dari Mataram dengan bantuan persenjataan dari kesultanan Banten pada tahun 1677, Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten terpaksa membagi kesultanan Cirebon menjadi dua kesultanan dan satu peguron dikarenakan untuk menghindari perpecahan keluarga kesultanan Cirebon karena adanya perbedaan pendapat di kalangan keluarga besar mengenai penerus kesultanan Cirebon, pendapat keluarga besar terbelah dan mendukung ketiganya (Martawijaya, Kartawijaya dan Wangsakerta) untuk menjadi penguasa, maka Sultan Ageng Tirtayasa menobatkan ketiganya menjadi penguasa Cirebon di Banten pada tahun yang sama setelah mereka tiba di kesultanan Banten dari Mataram yaitu pada tahun 1677, kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan .

orang menjadi sultan dan memiliki wilayahnya masing-masing (walaupun belum bersifat mengikat atau tetap [47]) yaitu Pangeran Martawijaya dan Kartawijaya sementara satu orang yaitu Pangeran Wangsakerta menjadi Panembahan tanpa wilayah kekuasaan namun memegang kekuasaan atas kepustakaan keraton.

[43] Hal tersebut merupakan babak baru bagi kesultanan Cirebon, di mana kesultanan terpecah menjadi tiga dan masing-masing berkuasa dan menurunkan para penguasa berikutnya, berikut gelar ketiganya setelah resmi dinobatkan: • Sultan Kasepuhan, Pangeran Martawijaya, dengan gelar Sultan Sepuh Abil Makarimi Muhammad Samsudin (1679-1697) • Sultan Kanoman, Pangeran Kartawijaya, dengan gelar Sultan Anom Abil Makarimi Muhammad Badrudin (1679-1723) • Panembahan Cirebon, Pangeran Wangsakerta dengan gelar Pangeran Abdul Kamil Muhammad Nasarudin atau Panembahan Tohpati (1679-1713) Perubahan gelar dari Panembahan menjadi Sultan bagi dua putra tertua Pangeran Girilaya ini dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa, karena keduanya dilantik menjadi Sultan Cirebon di Banten.

Sebagai sultan, mereka mempunyai wilayah kekuasaan penuh, rakyat, dan keraton masing-masing. Pangeran Wangsakerta tidak diangkat menjadi sultan melainkan hanya Panembahan. Ia tidak memiliki wilayah kekuasaan atau keraton sendiri, akan tetapi berdiri sebagai Kaprabon (Paguron) yaitu tempat belajar para intelektual keraton.

Misi Rijckloff van Goens menghancurkan kesultanan Banten [ sunting - sunting sumber ] Pada 4 Januari 1678, Rijckloff van Goens ditunjuk sebagai pengganti Gubernur Jenderal Joan Maetsuycker kemudian pada 31 Januari 1679 Rijckloff van Goens menulis surat kepada pemerintah Belanda, dia menuliskan bahwa “ yang amat perlu untuk pembinaan negeri kita (Belanda) ialah penghancuran dan penghapusan Banten, Banten harus ditaklukkan atau kompeni akan lenyap ” [49] Pribawa dan masuknya Belanda pada Perjanjian 1681 [ sunting - sunting sumber ] Penobatan ketiga putra Sultan Cirebon Abdul Karim sebagai penguasa wilayah dan penguasa peguron pada tahun 1677 di Banten oleh Sultan Abdul Fatah dan dilanjutkan dengan deklarasi ketiganya di keraton Pakungwati pada 1679 ternyata masih menyisakan ketidakpuasan, Pangeran Martawijaya yang sudah dinobatkan menjadi Sultan Sepuh Syamsuddin dan berkuasa di kesultanan Kasepuhan masih beranggapan bahwa dia adalah pewaris takhta yang sah karena dia adalah putera tertua dari Sultan Cirebon Abdul Karim yang meninggal ketika dalam penawanan Mataram, konflik internal keturunan Sultan Abdul Karim diperkirakan bermula ketika Sultan Abdul Fatah dari Banten hanya memediasi ketiganya dengan cara menobatkan mereka bertiga sebagai penguasa wilayah dan penguasa peguron namun tidak membagi wilayah kekuasaan kepada masing-masingnya secara tetap dan mengikat [47] Pangeran Martawijaya yang telah dinobatkan menjadi Sultan Sepuh Syamsuddin kemudian menyampaikan keinginannya kepada utusan Vereenigde Oostindische Compagnie yang bernama Jacob van Dyck agar Vereenigde Oostindische Compagnie Belanda mau membantunya mendapatkan takhta kesultanan Cirebon, hal ini kemudian mendapatkan penentangan oleh Pangeran Kartawijaya yang telah dinobatkan menjadi Sultan Anom Badriddin dan Pangeran Wangsakerta yang telah dinobatkan menjadi Panembahan Nasiruddin.

Pangeran Kartawijaya (Sultan Anom Badruddin) berpendapat bahwa mereka telah sama-sama dinobatkan sebagai penguasa wilayah di Cirebon, menyikapi hal ini kemudian Pangeran Kartawijaya meminta perlindungan kepada kesultanan Banten, sementara Pangeran Wangsakerta (Panembahan Nasiruddin) menuntut agar dirinya juga dapat berkuasa di Cirebon karena selama terjadi kekosongan akibat ayah dan saudaranya ditawan oleh Mataram dialah yang menjadi Wali dan menjalankan pemerintahan kesultanan Cirebon [47] Kesultanan Banten menyerang loji Belanda di Indramayu [ sunting - sunting sumber ] Pada bulan April tahun 1679 kesultanan Banten menyerang Loji (bahasa Indonesia : gudang) Vereenigde Oostindische Compagnie di Indramayu di bawah pimpinan Arya Surya dan Ratu Bagus Abdul Qadir, [50] penyerangan kesultanan Banten ini adalah bagian dari perang gerilya kesultanan Banten terhadap Vereenigde Oostindische Compagnie dan sekutunya di pulau Jawa.

Jacob van Dyck dan surat Belanda 1680 [ sunting - sunting sumber ] Pada bulan September 1680, ketika pasukan gerilya kesultanan Banten di Cirebon di ambang kehancuran oleh Vereenigde Oostindische Compagnie, Jacob van Dyck yang sebelumnya adalah utusan Vereenigde Oostindische Compagnie yang diminta bantuan oleh Pangeran Martawijaya (Sultan Sepuh Syamsuddin) agar menyampaikan keinginannya supaya Vereenigde Oostindische Compagnie mau membantunya dalam mendapatkan takhta kesultanan Cirebon telah diutus ke Cirebon sebagai seorang Commissaris [47] (bahasa Indonesia : mediator atau penengah perjanjian) untuk menyerahkan surat keputusan pemerintahan tertinggi Belanda yang menyatakan bahwa pemerintahan tertinggi Belanda sudah menganggap para penguasa Cirebon sebagai raja-raja yang bebas tidak terikat oleh pihak manapun dan pemerintahan tertinggi Belanda berjanji akan melindungi para penguasa Cirebon dengan cara menempatkannya sebagai protektorat kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan .

dalam perlindungan Belanda) [47] Pada saat yang sama Gubernur Jenderal Rijckloff van Goens dan para penasihatnya yang diketuai oleh Cornelis Janzoon Speelman (menjabat sejak 18 Januari 1678 [51]) sudah menyusun teks perjanjian yang akan diserahkan kepada tiga penguasa Cirebon, teks perjanjian tersebut disusun sendiri oleh Cornelis Janzoon Speelman yang kemudian pada tanggal 29 Oktober 1680 ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

[52] Penunjukan Cornelis Janzoon Speelman sebagai Gubernur Jenderal dikarenakan Gubernur Jenderal Rijckloff van Goens menyatakan keinginannya untuk mengundurkan diri, keinginan Gubernur Jenderal Rijckloff van Goens untuk mengundurkan diri dikarenakan merasa tidak mampu lagi menghadapi penentangan demi penentangan yang dilakukan oleh Cornelis Janzoon Speelman dan rekan-rekannya di pemerintahan tinggi [52] Pengajuan pengunduran diri yang dilakukan oleh Gubernur Jenderal Rijckloff van Goens sebenarnya telah dilakukan sejak 1679 namun baru mendapatkan respon dari Heeren XVII (tujuh belas orang pemimpin tinggi Vereenigde Oostindische Compagnie) melalui surat tertanggal 29 Oktober 1680, di dalam surat tersebut Heeren XVII menerima pengunduran dirinya dengan hormat dan sebagai penghargaan atas jasa-jasanya selama ini kepada Vereenigde Oostindische Compagnie, Heeren XVII menawarkan kepada anaknya yang bernama Rijckloff van Goens Jr yang pada masa itu menjabat sebagai Gubernur wilayah jajahan Belanda di Srilanka sebuah posisi di pemerintahan tinggi [52] Pangeran Haji dan kekalahan pasukan gerilya kesultanan Banten di Cirebon [ sunting - sunting sumber ] Pada masa gerilya ini Sultan Abdul Fatah dari kesultanan Banten menghadapi konflik internal yang dipicu oleh kekhawatiran Pangeran Haji akan takhta kesultanan Banten yang mungkin tidak akan jatuh kepadanya, konflik internal ini memulai puncaknya ketika Cornelis Janzoon Speelman ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk menggantikan Rijckloff van Goens pada 29 Oktober 1680.

[52] Pangeran Haji kemudian pada tanggal 25 November 1680 mengirimkan surat ucapan selamat kepada Cornelis Janzoon Speelman atas penunjukan dirinya sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Pengiriman surat ucapan selamat oleh Pangeran Haji kepada Cornelis Janzoon Speelman memicu kekecewaan Sultan Abdul Fatah dikarenakan pada masa itu Vereenigde Oostindische Compagnie baru saja menghancurkan pasukan gerilya kesultanan Banten di Cirebon [35] yang berimbas pada berhasil dikuasai sepenuhnya wilayah kesultanan Cirebon oleh Vereenigde Oostindische Compagnie Belanda.

[53] Perjanjian 1681 [ sunting - sunting sumber ] Pada akhir tahun 1680 pemerintahan tertinggi Belanda menyetujui isi teks perjanjian yang ditujukan kepada para penguasa Cirebon, kemudian pada saat tahun baru 1681 tujuh orang utusan dari tiga penguasa Cirebon yang tinggal di Batavia menghadiri upacara kenegaraan di rumah Rijckloff van Goens (Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang baru saja mengundurkan diri pada 29 Oktober 1680) yang dipimpin oleh Jacob van Dyck, setelah bersulang untuk keselamatan Raja Belanda dengan anggur spanyol maka diserahkan surat keputusan pemerintah tertinggi Belanda untuk ketiga penguasa Cirebon disertai dengan hadiah-hadiah kepada mereka dan atasan mereka (para penguasa Cirebon), menjelang malam harinya Jacob van Dyck berlayar dengan dua buah kapal diikuti oleh perahu-perahu yang membawa para utusan Cirebon menuju ke Cirebon, iringan Jacob van Dyck sampai di pelabuhan Cirebon empat hari kemudian (tanggal 5 Januari 1681), iring-iringan Jacob van Dyck disambut oleh tembakan meriam dan kapten Joachim Michiefs yang telah terlebih dahulu ada di Cirebon.

[47], [54] Pada keesokan harinya tanggal 6 Januari 1681, diadakanlah upacara yang dihadiri oleh para penguasa Cirebon di alun-alun yang disertai tembakan meriam sebagai bentuk penghormatan, kemudian surat keputusan pemerintahan tertinggi Belanda yang dibawa dari Batavia pada tanggal 1 Januari 1681 tersebut dibacakan. [47] [54] Pada tanggal 7 Januari 1681 dimulailah perundingan di antara para penguasa Cirebon dan pada malam harinya dicapailah kesepakatan untuk memberlakukan perjanjian antara Belanda dan Cirebon, Perjanjian tersebut kemudian ditandatangani oleh ketiga penguasa Cirebon.

[55] [56] Pada perjanjian tersebut Belanda diwakili oleh komisioner Jacob van Dijk dan kapten Joachim Michiefs, [57] perjanjian persahabatan yang dimaksud adalah untuk memonopoli perdagangan di wilayah Cirebon di antaranya perdagangan komoditas kayu, beras, gula, [57] lada, serta Jati sekaligus menjadikan kesultanan-kesultanan di Cirebon protektorat Belanda (wilayah di bawah naungan Belanda).

[58] Perjanjian Belanda - Cirebon 1681 tersebut juga membatasi perdagangan, membatasi pelayaran penduduk dan memastikan Vereenigde Oostindische Compagnie memperoleh hak di sana [53] Perang saudara [ sunting - sunting sumber ] Sekitar tahun 1680 muncul perselisihan dalam Kesultanan Banten, akibat perebutan kekuasaan dan pertentangan antara Sultan Ageng dengan putranya Sultan Haji. Perpecahan ini dimanfaatkan oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang memberikan dukungan kepada Sultan Haji, sehingga perang saudara tidak dapat dielakkan.

Sementara dalam memperkuat posisinya, Sultan Haji atau Sultan Abu Nashar Abdul Qahar juga sempat mengirimkan 2 orang utusannya, menemui Raja Inggris di London tahun 1682 untuk mendapatkan dukungan serta bantuan persenjataan.

[2] Dalam perang ini Sultan Ageng terpaksa mundur dari istananya dan pindah ke kawasan yang disebut dengan Tirtayasa, tetapi pada 28 Desember 1682 kawasan ini juga dikuasai oleh Sultan Haji bersama VOC.

Sultan Ageng bersama putranya yang lain Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf dari Makasar mundur ke arah selatan pedalaman Sunda. Namun pada 14 Maret 1683 Sultan Ageng tertangkap kemudian ditahan di Batavia. Sementara VOC terus mengejar dan mematahkan perlawanan pengikut Sultan Ageng yang masih berada dalam pimpinan Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf. Pada 5 Mei 1683, VOC mengirim Untung Surapati yang berpangkat letnan beserta pasukan Balinya, bergabung dengan pasukan pimpinan Letnan Johannes Maurits van Happel menundukkan kawasan Pamotan dan Dayeuh Luhur, di mana pada 14 Desember 1683 mereka berhasil menawan Syekh Yusuf.

[59] Sementara setelah terdesak akhirnya Pangeran Purbaya menyatakan menyerahkan diri. Kemudian Untung Surapati disuruh oleh Kapten Johan Ruisj untuk menjemput Pangeran Purbaya, dan dalam perjalanan membawa Pangeran Purbaya ke Batavia, mereka berjumpa dengan pasukan VOC yang dipimpin oleh Willem Kuffeler, tetapi terjadi pertikaian di antara mereka, puncaknya pada 28 Januari 1684, pos pasukan Willem Kuffeler dihancurkan, dan berikutnya Untung Surapati beserta pengikutnya menjadi buronan VOC.

Sedangkan Pangeran Purbaya sendiri baru pada 7 Februari 1684 sampai di Batavia. [60] Penurunan [ sunting - sunting sumber ] Bantuan dan dukungan VOC kepada Sultan Haji mesti dibayar dengan memberikan kompensasi kepada VOC di antaranya pada 12 Maret 1682, wilayah Lampung diserahkan kepada VOC, seperti tertera dalam surat Sultan Haji kepada Mayor Issac de Saint Martin, Laksamana kapal VOC di Batavia yang sedang berlabuh di Banten.

Surat itu kemudian dikuatkan dengan surat perjanjian tanggal 22 Agustus 1682 yang membuat VOC memperoleh hak monopoli perdagangan lada di Lampung. [61] Selain itu berdasarkan perjanjian tanggal 17 April 1684, Sultan Haji juga mesti mengganti kerugian akibat perang tersebut kepada VOC. [62] Setelah meninggalnya Sultan Haji tahun 1687, VOC mulai mencengkeramkan pengaruhnya di Kesultanan Banten, sehingga pengangkatan para Sultan Banten mesti mendapat persetujuan dari Gubernur Jendral Hindia Belanda di Batavia.

Sultan Abu Fadhl Muhammad Yahya diangkat menggantikan Sultan Haji namun hanya berkuasa sekitar tiga tahun, selanjutnya digantikan oleh saudaranya Pangeran Adipati dengan gelar Sultan Abul Mahasin Muhammad Zainul Abidin dan kemudian dikenal juga dengan gelar Kang Sinuhun ing Nagari Banten.

Perang saudara yang berlangsung di Banten meninggalkan ketidakstabilan pemerintahan masa berikutnya. Konfik antara keturunan penguasa Banten [63] maupun gejolak ketidakpuasan masyarakat Banten, atas ikut campurnya VOC dalam urusan Banten. Perlawanan rakyat kembali memuncak pada masa akhir pemerintahan Sultan Abul Fathi Muhammad Syifa Zainul Arifin, di antaranya perlawanan Ratu Bagus Buang dan Kyai Tapa.

Akibat konflik yang berkepanjangan Sultan Banten kembali meminta bantuan VOC dalam meredam beberapa perlawanan rakyatnya sehingga sejak 1752 Banten telah menjadi vasal dari VOC. [41] Penghapusan kesultanan Banten dan lepasnya Lampung [ sunting - sunting sumber ] Reruntuhan Keraton Kaibon, bekas istana kediaman Ibu Suri Sultan Banten, pada tahun 1933 Pada tahun 1808 Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1808-1810, memerintahkan pembangunan Jalan Raya Pos untuk mempertahankan pulau Jawa dari serangan Inggris.

[64] Daendels memerintahkan Sultan Banten untuk memindahkan ibu kotanya ke Anyer dan menyediakan tenaga kerja untuk membangun pelabuhan yang direncanakan akan dibangun di Ujung Kulon. Sultan menolak perintah Daendels, sebagai jawabannya Daendels memerintahkan penyerangan atas Banten dan penghancuran Istana Surosowan. Sultan beserta keluarganya disekap di Puri Intan (Istana Surosowan) dan kemudian dipenjarakan di Benteng Speelwijk.

Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqin kemudian diasingkan dan dibuang ke Batavia. Pada 22 November 1808, Daendels mengumumkan dari markasnya di Serang bahwa wilayah Kesultanan Banten telah diserap ke dalam wilayah Hindia Belanda. [65] Selain itu Gubernur Jendral Herman Willem Daendels mengeluarkan surat keputusan pada tanggal 22 November 1808 untuk melepaskan Lampung dari wilayah kesultanan Banten dan keterkaitannya dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), wilayah Lampung dalam surat keputusan tersebut langsung berada di bawah pengawasan Gubernur Jenderal.

[66] Kesultanan Banten resmi dihapuskan tahun 1813 oleh pemerintah kolonial Inggris. [67] Pada tahun itu, Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin dilucuti dan dipaksa turun takhta oleh Thomas Stamford Raffles. Peristiwa ini merupakan pukulan pamungkas yang mengakhiri riwayat Kesultanan Banten. Agama [ sunting - sunting sumber ] Lukisan litograf Masjid Agung Banten pada kurun 1882-1889. Berdasarkan data arkeologis, masa awal masyarakat Banten dipengaruhi oleh beberapa kerajaan yang membawa keyakinan Hindu- Buddha, seperti Tarumanagara, Sriwijaya dan Kerajaan Sunda.

Dalam Babad Banten menceritakan bagaimana Sunan Gunung Jati bersama Maulana Hasanuddin, melakukan penyebaran agama Islam secara intensif kepada penguasa Banten Girang beserta penduduknya. Beberapa cerita mistis juga mengiringi proses islamisasi di Banten, termasuk ketika pada masa Maulana Yusuf mulai menyebarkan dakwah kepada penduduk pedalaman Sunda, yang ditandai dengan penaklukan Pakuan Pajajaran.

Islam menjadi pilar pendirian Kesultanan Banten, Sultan Banten dirujuk memiliki silsilah sampai kepada Nabi Muhammad, dan menempatkan para ulama memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan masyarakatnya, seiring itu tarekat maupun tasawuf juga berkembang di Banten. Sementara budaya masyarakat menyerap Islam sebagai bagian yang tidak terpisahkan. Beberapa tradisi yang ada dipengaruhi oleh perkembangan Islam di masyarakat, seperti terlihat pada kesenian bela diri Debus.

Kadi memainkan peranan penting dalam pemerintahan Kesultanan Banten, selain bertanggungjawab dalam penyelesaian sengketa rakyat di pengadilan agama, juga dalam penegakan hukum Islam seperti hudud. [68] Toleransi umat beragama di Banten, berkembang dengan baik. Walau didominasi oleh muslim, tetapi komunitas tertentu diperkenankan membangun sarana peribadatan mereka, di mana sekitar tahun 1673 telah berdiri beberapa klenteng pada kawasan sekitar pelabuhan Banten.

Kependudukan [ sunting - sunting sumber ] Kemajuan Kesultanan Banten ditopang oleh jumlah penduduk yang banyak serta multi-etnis. Mulai dari Jawa, Sunda dan Melayu. Sementara kelompok etnis Nusantara lain dengan jumlah signifikan antara lain Makasar, Bugis dan Bali. Dari beberapa sumber Eropa disebutkan sekitar tahun 1672, di Banten diperkirakan terdapat antara 100.000 sampai 200.000 orang lelaki yang siap untuk berperang, sumber lain menyebutkan, bahwa di Banten dapat direkrut sebanyak 10 000 orang yang siap memanggul senjata.

Namun dari sumber yang paling dapat diandalkan, pada Dagh Register-(16.1.1673) menyebutkan dari sensus yang dilakukan VOC pada tahun 1673, diperkirakan penduduk di kota Banten yang mampu menggunakan tombak atau senapan berjumlah sekitar 55.000 orang.

Jika keseluruhan penduduk dihitung, apa pun kewarganegaraan mereka, diperkirakan berjumlah sekitar 150.000 penduduk, termasuk perempuan, anak-anak, dan lansia.

[69] Sekitar tahun 1676 ribuan masyarakat Tiongkok mencari suaka dan bekerja di Banten. Gelombang migrasi ini akibat berkecamuknya perang di Fujian serta pada kawasan Tiongkok Selatan lainnya. Masyarakat ini umumnya membangun pemukiman sekitar pinggiran pantai dan sungai serta memiliki proporsi jumlah yang signifikan dibandingkan masyarakat India dan Arab.

Sementara di Banten beberapa kelompok masyarakat Eropa seperti Inggris, Belanda, Prancis, Denmark dan Portugal juga telah membangun pemondokan dan gudang di sekitar Ci Banten. Perekonomian [ sunting - sunting sumber ] Dalam meletakkan dasar pembangunan ekonomi Banten, selain di bidang perdagangan untuk daerah pesisir, pada kawasan pedalaman pembukaan sawah mulai diperkenalkan.

Asumsi ini berkembang karena pada waktu itu di beberapa kawasan pedalaman seperti Lebak, perekonomian masyarakatnya ditopang oleh kegiatan perladangan, sebagaimana penafsiran dari naskah sanghyang siksakanda ng karesian yang menceritakan adanya istilah pahuma (peladang), panggerek ( pemburu) dan panyadap (penyadap).

Ketiga istilah ini jelas lebih kepada sistem ladang, begitu juga dengan nama peralatannya seperti kujang, patik, baliung, kored, dan sadap. Pada masa Sultan Ageng antara 1663 dan 1667 pekerjaan pengairan besar dilakukan untuk mengembangkan pertanian.

Antara 30 dan 40 km kanal baru dibangun dengan menggunakan tenaga sebanyak 16.000 orang. Di sepanjang kanal tersebut, antara 30 dan 40.000 ribu hektare sawah baru dan ribuan hektare perkebunan kelapa ditanam.

30 000-an petani ditempatkan di atas tanah tersebut, termasuk orang Bugis dan Makasar. Perkebunan tebu, yang didatangkan saudagar Tiongkok pada tahun 1620-an, dikembangkan. Di bawah Sultan Ageng, perkembangan penduduk Banten meningkat signifikan. [41] Tak dapat dimungkiri sampai pada tahun 1678, Banten telah menjadi kota metropolitan, dengan jumlah penduduk dan kekayaan yang dimilikinya menjadikan Banten sebagai salah satu kota terbesar di dunia pada masa tersebut.

[69] Pemerintahan [ sunting - sunting sumber ] Bendera Kesultanan Banten, versi pelat Jepang tahun 1876. Setelah Banten muncul sebagai kerajaan yang mandiri, penguasanya menggunakan gelar Sultan, sementara dalam lingkaran istana terdapat gelar Pangeran Ratu, Pangeran Adipati, Pangeran Gusti, dan Pangeran Anom yang disandang oleh para pewaris.

Pada pemerintahan Banten terdapat seseorang dengan gelar Mangkubumi, Kadi, Patih serta Syahbandar yang memiliki peran dalam administrasi pemerintahan.

Sementara pada masyarakat Banten terdapat kelompok bangsawan yang digelari dengan tubagus (Ratu Bagus), ratu atau sayyid, dan golongan khusus lainnya yang mendapat kedudukan istimewa adalah terdiri atas kaum ulama, pamong praja, serta kaum jawara. Pusat pemerintahan Banten berada antara dua buah sungai yaitu Ci Banten dan Ci Karangantu. Di kawasan tersebut dahulunya juga didirikan pasar, alun-alun dan Istana Surosowan yang dikelilingi oleh tembok beserta parit, sementara di sebelah utara dari istana dibangun Masjid Agung Banten dengan menara berbentuk mercusuar yang kemungkinan dahulunya juga berfungsi sebagai menara pengawas untuk melihat kedatangan kapal di Banten.

Berdasarkan Sejarah Banten, lokasi pasar utama di Banten berada antara Masjid Agung Banten dan Ci Banten, yang dikenal dengan nama Kapalembangan. Sementara pada kawasan alun-alun terdapat paseban yang digunakan oleh Sultan Banten sebagai tempat untuk menyampaikan maklumat kepada rakyatnya. Secara keseluruhan rancangan kota Banten berbentuk segi empat yang dipengaruhi oleh konsep Hindu-Buddha atau representasi yang dikenal dengan nama mandala.

[41] Selain itu pada kawasan kota terdapat beberapa kampung yang mewakili etnis tertentu, seperti Kampung Pekojan (Persia) dan Kampung Pecinan. Kesultanan Banten telah menerapkan cukai atas kapal-kapal yang singgah ke Banten, pemungutan cukai ini dilakukan oleh Syahbandar yang berada di kawasan yang dinamakan Pabean.

Salah seorang syahbandar yang terkenal pada masa Sultan Ageng bernama Syahbandar Kaytsu. Warisan sejarah [ sunting - sunting sumber ] Setelah dihapuskannya Kesultanan Banten, wilayah Banten menjadi bagian dari kawasan kolonialisasi.

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, tahun 1817 Banten dijadikan keresidenan, dan sejak tahun 1926 wilayah tersebut menjadi bagian dari Provinsi Jawa Barat. Kejayaan masa lalu Kesultanan Banten menginspirasikan masyarakatnya untuk menjadikan kawasan Banten kembali menjadi satu kawasan otonomi, reformasi pemerintahan Indonesia berperan mendorong kawasan Banten sebagai provinsi tersendiri yang kemudian ditetapkan melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000.

Selain itu masyarakat Banten telah menjadi satu kumpulan etnik tersendiri yang diwarnai oleh perpaduan antar-etnis yang pernah ada pada masa kejayaan Kesultanan Banten, dan keberagaman ini pernah menjadikan masyarakat Banten sebagai salah satu kekuatan yang dominan di Nusantara. Daftar Sultan Banten [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Daftar Sultan Banten Berikut adalah daftar sultan Banten: [70] [71] Kesultanan Banten sebagai Negara Berdaulat [ sunting - sunting sumber ] No.

Masa/Tahun Nama Sultan Nama Lain Keterangan Sultan Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati Sultan ke-2 Kesultanan Cirebon 1 1552 - 1570 Sultan Maulana Hasanuddin Pangeran Sabakinking 8 Oktober 1526 M (1 Muharam 933 H) - 1552 M, sebagai kadipaten di bawah Kesultanan Cirebon 2 1570 - 1585 Sultan Maulana Yusuf Pangeran Pasareyan 3 1585 - 1596 Sultan Maulana Muhammad • Pangeran Sedangrana • Prabu Seda ing Palembang 4 1596 - 1647 Sultan Abdul Mafakhir Mahmud Abdulkadir • Pangeran Ratu • Sultan Agung 5 1647 - 1651 Sultan Abu al-Ma'ali Ahmad • Pangeran Anom • Sultan Kilen 6 1651 - 1683 Sultan Ageng Tirtayasa [72] • Abu al-Fath Abdul Fattah • Pangeran Dipati • Pangeran Surya 7 1683 - 1687 Sultan Abu Nashar Abdul Qahar • Kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan .

Haji • Pangeran Dakar (Catatan) 1 8 1687 - 1690 Sultan Abu al-Fadhl Muhammad Yahya 9 1690 - 1733 Sultan Abu al-Mahasin Muhammad Zainulabidin • Pangeran Adipadi • Kang Sinihun ing Nagari Banten 10 1733 - 1750 Sultan Abdullah Muhammad Syifa Zainularifin 1750 - 1752 Sultan Syarifuddin Ratu Wakil 2 Pangeran Syarifuddin dalam pengaruh Ratu Syarifah Fatima [73] [74] 11 1752 - 1753 Sultan Abu al-Ma'ali Muhammad Wasi Pangeran Arya Adisantika 12 1753 - 1773 Sultan Abu al-Nasr Muhammad Arif Zainulasyiqin 13 1773 - 1799 Sultan Aliyuddin I Abu al-Mafakhir Muhammad Aliyuddin 14 1799 - 1801 Sultan Muhammad Muhyiddin Zainussalihin 15 1801 - 1802 Sultan Muhammad Ishaq Zainulmuttaqin 1802 - 1803 Caretaker Sultan Wakil Pangeran Natawijaya Untuk sementara administrasi Kesultanan Banten dipegang oleh seorang Caretaker Sultan Wakil Pangeran Natawijaya 16 1803 - 1808 Sultan Aliyuddin II Abu al-Mafakhir Muhammad Aqiluddin 1808 - 1809 Caretaker Sultan Wakil Pangeran Suramenggala Untuk sementara administrasi Kesultanan Banten dipegang oleh seorang Caretaker Sultan Wakil Pangeran Suramenggala 17 1809 - 1813 Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin Catatan: 1.

Penobatan ini disertai beberapa persyaratan. Persyaratan tersebut kemudian dituangkan dalam sebuah perjanjian yang ditandatangani pada 17 April 1684 yang meminimalkan kedaulatan Banten karena dengan perjanjian itu segala sesuatu yang berkaitan dengan urusan dalam dan luar negeri harus atas persetujuan VOC.

2. Ketika Sultan Abdullah Muhammad Syifa Zainularifin dibuang ke Ambon, istrinya Ratu Syarifah Fatima berhasil membujuk Belanda (Baron van Inhoff) untuk menobatkan putranya dari suami terdahulu sebagai Sultan Banten. Pangeran Syarifuddin naik takhta dengan gelar Sultan Syarifuddin Ratu Wakil, tetapi pada kenyataannya yang berkuasa adalah Ratu Syarifah Fatima.

[75] Hal tersebut yang menyebabkan tidak diakuinya Sultan Abdullah Muhammad Syifa Zainularifin maupun Ratu Syarifah Fatima sebagai Sultan Banten ke-11.

kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan ....

Lihat pula [ sunting - sunting sumber ] • Undhang-Undhang Bantěn Bacaan lanjut [ sunting - sunting sumber ] • Hussein Jayadiningrat, Critische Beschouwing van de Sadjarah-Banten, Disertasi Doktor, 3 Mei 1913, Universitas Leiden.

• Guillot, Claude, Lukman Nurhakim, Sonny Wibisono, Banten avant l'Islam - Etude archéologique de Banten Girang (Java Indonésie) 932 (?)-1526 ("Banten sebelum Islam - Studi arkeologis tentang Banten Girang 932 (?)-1526"), École française d'Extrême-Orient, 1994, ISBN 2-85539-773-1 • Darsa, Undang A.

2004. “Kropak 406; Carita Parahyangan dan Fragmen Carita Parahyangan“, Makalah disampaikan dalam Kegiatan Bedah Naskah Kuno yang diselenggarakan oleh Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga. Bandung-Jatinangor: Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran: hlm. 1 – 23. • Ekadjati, Edi S. 1995. Sunda, Nusantara, dan Indonesia; Suatu Tinjauan Sejarah.

Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran pada Hari Sabtu, 16 Desember `1995. Bandung: Universitas Padjadjaran. • Ekadjati, Edi S. 1981. Historiografi Priangan. Bandung: Lembaga Kebudayaan Universitas Padjadjaran.

• Ekadjati, Edi S. (Koordinator). 1993. Sejarah Pemerintahan di Jawa Barat. Bandung: Pemerintah Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat. • Raffles, Thomas Stamford. 1817. The History of Java, 2 vols. London: Block Parbury and Allen and John Murry. • Raffles, Thomas Stamford. 2008. The History of Java (Terjemahan Eko Prasetaningrum, Nuryati Agustin, dan Idda Qoryati Mahbubah).

Yogyakarta: Narasi. • Z., Mumuh Muhsin. Sunda, Priangan, dan Jawa Barat. Makalah disampaikan dalam Diskusi Hari Jadi Jawa Barat, diselenggarakan oleh Harian Umum Pikiran Rakyat Bekerja Sama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat pada Selasa, 3 November 2009 di Aula Redaksi HU Pikiran Rakyat.

• Uka Tjandrasasmita. (2009). Arkeologi Islam Nusantara. Kepustakaan Populer Gramedia. • E. Rokajat Asura. (September 2011). Harisbaya bersuami 2 raja - Kemelut cinta di antara dua kerajaan Sumedang Larang dan Cirebon. Penerbit Edelweiss. • Atja, Drs. (1970). Ratu Pakuan. Lembaga Bahasa dan Sedjarah Unpad. Bandung. • Atmamihardja, Mamun, Drs. Raden. (1958). Sadjarah Sunda.

Bandung. Ganaco Nv. • Joedawikarta (1933). Sadjarah Soekapoera, Parakan Moencang sareng Gadjah. Pengharepan. Bandoeng, • Lubis, Nina Herlina., Dr. MSi, dkk. (2003). Sejarah Tatar Sunda jilid I dan II. CV. Satya Historica. Bandung. • Herman Soemantri Emuch. (1979). Sajarah Sukapura, sebuah telaah filologis.

Universitas Indonesia. Jakarta. • Guillot, Claude, Lukman Nurhakim, Sonny Wibisono, "La principauté de Banten Girang" ("Kerajaan Banten Girang"), Archipel, Tahun 1995, Volume 50, halaman 13-24 • Ricklefs, M. C., A History of Modern Indonesia since c. 1200, 2008 (terbitan ke-4) • Zamhir, Drs.

(1996). Mengenal Museum Prabu Geusan Ulun serta Riwayat Leluhur Sumedang. Yayasan Pangeran Sumedang. Sumedang. • Sukardja, Djadja. (2003).

Kanjeng Prebu R.A.A. Kusumadiningrat Bupati Galuh Ciamis th. 1839 s / d 1886. Sanggar SGB. Ciamis. • Sulendraningrat P.S. (1975). Sejarah Cirebon dan Silsilah Sunan Gunung Jati Maulana Syarif Hidayatullah. Lembaga Kebudayaan Wilayah III Cirebon. Cirebon. • Sunardjo, Unang, R. H., Drs. (1983). Kerajaan Carbon 1479-1809. PT. Tarsito. Bandung. • Suparman, Tjetje, R. H., (1981). Sajarah Sukapura.

Bandung • Surianingrat, Bayu., Drs. (1983). Sajarah Kabupatian I Bhumi Sumedang 1550-1950. CV.Rapico. Bandung. • Soekardi, Yuliadi. (2004). Kian Santang. CV Pustaka Setia. • Soekardi, Yuliadi.

(2004). Prabu Siliwangi. CV Pustaka Setia. • Tjangker Soedradjat, Ade. (1996). Silsilah Wargi Pangeran Sumedang Turunan Pangeran Santri alias Pangeran Koesoemadinata I Penguasa Sumedang Larang 1530-1578. Yayasan Pangeran Sumedang. Sumedang. • Widjajakusuma, Djenal Asikin., Raden Dr. (1960). Babad Pasundan, Riwajat Kamerdikaan Bangsa Sunda Saruntagna Karadjaan Pdjadjaran Dina Taun 1580. Kujang. Bandung. • Winarno, F. G. (1990). Bogor Hari Esok Masa Lampau.

PT. Bina Hati. Bogor. • Olthof, W.L. (cetakan IV 2008). Babad Tanah Jawi - mulai dari Nabi Adam sampai tahun 1647. PT. Buku Kita. Yogyakarta Bagikan. • A. Sobana Hardjasaputra, H.D. Bastaman, Edi S. Ekadjati, Ajip Rosidi, Wim van Zanten, Undang A. Darsa. (2004). Bupati di Priangan dan Kajian Lainnya Mengenai Budaya Sunda. Pusat Studi Sunda. • A. Sobana Hardjasaputra (Ed.). (2008). Sejarah Purwakarta. • Nina H. Lubis, Kunto Sofianto, Taufik Abdullah (pengantar), Ietje Marlina, A.

Sobana Hardjasaputra, Reiza D. Dienaputra, Mumuh Muhsin Z. (2000). Sejarah Kota-kota Lama di di Jawa Barat. Alqaprint. ISBN 979-95652-4-3. Pranala luar [ sunting - sunting sumber ] Wikimedia Commons memiliki media mengenai Banten. • (Indonesia) Kompas: Sia-sia, Kalau Bangkitkan Sosok Sultan Banten • (Indonesia) Republika: Menunggu Kembalinya Sultan Banten • (Indonesia) Tempo Interaktif: Ribuan Peziarah Serbu Masjid Agung Banten Diarsipkan 2007-09-30 di Wayback Machine.

Catatan kaki [ sunting - sunting sumber ] • ^ a b Taufiqurokhman; Widodo, Hari; Gunawan, Muhammad; Lambe, Sulaeman (2014). Banten dari Masa ke Masa (PDF). Serang: Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Banten.

ISBN 9786027140400. • ^ a b c d e f g h i Pudjiastuti, Titik. 2007. Perang, Dagang, Persahabatan: Surat-surat Sultan Banten. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia • ^ Facal, Gabriel. 2016. Keyakinan dan Kekuatan: Kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan . Bela Diri Silat Banten. Jakarta : Yayasan Pustaka Obor Indonesia • ^ a b Lubis, Nina Herlina, 2004. Banten dalam pergumulan sejarah : sultan, ulama, jawara.

Jakarta : LP3ES • ^ Wildan, Dadan. 2003. Sunan Gunung Jati antara fiksi dan fakta : pembumian Islam dengan pendekatan struktural dan kultural. Bandung : Humaniora • ^ Uka Tjandrasasmita, (2009), Arkeologi Islam Nusantara, Kepustakaan Populer Gramedia, ISBN 979-9102-12-X. • ^ a b Pudjiastuti, Titik 2000, 'Sadjarah Banten: suntingan teks dan terjemahan disertai tinjauan aksara dan amanat. Depok: Universitas Indonesia • ^ Untoro, Heriyanti Ongkodharma, 2007.

Kapitalisme Pribumi Awal Kesultanan Banten 1522 - 1684. Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia • ^ Effendy, Khasan. Sumanang Rana Dipaprana. 1994. Pertalian keluarga raja-raja Jawa Kulon dengan Keraton Pakungwati: Sunan Gunung Djati muara terakhir keluarga raja-raja Jawa Kulon. kota Bandung: Indra Prahasta • ^ Hendarsyah, Amir. 2010. Cerita Kerajaan Nusantara. Yogyakarta: Great Publisher • ^ Sariyun, Yugo. 1991. Nilai Budaya dalam Permainan Rakyat Jawa Barat.

Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan • ^ "Syahdana, Darussalam Jagad. 2015. Gunung Pulasari; Kunci Penaklukkan Banten Girang oleh Sunan Gunung Jati.

[[kota Tangerang-Tangerang]]: Banten Hits". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-08-08. Diakses tanggal 2016-06-16. • ^ a b Tim Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

1997. Kongres Nasional Sejarah, 1996: Sub tema dinamika sosial ekonomi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia • ^ Ruhimat, Mamat, Nana Supriatna, Kosim. 2006. Ilmu Pengetahuan Sosial Terpadu (Sosiologi, Geografi, Ekonomi, Sejarah). Bandung: Grafindo Media Pratama • ^ Adhyatman, Sumarah. 1981. Antique ceramics found in Indonesia. Jakarta: Himpunan Keramik Indonesia • ^ a b c d e f g h i Tim Pusat Penelitian dan Sejarah Budaya.

1980. Adat Istiadat Daerah Lampung. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan • ^ Tim Radarcom.id. 2018. Asal-Usul dan Hubungan Keratuan Darah Putih dengan Syarief Hidayatullah (1).

Bandar Lampung : Radar Komunikasi Digital • ^ Asikin, Zainal. 2018. Jejak Sejarah Keratuan Ratu Darah Putih di Desa Kuripan Lampung Selatan.

Bandar Lampung : Teras Lampung • ^ a b c d e f Tim Radarcom.id. 2018. Asal-Usul dan Hubungan Keratuan Darah Putih dengan Syarief Hidayatullah (II) [ pranala nonaktif permanen]. Bandar Lampung : Radar Komunikasi Digital • ^ a b al Fadillah, Nizar. 2018. Radin Inten II, Pahlawan dari Lampung Selatan. Bandung : Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat • ^ a b van Dijk, Toos. Nico de Jonge. 1980. Ship Cloths of the Lampung, South Sumatera: A Research of Their Design, Meaning and Use in Their Cultural Context.

Amsterdam : Galerie Mabuhay • ^ Yulianto, Kresno. 2008. Dinamika permukiman dalam budaya Indonesia. Bandung : Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia • ^ a b c 2016. Asal-Usul dan Hubungan Keratuan Darah Putih dengan Syarief Hidayatullah (III). Lampung : harianlampung.com • ^ a b c Djajadiningrat, Hoesein.

1983. Tinjauan kritis tentang sajarah Banten: sumbangan bagi pengenalan sifat-sifat penulisan sejarah Jawa. Jakarta: Djambatan • ^ Staf Citarum.org. 2001. Sungai Citarum Sekilas Sejarah, Banjir: Dulu hingga Sekarang, Menuju Tujuan Bersama. Bandung: Citarum.org • ^ [1] Diarsipkan 2014-11-21 di Wayback Machine.-jayakarta • ^ Shahab, Yasmine Zaki. 1997. Betawi dalam perspektif kontemporer: perkembangan, potensi, dan tantangannya. Jakarta : Lembaga Kebudayaan Betawi • ^ Adi, Windoro.

2010. Batavia, 1740: menyisir jejak Betawi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama • ^ Aziz, Abdul. 2002. Islam & masyarakat Betawi.

Ciputat : Logos Wacana Ilmu • ^ a b c Hasan Muarif Ambary, Jacques Dumarçay, (1990), The Sultanate of Banten, Gramedia Book Pub. Division, ISBN 979-403-922-5. • ^ Keat Gin Ooi, (2004), Southeast Asia: a historical encyclopedia, from Angkor Wat to East Timor, Volume 1, ABC-CLIO, ISBN 1-57607-770-5.

• ^ Mukarrom, Ahwan. 2014. Sejarah Islam Indonesia I: Dari Awal Islamisasi sampai Periode Kerajaan-Kerajaan Islam Nusantara. Surabaya: Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel • ^ a b c Hadikusuma, Hilman.

1989. Masyarakat dan adat-budaya Lampung. Bandung : Mandar Maju • ^ a b c d e f Prasetyo, Agus. 2019. Raja Sufi dari Kesultanan Banten : Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir (1596-1651 M). Jakarta : Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah • ^ a b c Michrob, Drs Halwani, Drs A.

Mudjahid Chudori. 1993. Catatan Masa Lalu Banten. Serang: Penerbit Saudara • ^ Pudjiastuti, Titik. 2015. Menyusuri jejak Kesultanan Banten. Jakarta : Wedatama Widya Sastra • ^ From Valentijn, Beschrijving van Groot Djava, ofte Java Major, Amsterdam, 1796. Ludwig Bachhofer, India Antiqua (1947:280) notes that Valentijn had been in Banten in 1694.

• ^ Heriyanti Ongkodharma Untoro, (2007), Kapitalisme pribumi awal kesultanan Banten, 1522-1684: kajian arkeologi-ekonomi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, ISBN 979-8184-85-8. • ^ Yoneo Ishii, (1998), The junk trade from Southeast Asia: translations from the Kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan .

fusetsu-gaki, 1674-1723, Institute of Southeast Asian Studies, ISBN 981-230-022-8. • ^ Nana Supriatna, Sejarah, PT Grafindo Media Pratama, ISBN 979-758-601-4.

• ^ a b c d Atsushi Ota, (2006), Changes of regime and social dynamics in West Java: society, state, and the outer world of Banten, 1750-1830, BRILL, ISBN 90-04-15091-9. • ^ Tim Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

1977. Sejarah Daerah Bengkulu. Jakarta Departemen Pendidikan dan Kebudayan • ^ a b Ekajati, Edi Suherdi. 2005. Polemik naskah Pangeran Wangsakerta. Pustaka Jaya: Bandung • ^ a b c "Tim Dinas Pemuda, Olah Raga, Budaya dan Pariwisata Kota Cirebon. 2015. Riwayat Berdirinya Keraton-Keraton di Cirebon. [[Cirebon]] : Dinas Pemuda, Olah Raga, Budaya dan Pariwisata Kota Cirebon". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-08-11. Diakses tanggal 2020-04-11. • ^ < - Noer, Nurdin M. 2015. Awal Pecahnya Kerajaan Cirebon, Kasepuhan dan Kanoman.

Cirebon: Cirebon Trust Diarsipkan 2020-04-11 di Wayback Machine. • ^ a b c de Graaf, Hermanus Johannes. 1987. Runtuhnya istana Mataram. Bogor : Grafiti Pers • ^ a b c d e f g h i Deviani, Firlianna Tiya. 2016. Perjanjian 7 Januari 1681 Dan Implikasinya Terhadap Kehidupan Sosial Politik Ekonomi di Kerajaan Cirebon (1681 M - 1755 M). Cirebon : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati • ^ Sunardjo, R. H. Unang. 1996. Selayang Pandang Sejarah Masa Kejayaan Kerajaan Cirebon : kajian dari aspek politik dan pemerintahan.

Cirebon : Yayasan Keraton Kasepuhan Cirebon • ^ Mansyur, Khatib. 2001. Perjuangan rakyat Banten menuju provinsi : catatan kesaksian seorang wartawan. Serang : Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Provinsi Banten • ^ Suparman, Sulasman, Dadan Firdaus. 2017. Tawarikh : Political Dynamics in Cirebon from the 17th to 19th Century. Bandung : Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Jati • ^ de Jonge, Johan Karel Jakob. 1873. De opkomst van het Nederlandsch gezag over Java: verzameling van onuitgegeven stukken uit het oud-koloniaal archief, Volume 4.

s Gravenhague The Hague : Martinus Nijhoff • ^ a b c d Heniger, J. 2017. Hendrik Adriaan Van Reed Tot Drakestein 1636-1691 and Hortus, Malabaricus. Abingdon-on-Thames : Routledge • ^ a b Blink, Hendrik. 1907. Nederlandsch Oost- en West-Indië : geographisch, ethnographisch en economisch beschreven, Volume 2. Leiden : Evert Jan Brill • ^ a b Molsbergen, Everhardus Cornelis Godee.

1931. Uit Cheribon's geschiedenis en Gedenkboek der Gemeente Cheribon 1906-1931. Bandung : Nix • ^ Kartodihardjo, Sartono. 1988. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500 - 1900 (dari Emporium sampai Imperium). Jakarta: Gramedia • ^ Roseno, Edi. 1993. Perang Kedondong 1818. Depok: Universitas Indonesia • ^ a b Chambert-Loir, Henri. Hasan Muarif Ambary. 1999. Panggung sejarah: persembahan kepada Prof. Dr. Denys Lombard. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia • ^ Tim Direktorat Jenderal Kebudayaan.

1982. Sejarah Daerah Jawa Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan • ^ Azyumardi Azra, (2004), The origins of Islamic reformism in Southeast Asia: networks of Malay-Indonesian and Middle Eastern 'Ulamā' in the seventeenth and eighteenth centuries, University of Hawaii Press, ISBN 0-8248-2848-8.

• ^ Ann Kumar, (1976), Surapati: man and legend: a study of three Babad traditions, Brill Archive, ISBN 90-04-04364-0. • ^ Amir Hendarsah, Cerita Kerajaan Nusantara, Great!

Publisher, ISBN 602-8696-14-5. • ^ Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto, (1992), Sejarah nasional Indonesia: Jaman pertumbuhan dan perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia, PT Balai Pustaka, ISBN 979-407-409-8 • ^ Atsushi Ota, Banten Rebellion, 1750-1752: Factors behind the Mass Participation, Modern Asian Studies (2003), 37: 613-651, DOI: 10.1017/S0026749X03003044. • ^ Ekspedisi Anjer-Panaroekan, Laporan Jurnalistik Kompas.

Penerbit Buku Kompas, PT Kompas Media Nusantara, Jakarta Indonesia. 2008 November. hlm. 1–2. ISBN 978-979-709-391-4. Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) • ^ Sartono Kartodirdjo, (1966), The peasants' revolt of Banten in 1888: Its conditions, course and sequel. A case study of social movements in Indonesia, Martinus Nijhoff. • ^ Komandoko, Gamal. 2010. Ensiklopedia Pelajar dan Umum. Yogyakarta: Pustaka Widyatama • ^ R. B. Cribb, A. Kahin, (2004), Historical dictionary of Indonesia, Scarecrow Press, ISBN 0-8108-4935-6.

• ^ Euis Nurlaelawati, (2010), Modernization, tradition and identity: the Kompilasi hukum Islam and legal practice in the Indonesian religious courts, Amsterdam University Press, ISBN 90-8964-088-6.

• ^ a b Claude Guillot, Banten in 1678, Indonesia, Volume 57 (1994), 89-114. • ^ "Silsilah Sultan Sultan Banten dan Keturunannya - Ranji Sarkub". Ranji Sarkub. 2015-06-18. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-02-02. Diakses tanggal 2017-04-14.

• ^ Drs. H. Tri Hatmadji, (2005), Ragam Pusaka Budaya Banten, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang, Kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan . 979-99324-0-8. • ^ {{Sejak masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, gelar-gelar kebangsawanan Banten ditertibkan: Sultan untuk raja, Pangeran Ratu untuk putra mahkota atau pewaris takhta pertama, Pangeran Adipati untuk pewaris takhta kedua atau adik Pangeeran Ratu (Djajadiningrat, 1983: 209-10)}} • ^ redaksi.

"Ingin Kuasai Banten, Ratu Syarifah Fatimah Malah Dibuang ke Pulau Edam". Timika Satu. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-01-16. Diakses tanggal 2017-04-14. • ^ "Jejak Kyai Tapa: Awal Konflik Internal Banten: Penyusupan Agen Wanita VOC ke Jantung Keraton".

Sportourism.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-05-04. Diakses tanggal 2017-04-14. • ^ "Ratu yang Dibenci Rakyat Banten - Republika Online". Republika Online. Diakses tanggal 2017-04-14. Kategori tersembunyi: • Halaman dengan argumen ganda di pemanggilan templat • Artikel dengan pranala luar nonaktif • Artikel dengan pranala luar nonaktif permanen • Templat webarchive tautan wayback • Galat CS1: tanggal • Halaman yang menggunakan pranala magis ISBN • Artikel mengandung aksara Jawa • Pages using infobox country with unknown parameters • Pranala kategori Commons ditentukan secara lokal • Halaman ini terakhir diubah pada 19 April 2022, pukul 02.37.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
• Kerajaan Kutai • Kerajaan Tarumanagara • Kerajaan Kalingga • Kerajaan Sriwijaya • Kerajaan Mataram Kuno • Kerajaan Kahuripan • Kerajaan Kediri • Kerajaan Singasari • Kerajaan Majapahit • Kerajaan Pajajaran • Kerajaan Samudra Pasai • Kerajaan Demak • Kerajaan Pajang • Kerajaan Kanjuruhan • Kerajaan Mataram Islam • Kerajaan Banten • Sejarah Nasional Indonesia Kesultanan Banten merupakan sebuah kerajaan Islam yang pernah berdiri di Provinsi Banten, Indonesia.

Berawal sekitar tahun 1526, ketika Kerajaan Demak memperluas pengaruhnya ke kawasan pesisir barat Pulau Jawa, dengan menaklukan beberapa kawasan pelabuhan kemudian menjadikannya sebagai pangkalan militer serta kawasan perdagangan. Pada awalnya kawasan Banten juga dikenal dengan Banten Girang merupakan bagian dari Kerajaan Sunda. Kedatangan pasukan Kerajaan Demak di bawah pimpinan Maulana Hasanuddin ke kawasan tersebut selain untuk perluasan wilayah juga sekaligus penyebaran dakwah Islam.

Kemudian dipicu oleh adanya kerjasama Sunda-Portugal dalam bidang ekonomi dan politik, hal ini dianggap dapat membahayakan kedudukan Kerajaan Demak selepas kekalahan mereka mengusir Portugal dari Melaka tahun 1513.

Atas perintah Trenggana, bersama dengan Fatahillah melakukan penyerangan dan penaklukkan Pelabuhan Kelapa sekitar tahun 1527, yang waktu itu masih merupakan pelabuhan utama dari Kerajaan Sunda.

Selain mulai membangun benteng pertahanan di Banten, Maulana Hasanuddin juga melanjutkan perluasan kekuasaan ke daerah penghasil lada di Lampung. Ia berperan dalam penyebaran Islam di kawasan tersebut, selain itu ia juga telah melakukan kontak dagang dengan raja Malangkabu (Minangkabau, Kerajaan Inderapura), Sultan Munawar Syah dan dianugerahi keris oleh raja tersebut.

Seiring dengan kemunduran Demak terutama setelah meninggalnya Trenggono, Banten yang sebelumnya bagian dari Kerajaan Demak, mulai melepaskan diri dan menjadi kerajaan yang mandiri. Maulana Yusuf anak dari Maulana Hasanuddin, naik tahta pada tahun 1570 melanjutkan ekspansi Banten ke kawasan pedalaman Sunda dengan menaklukkan Pakuan Pajajaran tahun 1579.

Kemudian ia digantikan anaknya Maulana Muhammad, yang mencoba menguasai Palembang tahun 1596 sebagai bagian dari usaha Banten dalam mempersempit gerakan Portugal di nusantara, namun gagal karena ia meninggal dalam penaklukkan tersebut. Pada masa Sultan Ageng Tirtayasa bertahta pada tahun 1651-1682 kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan .

sebagai masa kejayaan Banten. Di bawah dia, Banten memiliki armada yang mengesankan, dibangun atas contoh Eropa, serta juga telah mengupah orang Eropa bekerja pada Kesultanan Banten. Dalam mengamankan jalur pelayarannya Banten juga mengirimkan armada lautnya ke Sukadana atau Kerajaan Tanjungpura ( Kalimantan Barat sekarang) dan menaklukkannya tahun 1661. Pada masa ini Banten juga berusaha keluar dari tekanan yang dilakukan VOC, yang sebelumnya telah melakukan blokade atas kapal-kapal dagang menuju Banten.

Sekitar tahun 1680 muncul perselisihan dalam Kesultanan Banten, akibat perebutan kekuasaan dan pertentangan antara Sultan Ageng dengan putranya Sultan Haji. Perpecahan ini dimanfaatkan oleh VOC yang memberikan dukungan kepada Sultan Haji, sehingga perang saudara tidak dapat dielakkan. Sementara dalam memperkuat posisinya, Sultan Haji atau Sultan Abu Nashar Abdul Qahar juga sempat mengirimkan 2 orang utusannya, menemui Raja Inggris di London tahun 1682 untuk mendapatkan dukungan serta bantuan persenjataan.

Dalam perang ini Sultan Ageng terpaksa mundur dari istananya dan pindah ke kawasan yang disebut dengan Tirtayasa, namun pada 28 Desember 1682 kawasan ini juga dikuasai oleh Sultan Haji bersama VOC. Sultan Ageng bersama putranya yang lain Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf dari Makasar mundur ke arah selatan pedalaman Sunda.

Namun pada 14 Maret 1683 Sultan Ageng tertangkap kemudian ditahan di Batavia. Sementara VOC terus mengejar dan mematahkan perlawanan pengikut Sultan Ageng yang masih berada dalam pimpinan Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf.

Pada 5 Mei 1683, VOC mengirim Untung Surapati yang berpangkat letnan beserta pasukan Balinya, bergabung dengan pasukan pimpinan Letnan Johannes Maurits van Happel menundukkan kawasan Pamotan dan Dayeuh Luhur, di mana pada 14 Desember 1683 mereka berhasil menawan Syekh Yusuf. Sementara setelah terdesak akhirnya Pangeran Purbaya menyatakan menyerahkan diri.

Kemudian Untung Surapati disuruh oleh Kapten Johan Ruisj untuk menjemput Pangeran Purbaya, dan dalam perjalanan membawa Pangeran Purbaya ke Batavia, mereka berjumpa dengan pasukan VOC yang dipimpin oleh Willem Kuffeler, namun terjadi pertikaian di antara mereka, puncaknya pada 28 Januari 1684, pos pasukan Willem Kuffeler dihancurkan, dan berikutnya Untung Surapati beserta pengikutnya menjadi buronan VOC.

Sedangkan Pangeran Purbaya sendiri baru pada 7 Februari 1684 sampai di Batavia. Setelah meninggalnya Sultan Haji tahun 1687, VOC mulai mencengkramkan pengaruhnya di Kesultanan Banten, sehingga pengangkatan para Sultan Banten mesti mendapat persetujuan dari Gubernur Jendral Hindia-Belanda di Batavia.

Sultan Abu Fadhl Muhammad Yahya diangkat mengantikan Sultan Haji namun hanya berkuasa sekitar tiga tahun, selanjutnya digantikan oleh saudaranya Pangeran Adipati dengan gelar Sultan Abul Mahasin Muhammad Zainul Abidin dan kemudian dikenal juga dengan gelar Kang Sinuhun ing Nagari Banten.

Pada tahun 1808 Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1808-1810, memerintahkan pembangunan Jalan Raya Pos untuk mempertahankan pulau Jawa dari serangan Inggris. Daendels memerintahkan Sultan Banten untuk memindahkan ibu kotanya ke Anyer dan menyediakan tenaga kerja untuk membangun pelabuhan yang direncanakan akan dibangun di Ujung Kulon. Sultan menolak perintah Daendels, sebagai jawabannya Daendels memerintahkan penyerangan atas Banten dan penghancuran Istana Surosowan.

Sultan beserta keluarganya disekap di Puri Intan (Istana Surosowan) dan kemudian dipenjarakan di Benteng Speelwijk. Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqin kemudian diasingkan dan dibuang ke Batavia.

Pada 22 Kedatangan pasukan kerajaan demak yang dipimpin maulana hasanudin ke wilayah banten memiliki tujuan . 1808, Daendels mengumumkan dari markasnya di Serang bahwa wilayah Kesultanan Banten telah diserap ke dalam wilayah Hindia Belanda. Kesultanan Banten resmi dihapuskan tahun 1813 oleh pemerintah kolonial Inggris. Pada tahun itu, Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin dilucuti dan dipaksa turun tahta oleh Thomas Stamford Raffles.

Peristiwa ini merupakan pukulan pamungkas yang mengakhiri riwayat Kesultanan Banten.

MAFIA OXFORD!!! PENAMPAKAN ULAMA MELAYU DI KELAB MALAM [PENDEDAHAN OLEH DATO ZAHIRIN]




2022 www.videocon.com