Pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu

pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu

MENU • Home • SMP • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • IPS • IPA • SMA • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • IPA • Biologi • Fisika • Kimia • IPS • Ekonomi • Sejarah • Geografi • Sosiologi • SMK • S1 • PSIT • PPB • PTI • E-Bisnis • UKPL • Basis Data • Manajemen • Riset Operasi • Sistem Operasi • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • Agama • Bahasa Indonesia • Matematika • S2 • Umum • (About Me) Integrasi berasal pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu “integrasi” dari Inggris, yang berarti kesempurnaan atau keseluruhan.

Integrasi sosial didefinisikan sebagai proses penyesuaian di antara unsur-unsur yang berbeda satu sama lain dalam kehidupan masyarakat sehingga menghasilkan pola masyarakat yang memiliki fungsi kompatibilitas.

Definisi lain dari integrasi adalah suatu kondisi di mana kelompok-kelompok etnis untuk beradaptasi dan menjadi komformitas terhadap kebudayaan mayoritas, namun tetap mempertahankan budaya mereka sendiri. Integrasi memiliki rasa kedua, yaitu: • Kontrol atas konflik dan penyimpangan sosial dalam suatu sistem sosial tertentu. • Menciptakan keseluruhan dan menyatukan unsur-unsur tertentu. Sedangkan yang disebut integrasi sosial adalah ketika dikontrol, dikombinasikan, atau terhubung satu sama lain itu adalah unsur-unsur sosial atau kemasyarakatan.

Integrasi sosial mensyaratkan bahwa orang tidak bubar meski menghadapi banyak tantangan, baik tantangan merupa fisik dan konflik sosial-budaya. • Masyarakat selalu terintegrasi dalam konsensus (kesepakatan) di antara sebagian besar anggota masyarakat tentang nilai-nilai sosial fundamental (dasar) • Masyarakat terpadu untuk anggota masyarakat serta anggota berbagai kesatuan sosial (cross-cutting affiliation).

Konflik antara kesatuan sosial dengan kesatuan sosial lainnya akan dinetralisir oleh adanya loyalitas ganda (cross-cutting loyalities) dari anggota masyarakat terhadap berbagai kesatuan sosial. Penganut konflik ditemukan di paksaan publik terintegtrasi dan karena saling ketergantungan antara berbagai kelompok. 1.12. Sebarkan ini: • Menurut Soerjono Soekanto : Intergrasisosial merupakan Sebuah proses sosial individu atau kelompok yang berusaha memenuhi gol melawan lawan yang disertai dengan ancaman dan / atau kekerasan.

• Menurut Gillin : Integrasi Sosial adalah Bagian dari proses sosial yang terjadi karena perbedaan fisik, emosional, budaya dan perilaku. • Menurut Banton (dalam Sunarto, 2000 : 154) :mendefinisikan integrasi sebagai suatu pola hubungan yang mengakui adanya perbedaan ras dalam masyarakat, tetapi tidak memberikan makna penting pada perbedaan ras tersebut.

• Dalam KBBI di sebutkan bahwa integrasi adalah pembauan sesuatu yang tertentu hingga menjadi kesatuan yang utuh dan bulat. Istilah pembauran tersebut mengandung arti masuk ke dalam, menyesuikan, menyatu, atau melebur sehingga menjadi satu.

Pengertian Integrasi Sosial • Menurut William F. Ogburn da Mayer Nimkoff, syarat berhasilnya suatu integrasi sosial adalah: • Anggota-anggota masyarakat merasa bahwa mereka berhasil saling mengisi kebutuhan-kebutuhan satu dengan yang lainnya.

Hal ini berarti kebutuhan fisik berupa sandang dan pangan serta kebutuhan sosialnya dapat di penuhi oleh budayanya. Terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan ini menyebabkan masyarakat perlu saling menjaga keterikatan antara satu dengan lainnya. • Masyarakat berhasil menciptakan kesepakatan (consensus) bersama mengenai norma-norma dan nilai-nilai social yang di lestarikan dan di jadikan pedoman dalam berinteraksi satu dengan yang lainnya, termasuk menyepakati hal-hal yang di larag menurut kebudayaannya.

• Norma-norma dan nilai social itu berlaku cukup lama dan di jalankan secara konsisten serta tidak mengalami perubahan sehingga dapat menjadi aturan baku dalam melangsungkan proses interaksi sosial. Bentuk Proses Integrasi Sosial Bentuk integrasi social dalam masyarakat dapat dibagi menjadi dua bentuk yakni: • Asimilasi, yaitu pembaruan kebudayaan yang disertai dengan hilangnya cirrikhas kebudayaan asli. Dalam masyarakat bentuk integrasi social ini terlihat Dari pembentukan tatanan social yang baru yang menggantikan budaya asli.

Biasanya bentuk integrasi ini diterapkan pada kehidupan social yang primitive dan rasis. Maka dari itu budaya asli yang bertentangan dengan norma yang mengancam disintegrasi masyarakat akan digantikan dengan tatanan social barau yang dapat menyatukan beragam latar belakang social. • Akulturasi, yaitu penerimaan sebagian unsure- unsure asing tanpa menghilangkan kebudayaan asli.

Akulturasi menjadi alternative tersendiri dalam menyikapi interaksi social, hal ini didasarkan pada nilai- nilai social masyarakat yang beberapa dapat dipertahankan. Sehingga nilai- nilai baru yang ditanamkan pada masyarakat tersebut akan menciptakan keharmonisan untuk mencapai integrasi soaial. Macam-macam Integrasi sosial : • a) Integrasi keluarga Didalam kehidupan keluarga terdapat anggota-anggota keluarga yang antara anggota satu dan lainya memiliki peranan dan fungsi.

Integrasi keluarga akan tercapai jika antar-anggota keluarga satu dan lainya menjalankan kedudukan, peranatau fungsinya sebagaimana mestinya. Apabila antar-anggota keluarga sudah tidak lagi memerankan peranannya sesuai dengan kedudukannya, maka keluarga tersebut sudah dianggap tidak terintegrasi lagi. • b) Integrasi kekerabatan Yang dimaksud dengan kekerabatan adalah hubungan sosial yang diikat oleh pertalian darah dan hubungan perkawinan sehingga menghasilkan nilai-nilai, norma-norma, kedudukan serta peranan sosial yang diakui dan ditaati bersama oleh seluruh anggota kekerabatan yang ada.

Integarsi antar-anggota kekerabtan akan terjadi jika masing-masing anggota kerabat yang ada mematuhi norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku didalam sistem kekerabatan tersebut.

• c) Integrasi asosiasi (perkumpulan) Asosiasi adalah satuan sosial yang ditandai oleh adanya kesamaan kepentingan, atau dengan lain perkata dapat dikatakan bahwa asosiasi merupakan perkumpulan yang didirikan oleh orang-orang yang memiliki kesamaan minat, tujuan, kepentingan, dan kegemaran.

• d) Integrasi masyarakat J.P gillin dan J.L gillin dalam bukunya Cultural Sosiology mendefinisikan masyarakat sebagai “the largest grouping in which common customs, traditions, attitudes, dan felling of unity are operative”. Berangkat dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa masyarakat adalah : (1) sekelompok manusia yang menempati wilayah tertentu, (2) bertempat tinggal dalam waktu yang relatif lama, (3) terdapat tata aturan hidup seperti adat, kebiasaan, sikap, dan perasaan kesatuan, (4) rasa identitas di antara para warganya.

integrasi masyarakat akan tercapai jika kehidupan masyarakat tersebut telah terpenuhi semua unsur-unsur yang tadi begitupun sebaliknya jika salah satu unsur tidak terpenuhi maka keadaan masyarakat tersebut tidak terintegrasi lagi.

• e) Integrasi suku bangsa Suku bangsa adalah golongan sosial yang dibedakan dari golongan sosial lainya karena memiliki ciri-ciri yang mendasar dan umum berkaitan dengan asl-usul dan tempat asal kebudayaan.

Dalam beberapa kepustakaan sosiologi ditekankan bahwa suku bangsa merupakan kesatuan penduduk yang memiliki ciri-ciri : (1) secara tertutup berkembang biak dalam kelompoknya, (2) memiliki nila-nilai dasar yang termanifestasikan dalam kebudayaan, (3) mewujudkan arena komunikasi dan interaksi, dan (4) setiap anggota mengenali dirinya serta dikenal oleh lainya sebagai satu bagian dari kategori yang dapat dibedakan dengan kategori lainnya.

• f) Integrasi bangsa Yang disebut bangsa adalah kelompok manusia yang heterogen sifatnya tetapi memiliki kehendak yang sama dengan menempati daerah tertentu dan bersifat permanen. Ernest renan lebih menekankan bahwa bangsa terbentuk dari orang orang yang mempunyai latar belakang sejarah, pengalaman sejarah, dan perjuangan serta hasrat untuk bersatu. Syarat Integrasi Sosial Integrasi social akan terbentuk di masyarakat apabila sebagian besar anggota masyarakat tersebut memiliki kesepakatan tentang batas-batas territorial dari suatu wilayah atau Negara tempat mereka tinggal.

Selain itu, sebagian besar masyarakat tersebut bersepakat mengenai struktur kemasyarakatan yang di bangun, termasuk nilai-nilai, norma-norma, dan lebih tinggi lagi adalah pranata-pranata sosisal yang berlaku dalam masyarakatnya, guna mempertahankan keberadaan masyarakat tersebut. Selain itu, karakteristik yang di bentuk sekaligus manandai batas dan corak masyarakatnya. Menurut William F. Ogburn pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu Mayer Nimkoff, syarat berhasilnya suatu integrasi sosial adalah: • Anggota-anggota masyarakat merasa bahwa mereka berhasil saling mengisi kebutuhan-kebutuhan satu dengan yang lainnya.

Hal ini berarti kebutuhan fisik berupa sandang dan pangan serta kebutuhan sosialnya dapat di penuhi oleh budayanya. Terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan ini menyebabkan masyarakat perlu saling menjaga keterikatan antara satu pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu lainnya.

• Masyarakat berhasil menciptakan kesepakatan (consensus) bersama mengenai norma-norma dan nilai-nilai social yang di lestarikan dan di jadikan pedoman dalam berinteraksi satu dengan yang lainnya, termasuk menyepakati hal-hal yang di larag menurut kebudayaannya. c. Norma-norma dan nilai social itu berlaku cukup lama dan di jalankan secara konsisten serta tidak mengalami perubahan sehingga dapat menjadi aturan baku dalam melangsungkan proses interaksi social.

Contoh Integrasi Sosial Masyarakat Indonesia dalam kehidupan sehari hari, dan di sekolah baik individu, sosial ataupun kelompok : • Tidak mengutamakan ego dan kepentingannya • Bersilahturami • Beribadat • Saling tolong-menolong • Mengikuti upacara bendera dengan hikmat • Melestarikan kebudayaan bangsa dengan mengikuti setiap pementasan • Ikut berperan aktif melaksanakan kegiatan siskamling • Mengembangkan akhlak dan kepribadian masing masing • Bermain dengan teman sebaya.Cth : bermain sepak bola • Mengisi kemerdekaan dengan kegiatan positif • Memberi salam pada orang yang dikenal • Mengikuti setiap kegiatan di dalam maupun di luar sekolah • Sekaten • Akulturasi antara budaya Jawa, Islam dan Hindu • Bergotong royong • Berdiskusi atau kerja kelompok • Kebutuhan harus utama bukan keinginan • Menanamkan nilai – nilai luhur berbangsa dan bernegara • Tidak memaksakan kehendak orang lain • Bersosialisasi • Mengikuti kegiatan/perlombaan di sekolah dan masyarakat • Tidak mengikuti pergaulan yang buruk,seperti narkoba dan diskotek • Menjaga dan memelihara lingkungan sekitar • Tidak KKN (Korupsi,Kolusi,dan Nepotisme) • Menjadi orang yang berguna di masa akan datang,seperti pejabat negara Faktor Penentu Integrasi Sosial Faktor integrasi bangsa Indonesia rasa senasib dan sepenanggungan serta rasa seperjuanagan di masa lalu ketika mengalami penjajahan.

Penjajahan menimbulkan tekanan baik mental ataupun fisik. Tekanan yang berlarut-larut akan melahirkan reaksi dari yang ditekan ( di jajah ). Sehingga muncul kesadaran ingin memperjuangkan kemerdekaan. Yang bisa menjadi faktor integrasi bangsa adalah semboyan kita yang terkenal yaitu bhineka tunggal ika, dimana kita terpisah-pisah oleh laut tetapi kita mempunyai ideologi yang sama yaitu pancasila.

Dengan kata lain yang dapat menjadi faktor integrasi bangsa Indonesia adalah; (1)Pancasila, (2)Bhineka Tunggal Ika, (3) Rasa cinta tanah air, (4) Perasaan senasib sepenanggungan. Dengan menyadari keadaan bangsa Indonesia yang majemuk itu, setiap warga negara harus waspada agar jangan sampai melakukan hal-hal negatif yang dapat memperlemah persatuan dan kesatuan bangsa. Adapun faktor- faktor internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi integrasi social dalam masyarakat, antara lain sebagai berikut: A.

Faktor Internal : • Kesadaran diri sebagai makhluk sosial • Tuntutan kebutuhan • Jiwa dan semangat gotong royong B. Faktor External : • Tuntutan perkembangan zaman • Persamaan kebudayaan • Terbukanya kesempatan berpartisipasi dalam kehidupan bersama • Persaman visi, misi, dan tujuan • Sikap toleransi • Adanya konsensus nilai • Adanya tantangan dari luar Munurut Prof.

Dr. Ramlan Surbakti,ada 9 faktor yang dapat mempengaruhi kelompok masyarakat terintegrasi dalam komunitas bersama. Faktor faktor ini diantaranya : • Pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu Identitas bersama komunitas dapat terbentuk karena adanya ikatan keaslian kedaerahan, kekerabatan, kesamaan suku, ras, tempat tinggal, bahasa dan istiadat.

• Sakral Yang dimaksud sakral dalam konsep ini adalah ikatan-ikatan religius yang dipercayai sebagai hal yang berkaitan dengan kebenaran mutlak karena dipercayai sebagai wahyu ilahiyah. Keyakinan masyarakat yang bersifat sakral terwujud dalam agama dan kepercayaan kepada hal-hal yang bersifat supranatural. • Tokoh Integrasi bisa tercipta manakala dalam suatu masyarakat terdapat seorang atau beberapa tokoh pemimpin yang disegani dan dihormati karena kepemimpinannya yang bersifat karismatik.

• Bhineka tunggal ika Bhineka tunggal ika dilihat sebagai pemersatu suatu bangsa yang majemuk untuk mencapai integritas suatu bangsa. Dalam konsep ini biasanya bangsa di dalam suatu negara terdiri atas kelompok-kelompok atas dasar suku, agama, ras, dan antargolongan yang tersegmentasi ke dalam kelompok-kelompok yang antara kelompok satu dan lainnya tidak saling melengkapi akan tetapi justru lebih bersifat kompetitif. • Perkembangan ekonomi Perkembangan ekonomi melahirkan pembagian kerja dan spesialisasi pekerjaan yang mendukung kelangsungan hidup suatu fungsi sistem ekonomi, yaitu menghasilkan barang dan jasa.

• Homogenitas kelompok Kemajemukan sosial selalu mengisi setiap lini kehidupan sosial hanya tiap-tiap kehidupan sosial akan memiliki intensitas (tingkat tinggi dan rendah) yang berbeda-beda. Integrasi antar kemajemukan sosial ini akan tercapai jika antar elemen pembentuk struktur sosial tersebut berusaha membentuk integritas sosial dengan menekankan kesadaran untuk mengurangi intensitas perbedaan masing-masing elemen sosial tersebut. • Besar kecilnya kelompok Jika kehidupan sosial relativ kecil, maka akan mudah mencapai integrasi sosial dibandingkan dengan kelompok yang memiliki intensitas perbedaanya lebih besar.

• Mobilitas sosiogeografis Mobilitas sosial artinya perpindahan manusia dari tempat yang satu ke tempat yang lain dengan berbagai latar belakang tujuan. Pada umumnya mobilitas sosial di indonesia di dominasi oleh tingginya tingakat urbanisasi, yaitu perpindahan penduduk dari daerah pedesaan ke daerah perkotaan. • Efektifitas dan efesiensi komunikasi Cepat lambatnya integrasi sosial akan sangat dipegaruhi oleh tingkat efektivitas dan efesiensi komunikasi sosial, sebab komunikasi merupakan salah satu prasyarat terjadinya interaksi, sedangkan interaksi merupakan prasyarat terjadinya integrasi maupun konflik sosial.

Tahapan Integrasi Sosial Sebuah proses sosial dalam masyarakat selalu memiliki tahapan-tahapan tertentu yang harus dilalui. Begitu pula pada integrasi sosial. Tahapan-tahapan yang ada dalam integrasi sosial adalah tahap akomodasi, kerja sama, koordinasi, dan asimilasi. Untuk lebih jelasnya, mari kita pelajari bersama pada pembahasan berikut ini : 1) Tahap Akomodasi • Akomodasi adalah suatu bentuk proses sosial yang di dalamnya terdapat dua atau lebih individu atau kelompok yang berusaha untuk saling menyesuaikan diri, tidak saling mengganggu dengan cara mencegah, mengurangi, atau menghentikan ketegangan yang akan timbul atau yang sudah ada, sehingga tercapai kestabilan (keseimbangan).

• Akomodasi bertujuan untuk mengurangi pertentangan antara dua kelompok atau individu, mencegah terjadinya suatu pertentangan secara temporer, memungkinkan terjadinya kerja sama di antara individu atau kelompok sosial, serta mengupayakan peleburan antara kelompok sosial yang berbeda (terpisah), misalnya melalui perkawinan campur (amalgamasi).

• Dengan akomodasi, kelompok-kelompok sosial yang ada dalam masyarakat multikultural seperti masyarakat kita ini, dapat hidup berdampingan secara damai tanpa menimbulkan perpecahan. Selain itu juga memungkinkan terjadinya kerjasama di antara kelompokkelompok sosial yang yang ada dalam masyarakat tersebut.

Hal ini karena di antara kelompok-kelompok sosial yang berbeda dalam masyarakat dapat saling menyesuaikan diri satu sama lain.

Dengan demikian akan mendorong lahirnya integrasi dalam masyarakat tersebut. 2) Tahap Kerja Sama • Kerja sama merupakan bentuk interaksi sosial yang pokok. Kerja sama dapat menggambarkan sebagian besar bentuk interaksi sosial. Kerja sama dimaksudkan sebagai suatu usaha bersama antarpribadi atau antarkelompok manusia untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama.

• Menurut Charles H. Cooley, kerja sama akan timbul apabila orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan yang sama dan pada saat yang bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk mencapai kepentingan kepentingan bersama.

Kerja sama di antara kelompok-kelompok sosial yang berbeda dalam masyarakat multikultural mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam integrasi sosial.

Mengapa? Dengan kerja sama berarti kelompokkelompok sosial yang berbeda itu saling menyesuaikan diri, melengkapi, membutuhkan, serta tidak memaksakan kehendak masing-masing yang dapat menimbulkan prasangka-prasangka yang memicu lahirnya konflik dalam masyarakat. 3) Tahap Koordinasi • Kerja sama yang dilakukan oleh kelompok-kelompok sosial yang berbeda dalam masyarakat multicultural harus dikoordinasi agar lebih terarah dan bisa mencapai tujuan demi kebaikan bersama.

• Koordinasi adalah pengaturan secara sentral untuk mencapai integrasi dengan mempersatukan individu maupun kelompok agar tercapai keseimbangan dan keselarasan dalam hubungan di masyarakat. Dalam organisasi kemasyarakatan, koordinasi merupakan factor yang paling dominan.

• Tanpa koordinasi, suatu organisasi tidak dapat berjalan dengan baik, mengingat organisasi merupakan suatu kelompok yang terdiri dari orangorang dengan sifat dan kepribadian yang berbeda-beda. Dengan demikian kelancaran jalannya organisasi ditentukan faktor pendekatan antaranggotanya. Proses koordinasi mencakup berbagai aspek kemasyarakatan, seperti aspek ekonomi, politik, sosial budaya, pendidikan, dan lain sebagainya. 4) Tahap Asimilasi Kelompok-kelompok sosial yang berbeda dalam masyarakat multikultural setelah tahap koordinasi akan tercapai atau tercipta suatu pemahaman bersama, sehingga di antara kelompok-kelompok tersebut dapat saling menyesuaikan diri.

Proses ini disebut dengan asimilasi. Asimilasi adalah sebuah proses yang ditandai oleh adanya usaha-usaha untuk mengurangi perbedaanperbedaan yang terdapat di antara orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia guna mencapai satu kesepakatan berdasarkan kepentingan dan tujuan-tujuan bersama.

Menurut Koentjaraningrat, proses asimilasi akan terjadi apabila berikut ini. • a) Ada kelompok-kelompok yang berbeda kebudayaannya. • b) Saling bergaul secara langsung dan intensif dalam waktu yang cukup lama. • c) Kebudayaan dari kelompok-kelompok tersebut masing-masing mengalami perubahan dan saling menyesuaikan diri.

Dalam asimilasi ini terdapat faktor-faktor yang dapat mendorong maupun menghambat terjadinya asimilasi di antara kelompok-kelompok sosial yang berbeda. Adapun beberapa faktor yang dapat mempermudah atau mendorong terjadinya asimilasi, di antaranya adalah sebagai berikut. • a) Toleransi, keterbukaan, saling menghargai, dan menerima unsur-unsur kebudayaan.

• b) Kesempatan yang seimbang dalam bidang ekonomi yang dapat mengurangi adanya kecemburuan sosial. • c) Sikap menghargai orang asing dengan kebudayaannya. • d) Sikap terbuka dari golongan penguasa. • e) Adanya perkawinan campur dari kelompok yang berbeda (amalgamation). • f) Adanya musuh dari luar yang harus dihadapi bersama. Sementara itu, beberapa faktor yang dapat menghambat atau memperlambat terjadinya asimilasi adalah sebagai berikut. • a) Perbedaan yang sangat mencolok, seperti perbedaan ras, teknologi, dan perbedaan ekonomi.

• b) Kurangnya pengetahuan terhadap kebenaran kebudayaan lain yang sedang dihadapi. • c) Kecurigaan dan kecemburuan sosial terhadap kelompok lain. • d) Perasaan primordial sehingga merasa kebudayaan sendiri lebih baik dari kebudayaan bangsa atau kelompok lainnya. Melalui asimilasi, kelompok-kelompok sosial yang berbeda dalam masyarakat multikultural saling berinteraksi dan bergaul secara langsung dan intensif dalam waktu yang lama, sehingga masing-masing kelompok sosial itu berubah dan saling menyesuaikan diri.

Dengan demikian integrasi dalam masyarakat akan tercipta. Pengaruh Interseksi dan Konsolidasi terhadap Integrasi Sosial Penggolongan masyarakat pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu vertical ( stratifikasi / pelapisan sosial ) maupun secara horizontal ( diferensiasi sosial / kemajemukan ) tidaklah menggunakan dasar –dasar atau faktor – faktor yang tunggal atau terdiri sendiri tetapi bersifat kumulatif, sehingga sering terjadi interseksi ( persidangan ) dan konsolidasi ( tumpang – tindih ) keanggotaan masyarakat dalam berbagi kelompok sosial yang ada didalam masyarakat.

Untuk memahami persoalan ini secara jelas lebih dahulu perlu disampaikan pengertian interseksi, konsolidasi, dan kelompok sosial. • Interseksi Interseksi ( intersection ) dalam Kamus Inggris – Indonesia yang disusun oleh Hasan Shadily, antara lain diartikan sebagai titik potong atau pertemuan ( of two lines ) dapat pula disebut persilangan.

Sedangkan istilah section ( seksi ) menurut Kamus Sosiologi yang disusun oleh Soerjono Soekanto antara lain diartikan sebagai suatu golongan etnik dalam masyarakat yang masing – masing adalah seksi. Dari uraian ini maka dapat dirumuskan bahwa interseksi merupakan persilangan atau pertemuan titik potong keanggotaan dari dua suku bangsa atau lebih dalam kelompok – kelompok sosial didalam suatu masyarakat yang majemuk. • Konsolidasi Konsolidasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, diartika sebagai perbuataan ( hal, dan sebagainya ) memperteguh atau memperkuat ( perhubungan, persatuan, dan sebagainya).

Berdasarkan pengertian tersebut maka konsolidasi diartikan sebagai penguatan atau peneguhan keanggotaan anggota – anggota masyarakat dalam kelompok – kelompok sosial melaui tumpah – tindih keanggotaan. • Kelompok sosial Kelompok sosial atau sosial group merupakan pengumpulan ( agregasi ) manusia yang teratur.

Kelompok sosial atau sosial group adalah himpunan atau kesatuan – kesatuan manusia yang menyangkut hubungan timbal – balik yang saling mempengaruhi dan adanya kesadaran untuk saling menolong. Kriteria yang sistematika tentang kelompok sosial ini dikemukakan oleh Soerjono Soekanto dalam bukunya Sosiologi Suatu Pengantar, yaitu sebagi berikut. • Setiap anggota kelompok harus sadar bahwa ia merupakan bagian dari kelompok yang bersangkutan.

• Ada hubungan timbal – balik antara anggota yang satu dengan yang lain. • Ada suatu factor yang dimiliki bersama sehingga hubungan antara mereka bertambah erat. Factor yang sama ini dapat berupa nasib yang sama, tujuan yang sama, idelogi yang sama, musuh bersama, atau merupakn pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu etnik ( suku bangsa ).

• Kelompok tersebut mempunyai struktur, kaidah, dan pola perilaku tertentu. • Memiliki suatu sistem dan proses tertenu. • Faktor faktor konflik sosial Menurut Turner ada beberapa faktor yang memicu terjadinya konflik sosial, diantaranya : • Ketidakmerataan distribusi sumber daya yang sangat terbatas di dalam masyarakat.

• Ditariknya kembali legitimasi pengusa politik oleh masyarakat kelas bawah. • Adanya pandangan bahwa konflik merupakan cara untuk mewujudkan kepentingan. • Sedikitnya saluran untuk menampung keluhan-keluhan masyarakat kelah bawah serta lambatnya mobilitas sosial atas. • Melemahnya kekuasaan negara yang disertai dengan mobilitas masyarakat bawah oleh elite. • Kelompok masyarakat kelas bawah menerima ideologi radikal. Pengertian Disintegrasi Menurut Para Ahli • Disintegrasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Disintegrasi adalah suatu keadaan tidak bersatu padu atau keadaan terpecah belah; hilangnya keutuhan atau persatuan; perpecahan.

Disintegrasi secara harfiah difahami sebagai perpecahan suatu bangsa menjadi bagian-bagian yang saling terpisah ( Webster’s New Encyclopedic Dictionary 1994). Pengertian ini mengacu pada kata kerja disintegrate, “to lose unity or intergrity by or as if by breaking into parts”.

Potensi disintegrasi bangsa Indonesia menurut data empiris relatif tinggi. Salah satu indikasi dari potensi ini adalah homogenitas ethnik dan linguistic yang rendah. • Faktor Disintegrasi Yang pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu faktor desintegrasi bangsa adalah kurang adanya rasa nasionalisme yang tinggi, kurangnya rasa toleransi sesama bangsa, campur tangan pihak asing dalam masalah bangsa.

Selain faktor kemajemukan budaya, penyebab disintegrasi bangsa Indonesia juga terpicu oleh sentralisasi pembangunan yang selama ini lebih terfokus di pulau Jawa, sehingga menyebabkan kesenjangan dan kecemburuan dari daerah lain, sehingga timbul keinginan untuk memisahkan diri dari NKRI.

• Upaya Mencegah Disintegrasi Untuk mencegah disintegrasi, soal pertama yang harus diselesaikan adalah membangun kesadaran politik umat. Pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu, Kaum Muslim selayaknya jangan mau didikte oleh pihak asing dan tunduk pada negara-negara kafir seperti AS.

Ketiga, umat Islam harus bersikap menolak penguasa yang menjadi kepanjangan tangan AS maupun negara-negara kafir penjajah lain. Keempat, harus ada sistem yang dapat mensejahterakan rakyat. Tingkat kesejahteraan masyarakat merupakan parameter yang berpotensi melahirkan disintegrasi. Oleh karena itu diperlukan landasan pemikiran yang terkait, diantaranya • Pancasila sebagai landasan Idiil. • UUD 1945 sebagai Landasan Konstitusional.

• Wawasan Nusantara sebagai landasan visional. • Ketahanan Nasional sebagai Landasan Konsepsional. • Ketetapan MPR Nomor : V / MPR / 2000 tentang Pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu Persatuan dan Kesatuan Nasional. DAFTAR PUSTAKA Susanto phil astrid.s, Pengantar sosiologi dan perubahan sosial, karya nusantara, bandung 1977, hal 124 Elly m setiadi dan usman kolip, pengantar sosiologi, kencana prenada media group, jakarta 2011, hal 347 http//id.m.wikipedia.org/wiki/integrasi_sosial/ M, Idianto.

2005. Sosiologi Untuk SMA Kelas XI. Jakarta: Erlangga. Maryati, Kun dan Juju Suriawati. 2007. Sosiologi Untuk SMA dan MAKelas XI. Bandung: PT.Gelora Aksara Pratama Anonimus.2006.Disintegrasi dan Integrasi Masyarakat.(online). http://akarsejarah.wordpress.com/2010/09/30/disintegrasi-integrasi-dan-tipologi-masyarakat/ Diakses Jumat, 3 Juni 2011. Pukul 14.22 wib. Anonimus.2009.Disintegrasi Sosial Kampus.(online).

http://matanews.com/2008/10/09/disintegrasi-sosial-kehidupan-kampus/ Diakses Jumat, 3 Juni 2011. Pukul 14.50 wib. Adhi.2009.Mencegah Disintegrasi.(online). http://mradhi.com/sosial-politik/mencegah-disintegrasi.html Diakses Jumat, 3 Juni 2011. Pukul 14.06 wib. Saeful, Hadi.1980.Integrasi Nasional di Indonesia pada Penataran MKDU ISD.

Bandung: Universitas: Padjajaran Universitas http://nilanikisari97.blogspot.co.id/2013/01/interseksi-dan-konsolidasi.html Demikian Penjelasan Tentang Makalah Integrasi Sosial : Pengertian, Tahapan, Contoh Dan Faktornya Menurut Para Ahli Semoga Bermanfaat Untuk Semua Pembaca GuruPendidikan.Com 😀 Sebarkan ini: • • • • • Posting pada Kewarganegaraan Ditag 10 pengertian integrasi sosial menurut para ahli, 5 definisi integrasi menurut para ahli, Contoh Integrasi Sosial, Contoh Integrasi Sosial brainly, contoh integrasi sosial dalam kehidupan sehari hari, contoh integrasi sosial dalam masyarakat, contoh integrasi sosial di indonesia, definisi disintegrasi menurut para ahli, Faktor Integrasi Sosial, faktor pendorong integrasi sosial, faktor pendorong integrasi sosial dan contohnya, faktor penghambat integrasi sosial, Konflik dan integrasi sosial, materi integrasi sosial, pengertian integrasi dan disintegrasi menurut para ahli, pengertian integrasi menurut para ahli brainly, pengertian integrasi menurut para ahli pdf, Pengertian Integrasi Sosial, pengertian terintegrasi menurut para ahli, proses integrasi sosial, syarat terjadinya integrasi sosial, upaya menuju integrasi sosial Navigasi pos Pos-pos Terbaru • “Masa Demokrasi Terpimpin” Sejarah Dan ( Latar Belakang – Pelaksanaan ) • Pengertian Sistem Regulasi Pada Manusia Beserta Macam-Macamnya • Rangkuman Materi Jamur ( Fungi ) Beserta Penjelasannya • Pengertian Saraf Parasimpatik – Fungsi, Simpatik, Perbedaan, Persamaan, Jalur, Cara Kerja, Contoh • Higgs domino apk versi 1.80 Terbaru 2022 • Pengertian Gizi – Sejarah, Perkembangan, Pengelompokan, Makro, Mikro, Ruang Lingkup, Cabang Ilmu, Para Ahli • Proses Pembentukan Urine – Faktor, Filtrasi, Reabsorbsi, Augmentasi, Nefron, zat Sisa • Peranan Tumbuhan – Pengertian, Manfaat, Obat, Membersihkan, Melindungi, Bahan Baku, Pemanasan Global • Diksi ( Pilihan Kata ) Pengertian Dan ( Fungsi – Syarat – Contoh ) • Penjelasan Sistem Ekskresi Pada Manusia Secara Lengkap • Contoh Soal Psikotes • Contoh CV Lamaran Kerja • Rukun Shalat • Kunci Jawaban Brain Out • Teks Eksplanasi • Teks Eksposisi • Teks Deskripsi • Teks Prosedur • Contoh Gurindam • Contoh Kata Pengantar • Contoh Teks Negosiasi • Alat Musik Ritmis • Tabel Periodik • Niat Mandi Wajib • Teks Laporan Hasil Observasi • Contoh Makalah • Alight Motion Pro • Alat Musik Melodis • 21 Contoh Paragraf Deduktif, Induktif, Campuran • 69 Contoh Teks Anekdot • Proposal • Gb WhatsApp • Contoh Daftar Riwayat Hidup • Naskah Drama • Memphisthemusical.Com 26.

Sebarkan ini: Dari segi biologis, perilaku merupakan suatu kegiatan atau aktivitas dari organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan. Pada dasarnya seluruh organisme (makhluk hidup) tersebut berperilaku. Sehingga yang dimaksud dari perilaku manusia ialah semua kegiatan atau aktivitas dari manusia, baik yang dapat diamati dengan secara langsung atau yang tidak bisa atau dapat diamati oleh pihak luar. Bentuk Perilaku Menurut Skinner (dalam dewi, 2009), perilaku ini merupakan respon atau juga reaksi seseorang terhadap stimulus.

Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus, maka perilaku tersebut dapat atau bisa dibedakan menjadi dua, yaitu: a. Perilaku tertutup (covert behavior) Merupakan suatu respon seseorang terhadap stimulus di dalam bentuk terselubung atau juga tertutup (covert). Respon atau pun reaksi terhadap stimulus tersebut masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan/kesadaran, serta juga sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut, serta juga belum dapat atau bisa diamati dengan secara jelas oleh orang lain.

b. Perilaku terbuka (overt behavior) ini Merupakan respon seseorang terhadap stimulus di dalam bentuk tindakan nyata atau juga terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas di dalam bentuk tindakan atau juga praktek, yang dapat atau bisa dengan mudah dilihat oleh orang lain.

Perilaku manusia tersebut sangatlah kompleks serta mempunyai atau memiliki bentangan yang sangat luas. Jenis Perilaku Bloom (dalam dewi, 2009) kemudian membagi perilaku manusia tersebut ke dalam tiga domain, diantaranya kognitif, afektif, serta psikomotor.

Di dalam perkembangannya, teori Bloom tersebut kemudian dimodifikasi untuk pengukuran hasil pendidikan kesehatan, yakni: 1) Pengetahuan (Knowledge) Pengetahuan ini merupakan hasil dari tahu, serta ini terjadi setelah orang tersebut melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu, Pengetahuan tersebut sangat penting di dalam membentuk tindakan seseorang.

a) Proses adopsi perilaku Dengan berdasarkan pengalaman serta juga penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasarkan oleh karna pengetahuan akan lebih langgeng daripada yang tidak didasari suatu pengetahuan.

Penelitian Rogers pada tahun 1974 yang dikutip oleh Notoatmodjo kemudian menyatakan bahwa sebelum seseorang tersebut mengadopsi sebuah perilaku baru, di dalam diri orang tersebut sudah terjadi proses sebagai berikut: • Awareness (kesadaran), merupakan orang tersebut menyadari di dalam arti mengetahui stimulus tersebut terlebih dahulu • Interest, merupakan orang mulai tertarik pada stimulus • Evaluation ini merupakan menimbang-nimbang baik serta tidaknya stimulus itu untuk dirinya • Adoption ini merupakan sebuah subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, serta sikapnya terhadap stimulus.

pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu

Namun demikian dengan berdasarkan penelitian selanjutnya, Rogers kemudian menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tersebut tidak selalu dengan melalui proses-proses di atas.

b) Tingkat pengetahuan di dalam domain kognitif Pengetahuan yang tercakup di domain kognitif tersebut mempunyai enam tingkatan: • Tahu (know) Tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling bawah atau rendah.Tahu sendiri diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah atau sudah dipelajari sebelumnya.Termasuk itu ke dalam pengetahuan tingkat ini yakni mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari semua bahan yang dipelajari atau juga rangsang yang diterima.

• Memahami (comprehension) ini diartikan yakani sebagai suatu kemampuan di dalam menjelaskan dengan secara benar megnenai objek yang diketahui, serta bisa atau dapat menginterpretasikan materi tersebut dengan sangat benar.Orang yang telah atau sudah paham terhadap objek atau materi tersebut bisa atau dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, serta juga meramalkan terhadap objek yang dipelajari.

• Aplikasi (aplication) ini diartikan yakni sebagai kemampuan untuk dapat mengunakan materi yang telah atau sudah dipelajari pada situasi atau juga kondisi sebenarnya. Aplikasi ini bisa atau dapat diartikan yakni sebagai pengunaan rumus, hukummetode, serta juga prinsip di dalam konteks atau juga situasi yang lain. • Analisis (analysis) ini ialah suatu kemampuan di dalam menjabarkan sebuah materi atau pun juga suatu objek itu ke dalam komponen, tetapi masih di dalam 1terstruktur organisasi serta juga masih ada hubungannya antara satu sama lain.

• Sintesis (syntesis) ini ialah mengarah pada suatu kemampuan untuk bisa atau dapat meletakkan atau pun juga menghubungkan bagian di dalam sebuah bentuk keseluruhan yang baru.

Artinay sintesis ini merupakan suatu kemampuan di dalam menyusun formulasi yang baru dengan berdasarkan formulasi-formulasi yang sudah ada. • Evaluasi (evaluation) ini berkaitan atau berhubungan dengan kemampuan melakukan justifikasi atau juga penilaian terhadap suatu objek atau materi.Penelitian tersebut didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau juga menggunakan kriteriakriteria yang telah atau sudah ada.Pengukuran pengetahuan tersebut bisa atau dapat dilakukan dengan wawancara atau juga angket yang menanyakan mengenai isi materi yang ingin diukur dari responden.

2. Bentuk Perilaku Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus tersebut, maka perilaku ini bisa atau dapat dibedakan menjadi dua diantaranya : Perilaku tertutup ini merupakan sebuah respon seseorang terhadap stimulus di dalam bentuk terselubung ata jugau tertutup (covert).

Respon atau pun juga reaksi terhadap stimulus tersebut masih terbatas di adanya persepsi, perhatian,pengetahuan / kesadaran, serta juga sikap yang terjadi belumbisa diamati dengan secara jelas oleh orang lain.

Perilaku terbuka ini merupakan suatu respon seseorang terhadap stimulus di dalam bentuk tindakan nyata atau juga terbuka. Respon terhadap terhadap stimulus ini sudah jelas di dalam bentuk tindakan atau juga praktek (practice). 3. Domain Perilaku Diatas telah atau sudah dituliskan bahwa perilaku tersebut merupakan bentuk respon dari stimulus (rangsangan dari luar).

Hal tersebut berarti walaupun bentuk stimulusnya itu sama namun bentuk respon tersebut akan berbeda dari setiap orang. Menurut Notoatmodjo faktor-faktor yang membedakan suatu respon terhadap stimulus itu disebut dengan determinan perilaku.

Determinan perilaku tersebut bisa atau dapat dibedakan menjadi dua diantaranya : • Faktor internal merupakan suatu karakteristik orang yang bersangkutan yang memiliki sifat given atau bawaan misalnya seperti tingkat emosional, tingkat kecerdasan,jenis kelamin, serta sebagainya. • Faktor eksternal ini merupakan lingkungan, baik itu lingkungan politik, fisik, ekonomi,serta sebagainya. Faktor lingkungan tersebut kemudian sering menjadi factor yang dominanyang kemudian mewarnai perilaku seseorang.

4. Proses Tejadinya Perilaku Penelitian Rogers kemudian mengungkapkan bahwa sebelum orang tersebut mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), didalam diri orang tersebut kemudian terjadi proses yang berurutan, yakni: • Awareness (kesadaran), ini merupakan orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui setimulus (objek) tersebutterlebih dahulu.

• Interest, ini merupakan orang mulai tertarik kepada stimulus. • Evaluation (menimbang–nimbang baik serta tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya).Hal tersebut berarti sikap responden sudah lebih baik lagi. • Trial, orang telah atau sudah mulai mencoba perilaku baru. • Adoption, subjek telah atau sudah berperilaku baru sesuai dengan kesadaran, pengetahuan,serta sikapnya terhadap stimulus. Menurut Notoatmodjo apabila penerimaan ada perilaku baru atau pun adopsi perilaku itu dengan melalui proses seperti ini didasari oleh karna pengtahuan, kesadaran, serta juga sikap yang positif maka perilaku itu akan menjadi suatu kebiasaan atau sifatnya itu langgeng (long lasting).

Faktor Personal Yang Mempengaruhi Perilaku Manusia Faktor personal ini seringkali dipengaruhi oleh karna motif sosiogenis, atau sering juga disebut dengan motif sekunder yakni sebagai lawan dari motif primer (motif biologis). Dengan secara singkat motif-motif sosiogenis di atas bisa atua dapat dijelaskan sebagai berikut (Jalaluddin, 2007) : Motif ingin tahu Ini merupakan kecendrungan tiap orang untuk dapat berusaha memahami serta memperoleh arti dari dunianya.

Motif kompetisi Setiap orang kemudian ingn membuktikan bahwa ia mampu untuk mengatasi persoalan kehidupan apa pun. Motif cinta Segala macam penelitian membuktikan bahwa kebutuhan akan adanya kasih sayang yang tidak terpenuhi maka kemudian akan menimbulkan perilaku manusia yang kurang baik.

Motif harga diri dan kebutuhan mencari identitas Erat kaitannya yakni dengan kebutuhan untuk dapat memperlihatkan kemampuan serta juga memperoleh kasih sayang, ialah kebutuhan untuk dapat menunjukkan eksistensi di dunia. Kebutuhan akan nilai, kedambaan, serta makna kehidupan Di dalam menghadapi kehidupan, manusia itu membutuhkan nilai-nilai untuk dapat menuntunnya di dalam mengambil keputusan atau juga memberkan makna pada kehidupannya.

Termasuk ke dalam ini ialah motif keagamaan. Kebutuhan akan pemenuhan diri Kebutuhan ini akan pemenuhan diri tersebut dilakukan dengan melalui berbagai bentuk : Mengembangkan serta menggunakan potensi kita dengan cara yang kreatif konstruktif, misalnya seperti dengan seni musik, musik, pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu, atau pun juga hal-hal yang mendorong ungkapan diri yang kreatif.

Memperkaya kualitas kehidupan yakni dengan memperluas rentangan serta kualitas pengalaman dan juga pemuasan, misalnya ialah dengan darmawisata. Membentuk hubungan yang hangan serta juga berarti dengan orang-orang sekitar. Berusaha “memanusia”, untuk menjadi persona yang kita dambakan. Motivasi seseorang juga akan mampu ikut menentukan sebuah pesan diterima atau pun tidak.

Hal tersebut juga berarti, motivasi untuk mencari hiburan contohnya akan menjadi dalih untuk dapat menikmati media massa (Nurudin, 2007: 232). Faktor Situasional Yang Mempengaruhi Perilaku Manusia Sedangkan untuk faktor situasional yang mempengaruhi manusia itu dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya (Jalaluddin, 2007) : Faktor Ekologis Kaum determinisme lingkungan sering kemudian menyatakan bahwa keadaan alam itu mempengaruhi gaya hidup serta perilaku.

Faktor Temporal Satu pesan komunikasi yang kemudian disampaikan di pagi hari, itu akan berbeda maknanya bila disampaikan ditengah malam. Jadi, yang mempengaruhi manusia itu bukan saja di ana merekaitu berada tetapi juga bilamana mereka berada. Suasana Perilaku (Behaviour Settings) Pada tiap suasana terdapat pola hubungan yang kemudian mengatur perilaku orang-orang di dalamnya. Teknologi Revolusi teknologi kemudian sering disusul dengan revolusi di dalam perilaku sosial.

Di dalam ilmu komunikasi, Mrshall McLuhan (1964) kemudian menunjukkan bahwa bentuk teknologi komunikasi tersebut lebih penting daripada isi media komunikasi. Faktor-faktor Sosial Sistem peranan yang ditetapkan di dalam suatu masyarakat, struktur kelompok serta juga organisasi, karakteristik populasi, merupakan faktor sosial yang kemudian menata perilaku manusia.

Lingkungan psikososial Persepsi mengenai sejauh mana lingkungan tersebut memuaskan atau juga mengecewakan kita, akan mempengaruhi perilaku kita di dalam lingkungan itu.

Stimuli yang mendorong serta juga memperteguh perilaku Situasi yang permisif memungkinkan orang tersebut melakukan banyak hal tanpa harus kemudian merasa malu. Sebaliknya, situasi restriktif menghabat orang untuk kemudian berperilaku sekehendak hatinya.

Contoh Perilaku Dibawah ini merupakan contoh perilaku diantaranya : Contoh perilaku manusia sebagai mahkluk sosial: • Bergotong-royong untuk membersihkan desa. • Mengunjungi orang sakit • Norma agama atau religi iaalah norma yang sumber nya dari Tuhan.

• Norma Kesusilaan ini merupakan suatu norma yang sumber nya dari hati nurani manusia yang berperilaku kebaikan serta kejahatan. • Norma kesopanan yaitu aturan-aturan yang sumber itu berasal dari masyarakat atau juga dari lingkungan masyarakat. • Norma Hukum ini merupakan norma yang dibuat masyarakat dengan secara resmi yang dapat atau bisa diberlakukan secara paksa.

Contoh perilaku Manusia Sebagai Mahluk Individu : • Berusaha untuk dapat memenuhi hak-hak dasar yakni sebagai manusia • Memenuhi kebutuhan serta kepentingan diri demi kesejahteraan hidup. • Menjaga dan juga Mempertahankan harkat serta martabatnya. Demikianlah penjelasan mengenai Pengertian Perilaku, Bentuk, Jenis, Faktor dan Contohnya, semoga apa yang diuraiakan dapat bermanfaat untuk anda.

Terima kasih Sebarkan ini: • • • • • Posting pada Perkuliahan Ditag 2003, adil adalah, akhlakul karimah pdf, akhlakul mazmumah, bukan contoh sikap baik, contoh akhlak tercela, contoh akhlakul karimah, contoh akhlakul karimah di sekolah, contoh kasus pelanggaran hukum di masyarakat, contoh perilaku, contoh perilaku adil di sekolah, contoh perilaku buruk, contoh perilaku di lingkungan sekolah, contoh perilaku jujur, contoh perilaku manusia, contoh perilaku terbuka dan tertutup, contoh perilaku tidak adil, contoh perilaku yang bertentangan dengan aturan di lingkungan masyarakat, contoh sikap adil di sekolah, contoh sikap adil terhadap ayah, contoh sikap dan perilaku, contoh sikap tidak baik, definisi konsumen menurut para ahli, faktor penghambat adil, faktor yang mempengaruhi perilaku, faktor yang mempengaruhi perilaku manusia, fungsi penting hukum, hubungan sikap dan perilaku, identifikasikan contoh perilaku yang sesuai dengan hukum, jelaskan mengenai kata nyata dalam hukum, jurnal perilaku, jurnal perilaku manusia pdf, macam macam perilaku, macam macam sanksi, makalah perilaku, manfaat kesadaran hukum, notoatmodjo, notoatmodjo pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu, oktaviana 2015 perilaku, pengertian organisasi, pengertian perilaku menurut kbbi, pengertian perilaku menurut notoatmodjo, pengertian perilaku menurut notoatmodjo 2012, pengertian perilaku menurut para ahli, pengertian perilaku menurut para ahli pdf, pengertian perilaku organisasi, pengertian perilaku pdf, pengertian sikap, perilaku adalah, perilaku kesehatan adalah, perilaku remaja, proses pembentukan perilaku, proses perubahan perilaku, sebutkan 5 sikap yang sesuai dengan hukum, strategi membangun akhlakul karimah, tingkah laku adalah Pos-pos Terbaru • √ Pengertian Sanering, Dampak, Kelemahan dan Contohnya • √ Pengertian Germinasi • √ Pengertian Filogenetik, Jenis, Klasifikasi dan Contohnya • √ Pengertian, Proses dan Jenis Awan Secara Umum • √ Pengertian Dividen, Jenis, Proses Pembayaran dan Menurut Ahli • √ Pengertian Pameran,Tujuan, Manfaat, Jenis dan Menurut Ahli • √ 15 Pengertian Perubahan Sosial Menurut Para Ahli • √ Pengertian Kecerdasan Sosial • √ Plasenta : Pengertian, Struktur, Proses dan Fungsinya • √ Biologi : Pengertian, Fungsi, Manfaat, Ciri Dan Cabangnya • √ Pengertian Semiotika, Komponen, Cabang, dan Macam Menurut Para Ahli • √ Pengertian Kloning, Tujuan, Contoh dan Manfaatnya • √ Pengertian Olahraga, Tujuan, Manfaat, Jenis dan Menurut Ahli • √ Pengertian Afinitas Elektron, Sifat, Jenis Dan Polanya • √ Pengertian Gulma, Jenis, Contoh dan Cara Pengendaliannya • Daur Air • Teks Eksplanasi • Fungsi Dan Ciri Alveolus • Pengertian Data • Teks Deskripsi • Enzim • Indikator Asam Basa • Ikhtisar : Pengertian, Ciri, Fungsi, Cara Penyusun, Struktur • Vektor: Pengertian, Gambar, Notasi, Jenis, Sifat dan Nilai atau Besarnya • Pengertian Dan Contoh Agresi • Perpindahan Kalor • Pengertian Suku • Simposium • Karakteristik Hikayat • Teks Prosedur • Struktur Dan Unsur Intrinsik Novel • Pengertian Negosiasi • Prakarya • Drama • Frasa • Pengertian Produksi • Reboisasi Adalah • Diksi • Rangkuman Dan Ringkasan • Kinemaster Pro • Alight Motion Pro
• Аԥсшәа • Afrikaans • Alemannisch • አማርኛ • Aragonés • Ænglisc • العربية • مصرى • অসমীয়া • Asturianu • अवधी • Azərbaycanca • تۆرکجه • Башҡортса • Basa Bali • Boarisch • Žemaitėška • Bikol Central • Беларуская • Беларуская (тарашкевіца) • Български • भोजपुरी • বাংলা • བོད་ཡིག • বিষ্ণুপ্রিয়া মণিপুরী • Brezhoneg • Bosanski • Буряад • Català • Mìng-dĕ̤ng-ngṳ̄ • Нохчийн • Cebuano • کوردی • Qırımtatarca • Čeština • Чӑвашла • Cymraeg • Dansk • Deutsch • Zazaki • डोटेली • ދިވެހިބަސް • Ελληνικά • English • Esperanto • Español • Eesti • Euskara • فارسی • Suomi • Français • Nordfriisk • Frysk • Gaeilge • 贛語 • Galego • Avañe'ẽ • गोंयची कोंकणी / Gõychi Konknni • 𐌲𐌿𐍄𐌹𐍃𐌺 • ગુજરાતી • 客家語/Hak-kâ-ngî • עברית • हिन्दी • Fiji Hindi • Hrvatski • Magyar • Հայերեն • Interlingua • Ilokano • Ido • Íslenska • Italiano • 日本語 • Patois • Jawa • ქართული • Адыгэбзэ • Kabɩyɛ • Қазақша • ភាសាខ្មែរ • ಕನ್ನಡ • 한국어 • कॉशुर / کٲشُر • Kurdî • Коми • Kernowek • Кыргызча • Latina • Лезги • Lingua Pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu Nova • Limburgs • Ligure • Lombard • ລາວ • Lietuvių • Latviešu • मैथिली • Malagasy • Minangkabau • Македонски • മലയാളം • Монгол • ꯃꯤꯇꯩ ꯂꯣꯟ • मराठी • Bahasa Melayu • မြန်မာဘာသာ • Эрзянь • Nāhuatl • Plattdüütsch • नेपाली • नेपाल भाषा • Nederlands • Norsk nynorsk • Norsk bokmål • Occitan • ଓଡ଼ିଆ • ਪੰਜਾਬੀ • Kapampangan • पालि • Polski • Piemontèis • پنجابی • پښتو • Português • Runa Simi • Română • Tarandíne • Русский • Русиньскый • Ikinyarwanda • संस्कृतम् • Саха тыла • ᱥᱟᱱᱛᱟᱲᱤ • Sardu • Sicilianu • Scots • سنڌي • Srpskohrvatski / српскохрватски • සිංහල • Simple English • Slovenčina • سرائیکی • Slovenščina • Shqip • Српски / srpski • Sunda • Svenska • Kiswahili • Ślůnski • தமிழ் • ತುಳು • తెలుగు • ไทย • Tagalog • Türkçe • Татарча/tatarça • Тыва дыл • Удмурт • Українська • اردو • Oʻzbekcha/ўзбекча • Vepsän kel’ • Tiếng Việt • Volapük • Winaray • 吴语 • Хальмг • მარგალური • ייִדיש • Vahcuengh • 中文 • 文言 • Bân-lâm-gú • 粵語 India ( Bahasa Jadwal Kedelapan) Kode bahasa ISO 639-1 sa ISO 639-2 san ISO 639-3 san Bahasa Sanskerta (ejaan tidak baku: Sansekerta, Sangsekerta, Sanskrit, [4] aksara Dewanagari: संस्कृतम्, saṃskṛtam [5]) adalah bahasa kuno Asia Selatan yang merupakan cabang Indo-Arya dari rumpun bahasa Indo-Eropa.

[6] [7] [8] Bahasa ini berkembang di Asia Selatan setelah moyangnya mengalami difusi trans-budaya di wilayah barat laut Asia Selatan pada Zaman Perunggu. [9] [10] Bahasa Sanskerta adalah bahasa suci umat Hindu, Buddha, dan Jain. Bahasa ini merupakan basantara Asia Selatan pada zaman kuno dan pertengahan, dan menjadi bahasa agama, kebudayaan, dan politik yang tersebar di sejumlah wilayah di Asia Tenggara, dan Tengah.

[11] [12] Bahasa ini memberikan banyak pengaruh bahasa di Asia Selatan, Tenggara, dan Timur, khususnya melalui kosakata yang dipelajari. [13] Bahasa Sanskerta masih mempertahankan ciri-ciri bahasa Indo-Arya kuno. [14] [15] Bentuk arkaisnya adalah bahasa Weda yang ditemukan dalam Regweda, kumpulan 1.028 himne yang disusun oleh masyarakat suku Indo-Arya yang bermigrasi di wilayah yang kini Afganistan hingga Pakistan dan kemudian India Utara. [16] [17] Bahasa Weda ini berakulturasi dengan bahasa kuno yang telah ada di anak benua India, menyerap kosakata yang berkaitan dengan nama-nama hewan dan tumbuhan; dan tambahannya, rumpun bahasa Dravida kuno mempengaruhi fonologi dan sintaksis Sanskerta.

[18] "Sanskerta" dapat juga merujuk pada bahasa Sanskerta klasik yang tata bahasanya dibakukan pada pertengahan milenium pertama SM secara sangat lengkap, [b] yang termuat dalam kitab Aṣṭādhyāyī ("Delapan Bab") karya Pāṇini. [20] Pujangga dan dramawan besar Kalidasa menulis menggunakan bahasa Sanskerta klasik, dan dasar-dasar aritmetika klasik pertama kalinya dideskripsikan dalam bahasa Sanskerta klasik.

[c] [21] Dua wiracarita besar Mahabharata dan Ramayana, disusun menggunakan gaya bahasa cerita lisan yang digunakan di India Utara antara 400 SM dan 300 SM, dan kira-kira sezaman dengan bahasa Sanskerta klasik. [22] Pada abad-abad berikutnya bahasa Sanskerta mulai terikat tradisi, berhenti dipelajari sebagai bahasa ibu, dan akhirnya berhenti berkembang sebagai bahasa yang hidup. [23] Nyanyian Regweda sangat mirip dengan puisi arkais berbahasa Iran dan Yunani, Gathas dalam bahasa Avesta dan Illiad karya Homeros.

[24] Karena Regweda mengalir dari mulut ke mulut dengan cara rajin menghafal, [25] [26] dan dianggap sebagai sebuah teks tunggal tanpa varian apa pun, [27] Regweda melestarikan morfologi dan sintaksis yang mendorong rekonstruksi moyang dari bahasa tersebut, bahasa Proto-Indo-Eropa.

[24] Bahasa Sanskerta tidak memiliki sistem tulisan yang spesifik: sekitar peralihan milenium pertama Masehi, bahasa ini ditulis dalam aksara-aksara berumpun Brahmi dan saat ini menggunakan aksara Dewanagari. [a] [2] [3] Status, fungsi, dan penempatan bahasa Sanskerta sebagai warisan sejarah dan budaya India diakui dalam bahasa resmi di Jadwal Kedelapan dari Konstitusi India.

[28] [29] Namun, di luar kebangkitannya, [30] [31] tidak ada masyarakat yang mengakui bahasa ini sebagai bahasa ibu di India. [31] [32] [33] Pada sensus terakhir di India, sekitar ribuan warga negara India mengakui bahasa Sanskerta sebagai bahasa ibu mereka, [d] dan angka itu dianggap menandakan harapan penyelarasan dengan prestise berbahasa.

[31] [35] Bahasa Sanskerta diajarkan di gurukula sejak zaman kuno; dan kini diajarkan pada sekolah menengah pertama. Sekolah modern bahasa Sanskerta tertua adalah Sampurnanand Sanskrit Vishwavidyalaya, didirikan pada 1791 pada masa pemerintahan Perusahaan Hindia Timur Britania.

[36] Bahasa Sanskerta menjadi bahasa liturgi bagi umat Hindu dan Buddha, digunakan untuk membacakan nyanyian dan mantra. Daftar isi • 1 Etimologi dan penamaan • 2 Sejarah • 2.1 Asal usul dan perkembangan • 2.2 Bahasa Weda • 2.3 Bahasa Sanskerta Klasik • 2.4 Bahasa Sanskerta dan Prakerta • 2.5 Pengaruh rumpun Dravida • 3 Distribusi geografis • 3.1 Status resmi • 4 Penelitian oleh bangsa Eropa • 5 Beberapa ciri-ciri • 5.1 Kasus • 5.1.1 Skema dasar tasrifan (deklensi) sufiks untuk kata-kata benda dan sifat • 5.1.2 Pokok-a • 5.1.3 Pokok -i dan -u • 5.1.4 Pokok vokal panjang • 5.2 Hukum sandhi • 6 Pembentukan kata majemuk • 7 Bahasa Sanskerta di Indonesia • 8 Bahasa Sanskerta dalam beberapa aksara • 9 Lihat pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu • 10 Catatan kaki • 11 Referensi • 11.1 Daftar pustaka • 12 Daftar pustaka Etimologi dan penamaan [ sunting - sunting sumber ] Manuskrip Sanskerta kuno: kitab suci keagamaan (atas), dan teks pengobatan (bawah) Dalam bahasa Sanskerta ajektiva verbal sáṃskṛta- adalah kata majemuk yang tersusun dari sam (berbudaya, bagus, baik, sempurna) dan krta- (tersusun).

[37] [38] Maksudnya adalah suatu bahasa yang "tersusun dengan baik, murni, sempurna, suci, dan berbudaya". [39] [40] [41] Menurut Biderman, kesempurnaan yang dimaksud dari etimologi tersebut cenderung memiliki kualitas tonal bukannya semantik. Tradisi lisan dianggap berharga di India Kuno, dan resi-resinya menyusun alfabet, struktur kata, dan tata bahasanya menjadi "sebuah kumpulan suara, semacam cetakan musikal yang bernilai luhur", sebagaimana yang disebut Biderman, sebagai sebuah bahasa yang disebut Sanskerta.

[38] Dari akhir periode Weda, sebagaimana yang disebut Annette Wilke dan Oliver Moebus, landasan resonansi dan musikalnya membangun "literatur linguistik, filosofis, dan religius dengan jumlah yang sangat besar" di India. Suara-suara itu divisualisiasikan "meliputi seluruh ciptaan", representasi lain dari dunia itu sendiri; sebuah "magna misterius" dari pemikiran Hindu.

Pencarian kesempurnaan dalam pemikiran dan tujuan kebebasan berada di antara dimensi suara sakral, benang merah itu merangkai semua ide dan inspirasi menjadi apa yang diyakini masyarakat India kuno sebagai bahasa yang sempurna, sehingga terciptalah "epistema fonosentris" bahasa Sanskerta. [42] [43] Bahasa ini dianggap sebagai lawan dari bahasa-bahasa rakyat ( prākṛta-). Kata prakrta secara literal berarti "asli, alami, normal, tak berseni", menurut Franklin Southworth. [44] Keterkaitan antara bahasa Prakerta dan Sanskerta ditemukan dalam naskah India berangka milenium pertama Masehi.

Patañjali mengakui bahasa Prakerta sebagai bahasa pertama, yang secara naluriah diadopsi oleh anak-anak yang berujung pada masalah interpretasi dan kesalahpahaman.

Pemurnian struktur bahasa Sanskerta menghapus ketidaksempurnaan itu. Tatabahasawan Sanskerta awal Daṇḍin menyatakan, sebagai contoh, banyak kata bahasa Prakerta berasal dari Sanskerta, tetapi memunculkan "kehilangan suara" dan penyalahgunaan makna yang merupakan hasil dari "pengabaian tata bahasa". Daṇḍin mengakui ada kata-kata dan struktur membingungkan dari bahasa Prakerta yang lepas dari bahasa Sanskerta. Pandangan ini tampak pada gaya penulisan Bharata Muni yang mengarang naskah Natyasastra.

Namisādhu, salah satu cendekiawan Jaina, mengakui adanya perbedaan tersebut, tetapi tidak setuju kalau bahasa Prakerta adalah hasil penyalahgunaan makna dari Sanskerta. Namisādhu menyatakan bahwa bahasa Prakerta bersifat pūrvam (alamiah) bagi anak-anak, dan Sanskerta adalah penyempurnaan bahasa Prakerta melalui sebuah "pemurnian tata bahasa". [45] Sejarah [ sunting - sunting sumber ] Asal usul dan perkembangan [ sunting - sunting sumber ] Kiri: Hipotesis Kurgan yang berkaitan dengan migrasi Indo-Eropa antara 4000–1000 SM.

Kanan: sebaran geografis rumpun bahasa Indo-Eropa dengan Sanskerta di Asia Selatan. Bahasa Sanskerta termasuk dalam rumpun bahasa Indo-Eropa. Bahasa ini menjadi salah satu dari tiga bahasa Indo-Eropa tertua yang didokumentasikan serta lahir dari suatu bahasa purba yang direkonstruksi yaitu bahasa Proto-Indo-Eropa: [7] [8] [46] • Bahasa Weda ( ca. 1500–500 SM). • Bahasa Yunani Mikenai ( ca.

1450 SM) [47] dan Yunani Kuno ( ca. 750–400 SM). • Bahasa Het ( ca. 1750–1200 SM). Bahasa Indo-Eropa lainnya yang berhubungan dengan Sanskerta antara lain bahasa Latin arkais dan klasik ( ca. 600 SM–100 M, Italia zaman kuno), bahasa Gotik ( bahasa Jermanik arkais, ca. 350 SM), bahasa Pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu Kuno ( ca. 200 SM ke atas), bahasa Avesta Kuno ( ca.

akhir milenium ke-2 SM [48]), dan bahasa Avesta Muda ( ca. 900 SM). [7] [8] Bahasa kuno terdekat dengan bahasa Weda adalah rumpun Nuristan yang ditemukan di wilayah Hindu Kush, timur laut Afganistan dan barat laut Himalaya, [8] [49] [50] serta bahasa Avesta dan Persia Kuno yang punah — keduanya berumpun Iran. [51] [52] [53] Bahasa Sanskerta adalah kelompok bahasa satem Indo-Eropa.

Sejumlah sarjana zaman kolonial yang menguasai bahasa Latin dan Yunani terkejut dengan kemiripan bahasa-bahasa klasik Eropa dengan Sanskerta, baik dari kosakata dan tata bahasanya. Dalam The Oxford Introduction to Proto-Indo-European and the Proto-Indo-European World, Mallory dan Adams menjelaskan kemiripan tersebut dalam beberapa contoh berikut: [54] Inggris Latin Yunani Sanskerta mother māter mētēr mātár- father pater pater pitár- brother frāter phreter bhrātar- sister soror eor svásar- son fīlius huius sūnú- daughter fīlia thugátēr duhitár- cow bōs bous gáu- house domus do dām- Kedekatan kosakata tersebut menunjukkan adanya sebuah akar kata, serta kaitan historis antara sejumlah bahasa-bahasa kuno besar di dunia.

[e] Teori migrasi Indo-Arya menjelaskan bagaimana bahasa Sanskerta dan bahasa Indo-Eropa lainnya saling berkaitan serta menyatakan bahwa penutur asli bahasa yang kelak menjadi Sanskerta tiba di Asia Selatan dari asalnya, kemungkinan barat laut wilayah Indus pada awal milenium ke-2 SM. Bukti sejarah yang ada dalam teori tersebut adalah kedekatan antara bahasa Indo-Iran dengan rumpun bahasa Baltik dan Slavik, pertukaran dengan kosakata non-Indo-Eropa seperti rumpun bahasa Ural, dan kosakata Indo-Eropa yang berkaitan dengan flora-fauna.

[56] Masa prasejarah rumpun bahasa Indo-Arya sebagai moyang bahasa Sanskerta tidak jelas dan hipotesisnya diajukan dalam batas yang cukup luas. Menurut Thomas Burrow, dengan menghubungkannya dengan bahasa rumpun Indo Eropa, asal usul bahasa tersebut mungkin bermula dari Eropa Tengah atau Timur, dan rumpun Indo-Iran muncul dari Rusia Tengah.

[57] Cabang rumpun bahasa Indo-Iran, Indo-Arya dan Iran, berpisah. Bahasa Sanskerta adalah cabang Indo-Arya yang berpindah menuju Iran timur, kemudian mengarah ke Asia Selatan pada paruh pertama milenium ke-2 SM. Begitu permulaan India Kuno, bahasa Indo-Arya mengalami perubahan lingustik dan terciptalah bahasa Weda. [58] Bahasa Weda [ sunting - sunting sumber ] Regweda ditulis dalam aksara Dewanagari, awal abad ke-19.

Garis merah horizontal dan vertikal mewakili tangga nada rendah dan tinggi dalam pembacaannya. Bentuk praklasik bahasa Sanskerta adalah bahasa Weda.

Naskah tertulis paling awal yang menggunakan bahasa Sanskerta adalah salah satu dari kitab suci umat Hindu yang empat, Regweda, ditulis pada pertengahan hingga akhir abad ke-2 SM. Tak ada catatan tertulis dari masa-masa awal yang dilestarikan, bahkan jika ada, sejumlah sarjana percaya bahwa Regweda turun-temurun secara lisan: teks tersebut adalah teks upacara keagamaan, dengan ekspresi fonetis yang pasti dan pelestariannya menjadi bagian dari tradisi.

[59] [60] [61] Regweda adalah kumpulan kitab suci yang dibuat oleh banyak pengarang secara terpisah di wilayah India kuno. Penulis-penulisnya berada pada generasi yang berbeda-beda: Mandala 2 hingga 7 adalah yang tertua, sedangkan mandala 1 dan 10 adalah yang termuda. [62] [63] Namun bahasa Weda dalam kitab-kitab Rigveda "hampir tidak menyajikan keragaman dialektika", menurut Louis Renou — seorang Indolog yang dikenal karena penelitiannya tentang sastra Sanskerta dan khususnya Rigveda.

Menurut Renou, ini menunjukkan bahwa bahasa Weda memiliki "pola linguistik yang teratur" pada paruh kedua milenium ke-2 SM. [64] Setelah Regweda, Weda lainnya yang bertahan adalah Samaweda, Yajurweda, dan Atharwaweda, bersama naskah-naskah lain seperti Brahmana, Aranyaka, dan Upanisad. [59] Dokumen Weda merefleksikan dialek bahasa Sanskerta pada sejumlah wilayah barat laut, utara, dan timur anak benua India.

[65] [66] (hlm. 9) Bahasa Weda adalah bahasa lisan sekaligus tertulis pada zaman India Kuno. Menurut Michael Witzel, bahasa Weda adalah bahasa lisan suku seminomaden Arya yang kelak bertempat tinggal di satu tempat dan tetap memelihara kebiasaan sehari-hari mereka seperti beternak sapi, bertani terbatas, dan menjalankan gerobak yang disebut grama.

[66] (hlm. 16–17) [67] Bahasa Weda atau varian Indo-Eropa terdekatnya diakui di seluruh wilayah India Kuno yang dibuktikan dengan "Traktat Mitanni" antara bangsa Het dan Mitanni, dipahat pada batu, di suatu wilayah yang kini menjadi Suriah dan Turki. [68] [f] Bagian dari traktat tersebut seperti nama-nama pangeran Mitanni dan istilah teknis yang berhubungan dengan perkudaan, dengan alasan yang tak dipahami, ditulis dalam bentuk awal bahasa Weda.

Traktat ini juga memuat Dewa Baruna, Mitra, Indra, dan Nasatya yang ditemukan dalam lapisan awal literatur Weda. [68] [70] Bahasa Weda yang ada dalam Regweda lebih arkais daripada Weda-Weda lainnya, dan dalam banyak hal, gaya bahasa Regweda diketahui lebih mirip dengan salah satu kitab umat Majusi Gathas dan juga Iliad dan Odisseia karya Homeros. [71] Menurut Stephanie W. Jamison dan Joel P. Brereton — Indolog yang dikenal karena penerjemahan Regweda — literatur Weda "telah jelas diwariskan" dari struktur sosial zaman Indo-Iran dan Indo-Eropa seperti peranan penyair dan pendeta, ekonomi patronasi, kemiripan frasa, dan sejumlah metrum puisi.

[72] [g] Meski ada kemiripan, menurut Jamison dan Brereton, ada perbedaan antara sastra Weda, Avesta Kuno, dan Yunani Mikenai. Misalnya, tak seperti penggunaan majas simile dalam Regweda, teks Gathas tak memiliki simile, dan jarang digunakan pada versi bahasa yang kemudian. Bahasa Yunani Homeros, seperti Sanskerta Regweda, banyak menggunakan simile, tetapi secara struktural sangat berbeda.

[74] Bahasa Sanskerta Klasik [ sunting - sunting sumber ] Naskah tata bahasa Sanskerta Pāṇini abad ke-17 dari Kashmir Bentuk bahasa Weda kurang homogen, dan kemudian berevolusi menjadi bahasa yang lebih terstruktur dan homogen, yang disebut bahasa Sanskerta Klasik pada pertengahan milenium pertama SM.

Menurut Richard Gombrich—Indolog dan sarjana bahasa Sanskerta, Pāli, dan studi agama Buddha—bahasa Weda yang arkais dalam Regweda sudah berevolusi pada periode Weda, seperti dibuktikan dalam karya sastra Weda berikutnya.

Bahasa dalam Upanisad Hindu awal dan karya sastra Weda berikutnya menggunakan bahasa Sanskerta Klasik, sedangkan bahasa Weda yang arkais pada zaman Buddha menjadi tak bisa dipahami oleh semua orang kecuali para Resi, menurut Gombrich. [75] Orang yang dikredit berjasa dalam formalisasi bahasa Sanskerta adalah Pāṇini, juga Mahabhasya karya Patanjali serta komentar Katyayana yang mendahului karya Patanjali.

[76] Panini menyusun kitab Aṣṭādhyāyī ("Delapan Bab Tata Bahasa Sanskerta"). Masa hidupnya sering diperdebatkan, tetapi umumnya disepakati bahwa karyanya dibuat antara abad ke-6 hingga ke-4 SM.

[77] [78] [79] Aṣṭādhyāyī bukanlah karya pertama yang mendeskripsikan tata bahasa Sanskerta, tetapi merupakan karya paling awal yang masih bisa dilestarikan secara utuh. Pāṇini mengutip sepuluh orang resi terkait aspek tata bahasa dan fonologi Sanskerta sebelumnya, serta varian penggunaan bahasa Sanskerta di wilayah India yang berbeda. [80] Ia mengutip sepuluh orang resi yaitu Apisali, Kasyapa, Gargya, Galawa, Cakrawarmana, Bharadwaja, Sakatayana, Sakalya, Senaka, dan Sphotayana.

[81] Aṣṭādhyāyī menjadi peletak dasar salah satu Wedangga, Wyakarana. [82] Dalam Aṣṭādhyāyī, bahasa dipandang dengan cara yang tidak sejalan dengan tatabahasawan Yunani atau Latin. Tata bahasa Pāṇini, menurut Renou dan Filliozat, mendefinisikan ekspresi linguistik dan klasika yang menjadi acuan dari bahasa Sanskerta.

[83] Pāṇini menggunakan metabahasa teknis, seperti sintaksis, morfologi, dan leksikon. Metabahasa ini terorganisasi menurut deret aturan-meta, beberapa di antaranya dijelaskan langsung, sedangkan lainnya dapat disimpulkan sendiri. [84] Teori komprehensif dan ilmiah tata bahasa Pāṇini kelak menjadi awal permulaan bahasa Sanskerta Klasik. [85] Risalahnya yang sistematis mengilhami dan menjadikan bahasa Sanskerta sebagai bahasa utama dalam pembelajaraan dan sastra India selama dua milenium.

[86] Tak jelas apakah Pāṇini menulisnya sendiri, atau memberikan penjelasannya kepada murid-muridnya secara turun temurun. Sejumlah sarjana menyetujui bahwa ia sudah mengenal penulisan, berdasarkan rujukan kata lipi ("aksara") atau lipikara ("penulis") pada subbab 3.2 Aṣṭādhyāyī.

[87] [88] [89] [h] Bahasa Sanskerta Klasik yang diformalkan oleh Pāṇini, menurut Renou, "bukan bahasa yang dimiskinkan", melainkan "bahasa yang diatur dan ditata dengan mengabaikan arkaisme dan alternatif formal yang tidak perlu". [96] Bentuk klasik Sanskerta menyederhanakan hukum sandhi tetapi tetap mempertahankan ciri-ciri bahasa Weda, serta menambahkan ketelitian dan fleksibilitas, sehingga memiliki ruang yang cukup untuk mengekspresikan pikiran serta "mampu menjawab tuntutan literatur yang beragam di masa mendatang", menurut Renou.

Pāṇini juga membuat "aturan pilihan" di luar kerangka kerja bahasa Weda bahulam, untuk menghargai kebebasan dan kreativitas sehingga para penulis yang berada di wilayah geografis atau waktu yang berbeda dapat bebas mengekspresikan fakta dan pandangannya sendiri. [97] Perbedaan fonetika bahasa Weda dan Sanskerta Klasik dapat diabaikan, bila dibandingkan dengan perubahan yang terjadi pada masa pra-Weda antara bahasa Indo-Arya dan bahasa Weda.

[98] Yang membuat bahasa Weda dan Sanskerta klasik berbeda adalah tata bahasa dan kategori gramatikal yang diperluas, serta perbedaan aksen, semantik, dan sintaksis. [99] Ada juga perbedaan bagaimana akhir dari kata benda dan kata kerja, serta juga hukum sandhi, baik internal maupun eksternal. [99] Banyak sekali kata dalam bahasa Weda tidak ditemukan dalam literatur bahasa Weda akhir atau Sanskerta Klasik, sedangkan ada kata Sanskerta Klasik yang maknanya berbeda dan baru jika dibandingkan dengan literatur bahasa Weda.

[99] Arthur Macdonell adalah salah satu sarjana zaman kolonial yang telah merangkum sejumlah perbedaan bahasa Weda dan Sanskerta Klasik. [99] [100] Publikasi berbahasa Prancis kary Louis Renou tahun 1956, berisi pembahasan yang lebih rinci terkait kemiripan, perbedaan, dan evolusi bahasa Weda pada periode Weda dengan bahasa Sanskerta Klasik beserta pandangan pribadinya.

Karyanya kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Jagbans Balbir. [101] Bahasa Sanskerta dan Prakerta [ sunting - sunting sumber ] Kata Saṃskṛta dalam aksara Gupta: Saṃ-skṛ-ta Prasasti Mandsaur, 532 M. [102] Kata Saṃskṛta sebagai sebuah bahasa, ditemukan dalam ayat 5.28.17–19 kitab Ramayana.

[103] Di luar bahasa Sanskerta yang tertulis dan dipelajari, sejumlah bahasa rakyat ( Prakerta) muncul. Bahasa Sanskerta hadir bersama Prakerta pada zaman India kuno. Bahasa Prakerta memiliki akar bahasa Sanskerta yang disebut Apabhramsa, artinya "bahasa yang mengabaikan tata bahasa". [104] [105] Weda memiliki kata-kata yang ekuivalensi fonetiknya tidak ditemukan dalam bahasa Indo-Eropa lain tetapi ditemukan dalam bahasa Prakerta, yang menandai mulainya interaksi berbagi kata dan gagasan pada sejarah awal India.

Semenjak pemikiran bangsa India terdiversifikasi dan ajaran awal Hindu mengalami tantangan, khususnya lahirnya agama Buddha dan Jain, bahasa Prakerta seperti Pali yang dipertuturkan umat Buddha Theravāda dan Ardhamagadhi yang dipertuturkan umat Jain bersaing dengan bahasa Sanskerta pada zaman kuno. [106] [107] [108] Namun, menurut Paul Dundas, sarjana Jaina, bahasa-bahasa Prakerta kuno "dikira-kira memiliki hubungan yang dekat dengan Sanskerta, sama seperti halnya bahasa Italia pertengahan dengan Latin." [108] Tradisi India mengakui bahwa Buddha dan Mahawira memilih bahasa Prakerta sehingga siapa pun dapat memahaminya.

Namun, sarjana seperti Dundas mempertanyakan hipotesis ini. Mereka mengaku tidak ada bukti dan bahkan jika ada buktinya pada awal masa itu, orang-orang sulit mempelajari bahasa Prakerta kuno seperti Ardhamagadhi kecuali para biksu atau rahib. [108] [i] Sarjana era kolonial mempertanyakan apakah Sanskerta itu bahasa lisan, atau hanya bahasa sastra.

[110] Salah satu aliran menyebut bahwa Sanskerta tak pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu sebagai bahasa lisan, sedangkan yang lain dan kebanyakan sarjana India justru tidak setuju.

[111] Mereka yang menegaskan Sanskerta adalah bahasa daerah menyatakan bahwa bahasa ini dahulu adalah bahasa lisan yang dilestarikan dalam naskah-naskah tertulis Sanskerta di India kuno. Selain itu, bukti tekstual karya Yaksa, Panini, dan Patanajali menyatakan bahwa bahasa Sanskerta Klasik pada masa itu adalah bahasa yang dituturkan oleh orang terpelajar dan berbudaya. Sejumlah sutras menguraikan bentuk-bentuk bahasa Sanskerta lisan dan tertulis. [111] Biksu pelancong abad ke-7 Xuanzang menulis dalam memoarnya bahwa perdebatan filosofis resmi di India adalah bahasa Sanskerta, bukan bahasa daerah di wilayah itu.

[111] Pakar linguistik Madhav Deshpande menyatakan bahwa bahasa Sanskerta adalah bahasa lisan sehari-hari pada pertengahan milenium pertama SM yang berdampingan dengan bahasa Sanskerta sastra yang lebih formal dan tertata. [112] Menurut Deshpande, dibenarkan bahwa bahasa modern juga memiliki bahasa sehari-hari dan dialek yang dipertuturkan dan dipahami, bersama dengan bentuk tertulis yang "tertata, lengkap, dan akurat dari segi tata bahasa".

[112] Tradisi India, menurut Moriz Winternitz, adalah belajar dan menggunakan bermacam-macam bahasa sejak zaman dahulu. Bahasa Sanskerta adalah bahasa kaum terpelajar dan terpandang, tetapi juga bahasa yang harus dipahami dalam lingkungan sosial yang lebih luas karena wiracarita yang populer seperti Ramayana, Mahabharata, Bhagawatapurana, Pancatantra, dan teks lainnya juga ditulis dalam bahasa Sanskerta.

[113] Bahasa Sanskerta dengan tata bahasanya yang ada, menjadi bahasa kaum terpelajar India, dan yang lainnya berkomunikasi dengan bahasa sehari-hari yang dapat saja mengabaikan tata bahasa. [112] Bahasa Sanskerta sebagai bahasa yang terpelajar, hadir bersama bahasa daerah Prakerta. [112] Seni drama berbahasa Sanskerta juga mengindikasikan bahasa itu berdampingan dengan Prakerta.

Benares, Paithan, Pune, dan Kanchipuram adalah pusat studi dan debat publik bahasa Sanskerta hingga awal mula kolonialisme di India. [114] Menurut Étienne Lamotte, Indolog dan sarjana ilmu agama Buddha, bahasa Sanskerta menjadi dominan sebagai bahasa resmi tertulis karena presisi komunikasinya. Menurut Lamotte, bahasa ini adalah instrumen yang cukup ideal untuk menampilkan gagasan serta pengetahuan sehingga menjadi tersebar dan berpengaruh.

[115] Bahasa Sanskerta dianggap sebagai sarana gagasan yang berkebudayaan, artistik, dan mendalam. Pollock tidak setuju Lamotte, tetapi yakin bahwa pengaruh bahasa Sanskerta bertumbuh menjadi sebuah "kosmopolis" yang mencakup seluruh wilayah Asia Selatan dan sebagian besar Asia Tenggara. Kosmopolis tersebut berkembang pesat di luar India antara 300 dan 1300 M. [116] Pengaruh rumpun Dravida [ sunting - sunting sumber ] Reinöhl menyebut rumpun bahasa Dravida tidak hanya menyerap kosakata Sanskerta, tetapi juga mempengaruhi bahasa Sanskerta berkaitan strukturnya, "misalnya asal usul fonologi retrofleks Indo-Arya, dikaitkan dengan pengaruh rumpun bahasa Dravida".

[117] Hock et al. mengutip George Hart yang menyatakan bahwa ada pengaruh bahasa Tamil Kuno dalam bahasa Sanskerta. [118] Hart membandingkan bahasa Tamil Kuno dan Sanskerta Klasik dan menyimpulkan bahwa ada bahasa Prakerta yang diturunkan dari kedua-duanya – "baik Tamil dan Sanskerta mendapatkan kaidah, metrum, dan teknik yang dibagi rata dari satu sumber, serta jelas tidak ada yang langsung diserap dari bahasa lainnya." [119] Reinöhl menyatakan bahwa ada keterkaitan secara simetris antara bahasa berumpun Dravida seperti bahasa Kannada atau Tamil dengan bahasa Indo-Arya seperti Bengali atau Hindi, dibandingkan dengan bahasa Persia atau Inggris terhadap bahasa berumpun non-Indo-Arya.

Dikutip dari Reinöhl – "Kalimat dalam bahasa rumpun Dravida seperti Tamil atau Kannada dapat diubah menjadi bahasa Bengali atau Hindi pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu mengganti kosakata Bengali atau Hindi yang ekuivalen dengan kata dan bentuk Dravida, tanpa mengubah urutan kata, tetapi hal yang sama tidak bisa digunakan untuk mengubah kalimat bahasa Persia atau Inggris menjadi bahasa non-Indo-Arya".

[117] Shulman menyebutkan, "Bentuk kata kerja nonfinit Dravida (disebut juga vinaiyeccam dalam bahasa Tamil) mempengaruhi kata kerja nonfinit Sanskerta (aslinya berasal dari bentuk infleksi kata benda perbuatan dalam Weda). Kasus yang sangat menonjol dari pengaruh bahasa Dravida dalam bahasa Sanskerta hanyalah satu dari banyaknya asimilasi sintaktis, tak terkecuali repertoar yang besar dari aspek dan modalitas morfologis yang, jika diamati teliti, dapat ditemukan di mana saja dalam bahasa Sanskerta klasik dan pascaklasik".

[120] Distribusi geografis [ sunting - sunting sumber ] Sebaran historis bahasa Sanskerta yang dituturkan di banyak negara. Bukti-buktinya antara lain manuskrip dan prasasti yang ditemukan di Asia Selatan, Tenggara, dan Tengah. Bukti-bukti tersebut bertanggal antara 300 hingga 1800 M. Kehadiran bahasa Pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu secara historis telah terbukti dalam lingkup geografi yang luas di Asia Selatan.

Prasasti dan karya-karya sastra menunjukkan bahwa bahasa Sanskerta telah digunakan di Asia Tenggara dan Tengah pada milenium pertama SM, melalui para brahmana, peziarah, dan pedagang. [121] [122] [123] Asia Selatan merupakan daerah yang kaya akan manuskrip dan prasasti berbahasa Sanskerta pada zaman kuno hingga sebelum abad ke-18.

[124] Di luar wilayah India Kuno, manuskrip dan prasasti berbahasa Sanskerta telah ditemukan di Tiongkok (terutama di Tibet), [125] [126] Myanmar, [127] Indonesia, [128] Kamboja, [129] Laos, [130] Vietnam, [131] Thailand, [132] dan Malaysia.

[130] Prasati dan manuskrip Sanskerta, maupun pecahan-pecahannya, termasuk sejumlah teks tertulis berbahasa Sanskerta tertua yang diketahui, telah ditemukan di gurun-gurun kering dan pegunungan seperti di Nepal, [133] [134] [j] Tibet, [126] [135] Afganistan, [136] [137] Mongolia, [138] Uzbekistan, [139] Turkmenistan, Tajikistan, [139] dan Kazakhstan.

[140] Sejumlah teks berbahasa Sanskerta juga ditemukan di kuil-kuil Jepang dan Korea. [141] [142] [143] Status resmi [ sunting - sunting sumber ] Di India, bahasa Sanskerta diakui sebagai 22 bahasa resmi yang ada dalam Jadwal Kedelapan Konstitusi India.

[144] Pada 2010, Uttarakhand menjadi negara bagian India pertama yang menetapkan bahasa Sanskerta sebagai bahasa resmi kedua. [145] Selanjutnya sejak 2019, Himachal Pradesh menjadi negara bagian kedua yang menetapkan bahasa tersebut sebagai bahasa resmi kedua. [146] Penelitian oleh bangsa Eropa [ sunting - sunting sumber ] Penelitian bahasa Sanskerta oleh bangsa Eropa dimulai oleh Heinrich Roth (1620–1668) dan Johann Ernst Hanxleden (1681–1731), dan dilanjutkan dengan proposal rumpun bahasa Indo-Eropa oleh Sir William Jones.

Hal ini memainkan peranan penting pada perkembangan ilmu perbandingan bahasa di Dunia Barat. Sir William Jones, pada kesempatan berceramah kepada Asiatick Society of Bengal di Calcutta, 2 Februari 1786, berkata: “ "Bahasa Sanskerta, bagaimanapun kekunoannya, memiliki struktur yang menakjubkan; lebih sempurna daripada bahasa Yunani, lebih luas daripada bahasa Latin dan lebih halus dan berbudaya daripada keduanya, tetapi memiliki keterkaitan yang lebih erat pada keduanya, baik dalam bentuk akar kata-kata kerja maupun bentuk tata bahasa, yang tak mungkin terjadi hanya secara kebetulan; sangat eratlah keterkaitan ini sehingga tak ada seorang ahli bahasa yang bisa meneliti ketiganya, tanpa percaya bahwa mereka muncul dari sumber yang sama, yang kemungkinan sudah tidak ada." ” Memang ilmu linguistik (bersama dengan fonologi, dsb.) pertama kali muncul di antara para tata bahasawan India kuno yang berusaha menetapkan hukum-hukum bahasa Sanskerta.

Ilmu linguistik modern banyak berhutang kepada mereka dan saat ini banyak istilah-istilah kunci seperti bahuvrihi dan suarabakti diambil dari bahasa Sanskerta.

Beberapa ciri-ciri [ sunting - sunting sumber ] Kasus [ sunting - sunting sumber ] Salah satu ciri-ciri utama bahasa Sanskerta ialah adanya kasus dalam bahasa ini, yang berjumlah 8. Dalam bahasa Latin yang masih serumpun hanya ada 5 kasus. Selain itu ada tiga jenis kelamin dalam bahasa Sanskerta, maskulin, feminin dan netral dan tiga modus jumlah, singular, dualis dan jamak: • kasus nominatif • kasus vokatif • kasus akusatif • kasus instrumentalis • kasus datif • kasus ablatif • kasus genetif • kasus lokatif Contoh tulisan Sanskerta.

Di bawah ini disajikan sebuah contoh semua kasus sebuah kata maskulin singular deva (Dewa, Tuhan atau Raja). Singular: • nom. devas arti: "Dewa" • vok. (he) deva arti: "Wahai Dewa" • ak. devam arti: "ke Dewa" dsb. • inst. devena arti: "dengan Dewa" dsb.

• dat. devāya arti: "kepada Dewa" • ab. devāt arti: "dari Dewa" • gen. devasya arti: "milik Dewa" • lok. deve arti: "di Dewa" Dualis: • nva devau • ida devābhyām • gl devayos Jamak: • nv devās • a devān • i devais • da devebhyas • g devānām • l deveṣu Lalu di bawah ini disajikan dalam bentuk tabel.

Skema dasar tasrifan (deklensi) sufiks untuk kata-kata benda dan sifat [ sunting - sunting sumber ] Skema dasar tasrifan bahasa Sanskerta untuk kata-kata benda dan sifat disajikan di bawah ini. Skema ini berlaku untuk sebagian besar kata-kata. Tunggal Dualis Jamak Nominatif -s (-m) -au (-ī) -as (-i) Akusatif -am (-m) -au (-ī) -as (-i) Instrumentalis -ā -bhyām -bhis Datif -e -bhyām -bhyas Ablatif -as -bhyām -bhyas Genitif -as -os -ām Lokatif -i -os -su Vokatif -s (-) -au ( -ī) -as (-i) Pokok-a [ pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu - sunting sumber ] Pokok-a ( /ə/ or /ɑː/) mencakup kelas akhiran kata benda yang terbesar.

Biasanya kata-kata yang berakhir dengan -a pendek berkelamin maskulin atau netral. Kata-kata benda yang berakhirkan -a panjang ( /ɑː/) hampir selalu feminin.

Kelas ini sangatlah besar karena juga mencakup akhiran -o dari bahasa proto-Indo-Eropa. Maskulin ( kā́ma- 'cinta') Netral ( āsya- 'mulut') Feminin ( kānta- 'tersayang') Tunggal Dualis Jamak Tunggal Dualis Jamak Tunggal Dualis Jamak Nominatif kā́mas kā́māu kā́mās āsyàm āsyè āsyā̀ni kāntā kānte kāntās Akusatif kā́mam kā́māu kā́mān āsyàm āsyè āsyā̀ni kāntām kānte kāntās Instrumentalis kā́mena kā́mābhyām kā́māis āsyèna āsyā̀bhyām āsyāìs kāntayā kāntābhyām kāntābhis Datif kā́māya kā́mābhyām kā́mebhyas āsyā̀ya āsyā̀bhyām āsyèbhyas kāntāyai kāntābhyām kāntābhyās Ablatif kā́māt kā́mābhyām kā́mebhyas āsyā̀t āsyā̀bhyām āsyèbhyas kāntāyās kāntābhyām kāntābhyās Genitif kā́masya kā́mayos kā́mānām āsyàsya āsyàyos āsyā̀nām kāntāyās kāntayos kāntānām Lokatif kā́me kā́mayos kā́me ṣu āsyè āsyàyos āsyè ṣu kāntāyām kāntayos kāntāsu Vokatif kā́ma kā́mau kā́mās ā́sya āsyè āsyā̀ni kānte kānte kāntās Pokok -i dan -u [ sunting - sunting sumber ] pokok-i Mas.

dan Fem. ( gáti- 'kepergian') Netral ( vā́ri- 'air') Tunggal Dualis Jamak Tunggal Dualis Jamak Nominatif gátis gátī gátayas vā́ri vā́ri ṇī vā́rī ṇi Akusatif gátim gátī gátīs vā́ri vā́ri ṇī vā́rī ṇi Instrumentalis gátyā gátibhyām gátibhis vā́ri ṇā vā́ribhyām vā́ribhis Datif gátaye, gátyāi gátibhyām gátibhyas vā́ri ṇe vā́ribhyām vā́ribhyas Ablatif gátes, gátyās gátibhyām gátibhyas vā́ri ṇas vā́ribhyām vā́ribhyas Genitif gátes, gátyās gátyos gátīnām vā́ri ṇas vā́ri ṇos vā́ri ṇām Lokatif gátāu, gátyām gátyos gáti ṣu vā́ri ṇi vā́ri ṇos vā́ri ṣu Vokatif gáte gátī gátayas vā́ri, vā́re vā́ri ṇī vā́rī ṇi pokok-u Mas.

dan Fem. ( śátru- 'seteru, musuh') Netral ( mádhu- 'madu') Tunggal Dualis Jamak Tunggal Dualis Jamak Nominatif śátrus śátrū śátravas mádhu mádhunī mádhūni Akusatif śátrum śátrū śátrūn mádhu mádhunī mádhūni Instrumentalis śátru ṇā śátrubhyām śátrubhis mádhunā mádhubhyām mádhubhis Datif śátrave śátrubhyām śátrubhyas mádhune mádhubhyām mádhubhyas Ablatif śátros śátrubhyām śátrubhyas mádhunas mádhubhyām mádhubhyas Genitif śátros śátrvos śátrū ṇām mádhunas mádhunos mádhūnām Lokatif śátrāu śátrvos śátru ṣu mádhuni mádhunos mádhuṣu Vokatif śátro śátrū śátravas mádhu mádhunī mádhūni Pokok vokal panjang [ sunting - sunting sumber ] Pokok ā ( jā- 'kepandaian') Pokok ī ( dhī- 'pikiran') Pokok ū ( bhū- 'bumi') Tunggal Dualis Jamak Tunggal Dualis Jamak Tunggal Dualis Jamak Nominatif jā́s jāú jā́s dhī́s dhíyāu dhíyas bhū́s bhúvāu bhúvas Akusatif jā́m jāú jā́s, jás dhíyam dhíyāu dhíyas bhúvam bhúvāu bhúvas Instrumentalis jā́ jā́bhyām jā́bhis dhiyā́ dhībhyā́m dhībhís bhuvā́ bhūbhyā́m bhūbhís Datif jé jā́bhyām jā́bhyas dhiyé, dhiyāí dhībhyā́m dhībhyás bhuvé, bhuvāí bhūbhyā́m bhūbhyás Ablatif jás jā́bhyām jā́bhyas dhiyás, dhiyā́s dhībhyā́m dhībhyás bhuvás, bhuvā́s bhūbhyā́m bhūbhyás Genitif jás jós jā́nām, jā́m dhiyás, dhiyā́s dhiyós dhiyā́m, dhīnā́m bhuvás, bhuvā́s bhuvós bhuvā́m, bhūnā́m Lokatif jí jós jā́su dhiyí, dhiyā́m dhiyós dhīṣú bhuví, bhuvā́m bhuvós bhūṣú Vokatif jā́s jāú jā́s dhī́s dhiyāu dhíyas bhū́s bhuvāu bhúvas Hukum sandhi [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Kata majemuk dalam bahasa Sanskerta Kata-kata majemuk dalam bahasa Sanskerta sangat banyak digunakan, terutama menyangkut kata-kata benda.

Kata-kata ini bisa menjadi sangat panjang (lebih dari 10 kata). Nominal majemuk terjadi dengan beberapa bentuk, tetapi secara morfologis mereka sejatinya sama. Setiap kata benda (atau kata sifat) terdapat dalam bentuk akarnya (bentuk lemah), dengan unsur terakhir saja yang ditasrifkan sesuai kasusnya. Beberapa contoh kata benda atau nominal majemuk termasuk kategori-kategori yang diperikan di bawah ini. • Avyayibhāva • Tatpuruṣa • Karmadhāraya • Dvigu • Dvandva • Bahuvrīhi Bahasa Sanskerta di Indonesia [ sunting - sunting sumber ] Lihat pula: Nama Indonesia § Nama India dan Sansekerta Bahasa Sanskerta telah lama hadir di Nusantara sejak ribuan tahun lalu, bahkan banyak nama orang Indonesia yang menggunakan nama-nama India atau Hindu (Sanskerta), meskipun tidak berarti bahwa mereka beragama Hindu.

Ini karena pengaruh budaya India yang datang ke Nusantara sejak ribuan tahun yang lalu selama pengindiaan kerajaan-kerajaan Asia Tenggara (Hindu-Buddha), dan sejak itu, budaya India ini dilihat sebagai bagian dari budaya Indonesia, terutama dalam budaya Jawa, Bali, dan beberapa bagian dari Nusantara lainya.

Dengan demikian, budaya Hindu atau India yang terkait di Indonesia hadir tidak hanya sebagai bagian dari agama, tetapi juga budaya. Akibatnya, adalah umum untuk menemukan orang-orang Indonesia muslim atau Kristen dengan nama-nama yang bernuansa India atau Sanskerta. Tidak seperti nama-nama yang berasal dari bahasa Sanskerta dalam bahasa Thai dan Khmer, pengucapan nama-nama Sanskerta dalam bahasa Jawa atau Indonesia mirip dengan pelafalan India asli, kecuali bahwa "v" diubah menjadi "w", contoh: "Vishnu" di India berubah menjadi "Wisnu" jika di Indonesia.

Di kawasan Nusantara khususnya di Indonesia, Bahasa Sanskerta sangat berpengaruh penting dan sangat memiliki peran tinggi di dalam perbahasaan di Indonesia.

Bahasa Sanskerta yang masuk ke Indonesia sejak ribuan tahun lalu (masa kerajaan Hindu-Buddha) datang dari India ke Indonesia melalui para kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha pada masa kuno ribuan tahun yang lalu di bumi Nusantara. Sangat banyak kata-kata dalam Bahasa Indonesia yang diserap dari Bahasa Sanskerta, contohnya dari kata "bahasa" भाषा ( bhāṣa) itu sendiri berasal dari bahasa sanskerta berarti: "logat bicara".

Bahkan, banyak nama-nama lembaga, istilah, moto, dan semboyan di pemerintahan Indonesia menggunakan bahasa Sanskerta, seperti pangkat jenderal di Angkatan Laut Indonesia (TNI AL), menggunakan kata "Laksamana" (dari tokoh Ramayana yang merupakan adik dari Rama).

" Penghargaan Adipura" yang merupakan penghargaan yang diberikan kepada kota-kota di seluruh Indonesia dari pemerintah pusat untuk kebersihan dan pengelolaan lingkungan juga menggunakan bahasa Sanskerta yaitu dari kata Adi (yang berarti "panutan") dan Pura (yang berarti "kota), menjadikan arti: "Kota Panutan" atau "kota yang layak menjadi contoh".

Ada juga banyak moto lembaga-lembaga Indonesia yang menggunakan bahasa Sanskerta, seperti moto Akademi Militer Indonesia yang berbunyi "Adhitakarya Mahatvavirya Nagarabhakti" ( अधिकाऱ्या महत्व विर्य नगरभक्ति), dan beberapa istilah-istilah lain dalam TNI juga menggunakan bahasa Sanskerta, contoh: "Adhi Makayasa", "Chandradimuka", "Tri Dharma Eka Karma", dll.

Bahasa Sanskerta dalam beberapa aksara [ sunting - sunting sumber ] Kalimat Semoga Batara Siwa meraksa para pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu bahasa Dewata. ( Kalidasa) dalam bahasa Sanskerta menggunakan beberapa aksara turunan Brahmi.

Lihat pula [ sunting - sunting sumber ] • Bahasa Weda • Romanisasi bahasa Sanskerta • Kata-kata serapan dari bahasa Sanskerta dalam bahasa Melayu dan bahasa Indonesia Modern • Daftar kata serapan dari bahasa Sanskerta dalam bahasa Indonesia • Daftar nama yang mengandung unsur Sanskerta Catatan kaki [ sunting - sunting sumber ] • ^ a b "In conclusion, there are strong systemic and paleographic indications that the Brahmi script derived from a Semitic prototype, which, mainly on historical grounds, is most likely to have been Aramaic.

However, the details of this problem remain to be worked out, and in any case, it is unlikely that a complete letter-by-letter derivation will ever be possible; for Brahmi may have been more of an adaptation and remodeling, rather than a direct derivation, of the presumptive Semitic prototype, perhaps under the influence of a preexisting Indian tradition of phonetic analysis. However, the Semitic hypothesis 1s not so strong as to rule out the remote possibility that further discoveries could drastically change the picture.

In particular, a relationship of some kind, probably partial or indirect, with the protohistoric Indus Valley script should not be considered entirely out of the question." Salomon 1998, hlm. 30 • ^ Meski semua capaian itu dikerdilkan oleh tradisi linguistik Sanskerta yang berpuncak pada tata bahasa terkenal dari Panini, pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu berjudul Astadhyayi.

Keanggunan dan kelengkapan arsitektur (tata bahasanya) belum bisa dilampaui oleh bahasa manapun, dan metode cerdasnya dalam mengelompokkan pemakaian dan penyebutannya, bahasa dan metabahasanya, dan teorema dan metateoremanya, mengungguli penemuan-penemuan penting dalam filsafat Barat selama beribu-ribu tahun.

[19] • ^ Tradisi gramatikal Sanskerta juga merupakan asal-usul ditemukannya angka "nol", yang begitu diadopsi sebagai sistem angka Arab, memungkinkan kita untuk melampaui notasi rumit aritmetika Romawi. [19] • ^ Orang India yang melaporkan bahasa Sanskerta sebagai bahasa ibu mereka sebanyak 6.106 pada 1981, 49.736 pada 1991, 14.135 pada 2001, dan 24.821 pada 2011. [34] • ^ William Jones (1786), dikutip oleh Thomas Burrow dalam The Sanskrit Language: [55] Bahasa Sanskerta, di samping kekunoannya, memiliki struktur yang menarik; lebih sempurna daripada Yunani, lebih lengkap daripada Yunani, lebih halus daripada keduanya, tetapi kedekatannya kuat, baik dalam akar kata kerja dan tata bahasanya, daripada yang dihasilkan secara kebetulan, sehingga tidak ada filolog yang mampu menguji ketiganya, sebelum meyakini bahwa ketiganya berasal dari "satu sumber yang sama", yang mungkin sudah tiada lagi.

Ada alasan yang mirip, meski tak dipaksakan, untuk menganggap bahwa bahasa Got dan Kelt, meski berpadu dengan idiom berbeda, memiliki asal yang sama dengan Sanskerta dan Persia Kuno mungkin bisa dimasukkan dalam rumpun yang sama." • ^ Traktat Mitanni diduga berangka abad ke-16 SM, tetapi masih diperdebatkan.

[69] • ^ Contoh kemiripan kosakata yang disorot dalam Weda adalah kata Dyaus Pita dalam bahasa Weda yang bermakna "Bapak Langit". Ekuivalen dengan bahasa Yunani Mikenai Zeus Pater, yang berevolusi menjadi Jupiter dalam Latin. Kesamaan frasa "Bapak Langit" juga ditemukan dalam bahasa Indo-Eropa lainnya. [73] • ^ Pāṇini's use of the term lipi has been a source of scholarly disagreements.

Harry Falk in his 1993 overview states that ancient Indians neither knew nor used writing script, and Pāṇini's mention is likely a reference to Semitic and Greek scripts. [90] In his 1995 review, Salomon questions Falk's arguments and writes it is "speculative at best and hardly constitutes firm grounds for a late date for Kharoṣṭhī.

The stronger argument for this position is that we have no specimen of the script before the time of Ashoka, nor any direct evidence of intermediate stages in its development; but of course this does not mean that such earlier forms did not exist, only that, if they did exist, they have not survived, presumably because they were not employed for monumental purposes before Ashoka". [91] According to Hartmut Scharfe, Lipi of Pāṇini may be borrowed from the Old Persian Dipi, in turn derived from Sumerian Dup.

Scharfe adds that the best evidence, at the time of his review, is that no script was used in India, aside from the Northwest Indian subcontinent, before around 300 BCE because Indian tradition "at every occasion stresses the orality of the cultural and literary heritage." [92] Kenneth Norman states writing scripts in ancient India evolved over the long period of time like other cultures, that it is unlikely that ancient Indians developed a single complete writing system at one and the same time in the Maurya era.

It is even less likely, states Norman, that a writing script was invented during Ashoka's rule, starting from nothing, for the specific purpose of writing his inscriptions and then it was understood all over South Asia where the Ashoka pillars are found. [93] Jack Goody states that ancient India likely had a "very old culture of writing" along with its oral tradition of composing and transmitting knowledge, because the Vedic literature is too vast, consistent and complex to have been entirely created, memorized, accurately preserved and spread without a written system.

[94] Falk disagrees with Goody, and suggests that it is a Western presumption and inability to imagine that remarkably early scientific achievements such as Pāṇini's grammar (5th to 4th century BCE), and the creation, preservation and wide distribution of the large corpus of the Brahmanic Vedic literature and the Buddhist canonical literature, without any writing scripts.

Johannes Bronkhorst disagrees with Falk, and states, "Falk goes too far. It is fair to expect that we believe that Vedic memorisation—though without parallel in any other human society—has been able to preserve very long texts for many centuries without losing a syllable.

[.] However, the oral composition of a work as complex as Pāṇini's grammar is not only without parallel in other human cultures, it is without parallel in India itself. [.] It just will not do to state that our difficulty in conceiving any such thing is our problem".

[95] • ^ Pali is also an extinct language. [109] • ^ The oldest surviving Sanskrit inscription in the Kathmandu valley is dated to 464 CE. [134] Referensi [ sunting - sunting sumber ] • ^ Uta Reinöhl (2016).

Grammaticalization and the Rise of Configurationality in Indo-Aryan. Oxford University Press. hlm. xiv, 1–16. ISBN 978-0-19-873666-0. • ^ a b Jain, Dhanesh (2007). "Sociolinguistics of the Indo-Aryan languages". Dalam George Cardona; Dhanesh Jain. The Indo-Aryan Languages. Routledge. hlm. 47–66, 51. ISBN 978-1-135-79711-9. In the history of Indo-Aryan, writing was a later development and its adoption has been slow even in modern times.

The first written word comes to us through Asokan inscriptions dating back to the third century BC. Originally, Brahmi was used to write Prakrit (MIA); for Sanskrit (OIA) it was used only four centuries later (Masica 1991: 135).

The MIA traditions of Buddhist and Jain texts show greater regard for the written word than the OIA Brahminical tradition, though writing was available to Old Indo-Aryans. • ^ a b Salomon, Richard (2007). "The Writing Systems of the Indo-Aryan Languages".

Dalam George Cardona; Dhanesh Jain. The Indo-Aryan Languages. Routledge. hlm. 67–102. ISBN 978-1-135-79711-9.

pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu

Although in modern usage Sanskrit is most commonly written or printed in Nagari, in theory, it can be represented by virtually any of the main Brahmi-based scripts, and in practice it often is.

Thus scripts such as Gujarati, Bangla, and Oriya, as well as the major south Indian scripts, traditionally have been and often still are used in their proper territories for writing Sanskrit.

Sanskrit, in other words, is not inherently linked to any particular script, although it does have a special historical connection with Nagari. • ^ Sanskerta di Kamus Besar Bahasa Indonesia • ^ Apte, Vaman Shivaram (1957). Revised and enlarged edition of Prin. V.S. Apte's The practical Sanskrit-English Dictionary. Poona: Prasad Prakashan. hlm. 1596. from संस्कृत saṃskṛitə past passive participle: Made perfect, refined, polished, cultivated. -तः -tah A word formed regularly according to the rules of grammar, a regular derivative.

-तम् -tam Refined or highly polished speech, the Sanskṛit language; संस्कृतं नाम दैवी वागन्वाख्याता महर्षिभिः ("named sanskritam the divine language elaborated by the sages") from Kāvyadarśa.1.

33. of Daṇḍin • ^ Roger D. Woodard (2008). The Ancient Languages of Asia and the Americas. Cambridge University Press. hlm. 1–2. ISBN 978-0-521-68494-1. The earliest form of this 'oldest' language, Pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu, is the one found in the ancient Brahmanic text called the Rigveda, composed c. 1500 BC. The date makes Sanskrit one of the three earliest of the well-documented languages of the Indo-European family – the other two being Old Hittite and Myceanaean Greek – and, in keeping with its early appearance, Sanskrit has been a cornerstone in the reconstruction of the parent language of the Indo-European family – Proto-Indo-European.

• ^ a b c Bauer, Brigitte L.M. (2017). Nominal Apposition in Indo-European: Its forms and functions, and its evolution in Latin-romance. De Gruyter. hlm. 90–92. ISBN 978-3-11-046175-6.

for detailed comparison of the languages, see pages 90–126 • ^ a b c d Ramat, Anna Giacalone; Ramat, Paolo (2015). The Indo-European Languages. Routledge. hlm. 26–31. ISBN 978-1-134-92187-4. • ^ Dyson, Tim (2018). A Population History of India: From the First Modern People to the Present Day. Oxford University Press. hlm. 14–15. ISBN 978-0-19-882905-8. Although the collapse of the Indus valley civilization is no longer believed to have been due to an ‘Aryan invasion’ it is widely thought that, at roughly the same time, or perhaps a few centuries later, new Indo-Aryan-speaking people and influences began to enter the subcontinent from the north-west.

Detailed evidence is lacking. Nevertheless, a predecessor of the language that would eventually be called Sanskrit was probably introduced into the north-west sometime between 3,900 and 3,000 years ago. This language was related to one then spoken in eastern Iran; and both of these languages belonged to the Indo-European language family. • ^ Pinkney, Andrea Marion (2014).

"Revealing the Vedas in 'Hinduism': Foundations and issues of interpretation of religions in South Asian Hindu traditions". Dalam Bryan S. Turner; Oscar Salemink. Routledge Handbook of Religions in Asia. Routledge. hlm. 38–. ISBN 978-1-317-63646-5. According to Asko Parpola, the Proto-Indo-Aryan civilization was influenced by two external waves of migrations. The first group originated from the southern Urals (c. 2100 BCE) and mixed with the peoples of the Bactria-Margiana Archaeological Complex (BMAC); this group then proceeded to South Asia, arriving around 1900 BCE.

The second wave arrived in northern South Asia around 1750 BCE and mixed with the formerly arrived group, producing the Mitanni Aryans (c. 1500 BCE), a precursor to the peoples of the Ṛgveda. Michael Witzel has assigned an approximate chronology to the strata of Vedic languages, arguing that the language of the Ṛgveda changed through the beginning of the Iron Age in South Asia, which started in the Northwest (Punjab) around 1000 BCE.

On the basis of comparative philological evidence, Witzel has suggested a five-stage periodization of Vedic civilization, beginning with the Ṛgveda. On the basis of internal evidence, the Ṛgveda is dated as a late Bronze Age text composed by pastoral migrants with limited settlements, probably between 1350 and 1150 BCE in the Punjab region.

• ^ Michael C. Howard 2012, hlm. 21 • ^ Pollock, Sheldon (2006). The Language of the Gods in the World of Men: Sanskrit, Culture, and Power in Premodern India. University of California Press. hlm. 14. ISBN 978-0-520-24500-6. Once Sanskrit emerged from the sacerdotal environment . it became the sole medium by which ruling elites expressed their power .

Sanskrit probably never functioned as an everyday medium of communication anywhere in the cosmopolis—not in South Asia itself, let alone Southeast Asia . The work Sanskrit did do . was directed above all toward articulating a form of . politics . as celebration of aesthetic power. • ^ Burrow (1973), hlm. 62–64. • ^ Cardona, George; Luraghi, Silvia (2018). "Sanskrit". Dalam Bernard Comrie. The World's Major Languages.

Taylor & Francis. hlm. 497–. ISBN 978-1-317-29049-0. Sanskrit (samskrita- 'adorned, purified') refers to several varieties of Old Indo-Aryan whose most archaic forms are found in Vedic texts: the Rigveda (Ṛgveda), Yajurveda, Sāmveda, Atharvaveda, with various branches. • ^ Alfred C. Woolner (1986). Introduction to Prakrit. Motilal Banarsidass. hlm. 3–4. ISBN 978-81-208-0189-9. If in 'Sanskrit' we include the Vedic language and all dialects of the Old Indian period, then it is true to say that all the Prakrits are derived from Sanskrit.

If on the other hand 'Sanskrit' is used more strictly of the Panini-Patanjali language or 'Classical Sanskrit,' then it is untrue to say that any Prakrit is derived from Sanskrit, except that Sauraseni, the Midland Prakrit, is derived from the Old Indian dialect of the Madhyadesa on which Classical Sanskrit was mainly based.

• ^ Lowe, John J. (2015). Participles in Rigvedic Sanskrit: The syntax and semantics of adjectival verb forms. Oxford University Press.

hlm. 1–2. ISBN 978-0-19-100505-3. It consists of 1,028 hymns (suktas), highly crafted poetic compositions originally intended for recital during rituals and for the invocation of and communication with the Indo-Aryan gods. Modern scholarly opinion largely agrees that these hymns were composed between around 1500 BCE and 1200 BCE, during the eastward migration of the Indo-Aryan tribes from the mountains of what is today northern Afghanistan across the Punjab into north India. • ^ Witzel, Michael (2006).

"Early Loan Pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu in Western Central Asia: Indicators of Substrate Populations, Migrations, and Trade Relations". Dalam Victor H. Mair. Contact And Exchange in the Ancient World. University of Hawaii Press. hlm. 158–190, 160. ISBN 978-0-8248-2884-4. The Vedas were composed (roughly between 1500-1200 and 500 BCE) in parts of present-day Afghanistan, northern Pakistan, and northern India.

pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu

The oldest text at our disposal is the Rgveda (RV); it is composed in archaic Indo-Aryan (Vedic Sanskrit). • ^ Shulman, David (2016). Tamil. Harvard University Press. hlm. 17–19. ISBN 978-0-674-97465-4. (p. 17) Similarly, we find a large number of other items relating to flora and fauna, grains, pulses, and spices—that is, words that we might expect to have made their way into Sanskrit from the linguistic environment of prehistoric or early-historic India. . (p. 18) Dravidian certainly influenced Sanskrit phonology and syntax from early on .

(p 19) Vedic Sanskrit was in contact, from very ancient times, with speakers of Dravidian languages, and that the two language families profoundly influenced one another. • ^ a b Evans, Nicholas (2009). Dying Words: Endangered languages and what they have to tell us. John Wiley & Sons. hlm. 27–. ISBN 978-0-631-23305-3. • ^ Kesalahan pengutipan: Tag tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Evans-20092 • ^ Glenn Van Brummelen (2014).

"Arithmetic". Dalam Thomas F. Glick; Steven Livesey; Faith Wallis. Medieval Science, Technology, and Medicine: An Encyclopedia. Routledge. hlm. 46–48. ISBN 978-1-135-45932-1. The story of the growth of arithmetic from the ancient inheritance to the wealth passed on to the Renaissance is dramatic and passes through several cultures. The most groundbreaking achievement was the evolution of a positional number system, in which the position of a digit within pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu number determines its value according to powers (usually) of ten (e.g., in 3,285, the "2" refers to hundreds).

Its extension to include decimal fractions and the procedures that were made possible by its adoption transformed the abilities of all who calculated, with an effect comparable to the modern invention of the electronic computer. Roughly speaking, this began in India, was transmitted to Islam, and then to the Latin West. • ^ Lowe, John J. (2017). Transitive Nouns and Adjectives: Evidence from Early Indo-Aryan.

Oxford University Press. hlm. 58. ISBN 978-0-19-879357-1. The term ‘Epic Sanskrit’ refers to the language of the two great Sanskrit epics, the Mahabharata and the Ramayana. . It is likely, therefore, that pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu epic-like elements found in Vedic sources and the two epics that we have are not directly related, but that both drew on the same source, an oral tradition of storytelling that existed before, throughout, and after the Vedic period.

• ^ Lowe, John J. (2017). Transitive Nouns and Adjectives: Evidence from Early Indo-Aryan. Oxford University Press.

hlm. 53. ISBN 978-0-19-879357-1. The desire to preserve understanding and knowledge of Sanskrit in the face of ongoing linguistic change drove the development of an indigenous grammatical tradition, which culminated in the composition of the Pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu, attributed to the grammarian Panini, no later than the early fourth century BCE. In subsequent centuries, Sanskrit ceased to be learnt as a native language, and eventually ceased to develop as living languages do, becoming increasingly fixed according to the prescriptions of the grammatical tradition.

• ^ a b Lowe, John J. (2015). Participles in Rigvedic Sanskrit: The Syntax and Semantics of Adjectival Verb Forms. Oxford University Press. hlm. 2–. ISBN 978-0-19-100505-3. The importance of the Rigveda for the study of early Indo-Aryan historical linguistics cannot be underestimated.

. its language is . notably similar in many respects to the most archaic poetic texts of related language families, the Old Avestan Gathas and Homer's Iliad and Odyssey, respectively the earliest poetic representatives of the Iranian and Greek language families.

Moreover, its manner of preservation, by a system of oral transmission which has preserved the hymns almost without change for 3,000 years, makes it a very trustworthy witness to the Indo-Aryan language of North India in the second millennium BC. Its importance for the reconstruction of Proto-Indo-European, particularly in respect of the archaic morphology and syntax it preserves.

. is considerable. Any linguistic investigation into Old Indo-Aryan, Indo-Iranian, or Proto-Indo-European cannot avoid treating the evidence of the Rigveda as of vital importance. • ^ Staal 1986. • ^ Filliozat 2004, hlm. 360–375. • ^ Filliozat 2004, hlm. 139. • ^ Gazzola, Michele; Wickström, Bengt-Arne (2016). The Economics of Language Policy. MIT Pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu. hlm. 469–. ISBN 978-0-262-03470-8. The Eighth Schedule recognizes India's national languages as including the major regional languages as well as others, such as Sanskrit and Urdu, which contribute to India's cultural heritage.

. The original list of fourteen languages in the Eighth Schedule at the time of the adoption of the Constitution in 1949 has now grown to twenty-two. • ^ Groff, Cynthia (2017). The Ecology of Language in Multilingual India: Voices of Women and Educators in the Himalayan Foothills. Palgrave Macmillan UK. hlm. 58–. ISBN 978-1-137-51961-0. As Mahapatra says: “It is generally believed that the significance for the Eighth Schedule lies in providing a list of languages from which Hindi is directed to draw the appropriate forms, style and expressions for its enrichment” .

Being recognized in the Constitution, however, has had significant relevance for a language's status and functions. • ^ "Indian village where people speak in Sanskrit". BBC News (dalam bahasa Inggris). 22 December 2014.

Diakses tanggal 30 September 2020. • ^ a b c Sreevastan, Ajai (10 August 2014). Where are the Sanskrit speakers?. Chennai: The Hindu. Diakses tanggal 11 October 2020. Sanskrit is also the only scheduled language that shows wide fluctuations — rising from 6,106 speakers in 1981 to 49,736 in 1991 and then falling dramatically to 14,135 speakers in 2001.

“This fluctuation is not necessarily an error of the Census method. People often switch language loyalties depending on the immediate political climate,” says Prof. Ganesh Devy of the People's Linguistic Survey of India. . Because some people “fictitiously” indicate Sanskrit as their mother tongue owing to its high prestige and Constitutional mandate, the Census captures the persisting memory of an ancient language that is no longer anyone's real mother tongue, says B.

Mallikarjun of the Center for Classical Language. Hence, the numbers fluctuate in each Census. . “Sanskrit has influence without presence,” says Devy. “We all feel in some corner of the country, Sanskrit is spoken.” But even in Karnataka's Mattur, which is often referred to as India's Sanskrit village, hardly a handful indicated Sanskrit as their mother tongue.

• ^ Kesalahan pengutipan: Tag tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Ruppel2017 • ^ Annamalai, E. (2008). "Contexts of multilingualism".

Dalam Braj B. Kachru; Yamuna Kachru; S. N. Sridhar. Language in South Asia. Cambridge University Press. hlm. 223–. ISBN 978-1-139-46550-2. Some pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu the migrated languages .

such as Sanskrit and English, remained primarily as a second language, even though their native speakers were lost. Some native languages like the language of the Indus valley were lost with their speakers, while some linguistic communities shifted their language to one or other of the migrants’ languages.

• ^ Kesalahan pengutipan: Tag tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama sreevastan-thehindu-sanskrit • ^ Distribution of the 22 Scheduled Languages – India / States / Union Territories – Sanskrit (PDF), Census of India, 2011, hlm. 30diakses tanggal 4 October 2020 • ^ Seth, Sanjay (2007).

Subject Lessons: The Western Education of Colonial India. Duke University Press. hlm. 171–. ISBN 978-0-8223-4105-5. • ^ Angus Stevenson & Maurice Waite 2011, hlm. 1275 • ^ a b Shlomo Biderman 2008, hlm. 90. • ^ Will Durant 1963, hlm. 406. • ^ Sir Monier Monier-Williams (2005). A Sanskrit-English Dictionary: Etymologically and Philologically Arranged with Special Reference to Cognate Indo-European Languages. Motilal Banarsidass.

hlm. 1120. ISBN 978-81-208-3105-6. • ^ Louis Renou & Jagbans Kishore Balbir 2004, hlm. 1-2. • ^ Annette Wilke & Oliver Moebus 2011, hlm. 62–66 with footnotes. • ^ Guy L. Beck 2006, hlm. 117–123. • ^ Southworth, Franklin (2004), Linguistic Archaeology of South Asia, Routledge, hlm. 45, ISBN 978-1-134-31777-6 • ^ Jared Klein; Brian Joseph; Matthias Fritz (2017). Handbook of Comparative and Historical Indo-European Linguistics: An International Handbook. Walter De Gruyter.

hlm. 318–320. ISBN 978-3-11-026128-8. • ^ Kesalahan pengutipan: Tag tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Woodard12 • ^ "Ancient tablet found: Oldest readable writing in Europe".

National Geographic. 1 April 2011. • ^ Rose, Jenny (18 August 2011). Zoroastrianism: A guide for the perplexed. Bloomsbury Publishing. hlm. 75–76. ISBN 978-1-4411-2236-0. • ^ Dani, Ahmad Hasan; Masson, Vadim Mikhaĭlovich (1999). History of Civilizations of Central Asia. Motilal Banarsidass. hlm. 357–358. ISBN 978-81-208-1407-3. • ^ Colin P. Masica 1993, hlm. 34. • ^ Levin, Saul (24 October 2002). Semitic and Indo-European.

Current Issues in Linguistic Theory #226. II: Comparative morphology, syntax, and phonetics. John Benjamins Publishing Company. hlm. 431. ISBN 9781588112224. OCLC 32590410. ISBN 1588112225 • ^ Bryant, Edwin Francis; Patton, Laurie L. The Indo-Aryan Controversy: Evidence and inference in Indian history. Psychology Press. hlm. 208. • ^ Robins, R.H. (2014). General Linguistics. Routledge.

hlm. 346–347. ISBN 978-1-317-88763-8. • ^ J. P. Mallory & D. Q. Adams 2006, hlm. 6. • ^ Burrow 1973, hlm. 6. • ^ Colin P. Masica 1993, hlm. 36-38. • ^ Burrow 1973, hlm. 30–32. • ^ Burrow 1973, hlm. 30–34. • ^ a b Meier-Brügger, Michael (2003). Indo-European Linguistics. Walter de Gruyter. hlm. 20. ISBN 978-3-11-017433-5. • ^ MacDonell 2004. • ^ Keith, A. Berriedale (1993). A History of Sanskrit Literature. Motilal Banarsidass. hlm. 4. ISBN 978-81-208-1100-3. • ^ Barbara A. Holdrege 2012, hlm.

229–230. • ^ Bryant 2001, hlm. 66–67. • ^ Louis Renou & Jagbans Kishore Balbir 2004, hlm. 5–6. • ^ Cardona, George (2012). Sanskrit Language. Encyclopaedia Britannica. • ^ a b Witzel, M. (1997). Inside the Texts, Beyond the Texts: New approaches to the study of the Vedas (PDF). Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press. Diakses tanggal 17 July 2018.

• ^ Harold G. Coward 1990, hlm. 3–12, 36–47, 111–112, Note: Sanskrit was both a literary and spoken language in ancient India. • ^ a b Cohen, Signe (2017).

The Upanisads: A complete guide. Taylor & Francis. hlm. 11–17. ISBN 978-1-317-63696-0. • ^ Bryant 2001, hlm. 249. • ^ Robinson, Andrew (2014). India: A Short History. Thames & Hudson. hlm. 56–57. ISBN 978-0-500-77195-2. • ^ Lowe, John Jeffrey (2015). Participles in Rigvedic Sanskrit: The syntax and semantics of adjectival verb forms. Oxford University Press. hlm. 2–3. ISBN 978-0-19-870136-1. • ^ Stephanie W. Jamison & Joel P.

Brereton 2014, hlm. 10–11, 72. • ^ Stephanie W. Jamison & Joel P. Brereton 2014, hlm. 50. • ^ Stephanie W. Jamison & Joel P. Brereton 2014, hlm. 66–67. • ^ Richard Gombrich (2006).

Theravada Buddhism: A Social History from Ancient Benares to Modern Colombo. Routledge. hlm. 24–25. ISBN 978-1-134-90352-8.

• ^ Gérard Huet; Amba Kulkarni; Peter Scharf (2009). Sanskrit Computational Linguistics: First and Second International Symposia Rocquencourt, France, October 29–31, 2007 Providence, RI, USA, May 15–17, 2008, Revised Selected Papers.

Springer. hlm. v–vi. ISBN 978-3-642-00154-3. • ^ Cardona, George (1998), Pāṇini: A Survey of Research, Motilal Banarsidass, hlm. 268, ISBN 978-81-208-1494-3 • ^ The Editors of Encyclopaedia Britannica (2013).

Ashtadhyayi, Work by Panini. Encyclopædia Britannica. Diakses tanggal 23 October 2017. Ashtadhyayi, Sanskrit Aṣṭādhyāyī ("Eight Chapters"), Sanskrit treatise on grammar written in the 6th to 5th century BCE by the Indian grammarian Panini. • ^ Staal, Frits (April 1965). "Euclid and Pāṇini". Philosophy East and West. 15 (2): 99–116. • ^ Harold G. Coward 1990, hlm. 13–14, 111. • ^ Pāṇini; Sumitra Mangesh Katre (1989). Aṣṭādhyāyī of Pāṇini. Motilal Banarsidass.

hlm. xix–xxi. ISBN 978-81-208-0521-7. • ^ Harold G. Coward 1990, hlm. 13-14, 111. • ^ Louis Renou & Jean Filliozat. L'Inde Classique, manuel des etudes indiennes, vol.II pp.86–90, École française d'Extrême-Orient, 1953, reprinted 2000.

ISBN 2-85539-903-3. • ^ Angot, Michel. L'Inde Classique, pp.213–215. Les Belles Lettres, Paris, 2001. ISBN 2-251-41015-5 • ^ Yuji Kawaguchi; Makoto Minegishi; Wolfgang Viereck (2011). Corpus-based Analysis and Diachronic Linguistics. John Benjamins Publishing Company. hlm. 223–224. ISBN 978-90-272-7215-7. • ^ John Bowman (2005). Columbia Chronologies of Asian History and Culture.

Columbia University Press. hlm. 728. ISBN 978-0-231-50004-3. • ^ Salomon 1998, hlm. 11. • ^ Juhyung Rhi (2009). "On the Peripheries of Civilizations: The Evolution of a Visual Tradition in Gandhāra". Journal of Central Eurasian Studies. 1: 5, 1–13.

• ^ Rita Sherma; Arvind Sharma (2008). Hermeneutics and Hindu Thought: Toward a Fusion of Horizons. Springer. hlm. 235. ISBN 978-1-4020-8192-7. • ^ Falk, Harry (1993). Schrift im alten Indien: ein Forschungsbericht mit Anmerkungen (dalam bahasa German).

Gunter Narr Verlag. hlm. 109–167. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui ( link) • ^ Salomon, Richard (1995). "Review: On the Origin of the Early Indian Scripts". Journal of the American Oriental Society. 115 (2): 271–278. doi: 10.2307/604670. JSTOR 604670. • ^ Scharfe, Hartmut (2002), Education in Ancient India, Handbook of Oriental Studies, Leiden, Netherlands: Brill, hlm. 10–12 • ^ Oskar von Hinüber (1989).

Der Beginn der Schrift und frühe Schriftlichkeit in Indien. Akademie der Wissenschaften und der Literatur. hlm. 241–245. ISBN 9783515056274. OCLC 22195130. • ^ Jack Goody (1987). The Interface Between the Written and the Oral. Cambridge University Press. hlm. 110–124. ISBN 978-0-521-33794-6. • ^ Johannes Bronkhorst (2002), Literacy and Rationality in Ancient India, Asiatische Studien / Études Asiatiques, 56(4), pages 803–804, 797–831 • ^ Louis Renou & Jagbans Kishore Balbir 2004, hlm.

53. • ^ Louis Renou & Jagbans Kishore Balbir 2004, hlm. 53–54. • ^ Burrow 1973, hlm. 33–34. • ^ a b c d A. M. Ruppel 2017, hlm. 378–383. • ^ Arthur Anthony Macdonell (1997). A Sanskrit Grammar for Students. Motilal Banarsidass. hlm. 236–244. ISBN 978-81-208-0505-7.

• ^ Louis Renou & Jagbans Kishore Balbir 2004, hlm. 1–59. • ^ Fleet, John Faithfull (1907). Corpus Inscriptionum Indicarum Vol 3 (1970)ac 4616. hlm. 153, Line 14 of the inscription. • ^ Kesalahan pengutipan: Tag tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama wright-sanskrit-first • ^ Alfred C.

Woolner (1986). Introduction to Prakrit. Motilal Banarsidass. hlm. 6, context: 1–10. ISBN 978-81-208-0189-9. • ^ Clarence Maloney (1978). Language and Civilization Change in South Asia. Brill Academic. hlm. 111–114. ISBN 978-90-04-05741-8.

pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu

• ^ Shastri, Gaurinath Bhattacharyya (1987). A Concise History of Classical Sanskrit Literature. Motilal Banarsidass. hlm. 18–19. ISBN 978-81-208-0027-4. • ^ Johansson, Rune Edvin Anders (1981).

Pali Buddhist Texts: Explained to the beginner. Psychology Press. hlm. 7. ISBN 978-0-7007-1068-3. Pali is known mainly as the language of Theravada Buddhism. . Very little is known about its origin. We do not know where it was spoken or if it originally was a spoken language at all. The ancient Ceylonese tradition says that the Buddha himself spoke Magadhi and that this language was identical to Pali.

• ^ a b c Dundas, Paul (2003). The Jains. Routledge. hlm. 69–70. ISBN 978-0-415-26606-2. • ^ "Ethnologue report for language code: pli". Ethnologue. Diakses tanggal 20 July 2018. • ^ P.S. Krishnavarma (1881).

Sanskrit as a living language in India: Journal of the National Indian Association. Henry S. King & Company. hlm. 737–745. • ^ a b c Gaurinath Bhattacharyya Shastri (1987). A Concise History of Classical Sanskrit Literature.

Motilal Banarsidass. hlm. 20–23. ISBN 978-81-208-0027-4. • ^ a b c d Deshpande 2011, hlm. 218–220. • ^ Moriz Winternitz (1996). A History of Indian Literature. Motilal Banarsidass.

hlm. 42–46. ISBN 978-81-208-0264-3. • ^ Deshpande 2011, hlm. 222–223. • ^ Etinne Lamotte (1976), Histoire du buddhisme indien, des origines à l'ère saka, Tijdschrift Voor Filosofie 21 (3):539–541, Louvain-la-Neuve: Université de Louvain, Institut orientaliste • ^ Sheldon Pollock (1996). "The Sanskrit Cosmopolis, A.D. 300–1300: Transculturation, Vernacularization, and the Question of Ideology".

Dalam Jan Houben. Ideology and Status of Sanskrit: Contributions to the history of the Sanskrit language. Leiden New York: E.J. Brill. hlm. 197–199; for context and details, please see 197–239. ISBN 978-90-04-10613-0. • ^ a b Reinöhl, Uta (2016). Grammaticalization and the rise of configurationality in Indo-Aryan.

Oxford University Press. hlm. 120–121. • ^ Hock, Hans Henrich; Bashir, E.; Subbarao, K.V. (2016). The languages and linguistics of South Asia a comprehensive guide. Berlin de Gruyter Mouton. hlm. 94–95. • ^ Hart, George (1976). The relation between Tamil and classical Sanskrit literature. Wiesbaden: O. Harrassowitz. hlm. 317–320. ISBN 3447017856. • ^ Shulman, David Dean (2016). Tamil : a biography. London, UK: The Belknap Press Of Harvard University Press. hlm.

12–14, 20. • ^ Sheldon Pollock (1996). Jan E. M. Houben, ed. Ideology and Status of Sanskrit. BRILL Academic. hlm. 197–223 with footnotes. ISBN 978-90-04-10613-0. • ^ William S.-Y. Wang; Chaofen Sun (2015). The Oxford Handbook of Chinese Linguistics. Oxford University Press. hlm. 6–19, 203–212, 236–245. ISBN 978-0-19-985633-6. • ^ Burrow 1973, hlm. 63-66. • ^ Kesalahan pengutipan: Tag tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama scharf233 • ^ Jinah Kim (2013). Receptacle of the Sacred: Illustrated Manuscripts and the Buddhist Book Cult in South Asia.

University of California Press. hlm. 8, 13–15, 49. ISBN 978-0-520-27386-3. • ^ a b Pieter C. Pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu (1994). A History of Sanskrit Grammatical Literature in Tibet. BRILL. hlm. 159–160. ISBN 978-90-04-09839-8. • ^ Salomon 1998, hlm. 154-155. • ^ Salomon 1998, hlm. 158-159. • ^ Salomon 1998, hlm. 155-157. • ^ a b Salomon 1998, hlm.

158. • ^ Salomon 1998, hlm. 157. • ^ Salomon 1998, hlm. 155. • ^ William M. Johnston (2013). Encyclopedia of Monasticism. Routledge. hlm. 926. ISBN 978-1-136-78716-4. • ^ a b Todd T. Lewis; Subarna Man Tuladhar (2009). Sugata Saurabha An Epic Poem from Nepal on the Life of the Buddha by Chittadhar Hridaya.

Oxford University Press. hlm. 343–344. ISBN 978-0-19-988775-0. • ^ Salomon 1998, hlm. 159-160. • ^ Patrick Olivelle (2006). Between the Empires: Society in India 300 BCE to 400 CE.

Oxford University Press. hlm. 356. ISBN 978-0-19-977507-1. • ^ Salomon 1998, hlm. 152-153. • ^ Rewi Alley (1957). Journey to Outer Mongolia: a diary with poems.

Caxton Press. hlm. 27–28. • ^ a b Salomon 1998, hlm. 153–154. • ^ Gian Luca Bonora; Niccolò Pianciola; Paolo Sartori (2009). Kazakhstan: Religions and Society in the History of Central Eurasia. U. Allemandi. hlm. 65, 140. ISBN 978-88-42217-558. • ^ Bjarke Frellesvig (2010). A History of the Japanese Language. Cambridge University Press. hlm. 164–165, 183. ISBN 978-1-139-48880-8.

• ^ Donald S. Lopez Jr. (2017). Hyecho's Journey: The World of Buddhism. University of Chicago Press. hlm. 16–22, 33–42. ISBN 978-0-226-51806-0. • ^ Salomon 1998, hlm.

160 with footnote 134. • ^ Cynthia Groff (2013). Jo Arthur Shoba and Feliciano Chimbutane, ed. Bilingual Education and Language Policy in the Global South.

Routledge. hlm. 178. ISBN 978-1-135-06885-1. • ^ "Sanskrit second official language of Uttarakhand". The Hindu. 21 January 2010. ISSN 0971-751X. Diakses tanggal 2 October 2018. • ^ "HP Assy clears three Bills, Sanskrit becomes second official language". Daftar pustaka [ sunting - sunting sumber ] • H.

W. Bailey (1955). "Buddhist Sanskrit". The Journal of the Royal Asiatic Society of Great Britain and Ireland. Cambridge University Press. 87 (1/2): 13–24. doi: 10.1017/S0035869X00106975. JSTOR 25581326. • Banerji, Sures (1989). A Companion to Sanskrit Literature: Spanning a period of over three thousand years, containing brief accounts pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu authors, works, characters, technical terms, geographical names, myths, legends, and several appendices.

Delhi: Motilal Banarsidass. ISBN 978-81-208-0063-2. • Guy L. Beck (1995). Sonic Theology: Hinduism and Sacred Sound. Motilal Banarsidass. ISBN 978-81-208-1261-1. • Guy L. Beck (2006). Sacred Sound: Experiencing Music in World Religions. Wilfrid Laurier Univ. Press. ISBN 978-0-88920-421-8. • Robert S.P. Beekes (2011). Comparative Indo-European Linguistics: An introduction (edisi ke-2nd). John Benjamins Publishing.

ISBN 978-90-272-8500-3. • Benware, Wilbur (1974). The Study of Indo-European Vocalism in the 19th Century: From the Beginnings to Whitney and Scherer: A Critical-Historical Account. Benjamins. ISBN 978-90-272-0894-1. • Shlomo Biderman (2008). Crossing Horizons: World, Self, and Language in Indian and Western Thought.

Columbia University Press. ISBN 978-0-231-51159-9. • Claire Bowern; Bethwyn Evans (2015). The Routledge Handbook of Historical Linguistics.

Routledge. ISBN 978-1-317-74324-8. • John L. Brockington (1998). The Sanskrit Epics. BRILL Academic. ISBN 978-90-04-10260-6. • Johannes Bronkhorst (1993). "Buddhist Hybrid Sanskrit: The Original Language". Aspects of Buddhist Sanskrit: Proceedings of the International Symposium on the Language of Sanskrit Buddhist Texts, 1–5 Oct.

1991. Sarnath. hlm. 396–423. ISBN 978-81-900149-1-5. • Bryant, Edwin (2001). The Quest for the Origins of Vedic Culture: The Indo-Aryan Migration Debate. Oxford, UK: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-513777-4. • Edwin Francis Bryant; Laurie L. Patton (2005). The Indo-Aryan Controversy: Evidence and Inference in Indian History. Psychology Press. ISBN 978-0-7007-1463-6. • Burrow, Thomas (1973). The Sanskrit Language (edisi ke-3rd, revised).

London: Faber & Faber. • Robert E. Buswell Jr.; Donald S. Lopez Jr. (2013). The Princeton Dictionary of Buddhism. Princeton University Press. ISBN 978-1-4008-4805-8. • George Cardona (2012). Sanskrit Language. Encyclopaedia Britannica. • James Clackson (18 October 2007). Indo-European Linguistics: An Introduction. Cambridge University Press. ISBN 978-1-139-46734-6.

• Coulson, Michael (1992). Richard Gombrich; James Benson, ed. Sanskrit : an introduction to the classical language (edisi ke-2nd, revised by Gombrich and Benson). Random House. ISBN 978-0-340-56867-5. OCLC 26550827. • Michael Coulson; Richard Gombrich; James Benson (2011).

Complete Sanskrit: A Teach Yourself Guide. Mcgraw-Hill. ISBN 978-0-07-175266-4. • Harold G. Coward (1990). Karl Potter, ed. The Philosophy of the Grammarians, in Encyclopedia of Indian Philosophies. 5. Princeton University Press. ISBN 978-81-208-0426-5. • Suniti Kumar Chatterji (1957). "Indianism and Sanskrit". Annals of the Bhandarkar Oriental Research Institute. Bhandarkar Oriental Research Institute. 38 (1/2): 1–33. JSTOR 44082791. • Peter T. Daniels (1996).

The World's Writing Systems. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-507993-7. • Deshpande, Madhav (2011). "Efforts to vernacularize Sanskrit: Degree of success and failure". Dalam Joshua Fishman; Ofelia Garcia.

Handbook of Language and Ethnic Identity: The success-failure continuum in language and ethnic identity efforts. 2. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-983799-1. • Will Durant (1963). Our oriental heritage. Simon & Schuster. ISBN 978-1567310122. • Eltschinger, Vincent (2017). "Why Did the Buddhists Adopt Sanskrit?". Open Linguistics. 3 (1). doi: 10.1515/opli-2017-0015. ISSN 2300-9969. • J. Filliozat (1955). "Sanskrit as Language of Communication". Annals of the Bhandarkar Oriental Research Institute.

Bhandarkar Oriental Research Institute. 36 (3/4): 179–189. JSTOR 44082954. • Filliozat, Pierre-Sylvain (2004), "Ancient Sanskrit Mathematics: An Oral Tradition and a Written Literature", dalam Chemla, Karine; Cohen, Robert S.; Renn, Jürgen; et al., History of Science, History of Text (Boston Series in the Philosophy of Science), Dordrecht: Springer Netherlands, hlm. 360–375, doi: 10.1007/1-4020-2321-9_7, ISBN 978-1-4020-2320-0 • Pierre-Sylvain Filliozat (2000).

The Sanskrit Language: An Overview : History and Structure, Linguistic and Philosophical Representations, Uses and Users. Indica. ISBN 978-81-86569-17-7. • Benjamin W. Fortson, IV (2011). Indo-European Language and Culture: An Introduction. John Wiley & Sons. ISBN 978-1-4443-5968-8.

• Robert P. Goldman; Sally J Sutherland Goldman (2002). Devavāṇīpraveśikā: An Introduction to the Sanskrit Language. Center for South Asia Studies, University of California Press. • Thomas V. Gamkrelidze; Vjaceslav V. Ivanov (2010). Indo-European and the Indo-Europeans: A Reconstruction and Historical Analysis of a Proto-Language and Proto-Culture.

Part I: The Text. Part II: Bibliography, Indexes. Walter de Gruyter. ISBN 978-3-11-081503-0. • Thomas V. Gamkrelidze; V. V. Ivanov (1990). "The Early History of Indo-European Languages".

Scientific American. Nature America. 262 (3): 110–117. Bibcode: 1990SciAm.262c.110G. doi: 10.1038/scientificamerican0390-110. JSTOR 24996796. • Jack Goody (1987). The Interface Between the Written and the Oral. Cambridge University Press.

ISBN 978-0-521-33794-6. • Reinhold Grünendahl (2001). South Indian Scripts in Sanskrit Manuscripts and Prints: Grantha Tamil, Malayalam, Telugu, Kannada, Nandinagari. Otto Harrassowitz Verlag. ISBN 978-3-447-04504-9. • Houben, Jan (1996). Ideology and status of Sanskrit: contributions to the history of the Sanskrit language. Brill. ISBN 978-90-04-10613-0. • Hanneder, J. (2002). "On 'The Death of Sanskrit '". Indo-Iranian Journal. Brill Academic Publishers. 45 (4): 293–310.

doi: 10.1023/a:1021366131934. Parameter -s2cid= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • Hock, Hans Henrich (1983). Kachru, Braj B, ed. "Language-death phenomena in Sanskrit: grammatical evidence for attrition in contemporary spoken Sanskrit". Studies in the Linguistic Sciences. 13:2. • Barbara A. Holdrege (2012). Veda and Torah: Transcending the Textuality of Scripture. State University of New York Press. ISBN 978-1-4384-0695-4.

• Michael C. Howard (2012). Transnationalism in Ancient and Medieval Societies: The Role of Cross-Border Trade and Travel. McFarland. ISBN 978-0-7864-9033-2.

• Dhanesh Jain; George Cardona (2007). The Indo-Aryan Languages. Routledge. ISBN 978-1-135-79711-9. • Stephanie W. Jamison; Joel P. Brereton (2014). The Rigveda: 3-Volume Set, Volume I. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-972078-1. • A. Berriedale Keith (1993).

pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu

A history of Sanskrit literature. Motilal Banarsidass. ISBN 978-81-208-1100-3. • Damien Keown; Charles S. Prebish (2013). Encyclopedia of Buddhism. Taylor & Francis. ISBN 978-1-136-98595-9. • Anne Kessler-Persaud (2009). Knut A. Jacobsen; et al., ed. Brill's Encyclopedia of Hinduism: Sacred texts, ritual traditions, arts, concepts. Brill Academic. ISBN 978-90-04-17893-9.

• Jared Klein; Brian Joseph; Matthias Fritz (2017). Handbook of Comparative and Historical Indo-European Linguistics: An International Handbook. Walter De Gruyter. ISBN 978-3-11-026128-8. • Dalai Lama (1979). "Sanskrit in Tibetan Pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu.

The Tibet Journal. 4 (2): 3–5. JSTOR 43299940. • Winfred Philipp Lehmann (1996). Theoretical Bases of Indo-European Linguistics. Psychology Press. ISBN 978-0-415-13850-5. • Donald S. Lopez Jr. (1995). "Authority and Orality in the Mahāyāna" (PDF). Numen. Brill Academic. 42 (1): 21–47.

doi: 10.1163/1568527952598800. hdl: 2027.42/43799. JSTOR 3270278. • Mahadevan, Iravatham (2003). Early Tamil Epigraphy from the Earliest Times to the Sixth Century A.D. Harvard University Press. ISBN 978-0-674-01227-1. • Malhotra, Rajiv (2016). The Battle for Sanskrit: Is Sanskrit Political or Sacred, Oppressive or Liberating, Dead or Alive?.

Harper Collins. ISBN 978-9351775386. • J. P. Mallory; Douglas Q. Adams (1997). Encyclopedia of Indo-European Culture. Taylor & Francis. ISBN 978-1-884964-98-5. • Mallory, J. P. (1992). "In Search of the Indo-Europeans / Language, Archaeology and Myth".

Praehistorische Zeitschrift. Walter de Gruyter GmbH. 67 (1). doi: 10.1515/pz-1992-0118. ISSN 1613-0804. Parameter -s2cid= yang tidak diketahui pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu diabaikan ( bantuan) • Colin P.

Masica (1993). The Indo-Aryan Languages. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-29944-2. • Michael Meier-Brügger (2003). Indo-European Linguistics. Walter de Gruyter. ISBN 978-3-11-017433-5. • Michael Meier-Brügger (2013). Indo-European Linguistics. Walter de Gruyter. ISBN 978-3-11-089514-8.

• Matilal, Bimal (2015). The word and the world : India's contribution to the study of language. New Delhi, India Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-565512-4. OCLC 59319758. • Maurer, Walter (2001). The Sanskrit language: an introductory grammar and reader. Surrey, England: Curzon. ISBN 978-0-7007-1382-0. • J. P. Mallory; D. Q. Adams (2006).

The Oxford Introduction to Proto-Indo-European and the Proto-Indo-European World. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-928791-8. • V. RAGHAVAN (1965). "Sanskrit". Indian Literature. Sahitya Akademi. 8 (2): 110–115. JSTOR 23329146. • MacDonell, Arthur (2004). A History Of Sanskrit Literature. Kessinger Publishing. ISBN 978-1-4179-0619-2. • Sir Monier Monier-Williams (2005).

A Sanskrit-English Dictionary: Etymologically and Philologically Arranged with Special Reference to Cognate Indo-European Languages. Motilal Banarsidass. ISBN 978-81-208-3105-6. • Tim Murray (2007).

Milestones in Archaeology: A Chronological Encyclopedia. ABC-CLIO. ISBN 978-1-57607-186-1. • Ramesh Chandra Majumdar (1974).

Study of Sanskrit in South-East Asia. Sanskrit College. • Nedi︠a︡lkov, V. P. (2007). Reciprocal constructions. Amsterdam Philadelphia: J. Benjamins Pub. Co. ISBN 978-90-272-2983-0.

• Oberlies, Thomas (2003). A Grammar of Epic Sanskrit. Berlin New York: Walter de Gruyter. ISBN 978-3-11-014448-2. • Petersen, Walter (1912). "Vedic, Sanskrit, and Prakrit". Journal of the American Oriental Society.

American Oriental Society. 32 (4): 414–428. doi: 10.2307/3087594. ISSN 0003-0279. JSTOR 3087594. • Sheldon Pollock (2009). The Language of the Gods in the World of Men: Sanskrit, Culture, and Power in Premodern India. University of California Press.

ISBN 978-0-520-26003-0. • Pollock, Sheldon (2001). "The Death of Sanskrit". Comparative Studies in Society and History. Cambridge University Press. 43 (2): 392–426. doi: 10.1017/s001041750100353x. JSTOR 2696659. Parameter -s2cid= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • V. RAGHAVAN (1968). "Sanskrit: Flow of Studies".

Indian Literature. Sahitya Akademi. 11 (4): 82–87. JSTOR 24157111. • Colin Renfrew (1990). Archaeology and Language: The Puzzle of Indo-European Origins. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-38675-3. • Louis Renou; Jagbans Kishore Balbir (2004). A history of Sanskrit language. Ajanta. ISBN 978-8-1202-05291. • A. M. Ruppel (2017).

The Cambridge Introduction to Sanskrit. Cambridge University Press. ISBN 978-1-107-08828-3. • Salomon, Richard (1998). Indian Epigraphy: A Guide to the Study of Inscriptions in Sanskrit, Prakrit, and the other Indo-Aryan Languages. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-535666-3. • Salomon, Richard (1995). "On the Origin of the Early Indian Scripts". Journal of the American Oriental Society. 115 (2): 271–279. doi: 10.2307/604670. JSTOR 604670. • Salomon, Richard (1995). "On the Origin of the Early Indian Scripts".

Journal of the American Oriental Society. 115 (2): 271–279. doi: 10.2307/604670. JSTOR 604670. • Malati J. Shendge (1997). The Language of the Harappans: From Akkadian to Sanskrit. Abhinav Publications. ISBN 978-81-7017-325-0. • Seth, Sanjay (2007). Subject lessons: the Western education of colonial India. Durham, NC: Duke University Press. ISBN 978-0-8223-4105-5. • Staal, Frits (1986), The Fidelity of Oral Tradition and the Origins of Science, Mededelingen der Koninklijke Nederlandse Akademie von Wetenschappen, Amsterdam: North Holland Publishing Company • Staal, J.

F. (1963). "Sanskrit and Sanskritization". The Journal of Asian Studies. Cambridge University Press. 22 (3): 261–275. doi: 10.2307/2050186. JSTOR 2050186. • Angus Stevenson; Maurice Waite (2011). Concise Oxford English Dictionary. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-960110-3. • Southworth, Franklin (2004). Linguistic Archaeology of South Asia. Routledge.

ISBN 978-1-134-31777-6. • Philipp Strazny (2013). Encyclopedia of Linguistics. Routledge. ISBN 978-1-135-45522-4. • Paul Thieme (1958). "The Indo-European Language". Scientific American. 199 (4): 63–78. Bibcode: 1958SciAm.199d.63T. doi: 10.1038/scientificamerican1058-63. JSTOR 24944793. • Peter van der Veer (2008). "Does Sanskrit Knowledge Exist?". Journal of Indian Philosophy. Springer. 36 (5/6): 633–641. doi: 10.1007/s10781-008-9038-8.

JSTOR 23497502. Parameter -s2cid= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • Umāsvāti, Umaswami (1994). That Which Is. Diterjemahkan oleh Nathmal Tatia. Rowman & Littlefield. ISBN 978-0-06-068985-8.

pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu

• Wayman, Alex (1965). "The Buddhism and the Sanskrit of Buddhist Hybrid Sanskrit". Journal of the American Oriental Society. 85 (1): 111–115. doi: 10.2307/597713. JSTOR 597713. • Annette Wilke; Oliver Moebus (2011). Sound and Communication: An Aesthetic Cultural History of Sanskrit Hinduism. Walter de Gruyter. ISBN 978-3-11-024003-0. • Whitney, W.D. (1885). "The Roots of the Sanskrit Language". Transactions of the American Philological Association. JSTOR.

16: 5–29. doi: 10.2307/2935779. ISSN 0271-4442. JSTOR 2935779. • Witzel, M. (1997). Inside the texts, beyond the texts: New approaches to the study of the Vedas (PDF). Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press.

• Jamison, Stephanie (2008). Roger D. Woodard, ed. The Ancient Languages of Asia and the Americas. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-68494-1. Daftar pustaka [ sunting - sunting sumber ] • Jan Gonda. 1952. Sanskrit in Indonesia, New Delhi: International Academy of Indian Culture.

• Jan Gonda. 1963. Kurze Elementar-Grammatik pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu Sanskrit-Sprache, Leiden: E.J. Brill • Jan Gonda. 1966. A Concise Elementary Grammar of the Sanskrit Language, Tuscaloosa and London. Translated from the German by Gordon B.

Ford Jr. • Haryati Soebadio. 1983. Tata Bahasa Sanskerta Ringkas. Jakarta: Djambatan. Kategori tersembunyi: • Halaman dengan kesalahan referensi • CS1 sumber berbahasa Inggris (en) • Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui • Artikel bahasa dengan kode ISO 639-2 • Artikel bahasa dengan kode ISO 639-1 • Artikel bahasa tanpa referensi • Artikel bahasa tanpa kode Glottolog • Semua artikel bahasa • Artikel bahasa dengan field infobox yang tidak didukung • Halaman dengan rujukan yang menggunakan parameter yang tidak didukung • Artikel Wikipedia dengan penanda GND • Artikel Wikipedia dengan penanda BNF • Artikel Wikipedia dengan penanda LCCN • Artikel Wikipedia dengan penanda NDL • Artikel Wikipedia dengan penanda MA • Halaman ini terakhir diubah pada 1 Mei 2022, pukul 02.43.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • • RUANG LINGKUP EKONOMI A. Pengertian ekonomi Ekonomi adalah salah satu ilmu sosial yang mempelajari beberapa aktivitas manusia yang berhubungan dengan produksi, distribusi, pertukaran, dan konsumsi barang dan jasa.

Secara umum, subyek dalam ekonomi dapat dibagi dengan beberapa cara, yang paling terkenal adalah mikroekonomi vs makroekonomi. Selain itu, subyek ekonomi juga bisa dibagi menjadi positif (deskriptif) vs normatif, mainstream vs heterodox, dan lainnya.

Ekonomi juga difungsikan sebagai ilmu terapan dalam manajemen keluarga, bisnis, dan pemerintah. Teori ekonomi juga dapat digunakan dalam bidang-bidang selain bidang moneter, seperti misalnya penelitian perilaku kriminal, penelitian ilmiah, kematian, politik, kesehatan, pendidikan, keluarga dan lainnya.

Hal ini dimungkinkan karena pada dasarnya ekonomi adalah ilmu yang mempelajari pilihan manusia. Ada 3 hal pokok yang ada dalam perekonomian: 1. Produksi 2. Konsumsi 3. Perdagangan Sistem PerekonomianMenurut Dumairy (1966), Sistem ekonomi adalah suatu sistem yang mengatur serta menjalin hubungan ekonomi antar manusia dengan seperangkat kelembagaan dalam suat tatanan kehidupan, selanjutnya dikatakannya pula bahwa suatu sistem ekonomi tidaklah harus berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan falsafah, padangan dan pola hidup masyarakat tempatnya berpijak.

B. Macam-macam sistem ekonomi 1. Sistem Perekonomian Kapitalisme, yaitu sistem ekonomi yang memberikan kebebasan secara penuh kepada setiap orang untuk melaksanakan kegiatan menjual barang dan sebagainya.

Dalam sistem perekonomian kapitalis,semua orang bebas bersaing dalam bisnis untuk memperoleh laba yang sebesar besarnya. 2. Sistem perekonomian sosialisme, yaitu sistem perekonomian yang memberikan kebebasan yang cukup besar kepada setiap orang untuk melaksanakan kegiatan ekonomi, tetapi dngan campur tangan pemerintah.Pemerintah masuk ke dalam perekonomian untuk mengatur tata kehidupan perekonomian negara serta jenis jenis perekonomian yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara.

3. Sistem Perekonomian komunisme, adalah sistem ekonomi dimana peran pemerintah sebagai pengatur seluruh sumber2x kegiatan perekonomian.Setiap orang tak boleh memiliki kekayaan pribadi.

Sehingga nasib seseorang bisa ditentukan oleh pemerintah.Semua unit bisnis. mulai dari yang kecil hingga yng besar dimiliki oleh pemerintah dengan tujuan Pemerataan Ekonomi dan kebersamaan 4. Sistem Ekonomi Merkantilisme, yaitu suatu sistem politik ekonomi yang sangat mementingkan perdagangan internasional dengan tujuan memperbanyak aset& modal yang dimiliki negara.

5. Sistem Perekonomian Fasisme, yaitu paham yang mengedepankan bangsa sendiri dan memandang rendah bangsa lain, dengan kata lain, fasisme merupakan sikap rasionalism yang berlebihan. C. Masalah Ekonomi a. Kebutuhan Manusia Pada dasarnya, manusia bekerja mempunyai tujuan tertentu, yaitu memenuhi kebutuhan. Kebutuhan tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari. selama hidup manusia membutuhkan bermacam-macam kebutuhan, seperti makanan, pakaian, perumahan, pendidikan, dan kesehatan.

Kebutuhan dipengaruhi oleh kebudayaan, lingkungan, waktu, dan agama. Semakin tinggi tingkat kebudayaan suatu masyarakat, semakin tinggi / banyak pula macam kebutuhan yang harus dipenuhi. Macam-macam kebutuhan manusia Kebutuhan menurut tingkatan atau intensitasnya 1) Kebutuhan primer /pokok Kebutuhan primer adalah kebutuhan yang sangat mutlak harus dipenuhi, artinya apabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, maka manusia akan mengalami kesulitan dalam pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu Contoh: sandang, pangan, papan, dan kesehatan 2) Kebutuhan sekunder / tambahan Kebutuhan sekunder adalah kebutuhan kedua, artinya kebutuhan yang pemenuhannya setelah kebutuhan pokok terpenuhi Contoh: lemari, sepeda, tempat tidur, dan meja kursi 3) Kebutuhan tersier / kemewahan Kebutuhan tersier adalah kebutuhan yang dipenuhi setelah kebutuhan primer dan sekunder terpenuhi Kebutuhan menurut waktunya 1) Kebutuhan sekarang Kebutuhan sekarang adalah kebutuhan yang pemenuhannya tidak bisa ditunda-tunda lagi/kebutuhan yang harus segera dipenuhi Contoh: makan, minum, tempat tinggal, dan obat-obatan 2) Kebutuhan yang akan datang/masa depan Kebutuhan yang akan datang adalah kebutuhan yang pemenuhannya dapat ditunda, tetapi harus dipikirkan mulai sekarang.

Contoh: tabungan 3) Kebutuhan tidak tentu waktunya Kebutuhan ini disebabkan sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba / tidak disengaja yang sifatnya insidental Contoh : konsultasi kesehatan 4) Kebutuhan sepanjang waktu Kebutuhan sepanjang waktu adalah kebutuhan yang memerlukan waktu/lama Kebutuhan menurut sifatnya 1) Kebutuhan jasmani Kebutuhan jasmani adalah kebutuhan yang diperlukan untuk pemenuhan fisik/jasmani yang sifatnya kebendaan Contoh: makanan, pakaian, olahraga, dan istirahat 2) Kebutuhan rohani Kebutuhan rohani adalah kebutuhan yang diperlukan untuk pemenuhan jiwa atau rohani.

Kebutuhan ini sifatnya relatif karena tergantung pada pribadi seseorang yang membutuhkan. Contoh: beribadah, rekeasi, kesenian, dan hiburan Kebutuhan menurut aspeknya 1) Kebutuhan individu Kebutuhan individu adalah kebutuhan yang hanya diperlukan untuk memenuhi kebutuhan seorang saja Contoh: kebutuhan petani waktu bekerja berbeda dengan kebutuhan seorang dokter 2) Kebutuhan sosial (kelompok) Kebutuhan sosial adalah kebutuhan yang diperlukan untuk memenuhi kepentingan bersama kelompok.

Contoh: siskamling, gedung sekolah, rumah sakit, dan jembatan D. TindakanMotifdan Prinsip Ekonomi a. Tindakan ekonomi adalah setiap usaha manusia yang dilandasi oleh pilihan yang paling baik dan paling menguntungkan. misalnya: Ibu memasak dengan kayu bakar karena harga minyak tanah sangat mahal. Tindakan ekonomi terdiri atas dua aspek, yaitu : * Tindakan ekonomi Rasional, setiap usaha manusia yang dilandasi oleh pilihan yang paling menguntungkan dan kenyataannya demikian.

* Tindakan ekonomi Irrasional, setiap usaha manusia yang dilandasi oleh pilihan yang paling menguntungkan namun kenyataannya tidak demikian. b. Motif ekonomi adalah alasan ataupun tujuan seseorang sehingga seseorang itu melakukan tindakan ekonomi. Motif ekonomi terbagi dalam dua aspek: * Motif Intrinsik, disebut sebagai suatu keinginan untuk melakukan tidakan ekonomi atas kemauan sendiri.

* Motif ekstrinsik, disebut sebagi suatu keinginan untuk melakukan tidakan ekonomi atas dorongan orang lain. Pada prakteknya terdapat beberapa macam motif ekonomi: * Motif memenuhi kebutuhan * Motif memperoleh keuntungan * Motif memperoleh penghargaan * Motif memperoleh kekuasaan * Motif sosial / menolong sesama c.

Prinsip ekonomi merupakan pedoman untuk melakukan tindakan ekonomi yang didalamnya terkandung asas dengan pengorbanan tertentu diperoleh hasil yang maksimal. E. Mikroekonomi dan Makroekonomi a. Mikroekonomi Sementara ilmu ekonomi mikro mempelajari variabel-variabel ekonomi dalam lingkup kecil misalnya perusahaan, rumah tangga. Dalam ekonomi mikro ini dipelajari tentang bagaimana individu menggunakan sumber daya yang dimilikinya sehingga tercapai tingkat kepuasan yang optimum. Secara teori, tiap individu yang melakukan kombinasi konsumsi atau produksi yang optimum bersama dengan individu-individu lain akan menciptakan keseimbangan dalam skala makro dengan asumsi ceteris paribus.

b. Makroekonomi Ekonomi makro atau makroekonomi adalah studi tentang ekonomi secara keseluruhan. Makroekonomi menjelaskan perubahan ekonomi yang memengaruhi banyak rumah tangga (household), perusahaan, dan pasar. Ekonomi makro dapat digunakan untuk menganalisis cara terbaik untuk memengaruhi target-target kebijaksanaan seperti pertumbuhan ekonomi, stabilitas harga, tenaga kerja dan pencapaian kesimbangan neraca yang berkesinambungan.

Ilmu ekonomi muncul karena adanya tiga kenyataan berikut : • Kebutuhan manusia relatif tidak terbatas. • Sumber daya tersedia secara terbatas. • Masing-masing sumber daya mempunyai beberapa alternatif penggunaan. Secara garis besar ilmu ekonomi dapat dipisahkan menjadi dua yaitu ilmu ekonomi mikro dan ilmu ekonomi makro. Pengertian dan perbedaan ekonomi makro dan ekonomi mikro terletak pada ruang lingkup kajian ekonomi.

Perbedaan ekonomi mikro dan ekonomi makro Harga Ekonomi Mikro: Harga ialah nilai dari suatu komoditas (barang tertentu saja). Ekonomi Makro: Harga adalah nilai dari komoditas secara agregat (keseluruhan).

Unit analisis Ekonomi Mikro adalah: Ilmu ekonomi yang membahas tentang kegiatan ekonomi secara individual. Contohnya permintaan dan dan penawaran, perilaku konsumen, perilaku produsen, pasar, penerimaan, biaya dan laba atau rugi perusahaan. Ekonomi Makro adalah: Ilmu ekonomi yang membahas tentang kegiatan ekonomi secara keseluruhan. Contohnya pendapatan nasional, pertumbuhan ekonomi, inflasi, pengangguran, investasi dan kebijakan ekonomi.

Tujuan analisis Ekonomi Mikro: Lebih memfokuskan pada analisis tentang cara mengalokasikan sumber daya agar dapat dicapai kombinasi yang tepat. Ekonomi Makro: Lebih memfokuskan pada analisis tentang pengaruh kegiatan ekonomi terhadap perekonomian secara keseluruhan. Referensi http://id.wikipedia.org/wiki/Ekonomi http://one.indoskripsi.com/artikel-skripsi-tentang/masalah-pokok-ekonomi wartawarga.gunadarma.ac.id staff.ui.ac.id/internal/060803004/…/IRuangLingkupIlmuEkonomi.pdf
Atas berkat rohmat, hidayah dan pertolongan Allah, makalah ini bisa kami selesaikan, dan buku ini hanyalah sebagai pengantar bagi mahasiswa yang ingin mempelajari "Lingkungan Pendidikan" secara mendalam sehingga karena baru sebagai pengantar maka diharapkan mahasiswa membaca buku-buku lain untuk melengkapi pengalamannya.

Lingkungan atau tempat berlangsungnya proses pendidikan yang meliputi pendidikan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Sebab bagaimanapun bila berbicara tentang lembaga pendidikan sebagai wadah berlangsungnya pendidikan, maka tentunya akan menyangkut masalah lingkungan dimana pendidikan tersebut dilaksanakan.

Setiap orang yang berada dalam lembaga pendidikan tersebut (keluarga, sekolah, dan masyarakat), past! akan mengalami perabahan dan perkembangan menurut wama dan corak institusi tersebut. Berdasarkan kenyataan dan peranan ketiga lembaga ini, Ki Hajar Dewantara menganggap ketiga lembaga pendidikan tersebut sebagai Tri Pusat Pendidikan. Maksudnya, tiga pusat pendidikan yang secara bertahap dan terpadu mengemban suatu tanggung jawab pendidikan bagi generasi mudanya.

Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapat didikan dan bimbingan. Tugas utama dari keluarga bagi pendidikan anak ialah sebagai peletak dasar bagi pendidikan • paodangan hidup keagamaaR. Keioaro jbbbi merupakan wadah bagi anak dalam konteks proses belajarnya untuk mengembangkan dan membentuk diri dalam fungsi sosialnya.

melalui pendidikan keluarga ini, kehidupan emosional atau kebutuhan akan rasa kasih sayang dapat dipenuhi atau dapat berkembang dengan baik, hal ini dikarenakan adanya hubungan darah antara pendidikan dengan anak didik, sebab orang tua hanya menghadapi sedikit anak didik dan karena hubungan tadi didasarkan atas rasa cinta kasih sayang murni.

perkembangan benih-benih kesadaran sosial pada anak-anak dapat dipupuk sedini mungkin, terutama lewat kehidupan keluarga yang penuh rasa tolong-menolong, gotong royong secara kekeluargaan, menolong saudara atau tetangga yang sakit, bersama-sama menjaga ketertiban, kedamaian, kebersihan dan keserasian dalam segala hal.

masa kanak-kanak adalah masa yang paling baik untuk meresapkan dasar-dasar kehidupan beragama, dalam hal ini tentu terjadi dalam keluarga. Anak-anak seharusnya dibiasakan ikut serta ke masjid bersama-sama untuk menjalankan ibadah, mendengarkan khutbah atau ceramah keagamaan, kegiatan seperti ini besar sekali pengaruhnya terhadap kepribadian anak.

Dalam konteks pendidikan, masyarakat merupakan lingkungan ketiga setelah keluarga dan sekolah. Pendidikan yang dialami dalam masyarakat ini, telah mulai ketika anak-anak untuk beberapa waktu setelah lepas dari asuhan keluarga dan pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu di luar dari pendidikan sekolah.

Dengan demikian, berarti pengaruh pendidikan tersebut tampak lebih luas. Lembaga pendidikan yang dalam istilah UU No. 20 Tahun 2003 disebut dengan jalur pendidikan non formal ini, bersifat fungsional dan praktis yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan kerja peserta didik yang berguna bagi usaha perbaikan taraf hidupnya. Pendidikan ini mempunyai cirri-ciri sebagai berikut: Kesimpulan dari makalah di atas adalah bahwa pendidikan bukan hanya di adakan atau di seienggarakan di sekolah saja tetapi juga di keluarga dan di masyarakat.

Apalagi Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapat didikan dan bimbingan. Disamping itu, kehidupan di sekolah adalah jembatan bagi anak yang menghubungkan kehidupan dalam keluarga dengan kehidupan dalam masyarakat kelak. Dalam konteks pendidikan, masyarakat merupakan lingkungan ketiga setelah keluarga dan sekolah. Pendidikan yang dialami dalam masyarakat ini, telah mulai ketika anak-anak untuk beberapa waktu setelah lepas dari asuhan keluarga dan berada di luar dari pendidikan sekolah.
MENU • Home • SMP • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • IPS • IPA • SMA • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • IPA • Biologi • Fisika • Kimia • IPS • Ekonomi • Sejarah • Geografi • Sosiologi • SMK • S1 • PSIT • PPB • PTI • E-Bisnis • UKPL • Basis Data • Manajemen • Riset Operasi • Sistem Operasi • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • Agama • Bahasa Indonesia • Matematika • S2 • Umum • (About Me) √ 4 Standar Kompetensi Guru Berdasarkan Undang Undang (LENGKAP) – Guru adalah salah satu unsur penting yang harus ada sesudah siswa.

Apabila seorang guru tidak punya sikap profesional maka murid yang di didik akan sulit untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. Hal ini karena guru adalah salah satu tumpuan bagi negara dalam hal pendidikan.

Dengan adanya guru yang profesional dan berkualitas maka akan mampu mencetak anak bangsa yang berkualitas pula.

Kunci yang harus dimiliki oleh setiap pengajar adalah kompetensi. Kompetensi adalah seperangkat ilmu serta ketrampilan mengajar guru di dalam menjalankan tugas profesionalnya sebagai seorang guru sehingga tujuan dari pendidikan bisa dicapai dengan baik. Sementara itu, standard kompetensi yang tertuang ada dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional mengenai standar kualifikasi akademik serta kompetensi guru dimana peraturan tersebut menyebutkan bahwa guru profesional harus memiliki 4 kompetensi guru profesional yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, kompetensi intelektual serta profesional.

Dari 4 kompetensi guru profesional tersebut harus dimiliki oleh seorang guru melalui pendidikan profesi selama satu tahun. Pengertian Kompetensi Guru 3.4. Sebarkan ini: Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen menyatakan bahwa kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.

Menurut Finch & Crunkilton, (1992: 220) Menyatakan “ Kompetencies are those taks, skills, attitudes, values, and appreciation thet are deemed critical to successful employment”. Pernyataan ini mengandung makna bahwa kompetensi meliputi tugas, keterampilan, sikap, nilai, apresiasi diberikan dalam rangka keberhasilan hidup/penghasilan hidup.

Hal tersebut dapat diartikan bahwa kompetensi merupakan perpaduan antara pengetahuan, kemampuan, dan penerapan dalam melaksanakan tugas di lapangan kerja.

Kompetensi guru terkait dengan kewenangan melaksanakan tugasnya, dalam hal ini dalam menggunakan bidang studi sebagai bahan pembelajaran yang berperan sebagai alat pendidikan, dan kompetensi pedagogis yang berkaitan dengan fungsi guru dalam memperhatikan perilaku peserta didik belajar ( Djohar, 2006 : 130).

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kompetensi guru adalah hasil dari penggabungan dari kemampuan-kemampuan yang banyak jenisnya, pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu berupa seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru dalam menjalankan tugas keprofesionalannya. Menurut Suparlan (2008:93) menambahkan bahwa pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu kompetensi guru dipilah ke dalam tiga komponen yang saling berkaitan, yaitu pengelolaan pembelajaran, pengembangan profesi, dan penguasaan akademik.

4 KOMPETENSI GURU • KOMPETENSI PEDAGOGIK Pengertian Kompetisi Pedagogik Kompetensi pedagogik yaitu kemampuan yang harus dimiliki guru ber­kenaan dengan karakteristik siswa dilihat dari berbagai aspek seperti moral, emosional, dan intelektual.

Hal tersebut berimplikasi bahwa seorang guru harus mampu menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip belajar, karena siswa memiliki karakter, sifat, dan interest yang berbeda. Berkenaan dengan pelaksanaan kurikulum, seorang guru harus mampu mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan masing-masing dan disesuaikan dengan kebutuhan lokal.

Guru harus mampu mengoptimalkan potensi peserta didik untuk meng­aktualisasikan kemampuannya di kelas, dan harus mampu melakukan kegiat­an penilaian terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.

Pedagogik berasal dari bahasa Yunani yakni paedos yang artinya anak laki-laki, dan agogos yang artinya mengantar, membimbing. Jadi pedagogik secara harfiah membantu anak laki-laki zaman Yunani Kuno yang pekerjaannya mengantarkan anak majikannya pergi ke sekolah (Uyoh Sadullah ). Menurut Prof. Dr. J. Hoogeveld (Belanda), pedagogik ialah ilmu yang mempelajari masalah membimbing anak kearah tujuan tertentu, yaitu supaya kelak ia mampu secara mandiri menyelesaikan tugas hidupnya.

Langeveld (1980) membedakan istilah pedagogik dengan istilah pedagogi. Pedagogik diartikannya sebagai ilmu pendidikan yang lebih menekankan pada pemikiran dan perenungan tentang pendidikan. Sedangkan istilah pedagogi artinya pendidikan yang lebih menekankan kepada praktek, yang menyangkut kegiatan mendidik, membimbing anak.

Pedagogik merupakan suatu teori yang secara teliti, kritis dan objektif mengembangkan konsep-konsepnya mengenai hakikat manusia, hakikat anak, hakikat tujuan pendidikan serta hakikat proses pendidikan. Kemampuan yang harus dimiliki guru berkenaan dengan aspek-aspek pedagogik, yaitu: • Penguasaan terhadap karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional dan intelektual.

• Penguasaan terhadap teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik. • Mampu mengembangkan kurikulum yang terkait dengan bidang pengembangan yang diampu. • Menyelenggarakan kegiatan pengembangan yang mendidik.

• Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan penyelenggaraan kegiatan pengembangan yang mendidik. • Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki. • Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik. • Melakukan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar, memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran. • Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran.

Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran, sekurang-kurangnya meliputi (1) pemahaman wawasan atau landasan kependidikan, (2) pemahaman terhadap peserta didik, (3) pengembangan kurikulum/silabus, (4) perancangan pembelajaran, (5) pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis, (6) pemanfaatan teknologi pembelajaran, (7) evaluasi proses dan hasil belajar, dan (8) pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

Secara umum istilah pedagogik (pedagogi) dapat beri makna sebagai ilmu dan seni mengajar anak-anak. Sedangkan ilmu mengajar untuk orang dewasa ialah andragogi.

Dengan pengertian itu maka pedagogik adalah sebuah pendekatan pendidikan berdasarkan tinjauan psikologis anak. Pendekatan pedagogik muaranya adalah membantu siswa melakukan kegiatan belajar. Dalam perkembangannya, pelaksanaan pembelajaran itu dapat menggunakan pendekatan kontinum, yaitu dimulai dari pendekatan pedagogi yang diikuti oleh pendekatan andragogi, atau sebaliknya yaitu dimulai dari pendekatan andragogi yang diikuti pedagogi, demikian pula daur selanjutnya; andragogi-pedagogi-andragogi, dan seterusnya.

Berdasarkan pengertian seperti tersebut di atas maka yang dimaksud dengan pedagogik adalah ilmu tentang pendidikan anak yang ruang lingkupnya terbatas pada interaksi edukatif antara pendidik dengan siswa. Sedangkan kompetensi pedagaogik adalah sejumlah kemampuan guru yang berkaitan dengan ilmu dan seni mengajar siswa. Baca Juga : Tentang Shalat : Pengertian, Rukun Shalat, Manfaat Dan Makna Ruang Lingkup Kompetensi Pedagogik Rumusan kompetensi pedagogik di dalam Penjelasan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005, Tentang Standar Nasional Pendidikan, pasal 28 ayat 3 bahwa kompetensi ialah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi; (1) pemahaman terhadap peserta didik, (2) perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, (3) evaluasi hasil belajar, (4) pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

Yang dimaksudkan dengan kompetensi pedagogik ialah kemampuan dalam pengolahan pembelajaran peserta didik yang meliputi; a) pemahaman wawasan atau landaskan kependidikan, b) pemahaman terhadap peserta didik, c) pengembangan kurikulum/silabus, d) perancangan pembelajaran, e) pemanfaatan teknologi pembelajaran, f) evaluasi proses dan hasil belajar, g) pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

Berdasarkan beberapa pengertian seperti tersebut di atas dengan kompetensi pedagogik maka guru mempunyai kemampuan-kemampuan sebagai berikut:1) Mengaktualisasikan landasan mengajar, 2) Menguasai ilmu mengajar (didaktik metodik), 3) Mengenal siswa, 4) Menguasai teori motivasi, 5) Mengenali lingkungan masyarakat, 6) Menguasai penyusunan kurikulum, 7) Menguasai teknik penyusunan RPP, 8) Menguasai pengetahuan evaluasi pembelajaran, dll.

Kompetensi guru ialah sejumlah kemampuan yang harus dimiliki guru untuk mencapai tingkatan guru profesional. Kompetensi pedagogik antara lain: (1) menguasai landasan mengajar, (2) menguasai ilmu mengajar (didaktik metodik), (3) mengenal siswa, (4) menguasai teori motivasi, (5) mengenal lingkungan masyarakat, (6) menguasai penyusunan kurikulum, (7) menguasai teknik penyusunan RPP, (8) menguasai pengetahuan evaluasi pembelajaran.

• KOMPETENSI KEPRIBADIAN Pengertian Kompetensi Kepribadian Kompetensi kepribadian adalah kompetensi yang berkaitan dengan tingkah laku pribadi guru itu sendiri yang kelak harus memiliki nilai-nilai luhur sehingga terpantul dalam perilaku sehari-hari. Ha ini dengan sendirinya berkaitan erat dengan falsafah hidup yang mengharapkan guru menjadi model manusia yang memiliki nilai-nilai luhur.

Di Indonesia sikap pribadi yang dijiwai oleh filsafat Pancasila yang mengagungkan budaya bangsanya yang rela berkorban bagi kelestarian bangsa dan negaranya termasuk dalam kompetensi kepribadian guru. Dengan demikian pemahaman terhadap kompetensi kepribadian guru harus dimaknai sebagai suatu wujud sosok manusia yang utuh. Dengan kompetensi kepribadian maka guru akan menjadi contoh dan teladan, serta membangkitkan motivasi belajar siswa.

Oleh karena itu seorang guru dituntut melalui sikap dan perbuatan menjadikan dirinya sebagai panutan dan ikutan orang-orang yang dipimpinnya. Setiap guru mempunyai pribadi masing-masing sesuai ciri-ciri pribadi yang mereka miliki. Ciri-ciri inilah yang membedakan seorang guru dengan guru yang lainnya.

Kepribadian sebenarnya adalah satu masalah yang abstrak, hanya dapat dilihat dari penampilan, tindakan, ucapan, cara berpakaian, dan dalam menghadapi setiap persoalan. Kepribadian adalah keseluruhan dari individu yang terdiri dari unsur psikis dan fisik. Dalam makna demikian, seluruh sikap dan perbuatan seseorang merupakan satu gambaran dari kepribadian orang itu, asal dilakukan secara sadar.

Dan perbuatan baik sering dikatakan bahwa seseorang itu mempunyai kepribadian baik atau berakhlak mulia. Sebaliknya, bila seseorang melakukan sikap dan perbuatan yang tidak baik menurut pandangan masyarakat, maka dikatakan orang itu tidak mempunyai kepribadian baik atau tidak berakhlak mulia. Dengan kata lain, baik atau tidaknya citra seorang guru ditentukan oleh kepribadian. Lebih lagi bagi seorang guru, masalah kepribadian merupakan faktor yang menentukan terhadap keberhasilan melaksanakan tugas sebagai pendidik.

Kepribadian dapat menentukan apakah guru menjadi pendidik dan pembina yang baik ataukah akan menjadi perusak atau penghancur bagi hari depan siswa terutama bagi siswa yang masih kecil dan mereka yang mengalami kegoncangan jiwa. Kepribadian adalah unsur yang menentukan interaksi guru dengan siswa sebagai teladan, guru harus memiliki kepribadian yang dapat dijadikan profil dan idola, seluruh kehidupan adalah figur yang paripurna.

Itulah kesan guru sebagai sosok ideal. Guru adalah mitrasiswa dalam kebaikan. Dengan guru yang baik maka siswa pun akan menjadi baik. Tidak ada seorang guru pun yang bermaksud menjerumuskan siswanya ke lembah kenistaan.

Guru adalah spiritual father atau bapak rohani bagi seorang siswa, karena ia yang memberikan santapan rohani dan pendidikan akhlak, memberikan jalan kebenaran. Maka menghormati guru berarti menghormati siswa, menghargai guru berarti penghargaan terhadap anak-anak bangsa. Pendidikan yang dilaksanakan oleh guru dalam proses pembelajaran di sekolah dan masyarakat memerlukan kompetensi dalam arti luas yaitu standar kemampuan yang diperlukan untuk menggambarkan kualifikasi seseorang baik secara kualitatif maupun kuantitatif dalam melaksanakan tugasnya.

Kompetensi kepribadian guru mencakup sikap (attitude), nilai-niai (value), kepribadian (personality) sebagai elemen perilaku (behaviour) dalam kaitannya dengan performance yang ideal sesuai dengan bidang pekerjaan yang dilandasi oleh latar belakang pendidikan, peningkatan kemampuan dan pelatihan, serta legalitas kewenangan mengajar. Berikut ini adalah beberapa pengertian tentang kompetensi kepribadian antara lain adalah sebagai berikut.

Yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian di dalam Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2005, pada pasal 28, ayat 3 ialah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Menurut Samani, Mukhlas (2008;6) secara rinci kompetensi kepribadian mencakup hal-hal sebagai berikut; a) berakhlak mulia, b) arif dan bijaksana, c) mantap, d) berwibawa, e) stabil, f) dewasa, g) jujur, h) menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat, i) secara objektif mengevaluasi kinerja sendiri, j) mau siap mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan.

Menurut Djam’an Satori (2007;2.5) yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian ialah kompetensi yang berkaitan dengan perilaku pribadi guru itu sendiri yang kelak harus memiliki nilai-nilai luhur sehingga terpencar dalam perilaku sehari-hari. Dari beberapa pengertian seperti tersebut di atas maka yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian adalah kompetensi yang berkaitan dengan tingkah laku pribadi guru itu sendiri yang kelak harus memiliki nilai-nilai luhur sehingga terpantul dalam perilaku sehari-hari.

Hal ini dengan sendirinya berkaitan erat dengan falsafah hidup yang mengharapkan guru menjadi model manusia yang memiliki nilai-nilai luhur. Di Indonesia sikap pribadi yang dijiwai oleh filsafat Pancasila yang mengagungkan budaya bangsanya yang rela berkorban bagi kelestarian bangsa dan negaranya termasuk dalam kompetensi kepribadian guru. Dengan demikian pemahaman terhadap kompetensi kepribadian guru harus dimaknai sebagai suatu wujud sosok manusia yang utuh.

Seseorang yang berstatus sebagai guru adakalanya tidak selamanya dapat menjaga wibawa dan citra sebagai guru di mata siswa dan masyarakat. Sehingga masih ada sebagian guru yang mencemarkan wibawa dan citra guru. Di media masa sering diberitakan tentang oknum-oknum guru yang melakukan satu tindakan asusila, asosial, dan amoral.

Perbuatan itu tidak sepatutnya dilakukan oleh guru. Karenanya guru harus menjaga citra tersebut. Profil guru ideal adalah sosok yang mengabdikan diri berdasarkan panggilan jiwa, panggilan hati nurani, bukan karena tuntutan uang belaka, tidak membatasi tugas dan tanggung jawabnya tidak sebatas dinding sekolah.

Masyarakat juga jangan hanya menuntut pengabdian guru, tetapi kesejahteraan guru pun perlu diperhatikan. Guru dengan kemuliaannya, dalam menjalankan tugas tidak mengenal lelah, hujan dan panas bukan rintangan bagi guru yang penuh dedikasi dan loyalitas untuk turun ke sekolah agar dapat bersatu jiwa dalam perpisahan raga dengan siswa.

Raga guru dan siswa boleh berpisah, tapi jiwa keduanya tidak dapat dipisahkan (dwitunggal). Oleh karena itu dalam benak guru hanya ada satu kiat bagaimana mendidik siswa agar menjadi manusia dewasa susila yang cakap dan berguna bagi agama, nusa dan bangsa di masa yang akan datang. Posisi guru dan siswa boleh berbeda, tetapi keduanya tetap seiring dan satu tujuan. Seiring dalam arti pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu langakh dalam mencapai tujuan bersama siswa berusaha mencapai cita-citanya dan guru dengan ikhlas mengantar mereka ke depan pintu gerbang cita-cita.

Itulah barangkali sikap guruyang tepat sebagai sosok pribadi yang mulia kewajiban guru adalah menciptakan khairunnas yakni manusia yang baik. Sebagai manusia yang mempunyai kepribadian, maka kehadiran guru di tengah-tengah masyarakat adalah suatu kenyataan yang memang diperlukan oleh masyarakat.

Posisi kehidupan guru yang demikian itu tentunya akan mendapat penilaian yang beragam dari dunia sekitarnya kadang kala disanjung dan ada pula disalahkan. Peran guru mendapat perhatian luas dari masyarakat, hal ini menuntut dedikasi yang tinggi dari orang-orang yang berkecimpung di dunia keguruan. Tidak berlebihan kiranya ada pendapat bahwa kegagalan dalam pembangunan bermula dari kegagalan membangun pendidikan.

Tidak berlebihan kiranya ada pendapat bahwa kegagalan pembangunan bermula dari kegagalan pendidikan. Baca Juga : Tugas Dan Wewenang MK Peran Kompetensi Kepribadian Kompetensi kepribadian berperan menjadikan guru sebagai pembimbing, panutan, contoh, teladan, bagi siswa. Dengan kompetensi kepribadian yang dimilikinya maka guru bukan saja sebagai pendidik dan pengajar tapi juga sebagai tempat siswa dan masyarakat bercermin. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantoro dalam sistem Amongnya yaitu guru harus “Ing ngarso sungtulodo, Ing madyo mangun karso, Tut Wuri handayani”.

Dengan kompetensi kepribadian maka guru akan menjadi contoh dan teladan, membangkitkan motivasi belajar siswa serta mendorong/memberikan motivasi dari belaang. Oleh karena itu seorang guru dituntut melalui sikap dan perbuatan menjadikan dirinya sebagai panutan dan ikutan orang-orang yang dipimpinnya. Guru bukan hanya pengajar, pelatih dan pembimbing, tetapi juga sebagai cermin tempat subjek didik dapat berkaca.

Dalam relasi interpersonal antar guru dan siswa tercipta situasi pendidikan yang memungkinkan subjek didik dapat belajar menerapkan nilai-nilai yang menjadi contoh dan member contoh. Guru mampu menjadi orang yang mengerti diri siswa dengan segala problematiknya, guru juga harus mempunyai wibawa sehingga siswa segan terhadapnya. Berdasarkan uraian di atas, maka fungsi kompetensi kepribadian guru adalah memberikan telada dan contoh dalam membimbing, mengembangkan kreativitas dan membangkitkan motivasi belajar.

Ruang Lingkup Kompetensi Kepribadian Kompetensi kepribadian itu adalah hal yang bersifat universal, yang artinya harus dimliki guru dalam menjalankan fungsinya sebagai makhluk individu (pribadi) yang mennjang terhadap keberhasilan tugas guru yang diembannya. Kompetensi kepribadian guru enurut Sanusi (1991) mencakup hal-hal sebagai berikut. Pempilan sikap yang positif terhadap keseluruhan tugasnya sebagai guru, dan terhadap keseuruhan situasi pendidikan beserta unsur-unsurnya.

Pemahaman, penghayatan dan penampilan nilai-nilai yang seyogianya dianut oleh seoran guru. Penapiln upaya untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan teladan bagi para siswanya Menurut Djam’an, dk 2007;2-6-2.10) kompetensi kepribadian yang perlu dimiliki guru antara lain sebagai berikut Guru sebagai manusia ciptaan Tuhan Yang Maha Esa berkewajiban untukmeningkatkan iman dan ketakwaannya kepada Tuhan, sejalan dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya.

Guru memiliki kelebihan ibandingkan yang lain. Oleh Karena itu perlu dikembangkan rasa prcaya pada diri sendiri dan tanggung jawab bahwa ia memiliki potensi yang besar dalam bidang keguruan dan mampu untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapinya. Guru senantiasa berhadapan dengan komunitas pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu berberbeda dan beragam keunikan dari peserta didik dan masyarakatnya maka guru perlu untuk mengembangkan sikap tenggang rasa dan toleransi dalam menyikapi perbedaan yang ditemuinya dalam berinteraksi dengan peserta didik maupun masyarakat.

Guru diharapkan dapat menjadi fasilitator dalam menumbuh kembangkan budaya berpikir kritis di masyarakat, saling menerima dalam perbedaan pendapat dan menyepakatinya untuk mecapai tujuan bersama maka dituntut seorang guru untuk bersikap demokratis dalam menyampaikan dan menerima gagasan-gagasan mengenai permaslahan yang ada di sekitarnya sehingga guru menjadi terbuka dan tidak mentup diri dari hal-hal yang berada di luar dirinya.

Menjadi guru yang baik tidak semudah membalikkan telapak tangan, hal ini menuntut kesabaran dalam mencapainya. Guru diharapkan dapat sabar dalam arti tekun dan ulet melaksaakan proses pendidikan tidak langsung dapat dirasakan saat itu tetapi membutuhkan proses yang panjang.

Guru mampu mengembangkan dirinya sesuai dengan pembaharuan, baik dalam bidang profesinya maupun dalam spesialisasinya. Guru mapu menghayati tujuan-tujuan pendidikan baik secara nasional, kelembagaan, kurikuler sampai tujuan mata pelajaran yang diberikannya. Hubungan manusiawi yaitu kemampuan guru untuk dapat berhubungan dengan orang lain atas dasar saling menghormati antara satu dengan yang lainnya.

Pemahaman diri, yaitu kemampuan untuk memahami berbagai aspek dirinya baik yang positif maupun yang negative. Guru mampu melakukan perubahan-perubahan dalam mengembangkan profesinyasebagai innovator dan kreator. Baca Juga : Seni Rupa Terapan • KOMPETENSI PROFESIONAL Pengertian Kompetensi Profesional Kompetensi Profesional Guru Adalah kemampuan yang harus dimiliki guru da­lam perencanaan dan pelaksanaan proses pembelajaran. Guru mempunyai tu­gas untuk mengarahkan kegiatan belajar pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu untuk mencapai tujuan pem­belajaran, untuk itu guru dituntut mampu menyampaikan bahan pelajaran.

Guru harus selalu meng-update, dan menguasai materi pelajaran yang disaji­kan. Persiapan diri tentang materi diusahakan dengan jalan mencari informasi melalui berbagai sumber seperti membaca buku-buku terbaru, mengakses da­ri internet, selalu mengikuti perkembangan dan kemajuan terakhir tentang materi yang disajikan.

Guru profesional adalah guru yang memiliki kompetensi yang dipersyaratkan untuk melakukan tugas pendidikan dan pengajaran. Kompetensi di sini meliputi pengatahuan, sikap, dan keterampilan profesional, baik yang bersifat pribadi, sosial, maupun akademis. Kompetensi profesional merupakan salah satu kemampuan dasar yang harus dimiliki seseorang guru. Dalam Peraturan Pemerintah No 19 tahun 2005, pada pasal 28 ayat 3 yang dimaksud dengan kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan.

Sedangkan menurut Mukhlas Samani (2008;6) yang dimaksud dengan kompetensi profesional ialah kemampuan menguasai pengetahuan bidang ilmu, teknologi dan atau seni yang diampunya meliputi penguasaan; Kompetensi atau kemampuan kepribadian yaitu kemampuan yang harus dimiliki guru berkenaan dengan aspek Kompetensi Professional adalah : • Dalam menyampaikan pembelajaran, guru mempunyai peranan dan tugas sebagai sumber materi yang tidak pernah kering dalam mengelola proses pembelajaran.

Kegiatan mengajarnya harus disambut oleh siswa sebagaisuatu seni pengelolaan proses pembelajaran yang diperoleh melalui latihan, pengalaman, dan kemauan belajar yang tidak pernah putus. • Dalam melaksakan proses pembelajaran, keaktifan siswa harus selalu diciptakan dan berjalan terus dengan menggunakan metode dan strategi mengajar yang tepat. Guru menciptakan suasana yang dapat mendorong siswa untuk bertanya, mengamati, mengadakan eksperimen, serta menemukan fakta dan konsep yang benar.

Karena itu guru harus melakukan kegiatan pembelajaran menggunakan multimedia, sehingga terjadi suasana belajar sambil bekerja, belajar sambil mendengar, dan belajar sambil bermain, sesuai kontek materinya. • Dalam hal evaluasi, secara teori dan praktik, guru harus dapat melaksanakan sesuai dengan tujuan yang ingin diukurnya. Jenis tes yang digunakan untuk mengukur hasil belajar harus benar dan tepat.

pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu

Diharapkan pula guru dapat menyusun butir secara benar, agar tes yang digunakan dapat memotivasi siswa belajar. Kemampuan yang harus dimiliki guru dalam proses pembelajaran dapat diamati dari aspek perofesional adalah: • Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu. • Menguasai Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran/bidang pengembangan yang diampu.

• Mengembangkan materi pelajaran yang diampu secara kreatif. Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif. • Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri.

Kompetensi profesional merupakan kemampuan guru dalam menguasai pengetahuan bidang ilmu, teknologi, dan/atau seni yang sekurang-kurang meliputi penguasaan (1) materi pelajaran secara luas dan mendalam sesuai standar isi program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang diampunya, dan (2) konsep-konsep dan metode disiplin keilmuan, teknologi, atau seni yang relevan yang secara konseptual menaungi atau koheren dengan program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang dia mampu.

• KOMPETENSI SOSIAL Pengertian Kompetensi Sosial Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru untuk menyesuaikan diri kepada tuntutan kerja di lingkungan sekitar pada waktu membawakan tugasnya sebagai guru.

Peran yang dibawa guru dalam masyarakat berbeda dengan profesi lain. Oleh karena itu, perhatian yang diberikan masyarakat terhadap guru pun berbeda dan ada kekhususan terutama adanya tuntutan untuk menjadi pelopor pembangunan di daerah tempat guru tinggal. Beberapa kompetensi sosial yang perlu dimiliki guru antara lain; terampil berkomunikasi, bersikap simpatik, dapat bekerja sama dengan Dewan Pendidikan/Komite Sekolah, pandai bergaul dengan kawan sekerja dan mitra pendidikan, dan memahami dunia sekitarnya (lingkungan).

Yang dimaksud dengan kompetensi sosial di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005, pada pasal 28, ayat 3, ialah kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul seacara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar.

Menurut Achmad Sanusi (1991) mengungkapkan kompetensi sosial mencakup kemampuan untuk menyesuaikan diri kepada tuntutan kerja dan lingkungan sekitar pada waktu membawakan tugasnya sebagai guru. Guru profesional hendaknya mampu memikul dan melaksanakan tanggung jawab sebagai guru kepada siswa, orang tua, masyarakat, bangsa, negara, dan agamanya.

Tanggung jawab pribadi yang mandiri yang mampu memahami dirinya, mengelola dirinya, mengendalikan dirinya, dan menghargai serta mengembangkan dirinya. Tanggung jawab sosial diwujudkan melalui kompetensi guru dalam memahami dirinya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari lingkungan sosial serta memiliki kemampuan berinteraksi sosial. Tanggung jawab intelektual diwujudkan melalui penguasaan berbagai perangkat pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menunjang tugas-tugasnya.

Tanggung jawab spiritual dan moral diwujudkan melalui penampilan guru sebagai makhluk beragama yang perilakunya senantiasa tidak menyimpang dari norma agama dan norma moral. Baca Juga : Manajemen SDM : Pengertian, Fungsi, Tujuan, Unsur, Pendekatan Ruang Lingkup Kompetensi Sosial Kompetensi sosial dalam kegiatan belajar ini berkaitan erat dengan kemampuan guru dalam berkomunikasi dengan masyarakat di sekitar sekolah dan masyarakat tempat guru tinggal sehingga peranan dan cara guru berkomunikasi di masyarakat diharapkan memiliki karakteristik tersendiri yang sedikit banyak berbeda dengan orang lain yang bukan guru.

Misi yang diemban guru adalah misi kemanusiaan. Mengajar dan mendidik adalah tugas kemanusiaan manusia. Guru harus mempunyai kompetensi sosial karena guru adalah penceramah jaman. Menurut Djam’an Satori (2007), kompetensi sosial adalah sebagai berikut. • Terampil berkomunikasi dengan peserta didik dan orang tua peserta didik.

• Bersikap simpatik. • Dapat bekerja sama dengan Dewan Pendidikan/Komite Sekolah. • Pandai bergaul dengan kawan pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu dan mitra pendidikan. • Memahami dunia sekitarnya (lingkungan). • Sedangkan menurut Mukhlas Samani (2008:6) yang dimaksud dengan kompetensi sosial ialah kemampuan individu sebagai bagian masyarakat yang mencakup kemampuan untuk; • Berkomunikasi lisan, tulisan, dan/atau isyarat.

• Menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional.

pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu

• Bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, pimpinan satuan pendidikan, orang tua/wali peserta didik. • Bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar dengan mengindahkan norma serta sistem nilai yang berlaku. • Menerapkan prinsip-prinsip persaudaraan sejati dan semangat kebersamaan. Berdasarkan pengertian dan ruang lingkup kompetensi sosial seperti tersebut di atas maka inti dari pada kompetensi sosial itu adalah kemampuan guru melakukan interaksi sosial melalui komunikasi.

Guru dituntut berkomunikasi dengan sesame guru, siswa, orang tua siswa, dan masyarakat sekitar, dll. Jadi guru dituntut mengenal banyak kelompok sosial seperti kelompok bermain, kelompok kerjasama, alim ulama, pengajian, remaja, dll. Pengertian interaksi sosial ini amat berguna dalam memperhatikan dan mempelajari berbagai masalah masyarakat, termasuk masalah pembelajaran. Tanpa interaksi sosial mungkin terjadi kehidupan bersama yang terwujud dalam pergaulan. Pergaulan hidup memang terjadi apabila para anggota masyarakat bekerja sama, saling berbicara, saling berbagi pengalaman, bahkan juga saling besaing dan berselisih.

Interaksi sosial merupakan dasar proses sosial sebagai satu pengertian yang mengacu kepada hubungan-hubungan sosial yang dinamis. Secara umum dapat dikatakan bahwa, untuk umum proses sosial adalah interaksi sosial. Dan interaksi sosial merupaka syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Suatu interaksi sosial tidak mungkin berlangsung tanpa terjadinya kontak sosial (sosial contact) dan komunikasi.

Apabila kita berbicara dengan seseorang, itu berarti ada kontak antara kita dengan orang itu. Berbicara itu bisa secara pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu, bisa melalui telepon, surat, radio, dan sebagainya. Dalam kehidupan keluarga di rumah, kontak sosial hamper selalu terjadi di antara sesame anggota keluarga.

Kontak sosial dalam keluarga ini bisa terjadi antara seorang anggota dengan beberapa atau semua anggota keluarga yang lain, sebagaimana halnya antara seorang anggota masyarakat dengan beberapa atau banyak anggota masyarakat yang lain.

Dalam kehidupan bermasyarakat dapat juga dijumpai kontak antara kelompok yang satu dengan kelompok masyarakat yang lain. Dalam arsitektur di Indonesia (Irawan Maryono dan L.

Edison Silalahi, 1985) disebutkan bahwa ada empat bentuk interaksi sosial antara lain adalah; 1) kerja sama (co-operation), 2) persaingan (competition), 3) pertentangan, 4) akomodasi. Co-operationadalah kerja sama antara individu atau antar kelompok manusia dalam masyarakat guna mencapai tujuan tertentu secara bersama-sama pula. Bentuk lain yang dapat digolongkan sebagai kerja sama antara lain adalah asimilasi dan alkulurasi di dalam kebudayaan. Asimilasi merupakan proses sosial atau proses masyarakat menuju satu perubahan yang positif karena adanya perpaduan budaya antar kelompok sehingga membentuk kebudayaan baru.

Sedangkan alkulturasi adalah penggabungan dua unsur kebudayaan atau lebih menjadi kebudayaan baru namun unsur aslinya tidak hilang. Persainganialah salah satu bentuk interaksi sosial yang dilakukan oleh antar individu atau antar kelompok manusia dalam masyarakat.

Mereka bersaing untuk memperoleh atau mencapai tujuan tertentu melalui bidang-bidang kehidupan tanpa kekerasan dan tanpa ancaman. Sedangkan pertentangan adalah salah satu bentuk interaksi sosial yang dilakukan oleh antar individu atau antar kelompok manusia dalam masyarakat guna mencapai tujuan tertentu dengan kekerasan dan ancaman. Akomodasi sebagai salah satu bentuk interaksi sosial yang berada dalam keseimbangan dan masing-masing kelompok masyarakat melebur untuk membentuk norma-norma, aturan, nilai (adat) baru yang berlaku dan disepakati dalam masyarakat setempat.

Adapun tujuan adanya akomodasi ini antara lain adalah sebagai berikut. • Mengurangi pertentangan antara orang atau kelompok manusia dalam masyarakat akibat adanya perbedaan paham. • Mencegah meledaknya atau munculnya satu konflik untuk sementara waktu.

• Sebagai wahana melakukan kerja sama antara orang atau kelompok manusia dalam masyarakat. • Mendorong terbangunnya peleburan (pembauran) antara kelompok yang terpisah atau bertentangan.

Interaksi sosial melalui proses pembelajaran sangat ditentukan oleh guru, siswa, segenap tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat. Pada pembicaraan antara guru dengan siswa atau dengan orang tua siswa mungkin saja terjadi secara timbale balik. Dalam interaksi sosial yang terpenting adalah membangun komunikasi, yaitu bahwa seseorang memberikan penafsiran pada perilaku orang lain, baik berwujud pembicaraan, gerak-gerik, ataupun sikap.

Di dalam kelas berlangsung interaksi sosial; ada yang sifatnya bekerja sama (co-operation), persaingan (competition), pertentangan, akomodasi. Pertentangan dapat menjurus kepada bentrokan fisik. Sebagai guru, maka saudaa berusaha mendamaikan. Dan mereka pada akhirnya berdamai juga, tetapi perdamaian itu rupa-rupanya hanya penyelesaian yang diterima untuk sementara waktu saja. Di mata masyarakat, guru adalah orang yang mendidik, mengajar, dan memberikan sejumlah ilmu pengetahuan kepada siswa di sekolah, mesjid, di rumah, atau di tempat lainnya.

Guru mengemban tanggung jawab tidak hanya sebatas dinding sekolah, tetapi juga di luar sekolah. Guru melakukan pembinaan tidak hanya secara kelompok, tetapi juga secara individual.

Hal ini mau tidak mau menuntut agar guru selalu memperhatikan tingkah laku, sikap, dan perbuatan siswanya, tidak hanya di lingkungan sekolah tetapi di luar sekolah sekalipun. Baca Juga : Sifat Wajib Dan Mustahil Bagi Nabi Dan Rasul Fungsi Kompetensi Sosial Masyarakat dalam proses pembangunan sekarang ini menganggap guru sebagai anggota masyarakat yang memiliki kemampuan, keterampilan yang cukup luas, yang mau ikut serta secara aktif dalam proses pembangunan.

Guru diharapkan menjadi pelopor di dalam pelaksanaan pembangunan. Guru perlu menyadari posisinya di tengah-tengah masyarakat berperan sangat penting, yakni sebagai; • 1) motivator dan innovator dalam pembangunan pendidikan, • 2) perintis dan pelopor pendidikan.

• 3) peneliti dan pengkaji ilmu pengetahuan, • 4) pengabdian. Dasar Hukum Standar Kompetensi Guru Peraturan perundang-undangan yang digunakan sebagai landasan hukum penetapan Standar Kompetensi Guru adalah: • Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

• Undang-undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional. • Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839); • Undang-undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) Tahun 2000 –2004 (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 206) • Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 1992 tentang Tenaga Kependidikan (Lembaran negara Tahun 1992 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3484) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2000 (Lembaran negara Tahun 2000 Nomor 91, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3974) • Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952); • Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 1992 tentang Tenaga Kependidikan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2000.

• Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor : 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. • Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Nomor : 0433/P/1993, Nomor : 25 Tahun 1993 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. • Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor : 025/O/1995 tentang Petunjuk Teknis Ketentuan Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.

• Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No : 031/O/2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Tujuan dan Manfaat Standar Kompetensi Guru • Tujuan adanya Standar Kompetensi Guru adalah sebagai jaminan dikuasainya tingkat kompetensi minimal oleh guru sehingga yang bersangkutan dapat melakukan tugasnya secara profesional, dapat dibina secara efektif dan efisien serta dapat melayani pihak yang berkepentingan terhadap proses pembelajaran, dengan sebaik-baiknya sesuai bidang tugasnya.

• Adapun manfaat disusunnya Standar Kompetensi Guru ini adalah sebagai acuan pelaksanaan uji kompetensi, penyelenggaraan diklat, dan pembinaan, maupun acuan bagi pihak yang berkepentingan terhadap kompetensi guru untuk melakukan evaluasi, pengembangan bahan ajar dan sebagainya bagi tenaga kependidikan.

Rumusan Standar Kompetensi Guru Telah dinyatakan bahwa Standar Kompetensi Guru meliputi 3 (tiga) komponen kompetensi dan masing-masing komponen kompetensi terdiri atas beberapa unit kompetensi.

Secara keseluruhan Standar Kompetensi Guru adalah sebagai berikut : • Komponen Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran dan Wawasan Kependidikan, yang terdiri atas, Sub Komponen Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran : • Menyusun rencana pembelajaran • Melaksanakan pembelajaran • Menilai prestasi belajar peserta didik.

• Melaksanakan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar peserta didik. Sub Komponen Kompetensi Wawasan Kependidikan : • Memahami landasan kependidikan • Memahami kebijakan pendidikan • Memahami tingkat perkembangan siswa • Memahami pendekatan pembelajaran yang sesuai materi pembelajarannya • Menerapkan kerja sama dalam pekerjaan • Memanfaatkan kemajuan IPTEK dalam pendidikan • Komponen Kompetensi Akademik/Vokasional, yang terdiri atas : • Menguasai keilmuan dan keterampilan sesuai materi pembelajaran • Komponen Kompetensi Pengembangan Profesi terdiri atas : • Mengembangkan profesi.

Baca Juga : √ Kebugaran Jasmani : Pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu, Bentuk Latihan Dan Unsur Unsurnya Lengkap Indikator Kompetensi Guru Untuk memperoleh gambaran yang lebih terukur pada pemberian nilai untuk setiap kompetensi, maka perlu ditetapkan kinerja setiap kompetensi.

Kinerja kompetensi terlihat dalam bentuk indikator, sebagai terlihat pada lampiran. LAMPIRAN : Komponen Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran dan Wawasan Kependidikan : Sub Komponen Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran : KOMPETENSI INDIKATOR 1. Menyusun rencana pembelajaran a. Mendeskripsikan tujuan pembelajaran b. Menentukan materi sesuai dengan kompetensi yang telah ditentukan c. Mengorganisasikan materi berdasarkan urutan dan kelompok d. Mengalokasikan waktu e.

Menentukan metode pembelajaran yang sesuai f. Merancang prosedur pembelajaran g. Menentukan media pembelajaran/peralatan praktikum (dan bahan) yang akan digunakan h. Menentukan sumber belajar yang sesuai (berupa buku, modul, program komputer dan sejenisnya) i. Menentukan teknik penilaian yang sesuai 2. Melaksanakan Pembelajaran a. Membuka pelajaran dengan metode yang sesuai b.

Menyajikan materi pelajaran secara sistematis c. Menerapkan metode dan pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu pembelajaran yang telah ditentukan d.

Mengatur kegiatan siswa di kelas e. Menggunakan media pembelajaran/peralatan praktikum (dan bahan) yang telah ditentukan f. Menggunakan sumber belajar yang telah dipilih (berupa buku, modul, program komputer dan sejenisnya) g. Memotivasi siswa dengan berbagai cara yang positif h. Melakukan interaksi dengan siswa menggunakan bahasa yang komunikatif i.

Memberikan pertanyaan dan umpan balik, untuk mengetahui dan memperkuat penerimaan siswa dalam proses pembelajaran j. Menyimpulkan pembelajaran k. Menggunakan waktu secara efektif dan efisien 3. Menilai prestasi belajar. a. Menyusun soal/perangkat penilaian sesuai dengan indikator/kriteria unjuk kerja yang telah ditentukan b. Melaksanakan penilaian c. Memeriksa jawaban/memberikan skor tes hasil belajar berdasarkan indikator/kriteria unjuk kerja yang telah ditentukan d.

Menilai hasil belajar berdasarkan kriteria penilaian yang telah ditentukan e. Mengolah hasil penilaian f. Menganalisis hasil penilaian (berdasarkan tingkat kesukaran, daya pembeda, validitas dan reliabilitas) g. Menyimpulkan hasil penilaian secara jelas dan logis (misalnya : interpretasi kecenderungan hasil penilaian, tingkat pencapaian siswa dll) h.

Menyusun laporan hasil penilaian i. Memperbaiki soal/perangkat penilaian 4. Melaksanakan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar peserta didik a. Mengidentifikasi kebutuhan tindak lanjut hasil penilaian b.

Menyusun program tindak lanjut hasil penilaian c. Melaksanakan tindak lanjut d. Mengevaluasi hasil tindak lanjut hasil penilaian e. Menganalisis hasil evaluasi program tindak lanjut hasil penilaian Sub Komponen Kompetensi Wawasan Kependidikan : KOMPETENSI INDIKATOR 5.

Memahami landasan kependidikan a. Menjelaskan tujuan dan hakekat pendidikan b. Menjelaskan tujuan dan hakekat pembelajaran c. Menjelaskan konsep dasar pengembangan kurikulum d. Menjelaskan struktur kurikulum 6. Memahami kebijakan pendidikan a. Menjelaskani visi, misi dan tujuan pendidikan nasional b. Menjelaskan tujuan pendidikan tiap satuan pendidikan sesuai tempat bekerjanya c. Menjelaskan sistem dan struktur standar kompetensi guru d. Memanfaatkan standar kompetensi siswa e. Menjelaskan konsep pengembangan pengelolaan pembelajaran yang diberlakukan (Misal : life skill, BBE/Broad Based Education, CC/Community College, CBET/Competency-Based Education and Training dan lain-lain).

f. Menjelaskan konsep pengembangan manajemen pendidikan yang diberlakukan (Misal : MBS /Manajemen Berbasis Sekolah, Dewan Pendidikan, Komite Sekolah dan lain-lain) g. Menjelaskan konsep dan struktur kurikulum yang diberlakukan (Misal : Kurikulum berbasis kompetensi) 7. Memahami tingkat perkembangan siswa a.

Menjelaskan psikologi pendidikan yang mendasari perkembangan siswa b. Menjelaskan tingkat-tingkat perkembangan mental siswa c. Mengidentifikasi tingkat perkembangan siswa yang dididik 8. Memahami pendekatan pembelajaran yang sesuai materi pembelajarannya a.

Menjelaskan teori belajar yang sesuai materi pembelajarannya b. Menjelaskan strategi dan pendekatan pembelajaran yang sesuai materi pembelajarannya c. Menjelaskan metode pembelajaran yang sesuai materi pembelajarannya 9. Menerapkan kerja sama dalam pekerjaan a. Menjelaskan arti dan fungsi kerjasama dalam pekerjaan b. Menerapkan kerjasama dalam pekerjaan 10. Memanfaatkan kemajuan IPTEK dalam pendidikan a.

Menggunakan berbagai fungsi internet, terutama menggunakan e-mail dan mencari informasi b. Menggunakan komputer terutama untuk word processor dan spread sheet (Contoh : Microsoft Word, Excel) c.

Menerapkan bahasa Inggris untuk memahami literatur asing/memperluas wawasan kependidikan. DAFTAR PUSTAKA Djam’an, Satori, dkk, 2007. Profesi Keguruan. Jakarta: Universitas Terbuka. Mulyasa, E, 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, cetakan keempat. Saudagar, Fachruddin, dk, 2009. Pengembangan Profesionalitas Guru. Jakarta: Gaung Persada Press.Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, Tentang Standar Nasional Pendidikan.

Sebarkan ini: • • • • • Posting pada S1, S2, Umum Ditag 10 kompetensi guru, 10 kompetensi pedagogik guru, 4 kompetensi guru dan contoh penerapannya, 4 kompetensi guru dan contoh penerapannya pdf, 4 kompetensi guru dan contohnya pdf, 4 kompetensi guru menurut para ahli, 4 kompetensi guru pdf, 4 kompetensi guru penjas, 4 kompetensi guru ppt, 4 kompetensi kepala sekolah, 5 kompetensi profesional guru, 8 standar kompetensi guru, ciri ciri kompetensi profesional, citra guru profesional, contoh kompetensi pedagogik, contoh kompetensi profesional guru, contoh penerapan kompetensi kepribadian, contoh penerapan kompetensi profesional guru, download materi makalah Kompetensi Guru, hak dan kewajiban guru di indonesia, kompetensi guru academia, kompetensi guru k13, kompetensi guru menurut kemendikbud, kompetensi guru pai, kompetensi guru pdf, kompetensi guru sosial, kompetensi kepala sekolah, kompetensi kepribadian, kompetensi kepribadian guru sd, kompetensi pedagogik pdf, kompetensi penunjang profesi guru, kompetensi profesional, kompetensi profesional guru pdf, kompetensi sosial, kompetensi yang harus dimiliki guru pdf, kompetensi yang harus dimiliki siswa, makalah 4 kompetensi guru, makalah kompetensi guru, makalah kompetensi profesional guru, makalah standar kompetensi guru, mengapa guru harus memiliki 4 kompetensi, menjadi guru yang kompeten, pembinaan dan pengembangan karir guru, pengertian kompetensi guru, rumusan kompetensi guru, standar kompetensi guru, standar kompetensi guru kelas sd mi, strategi menjadi guru profesional Navigasi pos Pos-pos Terbaru • Pengertian Gerakan Antagonistic – Macam, Sinergis, Tingkat, Anatomi, Struktur, Contoh • Pengertian Dinoflagellata – Ciri, Klasifikasi, Toksisitas, Macam, Fenomena, Contoh, Para Ahli • Pengertian Myxomycota – Ciri, Siklus, Klasifikasi, Susunan Tubuh, Daur Hidup, Contoh • “Panjang Usus” Definisi & ( Jenis – Fungsi – Menjaga ) • Pengertian Mahasiswa Menurut Para Ahli Beserta Peran Dan Fungsinya • “Masa Demokrasi Terpimpin” Sejarah Dan ( Latar Belakang – Pelaksanaan ) • Pengertian Sistem Regulasi Pada Manusia Beserta Macam-Macamnya • Rangkuman Materi Jamur ( Fungi ) Beserta Penjelasannya • Pengertian Saraf Parasimpatik – Fungsi, Simpatik, Perbedaan, Persamaan, Jalur, Cara Kerja, Contoh • Higgs domino apk versi 1.80 Terbaru 2022 • Contoh Soal Psikotes • Contoh CV Lamaran Kerja • Rukun Shalat • Kunci Jawaban Brain Out • Teks Eksplanasi • Teks Eksposisi • Teks Deskripsi • Teks Prosedur • Contoh Gurindam • Contoh Kata Pengantar • Contoh Teks Negosiasi • Alat Musik Ritmis • Tabel Periodik • Niat Mandi Wajib • Teks Laporan Hasil Observasi • Contoh Makalah • Alight Motion Pro • Alat Musik Melodis • 21 Contoh Paragraf Deduktif, Induktif, Campuran • 69 Contoh Teks Anekdot • Proposal • Gb WhatsApp • Contoh Daftar Riwayat Hidup • Naskah Drama • Memphisthemusical.Com• Afrikaans • Akan • Alemannisch • Алтай тил • አማርኛ • Aragonés • Ænglisc • العربية • ܐܪܡܝܐ • مصرى • অসমীয়া • Asturianu • Aymar aru • Azərbaycanca • تۆرکجه • Башҡортса • Boarisch • Žemaitėška • Беларуская • Беларуская (тарашкевіца) • Български • भोजपुरी • Bislama • Banjar • বাংলা • Brezhoneg • Bosanski • Буряад • Català • Нохчийн • Cebuano • کوردی • Corsu • Čeština • Словѣньскъ / ⰔⰎⰑⰂⰡⰐⰠⰔⰍⰟ • Чӑвашла • Cymraeg • Dansk • Dagbanli • Deutsch • Zazaki • Eʋegbe • Ελληνικά • Emiliàn e rumagnòl • English • Esperanto • Español • Eesti • Euskara • فارسی • Suomi • Võro • Français • Furlan • Frysk • Gaeilge • Kriyòl gwiyannen • Gàidhlig • Galego • Avañe'ẽ • गोंयची कोंकणी / Gõychi Konknni • Bahasa Hulontalo • 𐌲𐌿𐍄𐌹𐍃𐌺 • ગુજરાતી • Gaelg • Hausa • 客家語/Hak-kâ-ngî • עברית • हिन्दी • Pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu Hindi • Hrvatski • Kreyòl ayisyen • Magyar • Հայերեն • Interlingua • Ilokano • ГӀалгӀай • Ido • Íslenska • Italiano • 日本語 • Jawa • ქართული • Taqbaylit • Адыгэбзэ • Kabɩyɛ • Қазақша • ភាសាខ្មែរ • 한국어 • Kurdî • Kernowek • Latina • Lëtzebuergesch • Lingua Franca Nova • Ligure • Ladin • Lombard • Lingála • Lietuvių • Latviešu • Malagasy • Minangkabau • Македонски • മലയാളം • Монгол • मराठी • Bahasa Melayu • Mirandés • မြန်မာဘာသာ • Эрзянь • مازِرونی • Plattdüütsch • Nedersaksies • नेपाली • नेपाल भाषा • Li Niha • Nederlands • Norsk nynorsk • Norsk bokmål • ߒߞߏ • Nouormand • Sesotho sa Leboa • Occitan • Livvinkarjala • Oromoo • Ирон • ਪੰਜਾਬੀ • Picard • Norfuk / Pitkern • Polski • Piemontèis • پنجابی • پښتو • Português • Runa Simi • Rumantsch • Romani čhib • Română • Pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu • Русский • Русиньскый • संस्कृतम् • Саха тыла • ᱥᱟᱱᱛᱟᱲᱤ • Sicilianu • Scots • Srpskohrvatski / српскохрватски • සිංහල • Simple English • Slovenčina • Slovenščina • ChiShona • Shqip • Српски / srpski • SiSwati • Sesotho • Seeltersk • Svenska • Kiswahili • Ślůnski • தமிழ் • తెలుగు • Тоҷикӣ • ไทย • Tagalog • Tok Pisin • Türkçe • Xitsonga • Татарча/tatarça • Twi • ئۇيغۇرچە / Uyghurche • Українська • اردو • Oʻzbekcha/ўзбекча • Vèneto • Vepsän kel’ • Tiếng Việt • West-Vlams • Volapük • Walon • Winaray • Wolof • 吴语 • IsiXhosa • მარგალური • ייִדיש • 中文 • Bân-lâm-gú • 粵語 • IsiZulu • l • b • s Tuhan dipahami sebagai Roh Mahakuasa dan asas dari suatu kepercayaan.

[1] Tidak ada kesepakatan bersama mengenai konsep ketuhanan, sehingga ada berbagai konsep ketuhanan meliputi teisme, deisme, panteisme, dan lain-lain.

Dalam pandangan teisme, Tuhan merupakan pencipta sekaligus pengatur segala kejadian di alam semesta. Menurut deisme, Tuhan merupakan pencipta alam semesta, tetapi tidak ikut campur dalam kejadian di alam semesta. Menurut panteisme, Tuhan merupakan alam semesta itu sendiri.

Para cendekiawan menganggap berbagai sifat-sifat Tuhan berasal dari konsep ketuhanan yang berbeda-beda. Yang paling umum, di antaranya adalah Mahatahu (mengetahui segalanya), Mahakuasa (memiliki kekuasaan tak terbatas), Mahaada (hadir di mana pun), Mahamulia (mengandung segala sifat-sifat baik yang sempurna), tak ada yang setara dengan-Nya, serta bersifat kekal abadi. Penganut monoteisme percaya bahwa Tuhan hanya ada satu, serta tidak berwujud (tanpa materi), memiliki pribadi, sumber segala kewajiban moral, dan "hal terbesar yang dapat direnungkan".

[1] Banyak filsuf abad pertengahan dan modern terkemuka yang mengembangkan argumen untuk mendukung dan membantah keberadaan Tuhan. [2] Ada banyak nama untuk menyebut Tuhan, dan nama yang berbeda-beda melekat pada gagasan kultural tentang sosok Tuhan dan sifat-sifat apa yang dimiliki-Nya. Atenisme pada zaman Mesir Kuno, kemungkinan besar merupakan agama monoteistis tertua yang pernah tercatat dalam sejarah yang mengajarkan Tuhan sejati dan pencipta alam semesta, [3] yang disebut Aten.

[4] Kalimat " Aku adalah Aku" dalam Alkitab Ibrani, dan "Tetragrammaton" YHVH digunakan sebagai nama Tuhan, sedangkan Yahweh, dan Yehuwa kadang kala digunakan dalam agama Kristen sebagai hasil vokalisasi dari YHWH.

Dalam bahasa Arab, nama Allah digunakan, dan karena predominansi Islam di antara para penutur bahasa Arab, maka nama Allah memiliki konotasi dengan kepercayaan dan kebudayaan Islam. Umat muslim mengenal 99 nama suci bagi Allah, sedangkan umat Yahudi biasanya menyebut Tuhan dengan gelar Elohim atau Adonai (nama yang kedua dipercaya oleh sejumlah pakar berasal dari bahasa Mesir Kuno, Aten). [5] [6] [7] [8] [9] Dalam agama Hindu, Brahman biasanya dianggap sebagai Tuhan monistis.

[10] Agama-agama lainnya memiliki panggilan untuk Tuhan, di antaranya: Baha dalam agama Baha'i, [11] Waheguru dalam Sikhisme, [12] dan Ahura Mazda dalam Zoroastrianisme. [13] Banyaknya konsep tentang Tuhan dan pertentangan satu sama lain dalam hal sifat, maksud, dan tindakan Tuhan, telah mengarah pada munculnya pemikiran-pemikiran seperti omniteisme, pandeisme, [14] [15] atau filsafat Perennial, yang menganggap adanya satu kebenaran teologis yang mendasari segalanya, yang diamati oleh berbagai agama dalam sudut pandang yang berbeda-beda, maka sesungguhnya agama-agama di dunia menyembah satu Tuhan yang sama, tetapi melalui konsep dan pencitraan mental yang berbeda-beda mengenai-Nya.

[16] Daftar isi • 1 Etimologi dan terminologi • 2 Konsep tentang Tuhan • 2.1 Monoteisme dan henoteisme • 2.2 Teisme, deisme, dan panteisme • 2.3 Konsep ketuhanan lainnya • 3 Keberadaan Tuhan • 4 Tuhan dalam sudut pandang nonteistis • 4.1 Tuhan antropomorfis • 5 Persentase kepercayaan akan Tuhan • 6 Peran pada kemanusiaan • 7 Lihat pula • 8 Referensi • 9 Pranala luar Etimologi dan terminologi [ sunting - sunting sumber ] Kata Tuhan dalam bahasa Melayu berasal dari kata tuan.

Buku pertama yang memberi keterangan tentang hubungan kata tuan dan Tuhan adalah Ensiklopedi Populer Gereja oleh Adolf Heuken SJ (1976). Menurut buku tersebut, arti kata Tuhan ada hubungannya dengan kata Melayu tuan yang berarti atasan/penguasa/pemilik. [17] Kata "tuan" ditujukan kepada manusia, atau hal-hal lain yang memiliki sifat menguasai, memiliki, atau memelihara. Digunakan pula untuk menyebut seseorang yang memiliki derajat yang lebih tinggi, atau seseorang yang dihormati. Penggunaannya lumrah digunakan bersama-sama dengan disertakan dengan kata lain mengikuti kata "tuan" itu sendiri, dimisalkan pada kata "tuan rumah" atau "tuan tanah" dan lain sebagainya (dalam bahasa Inggris: Lord).

Kata ini biasanya digunakan dalam konteks selain keagamaan yang bersifat ketuhanan. [18] Ahli bahasa Remy Sylado menemukan bahwa perubahan kata "tuan" yang bersifat insani, menjadi "Tuhan" yang bersifat ilahi, bermula dari terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Melayu karya Melchior Leijdecker yang terbit pada tahun 1733.

[19] [20] Dalam terjemahan sebelumnya, yaitu kitab suci Nasrani bahasa Melayu beraksara Latin terjemahan Brouwerius yang muncul pada tahun 1668, kata yang dalam bahasa Yunaninya, Kyrios, dan sebutan yang diperuntukkan bagi Isa Almasih ini diterjemahkannya menjadi "tuan". Kata yang diterjemahkan oleh Brouwerius sebagai "Tuan"—sama dengan bahasa Portugis Senhor, Prancis Seigneur, Inggris Lord, Belanda Heere—melalui Leijdecker berubah menjadi "Tuhan" dan kemudian, penerjemah Alkitab bahasa Melayu melanjutkan penemuan Leijdecker tersebut.

Kini kata Tuhan yang awalnya ditemukan oleh Leijdecker untuk mewakili dua pengertian pelik insani dan ilahi dalam teologi Kristen atas sosok Isa Almasih akhirnya menjadi lema khas dalam bahasa Indonesia. [19] Di dalam Alkitab Terjemahan Baru (1974), kata Tuhan (dan keluarga katanya, mis. Tuhanku) disebutkan sebanyak 7677 kali dalam 6510 ayat di seluruh protokanonika Perjanjian Lama (Ibrani) dan Perjanjian Baru (Yunani). [21] Kata ini paling sering digunakan untuk menerjemahkan kata Kurios (Yunani) dan Adonai (Ibrani).

Selain itu, khusus untuk menerjemahkan Tetragrammaton YHWH, penerjemah TB dalam edisi cetak menggunakan huruf kapital ( smallcaps) Tuhan, mengikuti tradisi terjemahan yang sudah ada, [22] misalnya dalam Kejadian 2:4, "Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika Tuhan Allah ( YHWH Elohim) menjadikan bumi dan langit, --".

[23] (Namun untuk menulis "Adonai YHWH" digunakan "Tuhan Allah", misalnya dalam Yesaya 61:1, "Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara,") Dalam bahasa Indonesia modern, kata "Tuhan" pada umumnya dipakai untuk merujuk kepada suatu Dzat abadi dan supernatural.

Dalam konteks rumpun agama samawi, kata Tuhan (dengan huruf T besar) hampir selalu mengacu pada Allah, yang diyakini sebagai Dzat yang Maha sempurna, pemilik langit dan bumi yang disembah manusia. Dalam bahasa Arab kata ini sepadan dengan kata rabb.

Menurut Ibnu Atsir, Tuhan dan tuan secara bahasa diartikan pemilik, penguasa, pengatur, pembina, pengurus dan pemberi nikmat. [24] Kata Tuhan disebutkan lebih dari 1.000 kali dalam Al-Qur'an, [25]. Dalam monoteisme, biasanya dikatakan bahwa Tuhan mengawasi dan memerintah manusia dan alam semesta atau jagat raya. Hal ini bisa juga digunakan untuk merujuk kepada beberapa konsep-konsep yang mirip dengan ini, misalnya sebuah bentuk energi atau kesadaran yang merasuki seluruh alam semesta, yang keberadaan-Nya membuat alam semesta ada; sumber segala yang ada; kebajikan yang terbaik dan tertinggi dalam semua makhluk hidup; atau apa pun yang tak bisa dimengerti atau dijelaskan.

Di dalam bahasa Melayu atau bahasa Indonesia, dua konsep atau nama yang berhubungan dengan ketuhanan, yaitu: Tuhan sendiri, dan dewa. Penganut monoteisme biasanya menolak menggunakan kata dewa, karena merujuk kepada entitas-entitas dalam agama politeistis. Meskipun demikian, penggunaan kata dewa pernah digunakan sebelum penggunaan kata Tuhan.

Dalam Prasasti Trengganu, prasasti tertua di dalam bahasa Melayu yang ditulis menggunakan huruf Arab ( huruf Jawi) menyebut Sang Dewata Mulia Raya. Dewata yang dikenal orang Melayu berasal dari kata devata, sebagai hasil penyebaran agama Hindu-Buddha di Nusantara. Bagaimanapun, pada masa kini, pengertian istilah Tuhan digunakan untuk merujuk Tuhan yang tunggal, sementara dewa dianggap mengandung arti salah satu dari banyak Tuhan sehingga cenderung mengacu kepada politeisme.

Selain itu dalam teks terkadang pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu digunakan kata "tuhan" dengan huruf kecil (mirip dengan kata "allah" dengan huruf kecil), terutama ketika memperbandingkan antara Tuhan Allah yang esa dengan tuhan (tuan) yang lain, misalnya dalam Ulangan 10: 17: "Sebab TUHAN, Allahmulah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu ataupun menerima suap; " 1 Korintus 8: 5, dan Mazmur 136: 3 Konsep tentang Tuhan [ sunting - sunting sumber ] Konsep ketuhanan telah dikenal sejak manusia ada di dunia.

Dasar dari konsep ketuhanan ini ialah adanya sesuatu yang maha gaib. Konsep ketuhanan yang paling awal ialah animisme dan dinamisme. Kedua konsep ini mulai ada sejak zaman manusia purba dan sifatnya sangat sederhana.

Segala sesuatu yang sifatnya gaib dikatikan dengan keberadaan Tuhan. Kemudian, konsep pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu berkembang seiring terbentuknya struktur masyarakat pada manusia. Konsep Tuhan ikut berkembang dengan terbentuknya hierarki ketuhanan. Pada masa ini, terbenuklah politeisme yang meyakini bahwa Tuhan tidak tunggal.

Dalam konsep ini, Tuhan memiliki keluarga atau masyarakat seperti pada masyarakat manusia. Dari politeisme berkembang konsep ketuhanan lain, yaitu henoteisme. Dalam henotesime, Tuhan diyakini memiliki struktur pemerintahan dengan pemerintah tertinggi oleh Dewa. Perkembangan selanjutnya dari henoteisme memunculkan monoteisme pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu konsep bahwa Tuhan adalah sesuatu yang esa.

[26] Tidak ada kesepahaman mengenai konsep ketuhanan. Konsep ketuhanan dalam agama samawi meliputi definisi monoteistis tentang Tuhan dalam agama Yahudi, pandangan Kristen tentang Tritunggal, dan konsep Tuhan dalam Islam. Agama-agama dharma juga memiliki pandangan berbeda-beda mengenai Tuhan. Konsep ketuhanan dalam agama Hindu tergantung pada wilayah, sekte, kasta, dan beragam, mulai dari panenteistis, monoteistis, politeistis, bahkan ateistis.

Keberadaan sosok ilahi juga diakui oleh Gautama Buddha, terutama Śakra dan Brahma. Monoteisme dan henoteisme [ sunting - sunting sumber ] Hubungan antara Allah Bapa, Allah Anak, dan Roh Kudus dalam Scutum Fidei, menjelaskan garis besar konsep Tritunggal.

Penganut monoteisme mengklaim bahwa Tuhan hanya ada satu, dan beberapa ajaran monoteistis mengklaim bahwa Tuhan sejati adalah Tuhan yang dipuja oleh semua agama dengan nama yang berbeda-beda. Pandangan bahwa seluruh pemuja Tuhan (dalam agama yang berbeda-beda) sesungguhnya memuja satu Tuhan yang sama—entah disadari atau tidak disadari oleh umat tersebut—terutama diajarkan dalam agama Hindu [27] dan Sikh. [28] Agama samawi atau dikenal juga sebagai rumpun agama abrahamis (karena meyakini Abraham/ Ibrahim sebagai nabi) atau agama langit dimaksudkan untuk menunjuk agama Yahudi, Kristen, dan Islam.

Agama-agama ini dikenal sebagai agama monoteistis karena hanya menekankan keberadaan satu Tuhan. Yahudi dan Islam bahkan menolak visualisasi Tuhan karena menurut mereka tidak ada sesuatu yang dapat menyerupai Tuhan. Meskipun serumpun, agama-agama ini menggunakan sebutan/panggilan yang berbeda yang disebabkan oleh perbedaan bahasa dan rentang sejarahnya. Adapun nama yang sering disebutkan yaitu: Yahweh dalam agama Yahudi; Bapa atau Yesus dalam Kristen; Allah dalam Islam.

Agama Kristen mengenal konsep Tritunggal, yang maksudnya Tuhan memiliki tiga pribadi: Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Konsep ini terutama dipakai dalam Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks. Konsep ini merupakan paham monoteistis yang dipakai sejak Konsili Nicea I pada tahun 325 M. Kata "Tritunggal" sendiri tidak ada dalam Alkitab. Di dalam Ulangan 6:4 ditulis bahwa Tuhan itu Esa.

Keesaan ini pada bahasa aslinya ( ekhad) adalah "kesatuan dari berbagai satuan". Contohnya, pada Kejadian 2:24 ditulis "keduanya (manusia dan istrinya) menjadi satu ( ekhad) daging" berarti kesatuan dari 2 manusia. Di Kejadian 1:26 Allah menyebut diri-Nya dengan kata ganti "Kita", mengandung kejamakan dalam sifat Tuhan. Pengertiannya adalah satu substansi ketuhanan, tetapi terdiri dari tiga pribadi. Di samping monoteisme yang menolak keberadaan dewa-dewi, ada ajaran henoteisme yang meyakini dan memuja satu Tuhan, tetapi juga meyakini keberadaan dewa-dewi lainnya dan bahkan dapat turut memuja mereka.

Variasi istilah tersebut adalah "monoteisme inklusif" dan "politeisme monarkis", dipakai untuk membedakan ragam dari fenomena tersebut. Henoteisme mirip namun kurang eksklusif daripada monolatri (pemujaan satu Tuhan) karena monolator hanya memuja satu Tuhan (menolak keberadaan dewa-dewi untuk disembah), sedangkan penganut henoteisme dapat memuja dewa-dewi dari panteon yang mereka yakini, tergantung keadaan, meskipun biasanya mereka hanya akan memuja satu Tuhan saja sepanjang hidup mereka (kecuali ada konversi tertentu).

Dalam beberapa agama, pemilihan Tuhan Mahakuasa dalam kerangka henoteistis dapat saja terjadi, tergantung alasan kultural, geografis, historis, bahkan politis. Teisme, deisme, dan panteisme [ sunting - sunting sumber ] Teisme pada umumnya mengajarkan bahwa Tuhan ada secara realistis, objektif, dan independen.

Tuhan diyakini sebagai pencipta dan pengatur segala hal; mahakuasa dan kekal abadi; personal dan berinteraksi dengan alam semesta melalui pengalaman religius dan doa-doa umat-Nya. [29] Teisme menegaskan bahwa Tuhan sukar dipahami oleh manusia sekaligus kekal selamanya; maka, Tuhan bersifat tak terbatas sekaligus ada untuk mengurus kejadian di dunia.

[30] Meski demikian, tidak seluruh penganut teisme mengakui dalil tersebut. [29] Teologi Katolik menyatakan bahwa Tuhan Mahakuasa sehingga tidak akan terikat pada waktu.

Banyak penganut teisme percaya bahwa Tuhan Mahakuasa, Mahatahu, dan Mahapenyayang, meskipun keyakinan ini memicu timbulnya pertanyaan mengenai tanggung jawab Tuhan terhadap adanya kejahatan dan penderitaan di dunia.

pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu

Beberapa penganut teisme menganggap Tuhan menahan diri pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu memiliki kuasa, tahu apa yang akan terjadi, dan penuh kasih sayang.

Sebaliknya, menurut teisme terbuka, karena adanya sifat asasi waktu, atribut Mahatahu tidak berarti bahwa Tuhan juga dapat memprediksikan masa depan. "Teisme" kadang kala digunakan untuk mengacu kepada kepercayaan terhadap adanya Tuhan dan dewa/dewi secara umum, contohnya monoteisme dan politeisme. [31] [32] Deisme mengajarkan bahwa Tuhan sukar dipahami oleh akal manusia.

Menurut penganut deisme, Tuhan itu ada, tetapi tidak ikut campur dalam urusan kejadian di dunia setelah Ia selesai menciptakan alam semesta. [30] Menurut pandangan ini, Tuhan tidak memiliki sifat-sifat kemanusiaan, tidak serta-merta menjawab doa umat-Nya dan tidak menunjukkan mukjizat. Secara umum, deisme meyakini bahwa Tuhan memberi kebebasan kepada manusia dan tidak mau tahu mengenai apa yang diperbuat manusia. Dua cabang deisme, pandeisme dan panendeisme mengkombinasikan deisme dengan panteisme dan panenteisme.

[15] [33] [34] Pandeisme dimaksudkan untuk menjelaskan mengapa Tuhan menciptakan alam semesta kemudian mengabaikannya, [35] sebagaimana panteisme menjelaskan asal mula dan maksud keberadaan alam semesta. [35] [36] Panteisme mengajarkan bahwa Tuhan adalah alam semesta dan alam semesta itu Tuhan, sedangkan panenteisme menyatakan bahwa Tuhan meliputi alam semesta, tetapi alam semesta bukanlah Tuhan.

Konsep ini merupakan pandangan dalam ajaran Gereja Katolik Liberal, Theosophy, beberapa mazhab agama Hindu, Sikhisme, beberapa divisi Neopaganisme dan Taoisme.

Kabbalah, mistisisme Yahudi, melukiskan pandangan Tuhan yang panteistis/panenteistis—yang diterima secara luas oleh aliran Yahudi Hasidik, khususnya dari pendiri mereka, Baal Shem Tov—namun hanya sebagai tambahan terhadap pandangan Yahudi mengenai Tuhan personal, tidak dalam pandangan panteistis murni yang menolak batas-batas persona Tuhan. Konsep ketuhanan lainnya [ sunting - sunting sumber ] Disteisme, yang terkait dengan teodisi, adalah bentuk teisme yang mengajarkan bahwa Tuhan tidak sepenuhnya baik namun juga tidak sepenuhnya jahat sebagai konsekuensi adanya masalah kejahatan.

Salah satu contoh aplikasi pandangan ini berasal dari kisah karya Dostoevsky, Karamazov Bersaudara. [37] Pada masa kini, beberapa konsep yang lebih abstrak telah dikembangkan, misalnya teologi proses dan teisme terbuka.

Filsuf Prancis kontemporer Michel Henry menyatakan suatu pendekatan fenomenologi dan pengertian Tuhan sebagai esensi fenomenologis dari kehidupan. [38] Tuhan juga diyakini sebagai zat yang tak berwujud, sesuatu yang berkepribadian, sumber segala kewajiban moral, dan "hal terbesar yang dapat direnungkan". [1] Atribut-atribut tersebut diakui oleh teolog Yahudi, Kristen awal, dan muslim, yang terkemuka di antaranya adalah: Maimonides, [39] Agustinus dari Hippo, [39] dan Al-Ghazali.

[2] Keberadaan Tuhan [ sunting - sunting sumber ] Ada banyak persoalan filosofis mengenai keberadaan Tuhan. Beberapa definisi Tuhan tidak bersifat spesifik, sementara yang lainnya menguraikan sifat-sifat yang saling bertentangan.

Argumen tentang keberadaan Tuhan pada umumnya meliputi tipe metafisis, empiris, induktif, dan subjektif, sementara yang lainnya berkutat pada teori evolusioner, aturan, dan kompleksitas di dunia.

Pendapat yang menentang keberadaan Tuhan pada umumnya meliputi tipe empiris, deduktif, dan induktif. Ada banyak pendapat yang dikemukakan dalam usaha pembuktian keberadaan Tuhan. [40] Beberapa pendapat terkemuka adalah Quinque viae, argumen dari keinginan yang dikemukakan oleh C.S.

Lewis, dan argumen ontologis yang dikemukakan oleh St. Anselmus dan Descartes. [41] Bukti-bukti tersebut diperdebatkan dengan sengit, bahkan di antara para penganut teisme sekalipun.

Beberapa di antaranya, misalnya argumen ontologis, masih sangat kontroversial di kalangan penganut teisme. Aquinas menulis risalah tentang Tuhan untuk menyangkal bukti-bukti yang diajukan Anselmus. [42] Pendekatan yang dilakukan Anselmus adalah untuk mendefinisikan Tuhan sebagai "tidak ada yang lebih besar daripada-Nya untuk bisa direnungkan".

Filsuf panteis Baruch Spinoza membawa gagasan tersebut lebih ekstrem: "Melalui Tuhan aku memahami sesuatu yang mutlak tak terbatas, yaitu, suatu zat yang mengandung atribut-atribut tak terbatas, masing-masing menyiratkan esensi yang kekal dan tidak terbatas". Bagi Spinoza, seluruh alam semesta terbuat dari satu zat, yaitu Tuhan, atau padanannya, yaitu alam.

[43] Bukti keberadaan Tuhan yang diajukannya merupakan variasi dari argumen ontologis. [44] Fisikawan kondang, Stephen Hawking, dan penulis Leonard Mlodinow menyatakan dalam buku mereka, The Grand Design, bahwa merupakan hal yang wajar untuk mencari tahu siapa atau apa yang membentuk alam semesta, tetapi bila jawabannya adalah Tuhan, maka pertanyaannya berbalik menjadi siapa atau apa yang menciptakan Tuhan.

Terkait pertanyaan ini, lumrah terdengar bahwa ada sesuatu yang tidak diciptakan dan tidak perlu pencipta, dan sesuatu itu disebut Tuhan. Hal ini dikenal sebagai argumen sebab pertama untuk mendukung keberadaan Tuhan. Akan tetapi, kedua penulis tersebut mengklaim bahwa pasti ada jawaban masuk akal secara ilmiah, tanpa mencampur keyakinan tentang hal-hal gaib. [45] Beberapa teolog, misalnya ilmuwan sekaligus teolog A.E.

McGrath, berpendapat bahwa keberadaan Tuhan bukanlah pertanyaan yang bisa dijawab dengan metode ilmiah. [46] [47] Agnostik Stephen Jay Gould berpendapat bahwa ilmu pengetahuan dan agama tidak bertentangan dan tidak saling menjatuhkan. [48] Beberapa kesimpulan yang diperoleh dari berbagai argumen yang mendukung dan menentang keberadaan Tuhan adalah: "Tuhan tidak ada" ( ateisme kuat); "Tuhan hampir tidak ada" [49] ( ateisme de facto); "tidak jelas apakah Tuhan ada atau tidak" ( agnostisisme [50]); "Tuhan ada, tetapi tidak bisa dibuktikan atau dibantah ( teisme lemah); dan "Tuhan ada dan dapat dibuktikan" (teisme kuat).

Tuhan dalam sudut pandang nonteistis [ sunting - sunting sumber ] Menurut ajaran nonteisme, alam semesta dapat dijelaskan tanpa mengungkit hal-hal gaib atau sesuatu yang tak teramati. Beberapa nonteis menghindari konsep ketuhanan, sementara menurut yang lain, hal itu amat penting; nonteis lainnya memandang sosok Tuhan sebagai simbol nilai-nilai dan aspirasi manusia. Ateis asal Inggris, Charles Bradlaugh menyatakan bahwa ia menolak untuk berkata "Tuhan itu tidak ada", karena kata 'Tuhan' sendiri terdengar sebagai ungkapan untuk maksud yang tidak jelas atau tak nyata; secara lebih spesifik, ia berkata bahwa ia tidak meyakini Tuhan menurut agama Kristen.

[51] Stephen Jay Gould melakukan pendekatan dengan membagi dunia filosofi menjadi " non-overlapping magisteria" (NOMA). Menurut pandangan pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu, pertanyaan seputar hal-hal gaib/ supernatural, seperti halnya keberadaan dan sifat-sifat Tuhan, bersifat non-empiris dan lebih layak diulas dalam bidang teologi. Metode ilmiah seyogianya dipakai untuk menjawab pertanyaan mengenai dunia nyata, dan teologi dipakai untuk menjawab pertanyaan tentang tujuan sejati dan nilai-nilai moral.

Menurut pandangan ini, kurangnya bukti empiris tentang kekuatan supernatural terhadap kejadian alam, menyebabkan ilmu pengetahuan menjadi pilihan pokok dalam menjelaskan fenomena di dunia. [52] Menurut pandangan lainnya, yang dikembangkan oleh Richard Dawkins, dinyatakan bahwa keberadaan Tuhan adalah pertanyaan empiris, dengan alasan bahwa "alam semesta dengan tuhan akan sungguh berbeda dengan yang tanpa tuhan, dan itu tentu merupakan perbedaan ilmiah." [49] Carl Sagan berpendapat bahwa doktrin Pencipta Alam Semesta sulit dibuktikan maupun dibantahkan, dan penemuan ilmiah yang dapat menyangkal keberadaan Sang Pencipta tentu menjadi penemuan bahwa usia alam semesta tidak terbatas.

[53] Tuhan antropomorfis [ sunting - sunting sumber ] Pascal Boyer berpendapat bahwa dalam dunia yang dipenuhi oleh berbagai konsep seputar hal gaib yang berbeda-beda, secara umum, makhluk gaib tersebut cenderung bertindak selayaknya manusia. Penggambaran dewa-dewi dan makhluk gaib lainnya selayaknya manusia adalah ciri yang mudah dikenali dari suatu agama.

Sebagai contoh, mitologi Yunani, yang menurutnya cenderung menyerupai opera sabun masa kini daripada suatu sistem kepercayaan. [54] Bertrand du Castel dan Timothy Jurgensen mendemonstrasikan melalui formalisasi bahwa penjelasan Boyer cocok dengan epistemologi fisika dalam memosisikan entitas yang diamati sebagai intermedian tidak secara langsung.

[55] Antropolog Stewart Guthrie berpendapat bahwa masyarakat memproyeksikan ciri manusia kepada aspek-aspek non-manusia di dunia karena itu akan membuat aspek-aspek tersebut lebih familier. Sigmund Freud juga menyatakan bahwa konsep ketuhanan adalah proyeksi sosok ayah bagi seseorang.

[56] Émile Durkheim adalah salah seorang pertama yang menyatakan bahwa tuhan merepresentasikan ekstensi kehidupan sosial manusia untuk memasukkan unsur-unsur gaib. Mengimbangi pernyataan tersebut, psikolog Matt Rossano berpendapat bahwa ketika manusia mulai hidup dalam kelompok-kelompok yang lebih besar, mereka menciptakan sosok tuhan sebagai penegakan atas moralitas. Dalam kelompok yang lebih kecil, moralitas dapat dijaga dengan kekuatan sosial seperti penyebaran gosip atau penjagaan nama baik.

Akan tetapi, lebih sulit untuk menjaga moralitas dalam kelompok besar dengan menggunakan kekuatan sosial. Rossano menyatakan bahwa dengan menambahkan kepercayaan akan tuhan dan makhluk gaib yang mahatahu, maka manusia menemukan strategi efektif untuk mengendalikan keegoisan dan membangun kelompok yang lebih kooperatif.

[57] Persentase kepercayaan akan Tuhan [ sunting - sunting sumber ] Persentase populasi di negara-negara Eropa sebagai hasil survei tahun 2005 bahwa mereka "percaya akan Tuhan". Negara mayoritas Katolik Roma (e.g.: Polandia, Portugal), Gereja Ortodoks Timur ( Yunani, Romania, Siprus) atau Muslim ( Turki) cenderung menunjukkan persentase tinggi. Sampai tahun 2000, sekitar 53% populasi dunia teridentifikasi sebagai penganut salah satu dari tiga agama samawi terbesar (33% Kristen, 20% Islam, <1% Yahudi), 6% Buddhis, 13% umat Hindu, 6% penganut kepercayaan tradisional Tionghoa, 7% penganut agama lainnya, dan kurang dari 15% mengaku tak beragama.

Kebanyakan agama yang dianut mengandung kepercayaan akan Tuhan, roh, dewa-dewi, dan makhluk gaib. [58] Agama samawi selain Kristen, Islam, dan Yahudi meliputi agama Baha'i, Samaritanisme, Gerakan Rastafari, Yazidisme, dan Gereja Unifikasi.

Peran pada kemanusiaan [ sunting - sunting sumber ] Pemikiran mengenai peran Tuhan dalam keberadaan manusia di alam semesta telah dikembangkan oleh Giovanni Pico della Mirandola dan Marsilio Ficino.

Pico meyakini bahwa Tuhan telah memberikan kesadaran kepada manusia mengenai hakikat keberadaannya di alam semesta sebagai ketetapanNya. Berdasarkan kesadaran ini, manusia memiliki tanggung jawab atas kehidupan yang diberikan kepadanya oleh Tuhan. Sedangkan Ficino berpendapat bahwa manusia merupakan makhluk rasional.

Tuhan berperan membimbing manusia di dalam kehidupannya. Tanpa keberadaan Tuhan, manusia tidak dapat melakukan perbaikan apapun pada dirinya sendiri. [59] Lihat pula [ sunting - sunting sumber ] Portal Agama • Agama • Ateisme • Dewa • Mistisisme • Tuhan dalam agama Buddha • Lord • ^ pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu b c swinburne, R.G. (1995), "God", dalam Honderich, Ted, The Oxford Companion to Philosophy, Oxford: Oxford University Press • ^ a b Platinga, Alvin (2000), "God, Arguments for the Existence of", Routledge Encyclopedia of Philosophy, Routledge • ^ Lichtheim, M.

(1980), Ancient Egyptian Literature, 2, hlm. 96 • ^ Assmann, Jan (2005), Religion and Cultural Memory: Ten Studies, hlm. 59 Parameter -publiher= yang tidak diketahui mengabaikan ( -penerbit= yang disarankan) ( bantuan) • ^ Sigmund, Freud (1939), Moses and Monotheism: Three Essays • ^ Stent, Gunther Siegmund (2002), Paradoxes of Free Will, DIANE, hlm. 34–38, ISBN 0-87169-926-5 • ^ Assmann, Jan (1997), Moses the Egyptian: The Memory of Egypt in Western Monotheism, Harvard University Press, ISBN 0-674-58739-1 • ^ Shupak, N.

(1995), The Monotheism of Moses and the Monotheism of Akhenaten, Sevivot • ^ Albright, William F. (Mei 1973), The Biblical Archaeologist, 36, No. 2, hlm. 48–76, doi: 10.2307/3211050 • ^ Levine, Michael P. (2002), Pantheism: A Non-Theistic Concept of Deity, hlm. 136 • ^ Watanabe, Joyce (2006), "Baháʾuʾlláh", A Feast for the Soul: Meditations on the Attributes of God, hlm. x • ^ Duggal, Kartar Singh (1988), Philosophy and Faith of Sikhism, hlm. ix • ^ Kidder, David S.; Oppenheim, Noah D., The Intellectual Devotional: Revive Your Mind, Complete Your Education, and Roam Confidently With the Cultured Class, hlm.

364 • ^ Raphael Lataster (2013). There was no Jesus, there is no God: A Scholarly Examination of the Scientific, Historical, and Philosophical Evidence & Arguments for Monotheism. hlm. 165. ISBN 1492234419. • ^ a b Alan H. Pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu (2011). The God Franchise: A Theory of Everything.

hlm. 48. ISBN 0473201143. • ^ Hick, John; Hebblethwaite, Brian (1980), Christianity and Other Religions, hlm. 178 • ^ Heuken, Adolf (1976), Ensiklopedi Populer Gereja • ^ "Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan". Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Republik Indonesia.

Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-05-27. Diakses tanggal 2013-08-15. • ^ a b Sylado, Remy, Asal kata Tuhan • ^ (Belanda) Luk 1:46 (Pujian Maria) terjemahan Leydekker/Leijdecker • ^ Tuhan, hasil pencarian alkitab.sabda.org • ^ Misalnya dalam bahasa Inggris Lord Holman Illustrated Bible Dictionary. Nashville, TN: Holman Bible Publishers.

2003. hlm. 1046. ISBN 0-8054-2836-4. • ^ Catatan Full Life Study Bible: Kejadian 2:4 • ^ 'Ar-Rabb, Yang Maha Mengatur dan Menguasai Alam Semesta, Muslim.Or.Id [ pranala nonaktif permanen] • ^ Tuhan, hasil pencarian www.dudung.net • ^ Kasno (2018). Salsabila, Intan, ed. Filsafat Agama (PDF).

Surabaya: Alpha. hlm. 33. ISBN 978-602-6681-18-8. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Bhaskarananda, Swami (2002), Essentials of Hinduism, Viveka Press, ISBN 1-884852-04-1 • ^ "Sri Guru Granth Sahib", Sri Granth, Srigranth.orgdiakses tanggal 30 Juni 2011 • ^ a b Smart, Jack (2003).

Atheism and Theism. Blackwell Publishing. hlm. 8. ISBN 0-631-23259-1. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan) • ^ a b Lemos, Ramon M. (2001). A Neomedieval Essay in Philosophical Theology.

Lexington Books. hlm. 34. ISBN 0-7391-0250-8. • ^ "Philosophy of Religion.info – Glossary – Theism, Atheism, and Agonisticism". Philosophy of Religion.info. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2008-04-24. Diakses tanggal 2008-07-16. • ^ "Theism – definition of theism by the Free Online Dictionary, Thesaurus and Encyclopedia".

TheFreeDictionary. Diakses tanggal 2008-07-16. • ^ Sean F. Johnston (2009). The History of Science: A Beginner's Guide. hlm. 90. ISBN 1-85168-681-9. • ^ Paul Bradley (2011).

This Strange Eventful History: A Philosophy of Meaning. hlm. 156. ISBN 0875868762. • ^ a b Allan R. Fuller (2010). Thought: The Only Reality. hlm. 79. ISBN 1608445909. • ^ Peter C. Rogers (2009). Ultimate Truth, Book 1. hlm.

121. ISBN 1438979681. • ^ Dostoyevsky, Fyodor, "The Brothers Karamazov", The Project Gutenberg EBook, Gutenberg.org, hlm. 259–261 • ^ Henry, Michel (2003). I Am the Truth. Toward a Philosophy of Christianity. Translated by Susan Emanuel. Stanford University Press. ISBN 0-8047-3780-0. • ^ a b Edwards, Paul (1995), "God and the Philosophers", dalam Honderich, Ted, The Oxford Companion to Philosophy, Oxford University Press, ISBN 978-1-61592-446-2 • ^ Aquinas, Thomas (1990).

Kreeft, Peter, ed. Summa of the Summa. Ignatius Press. hlm. 63. • ^ Aquinas, Thomas (1990). Kreeft, Peter, ed. Summa of the Summa. Ignatius Press. hlm. 65–69. • ^ Aquinas, Thomas (1274). Summa Theologica. Part 1, Question 2, Article 3. • ^ Curley, Edwin M.

(1985). The Collected Works of Spinoza. Princeton University Press. ISBN 978-0-691-07222-7. • ^ Nadler, Steven, "Baruch Spinoza", dalam Edward N. Zalta, The Stanford Encyclopedia of Philosophy (edisi ke-Musim Gugur 2012) • ^ Stephen Hawking (2010). The Grand Design. Bantam Books. hlm. 172. ISBN 978-0-553-80537-6. Parameter -coauthor= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan) • ^ Alister E.

McGrath (2005). Dawkins' God: genes, memes, and the meaning of life. Wiley-Blackwell. ISBN 978-1-4051-2539-0. • ^ Floyd H. Barackman (2001). Practical Christian Theology: Examining the Great Doctrines of the Faith. Kregel Academic. ISBN 978-0-8254-2380-2.

• ^ Gould, Stephen J. (1998). Leonardo's Mountain of Clams and the Diet of Worms. Jonathan Cape. hlm. 274. ISBN 0-224-05043-5. • ^ a b Dawkins, Richard. "Why There Almost Certainly Is No God". The Huffington Post.

Diakses tanggal 2007-01-10. • ^ Dixon, Thomas (2008). Science and Religion: A Very Short Introduction. Oxford: Oxford University Press. hlm. 63. ISBN 978-0-19-929551-7. • ^ Iconoclast (1876), A Plea for Atheism, London: Austin & Co., hlm. 2 • ^ Dawkins, Richard (2006). The God Delusion.

Great Britain: Bantam Press. ISBN 0-618-68000-4. • ^ Sagan, Carl (1996). The Demon Haunted World p.278. New York: Ballantine Books. ISBN 0-345-40946-9. • ^ Boyer, Pascal (2001). Religion Explained. New York: Basic Books.

hlm. 142–243. ISBN 0-465-00696-5. • ^ du Castel, Bertrand (2008). Computer Theology. Austin, Texas: Midori Press. hlm. 221–222. ISBN 0-9801821-1-5. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan) • ^ Barrett, Justin (1996). "Conceptualizing a Nonnatural Entity: Anthropomorphism in God Concepts" (PDF).

• ^ Rossano, Matt (2007). "Supernaturalizing Social Life: Religion and the Evolution of Human Cooperation" (PDF). Diakses tanggal 2009-06-25. • ^ National Geographic Family Reference Atlas of the World p.

49 • ^ Faza, Abrar M. Dawud (2010). Harahap, Ahmad Gozali, ed. Perspektif Sufistik Ali Shariati dalam Puisi "One Followed by Eternity of Zeroes” (PDF). Medan: Penerbit Panjiaswaja Press. hlm. 6–7. ISBN 978-602-96654-2-0. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) Pranala luar [ sunting - sunting sumber ] Wikiquote memiliki koleksi kutipan yang berkaitan dengan: Tuhan. Wikimedia Commons memiliki media mengenai Tuhan. • (Inggris) Konsep Tuhan dalam agama Yahudi • (Inggris) Konsep Tuhan dalam Kekristenan • (Inggris) Konsep Tuhan dalam Islam Diarsipkan 2019-04-21 di Wayback Machine.

• (Inggris) Konsep Tuhan dalam agama Hindu • (Inggris) Konsep Tuhan menurut agama Buddha klasik [ pranala nonaktif permanen] • (Inggris) Pandangan mistis tentang Tuhan • (Inggris) Hubungan antara Tuhan dengan jagat raya Abrahamisme · Akosmisme · Agnostisisme · Animisme · Antiagama · Ateisme · Dharmisme · Deisme · Dualisme · Esoterikisme · Teologi feminis · Gnostisisme · Henoteisme · Humanisme · Immanenke · Monisme · Monoteisme · Mistisisme · Naturalisme · Nondualisme · Pandeisme · Panteisme · Politeisme · Teologi Proses · Syamanisme · Taois · Teisme · Transenden · Zaman Baru Dewa ( Ketuhanan · Numen · Laki · Wanita) · Allah · Tuhan tunggal ( Eksistensi · Gender) · Binitarianisme · Deisme · Disteisme · Henoteisme · Kathenoteisme · Nonteisme · Monolatrisme · Monoteisme · Mistisisme · Panenteisme · Pandeisme · Panteisme · Polideisme · Politeisme · Spiritualisme · Teopanisme Kategori tersembunyi: • Halaman dengan argumen ganda di pemanggilan templat • Halaman dengan rujukan yang menggunakan parameter yang tidak didukung • Artikel dengan pranala luar nonaktif • Artikel dengan pranala luar nonaktif permanen • Halaman yang menggunakan multiple image dengan pengubahan ukuran gambar otomatis • Pranala kategori Commons ada di Wikidata • Templat webarchive tautan wayback • Artikel Wikipedia dengan penanda GND • Artikel Wikipedia dengan penanda BNF • Artikel Wikipedia dengan penanda LCCN • Artikel Wikipedia dengan penanda MA • Pendidikan dan agama merupakan contoh kebutuhan manusia menurut sifatnya yaitu ini terakhir diubah pada 11 April 2022, pukul 10.00.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •

KELANGKAAN SUMBER DAYA DAN KEBUTUHAN MANUSIA




2022 www.videocon.com