Singkatan ppkm covid

singkatan ppkm covid

Solopos.com, KUDUS — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus terus berupaya menggenjot program vaksinasi Singkatan ppkm covid dengan menggelar vaksinasi malam hari. Sasaran vaksinasi malam hari di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah (Jateng), tak lain adalah jemaah salat tarawih di masjid-masjid. “Masjid yang menjadi sasaran vaksinasi Covid-19, disesuaikan jumlah tenaga vaksin [vaksinator] di masing-masing kecamatan. Semakin banyak vaksinator, tentu banyak masjid yang disasar,” ujar Bupati Kudus, Hartopo, Senin (11/4/2022).

Promosi Chanee Kalaweit, Bule Prancis Beli Hutan Kalimantan untuk Dilestarikan Ia berharap dengan adanya vaksinasi malam hari, Kabupaten Kudus bisa meningkatkan capaian vaksinasi agar bisa menurunkan level penerapan PPKM Covid-19 menjadi level satu dari level dua. Baca juga: Polres Boyolali Gelar Vaksinasi Malam Hari, Begini Cara Mendaftar Untuk bisa turun ke level satu, kata dia, pemerintah menerapkan persyaratan, salah satunya vaksinasi kelompok lanjut usia (lansia) yang harus mencapai 60%.

Hasil pantauan di sejumlah masjid di Kudus yang menggelar vaksinasi malam hari, kata dia, masyarakat cukup antusias. Meski demikian, Hartopo terus mengingatkan masyarakat agar segera melakukan vaksinasi bagi yang belum. Baik vaksin dosis pertama, kedua, atau penguat alias booster. Pelaksana harian Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Andini Aridewi, menambahkan capaian vaksinasi dosis pertama hingga 11 April 2022 mencapai 94,55 persen atau 625.674 orang dari total target sasaran sebanyak 661.727 orang.

Baca juga: Dianggap Unik, Kopiah Rusia Buatan Warga Kudus Ini Banjir Pesanan Sementara vaksinasi dosis kedua, singkatan ppkm covid dia, sebesar 82,98 persen atau 549.108 orang.

Sedangkan suntikan dosis ketiga hingga pekan ini mencapai 139.768 orang atau 21,12 persen. Dari sejumlah kelompok sasaran, dia mengakui, capaian yang masih rendah dari kelompok lanjut usia (lansia) karena untuk dosis pertama baru mencapai 74,12 persen dan dosis keduanya sebesar 55,93 persen dari sasaran 71.098 orang Tahun ajaran 2021/2022 ternyata meleset dari rencana kita semua, ya?

Padahal sejak awal tahun ini Mas Mendikbudristek Nadiem Makarim “ngegas” untuk menggelar pembelajaran tatap muka. Tapi… Kritik dan Saran Pembelajaran Online.

Dok. Gurupenyemangat.com Apalah daya. Corona di Indonesia semakin menggila sehingga pembelajaran online terpaksa harus dipilih sebagai opsi terbaik.

Di tengah hadirnya sistem PPKM darurat dan PPKM mikro, hadir pula segenggam kritik serta omelan terhadap singkatan tersebut.

Bahkan, bukan lagi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat, singkatan PPKM malah singkatan ppkm covid plesetan yang lucu, menghibur, serta menyindir. Selengkapnya bisa simak di: Singkatan PPKM Lucu Rasanya hal tersebut tidak jauh berbeda dengan pembelajaran daring. Katanya saja seru, katanya saja asyik belajar dengan teknologi, tapi nyatanya?

Jenuh, suntuk, bosan, bahkan melelahkan. Sistem pembelajaran online penuh dengan kritik serta mendulang banyak saran baik untuk guru, dosen, siswa, hingga wali murid di singkatan ppkm covid. Berikut ini kita hadirkan contohnya: 15 Contoh Kritik dan Saran Pembelajaran Online Tahun 2022 Tanggal 2 Maret 2020 menjadi cikal bakal eksistensi corona sekaligus awal mula diterapkannya sistem pembelajaran daring.

Waktu itu, Pak Jokowi mengumumkan adanya WNI yang terkonfirmasi positif Covid-19. Sesaat kemudian, keluarlah surat edaran Mendikbud sekaligus mengajak pembelajar di Bumi Pertiwi menutup sekolah untuk pertama kalinya sepanjang sejarah. Bakal penuh kritik, kan? Tentu saja. Di sini Gurupenyemangat.com bakal menyajikan total 15 contoh kritik sekaligus saran terhadap sistem pembelajaran daring (online) tahun 2022.

1. Guru Masih Setengah Hati dalam Beradaptasi dengan Teknologi Benar. Tidak semua guru bisa cepat dalam beradaptasi menggunakan media pembelajaran online. Selama kegiatan PJJ, banyak pula guru yang masih belum serius untuk belajar menggunakan aplikasi Zoom, Google Classroom, Powtoon, akun belajar.id, dan berbagai pilihan aplikasi belajar lainnya. Terkadang begini; guru yang sudah merasa senior lebih mendahulukan bahkan menyerahkan adaptasi teknologi kepada guru-guru muda.

Akhirnya, guru muda malah yang terpontang-panting. Lebih dari itu, terkadang pula kegiatan pelatihan online yang selama ini digelar tidak tepat sasaran dan susah untuk diimplementasikan. Ya, itu karena hanya berorientasi kepada sertifikat semata.

Saran untuk Guru dalam Pembelajaran Online: Tetap jadilah pembelajar sepanjang hayat.

singkatan ppkm covid

Guru perlu menyadari bahwa dirinya wajib meningkatkan kompetensi terutama untuk memudahkan implementasi pembelajaran daring. Baca di sini: 9 Kompetensi Utama yang Wajib Dimiliki Guru Abad 21 Dalam mengikuti seminar, workshop, serta pelatihan lainnya diharapkan lebih care dengan materi sekaligus implementasi. Sertifikat hanyalah sebatas apresiasi atau hadiah. 2. Tugas yang Diberikan kepada Siswa Terlalu Menumpuk Tugas yang Diberikan kepada Siswa Terlalu Menumpuk.

singkatan ppkm covid

Dok. Gurupenyemangat.com Nah. Inilah yang sering kali menjadi problem utama. Kita bisa berkaca dengan survei KPAI pada tengah tahun 2020 kemarin. Dari total 1.700 responden, direngkuh sebanyak 77,8% siswa mengeluh atas tugas yang menumpuk antarguru. Sedangkan 37,1% siswa mengkritik waktu pengumpulan tugas yang singkat.

Saran untuk Guru yang Memberikan Tugas Menumpuk Ketika Pembelajaran Daring: Guru perlu saling berkoordinasi dengan rekan sesama pengajar. Tugas yang terlampau banyak bakal menjadikan siswa semakin terbebani bahkan stres. Boleh Baca: Contoh Kritik dan Saran Kuliah Online 3. Mahalnya Biaya Kuota Internet Dari sejak lama, kita semua mungkin menyadari bahwa PJJ itu menghabiskan banyak kuota. Singkatan ppkm covid masalahnya sama, bahwa semakin kencang speed internet, semakin mahal pula biaya yang diterapkan oleh provider-nya.

singkatan ppkm covid

Benar bahwa pemerintah sudah menghadirkan kuota gratis, tapi tetap saja bantuan itu masih belum cukup. Saran: Guru sebaiknya singkatan ppkm covid selalu menggunakan media pembelajaran online yang bakal menghabiskan banyak kuota seperti Zoom, Google Meet, dan YouTube.

Gunakan pula media online lain atau diseiramakan dengan sistem pembelajaran guru kunjung. 4. Susahnya Mendapatkan Sinyal Internet Hemm. Untuk hal yang satu ini rasanya sudah menjadi masalah besar nan akut.

Terang saja, banyak pemberitaan miris yang kita temui di berbagai media arus utama. Mulai dari siswa yang panjat pohon, menumpang di warung kopi, menaiki bukit, hingga sedih gegara tak mendapatkan sinyal untuk keperluan belajar daring. Saran: Ciptakanlah pembelajaran yang “adil”, yaitu pembelajaran yang menyesuaikan dengan kebutuhan dan kesanggupan siswa.

Jika tak semua siswa bisa belajar online, maka hadirkan blended learning atau pun terapkan pula sistem luring. Panduannya bisa dibaca di: Pedekate dengan Blended Learning dan Manfaatnya 5. Sistem Pembelajaran Online hanya Memindahkan Tugas ke Media Digital Masih banyak kita temui kasus yang seperti ini di lapangan. Bahwa beberapa guru masih sering hanya memotret tugas dari buku siswa, kemudian membagikannya via Whatsapp maupun Messenger.

Kita sedih dengan hal tersebut, singkatan ppkm covid lagi ketika jawabannya sudah tersedia di Google seperti di Brainly. Saran Perbaikan untuk Guru dalam Sistem Pembelajaran Online: Hadirkanlah soal atau tugas yang Higher Order Thinking Skills (HOTS) agar siswa mau berpikir kritis, sintesis, analitis, dan evaluatif. Jika soal dan tugas hanya memindahkan dari buku paket, maka Google pasti lebih pintar.

singkatan ppkm covid

6. Siswa Belum Sepenuhnya Mampu Belajar Mandiri Jangankan siswa, sebenarnya masih banyak orang yang terpontang-panting dalam melaksanakan kegiatan belajar mandiri. Susah! Siswa kesulitan dalam mengontrol waktu, memanajemen pengerjaan tugas, serta konsisten untuk belajar online secara rutin.

Dengan demikian, saran yang perlu dipertimbangkan adalah; orang tua dan guru wajib membimbing siswa bahkan menemani mereka untuk belajar online serta belajar daring dari rumah. Boleh Baca: Cara Belajar Efektif dan Efisien di Rumah maupun di Sekolah 7. Orang Tua Kurang Sabar dalam Membimbing Siswa Sabar itu memang susah, apalagi ketika kita berkisah tentang kegiatan pembimbingan dari orang tua di rumah. Orang tua mungkin kaget karena sistem PJJ belum pernah ada di masa mereka.

Maka dari itu, diharapkan betul bagi orang tua agar lebih pengertian, lebih sabar, dan mau belajar singkatan ppkm covid dalam membimbing siswa. 8. Minimnya Variasi Metode Ajar dari Guru Belajar via Google Classroom, YouTube, hingga Zoom itu bisa dibilang sebagai metode pembelajaran yang kreatif? Belum tentu. Kita harus lirik pula bagaimana tekniknya. Jika teknik guru hanyalah membagikan link YouTube dan videonya pun didapat dari orang lain tanpa ada panduan pembelajaran, itu singkatan ppkm covid saja.

Belum bisa dikatakan kreatif. Tambah lagi singkatan ppkm covid banyak terdengar berita bahwa siswa menderita kebosanan selama belajar online.

Dengan demikian, perlu dihadirkan variasi metode mengajar. Beda jenjang kelas, beda pula metode mengajar. Bahkan, metode mengajar yang sama untuk jenjang kelas yang sama belum tentu menghasilkan derajat keefektifan yang sama. 9. Penyaluran Kuota Internet yang Terkesan Tidak Adil Mengapa dikatakan tidak adil? Karena di sebaik euforia pembelajaran daring, masih banyak pula siswa dan guru yang pontang-panting menerapkan pembelajaran luring.

Ada dari mereka yang bisa menerapkan pembelajaran daring, namun terkendala karena tidak pernah mendapat asupan kuota. Saran perbaikan untuk sistem pemberian kuota internet: Pemerintah jangan sepenuhnya menyerahkan kewajiban kepada sekolah dan operator. Koordinasi kepada disdik daerah juga perlu dirutinkan. Pun demikian dengan para pengawas.

Semestinya masalah pemberian “kuota” yang belum adil bisa jadi pembahasan utama di meja rapat dinas pendidikan. 10. Mas Mendikbud Jarang Melirik Sekolah 3T yang Menerapkan Sistem Sekolah Luring Gurupenyemangat.com ingat betul bahwa di awal-awal pemerintahannya, Mas Nadiem pernah menjanjikan akan menyalurkan gadget dan laptop ke sekolah 3T.

Sekarang, entah mengapa berita itu tak terdengar lagi. Perlu diketahui, sekolah 3T sampai saat ini masih banyak yang kekurangan buku ajar, buku paket siswa, dan fasilitas pembelajaran utama lainnya.

Hal ini semestinya menjadi ladang perbaikan bagi para pemangku kebijakan pendidikan agar lebih peduli. Jika tidak? Maka kesenjangan pendidikan pusat dan daerah akan semakin menganga. 11. Siswa Jenuh, Stres, Serta Menderita “Sakit” Secara Psikososial Mengapa kok begitu?

Iya, sejak belajar daring alias belajar online dari rumah, kegiatan sosial mereka jadi berkurang. Siswa jarang bertemu banyak orang, siswa jarang menyapa rekan dan sahabatnya secara tatap muka, bahkan siswa lebih sering pedekate dengan media digital. Lama-lama dibiarkan, siswa bakal menderita “sakit” secara psikososial.

Maka dari itu, saran yang bisa ditempuh untuk meminimalkannya ialah dengan menerapkan sistem pembelajaran tatap muka. Jika tidak bisa, maka pembelajaran online yang kreatif, aktif, efektif, bermakna, dan menyenangkan perlu terus dihadirkan.

singkatan ppkm covid

12. Beberapa Daerah di Indonesia Sering Mati Lampu Hal ini kerap kali menjadi masalah utama dalam pembelajaran dari rumah, terutama melalui televisi. Maka dari itulah pembelajaran via TVRI tidak selalu mendulang efektif. Siswa hanya belajar secara satu arah, dan ketika mati lampu, maka semuanya selesai. Solusi perbaikan yang rasanya bisa ditempuh adalah dengan menerapkan sistem guru kunjung, menggelar pembelajaran secara berkelompok sembari pemerintah mempercepat pemberian akses layanan listrik yang merata.

13. Tidak Semua Siswa Punya Gadget Dalam aktivitas belajar online di rumah, perlu kita singkatan ppkm covid bersama bahwa tidak semua siswa punya ponsel pintar. Sedihnya, kadang orang tua rela pinjam uang serta memeras keringat lebih banyak demi bisa membelikan smartphone. Kadang pula, siswa rela meminjam smartphone atau berbagi penggunaan gadget dengan rekannya. Akibatnya? Jelas derajat pembelajaran online semakin tidak efektif.

Dua saran yang kiranya bisa segera diwujudkan adalah bantuan pemberian gadget, atau jika tidak begitu, maka hadirkanlah sistem pembelajaran lain yang singkatan ppkm covid menggunakan smartphone. 14.

singkatan ppkm covid

Banyak Siswa yang “Sengaja” Tidak Mengumpulkan Tugas Iya, banyak sekali malahan. Bahkan ada siswa yang tidak naik kelas akibat terlampau malas mengerjakan tugas. Hal tersebut bisa disebabkan oleh beberapa faktor mulai dari kurangnya perhatian belajar, menumpuknya tugas, serta susahnya siswa dalam memanajemen waktu pengerjaan tugas.

Syahdan, bagaimana saran perbaikannya? Guru perlu lebih perhatian, orang tua perlu lebih sering memperhatikan geliat siswa di rumah, dan baik guru maupun orang tua perlu bersama-sama berkolaborasi untuk menghadirkan suasana rumah yang mendidik.

15. Sulitnya Menumbuhkan Karakter di era Pembelajaran Online Semakin bertambah tahun, rasanya kita sama-sama menyadari bahwa kegiatan penumbuhan karakter menjadi tantangan besar. Hal ini menjadi kritik yang luar biasa penting.

singkatan ppkm covid

Tidak terkecuali di era pandemi. Sekarang ini malah banyak siswa yang dengan mudahnya melemparkan kata-kata kotor, sedangkan ucapan minta tolong, minta maaf, dan terima kasih banyak dikesampingkan. Kita sedih, karena semua itu adalah cerminan karakter alias profil pelajar Pancasila. Nah, bagaimana saran terbaik? Lagi-lagi orang tua menjadi subjek kunci. Sedangkan untuk guru, mereka perlu menghadirkan tugas yang lebih mengarah kepada perwujudan perilaku dan sikap, bukan malah sekadar aspek kognitif.

*** Pada akhirnya, selalu ada kritik dan saran untuk sebuah sistem pembelajaran yang baru.

singkatan ppkm covid

Hal tersebut sungguh tiadalah mengapa. Bukannya kita benci dan kesal, melainkan inilah bentuk kepedulian bersama untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.

singkatan ppkm covid

Kita cukup sedih dengan statistik PISA yang mengarah kepada rendahnya tingkat literasi pembelajar di Indonesia. Alhasil, kompetensi pembelajar di tahun 2022 dan seterusnya perlu lebih ditingkatkan, dibiasakan, diperjuangan, diadaptasikan, dan diperhatikan secara lebih serius.

Salam. Lanjut Baca: • 👉 Ragam Kekurangan dan Kendala Belajar Online di Rumah Selama Pandemi [Didukung dengan Data, Fakta, dan Fenomena di Lapangan] • 👉 33 Contoh Pertanyaan Tentang Pembelajaran Daring Beserta Jawabannya Berkomentarlah sesuai dengan postingan artikel. Mohon maaf, link aktif di kolom komentar tidak akan disetujui. Diperbolehkan mengutip tulisan di blog Guru Penyemangat tidak lebih dari 30% dari keseluruhan isi (1) artikel dengan syarat menyertakan sumber.

Mari bersama-sama kita belajar menghargai karya orang lain :-)
KOMPAS.com - KKB adalah singkatan dari kelompok kriminal bersenjata, yaitu suatu kelompok di wilayah Papua yang menebar teror baik kepada warga sipil maupun TNI dan Polri. Sebelumnya KKB Papua melakukan pembantaian yang menewaskan delapan pekerja jaringan telekomunikasi PT Palapa Timur Telematika (PTT) pada Rabu (2/3/2022). Saat kejadian para korban tengah memperbaiki tower Base Transceiver Station (BTS) 3 Telkomsel, di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Papua.

Nelson Sarira, seorang korban selamat dari peristiwa pembantaian KKB Papu tersebut berhasil dievakuasi menggunakan helikopter oleh Tim Satgas Damai Cartenz, pada Sabtu (5/3/2022). Baca juga: Serangan KKB di Distrik Beoga Papua, Tewaskan 8 Pekerja dan Lukai 1 Prajurit TNI Apa itu KKB Papua? Melansir laman dpr.go.id, diketahui sebelumnya KKB Papua bernama Organisasi Papua Merdeka (OPM). Dalam kegiatannya OPM selalu menyuarakan soal referendum agar Papua bisa merdeka dan berdiri sendiri.

Terkait hal itu, Pemerintah lalu berinisiatif untuk membentuk Otonomi Khusus (Otsus) bagi Papua dengan anggaran besar. Namun anggaran ini hanya dinikmati oleh kaum elit dan tidak terserap ke masyarakat. Hal ini lalu memunculkan gerakan perlawanan yang lebih masif dengan melakukan berbagai kegiatan kriminal.

Perubahan istilah OPM ke KKB tersebut juga dimaksudkan untuk mengubah paradigma penanganan kaum separatis di Papua. Bila ada salah satu kelompok KKB Papua ini tertangkap maka mereka akan ditahan karena alasan kriminalitas. Walau begitu, OPM berbeda dengan KKB Papua, di mana saat ini teror disebarkan dengan berbekal persenjataan lengkap dan mutakhir sehingga lebih sulit dikendalikan. Baca juga: Siapa KKB Papua dan Apa Tujuannya? Apa tujuan KKB Papua? Melansir laman kemhan.go.id, Menteri Pertahanan RI di Kabinet Kerja saat itu Ryamizard Ryacudu pernah mengungkap tujuan KKB Papua.

Menurut Ryamizard, KKB Papua adalah kelompok yang ingin Papua melepaskan diri dari NKRI. Oleh karena itu, menurutnya kelompok tersebut sudah bisa disebut sebagai gerakan separatis.

“KKB sudah menjadi kelompok separatis yang mengancam keutuhan negara,” kata dia usai menghadiri ceramah bela negara di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jumat (15/03/2019) Baca juga: 4 Fakta Prajurit TNI Diserang KKB di Nduga, Terjadi Saat Istirahat hingga 1 Orang Gugur Wilayah Rawan KKB Papua Melansir laman Kompas.com (11/08/2021), Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) beraksi di kawasan pegunungan di Papua.

Beberapa kabupaten yang hingga kini masih rawan dari aksi KKB Papua adalah Puncak, Yahukimo, Nduga dan Intan Jaya. Sementara ada lima kelompok besar KKB Papua yang telah dipetakan dengan para pemimpinnya yaitu Lekagak Telenggen, Egianus Kogoya, Jhony Botak, Demianus Magai Yogi, dan Singkatan ppkm covid Waker.

Dari kelima kelompok tersebut, dua diantaranya disebut KKB paling berbahaya di Papua yaitu Lekagak Telenggen dan Egianus Kogoya. Satgas Damai Carstensz Satgas Nemangkawi dikenal sebagai tim gabungan TNI-Polri yang bertugas menangani situasi keamanan di wilayah Papua. Namun di tahun ini, namanya kemudian diganti menjadi operasi Damai Cartenz 2022. Perbedaannya adalah operasi ini akan mengutamakan cara persuasif dan preventif untuk mengatasi KKB Papua.

Operasi Damai Cartenz 2022 mengedepankan tiga fungsi, yaitu fungsi intelijen, fungsi pembinaan masyarakat (binmas), dan fungsi humas. Baca juga: 11 Daftar Kejahatan KKB di Distrik Boega Papua sejak 2021 Daftar kejahatan KKB Papua Selain melakukan penyerangan terhadap delapan orang pekerja, KKB juga melakukan sederet kejahatan lain di Distrik Beoga, Kecamatan Puncak, Papua.

Distrik Beoga adalah kawasan yang terletak di ketinggian 2.435 mdpl dan merupakan kawasan perbatasan antara Kabupaten Puncak dengan Intan Jaya. Sejak 16 Februari 2021, kawasan ini menjadi rawan lantaran singkatan ppkm covid pertama kalinya KKB Papua beraksi di Beoga. Alasan KKB mendadak beraksi di Beoga pun, tidak diketahui secara pasti. Namun, dugaan Kapolsek Beoga Ipda Ali Akbar bahwa letak Beoga yang berbatasan langsung dengan Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya yang jadi salah satu penyebabnya.

Sebelum Beoga menjadi kawasan rawan, gangguan keamanan kerap terjadi di Distrik Sugapa yang kini jauh lebih kondusif dengan pengamanan aparat TNI-Polri. “Ini saya dengar sendiri dari masyarakat, selama 46 tahun Beoga aman-aman saja tapi sekarang KKB kerap beraksi di Beoga,” ujar Ali. Berikut sederet kejahatan KKB yang dilakukan di Beoga sejak 2021: • 16 Februari 2021, penganiayaan dengan menggunakan parang (pembacokan) pada belakang leher korban bernama Dejalti Pamean.

• 8 April 2021, penembakan yang menewaskan seorang singkatan ppkm covid bernama Oktovianus Rayo. • 8 April 2021, pembakaran rumah milik Oktovianus Rayo di Kampung Julukoma.

• 9 April 2021, penembakan yang menewaskan seorang guru bernama Jonatan Renden. • 11 April 2021, pembakaran SMA Negeri 1 Beoga. • 13 April 2021, pembakaran rumah Kepala SMP Negeri 1 Junaedi Singkatan ppkm covid.

singkatan ppkm covid

• 13 April 2021, pembakaran kantor PT Bumi Infrastruktur. • 17 April 2021, pembakaran rumah Kepala Suku Bener Tinal. • 17 April 2021, pembakaran SD Inpres Dambet.

• 25 April 2021, penembakan yang menewaskan Kabinda Papua Brigjen TNI Gusti Putu Danny Nugraha Karya. • 2 Maret 2022, pembantaian singkatan ppkm covid orang pekerja perbaikan tower BTS 3 Telkomsel di Kampung Jenggereng, Beoga Barat. Nah itulah penjelasan siapa itu KKB Papua, asal usul KKB Papua, dan daftar kejahatannya selama 2021.

(Sumber: Kompas.com/ Dhias Suwandi - Editor: Puspasari Setyaningrum, Priska Sari Pratiwi) Berita Terkait Profil Brigjen TNI Gusti Putu Danny Nugraha, Kabinda Papua yang Ditembak KKB Memburu KKB di Papua, Ini Sederet Alasan Mengapa Mereka Sulit Ditumpas Ramai Isu Denjaka Mendarat di Papua Tumpas KKB, Ini Kata Marinir dan TNI AL Detik-detik Warga Ditembak Mati KKB, Teriakan "Ampun Komandan" Tak Digubris Spesifikasi Senjata SS2 V4 Buatan Pindad yang Diamankan TNI dari KKB Berita Terkait Profil Brigjen TNI Gusti Putu Danny Nugraha, Kabinda Papua yang Ditembak KKB Memburu KKB di Papua, Ini Sederet Alasan Mengapa Mereka Sulit Ditumpas Ramai Isu Denjaka Mendarat di Papua Tumpas KKB, Ini Kata Marinir dan TNI AL Singkatan ppkm covid Warga Ditembak Mati KKB, Teriakan "Ampun Komandan" Tak Digubris Spesifikasi Senjata SS2 V4 Buatan Pindad yang Diamankan TNI dari KKB Daftar Lengkap Daerah PPKM Level 2-4 di Jawa Bali Periode 8-14 Maret https://www.kompas.com/tren/read/2022/03/08/092118065/daftar-lengkap-daerah-ppkm-level-2-4-di-jawa-bali-periode-8-14-maret https://asset.kompas.com/crops/iz-t0ws16dD9WSYsaasPG9l-bUM=/312x146:1113x680/195x98/data/photo/2022/03/08/6226bbc1948fc.png KOMPAS.com - KKB adalah singkatan dari kelompok kriminal bersenjata, yaitu suatu kelompok di wilayah Papua yang menebar teror baik kepada warga sipil maupun TNI dan Polri.

Sebelumnya KKB Singkatan ppkm covid melakukan pembantaian yang menewaskan delapan pekerja jaringan telekomunikasi PT Palapa Timur Telematika (PTT) pada Rabu (2/3/2022). Saat kejadian para korban tengah memperbaiki tower Base Transceiver Station (BTS) 3 Telkomsel, di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Singkatan ppkm covid. Nelson Sarira, seorang korban selamat dari peristiwa pembantaian KKB Papu tersebut berhasil dievakuasi menggunakan helikopter oleh Tim Satgas Damai Cartenz, pada Sabtu (5/3/2022).

Baca juga: Serangan KKB di Distrik Beoga Papua, Tewaskan 8 Pekerja dan Lukai 1 Prajurit TNI Apa itu KKB Papua? Melansir laman dpr.go.id, diketahui sebelumnya KKB Papua bernama Organisasi Papua Merdeka (OPM). Dalam kegiatannya OPM selalu menyuarakan soal referendum agar Papua bisa merdeka dan berdiri sendiri.

Terkait hal itu, Pemerintah lalu berinisiatif untuk membentuk Otonomi Khusus (Otsus) bagi Papua dengan anggaran besar. Namun anggaran ini hanya dinikmati oleh kaum elit dan tidak terserap ke masyarakat. Hal ini lalu memunculkan gerakan perlawanan yang lebih masif dengan melakukan berbagai kegiatan kriminal. Perubahan istilah OPM ke KKB tersebut juga dimaksudkan untuk mengubah paradigma penanganan kaum separatis di Papua. Bila ada salah satu kelompok KKB Papua ini tertangkap maka mereka akan ditahan karena alasan kriminalitas.

Walau begitu, OPM berbeda dengan KKB Papua, di mana saat ini teror disebarkan dengan berbekal persenjataan lengkap dan mutakhir sehingga lebih sulit dikendalikan. Baca juga: Siapa KKB Papua dan Apa Tujuannya? Berita Terkait Profil Brigjen TNI Gusti Putu Danny Nugraha, Kabinda Papua yang Ditembak KKB Memburu KKB di Papua, Ini Sederet Alasan Mengapa Mereka Sulit Ditumpas Ramai Isu Denjaka Mendarat di Papua Tumpas KKB, Ini Kata Marinir dan TNI AL Detik-detik Warga Ditembak Mati KKB, Teriakan "Ampun Komandan" Tak Digubris Spesifikasi Senjata SS2 V4 Buatan Pindad yang Diamankan TNI dari KKB Berita Terkait Profil Brigjen TNI Gusti Putu Danny Nugraha, Kabinda Papua yang Ditembak KKB Memburu KKB di Papua, Ini Sederet Alasan Mengapa Mereka Sulit Ditumpas Ramai Isu Denjaka Mendarat di Papua Tumpas KKB, Ini Kata Marinir dan TNI AL Detik-detik Warga Ditembak Mati KKB, Teriakan "Ampun Komandan" Tak Digubris Spesifikasi Senjata SS2 V4 Buatan Pindad yang Diamankan TNI dari KKB Daftar Lengkap Daerah PPKM Level 2-4 di Jawa Bali Periode 8-14 Maret https://www.kompas.com/tren/read/2022/03/08/092118065/daftar-lengkap-daerah-ppkm-level-2-4-di-jawa-bali-periode-8-14-maret https://asset.kompas.com/crops/iz-t0ws16dD9WSYsaasPG9l-bUM=/312x146:1113x680/195x98/data/photo/2022/03/08/6226bbc1948fc.png

Covid-19 Melonjak, PPKM Jakarta Belum Naik Level




2022 www.videocon.com