Bila lewat di depan orang yang lebih tua kita mengucapkan

bila lewat di depan orang yang lebih tua kita mengucapkan

Tabe (permisi) merupakan budaya yang sangat indah yang ditinggalkan oleh leluhur, yang mewariskan sopan santun yang tidak hanya melalui ucapan tetapi juga dengan gerak. Bagaimanapun itu, hal ini perlu tetap dijaga karena tidak hanya diperuntukkan kepada yang muda melakukan ke yang bila lewat di depan orang yang lebih tua kita mengucapkan tua tetapi juga sebaliknya.

Realita Saat Ini Adalah budaya tabe’ perlahan-lahan telah luntur dalam masyarakat, khususnya pada kalangan anak-anak dan remaja. Mereka tidak lagi memiliki sikap tabe’ dalam dirinya. Entah karena orangtua mereka tidak mengajarkannya atau memang karena kontaminasi budaya Barat yang menghilangkan budaya tabe’ ini. Mereka tidak lagi menghargai orang yang lebih tua dari mereka. Mereka melewati tanpa permisi, bahkan kepada orangtua mereka sendiri.

Padahal sopan santun itu jika digunakan akan mencegah banyak keributan, akan mencegah terjadi pertengkaran dan akan mempererat rasa persaudaraan. Bahkan jika budaya tabe diterapkan dalam masyarakat maka tidak ada egosentris yang memicu konflik seperti tawuran pelajar, dan jika dikerucutkan kewilayah anak SD, anak-anak yang mengenal budaya tabe’ akan berperilaku sopan dan tidak mengganggu temannya.

Tata krama ataupun sopan santun hendaknya tidak hilang dalam diri kita. Orang yang sopan akan disenangi oleh orang lain. Oleh karena itu sangat penting mengajarkan budaya tabe’ melalui pola asuhan keluarga, sekolah dan lingkungan bermain. Karena sopan santun itu tidak mahal, tidak mengeluarkan banyak biaya.

Seorang kakak, ajarkan kepada adiknya untuk berbuat sopan santun. Tentunya seorang guru, maka wajib untuk mengajarkan kepada anak didiknya untuk mengajarkan sopan santun karena sekolah adalah gerbang dari watak seseorang.

Kebudayaan didefenisikan pertama kali oleh EB. Taylor [1] pada tahun 1871 di mana dalam bukunya Primitive Culture, kebudayaan diartikan sebagai keseluruhan yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat serta kemampuan dan kebiasaan lainya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Yang menjadi dasar dari kebudayaan adalah nilai. Di samping nilai ini kebudayaan diwujudkan dalam bentuk tata hidup yang merupakan kegiatan manusia yang mencerminkan nilai budaya yang di kandungnya.

Pada dasarnya tata hidup merupakan pencerminan yang konkret dari nilai budaya yang bersifat abstrak: kegiatan manusia ini dapat ditangkap oleh panca indera sedangkan nilai budaya hanya tertangguk oleh budi manusia. Di samping itu nilai budaya dan tata hidup manusia ditopang oleh sarana kebudayaan. Salah satu kebudayaan bugis yang mengajarkan cara hidup adalah Pangaderreng [2], pangaderreng adalah sistem norma dan aturan-aturan adat. Dalam keseharian suku bugispangaderreng sudah menjadi kebiasaan dalam berinteraksi dengan orang lain yang harus dijunjung tinggi.

Salah satu pangaderreng dalam suku bugis dikenal dengan budaya tabe’. Tabe’ adalah minta permisi untuk melewati arah orang lain, dengan kata-kata “ tabe”.

kata tabe tersebut diikuti gerakan tangan kanan turun kebawah mengarah ketanah atau ketanah. makna dari perilaku orang bugis seperti demikian adalah bahwa kata tabe simbol dari upaya menghargai dan menghormati siapapun orang dihadapan kita, kita tidak boleh berbuat sekehendak hati.

Makna lain dari budaya tabe’ adalah satunya kata dan perbuatan ( Taro Ada Taro Gau), [3] bahwa orang bugis dalam kehidupan sehari-hari harus berbuat sesuai dengan perkataan. Antara kata tabe dan gerakan tubuh (tangan kanan) harus seiring dan sejalan. sehingga suatu pemaknaan yang dalam orang bugis jauh lebih dalam lagi.

bila lewat di depan orang yang lebih tua kita mengucapkan

Rumusan Sikap tabe’ adalah serupa dengan sikap mohon ijin atau mohon permisi ketika hendak melewati orang-orang yang sedang duduk berjajar terutama bila yang dilewati adalah orang-orang yang usianya lebih tua ataupun dituakan. Sikap tabe’ dilakukan dengan melihat pada orang-orang yang dilewati lalu memberikan senyuman, setelah itu mulai berjalan sambil sedikit menundukkan badan dan meluruskan tangan disamping lutut.

Sikap tabe’ dimaksudkan sebagai penghormatan kepada orang lain yang mungkin saja akan terganggu akibat perbuatan kita meskipun kita tidak bermaksud demikian. Mereka yang mengerti tentang nilai luhur dalam budaya tabe’ ini biasanya juga akan langsung merespon dengan memberikan ruang seperti menarik kaki yang bisa saja akan menghalangi atau bahkan terinjak orang yang bila lewat di depan orang yang lebih tua kita mengucapkan, membalas senyuman, memberikan anggukan hingga memberikan jawaban “ye, de’ megaga” (bahasa bugis) atau dapat diartikan sebagai “iya tidak apa-apa” atau “silahkan lewat”.

Sekilas sikap tabe’ terlihat sepele, namun hal ini sangat penting dalam tata krama masyarakat di daerah Sulawesi Selatan khususnya pada Suku Bugis. Sikap tabe’ dapat memunculkan rasa keakraban meskipun sebelumnya tidak pernah bertemu atau tidak saling kenal. Apabila ada yang melewati orang lain yang sedang duduk sejajar tanpa sikap tabe’ maka yang bersangkutan akan dianggap tidak mengerti adat sopan santun atau tata krama.

Bila yang melakukannya adalah anak-anak atau masih muda, maka orang tuanya akan dianggap tidak mengajari anaknya sopan santun. Oleh karena itu biasanya orang tua yang melihat anaknya yang melewati orang lain tanpa sikap tabe’ akan langsung menegur sang anak langsung di depan umum atau orang lain yang dilewati, sebagaimana yang dilakukan Ayah-Ibu yang menegur saya saat tidak bersikap tabe’ kala melewati tamu yang sedang duduk di lantai.

Pola berarti corak, model, atau cara kerja, sedangkan asuh berarti menjaga, mendidik, membimbing dan memimpin.

Jadi pola asuhan dalam budaya tabe adalah pengasuhan dengan menampilkan orang tua sebagai model yang mengargai, menghormati, dan mengingatkakan, memimpin sesuai dengan budaya tabe yaitu sopan mendidik anak, sehingga mencertak anak yang berkarakter sopan pula. Sebenarnya, budaya tabe’ berperan besar dalam pembentukan karakter anak dalam perkembangan sifat santun dan hormat. Oleh karena mangaktualkan sikap tabe’ ini dalam menghormati orang yang lebih tua demi nilai etika dan budaya yang harus diingat.

Sebab tabe’ merupakan sejenis kecerdasan sikap yang memungkinkan terbentuknya nilai-nilai luhur bangsa atas anak didik atau generasi muda.

Tabe bila lewat di depan orang yang lebih tua kita mengucapkan orang bugis merupakan nilai budaya yang sudah menjadi sebuah karakter yang sarat dengan muatan pendidikan yang memiliki makna anjuran untuk berbuat baik, bertata krama melalui ucapan maupun gerak tubuh. Pola asuhan keluarga sangat mempengaruhi keawetan budaya tabe’ dalam masyarakat bugis. Didikan keluarga akan mencetak generasi yang beradat, sopan, dan saling menghargai.

Menerapkan budaya tabe dengan implementasi makna konseptual yaitu: tidak menyeret sandal atau menghentakkan kaki, tetapi dengan mengucapkan salam atau menyapa dengan sopan, juga bahwa sikap tabe adalah permohonan untuk melintas.

Tabe mengoptimasi untuk tidak berkacak pinggang, dan tidak usil mengganggu orang lain. Tabe berakar sangat kuat sebagai etika dalam tradisi atau sama halnya seperti pelajaran dalam hidup yang didasarkan pada akal sehat dan rasa hormaat terhadap sesama. Budaya tabe’ sesunggunya sangat tepat diterapkan dalam kehidupan sehari–hari, terutama dalam mendidik anak dengan cara mengajarkan hal–hal yang berhubungan dengan akhlak sesama, seperti mengucapkan tabe’ (permisi) sambil berbungkuk setengah badan bila lewat di depan sekumpulan orang-orang tua yang sedang bercerita, mengucapkan iyé’ (dalam bahasa Jawa nggih), jika menjawab pertanyaan sebelum mengutarakan alasan, ramah, dan menghargai orang yang lebih tua serta menyayangi yang muda.

Inilah di antaranya ajaran–ajaran suku Bugis sesungguhnya yang termuat dalam Lontara‘ yang harus direalisasikan dalam kehidupan sehari–hari oleh masyarakat Bugis. Demikianlah kearifan lokal masyarakat masyarakat bugis, Sangat sederhana memang, namun memiliki makna yang mendalam agar kita saling menghormati dan tidak mengganggu satu sama lainnya.

Daerah-daerah lainnya di Indonesia juga memiliki budaya yang serupa. Budaya luhur dan kearifan lokal seperti ini sangat perlu dilestarikan baik dengan mengajarkannya kepada anak-anak dan generasi muda. Kearifan lokal yang terus dipertahankan akan menjadi jati diri kita sebagai bangsa Indonesia yang memiliki budaya dan nilai-nilai luhur.

Budaya tabe merupakan simbol dari upaya menghargai dan menghormati siapapun orang dihadapan kita, kita tidak boleh berbuat sekehendak hati. kata tabe tersebut diikuti gerakan tangan kanan turun kebawah mengarah ketanah atau ketanahdengan melihat pada orang-orang yang dilewati lalu memberikan senyuman, setelah itu mulai berjalan sambil sedikit menundukkan badan dan meluruskan tangan disamping lutut. Niilai yang terkandung dalam budaya tabe adalah, sipakatau (tidak membeda-bedakan semua orang), sipakalebbi (saling menghormati), sipakainge (saling mengingatkan).

(1) Nama diri, seperti Landu, Sanatang. (2) Kata yang tergolong istilah kekerabatan, seperti bapak, ibu, paman, bibi, adik, kakak, mas, atau abang. (3) Gelar kepangkatan, profesi atau jabatan, seperti kapten, profesor, dokter, sopir, ketua, bupati, camat, atau lurah. (4) Kata nama, seperti tuan, nyonya, nona, Tuhan, atau sayang. (5) Kata nama pelaku, seperti penonton, peserta, pendengar, atau hadirin.

(6) Kata ganti persona kedua Anda. Penggunaan kata sapaan itu sangat terikat pada adat-istiadat setempat, adat kesantunan, serta situasi dan kondisi percakapan. Itulah sebabnya, kaidah kebahasaan sering terkalahkan oleh adat kebiasaan yang berlaku di daerah tempat bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang. Namun, yang perlu diingat dalam hal ini adalah cara penulisan kata kekerabatan yang digunakan sebagai kata sapaan, yakni ditulis dengan huruf awal huruf kapital.

Contoh: Beberapa waktu yang lalu saya diundang menjadi pemandu suatu kegiatan tentang pelestarian budaya dan kegiatannya dilaksanakan di Watampone, seringkali saya mendapati guyonan yang menyegarkan dari narasumber yang duduk di sebelah kanan saya, narasumber dari Lembaga Adat Bone.

Terus terang saya suka caranya memberikan pemahaman kepada para peserta tentang budaya Bugis, khususnya terkait hal-hal prinsipil untuk diketahui menyangkut tata krama pergaulan sosial dikalangan Bugis.

Maaf, pasalnya sang pemandu tidak berupaya memahami bahasa pergaulan yang sering digunakan berkomunikasi menyangkut tata krama pergaulan sosial daerah setempat. Ada beberapa kata sapaan menyangkut tata krama dan bahasa pergaulan yang mesti diketahui ketika berada dalam lingkungan masyarakat Bugis, misalnya kata Tabe, iyye,iyyo, dan iko.

Berikut ini saya mencoba menjelaskan satu persatu. 1. TABE’ Kata Tabe’ berarti permisi, yakni kata sapaan yang sifatnya lebih halus umumnya diucapkan ketika lewat di depan orang, khususnya orang yang kita hormati, teman, sahabat, orang tua, atau siapa saja yang kita hormati. Mengucapkannya sambil menatap dengan ramah kepada orang bila lewat di depan orang yang lebih tua kita mengucapkan depan kita, menundukkan kepala sedikit dan menurunkan tangan kanan.

Dalam komunikasi sosial, kata tabe’ adalah kata yang sopan, dan sebagai “kata yang sopan”, orang yang mengucapkannya akan mendapatkan apresiasi dari orang sekitarnya.

2. IYYE’ Untuk kata Iyye, bermakna “ya” atau mengiyakan, dan kata ini adalah pilihan kata yang sangat sopan dan halus. Kata ini sering digunakan bila berkomunikasi dengan siapa saja terutama kepada orang yang kita hormati.

Terkadang kita jumpai mengiyakan dengan cara anggukan kepala dan menggoyangkan kening kepada lawan bicaranya, hal ini dianggap tidak sopan apalagi dalam forum resmi. Mengucapkan kata “Iyye” bisa dengan menundukkan kepala sedikit (sedikit saja seperti anggukan kepala). Mengucapkannya sekali saja, sampai dua atau tiga kali masih cukup sopan, “Iye, iye … Iyye”.

Tapi mengucapkannya kata “Iyye” tersebut sudah lebih dari tiga kali maka bisa menimbulkan ketersinggungan atau sudah dapat dipandang sebagai kurang ajar (mauni sokko na manu narekko maulingngi), dalam bahasa lokal bugis disebut Matempo dan dalam bahasa Makassar disebut “patoa-toai”, Ini berlaku umum, baik kerabat, bukan kerabat, dan orang luar, terlebih lagi bagi orang Bugis. Di sinilah pentingnya memahami “Konsepsi Bugis tentang Tau (Manusia) dan Sipakatau (saling memanusiakan)”.

Ada kata-kata dalam Bahasa Bugis yang seharusnya tidak diucapkan dalam pergaulan sosial, apalagi jika berkomunikasi dengan orang tua atau orang yang dituakan seperti : iyyo,iko, buntalli, ciballe, tilaso, tilessi, cundekke, dan lain sebagainya.

Adapun yang dianggap sopan dan bertata krama seperti : Iyye, dan lain sebagainya. Tata krama dan sopan santun juga ditunjukkan lewat cara duduk bersila (tudassalekka), cara berdiri yang tidak boleh berkacak pinggang atau membusungkan dada, cara mempersilakan, cara menerima tamu (mattopole), dan lain sebagainya.

Terdapat pula Tata krama dan sopan santun menyangkut juga suatu kata pantas atau tidak pantas diucapkan. Dahulu, seorang istri dianggap luntur akad nikahnya jika si istri berani menyebut nama suaminya secara langsung, bisa dianggap “makurang ajara’ atau kurang ajar”. Makanya si istri hanya memanggil suaminya dengan nama samaran atau nama panggilan (Panggilan Paddaengeng), atau terkadang, hanya menyebut dengan bila lewat di depan orang yang lebih tua kita mengucapkan nama anaknya, misalnya ambo’na Aco, Abbana Aso, Ettana Esse, Mamminna Minah, ambo’na sitti, dan lain sebagainya.

Demikian juga suami, sangat ditabukan menyebut dan memanggil istrinya dengan nama asli. • ▼ 2017 (216) • ▼ Januari (216) • Wisata Air Terjun Ulu Pere • Masjid Tua Al-Mujahidin Watampone Kabupaten Bone • Permandian Alam Taretta • OBYEK WISATA AIR TERJUN “BARUTTUNGNGE” • Bola Soba/Saoraja • Lapangan Merdeka • Pemandian Putri Bilqis • Pelabuhan BajoE • Tanjung Palette • Air Terjun Ladenring • Pantai Tete Tonra • Polo Malelae, Perjanjian Bone dengan Luwu • Peristiwa Gugurnya Ayahanda Sang Pembebas • Konflik Bone Melawan Belanda • Perjanjian Raja-raja Bugis • Struktur Pemerintahan Kerajaan Bone • Bupati Bone dari Masa ke Masa • Sejarah Persaudaraan Bone dengan Buton • Memburu Ayam Jantan dari Timur • Jejak Kota Tua Bone • Dari Afdeling Bone Hingga NKRI • Sejarah Perjanjian Manurungnge – Bone • Sejarah Penetapan Hari Jadi Bone (HJB) • Ini Dia 6 Srikandi yang Pernah Memimpin Bone • Gua Mampu Legenda yang Terkutuk • Arung Palakka Jagoan Bugis yang Menggetarkan Tanah.

• Akhir Invasi Arung Palakka di Toraja • Sejarah Perang Bugis dan Toraja • Arung Palakka Memiliki Sembilan Nama • Balada Rumpa’na Bone • Bugis Riwayatmu Dulu • Museum Lapawawoi Riwayatmu Dulu • Perang Bone Ekspedisi I Tahun 1824 • Menggali Nilai Juang We Imaniratu • Bedakan Hari Jadi Bone dengan Hari Jadi Kabupaten . • Falsafah Eppa Cappa Kalangan Bugis • TAHAPAN PROSES PERNIKAHAN ADAT BUGIS • Tokoh Bugis yang Paling Berpengaruh di Dunia • Makna Sapaan Tabe’ – Iyye’ – Iyyo – Iko dalam baha.

• Lamellong Diplomat Ulung dari Tanah Bugis • Nilai di Balik Ungkapan Bugis To Riolo • Yabelale, Paseng Riati Orang Bugis Masa Lalu • Aksara Lontara’ • Hirarki karena Siri Napesse’ • Bahasa Bugis • Menjemput dengan Narasi Bugis • Sejarah Perjalanan Kasta di Kerajaan Bone • Cinta dalam Kultur Bugis • Pra Mattompang Arajang • Konsep Ati Mapaccing (Bawaan hati yang Baik) • Tidak Semua Waria adalah Bissu • Hararkri karena Siri Napesse’ • Detik-detik Tumbangnya Kearifan Lokal • Tradisi Mappacci pada Pernikahan Adat Bugis Bone • Menre’ Bola • Pananrang Paggalung • Pangadereng sebagai Falsafah Hidup Bugis • Taman bunga Arung Palakka • Belajar Ilmu Juang Arung Palakka • Asal Usul Gelar Andi pada Bangsawan Bugis • Cara Mudah Membuat Tabulampot (Tanaman Buah Dalam .

• Cara Menanam Kangkung Hidroponik Menggunakan Baskom • Cara Membuat Aquarium • Panduan Cara Menanam Bunga Tulip di Tempat Berikli. • Cara Membuat Es Krim Tanpa Kulkas Tanpa Mesin • Cara membuat clay • Tanaman Air Penghias Kolam • Cara Membuat Slime yang Mudah dan Aman Bagi Anak-Anak • Cara Membuat Lampu Lava Sederhana • UNSUR-UNSUR DESAIN BUSANA (2) • BALAJAR CARA MEN DESAIN BUSANA (BAG 1) • POLA DASAR CELANA PRIA • Cara Mengambil Ukuran Pola Pakaian Pria Dewasa • CARA MENGGAMBAR POLA DASAR PAKAIAN PRIA DEWASA • Pola dasar baju wanita sistem dressmaking (3) • ROK PADANAN KEBAYA : ROK WIRON PADA KAIN BATIK • Cara Menjahit Saku Vest • Menjahit kebaya pendek berleher lebar • Cara Menjahit Lengan dengan Rapi • ROK LIPIT ATAS PINGGUL (Rok seragam sekolah SMU) • MACAM -MACAM MODEL ROK • Pola Dasar Lengan (4) • Pola Dasar Rok • Alat yang diperlukan dalam menggambar pola busana (1) • Cara Mengambil Ukuran Pola Baju Wanita Dewasa (2) • Cara menjahit kebaya silang tapis lengan lebar • Menghias pakaian dengan tusuk hias • Gangguan dan Perbaikan Mesin Jahit • POLA DASAR BAJU WANITA DEWASA • Gaya Presentasi diri Self-Monitoring (Pemantauan D.

• Self-Disclosure (Pengungkapan Diri) • Untuk Kreatif Butuh Pengorbanan • SIKAP (Attitude) • Umpan Balik yang Efektif bagi Siswa • Interaksi Sosial • Kontribusi Psikologi terhadap Pendidikan • PENDIDIKAN NASIONAL YANG BERMORAL • Teachers as Researcher • Guru: Agent of Change • Cara Pasang Random Posts Di Blog
Sebagai makhluk sosial, kita tentu tahu bahwa etika adalah termasuk hal mendasar dalam kehidupan manusia.

bila lewat di depan orang yang lebih tua kita mengucapkan

Terlebih lagi kita sebagai orang Indonesia yang sedari kecil sudah biasa diajari tentang sopan santun, tata krama, dan adat kebiasaan. Mengenai bagaimana harus bersikap dengan orang lain, dan sebagainya. Etika sendiri merupakan cabang utama ilmu filsafat yang mempelajari mengenai nilai-nilai mengenai benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab yang menjadi standar dan penilaian moral dalam masyarakat atau publik.

Etika berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu ethikos yang berarti timbul dari kebiasaan. (Baca juga: Pengantar Ilmu Komunikasi) Etika Menurut Ahli Meski kita sudah cukup familiar dengan etika, namun sebagai cabang ilmu tentunya etika memiliki pengertian secara ilmiah.

Terdapat beberapa pengertian etika menurut para ahli, yaitu: • Prof. DR. Franz Magnis Suseno : “Ilmu yang mencari orientasi atau ilmu yang mmberikan arah dan pijakan dalam tindakan manusia.” • James J. Spillane SJ : “Etika adalah mempertimbangkan dan memperhatikan tingkan laku manusia dalam mengambil suatu keputusan yang berkaitan dengan moral, yang mana lebih mengarah pada penggunaan akal budi manusia untuk menentukan benar atau salah.” • Maryani dan Ludigdo : “Seperangkat norma, aturan, atau pedoman yang mengatur segala perilaku manusia, baik yang harus dilakukan dan yang harus ditinggalkan, yang dianut oleh sekelompok masyarakat.

Baca juga: Komunikasi Politik Jenis-Jenis Etika Setelah memahami mengenai pengertian etika, selanjutnya kita perlu memahami apa saja jenis-jenis etika. Secara garis besar, etika dibagi ke dalam dua jenis, yaitu: [accordion] [toggle title=”Etika Umum” state=”opened”] Sesuai dengan namanya, etika umum adalah etika yang membahas mengenai kondisi dasar dan umum tindakan manusia secara etis. Standar bertindak secara etis ini yang kemudian dijadikan acuan untuk manusia dalam bertindak dan bertingkah laku.

Etika umum telah diterapkan sebagai tolak ukur secara umum dalam menilai baik atau buruk dan benar atau salah suatu hal atau tindakan. Beberapa standar yang termasuk etika umum adalah adat istiadat yang berlaku, norma masyarakat, dan norma agama. [/toggle] [toggle title=”Etika Khusus”] Kebalikan dari etika umum yang bersifat general, etika khusus adalah etika yang mencakup prinsip-prinsip pada bidang kehidupan tertentu.

Etika khusus ini erat kaitannya dengan peran, profesi atau bagian tertentu dalam masyarakat. Misalnya, etika khusus seorang anak, etika khusus pelajar, etika khusus dokter, etika khusus jurnalis, dan lain sebagainya. Etika khusus dibagi lagi ke dalam dua kategori, yaitu: • Etika individual, yaitu etika khusus yang mencakup standar dan acuan sikap manusia terhadap dirinya sendiri.

Misalnya, seorang manusia harus paham bagaimana menghargai dirinya sendiri dengan tidak melakukan hal-hal yang merugikan diri sendiri seperti memakai narkoba atau bunuh diri.

bila lewat di depan orang yang lebih tua kita mengucapkan

• Etika sosial, yaitu etika khusus yang mencakup standar dan acuan sikap manusia terhadap orang lain, lingkungan, dan publik sebagai anggota dari masyarakat sosial. Misalnya, seorang manusia harus memahami bagaimana bersikap dengan orang lain.

Baca juga: Komunikasi Organisasi [/toggle] [/accordion] Aliran Etika Selain terbagi menjadi dua jenis, etika juga terbagi ke dalam empat aliran. Aliran-aliran etika yaitu: • Deontologis, adalah etika yang memandang bahwa nilai dari sebuah tindakan tidak dilihat dari tercapainya tujuan, namun dari niat baik yang mendorong seseorang untuk melakukan tindakan tersebut. • Teologis. Berbeda dengan etika deontologis yang tidak mementingkan tujuan, etika ini intinya adalah tujuan atau akibat dari sesuatu.

Jadi etika ini menyatakan bahwa walaupun manusia sudah memilliki niat baik dalam bertindak, tetap saja harus diiringi dengan tujuan akhir yang baik juga. • Egoisme. Dalam egoisme, manusia memiliki kecenderungan untuk mempertahankan diri dengan hal-hal yang menguntungkan bagi dirinya sendiri dan tidak mempedulikan orang lain.

Egoisme adalah mementingkan kepentingan dan urusan pribadi diatas kepentingan orang lain, untuk mengejar tujuan pribadi. bila lewat di depan orang yang lebih tua kita mengucapkan Utilitarisme. Diambil dari kata latin utilis yang artinya bermanfaat, utilitarisme adalah tindakan yang dilakukan manusia untuk memberi manfaat kepada orang lain, baik di sekitarnya maupun cakupan masyarakat yang lebih luas lagi.

Baca juga: Komunikasi Massa [AdSense-A] Etika Dalam Komunikasi Sebagai makhluk sosial, tentunya komunikasi tidak lepas dari kehidupan sehari-hari kita. Dan seperti yang telah diulas sebelumnya, komunikasi sebagai bagian dari kehidupan juga memiliki etika di dalamnya.

Etika komunikasi merupakan salah satu dari etika khusus, karena membahas bagian tertentu dari kehidupan manusia. (Baca juga: Komunikasi Antar Pribadi) Etika sendiri merupakan nilai dan norma yang berlaku untuk dijadikan pandangan dan standar manusia dalam bertindak dan bertingkah laku.

Dalam kaitannya dengan komunikasi, etika komunikasi mencakup segala nilai dan norma yang menjadi standar dan acuan manusia dalam berkomunikasi dengan orang lain. Etika komunikasi menilai mana tindakan komunikasi yang baik dan buruk berdasarkan standar yang berlaku. Karena komunikasi merupakan salah satu hal yang krusial dalam kehidupan manusia, maka penting bagi kita untuk memahami mengenai etika komunikasi. Tanpa adanya etika komunikasi, dapat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kesalahpahaman, pertengkaran, perselisihan, dan lain sebagainya.

Selain itu, etika komunikasi yang tidak diketahui dan diterapkan akan menyebabkan hubungan kita dengan orang lain jadi buruk. Tentunya itu akan berakibat tidak baik, karena bagaimanapun juga kita adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan dan dibutuhkan orang lain.

Baca juga: Sosiologi Komunikasi Guna menghindari terjadinya hal-hal seperti itu, kita akan membahas lebih lanjut mengenai etika komunikasi apa saja yang penting dan mendasar dalam kehidupan sehari-hari. Etika dalam komunikasi ada beragam dan tentunya tidak akan cukup jika dibahas semua disini. Pada tulisan ini, kita akan membahas beberapa etika dalam komunikasi yang sering kita lakukan dan temui sehari-hari.

bila lewat di depan orang yang lebih tua kita mengucapkan

(Baca juga: Komunikasi Antar Budaya) a.Memulai Pembicaraan Dalam keseharian, tentunya kita pernah bertemu dengan keadaan yang membuat kita harus atau ingin memulai pembicaraan dengan orang lain. Namun ada hal-hal yang harus diperhatikan, yaitu: 1. Lihat keadaan calon lawan bicara. Apakah dia terlihat sedang sibuk atau terburu-buru? Kalau iya, mungkin kita harus mencoba berbicara lain kali. Karena nanti kita justru akan mengganggu orang itu dan membuatnya tidak nyaman.

2. Ramah dan sopan. Sapa lah lawan bicara anda dengan ramah dan sopan, namun tidak terkesan dibuat-buat. Kita bisa mengajukan pertanyaan basa-basi untuk pembuka seperti apa kabar, mau kemana, dari mana, dan semacamnya. 3. Jangan hanya bicara, dengarkan juga.

Kebanyakan orang mengasumsikan komunikasi selalu berkaitan dengan bicara, padahal tidak hanya itu. Mendengarkan juga salah satu bagian dari komunikasi, dan hal ini sangat penting untuk dilakukan.

Ketika kita terlalul sibuk bicara dan tidak memperhatikan apa yang diucapkan lawan bicara, kita seperti tidak menghargainya.

Baca juga: Teori Komunikasi Antar Budaya b.Komunikasi Tatap Muka Komunikasi tatap muka bisa dibilang komunikasi yang hampir setiap hari kita lakukan. Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan dalam komunikasi tatap muka atau langsung: 1.

Tatap mata lawan bicara. Hal yang pertama harus dilakukan adalah menatap lawan bicara kita. Jangan sampai kita malah melihat ke arah yang lain dan membuat lawan bicara terganggu atau merasa tidak diperhatikan. Jika kesulitan menatap langsung pada mata lawan bicara, kita bisa melihat ke arah garis tengah antara kedua matanya (yang sejajar dengan hidung).

2. Jaga intonasi dan kecepatan bicara. Bicaralah dengan suara yang stabil, tidak terlalu pelan atau terlalu tinggi. Keduanya bisa menyebabkan orang salah mengerti dan tidak paham apa yang kita bicarakan. Selain itu, bicaralah dengan kecepatan normal supaya dapat disimak dengan baik.

3. Lontarkan pertanyaan. Sekali lagi, jangan hanya sibuk bicara dan tidak menyimak apa yang dibicarakan lawan bicara kita. Dengarkanlah baik apa yang dikatakan lawan bicara, dan sahutilah dengan melontarkan pertanyaan atau bila lewat di depan orang yang lebih tua kita mengucapkan. Baca juga: Komunikasi yang Efektif c.Komunikasi Lewat Media Seiring dengan melesatnya perkembangan teknologi, komunikasi melalui media bisa dibilang sebagai komunikasi yang paling sering kita lakukan.

Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan: 1. Perhatikan gaya tulisan dan tanda baca.

bila lewat di depan orang yang lebih tua kita mengucapkan

Karena komunikasi lewat media kebanyakan mengandalkan tulisan, kita harus lebih berhati-hati dengan gaya bahasa yang kita tulis. Apakah sudah tepat, atau seperti orang marah? Selain itu, penggunaan tanda baca juga sangat penting terutama tanda seru. Sebaiknya kita meminimalisir penggunaan tanda seru atau huruf besar semua, karena cenderung membuat orang berpikir kalau kita marah.

2. Atur intonasi (jika menelpon). Menelpon memang terdengar suara, namun mimik dan ekspresi wajah tidak dapat terlihat. Karena itu kita perlu mengatur intonasi suara kita ketika sedang menelpon.

(Baca juga: Teori Ilmu Komunikasi) 3. Pikirkan apa yang ingin ditulis. Komunikasi lewat media memungkinkan kita untuk berpikir sedikit lebih lama mengenai apa yang akan kita komunikasikan. Gunakan kesempatan itu untuk mengkomunikasikan hal-hal dengan lebih baik dan menyortir kalimat yang tidak patut.

Tidak perlu terburu-buru, orang juga tahu kalau mengetik itu membutuhkan waktu lebih lama daripada bicara langsung. Tapi jangan juga membiarkan pesan orang tidak dibalas lama, karena itu akan membuat orang bertanya-tanya dan salah paham. Baca juga: Komunikasi Bisnis 4.Menyambut Tamu Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyambut tamu: 1.

Berpakaian yang rapi dan pantas. Meskipun berada di rumah sendiri, dalam menyambut tamu kita seharusnya memakai pakaian yang pantas. Tentu tidak akan enak dilihat tamu jika kita hanya berpakaian daster atau baju yang kotor. 2. Menyuguhkan minuman. Terkadang tamu akan bilang tidak usah jika ditawari minuman, namun meski begitu kita perlu menyediakannya. Bisa jadi si tamu malu atau basa-basi saja. Tidak perlu memaksakan menyuguhkan yang berlebihan, namun setidaknya minuman yang minimal ada.

3. Sampaikan terima kasih. Tamu bertandang ke rumah kita dengan menempuh perjalanan dan menyisihkan waktunya untuk bertemu kita. Karena itu, sampaikanlah ungkapan penghargaan kita pada tamu karena telah berkunjung.

Teknik Komunikasi yang Baik Sebagai hal yang selalu dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, komunikasi harus dilakukan dengan baik. Berikut adalah beberapa teknik komunikasi yang baik: • Bicara dengan jelas. Komunikasi intinya adalah menyampaikan pesan kepada lawan bicara, dan tugas kita adalah bagaimana agar pesan tersebut sampai sesuai dengan keinginan kita.

Yang paling penting adalah bicara apa yang kita maksudkan dengan jelas, supaya tidak ada kesalahpahaman. (Baca juga: ) • Mendengarkan dengan baik. Seperti yang telah diulas sebelumnya, mendengarkan adalah hal yang sangat penting dalam komunikasi. Tanpa kita berusaha mendengarkan baik, komunikasi yang terjalin tidak akan efektif. Kita tidak memperhatikan apa yang dibicarakan orang lain dan membuat komunikasi jadi terhambat. • Perhatikan lawan bicara. Kita berkomunikasi dengan lawan bicara, maka kita harus perhatikan lawan bicara kita.

Dengan begitu, lawan bicara merasa dihargai dan komunikasi berjalan lebih lancar. Kalau sudah begitu, hubungan yang terjalin dengan lawan bicara pun akan terus terjalin dengan baik. • Konfirmasi jika merasa salah paham. Dalam berkomunikasi, kita tidak dapat terhindar dari adanya kesalahpahaman. Kesalahpahaman bisa terjadi karena berbagai hal, misalnya gangguan lingkungan atau ketidakfokusan kita dalam menyimak.

Karena itu, perlu dikonfirmasikan langsung hal yang disalahpahami guna meluruskan keadaan. • Perhatikan komunikasi non-verbal.

Seperti yang dibahas sebelumnya, komunikasi bukan hanya soal bicara atau verbal. Ada juga aspek-aspek komunikasi non-verbal dan justru peranannya jauh lebih besar dibanding komunikasi verbal. Contoh dari komunikasi non-verbal adalah gestur tubuh, mimik wajah, penampilan, tanda baca, dan lain sebagainya.

[AdSense-C] Etiket Komunikasi Etiket dikenal juga sebagai tata krama, yang mengatur sikap dan tindakan manusia dalam bergaul dengan manusia lain berdasarkan standar sopan santun dan adab. Etiket sebenarnya secara sadar atau tidak sudah banyak kita pelajari dan pahami sedari kecil. Namun untuk lebih jelasnya lagi, berikut adalah contoh dari etiket komunikasi: • Pengunaan bahasa yang baik dan intonasi yang sesuai.

• Mengucapkan permisi ketika lewat di depan orang lain. • Mengucapkan tolong ketika minta bantuan. • Mengucapkan terima kasih ketika mendapat bantuan. • Mengucapkan maaf ketika melakukan kesalahan. • Menghormati orang-orang yang lebih tua. • Mengurangi kebiasaan menyela ucapan orang lain. Manfaat Mempelajari Etika Komunikasi Setelah membahas berbagai hal mengenai etika komunikasi, berikut adalah manfaat dari mempelajari etika komunikasi: • Melancarkan komunikasi dengan orang lain.

• Memahami apa yang dikomunikasikan orang lain. • Diterima dalam sosial masyarakat karena mengikuti etika yang berlaku. • Memperkuat hubungan yang terjalin dengan orang lain. • Pesan yang disampaikan dapat diterima dengan lebih baik.

• Dihargai orang lain karena kita menghargai mereka juga. • Tidak bertindak sembarangan dan seenaknya dalam berkomunikasi. Demikian bila lewat di depan orang yang lebih tua kita mengucapkan mengenai etika komunikasi. Semoga tulisan ini dapat berguna bagi anda yang mencari informasi mengenai etika, etika komunikasi, etiket, etika dalam komunikasi, bila lewat di depan orang yang lebih tua kita mengucapkan komunikasi yang baik, dan manfaat etika komunikasi. • Tebar Hikmah Ramadan • Life Hack • Ekonomi • Ekonomi • Bisnis • Finansial • Fiksiana • Fiksiana • Cerpen • Novel • Puisi • Gaya Hidup • Gaya Hidup • Fesyen • Hobi • Karir • Kesehatan • Hiburan • Hiburan • Film • Humor • Media • Musik • Humaniora • Humaniora • Bahasa • Edukasi • Filsafat • Sosbud • Kotak Suara • Analisis • Kandidat • Lyfe • Lyfe • Diary • Entrepreneur • Foodie • Love • Viral • Worklife • Olahraga • Olahraga • Atletik • Balap • Bola • Bulutangkis • E-Sport • Politik • Politik • Birokrasi • Hukum • Keamanan • Pemerintahan • Ruang Kelas • Ruang Kelas • Ilmu Alam & Teknologi • Ilmu Sosbud & Agama • Teknologi • Teknologi • Digital • Lingkungan • Otomotif • Transportasi • Video • Wisata • Wisata • Kuliner • Travel • Pulih Bersama • Pulih Bersama • Indonesia Hi-Tech • Indonesia Lestari • Indonesia Sehat • New World • New World • Cryptocurrency • Metaverse • NFT • Halo Lokal • Halo Lokal • Bandung • Joglosemar • Makassar • Medan • Palembang • Surabaya • SEMUA RUBRIK • TERPOPULER • TERBARU • PILIHAN EDITOR • TOPIK PILIHAN • K-REWARDS • KLASMITING NEW • EVENT Konten Terkait • Belajar Menghargai Pendapat Orang Lain • Kearifan Lokal Adat Masyarakat Sunda dalam Hubungan dengan Lingkungan Alam • Hakikat Kebermanfaatan Diri untuk Orang Lain • Etika Memandang Orang Lain • Kartini, Penulis bila lewat di depan orang yang lebih tua kita mengucapkan Kearifan Lokal • Pentas Kuliner Gedi Gulung untuk Mempertahan Nilai Budaya Kearifan Lokal Dalam suatu kesempatan saya ditugaskan mengunjungi suatu instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Sinjai, saya dipersilahkan duduk menunggu karena pejabat yang akan saya temui sedang rapat di ruangan lainnya.

Tempat duduk saya merapat ke dinding berjarak sekitar dua meter di depan meja sekretaris. Jarak tersebut kebetulan adalah koridor ruangan tempat orang lain berlalu lalang bila hendak masuk ke ruangan sang pejabat. Saat itu beberapa orang melewati kami sambil membawa map menuju ruangan sang pejabat. Mereka kembali lagi melewati kami namun sudah tidak lagi membawa map. Sepertinya mereka adalah staf yang menyerahkan hasil pekerjaannya ke meja sang pejabat. Hal tersebut adalah hal yang biasa.

Namun ada yang unik menjadi perhatian saya, yaitu orang-orang yang lalu lalang melewati kami selalu tersenyum lalu agak menunduk sambil meluruskan tangannya disamping lutut dan berucap tabe’. Setiap orang selalu melakukan hal yang sama ketika melewati kami baik saat hendak masuk maupun keluar ruangan.

Kami pun membalasnya dengan sedikit menunduk dan memberikan senyum. Hal ini mengingatkan saya tatkala masih kecil saat usia sekolah dasar. Saat itu sedang ada tamu yang merupakan saudara dari kampung yang bermalam di rumah kami. Ayah dan Ibu terlihat sedang asyik berbincang dengan mereka di ruang tengah. Saat saya berjalan melewati tepat di tengah-tengah mereka, ayah dan ibu saya menegur.

“Tabe’ dulu dong kalau mau lewat di depan orang tua” Akhirnya saat hendak kembali dan lewat lagi ditengah-tengah mereka, saya pun mengucapkan tabe’ lalu menundukkan badan sambil meluruskan tangan di samping lutut. Sang tamu pun tersenyum melihat sikap saya, “wah anak pintar!” Pujinya. Sikap yang sama yaitu sikap tabe’ saat melewati orang lain ini membuat saya sadar, bahwa hal itu adalah kearifan lokal yang sudah menjadi budaya dan masih dilestarikan masyarakat di Sulawesi Selatan khususnya pada Suku Bugis.

Kebetulan penduduk asli Kabupaten Sinjai di Sulawesi Selatan masih serumpun dengan suku Bugis, bahasa daerahnya pun sama meskipun ada beberapa kata yang berbeda pengucapan dan artinya. Kebetulan juga saya masih ada keturunan dengan Suku Bugis meskipun lahir dan lama tinggal di luar pulau Sulawesi. Jadi tidak aneh bila sikap tabe’ nya sama persis. Sikap tabe’ ternyata sampai saat ini masih dilakukan di daerah Sulawesi Selatan khususnya Kabupaten Sinjai, meskipun di kantor-kantor instansi pemerintah.

Di tempat lain terutama di kota-kota besar, sikap ini sudah mulai ditinggalkan dan dianggap kuno terutama oleh anak-anak muda meskipun di kalangan orang-orang Sulawesi Selatan ataupun dari keturunan Suku Bugis sendiri. Bila ingin lewat, ya tinggal lewat saja, meskipun harus menghalangi orang-orang yang tengah berbincang bahkan melangkahi kaki orang lain.

Budaya tabe’ seolah telah terlupakan. Sikap tabe’ adalah serupa dengan sikap mohon ijin atau mohon permisi ketika hendak melewati orang-orang yang sedang duduk berjajar terutama bila yang dilewati adalah orang-orang yang usianya lebih tua ataupun dituakan. Sikap tabe’ dilakukan dengan melihat pada orang-orang yang dilewati lalu memberikan senyuman, setelah itu mulai berjalan sambil sedikit menundukkan badan dan meluruskan tangan disamping lutut.

Sikap tabe’ dimaksudkan sebagai penghormatan kepada orang lain yang mungkin saja akan terganggu akibat perbuatan kita meskipun kita tidak bermaksud demikian. Mereka yang mengerti tentang nilai luhur dalam budaya tabe’ ini biasanya juga akan langsung merespon dengan memberikan ruang seperti menarik kaki yang bisa saja akan menghalangi atau bahkan terinjak orang yang lewat, membalas senyuman, memberikan anggukan hingga memberikan jawaban “ye, de’ megaga” (bahasa bugis) atau dapat diartikan sebagai “iya tidak apa-apa” atau “silahkan lewat”.

Sekilas sikap tabe’ terlihat sepele, namun hal ini sangat penting dalam tata krama masyarakat di daerah Sulawesi Selatan khususnya pada Suku Bugis. Sikap tabe’ dapat memunculkan rasa keakraban meskipun sebelumnya tidak pernah bertemu atau tidak saling kenal.

Apabila ada yang melewati orang lain yang sedang duduk sejajar tanpa sikap tabe’ bila lewat di depan orang yang lebih tua kita mengucapkan yang bersangkutan akan dianggap tidak mengerti adat sopan santun atau tata krama. Bila yang melakukannya adalah anak-anak atau masih muda, maka orang tuanya akan dianggap tidak mengajari anaknya sopan santun. Oleh karena itu biasanya orang tua yang melihat anaknya yang melewati orang lain tanpa sikap tabe’ akan langsung menegur sang anak langsung di depan umum atau orang lain yang dilewati, sebagaimana yang dilakukan Ayah-Ibu yang menegur saya saat tidak bersikap tabe’ kala melewati tamu yang sedang duduk di lantai.

Hal inipun saya ajarkan kepada anak-anak saya baik dengan memberitahu secara lisan maupun dengan memberikan contoh secara langsung bagaimana bersikap tabe’ saat akan melewati orang lain ataupun mereka yang sedang duduk atau saling berhadapan.

Demikianlah kearifan lokal masyarakat Sulawesi Selatan yang masih tetap dilakukan sampai sekarang, meskipun cukup banyak generasi muda di perkotaan yang sudah tidak melakukannya lagi. Sangat sederhana memang, namun memiliki makna yang mendalam agar kita saling menghormati dan tidak mengganggu satu sama lainnya. Daerah-daerah lainnya di Indonesia juga memiliki budaya yang serupa.

Budaya luhur dan kearifan lokal seperti ini sangat perlu dilestarikan baik dengan mengajarkannya kepada anak-anak dan generasi muda maupun dengan menginformasikannya melalui website yang membahas tentang pariwisata Indonesia seperti di Indonesia Travel.

Kearifan lokal yang terus dipertahankan akan menjadi jati diri kita sebagai bangsa Indonesia yang memiliki budaya dan nilai-nilai luhur. Hal ini yang menjadikan Indonesia spesial dan berbeda dari negara-negara lainnya di dunia.
Manusia dan kebudayaan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan karena manusia adalah pendukung keberadaan suatu kebudayaan.

Manusia lahir dalam sebuah kebudayaan dan manusia tidak terlepas dari komunikasi agar bisa berinteraksi dengan manusia lainnya selain manusia juga berinteraksi dengan alam sekitarnya. Proses komunikasi dapat dilihat dalam dua perspektif besar, yaitu perspektif psikologi dan mekanisme.

Perspektif psikologi dalam proses komunikasi hendak memperlihatkan bahwa komunikasi adalah aktivitas psikologi sosial yang melibatkan komunikatir, komunikan, isi pesan, lambang, sifat hubungan, persepsi, proses decocing, dan encoding. Perspektif mekanisme bahwa proses komunikasi adalah aktivitas mekanik yang dilakukan oleh komunikator, yang sangat bersifat situasional dan kontekstual. Komunikasi secara terminologi merujuk pada adanya proses penyampaian suatu pernyataan oleh seorang kepada orang lain.

Dalam komunikasi sosial, kata tabea adalah kata yang sopan yang umumnya dipakai di seluruh wilayah Maluku Utara, dan sebagai “kata yang sopan” orang yang mengucapkannya akan mendapatkan apresiasi dari orang sekitarnya. Tradisi Bila lewat di depan orang yang lebih tua kita mengucapkan adalah bahasa adat kesopanan/perilaku yang berarti permisi, yakni kata sapaan yang sifatnya lebih halus umumnya diucapkan ketika lewat di depan orang, khususnya orang yang kita hormati, teman, sahabat, orang tua, atau siapa saja yang kita hormati.

Kata tabea tersebut diikuti gerakan tangan kanan turun kebawah mengarah ketanah atau ketanah, makna dari perilaku orang Maluku Utara seperti demikian adalah bahwa kata tabea simbol dari upaya menghargai dan menghormati siapapun orang di hadapan kita, kita tidak boleh berbuat sekehendak hati. Baca juga: Merawat Tradisi Moloku Kie Raha Rumusan sikap tabea adalah serupa dengan sikap mohon ijin atau mohon permisi ketika hendak melewati orang-orang yang sedang duduk berjajar terutama bila yang dilewati adalah bila lewat di depan orang yang lebih tua kita mengucapkan yang usianya lebih tua ataupun dituakan.

Sikap tabea dilakukan dengan melihat pada orang-orang yang dilewati lalu memberikan senyuman, setelah itu mulai berjalan sambil sedikit menundukkan badan dan meluruskan tangan disamping lutut. Sikap tabea dimaksudkan sebagai penghormatan kepada orang lain yang mungkin saja akan terganggu akibat perbuatan kita meskipun kita tidak bermaksud demikian.

Mereka yang mengerti tentang nilai luhur dalam budaya tabea ini biasanya juga akan langsung merespon dengan memberikan ruang seperti menarik kaki yang bisa saja akan menghalangi atau bahkan terinjak orang yang lewat, membalas senyuman, memberikan anggukan hingga memberikan jawaban “iya tidak apa-apa” atau “silahkan lewat” dengan tiap-tiap bahasa daerah di Maluku Utara.

Sekilas sikap tabea terlihat sepele, namun bagi penulis hal ini sangat penting dalam tata krama masyarakat di daerah Maluku Utara. Sikap tabea dapat memunculkan rasa keakraban meskipun sebelumnya tidak pernah bertemu atau tidak saling kenal.

Apabila ada yang melewati orang lain yang sedang duduk sejajar tanpa sikap tabea maka yang bersangkutan akan dianggap tidak mengerti adat sopan santun atau tata krama. Tabea sebagai pola asuhan Pola berarti corak, model, atau cara kerja, sedangkan asuh berarti menjaga, mendidik, membimbing dan memimpin. Jadi pola asuhan dalam budaya tabea adalah pengasuhan dengan menampilkan orang tua sebagai model yang menghargai, menghormati, dan mengingatkan, memimpin sesuai dengan budaya tabea yaitu sopan mendidik anak, sehingga mencetak anak yang berkarakter sopan pula.

Sebenarnya, budaya tabe a berperan besar dalam pembentukan karakter anak dalam perkembangan sifat santun dan hormat. Oleh karena mangaktualkan sikap tabea ini dalam menghormati orang yang lebih tua demi nilai etika dan budaya yang harus diingat. Sebab tabea merupakan sejenis kecerdasan sikap yang memungkinkan terbentuknya nilai-nilai luhur bangsa atas anak didik atau generasi muda. Tabea menurut orang Maluku Utara merupakan nilai budaya yang sudah menjadi sebuah karakter yang sarat dengan muatan pendidikan yang memiliki makna anjuran untuk berbuat baik, bertata krama melalui ucapan maupun gerak tubuh.

Pola asuhan keluarga sangat mempengaruhi keawetan budaya tabea dalam masyarakat Maluku Utara. Tabea dalam kehidupan sehari hari masyarakat Maluku Utara Menerapkan budaya tabea dengan implementasi makna konseptual yaitu, tidak menyeret sandal atau menghentakkan kaki, tetapi dengan mengucapkan salam atau menyapa dengan sopan, juga bahwa sikap tabea adalah permohonan untuk melintas. Tabea mengoptimasi untuk tidak berkacak pinggang, dan tidak usil mengganggu orang lain.

Tabea berakar sangat kuat sebagai etika dalam tradisi atau sama halnya seperti pelajaran dalam hidup yang didasarkan pada akal sehat dan rasa hormat terhadap sesama.

Baca juga: Kearifan Budaya Lokal (Antara Tradisi dan Modernisasi Budaya tabea sesungguhnya sangat tepat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam mendidik anak dengan cara mengajarkan hal-hal yang berhubungan dengan akhlak sesama, seperti mengucapkan tabea(permisi) sambil berbungkuk setengah badan bila lewat di depan sekumpulan orang-orang tua yang sedang bercerita, mengucapkan saya (iya) jika menjawab pertanyaan sebelum mengutarakan alasan, ramah, dan menghargai orang yang lebih tua serta menyayangi yang muda.

Inilah di antaranya ajaran-ajaran adat Maluku Utara sesungguhnya yang harus direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi Tabea dalam konteks Islam Dalam pandangan Islam kesopanan adalah salah satu perbuatan yang mulia di mata Allah dan manusia dalam berinteraksi pada lingkungan, seperti etika berbicara, berjalan, etika meminta izin, etika berkumpul dan lain-lain.

Ayat yang berkaitan dengan etika berjalan misalnya, tercantum dalam Q.S. Al- Furqan ayat 63 yang artinya “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang Mengadu) keselamatan.” Baca juga: Etika “TABEA” vs Zaman Now Berbicara dengan seseorang yang telah mengajarkan kebaikan haruslah lebih baik dibandingkan jika berbicara kepada orang lain.

Imam Abu Hanifah pun jika berada depan Imam Malik ia layaknya seorang anak di hadapan ayahnya. Para Sahabat Nabi SAW, muridnya Rasulullah, tidak pernah kita dapati mereka beradab buruk kepada gurunya tersebut, mereka tidak pernah memotog ucapannya atau mengeraskan suara di hadapannya, bahkan Umar bin Khattab yang terkenal keras wataknya tak pernah menarik suaranya di depan Rasulullah, bahkan di beberapa riwayat, Rasulullah sampai kesulitan mendengar suara Umar jika berbicara.

Di hadist Abi Said al Khudry ra juga menjelaskan, “Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah SAW kemudian duduk di hadapan kami.

Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Tak satu pun dari kami yang berbicara” (HR. Bukhari no. 4718). Dengan anjuran agama ini maka sepatutnya implementasi kesopanan yang dalam konteks Maluku Utara salah satunya dengan mengucapkan tabea harus dilestarikan, demi terciptanya generasi-generasi yang beradab dan beretika.

* Ternate, 4 Februari 2018 • Klik untuk berbagi pada Twitter(Membuka di jendela yang baru) • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) • Klik untuk mengirim ini lewat surel kepada seorang teman(Membuka di jendela yang baru) • Klik untuk berbagi di Linkedln(Membuka di jendela yang baru) • Klik untuk berbagi pada Tumblr(Membuka di jendela yang baru) • Klik untuk berbagi pada Pinterest(Membuka di jendela yang baru) • Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) • Tulisan Populer • Sapaan “TABEA” sebagai Implementasi Etika-Budaya Maluku Utara • Filosofi Pasir • Puisi-Puisi A.A (2) • Peran Pemuda Dalam Pengembangan Budaya Literasi • SAINT SIMON • Rindu di Waktu Senja • Terlahir Dari Manusia, Diasuh oleh Sosial Media • Realitas Semu; Membedah Posmodernisme Baudrillard Terbaru • Tahun Penuh Duka • Studi Spiritual Sufistik Islam: Kombinasi Pemikiran Sufistik Ibnu Arabi Dan Neosufistik Sayyed Hossein Nasr • Kekosongan • Cerita dari Halmahera • HEBOH • “jra” • 17 Agustus; Mimpi Anak Sulawesi (2) • 17 Agustus; Mimpi Anak Sulawesi (1) • Nek Aminah • Puisi ini tentang Kita
Artikel Terbaru • Bolehkah Puasa Syawal, Tetapi Masih Memiliki Utang Puasa Ramadhan Karena Haidh?

• Buku Gratis: Fikih Bulan Syawal • Cara Puasa Syawal Menurut Ulama Syafi’iyah • Benarkah Banyak Bergaul dan Bermedsos, Makin Banyak Dosa?

• Naskah Khutbah Idul Fitri 2022 Terfavorit: Realisasi Syukur Bakda Ramadhan • Faedah Sirah Nabi: Pensyariatan Jihad dan Pelajaran di Dalamnya • Khutbah Jumat: Kiat Istiqamah Bakda Ramadhan • Tingkatan Menghidupkan Lailatul Qadar • Faedah Surat An-Nuur #48: Adab Terhadap Rasulullah, Tidak Boleh Menyelisihi Perintahnya • Faedah Sirah Nabi: Sejarah Pensyariatan Zakat dan Pelajaran di Dalamnya Alhamdulillah wash sholaatu was salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa man taabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin.

An Nawawi menyebutkan dalam Shohih Muslim Bab ‘ Di antara kewajiban seorang muslim adalah menjawab salam ’. Lalu dibawakanlah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ ».

قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ ».

“ Hak muslim pada muslim yang lain ada enam.” Lalu ada yang menanyakan, ” Apa saja keenam hal itu?” Lantas beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ” (1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam padanya, (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya, (3) Apabila engkau dimintai nasehat, berilah nasehat padanya, (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’), (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia, dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman) .” (HR.

Muslim no. 2162) 9. Peringatan Apakah hak-hak yang disebutkan di sini adalah wajib? Ash Shon’ani mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa inilah hak muslim pada muslim lainnya. Yang dimaksud dengan hak di sini adalah sesuatu yang tidak pantas untuk ditinggalkan.

Hak-hak di sini ada yang hukumnya wajib dan ada yang sunnah mu’akkad (sunnah yang sangat ditekankan) yang sunnah ini sangat mirip dengan wajib.” (Subulus Salam, 7/7) Hukum Memulai Mengucapkan dan Membalas Salam Jika kita melihat dari hadits di atas, akan terlihat perintah untuk memulai mengucapkan salam ketika bertemu saudara muslim kita yang lain. Namun sebagaimana dinukil dari Ibnu ‘Abdil Barr dan selainnya, mereka mengatakan bahwa hukum memulai mengucapkan salam adalah sunnahsedangkan hukum membalas salam adalah wajib.

(Subulus Salam, 7/7) Ucapkanlah Salam Kepada Orang yang Engkau Kenali dan Tidak Engkau Kenali Bukhari membawakan dalam kitab shohihnya Bab ‘ Mengucapkan salam kepada orang yang dikenal maupun tidak dikenal ’. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bahwasanya ada seseorang yang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, أَىُّ الإِسْلاَمِ خَيْرٌ قَالَ « تُطْعِمُ الطَّعَامَ ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ ، وَعَلَى مَنْ لَمْ تَعْرِفْ » “ Amalan islam apa yang paling baik?

” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, bila lewat di depan orang yang lebih tua kita mengucapkan Memberi makan (kepada orang bila lewat di depan orang yang lebih tua kita mengucapkan butuh) dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenali dan kepada orang yang tidak engkau kenali.

” (HR. Bukhari no. 6236) Bahkan mengucapkan salam kepada orang yang dikenal saja, tidak mau mengucapkan salam kepada orang yang tidak dikenal merupakan tanda hari kiamat. Bukhari mengeluarkan sebuah hadits dalam Adabul Mufrod dengan sanad yang shohih dari Ibnu Mas’ud. Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa dia melewati seseorang, lalu orang tersebut mengucapkan, “ Assalamu ‘alaika, wahai Abu ‘Abdir Rahman .” Kemudian Ibnu Mas’ud membalas salam tadi, lalu dia berkata, إِنَّهُ سَيَأْتِي عَلَى النَّاس زَمَان يَكُون السَّلَام فِيهِ لِلْمَعْرِفَةِ “ Nanti akan datang suatu masa, pada masa tersebut seseorang hanya akan mengucapkan salam pada orang yang dia kenali saja .” Begitu juga dikeluarkan oleh Ath Thohawiy, Ath Thobroniy, Al Baihaqi dalam Asy Syu’ab dengan bentuk yang lain dari Ibnu Mas’ud.

Hadits ini sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (baca: hadits marfu’). Lafazh hadits tersebut adalah: مِنْ أَشْرَاط السَّاعَة أَنْ يَمُرّ الرَّجُل بِالْمَسْجِدِ لَا يُصَلِّي فِيهِ ، وَأَنْ لَا يُسَلِّم إِلَّا عَلَى مَنْ يَعْرِفهُ “ Di antara tanda-tanda (dekatnya) hari kiamat adalah seseorang melewati masjid yang tidak pernah dia shalat di sana, lalu dia hanya mengucapkan salam kepada orang yang dia kenali saja .” (Lihat Fathul Bari17/458) Ibnu Hajar mengatakan, “Mengucapkan salam kepada orang yang tidak kenal merupakan tanda ikhlash dalam beramal kepada Allah Ta’ala, tanda tawadhu’ (rendah diri) dan menyebarkan salam merupakan syi’ar dari umat ini.” (Lihat Fathul Bari17/459) Dan tidak tepat berdalil dengan hadits di atas untuk memulai mengucapkan salam pada orang kafir karena memulai salam hanya disyari’atkan bagi sesama muslim.

Jika kita tahu bahwa orang tersebut muslim, maka hendaklah kita mengucapkan salam padanya. Atau mungkin dalam rangka hati-hati, kita juga tidak terlarang memulai mengucapkan salam padanya sampai kita mengetahui bahwa dia itu kafir. (Lihat Fathul Bari17/459) Mengucapkan Salam dapat Mencapai Kesempurnaan Iman Dari ‘Amar bin Yasir, beliau mengatakan, ثَلاَثٌ مَنْ جَمَعَهُنَّ فَقَدْ جَمَعَ الإِيمَانَ الإِنْصَافُ مِنْ نَفْسِكَ ، وَبَذْلُ السَّلاَمِ لِلْعَالَمِ ، وَالإِنْفَاقُ مِنَ الإِقْتَارِ “ Tiga perkara yang apabila seseorang memiliki ketiga-tiganya, maka akan sempurna imannya: [1] bersikap adil pada diri sendiri, [2] mengucapkan salam pada setiap orang, dan [3] berinfak ketika kondisi pas-pasan.

” (Diriwayatkan oleh Bukhari secara mu’allaq yaitu tanpa sanad. Syaikh Al Albani dalam Al Iman mengatakan bahwa hadits ini shohih ) Ibnu Hajar mengatakan, “Memulai mengucapkan salam menunjukkan akhlaq yang mulia, tawadhu’ (rendah diri), tidak merendahkan orang lain, juga akan timbul kesatuan dan rasa cinta sesama muslim.” (Fathul Bari, 1/46) Saling Mengucapkan Salam akan Menimbulkan Rasa Cinta Mengucapkan salam merupakan sebab terwujudnya kesatuan hati dan rasa cinta di antara sesama muslim sebagaimana kenyataan yang kita temukan ( Huquq Da’at Ilaihal Fithroh46).

Dalil yang menunjukkan hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا. أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَىْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ “ Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai.

Maukah aku tunjukkan pada kalian suatu amalan yang jika kalian melakukannya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian .” (HR. Muslim no.

54) Siapa yang Seharusnya Mendahului Salam? Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِى ، وَالْمَاشِى عَلَى الْقَاعِدِ ، وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ “ Hendaklah orang yang berkendaraan memberi salam pada orang yang berjalan. Orang yang berjalan memberi salam kepada orang yang duduk. Rombongan yang sedikit memberi salam kepada rombongan yang banyak .” (HR.

Bukhari no. 6233 dan Muslim no 2160) Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يُسَلِّمُ الصَّغِيرُ عَلَى الْكَبِيرِ ، وَالْمَارُّ عَلَى الْقَاعِدِ ، وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ “ Yang muda hendaklah memberi salam pada yang tua. Yang berjalan (lewat) hendaklah memberi salam kepada orang yang duduk.

Yang sedikit hendaklah memberi salam pada orang yang lebih banyak. ” (HR. Bukhari no. 6231) Ibnu Baththol mengatakan, “Dari Al Muhallab, disyari’atkannya orang yang muda mengucapkan salam pada yang tua karena kedudukan orang yang lebih tua yang lebih tinggi.

Orang yang muda ini diperintahkan untuk menghormati dan tawadhu’ di hadapan orang yang lebih tua.” ( Subulus Salam, 7/31) Jika orang yang bertemu sama-sama memiliki sifat yang sama yaitu sama-sama muda, sama-sama berjalan, atau sama-sama berkendaraan dengan kendaraan yang jenisnya sama, maka di antara kedua pihak tersebut sama-sama diperintahkan untuk memulai mengucapkan salam.

Yang mulai mengucapkan salam, itulah yang lebih utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, الْمَاشِيَانِ إِذَا اجْتَمَعَا فَأَيُّهُمَا بَدَأَ بِالسَّلاَمِ فَهُوَ أَفْضَلُ “ Dua orang yang berjalan, jika keduanya bertemu, maka yang lebih dulu memulai mengucapkan salam itulah yang lebih utama .” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod dan Al Baihaqi dalam Sunannya.

Syaikh Al Albani dalam Shohih Adabil Mufrod mengatakan bahwa hadits ini shohih ) Namun jika orang yang seharusnya mengucapkan salam pertama kali tidak memulai mengucapkan salam, maka yang lain hendaklah memulai mengucapkan salam agar salam tersebut tidak ditinggalkan.

Jadi ketika ini, hendaklah yang tua memberi salam pada yang muda, yang sedikit memberi salam pada yang banyak, dengan tujuan agar pahala mengucapkan salam ini tetap ada. ( Huquq Da’at Ilaihal Fithroh47) Jika yang Diberi Salam adalah Jama’ah Jika yang diberi salam adalah jama’ah (banyak orang), maka hukum menjawab salam adalah fardhu kifayah jika yang lain telah menunaikannya.

Jika jama’ah diberi salam, lalu hanya satu orang yang membalasnya, maka yang lain gugur kewajibannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, يُجْزِئُ عَنِ الْجَمَاعَةِ إِذَا مَرُّوا أَنْ يُسَلِّمَ أَحَدُهُمْ وَيُجْزِئُ عَنِ الْجُلُوسِ أَنْ يَرُدَّ أَحَدُهُمْ “ Sudah cukup bagi jama’ah (sekelompok orang), jika mereka lewat, maka salah seorang dari mereka memberi salam dan sudah cukup salah seorang dari sekelompok orang yang duduk membalas salam tersebut.

” (HR. Abu Daud no. 5210. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih ). Dan sebagaimana dijelaskan oleh Ash Shon’ani bahwa hukum jama’ah (orang yang jumlahnya banyak) untuk memulai salam adalah sunnah kifayah (jika satu sudah mengucapkan, maka yang lain gugur kewajibannya). Namun, jika suatu jama’ah diberi salam, maka membalasnya dihukumi fardhu kifayah. ( Subulus Salam7/8) Balaslah Salam dengan Yang Lebih Baik atau Minimal dengan Yang Semisal Allah Ta’ala berfirman, وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا “ Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).

” (QS. An Nisa’: 86) Bentuk membalas salam di sini boleh dengan yang semisal atau yang lebih baik, dan tidak boleh lebih rendah dari ucapan salamnya tadi.

bila lewat di depan orang yang lebih tua kita mengucapkan

Contohnya di sini adalah jika saudara kita memberi salam: Assalaamu ‘alaikum, maka minimal kita jawab: Wa’laikumus salam. Atau lebih lengkap lagi dan ini lebih baik, kita jawab dengan: Wa’alaikumus salam wa rahmatullah, atau kita tambahkan lagi: Wa’alaikumus salam wa rahmatullah wa barokatuh.

bila lewat di depan orang yang lebih tua kita mengucapkan

Begitu pula jika kita diberi salam: Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah, maka minimal kita jawab: Wa’alaikumus salam wa rahmatullahi, atau jika ingin melengkapi, kita ucapkan: Wa’alaikumus salam wa rahmatullahi wa barokatuh. Ini di antara bentuknya. Bentuk lainnya adalah jika kita diberi salam dengan suara yang jelas, maka hendaklah kita jawab dengan suara yang jelas, dan tidak boleh dibalas hanya dengan lirih. Begitu juga jika saudara kita memberi salam dengan tersenyum dan menghadapkan wajahnya pada kita, maka hendaklah kita balas salam tersebut sambil tersenyum dan menghadapkan wajah padanya.

Inilah di antara bentuk membalas. Hendaklah kita membalas salam minimal sama dengan salam pertama tadi, begitu juga dalam tata cara penyampaiannya.

Namun, jika kita ingin lebih baik dan lebih mendapatkan keutamaan, maka hendaklah kita membalas salam tersebut dengan yang lebih baik, sebagaimana yang kami contohkan di atas.

(Lihat penjelasan bila lewat di depan orang yang lebih tua kita mengucapkan di Syarh Riyadhus SholihinSyaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin pada Bab ‘ Al Mubadaroh ilal Khiyarot ) Peringatan Hendaklah jika kita memberi salam (terutama melalui sms, email, surat, beri comment), janganlah ucapan salam tersebut kita ringkas menjadi: Ass.

atau Ass.wr.wb. atau yang lainnya. Bentuk semacam ini bukanlah salam. Salam seharusnya tidak disingkat. Seharusnya jika ingin mengirimkan pesan singkat, maka hendaklah kita tulis: Assalamu’alaikum. Itu lebih baik daripada jika kita tulis: Ass., tulisan yang terakhir ini tidak ada maknanya dan bukanlah salam.

Salam adalah bentuk do’a yang sangat bagus dan baik, kenapa kita harus menyingkat-nyingkat [?] Kenapa tidak kita tulis lengkap, bukankah itu lebih baik dan lebih utama [?] Janganlah kita dikepung dengan sikap malas ketika ingin berbuat baik, ubahlah sikap semacam ini dengan menulis salam lebih lengkap.

Jika salam tersebut melalui tulisan, sms, email dan sebagainya, maka hendaklah kita yang membaca salam tersebut, juga membalasnya dengan ditulis secara lengkap dan jangan disingkat-singkat. Itulah peringatan dari kami. Kami ingatkan demikian karena salam adalah do’a yang sangat baik sekali. Para ulama menjelaskan bahwa As Salam itu termasuk nama Allah. Sehingga jika kita mengucapkan Assalamu’alaikum, maka ini berarti kita mendo’akan saudara kita agar dia selalu mendapat penjagaan dari Allah Ta’ala.

Ada juga sebagian ulama mengartikan bahwa As Salam dengan keselamatan. Sehingga jika kita mengucapkan Assalamu’alaikum, maka ini berarti kita mendo’akan saudara kita agar dia mendapatkan keselamatan dalam masalah agama ataupun dunianya.

Jadi makna salam yang terakhir ini berarti kita mendo’akan agar saudara kita mendapatkan keselamatan dari berbagai macam kerancuan dalam agama, selamat dari syahwat yang menggelora, juga agar diberi kesehatan, terhindar dari berbagai macam penyakit, dan bentuk keselamatan lainnya. Dengan demikian, salam adalah bentuk do’a yang sangat bagus sekali.

Oleh karena itu, hendaklah kita selalu menyebarkan syiar salam ini ketika bertemu saudara kita, ketika berjalan, dan dalam setiap kondisi. Hendaklah pula kita mengucapkan salam kepada orang yang kita kenali ataupun tidak.

Dan dalam menulis sms atau email, hendaklah kita juga gemar menyebarkan syiar Islam yang satu ini. Semoga Allah memudahkan kita untuk mengamalkan yang satu ini dan semoga pelajaran yang kami sampaikan ini adalah di antara ilmu yang bermanfaat bagi diri kami dan pembaca sekalian.

Insya Allah, pembahasan ini masih kami lengkapi lagi pada posting-posting selanjutnya. Mudah-mudahan Allah memudahkan urusan ini. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Allahumman fa’ana bimaa ‘allamtana, wa ‘alimna maa yanfa’una wa zidnaa ‘ilmaa.

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Referensi : Subulus SalamAsh Shon’ani, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah Huquq Da’at Ilaihal FithrohSyaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin, Darul Istiqomah Fathul Bari, Ibnu Hajar, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah Syarh Riyadhus SholihinSyaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin, Asy Syamilah *** Pangukan, Sleman, 3 Shofar 1430 H Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel https://rumaysho.comDalam keseharian kita, mungkin sudah sering mendengar ucapan terima kasih maupun mengucapkan terima kasih.

Entah hanya sebatas basa-basi ataupun dengan tulus yang pasti mengucapkan terima kasih merupakan salah satu etika dasar yang wajib dalam berkomunikasi dengan orang lain terutama saat menerima sesuatu atau bantuan dari orang lain. Nah, ucapan terima kasih bagi lawan bila lewat di depan orang yang lebih tua kita mengucapkan yang mendengarnya merupakan suatu bentuk penghargaan lho jadi supaya ucapakan terima kasihmu lebih bermakna tentu ada caranya nih.

Penasaran? Berikut cara mengucapkan terima kasih yang baik. Yuk simak! pexels.com/bruce mars Ya, kamu seharusnya sudah tahu tentang hal ini bukan? Jangan lupa, senyuman biasanya meninggalkan kesan yang lebih dalam lho meskipun senyuman itu merupakan senyum palsu atau tidak tulus. Karena, tentu sulit untuk bisa menjaga mood baik setiap saat sehingga selalu bisa tersenyum dengan tulus. Tapi, percayalah tersenyum saat mengucapkan terima kasih jauh lebih baik daripada berterima kasih dengan muka masam atau cemberut.

Karena, bisa-bisa orang jadi salah paham nih kalau kamu memasang muka cemberut saat berterima kasih. Jadi, keep smiling ya! pexels.com/Buro Millennial Mengucapkan maksud berterima kasih pada hal tertentu juga lebih baik daripada sekadar mengucapkan kata 'terima kasih' saja. Karena, hal itu memperjelas maksud berterima kasih dan terasa lebih tulus kecuali berterima kasih hanya sekadar basa-basi. Misalnya, seorang teman membantumu mengerjakan tugas kuliah sampai selesai, kira-kira apa yang kamu ucapkan?

'Terima kasih ya, sudah membantuku mengerjakan tugas kuliah' atau 'terima kasih' saja? Kamu tentu sudah tahu mana ucapakan terima kasih yang lebih 'enak' didengar pada contoh situasi di atas. Baca Juga: 5 Aktivitas yang Bikin Kamu Bersyukur Setiap Hari, Yuk Terapkan! pexels.com/Christina Morillo Mengucapkan terima kasih sambil menyebut nama lawan bicara bisa membuat hubungan komunikasi dengan orang tersebut jauh lebih baik lho, karena terkesan lebih pribadi dan bersahabat.

• Untuk orang yang lebih tua misalnya: terima kasih pak Budi/terima kasih bu Dewi • Untuk orang yang umurnya sebaya: terima kasih Andi/terima kasih Siti • atau kamu bisa menambah kata bro/sis supaya terdengar lebih akrab (sebaiknya digunakan hanya pada teman/orang yang sebaya ataupun sudah akrab denganmu) Jadi, terlihat jelas bukan perbedaannya dibandingkan hanya mengucapkan 2 kata 'terima kasih' saja?

pexels,com/Kobe Michael Ingat, bahwa bahasa tubuh juga alat komunikasi yang penting yang bisa menunjukkan apakah kamu benar-benar berterima kasih atau tidak. Misalkan saja kamu mendapat ucapan terima kasih dari orang lain, namun orang tersebut mengucapkan sambil memalingkan mukanya bagaimana perasaanmu? Ya, banyak bahasa tubuh lain yang menunjukkan bagaimana perasaan sebenarnya dibanding ucapan di mulut. Jadi, berhati-hatilah sebab sedikit banyak orang lain juga pasti memperhatikan bahasa tubuhmu ketika berbicara.

pexels.com/mentatdgt Nah, yang terakhir sebenarnya ucapan terima kasih tidak perlu cara apapun asalkan kamu benar-benar tulus maka gestur maupun ucapanmu pasti lebih bermakna bagi orang yang mendengarnya.

Namun, bila kamu memang belum bisa tulus cobalah lagi untuk lebih tulus sambil mempraktikkan tips-tips di atas ya. Semoga bermanfaat! Baca Juga: 7 Alasan Kamu Harus Sering Berterima Kasih Kepada Diri Sendiri Berita Terpopuler • Daftar Tanggal Merah Desember 2022: Libur Natal • Kamu Workaholic?

Waspadai 7 Tanda Kamu Terlalu Keras ke Diri Sendiri • Trae Young, Mimpi Buruk Fans New York Knicks • 9 Ide Outfit Sambil Mirror Selfie ala Taehyun TXT yang Simpel Abis! • Hamas Mulai Bangkit, Menkeu Israel: Ini Semua Kesalahan Netanyahu • 5 Tips Membuat Kremesan yang Renyah, Perhatikan Kekentalan Adonan • Menko Muhadjir: Biaya Pasien Hepatitis Akut Ditanggung BPJS Kesehatan • 11 Inspirasi Gaya Kasual ala Choi Sooyoung, Simpel dan Kece • 7 Kue Lapis Khas Kalimantan Barat saat Lebaran, Bikin Hangat Suasana • Mengenal Khonsu, Dewa Bulan Mesir yang Muncul di Moon Knight Series
Dalam sehari-hari tentu kita lebih banyak menggunakan nama depan dalam menyapa seseorang, baik yang muda maupun yang tua.

Namun bila kita berada di negara yang menggunakan bahasa Inggrisbeda cerita. Bila kita belum mengenal seseorang dengan dekat, khususnya orang yang lebih tua, memanggil dengan nama depan dianggap tidak sopan, walaupun ini masih tergantung budaya negara tersebut. Jika kita tidak tahu ingin memanggil seseorang dengan panggilan apa, berikut ada contoh pertanyaan formal untuk menanyakan panggilan apa yang diinginkan: • What should I call you?

• Can I call you [nama depan]?

bila lewat di depan orang yang lebih tua kita mengucapkan

• What should I call your mom/teacher/manager? • Is it okay if I call you [nama panggilan yang sering dipakai]? • What’s your name? Contoh jawaban untuk pertanyaan di atas: • My name is [nama depan] • You can call me [nama depan atau nama panggilan] Pada orang yang kita bila lewat di depan orang yang lebih tua kita mengucapkan kenal dekat atau ingin menunjukkan rasa hormat, maka kita harus memakai panggilan formal yang biasanya diikuti dengan nama keluarga atau nama belakang dari orang tersebut.

Berikut adalah beberapa gelar formal dalam bahasa Inggris: • Sir (untuk laki-laki dewasa) • Ma’am (untuk perempuan dewasa, umum digunakan di negara benua Amerika Utara) • Madam (untuk perempuan dewasa) • Mr + nama belakang (laki-laki) • Mrs + nama belakang (untuk perempuan dewasa yang telah menikah dan menggunakan nama keluarga atau mana belakang suaminya) • Ms + nama belakang (untuk perempuan dewasa yang belum menikah atau sudah menikah namun tidak menggunakan nama belakang suaminya; umum digunakan dalam bisnis) • Miss + nama belakang (untuk perempuan yang belum menikah) • Dr + nama belakang (ada beberapa dokter yang menggunakan nama depannya) • Professor + nama belakang (untuk kalangan universitas) Jika kita sedang berada di dalam hubungan yang casual dengan seseorang maka akan lebih nyaman jika menggunakan nama depan, nama panggilan, atau nama yang dipakai untuk menunjukkan rasa kasih sayang.

• Nama depan • Miss/Mr + nama belakang (biasanya digunakan untuk guru yang mengajar seni) • Honey • Dear • Sweetie • Love • Darling • Baby • Pal • Buddy • Materi Pelajaran Bahasa Inggris Kelas 5 • Materi Pelajaran Bahasa Inggris Kelas 6 • Materi Pelajaran Bahasa Inggris Kelas 7 Semester 2 • Materi Pelajaran Bahasa Inggris Kelas 8 • Materi Pelajaran Bahasa Inggris Kelas 9 • Materi Pelajaran Bahasa Inggris Kelas 10 • Materi Pelajaran Bahasa Inggris Kelas 11 • Materi Pelajaran Bahasa Inggris Kelas 12
mengucapkan kata “uffin” dan menghardik ( lebih-lebih lagi bila kedua orang tua sudah berusia lanjut) Akhlak Kepada Guru  Guru adalah orang tua kedua, yaitu orang yang mendidik murid-muridnya untuk menjadi lebih baik sebagaimana yang diridhoi Alloh ‘azza wa jalla.

Sebagaimana wajib hukumnya mematuhi kedua orang tua, maka wajib pula mematuhi perintah para guru selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan syari’at agama.

 Di antara akhlaq kepada guru adalah memuliakan, tidak menghina atau mencaci-maki guru, sebagaimana sabda Rosululloh saw :  ا َ ن َ ريِغ َ ص ْ م َ ح ْ ر َ ي َ و ا َ ن َ ريِبَك ْ رِ ِق َ و ُ ي ْ مَل ْ ن َ م اَ ِ نِم َ س ْ يَل “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan orang yang lebih tua dan tidak menyayangi orang yang lebih muda.” ( HSR.

Ahmad dan At-Tirmidzi )  Di antara akhlaq kepada guru adalah mendatangi tempat belajar dengan ikhlas dan penuh semangat, sebagaimana sabda Rosululloh saw :  ِةَ ِ ن َ جْلا ىَل ِ إ ا ً قي ِ ر َ ط ِهِب ُ هَل ُ ه َ ِللا َل َ ِ ه َ س ا ً مْلِع ِهيِف ُ سِم َ تْل َ ي ا ً قي ِ ر َ ط َكَل َ س ْ ن َ م “Barangsiapa menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu padanya, Alloh mudahkan baginya dengannya jalan menuju syurga.” ( HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah )  Di antara akhlaq kepada guru adalah datang ke tempat belajar dengan penampilan yang rapi, sebagaimana sabda Rosululloh saw :  َلا َ م َ جْلا ُ ِ ب ِح ُ ي ٌليِم َ ج َ ه َ ِللا َ ِ ن ِ إ “Sesungguhnya Alloh itu indah dan suka kepada keindahan.”( HR.

Ahmad, Muslim dan Al- Hakim )  Di antara akhlaq kepada guru yaitu diam memperhatikan ketika guru sedang menjelaskan, sebagaimana hadits Abu Sa’id Al-Khudri ra :  َ ر ْ ي َ ِ طلا ْ مِه ِسو ُ ء ُ ر ىَل َ ع َ ِ ن َ أَك ُ ساَ ِ نلا َ تَك َ س َ و “Orang-orang pun diam seakan-akan ada burung di atas kepala mereka.” ( HR.

Al-Bukhori )  Imam Sufyan Ats-Tsauri rohimahulloh berkata : “Bila kamu melihat ada anak muda yang bercakap-cakap padahal sang guru sedang menyampaikan ilmu, maka berputus-asalah dari kebaikannya, karena dia sedikit rasa malunya.”( AR.

Al-Baihaqi dalam Al-Madkhol ilas-Sunan )  Di antara akhlaq kepada guru adalah bertanya kepada guru bila ada sesuatu yang belum dia mengerti dengan cara baik. Alloh berfirman :  َ ن ْ و ُ مَل ْ ع َ ت َل ْ م ُ ت ْ نُك ْ ن ِ إ ِ رْكِ ِذلا َل ْ ه َ أ ا ْ وُل َ أ ْ ساَف “Bertanyalah kepada ahli dzikr ( yakni para ulama ) bila kamu tidak tahu.”( Qs.

An-Nahl : 43 dan Al-Anbiya’ : 7 )  Rosululloh saw bersabda :  ُلا َ ؤ ُ ِ سلا ِ ِ يِعْلا ُ ءا َ ف ِش ا َ مَ ِ ن ِ إَف او ُ مَل ْ ع َ ي ْ مَل ْذ ِ إ ا ْ وُل َ أ َ س َل َ أ “Mengapa mereka tidak bertanya ketika tidak tahu ?

bila lewat di depan orang yang lebih tua kita mengucapkan

Bukankah obat dari ketidaktahuan adalah bertanya ?” ( HSR. Abu Dawud )  Dan menghindari pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada faedahnya, sekedar mengolok- olok atau yang dilatarbelakangi oleh niat yang buruk, oleh karena itu Alloh berfirman :  ْ مُك ْ ؤ ُ س َ ت ْ مُكَل َ د ْ ب ُ ت ْ ن ِ إ َ ءا َ ي ْ ش َ أ ْ ن َ ع ا ْ وُل َ أ ْ س َ ت َلا ْ و ُ ن َ مآ َ ن ْ يِذ َ ِلا ا َ ه ُ ِ ي َ أ ا َ ي “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan sesuatu yang bila dijawab niscaya akan menyusahkan kalian.” ( Qs.

Al-Maidah : 101 )  Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :  ِهِتَل َ أ ْ س َ م • Company About Us Scholarships Sitemap Q&A Archive Standardized Tests Education Summit • Get Course Hero iOS Android Chrome Extension Educators Tutors • Careers Leadership Careers Campus Rep Program • Help Contact Us FAQ Feedback • Legal Copyright Policy Academic Integrity Our Honor Code Privacy Policy Terms of Use Attributions • Connect with Us College Life Facebook Twitter LinkedIn YouTube Instagram
Adab kepada orang tua- Dalam ajaran Islam orang tua memiliki kedudukan yang sangat mulia di hadapan anak-anaknya.

Sampai-sampai apa saja yang diperintahkan oleh orang tua harus ditaati, jika tidak maka seseorang bisa terjatuh ke dalam kedurhakaan terhadap orang tuanya. Kecuali apabila perintah tersebut memang mengandung unsur kemaksiatan kepada Allah ta'ala. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda: لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةٍ ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ Artinya: "Tidak ada ketaatan dalam rangka bermaksiat (kepada Allah).

Ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang ma'ruf (bukan maksiat)" (HR. Bukhari no. 7257). Maka dari itu seorang anak yang soleh harus memiliki adab yang mulia terhadap orang kedua orang tuanya. Apa saja adab-adab kepada orang tua menurut Islam? Adab Terhadap Orang Tua Dalam Islam Setidaknya ada 20 adab anak kepada orang tuanya yang berhasil kami tulis setelah membaca bila lewat di depan orang yang lebih tua kita mengucapkan Muntaqa Al Adab Asy Syar'iyah, Majid Saud Al Ausyan/1435 H.

1. Berbakti Pada Orang Tua Adab pertama seorang anak kepada ibu atau bapaknya ialah berbakti kepada keduanya. Amalan ini merupakan suatu amalan yang mulia di sisi Allah dan RasulNya. Sampai-sampai tingkatan prioritas berbakti kepada orang tua lebih didahulukan daripada jihad fii sabilillah.

Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Mas'ud beliau berkata, "Aku telah bertanya kepada Rasulullah, 'Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah?' Beliau menjawab, 'Sholat (tepat) pada waktunya.' Aku bertanya lagi, 'Kemudian apa lagi?' Beliau menjawab, 'Berbakti kepada kedua orangtua.' Aku bertanya lagi, 'Kemudian apa?' Beliau menjawab, 'Jihad di jalan Allah." (Hadits Shahih, Muttafaq 'alaih) Baca juga: 10 Kewajiban Anak Di Rumah Yang Wajib Dipenuhi 2. Memperbanyak Mendoakan Orang Tua Seorang anak yang sholih seyogyanya memperbanyak berdoa kepada Allah dan memohonkan ampunan untuk kedua orangtuanya.

Terutama jika kedua orang tua sudah meninggal dunia. Maka harapan mereka di alam kubur adalah doa dari anak anaknya yang sholih.

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ "Jika manusia meninggal dunia, maka terputus amalannya, kecuali 3 perkara: yakni shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakannya." (HR.

Muslim: 1631) 3. Mencium Kepala Kedua Orang tua Salah satu etika kepada orangtua itu mencium keningnya. Hal ini sebagai bentuk kasih sayang dan hormat kita kepada orangtua.

Jadi seorang muslim dianjurkan bila lewat di depan orang yang lebih tua kita mengucapkan mencium kepala mereka dengan penuh rasa hormat dan kasih sayang. Supaya keduanya meridhoi kita. 4. Membayarkan Hutang Orang Tuanya Jikalau kita tahu orangtua kita mempunyai hutang maka alangkah baiknya kita membayarkan hutangnya bila kita mampu. Berdasarkan hadits Ibnu Abbas, "Bahwasannya Sa'ad bin Ubadah meminta fatwa kepada Rasulullah seraya mengatakan, 'Sesungguhnya ibuku meninggal dunia dan menanggung kewajiban nadzar, (maka apa yang harus aku lakukan?).' Beliau menjawab, 'Laksanakanlah nadzarnya untuk menggantikannya." (HR.

Bukhari dan Muslim) 5. Mendahulukan Orang Tua Mendahulukan orangtua daripada yang lain adalah salah satu hal yang harus dilakukan oleh seorang anak. Ketaatan kepada orang tua lebih diutamakan daripada yang lain. Kecuali jika anak perempuan sudah menikah. Maka ketaatan pada suami lebih diutamakan baru kedua orangtuanya. 6. Membahagiakan Kedua Orang Tuanya Mendatangkan rasa bahagia dan senang kepada orangtua dengan segala sesuatu yang mampu dia lakukan, seperti memberikan hadiah, bepergian dengan membawa mereka berdua dan bersenda gurau dengan mereka.

7. Menjaga Kedua Orang Tua Kita Menjaga keduanya juga salah satu adab seorang muslim pada orang tua. Terutama bagi orang tuanya yang sudah tua dan sakit.

Maka sebaiknya kita menjaga keduanya dengan baik bahkan harus rela begadang demi menjaga mereka saat sakit agar mereka bisa beristirahat dengan nyaman.

8. Berbicara Dengan Lembut وإذا تكَلَّمَ خَفَضُوا أصواتَهم عندَه ، وما يُحِدُّون إليه النظرَ؛ تعظيمًا له "Jika para sahabat berbicara dengan Rasulullah, mereka merendahkan suara mereka dan mereka tidak memandang tajam sebagai bentuk pengagungan terhadap Rasulullah" (HR. Al Bukhari 2731). Selain itu Allah juga berfirman dalam surat Al Isra' ayat 23, bunyinya: وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.

Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." 9.

Bersegera Dalam Menyambut Orang Tua Jika seorang anak jauh dari orangtua lalu mereka datang untuk menjenguk maka adab seorang anak kepada orang tua yaitu bersegera menyambut dan menemui mereka. Seperti ketika di pesantren terkadang orangtua tiba tiba datang ingin menjenguk anaknya. 10. Mencium Tangan Mereka Saat Bersalaman Adab selanjutnya yakni mencium tangan orang tua ketika bersalaman.

bila lewat di depan orang yang lebih tua kita mengucapkan

Hal ini menunjukkan rasa hormat kita bila lewat di depan orang yang lebih tua kita mengucapkan mereka. Dan bisa menyenangkan hati keduanya. Di posisi ini kita benar-benar membedakan kedudukan antara orang tua dan teman. 11. Memuliakan Orang Tua Seorang anak hendaknya tidak menjelek jelekan orang tua meski kita pernah merasa jengkel. Apalagi bila menjelek-jelekkan di depan orang orang atau di forum publik seperti media sosial atau tempat umum lainnya.

Jadi tetap hormati keduanya, memuliakan kedudukan keduanya serta memberikan apa yang mereka inginkan sesuai kemampuan anda. 12. Tidak Mengeraskan Suara Di Hadapan Orang Tua Inilah adab yang paling penting.

Yakni kebalikan dari melembutkan suara. Jangan mengeraskan suara melebihi suara orang tua. Apalagi ketika dinasehati maka jangan sampai kita membantah dan membangkangnya.

Karena hal itu termasuk bentuk kedurhakaan seorang anak terhadap orangtuanya. Bahkan hanya berkata 'uh' saja tidak boleh apalagi sampai membentaknya (Baca ayat Al Quran yang sudah kami tulis di atas). 13. Mintalah Pendapat Orang Tua dalam Segala Urusan Hari ini mungkin pendapat seorang anak mutlak tidak boleh diganggu oleh siapapun.

Padahal seharusnya terlebih dahulu meminta pendapat dari orang tua kita sebelum memutuskan sesuatu. Hal ini sebagai bentuk rasa hormat kita terhadap mereka. Misalnya jika seorang anak sedang dihadapkan sebuah permasalahan atau urusan pekerjaan maka diskusikan dahulu dengan kedua orang tua. Selain sudah berpengalaman, mereka juga bisa memberikan beberapa solusi sehingga kita tidak kesulitan.

14. Jangan Berbohong Pada Keduanya Berbohong adalah suatu dosa yang mana Allah juga tidak menyukai pelakunya. Berbohong dapat menghantarkan pelakunya ke dalam neraka Allah. Berbohong pada siapapun tidak boleh apalagi kepada orangtua. Kecuali jika berbohong terpaksa atau demi kebaikan dan itupun harus syari dengan beberapa pertimbangan.

15. Jangan Tidur Sebelum Orangtua Tidur Maksud adab terhadap orang tua yang ke 15 ini yaitu sebaiknya seorang anak tidak tidur terlebih dahulu sedangkan orangtua masih bekerja. Maka itu bukanlah adab yang baik.

Namun adab yang buruk. Sehingga temanilah mereka atau minimal bantu mereka dalam menyelesaikan pekerjaannya. Jika semua urusan sudah selesai barulah kita boleh istirahat atau tidur.

bila lewat di depan orang yang lebih tua kita mengucapkan

(Kecuali kalau memang orang tua menyuruh kita istirahat) 16. Jangan Menjulurkan Kaki di Depan Orang Tua Salah satu adab yang baik seorang anak terhadap orangtuanya adalah tidak menjulurkan kakinya di hadapan orangtua. Jika itu dilakukan maka sungguh tidak sopan sekali. Bukan hanya kepada orang tua, bahkan kepada orang lain pun perbuatan ini sangat tidak layak dan harus dihindari. 17. Adab Berjalan Bersama Orangtua Termasuk ketika berjalan dengan orangtua juga harus memperhatikan adabnya.

Jangan berjalan di samping mereka namun mundurlah dari posisinya sedikit. Tidak mendahului keduanya saat menaiki tangga, selalu merendahkan diri dihadapan keduanya dan tidak menakut-nakutinya saat perjalanan bersama keduanya. 18. Adab Ketika Duduk Janganlah kalian duduk dengan posisi lebih tinggi daripada tempat duduk kedua orang tua. Jika dilakukan sangat tidak sopan dan menunjukkan kesombongan serta tidak menghormati keduanya.

Selain itu tidak diperbolehkan juga duduk dihadapan orang tua sedangkan mereka berdiri. Sebagaimana Jundub bin Abdullah radiyallahuanhu berkata tenang gambaran adab sahabat kepada Nabi: "Rasulullah shallallahualaihi wasallam mengaduh (karena sakit), ketika itu kami shalat bermakmum di belakang beliau, saat itu beliau dalam keadaan duduk.

Dan Abu Bakar memperdengarkan takbirnya kepada orang-orang. Kemudian beliau menoleh kepada kami (sahabat), sehingga beliau pun melihat kami shalat dalam keadaan berdiri. Lalu beliau memberi isyarat kepada kami untuk duduk. Maka setelah itu kami shalat dengan mengikuti shalatnya dalam keadaan duduk. Ketika beliau mengucapkan salam, maka beliau bersabda, 'kalian baru saja hampir melakukan perbuatan kaum Persia dan Romawi, mereka berdiri di hadapan raja mereka, sedangkan mereka dalam keadaan duduk, maka janganlah kalian melakukannya.

Berimamlah dengan imam kalian. Jika dia shalat dalam keadaan berdiri, maka shalatlah kalian dalam keadaan berdiri, dan jika dia shalat dalam keadaan duduk, maka kalian shalatlah dalam keadaan duduk" (HR.

bila lewat di depan orang yang lebih tua kita mengucapkan

Muslim, no. 413). 19. Adab Ketika Memanggil Orang Tua Tidak diperkenankan seorang anak memanggil orang tua dengan menyebut namanya saja. Serta jika orang tua memanggil maka segeralah penuhi panggilan mereka. Berdasarkan hadits dari Abu Hurairah, "Bahwasannya beliau pernah melihat dua orang laki laki lalu beliau berkata kepada salah seorang dari keduanya, 'Apa (kedudukan) orang ini dari dirimu?' Maka orang itu menjawab, 'Dia bapakku.' Maka beliau berkata, 'Janganlah engkau memanggilnya dengan menyebut namanya, jangan berjalan di depannya dan jangan duduk sebelumnya." 20.

Adab Ketika Orang Tua Meninggal Dunia Adab yang terakhir adalah ketika orang tua sudah meninggal dunia. Bentuk bakti kita adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam ketika beliau ditanya, "Wahai Rasulullah, apakah masih tersisa sesuatu bentuk baktiku kepada kedua orangtuaku yang bisa aku wujudkan setelah mereka berdua meninggal dunia?" Beliau menjawab, 'Ya, (yaitu) mendoakan mereka berdua, memohonkan ampunan bagi mereka berdua, melaksanakan janji (wasiat) mereka berdua setelah mereka meninggal, menyambung tali silaturahmi yang tidak bisa disambung kecuali dengan (sebab hubungan) mereka berdua dan memuliakan teman mereka berdua." (HR.

Abu Dawud no. 5142) Kesimpulannya beberapa poin dari hadits di atas: • Berbuat amal jariyah (membangun masjid, shadaqah dan lain lain) • Mendoakan keduanya dan memohonkan ampunan padanya. • Memenuhi wasiatnya. • Berbuat baik terhadap teman, saudara dan selalu menyambung silaturrahmi. Itulah 20 adab kepada orang tua yang wajib dilaksanakan oleh seorang anak yang sholih dan taat. Semoga artikel ini sangat bermanfaat untuk kalian agar senantiasa berbakti kepada keduanya.

Aamin. Sekian dari kami wassalamualaikum [Abu Zaid Muttaqin, referensi:Muntaqa Al Adab Asy Syar'iyah, Majid Saud Al Ausyan/1435 H] Adab Islam (32) Al Quran (19) Artikel Kuttab (42) Diskusi Pendidikan (108) Download Kitab (31) Info Umum Muslim (21) Kata Bijak (5) Kisah Kisah (84) Kisah Nabi Muhammad (5) Kisah Orang Soleh (9) kisah pilihan (8) Kisah Sahabat Nabi (53) Kisah Sohabiyah (4) Kisah Ulama (18) Kolom Remaja (6) Kultum Ramadhan (9) Kumpulan Doa (2) Madraasah (1) Percakapan Iman (9) Ramadhan (9) Tips Muslim (17)

8 Mei 2022




2022 www.videocon.com