Hukum masturbasi di bulan puasa

hukum masturbasi di bulan puasa

Solopos.com, SOLO – Onani atau masturbasi adalah proses memperoleh kepuasan seks tanpa berhubungan kelamin atau juga pengeluaran mani tanpa melakukan sanggama. Bagaimana hukum onani saat menjalankan ibadah puasa? Berdasarkan keterangan Fatwa Majelis Tajrih Muhammadiyah di laman resminya, orang Islam yang melakukan onani pada siang hari maka puasanya akan batal. Sesuai dengan artinya, onani atau masturbasi adalah perbuatan sengaja untuk mendapatkan kenikmatan.

Promosi Analog Switch Off Dimulai Besok, Selamat Jalan TV Ghosting dan Bersemut Onani atau masturbasi adalah aktivitas dengan tujuan meraih puncak kenikmatan seperti saat melakukan hubungan suami-istri. Dengan begitu, hukum onani atau masturbasi sama saja dengan hubungan suami-istri siang hari saat puasa. Baca Juga: Dulu Umat Islam Puasa dari Isya Sampai Magrib, Hampir 24 Jam “Onani/mengeluarkan sperma adalah perbuatan sengaja untuk memperoleh kenikmatan. Dan kenikmatan itu merupakan puncak yang dituju orang pada persetubuhan, maka onani hukumnya disamakan dengan bersetubuh, oleh karena itu jika dilakukan pada siang hari pada bulan Ramadan, batal puasanya,” begitu keterangan dari Majelis Tajrih Muhammadiyah.

Hukum onani dan masturbasi saat puasa itu berbeda dengan hukum mimpi basah. Majelis Tajrih Muhammadiyah menegaskan mimpi basah tidak membatalkan puasa karena bukan perbuatan yang disengaja. Baca Juga: Potong Rambut Saat Puasa Bikin Batal atau Tidak? Ini Hukumnya “Berbeda dengan orang yang tidur di siang hari pada bulan Ramadan kemudian mimpi keluar sperma, hal itu tidak membatalkan puasa karena orang yang dalam keadaan tidur tidak dikenakan ketentuan hukum, karena termasuk perbuatan yang tidak sengaja,” tegas Majelis Tajrih Muhammadiyah.

Dengan begitu, sudah dapat disimpulkan orang yang berpuasa dilarang melakukan onani dan masturbasi. Itu dapat membatalkan puasa dan menimbulkan dosa bagi yang melakukannya. tirto.id - Esensi puasa adalah menahan diri dari nafsu dan syahwat, termasuk gairah seksual. Oleh karena itu, hubungan suami istri pada siang hari merupakan salah satu dari perbuatan yang membatalkan puasa. Lalu, apakah masturbasi membatalkan puasa? Sebelum membahas perkara ini, perlu diketahui definisi masturbasi dalam hukum Islam.

Ahmad Nuryani dalam Hukum Istimna' (2009) menulis: bahwa masturbasi adalah perilaku mengeluarkan sperma secara sengaja, melalui tindakan yang merangsang alat vital, yakni kelamin, dengan memakai tangan atau benda lain untuk mencapai taraf orgasme. Perincian definitif ini berpengaruh pada hukum tentang keadaan keluar sperma saat berpuasa.

Hal ini dikarenakan, sebagaimana dilansir NU Online, keluarnya sperma atau mani dari kelamin ketika berpuasa terbagi menjadi dua keadaan dan memiliki hukum yang berbeda. Pertama, jika sperma keluar dengan sendirinya, tanpa adanya keinginan dan persentuhan secara langsung. Misalnya, karena mimpi basah atau secara tidak sengaja menyaksikan tayangan seronok mengundang syahwat, lalu keluar sperma.

Hukum keluar sperma hukum masturbasi di bulan puasa mimpi basah atau tidak sengaja ini tidak membatalkan puasa. Abu Dawud Sulaiman bin Al-Asy'ats As-Sijistani dalam Kitab Puasa Sunan Abu Hukum masturbasi di bulan puasa menuliskan, bahwa mimpi basah tidak membatalkan puasa.

Pendapat ini dilandasi hadis riwayat Muhammad bin Katsir, bahwa Sufyan mengabarkan dari Zaid bin Aslam, dari salah seorang sahabatnya, dari salah seorang sahabat Nabi Muhammad Saw, bahwa Rasulullah Saw.

bersabda, "Tidaklah batal puasa orang yang muntah, mimpi basah, dan orang yang berbekam," (H.R. Abu Dawud). Selain itu, dalam keadaan tidur, orang dibebaskan dari ketentuan hukum. Hal ini sesuai hadis yang diriwayatkan dari ‘Aisyah: "Ada tiga golongan yang dibebaskan dari ketentuan hukum, yaitu orang sedang tidur sebelum bangun, anak-anak sampai ia ihtilam (bermimpi basah tanda dewasa), dan orang gila sampai ia sembuh" (H.R.

Nasa’i, Abu Dawud, dan Tirmizi). Kedua, jika keluar sperma dari alat vital disebabkan karena unsur kesengajaan, seperti melalui masturbasi, maka hal tersebut membatalkan puasa.

Hal ini didasari oleh firman Allah SWT, melalui hadis qudsi sebagai berikut: "Orang yang berpuasa itu meninggalkan syahwat, makan, dan minumnya," (HR. Bukhari). Merujuk pada hadis qudsi di atas, aktivitas masturbasi bisa dianggap sebagai bagian dari syahwat yang harus ditahan ketika orang berpuasa. Ulama dari Madzhab Syafi'i, Abu Abdil Mu’thi Muhammad Nawawi bin Umar Al-Jawi dalam kitabnya Nihayatu Az-Zain Fi Irsyadi Al-Mubtadi-in juga memberikan penjelasan tentang hukum masturbasi sebagai perbuatan yang membatalkan puasa, berikut ini.

"Masturbasi, bahkan meskipun tidak ada niat mengeluarkan air mani, tetapi keluar karena adanya persentuhan atau kontak langsung antar-kulit sebagai indera perasa dengan suatu barang, semisal mencium, menggenggam dengan tangan, atau menempelkan alat kelamin pada sesuatu sehingga keluar air mani, maka hal itu membatalkan puasa." Hukum Masturbasi Setelah Buka Puasa Ramadhan Jika mengeluarkan sperma dengan sengaja meski tanpa hubungan suami-istri dapat membatalkan puasa, bagaimana hukum masturbasi setelah berbuka puasa?

Oleh karena menahan nafsu dan syahwat saat berpuasa diwajibkan sejak terbit fajar hingga waktu magrib atau tenggelamnya matahari, maka hukum masturbasi usai berbuka sama dengan hukum melakukan tindakan ini pada hari biasa.

Mengenai hukum masturbasi pada hari biasa atau selain pada waktu puasa, para ulama berbeda pendapat. Namun, para ulama bersepakat bahwa masturbasi merupakan perilaku buruk dan bukan bagian dari akhlak yang baik, menurut ajaran Islam. Kembali mengutip ulasan Ahmad Nuryani dalam Hukum Istimna' (2009), terdapat dua pendapat ulama mengenai hukum masturbasi dalam Fikih Islam.

Pertama, menurut para ulama mazhab Maliki, Syafi'i, dan Hanafi, masturbasi atau onani hukumnya haram dilakukan oleh siapa pun. Salah satu dasar pendapat ini adalah firman Allah SWT dalam surat Alma'arij ayat 29 dan 30: "Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela." Kedua, pendapat ulama mazhab Hanbali yang menyatakan hukum masturbasi adalah makruh.

Hal ini karena perbuatan masturbasi tidak ditemukan di Al-Quran yang menyatakan keharamannya. "Sesuai dengan apa yang beliau [Ahmad ibn Hanbal], bahwa mani adalah barang berlebih yang boleh dikeluarkan sebagaimana kita boleh memotong atau membuang barang berlebih dari tubuh seseorang .

Ahmad ibn Hanbal menganggap bahwa perbuatan ini tidak sesuai akhlakul karimah [karenanya, hukum onani menjadi makruh]," ( Hukum Istimna', hlm. 79-80). Oleh sebab itu, masturbasi sebaiknya tidak dilakukan karena termasuk perbuatan tidak terpuji dan bahkan diharamkan oleh para ulama dari tiga mazhab.

Apalagi, pada bulan Ramadhan, umat Islam dianjurkan untuk menyibukkan diri dengan beribadah dan melakukan amalan baik untuk mendekatkan hukum masturbasi di bulan puasa kepada Allah SWT, sekaligus meninggalkan perbuatan-perbuatan tercela. Baca juga: • Hukum Lupa Baca Niat Puasa Ramadhan pada Malam Hari • Hukum Sikat Gigi Saat Berpuasa di Bulan Ramadhan, Apakah Boleh?

• Hukum Menghirup Inhaler Saat Berpuasa, Apakah Batal atau Tidak? • Mencicipi Makanan Saat Puasa Ramadhan Hukumnya Boleh atau Tidak?

hukum masturbasi di bulan puasa

• Hukum Mimpi Basah Saat Menjalankan Puasa hukum masturbasi di bulan puasa Bulan Ramadan • Hukum Berenang Bagi Orang Puasa, Pendapat Ulama, Prinsip Hati-Hati
Dalam kajian fiqih dikenal istilah istimna‘ yaitu mengeluarkan sperma atau air mani tanpa melalui senggama, baik dengan tangan sendiri maupun yang lain, dengan tujuan memenuhi dorongan seksual.

Istimna’ pada pria dikenal dengan istilah “onani”, sedangkan pada wanita dikenal dengan istilah “masturbasi”. Mayoritas ulama fiqih membolehkan istimna‘, baik dengan tangan maupun dengan yang lain, bila dilakukan bersama pasangan yang sah. Ini bisa dilakukan selama tidak ada perkara yang mencegah mereka melakukan hal tersebut seperti haid, nifas, puasa, i'tikaf, atau ibadah haji. Sebab, pasangan adalah tempat menyalurkan kebutuhan seksual yang dibenarkan syariat Sedangkan istimna‘ yang dilakukan sendiri, baik oleh pria maupun wanita, hukumnya masih diperdebatkan oleh para ulama.

Ada yang mengharamkan secara mutlak. Ada pula yang mengharamkan dalam kondisi tertentu, dan membolehkan dalam kondisi yang lain. Namun, ada pula yang memakruhkan. Artikel terkait: "Aku Melihat Anakku Masturbasi" - Lalu Apa Tindakan Ibu Ini? Adapun para ulama yang mengharamkan adalah ulama Maliki dan Syafi‘i. Ulama Syafi‘i beralasan bahwa Allah memerintah menjaga kemaluan kecuali di hadapan istri atau budak perempuan yang didapat dari hasil peperangan.

Hal ini tercantum dalam sebuah ayat yang berbunyi: Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. (QS al-Mukminun [23]: 5-6). Mereka yang keluar dari hukum masturbasi di bulan puasa ayat di atas dianggap melampaui batas, melanggar ketentuan Allah, dan keluar dari fitrah.

Ini juga dijelaskan dalam selanjutnya yang berbunyi: Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (QS al-Mukminun [23]: 7).

Di samping itu, Allah juga memerintahkan agar yang belum mampu menikah untuk bersabar menahan dorongan syahwat dan keinginan seksualnya. Hingga nanti Allah memberikan kemampuan dan kemudahan untuk menikah dengan karunia-Nya. Hal ini tercantum dalam sebuah ayat: Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya, (QS al-Nur [24]: 33). Dengan demikian, menurut ulama Syafi‘i, istimna (onani atau masturbasi) merupakan kebiasaan buruk yang diharamkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah.

Hanya saja dosa onani atau masturbasi lebih ringan dosanya dari berzina karena bahayanya tak sebesar yang ditimbulkan perzinaan, seperti kacaunya garis keturunan, dan sebagainya.

Artikel Terkait: Apakah masturbasi memiliki manfaat kesehatan? ini penjelasannya! Hukum onani dan masturbasi saat puasa Rasulullah bersabda: “ Orang yang berpuasa itu meninggalkan syahwat, makan dan minumnya .” (HR.

Bukhari no. 7492). Dari hadis tersebut dijelaskan bahwa ketika berpuasa, kita tidak hanya menahan lapar dan dahaga tapi juga harus menahan nafsu syahwat dan menjauhi maksiat.

hukum masturbasi di bulan puasa

Jika puasa dilakukan dengan tetap melakukan perbuatan yang diharamkan seperti masturbasi maka puasanya tidaklah sempurna dan tidak mendapatkan amal kebaikan karena tidak disertai dengan menjaga hawa nafsu.

Orang tersebut hanya akan mendapatkan lapar dan dahaga saja, tidak mendapatkan kebaikan dan pahala yang sempurna, puasa yang dilakukan akan sia sia. Artikel terkait: Masturbasi saat jauh dari suami, apakah Islam membolehkan? Apakah onani dan masturbasi dapat membatalkan puasa?

Lalu, apakah orang yang melakukan onani atau masturbasi otomatis puasanya batal?

hukum masturbasi di bulan puasa

Ibnu Qudamah dalam Al Mughni berkata, “ Jika seseorang mengeluarkan mani secara sengaja dengan tangannya, maka ia telah melakukan suatu yang haram. Puasanya tidaklah batal kecuali jika mani itu keluar. Jika mani keluar, maka batallah puasanya. Karena perbuatan ini termasuk dalam makna qublah yang timbul dari syahwat .” Dari hadis di atas dapat disimpulkan bahwa jika seseorang mengeluarkan air mani ketika bermasturbasi hukum masturbasi di bulan puasa puasanya akan batal.

Namun, jika tidak mengeluarkan air mani maka puasanya tidak batal. Meski tidak membatalkan puasa (jika tidak mengeluarkan air mani), dianjurkan untuk tidak melakukan onani dan masturbasi. Mayoritas ulama memandang istimna’, baik oleh laki-laki (onani) atau oleh perempuan (masturbasi) sebagai perbuatan tidak terpuji, melampaui batas, dan melanggar fitrah manusia. Berpuasa sejatinya adalah cara melatih diri untuk menahan hawa nafsu. Oleh sebab itu, sudah seyogyanya kita mengisi bulan Ramadhan dengan perbuatan baik dan beramal ibadah dan tidak melakukan perbuatan maksiat.

Sumber: Dalam Islam, Nu.or.id Baca juga: id.theasianparent.com/dampak-masturbasi id.theasianparent.com/masturbasi-menyebabkan-jerawat id.theasianparent.com/bahaya-masturbasi • Kehamilan • Tips Kehamilan • Trimester Pertama • Trimester Kedua • Trimester Ketiga • Melahirkan • Menyusui • Tumbuh Kembang • Bayi • Balita • Prasekolah • Praremaja • Usia Sekolah • Parenting • Pernikahan • Berita Terkini • Seks • Keluarga • Kesehatan • Penyakit • Info Sehat • Vaksinasi • Kebugaran • Gaya Hidup • Keuangan • Travel • Fashion • Hiburan • Kecantikan • Kebudayaan • Lainnya • TAP Komuniti • Beriklan Dengan Kami • Hubungi Kami • Jadilah Kontributor Kami Tag Kesehatan Bulan Ramadhan, banyak hal yang mendatangkan pahala.

Namun, hukum masturbasi di bulan puasa juga yang sebaiknya dijauhi karena dapat mengurangi pahala dan bahkan membatalkan puasa, termasuk aktivitas seks seperti masturbasi dan bercumbu. Jika dilakukan di bulan Ramadhan seperti sekarang, bagaimana hukum masturbasi dan bercumbu dalam Islam? Banner Muslimahpedia untuk Artikel/ Foto: HaiBunda/Mia Kurnia Sari Jika demikian, terdapat hukuman berat bagi pasangan suami istri tersebut. Berdasarkan hadis HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, Turmudzi, Nasa'i dan Ibnu Majah, jika ada yang melakukan hubungan intim pada siang hari saat berpuasa, maka akan dikenakan denda.

Selain berdosa dan puasanya batal, ada denda yang wajib dijalani jika dengan sengaja melakukan hubungan seks saat berpuasa.

hukum masturbasi di bulan puasa

Denda tersebut diketahui sebagai kifarah ‘udhma (kafarat besar). Dilakukan di antaranya dengan berpuasa selama dua bulan berturut-turut. Jika tak mampu melakukan denda tersebut, maka harus memberi makanan kepada 60 orang fakir miskin, masing-masing sebanyak satu hukum masturbasi di bulan puasa (kurang lebih sepertiga liter).

Lalu bagaimana dengan hukum masturbasi saat puasa Ramadhan? Simak ulasan di halaman selanjutnya, Bunda!
Mohon kepada tuan yang terhormat memberi saya fatwa terkait perkara saya yang sudah saya tanyakan kepada banyak orang, tapi belum mendapatkan jawaban. Sehingga saya hidup dalam keadaan risau selalu. Saat saya berusia 12 tahun saya melakukan masturbasi dan ketika itu saya tidak tahu maknanya.

Baru pada usia 14 tahun saya baru tahu bahwa itu adalah perbuatan buruk. Akan tetapi saya belum mengetahui hukumnya, yang saya ketahui hanya bahwa perbuatan tersebut berbahaya dan bahwa dia dapat menyebabkan berbagai penyakit. Ketika itu saya belum shalat. Saya hanya puasa tanpa shalat. Pada usia 15 tahun saya mulai shalat dan puasa dan tidak mendengarkan nyanyian. Akan tetapi, saya tetap melakukan masturbasi.

Saya masih tetap belum mengetahui hukumnya. Jika aku melakukannya, aku tidak mandi, tapi aku shalat sesudahnya dan berpuasa.Dan aku sempat melakukannya di siang hari bulan Ramadan sebanyak dua kali tanpa aku ketahui hukumnya. Pada usia 18 tahun aku membaca buku bahwa dia perbuatan haram dan wajib mandi sesudahnya.

Akan tetapi aku belum dapat bertaubat darinya dan terus melakukannya hingga menikah. Sekarang saya sudah menikah mantap bertaubat sejak usia 27 tahun. Pertanyaannya, apa hukum dari perbuatan yang pernah saya lakukan? Bagaimana shalat dan puasa saya? Bagaimana ketentuan dua hari bulan Ramadan yang saya melakukan masturbasi di dalamnya, apakah terkena kafarat?

Alhamdulillah. Pertama: Masturbasi atau onani diharamkan berdasarkan dalil-dalil yang telah kami jelaskan pada jawaban soal no. 329. Jika ketika itu keluar mani, maka dia wajib mandi. Dalam perbuatan masturbasi tidak terdapat kafarat. Akan tetapi wajib taubat darinya. Yaitu meninggalkannya sama sekali, menyesalinya dan bertekad untuk tidak mengulangi lagi.

hukum masturbasi di bulan puasa

Kedua: Jika saat anda masturbasi diiringi dengan keluar mani, maka ketika itu puasa anda batal, dan tidak sah shalat ketika itu sebelum mandi junub. Namun jika ketika itu tidak keluar mani, maka puasa dan shalat anda sah. Ketiga: Siapa yang melakukan masturbasi dan dia tidak mengetahui bahwa wajib mandi darinya dan bahwa dia membatalkan puasa, apakah wajib baginya mengqadha shalat dan puasanya?

Dalam masalahini terdapat perbedaan di antara para ulama. Jumhur ulama berpendapat wajib mengqadha, sedangkan sebagian ulama menyatakan tidak wajib. Lihat jawaban soal no. 50017. Yang lebih hati-hati adalah anda mengqadha puasa dua hari jika ketika itu keluar mani. Sedangkan shalat, hendaknya anda memperbanyak shalat sunah dan amal saleh lainnya, kami berpendapat tidak diwajibkan qadha.

Keempat: Hendaknya anda mengetahui tanda-tanda baligh.

hukum masturbasi di bulan puasa

Bagi hukum masturbasi di bulan puasa baligh dapat terjadi pada usia dibawah 15 tahun, apabila dia telah haidh atau tampak baginya tanda-tanda baligh yang lain. Lihat jawaban soal no. 20475 dan no. 21246. Apa yang anda alami menguatkan pentingnya menuntut ilmu syar'i.

Ini adalah perkara yang sangat mudah pada masa kini. Alhamdulillah. Kita mohon taufiq dan keteguhan kepada Allah Ta'ala Wallahua'lam.
Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebut onani sebagai aktivitas pengeluaran mani (sperma) tanpa melakukan sanggama.

Onani disebut semakna dengan masturbasi, yaitu proses memperoleh kepuasan seks tanpa berhubungan kelamin. Lalu bagaimana dampak hukum karena onani atau masturbasi saat seseorang menjalankan ibadah puasa? Artinya, “Bila seseorang melakukan onani dengan tangannya–yaitu upaya mengeluarkan sperma–, maka puasanya batal tanpa ikhtilaf ulama bagi kami sebagaimana disebutkan oleh penulis matan (As-Syairazi),” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, [Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah: 2010 M], juz VI, halaman 286).

Artinya, “Jika seseorang beronani lalu keluar mani atau sperma (ejakulasi) maka puasanya batal karena ejakulasi sebab kontak fisik (mubasyarah) laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama dengan ejakulasi sebab ciuman.

Onani memiliki konsekuensi yang sama dengan kontak fisik pada selain kemaluan antara laki-laki dan perempuan, yaitu soal dosa dan sanksi takzir. Demikian juga soal pembatalan puasa,” (Lihat Imam An-Nawawi, hukum masturbasi di bulan puasa M: VI/284). Artinya, “Sperma jika keluar (ejakulasi) sebab onani, maka puasa seseorang batal.

Tetapi jika mani keluar dengan semata-mata pikiran dan memandang dengan syahwat, maka puasanya tidak batal. Sedangkan ejakulasi sebab kontak fisik pada selain kemaluan, sentuhan, atau ciuman, maka puasanya batal. Ini pandangan mazhab Syafi’i. Demikian juga pandangan mayoritas ulama,” (Lihat Imam An-Nawawi, Raudhatut Thalibin wa Umdatul Muftin, [Beirut, Darul Fikr: 2005 M/1425-1426 H], juz II, halaman 247).

Artinya, “Bila seseorang merusak puasanya dengan selain jimak (hubungan seksual), yaitu makan, minum, onani, dan kontak fisik yang menyebabkan ejakulasi, maka tidak ada kaffarah karena nash hanya berbicara soal jimak. Sedangkan aktivitas selain jimak tidak termasuk dalam kategori jimak. Ini pandangan shahih dan terkenal mazhab Syafi’i,” (Lihat Imam An-Nawawi, 2005 M/1425-1426 H: II/261).

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ Artinya, “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa hubungan badan dengan istri kamu.

Mereka pakaian bagimu. Kamu pun pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu mengkhianati nafsumu, lalu Allah mengampuni dan memaafkanmu kesalahanmu. Oleh karena itu, sekarang lakukan hubungan itu dengan mereka dan carilah karunia yang telah ditetapkan Allah untukmu. Makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam karena fajar.

Lalu sempurnakan puasa itu sampai (awal) malam. (Tetapi) jangan kamu berhubungan dengan mereka itu, saat kamu beri'tikaf di dalam masjid. Itulah batas ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa.” (Surat Al-Baqarah ayat 187).

hukum masturbasi di bulan puasa

Onani menurut pandangan mazhab Maliki, Syafi’i, Hanbali, dan mayoritas ulama Hanafi, membatalkan puasa. Bagi mereka, sentuhan kelamin laki-laki dan perempuan tanpa ejakulasi dapat membatalkan puasa. Tentu, ejakulasi dengan orgasme (penuh syahwat) lebih-lebih lagii membatalkan puasanya. ( Al-Mausuatul Fiqhiyyah Al-Quwaitiyyah, [Kuwait, Wizaratul Awqaf was Syu’unul Islamiyyah: 1404-1427 H], juz IV, halaman 100).“ Bila seseorang melakukan onani dengan tangannya–yaitu upaya mengeluarkan sperma–, maka puasanya batal tanpa ikhtilaf ulama bagi kami sebagaimana disebutkan oleh penulis matan (As-Syairazi) ,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, [Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah: 2010 M], juz VI, halaman 286).

“ Sperma jika keluar (ejakulasi) sebab onani, maka puasa seseorang batal. Tetapi jika mani keluar dengan semata-mata pikiran dan memandang dengan syahwat, maka puasanya tidak batal. Sedangkan ejakulasi sebab kontak fisik pada selain kemaluan, sentuhan, atau ciuman, maka puasanya batal.

Ini pandangan mazhab Syafi’i. Demikian juga pandangan mayoritas ulama, ” (Lihat Imam An-Nawawi, Raudhatut Thalibin wa Umdatul Muftin, [Beirut, Darul Fikr: 2005 M/1425-1426 H], juz II, halaman 247).
Masturbasi dikenal sebagai perbuatan yang tidak baik dalam kehidupan maupun dalam agama, masturbasi merupakan perbuatan yang menunjukkan tidak mampu menahan hawa nafsu dan menjadi sesuatu yang tidak bermanfaat karena waktu selayaknya diisi dengan segala sesuatu yang lebih bermanfaat, tidak mengenai hal hal yang menjurus pada perbuatan maksiat.

Masturbasi tentunya tidak baik dilakukan dalam bulan apapun sebab termasuk hukum zina tangan yang dilarang, banyak orang yang bertanya bagaimana hukumnya melakukan masturbasi di bulan ramadhan padahal orang tersebut melakukan puasa, apakah hal itu akan berpengaruh pada puasanya atau tidak, apakah akan membatalkan puasanya atau tidak, dan bagaimana pengaruhnya terhadap ibadah.

Sudah selayaknya bulan ramadhan diisi dengan kegiatan positif selama bulan Ramadhan dan menjurus pada amal kebaikan, mengenai masturbasi dan bagaimana hubungannya terhadap amalan ibadah puasa ramadhan selengkapnya akan penulis bahas pada kesempatan kali ini, hokum hukum masturbasi di bulan puasa saat puasa bagi wanita.

Hukum masturbasi di bulan puasa selengkapnya. Pengaruh Masturbasi bagi Wanita dengan Puasa Ramadhan “ Orang yang berpuasa itu meninggalkan syahwat, makan dan minumnya.” (HR. Bukhari no. 7492). Dari hadist tersebut dijelaskan bahwa orang yang berpuasa tidak hanya menjauhi makan dan minum saja namun juga menjauhi bahaya nafsu dalam islam dan seluruh perbuatan dosa baik itu yang berhubungan dengan Allah seperti tidak menjalankan shalat dan yang berhubungan dengan diri sendiri seperti masturbasi.

Jika puasa dilakukan dengan tetap emnjalankan perbuatan maksiat seperti masturbasi maka puasanya tidaklah sempurna dan tidak mendapatkan amal kebaikan karena tidak disertai dnegan menjaga hawa nafsu, orang tersebut hanya akan mendapatkan lapar dan dahaga saja, tidak emndapatkan kebaikan dan pahala yang sempurna, amal yang dilakukan sia sia.

Perbuatan yang Haram Ibnu Qudamah dalam Al Mughni berkata, “ Jika seseorang mengeluarkan mani secara sengaja dengan tangannya, maka ia telah melakukan suatu yang haram. Puasanya tidaklah batal kecuali jika mani itu keluar. Jika mani keluar, maka batallah puasanya.

hukum masturbasi di bulan puasa

Karena perbuatan ini termasuk dalam makna qublah yang timbul dari syahwat.” Masturbasi bagi wanita di bulan ramadhan ialah perbuatan yang haram dan tidak dibenarkan dalam islam yang termasuk dosa wanita, perbuatan tersebut menunjukkan bahwa puasa yang dilakukan tidak dengan sungguh hukum masturbasi di bulan puasa sebab di dalam hatinya tidak ada kebaikan dan hal yang positif, melainkan di dalam hatinya terdapat pikiran negative yang menjurus pada perbuatan zina.

Padahal sesungguhnya puasa yang benar ialah puasa yang mampu menjauhkan dari hawa nafsu dan segala perbuatan maksiat, jika seorang wanita melakukan perbuatan masturbasi ketika puasa artinya ada yang harus diperbaiki dalam dirinya dan dalam niat puasanya dan itu menjadi petunjuk bahwa wanita tersebut sepanjang hari di bulan lain terbiasa melakukan masturbasi hingga tak bisa menghindarinya di bulan ramadhan sekalipun dan menjadi contoh kelemahan manusia menurut islam.

Imam Nawawi dalam Al Majmu’ (6: 322) berkata, “Jika seseorang mencium atau melakukan penetrasi selain pada kemaluan istri dengan kemaluannya atau menyentuh istrinya dengan tangannya atau dengan cara semisal itu lalu keluar mani, maka batallah puasanya.

Jika tidak, maka tidak batal.” Masturbasi yang hukum masturbasi di bulan puasa hingga mengeluarkan cairan maka akan membatalkan puasa dan wanita yang melakukan wajib mengganti puasa yang dilakukannya di hari lain, hal itu merupakan pendapat ulama karena mengeluarkan cairan ialah seperti cairan mani yang dikeluarkan oleh lelaki sehingga termasuk sesuatu yang membatalkan puasa. “Pada kemaluan setiap kalian ada shadaqah.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah!

Apakah salah seorang dari kami mendatangi syahwatnya dan dia mendapat pahala dengannya?” Rasulullah n bersabda: “Tahukah kalian, kalau dia meletakannya dalam perkara yang haram, apakah dia berdosa karenanya? Demikian pula halnya jika dia meletakkanya dalam perkara yang halal, maka dia mendapat pahala karenanya.”(HR. Muslim dari Abu Dzar z).

Perkara halal yang dimaksud dalam hadist tersebut ialah hubungan suami istri nyang dilakukan di malam hari di luar waktu puasa ramadhan yang mana hal itu diperbolehkan dan tidak dikenakan dosa, namun jika melakukan masturbasi tentunya tidak diperbolehkan terlebih bulan puasa di hari siang adlaah hari dimana setiap umat yang berpuasa wajib menahan hawa nafsu termasuk hawa nafsu yang berhubungan dengan hal hal yang berhubungan dengan masturbasi yang menjurus pada hubungan badan.

Sehingga perbuatan tersebut wajib dihindari dan tidak boleh dilakukan di bulan puasa, sebaiknya bulan puasa diisi dengan hal yang ebrmanfaat seperti dzikir dan emmbaca Al Qur’an.

syaikh sayyid sabiq- : adalah onani (mengeluarkan mani) sama saja baik sebabnya dikarenakan seorang lelaki mencium istrinya atau memuluknya ataupun dengan tangan, maka ini membatalkan puasa dan wajib baginya untuk mengqadha puasa”. 2. Membatalkan Puasa dalam Semua Keadaan Tentu saja ejakulasi saat orgasme (puncak kenikmatan syahwat) adalah syahwat yang terlarang saat berpuasa dan membatalkan puasa, dengan cara apapun seseorang mencapainya. Meskipun memang benar bahwa jima’ (bersetubuh) itu sendiri membatalkan puasa, walaupun tanpa ejakulasi.

(Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al-Fatawa(25/224). Menurut pendapat ulama yang kedua ialah masturbasi pada wanita membatalkan puasa baik itu keluar cairan atau tidak akrena termasuk hawa nafsu yang memuncak sebagaimana ketika berhubungan intim dan perbuatan tersebut membuat amalan puasa hilang sehingga wanita yang melakukan wajib mengganti puasanya di hari lain. 3. Menghilangkan Segala Pahala Puasa Telah menceritakan kepada kami Yaziid bin Haaruun, dari Habiib, dari ‘Amru bin Harim, ia berkata : Jaabir bin Zaid pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang memandang istrinya di bulan Ramadhaan, lalu ia keluar mani akibat syahwatnya tersebut, apakah batal puasanya ?”.

Ia berkata : “ Tidak, hendaknya ia sempurnakan puasanya“[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dengan sanad hasan, Syaikh Al-Albani berkata dalam silsilah as-shahihah Isnadnya jayyid]. Pendapat selanjutnya ialah perbuatan tersebut tidak membatalkan pausanya namun tetap saja ia tidak mendapatkan pahala apapun dalam ibadahnya yakni hanya mendapatkan lapar dan haus saja tetapi pada pendapat kali ini tidak diwajibkan untuk mengganti puasa di hari yang lain, pendapat ini lemah, lebih kuat pendapat sebelumnya yang wajib mengganti puasa.

4. Kisah di Jaman Rasulullah Telah menceritakan kepada kami Sulaimaan bin Harb, ia berkata : Dari Syu’bah, dari Al-Hakam, dari Ibraahiim, dari Al-Aswad, dari ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa, ia berkata : “ Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium dan bermesraan (dengan istrinya) ketika sedang berpuasa. Dan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling kuat menahan keinginannya (hawa nafsunya) di antara kalian” HR Bukhari.

Pada jaman Rasulullah di bulan ramadhan beliau tetap melakukan kebaikan pada istri beliau namun tidak disertai dengan nafsu dan tidak melakukan perbuatan maksiat apapun, misalnya mencium istri di kening hal itu hanyalah sebagai ungkapan kasih sayang dan ungkapan kedekatan serta perhatian terhadap istrinya sehingga hal tersebut tidak mendatangkan dosa dan tidak membatalkan puasa. Perkataan aisyah Radhiyallahu anha untuk seseorang yang bertanya kepadanya: Apa yang diperbolehkan untuk lelaki dari istrinya tatkala puasa?

maka Aisyah berkata: Semuanya boleh kecuali jima’” Dikeluarkan oleh Abdurrazzaq dalam mushannafnya (4/190/8439) dengan sanad yang shohih sebagaimana yang dikatakan oleh al hafidz Ibnu Hajar dalam fathul baari. Kasih syaang tentunya hal yang penting yang buka merupakan masalah ketika diungkapkan di bulan ramadhan walaupun sedang berpuasa, namun tetap dengan aturan sesuai syariat islam yaitu tidak boleh berhubungan badan, sedangkan masturbasi itu sendiri ialah sama saja dnegan ebrhubungan badan dengan membayangkan dan melakukan secara pribadi yang mana hal itu tidak diperbolehkan karena sama sama berisi puncak dari hawa nafsu.

5. Perbuatan Hukum masturbasi di bulan puasa dan Tidak Mendapat Kebaikan Puasa Jika hal itu sengaja dilakukan dalam keadaan mengerti hukum, maka pelakunya berdosa dan puasanya batal.

Wajib atasnya untuk bertaubat kepada Allah l dan tidak disyariatkan baginya untuk mengqadha (mengganti) puasa yang batal itu di luar bulan Ramadhan, menurut pendapat yang rajih (kuat).

Karena yang rajih tidak disyariatkan bagi yang meninggalkan puasa atau membatalkan puasanya secara sengaja untuk mengqadha dan tidak ada dalil yang menunjukkan hal itu. Ini adalah pendapat Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al-Fatawa (25/225-226). Jelas bahwa orang yang mengerti bahwa perbuatan tersebut dosa namun tetap melakukannya di bulan puasa maka orang tersebut berdosa, batal puasanya, dan tidak mendapatkan keberkahan amalan bulan ramadhan, orang tersebut harus mengganti puasanya dengan hari lain yang ia mampu dan memeprbaiki diri untuk tidak berfikir negative, dari sini dapat disimpulkan bahwa hokum masturbasi bagi wanita di bulan ramadhan ialah haram.

Demikian artikel kali ini, semoga mudah dipahami oleh anda dapat menjadi wacana islami yang bermanfaat untuk anda, jangan lupa selalu luangkan waktu untuk membaca artikel kami agar anda selalu mendapat wawasan yang bermanfaat. Terima kasih sudah membaca.

hukum masturbasi di bulan puasa

Salam hangat dari penulis.
Sebentar lagi kita akan memasuki tanggal 1 Ramadhan. Mulai tanggal 1 Ramadhan hingga berakhirnya bulan Ramadhan, kita diwajibkan untuk berpuasa selama satu bulan penuh, kecuali bila kita mendapat halangan yang diperbolehkan oleh syariat agama.

Umat Muslim pun mulai bertanya-tanya apakah suatu hal bisa membatalkan puasa, seperti masturbasi. Jika kamu juga bertanya hal yang sama, simak hukum masturbasi saat puasa di bulan Ramadhan dalam artikel berikut ini. “Jika seseorang beronani lalu keluar mani atau sperma (ejakulasi) maka puasanya batal karena ejakulasi sebab kontak fisik (mubasyarah) laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama dengan ejakulasi sebab ciuman.

Onani memiliki konsekuensi yang sama dengan kontak fisik pada selain kemaluan antara laki-laki dan perempuan, yaitu soal dosa dan sanksi takzir. Demikian juga soal pembatalan puasa.” (Lihat Imam An-Nawawi, 2010 M: VI/284)

ONANI DI BULAN PUASA, BAGAIMANA HUKUMNYA




2022 www.videocon.com