Dimana harimau sumatera hidup

dimana harimau sumatera hidup

Harimau Sumatera merupakan salah satu fauna khas milik Indonesia. Seperti nama yang menempel padanya harimau Sumatera berhabitat di pulau Sumatera, salah dimana harimau sumatera hidup pulau besar yang letaknya disebelah barat Indonesia. Harimau ini memiliki corak yang unik dibanding dengan harimau jenis lainnya. Corak uniknya tersebut terletak pada pola hitam yang memiliki warna yang lebih gelap dan memiliki ukuran yang cenderung lebih lebar dengan jarak yang cenderung rapat atau bahkan dempet satu dengan lainnya.

Keunikan dari corak bulu harimau ini tidak lepas dari pengaruh habitat asli dari harimau sumatera ini. Lalu bagaimana sebenarnya habitat asli dari harimau sumatera ini. Harimau sumatera tergolong pada salah satu hewan yang mampu bertahan hidup dimana pun.

Kemampuan adaptasi yang hebat dilengkapi dengan sifat buasnya yang sangat pandai dan cerdas untuk menjadi predator membuat harimau mampu untuk hidup baik di dataran tinggi, hutan pegunungan ataupun hutan liar yang tidak terlindungi. Adapun untuk habitat yang baik untuk harimau sumatera yaitu habitat dimana tempat tersebut memiliki pasukan makanan yang memadai, cukup akan air, udara dan sinar matahari.

Pada umumnya kawasan hutan yang sangat cocok untuk harimau sumatera ini adalah hutan dengan ketinggian dari 0 hingga 2000 meter di atas permukaan laut (dpl).

dimana harimau sumatera hidup

Pada alam liar atau hutan harimau sumatera cenderung untuk mengklaim area teritori mereka masing masing, masing masing wilayah teritorinya tersebut sangat berkaitan dengan kenyamananya untuk bersarang. Biasanya masing-masing harimau sumatera menandai wilayah teritorinya dengan tanda cakaran miliknya dan bau urin serta feses mereka. Selain itu cakarnya berfungsi sebagai tanda wilayah teritorinya, cakar harimau sumatera sangat erat kaitannya untuk mempertahankan hidupnya guna mencari makan dengan mamangsa hewan lainnya, adapun jenis binatang yang disukai harimau yaitu babi hutan, kijang, rusa, ular, tapir, ataupun biawak.

Untuk jenis habitat khusus yang dicintai oleh harimau sumatera, biasanya harimau sumatera menyukai hutan jenis hutan hujan tropis, hutan rawa, hutan bersungai, semak belukar, padang rumput, hingga alang-alang.

Habitat hutan tersebut diperlukannya untuk perlindungan dirinya dimana harimau sumatera hidup gerombolannya, sekaligus untuk kenyamanannya dalam berkembang biak. none
Harimau sumatera ( Panthera tigris sumatrae) merupakan subspesies yang masih tersisa di Indonesia. Dua subspesies lainnya yang pernah ada yaitu harimau jawa dan harimau bali dinyatakan telah punah. Tahun 1940-an untuk harimau bali dan 1980-an untuk harimau jawa.

Bagaimana nasib harimau sumatera saat ini? Hampir 50% habitat harimau sumatera berada di Aceh, Jambi, Sumatera Selatan, dan Bengkulu (Borner dalam Santiapillai and Widodo, 1987). Terutama di Bengkulu, habitatnya berada di Taman Nasional Kerinci Seblat dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Sebagiannya lagi, berdasarkan kajian Forum Harimau Kita, ada di koridor Balai Bukit Rejang Selatan.

Perwakilan Forum Harimau Kita wilayah Bengkulu drh. Erni Suyanti Musabine saat ditemui akhir Desember 2016 menyebutkan, jumlah harimau sumatera di Balai Bukit Rejang Selatan sekitar 30 individu.

Sementara itu, Koordinator Pelestarian Harimau Sumatera – Taman Nasional Kerinci Seblat (PHS – TNKS) Wilayah Bengkulu Nurhamidi, pada pertengahan Desember 2016 memperkirakan, populasi kucing besar ini di TNKS berkisar 166 individu. Sedangkan Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu – Lampung Abu Bakar Chikmad mengungkapkan, dimana harimau sumatera hidup harimau sumatera di Bengkulu hanya 17 individu. “Hampir punah, hanya tersisa 17 individu,” ungkapnya, ketika ditemui akhir November 2016.

Perburuan dan perdagangan ilegal, konflik dengan manusia, dan kehilangan habitat adalah serangkaian ancaman utama. Baca: Harmonisasi Masyarakat Ladang Palembang dengan Kehidupan Harimau Sumatera (Bagian 1) Apa yang membuat perburuan terjadi? Ellis (2005) mengungkapkan, Indonesia menjadi eksportir utama tulang harimau dan produk tulang harimau dengan tujuan utama Korea Selatan, Singapura, dan Taiwan. “Di Sumatera, gigi, kuku, kumis, ekor, kulit, lemak, dan kotoran dipercaya memiliki kandungan obat, sedangkan penis dan tulang dipercaya untuk perangsang.” Sampai 1990-an, bagian paling berharga dari harimau sumatera adalah kulit.

Ketika permintaan tulang untuk obat meningkat, kulit, kendati masih berharga, tidak lagi menjadi alasan utama untuk perburuan. Untuk periode 1973 – 1992, Lilley (dalam Boomgaard, 2001) menyebutkan, Indonesia mengekspor lebih dari 4.000 kilogram tulang dengan berat rata-rata 8 kg per harimau. Jumlah harimau yang dibunuh dalam setahun setidaknya 25 individu.

Harimau sumera ini sakit ketika memasuki perkampungan di Resort Sekincau Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Maret 2015. Lambatnya penanganan menyebabkan nyawanya tidak tertolong. Foto: WCS-IP Berburu harimau bukanlah tradisi masyarakat di Pulau Sumatera. “Cenderung tidak ada bukti tentang daerah perburuan ekslusif untuk keluarga kerajaan yang pernah berdiri di Sumatera. Kita tidak banyak mendengar tentang keluarga kerajaan yang berburu harimau di Sumatera,” ungkap Boomgaard (2001). Bukan hanya kerajaaan, Marsden (dalam Boomgaard, 2001) juga mengemukakan, penduduk sumatera tidak suka berburu harimau.

Bangsa Eropa yang mengenalkan perburuan harimau kepada penduduk Sumatera. Di Provinsi Bengkulu, Inggris yang mengenalkan.

dimana harimau sumatera hidup

Namun, belum diketahui kapan Inggris yang mendarat pertama kali di wilayah Bengkulu pada 1685 itu, mulai mengenalkannya. “Kepala-kepala (harimau) sering dibawa untuk hadiah yang diberikan oleh British East India Company karena membunuhnya,” tulis Marsden (dalam Boomgaard, 2001). Dimana harimau sumatera hidup demikian, pemberian hadiah tersebut tidak terlalu mendapat respon. “Hadiah uang untuk membunuh harimau di sini, dilakukan oleh pemerintah seperti di beberapa bagian India, tetapi sangat jarang diklaim.

Orang-orang Bengkulu terlalu percaya takhayul dan lamban untuk usaha/bisnis,” ungkap Heyne (dalam Boomgaard, 2001) yang berkunjung ke Bengkulu pada 1812.

Pada 1825, wilayah Bengkulu diserahkan oleh Inggris kepada Belanda. Pemberian hadiah yang diberlakukan Belanda juga tidak terlalu direspon oleh penduduk Bengkulu.

Boomgaard (2001) mengungkapkan, pada 1895, Residen Bengkulu menulis bahwa dia sangat familiar dengan sebuah kasus dimana seorang dimana harimau sumatera hidup tua menolak untuk mendapatkan hadiah untuk seekor harimau yang ditangkap. Alasannya, tidak ingin menjual leluhurnya. Tidak terlalu mendapat respon, pemberian hadiah di Sumatera dihapus pada 1897. Residen di Sumatera menyatakan harimau tidak boleh dibunuh karena hadiah.

Kendati sistem hadiah dihapus, tidak berarti pengaruhnya hilang. Sekitar 1935, pesta berburu yang dipimpin oleh seorang pegawai sipil telah membantai 70 individu di Bengkulu. Pesta berburu untuk menyikapi “epidemik harimau” akibat pemasangan racun untuk babi hutan.

Tahun 1950, diperkirakan harimau tidak terlihat lagi di sekitar Kota Bengkulu. Yanti Musabine saat menyelamatkan Elsa yang kaki kanan depannya luka di kosensi perusahaan sawit di Kabupaten Kaur, 3 April 2014. Foto: Dok. BKSDA Bengkulu Perburuan harimau untuk diperdagangkan mulai marak di Bengkulu diperkirakan pada 1980-an. Menurut Matthiessen (dalam Ellis, 2005), menipisnya simpanan Tiongkok (China) atas tulang harimau, menjelaskan kenaikan perdagangan tersebut akhir 1980-an.

Perburuan harimau meningkat di India, Bhutan, Indochina, Indonesia dan Timur Jauh Rusia. Pencarian tulang harimau untuk diekspor ke China daratan dan Taiwan adalah alasan utama banyaknya harimau dibunuh. Harimau yang dibunuh pada 1990 – 2000 di Sumatera Provinsi 1990 91 92 93 94 95 96 97 98 99 2000 Total Bengkulu 10 5 5 7 12 24 25 46 46 33 2 215 Sumatera Selatan – 4 15 15 9 11 9 17 14 13 – 107 Lampung – – 2 4 5 12 10 18 25 11 4 91 Jambi – – dimana harimau sumatera hidup 1 6 6 14 17 14 9 8 75 Riau 4 1 2 6 4 11 10 12 13 8 2 73 Sumatera Barat 1 – 3 2 4 5 11 12 13 7 – 58 Total 15 10 27 35 40 69 79 122 125 81 16 619 Sumber: Tilson et al (2010) Dilihat asalnya, menurut Tilson et al (2010), jumlah harimau sumatera yang dibunuh lebih banyak berasal dari taman nasional (369 individu atau 58%) dibandingkan dari luar taman nasional (260 individu atau 42%).

TNKS merupakan taman nasional dengan jumlah terbanyak. Yakni, 122 individu atau 33% dari total harimau sumatera dari taman nasional (369 individu). Harimau yang dibunuh antara 1990 – 2000 di Sumatera, di dalam dan luar taman nasional Lokasi 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 Way Kambas 0 0 1 0 0 1 2 3 4 3 1 Bukit Barisan Selatan 0 0 1 4 6 11 9 18 24 9 4 Kerinci Seblat 2 3 8 10 9 14 15 21 25 15 1 Berbak 0 0 0 0 2 3 10 11 8 5 4 Bukit Tigapuluh 0 0 0 1 5 14 18 21 19 10 4 Total Dalam Taman Nasional 2 3 10 15 22 43 54 74 80 42 14 Luar Taman Nasional 13 7 17 20 18 26 25 48 45 39 2 Total 15 10 27 35 40 69 79 122 125 81 16 Sumber: Tilson et al (2010) Perburuan di Bengkulu Perburuan harimau di Bengkulu, tambah Tilson et al (2010), melibatkan 63 orang (24 profesional, 33 amatir, dan 6 orang pemula).

Jumlah itu, jauh lebih banyak dibandingkan di Lampung yang melibatkan 25 orang (8 profesional dan 27 amatir), serta Sumatera Selatan yang melibatkan 11 orang (2 profesional dan 9 amatir). Hasil investigasi PHS-TNKS wilayah Bengkulu mengidentifikasi kelompok pemburu harimau di Mukomuko, Bengkulu Utara, Lebong dan Rejang Lebong berkisar 10 – 15 orang. Setiap kelompok berjumlah 2 – 5 anggota. Kelompok ini dibiayai pemodal atau sendiri.

“Beberapa pernah sekelompok, kemudian pindah ke kelompok lain, atau membentuk kelompok baru bersama anggota kelompok lain atau merekrut anggota baru,” papar Nurhamidi.

Harimau sumatera yang terkena jerat di Hutan Produksi Terbatas Air Rami Kabupaten Mukomuko, Bengkulu. Foto: Dok. Pelestarian Harimau Sumatera Kerinci Seblat Dalam melakukan aktivitas, pelaku melakukan survei dahulu. Bila dianggap tepat, pelaku memasang tanda atau membuat lubang di areal survei. Kedatangan berikutnya untuk memasang jerat. Bila tidak di pematang yang sempit, jerat akan dipasang dengan membuat jalur khusus.

“Ada yang dimana harimau sumatera hidup umpan dan ada yang tidak. Kalau menggunakan, artinya ingin cepat atau waktunya singkat.” Hasil patroli tim Dimana harimau sumatera hidup pada 2015 menemukan 56 jerat aktif, sedangkan pada Januari – November 2016 disita 22 jerat aktif. Jerat ditemukan di kawasan TNKS dan penyangga. “Untuk indikasi perjumpaan seperti jejak, kotoran, cakar, dan suara ditemukan 68 indikasi selama 2015.

Sementara Januari – November 2016, ada 40 indikasi.” Selain harga jual, intensitas perburuan dipengaruhi musim dan kondisi perekonomian seperti kemarau panjang dan komoditi pertanian yang anjlok. Masa puasa dan lebaran juga cenderung memacu intensitas. “Kini, pelaku mulai membeli informasi dari penduduk, misalnya jejak.

Berita tentang konflik harimau dan manusia di media massa juga sudah menjadi sumber informasi bagi mereka,” ujar Nurhamidi. jejak kaki harimau sumatera yang ditemukan saat patroli. Foto: Dok. Pelestarian Harimau Sumatera Kerinci Seblat. Bagian tubuh harimau sumatera dijual untuk beragam keperluan. Sebut saja untuk bahan pembuatan obat, prestise kalangan tertentu, spiritual, atau terindikasi untuk ritual budaya.

“Ada informasi, kepala dijual untuk pembuatan reog. Apakah benar atau tidak, masih kami pelajari. Yang jelas, hampir semua bagian harimau dijual.

Mulai dari kuku, gigi, tulang, kulit, hingga kumis.” Kelompok AA, warga Desa Pondok Baru dan Sn, warga Desa Sungai Ipuh, Kabupaten Mukomuko yang ditangkap tim PHS-TNKS Wilayah Bengkulu bersama Polres Mukomuko pada Jumat (8/1/2016), merupakan pemburu yang aktif. Sejak beroperasi 2011, mereka telah membunuh delapan individu harimau sumatera.

“Vonis berat untuk pelaku sangat penting, tujuannya menekan aktivitas perburuan. Vonis berat akan menimbulkan efek jera bagi pelaku dan pemburu yang lain. “Dampak tersebut terlihat dari temuan jerat yang turun hampir 50%,” kata Nurhamidi.

Harimau sumatera yang terus diburu menyebabkan populasinya berkurang. Penegakan hukum harus terus dilakukan bagi pelaku. Foto: Junaidi Hanafiah Memangsa Menurut Boomgaard (2010), ada enam alasan mengapa harimau menyerang manusia. Yakni, (1) Oportunistik; (2) Struktural; (3) Periodik atau bencana; (4) Kekacauan masyarakat, (5) Individual dan (6) Keputusasaan. Oportunistik terjadi ketika manusia merupakan satu-satunya mangsa bagi harimau.

Sedangkan tipe struktural terjadi ketika alam/habitat harimau secara konstan diinvasi oleh manusia. Ini adalah kasus ketika lahan dalam skala luas dibersihkan terkait pertambahan penduduk yang cepat, imigrasi dan ekspansi perusahaan komersil (perkebunan).

Sementara itu, tipe periodik terjadi ketika bencana alam yang mengakibatkan hewan mangsa harimau berkurang. Harimau Sumatera yang kini nasibnya kritis.

Foto: Rhett A. Butler Untuk tipe kekacauan masyarakat, terjadi pada kasus tertentu dari bencana. Seperti perang, pemberontakan, epidemik skala luar. Selanjutnya, tipe individual terjadi karena harimau sudah terlalu tua atau sudah tidak mampu memburu mangsa kecuali manusia. Untuk tipe keputusasaan terjadi ketika kelompok harimau menyerang pemukiman atau dikenal dengan istilah wabah harimau.

Di Sumatera, Boomgaard (2001) mengungkapkan, rata-rata tahunan jumlah manusia dibunuh harimau pada 1850-an sebanyak 400 orang, pada 1862-81 sebanyak 180 orang, dan pada 1882-1904 sebanyak 60 orang. Khusus Bengkulu, 100 orang dibunuh pada periode 1818 – 1855. Kebanyakan korbannya adalah orang China dan Jawa, dan buruh perkebunan.

“Seakan-akan agresi harimau adalah masalah struktural.” Rata-rata tahunan manusia dimangsa harimau Periode 1820–30 1850-61 1862–81 1882–1904 Jawa 400 200 90 50 Sumatera – 400 180 60 Sumber: Boomgaard (2001) Nyhus and Tilson (2010) mengemukakan, tidak ada satu keterangan yang tepat untuk menjelaskan konflik.

Beberapa hipotesis umum mengungkapkan mengapa harimau menyerang manusia. Hal tersebut adalah: mangsa berkurang atau ketidakmampuan memburu secara efektif, kelaparan, usia tua, sakit atau terluka, hingga tidak dapat mempertahankan jalur jelajah. ”Di Sumatera, kami menemukan bahwa harimau menyerang manusia cenderung terjadi ketika penduduk terlibat dalam aktivitas dekat pinggiran hutan. Khususnya, pertanian dan perkebunan swasta serta area dengan gangguan tinggi dan menengah”.

Kecenderungan terjadinya konflik struktural ini, ungkap Boomgaard, karena harimau merupakan satwa yang mengikuti budaya atau pengikut budaya. Harimau mendekat habitat yang dibangun manusia. Sejumlah jerat yang berhasil diamankan oleh petugas Tim Sapu Jagat PHSKS.

Foto: Tim Pelestarian Harimau Sumatera Kerinci Sebelat Di Bengkulu, Erni Suyanti Musabine menambahkan, hampir semua konflik harimau-manusia terjadi di kawasan pertanian dan perkebunan swasta yang dekat hutan. Tercatat, 8 orang meninggal dalam dimana harimau sumatera hidup konflik yang terjadi antara 2007 – 2014. “Alih fungsi lahan atau hutan menjadi pemukiman, pertanian, perkebunan, dan juga pertambangan merupakan sebab utama.

Karena itu, sangat penting bagi pemerintah untuk melakukan analisis komprehensif sebelum mengeluarkan kebijakan,” kata Yanti, biasa disapa. Dimana harimau sumatera hidup catatan dokter hewan BKSDA Bengkulu – Lampung ini, konflik terbanyak terjadi di Seluma, yakni 36,8%. Selanjutnya, di Kaur dan Lebong, masing-masing 23,5%, Bengkulu Utara (19,1%), Mukomuko (8,8%), Kepahiang dan Dimana harimau sumatera hidup Tengah (4,4%), Bengkulu Selatan (1,5%), sedangkan Rejang Lebong nihil.

“Kesadaran dan keterlibatan masyarakat terkait mitigasi konflik harus ditingkatkan. Termasuk, memfasilitasi dimana harimau sumatera hidup hotline untuk cepat menginformasikan bila terjadi konflik.” Pihak lain yang penting dilibatkan adalah perusahaan swasta.

Mengingat, sejumlah konflik terjadi di kawasan perkebunan swasta seperti di Kaur, Seluma, Bengkulu Tengah dan Mukomuko. “Selama ini, sektor swasta tidak pernah dilibatkan. Padahal, mereka juga berkepentingan dan mungkin memiliki sumber daya yang cukup untuk mendukung pelestarian harimau sumatera.

Paling tidak, ketika ada harimau masuk perkebunan, mereka bisa bertindak tepat,” ujar Yanti. Harimau sumatera yang terjerat perangkap babi kemudian ditembak aparat hingga tewas di Desa Tanjung Raman, Kecamatan Pendopo, Sumatera Selatan (10/09/15). Hilangnya habitat, menyebabkan konflik harimau dengan manusia terjadi. Foto: Ridiansyah Direktur Lingkar Institut Iswadi menambahkan, peran ulama atau da’i bisa dioptimalkan untuk mendukung pelestarian harimau sumatera yang berdasarkan IUCN ( International Union for Conservation of Nature) statusnya Kritis ( Critically Endangered/CR), atau satu langkah menuju kepunahan di alam.

Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 4 Tahun 2014 Tentang Pelestarian Satwa Langka untuk Mendukung Keseimbangan Ekosistem bisa menjadi landasannya. Apalagi, fatwa tersebut merekomendasikan ada da’i lingkungan. “Peluang ini akan kami maksimalkan. Untuk tahap awal akan kami lakukan di Lebong,” papar Iswadi. Referensi: Boomgaard, Peter, “Frontiers of Fear: Tigers and People in The Malay World, 1600-1950”, 2001. Boomgaard, Peter, “Coexistence in Comparative Asian Perspective” dalam Tilson, Ronald and Nyhus, Philip J.

(Eds.), “Tigers of the World: The Science, Politics, and Conservation of Panthera tigris”, 2010. Nyhus, Philip J and Tilson, Ronald, “Panthera tigris vs homo sapiens: conflict, coexistence, or extinction” dalam Tilson, Ronald and Nyhus, Philip J. (Eds.), “Tigers of the World: The Science, Politics, and Conservation of Panthera tigris”, 2010. Santiapillai, Charles and Ramono, Widodo Sukohadi, “Tiger Numbers and Habitat Evaluation in Indonesia” dalam Tilson, Ronald and Haber, Ulysses, “Tigers of the World: The Biology, Biopolitics, Management and Conservation of an Endangered Specie, 1987.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara, Hotmauli Sianturi, mencurigai motif pembunuhan Harimau Sumatera yang dilindungi itu bukan karena konflik antara harimau dengan manusia, melainkan perburuan satwa langka untuk tujuan ekonomi. Baca juga: Tiga Anak Harimau Sumatera Lahir di Taman Margasatwa Bukittinggi Taman Nasional Gunung Leuser dan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) di Aceh menjadi habitat berbagai macam satwa.

Di antaranya orang utan Sumatera, beruang, badak, rusa, dan harimau Sumatera. Sekitar 89 jenis satwa yang tergolong langka dan dilindungi ada di hutan Taman Nasional Gunung Leuser. Misalnya badak Sumatera, harimau loreng Sumatera, gajah Sumatera, dan beruang madu. 2. Hutan Lindung Singgah Mata Hutan lindung yang berada di Kecamatan Beutong, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, juga menjadi rumah harimau Sumatera.

Hutan ini dikenal banyak dihuni harimau liar. 3. Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan Harimau Sumatera yang tinggal di Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, di antaranya harimau betina bernama Dara Jingga dan harimau jantan bernama Bancah.

Tahun lalu, Dara Jingga melahirkan tiga ekor anak. Harimau lainnya yang bernama Sean, pada November 2016, juga dimana harimau sumatera hidup tiga ekor harimau Sumatera juga dari induk jantan yang sama yakni Bancah.

4. Taman Nasional Batang Gadis Taman Nasional Batang Gadis adalah taman nasional di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. Luas wilayahnya 108.000 hektare. Tujuan pembentukan taman nasional ini untuk menyelamatkan satwa dan habitat alam, termasuk harimau Sumatera. Taman ini juga menjadi simbol pengakuan nilai-nilai kearifan lokal dalam mengelola hutan.

Salah satunya lubuk larangan atau naborgo-borgo atau atau hutan larangan. Artikel Lain: Dua Ekor Harimau Sumatera Menjadi Warga Baru di Bali Zoo Catatan redaksi: Artikel ini telah mengalami perbaikan judul pada Ahad, 11 September 2018.
Trawlbens –Â Harimau sumatera adalah populasi Panthera tigris sondaica yang mendiami pulau Sumatera, Indonesia, dan merupakan satu-satunya subspesies harimau sumatera yang masih hidup saat ini. Harimau Ini termasuk dalam klasifikasi Spesies Terancam Punah pada Daftar Merah Spesies Terancam Punah dari IUCN World Conservation Society.

Populasi liar diperkirakan hanya sekitar 400-500 yang hidup. Pengujian genetik baru-baru ini telah mengungkapkan penanda genetik unik yang menunjukkan bahwa jika subspesies ini bertahan, ia dapat berevolusi menjadi spesiesnya sendiri.

Perusakan habitat adalah ancaman terbesar bagi populasi harimau saat ini. Deforestasi terus berlanjut dan dilakukan meskipun termasuk dalam area taman nasional yang dimana seharusnya menjadi tempat perlindungan yang ketat untuk harimau.

66 harimau sumatera dibunuh antara tahun 1998 dan 2000. Ciri-ciri Harimau Sumatera yang membedakannya dengan Harimau Lain Harimau sumatera adalah harimau yang memiliki postur terkecil selain itu ia memiliki warna paling gelap dari semua varian harimau lainnya, dengan pola hitam lebar, jarak yang saling berdekatan satu sama lain.

Panjang rata-rata harimau jantan dewasa adalah sekitar 250 cm dari ujung kepala sampai ujung kaki, dan berat sekitar 140 kg, dan tinggi harimau jantan bisa mencapai 60 cm. Sedangkan Rata-rata harimau betina memiliki panjang sekitar 198 cm dan berat sekitar 91 kg.

Pola belang harimau sumatera lebih tipis dibandingkan varian harimau lainnya. Subspesies ini juga memiliki janggut dan surai yang lebih banyak dibandingkan subspesies lainnya, terutama harimau jantan. Ukurannya yang kecil membuatnya mudah untuk menjelajahi hutan. Harimau ini dikenal suka mendorong mangsanya ke dalam air.

Menjadi Hewan yang Terancam Punah Saat ini, hanya sekitar 400 harimau sumatera yang tersisa di hutan dataran rendah, rawa-rawa, dan blok hutan hujan pegunungan. Namun, sebagian besar wilayah tersebut terancam oleh penebangan untuk lahan pertanian dan perkebunan komersial yang tiada hentinya merebut habitat tempat tinggal Harimau.

Perburuan dan penggundulan hutan adalah dua penyebab utama kepunahan harimau. Harimau dibunuh karena kulitnya. Hutan yang menjadi rumah mereka hancur akibat perkebunan kelapa sawit, akasia, dan pulp. Komunitas Konservasi Alam Indonesia (KKI) telah menemukan bahwa hanya ada 11 juta hektar hutan yang tersisa di pulau Sumatera. Jika laju deforestasi tidak terkendali, hutan akan hilang dalam 25 tahun ke depan. Harimau juga menghilang. Upaya penyelamatan harimau sumatera terus dilakukan di berbagai tempat, dengan harapan harimau terakhir milik Indonesia tidak punah.

Ketika hutan yang dihuni oleh harimau sumatera Habis karena banyaknya penebangan dan perluasan lahan komersil, hewan-hewan yang dilindungi ini terpaksa untuk dimana harimau sumatera hidup pemukiman manusia, yang menyebabkan konflik antara harimau Sumatera dan Manusia. Konflik-konflik ini sering berakhir dengan pembunuhan atau penangkapan harimau ketika mereka muncul di daerah pedesaan atau secara tidak sengaja bertemu dengan manusia. Yang paling sering terjadi adalah pemburuan Harimau oleh manusia demi keuntungan tersendiri.

Harimau diburu dan dibunuh untuk diambil kulitnya karena memiliki harga jual yang tinggi. Hal ini menyebabkan banyak pemburu nakal yang mengambil keuntungan dengan memburu harimau tanpa memikirkan mengenai status harimau yang terancam punah. Belum lama ini Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau telah menangkap empat pelaku perdagangan kulit harimau. Penangkapan keempat pelaku tersebut dilakukan oleh BBKSDA Riau bersama tim dari Polda Riau dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Bagian 2 Pusat Penegakan Hukum (Gakkum) Sumatera.

Ada tiga jenis harimau di Indonesia: harimau Jawa, Bali, dan Sumatra. Namun, yang tersisa saat ini hanya harimau sumatera. Ini adalah satu-satunya spesies harimau yang masih tersisa dan seharusnya kita terus mengupayakanya untuk terus berkembang dan menyelamatkannya dari kepunahan yang akan terjadi.

Untuk saat ini solusi yang tepat untuk melindungi harimau adalah dengan melindungi rumahnya. Jadi bukan hanya angka yang tersisa saat ini yang penting. Merawat rumah dimana harimau itu tinggal akan meningkatkan populasinya. karena percuma saja jika hanya trefokus pada pengembangbiakan harimau jika rumah mereka habis dibabat dan dirampas sehingga tidak ada tempat lagi untuk mereka.

semua harus bekerja sama dalam mengubah status harimau Sumatera dari terancam punah hingga menjadi hewan yang tidak terancam punah.
Harimau adalah kucing terbesar di muka bumi. Harimau Sumatera merupakan salah satu sub-spesies harimau yang masih bertahan hidup hingga saat ini. Spesies ini juga dapat disebut Harimau Sunda, nama “Sunda” mengacu pada kawasan biogeografi yang mencakup Sumatera, Jawa, dan Bali.

Spesies bernama latin Panthera tigris sondaica (Wilting, 2015) ini memiliki tubuh yang relatif lebih kecil dibandingkan sub-spesies harimau lainnya, yakni Harimau Kontingental ( Panthera tigris tigris). Warna kulit Harimau Sumatera cenderung lebih gelap, mulai dari kuning kemerah-merahan hingga oranye tua dan memiliki garis loreng yang lebih rapat. Satwa ini masuk dalam status Kritis ( Critically Endangered).

CIRI-CIRI FISIK • Harimau Sumatera memiliki tubuh yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan Harimau Kontingental ( Panthera tigris tigris). • Jantan dewasa bisa memiliki tinggi hingga 60 cm dan panjang dari kepala hingga kaki mencapai 250 cm dan berat hingga 140 kg.

Harimau betina memiliki panjang rata-rata 198 cm dan berat hingga 91 kg. • Warna kulit Harimau Sumatera relatif lebih gelap, mulai dari kuning kemerah-merahan hingga oranye tua, dan memiliki garis loreng yang lebih rapat.

MENGAPA SPESIES INI PENTING Provinsi Riau adalah rumah bagi sepertiga dari seluruh populasi Harimau Sumatera. Sayangnya, sekalipun sudah dilindungi secara hukum, populasi harimau terus mengalami penurunan hingga 70% dalam seperempat abad terakhir. Pada tahun 2007, diperkirakan hanya tersisa 192 ekor Harimau Sumatera di alam liar Propinsi Riau. Sebagai satwa dilindungi di Indonesia berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Harimau Sumatera yang bernama latin Panthera tigris sondaica (Wilting, 2015) ini hanya tersisa ≤ 400 individu saja.

Populasinya terancam oleh perburuan dan perdagangan ilegal. Jerat menjadi momok mengerikan bagi sang raja rimba. Pemburu menggunakan jerat sebagai alat utama berburu Harimau karena mudah, murah dan berpeluang besar untuk mendapatkan satwa buruannya. Harimau Sumatera berada di ujung kepunahan karena hilangnya habitat secara tak terkendali, berkurangnya jumlah spesies mangsa, dan perburuan. Laporan tahun 2008 yang dikeluarkan oleh TRAFFIC – dimana harimau sumatera hidup kerja sama WWF dan lembaga Konservasi Dunia, IUCN, untuk monitoring perdagangan satwa liar – menemukan adanya pasar ilegal yang berkembang subur dan menjadi dimana harimau sumatera hidup domestik terbuka di Sumatera yang memperdagangkan bagian-bagian tubuh harimau.

Dalam studi tersebut TRAFFIC mengungkapkan bahwa paling sedikit 50 Harimau Sumatera diburu setiap tahunnya dalam kurun waktu 1998- 2002. Citra Harimau Sumatera yang tangguh dan berwibawa membawa ancaman buruk baginya. Harimau diburu untuk diambil seluruh bagian tubuhnya, mulai dari kulit, kumis, kuku, taring, hingga dagingnya.

Bagian tubuh harimau dipercaya sebagai jimat dan dimana harimau sumatera hidup kekuatan magis. Hal inilah yang mendorong suburnya permintaan harimau di pasar gelap dan membuat populasi harimau kian menurun. Populasi Harimau Sumatera yang hanya sekitar 400 ekor saat ini tersisa di dalam blok-blok hutan dataran rendah, lahan gambut, dan hutan hujan pegunungan.

Sebagian besar kawasan ini terancam pembukaan hutan untuk lahan pertanian dan perkebunan komersial, juga perambahan oleh aktivitas pembalakan dan pembangunan jalan. Bersamaan dengan hilangnya hutan habitat mereka, harimau terpaksa memasuki wilayah yang lebih dekat dengan manusia dan menimbulkan konflik.

Konflik ini seringkali berakhir dengan harimau yang dibunuh atau ditangkap karena tersesat memasuki daerah pedesaan atau akibat perjumpaan tanpa sengaja dengan manusia. WWF-Indonesia bekerjasama dengan Pemerintah Indonesia, industri yang mengancam habitat harimau, organisasi konservasi lainnya serta masyarakat lokal untuk menyelamatkan Harimau Sumatera dari kepunahan.

• Pada tahun 2004, Pemerintah Indonesia mendeklarasikan kawasan penting, Tesso Nilo, sebagai Taman Nasional untuk memastikan masa depan yang aman bagi keberadaan Harimau Sumatera. • Tahun 2010, pada KTT Harimau di St. Petersburg, Indonesia dan 12 negara lainnya yang melindungi Harimau berkomitmen dalam sebuah tujuan konservasi spesies ambisius dan visioner yang pernah dibuat: TX2 – untuk menambah kelipatan jumlah Harimau sampai pada akhir tahun 2022, tahun Harimau selanjutnya.

• Program Nasional Pemulihan Harimau Indonesia sekarang merupakan bagian dari tujuan global dan meliputi enam lansekap prioritas Harimau Sumatera ini: Ulumasen, Kampar-Kerumutan, Bukit Tigapuluh, Kerinci Seblat, Bukit Balai Rejang Selatan, dan Bukit Barisan Selatan.

WWF saat ini tengah melakukan terobosan penelitian tentang Harimau Sumatera di Sumatera Tengah, menggunakan perangkap kamera untuk memperkirakan jumlah populasi, habitat dan distribusi untuk mengidentifikasi koridor satwa liar yang membutuhkan perlindungan. WWF juga menurunkan tim patroli anti-perburuan dan unit yang bekerja untuk mengurangi konflik manusia-harimau di masyarakat lokal.

BAGAIMANA BISA MEMBANTU • Pelajari dan sebarkan informasi tentang Harimau Sumatera untuk tingkatkan kepedulian orang-orang di sekitar • Laporkan kematian Harimau Sumatera ke aparat setempat • Dukung upaya konservasi yang dilakukan baik oleh pemerintah Indonesia, WWF-Indonesia ataupun badan-badan konservasi lainnya Call for Proposal Consultant to Gain Commitment from Downstream Compan Through ASPOL project, funded by HSBC, WWF Indonesia aims to gain commitment from downstream companies, including consumer goods manufacturers, retailers, hotels, and restaurants, to source sustainable palm oil for domestic consumers5/5 - (5 votes) Ada enam sub-spesies harimau di dunia yang masih mampu bertahan hidup hingga sekarang.

dimana harimau sumatera hidup

Satu diantara keenam sub-spesies tersebut hidup di daratan Pulau Sumatera dan dikenal dengan nama Harimau Sumatera. Akan tetapi keberadaan satwa liar ini sudah mulai langka dan dalam kondisi terancam di alam akibat berbagai faktor.

Status Harimau Sumatera kini masuk dalam kelompok satwa kritis yang terancam punah oleh IUCN ( International Union for Conservation of Nature). Padahal keberadaannya sangat berarti bagi kesinambungan rantai makanan, karena menempati posisi predator puncak.

Maka dari itu banyak pihak dan pegiat sosial yang mulai melakukan upaya konservasi untuk mempertahankan populasi harimau dimana harimau sumatera hidup. Daftar Isi • Taksonomi • Status Kelangkaan • Morfologi • Habitat • Sebaran Harimau Sumatera • Makanan • Perkembangbiakan • Upaya Konservasi • 1. Konservasi oleh Pemerintah Indonesia • 2. Konservasi oleh WWF • Keunikan Harimau Sumatera Taksonomi Harimau Sumatera juga disebut sebagai kucing besar yang menghuni hutan di daratan Pulau Sumatera.

Adapun taksonomi atau klasifikasi ilmiah dari satwa yang langka dan hampir punah ini adalah sebagai berikut: Kingdom Animalia Filum Chordata Kelas Mamalia Ordo Carnivora Sub ordo Fissipedia Famili Falidae Genus Panthera Spesies Panthera tigris Sub spesies Panthera tigris sumatrae Status Kelangkaan Telah disebutkan bahwa status Harimau Sumatera saat ini adalah kritis dan terancam punah.

Hal itu dinyatakan oleh red list International Union for Conservation of Nature (IUCN) jika satwa liar ini berstatus Critically Endangered (CE) yang berarti resiko kepunahannya sangat tinggi dan bahkan diperkirakan punah dalam waktu dekat. greeners.co Jika ditelusuri, ada dua faktor utama yang menjadi ancaman terbesar satwa liar ini. Ancaman pertama adalah ketersediaan habitat aslinya yang semakin berkurang dan menyempit.

Hal itu disebabkan oleh kegiatan deforestasi hutan yang terus meningkat, sehingga terjadi alih fungsi habitat kucing Sumatera ini. Deforestasi habitat Harimau Sumatera juga turut berimbas pada hilangnya tempat tinggal dan tempat untuk berlindung serta jumlah mangsa buruan yang dimana harimau sumatera hidup berkurang.

Akibatnya tidak jarang dijumpai harimau yang masuk ke area perkebunan dan perkampungan masyarakat untuk mencari makan dan menimbulkan konflik. Ancaman kedua adalah maraknya kegiatan perburuan liar serta perdagangan ilegal. Diketahui bahwa bagian-bagian tubuh harimau banyak dimanfaatkan untuk jimat, dekorasi, obat tradisional, perhiasan, dan sebagainya. Oleh sebab itu banyak pihak dimana harimau sumatera hidup menjadikan perdagangan tubuh harimau sebagai mata pencaharian.

baca juga: Mengenal Pohon Bidara - Taksonomi, Morfologi, Manfaat & Cara Tanam Morfologi Dari enam sub-spesies harimau yang ada di dunia, Harimau Sumatera adalah jenis harimau yang tubuhnya cenderung lebih kecil dibanding kerabatnya yang lain. Diketahui harimau jantan dewasa memiliki tinggi (terhitung dari telapak kaki hingga pundak) 60 cm, panjang tubuh (dari ekor hingga wajah) 250 cm, dan bobot tubuhnya 140 kg. Sedangkan untuk harimau betina yang telah dewasa tinggi tubuhnya juga sekitar 60 cm, panjang tubuhnya sedikit lebih pendek yaitu 198 cm, dan bobotnya adalah 91 kg.

Perbedaan mencolok antara harimau jantan dan harimau betina adalah surai yang dimiliki jantan biasanya lebih lebat di sekitar leher dibandingkan harimau betina. Warna kulit Harimau Sumatera juga lebih gelap dibanding jenis lainnya yang kulitnya berwarna antara kuning kemerahan sampai orange tua.

Pada bagian kulit terdapat garis loreng-loreng yang tampak lebih tipis daripada loreng jenis harimau lain. Loreng melintang tersebut berfungsi sebagai kamuflase saat mengejar mangsa ataupun musuhnya. Seluruh tubuh harimau juga ditutupi oleh rambut atau bulu. Harimau Sumatera dikenal memiliki indera penciuman, pendengaran, dan penglihatan yang sangat bagus.

Kemampuan itu kemudian dimanfaatkan ketika berburu mangsa pada waktu malam hari. Selain itu satwa ini juga memiliki kemampuan untuk berenang, karena di antara jari-jarinya terdapat selaput tipis. Sebenarnya ukuran tubuh kecil memiliki fungsi yang sangat baik bagi Harimau Sumatera, karena dengan postur tubuh ini maka harimau dapat lebih mudah menjelajah di hutan. Penting untuk diketahui bahwa harimau mempunyai kebiasaan hidup soliter. Adapun air liurnya berfungsi sebagai penyembuh luka, karena mengandung antiseptik.

Habitat Harimau Sumatera pada dasarnya dapat hidup pada berbagai kondisi habitat, selama lingkungan tersebut memiliki pasokan makanan memadai, mampu memberi perlindungan, cukup air dan sinar matahari. Umumnya satwa ini dijumpai pada kawasan hutan dengan ketinggian sekitar 0 sampai 2.000 meter di atas permukaan laut (dpl). Adapun kawasan yang menjadi habitat favorit kucing Sumatera adalah hutan hujan tropis seperti hutan rawa, hutan bersungai, semak belukar, padang rumput, hingga alang-alang.

Tipe-tipe hutan seperti itu dapat memenuhi kebutuhan makan, perlindungan, sekaligus untuk berkembangbiak. Sebagai satwa soliter, Harimau Sumatera juga mempunyai area teritori yang harus dipertahankan seperti sarang dan tempat untuk tidur.

Cara untuk menandai sekaligus mempertahankan teritorinya adalah meninggalkan tanda berupa cakaran dan bau urin serta feses.

dimana harimau sumatera hidup

Selain soliter, harimau ini juga senang menjelajah untuk memenuhi kehidupannya. Jangkauan jelajah tergantung pada kemampuan tubuhnya, ketersediaan kebutuhan hidup, dan tipe habitat yang ditinggali. Harimau jantan biasanya sanggup menjelajah tiga kali lebih jauh dibanding harimau betina. baca juga: Harimau Jawa - Taksonomi, Morfologi, Habitat, Sebaran & Penyebab Kepunahan Sebaran Harimau Sumatera Sesuai namanya, Harimau Sumatera hanya bisa hidup dan membentuk habitat di Pulau Sumatera.

Satwa ini biasanya hidup di area konservasi atau lindung. Tetapi ada juga beberapa individu yang dimana harimau sumatera hidup bertahan di hutan liar, khususnya di kawasan bagian utara dan barat Pulau Sumatera. Makanan Harimau Sumatera adalah kelompok satwa karnivora yang memakan daging dan memerlukan makanan sebanyak seperlima dari bobot tubuhnya. Satwa ini biasanya akan melakukan perburuan pada waktu malam secara individual dengan bersembunyi, mengejar, kemudian menerkam dan memakan binatang buruannya.

Keberadaan gigi dan cakar yang sangat tajam menjadi poin utama yang membantu harimau agar bisa lebih cepat membunuh mangsanya. Beberapa jenis binatang yang menjadi buruan harimau antara lain babi hutan, kijang, tapir, rusa, monyet ekor panjang, ular, biawal, landak, dan masih banyak lagi.

Dalam sehari Harimau Sumatera dimana harimau sumatera hidup melakukan perburuan sebanyak tiga sampai enam kali. Setelah mendapat buruannya satwa ini biasanya hanya akan memakan 70% dari tubuh mangsanya. Kemudian sisanya akan disimpan untuk dimakan kembali dengan cara menutupnya menggunakan dedaunan dan ranting. Perkembangbiakan Kucing Sumatera ini mempunyai musim kawin untuk berkembangbiak, biasanya berlangsung pada rentang bulan Juli hingga bulan Agustus.

Masa kehamilan harimau jauh lebih cepat dibanding dengan satwa dilindungi lainnya seperti gajah dan badak. Hanya dibutuhkan 104 sampai 106 hari untuk mengandung dengan jumlah anak tiga sampai lima ekor. Pixabay Pada saat baru lahir harimau mempunyai mantel rambut mirip induknya, tetapi lebih gelap, dan matanya masih tertutup. Baru pada hari kesepuluh matanya akan terbuka.

Selama delapan pekan induk harimau akan memberikan air susu kepada anaknya, tetapi pada usia dua pekan anak harimau sudah mulai meninggalkan sarang. Anak harimau kemudian akan belajar berburu makanan sendiri pada usia 18 bulan atau satu setengah tahun. Meski kehamilan dan pertumbuhan anaknya relatif cepat, tetapi usia Harimau Sumatera juga termasuk pendek. Satwa ini hanya dapat hidup sekitar 15 tahun di alam bebas, sedangkan jika dikandang bisa sampai 20 tahun.

Upaya Konservasi Dengan statusnya sebagai satwa yang hampir punah dan dalam kondisi kritis, maka berbagai upaya konservasi pun dilakukan untuk mempertahankan spesies Harimau Sumatera. Konservasi tersebut tidak hanya digalakkan oleh pemerintah Indonesia, tetapi juga oleh lembaga World Wildlife Fund atau WWF. 1. Konservasi oleh Pemerintah Indonesia Sebagai negara tempat hidup populasi Harimau Sumatera, maka Indonesia memiliki tanggungjawab dan peran penting untuk mempertahankan spesies ini.

Pada tahun 2004 lalu pemerintah telah menetapkan kawasan Taman Nasional Tesso Nilo menjadi habitat satwa liar tersebut. Selanjutnya dalam KTT 2010 di St. Petersburg Indonesia menjadi salah satu negara perlindungan harimau. baca juga: Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional - 5 November Tidak hanya itu saja, pemerintah juga menetapkan kebijakan untuk menghentikan kegiatan penebangan liar demi menjaga habitat Harimau Sumatera, memberi penyuluhan bagi masyarakat tentang pentingnya melestarikan satwa liar seperti Harimau Sumatera, serta memberi dukungan untuk kegiatan pelestarian satwa.

2. Konservasi oleh WWF WWF bekerjasama dengan pemerintah Indonesia untuk melestarikan Harimau Sumatera. Lembaga ini melakukan penelitian untuk mengetahui habitat, persebaran, serta populasi Harimau Sumatera dengan memasang kamera pada area tinggal satwa ini. Selain itu lembaga ini juga menyediakan tim patroli untuk mencegah kegiatan perburuan.

dimana harimau sumatera hidup

Keunikan Harimau Sumatera Spesies endemik Nusantara Harimau Sumatera ternyata mempunyai beberapa keunikan yang tidak dimiliki jenis harimau lain. Keunikan tersebut tidak hanya berasal dari ciri morfologi harimau, tetapi juga dapat dilihat dari kebiasaan dan gaya hidupnya.

dimana harimau sumatera hidup

Berikut adalah sepuluh fakta tentang keunikan kucing Sumatera. • Harimau Sumatera mempunyai selaput tipis yang berada di sela-sela jarinya. Selaput tersebut membantu satwa ini untuk berenang dan bahkan jarak tempuh yang dicapai bisa sejauh puluhan kilometer. • Meski bukan binatang air atau amfibi, tetapi Harimau Sumatera mempunyai hobi berendam di dalam air atau sekadar berdiam diri pada area tepi sungai dalam waktu yang cukup lama.

• Tidak hanya mampu berenang hingga puluhan kilometer, tetapi Harimau Sumatera juga mempunyai kemampuan melompat yang hebat.

Berkat tubuhnya yang relatif kecil satwa ini bisa melompat hingga mencapai ketinggian 5 meter dan sejauh 6 meter dalam sekali lompatan. • Harimau Sumatera juga disebut sebagai kucing Sumatera, karena berada dalam rumpun sama dengan kucing. Meski begitu pupil matanya berbeda dengan keluarga kucing pada umumnya. Satwa ini justru memiliki pupil yang berbentuk bulat. • Cakar Harimau Sumatera dikenal sangat kuat untuk mencabik dan melumpuhkan mangsanya, bahkan cakar tersebut dipercaya bisa menghancurkan tengkorak beruang sekalipun.

• Sebagai binatang yang mengaum, Harimau Sumatera mampu mengeluarkan suara auman yang sangat keras bahkan dalam 3 kilometer suara tersebut masih bisa terdengar. • Kucing Sumatera ini dikenal memiliki kesabaran yang tinggi, karena sangat sabar menanti kehadiran mangsanya dalam waktu lama. • Bukan hanya penciuman yang tajam, tetapi penglihatan Harimau Sumatera sangatlah baik bahkan kemampuannya sampai 6 kali lebih tajam dari penglihatan manusia.

• Air liur Harimau Sumatera mengandung berbagai antiseptik yang mampu untuk menyembuhkan luka. • Harimau Sumatera merupakan satwa yang sudah hidup jutaan tahun lalu, karena fosil tertuanya yang berhasil ditemukan berusia 2 juta tahun.
• العربية • مصرى • Kotava • Azərbaycanca • Български • বাংলা • Català • Cebuano • Čeština • Dansk • Deutsch • English • Español • Euskara • فارسی • Suomi • Français • Galego • עברית • Hrvatski • Magyar • Հայերեն • Interlingua • Italiano • 日本語 • Jawa • ქართული • 한국어 • Lombard • Lietuvių • Latviešu • Minangkabau • Македонски • മലയാളം • Монгол • मराठी • Dimana harimau sumatera hidup Melayu • Nederlands • Norsk bokmål • Occitan • Polski • Português • Română • Русский • Srpskohrvatski / српскохрватски • Simple English • Shqip • Српски / srpski • Svenska • தமிழ் • ไทย • Türkçe • Українська • Tiếng Việt • 中文 Temminck, 1844 Sinonim sebelumnya P.

t. sumatrae Pocock, 1929 Harimau sumatra adalah populasi Panthera tigris sondaica [2] yang mendiami pulau Sumatra, Indonesia dan satu-satunya anggota subspesies harimau sunda yang masih bertahan hidup hingga saat ini. Ia termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah ( critically endangered) dalam daftar merah spesies terancam yang dirilis Lembaga Konservasi Dunia IUCN.

Populasi liar diperkirakan antara 400-500 ekor, terutama hidup di Pegunungan Bukit Barisan jama sejarah taman-taman nasional di Sumatra jaman pra-sejarah. Uji genetik mutakhir telah mengungkapkan tanda-tanda genetik yang unik, yang menandakan bahwa subspesies ini mungkin berkembang menjadi spesies terpisah, bila berhasil lestari.

[3] Penghancuran habitat merupakan ancaman terbesar terhadap populasi saat ini. Pembalakan tetap berlangsung bahkan di taman nasional yang seharusnya dilindungi. Tercatat 66 ekor harimau sumatra terbunuh antara tahun 1998 dan 2000.

Pada tahun 2017, Satuan Tugas Klasifikasi Kucing dari Cat Specialist Group merevisi taksonomi kucing sehingga populasi harimau yang hidup dan punah di Indonesia sekarang digolongkan sebagai P. t. sondaica. [2] Daftar isi • 1 Asal-usul • 2 Ciri-ciri • 3 Habitat • 4 Makanan • 5 Perkembangbiakan • 6 Dimana harimau sumatera hidup • 7 Penegakan hukum • 8 Perlindungan • 9 Pada budaya populer • 10 Referensi • 11 Pranala luar Asal-usul [ sunting - sunting sumber ] Harimau dipercaya merupakan keturunan hewan pemangsa zaman purba yang dikenal sebagai Miacids.

dimana harimau sumatera hidup

Miacids hidup pada akhir zaman Cretaceous kira-kira 70-65 juta tahun yang lalu semasa zaman dinosaurus di Asia Barat ( Andrew Kitchener, “The Natural History of Wild Cats”).

Harimau kemudian berkembang di kawasan timur Asia di Tiongkok dan Siberia sebelum berpecah dua, salah satunya bergerak ke arah hutan Asia Tengah di barat dan barat daya menjadi harimau kaspia. Sebagian lagi bergerak dari Asia Tengah ke arah kawasan pergunungan barat, dan seterusnya ke Asia Tenggara dan Kepulauan Sunda, sebagiannya lagi terus bergerak ke barat hingga ke India.

[ butuh rujukan] Ciri-ciri [ sunting - sunting sumber ] Harimau sumatra merupakan harimau yang memiliki ukuran terkecil. [4] Harimau sumatra mempunyai warna paling gelap dimana harimau sumatera hidup antara semua subspesies harimau lainnya, pola hitamnya berukuran lebar dan jaraknya rapat dan juga berhimpitan.

Harimau sumatra jantan dewasa memiliki panjang rata-rata 92 inci dari kepala ke kaki atau sekitar 250 cm panjang dari kepala hingga kaki dengan berat 300 pound atau sekitar 140 kg, sedangkan tinggi dari jantan dapat mencapai 60 cm. Betinanya rata-rata memiliki panjang 78 inci atau sekitar 198 cm dan berat 200 pound atau sekitar 91 kg. Belang harimau sumatra lebih tipis daripada subspesies harimau lain. Warna kulit harimau sumatra merupakan yang paling gelap dari seluruh harimau, mulai dari kuning kemerah-merahan hingga jingga tua.

Subspesies ini juga punya lebih banyak janggut serta surai dibandingkan subspesies lain, terutama harimau jantan. Ukurannya yang kecil memudahkannya menjelajahi rimba. Terdapat selaput di sela-sela jarinya yang menjadikan mereka mampu berenang cepat.

dimana harimau sumatera hidup

Harimau ini diketahui menyudutkan mangsanya ke air, terutama bila binatang buruan tersebut lambat berenang. Bulunya berubah warna menjadi hijau gelap ketika melahirkan.

[ butuh rujukan] Habitat [ sunting - sunting sumber ] Harimau sumatra pada tahun 1926. Harimau sumatra hanya ditemukan di pulau Dimana harimau sumatera hidup. Kucing besar ini mampu hidup di manapun, dari hutan dataran rendah sampai hutan pegunungan, dan tinggal di banyak tempat yang tak terlindungi. Hanya sekitar 400 ekor tinggal di cagar alam dan taman nasional, dan sisanya tersebar di daerah-daerah lain yang ditebang untuk pertanian, juga terdapat lebih kurang 250 ekor lagi yang dipelihara di kebun binatang di seluruh dunia.

Harimau sumatra mengalami ancaman kehilangan habitat karena daerah sebarannya seperti blok-blok hutan dataran rendah, lahan gambut dan hutan hujan pegunungan terancam pembukaan hutan untuk lahan pertanian dan perkebunan komersial, juga perambahan oleh aktivitas pembalakan dan pembangunan jalan. Karena habitat yang semakin sempit dan berkurang, maka harimau terpaksa memasuki wilayah yang lebih dekat dengan manusia, dan sering kali mereka dibunuh dan ditangkap karena tersesat memasuki daerah pedesaan atau akibat perjumpaan yang tanpa sengaja dengan manusia.

[ butuh rujukan] Makanan [ sunting - sunting sumber ] Makanan harimau sumatra tergantung tempat tinggalnya dan seberapa berlimpah mangsanya. Sebagai pemangsa utama dalam rantai makanan, harimau mempertahankan populasi mangsa liar yang ada di bawah pengendaliannya, sehingga keseimbangan antara mangsa dan vegetasi yang mereka makan dapat terjaga. Mereka memiliki indra pendengaran dan penglihatan yang sangat tajam, yang membuatnya menjadi pemburu yang sangat efisien.

Harimau Sumatra merupakan hewan soliter, dan mereka berburu pada malam hari, mengintai mangsanya dengan sabar sebelum menyerang dari belakang atau samping. Mereka memakan apa pun yang dapat ditangkap, umumnya babi hutan dan rusa, dan kadang-kadang unggas atau ikan.

Orangutan juga dapat jadi mangsa, akan tetapi mereka jarang menghabiskan waktu di permukaan tanah, sehingga jarang ditangkap harimau. Harimau sumatra juga gemar makan durian. Dalam keadaan tertentu harimau sumatra juga memangsa berbagai alternatif mangsa seperti kijang (Muntiacus muntjac), kancil (Tragulus sp), beruk (Macaca nemestrina), landak (Hystrix brachyura), trenggiling (Manis javanica), beruang madu (Helarctos malayanus), dan kuau raja (Argusianus argus).

[5] Harimau sumatra juga mampu berenang dan memanjat pohon ketika memburu mangsa. Luas kawasan perburuan harimau sumatra tidak diketahui dengan tepat, tetapi diperkirakan bahwa 4-5 ekor harimau sumatra dewasa memerlukan kawasan jelajah seluas 100 kilometer di kawasan dataran rendah dengan jumlah hewan buruan yang optimal (tidak diburu oleh manusia).

Perkembangbiakan [ sunting - sunting sumber ] Harimau sumatra dapat berbiak kapan saja. Masa kehamilan adalah sekitar 103 hari. Biasanya harimau betina melahirkan 2 atau 3 ekor anak harimau sekaligus, dan paling banyak 6 ekor. Mata anak harimau baru terbuka pada hari kesepuluh, meskipun anak harimau di kebun binatang ada yang tercatat lahir dengan mata terbuka. Anak harimau hanya minum air susu induknya selama 8 minggu pertama. Sehabis itu mereka dapat mencoba makanan padat, namun mereka masih menyusu selama 5 atau 6 bulan.

Anak harimau pertama kali meninggalkan sarang pada umur 2 minggu, dan belajar berburu pada umur 6 bulan. Mereka dapat berburu sendirian pada umur 18 bulan, dan pada umur 2 tahun dimana harimau sumatera hidup harimau dapat berdiri sendiri. Harimau sumatra dapat hidup selama 15 tahun di alam liar, dan 20 tahun dalam kurungan. Ancaman [ sunting - sunting sumber ] Seorang pria berpose bersama seekor harimau sumatra yang telah ditembak mati (foto antara 1890-1900).

Perdagangan bagian tubuh harimau di Indonesia saat ini semakin memprihatinkan. Penemuan tentang perdagangan harimau tersebut tercermin dalam survei Profauna Indonesia yang didukung oleh International Fund for Animal Welfare (IFAW) pada bulan Juli - Oktober 2008.

Selama 4 bulan tersebut Profauna mengunjungi 21 kota/lokasi yang ada di Sumatra dan Jakarta. Dari 21 kota yang dikunjungi Profauna, 10 kota di antaranya ditemukan adanya perdagangan bagian tubuh harimau (48 %). Bagian tubuh harimau yang diperdagangkan meliputi kulit, kumis, cakar, ataupun opsetan utuh. Harga bagian tubuh harimau yang dijual itu bervariasi.

Untuk yang utuh dijual seharga Rp. 5 juta per lembar sampai dengan 25 juta per lembar. Sedangkan taring harimau ditawarkan seharga Rp. 400.000 hingga Rp. 1,1 juta. Kebanyakan bagian tubuh harimau tersebut dijual di toko seni, penjual batu mulia, dan penjual obat tradisional. Untuk perdagangan bagian tubuh harimau paling banyak terjadi di Lampung.

Deforestasi dan degradasi hutan di Pulau Sumatra yang sangat besar akan mengancam terhadap keanekaragaman hayati yang ada. Deforestasi dan degradasi akan menyebabkan hilangnya hutan atau terpotong-potongnya hutan menjadi bagian-bagian kecil dan terpisah. Alih fungsi hutan banyak digunakan untuk perkebunan, hutan tanaman industri, pemukiman, industri, dll. Investigasi Eyes on the Forest (2008) melaporkan bahwa dimana harimau sumatera hidup jalan logging oleh Asia Pulp & Paper (APP) sepanjang 45 km yang membelah hutan gambut di Senepis Propinsi Riau mengakibatkan penyusutan luas hutan dan memicu peningkatan konflik manusia-harimau di kawasan tersebut.

Perusakan habitat dan perburuan hewan mangsa telah diketahui sebagai faktor utama yang menyebabkan turunnya jumlah harimau secara dramatis di Asia [6] Keberadaan harimau sumatra saat ini menjadi sebuah polemik tersendiri karena mengakibatkan konflik antara manusia dan harimau. Rusaknya habitat alami harimau sumatra mengakibatkan satwa ini tersingkir dari habitat alaminya, sehingga menimbulkan dimana harimau sumatera hidup terhadap manusia. Serangan harimau sumatra terhadap manusia dan hewan ternak telah sering terjadi.

Serangan harimau sumatra yang menewaskan 3 ekor ternak sapi terjadi di Desa Talang Kebun Kecamatan Lubuk Sandi Kabupaten Seluma Propinsi Bengkulu. [7] Sementara itu dalam kurun waktu dua tahun terakhir di Popinsi Sumatra Barat tercatat 26 kasus konflik harimau dengan manusia, sebanyak 16 kasus menghilangkan nyawa manusia dan sisanya memangsa ternak masyarakat.

[8] Masih maraknya perdagangan bagian tubuh harimau tersebut sudah dilaporkan Profauna ke Departemen Kehutanan melalui Dirjen PHKA pada bulan April 2009, dengan harapan pemerintah bisa mengambil langkah-langkah tegas untuk mengatasi perdagangan satwa langka yang dilindungi tersebut.

Beberapa tindakan nyata telah diambil pemerintah untuk memerangi perdagangan bagian tubuh harimau di Jakarta. Penegakan hukum [ sunting - sunting sumber ] Pada tanggal 7 Agustus 2009, Satuan Polhut Reaksi Cepat dan Satuan Sumdaling Polda Metro Jaya berhasil menggulung sindikat perdagangan kulit harimau di Jakarta. Selain mengamankan 2 kulit harimau sumatra utuh, polisi juga menyita 6 awetan burung cendrawasih, 2 kulit kucing hutan, 12 awetan kepala rusa, 1 surili, 5 tengkorak rusa, 1 kepala beruang dan 1 kulit rusa sambar.

Sindikat perdagangan satwa langka itu diduga juga melibatkan sejumlah kebun binatang di Jawa dan Sumatra. Terungkapnya sindikat perdagangan harimau dan satwa langka lainnya di Jakarta tersebut membuktikan bahwa laporan Profauna tentang perdagangan harimau adalah sebuah fakta.

Fakta tersebut seperti fenomena gunung es, hanya tampak di permukaannya. Fakta sebenarnya diyakini jauh lebih besar dari yang sudah terdeteksi. Perlindungan [ sunting - sunting sumber ] Harimau sumatra berada di Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatra di Dharmasraya, Sumatra Barat, Indonesia Perdagangan bagian tubuh harimau di Indonesia adalah perbuatan kriminal, karena melanggar Undang-Undang nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Berdasarkan pasal 21 dalam undang-undang nomor 5 tahun 1990 poin (d) bahwa "setiap orang dilarang untuk memperniagakan, menyimpan atau memiliki, kulit, tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia".

Pelanggar dari ketentuan tersebut dapat dikenakan sanksi pidana berupa hukuman penjara maksimal 5 tahun dan denda maksimum 100 juta. Memulihkan dan meningkatkan populasi harimau sumatra beserta bentang alamnya pulih.

Upaya konservasi in-situ merupakan program utama konservasi harimau sumatra dengan memulihkan populasi harimau dan habitat alaminya. Beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain adalah: Harimau sumatra di Kebun Binatang Taronga, Sydney, Australia Membangun jaringan komunikasi dan kemitraan untuk meningkatkan kerjasama konservasi di semua tingkatan baik lokal, nasional, maupun internasional.

Mengembangkan pengawasan terpadu dan intensif antara pemerintah, lembaga non pemerintah, dan masyarakat terhadap kegiatan konservasi. Selain itu juga dilakukan pendidikan dan penyadartahuan masyarakat secara terpadu dan dimana harimau sumatera hidup tentang pentingnya konservasi harimau sumatra.

Membangun mekanisme pendanaan yang berkelanjutan dalam mendukung kegiatan konservasi harimau sumatra. Meningkatkan kapasitas sumberdaya manusia dengan melaksanakan berbagai program peningkatan kapasitas tim konservasi harimau sumatra baik yang dikelola oleh pemerintah, lembaga non pemerintah, maupun masyarakat.

Memperkuat infrastrukur instansi yang melakukan pelaksanaan dan pemantauan konservasi harimau. Selain itu juga dilakukan penyusunan rencana pengelolaan konservasi pada setiap bentang alam harimau sumatra sesuai dengan karakteristik dan potensi di lapangan. Mengembangkan pusat informasi terpadu tentang konservasi harimau sumatra yang dapat diakses secara luas oleh masyarakat.

Membangun dan meningkatkan koneksitas antara habitat-habitat utama harimau sumatra melalui pengembangan koridor dalam rangka memperluas daerah bagi harimau sumatra untuk menjelajah. Karena harimau sumatra memerlukan teritori (wilayah) yang luas untuk mendapatkan mengsa yang cukup. Semua potensi habitat dan sebaran harimau sumatra perlu dimasukkan sebagai bahan pertimbangan utama dalam proses perencanaan zonasi taman nasional.

Membina kekayaan genetik unit-unit populasi harimau sumatra, terutama pada habitat yang kritis untuk menghindari erosi ragam genetik melalui pengembangan restocking populasi dan translokasi.

Mengembangkan upaya pengelolaan dimana harimau sumatera hidup konflik untuk menyelamatkan harimau yang bermasalah dengan relokasi, translokasi, dan penetapan kawasan pelepasliaran alami. Meningkatkan program pemantauan terhadap populasi, ekologi, dan habitat harimau sumatra dengan memperkuat dasar hukum dan kapasitas aparatur yang berwenang [9] Pada budaya populer [ sunting - sunting sumber ] Di Sumatra Selatan, harimau dikenali pula dengan nama nek ngau dan setue.

Makna setue adalah sosok yang dihormati atau dituakan. Di kawasan seperti hutan adat Tebat Benawa, hewan ini begitu dihormati. Hewan ini kerap terlihat di lahan warga memang, namun tak pernah menyerang. Itu karena hewan ini dianggap hidup berdampingan dengan manusia. Bahkan hutan itu adalah kawasan habitat hutan sumatra, sehingga tiadalah yang hendak bercocok tanam di sana.

[10] Referensi [ sunting - sunting sumber ] • ^ Cat Specialist Group (1996). Panthera tigris ssp. sumatrae. 2006 IUCN Red List of Threatened Species. IUCN 2006. Diakses 11 Mei 2006. Database entry includes a brief justification of why this subspecies is critically endangered and the criteria used. • ^ a b Kitchener, A.C.; Breitenmoser-Würsten, C.; Eizirik, E.; Gentry, A.; Werdelin, L.; Wilting, A. & Yamaguchi, N. (2017). "A revised dimana harimau sumatera hidup of the Felidae: The final report of the Cat Classification Task Force of the IUCN Cat Specialist Group" (PDF).

Cat News. Special Issue 11. • ^ Cracraft J., Felsenstein J., Vaughn J., Helm-Bychowski K. (1998). "Sorting out tigers ( Panthera tigris) Mitochondrial sequences, nuclear inserts, systematics, and conservation genetics". Animal Conservation. 1: 139–150. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ Mazák, V. (1981). "Panthera tigris" (PDF). Mammalian Species. 152: 1–8.

Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2012-03-09. Diakses tanggal 2013-11-05. • ^ Sriyanto dan Rustiati, E.L. 1997. Hewan mangsa potensial harimau Sumatra di Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Dalam: Tilson, R., Sriyanto, E.L. Rustiati, Bastoni, M. Yunus, Sumianto, Apriawan, dan N. Franklin (ed.). Proyek Penyelamatan Harimau Sumatra: Langkah-langkah konservasi dan Manajemen In-situ dalam Penyelamatan Harimau Sumatra.

LIPI. Jakarta. • ^ Seidensticker, J., S. Christie, and P. Jackson. 1999. Preface. In: Siedensticker, J., S. Christie, and P. Jackson (eds.). Ridding the Tiger: Tiger Conservation in Human Dominated Landscape. Cambridge University Press. Cambridge, UK. • ^ Kompas. 2008 a. Terkam Orang, Harimau Sumatra Diburu. Harian Kompas Edisi 31 Januari 2008 • ^ Kompas. 2008 b. Harimau Mengganas di Bengkulu, Memangsa Tiga Sapi. Harian Kompas Edisi 20 Februari 2008 • ^ Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 49 Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419).

• ^ Jati, Rhama Purna (17 Februari 2020). "Menghormati Setue, Menghindari Konflik". Kompas. Hlm.15 Pranala luar [ sunting - sunting sumber ] • (Indonesia) Profauna: Survei tentang perdagangan harimau di Sumatra Diarsipkan 2011-05-20 di Wayback Machine. • (Indonesia) Fakta tentang harimau sumatra Diarsipkan 2017-06-04 di Wayback Machine.

• (Inggris) Situs web harimau sumatra Diarsipkan 2007-03-12 di Wayback Machine. Kategori tersembunyi: • Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list • Artikel dengan format mikro 'spesies' • Semua regnum animalia • Semua filum chordata • Semua kelas mammalia • Artikel dengan pernyataan yang tidak disertai rujukan • Artikel dengan pernyataan yang tidak disertai rujukan Februari 2022 • Templat webarchive tautan wayback • Halaman ini terakhir diubah pada 4 Februari 2022, pukul 03.36.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
Bicara soal binatang buas, banyak sekali yang bisa disebutkan disini mulai dari yang kecil sampai dengan besar. Diantaranya yakni seperti singa, beruang dan beberapa yang lainnya serta perbedaan singa dan harimau sebelumnya juga telah di paparkan.

Selain itu, sebelumnya juga telah di sampaikan mengenai ciri-ciri beruang Kutub dan menjadi daftar binatang buas lain setelah harimau dan singa. Harimau sendiri merupakan spesies kucing terbesar di muka bumi ini, bukan seperti kucing yang biasa anda temui pada lingkungan rumah anda. Dari beberapa jenis yang ada, salah satunya yakni Harimau Sumatera atau (Panthera tigris sumatrae) yang merupakan satu dari enam sub-spesies harimau yang masih bertahan hidup hingga saat ini.

Ciri-Ciri Harimau Sumatera akan disampaikan pada kesempatan ini, yang mana tentunya berbeda dari beberapa jenis yang lain. Secara umum, memang bahwa harimau Sumatera mempunyai tubuh yang relatif paling kecil dibandingkan semua sub-spesies harimau yang hidup saat ini. Serta selain itu, warna kulit harimau Sumatera merupakan yang paling gelap dari seluruh spesies yang ada, mulai dari kuning kemerah-merahan hingga oranye tua.

Satwa yang satu ini termasuk dalam status Kritis (Critically Endangered) alias terancam punah. Berdasarkan pencatatan data sejak tahun 2004, jumlah populasi harimau Sumatera di alam bebas hanya sekitar 400 individu saja. Harimau Sumatera menghadapi dua jenis ancaman untuk bertahan hidup yang meliputi bahwa mereka kehilangan habitat karena tingginya laju deforestasi dan terancam oleh perdagangan ilegal dimana bagian-bagian tubuhnya diperjualbelikan dengan harga tinggi di pasar gelap, yakni untuk dijadikan perhiasan, tas kulit, ikat pinggang dan masih banyak lagi.

Demikianlah yang menjadi penyebab kelangkaan harimau sumatera, makin kesini yang semakin menipis dan terancam. Sebagai jenis kucing besar, meski terbilang buas tetap saja harimau harus dilindungi dan di lestarikan.

Karena harimau mempunyai peran penting dalam rantai makanan, yang bisa mempengaruhi kehidupan mendatang jika harimau benar-benar punah. Jangan disamakan dengan kucing kampung yang biasa anda temui, yakni mamalia jinak yang banyak dipelihara.

Mungkin anda menyukainya?

dimana harimau sumatera hidup

Bisa disimak cara bermain dengan kucing dirumah jika anda memeliharanya. Harimau merupakan binatang buas yang tak pandang apapun jenisnya dan dimana ia berasal. Namun untuk harimau Sumatera ini mungkin tak dimana harimau sumatera hidup mengerikan dengan hewan terganas di hutan amazon, Disana banyak binatang buas yang lebih ekstrim lagi.

Sebelum menyimak apa saja Ciri-Ciri Harimau Sumatera, dapat anda ketahui ulang penyebab binatang ini terancam kritis (langka / punah) yakni sebagai berikut: • Hilangnya Habitat Asli Makin kesini makin berkurang tempat atau habitat asli harimau Sumatera, jadi tidak heran ketika ada beberapa kasus mengenai harimau dimana harimau sumatera hidup turun ke kampung.

Ia sulit mencari tempat tinggal dan tenang disana untuk makan dan berkembang biak. Hal ini karena hutan yang mungkin di alihkan menjadi perkebunan atau yang lainnya.

• Pemburuan Penyebab dari terancamnya keberadaan harimau Sumatera selanjutnya adalah adanya pemburuan liar. Para pemburu yang sengaja membidik harimau dan diambil beberapa bagiannya untuk kemudian dijual. Berikut ini adalah Ciri-Ciri Harimau Sumatera yang bisa anda simak: 1. Relatif Kecil Seperti yang sudah disampaikan diatas bahwa harimau Sumatera mempunyai bentuk tubuh relatif kecil dibandingkan jenis yang lain atau dengan kata lain jika dibandingkan dengan semua sub-spesies harimau yang hidup saat ini.

Untuk si jantan dewasa bisa memiliki tinggi hingga 60 cm dan panjang dari kepala hingga kaki mencapai 250 cm serta berat hingga 140 kg. Sedangkan untuk harimau betina memiliki panjang rata-rata 198 cm dan berat hingga 91 kg. 2. Terdapat di Sumatera Sudah pasti bahwa harimau ini hanya dapat ditemukan di Sumatera, seperti namanya.

Akan tetapi beberapa spesies mungkin berada di daerah luar Sumatera dikarenakan diperlukan untuk penangkaran atau pameran di Kebun Binatang wilayah tertentu, mulai dari lokal hingga Luar Negeri sekalipun. Misal seperti Bekantan, dimana hewan ini cuman ada di Kalimantan, namun dengan memahami cara Bekantan bertahan hidup, maka bisa pula hewan ini di rawat di luar daerahnya secara baik untuk mengembang biakkannya agar tidak langka.

3. Kulit Lebih Pekat Warna kulit harimau Sumatera ini adalah corak yang paling gelap dari seluruh harimau, mulai dari kuning kemerah-merahan hingga oranye tua. Pola warna hitam pada tubuhnya berukuran lebar dan jaraknya rapat kadang kala dempet. 4. Mudah Jelajahi Hutan Rimba Karena harimau Sumatera ini mempunyai ukuran tubuh relatif kecil, menjadikannya lebih mudah untuk jelajahi hutan rimba.

Sama seperti beberapa jenis-jenis rusa asli Indonesia, akan tetapi hewan rusa ini menjadi salah satu santapan hewan buas termasuk Singa ataupun Harimau sehingga kehidupannya sendiri juga sangat terancam ketika berada di Hutan lebat. 5. Strip Belang Lebih Tipis Belang corak pada harimau ini lebih tipis daripada spesies harimau yang lainnya.

Dengan demikian, Anda bisa mengenalinya dengan jelas tanpa perlu memperhatikannya secara mendetail dari dekat. 6. Miliki Banyak Janggut Ciri-Ciri Harimau Sumatera yang lainnya yakni mempunyai banyak janggut serta surai apabila dibandingkan dengan spesies harimau lainnya, terutama harimau jantan. 7. Bulu Berubah Ketika Masa Melahirkan Bulunya akan berubah warna menjadi hijau gelap ketika harimau betina melahirkan.

Sedangkan kejadian ini tidak akan terjadi pada Harimau Sumatera berkelamin Jantan. 8. Mempunyai Selaput di Sela-Sela Terdapat selaput di sela-sela jari sang harimau Sumatera yang menjadikannya mampu berenang dengan cepat.

Diketahui bahwa harimau ini akan menyudutkan mangsanya ke air, terutama bila binatang buruan tersebut lambat berenang. Itulah kedelapan dari ciri-ciri fisik harimau sumatera yang dapat Anda ketahui.

Oh ya, berkaitan dengan hewan buas Anda juga dapat menyimak jenis jenis ular berbisa dan paling mematikan di Dunia. Semoga bermanfaat!

Lakukan cara ini ketika bertemu harimau sumatera di perkebunan kelapa sawit




2022 www.videocon.com