Jumlah tentara islam dalam perang badar adalah

jumlah tentara islam dalam perang badar adalah

tirto.id - Salah satu kejadian penting pada bulan Ramadan di masa awal perkembangan Islam ialah perang Badar. Saat bertempur dengan kaum kafir Quraisy di perang itu, pasukan Islam sedang berpuasa. Kondisi lapar dan haus tidak menahan para sahabat untuk berperang menegakkan panji Islam di awal masa kenabian Rasulullah SAW tersebut. Perang Badar terjadi pada tanggal 13 Maret 624 M, atau hari ke-17 Ramadan tahun 2 hijriah. Jadi, perang Badar berlangsung tepat pada tanggal 17 Ramadhan.

Dikutip dari NU Online, perang badar juga terjadi pada tahun pertama umat Islam diwajibkan puasa pada bulan Ramadhan. Perang Badar jumlah tentara islam dalam perang badar adalah merupakan penyergapan pada kafilah pimpinan Abu Sufyan yang pulang dari ekspedisi dagang dari Suriah. Penyergapan tersebut penting karena menjadi simbol politis dari pengaruh Islam di tanah Arab. Dalam bukunya, Muhammad: Prophet for Our Time (2006), Karen Amstrong menulis bahwa Abu Sufyan kemudian mendengar kabar, kaum muslimin bermaksud menyerang kafilahnya.

Karena itu, Abu Sufyan mengambil rute berbeda, bertolak menjauhi jalur pantai Laut Merah dan mengirim utusan untuk berangkat duluan ke Makkah demi meminta bantuan. Mendengar bahwa umat Islam akan menyerang kafilah Abu Sufyan, kaum Quraisy Makkah menjadi berang. Rencana penyergapan oleh pasukan muslim Madinah itu dinilai menodai kehormatan kaum Quraisy. Maka itu, kabilah-kabilah di Makkah segera memasok bala tentara dengan jumlah total 1000 orang guna menghadapi pasukan Islam yang jumlahnya jauh lebih sedikit.

Di antara pasukan Quraisy itu, bahkan terdapat kerabat Rasulullah SAW dari kabilah bani Hasyim, seperti paman nabi, Abbas bin Abdul Muthallib, Hakim (sepupu Khadijah), dan sebagainya. Pertempuran besar dalam perang Badar sebenarnya di luar perkiraan umat Islam. Sejak awal, Nabi Muhammad SAW merencanakan pengerahan pasukan muslim buat penyergapan biasa, bukan demi perang besar. Karena itulah, pasukan Islam saat itu tidak banyak, hanya 313 orang. Tariq Ramadan dalam buku Footsteps of the Prophet: Lessons from the Life of Muhammad (2014) menuliskan ketika kedua pasukan berkemah di Jumlah tentara islam dalam perang badar adalah, tampak sekali perbedaan kekuatan antara tentara Quraisy dan pasukan muslim.

Ketika melihat besarnya tentara Makkah berserta banyaknya persenjataan, zirah, tombak, pedang, dan alat-alat tempur yang lengkap, Nabi Muhammad SAW sempat menangis dan lalu bermunajat, dengan membaca doa: “Ya Allah, jikalau rombongan yang bersamaku ini ditakdirkan untuk binasa, takkan ada seorang pun setelah aku yang akan menyembah-Mu; semua orang beriman akan meninggalkan agama nan sejati.” Setelah itu, Nabi Muhammad SAW merancang strategi perlawanan.

Beliau menjejerkan tentaranya dalam formasi rapat, sekaligus memerintahkan agar sumur-sumur segera dikuasai guna memutus pasokan air ke pasukan Quraisy. Strategi lainnya adalah mengawali perang dengan pertempuran jarak jauh. Ketika pasukan Quraisy bertolak untuk menyerang, pasukan Islam tidak segera menyambutnya dengan duel fisik langsung, melainkan lebih dahulu menembakkan anak-anak panah jumlah tentara islam dalam perang badar adalah kejauhan.

Setelah itu, baru mereka menghunus pedang dan bertempur satu lawan satu. Dengan strategi yang rapi dan penuh perhitungan, setelah tengah hari, 50 pemimpin suku Quraisy tewas, termasuk Abu Jahal. Sementara sisanya banyak yang kabur. Di sisi lain, korban dari kubu pasukan muslim hanya 14 orang.

Di akhir perang Badar, selain berhasil memukul mundur 1000 tentara dari Quraisy, pasukan muslim pun mengambil rampasan 600 pesenjataan lengkap, 700 unta, 300 kuda, serta peniagaan kafilah Abu Sufyan. Pertempuran Badar diriwayatkan tidak berlangsung lama. Diperkirakan hanya butuh waktu sekitar dua jam bagi pasukan muslim untuk memporak-porandakan pertahanan bala tentara Quraisy, dan memanfaatkan kekacauan tersebut untuk memenangkan perang.

Sekembalinya dari Badar, dalam perjalanan pulang, Nabi Muhammad SAW mengucapkan hadis yang sangat penting, yaitu: "Kita baru kembali dari Jihad Kecil (peperangan Badar) dan menuju Jihad Besar." Para sahabat keheranan. Perang Badar yang sangat menentukan nasib umat Islam hanya dianggap oleh Rasulullah SAW sebagai Jihad Kecil. Menanggapi hal itu, sahabat pun bertanya: “Apakah jihad yang lebih besar itu, Wahai Rasulullah?” Jawab beliau, “Jihad melawan hawa nafsu.” Menundukkan hawa nafsu adalah hakikat dari jihad yang sebenarnya.

Oleh karena itu, salah satu hikmah perang Badar di bulan Ramadan adalah ketegaran berjihad melawan hawa nafsu sendiri. Kendati demikian, sebenarnya saat terjadi perang Badar, ada rukhsah atau keringanan bagi umat Islam untuk tidak berpuasa.

Hal ini disampaikan oleh Abu Sa'id Al-Khudri dalam hadis berikut: "Kami berperang bersama Rasulullah SAW . di antara kami ada yang berpuasa, ada pula yang berbuka. Orang yang berpuasa tidak mencela orang yang berbuka, dan orang yang berbuka tidak mencela orang yang berpuasa,” (H.R.

Ibnu Mulaqqin). • Acèh • العربية • Asturianu • Авар • Azərbaycanca • تۆرکجه • Башҡортса • Беларуская • Български • বাংলা • Bosanski • Català • Нохчийн • کوردی • Čeština • Deutsch • English • Esperanto • Español • Euskara • فارسی • Suomi • Français • Hausa • עברית • हिन्दी • Magyar • Italiano • 日本語 • Jawa • ქართული • Қазақша • 한국어 • Lietuvių • Македонски • മലയാളം • Bahasa Melayu • مازِرونی • Nederlands • Norsk bokmål • ߒߞߏ • Occitan • Polski • پنجابی • پښتو • Português • Română • Русский • Scots • سنڌي • Srpskohrvatski / српскохрватски • Simple English • Shqip • Српски / srpski • Svenska • தமிழ் • Тоҷикӣ • ไทย • Türkçe • Татарча/tatarça • Українська • اردو • Oʻzbekcha/ўзбекча • Tiếng Việt • 吴语 • 中文 • 粵語 Pertempuran Badar Bagian dari Perang Muslim- Quraisy Ilustrasi Pertempuran Badar pada Siyer-i Nebi, karya abad ke-16 masa Kesultanan Utsmaniyah yang sekarang tersimpan di Museum Topkapi, Turki.

Tanggal 13 Maret 624 M/17 Ramadan 2 H Lokasi Kota Badar, 80 mil baratdaya Madinah Hasil Kemenangan Muslim Pihak terlibat Muslim dari Madinah Quraisy dari Mekkah Tokoh dan pemimpin Muhammad Hamzah bin Abdul-Muththalib Abu Bakar ash-Shiddiq Umar bin Khattab Ali bin Abi Thalib Amr bin Hisyam † Utbah bin Rabi'ah † Umayyah bin Khalaf † Syaibah bin Rabi'ah † Al-Walid bin Jumlah tentara islam dalam perang badar adalah bin Rabi'ah † Uqbah bin Abi Mu'aith Kekuatan 300-350 <900-1000 Korban 14 tewas 50-70 tewas 43-70 tertawan Ghazwah (turun langsung dalam pertempuran) • Waddan • Buwath • Safwan • Asyirah • Badar • Sawiq • Qaynuqa • Bahran • Al-Kidr • Hamra' al-Asad • Uhud • Dzi Amr • Dzatu al-Riqa` • Dumatul Jandal • Khandaq • Bani Quraizhah • Bani Mustaliq • Bani Lahyan • Al-Gabah • Fathu Makkah • Khaybar • Hunayn • Tha'if • Tabuk • Eid • Zakat • Thi Amr • Ghatfan • Bahran • Al-Asad • Badru Ukhra • Bani Nadhir • Thi Qerd • Hudaybiyyah • Awtas • Hawazan Sariyyah (Pertempuran atas perintahnya) • Penyergapan • Qirdah • Mu'tah • Dzatu as-Salasil • Yarmuk • Pengepungan Nakhla • Penyergapan Najd • Penyergapan Al-Is • Bani Sulaim • Invasi al-Khabt • Ekspedisi Batn Edam • Ekspedisi Qatan Pertempuran Badar ( bahasa Arab: غزوة بدر, translit.

gazwah badr‎), adalah pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan musuh-musuhnya. Perang ini terjadi pada 17 Ramadan 2 H (13 Maret 624). Pasukan kecil kaum Muslim yang berjumlah 313 orang bertempur menghadapi pasukan Quraisy [1] dari Mekkah yang berjumlah 1.000 orang. Setelah bertempur habis-habisan sekitar dua jam, pasukan Muslim menghancurkan barisan pertahanan pasukan Quraisy, yang kemudian mundur dalam kekacauan.

Sebelum pertempuran ini, kaum Muslim dan penduduk Mekkah telah terlibat dalam beberapa kali konflik bersenjata skala kecil antara akhir 623 sampai dengan awal 624, dan konflik bersenjata tersebut semakin lama semakin sering terjadi. Meskipun demikian, Pertempuran Badar adalah pertempuran skala besar pertama yang terjadi antara kedua kekuatan jumlah tentara islam dalam perang badar adalah.

Muhammad saat itu sedang memimpin pasukan kecil dalam usahanya melakukan pencegatan terhadap kafilah Quraisy yang baru saja pulang dari Syam, ketika ia dikejutkan oleh keberadaan pasukan Quraisy yang jauh lebih besar.

Pasukan Muhammad yang sangat berdisiplin bergerak maju terhadap posisi pertahanan lawan yang kuat, dan berhasil menghancurkan barisan pertahanan Mekkah sekaligus menewaskan beberapa pemimpin penting Quraisy, antara lain ialah Abu Jahal alias Amr bin Hisyam. Bagi kaum Muslim awal, pertempuran ini sangatlah berarti karena merupakan bukti pertama bahwa mereka sesungguhnya berpeluang untuk mengalahkan musuh mereka di Mekkah. Mekkah saat itu merupakan salah satu kota terkaya dan terkuat di Arabia zaman jahiliyah.

Kemenangan kaum Muslim juga memperlihatkan kepada suku-suku Arab lainnya bahwa suatu kekuatan baru telah bangkit di Arabia, serta memperkokoh otoritas Muhammad sebagai pemimpin atas berbagai golongan masyarakat Madinah yang sebelumnya sering bertikai. Berbagai suku Arab mulai memeluk agama Islam dan membangun persekutuan dengan kaum Muslim di Madinah; dengan demikian, ekspansi agama Islam pun dimulai.

Kekalahan Quraisy dalam Pertempuran Badar menyebabkan mereka bersumpah untuk membalas dendam, dan hal ini terjadi sekitar setahun kemudian dalam Pertempuran Uhud. Daftar isi • 1 Latar belakang • 1.1 Muhammad • 1.2 Ghazawāt • 2 Pertempuran • 2.1 Pergerakan menuju Badar • 2.2 Rencana pasukan Muslim • 2.3 Rencana pasukan Mekkah • 2.4 Hari pertempuran • 3 Setelah pertempuran • 3.1 Korban dan tawanan • 3.2 Dampak selanjutnya • 4 Sumber sejarah • 4.1 Badar dalam al-Qur'an • 4.2 Catatan tradisi Islam • 5 Referensi modern • 5.1 Militer • 6 Lihat pula • 7 Referensi • 7.1 Catatan kaki • 7.2 Daftar pustaka • 8 Bacaan lanjutan • 8.1 Buku dan artikel • 8.2 Referensi online • 9 Pranala luar Latar belakang [ sunting - sunting sumber ] Bagian dari seri tentang Islam • l • b • s Muhammad [ sunting - sunting sumber ] Pada awal peperangan, Jazirah Arab dihuni oleh suku-suku yang berbicara dalam bahasa Arab.

Beberapa diantaranya adalah suku Badui; bangsa nomad penggembala yang terdiri dari berbagai macam suku; beberapa adalah suku petani yang tinggal di oasis daerah utara atau daerah yang lebih subur di bagian selatan (sekarang Yaman dan Oman).

Mayoritas bangsa Arab menganut kepercayaan politeisme. Beberapa suku juga memeluk agama Yahudi, Kristen (termasuk paham Nestorian), dan Zoroastrianisme. Nabi Muhammad lahir di Mekkah sekitar tahun 570 dari keluarga Bani Hasyim dari suku Quraisy.

Ketika berumur 40 tahun, ia mengalami pengalaman spiritual yaitu menerima wahyu ketika sedang menyendiri di suatu gua, yakni Gua Hira di luar kota Mekkah. Ia mulai berdakwah kepada keluarganya dan setelah itu baru berdakwah kepada umum. Dakwahnya ada yang diterima dengan baik tapi lebih banyak yang menentangnya. Pada periode ini, Muhammad dilindungi oleh pamannya Abu Thalib.

Ketika pamannya meninggal dunia sekitar tahun 619, kepemimpinan Mekkah diteruskan kepada salah seorang musuh Muhammad, yaitu Amr bin Hisyam, [2] yang menghilangkan perlindungan kepada Muhammad serta meningkatkan penganiayaan terhadap komunitas Muslim. Pada tahun 622, dengan semakin meningkatnya kekerasan terbuka yang dilakukan kaum Quraisy kepada kaum Muslim di Mekkah, Muhammad dan banyak pengikutnya hijrah ke Madinah.

Hal ini menandai dimulainya kedudukan Muhammad sebagai pemimpin suatu kelompok dan agama. Ghazawāt [ sunting - sunting sumber ] Setelah kejadian hijrah, ketegangan antara kelompok masyarakat di Mekkah dan Madinah semakin memuncak dan pertikaian terjadi pada tahun 623 ketika kaum Muslim memulai beberapa serangan (sering disebut ghazawāt dalam bahasa Arab) pada rombongan dagang kaum Quraisy Mekkah.

Madinah terletak di antara rute utama perdagangan Mekkah. Meskipun kebanyakan kaum Muslim berasal dari kaum Quraisy juga, mereka yakin akan haknya untuk mengambil harta para pedagang Quraisy Mekkah tersebut; karena sebelumnya telah menjarah harta dan rumah kaum muslimin yang ditinggalkan di Mekkah (karena hijrah) dan telah mengeluarkan mereka dari suku dan kaumnya sendiri, sebuah penghinaan dalam kebudayaan Arab yang sangat menjunjung tinggi kehormatan.

[3] Kaum Quraisy Mekkah jelas-jelas mempunyai pandangan lain terhadap hal tersebut, karena mereka melihat kaum Muslim sebagai penjahat dan juga ancaman terhadap lingkungan dan kewibawaan mereka. [4] Pada akhir tahun 623 dan awal tahun 624, aksi ghazawāt semakin sering dan terjadi di mana-mana. Pada bulan September 623, Muhammad memimpin sendiri 200 orang kaum Muslim melakukan serangan yang gagal terhadap rombongan besar kafilah Mekkah.

Tak lama setelah itu, kaum Quraisy Mekkah melakukan "serangan balasan" ke Madinah, meskipun tujuan sebenarnya hanyalah untuk mencuri ternak kaum Muslim.

[5] Pada bulan Januari 624, kaum Muslim menyerang kafilah dagang Mekkah di dekat daerah Nakhlah, hanya 40 kilometer di luar kota Mekkah, membunuh seorang penjaga dan akhirnya benar-benar membangkitkan dendam di kalangan kaum Quraisy Mekkah. [6] Terlebih lagi dari sudut pandang kaum Quraisy Mekkah, penyerangan itu terjadi pada bulan Rajab; bulan yang dianggap suci oleh penduduk Mekkah.

Menurut tradisi mereka, dalam bulan ini peperangan dilarang dan gencatan senjata seharusnya dijalankan. [4] Berdasarkan latar-belakang inilah akhirnya Pertempuran Badar terjadi. Pertempuran [ sunting - sunting sumber ] Pergerakan pasukan menuju Badar. Di musim semi tahun 624, Muhammad mendapatkan informasi dari mata-matanya bahwa salah satu kafilah dagang yang paling banyak membawa harta pada tahun itu, dipimpin oleh Abu Sufyan dan dijaga oleh tiga puluh sampai empat puluh pengawal, sedang dalam perjalanan dari Suriah menuju Mekkah.

Mengingat besarnya kafilah tersebut, atau karena beberapa kegagalan dalam penghadangan kafilah sebelumnya, Muhammad mengumpulkan pasukan sejumlah lebih dari 300 orang, yang sampai saat itu merupakan jumlah terbesar pasukan Muslim yang pernah diterjunkan ke medan perang. [7] Jumlah lengkap dari pasukan Nabi Muhammad yang dikumpulkan adalah 313 orang laki-laki.

Namun, hanya 305 orang saja yang akhirnya mengikuti pertempuran. 8 orang lainnya tertinggal karena berbagai sebab yang berbeda. [8] Dari kaum Muhajirin terdapat tiga orang yang tidak bertempur, sedangkan dari kaum Anshar ada lima orang. Dari kaum Muhajirin ada Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah dan Sa'id bin Zaid.

Utsman bin Affan tidak dapat berangkat ke pertempuran karena menemani istrinya yaitu Ruqayyah binti Muhammad yang dalam keadaan sekarat hingga akhirnya ia wafat. Sedangkan Thalhah bin Ubaidillah jumlah tentara islam dalam perang badar adalah Sa'id bin Zaid diutus oleh Nabi Muhammad untuk menyelidiki informasi tentang kafilah dagang suku Quraisy. [8] Dari kaum Anshar terdapat 5 orang yang tidak mengikuti pertempuran, yaitu Abu Lubabah bin Abdul Mundzir, Ashim bin Adi Al-Ajlani, Al-Harits bin Hathib Al-Amri, Al-Harits bin Ash-Shamah, dan Khawwat bin Jubair.

Abu Lubabah bin Abdul-Mundzir dipilih oleh Nabi Muhammad untuk mewakili dirinya sebagai pemimpin di Madinah. Ashim bin Adi Al-Ajlani dipilih oleh Nabi Muhammad untuk mewakili dirinya sebagai pemimpin di Aliyah.

Al-Harits bin Hathib Al-Amri dipulangkan ke Bani Amr bin Auf di Rauha'. Alasannya adalah tersebar kabar buruk tentang Bani Amr bin Auf.

Sedangkan Al-Harits bin Ash-Shamah, dan Khawwat bin Jubair mengalami patah tulang. [8] Pergerakan menuju Badar [ sunting - sunting sumber ] Muhammad memimpin pasukannya sendiri dan membawa banyak panglima utamanya, termasuk pamannya Hamzah dan para calon Khalifah pada masa depan, yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Ali bin Abi Thalib.

Kaum Muslim juga membawa 70 unta dan 3 kuda, yang berarti bahwa mereka harus berjalan, atau tiga sampai empat orang duduk di atas satu unta [9] Namun, banyak sumber-sumber kalangan Muslim pada awal masa itu, termasuk dalam Al-Qur'an sendiri, tidak mengindikasikan akan terjadinya suatu peperangan yang serius, [10] dan calon khalifah ketiga Utsman bin Affan juga tidak ikut karena istrinya sakit.

[11] Ketika kafilah dagang Quraisy Mekkah mendekati Madinah, Abu Sufyan mulai mendengar mengenai rencana Muhammad untuk menyerangnya. Ia mengirim utusan yang bernama Damdam ke Mekkah untuk memperingatkan kaumnya dan mendapatkan bala bantuan.

jumlah tentara islam dalam perang badar adalah

Segera saja kaum Quraisy Mekkah mempersiapkan pasukan sejumlah 900-1.000 orang untuk melindungi kelompok dagang tersebut. Banyak bangsawan kaum Quraisy Mekkah yang turut bergabung, termasuk di antaranya Amr bin Hisyam, Walid bin Utbah, Syaibah bin Rabi'ah, dan Umayyah bin Khalaf.

Alasan keikut-sertaan mereka masing-masing berbeda. Beberapa ikut karena mempunyai bagian dari barang-barang dagangan pada kafilah dagang tersebut, yang lain ikut untuk membalas dendam atas Ibnu al-Hadrami, penjaga yang tewas di Nakhlah, dan sebagian kecil ikut karena berharap untuk mendapatkan kemenangan yang mudah atas kaum Muslim. [12] Amr bin Hisyam juga disebutkan menyindir setidak-tidaknya seorang bangsawan, yaitu Umayyah bin Khalaf, agar ikut serta dalam penyerangan ini.

[13] Di saat itu pasukan Muhammad sudah mendekati tempat penyergapan yang telah direncanakannya, yaitu di sumur Badar, suatu lokasi yang biasanya menjadi tempat persinggahan bagi semua kafilah yang sedang dalam rute perdagangan dari Suriah. Akan tetapi, beberapa orang petugas pengintai kaum Muslim berhasil diketahui keberadaannya oleh para pengintai kafilah dagang Quraisy tersebut [14] dan Abu Sufyan kemudian langsung membelokkan arah kafilah menuju Yanbu.

[15] Rencana pasukan Muslim [ sunting - sunting sumber ] Lukisan Iran (1314), menggambarkan pertemuan para pemimpin Muslim sebelum memulai Pertempuran Badar. "Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untukmu, [16] dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir".

Al-Anfal: 7 Pada saat itu telah sampai kabar kepada pasukan Muslim mengenai keberangkatan pasukan dari Mekkah. Muhammad segera menggelar rapat dewan peperangan, disebabkan karena masih adanya kesempatan untuk mundur dan di antara para pejuang Muslim banyak yang baru saja masuk Islam (disebut kaum Anshar atau "Penolong", untuk membedakannya dengan kaum Muslim Quraisy), yang sebelumnya hanya berjanji untuk membela Madinah. Berdasarkan pasal-pasal dalam Piagam Madinah, mereka berhak untuk menolak berperang serta dapat meninggalkan pasukan.

Meskipun demikian berdasarkan tradisi Islam ( sirah), dinyatakan bahwa mereka pun berjanji untuk berperang. Sa'ad bin Ubadah, salah seorang kaum Anshar, bahkan berkata "Seandainya engkau (Muhammad) membawa kami ke laut itu, kemudian engkau benar-benar mengarunginya, niscaya kami pun akan mengikutimu." [17] Akan tetapi, kaum Muslim masih berharap dapat terhindar dari suatu pertempuran terbuka, dan terus melanjutkan pergerakannya menuju Badar. Pada tanggal 11 Maret, kedua pasukan telah berada kira-kira satu hari perjalanan dari Badar.

Beberapa pejuang Muslim (menurut beberapa sumber, termasuk Ali bin Abi Thalib) yang telah berkuda di depan barisan utama, berhasil menangkap dua orang pembawa persedian air dari pasukan Mekkah di sumur Badar. Pasukan Muslim sangat terkejut ketika mendengar para tawanan berkata bahwa mereka bukan berasal dari kafilah dagang, melainkan berasal dari pasukan utama Quraisy. Karena menduga bahwa mereka berbohong, para penyelidik memukuli kedua tawanan tersebut sampai mereka berkata bahwa mereka berasal dari kafilah dagang.

Akan tetapi berdasarkan catatan tradisi, Muhammad kemudian menghentikan tindakan tersebut. [17] Beberapa catatan tradisi juga menyatakan bahwa ketika mendengar nama-nama para bangsawan Quraisy yang menyertai pasukan tersebut, ia berkata "Itulah Mekkah.

Ia telah melemparkan kepada kalian potongan-potongan hatinya." [18] Hari berikutnya Muhammad memerintahkan melanjutkan pergerakan pasukan ke wadi Badar dan tiba di sana sebelum pasukan Mekkah.

Sumur Badar terletak di lereng yang landai di bagian timur suatu lembah yang bernama "Yalyal". Bagian barat lembah dipagari oleh sebuah bukit besar bernama "'Aqanqal". Ketika pasukan Muslim tiba dari arah timur, Muhammad pertama-tama memilih menempatkan pasukannya pada sumur pertama yang dicapainya.

Tetapi, ia kemudian tampaknya berhasil diyakinkan oleh salah seorang pejuangnya, untuk memindahkan pasukan ke arah barat dan menduduki sumur yang terdekat dengan posisi pasukan Quraisy. Muhammad kemudian memerintahkan agar sumur-sumur yang lain ditimbuni, sehingga pasukan Mekkah terpaksa harus berperang melawan pasukan Muslim untuk dapat memperoleh satu-satunya sumber air yang tersisa.

Rencana pasukan Mekkah [ sunting - sunting sumber ] Tayangan dari film The Message: Pasukan Muslim mendekati pasukan Quraisy Mekkah di dekat daerah 'Aqanqal. "Semua suku Arab akan mendengar bagaimana kita akan maju ke depan dengan segala kemegahan kita, dan mereka akan mengagumi kita untuk selama-lamanya." - Amr bin Hisyam Di sisi lain, meskipun tidak banyak yang diketahui mengenai perjalanan pasukan Quraisy sejak saat mereka meninggalkan Mekkah sampai dengan kedatangannya di perbatasan Badar, beberapa hal penting dapat dicatat: adalah tradisi pada banyak suku Arab untuk membawa istri dan anak-anak mereka untuk memotivasi dan merawat mereka selama pertempuran, tetapi tidak dilakukan pasukan Mekkah pada perang ini.

Selain itu, kaum Quraisy juga hanya sedikit atau sama sekali tidak menghubungi suku-suku Badui sekutu mereka yang banyak tersebar di seluruh Hijaz. [19] Kedua fakta itu memperlihatkan bahwa kaum Quraisy kekurangan waktu untuk mempersiapkan penyerangan tersebut, karena tergesa-gesa untuk melindungi kafilah dagang mereka.

Ketika pasukan Quraisy sampai di Juhfah, sedikit di arah selatan Badar, mereka menerima pesan dari Abu Sufyan bahwa kafilah dagang telah aman berada di belakang pasukan tersebut, sehingga mereka dapat kembali ke Mekkah. [20] Pada titik ini, menurut penelitian Karen Armstrong, muncul pertentangan kekuasaan di kalangan pasukan Mekkah.

Amr bin Hisyam ingin melanjutkan perjalanan, tetapi beberapa suku termasuk Bani Zuhrah dan Bani 'Adi, segera kembali ke Mekkah. Armstrong memperkirakan suku-suku itu khawatir terhadap kekuasaan yang akan diraih oleh Amr bin Hisyam, dari penghancuran kaum Muslim. Sekelompok perwakilan Bani Hasyim yang juga enggan berperang melawan saudara sesukunya, turut pergi bersama kedua suku tersebut.

[21] Di luar beberapa kemunduran itu, Amr bin Hisyam tetap teguh dengan keinginannya untuk bertempur, dan bersesumbar "Kita tidak akan kembali sampai kita berada di Badar". Pada masa inilah Abu Sufyan dan beberapa orang dari kafilah dagang turut bergabung dengan pasukan utama.

[22] Hari pertempuran [ sunting - sunting sumber ] Di saat fajar tanggal 13 Maret, pasukan Quraisy membongkar kemahnya dan bergerak menuju lembah Badar. Telah turun hujan pada hari sebelumnya, sehingga mereka harus berjuang ketika membawa kuda-kuda dan unta-unta mereka mendaki bukit 'Aqanqal (beberapa sumber menyatakan bahwa matahari telah tinggi ketika mereka berhasil mencapai puncak bukit).

[23] Setelah menuruni bukit 'Aqanqal, pasukan Mekkah mendirikan kemah baru di dalam lembah. Saat beristirahat, mereka mengirimkan seorang pengintai, yaitu Umair bin Wahab, untuk mengetahui letak barisan-barisan Muslim. Umair melaporkan bahwa pasukan Muhammad berjumlah kecil, dan tidak ada pasukan pendukung Muslim lainnya yang akan bergabung dalam peperangan. [24] Akan tetapi ia juga memperkirakan akan ada banyak korban dari kaum Quraisy bila terjadi penyerangan (salah satu hadits menyampaikan bahwa ia melihat "unta-unta (Madinah) yang penuh dengan hawa kematian").

[25] Hal tersebut semakin menurunkan moral kaum Quraisy, karena adanya kebiasaan peperangan suku-suku Arab yang umumnya sedikit memakan korban, dan menimbulkan perdebatan baru di antara para pemimpin Quraisy. Meskipun demikian, menurut catatan tradisi Islam, Amr bin Hisyam membungkam semua ketidak-puasan dengan membangkitkan rasa harga diri kaum Quraisy dan menuntut mereka agar menuntaskan hutang darah mereka.

[26] Pertempuran diawali dengan majunya pemimpin-pemimpin kedua pasukan untuk berperang tanding. Tiga orang Anshar maju dari barisan Muslim, akan tetapi diteriaki agar mundur oleh pasukan Mekkah, yang tidak ingin menciptakan dendam yang tidak perlu dan menyatakan bahwa mereka hanya ingin bertarung melawan Muslim Quraisy.

Karena itu, kaum Muslim kemudian mengirimkan Ali, Ubaidah bin al-Harits, dan Hamzah. Para pemimpin Muslim berhasil menewaskan pemimpin-pemimpin Mekkah dalam pertarungan tiga lawan tiga, meskipun Ubaidah mendapat luka parah yang menyebabkan ia wafat. [27] Selanjutnya kedua pasukan mulai melepaskan anak panah ke arah lawannya. Dua orang Muslim dan beberapa orang Quraisy yang tidak jelas jumlahnya tewas. Sebelum pertempuran berlangsung, Muhammad telah memberikan perintah kepada kaum Muslim agar menyerang dengan senjata-senjata jarak jauh mereka, dan bertarung melawan kaum Quraisy dengan senjata-senjata jarak pendek hanya setelah mereka mendekat.

[28] Segera setelah itu ia memberikan perintah untuk maju menyerbu, sambil melemparkan segenggam kerikil ke arah pasukan Mekkah; suatu tindakan yang mungkin merupakan suatu kebiasaan masyarakat Arab, dan berseru "Kebingungan melanda mereka!" [29] [30] Pasukan Muslim berseru "Ya manshur, amit!!" [31] dan mendesak barisan-barisan pasukan Quraisy.

Besarnya kekuatan serbuan kaum Muslim dapat dilihat pada beberapa ayat-ayat al-Qur'an, yang menyebutkan bahwa ribuan malaikat turun dari Surga pada Pertempuran Badar jumlah tentara islam dalam perang badar adalah membinasakan kaum Quraisy. [30] [32] Haruslah dicatat bahwa sumber-sumber Muslim awal memahami kejadian ini secara harafiah, dan terdapat beberapa hadits mengenai Muhammad yang membahas mengenai Malaikat Jibril dan peranannya di dalam pertempuran tersebut.

Apapun penyebabnya, pasukan Mekkah yang kalah kekuatan dan tidak bersemangat dalam berperang segera saja tercerai-berai dan melarikan diri. Pertempuran itu sendiri berlangsung hanya beberapa jam dan selesai sedikit lewat tengah hari. [33] Setelah pertempuran [ sunting - sunting sumber ] Korban dan tawanan [ sunting - sunting sumber ] Lukisan Iran (1314), menggambarkan pasukan Muslim sedang melakukan pengejaran setelah pertempuran Imam Bukhari memberikan keterangan bahwa dari pihak Mekkah tujuh puluh orang tewas dan tujuh puluh orang tertawan.

[34] Hal ini berarti 15%-16% pasukan Quraisy telah menjadi korban. Kecuali bila ternyata jumlah pasukan Mekkah yang terlibat di Badr jauh lebih sedikit, maka persentase pasukan yang tewas akan lebih tinggi lagi. Korban pasukan Muslim umumnya dinyatakan sebanyak empat belas orang tewas, yaitu sekitar 4% dari jumlah mereka yang terlibat peperangan. [30] Enam orang berasal dari kaum Muhajirin dan 8 orang dari kaum Anshar. [35] Nama korban meninggal dari kaum Muhajirin yaitu Ubaidah bin Al-Harits, Umair bin Abi Waqqas, Dzusy Syimalain bin Abdu Amr, Aqil bin Al-Bukair, Mihja', dan Shafwan bin Baidha'.

Sedangjan korban meninggal dari kaum Anshar berasal dari Bani Aus dan Bani Khazraj. Korban meninggal dari Bani Aus ada dua orang, yaitu Sa'ad bin Khaitsamah dan Mubasysyir. Sedangkan dari Bani Khazraj ada enam orang, yaitu Yazid bin Al-Harits, Umair bin Al-Husam, Rafi' bin Al-Mu'alla, Haritsah bin Suraqah, Auf bin Afra' dan Mu'awwadz bin Afra'. [36] Sumber-sumber tidak menceritakan mengenai jumlah korban luka-luka dari kedua belah pihak, dan besarnya selisih jumlah korban keseluruhan antara kedua belah pihak menimbulkan dugaan bahwa pertempuran berlangsung dengan sangat singkat dan sebagian besar pasukan Mekkah terbunuh ketika sedang bergerak mundur.

Selama terjadinya pertempuran, pasukan Muslim berhasil menawan beberapa orang Quraisy Mekkah. Perbedaan pendapat segera terjadi di antara pasukan Muslim mengenai nasib bagi para tawanan tersebut. [37] [38] Kekhawatiran awal ialah pasukan Mekkah akan menyerbu kembali dan kaum Muslim tidak memiliki orang-orang untuk menjaga para tawanan.

Sa'ad dan Umar berpendapat agar tawanan dibunuh, sedangkan Abu Bakar mengusulkan pengampunan. Muhammad akhirnya menyetujui usulan Abu Bakar, dan sebagian besar tawanan dibiarkan hidup, sebagian karena alasan hubungan kekerabatan (salah seorang adalah menantu Muhammad), keinginan untuk menerima tebusan, atau dengan harapan bahwa suatu saat mereka akan masuk Islam (dan memang kemudian sebagian melakukannya). [39] Setidak-tidaknya dua orang penting Mekkah, Amr bin Hisyam dan Umayyah, tewas pada saat atau setelah Pertempuran Badar.

Demikian pula dua orang Quraisy lainnya yang pernah menumpahkan keranjang kotoran kambing kepada Muhammad saat ia masih berdakwah di Mekkah, dibunuh dalam perjalanan kembali ke Madinah. [40] Bilal, bekas budak Umayyah, begitu berkeinginan membunuhnya sehingga bersama sekumpulan orang yang membantunya bahkan sampai melukai seorang Muslim yang ketika itu sedang mengawal Umayyah.

[41] Beberapa saat sebelum meninggalkan Badar, Muhammad memberikan perintah agar mengubur sekitar dua puluh orang Quraisy yang tewas ke dalam sumur Badar.

[42] Beberapa hadits menyatakan kejadian ini, yang tampaknya menjadi penyebabkan kemarahan besar pada kaum Quraisy Mekkah. Segera setelah itu, beberapa orang Muslim yang baru saja ditangkap sekutu-sekutu Mekkah dibawa ke kota itu dan dibunuh sebagai pembalasan atas kekalahan yang terjadi. [43] Berdasarkan tradisi Mekkah mengenai hutang darah, siapa saja yang memiliki hubungan darah dengan mereka yang tewas di Badar, haruslah merasa terpanggil untuk melakukan pembalasan terhadap orang-orang dari suku-suku yang telah membunuh kerabat mereka tersebut.

Pihak Muslim juga mempunyai keinginan yang besar untuk melakukan pembalasan, karena telah mengalami penyiksaan dan penganiayaan oleh kaum Quraisy Mekkah selama bertahun-tahun.

Akan tetapi selain pembunuhan awal yang telah terjadi, para tawanan lainnya yang masih hidup kemudian ditempatkan pada beberapa keluarga Muslim di Madinah dan jumlah tentara islam dalam perang badar adalah perlakuan yang baik; yaitu sebagai kerabat atau sebagai sumber potensial untuk mendapatkan uang tebusan.

Dampak selanjutnya [ sunting - sunting sumber ] Pertempuran Badar sangatlah berpengaruh atas munculnya dua orang tokoh yang akan menentukan arah masa depan Jazirah Arabia pada abad selanjutnya. Tokoh pertama adalah Muhammad, yang dalam semalam statusnya berubah dari seorang buangan dari Mekkah, menjadi salah seorang pemimpin utama.

Menurut Karen Armstrong, "selama bertahun-tahun Muhammad telah menjadi sasaran pencemoohan dan penghinaan; tetapi setelah keberhasilan yang hebat dan tak terduga itu, semua orang di Arabia mau tak mau harus menanggapinya secara serius." [33] Marshall Hodgson menambahkan bahwa peristiwa di Badar memaksa suku-suku Arab lainnya untuk "menganggap umat Muslim sebagai salah satu penantang dan pewaris potensial terhadap kewibawaan dan peranan politik yang dimiliki oleh kaum Quraisy." Kemenangan di Badar juga membuat Muhammad dapat memperkuat posisinya sendiri di Madinah.

Segera setelah itu, ia mengeluarkan Bani Qainuqa' dari Madinah, yaitu salah satu suku Yahudi yang sering mengancam kedudukan politiknya. Pada saat yang sama, Abdullah bin Ubay, seorang Muslim pemimpin Bani Khazraj dan penentang Muhammad, menemukan bahwa posisi politiknya di Madinah benar-benar melemah. Selanjutnya, ia hanya mampu memberikan penentangan dengan pengaruh terbatas kepada Muhammad. [44] Tokoh lain yang mendapat keberuntungan besar atas terjadinya Pertempuran Badar jumlah tentara islam dalam perang badar adalah Abu Sufyan.

Kematian Amr bin Hisyam, serta banyak bangsawan Quraisy lainnya [45] telah memberikan Abu Sufyan peluang, yang hampir seperti direncanakan, untuk menjadi pemimpin bagi kaum Quraisy. Sebagai akibatnya, saat pasukan Muhammad bergerak memasuki Mekkah enam tahun kemudian, Abu Sufyan jumlah tentara islam dalam perang badar adalah tokoh yang membantu merundingkan penyerahannya secara damai.

Abu Sufyan pada akhirnya menjadi pejabat berpangkat tinggi dalam Kekhalifahan Islam, dan anaknya Muawiyah kemudian melanjutkannya dengan mendirikan Kekhalifahan Umayyah. Keikutsertaan dalam pertempuran di Badar pada masa-masa kemudian menjadi amat dihargai, sehingga Ibnu Ishaq memasukkan secara lengkap nama-nama pasukan Muslim tersebut dalam biografi Muhammad yang dibuatnya. Pada banyak hadits, orang-orang yang bertempur di Badar dinyatakan dengan jelas sebagai sebentuk penghormatan, bahkan kemungkinan mereka juga menerima semacam santunan pada tahun-tahun belakangan.

[46] Meninggalnya veteran Pertempuran Badar yang terakhir, diperkirakan terjadi saat perang saudara Islam pertama. [47] Menurut Karen Armstrong, salah satu dampak Badar yang paling berkelanjutan kemungkinan adalah kegiatan berpuasa selama Ramadan, yang menurutnya pada awalnya dikerjakan umat Muslim untuk mengenang kemenangan pada Pertempuran Badar.

[48] Meskipun demikian pandangan ini diragukan, karena menurut catatan tradisi Islam, pasukan Muslim saat itu sedang berpuasa ketika mereka bergerak maju ke medan pertempuran. Sumber sejarah [ sunting - sunting sumber ] Badar dalam al-Qur'an [ sunting - sunting sumber ] Pertempuran Badar adalah salah satu dari sedikit pertempuran yang secara eksplisit dibicarakan dalam al-Qur'an.

Nama pertempuran ini bahkan disebutkan pada Surah Ali 'Imran: 123, sebagai bagian dari perbandingan terhadap Pertempuran Uhud. [49] Sungguh Allah telah menolong kamu dalam Peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertawakallah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. (Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang Mukmin, "Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?" Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.

Ali 'Imran: 123-125 Menurut Yusuf Ali, istilah "syukur" dapat merujuk kepada disiplin. Di Badar, barisan-barisan Muslim diperkirakan telah menjaga disiplin secara ketat; sementara di Uhud mereka keluar barisan untuk memburu orang-orang Mekkah, sehingga membuat pasukan berkuda Mekkah dapat menyerang dari samping dan menghancurkan pasukan Muslim. Gagasan bahwa Badar merupakan "pembeda" ( furqan), yaitu menjadi kejadian mukjizat dalam Islam, disebutkan lagi dalam surah yang sama ayat 13.

[50] "Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang Muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati." Ali 'Imran:13 Badar juga merupakan pokok pembahasan Surah kedelapan Al-Anfal, yang membahas mengenai berbagai tingkah laku dan kegiatan militer.

[51] "Al-Anfal" berarti "rampasan perang" dan merujuk pada pembahasan pasca pertempuran dalam pasukan Muslim mengenai bagaimana membagi barang rampasan dari pasukan Quraisy. Meskipun surah tersebut tidak menyebut Badar, isinya menggambarkan pertempuran tersebut, serta beberapa ayat yang umumnya dianggap diturunkan pada saat atau segera setelah pertempuran tersebut terjadi.

[51] Catatan tradisi Islam [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Historiografi Islam awal Sesungguhnya seluruh pengetahuan mengenai Pertempuran Badar berasal dari catatan-catatan tradisi Islam, baik berupa hadits maupun biografi Muhammad, yang dituliskan beberapa puluh tahun setelah kejadiannya.

Ada beberapa alasan mengapa hal ini terjadi. Pertama, banyak suku-suku Arab yang hidup di jazirah Arabia buta huruf dan tradisi oral merupakan cara mereka untuk menyampaikan informasi.

Pada saat Balatentara Islam dapat menaklukkan suku-suku Arab yang lebih berpendidikan di Suriah dan Irak, dapat dikatakan seluruh kaum Quraisy telah masuk Islam, sehingga menghilangkan peluang adanya catatan-catatan non-Muslim mengenai pertempuran tersebut.

Kedua, dengan tersusunnya berbagai kompilasi hadits, maka naskah-naskah catatan aslinya menjadi tidak dibutuhkan lagi, dan menurut Hugh Kennedy kemudian dimusnahkan dengan "kecepatan yang menyedihkan". [52] Terakhir, umumnya umat Muslim yang taat beranggapan bahwa para Muslim yang tewas di Badar adalah para syahid yang mulia, sehingga besar kemungkinan menjadi kendala bagi usaha yang sungguh-sungguh untuk melakukan penggalian arkeologis di Badar.

Referensi modern [ sunting - sunting sumber ] Militer [ sunting - sunting sumber ] Mengingat posisi pertempuran ini dalam sejarah Islam dan makna tersiratnya berupa kemenangan atas suatu penghalang yang sangat besar, maka pemakaian nama "Badar" menjadi populer di kalangan tentara atau kelompok paramiliter Islam. " Operasi Badar" adalah nama yang digunakan oleh Mesir untuk perannya dalam Perang Yom Kippur pada tahun 1973, [53] dan Pakistan menggunakannya dalam Perang Kargil pada tahun 1999.

[54] Di Irak, sayap militer dari Dewan Tertinggi Revolusi Islam di Irak (SCIRI) menamakan diri sebagai Organisasi Badar. [55] Lihat pula [ sunting - sunting sumber ] • Pertempuran Uhud • Jihad • Muhammad • Arab Saudi • Islam Referensi [ sunting - sunting sumber ] Catatan kaki [ sunting - sunting sumber ] • ^ Quraisy adalah suku bangsa Arab yang menguasai kota Mekkah.

Istilah "Quraisy" dan "penduduk Mekkah" secara umum dapat digunakan saling menggantikan, yaitu pada masa antara peristiwa Hijrah pada tahun 622 dan Pembebasan Mekkah oleh kaum Muslim pada tahun 630. • ^ Kebencian banyak muslim terhadap Hisyam dapat dilihat dari julukan yang diberikan, " Abu Jahal" (Bapak Kejahilan), yaitu nama yang lebih umum dikenal oleh kaum Muslim saat ini.

• ^ Al-Qur'an Surah 22: 39-40. 'Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, "Tuhan kami hanyalah Allah".

Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi, dan mesjid-mesjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah.

Sesungguhnya Allah pasti menolong jumlah tentara islam dalam perang badar adalah yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa'. Al-Quran & Terjemahnya. Revisi Terjemah oleh Lajnah Pentashih Mushaf Al Qur'an Departemen Agama RI. Bandung: CV Penerbit Diponegoro, Cet. ke-10. 2005. • ^ a b Hodgson, hal. 174-175. • ^ http://www.quraan.com/index.aspx?tabindex=4&tabid=11&bid=7&cid=24 Diarsipkan 2007-09-27 di Wayback Machine. • ^ Meskipun kaum Muslim di sisi lain menyatakan bahwa semuanya bermula ketika mereka pertama kali dikeluarkan dari kota Mekkah.

• ^ Sahih al-Bukhari: Volume 5, Book 59, Number 293 Diarsipkan 2006-02-12 di Wayback Machine. Sumber-sumber yang ada berbeda mengenai jumlah pasukan yang tepat. • ^ a b c Khaththab 2019, hlm. 201. • ^ Lings, hal. 138-139 • ^ "Sahih al-Bukhari: Volume 5, Book 59, Number 287". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2006-02-12. Diakses tanggal 2007-07-19. • ^ "Sahih al-Bukhari: Volume 4, Book 53, Number 359". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2006-07-22. Diakses tanggal 2007-07-19.

• ^ Martin Lings, hal. 139-140. • ^ "Sahih al-Bukhari: Volume 5, Book 59, Number 286". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2006-02-12.

Diakses tanggal 2007-07-19. • ^ Ibnu Ishaq mengatakan bahwa Abu Sufyan sendiri yang melihat-lihat keadaan dan menemukan tanda-tanda bahwa para pengintai Muslim telah tiba terlebih dahulu, yaitu kurma ransum mereka yang terjatuh dari kantung-kantung di punggung unta-unta mereka • ^ Martin Lings, hal.

140 • ^ Maksudnya kafilah Abu Sufyan yang membawa barang dagangan dari Syiria ( peny.: Suriah). Sedangkan kelompok yang berkekuatan senjata adalah kelompok yang datang dari Mekah dibawah pimpinan Utbah bin Rabi'ah bersama Abu Jahl. Al-Quran & Terjemahnya. Revisi Terjemah oleh Jumlah tentara islam dalam perang badar adalah Pentashih Mushaf Al Qur'an Departemen Agama RI. Bandung: CV Penerbit Diponegoro, Cet. ke-10. 2005. • ^ a b "Sahih Muslim: Book 19, Number 4394". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2008-05-09.

Diakses tanggal 2007-07-19. • ^ Martin Lings, hal. 142 • ^ Lings, hal. 154. • ^ Lings, hal. 142. • ^ Armstrong, hal. 174 • ^ Lings, hal. 142-143. • ^ Armstrong, hal. 175. • ^ Lings, hal. 143-144. • ^ Armstrong, hal. 174-175. • ^ Lings, hal. 144-146. • ^ "Sunan Abu Dawud: Book 14, Number 2659".

Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-02-10 .

jumlah tentara islam dalam perang badar adalah

Diakses tanggal 2007-07-19. • ^ "Sunan Abu Dawud: Book 14, Number 2658". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-02-10. Diakses tanggal 2007-07-19. • ^ "Defaced be those faces!", Armstrong, hal. 176. • ^ a b c Lings, hal. 148. • ^ "Untuk kemenangan, matilah!" (arti harfiah "Oh yang menang, matilah!") jumlah tentara islam dalam perang badar adalah ^ Al-Qur'an Surah 3: 123-125. "Sungguh Allah telah menolong kamu dalam Peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah.

Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya". "(Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang Mukmin, 'Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?'".

"Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda". Al-Quran & Terjemahnya. Revisi Terjemah oleh Lajnah Pentashih Mushaf Al Qur'an Departemen Agama RI. Bandung: CV Penerbit Diponegoro, Cet. ke-10. 2005. • ^ a b Armstrong, hal. 176.

• ^ Sahih al-Bukhari: Volume 4, Book 52, Number 276 • ^ Khaththab 2019, hlm. 167. • ^ Khaththab 2019, hlm. 185. • ^ al-Qur'an: Surah 8: 67-69.

"Tidak patut bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil.

Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Al-Quran & Terjemahnya. Revisi Terjemah oleh Lajnah Pentashih Mushaf Al Qur'an Departemen Agama RI. Bandung: CV Penerbit Diponegoro, Cet.

ke-10. 2005. • ^ Kejadian serupa terdapat pada Bible, misalnya pada Alkitab Versi Raja James 1 Samuel: 15, ketika Tuhan menghukum Saul karena membiarkan hidup para tawanan yang diperintahkan Tuhan untuk dibunuh.

• ^ Lings, hal. 149-151 • ^ Lings, hal. 149-152 • ^ Sahih Al-Bukhari: Volume 3, Book 38, Number 498 Diarsipkan 2008-11-28 di Wayback Machine. • ^ Al Muslim: Book 040, Number 6870 Diarsipkan 2006-11-06 di Wayback Machine.

• ^ "Sahih al-Bukhari: Volume 5, Book 59, Number 325". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2006-02-12.

Diakses tanggal 2007-07-19. • ^ Hodgson, hal. 176-178. • ^ Termasuk Abu Lahab yang sudah tua, yang tidak ikut ke Badar tetapi meninggal di Mekkah dalam beberapa hari setelah pasukan kembali. • ^ "Sahih al-Bukhari: Volume 5, Book 59, Number 357". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2006-02-12. Diakses tanggal 2007-07-19. jumlah tentara islam dalam perang badar adalah ^ Sahih Al-Bukhari: Volume 5, Book 59, Number 358 Diarsipkan 2006-02-12 di Wayback Machine. • ^ Armstrong, hal.

179. • ^ Sayyid Quthb. Tafsir Fi Zhilalil Qur`an Jilid 2 (edisi ke-Super Lux). Gema Insani.

jumlah tentara islam dalam perang badar adalah

hlm. 155-158. ISBN 9795616110, 9789795616115. • ^ Sayyid Quthb. Tafsir Fi Zhilalil Qur`an Jilid 2 (edisi ke-Super Lux). Gema Insani. hlm. 30. ISBN 9795616110, 9789795616115. • ^ a b Sayyid Quthb. Tafsir Fi Zhilalil Qur`an Jilid 5 (edisi ke-Super Lux). Gema Insani. hlm. 97. ISBN 9795616145, 9789795616146. • ^ Kennedy, Hugh (1985). The Prophet and the Age of the Caliphate. Longman.

ISBN 0-582-40525-4.hal. 355. • ^ Jesse Russel, Ronald Cohn (2013). Operation Badr. Tbilisi State University. ISBN 5510649860, 9785510649864. Pemeliharaan CS1: Menggunakan parameter penulis ( link) • ^ V. P. Malik (2012). Kargil. HarperCollins Publishers. hlm. 13. ISBN 9350293137, 9789350293133. • ^ James Dobbins (2009). Occupying Iraq: A History of the Coalition Provisional Authority (edisi ke-illustrated).

Rand Corporation. hlm. 317. ISBN 0833046659, 9780833046659. Daftar pustaka [ sunting - sunting sumber ] • Khaththab, Mahmud Syait (2019). Rasulullah Sang Panglima: Meneladani Strategi dan Kepemimpinan Nabi dalam Berperang. Sukoharjo: Pustaka Arafah. ISBN 978-602-6337-06-1. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) Bacaan lanjutan [ sunting - sunting sumber ] Buku dan artikel [ sunting - sunting sumber ] • Ali, Abdullah Yusuf (1987).

The Holy Qur'an: Text, Translation & Commentary. Tahrike Tarsile Qur'an; Reissue edition. ISBN 0-940368-32-3. • Armstrong, Karen (1992). Muhammad: Biography of the Prophet. HarperCollins. ISBN 0-06-250886-5. • Crone, Patricia (1987). Meccan Trade and the Rise of Islam. Blackwell. • Hodgson, Marshall (1974). The Venture of Islam: The Classical Age of Islam.

University of Chicago Press. ISBN 0-226-34683-8. • Lings, Martin (1983). Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources. Inner Traditions International.

jumlah tentara islam dalam perang badar adalah

ISBN 0-89281-170-6. • Nicolle, David (1993). Armies of the Muslim Conquest. Osprey Publishing. ISBN 1-85532-279-X. • Watt, W. Montgomery (1956). Muhammad at Medina. Oxford University Press. Referensi online [ sunting - sunting sumber ] • "Translation of Malik's Muwatta". USC-MSA Compendium of Muslim Texts. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2008-11-28.

Diakses tanggal January. Parameter -accessyear= yang tidak diketahui mengabaikan ( -access-date= yang disarankan) ( bantuan); Periksa nilai tanggal di: -accessdate= ( bantuan) • "Translation of Sahih Muslim". USC-MSA Compendium of Muslim Texts.

Diarsipkan dari versi asli tanggal 2008-12-01. Diakses tanggal January. Parameter -accessyear= yang tidak jumlah tentara islam dalam perang badar adalah mengabaikan ( -access-date= yang disarankan) ( bantuan); Periksa nilai tanggal di: -accessdate= ( bantuan) • "Translation of Sahih al-Bukhari".

USC-MSA Compendium of Muslim Texts. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2009-01-08. Diakses tanggal January. Parameter -accessyear= yang tidak diketahui mengabaikan ( -access-date= yang disarankan) ( bantuan); Periksa nilai tanggal di: -accessdate= ( bantuan) • jumlah tentara islam dalam perang badar adalah Translation of Sunan Abu-Dawud". USC-MSA Compendium of Muslim Texts. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2008-09-15. Diakses tanggal January.

Parameter -accessyear= yang tidak diketahui mengabaikan ( -access-date= yang disarankan) ( bantuan); Periksa nilai tanggal di: -accessdate= ( bantuan) Pranala luar [ sunting - sunting sumber ] • (Inggris) Manaqib Ashab al-Badriyyin Diarsipkan 2010-01-07 di Wayback Machine. • (Inggris) Badr • (Inggris) The Battle of Badr • (Inggris) The first battle of Islam at Badr • (Inggris) Hope Springs Eternal Diarsipkan 2008-02-01 di Wayback Machine.

• (Inggris) MSN Virtual Earth: A modern-day satellite image of Badr, now called "Badr Hunayn" • (Inggris) Tafsir (Sura 8: verse 11 to 18) - Battle of Badr Khadijah binti Khuwailid • Saudah binti Zum'ah • Aisyah binti Abu Bakar • Hafshah binti Umar • Zainab binti Khuzaimah • Hindun binti Abi Umayyah • Zainab binti Jahsy • Juwairiyah binti al-Harits • Ramlah binti Abu Sufyan • Shafiyah binti Huyay • Maimunah binti al-Harits • Maria binti Syama’un Keturunan Waddan • Buwath • Safwan • Asyirah • Badar • Sawiq • Qaynuqa • Bahran • Al-Kidr • Hamra' al-Asad • Uhud • Dzi Amr • Dzatu al-Riqa` • Dumatul Jandal • Khandaq • Bani Quraizhah • Bani Mustaliq • Bani Lahyan • Pembebasan Mekkah ( Fathu Makkah) • Khaybar • Hunayn • Tha'if • Tabuk • Thi Amr • Bahran • Al-Asad • Bani Nadhir • Thi Qerd • Hudaybiyyah • Awtas • Penyergapan kafilah • Mu'tah • Yarmuk • Pengepungan Nakhla • Penyergapan Najd • Penyergapan Al-Is • Invasi al-Khabt • Ekspedisi Batn Edam • Ekspedisi Qatan Lokasi Kategori tersembunyi: • Templat webarchive tautan wayback • Pemeliharaan CS1: Menggunakan parameter penulis • Halaman yang menggunakan pranala magis ISBN • Artikel mengandung aksara Arab • Halaman dengan rujukan yang menggunakan parameter yang tidak didukung • Galat CS1: tanggal • Koordinat di Wikidata • Halaman ini terakhir diubah pada 17 April 2022, pukul 23.54.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
tirto.id - Perang Badar berlangsung pada 17 Ramadan tahun 2 Hijriyah atau bertepatan dengan 17 Maret 624 Masehi.

Perang ini tercatat dalam sejarah Islam awal sebagai kemenangan besar pertama kaum Muslim dan melambungkan reputasi kota Madinah di kalangan suku-suku Badui di sekitarnya.

Nabi Muhammad berhasil menunjukkan bahwa ia sanggup menantang monopoli kekuasaan Mekkah. Badar, yang terletak antara Madinah dan Laut Merah, adalah tempat di mana sebuah wadi besar menghampar. Beberapa sumur digali di tepiannya, dan waduk-waduk dikeruk untuk menahan sisa banjir kilat musim dingin.

Oleh karena itu, tempat ini menjadi wilayah persediaan air utama, terutama ketika kafilah-kafilah Mekkah berhenti di sana pada perjalanan pulang dari Damaskus. Bahkan membayangkan penyergapan pada kafilah ini saja merupakan rencana yang terbilang berani. Menurut Lesley Hazleton dalam The First Muslim: The Story of Muhammad (2013), sampai saat itu, Muhammad tidak pernah mengirimkan kelompok penyergap lebih dari dua puluh atau tiga puluh orang, dan satu-satunya yang sukses, di Nakhla, berakhir dengan sangat kontroversial.

Kebanyakan orang Madinah, terutama mereka yang memiliki ikatan keluarga dan bisnis dengan kota pedagang di selatan, tidak punya keinginan untuk memperburuk situasi lebih lanjut.

Nakhla sudah cukup buruk. Melanjutkan peristiwa itu dengan tantangan sebesar ini akan berisiko memprovokasi Mekkah menuju perang terbuka (hlm. 211). Namun, itulah risiko yang tampaknya diambil oleh Muhammad. Serangan kecil seperti yang terjadi di Nakhla membuatnya sekadar menjadi duri bagi Mekkah; serangan besar di Badar membuktikan dirinya bukan sebagai orang pengasingan yang tidak puas, tetapi sebagai musuh yang harus diperhitungkan.

Selain itu, serangan ini meningkatkan dukungan kepadanya di Madinah. Para pemuda Madinah bersemangat oleh kemungkinan menantang kota besar itu, terutama ketika potensi keuntungannya jumlah tentara islam dalam perang badar adalah besar. Kemenangan yang Sangat Berarti Karen Armstrong dalam Muhammad: Prophet for Our Time (2006), menelatah bahwa Muhammad memimpin sebuah kontingen besar kaum Mukmin untuk memotong jalan kafilah Mekkah pimpinan Abu Sufyan pulang dari Suriah.

Ini merupakan salah satu kafilah terpenting pada tahun itu (624 M) dan, disemangati oleh kesuksesan Nakhlah, serombongan besar kaum Ansar menyediakan diri untuk bergabung dalam penyerangan itu. Sekitar 314 kaum Mukmin berangkat dari Madinah dan bergerak menuju Badar, dekat pantai Laut Merah, tempat mereka berharap dapat menyergap kafilah tadi (hlm.

147). Pada awalnya, kafilah itu tampak seperti akan lolos, seperti biasanya. Abu Sufyan mendapat kabar ihwal rencana kaum Mukmin dan alih-alih mengambil rutenya yang biasa melintasi Hijaz, dia berkelok tajam menjauh dari pantai dan mengirim seorang dari suku setempat untuk pergi ke Mekkah mencari bantuan. Suku Quraisy menggelegak marah atas keberanian Muhammad, yang mereka anggap sebagai penodaan atas kehormatan mereka, dan seluruh pemimpin Mekkah bertekad untuk menyelamatkan kafilah itu.

Abu Jahal, tentu saja, amat bersemangat untuk ikut terjun. Ummayah ibn Khalaf yang bongsor pun mengambil baju perangnya, dan bahkan anggota keluarga Muhammad sendiri berangkat untuk melawannya, lantaran yakin bahwa kali ini Muhammad telah bertindak terlalu jauh. Abu Lahab sedang sakit, tetapi dua putra Abu Thalib, pamannya (‘Abbas), dan sepupu Khadijah (Hakim) bergabung dengan ribuan lelaki yang berangkat keluar dari Mekkah malam itu dan berbaris menuju Badar (hlm.

148). Sementara itu, Abu Sufyan telah berhasil mengecoh kaum Mukmin dan membawa kafilahnya menjauh dari jangkauan mereka. Dia mengirim kabar bahwa barang dagangan mereka aman dan pasukan tentara harus kembali pulang. Sumber-sumber sejarah meneroka bahwa tatkala tiba di titik ini, banyak di antara kaum Quraisy yang enggan untuk memerangi sesama kerabat mereka sendiri.

Namun, Abu Jahal tidak mau peduli. “Demi Tuhan!” teriaknya. “Kita tidak akan kembali hingga kita telah tiba di Badar. Kita akan melewatkan tiga hari di sana, membantai unta-unta, dan berpesta juga meminum anggur; dan anak-anak perempuan akan tampil untuk kita.

Orang-orang Arab akan mendengar bahwa kita telah datang dan akan menghormati kita di masa depan” (hlm. 149). Akan tetapi, kata-kata yang lantang ini menunjukkan bahwa bahkan Abu Jahal sendiri tidak mengharapkan sebuah pertempuran. Dia tidak punya bayangan tentang kengerian perang, yang tampaknya dia bayangkan adalah semacam pesta, lengkap dengan perempuan-perempuan yang menari. Suku Quraisy telah begitu lama tercerabut dari padang stepa sehingga peperangan telah menjadi semacam olahraga yang akan melambungkan prestise Mekkah.

Spirit yang sangat berbeda terdapat di perkemahan kaum Mukmin. Setelah trauma dan teror hijrah, kaum Muhajirin tidak bisa mempertimbangkan situasi itu dengan terlalu percaya diri dan gegabah. Segera setelah Muhammad mendengar bahwa tentara Mekkah sedang mendekat, dia berkonsultasi kepada para kepala suku yang lain.

Jumlah tentara Mukmin jauh lebih sedikit. Yang mereka harapkan adalah sebuah peperangan biasa, bukan pertempuran berskala penuh. Muhammad al-Ghazali dalam Sejarah Perjalanan hidup Muhammad (2003), mendedahkan bahwa Suku Quraisy mulai bergerak maju dengan perlahan melintasi gurun pasir.

Pada saat pasukan Mekkah tiba di Badar, Muhammad dan pasukannya sudah lebih dulu tiba di sana, menduduki medan yang lebih tinggi. Malam itu turun hujan terus-menerus. Hujan yang jarang terjadi, terutama pada pertengahan Maret. Orang Mekkah mencangkung di tempat perlindungan, tetapi Muhammad menggunakan hujan sebagai pelindung. Dia diam-diam memerintahkan anak buahnya untuk memblokir sumur dan waduk yang terdekat dengan orang Mekkah, sehingga saat fajar mereka akan terpaksa bergerak ke dataran yang lebih tinggi di wadi, di mana orang-orang beriman telah menguasai posisi yang lebih menguntungkan.

Dengan mengendalikan akses terhadap persediaan air, dia bisa mengendalikan seluruh medan (hlm. 287). Menurut Tariq Ramadan dalam bukunya, In the Footsteps of the Prophet: Lessons from the Life of Muhammad (2007), Perang Badar dimulai dengan perang tanding satu lawan satu oleh Hamzah, Ali, dan Ubaydah ibn Harits melawan tiga orang Mekkah. Hamzah dan Ali berhasil mengalahkan lawan mereka, sementara Ubaydah terluka parah. Pertempuran pun segera pecah. Pertempuran terlaksana di bawah langit mendung pagi berikutnya.

Barisan orang-orang beriman tetap rapat, sementara barisan pasukan Mekkah—dengan masing-masing kabilah bertempur sebagai unit-unt terpisah dan tak ada kesatuan komando—carut marut dan tercerai-berai (hlm. 186). Dalam pertempuran sengit yang menyusul, kaum Quraisy segera mendapati bahwa mereka sedang menghadapi hal ihwal yang terburuk. Mereka berperang dengan semangat kenekatan yang ceroboh, seakan-akan ini adalah sebuah turnamen kekesatriaan, dan tidak memiliki rencana yang matang.

Mereka mengawali dengan memborbardir musuh dengan panah, baru menarik pedang mereka untuk bertarung satu lawan satu pada menit-menit terakhir.

Menjelang tengah hari, suku Quraisy telah kabur. Mereka kalah. Kemenangan Nabi Muhammad merupakan sebuah titik balik: status dan supremasi orang Quraisy benar-benar jatuh dan kabar ihwal kekalahan mereka menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru Semenanjung Arab.

Apa yang terjadi di Badar hampir tidak mungkin dalam tatanan yang mereka yakini. Tatanan alami dunia mereka telah terjungkir balik. Kaum Mukmin kehilangan 14 orang, sementara orang Mekkah kehilangan lebih dari 70 orang, jumlah tentara islam dalam perang badar adalah Abu Jahl, salah seorang musuh Islam paling bengis dan paling menginginkan terjadinya pertempuran. Abbas, paman Nabi (yang sangat dipercayai oleh Muhammad di Mekkah, dan yang menyaksikan semua persiapan Hijrah), termasuk di antara orang yang ditawan (hlm.

187). Muhammad dengan segera memerintahkan pasukannya untuk menahan diri. Sebuah wahyu turun untuk memastikan bahwa para tawanan perang harus dibebaskan atau ditebus. Bahkan dalam perang, kaum Mukmin meninggalkan kebiasaan bengis masa lampau. ================ Sepanjang Ramadan, redaksi menampilkan artikel-artikel tentang peristiwa dalam sejarah Islam dan dunia yang terjadi pada bulan suci kaum Muslim ini.

Artikel-artikel tersebut ditayangkan dalam rubrik "Kronik Ramadan". Kontributor kami, Muhammad Iqbal, sejarawan dan pengajar IAIN Palangkaraya, mengampu rubrik ini selama satu bulan penuh. BAGI umat Islam, Pertempuran Badar adalah sebuah peristiwa besar di mana kaum Muslim mengalahkan tentara Quraish yang kuat. Kaum Muslimin melawan segala rintangan setelah diusir dari tempat tinggal mereka di Makkah menyusul sanksi ekonomi dan penganiayaan.

Berikut adalah enam fakta tentang Pertempuran Badar: 1. Berlangsung di bulan Ramadhan Pertempuran Badar terjadi pada tanggal 17 Ramadan, dua tahun setelah Nabi (SAW) berhijrah ke Madinah. 2. Badar terletak 70 mil dari Madinah Jaraknya sekitar 70 mil dari Madinah dan sekitar 100 mil melalui jalan darat. Dibutuhkan waktu lebih dari 1 jam dan 45 menit untuk sampai di Badr jika menggunakan mobil pada saat sekarang. Pada masa Nabi, memakan waktu lebih lama untuk sampai di sana.

BACA JUGA: Gugurnya Tiga Panglima Pasukan Muslim di Perang Mu’tah 3. Disebutkan dalam Al Qur’an Pertempuran Badar disebut dalam beberapa ayat di dalam Al Qur’an, di antaranya Surat Ali-‘Imran-132: “Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah.

Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” 4. Muslim kalah jumlah Jumlah Muslim kalah jumlah dengan rasio 1: 3. Tentara Muslim berjumlah sekitar 313 orang, dan hanya berbekal peralatan seadanya. Sedangkan orang Quraisy terdiri dari lebih 950 orang.

Sahabat terkemuka seperti Abu Bakar, Umar, Ali, Hamzah, Mus`ab bin ‘Umair, Az-Zubair bin Al-‘Awwam, Jumlah tentara islam dalam perang badar adalah bin Yasir, dan Abu Dzar al-Ghifari turut serta dalam perang ini (semoga Allah berkenan dengan mereka semua).

‘Utsman tidak ikut karena dia diinstruksikan oleh Nabi (saw) untuk merawat Ruqayyah, istrinya yang sakit yang juga merupakan jumlah tentara islam dalam perang badar adalah Nabi. ‘Umar menceritakan: “Utsman tidak bergabung dalam pertempuran Badar karena dia menikahi salah satu anak perempuan utusan Allah dan istrinya sakit. Jadi, Nabi berkata kepadanya. ‘Kau akan mendapatkan pahala dan bagian (dari rampasan perang) yang serupa dengan pahala dan bagian dari seseorang yang telah ambil bagian dalam pertempuran Badar.” Sahih al-Bukhari.

BACA JUGA: Ternyata Bukan Hanya Manusia yang Membantu Nabi Isa Berperang di Akhir Zaman Kelak 5. Malaikat membantu orang-orang Muslim dalam pertempuran Badar 5000 malaikat membantu kaum Muslim untuk mencapai kemenangan atas orang Quraisy yang lengkap dalam hal persenjataan, unta dan kuda perang. Allah berfirman di dalam Al Qur’an, Surat Ali Imran : 125: “Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.” 6.

Syahid Empat belas sahabat syahid dalam pertempuran tersebut. Nama mereka tercantum di lokasi pertempuran: 1) ‘Umayr bin Abi Waqas. 2) Safwan bin Wahb. 3) Dhu-Shimalayn bin ‘Abdi. 4) Mihja ‘bin Salih. 5) ‘Aqil bin al-Bukayr. 6) ‘Ubaydah bin al-Harith. 7) Sa’ad bin Khaythama. 8) Mubashir bin ‘Abd al-Mundhir. 9) Harithah bin Suraqah. 10) Rafi ‘bin Mu’ala. 11) ‘Umayr bin Humam. 12) Yazid bin al-Harith. 13) Mu’awidh bin al-Harith. 14) ‘Awf bin al-Harith. 70 orang dari tentara orang Quraisy tewas termasuk Abu Jahal, salah satu komandan mereka.

Yang lainnya dibawa sebagai tawanan perang oleh kaum muslimin yang kemudian ditebus. Loading. Tahanan perang diperlakukan dengan bermartabat dan hormat. Sebuah insiden yang menunjukkan hal ini disebutkan di dalam Sahih Al-Bukhari: Jâbir menceritakan: “Setelah Pertempuran Badar, tawanan perang dibawa. Di antara mereka adalah al-`Abbas. Dia tidak mengenakan baju, jadi Nabi (saw) mencarikan baju untuknya.

Ternyata baju ‘Abdullah bin `Ubayy seukurandengannya, jadi Nabi memberikannya kepada al-`Abbas untuk memakai dan memberi ganti ‘Abdullah dengan bajunya sendiri.” []
Perang Badar – Salah satu peristiwa besar bagi umat muslim adalah Perang Badar.

jumlah tentara islam dalam perang badar adalah

Peristiwa ini merupakan peperangan atau pertempuran pertama yang dilakukan oleh umat muslim bersama dengan Rasulullah dalam melawan orang-orang kafir. Pada peperangan tersebut, Allah menganugerahkan kemenangan bagi muslim sehingga hal ini menjadi peperangan yang luar biasa untuk diketahui sejarahnya.

Pada hari terjadinya peperangan tersebut, Allah menyebut hari tersebut dengan Yaum Al-Furqan yang artinya hari pembeda. Disebut hari pembeda karena memang pada hari itu dinampakkan dengan jelas mana yang haq dan mana yang batil.

Allah memberikan pertolongan bagi umat Islam sehingga mampu memenangkan pertempuran dengan para musuh. Terdapat beberapa fakta yang ada dalam perang badar, sobat cahaya Islam perlu untuk mengetahuinya. Berikut ini adalah 6 fakta penting mengenai perang badar yang perlu sobat cahaya Islam pahami: 1. Terjadi di Bulan Ramadan Fakta yang pertama mengenai perang badar adalah peperangan ini terjadi pada bulan Ramadan yakni tepatnya pada tanggal 17 Ramadhan setelah Rasulullah melakukan hijrah menuju Madinah.

2. Jarak Badr dengan Madinah sekitar 70 Mil Fakta yang kedua adalah jarak Madinah dengan tempat peperangan adalah sekitar 70 mil yang apabila ditempuh dengan kendaraan akan membutuhkan waktu 1 jam 45 menit. Sedangkan pada zaman tersebut belum ada kendaraan seperti sekarang sehingga membutuhkan waktu lebih lama. 3. Perang Badar Disebut dalam Al-Quran Perang badar ini banyak disebutkan dalam Al-Quran yakni seperti pada Surat Ali-’Imran ayat 123 “Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah.

Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” 4. Jumlah Umat Islam Lebih Sedikit Perlu sobat Cahaya Islam ketahui bahwa dalam perang badar jumlah umat Islam lebih sedikit dibandingkan dengan pasukan musuh. Perbandingan jumlah umat Islam dengan musuh adalah 1:3 dengan jumlah umat Islam hanya 313 sedangkan pasukan musuh sekitar 950 orang. Meskipun kalah dalam jumlah tentara islam dalam perang badar adalah, dengan izin Allah umat Islam dapat meraih kemenangan.

Hampir semua sahabat Rasulullah ikut dalam peperangan kecuali Ustman yang diinstruksikan oleh Rasul untuk menjaga Ruqayyah istri Rasulullah yang sedang sakit. 5. Malaikat Membantu Umat Muslim Dalam peperangan tersebut, umat Islam dapat menang melawan musuh karena Allah menurunkan malaikat untuk membantu umat Islam. Sekitar 5000 malaikat turut membantu kaum muslim sehingga dapat menang dalam pertempuran meskipun kalah dalam jumlah pasukan dan persenjataan.

6. Beberapa Koban Berjatuhan Akibat peristiwa perang badar tersebut 14 sahabat Rasulullah syahid. Selain itu sekitar 70 tentara Quraisy juga tewas termasuk Abu Jahl yang menjadi komandan mereka. Kekalahan kaum musuh menyebabkan banyak yang menjadi tawanan kaum muslim. Namun umat Islam memperlakukan tawanan dengan baik dan terhormat dan tidak diperlakukan semena-mena.

Betapa akhlak Rasulullah sangat luar biasa bahkan terhadap musuh sekalipun. Peristiwa perang Badar tersebut mengandung makna yang luar biasa. Betapa pertolongan Allah sangatlah dekat. Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah menghendaki sesuatu. Bahkan jika dilihat dari jumlah pasukan dan persenjataan, sangat mustahil umat Islam untuk menang dalam perang tersebut.

Kemurahan dan pertolongan Allah dengan menurunkan bantuan menajdikan umat Islam dapat memenangkan pertempuran sehingga semakin menguatkan Islam pada masa itu.
Kisah Perang Badar – Bagi kaum muslimin, Ramadan tidak hanya memiliki arti bulan suci semata. Di bulan tersebut, umat Islam diwajibkan untuk menahan diri dari rasa lapar, haus jumlah tentara islam dalam perang badar adalah menahan emosi. Bulan Ramadan merupakan saat penting di mana Al-Quran diturunkan.

Tidak hanya itu, bulan Ramadan juga menjadi pengingat bahwa pernah terjadi peperangan yang sangat dahsyat bagi umat Islam, yaitu perang badar. Perang Badar terjadi pada bulan Ramadhan tahun kedua sesudah umat Islam melakukan Hijrah. Umat Islam berhasil memenangi perang badar tersebut. Dalam sejarah, perang badar merupakan kemenangan agung karena para pejuang Islam berhasil menentang kemusyrikan dan kebatilan.

Table of Contents • Latar Belakang Terjadinya Perang Badar • Anda Mungkin Juga Menyukai • Umat Islam Menghadang Kafilah Abu Sufyan untuk Mengambil Hak yang Pernah Dirampas Kaum Quraisy • Pasukan Umat Islam Kalah dalam Jumlah, Tapi Tetap Semangat Jihad • Perang Badar Dimenangkan oleh Umat Islam • Hikmah dari Perang Badar yang Dapat Diteladani Kaum Muslim • Beberapa Pemicu Terjadinya Perang Badar Kubra • 1.

Umat Islam Mengalami Penindasan dan Teror oleh Kaum Quraisy • 2. Kebencian Abu Jahal Terhadap Nabi Muhammad SAW Memicu Ide Pembunuhan • 3.

Umat Islam Diusir dan Seluruh Hartanya Dirampas Latar Belakang Terjadinya Perang Badar Perang Badar terjadi pada 17 Maret 624 Masehi atau 17 Ramadan tahun kedua Hijriah. Perang Badar melibatkan 314 pasukan umat Islam yang melawan lebih dari 1.000 orang dari kaum Quraisy.

Perang badar merupakan perang pertama yang dijalani umat Islam sejak peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW pada 622 Masehi. Di dalam Al-Quran, perang badar dijelaskan dalam beberapa ayat di Surat Ali-Imran. QS 3:124: “(Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin ‘Apakah tidak cukup bagimu Allah membantumu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?’”.

QS 3:125: “Ya (cukup). Jika kamu bersabar dan siap siaga, lalu mereka datang menyerangmu dengan seketika, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.” QS 3:126: “Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu agar tentram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah yang Maha Perkasa. Secara historis, kata “badar” berasal dari nama sumber mata air yang terletak di antara Makkah dan Madinah.

Oleh sebab itu, perang besar di bulan suci Jumlah tentara islam dalam perang badar adalah itu dinamakan perang badar. Pada mulanya, tersiar kabar di Kota Madinah bahwa ada kafilah besar dari kaum Quraisy yang meninggalkan Syam untuk pulang ke Makkah.

Kafilah tersebut membawa barang-barang perniagaan yang nilainya sangat besar berupa 1.000 ekor unta beserta barang-barang berharga lainnya. Umat Islam Menghadang Kafilah Abu Sufyan untuk Mengambil Hak yang Pernah Dirampas Kaum Quraisy Umat Islam lantas menghadang kafilah dagang Abu Sufyan yang membawa barang dagangan Quraisy dari Syam. Alasan penghadangan tersebut adalah keinginan umat Islam untuk mengambil hak-hak mereka yang dulu pernah dirampas oleh kaum Quraisy.

Sementara, di kalangan kaum Quraisy tumbuh rasa cemburu akibat perkembangan Kota Madinah di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Namun demikian, perang badar sesunggunya terjadi karena umat Islam ingin mempertahankan eksistensi agama Islam. Selain itu, Nabi Muhammad SAW berperang melawan kaum Quraisy juga bukan untuk meraih kekuasaan, kekayaan, kesenangan pribadi atau golongan semata. Lebih dari itu, Nabi Muhammad SAW ingin menegakkan agama Islam di muka bumi. Pasukan Umat Islam Kalah dalam Jumlah, Tapi Tetap Semangat Jihad Perang Badar terjadi saat 17 Ramadhan tahun 2 Hijriah pada pagi hari.

Pasukan umat muslim dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW, sementara pasukan dari kaum Quraisy dipimpin oleh Abu Jahal. Dalam peperangan tersebut, umat Islam mengambil posisi yang terdekat dengan sumber air. Tempat tersebut dipilih oleh Nabi Muhammad SAW sebagai salah satu bentuk strategi perang.

Umat Islam memanfaatkan kondisi geografis dari Kawasan Badar. Misalnya, sahabat Saad bin Muadz membuat gundukan tanah di sekitar lokasi peperangan. Hal itu bertujuan agar Nabi Muhammad SAW bisa mengawasi jalannya jumlah tentara islam dalam perang badar adalah serta memprediksi pola serangan yang tepat guna mengalahkan pasukan kaum Quraisy.

Dalam perang badar tersebut, Nabi Muhammad SAW memimpin langsung penyerangan terhadap kaum Quraisy. Peperangan itu melibatkan 313 kaum muslim, 8 pedang, 6 baju perang, 70 ekor unta, serta 2 ekor kuda. Sementara, pasukan dari kaum Quraisy mengerahkan pasukan 1.000 orang, 600 persenjataan lengkap, 700 unta, serta 300 kuda. Meskipun kalah dalam jumlah pasukan, kaum muslim tetap bersemangat untuk berjihad di bulan Ramadhan.

Semangat perang itu berhasil menewaskan tiga pimpinan perang dari pasukan kaum Quraisy, yaitu Utbah, Syaibah, dan Walid bin Utbah. Di antara pasukan Quraisy yang menyerang umat Islam, terdapat kerabat Nabi Muhammad SAW dari kabilah Bani Hasyim. Mereka adalah paman nabi, Abbas bin Abdul Muthalib, Hakim (sepupu Khadijah), dan lain sebagainya. Sesungguhnya pertempuran besar dalam perang badar itu di luar perkiraan umat muslim.

Sebab, sejak awal Nabi Muhammad SAW telah merencanakan pengerahan pasukan muslim untuk peperangan biasa, bukan perang besar. Oleh sebab itu, pasukan umat Islam hanya berjumlah 313 orang. Saat melihat banyaknya tentara kaum kafir Quraisy berserta kelengkapan persenjataan, zirah, tombak, pedang, dan alat tempur lainnya, Nabi Muhammad SAW sempat menangis.

Dia lantas berdoa kepada Allah SWT. “Ya Allah. Jikalau rombongan yang bersamaku ini ditakdirkan untuk binasa, maka tidak akan ada seorang pun setelah aku yang akan menyembah-Mu. Semua orang yang beriman akan meninggalkan agama Islam nan sejati ini.” Setelah berdoa, Nabi Muhammad SAW merancang strategi peperangan.

Dia menjajarkan pasukan kaum muslim dalam formasi rapat. Dia juga memerintahkan agar sumur-sumur segera dikuasai untuk memutus pasokan air ke kaum kafir Quraisy. Selain itu, perang juga diawali dengan pertempuran jarak jauh.

Saat pasukan kafir Quraisy bertolak untuk menyerang, umat Islam tidak segera menyambutnya dengan adu fisik secara langsung. Mereka terlebih dahulu menembakkan anak-anak panah dari kejauhan. Kemudian, barulah mereka menghunus pedang dan melakukan pertempuran. Lewat tengah hari, sebanyak 50 pemimpin pasukan kafir Quraisy tewas, termasuk Abu Jahal.

Sementara itu, banyak sisanya yang lari tunggang-langgang. Sementara itu, korban dari kaum muslim hanya 14 orang. Selain memukul mundur 1000 tentara dari Quraisy, umat Islam juga berhasil mengambil rampasan 600 persenjataan lengkap, 700 unta, 300 kuda, serta perniagaan milik kafilah Abu Sufyan.

Dengan kecerdikan Nabi Muhammad dan kedisiplinan pasukannya, umat Islam berhasil membalikkan keadaan yang membuat kehormatan dan kemuliaan Islam makin tegak di Jazirah, seperti halnya yang dibahas pada buku Perang Badar karya Abdul Hamid Jaudah al-Sahhar. Perang Badar Dimenangkan oleh Umat Islam Pada akhirnya, perang badar dimenangkan oleh pasukan dari umat Islam. Kemenangan pada perang badar tersebut membuat posisi Islam di kawasan Madinah kian kuat.

Sementara, kaum Quraisy yang kalah di perang badar harus menelan kekecewaan mendalam. Mereka pun semakin berhasrat untuk membalas dendam dengan persiapan yang jauh lebih matang.

Bagi umat Islam, perang badar adalah peristiwa besar, apalagi terjadinya pada bulan suci Ramadan. Perang badar menjadi pertempuran besar pertama umat Islam dalam melawan musuh. Melalui pertolongan Allah lah kaum muslim berhasil menang meskipun kalah jumlah.

Bahkan, Allah SWT menamai perang badar sebagai Yaum Al-Furqan alias hari pembeda. Sebab, pada hari itu telah dibedakan mana saja yang haq dan yang batil. Saat itu Allah SWT menurunkan pertolongan besar untuk umat Islam dan memenangkan mereka atas musuh-musuhnya, yaitu kaum kafir Quraisy. Temukan perjalanan perang umat Islam dalam membela ajaran yang dianutnya pada buku Seni Perang Dalam Islam karya A.R. Shohibul Ulum. Hikmah dari Perang Badar yang Dapat Diteladani Kaum Muslim Perang badar diriwayatkan tidak memakan waktu lama.

Hanya butuh waktu sekitar dua jam bagi pasukan muslim untuk menghancurkan pertahanan tantara kafir Quraisy. Segala kekacauan yang terjadi tersebut dimanfaatkan untuk memenangkan perang. Setelah perang badar usai, Nabi Muhammad SAW mengucapkan hal yang sangat penting dalam perjalanan pulang. “Wahai kaumku.

jumlah tentara islam dalam perang badar adalah

Kita baru saja kembali dari jihad kecil (perang badar) dan menuju jihad besar.” Mendengar hal itu, para sahabat pun langsung terheran-heran. Sebab, perang badar yang sangat menentukan nasib kaum muslim hanya dianggap oleh Nabi Muhammad SAW sebagai jihad kecil. Para sahabat pun bertanya, “Apakah jihad yang lebih besar dari (perang badar) itu, Wahai Rasulullah?” “Jihad melawan hawa nafsu,” jawab Nabi Muhammad SAW. Menurut Rasulullah SAW, melawan segala hawa nafsu adalah hakikat dari jihad yang sebenarnya.

Oleh sebab itu, salah satu hikmah dari perang badar di bulan Ramadan adalah semangat berjihad melawan hawa nafsu. Meskipun demikian, saat terjadi perang badar terdapat rukhsah atau keringanan bagi kaum muslim untuk tidak melakukan puasa. Hal ini disampaikan oleh Abu Sa’id Al-Khudri, “Kami berperang bersama Rasulullah SAW. Di antara kami ada yang berpuasa, namun ada pula yang berbuka. Orang yang berpuasa tidak mencela orang yang berbuka.

Sebaliknya, orang yang berbuka tidak mencela orang yang berpuasa.” (H.R. Ibnu Mulaqqin). Beberapa Pemicu Terjadinya Perang Badar Kubra Seperti diketahui, Nabi Muhammad SAW terlahir dari keluarga Bani Hasyim dan suku Quraisy. Sejak Nabi Muhammad menerima wahyu di usia 40 tahun, perjalanan dakwahnya dilindungi oleh sang paman, pemimpin Bani Hasyim yang berasal dari jumlah tentara islam dalam perang badar adalah Quraisy, yakni Abu Thalib. Pascakematian Abu Thalib pada 619 M, kepemimpinan Bani Hasyim diteruskan kepada Amr bin Hisyam alias Abu Jahal yang sangat memusuhi Muhammad SAW.

Kemunculan Nabi Muhammad SAW serta kegiatan dakwahnya secara tidak langsung telah mengancam posisi Abu Jahal sebagai penguasa Makkah. Selain itu, kaum Quraisy lainnya juga melihat umat Islam sebagai penjahat yang mengancam lingkungan serta kewibawaan mereka.

jumlah tentara islam dalam perang badar adalah

Perjuangan umat Islam sejak perang Badar hingga perang era Khulafaur Rasyidin dapat Grameds pelajari kronologi serta berbagai nilai yang diajaran Nabi Muhammad SAW di dalamnya pada buku Kemelut Perang Di Zaman Rasulullah. 1. Umat Islam Mengalami Penindasan dan Teror oleh Kaum Quraisy Sebelum perang badar terjadi, umat Islam mengalami perlakuan buruk dari kaum kafir Quraisy. Penindasan itu tidak hanya terjadi di Kota Makkah, tekanan itu juga dirasakan hingga ke Madinah.

Teror demi terror dilakukan oleh kaum kafir Quraisy. Mereka menyerang serta menguasai harta benda kaum muslim lantaran takut hasil perdagangan akan banyak berpindah kepada kaum muslim. Tidak hanya itu, kaum kafir Quraisy yang menyatakan beriman dan memeluk agama Islam langsung dikeluarkan dari sukunya. Menurut kaum Quraisy, itu merupakan suatu hinaan serius sehingga memicu terjadinya peperangan, yaitu Badar Kubra atau lebih dikenal sebagai perang badar.

Bahkan kaum Quraisy yang memeluk agama Islam menerima akibat dikeluarkan dari sukunya, yang mana hal tersebut merupakan suatu penghinaan yang amat serius bagi seseorang pada masa itu sehingga sanggup menjadi pemicu atau penyebab perang Badar Kubra. 2. Kebencian Abu Jahal Terhadap Nabi Muhammad SAW Memicu Ide Pembunuhan Seperti diketahui, kebencian Abu Jahal terhadap Nabi Muhammad SAW dan umat Islam telah muncul sejak nabi menerima dan menyebarkan wahyu pertamanya. Bagi Abu Jumlah tentara islam dalam perang badar adalah, ajaran baru Nabi Muhammad SAW tersebut bukan hanya keluar dari budaya warisan nenek moyang, melainkan juga menyinggung eksistensi Abu Jahal sebagai tokoh masyarakat Quraisy Makkah.

Intimidasi dan penganiayaan terhadap Nabi Muhammad SAW semakin menjadi-jadi setelah Abu Thalib meninggal dunia.

Misalnya, saat Nabi Muhammad SAW tengah berjalan-jalan di Kota Makkah, terdapat seorang anak muda Quraisy yang melemparinya kotoran. Setibanya di rumah, Fatimah, anak perempuan Rasulullah SAW yang masih kecil menangis melihat perlakuan yang diterima ayahnya. Nabi Muhammad SAW pun berupaya menenangkan gadis kecil kesayangannya itu.

“Janganlah menangis, gadis kecilku, sebab Allah SWT akan melindungi ayahmu,” ucap Nabi Muhammad SAW. Dia kemudian menambahkan kalimat itu untuk dirinya sendiri,” Quraisy tidak pernah memperlakukanku seburuk ini ketika Abu Thalib masih hidup”. Pada kesempatan lain, Abu Jahal merencanakan pembunuhan terhadap Nabi Muhammad SAW.

Agar tidak menimbulkan dendam di keluarga Bani Hasyim (klan Nabi Muhammad SAW), Abu Jahal meminta setiap pemuda berpengaruh yang ada di bani Quraisy untuk terlibat. Dengan demikian, setiap bani akan bertanggung jawab memberikan uang ganti darah yang memuaskan bagi keluarga Bani Hasyim.

Di sisi lain, Bani Hasyim juga tak mungkin menuntut balas kepada mayoritas bani Quraisy. Namun demikian, persekongkolan tersebut telah diketahui Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril. Akhirnya, Nabi Muhammad SAW memutuskan hijrah meninggalkan rumahnya bersama Abu Bakar menuju Yatsrib, Madinah.

Nabi Muhammad SAW mengecoh musuh yang mengepung rumahnya dengan cara membiarkan Ali mengisi tempat tidurnya. Saat hijrah, sebagian besar penduduk Madinah menyambut kedatangan Nabi Muhammad SAW dengan tangan terbuka. Hal itu ditandai dengan kesempatan saling melindungi antar kaum muslim, Yahudi, serta suku-suku di Yatsrib melalui Piagam Madinah.

Piagam Madinah menjadi tanda awal agama Islam sebagai pemersatu. Namun demikian, hal itu bukan berarti konflik dengan Quraisy Makkah mereda. Kaum Muhajirin atau penduduk Makkah yang ikut hijrah mengalami kesulitan dalam mencari nafkah di Madinah. Banyak dari mereka yang menggantungkan hidup kepada kaum Anshar (penduduk Madinah yang sudah memeluk agama Islam). Saat itulah, Allah SWT menurunkan wahyu melalui Surat Al-Hajj: 39-40.

Dalam surat tersebut disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW diizinkan berjihad bersama pengikutnya untuk memerangi orang yang memerangi mereka. Ini ayat Alquran yang berisi perintah jihad. Setelah wahyu tentang jihad tersebut turun, Nabi Muhammad SAW bersama kaum Muhajirin menerapkan ghazwu (serangan demi bertahan hidup) yang biasa dilakukan oleh masyarakat Arab nomaden.

Ghazwu akan menyasar kafilah dagang Quraisy Makkah. Fokus mereka adalah mengambil harta benda, hewan ternak, serta hasil dagang seraya menghindari jatuhnya korban jiwa. 3. Umat Islam Diusir dan Seluruh Hartanya Dirampas Semenjak Nabi Muhammad SAW gencar berdakwah kepada kaumnya, orang-orang yang tergolong musyrik di Makkah sudah melancarkan peperangan. Mereka menghalalkan darah kaum muhajirin serta merebut paksa kekayaan umat muslim tersebut. Kekerasan terhadap umat muslim semakin meningkat manakala perlindungan dari Abu Thalib hilang.

Lantaran terus-menerus menerima teror dari kaum Quraisy, umat Islam pada akhirnya hijrah ke Madinah pada tahun 622 M. Namun, mereka meninggalkan harta bendanya untuk hijrah. Akibatnya, semua harta yang mereka miliki dirampas oleh kaum kafir Quraisy. Demikianlah kisah perang badar yang terjadi di bulan suci Ramadhan.

Semoga perjuangan kaum muslimin dalam memerangi kekafiran dapat menjadi pelajaran dan hikmah. Baca juga artikel seputar Kisah Nabi berikut ini : • Kisah Nabi Yunus AS dan Penyesalannya dari Dalam Perut Ikan Paus • Kisah Nabi Ayyub: Belajar Sabar Menghadapi Ujian • Kisah Nabi Ibrahim AS & Mukjizat Nabi Ibrahin As • Kisah Nabi Adam AS • Kisah Nabi Musa AS • Kisah Nabi Yunus AS • Kisah Nabi Idris AS • Kisah Nabi Yusuf AS • Kisah Nabi Ibrahim AS Recent Post • Cara Mengirim Artikel Ke Koran Tribun yang Perlu Kamu Tahu Mei 6, 2022 • Cara Membuat Contoh Proposal Bisnis Plan yang Baik dan Benar Mei 6, 2022 • 8 Rekomendasi Spidol Kain Terbaik untuk Melukis Mei 6, 2022 • Tips Membangkitkan Semangat Kerja & Penyebab Semangat Kerja Menurun Mei 6, 2022 • 70 Ucapan Selamat Idul Fitri Lengkap Mei 6, 2022 • Menu Sahur Enak, Mudah, dan Praktis Mei 6, 2022 • 5 Contoh Surat Pengunduran Diri Mei 6, 2022 • 11 Cara Menghilangkan Ngantuk Secara Efektif Mei 6, 2022 • Menghilangkan Bau Ketiak Secara Efektif Mei 6, 2022 • Rekomendasi Buku Hijrah Muslimah Mei 6, 2022Disebut sebagai peristiwa besar, karena perang Badar merupakan awal perhelatan senjata dalam kapasitas besar yang dilakukan antara pembela Islam dan musuh Islam.

Saking hebatnya peristiwa ini, Allah namakan hari teradinya peristiwa tersebut dengan Yaum Al Furqan (hari pembeda) karena pada waktu itu, Allah SWT, Dzat yang menurunkan syariat Islam, hendak membedakan antara yang haq dengan yang batil.

Di saat itulah Allah mengangkat derajat kebenaran dengan jumlah kekuatan yang terbatas dan merendahkan kebatilan meskipun jumlah kekuatannya 3 kali lipat. Allah menurunkan pertolongan yang besar bagi kaum muslimin dan memenangkan mereka di atas musuh-musuh Islam. Sungguh sangat disayangkan, banyak di antara kaum muslimin di masa kita melalaikan kejadian bersejarah ini.

Padahal, dengan membaca peristiwa ini, kita dapat mengingat sejarah para shahabat yang mati-matian memperjuangkan Islam, yang dengan itu, kita bisa merasakan indahnya agama ini. Sebelum melanjutkan tulisan, saya mengingatkan bawa tujuan tulisan bukanlah mengajak saudara untuk mengadakan peringatan hari perang badar, demikian pula tulisan tidak mengupas sisi sejarahnya, karena ini bisa didapatkan dengan merujuk buku-buku jumlah tentara islam dalam perang badar adalah.

Tulisan ini hanya mencoba mengajak pembaca untuk merenungi ibrah dan pelajaran berharga di balik serpihan-serpihan sejarah perang Badar. LATAR BELAKANG PERTEMPURAN Berawal dari Ghazwah al-Asyirah di mana Kabilah Quraisy dapat melepaskan diri dari sekatan Rasulullah, semasa keperrgiannya dari Makkah ke negeri al-Syam.

bila hampir masa kepulangannya dari sana ke Makkah, Rasulullah telah mengutus Talhah bin Abdullah dan Said bin Zaid ke sebelah utara Madinah, bertugas mengintip dan memperoleh rencana terperinci mengenai hal tersebut, mereka bergerak hingga ke daerah al-Hawra’. Mereka tinggal di sana hingga Abu Sufian dan Kafilahnya berlalu. Melihat hal tersebut, mereka pun segera pulang ke Madinah melaporkan perkembangan kepada Rasulullah. Suatu ketika terdengarlah kabar di kalangan kaum muslimin Madinah bahwa Abu Sufyan beserta kafilah dagangnya, hendak berangkat pulang dari Syam menuju Mekkah.

Kafilah Abu Sufyan itu sarat dengan harta dan barangan penduduk Makkah, terdiri dari 1000 ekor unta penuh dengan muatan dan harta benda, dianggarkan tidak kurang dari 50.000 dinar emas, dan hanya dikawal oleh pasukan berjumlah empat puluh orang saja Jalan mudah dan terdekat untuk perjalanan Syam menuju Mekkah harus melewati Madinah.

Kesempatan berharga ini dimanfaatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat untuk merampas barang dagangan mereka dan pukulan tepat pada sasaran militer, politik dan ekonomi terhadap kaum musyrikin sekiranya semua harta ini dapat dirampas dari tangan mereka. Harta mereka menjadi halal bagi kaum muslimin. Mengapa demikian? Bukankah harta dan darah orang kafir yang tidak bersalah itu haram hukumnya?

Setidaknya ada dua alasan yang menyebabkan harta orang kafir Quraisy tersebut halal bagi para shahabat: • Orang-orang kafir Quraisy statusnya adalah kafir harbi, yaitu orang kafir yang secara terang-terangan memerangi kaum muslimin, mengusir kaum muslimin dari tanah kelahiran mereka di Mekah, dan melarang kaum muslimin untuk memanfaatkan harta mereka sendiri.

• Tidak ada perjanjian damai antara kaum muslimin dan orang kafir Quraisy yang memerangi kaum muslimin. Dengan alasan inilah, mereka berhak untuk menarik kembali harta yang telah mereka tinggal dan merampas harta orang musyrik.

Selain itu ada beberapa sebab lainnya yang melatar belakangi peperangan badar ini, 1. Pengusiran Kaum Muslimin dari Kota Makkah Serta Perampasan Harta Benda Mereka Genderang perang terhadap kaum muslimin sebenarnya sudah ditabuh oleh orang-orang musyrikin sejak Rasulullah saw.

mengumandangkan risalah dakwah yang ia bawa. Mereka menghalalkan darah kaum muslimin dan harta benda mereka di kota Makkah, khususnya terhadap orang-orang Muhajirin. Mereka rampas rumah dan kekayaan kaum Muhajirin. Orang islam pun melarikan diri dan menukarnya dengan keridhoan Allah swt. Kita dapat melihat sendiri bagaimana orang kafir Quraisy merampas dan menguasai harta benda Shuhaib sebagai imbalan diizinkannya ia untuk berhijrah ke Madinah.

Kita pun dapat menyaksikan bagaimana mereka menduduki rumah-rumah dan peninggalan kaum muslimin yang ditinggal oleh pemiliknya. 2. Penindasan Terhadap Umat Islam Hingga Kota Madinah Apa yang dilakukan orang Quraisy terhadap umat Islam ternyata tidak hanya ketika mereka berada di Kota Makkah. Di bahwa pimpinan Kurz bin Habbab Al-Fihri, mereka memprovokasi kaum musyrikin lainnya untuk menyerang, menteror, dan menguasai harta benda milik kaum muslimin yang ada di Kota Madinah (sebagaimana yang terjadi pada Perang Badar Shughra).

Oleh karena itu, sudah sewajarnya apabila orang-orang musyrik menerima balasan atas semua permusuhan dan penindasan mereka terhadap umat Islam selama ini. Mereka begitu sadar bahwa banyak kepentingan dan hasil perdagangan mereka yang akan berpindah ke jumlah tentara islam dalam perang badar adalah orang-orang Islam di sana, selain bahwa kini Islam telah memiliki pasukan dan wilayah yang mampu memberikan perlawanan atas kewenang-wenangan, menegakkan kebenaran dan menumbangkan kebatilan meskipun orang-orang yang berhati durjana tidak menyukainya.

STRATEGI ABU SUFYAN MENGHADAPI PASUKAN MUSLIMIN Waktu itu Abu Sufyan terkenal sebagai seorang yang begitu ambisius dan cerdik. Ia selalu memperhitungkan segala macam kemungkinan dan resiko yang dapat terjadi. Ia tahu benar apa yang telah dilakukan penduduk Quraisy terhadap kaum muslimin selama ini.

Ia pun begitu menyadari akan kekuatan umat islam yang semakin hari semakin mengalami peningkatan dan perkembangan. Ia mengorek informasi dari setiap rombongan orang yang ditemuinya jumlah tentara islam dalam perang badar adalah bukti kekhawatirannya atas perdagangannya berikut harta orang-orang Quraisy yang dibawanya.

Hingga akhirnya ia mendengar kabar dari beberapa orang yang ditemuinya bahwa Nabi Muhammad telah memobilisasi sahabat-sahabatnya untuk mencegat rombongan yang sedang membawa harta perdagangan. Mendengar hal ini, ia pun segera berhati-hati dan mengambil jalur perjalanan yang lain seraya mengirim utusan kepada penduduk Quraisy yang ada di Kota Makkah untuk meminta bantuan.

Diriwayatkan bahwa Abu Sufyan bertemu dengan Majdi bin ‘Amr dan bertanya kepadanya, ”Apakah engkau berjumpa dengan seseorang?” Ia menjawab, ”Aku tidak menjumpai seorang pun yang tidak kukenal kecuali dua orang penunggang unta yang berhenti di bukit itu.

Kemudian mereka mengambil air dan meletakkannya di tempat air mereka lalu pergi.” Abu Sufyan mendatangi tempat tersebut dan mengambil beberapa buah sisa kotoran hewan mereka. Lalu ia pisahkan dan di dalamnya terdapat biji. Ia berkata, ”Demi Tuhan, ini adalah makanan hewan penduduk Yatsrib (Madinah).” Ia pun akhirnya tahu bahwa kedua orang tersebut tak lain adalah sahabat Nabi Muhammad saw.

jumlah tentara islam dalam perang badar adalah

dan pasukan kaum muslimin ternyata sudah begitu dekat dari tempatnya berada. Abu Sufyan segera kembali ke tengah kafilah sambil memukuli mukanya. Ia alihkan jalur perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lain, yaitu pesisir pantai demi menghindari daerah Badar menuju ke kiri sehingga kafilah pun terselamatkan.

Keangkuhan Pasukan Abu Sufyan dan mobilisasi pasukan Quraisy Ketika Abu Sufyan berhasil meloloskan diri dari kejaran pasukan kaum muslimin, dia langsung mengirimkan surat kepada pasukan Mekkah tentang kabar dirinya dan meminta agar pasukan Mekkah kembali pulang.

Namun, dengan sombongnya, gembong komplotan pasukan kesyirikan enggan menerima tawaran ini. Dia justru mengatakan, “Demi Allah, kita tidak akan kembali sampai kita tiba di Badar. Kita akan tinggal di sana tiga hari, menyembelih onta, pesta makan, minum khamr, mendengarkan dendang lagu biduwanita sampai masyarakat jazirah arab mengetahui kita dan senantiasa takut kepada kita…” Keangkuhan mereka ini Allah gambarkan dalam Firman-Nya, وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بَطَرًا وَرِئَاءَ النَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَاللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ “Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah.

Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan…” (Qs. Al-Anfal: 47) Abu Sufyan menyewa Dhamdham bin ‘Amr Al-Ghifari agar segera menemui orang-orang Quraisy dan memberitahu mereka situasi yang tengah terjadi.

Ia pun bergegas menunggangi untanya. Dengan berteriak ia berkata, ”Wahai orang-orang Quraisy! Harta kalian bersama Abu Sufyan terancam oleh Muhammad dan sahabat-sahabatnya. Kulihat kalian tidak akan memperolehnya. Tolonglah… tolonglah!” Mendengar berita ini, fanatisme mereka pun berkobar. Mereka begitu khawatir jumlah tentara islam dalam perang badar adalah perdagangan mereka. Dengan cepat mereka bergerak. Semuanya pergi kecuali Abu Lahab bin ‘Abdul Muththalib. Ia mengirim Al-‘Ash bin Hisyam bin Al-Mughirah sebagai pengganti.

Orang-orang Quraisy sepakat untuk bersama-sama pergi baik dalam keadaan susah maupun lapang. Di depan barisan mereka terdapat biduan wanita yang bernyanyi mendendangkan hinaan dan celaan bagi umat Islam. Abu Sufyan tidak hanya berpangku tangan menanti uluran bantuan dari penduduk Quraisy.

Ia curahkan segenap kepiawaian yang ia miliki agar mereka tidak jatuh ke tangan kaum muslimin. Semua informasi dan peristiwa yang ada ia kumpulkan dan dianalisis hingga akhirnya ia tahu kapan pasukan muslimin pergi menghadang kafilah dagang mereka. Kesetiaan Pasukan Muslimin kepada Nabi Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa yakin bahwa yang nantinya akan ditemui adalah pasukan perang dan bukan kafilah dagang, beliau mulai cemas dan khawatir terhadap keteguhan dan semangat shahabat.

Beliau sadar jumlah tentara islam dalam perang badar adalah pasukan yang akan jumlah tentara islam dalam perang badar adalah hadapi kekuatannya jauh lebih besar dari pada kekuatan pasukan yanng beliau pimpin. Oleh karena itu, tidak heran jika ada sebagian shahabat yang merasa berat dengan keberangkatan pasukan menuju Badar.

Allah SWT gambarkan kondisi mereka dalam firmanNya, كَمَا أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِنْ بَيْتِكَ بِالْحَقِّ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ لَكَارِهُونَ “Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya.” (Qs. Al Anfal: 5) Sementara itu, para komandan pasukan Muhajirin, seperti Abu Bakar dan Umar bin Al Khattab sama sekali tidak mengendor, dan lebih baik maju terus.

Namun, ini belum dianggap cukup oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau masih menginginkan bukti konkret kesetiaan dari shahabat yang lain. Akhirnya, untuk menghilangkan kecemasan itu, beliau berunding dengan para shahabat, meminta kepastian sikap mereka untuk menentukan dua pilihan: (1) tetap melanjutkan perang apapun kondisinya, ataukah (2) kembali ke madinah.

Majulah Al Miqdad bin ‘Amr seraya berkata, “Wahai Rasulullah, majulah terus sesuai apa yang diperintahkan Allah kepada anda. Kami akan bersama anda.

Demi Allah, kami tidak akan mengatakan sebagaimana perkataan Bani Israil kepada Musa: ‘Pergi saja kamu, wahai Musa bersama Rab-mu (Allah) berperanglah kalian berdua, kami biar duduk menanti di sini saja. Kemudian Al Miqdad melanjutkan: “Tetapi pergilah anda bersama Rab anda (Allah), lalu berperanglah kalian berdua, dan kami akan ikut berperang bersama kalian berdua.

Demi Dzat Yang mengutusmu dengan kebenaran, andai anda pergi membawa kami ke dasar sumur yang gelap, kamipun siap bertempur bersama engkau hingga engkau bisa mencapai tempat itu.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan komentar yang baik terhadap perkataan Al Miqdad dan mendo’akan kebaikan untuknya. Setelah mendengar pernyataan beberapa pemimpin pasukan kaum Muhajirin, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Wahai orang-orang, siapa lagi yang akan melontarkan pendapatnya kepadaku?” Pertanyaan ini Rasulullah maksudkan untuk memancing pendapat dan pandangan dari para pemimpin pasukan Anshar.

Sebab, mereka adalah bagian terbesar dari tentara Islam waktu itu. Di samping itu, karena perjanjian Aqabah Kubra pada dasarnya juga tidak mewajibkan masyarakat Anshar untuk melindungi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam di luar kota Madinah.

Lantas, Sa’ad ibn Muadz-pembawa bendera Anshar-pun angkat suara. Ia memahami maksud perkataan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tersebut. Maka, ia pun segera bangkit dan berkata, “Demi Allah, benarkah yang engkau maksudkan adalah kami?” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Benar.” Maka Sa’ad berkata, “Kami telah beriman kepadamu, sehingga kami akan selalu membenarkanmu.

Dan kami bersaksi bahwa ajaran yang engkau bawa adalah benar. Jumlah tentara islam dalam perang badar adalah itu, kami berjanji untuk selalu mentaati dan mendengarkan perintahmu. Berangkatlah wahai Rasululah Shalallahu ‘alaihi wasallam, jika itu yang engkau kehendaki. Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan nilai-nilai kebenaran, seandainya engkau membawa kami ke laut itu, kemudian engkau benar-benar mengarunginya, niscaya kami pun akan mengikutimu.

Sungguh, tidak akan ada satu pun tentara kami yang akan tertinggal dan kami tidak takut sedikit pun kalau memang engkau memper­temukan kami dengan musuh-musuh kami esok hari.

Sesungguhnya, kami adalah orang-orang yang terbiasa hidup dalam peperangan dan melakukan pertempuran. Semoga Allah memperlihatkan kepadamu berbagai hal dari kami yang dapat memberikan kebahagiaan bagimu. Maka, marilah kita berjalan menuju berkah Allah.” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam merasa bahagia dengan ucapan Sa’ad tersebut hingga beliau semakin bersemangat.

Kemudian, beliau berkata, “Berjalanlah kalian (menuju medan perang) dan beritahukan berita gembira ini. Karena, Allah telah menjanjikan kepadaku akan memberi salah satu dari kedua belah pihak.

Demi Allah, sekarang ini aku seperti melihat tempat kekalahan kaum (Quraisy).” Lalu, mereka pun berangkat. Adapun shahabat Utsman bin Affan di kala itu tidak mengikuti perang Badar dikarenakan tidak dibolehkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam karena anak beliau, Ruqayyah sedang sakit keras. Doa Rasulullah Pada malam itu, malam jum’at 17 Ramadhan 2 H, Muhammad S hallallahu ‘alaihi wa sallam lebih banyak mendirikan shalat di dekat pepohonan.

Sementara Allah menurunkan rasa kantuk kepada kaum muslimin sebagai penenang bagi mereka agar bisa beristirahat. Sedangkan kaum musyrikin di pihak lain dalam keadaan cemas. Allah menurunkan rasa takut kepada mereka. Adapun Beliau senantiasa memanjatkan do’a kepada Allah. Memohon pertolongan dan bantuan dari-Nya. Di antara do’a yang dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berulang-ulang adalah, “…Ya Allah, jika Engkau berkehendak (orang kafir menang), Engkau tidak akan disembah.

Ya Allah, jika pasukan yang kecil ini Engkau binasakan pada hari ini, Engkau tidak akan disembah….” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulang-ulang do’a ini sampai selendang beliau tarjatuh karena lamanya berdo’a, kemudian datanglah Abu Bakar As Shiddiq radhiyallahu ‘anhu memakaikan selendang beliau yang terjatuh sambil memeluk beliau… “Cukup-cukup, wahai Rasulullah…” Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berhenti berdoa kecuali setelah Allah swt.

menurunkan firman-Nya, “Ingatlah ketika kalian memohon pertolongan kepada Tuhan kalian. Maka Ia pun mengabulkannya bagi kalian. Sesungguhnya Aku benar-benar membantu kalian dengan seribu malaikat yang berada di belakang. Dan Allah tidaklah menjadikan hal tersebut kecuali sebagai sebuah kabar gembira dan agar hati-hati kalian bisa tenang dengannya. Dan tidaklah kemenangan itu kecuali hanya datang dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

berkata, “Bergembiralah, wahai Abu Bakar, pasukan itu akan dilumatkan dan lari ke belakang. Bergembiralah karena pertolongan Allah swt. telah datang. Ini Jibril memegang kendali kuda dan menungganginya. Pada giginya terdapat debu.” Tentang kisah ini, diabadikan Allah dalam FirmanNya, إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي jumlah tentara islam dalam perang badar adalah فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آَمَنُوا سَأُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوا فَوْقَ الْأَعْنَاقِ وَاضْرِبُوا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ (12) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ شَاقُّوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَمَنْ يُشَاقِقِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (13) jumlah tentara islam dalam perang badar adalah, ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman”.

Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya.” (Qs.

Al Anfal: 12-13) JUMLAH PASUKAN Kaum Muslimin Pasukan kaum muslimin di bawah kepemimpinan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. berjumlah 313 orang. Mereka terdiri dari kaum Muhajirin 82 atau 86 orang, Bani Aus 61 orang, dan kalangan Khazraj 170 orang. Bersama mereka terdapat 2 ekor kuda, satu milik Zubair bin ‘Awwam dan seekor lainnya milik Miqdad bin ‘Amr, serta 70 unta yang mereka tunggangi secara bergantian.

Abdullah bin Mas’ud berkata, ”Ketika Perang Badar, setiap tiga orang dari kami menunggangi seekor unta. Abu Lubabah, ‘Ali, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bergantian menaiki unta. Ketika giliran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berjalan kaki, keduanya berkata, ‘Kami akan menggantikanmu untuk berjalan kaki.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Kalian berdua tidaklah sekuat diriku, dan aku tidak lebih membutuhkan pahala dari kalian berdua.’“ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempercayakan panji berwarna putih kepada Mush’ab bin ‘Umair.

Sementara di hadapan beliau sendiri terdapat dua buah bendera. Di sebelah kanan beliau terdapat Zubair bin ‘Awwam dan di sebelah kiri terdapat Miqdad bin Al-Aswad, serta di belakangnya terdapat Qais bin Abi Sha’sha’ah. Allah SWT gambarkan kisah mereka dalam firman-Nya: وَإِذْ يَعِدُكُمُ اللَّهُ إِحْدَى الطَّائِفَتَيْنِ أَنَّهَا لَكُمْ وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيْرَ ذَاتِ الشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ وَيُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُحِقَّ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَيَقْطَعَ دَابِرَ الْكَافِرِينَ “Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjata-lah yang untukmu (kamu hadapi, pent.

Yaitu kafilah dagang), dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir.” (Qs. Al Anfal: 7) Kaum Musyrikin Pasukan musyrikin berhasil memobilisasi 950 orang (sebagian riwayat 1300 orang) yang kebanyakan mereka berasal dari Quraisy. Bersama mereka terdapat 200 ekor kuda dan unta dalam jumlah yang sangat banyak sekali untuk mereka tunggangi sekaligus membawa perbekalan dan makanan mereka selama di perjalanan. Mereka menyembelih kadangkala sembilan atau sepuluh ekor unta sehari.

Orang-orang musyrikin tidak memiliki seorang pemimpin umum. Hanya saja di antara mereka terdapat dua orang terpandang, yaitu ‘Utbah bin Rabi’ah dan Abu Jahal beserta sekian orang pemuka Quraisy lainnya. Pasukan bangsa Quraisy ini dipimpin oleh Abu Jahal. TAHAP PENGINTAIAN Pasukan muslimin menyusuri jalur yang biasa dilalui oleh kafilah-kafilah dagang yang terbentang di antara Badar dan Kota Madinah. Panjangnya sekitar 60 kilometer.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus beberapa orang melakukan pengintaian untuk kepentingan informasi dan keamanan dari kemungkinan serangan tiba-tiba yang kiranya tidak dapat mereka tangani. Tahap Pertama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Basbas bin ‘Amr dan ‘Ady bin Abi Zaghba. Mereka pun pergi hingga sampai ke wilayah Badar. Mereka singgah di sebuah bukit dekat dengan sumber air. Lalu mereka mengambil air dan meletakkannya pada tempat air kecil yang mereka bawa lalu meminumnya.

Mereka berdua bertugas untuk mengumpulkan informasi. Akhirnya ‘Ady dan Basbas mendengar dua orang anak perempuan dari penduduk sekitar saling berselisih seputar air. Salah seorang dari mereka berkata, ”Besok akan datang rombongan dan aku akan bekerja untuk mereka kemudian aku akan mengganti hari yang seharusnya jadi milikmu.” Mereka berdua kemudian memberitahukannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya untuk memberikan analisis atas informasi tersebut.

Tahap Kedua Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus ‘Ali bin Abi Thalib r.a., Zubair bin ‘Awwam, dan Sa’d bin Abi Waqqash dalam satu regu untuk pergi ke sumber air di Badar sambil mencari informasi. Mereka pun berhasil menawan beberapa orang Quraisy yang bertugas untuk mengambil air. Beberapa dari mereka kemudian masuk Jumlah tentara islam dalam perang badar adalah, di antaranya budak Bani Hajjaj dan ‘Aridh Abu Yasar budak Bani ‘Ash bin Sa’d.

Mereka membawanya kepada Nabi untuk diinterogasi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyai keduanya. Mereka menjawab, ”Kami adalah milik pasukan Quraisy dan kami tidak mengetahui apapun tentang Abu Sufyan.” Rasulullah saw.

kembali bertanya, ”Berapa jumlah mereka?” Keduanya menjawab, ”Banyak, kami tidak tahu berapa jumlahnya.” Rasulullah saw. melanjutkan, ”Berapa banyak unta yang mereka sembelih untuk dimakan?” Keduanya menjawab, ”Sembilan, dan hari lainnya sepuluh.” Rasulullah saw.

berkata, ”Mereka sekitar 900 sampai 1.000 orang.” Beliau melanjutkan pertanyaannya, ”Siapa saja pemuka Quraisy yang ikut bersama mereka?” Keduanya menjawab, “’Utbah bin Rabi’ah, Syaibah, Abu Al-Buhturi bin Hisyam, dan Hakim bin Hizam.” Keduanya lalu menyebutkan beberapa orang pemuka Quraisy lainnya.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ”Kota Makkah ini telah melemparkan kepada kalian kepingan-kepingan hatinya.” Beliau mengatakannya dengan maksud untuk meyakinkan dirinya sendiri. Rasulullah Melakukan Pengintaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi bersama Abu Bakar untuk melakukan pengintaian dan pengumpulan informasi. Beliau berjumpa dengan seorang badui yang sudah tua dan bertanya kepadanya tentang perihal Quraisy, Muhammad serta para sahabatnya, dan semua berita yang berhubungan dengan mereka.

Orang tua itu pun menjawab, ”Aku tidak akan memberitahu kalian sebelum kalian mengatakan siapa diri kalian berdua?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ”Jika engkau memberitahu kepada kami terlebih dahulu, maka kami pun akan mengatakannya kepadamu.” Orang tua itu berkata, ”Atau itu dengan itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ”Ya.” Orang tua itu berkata, ”Aku dengar bahwa Muhammad dan sahabatnya keluar pada hari fulan.

Dan kalau orang yang memberitahuku jujur, berarti hari ini mereka telah sampai di tempat fulan (yaitu di tempat di mana Rasulullah saw. ketika itu berada). Dan aku mendengar bahwa Quraisy keluar pada hari fulan. Dan kalau orang yang memberitahuku jujur, berarti hari ini mereka telah sampai di tempat fulan (yaitu tempat di mana pasukan Quraisy berada.)” Setelah selesai berbicara orang tua itu pun bertanya, ”Dari mana kalian berdua?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ”Kami dari Maa` (air)” Kemudian ia pergi meninggalkannya.

Orang tua itu kembali bertanya, ”Apa itu Maa`? Apakah Maa` yang ada di Irak?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya menyembunyikan identitas, tapi beliau menutup kemungkinan laki-laki itu untuk berpikir bahwa beliau berdua bagian dari kelompok Muslimin, dengan menanyakan keadaan pasukan Muslim sekaligus pasukan Quraisy kepadanya.

Tentu cara yang ditempuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini adalah cara yang amat cerdik. Peristiwa yang disebutkan oleh Ibnu Hisyam dalam As Sirah An Nabawiyah (2/459) itu menunjukkan bahwa praktik intelijen telah digunakan sejak masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga menunjukkan bahwa beliau sendiri amat memperhatikan pentingnya aktivitas ini, guna melawan kekuatan Quraisy.

KAUM MUSLIMIN MENGANALISIS INFORMASI Semua informasi yang diperoleh dari aktivitas intelejen menunjukkan bahwa rombongan kafilah dagang telah selamat dan pasukan orang-orang musyriklah yang kini berada di hadapan mereka. Pasukan Quraisy sekitar 900 hingga 1.000 orang. Di antara mereka terdapat beberapa orang pemuka Quraisy.

Jumlah mereka tidak dapat disepelekan. Lalu apakah yang harus dilakukan umat Islam di hadapan informasi-informasi seperti ini? Demikianlah kedua pasukan semakin berdekatan dan keduanya sama-sama tidak mengetahui apakah yang akan terjadi di balik pertemuan yang menegangkan itu. Itulah latar belakang meletusnya peperangan pertama di dalam sejarah Islam telah Allah swt. susun sedemikan rupa. Sebuah peperangan antara kebenaran dan kebatilan. Allah swt.

berfirman, ”Dan (ingatlah) ketika Allah menjanjikan kepada kalian salah satu dari dua kelompok bahwa ia akan menjadi milik kalian. Kalian berharap bahwa kelompok yang tidak memiliki kekuatanlah yang akan menjadi miliki kalian. Dan Allah swt. ingin menegakkan yang haq dengan kalimatnya, dan memusnahkan orang-orang yang kafir.

Agar Ia menegakkan yang hak dan memusnahkan kebatilan meskipun orang-orang berhati durjana tidak menyukainya.” (Al-Anfal: 7-8) PEPERANGAN DIMULAI Kedua pasukan pun akhirnya saling berhadapan.

Fanatisme jahiliah begitu tampak jelas pada pada diri orang-orang musyrik. Setiap orang ingin memperlihatkan kedudukan dan keberaniannya. Muncullah kemudian Al-Aswad bin ‘Abdul Asad Al-Makhzumi. Ia dikenal sebagai seorang yang sangat sadis dan biadab. Dengan nada tinggi ia menantang, “Aku berjanji kepada Tuhan bahwa aku akan jumlah tentara islam dalam perang badar adalah dari kolam mereka (yaitu kolam yang dibikin oleh orang-orang muslim), atau aku akan menghancurkannya, atau aku akan mati karenanya.” Ia pun menyerang kolam tersebut.

Hamzah bin ‘Abdul Muththalib segera bergerak. Ia ayunkan pedangnya hingga menebas setengah dari kaki bagian bawahnya sebelum ia sempat sampai ke kolam tersebut. Namun demi keangkuhan sumpahnya ia merayap. Hamzah pun langsung menenggelamkannya di dalam kolam.

‘Utbah bin Rabi’ah terpancing emosinya. Ia ingin menunjukkan keberaniannya. Tampil pula bersamnya saudaranya, Syaibah dan anaknya Walid. Ia pun menantang untuk berduel. Tiga orang pemuda dari kalangan Anshar gugur di hadapan mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun kembali menjawab tantangan mereka. Maka majulah ‘Ubaidah bin Al-Harits, Hamzah bin ‘Abdul Muththalib, dan ‘Ali bin Abi Thalib, kesemuanya adalah dari keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Beliau mengutamakan kemampuan mereka atas dasar keberanian dan pengalaman mereka dalam berperang sudah sangat masyhur.

Dengan izin Allah swt. pula akhirnya mereka berhasil mengalahkan orang-orang Quraisy. Semangat kaum muslimin kembali terdongkrak dan kekuatan orang-orang kafir pun mulai berjatuhan. ‘Ubaidah (prajurit yang paling muda) berhadapan dengan ‘Utbah, Hamzah berhadapan dengan Syaibah, sementara ‘Ali berhadapan dengan Walid bin ‘Utbah. Hamzah tidak mengulur-ulur waktu untuk membunuh Syaibah. Demikian pula halnya yang dilakukan oleh ‘Ali terhadap Walid.

Berbeda dengan ‘Ubaidah, baik ia maupun ‘Utbah sama-sama terluka. ‘Ali dan Hamzah pun segera mengayunkan pedang mereka hingga ‘Utbah tersungkur mati. Lalu keduanya membawa ‘Ubaidah ke perkemahan pasukan untuk diobati. Peristiwa ini merupakan satu awal yang baik bagi kaum muslimin sekaligus bencana bagi orang-orang musyrikin.

Awal yang memilukan ini benar-benar telah membuat mereka berang. Mereka mencoba memancing emosi jumlah tentara islam dalam perang badar adalah muslimin, namun umat Islam kala itu mampu menahan diri hingga datang perintah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melakukan penyerangan.

Inilah korban Badar pertama kali yang menyulut peperangan. Selanjutnya, muncul tiga penunggang kuda handal dari kaum Musyrikin. Ketiganya berasal dari satu keluarga. Syaibah bin Rabi’ah, Utbah bin Rabi’ah, dan anaknya Al Walid bin Utbah. Kedatangan mereka ditanggapi 3 pemuda Anshar, yaitu Auf bin Harits, Mu’awwidz bin Harits, dan Abdullah bin Rawahah.

Namun, ketiga orang kafir tersebut menolak adu tanding dengan tiga orang Anshar dan mereka meminta orang terpandang di kalangan Muhajirin. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Ali, Hamzah, dan Ubaidah bin Harits untuk maju. Ubaidah berhadapan dengan Al Walid, Ali berhadapan dengan Syaibah, dan Hamzah berhadapan dengan Utbah.

Bagi Ali dan Hamzah, menghadapi musuhnya tidak ada kesulitan. Lain halnya dengan Ubaidah. Masing-masing saling melancarkan serangan, hingga masing-masing terluka. Kemudian lawan Ubaidah dibunuh oleh Ali radhiyallahu ‘anhu. Atas peritiwa ini, Allah abadikan dalam firmanNya, هَذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ “Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Rabb mereka (Allah)…” (Qs.

Al Hajj: 19) Setelah pertandingan satu lawan satu usai, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam meminta Ali untuk memberikan segenggam kerikil kepada beliau. Lantas, Ali pun memberikan segenggam kerikil kepada Rasulullah. Dan sesaat kemudian, beliau langsung melemparkannya ke muka pasukan Quraisy. Akibatnya, setiap orang Quraisy yang terkena lemparan itu, kedua matanya penuh dengan kerikil. Karena kejadian ini, turunlah firman Allah: “Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.” (QS.

Al-Anfal: 17) Selanjutnya, bertemulah dua pasukan. Pertempuran-pun terjadi antara pembela Tauhid dan pembela syirik. Mereka berperang karena perbedaan prinsip beragama, bukan karena rebutan dunia. Sementara itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di tenda beliau, memberikan komando terhadap pasukan.

Abu Bakar dan Sa’ad bin Muadz radhiyallahu ‘anhuma bertugas menjaga beliau. Tidak pernah putus, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa melantunkan do’a dan memohon bantuan dan pertolongan kepada Allah. Terkadang beliau keluar tenda dan mengatakan, “Pasukan (Quraisy) akan dikalahkan dan ditekuk mundur…” Beliau juga senantiasa memberi motivasi kepada para shahabat untuk berjuang. Beliau bersabda, “Demi Allah, tidaklah seseorang memerangi mereka pada hari ini, kemudian dia terbunuh dengan sabar dan mengharap pahala serta terus maju dan pantang mundur, pasti Allah akan memasukkannya ke dalam surga.” Tiba-tiba berdirilah Umair bin Al Himam Al Anshari sambil membawa beberapa kurma untuk dimakan, beliau bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah surga lebarnya selebar langit dan bumi?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya.” Kemudian Umair mengatakan: “Bakh…Bakh… (ungkapan kaget).

Wahai Rasulullah, antara diriku dan aku masuk surga adalah ketika mereka membunuhku. Demi Allah, andaikan saya hidup harus makan kurma dulu, sungguh ini adalah usia yang terlalu panjang. Kemudian beliau melemparkan kurmanya, dan terjun ke medan perang sampai terbunuh.” Dalam kesempatan yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil segenggam pasir dan melemparkannya ke barisan musuh.

Sehingga tidak ada satu pun orang kafir kecuali matanya penuh dengan pasir. Mereka pun sibuk dengan matanya sendiri-sendiri, sebagai tanda kemukjizatan Beliau atas kehendak Dzat Penguasa alam semesta.

Umat Islam benar-benar menunjukkan satu keberanian yang sangat luar biasa. Dan ketika peperangan semakin memuncak hebat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam justru maju ke depan barisan. ‘Ali bin Abi Thalib berkata, “Jika keadaan semakin genting dan pandangan mata memerah, maka kami pun berlindung di dekat Rasulullah saw. Tak seorang pun yang berani lebih dekat dengan musuh selain dirinya. Aku melihat sendiri ketika Perang Badar kami berlindung di dekat Rasulullah saw. dan ketika itu ia adalah orang yang paling dekat dengan musuh di antara kami.” PASUKAN MALAIKAT TURUN MEMBANTU KAUM MUSLIMIN Abdullah bin Abbas meriwayatkan bahwa ketika seorang sahabat mengejar dengan gigih seorang musyrik yang ada di depannya, tiba-tiba ia mendengar suara pukulan dan suara penunggang kuda yang menghentakkan kudanya.

Lalu sahabat tersebut melihat orang musyrik itu jatuh tewas terkapar dengan jumlah tentara islam dalam perang badar adalah hidung dan wajahnya terluka berat akibat pukulan keras.

Hal tersebut ia ceritakan kepada Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Kau benar, itu adalah pertolongan Allah dari langit ketiga.” (H.R.Bukhari dan Muslim) Sementara itu, Ahmad (Bukhari/al-Fath 15/181/no:3995) menceritakan: “Seorang laki-laki Anshar berperawakan pendek datang dengan membawa Abbas sebagai tawanan.

Di hadapan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam, Abbas berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, sesungguhnya orang ini (seraya menunjuk pada orang Anshar tadi) bukan yang menawanku. Aku ditawan oleh seorang laki-laki botak, tetapi sangat tampan dan ia menunggang seekor kuda belang. Sungguh, belum pernah aku melihat orang seperti itu di pasukanmu).” Maka, orang Anshar tadi menyela, “Ya Rasulullah, akulah yang telah menawannya.” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam spontan berkata, “Diam … Allah telah memberikan kekuatan kepadamu dengan bantuan para malaikat yang mulia.” Umawi (Bukhari/al-Fath 15/180/no:3995) menuturkan: “Saat berada di dalam kemahnya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam mengangguk sebanyak satu kali (seperti terserang rasa kantuk) kemudian tersadar.

Setelah itu, beliau berkata kepada Abu Bakar, “Wahai Abu Bakar, kabarkanlah berita gembira ini. Sesungguhnya bantuan Allah telah datang kepadamu. Aku melihat Jibril tengah melipat penutup kepalanya, mengambil tali kendali kudanya, dan akan mengendarainya ke tengah-tengah peperangan yang tengah bergejolak.

Sungguh, bantuan dan pertolongan Allah telah datang kepadamu.” Kemenangan pada perang Badar menjadi pesta di kalangan para malaikat karena peristiwa ini adalah pertama kalinya mereka diizinkan terjun ke gelanggang perang di bawah komando Jibril dengan seribu pasukan malaikat pilihan.

“Sesungguhnya Aku akan mendatangkan kepadamu bala bantuan dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (Q.S.An Anfal:9) Para Malaikat yang terlibat dalam Perang Badar memiliki kemuliaan di antara semua malaikat. Rafi’ah bin Rafi’ Az Zarqi mengatakan, “Jibril berkata kepada Nabi SAW dan berkata: Bagaimana kalian menganggap veteran Badar di antara kalian? Rasulullah menjawab: “Termasuk muslimin yang paling mulia”. Jibril berkata: “demikian pula malaikat yang mengikuti perang Badar.” Allah SWT menyatakan bahwa bantuan berupa pasukan malaikat itu adalah untuk memberikan bukti lahiriah yang menenteramkan hati orang-orang beriman.

Tetapi selanjutnya Allah SWT menegaskan, janganlah menganggap bahwa kemenangan itu karena pertolongan malaikat. Karena sesungguhnya kemenangan dan pertolongan itu datangnya dari Allah SWT semata, yang telah berkenan mengirimkan pasukan malaikat tersebut. Para malaikat itu diperintah oleh Allah SWT untuk melakukan apa saja seperti Firman-Nya dalam Surat Al-Anfal Ayat 12: Ketika Allah mewahyukan kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku beserta kamu sekalian, maka teguhkanlah (hati) orang-orang beriman.

Akan Aku timpakan kedalam hati orang-orang kafir rasa ketakutan. Maka tebaslah leher mereka dan juga jari-jemari mereka.

Dari ayat ini kita memperoleh pengetahuan bahwa para malaikat itu tidak jumlah tentara islam dalam perang badar adalah menguatkan hati dan meneguhkan pendirian orang-orang mukmin, melainkan juga berperan aktif secara fisik dalam pertempuran.

Abu Dawud Mazani dan Suhail bin Hanif meriwayatkan bahwa, “Ketika kami baru mengarahkan pedang kami kepada lawan, leher mereka telah terpenggal sebelum pedang kami menyentuh mereka.” Adalah kenyataan bahwa para malaikat itupun melaksanakan tugas bertempur. Ayat 50 dari Surat Al-Anfal menguraikan lebih jauh bagaimana kiprah para malaikat di medan pertempuran itu: “Dan Jika saja kamu dapat menyaksikan ketika para malaikat itu mencabut jiwa orang-orang kafir itu, dihantamnya wajah-wajah mereka dan punggung-punggung mereka seraya berkata, “Rasakanlah olehmu siksaan api yang membakar.” Ayat ini menerangkan, bahwa ketika para malaikat memisahkan jiwa orang-orang kafir itu dari tubuh mereka, mereka pun disiksa dengan pukulan cambuk besi yang panas membara ke wajah dan punggung mereka.

Peristiwa menarik lainnya selama terjadinya pertempuran adalah kehadiran Syaitan dalam wujud Surakah bin Malik, pemimpin Banu Bakr, bergabung dengan pasukan kafir. Syaitan menjadikan perbuatan jahat orang-orang kafir tampak wajar bagi diri mereka, dan mengobarkan semangat tempur orang-orang kafir dengan perkataan yang dijelaskan Allah SWT didalam Surat Al-Anfal Ayat 48, Dan syeitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka, dan mengatakan: “Tak seorang manusiapun yang bisa menang melawan kalian pada hari ini, dan akulah pelindung kalian.” Ketika pasukan kedua belah pihak sudah saling berhadap-hadapan, syeitan berbalik arah melarikan diri seraya berkata, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kalian, aku melihat (pasukan malaikat) apa yang tidak bisa kalian lihat.

Sesungguhnya aku takut kepada Allah. Dan Allah sangat keras siksanya.” Dalam perang Badar ini, banyak sekali tentara kaum muslimin yang mendapatkan karamah dan pertolongan dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Salah satunya adalah yang dialami oleh Ukkasah ibn Mihshan. Syahdan, ia berperang dengan jumlah tentara islam dalam perang badar adalah pedangnya hingga pedang itu patah. Maka, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam memberikan kepadanya sebatang kayu sebagai ganti pedangnya agar ia terus bertempur.

Namun, tiba-tiba kayu itu berubah menjadi pedang yang berukuran panjang, sangat kuat, dan mengkilat. Lalu, Ukkasah mempergunakan pedang tersebut pada perang Badar dan perang-perang yang lainnya hingga akhirnya mengantarkan Ukkasah pada pintu kesyahidan. Peperangan terakhir yang ia ikuti adalah perang Yamamah. Saat itulah ia gugur sebagai syahid. KEMATIAN ABU JAHAL ‘Abdurrahman bin ‘Auf berkata, “Ketika Perang Badar aku benar-benar berada di tengah barisan.

Tiba-tiba saja dari sisi jumlah tentara islam dalam perang badar adalah dan kiriku muncul dua orang pemuda yang masih sangat belia sekali. Seakan-akan aku tidak yakin akan keberadaan mereka. Aku berharap seandainya saat itu aku berada di antara tulang-tulang rusuk mereka. Salah seorang dari mereka berkata kepadaku sambil berbisik, ‘Paman, tunjukkan kepadaku mana Abu Jahal.’ Kukatakan kepadanya, ‘Anakku, apa yang akan kau perbuat dengannya?’ Pemuda itu kembali berkata, ‘Aku mendengar bahwa ia telah mencela Rasulullah.

Aku pun berjanji kepada Allah seandainya aku melihatnya niscaya aku akan membunuhnya atau aku yang akan mati di tangannya.’ Aku pun tercengang kaget dibuatnya. Lalu yang lainnya langsung memelukku dan mengatakan hal yang sama kepadaku. Seketika itu aku melihat Abu Jahal berjalan di tengah kerumunan orang.

Aku berkata, ‘Tidakkah kalian lihat? Itulah orang yang kalian tanyakan tadi.’ Mereka pun saling berlomba menghayunkan pedangnya hingga keduanya berhasil membunuh Abu Jahal.” Dalam salah satu riwayat, ‘Abdurrahman bin ‘Auf berkata, “Aku akan merasa senang sekali seandainya aku berada di antara mereka berdua. Maka kutunjukkan kepada mereka yang mana Abu Jahal. Mereka pun meluncur layaknya dua ekor elang hingga mereka berhasil membunuhnya.” Kedua pemuda belia itu adalah anak ‘Afraa.

‘Abdullah bin Mas’ud mendapati Abu Jahal dengan sisa-sisa nafas terakhirnya. Kemudian ia pun langsung membunuhnya. Anas bin Malik berkata, Rasulullah saw. pernah mengatakan, “Siapa yang pernah melihat apa yang telah dilakukan oleh Abu Jahal?” Ibnu Mas’ud menjawab, “Saya, wahai Rasulullah.” Ia pun bergegas pergi.

Lalu ia menemukannya lemas di tangan kedua anak ‘Afra. Ibnu Mas’ud berkata, “Aku pun menarik jenggotnya. Dan kukatakan, ‘engkau Abu Jahal!” Ia menimpali, “Apakah di atas Abu Jahal ada laki-laki lain yang telah kalian bunuh?” kemudian ia pun membunuhnya lalu memberitahukannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam TERBUNUHNYA UMAYYAH BIN KHALAF Umayyah bin Khalaf merupakan salah seorang pemuka Quraisy di Kota Makkah yang pernah menyiksa Bilal dan orang-orang mukmin yang tinggal di sana.

Peperangan Badar benar-benar telah membuatnya kehilangan akal dan pikiran. Sampai-sampai ia berteriak-teriak meminta pertolongan agar menyelamatkan dirinya dari tengah peperangan tersebut. ‘Abdurrahman bin ‘Auf berkata, “Aku berpapasan dengan Umayyah bin Khalaf. Ia berdiri bersama anaknya dengan penuh kebingungan. Waktu itu aku membawa beberapa buah baju besi yang telah menjadi harta rampasan perangku.

Ketika ia melihatku, ia pun memanggilku. “Wahai hamba Tuhan!” “Ya,” jawabku. “Apakah engkau akan menjadikan kami berdua sebagai tawanan perang? Diriku lebih baik dari baju-baju besi yang ada ditanganmu itu.

jumlah tentara islam dalam perang badar adalah

Barangsiapa yang menawanku, maka niscaya aku akan menebusnya dengan unta yang banyak susunya.” ‘Abdurrahman kembali berkata, “Kulemparkan baju besi itu dan kuraih tangan mereka berdua.” Sementara itu Umayyah berkata, ‘aku tidak pernah melihat situasi seperti hari ini sebelumnya.‘ Kemudian ia berkata lagi, “Wahai ‘Abdullah, siapakah orang yang dikenal dengan bulu yang lembut di dadanya?‘” ‘Abdurrahman berkata, “Kukatakan kepadanya, ‘Hamzah bin Abi Muththalib.” Lalu ia berkata, “Itulah orang yang telah melakukan ini dan itu kepada kami.” ‘Abdurrahman berkata, “Demi Allah, aku akan benar-benar membalas mereka berdua jika Bilal melihatnya bersamaku.

Dialah yang dulu menyiksa Bilal di Makkah karena ego jahiliah terhadap Islam”. Ketika Bilal melihatnya, ia pun berkata, “Pentolan orang kafir Umayyah bin Khalaf. Aku tidak akan selamat jika ia selamat!” ‘Abdurrahman berkata, “Kukatakan, ‘wahai Bilal, ia adalah tawananku.” Bilal kembali berkata, “Aku tidak selamat jika orang itu masih juga selamat.” Kemudian dengan nada lantang ia berteriak, “Wahai orang-orang Anshar, pentolan orang kafir adalah Umayyah bin Khalaf.

Aku tidak selamat jika orang itu masih juga selamat.” Orang-orang pun berkumpul mengelilingi kami. Lalu aku ikut bersama mereka. Salah seorang mengayunkan pedangnya ke kakinya hingga ia terjatuh.

Umayyah berteriak histeris, sesuatu yang belum pernah kudengar sebelumnya. ‘Abdurrahman berkata, “Kukatakan kepada Umayyah, “Selamatkanlah dirimu sendiri! Sekarang tidak ada lagi keselamatan bagi dirimu! Demi Allah, aku tidak akan menolongmu sedikitpun.” Ia berkata, “Orang-orang pun berkumpul dan menghajarnya dengan pedang-pedang mereka sampai mereka membereskan keduanya.” ‘Adurrahman berkata, “Semoga Allah swt.

senantiasa merahmati Bilal, ia telah menyakitiku dengan baju besi dan tawananku!!!” Demikianlah, barangsiapa yang berselisih dengan Allah, maka ia pun akan kalah. Dan barangsiapa yang menantang Allah swt. dan Rasul-Nya, maka ia akan menjadi orang-orang yang begitu terhina. Dan barangsiapa yang bersikap semena-mena terhadap hamba-Nya, maka niscaya Ia akan membalasnya dengan balasan yang setimpal.

Ia jadikan dirinya sendiri sebagai pelajaran dan tanda kekuasaan-Nya. Dan azab akhirat itu benar-benar lebih menyakitkan dan lebih dahsyat.” “Dan Allah Maha Menguasai urusan-Nya, namun kebanyakan orang tidak menyadarinya.” KEMENANGAN KAUM MUSLIMIN Menjelang berakhirnya perang, pasukan Muslim terbagi dalam tiga kelompok.

• Satu kelompok mengejar pasukan kafir yang melarikan diri agar tidak kembali lagi. • Kelompok ke-dua mulai mengumpulkan sisa-sisa perang yang berserakan di arena pertempuran, mereka ini muslim yang miskin dan begitu gembira mendapatkan aneka barang milik musuh yang kaya yang ditinggalkan di medan pertempuran.

• Adapun kelompok ke-tiga berdiri mengelilingi Nabi Muhammad SAW, berjaga-jaga jika saja ada seorang musuh yang menyelinap hendak mencelakai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika tiga kelompok ini berkumpul lagi di malam hari, timbul permasalahan diantara mereka perihal pembagian harta sisa perang. Kelompok pengumpul menganggap itu adalah hak mereka mengingat merekalah yang memungut harta-benda itu langsung dari arena pertempuran.

Kelompok yang lain berpendapat bahwa sudah selayaknya mereka jumlah tentara islam dalam perang badar adalah bagian mengingat merekalah yang memungkinkan adanya kesempatan kelompok lain mengumpulkan harta-benda yang ditinggalkan musuh, sementara mereka mengejar-ngejar musuh yang berlarian menyelamatkan diri.

Kelompok ke-tiga mengatakan bahwa merekapun berhak atas pembagian harta itu karena mereka telah melakukan hal terpenting, yakni melindungi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ubadah bin Samit RA, bahwa ini adalah persoalan serius sehingga diantara mereka mulai bertingkah tidak lagi saling menghargai satu sama lain.

Sejauh itu belum ada perintah perihal pembagian harta sisa ini. Pada umat-umat terdahulu, mereka dilarang memanfaatkan harta sisa perang. Biasanya mereka menyusun harta itu membentuk tiang sehingga jika petir menyambar dan membakar tumpukan harta-benda itu, itulah pertanda bahwa perjuangan (jihad) mereka diterima.

Allah SWT mewahyukan perintah pembagian harta sisa perang itu secara terperinci kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini terdapat didalam Surat Al-Anfal. Segera setelah para sahabat hadir untuk mengetahui isi petunjuk Allah SWT ini, perbedaan pendapat diantara mereka pun sirna. Harta itu dibagikan kepada semua yang berpartisipasi dalam pertempuran sesuai dengan petunjuk Allah SWT.

Hal ini merupakan kemurahan Allah SWT sebagai hadiah untuk umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, berupa kenikmatan dan penghargaan kepada mereka dengan dijinkan-Nya memanfaatkan harta-benda yang tersisa dari peperangan. Peristiwa ini juga mengajarkan kepada kita bagaimana para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu itu bersatu-padu penuh semangat dalam mengikuti petunjuk dari Allah SWT.

JUMLAH KORBAN DAN TAWANAN PERANG Singkat cerita, pasukan musyrikin terkalahkan dan terpukul mundur. Pasukan kaum muslimin berhasil membunuh dan menangkap beberapa orang di antara mereka. Ada tujuh puluh orang kafir terbunuh dan tujuh puluh yang dijadikan tawanan.

Di antara 70 yang terbunuh ada 24 pemimpin kaum Musyrikin Quraisy yang diseret dan dimasukkan ke dalam lubang-lubang di Badar. Termasuk diantara 24 orang tersebut adalah Abu Jahal, Syaibah bin Rabi’ah, Utbah bin Rabi’ah dan anaknya, Al Walid bin Utbah. Pada peperangan ini, kaum muslimin berhasil membunuh 70 orang dari kalangan orang-orang musyrikin dan menahan sekitar 70 orang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. memerintahkan untuk membunuh 2 orang tawanan karena permusuhan dan kebencian mereka yang sudah di luar batas, selain mereka berdua adalah orang yang paling banyak melakukan kelaliman.

Status keduanya lebih sebagai penjahat perang, bukan lagi sebagai tawanan perang. Karena selama ini mereka begitu berambisi untuk berbuat makar kepada umat Islam dan menyiksa orang-orang yang lemah dari kalangan mereka.

Keduanya terkenal begitu menantang Allah swt. dan Rasul-Nya. Sehingga jumlah tawanan tersisa 68 orang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta pendapat para sahabatnya seputar apa yang akan mereka perbuat terhadap tawanan perang tersebut.

Umar bin Khaththab berkata, “Wahai Rasulullah, mereka telah mendustakan, memerangi, dan mengusirmu. Menurutku sebaiknya kau izinkan aku untuk menebas leher fulan (yaitu kerabatnya sendiri). Dan kau izinkan Hamzah untuk membunuh ‘Abbas, dan ‘Ali membunuh ‘Uqail. Begitulah agar orang tahu bahwa tidak ada kecintaan sedikitpun di dalam hati kami terhadap orang-orang yang musyrik. Aku melihat bahwa engkau tidak perlu menjadikan mereka sebagai tawanan. Tebaslah semua leher mereka.

Prajurit, para pemimpin, dan pemuka jumlah tentara islam dalam perang badar adalah Usulan ini disetujui oleh Sa’d bin Mu’adz dan ‘Abdullah bin Rawahah. Sementara Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, mereka itu adalah kaum dan keluargamu juga. Allah swt. telah menganugerahkan kemenangan kepadamu. Menurutku sebaiknya engkau biarkan saja mereka sebagai tawanan dan kau minta dari mereka tebusan. Sehingga tebusan tersebut dapat menjadi sumber kekuatan kita untuk menghadapi orang-orang kafir.

Dan semoga Allah swt. memberikan petunjuk-Nya kepada mereka melalui dirimu sehingga mereka pun akan menjadi pembelamu.” Akhirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil pendapat Abu Bakar. Beliau pun membagi-bagikan sisa tawanan (68 orang) kepada sahabat-sahabatnya sambil berpesan, “Perlakukanlah para tawanan itu dengan baik” kemudian beliau menerima tebusan dari para tawanan tersebut.

Orang kaya akan membayar satu orang tawanan sebesar sekitar 1.000 hingga 4.000 dirham. Sementara orang-orang miskin, sebagian mereka dibebaskan begitu saja tanpa dimintai tebusan. Beliau pun menuntut dari para tawanan yang memiliki ilmu untuk mengajarkan kepada anak-anak kaum muslimin membaca dan menulis sebagai tebusan bagi diri mereka.

Abu ‘Aziz bin ‘Umair bin Hasyim, saudara Mush’ab bin ‘Umair, menjadi tawanan Abu Yusr Al-Anshari. Suatu hari Abu ‘Aziz lewat dan bertemu dengan saudaranya Mush’ab. Mush’ab pun berkata kepada Abu Yusr, “Tahanlah tanganmu dari tawananmu, karena ibunya adalah seorang yang kaya. Ia akan menebusnya untukmu dengan harta yang banyak. Abu ‘Aziz, saudaranya berkata, “Wahai saudaraku, ini adalah perlakuanmu kepadaku?” Mush’ab berkata kepadanya, “Sesungguhnya ia (Abu Yusr) adalah saudaraku selain dirimu.” Dan ketika tebusannya diminta, ibunya bertanya berapa tebusan terbesar yang diberikan untuk membebaskan orang Quraisy.

Maka dikatakan kepadanya 4.000 dirham. Wanita itu pun mengirim 4.000 dirham dan menebus anaknya. Demikianlah bagaimana ukhuwah imaniah ternyata lebih berharga dari sekedar jalinan persaudaraan yang dibangun atas dasar pertalian darah dan keturunan.

Karena ukhuwah imaniah adalah persaudaraan yang dibangun di atas kebenaran dan di jalan Allah swt. MENANTU RASULULLAH PUN MENJADI TAWANAN PERANG Abu ‘Ash bin Rabi’ bin ‘Abdul ‘Uzza tertawan ketika Perang Badar. Ia adalah menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, suami dari putri beliau, Zainab. Abu ‘Ash merupakan orang Makkah yang cukup diperhitungkan dari segi harga, kejujuran, dan perdagangannya.

Ibunya adalah Halah binti Khuwailid, saudara perempuan Khadijah binti Khuwailid. Khadijahlah yang dulu meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar menikahkan lelaki itu kepada putri beliau, Zainab. Khadijah sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Dan karena pertimbangan itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menolak permintaan istrinya tersebut.

Hal ini terjadi sebelum beliau diangkat menjadi jumlah tentara islam dalam perang badar adalah nabi. Namun ketika wahyu telah diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang Quraisy pun mulia memusuhinya, Abu Lahab berkata, “Buatlah Muhammad sibuk dengan dirinya sendiri, dan ceraikanlah putri-putrinya dari suami-suami mereka.” Ia pun memerintahkan putranya, ‘Utbah hingga akhirnya ia menceraikan putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Ia juga mendatangi Abu ‘Ash bin Rabi’dan memintanya untuk menceraikan Zainab.

“Ceraikanlah istrimu, setelah itu kami akan menikahkanmu dengan perempuan Quraisy mana saja yang kau inginkan.” Abu ‘Ash menjawab, “Tidak, demi tuhan, aku tidak akan menceraikannya. “Aku tidak ingin wanita Quraisy menggantikan istriku.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji sikapnya kala itu. Dan ketika penduduk Makkah membawa tebusan bagi tawanan perang, Zainab pun membawa harta untuk menebus suaminya, Abu ‘Ash.

Ia membawa sebuah kalung yang dihadiahkan oleh ibunya, Khadijah, ketika ia menikah dengan Abu ‘Ash. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, hatinya pun langsung terenyuh dalam.

Beliau berkata, “Jika kalian bersedia untuk membebaskannya dan mengembalikan barang miliknya, maka lakukanlah.” Sahabat menjawab, “Baiklah, wahai Rasulullah.” Mereka pun membebaskan Abu ‘Ash dan mengembalikan kalung milik Zainab.

Hal ini beliau lakukan karena Abu ‘Ash membiarkan Zainab turut berhijrah ke kota Madinah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah membebaskan beberapa orang tawanan perang tanpa ada tebusan ataupun bayaran sedikitpun, mengingat kondisi mereka yang menuntut untuk hal tersebut.

Sumber: situs muslim.or.id, situs dakwatuna, situs imtiazahmad, situs hidayatullah perang badr juga yang menjadi inspirasi atas dogma dan doktrin dalam islam tentang jihad. muhammad memerangi mekkah, terlebih dahulu memberi ultimatum; jika tidak mau mengakui batu hitam sembahannya, maka mekkah akan dihancurkan, termasuk keluarganya dan sodara ayah dan ibunya, yang menolak ide muhammad untuk memuja 1 batu hitam junjungannya.

muhammad bukan berperang bersama umat islam karena muhammad mengajak gerombolan penjahat dan perampok padang gurun, yang telah diinspirasi dengan konsep jihad (jika mati akan masuk nirwana, dilayani oleh 72 bidadari2 cantik, ada banyak anggur dan kelimpahan2) agar mereka bersemangat saat perang.

to Coldiceberg …anda telah membohongi diri anda.dan kebohongan diri anda itu akan merusak diri anda sendiri…apakah anda tidak kasihan terhadap jumlah tentara islam dalam perang badar adalah anda sendiri…sejarahwan mana dan dari buku jumlah tentara islam dalam perang badar adalah mana anda bisa berpendapat demikian?.anda tidak akan mendapati sejarah nabi Muhammad SAW kecuali yang akan anda dapati akhlak beliau yang berKasih Sayang.diantaranya perlakuan Nabi Muhammad SAW yang memberlakukan tawanan dalam perang badar tsb…simak baik-baik tidak ada kata maen tebas saja kpd tawanan.rajam.cincang.salib.atau apapun yang semisalnya kecuali membebaskan tawanan sesuai dengan persyaratan yang bisa diterima oleh semua pihak tawanan dan bahkan kpd tawanan yg lemah/tua/papa/miskinpun Nabi Muhammad SAW memberikan kebebasan tanpa syarat/beban apapun …betapa mulianya hati beliau SAW.semoga ini jadi renungan anda • Top Posts • Sultan Shalahuddin Al Ayyubi – Pembebas Palestina dalam perang Salib • Perang Khaibar - Khaibar khaibar ya yahud jaisyu Muhammad saufa ya'ud • Kategori • Kesehatan (6) • Sahabat Rasulullah (14) • Sejarah (9) • Sirah Nabawiyah (10) • Arsip Blog Arsip Blog • Statistik Blog • 994.690 pengunjung • Komentar Anda piul pada Haji Wada’ – Haji… Novi Lusianis pada Thalhah Bin Ubaidillah, Syahid… Badr313 pada Perang Mu’tah – 30… Faruk pada Usamah Bin Zaid bin Haritsah… Tajrinashron pada Perang Khandaq (Ahzab) –… Zaid Bin Haritsah… pada Usamah Bin Zaid bin Haritsah… • Statistik Pengunjung • Email Subscription Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.
Badar, 80 batu (130 km) di barat daya Madinah Keputusan Kemenangan muktamad Muslim Pihak yang terlibat Muslim dari Madinah Quraisy dari Makkah Komandan dan pemimpin Muhammad Amru bin Hisyam † Kekuatan 313 infantri & kavalri: 2 kuda dan 70 unta 900 infantri & kavalri: 100 kuda dan 170 unta Kerugian dan korban 14 terbunuh 70 terbunuh 43-70 ditawan Badar – Bani Qainuqak – Uhud – Badar II – Banu Nadhir – Ahzab – Bani Quraizah – Hudaibiyah – Khaibar – Mu'tah – Makkah – Hunain – Autas – Ta'if – Tabuk Perang Badar ( Bahasa Arab: غزوة بدر), berlaku pada 17 Ramadan tahun Kedua Hijrah (2 H) ( 17 Mac 624 M) [1] [2] di Hijaz, di bahagian barat Semenanjung Arab (kini Arab Saudi).

Ia pertempuran penting dalam zaman awal Islam dan merupakan titik perubahan dalam perjuangan Muhammad dengan pihak lawannya di kalangan Quraisy [3] di Makkah. Pertempuran ini telah diturunkan dalam sejarah Islam sebagai kemenangan muktamad disebabkan campur tangan Ketuhanan atau kepintaran Muhammad. Walaupun ia salah satu daripada sedikit pertempuran yang disebut khusus dalam kitab suci Islam al-Qur'an, hampir kesemua pengetahuan semasa mengenai perang di Badar berasal daripada keterangan tradisional Islam, kedua-dua hadis dan sirah Muhammad, ditulis berdekad selepas pertempuran tersebut.

Sebelum pertempuran tersebut, telah berlaku beberapa pertempuran kecil antara pihak Muslim dan Makkah pada lewat tahun 623 M dan awal tahun 624, oleh sebab ghazawāt Muslim menjadi lebih kerap. Walau bagaimanapun Badar merupakan pertempuran skala besar pertama antara dua pihak ini. Selepas mara ke kedudukan pertahanan, sahabat Muhammad yang berdisiplin kuat berjaya memecahkan barisan puak Makkah dan membunuh beberapa ketua Quraisy termasuk satu daripada musuh utama Muhammad, Amru bin Hisham.

Untuk Muslim awal, pertempuran ini amat penting kerana ia merupakan tanda pertama yang menggambarkan kemungkinan jumlah tentara islam dalam perang badar adalah mereka dapat mengalahkan musuh mereka di Makkah.

Makkah pada masa itu merupakan salah satu daripada kota Jahiliyah yang paling kaya dan paling berkuasa di Semenanjung Arab, yang menghantar sepasukan tentera tiga kali lebih besar dari pihak Muslim. Kemenangan Muslim juga memberi isyarat kepada suku lain bahawa kuasa baru telah bangkit di Semenanjung Arab dan juga jumlah tentara islam dalam perang badar adalah kuasa Muhammad sebagai ketua masyarakat Madinah yang sering bertelagah sebelumnya.

Suku Arab tempatan mula memeluk Islam dan berpakat dengan Muslim dari Madinah dan dengan demikianlah perkembangan Islam bermula. Latar belakang Sebahagian daripada siri berkaitan Islam • Rukun Iman jumlah tentara islam dalam perang badar adalah Tauhid (Keesaan Tuhan) • Malaikat • Kitab • Nabi • Hari Akhirat • Qada dan Qadar • Rukun Islam • Pengakuan keimanan • Mendirikan Sembahyang • Menunaikan Zakat • Berpuasa • Melaksanakan haji • Mazhab akidah • Ahli Sunah • • Asya'irah • Maturidiyah • Salafi • Wahabi • Syiah • • Imamiyah • Ismailiyah • Zaidiyah • Muktazilah Rencana utama: Muhammad Pada masa pertempuran, Semenanjung Arab telah bersedikit didiami oleh sebilangan dari orang berpenutur Arab.

Sesetengahnya adalah Badwi; nomad kedesaan yang disusun dalam suku; sesetengahnya adalah petani yang tinggal sama ada di oasis di utara atau di kawasan yang lebih subur dan yang tebal diduduki ke selatan (kini Yaman dan Oman).

Majoriti dari Arab merupakan penganut dari berbilangan ramai agama politeistik. Terdapat juga suku yang mengikut agama Yahudi, Kristian (termasuk Nestorianisme), dan Zoroastrianisme. Muhammad dilahirkan di Makkah sekitar 570 M kepada Banū Hāshim dari suku Quraisy. Apabila baginda berumur sekitar empat puluh tahun, baginda telah menerima wahyu Ketuhanan semasa baginda bertakafur dalam gua di luar Makkah. Baginda mula berdakwah kepada saudaranya dahulu secara sembunyi dan kemudian secara terbuka.

Sambutan dari dakwah baginda menarik pengikut dan penentang yang lain. Semasa tempoh ini, Muhammad telah dilindungi oleh bapa saudaranya Abū Tālib.

Apabila jumlah tentara islam dalam perang badar adalah meninggal pada 619, kepimpinan dari Banū Hāshim telah diturunkan kepada salah satu musuh Muhammad, 'Amr ibn Hishām, [4] yang menarik balik perlindungan dan meningkatkan lagi penindasan terhadap komuniti Muslim. Pada 622, dengan tindakan keganasan terbuka yang dilakukan terhadap Muslim dari beberapa suku anggota Quraisy, Muhammad dan ramai dari pengikutnya berhijrah ke kota jiran iaitu Madinah.

Penghijrahan ini menandakan permulaan pemerintahan Muhammad sebagai ketua politik dan juga ketua keagamaan. Pertempuran Peta Perang Badar Pada musim bunga 624 M, Nabi Muhammad menerima khabar bahawa kafilah dagangan yang diketuai Abu Sufyan dan dikawal oleh 30-40 orang, telah bertolak dari Syria kembali ke Makkah. Kafilah tersebut didana dengan duit yang ditinggalkan kaum Muslimin ketika berhijrah ke Madinah.

Pihak Quraisy menjual semua barangan mereka dan menggunakan duit tersebut untuk menaja kafilah tersebut untuk mempermain-mainkan pihak Muslimin. Muhammad mengumpulkan kekuatan seramai 313 orang(82 Muhajirin dan 231 ansar), kumpulan tentera yang paling ramai yang pernah pihak Muslimin kumpulkan ketika itu. Berarak ke Badar Muhammad sendiri mengetuai tenteranya dan membawa sebanyak mungkin panglima utama, termasuklah Hamzah dan bakal Khalifah, Abu Bakar, Umar dan Ali.

Mereka juga membawa beberapa ekor unta dan tiga ekor kuda, yang bermakna mereka berjalan atau memuatkan tiga hingga empat orang setiap unta. [5] Walau bagaimanapun, kebanyakan sumber Muslim, termasuk Qur'an, menunjukkan bahawa diagak yang pertarungan kali ini tidak serius, [6] dan Uthman tinggal untuk menjaga isterinya yang sakit.

[7] Apabila kafilah menghampiri Madinah, Abu Sufyan mula mendengar dari pengembara dan musafir tentang rancangan penyerangan Muhammad. Dia menghantar seorang utusan bernama Damdam bin Amru al-Ghafari ke Makkah untuk memberi amaran kepada puak Quraisy dan mendapatkan bantuan.

Setelah mengetahuinya, pihak Quraisy mengumpulkan tentera seramai 900-1000 orang untuk menyelamatkan kafilah tersebut. Kebanyakan bangsawan Quraisy, termasuklah Amr ibn Hishām, Walid ibn Utba, Shaiba, dan Umaiyyah bin Khalaf, menyertai tentera tersebut. Sebabnya adalah pelbagai: sesetengahnya untuk melindungi bahagian harta mereka; ada pula yang ingin membalas dendam untuk Ibn al-Hadrami, pengawal yang terbunuh di Nakhlah; akhirnya, beberapa yang lain menyertai kerana menyangka mereka akan menang mudah menentang tentera Muslim.

[8] Amr ibn Hishām dikatakn telah memujuk sekurang-kurangnya seorang bangsawan, Umaiyyah bin Khalaf, menyertai ekspedisi itu. [9] Ketika itu, tentera Muhammad telah tiba di telaga iaitu tempat dicadangkan untuk menahan kafilah, di Badar, sepanjang jalan dagang Syria iaitu tepat jangkaan kafilah akan berhenti. Walau bagaimanapun, beberapa orang Muslim ditemui oleh orang dari kafilah tersebut [10] dan Abu Sufyan melencong ke Yanbu.

[11] Rancangan Muslimin “ Dan (ingatlah) ketika Allah menjanjikan kepada kamu salah satu dari dua angkatan, menjadi untuk kamu (menghadapinya), sedang kamu suka kiranya (angkatan perniagaan) bukan angkatan (perang) yang mempunyai kekuatan itu yang dijadikan untuk kamu (menghadapinya).

Padahal Allah menghendaki untuk menetapkan yang benar (agama Islam) dengan Kalimah-kalimahNya dan untuk membinasakan kaum yang kafir seluruhnya; ” — Qur'an Surah 8:7 Gambaran pelukis Iran dari 1314 tentang majlis perang yang diadakan pihak Muslim. Ketika ini, perkhabaran tiba kepada tentera Muslim tentang kedatangan tentera Makkah.

Nabi Muhammad segera menyeru majlis perang, memandangkan masih terdapat masa untuk berundur dan disebabkan kebanyakan tentera mereka adalah baru sahaja memeluk Islam (dipanggil Ansar atau "Penolong" untuk membezakan dengan Muslim Quraisy), yang cuma bersumpah untuk melindungi Madinah.

Di bawah fasa Piagam Madinah, adalah hak mereka untuk tidak berperang atau meninggalkan tentera yang lain. Walau bagaimanapun, mengikut riwayat, mereka berjanji untuk berjuang juga, dengan Sa'ad bin 'Ubada berkata, "Jika kamu [Muhammad] mengarahkan kami mencampakkan kuda jumlah tentara islam dalam perang badar adalah ke laut, nescaya kami akan lakukan." [12] Walau bagaimanapun, pihak Muslimin masih berharap utuk mengelakkan pertarungan yang sengit dan terus mara jumlah tentara islam dalam perang badar adalah Badar.

Pada 15 Mac kedua-dua angkatan tentera masih berada kira-kira sehari perjalanan dari Badar. Beberapa pahlawan Muslim (termasuk Ali menurut sesetengah sumber) yang telah menunggang di hadapan angkatan utama menangkap dua orang pembawa air Makkah di telaga Badar. Menyangkakan mereka bersama dengan kafilah perdangan, para pejuang Muslim terkejut apabila mereka mengatakan mereka bersama dengan angkatan tentera Quraisy utama.

[12] Sesetengah riwayat turut mengatakan apabila Nabi Muhammad mendengar nama semua bangsawan Quraisy yang mengiringi angkatan tersebut, baginda berseru "Makkah telah melempar kepada kamu cebisan terbaik hatinya." [13] Keeesokan harinya, baginda memerintah bergerak ke Badar dan tiba di sana sebelum angkatan Makkah. Kumpulan telaga Badar terletak di cerun landai di bahagian timur lembah bernama "Yalyal".

Bahagian baratnya pula dikelilingi oleh sebuah bukit besar bernama 'Aqanqal. Apabila tentera Muslim tiba dari timur, Nabi Muhammad pada mulanya memilih untuk berhenti di telaga pertama yang ditemuinya, tetapi baginda tampaknya kemudian diyakinkan oleh seorang askarnya untuk bergerak lagi ke barat dan menduduki telaga yang terdekat dengan tentera Quraisy. Baginda kemudian memerintahkan semua telaga lain ditimbus, supaya tentera Makkah terpaksa menyerang mereka untuk mendapatkan satu-satunya sumber air yang tinggal.

Rancangan Musyrikin Makkah “ Orang Arab akan mendengar bagaimana kita berarak dan kehebatan rombongan kita, dan mereka akan berdiri kagum dengan kita selamanya. ” — Amru bin Hisyam Tidak banyak yang diketahui tentang perkembangan tentera Quraisy sejak mereka meninggalkan kota Makkah sehingga ketibaan mereka di pinggir Badar.

Walau bagaimanapun, terdapat beberapa perkara yang berguna untuk diketahui: walaupun kebanyakan tentera Arab akan membawa isteri dan anak semasa peperangan untuk mendorong semangat dan menjaga tentera, kaum Musyrikin tidak melakukan begitu.

Juga, puak Quraisy tidak melakukan sebarang usaha untuk berpakat dengan puak Badwi yang berserakan di Hijaz. [14] Kedua-dua fakta tersebut mencadangkan bahawa pihak Quraisy kekurangan masa untuk bersiap sedia untuk peperangan tersebut dalam usaha mempertahankan kafilah mereka. Malah, dipercayai bahawa apabila mereka tahu mereka lebih ramai, mereka menjangkakan kemenangan mudah. Apabila pihak Quraisy tiba di Juhfah, di selatan Badar, mereka menerima pesanan daripada Abu Sufyan yang memberitahu mereka bahawa kafilah telah selamat di belakang mereka, dan mereka boleh pulang ke Makkah.

[15] Pada ketika ini, menurut Karen Armstrong, terdapat percanggahan antara tentera Makkah. Amr ibn Hishām mahu meneruskan juga peperangan, tetapi beberapa kabilah yang ada, termasuk Bani Zuhrah dan Bani Adi, ingin pulang.

Armstrong mencadangkan mereka memikirkan kuasa yang akan Amru bin Hisyam dapat jika memenangi Muslim. Rombongan Bani Hashim, yang berdegil untuk melawan puak mereka sendiri, juga pergi bersama mereka. [16] Walaupun dengan kekurangan tersebut, Amr ibn Hishām masih berdegil untuk berlawan, mengatakan "Kita takkan pulang sehingga kita tiba di Badar." Pada ketika ini, Abu Sufyan dan beberapa orang lain dari kafilah dagang menyertai bala tentera mereka.

[17] Hari pertarungan Pada tengah malam 17 Mac, tentera Quraisy siap berkemas dan mula bertolak ke lembah Badar. Setelah hujan pada jumlah tentara islam dalam perang badar adalah sebelumnya, mereka terpaksa bekerja lebih untuk mengalihkan kuda dan unta mereka ke bukit 'Aqanqal (sumber mengatakan matahari telah terbit apabila mereka tiba di puncak bukit).

[18] Jumlah tentara islam dalam perang badar adalah mereka turun dari 'Aqanqal, tentera Makkah mendirikan perkhemahan di lembah. Ketika mereka berehat, mereka menghantar pengintip, Umayr ibn Wahb untuk melihat barisan tentera Muslim. Umayr melaporkan yang tentera Muhammad adalah kecil bilangannya, dan tiada pasukan Muslim lain yang akan menyertai peperangan itu.

[19] Walau bagaimanapun, dia juga meramalkan kecederaan teruk pada tentera Quraisy dalam serangan itu nanti (satu hadis merujuk dia melihat "unta-unta [Madinah] sarat dengan kematian").

[20] Ini kemudiannya meruntuhkan semangat puak Quraish, kerana peperangan orang Arab lazimnya tidak begitu mencederakan hingga parah. Ini menyebabkan satu lagi pertengkaran antara pemimpin Quraisy. Pertempuran bermula dengan perwira kedua tentera bersemuka untuk bertarung.

Tiga orang Ansar muncul dari barisan Muslim, tetapi ditolak Musyrikin Makkah, yang tidak mahu memulakan persengketaan tidak perlu dan cuma mahu berlawan dengan Muhajirin Makkah. Lalu keluarlah Ali, Ubaidah dan Hamzah. Mereka berjaya menewaskan wakil Quraisy dalam perlawanan tiga-lawan-tiga, walaupun Ubaidah cedera membawa maut.

[21] Kini, kedua-dua pihak memulakan serangan panah terhadap satu sama lain. Dua orang Musilm dan beberapa orang Quraisy telah terbunuh. Sebelum serangan bermula, Muhammad telah mengeluarkan arahan kepada tentera Muslim untuk menyerang dengan senjata jarak jauh, dan hanya berhadapan dengan tentera Quraisy dengan senjata tangan apabila mereka mara.

[22] Kini, baginda mengarahkan untuk menyerang, dengan membaling segenggam batu kerikil kepada tentera Makkah yang mungkin perlakuan lazim orang Arab sembil meneriak "Cacatlah muka itu!" [23] [24] Tentera Muslim turut menjerit (يا منصور أمت!) "Yā manṣūr amit!" [25] dan mara ke barisan tentera Quraisy. Ketegangan serangan pihak Muslim boleh dilihat dalam beberapa ayat Qur'an, yang merujuk ribuan malaikat turun dari langit ke Badar untuk mengalahkan Quraisy.

[24] [26] Harus diperhatikan yang sumber awal Islam mengambilnya secara harfiah, dan terdapat beberapa hadis yang baginda Nabi Muhammad membincangkan Malaikat Jibril dan peranannya dalam peperangan itu. Bagi pihak Musyrikin Makkah, kekurangan kekuatan dan tidak bersemangat untuk berperang menyebabkan mereka berpecah dan bertempiaran lari.

Peperangan hanya berlangsung selama beberapa jam dan tamat menjelang awal tengah hari. [23] Selepas pertempuran Korban dan tawanan perang Imam al-Bukhari menyenaraikan kerugian Quraisy seramai 70 terbunuh dan 70 orang menjadi tawanan. [27] Jumlah ini merupakan 15%–16% kekuatan tentera Quraisy. Sayidina Ali sahaja menewaskan 18 orang yang maut. [28] Korban Muslim sering kali dinyatakn sebagai 14 orang syahid, lebih kurang 4% kekuatan mereka.

[24] Sumber-sumber tidak menyatakan jumlah yang tercedera kedua belah pihak. Sewaktu pertempuran, pihak Muslim menawan beberapa orang Quraisy. Nasib mereka mencetuskan kontroversi di kalangan tentera Islam. [29] Kerisauan awal adalah kemungkinan tentera Makkah berkumpul semula dan menyerang; tentera Islam tidak mampu menugaskan pejuangnya untuk mengawal tawanan perang. Sa'eed and Sayidina Umar cenderung membunuh para tawanan akan tetapi Sayidina Abu Bakar berhujah agar mereka dilepaskan daripada hukuman bunuh.

Nabi Muhammad akhirnya memilih pandangan Abu Bakar dan kebanyakan tawanan dibiarkan hidup dengan harapan mereka memeluk Islam (malah, ada yang melakukan sedemikian). [30] Sejurus sebelum baginda meninggalkan Badr, Nabi juga memerintahkan agar lebih 20 orang Quraisy yang terbunuh ditanam di dalam telaga di Badr. [31] Beberapa hadis merujuk kepada perbuatan ini yang dikatakan mendatangkan kemarahan orang Quraisy Makkah. Tidak lama kemudian, beberapa orang Muslim yang ditawan sekutu Quraisy di bawa ke Makkah dan dibunuh sebagai balas dendam terhadap kekalahan.

Mengikut lunas-lunas kesumat berdarah tradisi Arab, mana-mana orang Makkah yang kehilangan ahli keluarga mereka di Badar seharusnya membalas dendam terhadap anggota puak yang membunuh saudara mereka. Di pihak Muslim, juga terdapat keinginan membalas dendam di atas kezaliman yang dilakukan terhadap mereka selama bertahun-tahun.

Namun, selepas pertempuran, tawanan perang ditumpangkan dengan keluarga orang Islam dan diberi layanan baik. Kesan Peperangan Badar sangat berpengaruh dalam kenaikan dua individu yang dalam sejarah Arabia. Individu pertama ialah Nabi Muhammad, yang bertukar daripada seorang dalam buangan kepada seorang pemimpin. Marshall Hodgson menambah bahawa Badar memaksa orang Arab lain "menganggap orang Islam sebagai pencabar dan mungkin pewaris martabat dan peranan politik Quraisy." Sejenak selepas Badar, Nabi Muhammad mengusir Banu Qaynuqa, satu daripada suku Yahudi yang melanggar syarat-syarat perjanjian dengan orang Islam kerana menggunakan kekerasan terhadap seorang wanita Muslim.

Suku ini juga mengancam kedudukan politik baginda. Pada masa yang sama kedudukan Abdullah bin Ubayy, musuh utama Nabi Muhammad menjadi lemah, dan semenjak Badar hanya mampu membuat cabaran kecil-kecilan terhadap Nabi.

[32] Orang kedua yang meraih manfaat daripada Perang Badar ialah Abu Sufyan. Kematian Amru bin Hisyam, dan beberapa pembesar Quraisy lain [33] memberi peluang, dengan cara hampir automatik, kepada Abu Sufyan menjadi ketua Quraisy. Ekoran itu, Abu Sufyan menjadi perunding utama bagi pihak Quraisy apabila Nabi Muhammad membuka Makkah enam tahun kemudian.

Abu Sufyan kemudiannya menjadi pegawai tinggi dalam Empayar Islam dan anaknya Muawiyyah menjadi pengasas Kekhalifahan Umayyah. Pada hari-hari kemudian, penglibatan sebagai pejuang di Badar menjadi penting sehinggakan Ibn Ishaq memuatkan senarai nama pejuang satu persatu dalam karya sirahnya. Nama syahid Badar terdapat dalam banyak hadis, dan mereka juga mungkin mendapat gaji [34] Veteran Badar terakhir meninggal dunia dalam Perang saudara Islam Pertama [35] Seperti diringkaskan Paul K.

Davis, "Kemenangan Mohammed mengesahkan kuasanya sebagai ketua Islam; dengan menarik hati suku-suku Arab yang menyertai beliau, bermulalah pengembangan Islam." [36] Sumber sejarah Kebanyakan maklumat tentang Perang Badar datang sama ada kisah tradisional Islam, al-Qur'an atau Hadis.

Dalam alam bahasa Inggeris, tidak diketahui sama ada terdapat rekod bertulis selain daripada kisah tradisional Islam kerana pada masa itu di Hijaz, bahasa Arab merupakan bahasa lisan dan kebanyakan rekod dalam bentuk perceritaan lisan. Badar dalam Al-Qur'an Perang Badar adalah salah satu peperangan dengan jelas ditunjukkan dalam Qur'an.

Ia dihuraikan dalam Surah Al-i-'Imran (3:123), sebagai sebahagian daripada perbandingan dengan Perang Uhud. “Dan sesungguhnya Allah telah menolong kamu mencapai kemenangan dalam peperangan Badar, sedang kamu berkeadaan lemah (kerana kamu sedikit bilangannya dan kekurangan alat perang).

Oleh itu bertaqwalah kamu kepada Allah, supaya kamu bersyukur (akan kemenangan itu). (Ingatlah wahai Muhammad) ketika engkau berkata kepada orang-orang yang beriman (untuk menguatkan semangat mereka): "Tidakkah cukup bagi kamu, bahawa Allah membantu kamu dengan tiga ribu tentera dari malaikat yang diturunkan?," Bahkan (mencukupi.

Dalam pada itu) jika kamu bersabar dan bertaqwa, dan mereka (musuh) datang menyerang kamu dengan serta-merta, nescaya Allah membantu kamu dengan lima ribu malaikat yang bertanda masing-masing.” [ al-Quran 3:123-125 ( Basmeih)] Di Badar, tentera Islam menunjukkan disiplin tinggi, semetara di Uhud, mereka meninggalkan barisan dan mengejar pasukan Quraisy dang dengan itu membenarkan pasukan berkuda Makkah bergerak melalui rusuk dan hampir mengalahkan mereka.

Perang Badar juga digunakan sebagai satu Tanda pertolongan dan Pengajaran Allah dalam Surah yang sama: “Sesungguhnya telah ada satu tanda (bukti) bagi kamu pada (peristiwa) dua pasukan yang telah bertemu (di medan perang); satu pasukan (orang-orang Islam) berperang pada jalan Allah (kerana mempertahankan ugama Allah), dan yang satu lagi dari golongan kafir musyrik.

Mereka (yang kafir itu) melihat orang-orang Islam dengan pandangan mata biasa - dua kali ramainya berbanding dengan mereka sendiri. Dan Allah sentiasa menguatkan sesiapa yang dikehendakiNya, dengan memberikan pertolonganNya. Sesungguhnya pada peristiwa itu terdapat satu pengajaran yang memberi insaf bagi orang-orang yang berfikiran (yang celik mata hatinya).” [ al-Quran 3:13 ( Basmeih)] Badar juga menjadi tajuk Surah Al-Anfal, yang memperincikan pelaksaan serta kelakuan dalam peperangan.

'Al-Anfal' bermaksud harta rampasan perang dan merujuk kepada perbincangan orang Islam pasca-pertempuran tentang bagaimana mahu membahagikan harta rampasan perang. Mahupun Surah Al-Anfal tidak menamakan Badar, ia memerikan beberapa pertempuran dalamnya dan beberapa Ayatnya dari atau diWahyukan sejurus selepas Perang. [37] Hukuman bunuh Selepas pertempuran Nabi Muhammad menerima Perintah bagaimana membahagikan harta rampasan perang, dan mengikut penulis Sirah, Saifur Rahman al Mubarakpuri, satu Ayat juga memerintahkan hukuman bunuh ke atas Nadr bin Harith, pembawa panji-panji Quraisy dalam Perang Badar.

Dilaporakan Nadr bin Harith menjalani hukuman bunuh di tangan Sayidina Ali. [38] Buku yang sama juga menyatakan Uqba bin Abu Muayt juga dihukum bunuh dan dia dipancung oleh Asim Bin Thabit Ansari (beberapa sumber menyatakan hukuman dilaksanakan Sayidina Ali). [39] Zaman moden 'Badar' sudah menjadi popular di kalangan angkatan tentera dan pertubuhan separa tentera Islam moden. Operasi Badr menjadi nama operasi Mesir menentang Israel dalam Peperangan Yom Kippur dan juga gerakan Pakistan dalam operasi dalam Perang Kargil dalam tahun 1999.

Dalam perang Iran-Iraq, tentera Iran juga menggunakan nama Badar dalam operasinya. Dan semasa Perang saudara Libya pada tahun 2011, para pemimpin pasukan pemberontak menyatakan bahawa mereka memilih hari serangan ke atas Tripoli sebagai 20 Ramadan, sempena hari Perang Badar.

[40] Perang Badar juga ditayangkan dalam filem The Message, dan filem animasi tahun 2004, Muhammad: The Last Prophet. Lihat juga • Perang Uhud • Jihad • Nabi Muhammad sebagai jeneral • Jurisprudens ketenteraan Islam Nota • ^ Abdul Latip Talib (2010). Perang Badar. Selangor: PTS Litera Utama.

ISBN 9789833892921. -access-date= requires -url= ( bantuan) • ^ Siti Ainiza Kamsari (29/12/2010). "Perang Badar tidak pernah dirancang". Bicara Agama.

Utusan Malaysia Online. Dicapai pada 13 Mac 2012. Check date values in: -date= ( bantuan) [ pautan mati kekal] • ^ Quraisy merujuk kepada suku yang mengawal Makkah. Istilah "Quraisyi" dan "penduduk Makkah" digunakan secara ditukar ganti antara Hijrah pada 622 M dan Pembukaan Makkah oleh Muslim pada 630.

• ^ Kebencian ramai Muslim yang ada terhadap Hishām boleh dilihat pada nama samarannya, " Abū Jahal" (Bapa Kejahilan), iaitu bagaimana majoriti Muslim mengetahuinya kini. • ^ Lings, pp. 138-139 • ^ "Sahih al-Bukhari: Volume 5, Jumlah tentara islam dalam perang badar adalah 59, Number 287".

Diarkibkan daripada yang asal pada 2006-02-12. Dicapai pada 2008-02-12. • ^ Sahih al-Bukhari: Volume 4, Book 53, Number 359 • ^ Martin Lings, p. 139-140.

• ^ "Sahih al-Bukhari: Volume 5, Book 59, Number 286". Diarkibkan daripada yang asal pada 2006-02-12. Dicapai pada 2008-02-12. • ^ Ibn Ishaq mengatakan Abu Sufyan sendiri menunggang ke hadapan untuk meninjau kawasan itu dan mengesan peninjau Muslim melalui biji kurma dalam tahi unta mereka • ^ Martin Lings, p.

140 • ^ a b "Sahih Muslim: Book 19, Number 4394". Diarkibkan daripada yang asal pada 2008-05-09. Dicapai pada 2008-02-12. • ^ Jumlah tentara islam dalam perang badar adalah Lings, p. 142 • ^ Lings, p. 154. • ^ Lings, p. 142. • ^ Armstrong, p. 174 • ^ Lings, pp. 142-143. • ^ Armstrong, p. 175. • ^ Lings, pp. 143-144. • ^ Armstrong, pp. 174-175. • ^ "Sunan Abu Dawud: Book 14, Number 2659".

Diarkibkan daripada yang asal pada 2011-02-10. Dicapai pada 2008-02-12. • ^ "Sunan Abu Dawud: Book 14, Number 2658". Diarkibkan daripada yang asal pada 2011-02-10. Dicapai pada 2008-02-12. • ^ a b Armstrong, p. 176. • ^ a b c Lings, p. 148. • ^ "O thou whom God hath made victorious, slay!" • ^ Qur'an: Surah 3:123-125. "[123] Dan sesungguhnya Allah telah menolong kamu mencapai kemenangan dalam peperangan Badar, sedang kamu berkeadaan lemah (kerana kamu sedikit bilangannya dan kekurangan alat perang).

Oleh itu bertakwalah kamu kepada Allah, supaya kamu bersyukur (akan kemenangan itu). [124] (Ingatlah wahai Muhammad) ketika engkau berkata kepada orang-orang yang beriman (untuk menguatkan semangat mereka): Tidakkah cukup bagi kamu, bahawa Allah membantu kamu dengan tiga ribu tentera dari malaikat yang diturunkan?.

[125] Bahkan (mencukupi. Dalam pada itu) jika kamu bersabar dan bertakwa dan mereka (musuh) datang menyerang kamu dengan serta-merta, nescaya Allah membantu kamu dengan lima ribu malaikat yang bertanda masing-masing." • ^ Imam al-Bukhari Sahih Bukhari Jilid 4, Buku 52, Hadis No 276 • ^ Sword of Allah, Lieutenant-General A.I. Akram, Ch.3 pp. 1 • ^ Qur'an:Surah 8:67–69. "[67] Tidaklah patut bagi seseorang Nabi mempunyai orang-orang tawanan sebelum ia dapat membunuh sebanyak-banyaknya di muka bumi.

Kamu menghendaki harta benda dunia (yang tidak kekal), sedang Allah menghendaki (untuk kamu pahala) akhirat. Dan (ingatlah), Allah Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana. [68]Kalaulah tidak (kerana) adanya ketetapan dari Allah yang telah terdahulu, tentulah kamu ditimpa azab seksa yang besar disebabkan (penebus diri) yang kamu ambil (dari orang-orang tawanan) itu.

[69] Maka makanlah dari apa yang kamu telah dapat (dalam peperangan) itu, sebagai benda yang halal lagi baik, serta bertaqwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani". • ^ Lings, pp. 149–151 • ^ Imam Muslim, Sahih Muslim, Buku 040, Hadis No 6870 • ^ Hodgson, pp.

176–178. • ^ termasuk Abu Lahab yang sudah tua, yang tidak hadir di Badar tetapi meninggal dunia beberapa hari selepas kepulangan tentera Makkah. • ^ Imam al-Bukhari Sahih Bukhari Jilid 5, Buku 59, Nombor 357 • ^ Imam al-Bukhari Sahih Bukhari Jilid 5, Buku 59, Nombor 358.

• ^ Paul K. Davis, 100 Decisive Battles from Ancient Times to the Present: The World’s Major Battles and How They Shaped History (Oxford: Oxford University Press, 1999), 95–96. • ^ Imam al-Naisaburi Reasons of Revelation of the Noble Quran terjemahan Bahasa Inggeris oleh Aiman Saleh Sha'aban dan Muhammad Ismail, Dakwah Corner Bookstore, Kuala Lumpur, 2010 ms 335 ISBN 978-983-44626-9-7 • ^ Sealed Nectar, Page 274 • ^ Saifur Rahman Al-Mubarakpuri, 2002, DarusSalam Publishing,page 157 • ^ Laub, Karin (21 August 2011).

"Libyan Rebels Say They Are Closing In on Jumlah tentara islam dalam perang badar adalah. Associated Press (via The Atlanta Journal-Constitution). Retrieved 21 August 2011. Rujukan Buku dan artikel • Ali, Abdullah Yusuf (1987). The Holy Qur'an: Text, Translation & Commentary. Tahrike Tarsile Qur'an; Reissue edition. ISBN 0-940368-32-3. • Armstrong, Karen (1992). Muhmmad: Biography of the Prophet. HarperCollins.

ISBN 0-06-250886-5. • Crone, Patricia (1987). Meccan Trade and the Rise of Islam. Blackwell. • Hodgson, Marshall (1974). The Venture of Islam: The Classical Age of Islam. University of Chicago Press. ISBN 0-226-34683-8.

• Lings, Martin (1983). Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources. Inner Traditions International. ISBN 0-89281-170-6. • Nicolle, David (1993). Armies of the Muslim Conquest. Osprey Publishing. ISBN 1-85532-279-X. • Watt, W. Montgomery (1956). Muhammad at Medina. Oxford University Press. Web • "Translation of Sahih Bukhari". Translation by M Muhsin Khan. Laman Universiti Islam Antarabangsa Malaysia. Dicapai pada Ogos 2012. Cite has empty unknown parameter: -1= ( bantuan); Check date values in: -accessdate= ( bantuan) • "Translation of Sahih Muslim".

Translation by Abdul Hamid Siddiqui. Laman Universiti Islam Antarabangsa Malaysia. Dicapai pada Ogos 2012. Cite has empty unknown parameter: -1= ( bantuan); Check date values in: -accessdate= ( bantuan) • "Translation Of Malik's Muwatta".

Translation by A'isha Abdarahman at-Tarjumana and Ya'qub Johnson. Laman Universiti Islam Antarabangsa Malaysia. Dicapai pada Ogos 2012. Cite has empty unknown parameter: -1= ( bantuan); Check date values in: -accessdate= ( bantuan) • "Partial Translation of Sunan Abu-Dawud". Prof Ahmad Hasan. Laman Universiti Islam Antarabangsa Malaysia. Dicapai pada Ogos 2012. Cite has empty unknown parameter: -1= ( bantuan); Check date values in: -accessdate= ( bantuan) Pautan luar Wikiquote mempunyai koleksi petikan mengenai: Perang Badar Wikisource mempunyai teks asal berkaitan rencana ini: The Holy Qur'an/Al-Anfal • Manaqib Ashab al-Badriyyin Diarkibkan 2010-01-07 di Wayback Machine A prayer citing the virtues and exploits of the Muslims who took part in the battle.

• Badr at IslamAnswers.Net • The Battle of Badr at Al-Islam.Org • The first battle of Islam at Badr: Islamic Occasions Network • Hope Springs Eternal Diarkibkan 2008-02-01 di Wayback Machine A nice multimedia presentation at IslamOnline.Net • MSN Virtual Earth: A modern-day satellite image of Badr, now called "Badr Hunayn". • Tafsir (Sura 8: verse 11 to 18) - Battle of Badr: Analysis of Qur'anic verses by Irshaad Hussain. 23°44′N 38°46′E  /  23.733°N 38.767°E  / 23.733; 38.767 Kategori-kategori tersembunyi: • CS1 errors: dates • Semua rencana dengan pautan luar mati • Rencana dengan pautan luar mati dari Oktober 2021 • Rencana dengan pautan luar mati kekal • Laman menggunakan pautan ajaib ISBN • Halaman menggunakan kotak info dengan imej lakaran kenit • Rencana yang mengandungi teks bahasa Arab • CS1 errors: empty unknown parameters • Pautan wayback templat webarchive • Acèh • العربية • Asturianu • Авар • Azərbaycanca • تۆرکجه • Bahasa Indonesia • বাংলা • Башҡортса • Беларуская • Bosanski • Български • Català • Čeština • Deutsch • English • Español • Esperanto • Euskara • فارسی • Français • 한국어 • Hausa • हिन्दी • Italiano • עברית • Jawa • ქართული • Қазақша • Lietuvių • Magyar • Македонски • മലയാളം • مازِرونی • Nederlands • 日本語 • ߒߞߏ • Нохчийн • Norsk bokmål • Occitan • Oʻzbekcha/ўзбекча • پنجابی • پښتو • Polski • Português • Română • Русский • Scots • Shqip • Simple English • سنڌي • کوردی • Српски / srpski • Srpskohrvatski / српскохрватски • Suomi • Svenska • தமிழ் • Татарча/tatarça • ไทย • Tiếng Việt • Тоҷикӣ • Türkçe • Українська • اردو • 吴语 • 粵語 • 中文 Sunting pautan • Laman ini kali terakhir disunting pada 10:56, 2 Februari 2022.

• Teks disediakan dengan Lesen Creative Commons Pengiktirafan/Perkongsian Serupa; terma tambahan mungkin digunakan. Lihat Terma Penggunaan untuk butiran lanjut. • Dasar privasi • Perihal Wikipedia • Penafian • Paparan mudah alih • Pembangun • Statistik • Kenyataan kuki • •
Kajian Tafsir Surah Ali Imran ayat 13. Salah seorang ulama mengatakan berdasarkan kepada apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, bahwa orang-orang musyrik dalam Perang Badar melihat pasukan kaum muslim berjumlah dua kali lipat pasukan mereka menurut pandangan mata mereka.

Dengan kata lain, Allah-lah yang menjadikan demikian, sehingga tampak di mata mereka jumlah pasukan kaum muslim dua kali lipat jumlah pasukan kaum musyrik. Hal inilah yang menjadi penyebab bagi kemenangan pasukan kaum muslim atas mereka. Hal ini tidaklah aneh bila dipandang dari segi kenyataan.

Kaum musyrik sebelum terjadi perang mengirimkan Umar ibnu Sa’id untuk memata-matai pasukan kaum muslim. Lalu Umar ibnu Sa’id kembali kepada mereka membawa berita bahwa jumlah pasukan kaum muslim terdiri atas kurang lebih tiga ratus orang; dan memang demikianlah kenyataannya, mereka berjumlah tiga ratus lebih belasan orang.

Kemudian ketika perang terjadi, Allah membantu kaum muslim dengan seribu malaikat yang terdiri atas para penghulu dan pemimpin malaikat.

Pendapat yang kedua mengatakan bahwa makna yang terkandung di dalam firman-Nya: yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) pasukan kaum musyrik dua kali jumlah mereka. (Ali Imran: 13) Yakni pasukan kaum muslim melihat jumlah pasukan kaum musyrik dua kali lipat jumlah mereka.

Tetapi sekalipun demikian, Allah memenangkan pasukan kaum muslim atas pasukan jumlah tentara islam dalam perang badar adalah musyrik yang jumlahnya dua kali lipat itu. Pengertian ini pun tidak aneh bila dipandang dari apa yang telah diriwayatkan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, bahwa kaum mukmin dalam Perang Badar berjumlah tiga ratus tiga belas orang, sedangkan pasukan kaum musyrik terdiri atas enam ratus dua puluh enam orang.

Seakan-akan pendapat ini disimpulkan dari makna lahiriah ayat. Tetapi pendapat ini bertentangan dengan pendapat yang terkenal di kalangan ahli tarikh dan ahli sejarah, serta bertentangan dengan pendapat yang dikenal di kalangan jumhur ulama yang mengatakan bahwa kaum musyrik terdiri atas antara sembilan ratus sampai seribu orang, seperti yang diriwayatkan oleh Muhammad ibnu Ishaq dari Yazid ibnu Rauman, dari Urwah ibnuz Zubair: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم، لما سَأَلَ ذَلِكَ الْعَبْدَ الْأَسْوَدَ لِبَنِي الْحَجَّاجِ عَنْ عدة قريش قال: كَثِيرٌ، قَالَ كَمْ يَنْحَرُونَ كُلَّ يَوْمٍ ؟ قَالَ: يَوْمًا تِسْعًا وَيَوْمًا عَشْرًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقَوْمُ مَا بَيْنَ التِّسْعِمِائَةِ إِلَى الْأَلْفِ Bahwa Rasulullah ﷺ ketika menanyakan kepada seorang budak hitam milik Banil Hajaj tentang bilangan pasukan Quraisy, maka budak itu menjawab bahwa jumlah mereka banyak.

Nabi ï·º bertanya, Berapa ekor untakah yang mereka sembelih setiap harinya? Budak itu menjawab, Terkadang sembilan dan terkadang sepuluh ekor tiap harinya.

Nabi ï·º bersabda, (Kalau demikian jumlah) kaum antara sembilan ratus sampai seribu orang personel. Abu Ishaq As-Subai’i meriwayatkan dari seorang budak wanita, dari Ali radiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa jumlah mereka seribu orang.

Hal yang sama dikatakan oleh Ibnu Mas’ud. Menurut pendapat yang terkenal, jumlah pasukan kaum Quraisy adalah antara sembilan ratus sampai seribu orang. Pada garis besarnya jumlah pasukan kaum Quraisy tiga kali lipat jumlah pasukan kaum muslim. Atas dasar ini, maka pendapat mengenai masalah ini cukup sulit untuk dicerna.

Akan tetapi, Ibnu Jarir menguatkan pendapat ini (yang mengatakan seribu orang) dan menganggapnya sebagai pendapat yang sahih. Alasannya ialah seperti dikatakan, Aku mempunyai seribu dinar dan aku memerlukan dua kali lipat. Dengan demikian, berarti ia memerlukan tiga ribu dinar.

jumlah tentara islam dalam perang badar adalah

Demikianlah menurut alasan yang dikemukakan oleh Ibnu Jarir; dan berdasarkan pengertian ini, maka mengenai masalah ini tidak ada kesulitan lagi. Akan tetapi, masih ada satu pertanyaan lagi yang jawabannya ada dua pendapat. Yaitu bagaimanakah cara menggabungkan pengertian yang terkandung di dalam ayat ini dengan firman Allah Subhaanahu wa Ta’aala sehubungan dengan Perang Badar, yaitu:  وَإِذْ يُرِيكُمُوهُمْ إِذِ الْتَقَيْتُمْ فِي أَعْيُنِكُمْ قَلِيلًا وَيُقَلِّلُكُمْ فِي أَعْيُنِهِمْ لِيَقْضِيَ اللَّهُ أَمْراً كانَ مَفْعُولًا Dan ketika Allah menampakkan mereka kepada kalian, ketika kalian berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit pada penglihatan mata kalian dan kalian ditampakkan-Nya berjumlah sedikit pada penglihatan mata mereka, karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan.

(Al-Anfal: 44), hingga akhir ayat. Sebagai jawabannya dapat dikatakan bahwa hal yang disebutkan dalam ayat ini mengisahkan suatu keadaan, sedangkan yang ada di dalam ayat di atas menceritakan keadaan yang lain. Seperti apa yang dikatakan jumlah tentara islam dalam perang badar adalah As-Saddi, dari At-Tayyib, dari Ibnu Mas’ud sehubungan dengan firman-Nya: Sesungguhnya telah ada tanda bagi kalian pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur).

(Ali Imran: 13), hingga akhir ayat. Ini adalah dalam Perang Badar. Abdullah ibnu Mas’ud mengatakan, Kami pandang pasukan kaum musyrik dan ternyata kami lihat jumlah mereka berkali-kali lipat jumlah pasukan kami.

Kemudian dalam kesempatan yang lain kami pandang mereka, maka ternyata kami melihat mereka tidak lebih banyak dari pasukan kami, sekalipun hanya seorang. Yang demikian itulah yang disebutkan di dalam firman-Nya: وَإِذْ يُرِيكُمُوهُمْ إِذِ الْتَقَيْتُمْ فِي أَعْيُنِكُمْ قَلِيلا وَيُقَلِّلُكُمْ فِي أَعْيُنِهِمْ لِيَقْضِيَ اللَّهُ أَمْرًا كَانَ مَفْعُولا Dan ketika Allah menampakkan mereka kepada kalian, ketika kalian berjumpa dengan mereka  berjumlah sedikit pada penglihatan mata kalian dan kalian ditampakkan-Nya berjumlah sedikit pada penglihatan mereka.

(Al-Anfal: 44), hingga akhir ayat. Abu Ishaq meriwayatkan dari Abu Abdah, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang mengatakan, Sesungguhnya mereka ditampakkan di mata kami berjumlah sedikit, sehingga aku berkata kepada seorang lelaki yang ada di sebelahku, ‘Kamu lihat jumlah mereka ada tujuh puluh orang bukan?’ Ia menjawab, ‘Menurutku jumlah mereka ada seratus orang’.

Ibnu Mas’ud melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia menawan seseorang dari mereka, ketika ia menanyakan kepadanya, Berapakah jumlah kalian? Orang yang ditawan itu menjawabnya, Seribu orang.

Ketika masing-masing pihak berhadap-hadapan, maka pasukan kaum muslim melihat jumlah pasukan kaum musyrik dua kali lipat jumlah mereka. Dijadikan demikian oleh Allah agar kaum muslim bertawakal, berserah diri, dan meminta pertolongan kepada Tuhan-nya. Sedangkan pasukan kaum musyrik melihat pasukan kaum muslim demikian pula, agar timbul rasa takut dan hati yang kecut di kalangan mereka, dan mental mereka beserta semangat tempurnya jatuh.

Setelah kedua pasukan terlibat di dalam pertempuran, maka Allah membuat pasukan kaum muslim memandang sedikit jumlah pasukan kaum musyrik. Begitu pula sebaliknya, pasukan kaum musyrik memandang sedikit jumlah pasukan kaum muslim, agar masing-masing pihak maju dengan penuh semangat untuk menghancurkan pihak lainnya. Seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya: karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan.

(Al-Anfal: 44) Daftar isi: Kajian Tafsir Al-Qur’an Juz Ke-3 Yakni untuk membedakan antara yang hak dan yang batil, lalu menanglah kalimat iman atas kalimat kekufuran dan kezaliman. Allah memenangkan pasukan kaum muslim dan mengalahkan pasukan kaum kafir, seperti yang disebutkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala di dalam firman-Nya: وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ Sungguh Allah telah menolong kalian dalam peperangan Badar, padahal kalian adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah.

(Ali Imran: 123) Sedangkan dalam ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan melalui firman-Nya: وَاللَّهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِ مَنْ يَشاءُ إِنَّ فِي ذلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصارِ Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.

(Ali Imran: 13) Berikutnya: Dijadikan Indah dalam Pandangan Manusia Yakni sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terkandung pelajaran jumlah tentara islam dalam perang badar adalah orang yang mempunyai mata hati dan pemahaman, lalu hal ini ia jadikan sebagai petunjuk yang memperlihatkan kepadanya akan ketetapan Allah dan perbuatan-perbuatan-Nya serta takdir-Nya yang berlangsung ketika Dia menolong hamba-hamba-Nya yang beriman dalam kehidupan di dunia ini, juga pada hari di saat itu semua saksi bangkit mempersaksikan.

Hanya Allah Yang Maha mengetahui dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Dikutif dari: Tafsir Ibnu Katsir Kecilnyaaku.com Artikel Terbaru • Bermu’amalah dengan Baik kepada Istri yang Ditalak • Janganlah Jadikan Hukum-hukum Allah Sebagai Permainan • Menikah Lagi dengan Calon Suaminya • Hukum-hukum yang Terkait dengan Penyusuan • Terkait dengan Penyusuan dan Nafkah • Hukum-hukum yang Terkait dengan ‘iddah • Meminang Wanita dengan Sindiran

LENGKAP NAMA SAHABAT DALAM PEPERANGAN BADAR




2022 www.videocon.com