Perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan

perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan

“Selama saya kuliah di UPH, saya diberikan kesempatan untuk mengikuti beberapa kompetisi matematika di luar kampus. Hal ini memberikan pengalaman yang berharga untuk saya. Selain itu, saya juga merasakan keakraban dan kebersamaan lintas angkatan yang tinggi dengan teman-teman satu jurusan, bahkan satu fakultas.” KISAH INSPIRATIF – PANJI WIDIARDA RABOWO, CORPORATE ACTUARY YANG BEKERJA DENGAN INTEGRITAS DAN PROFESIONALISME Kecintaannya pada bidang matematika membawa pria dengan nama lengkap Panji Widiarda Rabowo, alumni jurusan Matematika UPH angkatan 2009, menjadi salah satu dari segelintir Corporate Actuary di PT Tugu Reasuransi Indonesia.

Sebagai satu-satunya aktuaris yang memiliki gelar FSAI atau kualifikasi seorang aktuaris, Panji – sebagaimana ia disapa, mengakui bahwa tanggung jawab yang diembannya sebagai aktuaris tidak mudah. Tugasnya termasuk pada menjaga dan meningkatkan kualitas data, melakukan perhitungan cadangan teknis, dan menyusun sekaligus menandatangani Laporan Aktuaris tahunan. “Tugas aktuaris sebenarnya sangat penting. Dalam hal kualitas data, saya harus memastikan kualitasnya baik dan semakin baik agar keputusan yang diambil manajemen berdampak baik pada profitabilitas dan solvabilitas perusahaan.

Dan dalam perhitungan cadangan teknis juga penting, karena besarnya cadangan teknis yang dihitung oleh aktuaris akan mempengaruhi profit perusahaan saat ini dan kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban klaim di masa yang akan datang,” jelas Panji.

Dalam menjalani kariernya sebagai seorang aktuaris, Panji mengakui bahwa banyak tantangan yang harus dilaluinya. Pertama, ia harus mampu menjaga profesionalitas dan etika profesi. Hasil kerja aktuaris yang terkadang tidak sesuai dengan keinginan manajemen perusahaan, baik itu berupa hasil perhitungan maupun saran, mengharuskan Panji untuk harus mampu menjaga konsistensi hasil pekerjaannya serta mampu meyakinkan perusahaan bahwa hasil tersebut sudah tepat dan adalah demi kebaikan perusahaan.

Kedua, penyesuaian teori dengan aplikasi industri reasuransi. Perbedaan teori dan metode yang ada untuk bisnis asuransi dan reasuransi sering kali tidak dapat langsung diaplikasikan.

Maka dari itu, tak jarang Panji harus menyesuaikan dahulu teori dengan bisnis sebenarnya. Panji merasa beruntung mendapat kesempatan untuk menjalani pendidikannya di UPH, terutama dengan mata kuliah Matematika Keuangan, Matematika Aktuaria, dan Teori Risiko yang disesuaikan dengan mata ujian PAI sehingga ia dapat mempelajari dan menyelesaikan 10 mata ujian PAI dengan lebih cepat.

Ilmu yang didapatkannya dari UPH, ditambah dengan profesionalitas yang diterapkannya dalam pekerjaan, ia percaya bahwa semua fasilitas yang didapatkannya ini membantu mendorong kariernya dalam bidang aktuaria. “Selama saya kuliah di UPH, kebetulan saya diberikan kesempatan untuk mengikuti beberapa kompetisi matematika di luar kampus, baik tingkat propinsi maupun tingkat nasional. Hal ini memberikan pengalaman yang berharga untuk saya dan teman-teman yang mengikuti kompetisi itu.

Selain itu, saya juga merasakan keakraban dan kebersamaan lintas angkatan yang tinggi dengan teman-teman satu jurusan, bahkan satu fakultas,” tutup Panji dengan senyuman.

“Pendidikan sangat penting dalam pekerjaan, namun bukan melulu soal teori, bukan soal ujian dan lain sebagainya. Dalam dunia pendidikan, ada banyak hal yang diperoleh. Skill presentasi, komunikasi dan berelasi dengan rekan studi, jadi bukan semata-mata hanya yang di atas kertas adalah segalanya,” ungkap Noel Immanuel, alumni UPH jurusan Biologi angkatan 2012.

Noel saat ini tengah meniti karier di perusahaan Kalbe Farma sebagai Microbiologist di Dept. R&D Analytical Development. Disini, Noel bertanggung jawab untuk bekerja sama dengan rekan kerja satu tim dalam melakukan pengembangan produk baru Kalbe Farma, khususnya obat dan suplemen kesehatan. Terlibat dalam bidang Research and Development membuat Noel berperan besar dalam membantu perusahaan tempatnya bekerja agar terus berinovasi dan memberikan terobosan di bidangnya sehingga menjadi perusahaan kesehatan bertaraf internasional.

Dalam perjalanan kariernya, Noel selalu berpegang pada integritas dan komitmen untuk selalu memberikan yang terbaik di dalam pekerjaannya. “Di bidang Industri, khususnya di bidang riset, dana merupakan hal yang krusial dan tidak bisa dihilangkan dan tentunya selalu ada kompetisi. Namun dengan adanya kompetisi itu, R&D harus bisa mengeluarkan produk-produk yang berkhasiat dan juga bisa bersaing di segmennya. Kami harus memiliki data-data akurat yang sesuai dengan aktual hasil analisa sehingga bisa memberikan produk yang terbaik bagi konsumen,” jelas Noel.

Jejak karier Noel tentu tidak terlepas dari dunia pendidikan yang telah Noel lalui semasa dirinya menjajaki jenjang studi di UPH. Bagi Noel, pendidikan merupakan sebuah investasi jangka panjang yang bisa menjadi bekal seseorang untuk berkarya dan berkarir, serta memiliki peran penting untuk membangun relasi.

“Belajar di UPH itu belajar tentang kehidupan. Teori adalah satu hal, menerapkannya di kehidupan nyata adalah hal yang lebih penting,” tuturnya. Dapat berkarier di usia muda sebagai salah satu staff anggota di Markas Besar Persatuan Bangsa-Bangsa, New York, Amerika Serikat, merupakan suatu pencapaian membanggakan yang diraih oleh Hillary Bakrie, alumni Perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan jurusan Manajemen angkatan 2011. Hillary memiliki tanggung jawab untuk membuat PBB menjadi instansi yang dapat bekerja sama dengan generasi muda sebagai equal partners untuk pembangunan dunia, menjunjung peran anak muda sebagai innovators dan solutions makers, membawa hak dan potensi anak muda agar terwakilkan di PBB.

Hillary juga menjalankan program dimana para generasi muda dari seluruh dunia dapat berkontribusi dalam agenda global Sustainable Development Goals yang harus dicapai ditahun 2030. “Tantangan yang seringkali saya hadapi adalah bagaimana saya, selaku staff muda di PBB, dapat membantu PBB menghadapi berbagai tantangan, khususnya dalam mengatasi berbagai isu-isu kemanusiaan.

Menurut saya, ini merupakan tantangan bukan hanya karena perkembangan isu-isu baru, namun juga karena respon dan solusi yang disiapkan harus dapat mencakup lensa multidimensional agar nantinya dampak positif dari respon-respon ini dapat dinikmati untuk generasi sekarang maupun bagi generasi-generasi di masa depan,” ungkap Hillary. Apa yang telah dilalui oleh Hillary merupakan suatu perjalanan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Dari semua itu, Hillary melihat bahwa dunia pendidikan yang pernah ia terima di UPH telah menjadi bekal berguna yang memampukannya bisa berkarier seperti sekarang. “Tanpa menjalani jenjang pendidikan, tentunya saya tidak akan bisa berada disini seperti sekarang.

Di dunia pendidikan inilah saya menerima berbagai nilai-nilai berharga yang membuat saya dapat berpikir kritis, serta dipersiapkan untuk meraih masa depan yang luar biasa.” Tuturnya. Dari semua itu, terucap pesan dari Hillary bagi generasi muda yang tengah meniti jejak perkuliahan di UPH, “Make the most out of your education!

It’s such a privilege to study in a leading education institution that gives you access to global opportunities and to be surrounded with such supportive environment.” – Hillary Bakrie “Setiap momen selama 4 tahun saya menjalani masa studi di UPH telah memberikan banyak pengalaman berharga, seperti praktek jurnalistik di lapangan, kesempatan mengikuti organisasi kampus, hingga kegiatan-kegiatan sosial yang saya lakukan bersama rekan-rekan seperjuangan,” ungkap Angeline Callista, alumni UPH jurusan Ilmu Komunikasi angkatan 2012.

Nilai-nilai pendidikan yang didapat oleh Angel telah menjadi bagian dari fondasi dalam menjalani kariernya saat ini sebagai Managing Director PT Nara Sinergy, sebuah perusahaan yang bergerak untuk membantu komunitas dan perusahaan, khususnya dalam melaksanakan program pengelolaan sampah dan dampak sosial.

Angel berperan sebagai pemimpin yang mengelola tim dan bertanggung jawab untuk mengembangkan setiap program kerja. Bukan sebuah perjalanan mudah bagi Angel untuk dapat berdiri sebagai seorang pemimpin. Namun semangat dan tekad pantang menyerah telah memampukannya untuk dapat bertahan sampai hari ini. “Saya sadar bahwa perjalanan karier merupakan sebuah hal yang dipenuhi dengan jatuh bangun.

Jika saya merasa lelah, saya akan mengingat kembali alasan pertama saya memulai karier. Saya bersyukur melihat bagaimana pekerjaan saya dapat memberikan dampak bagi orang-orang yang saya temui, baik yang terlibat dengan saya secara langsung, maupun mereka yang menjadi penerima manfaat dari program yang diberikan,” tutur Angel.

Perjalanan yang telah dilalui oleh Angel membuatnya kembali melihat buah dari dunia pendidikan yang telah ia rasakan. “Pendidikan bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan, namun merupakan kunci dari kebebasan. Tidak bisa dipungkiri, mungkin saya tidak dapat mengingat seluruh pelajaran yang saya pelajari di sekolah, namun pendidikan membuat saya paham, bagaimana saya harus bersikap dalam menghadapi sesuatu.

Pendidikan menetapkan langkah saya, untuk terus maju, untuk terus belajar dan melangkah ke depan,” – Angeline Callista. Fondasi Yang Tepat Untuk Tetap Berdiri Kuat “ Core values yang saya pegang dalam menjalani karier adalah kemauan untuk terus mengembangkan kemampuan saya dan mempelajari hal-hal baru dengan komitmen dan integritas,” ucap Rizki Hiro, alumni Universitas Pelita Harapan (UPH) Program Studi Akuntansi tahun 2012 yang saat ini menjabat sebagai relationship manager di PT.

Bank Mandiri (Persero). Menggeluti bidang perbankan, Rizki bertanggung jawab untuk menjaga hubungan dengan debitur, mengakuisisi atau mendapatkan debitur baru, dan mengimplementasikan manajemen risiko maupun monitoring kredit. “Dalam mengemban tanggung jawab, tentunya saya harus memiliki integritas dan komitmen. Kedua nilai ini akan berdampak terhadap risiko kredit, kepatuhan, hukum, dan reputasi perusahaan,” tambahnya. Peran sebagai seorang relationship manager tentu tidak lepas begitu saja dari berbagai tantangan, baik dari faktor eksternal maupun internal, termasuk tantangan membagi waktu dan skala prioritas.

“Tantangan terbesar yang saya hadapi dalam pekerjaan adalah cara untuk membagi waktu dan membuat skala prioritas terhadap pekerjaan mana yang harus perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan dahulukan. Menurut saya istilah ‘ multitasking’ adalah bagaimana kita memprioritaskan pekerjaan yang akan kita kerjakan terlebih dahulu dilihat dari tingkat urgency dan high impactnya,” jelas Rizki.

Rizki bersyukur bahwa dirinya dapat menjalani jenjang perguruan tinggi di UPH yang membuatnya menemukan cikal bakal nilai integritas serta komitmen. Bagi Rizki, pendidikan tidak hanya selalu mengenai teori atau materi yang diajarkan oleh dosen, bukan juga sekedar berbicara mengenai nilai IPK, tetapi tentang sebuah proses dalam membentuk karakter dan kualitas diri.

“Nilai-nilai yang saya dapat selama berada di dunia pendidikan telah menjadi salah satu bagian penting di dalam kehidupan saya. Tanpa disadari, ternyata nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi untuk saya berdiri hingga sekarang,” – Rizki Hiro. Kenn Ruslim, alumni Universitas Pelita Harapan (UPH) Program Studi Manajemen tahun 2005, saat ini bekerja sebagai Assistant Vice President at MUFG Bank Ltd (Singapore Branch). Sebagai credit analyst dengan portofolio perusahaan-perusahaan Jepang yang beroperasi di Singapura, Kenn bertanggungjawab untuk melakukan analisis menyeluruh terhadap fasilitas kredit yang diberikan kepada klien dan juga terlibat aktif dalam memonitor rekan-rekan yang baru bergabung dalam perusahaan.

Tidak hanya itu, bekerja di sebuah perusahaan internasional membuat Kenn semakin memiliki relasi dengan rekan-rekan mancanegara. Dirinya mengaku, ini merupakan tantangan terbesar yang dihadapinya selama menapaki dunia kerja. Beradaptasi di lingkungan kerja dengan latar belakang budaya yang berbeda merupakan suatu tantangan yang tidak mudah. Kenn bersyukur semasa Ia menempuh studi di UPH, dirinya mendapatkan banyak pengalaman, khususnya dalam berinteraksi dengan sesama rekan mahasiswa dari berbagai latar belakang, budaya, hingga negara.

“Pengalaman yang saya alami dulu memang tidak sebanding dengan pengalaman yang saya alami saat ini di dunia profesional, namun berkat exposure selama berkuliah di UPH, saya menjadi lebih mudah untuk menyesuaikan diri saya untuk menjadi bagian dari diversity tersebut,” jelasnya. Perjalanan Kenn di UPH telah membantunya menemukan bekal berharga yang menolongnya dalam meniti karier saat ini.

Pendidikan, sosialisasi, hingga berbagai pengalaman berkesan yang telah ia terima di UPH, kini membentuk suatu rangkaian cerita yang membuatnya tiba di titik dimana Kenn dapat berdiri hari ini. “Berkarya di dunia pendidikan membuat saya semakin sadar bahwa pendidikan berperan penting dalam mengembangkan kreativitas dan membentuk dasar kepribadian seseorang,” ungkap Edberg N. Warbung, alumni UPH jurusan Teacher’s College (pendidikan menengah matematika/fisika) angkatan 2007 sekaligus lulusan Magister Teknologi Pendidikan UPH angkatan 2014.

Sebagai seorang kepala sekolah di SMAK Tunas Bangsa, Jakarta Barat, Edberg melihat dengan jelas bahwa dunia pendidikan adalah wadah yang sangat diperlukan bagi setiap orang untuk dibentuk dan diajar, menerima nilai akademis maupun membentuk kedewasaan. “Dunia pendidikan hadir untuk memperlengkapi seseorang dengan nilai-nilai yang berguna bagi masa depan.

Melalui dunia pendidikan, perspektif kita akan suatu hal akan lebih luas sehingga kita memiliki kesempatan yang lebih besar untuk dapat melangkah maju ke depan,” tuturnya. Dedikasi Edberg dalam dunia pendidikan ini tidak terlepas dari kesempatannya menuntut ilmu di UPH. Tidak hanya menerima beasiswa 100%, Edberg juga mendapatkan pembelajaran berkualitas dari para pendidik yang berkompeten.

Menjadi suatu kebahagiaan bagi Edberg dimana dirinya bisa menjadi bagian dari keluarga UPH. “UPH telah berkontribusi besar atas pencapaian saya hari ini. Tempat dimana saya bertumbuh dan mengalami perubahan, membantu saya menemukan potensi diri, serta memberikan ruang bagi setiap mahasiswa untuk bisa berkarya. Suatu kebanggaan tersendiri menjadi almamater UPH!” “Pengalaman saya yang menarik dari masa-masa kuliah saya di UPH adalah ketika saya dipercaya untuk bergabung dalam kepanitiaan untuk event-event kampus.

Hal ini menjadi pengalaman yang membantu saya dalam bersosialisasi dan membangun koneksi,” ujar William Benedictus, alumni Universitas Pelita Harapan jurusan Akuntansi tahun 2010. Pengalaman yang diperolehnya semasa kuliah inilah yang kemudian berperan besar menuju kesuksesan dalam berkarier, terutama dalam membangun hubungan dengan rekan kerja maupun client.

Menjalani peran sebagai manager di PT. Deloitte Advis Indonesia afiliasi dari Deloitte Southeast Asia Ltd, member dari Deloitte, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang financial advisory services, William harus memiliki social skills yang baik untuk dapat memegang beberapa project dengan klien multinasional, BUMN, dan juga para konglomerat di Indonesia.

“Pada masa itu, UPH adalah salah satu universitas yang menawarkan kelas internasional dimana saya dapat belajar dengan bahasa pengantar full English yang pada akhirnya membantu saya untuk berkarir di multinational company. Apalagi di tempat saya bekerja ini sangat banyak melakukan interaksi dengan pihak-pihak mancanegara,” jelas William saat ditanya alasannya memilih UPH sebagai tempat menimba ilmu.

Tak terlepas dari itu, William juga percaya bahwa pendidikan memiliki peran penting dalam menunjang karier seseorang. Perjalanan William di UPH juga membuatnya bertemu dengan para dosen yang sangat berkompeten dalam memberikan pengajaran dan senantiasa memberikan contoh di kehidupan nyata. Perjalanan karier William membuatnya menemukan nilai-nilai penting yang harus diterapkan di dalam dunia pekerjaan, “Integrity adalah salah satu hal penting yang dibutuhkan dalam dunia pekerjaan.

Selain itu, profesionalisme dalam bekerja seperti kedisiplinan, kompetensi, dan tepat waktu sangat diperlukan untuk mendatangkan hasil yang terbaik,” paparnya. Kesuksesan William di bidang yang ia tekuni tak lepas dari berbagai tantangan.

“Tantangan terbesar yang saya hadapi saat ini adalah dengan jumlah project yang banyak tetapi team project yang terbatas, namun bisnis harus tetap berjalan dan saya percaya semakin sulit sebuah perjuangan, maka semakin indah suatu kemenangan,” tambahnya. “Motto hidup saya adalah jangan pernah takut untuk memulai hal baru. Kita memang tidak akan pernah tahu hal itu akan berhasil atau tidak, tetapi teruslah berdoa dan berusaha lakukan yang terbaik,” tutur Bisma Tri Putra, alumni UPH jurusan Hubungan Internasional angkatan 2006 yang saat ini menjabat sebagai Chief Operational Officer (COO) di Mercu Buana Rice Mill Indonesia, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang penggilingan beras, peternakan kambing, budidaya padi, perikanan dan sayuran maupun buah-buahan.

Bisma bertanggung jawab atas keseluruhan kegiatan operasional pabrik Rice Mill, mulai dari perencanaan hingga kegiatan pemasaran. Dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya inilah, Bisma selalu konsisten terhadap motto hidup yang ia pegang sehingga memampukannya untuk tetap melangkah dan bertahan.

Sebagai seorang kaum muda millenial yang telah dipercaya untuk menjadi seorang pemimpin, Bisma harus menghadapi berbagai tantangan, terlebih di tengah masa pandemi yang memicu banyak perubahan di dalam industri beras nasional.

“Tantangan terbesar saat ini adalah kondisi pandemi yang menuntut banyak perubahan. Selain itu, situasi pasar setiap tahun pun berubah, faktor cuaca juga mempengaruhi, begitu juga dengan perubahan-perubahan program pemerintah,” jelasnya. Dalam menghadapi setiap tantangan tersebut, Bisma terus berpegang terhadap nilai-nilai yang ia pegang dalam berkarir; disiplin, dapat dipercaya, dan pantang menyerah.

Bisma pun menyadari nilai yang ia pegang merupakan hasil dari pendidikan yang Ia dapatkan selama berkuliah di UPH, “Dunia pendidikan memiliki peran yang penting, khususnya untuk memberikan bekal yang luar biasa dalam kesiapan dunia kerja. Saat saya menjalani studi Hubungan Internasional di UPH, saya mempelajari banyak hal yang berguna bagi karir saya saat ini, seperti networking, diplomasi, negosiasi, public speaking, bahkan cara berorganisasi,” tuturnya.

Perjalanan Bisma di UPH sebagai seorang perantau dari kota Semarang juga membuatnya belajar bagaimana menjalin relasi dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda.

Hal ini membuat Bisma mendapatkan nilai-nilai baru setiap harinya dan melihat UPH sebagai rumah kedua yang membantunya belajar akan berbagai hal. “Dalam perjalanan karir selama lebih dari 10 tahun, saya bersyukur Tuhan masih memimpin dan mempercayakan segala sesuatunya kepada saya. Ilmu hukum yang saya dapat di UPH menjadi suatu nilai berharga dalam perjalanan karier saya.” tutur Agus Askin Harta Mulya, alumni Hukum UPH angkatan 2005.

Saat ini, Askin bertanggung jawab sebagai managing partner di HAS Attorneys at Law, firma hukum di Jakarta yang berfokus memberikan jasa hukum di bidang commercial dispute dan corporate law.

Askin juga mendirikan usaha start-up, Peppo Indonesia. Sebagai Founder dan Chief Legal Officer, Askin berkoordinasi dan melakukan perencanaan perusahaan, dan memastikan kepatuhan dan kepatutan dalam perusahaan dijalankan oleh setiap stakeholders.

“Hal yang paling memotivasi saya adalah dorongan untuk terus menjadi berkat bagi sesama. Saya ingin membagikan nilai-nilai positif yang telah saya terima, sehingga orang-orang di sekitar saya juga dapat merasakan manfaat dari nilai-nilai tersebut.” ungkap Askin. Perjalanan karier yang telah ia tempuh hingga hari ini membuatnya semakin melihat bahwa dunia pendidikan yang telah ia tempuh menjadi suatu bekal berharga yang membuatnya dapat melangkah lebih jauh.

Disitulah Askin menyadari bahwa pendidikan merupakan dasar dari segala sesuatu, serta akan menghasilkan buah atas uji coba. Komitmen untuk menjadi berkat bagi sesama juga tercermin melalui firma hukum HAS Attorneys at Law. Di bawah pimpinan Askin, HAS Attorneys at Law dinominasikan untuk memperoleh pro bono award tahun 2021 dalam 3 kategori sekaligus pada penghargaan yang diselenggarakan oleh salah satu platform terkemuka di Indonesia.

Tak terlepas dari semua itu, jejak langkah Askin tidak membuatnya melupakan nilai utama dalam merintis dunia karier, “Nilai-nilai yang saya tekankan adalah takut akan Tuhan dan peduli sesama. Dari nilai-nilai ini, saya baru bisa menerapkan istilah “Ora et Labora” yang artinya berdoa dan bekerja.” ucapnya. Lebih lanjut, Askin pun teringat akan masa-masa dirinya selama berada di UPH. “Di kampus ini, saya memiliki kualitas belajar yang baik dan saya memiliki teman-teman Berkarier di bidang entertain merupakan suatu perjalanan yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh Jerome Kurnia, alumni Fakultas Hukum angkatan 2012.

Selama menjalani masa studi di UPH, ada banyak hal berkesan yang Jerome rasakan, mulai dari pembelajaran, hingga kehadiran rekan-rekan yang membuatnya merasakan suasana keluarga baru. “Jika diminta untuk menyebut satu pengalaman yang menarik yang kulewati di UPH, maka akan sangat susah. Karena terlalu banyak kenangan yang indah.

Yang paling kusyukuri adalah, aku dapat bertemu orang-orang yang sangat lekat dan berkesan di dalam hidupku hingga hari ini,” ungkapnya.

Perjalanan Jerome di UPH juga turut membuatnya menemukan passion atas hidupnya. “Sejak bangku sekolah, aku selalu gemar mengikuti kelompok teater. Dimulai dari kelompok teater sekolah, hingga kompetisi teater di luar,” tutur Jerome. Tanpa mengesampingkan dunia pendidikannya, Jerome pun mencoba peruntungannya sebagai seorang aktor, dan mulai menggeluti bidang hiburan.

Berkat kepiawaiannya di bidang akting, Jerome semakin dipercaya untuk membintangi industri film tanah air, termasuk beberapa film layar lebar seperti Dilan 1991 (2019), Bumi Manusia (2019), Milea: Suara Dari Dilan (2019), Penyalin Cahaya, dan A World Without (2021). Dalam beberapa kesempatan, Jerome juga berhasil menyabet penghargaan bergengsi Festival Film Indonesia (FFI) 2021 untuk kategori Pemeran Pendukung Pria Terbaik, serta masuk dalam nominasi Pemeran Pendukung Pria Terbaik di FFI 2019.

Berkarier di dunia entertain tidak membuat Jerome melupakan nilai-nilai pendidikan yang ia dapatkan selama di UPH. “Peran pendidikan sangatlah penting, karena sebagai aktor kita harus bisa memahami secara mendalam tentang perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan peran yang kita jalani,” tak terlepas dari itu, sebagai mahasiswa Hukum, Jerome juga turut dibekali dengan pengetahuan hukum, sehingga Jerome dapat memahami koridor hukum yang tepat serta batasan dalam membuat suatu karya.

Perjalanan Jerome membuatnya menemukan nilai-nilai berharga bagi dirinya. “Yang terpenting adalah bagaimana kita harus memiliki ketulusan, keseriusan, serta sikap menghargai satu sama lain. Bercerminlah dengan diri kita di masa lalu dan jadikanlah itu sebagai motivasi untuk menjadi lebih baik!” – Jerome Kurnia.

“Gelar akademik bukanlah penentu sebuah kesuksesan. Tetapi dengan memiliki gelar akademik, kita memiliki langkah besar untuk menggapai kesuksesan,” ucap Erick Tan, lulusan terbaik UPH untuk jurusan Matematika, konsentrasi aktuaria angkatan 2010. Sebagai mahasiswa Jurusan Matematika, tentunya Erick harus berkutat dengan angka dan rumus yang rumit. Namun, kualitas pendidikan di UPH membuat Erick dapat mengikuti setiap pelajaran dengan baik dan menikmati masa-masa di dunia perkuliahan, seperti kehidupan di asrama, kegiatan BEM, dan saat-saat menjalin relasi dengan teman-teman seperjuangan dari latar belakang yang berbeda.

“Jurusan matematika melatih saya untuk dapat memiliki keterampilan teknis, analitis, serta perhitungan rumus yang kuat. Tentunya, pelajaran-pelajaran ini menjadi keterampilan yang sangat berguna khususnya di dunia kerja,” tutur Erick.

Setiap pelajaran yang ia terima menjadi suatu bekal berharga, terutama di bidangnya saat ini. Sebagai Senior Actuarial Associate 2 at PwC Singapore, Erick memiliki tanggung jawab untuk memimpin tim, dan berkoordinasi dengan klien.

Pekerjaan aktuaris yang dilakukannya berupa IFRS 17, Appointed Actuary work, actuarial valuation, pricing dan product development, actuarial modelling, financial risk, capital issues, audit, Merger & Acquisitions (M&A) dan due diligence. Dalam menjalani setiap tanggung jawab pekerjaannya, Erick melakukan semua itu dengan profesional dan totalitas, terbuka terhadap pengajaran dan masukan, serta bekerja sepenuh hati perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan penuh kesabaran.

Nilai-nilai inilah yang membuat Erick mampu bertahan dan terus berkembang. “Setiap usaha kita tidak akan sia-sia. Jerih payah yang kita berikan akan mendatangkan hasil yang sepadan!” ujar Erick. Apa yang telah dilalui oleh Erick merupakan suatu perjalanan yang dipenuhi oleh proses, tantangan, namun juga tidak luput dari hasil yang memuaskan.

Terucap sebuah pesan dari seorang Erick untuk melengkapi apa yang telah dicapainya sampai hari ini, “Thanks very much UPH for bridging me to where I am today!

I hope all the graduates from UPH can be success and together we make proud of our alma mater. UPH is the best and always will be!” – Erick Tan. “Sejak duduk di kelas perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan SMA, UPH telah menjadi satu-satunya universitas yang ada di hati saya dan akan saya pilih kelak,” ungkap Glenda Fransisca, alumni UPH jurusan Ilmu Komunikasi angkatan 2015.

Bagi Glenda, UPH merupakan wadah yang tepat dengan pendidikan yang berkualitas, fasilitas yang memadai, serta memiliki koneksi yang luas menuju karier profesional. Pilihan Glenda pun tidak berubah. Menjadi mahasiswa UPH memberikannya berbagai pelajaran dan pengalaman berharga, “Salah satu pengalaman berkesan selama di UPH adalah ketika saya mengikuti program magang.

Disini saya benar-benar memiliki kesempatan untuk belajar di dunia karier profesional, belajar akan berpikir kritis, suka duka dikejar deadline, hingga mengenal etika maupun lingkungan kerja,” tutur Glenda. Pengalaman magang Glenda menjadi pintu bagi dirinya untuk masuk ke dalam dunia kerja. Di tempat yang samalah Glenda memulai jejak kariernya, sebelum akhirnya perjalanannya tiba di titiknya saat ini, Senior Marketing & Promotion F&B Ismaya Group. Glenda bertanggung jawab untuk mengkoordinasi perencanaan dan eksekusi kegiatan promosi, berkolaborasi dengan tim lainnya, serta melakukan analisa untuk mencapai target penjualan.

Di dalam menjalani karier profesionalnya, terdapat nilai-nilai yang selalu Glenda pegang agar tetap mampu melangkah dan juga bertahan, “Kita harus selalu membangun koneksi, berkomitmen, memiliki priortias kerja, dan memiliki keberanian serta kejujuran. Nilai-nilai inilah yang akan menolong kita untuk bisa lebih maju dari sebelumnya,” ungkap Perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan.

Perjalanan karier profesional yang telah dijalani oleh Glenda membuatnya semakin mengerti bahwa dunia pendidikan merupakan wadah yang penting untuk mempersiapkan seseorang masuk dalam dunia kerja. Pendidikan yang diterima seseorang akan menjadi bekal yang berguna dalam menggapai cita-cita, mewujudkan impian dan menyongsong hari esok yang lebih baik.

“Nilai terpenting di dalam dunia pendidikan adalah ketika kita dapat menikmati setiap proses pembelajaran, pengalaman, dan relasi pertemanan. Nilai-nilai inilah yang nantinya akan menjadi bekal berharga untuk menyongsong masa depan,” ungkap Perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan Monteiro, alumni UPH jurusan Ilmu Komunikasi angkatan 1997 dan Magister Manajemen angkatan 2014.

Tidak hanya nilai maupun pembelajaran akademik, selama menjadi mahasiswa UPH, ada begitu banyak hal-hal berkesan yang Christine alami, “Saya tidak akan lupa terhadap slogan yang selalu saya baca ketika saya menyusuri lobby UPH, Responsibility Begins With Me,” kenang Christine.

Slogan inilah yang ternyata menjadi satu dari banyak nilai yang Christine ingat dalam menjalani karier professionalnya. Sebuah perjalanan panjang, sebelum akhirnya Christine dapat berdiri sebagai seorang CEO Of Dotty Mind, sebuah perusahaan yang bergerak untuk memberikan pelatihan bagi individu di dunia pekerjaan, agar dapat lebih berkompeten di bidangnya. Disaat bersamaan, Christine juga telah dipercaya untuk menjadi seorang direktur di PT. Redphoenix Kreatif Genesis (RKG), sebuah perusahaan yang berfokus pada produk digital seperti digital kuitansi, digital materai, maupun digital signature, guna memberikan efisiensi dalam bekerja dan menghasilkan ide-ide kreatif di tengah perkembangan digital.

Berdiri sebagai seorang pemimpin merupakan salah satu pencapaian Christine. Namun, dari semua itu, Christine melihat bahwa yang terpenting adalah bagaimana kehadirannya dapat memberikan dampak positif bagi sesama. Tidak hanya fokus pada kesuksesan individu, tetapi berjuang agar hidup ini dapat bermakna bagi orang lain. “Pendidikan bagi saya sangat penting karena bukan hanya tentang menghafal buku, tetapi juga tentang pembentukan karakter, pola pikir, dan soft skills yang berguna dalam meniti karier,” ungkap Irene Ursula, alumni UPH jurusan Akuntansi.

Selama menjalani masa studi di UPH, Irene mengaku mendapat banyak pelajaran berharga yang membentuknya tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga dari sisi karakter maupun kepribadian.

Perjalanan Irene di UPH juga turut membantunya mengembangkan skill maupun kompetensinya dalam bidang yang ia tekuni. Buah dari proses pembelajaran tersebut memampukan Irene sebagai Founder of Beautyhaul, Somethinc & Glowinc Potion.

PT BEAUTE HAUL INDONESIA merupakan beauty e-commerce berupa produk kecantikan yang menjadi one stop beauty solution untuk lokal dan internasional. Peran utama Irene saat ini adalah menangani bagian branding, concept & product development. Tanggung jawabnya tersebut tentu tidak lepas dari berbagai tantangan yang ada, khususnya bagaimana Irene harus dapat mengatur dan memimpin tim yang besar, serta memberikan edukasi bagi orang-orang baru yang berada di timnya. Dalam menghadapi tantangan yang ada, Irene berpegang pada nilai-nilai yang ia pegang dalam kariernya; Collaboration, Responsible, Eccentric, Agile, Tough & Efficient.

Nilai-nilai tersebut tak datang tanpa sebab, pengalamannya selama menempuh pendidikan di UPH telah membantunya menemukan setiap nilai tersebut. “Salah satu hal yang memotivasi saya dalam meniti karier saya adalah Bapak Mochtar Riady. Beliau selalu memberitahu agar kami supaya berani memikirkan hal-hal yang besar, tidak hanya itu, kita juga harus memiliki keberanian untuk berjuang dalam mewujudkan hal-hal besar yang kita harapkan,” tutur Irene.

Bagi Irene, UPH telah menjadi wadah bagi dirinya untuk dapat bertumbuh hingga ia dapat berdiri seperti sekarang. Terucap harapan dari sosok Irene agar UPH dapat terus menjadi kampus yang mendidik dan membentuk mahasiswanya untuk bertumbuh secara holistis dan mampu menjadi pemimpin di masa depan. “UPH is a very great place for you to study, learn & play at the same time,” – Irene Ursula.

Hidup Bukan Kompetisi, Nikmati Setiap Proses dan Perjalanan “Dapat mengikuti kelas-kelas Liberal Arts seperti Philosophy of Science, Ethics, World Religions merupakan pengalaman yang cukup unik bagi saya. Saya rasa tidak banyak kampus yang menawarkan kelas-kelas tersebut di Indonesia,” ungkap Dailami Firdaus, alumni UPH jurusan Manajemen. Ada begitu banyak kesan yang didapat oleh Dailami selama dirinya menjalani perkuliahan di UPH, mulai dari suasana kelas internasional, mendapatkan banyak teman dari latar belakang yang berbeda, hingga kurikulum pengajaran yang berkualitas.

Apa yang didapat oleh Dailami ini menjadi bekal yang sangat berguna dalam perjalanannya meniti karier, hingga kini ia dapat berdiri sebagai New Project & Business Development Manager PT Waskita Karya (Persero) Tbk, khususnya dalam mengawal proses pengembangan bisnis dan investasi di lingkungan Waskita Karya Group. Berada di dunia kerja membuat Dailami sadar betapa pentingnya bekal yang bisa didapat selama di dunia pendidikan, “Sangatlah penting, mengingat tren bisnis yang sangat cepat berubah akibat perkembangan zaman, sehingga mengharuskan seorang Business Development Specialist untuk terus meningkatkan kapabilitas dan pengetahuan,” ucapnya.

Bagi Dailami, dunia pendidikan telah memberikannya ragam nilai yang sangat berharga sebelum masuk ke dalam dunia kerja. Dailami memiliki tanggung jawab yang besar atas pekerjaan dan perusahaannya.

Berbagai tantangan harus ia hadapi. Dari semua itu, Dailami selalu memegang teguh nilai integritas dan profesionalisme. Dan yang terpenting, Dailami selalu berpesan, “Hidup ini bukanlah kompetisi untuk membuktikan siapa yang terbaik.

Nikmati saja setiap perjalanan dan proses kehidupan,” – Dailami Firdaus. UPH, Pilihan Menjanjikan Untuk Masa Depan Meyakinkan. “Dapat berkuliah di UPH merupakan suatu kebanggaan. Disinilah saya dibentuk dan merasakan berbagai perubahan,” ungkap Desiree Tan, alumni UPH jurusan Akuntansi angkatan 2011.

UPH telah menjadi tempat dimana Desiree mendapatkan berbagai pelajaran dan ragam pengalaman yang penuh kesan. Nilai yang didapat di dunia pendidikan ini membuat Desiree paham betapa pentingnya dibentuk di wadah yang tepat untuk bisa berkarya di dunia karier profesional, hingga pada akhirnya kini ia telah dipercaya menjadi seorang IT Auditor Manager di PWC Indonesia, sebuah perusahaan jaringan jasa profesional multinasional di bidang audit dan perpajakan, yang dianggap sebagai salah satu dari empat firma akuntansi terbesar di dunia.

Desiree bertanggung jawab untuk membangun tim, memimpin koordinasi, serta menjaga hubungan dengan para klien. Bisa berada di titik ini merupakan sebuah kebanggaan bagi Desiree. Tentunya, hal ini juga tidak terlepas dari pengalaman yang pernah didapat oleh Desiree selama dirinya berkuliah di UPH, “Di akhir masa studi saya di UPH, saya dipercaya untuk menjadi seorang Asisten Lab.

Hal ini membuat saya belajar banyak hal, termasuk bagaimana harus berpikir kritis dan kreatif,” tutur Desiree. Perjalanan kariernya pun membuatnya sadar akan nilai-nilai penting yang harus selalu ia jaga dalam berkarya di dunia kerja, “Jangan pernah berhenti meningkatkan kapasitas diri dan buatlah supaya kehadiran kita bisa membawa dampak positif bagi sesama.” Perjalanan karier Desiree membuatnya teringat akan alasannya memilih UPH dulu, yakni kualitas pendidikan yang menjanjikan, serta relasi yang kuat menuju karier profesional.

Desiree melihat bahwa UPH adalah wadah yang tepat, namun hal ini juga harus didukung oleh respon hati yang tepat, yakni dengan keterbukaan untuk selalu belajar, mengasah karakter, kepribadian, serta memaknai setiap masa studi sebagai wadah untuk mempersiapkan diri menuju karier professional.

Panggilan Hati Untuk Menjadi Dampak Bagi Sesama “UPH is one of the best moment in my life!”, ungkap Ferdy D. Savio, alumni UPH Jurusan Teknik Industri angkatan 2003 dan Magister Manajemen 2008. Saat ini, Ferdy menjabat sebagai President Director di PT Smartplus Accelerator Indonesia. Di perusahaan ini, Ferdy turut berperan sebagai seorang business coach dan sebagai mentor.

Ferdy juga turut andil untuk mendirikan Yayasan Anda Baik Indonesia. Sebagai seorang business coach, Ferdy telah mengunjungi lebih dari 30 kota di seluruh Indonesia untuk memberikan edukasi, serta pendampingan bagi para pengusaha maupun pelaku UKM dalam melakukan pengembangan strategi bisnis. Tidak hanya itu, sejak tahun 2015, Ferdy telah dipercaya untuk membantu Kementrian Riset dan Teknologi sebagai tenaga ahli yang mendampingi inkubator bisnis dan tenant-tenant startup teknologi di seluruh Indonesia.

“Awalnya, setiap tahun saya keliling Indonesia menggunakan dana pribadi untuk melakukan aktivitas sosial sebagai bentuk pelayanan saya kepada Tuhan dan juga sesama. Tidak disangka ternyata akhirnya saya malah masuk lebih dalam dan berprofesi sebagai seorang business coach,” tutur Ferdy.

Sebelum menjadi seorang business coach, perjalanan karier Ferdy juga tidak terlepas dari masa-masa sulit yang pernah dihadapi, bahkan kebangkrutan yang pernah dialaminya. Di momen sulit itulah Ferdy mendapatkan motivasi dan semangat dari rekan-rekannya untuk bangkit. Dari sinilah kemudian Ferdy tergerak untuk menjadi seorang business coach, sebab ia tahu bahwa membagikan semangat dan motivasi kepada orang lain akan membawa suatu perubahan hidup ke arah yang lebih baik.

Menjadi seorang business coach membuat Ferdy teringat betapa berharganya nilai-nilai yang pernah didapatnya selama di UPH.

Berbagai kontribusi yang diberikan oleh para pengajar di dunia pendidikan, ilmu, maupun pelajaran-pelajaran yang didapatnya selama di UPH telah menjadi suatu bekal yang berarti di dalam kehidupannya. Nilai inilah yang kemudian membuat Ferdy semakin sadar bahwa motivasi maupun nilai kehidupan yang dibagikan kepada sesama akan membawa suatu berkah yang berarti bagi orang lain. Apa yang telah dilalui oleh Ferdy menjadi suatu rangkaian kehidupan yang penuh dengan arti.

Perjalanannya menjadi seorang business coach merupakan wujud kontribusi yang dilakukannya, dengan harapan semakin banyak orang-orang yang melihat indahnya sebuah motivasi menuju perubahan hidup yang lebih baik. Responi Panggilan, Berkarya Sebagai Peneliti “Saya masuk UPH awalnya tidak direncanakan. Tapi pada akhirnya saya tahu bahwa UPH menjadi jalan yang membuat saya mengerti akan rencana Tuhan,” tutur Rahmadi Trimananda, alumnus UPH Fakultas Ilmu Komputer angkatan 2002.

Perjalanan Rahmadi sebagai mahasiswa UPH membuatnya semakin memantapkan jejak kariernya, hingga akhirnya kini ia telah berdiri sebagai salah satu peneliti di bidang cybersecurity (keamanan dan privasi data) yang tergabung di dalam ProperData, sebuah pusat penelitian hasil kolaborasi 5 institusi ternama di dunia, yakni University Of California (Irvine dan Davis), Northeastern University, University Of Southern California, dan IMDEA.

Dalam pekerjaannya sebagai peneliti, Rahmadi juga bertanggung jawab untuk berkoordinasi dan bekerjasama dengan mahasiswa-mahasiswi studi doktoral untuk melakukan penelitian dan menghasilkan terobosan yang berhubungan dengan keamanan dan privasi data.

Di dalam pekerjaannya, Rahmadi dituntut untuk dapat menghadirkan berbagai ide maupun inovasi baru, khususnya dalam menghadirkan keamanan pada perangkat yang terintegrasi dengan internet, seperti smartphone, kamera pintar (smart camera), colokan listrik pintar (smart plug), lampu pintar (smart light), voice assistant, televisi pintar (smart TV), hingga teknologi virtual reality headset. Tentunya hal ini menjadi suatu tantangan tersendiri yang harus ia hadapi.

Di balik setiap tantangan tersebut, Rahmadi selalu memegang nilai integritas dan kedisiplinan. “Tuhan memberikan panggilan agar saya dapat berkarya sebagai seorang peneliti.

Dengan kedisiplinan dan integritas tinggi, saya yakin bahwa karya yang kami ciptakan bersama dapat berguna bagi banyak orang,” tutur Rahmadi.

Perjalanan karier Rahmadi membuatnya teringat akan nilai-nilai penting yang bisa didapat di dunia pendidikan. Bekal akademik, relasi, hingga tugas-tugas perkuliahan dapat memacu cara berpikir kreatif seseorang dalam melakukan pemecahan masalah. Pada akhirnya berbagai hal inilah yang dapat menolong seseorang untuk menghadapi dunia kerja. Responsibility Begins With Me “Bagi saya, pendidikan adalah suatu hal yang penting. Pendidikan seperti sebuah tiket yang diberikan menuju jalan kesuksesan.

Respon yang benar terhadap sebuah pendidikan yang kita terima akan membuat seseorang satu langkah lebih depan meraih keberhasilan,” tutur Chandra Wijaya, alumni UPH jurusan Teknik Industri angkatan 1999 dan Magister Manajemen 2003.

Kurikulum yang berkualitas, fasilitas yang baik, hingga jalinan relasi internasional menjadi alasan Chandra memilih UPH sebagai wadah untuk dirinya belajar. Selama menjalani jenjang studi di UPH, Chandra telah diperlengkapi dengan berbagai bekal yang sangat berharga, seperti nilai-nilai akademik, relasi, hingga berbagai pengalaman yang membuat jiwa kepemimpinannya semakin terasah dan terbentuk.

Saat ini, Chandra telah dipercaya sebagai Regional sales Director di perusahaan Cummins Asia Pasific yang berada di Singapura. Cummins Inc sendiri merupakan sebuah perusahaan yang menyediakan mesin, komponen, alat besar maupun perlengkapan alat-alat yang dibutuhkan di dalam industri teknik. Chandra telah diberi tanggung jawab untuk memimpin tim yang fokus pada pemasaran di wilayah Asia Tenggara dan Asia Selatan.

“Integritas dan kerjasama tim, dua hal ini merupakan nilai yang sangat penting di dalam menjalani karier,” ungkap Chandra. Perjalanan karier Chandra sebagai seorang pemimpin tidak terlepas dari berbagai tantangan yang harus ia hadapi. Namun Chandra memandang setiap tantangan yang harus ia hadapi merupakan suatu proses pembelajaran untuk dapat melangkah lebih baik dan dapat mengerjakan tanggung jawab yang lebih besar. Dalam semua itu, Chandra selalu menekankan satu hal penting di dalam kehidupan, “Responsibility begins with me” – Chandra Wijaya UPH Menjadi Komponen Penting Bagi Fondasi Kehidupan Saat Ini “UPH telah menjadi tempat dimana saya mendapatkan berbagai momen tak terlupakan di dalam kehidupan,” ungkap Christopher Anthony, mahasiswa UPH Teknik Sipil 2002 dan Magister Teknik Sipil 2007.

Ada begitu banyak pengalaman berkesan yang didapat selama berkuliah di UPH. Mulai dari pengalaman berorganisasi, keterlibatan dalam Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil, Forum Komunikasi Antar Kampus, hingga menjadi bagian dari tim pionir gerakan mentoring di UPH di tahun 2006. “Semua pengalaman itu menjadi momen-momen berharga yang tidak akan pernah tergantikan,” tuturnya.

Bagi Christopher, UPH juga telah menjadi wadah dimana ia mendapatkan bekal akademik yang berguna, khususnya untuk memulai karier profesional dalam dunia kerja. Saat ini Christopher berperan sebagai Country Sales Manager Novade Solutions Private Limited representative di Indonesia, sebuah IT Solutions Provider yang berhubungan dengan industri bangunan dan konstruksi.

Christopher bertanggung jawab atas kinerja Novade Solutions agar dapat mendukung para proyek konstruksi maupun pengembangan real estate developer baik swasta maupun BUMN, khususnya dari sisi digitalisasi site management.

Sebagai seorang pemimpin, ada satu nilai yang selalu Christopher pegang, “A leader is always under construction. Di titik manapun kita berdiri saat ini, pastikan kita selalu menjadi pribadi yang mau belajar dan juga memiliki kerendahan hati,” tuturnya. Hal ini bukan bermaksud untuk menjadi alasan ketika berbuat salah, tetapi justru menjadi penyemangat untuk terus mencoba agar lebih baik, terbuka untuk hal baru, agar semakin tajam dan profesional.

Selain itu, memiliki integritas dalam dunia kerja, serta pentingnya karakter merupakan nilai yang tidak akan lekang oleh waktu. UPH telah menjadi salah satu komponen penting yang menjadi pondasi kokoh buat kehidupan Christopher hingga di titik sekarang ini. Terucap harapan darinya agar UPH dapat terus menjadi wadah yang menghasilkan generasi pemimpin masa depan, yang mengetahui identitas dirinya di hadapan Tuhan, bertanggung jawab, serta kompeten dari sisi profesionalisme kerja dan berakar dalam iman untuk kemajuan bangsa.

“Jadilah cahaya bukan untuk menyilaukan, namun untuk menunjukan jalan. Jadilah garam bukan untuk membawa pemisahan karena beda rasa, tetapi menjadi pembawa perubahan: memberi harapan di tengah kehambaran dan keputusasaan.” – Christopher Anthony Memilih UPH sebagai wadah untuk menuntut ilmu, Mariska Adriana, Alumni Program Studi Design Produk 2008, saat ini telah dipercaya sebagai Chief Marketing Officer (CMO) di sebuah start up Klikdaily yang bergerak di bidang grosir online dan ritel mikro.

Sebagai CMO dari start up terkemuka di Indonesia yang telah bermitra dengan lebih dari 300 merek nasional dan lokal, Mariska bertanggung jawab dalam mengawasi divisi Marketing, Business, Development, dan Merchandising.

Untuk melaksanakan tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin, Mariska selalu berusaha memberikan yang terbaik, tidak hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan, “Motivasi saya dalam berjuang meniti karier tentunya adalah keluarga.

Saya juga percaya bahwa di dalam jerih payah usaha yang saya lakukan, selalu ada penyertaan Tuhan yang akan saya rasakan,” jelas Mariska. Di dalam perjalanan kariernya, Mariska selalu memegang nilai integritas, kerja cerdas, inovatif dan totalitas. Nilai-nilai ini tidak datang dengan sendirinya, melainkan hasil pembelajaran dari pengalaman dan pendidikan yang ia dapatkan selama di UPH.

Hal inilah yang membuat Mariska sadar akan pentingnya peran pendidikan dalam membentuk identitas diri sebelum masuk ke dalam dunia kerja. “Pendidikan itu sangat penting, karena melalui pendidikan, pola pikir saya dibentuk.

Saya memang bekerja di bidang yang berbeda dengan studi kuliah saya, namun, perkuliahan membuat saya belajar mengenai etos kerja, skills, dan networking yang tentu sangat berguna dalam karier saya saat ini,” ungkap Mariska. Tidak hanya nilai-nilai akademis, berbagai pengalaman berharga juga didapatkan Mariska selama meniti jenjang perguruan tinggi di UPH. “Di program studi Design Produk, kami sering sekali perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan di workshop, baik pria maupun wanita semuanya harus mahir dalam menggunakan alat-alat berat di workshop.

Melalui pengalaman inilah saya belajar banyak hal dan juga bisa membangun relasi dengan banyak orang,” tuturnya. Bagi Mariska, UPH telah menjadi wadah yang memperlengkapinya dengan banyak hal. Setiap program studi dan aktivitas akademis yang ada di UPH benar-benar mempersiapkan para mahasiswa untuk masuk ke dalam dunia kerja professional. Dari semua itu, Mariska berharap agar UPH semakin maju, inovatif, dan dapat mempertahankan nilai-nilai integritas sebagai wadah yang membentuk seseorang menjadi lulusan yang berkelas!

“Selama berkuliah di UPH, pengalaman yang menarik dan berkesan adalah ketika saya bisa berkesempatan melakukan magang setiap tahunnya. Dari situ kita bisa mengaplikasikan ilmu yang sudah dipelajari dan juga mengetahui hal apa yang masih perlu kita kembangkan,” ungkap Kenneth Li, alumni UPH Jurusan Manajemen tahun 2008.

Berbagai pengalaman berharga telah didapatkan oleh Kenneth selama dirinya menjalani masa studi di UPH, termasuk pengalaman berorganisasi, membangun relasi dengan rekan-rekan dari berbagai jurusan berbeda, serta menerima bekal akademik dari para dosen yang berkompeten di bidangnya.

Nilai dan pengalaman yang Kenneth dapatkan selama menjalani dunia pendidikan telah menjadi salah satu faktor penting yang memampukan Kenneth kini dapat berdiri sebagai Managing Partner MDI Ventures Singapore, sebuah perusahaan modal ventura yang telah berinvestasi di 15 negara, serta memiliki total dana kelolaan mencapai 10 Trilliun rupiah. Kenneth bertanggung jawab untuk menggalang dana dari investor, yang kemudian akan digunakan sebagai investasi dalam sektor teknologi.

Kenneth harus memastikan bahwa investasi yang telah diterima dapat memberikan timbal balik yang positif untuk para investor yang sudah mempercayakan dananya. Perjalanan karier Kenneth membuatnya menemukan satu dari sekian nilai yang penting di dalam menjalani dunia pekerjaan, “Tidak menyia-nyiakan sebuah kepercayaan yang telah diberikan, berkomitmen untuk selalu memberikan hasil yang terbaik,” tuturnya.

Bagi Kenneth, membangun sebuah kepercayaan adalah bagian dari kunci kesuksesan. Apabila seseorang dapat dipercaya, maka hal ini akan menjadi suatu modal yang penting untuk bisa bertahan di tengah berbagai tantangan dan kehadiran para kompetitor.

Dapat berdiri sebagai seorang pemimpin adalah salah satu pencapaian yang diraih oleh Kenneth. Bukan tanpa kegagalan, melainkan penuh lika-liku perjuangan. Itulah kenapa Kenneth selalu berkata, “Kegagalan adalah bagian dari kehidupan. Jangan takut mengalami kegagalan, tetapi jadikan itu sebagai motivasi untuk lebih giat lagi dan mencari keberhasilan,” tuturnya.

Kesuksesan yang diraih Kenneth pun tak lupa membuatnya memberikan kesan bagi UPH, “An international campus that nurtured global leaders.” Dulu Mewakili UPH di Liga Golf, Kini Sukses Jadi Pengusaha Fashion Golf “Ada banyak hal yang dimiliki UPH dan tidak dimiliki oleh universitas lain, seperti kurikulum, fasilitas, jaringan relasi, hingga nilai-nilai moral yang diterapkan.

Sungguh gak pernah menyesal pilih UPH!” ungkap Rex Andrew, alumni UPH fakultas Hukum angkatan 2011. Selama menjalani masa studi di UPH, Andrew melihat bahwa nilai-nilai pendidikan merupakan suatu modal yang penting untuk dimiliki sebelum masuk ke dalam dunia kerja.

Selama di UPH, Andrew diperlengkapi dengan berbagai pengetahuan, nilai-nilai, serta pengajaran yang membuatnya terlatih untuk memiliki pola pikir kritis, kreatif, dan cermat dalam melakukan analisa sebelum akhirnya mengambil keputusan. Tidak hanya itu, UPH juga menjadi wadah dimana Andrew mengenal berbagai kegiatan, organisasi, hingga aktivitas yang dapat mengembangkan bakat dan juga kreativitas yang dimilikinya.

“Salah satu pengalaman yang tidak terlupakan adalah ketika saya berkesempatan mewakili UPH di ajang liga perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan cabang GOLF dan selama dua tahun berturut-turut UPH berhasil mendapatkan juara 2,” ungkap Andrew.

Pengalaman inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Andrew mengembangkan kreativitasnya di bidang usaha, yakni bisnis fashion golf. Saat ini, Andrew bertanggung jawab sebagai Founder untuk bisnis Ölörogolf, sebuah brand golf yang memproduksi apparel dan aksesoris golf.

Sampai hari ini, Ölöro telah memiliki 40 join store baik online maupun offline, dan turut menangani kebutuhan pakaian maupun kostum golf yang dibutuhkan perusahaan multinational & national, group & komunitas golf.

Kehadiran Ölöro juga telah menembus pasar luar negeri dan bersaing dengan brand-brand asing. Bisa berada di titik ini merupakan sebuah perjalanan panjang yang harus Andrew lalui. “Fighting spirit, ketekunan, dedikasi, dan fokus terhadap tujuan. Setiap jerih payah dari apa yang dilakukan akan mendatangkan hasil yang membanggakan,” tutur Andrew. Apa yang telah Andrew lalui tidak lepas dari bekal yang pernah ia dapat selama di UPH.

Andrew pun berharap agar UPH tetap konsisten dalam mencetak alumni yang berdampak dan dapat membawa nilai positif bagi bangsa! UPH is a place that our feet may leave, but not our hearts “Dulu saya tinggal di Bandung, karena ingin keluar dari comfort zone, akhirnya saya memutuskan untuk kuliah di UPH. Dan ternyata, UPH telah menjadi rumah kedua bagi saya yang memberikan berbagai pelajaran, terutama pembelajaran rohani, pembentukan karakter, dan bagaimana melayani sesama,” ungkap Felicia Wijaya, alumni Jurusan Ilmu Komunikasi angkatan 2006.

Perjalanan Feli di UPH bisa dibilang merupakan suatu perjalanan yang membuatnya menemukan nilai-nilai berharga, membentuk karakter, kepribadian, dan cikal bakal jiwa kepemimpinan.

Tidak pernah terpikirkan oleh Feli sebelumnya bahwa nilai-nilai tersebut menjadi bekal berharga yang memampukannya untuk berdiri sebagai seorang Assistant Director of Convention Sales di Hotel Intercontinental Bandung, yang merupakan bagian dari IHG Hotels and Resort.

IHG sendiri memiliki 6.031 hotel di seluruh dunia. Sebuah perubahan total, mungkin inilah yang dirasakan oleh Feli. Ia teringat akan perjalanan masa studinya, saat-saat dimana ia adalah sosok introvert dan takut untuk bersosialisasi. Tidak pernah ada di dalam benak pikirannya bahwa ia akan menjadi seorang pemimpin.

Namun ternyata semua berubah ketika ia mendapatkan kesempatan untuk mengikuti organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Majelis Perwakilan Mahasiswa (MPM) di UPH, serta turut berpartisipasi dalam berbagai acara yang diadakan kampus. Semua yang Feli lalui membuatnya berkata, “It totally changed my life.” Semua yang Feli dapatkan inilah yang ternyata sungguh-sungguh menjadi pelajaran yang sangat berarti, khususnya di dalam karier dan dunia pekerjaannya. Bagi Feli, terdapat sebuah nilai yang penting untuk dipegang dalam menjalani karier.

Menyelesaikan segala pekerjaan sebagaimana semua itu adalah bentuk ibadah kepada Tuhan. Nilai inilah yang selalu Feli genggam, hingga memampukannya untuk selalu memberikan yang terbaik dalam setiap tanggung jawab yang harus diselesaikan. Dalam semuanya itu, Feli selalu berpesan, “Lakukan yang terbaik dan jadilah seseorang yang tidak tergantikan,” tuturnya.

Bukan sebuah perjalanan mudah, tetapi membawa suatu rangkaian kisah yang indah. Ada tantangan, pelajaran, hambatan, namun semua itu menjadi rangkaian cerita yang mengagumkan. Dari apa yang telah Feli lalui sampai hari ini, tersirat sebuah kenangan yang tidak terlupakan, “UPH is a place that our feet may leave, but not our hearts,” – Felicia Wijaya. Pendidikan Menjadi Titik Awal Sebuah Kesuksesan Menjadi seorang pemimpin tentu memiliki berbagai tanggung jawab dan tantangan yang harus dihadapi.

Alexander Ivantandri, alumni Teknik Sipil Universitas Pelita Harapan 2010 yang saat ini menjabat sebagai Direktur PT. Eselka Struktur Optima, menghadapi setiap tantangan itu dengan terus berpegang pada nilai hidup dan juga motivasi dalam berjuang meniti karir. “Tantangan terbesar yang saya hadapi adalah mengelola tim agar dapat bekerja secara optimal sehingga dapat menyelesaikan proyek dalam time frame yang sudah ditentukan, menjaga hubungan yang baik dengan klien-klien kami, serta mengatur dan mengembangkan perusahaan agar menjadi lebih baik,” ungkap Alexander yang memimpin sebuah perusahaan bidang jasa perencanaan struktur bangunan, audit, dan assesment kelayakan struktur bangunan, “Kunci untuk mendapatkan produktivitas dan hasil yang lebih baik adalah bukan dengan bekerja lebih keras melainkan bekerja dengan lebih pintar,” jelasnya.

Oleh sebab itu, Alexander, yang saat ini memiliki gelar PhD. di civil engineering, percaya bahwa pendidikan memiliki peran yang penting bagi seseorang dalam meniti karirnya. Ia pun bersyukur memiliki orang tua yang selalu memberikan motivasi dan dukungan dalam hidupnya tidak hanya saat dia berkarir, melainkan semenjak dirinya menempuh pendidikan termasuk saat menapaki jenjang kuliah di UPH.

Selama berkuliah di UPH, Alexander dapat mengembangkan kompetensinya dalam bidang teknik melalui kesempatan-kesempatan mengikuti kompetisi yang berguna dalam pengembangan karirnya. “Salah satu pengalaman menarik saat kuliah di UPH adalah ketika saya dan teman-teman teknik sipil mengikuti lomba Beton Nasional di salah satu universitas swasta. Kami mempelajari banyak hal menarik dalam pembuatan spesimen beton,” jelasnya. Ia mengakui bahwa UPH telah menjadi awal baginya dalam menitir karir. Ia pun berharap UPH dapat terus berkembang menjadi salah satu universitas terbaik di Indonesia yang dapat menjadi titik awal bagi pemimpin-pemimpin lainnya untuk memulai karir dan meraih kesuksesan mereka.

“Terima kasih telah menjadi starting point dalam karir saya. Saya berharap UPH dapat terus berkembang menjadi salah satu universitas yang terbaik,” tutur Alexander. Memaknai Pelajaran Di Dalam Perjalanan “Life is a learning journey”, ungkap Bapak Yussy Santoso, Alumni Mahasiswa Magister Management UPH angkatan 1999. Beliau berpesan agar jangan pernah berpikir bahwa setelah lulus dari universitas setelah itu berhenti belajar, tetapi teruslah mengembangkan diri dan pengalaman.

Ini merupakan salah satu kunci sukses Bapak Yussy Santoso dalam menjalani karier profesionalnya sampai ke posisinya saat ini sebagai Human Capital Director di Group Mulia di usia yang cukup muda, yaitu sejak menginjak usia 38 tahun. Bapak Yussy Santoso sangat mensyukuri perkembangan karier professional yang telah ditempuhnya di bidang pengembangan organisasi dan sumber daya manusia. Baginya, hal ini dapat dicapai karena dukungan banyak orang, khususnya keluarga, terutama almarhum Ayah dan Ibunda, serta dukungan maupun kepercayaan dari istri tercinta.

Pembentukan yang dialami oleh Bapak Yussy Santoso perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan tak terlepas dari peranan ex-atasan yang telah memberikan kepercayaan, kesempatan berkembang, dan berbagai tanggung jawab yang mampu diselesaikan dengan baik. “Hargailah posisi anda dengan terus membawa perkembangan dan perubahan bagi perusahaan dimana anda bekerja”, dan “khawatirlah ketika posisi dan kompensasi anda meningkat namun akuntabilitas dan hasil yang anda berikan tetap sama”, ini adalah salah satu prinsip yang beliau pegang dalam meniti karier profesionalnya.

Memegang teguh nilai Integritas dan keterbukaan terhadap hal-hal baru menjadi kunci bagaimana Bapak Yussy Santoso dapat bertahan dan tetap kompetitif. Beliau beranggapan bahwa dimanapun, kapanpun, selalu ada hal-hal baru yang bisa dipelajari dari orang-orang maupun situasi yang ia hadapi. Sama halnya dengan perjumpaannya dengan rekan-rekan semasa di kampus, pentingnya membangun relasi dengan sesama, semua itu akan mendatangkan pelajaran-pelajaran berharga yang mendatangkan suatu nilai kehidupan.

Nilai-nilai itulah yang akan membentuk kedewasaan seseorang dan menjadi sebuah pelajaran berharga. Terucap sebuah harapan dari Bapak Yussy Santoso agar UPH dapat menjadi universitas yang terdepan dalam meningkatkan kualitas dunia pendidikan di Indonesia.

Tak terlepas dari semua itu, Bapak Yussy Santoso juga berharap agar dirinya dapat menjadi pengajar di UPH, dan memberikan kontribusi untuk membangun sumber daya manusia di Indonesia, berbagi pengalaman kepada anak-anak muda, untuk dapat mempersiapkan diri sejak dini dan menyongsong persaingan di masa mendatang.

Maksimalkan Setiap Kesempatan, Meraih Bagian Yang Tuhan Sediakan “Saya bukan tipe orang yang terlau banyak membuat target untuk diri sendiri dalam hal perkembangan karier. Namun, ketika ada kesempatan yang datang di depan saya, saya berusaha memanfaatkan dan melakukan yang terbaik. Jika ditanya 10 tahun yang lalu, saya tidak terpikir akan menjadi direksi dari perusahaan yang revenue nya mencapai US$180 juta,” ungkap Maya Devi, alumni UPH Jurusan Pangan Angkatan 2005.

Adalah PT. Tereos FKS Indonesia (TFI), sebuah perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur pati dan pemanis (bahan baku industri makanan dan minuman, kertas, pakan ternak, dll). Tereos FKS Indonesia adalah perusahaan dengan kapasitas terbesar di Indonesia, mencapai lebih dari 450.000 MT kapasitas giling jagung per tahun dan memberikan kontribusi sekitar 30% dari kebutuhan pati nasional.

Di perusahaan inilah Maya berdiri sebagai Commercial dan Supply Chain Director. Peran Maya di perusahaan ini sangatlah krusial, ia bertanggung jawab memberikan arahan untuk strategi penjualan perusahaan dan pembelian bahan baku utama, yaitu jagung. Tidak hanya itu, Maya juga ditunjuk menjadi direksi mewakili pemegang saham bersama dengan presiden direktur.

Bukan suatu perjalanan mudah bagi Maya sehingga dirinya dapat berdiri di titik ini. Maya bersyukur memiliki keluarga yang selalu mendukung dan menjadi penyemangat di dalam perjalanan yang harus ia lalui. Tak terkecuali peran pendidikan yang ia terima selama di UPH. UPH telah menjadi bagian dari rangkaian kisah indah yang memberikannya berbagai pelajaran dan pengalaman tak terlupakan.

Mulai dari kesempatan untuk menjadi supervisor bagi mahasiswa Teacher’s College, perjumpaan dengan rekan-rekan dari seluruh pelosok Indonesia yang harus ia bimbing, dan pengalaman akademis lain yang ia dapatkan sebagai pelajaran berharga. Masa-masa kuliah yang Maya lalui membuatnya selalu berkata, “Enjoy your time in the university dan jangan hanya menghabiskan waktu dengan mengikuti kelas saja.

Berpartisipasi aktif di kegiatan-kegiatan lain dan juga bangun network dengan teman-teman antar jurusan. Di dunia kerja nanti, hal ini akan sangat membantu,” perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan.

Apa yang telah dilalui oleh Maya membuatnya begitu bersyukur atas setiap lika-liku perjalanan yang telah dilewatinya. Ia yakin, kalau bukan karena Tuhan dan nilai integritas yang ia pegang dalam menjalani karier, tentunya ia tidak akan berdiri sebagai seorang Maya yang sekarang. Setiap proses yang telah Maya jalani membuatnya melihat berbagai karya Tuhan di dalam kehidupannya.

“Dibalik setiap jerih payah, selalu ada hasil akhir yang tak kalah indah,” Sebuah Warisan Yang Penuh Arti Sebongkah berlian dibalik dunia pendidikan. Inilah yang Raymond Christantyo dapatkan selama dirinya menjalani masa studi sebagai mahasiswa UPH, baik ketika dirinya menjalani program studi sebagai mahasiswa UPH Jurusan Ekonomi di tahun 2010, maupun ketika dirinya melanjutkan masa studi Program Magister Manajemen UPH di tahun 2014.

“Saya melihat UPH memiliki nilai-nilai penting yang sering perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan semasa kuliah, bahkan saya bawa perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan pegangan hidup, yaitu True Knowledge, Faith in Christ, and Godly Character. Hal itulah yang membuat saya yakin memilih UPH sebagai tempat untuk saya belajar,” ungkap Raymond.

Tak terlepas dari posisi Raymond sebagai Head of Brand and Communications di 2 Institusi pendidikan tinggi, yaitu Kalbis Institute dan Indonesia International Institute for Life Sciences (i3L), UPH telah menjadi tempat dimana Raymond menemukan nilai-nilai penting yang ia pegang dalam meniti kariernya di dunia pendidikan. “Nilai Godly Character yang saya terima selama di UPH, membuat saya sadar bahwa hidup hanya satu kali, maka saya harus berguna dan bermanfaat untuk orang banyak.

Salah satunya melalui dunia pendidikan,” tutur Raymond. Tidak hanya itu, perjalanan Raymond di UPH juga membuatnya menemukan sebuah modal penting untuk memasuki dunia kerja, yakni dedikasi dan attitude yang baik. Sebab tanpa adanya dedikasi dan attitude yang baik, maka nilai akademik tidak akan ada artinya. Berbagai nilai berharga yang Raymond dapatkan selama di UPH juga semakin memotivasi dirinya untuk bisa menjadi berkat bagi banyak orang, dan mewariskan nilai-nilai berharga itu kepada generasi selanjutnya, “Pendidikan karakter sangat penting, khususnya bagaimana mendidik anak-anak muda yang seringkali menilai segala sesuatu dari uang.

Yang terpenting adalah mewariskan good character dan bagaimana hidup kita dapat berguna bagi banyak orang, itulah kesuksesan yang sebenarnya,” ujar Raymond. Dalam semua yang telah Raymond lalui, terlintas rasa syukur dan terucap harapan darinya agar nilai-nilai UPH yang ia genggam dan bagikan sekarang, dapat menjadi suatu benih yang tertanam, bertumbuh, serta menghasilkan buah yang mendatangkan perubahan bagi banyak orang.

Jejak Perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan Tanpa Penyesalan “Rasa takut akan penyesalan merupakan motivasi yang besar bagi saya untuk melakukan yang terbaik setiap harinya”, Inilah yang diungkapkan oleh Joshua Putra Satrio, mahasiswa UPH Jurusan Teknologi Pangan angkatan 2012. Mengambil keputusan untuk masuk dalam jurusan ini merupakan suatu tantangan tersendiri baginya.

Ia melihat jurusan pangan sebagai program studi yang jarang dan terdengar unik. Tanpa mengecilkan mimpi dan tujuan, berani melangkah dengan penuh kepastian, Joshua pun memulai jejak akademisi sebagai mahasiswa jurusan teknologi pangan. “Pendidikan sangat penting karena dari pendidikan yang sebelumnya saya jalani, saya mendapatkan critical thinking, inisiatif, kreatifitas dan relasi yang saya perlukan.

Terutama pengalaman-pengalaman dalam berorganisasi pada saat menjalani masa kuliah”, ungkapnya. Semua itu menjadi rangkaian kenangan berkesan yang membentuk kepribadian Joshua hingga ia dapat melangkah untuk mencapai impian yang ia tetapkan. Kini, Joshua berdiri sebagai seorang co-founder PT.

Joomba Karya Indonesia, atau yang lebih familiar dengan sebutan Joomba.id, sebuah brand untuk minuman sehat yang kini telah memiliki lebih dari 90 outlets di beberapa wilayah tanah air, termasuk di JABODETABEK, Bandung, Surabaya, Pekanbaru, Balikpapan, Palembang, Yogyakarta, Medan, Banjarmasin, dan Bandar Lampung.

Tentunya pencapaiannya ini tidak terlepas dari hasrat Joshua untuk terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, terbuka terhadap perubahan dan melakukan improvisasi, keteguhan mental, serta membangun sebuah kerjasama tim yang baik. Apa yang telah dilalui oleh Joshua membuatnya menemukan sebuah keyakinan bagi dirinya. “Seberapa besar kita berani bermimpi, disitulah diri kita berada nanti”, tuturnya. Berdiam diri hanya akan mendatangkan penyesalan, itulah yang membuat Joshua selalu melangkah dan berusaha untuk menjadi lebih baik setiap harinya.

Dalam setiap tantangan yang ia hadapi sampai hari ini, kehadiran keluarga dan orang-orang tersayang menjadi penyemangat terbaik untuk selalu melangkah ke depan, mewujudkan mimpi sembari menatap hari esok yang penuh dengan pengharapan. Sebuah Kebanggaan Menjadi Alumni UPH “UPH itu adalah perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan bagi generasi penerus masa depan yang dididik untuk tangguh menghadapi persaingan di dalam dunia internasional,” ungkap Hendra Yuniarto, alumni UPH jurusan Sistem Informasi angkatan 2000.

Fasilitas, kualitas, dan pelayanan, hal ini yang membuat Hendra memilih UPH sebagai wadah untuk dirinya dibentuk, baik dari segi pengalaman, pendidikan, hingga pembentukan karakter. Bagi Hendra, nilai-nilai yang ia dapatkan selama menjalani dunia pendidikan di UPH merupakan suatu bekal berharga yang membentuk kualitas diri, menambah wawasan, membentuk pola pikir, kreativitas, dan kemampuan untuk merancang strategi. Berbekal nilai-nilai yang Hendra miliki, setelah melalui perjalanan panjang kini Hendra dapat berdiri sebagai seorang Chief Marketing Officer KFC Indonesia.

Hendra bertanggung jawab penuh dalam berkoordinasi dengan tim untuk mengatur promosi, dan melakukan inovasi sebagai bentuk pengembangan produk-produk di PT Fast Food Indonesia, meliputi brand KFC, Tacobell dan KFC Naughty by Nature. Bukan hal mudah bagi Hendra untuk membuat strategi pemasaran sebuah brand besar dengan jumlah 748 outlet di 33 provinsi.

Berbagai tantangan harus Hendra hadapi, khususnya bagaimana Hendra dan timnya harus dapat memperluas jaringan maupun jangkauan industri. “Melakukan setiap pekerjaan dengan sepenuh hati seperti ketika saya beribadah kepada Tuhan,” demikian nilai yang perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan Hendra pegang sebagai fondasi di dalam kariernya. Hendra memandang bahwa setiap pekerjaan yang dipercayakan kepadanya adalah sebuah ibadah dan pelayanan yang dapat ia persembahkan kepada Tuhan.

Itulah kenapa Hendra akan selalu memberikan yang terbaik untuk setiap pekerjaan yang dipercayakan kepadanya. Dalam semua itu, kehadiran keluarga tercinta juga turut menjadi penyemangat utama di tengah setiap perjalanan hidup yang dilalui oleh Hendra. Berada di titik ini merupakan salah satu pencapaian yang sangat Hendra syukuri. UPH telah menjadi rumah bagi Hendra untuk mendapatkan ragam pengalaman dan pendidikan yang berarti, dan menjadi wadah yang turut membentuk Hendra sebagaimana ia berdiri sampai hari ini.

“Kuliah tidak menjamin seseorang akan menjadi sukses. Namun dengan dibentuk di dunia kuliah, maka seseorang akan memiliki bekal untuk dapat meraih kesuksesan,” – Hendra Yuniarto. Sebuah Kebanggaan Menjadi Alumni UPH Memimpin dan bertanggung jawab atas target penjualan 242 cabang perusahaan di 25 area di seluruh Indonesia bukanlah suatu hal mudah bagi seorang Evan Sugiarto Ongkowidjojo, alumni UPH Jurusan Manajemen tahun 2005, yang kini menjabat sebagai Deputy Division Head PT Indomobil Finance Indonesia, perusahaan yang bergerak dalam bisnis jasa pembiayaan motor, mobil, kendaraan niaga, alat berat, properti dan pembiayaan mikro.

Evan Ong bertugas untuk merancang kebijakan, strategi, program, perbaikan proses, dan pengembangan sumber daya manusia. Di tengah berbagai tantangan yang harus Evan Ong hadapi, sosoknya tetap mampu bertahan, bahkan melahirkan berbagai inovasi yang baru. Perjalanan karier Evan Ong membuatnya menemukan nilai-nilai yang memampukannya untuk bertahan hingga hari ini, hidup di dalam integritas, menjunjung nilai etika, dan menjalani keseharian dengan iman tertuju kepada Tuhan.

Terjun ke dalam karier profesional membuat Evan Ong seolah bertemu kembali dengan nilai-nilai yang pernah ia pelajari selama di UPH dulu.

“Pendidikan di UPH banyak sekali memberikan contoh-contoh studi kasus sehingga sangat relate dengan kondisi bisnis aktual,” ungkapnya. Bagi Evan Ong, dunia pendidikan formal yang didapatnya memberikan fundamental serta membangun kerangka berpikir dalam melakukan pengambilan keputusan.

Berbagai pelajaran dan pengalaman yang didapat oleh Evan Ong selama di UPH menjadi suatu bekal yang berguna dalam menghadapi dunia kerja. Apa yang telah Evan Ong capai hingga hari ini tentu membuatnya begitu bersyukur. Bersyukur atas pekerjaan, bersyukur atas keluarga, bersyukur atas kehadiran seorang ayah yang luar biasa, bersyukur atas kehadiran rekan-rekan dan juga UPH. Tersirat harapan dari seorang Evan Ong agar kiranya UPH dapat selalu eksis dengan menekankan pembelajaran holistik, serta dapat menghadirkan generasi pemimpin masa depan.

“Be Proud. Lulusan UPH terbukti sangat disegani di seluruh perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan Indonesia” – Evan Ongko.

UPH, Bagian Dari Rangkaian Doa “UPH adalah jawaban doa buat saya ketika dibangku sekolah. Melalui UPH saya telah dipersiapkan menjadi generasi yang menjunjung tinggi nilai kebenaran untuk membawa dampak yang baik didalam dunia pekerjaan (marketplace)” ungkap Lioe Yanto Haryono, alumni Teknik Informatika tahun 2001. Bagi seorang Yanto, UPH telah menjadi kampus impiannya sejak dulu. Terbersit harapan agar dirinya dapat meniti jejak langkah dan menuntut ilmu sebagai mahasiswa UPH. Rasa syukur pun terucap ketika impian itu menjadi nyata.

UPH telah menjadi wadah bagi Yanto untuk dirinya mendapatkan bekal akademik, menemukan potensi talenta, mengalami pembentukan karakter, mempertemukannya dengan teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia maupun dari luar negeri. “Banyak nilai yang saya peroleh dan hidupi semasa dibangku kuliah untuk tetap terus terpelihara sampai sekarang, memberikan dampak yang positif bagi kemajuan dalam pekerjaan/ karier”, ucapnya.

Saat ini, Yanto telah dipercaya untuk menjabat sebagai Vice President of information Technology di MODENA, salah satu perusahaan produsen peralatan memasak pertama di Emilia Romagna, Italia – wilayah yang terkenal dengan industrialisme dan desainnya, menjadi rumah bagi merk mobil dan peralatan konsumen ternama.

MODENA banyak perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan dalam R&D dan desain produk yang mengarah pada peluncuran berbagai kategori produk mulai dari solusi rumah, profesional, energi dan mobilitas. Yanto bertanggung jawab terhadap perjalanan transformasi digital yang berkelanjutan untuk mendukung kebutuhan bisnis dan operasional perusahaan dengan mengedepankan culture of customer-obessed, agility and innovation.

Berbagai tantangan harus dihadapi oleh Yanto. Ia harus membangun dan mentransformasi organisasi untuk terus dapat beradaptasi dan berkembang, serta mendukung pertumbuhan dan ekspansi bisnis. Dalam menghadapi berbagai tantangan itu, terdapat nilai-nilai yang selalu Yanto pegang sehingga ia dapat bertahan, yakni takut akan Tuhan, hidup dalam integritas dan kejujuran, berani melangkah keluar dari zona nyaman, serta memberi dedikasi terbaik selagi masih ada kesempatan.

Perjalanan yang telah Yanto lalui sampai hari ini membuatnya sadar akan pentingnya menggunakan setiap detik kehidupan untuk mengerjakan hal yang baik.

“Hidup ini adalah kesempatan untuk kita bisa semaksimal mungkin mengembangkan potensi dan talenta yang kita miliki untuk menjadi berkat dan dampak bagi keluarga dan kehidupan orang lain.” Dan ketika Yanto melihat perjalanan hidupnya sampai hari ini, ia tak luput memandang UPH sebagai tempat dimana ia bertumbuh, berkembang, dan dipersiapkan untuk menjadi pribadi yang siap menghadapi masa depan. Dibentuk Melalui Pengalaman di UPH, Verlin Vitriana Kini Berdiri Sebagai Pemimpin Mempresentasikan tugas kuliah di depan kelas bisa jadi bukanlah hal yang disukai oleh banyak orang.

Namun bagi Verlin Vitriana, mahasiswa UPH jurusan Manajemen 2009, kebiasaan melakukan presentasi inilah yang justru menjadi satu dari pengalaman tak terlupakan selama dirinya menjalani dunia perkuliahan. Pengalaman ini membuat mentalnya semakin terlatih, serta mengasah dirinya menjadi lebih tegas, serta berani tampil untuk bersuara di depan khalayak.

Selain itu, selama menjalani masa perkuliahan Verlin merasakan peran penting dari para dosen yang telah memberikan ilmu serta pelajaran-pelajaran berharga. Semua yang didapat Verlin membuatnya semakin terbentuk menjadi pribadi yang lebih bijaksana, khususnya dalam mengambil keputusan. Saat ini, Verlin telah dipercaya menjadi Direktur di PT Berkat Cemerlang Indonesia, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pemasaran bahan pewarna untuk berbagai produk seperti plastik, cat, tinta, kertas, karet, maupun bahan-bahan tekstil.

Verlin memiliki peran besar untuk membawa arah perusahaan, dan bertanggung jawab atas setiap produksi yang dilakukan perusahaan. Di samping itu, Verlin juga harus menjalankan tugasnya sebagai Direktur Yayasan Global Maju Bersama, sebuah tempat kursus bahasa yang menawarkan program Pendidikan Bahasa Mandarin, Inggris, dan Indonesia.

Yayasan Global Maju Bersama juga memiliki misi untuk memberikan pelatihan bagi anak berkebutuhan khusus, baik pengidap autis, hiperaktif, down syndrome, celebral palsy, disleksia, dan kelainan lainnya. Tanggung jawab yang dimiliki oleh Verlin bukanlah pekerjaan yang mudah untuk dikerjakan.

Verlin harus bisa membagi waktu, serta menyelesaikan setiap tugas-tugasnya sebagai seorang pemimpin. Di tengah ragam kesulitan maupun tantangan yang harus Verlin hadapi, integritas selalu menjadi nilai yang ia pegang. Nilai dari sebuah integritas inilah yang membuat Verlin mampu bertahan dan dapat menjalankan setiap tanggung jawab yang harus diselesaikan. Ketika Verlin memandang setiap perjalanan yang telah dilaluinya, terbersit kenangan kecil dimana ia dulu hanyalah seorang mahasiswa yang suka berdiri mempresentasikan tugas kuliah.

Namun ternyata semua itu menjadi suatu pengalaman masa muda yang membentuk dirinya untuk berdiri sebagai seorang pemimpin bagi perusahaannya. Nilai Yang Berharga Untuk Masa Depan Meniti jejak akademik sebagai mahasiswa jurusan Manajemen Angkatan 2008 merupakan awal mula perjalanan seorang David Gunawan. David menjadikan UPH sebagai pilihan yang utama karena ia melihat bahwa UPH merupakan kampus yang sangat baik dari segi mendidik, terutama karena nilai-nilai Kristiani yang selalu diajarkan, serta pembentukan karakter para mahasiswa-mahasiswi sesuai dengan Godly character.

Berbagai nilai yang didapatkan oleh David semasa di UPH menjadi pelajaran-pelajaran berharga yang semakin membentuk karakter, mental, serta kepribadiannya. Karena itu, bagi David dunia perkuliahan dapat menjadi suatu wadah penting bagi setiap orang untuk mendapatkan bekal yang sangat berguna sebelum memulai perjalanan di dalam dunia pekerjaan. Saat ini David telah dipercaya sebagai komisaris utama PT Minyak Urapan Anggur, dan diberi tanggung jawab di bidang operasional, marketing, serta finance.

Perjalanan David di dalam perusahaan yang bergerak untuk melakukan supply Pinelube Oil di seluruh Sinarmas Groups ini telah dimulainya sejak tahun 2013 silam. David pun harus menghadapi berbagai tantangan untuk tetap bertahan, terutama bagaimana era digital yang semakin berkembang pesat, sehingga membuat David harus terus berinovasi agar dapat bertahan di tengah kehadiran para kompetitor. Perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan semua itu, terdapat nilai yang selalu David pegang, yakni menjunjung tinggi nilai kejujuran, serta memiliki integritas di dalam menjalani dunia pekerjaan.

Dan yang terpenting dari semua itu, David tidak lupa untuk selalu mengandalkan Tuhan sebagai kekuatan utama bagi dirinya untuk dapat bertahan dalam menghadapi berbagai tantangan.

Lika-liku perjalanan yang dihadapi oleh David membuatnya menemukan makna dibalik pantang menyerah. Bukan suatu perjalanan yang mudah untuk dihadapi, namun selama ada semangat dan tekad untuk bertahan, maka setiap jerih payah yang dilakukan akan mendatangkan hasil yang mengagumkan. Rangkaian kisah yang telah dilalui oleh David membuatnya kembali mengingat nilai-nilai yang pernah didapatnya selama di UPH dulu, yakni True Knowledge, Faith in Christ and Godly Character.

Bagi David, nilai-nilai ini menjadi suatu bekal yang tak lekang oleh waktu. Nama Baik Lebih Berharga Daripada Harta Menjadikan panggilan hidup sebagai motivasi untuk menggapai masa depan, hal inilah yang membuat Gihon Yabessy Lohanda melangkah maju demi meraih impiannya.

Sejak muda, Gihon memantapkan langkahnya di bidang musik. Melihat UPH sebagai universitas yang sangat berkompeten di bidang ini, Gihon memilih UPH sebagai tempatnya menimba ilmu. “I like to think myself as a soldier sometimes, and whatever mission given unto me is considered mission to be accomplished”, ungkap mahasiswa jurusan Conservatory of Music angkatan 2003 ini. Perjalanan Gihon dalam menapaki jejak Langkah di UPH bukanlah suatu perjalanan mudah.

Dalam perjuangannya mencapai kelulusan, berbagai tantangan harus ia hadapi. Bahkan ia nyaris tidak lulus tepat waktu oleh karena kendala biaya yang sempat dialaminya di semester akhir. Di tengah keadaan itu, Gihon bersyukur memiliki pimpinan fakultas yang tidak henti memberikannya dukungan sehingga ia tetap dapat menyelesaikan perkuliahan tepat pada waktunya. Membawa musik sebagai latar belakang dirinya meniti karir adalah awal mula perjalanan karir seorang Gihon. Waktu demi waktu berlalu, berbagai tantangan harus ia hadapi.

“Sebagai seniman sangat tidak terlatih dalam bidang management, accounting, financial skill, perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan hal-hal seputar marketing. Harus belajar banyak hal baru selain harus terus mengembangkan my art craftmanship,” tuturnya. Namun panggilan hidup itulah yang selalu menjadi motivasi seorang Gihon untuk membawanya menuju hari esok yang lebih baik.

Dari panggilan hidup yang ia responi, kini Gihon dapat berdiri sebagai seorang Direktur PT Seniman Senang Selalu, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang musik (pendidikan musik, produksi musik dan juga performing entertainment). Berada di titik ini merupakan suatu perjalanan panjang yang membentuk Gihon menjadi pribadi rendah hati dan memiliki kerinduan untuk terus belajar serta menghargai sesama.

Hal-hal ini yang membuat Gihon menemukan sebuah nilai kehidupan, “nama baik lebih berharga daripada uang/harta.” Segenggam Nilai dalam Perjalanan Hidup Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri, ini adalah nilai-nilai yang selalu dipegang teguh oleh Mei Lestiorina Nainggolan, Alumni Fakultas Keperawatan UPH tahun 2009, yang kini telah dipercaya menjabat sebagai Head Division of Nursing Division & Clinical Operations di Siloam Hospital Medan.

Tanggung jawab yang berat ini telah dijalankan oleh Mei sejak 2015 silam. Ia harus bertanggung jawab untuk membangun tim perawat yang solid, berpotensi, serta memiliki kerendahan hati untuk diproses dan dibentuk.

“Tantangan terbesar saya saat ini adalah bagaimana supaya tim keperawatan mempunyai sebuah passion (a passionate team) dalam memberikan pelayanan kesehatan dan edukasi kesehatan dengan kompetensi yang memadai. Memiliki tanggung jawab dan memberikan pelayanan yang terbaik, sehingga Siloam Hospital Medan dapat selalu menjadi pilihan utama masyarakat”, ungkap Mei. Perjalanan Mei untuk bisa di titik ini tidak terlepas dari peran luar biasa mendiang Ibu yang selalu hadir di dalam kehidupannya, kehadiran keluarga di sisinya, hingga bekal akademik yang ia miliki.

Bagi Mei, pendidikan yang ia dapatkan selama di UPH merupakan suatu bekal yang sangat penting baginya. “Dengan bekal pendidikan yang memadai, seorang karyawan akan lebih cakap dalam menjalankan peran dan fungsinya. Saya sendiri sangat membutuhkan pendidikan yang mumpuni, relevan, dan setinggi-tingginya dalam melaksanakan peran dan fungsi saya”, tuturnya. Mei pun mengungkapkan harapannya agar di waktu mendatang ia dapat melanjutkan jenjang pendidikan program Magister Keperawatan di UPH.

Jejak langkah seorang Mei di dalam meniti karir juga membuatnya menemukan nilai-nilai yang penting untuk dimiliki, baik sebelum maupun ketika memasuki dunia pekerjaan.

Mei menyebutnya dengan sebutan “5B”, yakni: Bersemangat, Bersukacita, Belajar keras, Bertekun (disiplin dalam semua hal postif) dan (Jangan Lupa) Berdoa. Kiat ini menjadi hal wajib yang selalu diterapkan oleh Mei setiap hari, sembari menyongsong hari esok yang lebih baik. Dari semua yang telah dilaluinya, terucap untaian syukur dari Mei untuk UPH yang telah menjadi wadah yang membentuk dirinya dan seluruh rekan-rekan seperjuangan lainnya.

Ia pun berharap agar di waktu mendatang, UPH dapat terus membuka kesempatan bagi anak-anak bangsa Indonesia yang berprestasi dan kurang mampu untuk mendapatkan bantuan Pendidikan (beasiswa) selain FoN dan TC. “Terima kasih sebesar-besarnya karena telah hadir dan ada sampai saat ini dengan visi dan misi yang istimewa untuk kami semua sehingga kami juga menjadi lulusan-lulusan Pendidikan Tinggi yang istimewa. God bless UPH, always.” – Mei Lestiorina Nainggolan. Initiative, Diligent, Honest, Loyal are Keys to Success “Don’t stop contributing back to the campus whatever it takes!

Whether we realize it or not, it will shape us into the person we needed to be as we walk through our career paths,” says Yoseph Wicaksono, alumnus to UPH’s Applied Communication Science Alumnus 2008.

Working in the industry has allowed Yoseph to being DOKU’s VP of Business Expansion and Regional Sales. DOKU, a company that provides solution for local electronic payments as well as offering payment options to its customers requires Yoseph to lead the business division, now focusing especially to assist growth at DOKU Bali’s branch.

Entrusted with such responsibility can not be separated from the role of education. In fact, Yoseph had to go through great trials and tests prior to his current position. Yet, the softskills he’s learnt at UPH has helped him to communicate more effectively in front of an audience, adapting to different situation and circumstances, as well as learning to understand people’s nature and characters. In addition, Yoseph’s active participation in various campus activities – including Student Body (BEM-UPH), student association department (HMJ-Ilkom UPH) and Spiritual Growth for Students (SGS-UPH) – has enrich his knowledge, ones which are useful for his current career.

Every hardships that Yoseph has gone through have only made him realize the keys to success: having high initiative, being diligent, honesty, and loyalty in whichever department he is placed.

Furthermore, support from his family only adds to his drive to be successful. COVID-19 favors no one, including Yoseph. Working in a digital company requires Yoseph to strive for cohesiveness and maintain coordination with his teammate. Evenmoreso, the presence of similar competitors is also a challenge that makes Yoseph always have to innovate so that the company can excite the market with even more beneficial products.

That being said, Yoseph has always been determined to increase his capacity and is open to changes. This strong determination has enabled Yoseph to always move forward despite the presence of challenges. Wella Christie – Berani Bereksplorasi & Membangun Relasi Bagi Masa Depan Berkesempatan untuk menjadi penyiar radio UPH dan belajar hal-hal seputar radio announcer selama menjalani perkuliahan menjadi perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan utama yang membentuk mental seorang Wella Christie, Alumni Fakultas Komunikasi UPH angkatan 2009 yang kini berdiri sebagai seorang Chief Marketing Officer & Founder PT Eyelovin Cantika Indonesia, sebuah marketplace contact lenses pertama di Indonesia yang berdiri sejak tahun 2009, dan kini menjadi salah satu situs informasi serta toko lensa kontak terlengkap dan terpercaya di Indonesia.

Selama menjalani studi di UPH, kehadiran para dosen yang berkualitas sungguh-sungguh berperan penting dalam mengasah dan mengajarkan dirinya untuk bebas mengeksplorasi serta mengembangkan setiap potensi dan kemampuan dalam berkarya. Ditambah berbagai fasilitas kampus yang mendukung mahasiswa/i untuk dapat berkreasi, kehadiran para senior yang memberikan arahan dan masukan, hal ini menjadi dukungan yang membuat Wella dapat memaksimalkan potensi dirinya, dan membuatnya semakin berani menggunakan setiap peluang yang ia temukan di UPH untuk berkarya.

Itulah kenapa Wella selalu berkata “jangan takut mengeksplorasi kegiatan yang disediakan kampus, dari kegiatan tersebutlah kita bisa mendapatkan banyak teman baru yang bisa membuka peluang usaha“. Perjalanan seorang Wella selama di UPH tidak hanya membuatnya mengenal nilai-nilai akademik, tetapi juga membuatnya mengerti nilai dari sebuah tim kerja, disiplin, dan kejujuran. Berbagai tantangan kini dihadapi oleh Wella, khususnya bagaimana ia tetap harus membangun suatu perencanaan, proses dan eksekusi tim marketing untuk dapat menjangkau pelanggan lebih luas.

Dengan ilmu pendidikan yang telah ia miliki, hal perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan menjadi bekal yang sangat berguna bagi dirinya dalam menjalani dunia pekerjaan yang saat ini ia tekuni.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Wella terus melangkah dan fokus meniti karier, melakukannya dengan penuh semangat dan sukacita, sembari menatap keluarga sebagai alasan yang membuatnya memiliki kekuatan di tengah berbagai tantangan yang ia hadapi.

UPH merupakan tempat untuk belajar dan bertumbuh dan telah mempersiapkan saya memiliki kehidupan profesional saya saat ini, terutama selama masa bakti saya di Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen (HMJM). Aktivitas berorganisasi ini mengasah kemampuan skill kepemimpinan dengan tanggung jawab dan kesempatan untuk bertemu dengan stakeholder yang sangat besar.

Asas kekeluargaan yang dijunjung tinggi dalam HMJM juga mengajarkan untuk selalu memimpin dengan kerendahan hati (lead with humility) Memberikan 1000% dalam Setiap Tanggung Jawab & Berintegritas, Steaven M. Livan Lakukan Perencanaan & Implementasi Rancangan Strategi Tahunan dengan Stakeholder Lintas Negara Memiliki integritas dan bekerja berdasarkan pedoman merupakan nilai yang harus dijalani oleh setiap pribadi, terlepas dari peran dan tanggung jawab masing-masing.

Integritas – inilah yang menjadi acuan dalam bekerja, menurut Steaven Michael Livan, Alumni Manajemen UPH perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan 2010. Ia dipercayakan untuk membantu proses aktivitas penggalangan dana (fundraising) perusahaan; menjalin hubungan dengan investor; serta melakukan perencanaan dan implementasi rancangan strategi tahunan dengan stakeholder lintas negara (Indonesia, Thailand, Hong Kong, dan Singapura) di Orami, sebuah perusahaan berbasis teknologi untuk membantu orang tua untuk berbelanja dan mendapatkan wawasan terkait cara mengasuh anak.

Tidak hanya berintegritas saja – Steaven juga selalu mengerjakan setiap tanggung-jawab yang dipercayakan kepadanya dengan sikap excellence. “Perencanaan itu penting, namun permasalahan operasional yang tidak terencana itu pasti selalu ada dan tugas kita untuk selalu menentukan solusi terbaik agar tujuan utama tetap dapat direalisasi.

Dalam situasi ini, integritas menjadi kunci utama dalam menyelesaikan permasalahan harian di lapangan. Selain itu, selalu berikan 1000% untuk setiap tugas yang diberikan, terlepas dari jenuhnya atau banyaknya tugas yang ada juga penting. Rasanya tidak hanya semasa kuliah saja saya harus mampu membagi waktu antara tugas dan berorganisasi, saat inipun saya juga masih harus melatih diri dalam manajemen waktu dan menentukan skala prioritas yang dapat berubah setiap minggu,” kata Steaven.

Tentu pendidikan memiliki peran penting dalam perjalanan karier Steaven hari ini. Selain dari dukungan fasilitas dan lokasi yang strategis, melalui pendidikannya di UPH Steaven telah dipersiapkan dengan ilmu dan aktivitas organisasi untuk hidup secara mandiri.

“UPH merupakan tempat untuk belajar dan bertumbuh dan telah mempersiapkan saya memiliki kehidupan profesional saya saat ini, terutama selama masa bakti saya di Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen (HMJM). Aktivitas berorganisasi ini mengasah kemampuan skill kepemimpinan dengan tanggung jawab dan kesempatan untuk bertemu dengan stakeholder yang sangat besar. Asas kekeluargaan yang dijunjung tinggi dalam HMJM juga mengajarkan untuk selalu memimpin dengan kerendahan hati (lead with humility). Saya berharap UPH dapat terus menghasilkan lulusan yang mampu bersaing di tingkat internasional, baik profesional maupun pelaku bisnis di lintas industri,” tutup Steaven.

Salah satu pengalaman paling tidak terlupakan yang saya lalui di UPH adalah mengikuti komunitas international moot court, yang mengenalkan saya ke dunia baru dan seperti dimensi lain dari kuliah hukum pada umumnya. Kegiatan moot court memakan sangat banyak waktu dan memberikan dampak positif yang begitu besar terhadap arah perjalanan saya dalam kuliah hukum. Tanpa adanya kegiatan moot court, mungkin saya tidak akan menjadi diri saya yang sekarang. Thank you UPH for a great 3.5-years of education that blasted me off to a life-long journey of serving God and others!

Mempertimbangkan Berbagai Risiko & Aspek Hukum, Wynne Prasetyo Berkarier Dalam Bidang Hukum Bisnis “Tim hukum memiliki sudut pandang yang unik dibanding peran-peran bisnis yang saat ini ada di Xendit. Ketika tim bisnis terus berupaya mencari kesempatan baru dan memanfaatkan momentum, tim perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan berperan untuk mengkaji dan mempertimbangkan berbagai risiko dan aspek hukum dari langkah bisnis yang sedang dan ingin dilakukan. Sering saya dengar di berbagai perusahaan di Indonesia, tim hukum dianggap sebagai tim yang selalu bilang tidak, tim yang selalu mempersulit pergerakan bisnis.

Padahal, in life, you get to where you want to be not only by taking the roads you did, but also by leaving the roads you didn’t take. Same applies in the life of a business,” kisah Wynne, sebuah tawa ringan mengiringi ceritanya. Ialah Wynne Prasetyo, alumni Hukum UPH angkatan 2009 yang saat ini menjabat sebagai Legal Counsel (Head of Indonesia Operations) di Xendit. Dalam tanggung jawab tersebut, Wynne dan timnya diharapkan dapat membangun infrastruktur hukum untuk mendukung perkembangan dan kemajuan perusahaan.

Perusahaan tempat Wynne bekerja saat ini bergerak sangat cepat dalam menyeimbangi kebutuhan pasar domestik dan regional, sehingga dukungan hukum yang cukup memberikan proteksi namun tetap memberikan jalan untuk mewujudkan visi dan misi perusahaan sangatlah krusial. Namun tentu saja, Wynne juga ingin setiap anggota timnya selalu bertumbuh secara profesional.

Wynne pun mengakui bahwa ia tidak mendefinisikan dirinya dengan jabatan, titel, atau peringkat apapun yang dipegangnya. Baginya, melakukan pekerjaan dengan sepenuh hati, tulus, dan membuatnya bahagia menjalani karier tersebut akan membawanya pada kepercayaan yang lebih tinggi. Wynne turut bersyukur telah menjalani pendidikannya di UPH. Baginya, pendidikan merupakan salah satu kunci penting yang dapat membentuk pola pikir serta kepribadian seseorang.

Melalui pendidikan, ia tidak hanya mendapatkan ilmu praktis, namun juga nilai-nilai moral yang ditanamkan oleh para dosen. Sebagai lulusan jurusan hukum, salah satu pengalaman terbaik Wynne di UPH adalah Moot Court, sebuah kegiatan yang bahkan sempat ia menangkan saat duduk dibangku SMA dan kemudian dilanjutkan dengan mengikuti kompetisi-kompetisi moot court berskala internasional di Fakultas Hukum UPH. “Salah satu pengalaman paling tidak terlupakan yang saya lalui di UPH adalah mengikuti komunitas international moot court, yang mengenalkan saya ke dunia baru dan seperti dimensi lain dari kuliah hukum pada umumnya.

Kegiatan moot court memakan sangat banyak waktu dan memberikan dampak positif yang begitu besar terhadap arah perjalanan saya dalam kuliah hukum. Tanpa adanya kegiatan moot court, mungkin saya tidak akan menjadi diri saya yang sekarang. Thank you UPH for a great 3.5-years of education that blasted me off to a life-long journey of serving God and others!” tutup Wynne dengan semangat.

Berkuliah di UPH merupakan salah satu keputusan dan pengalaman yang membantu membentuk diri saya sekarang, terutama melalui pengalaman berorganisasi di BEM. Melalui BEM, masa kuliah saya jadi memiliki lebih banyak warna dan exposure. Selain itu, saya juga bertemu dengan banyak sekali orang baik dalam kampus maupun di luar kampus yang memiliki dampak besar bagi hidup saya hingga sekarang Memperkenalkan Makanan Indonesia ke Mancanegara, Dennis Oswald Tannos Kembangkan Galada.id Dennis Oswald Tannos, Alumni Teknik Informatika UPH angkatan 2008 yang saat ini adalah sebagai Founder sekaligus CEO dari Galada, berhasil menyajikan makanan Indonesia kaya rempah dalam kemasan siap saji yang mudah disajikan kapan dan dimana saja.

Saat ini menu makanan hasil karyanya telah dicoba oleh pelanggan di lebih dari 40 kota di Indonesia dan bahkan di lebih dari 6 negara di dunia. Perjalanan sukses Dennis dimulai dari kebiasaannya berbagi makanan kepada tetangga dan teman-teman, dimana Dennis mendapatkan masukan mengenai makanan yang dimasak serta menemukan bahwa makanan ini dapat menjadi solusi bagi mereka yang memiliki keterbatasan waktu atau kemampuan memasak namun tetap ingin mengkonsumsi makanan yang baik secara kualitas.

“Dimulai dari pesanan beberapa teman yang tinggal di daerah, disitulah kami merasa perlu berinovasi terhadap packaging agar dapat dikirim ke luar kota sekalipun. Kami mendapati juga bahwa semua pembeli kami memang hanya menginginkan makanan Indonesia yang comforting dan mengingatkan mereka pada kampung halaman.

Melalui Galada, kami ingin menjadi bagian dari cerita dimana makanan Indonesia dapat dikenal di seluruh dunia dan disandingkan dengan makanan-makanan terkenal dari negara lainnya,” kisah Dennis. Merintis sebuah usaha dari nol tentu memiliki tantangannya tersendiri, termasuk tantangan untuk terus berinovasi menu agar rasa penasaran pembeli terus muncul dan kembali melakukan pemesanan.

Beruntung bagi Dennis, lingkungan pertemanan serta bimbingan spiritual yang baik yang ia dapatkan di UPH menjadi mesin yang mendorongnya untuk terus berkarya bagi Indonesia.

Ditambah dengan keluarga yang terus mendukungnya, Dennis terus mengelola usaha yang dimilikinya dengan tanggung jawab dan bergantung pada Tuhan. “Berkuliah di UPH merupakan salah satu keputusan dan pengalaman yang membantu membentuk diri saya sekarang. Terutama melalui pengalaman berorganisasi di BEM karena melalui BEM-lah saya merasa masa perkuliahan saya memiliki lebih banyak warna dan exposure. Selain itu, saya juga bertemu dengan banyak sekali orang baik dalam kampus maupun di luar kampus yang memiliki dampak besar bagi hidup saya hingga sekarang.

Needless to say, I’m proud to be part of UPH,” tutup Dennis, sebuah tawa ringan mengiringi kisahnya. Saat memutuskan untuk berkuliah di UPH, saya melihat bahwa UPH merupakan salah satu dari pilihan kampus swasta terbaik yang ada di Indonesia, termasuk mMendapatkan kesempatan untuk diajar oleh seorang dosen yang sampai saat ini masih menjadi panutan saya. Walaupun ada banyak hal yang menjadi pergumulan saat beliau mengajar dulu, tapi ilmu yang beliau sampaikan ternyata dibutuhkan industri kerja saya saat ini Shella Natasha, Alumni Ilmu Komunikasi UPH, Menemukan Jalan Tengah Bagi Semua Orang Melalui Komunikasi Bekerja dibidang komunikasi untuk sebuah perusahaan start up tentu membutuhkan kemampuan untuk beradaptasi yang tinggi.

Apalagi dengan tuntutan agar pesan yang ingin disampaikan oleh management dapat diterima oleh seluruh karyawan dengan pemahaman yang benar, kemampuan berkomunikasi yang baik dan efektif sangat dibutuhkan oleh Shella Natasha, alumni Ilmu Komunikasi UPH angkatan 2009. Sebagai Internal Communications & Engagement Lead di DANA, Shella tidak hanya harus mengkomunikasikan pesan dengan baik, namun juga mampu membagi tugas dengan tim agar kegiatan dan aktivitas beragam yang diimplementasikan perusahaan dapat meningkatkan engagement karyawan.

“Karena latar belakang pendidikan saya sejalan dengan karier yang sedang saya jalani, saya tidak memiliki kesulitan tertentu untuk beradaptasi dengan pekerjaan saya saat ini. Namun tentu saja, setiap pekerjaan ada tantangannya.

Bagi saya, latar belakang karyawan yang berbeda-beda, juga jumlah karyawan dengan pesebaran yang beragam menjadi tantangan tersendiri menjadi tantangan perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan dalam pekerjaan saya. Namun saya percaya, jika saya bekerja dengan integritas dan kegigihan serta mengutamakan teamwork dan menerapkan pola pikir Customer First, saya akan mampu mencapai target apapun yang diberikan oleh perusahaan,” Shella menjelaskan.

Bagi Shella, pendidikan memegang peran penting dalam kariernya hari ini. Melalui pendidikan yang dijalaninya di UPH, ia ditempa untuk memiliki kerangka berpikir yang dibutuhkannya serta terus termotivasi untuk mengembangkan diri sendiri. Shella sendiri juga merasa bersyukur karena telah mendapatkan sosok pendidik yang secara tidak langsung memberikan dampak besar terhadap pola kerja yang dimilikinya saat ini.

“Saat memutuskan untuk berkuliah di UPH, saya jelas melihat bahwa UPH merupakan salah satu dari pilihan kampus swasta terbaik yang ada di Indonesia.

Salah satunya termasuk mendapatkan kesempatan untuk diajar oleh seorang dosen yang sampai saat ini masih menjadi panutan saya. Walaupun ada banyak hal yang menjadi pergumulan saat beliau mengajar dulu, tapi ilmu yang beliau sampaikan ternyata dibutuhkan industri kerja saya saat ini,” tutup Shella dengan penuh antusiasme.

4 tahun belajar di UPH memberikan banyak sekali pengalaman yang menarik dan berkesan bagi saya, salah satunya adalah eratnya pertemanan dan persahabatan dengan rekan-rekan mahasiswa lain, baik yang satu angkatan maupun dengan kakak kelas dan adik kelas. Karena jumlah murid setiap jurusan yang masih terbatas dan kampus sendiri waktu itu juga baru dalam tahap pengembangan awal, kami semua terlibat sebagai satu keluarga besar yang saling bahu membahu untuk membuat UPH lebih dikenal didunia pendidikan di Indonesia Termotivasi Dari Pengalaman Hidup, Kariyanto Memutuskan Untuk Berjuang dan Meniti Karier di Jakarta Integritas, rasa hormat, disiplin, memimpin dengan teladan, dan kesediaan untuk bekerja ekstra adalah nilai-nilai yang menjadi pedoman Kariyanto Hardjosemarto, Alumni Management UPH angkatan 1995, dalam menjalani tanggung jawab sebagai Head of Sales Operation and Product Management Mercedes-Benz Distribution Indonesia.

Keseharian pria kelahiran Magetan, Jawa Timur, ini dipenuhi dengan tanggung jawab untuk pengambilan keputusan dalam hal penetapan produk-produk yang akan dipasarkan di Indonesia termasuk harganya; merencanakan pemesanan kendaraan baik CBU maupun kits dari kendaraan yang akan dirakit secara local sampai dengan distribusinya kepada seluruh perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan di Indonesia; menentukan strategi penjualan yang tepat agar target yang telah ditetapkan bisa tercapai; memastikan bahwa para konsumen puas dengan pengalaman pembelian kendaraannya; dan juga memastikan business partner atau para dealer beroperasi berdasarkan standar yang telah ditetapkan dan mendapatkan profit.

Kerry – sebagaimana ia biasa dikenal diantara koleganya – tentu sudah terbiasa menghadapi berbagai tantangan dalam hal pekerjaannya, seperti saat ini yang menjadi tantangan utamanya adalah transisi ke digitalisasi dalam proses penjualan, elektrifikasi kendaraan, kondisi pasar pasca pandemi, serta kelangkaan suplai akibat krisis semikonduktor yang terjadi secara global.

Keinginan untuk menjadi teladan bukan hanya terjadi saat ini saja saat sudah terjun ke dunia professional, akan tetapi hal itu juga sudah menjadi keinginannya sejak memutuskan untuk kuliah di UPH. “Saya berasal dari keluarga petani di pelosok kampung di Jawa Timur. Orang tua saya pedagang sayur keliling dari satu pasar ke pasar yang lain dan belum ada keluarga atau tetangga yang meniti karier sebagai pekerja profesional di Jakarta waktu itu, sehingga kondisi itu akhirnya memotivasi saya untuk mendapatkan kesempatan berkuliah di Jakarta dengan harapan suatu saat saya bisa mendapatkan karier yang baik di ibukota.

Dan setelah mulai bekerja pun yang menjadi motivasi utama saya adalah bagaimana bisa berhasil di pekerjaan saya serta menjadi contoh yang baik untuk keluarga dan saudara – saudara saya,” kisah Kerry, keteguhan tercermin dalam nada bicaranya. Kerry yang berhasil mendapatkan beasiswa penuh dari Lippo Group untuk berkuliah di UPH, tidak pernah melupakan kenangan masa ia menempuh pendidikan di UPH.

“4 tahun belajar di UPH memberikan banyak sekali pengalaman yang menarik dan berkesan bagi saya, salah satunya adalah eratnya pertemanan dan persahabatan dengan rekan-rekan mahasiswa lain, baik yang satu angkatan maupun dengan kakak kelas dan adik kelas. Karena jumlah murid setiap jurusan yang masih terbatas dan kampus sendiri waktu itu juga baru dalam tahap pengembangan awal, kami semua terlibat sebagai satu keluarga besar yang saling bahu membahu untuk membuat UPH lebih dikenal didunia pendidikan di Indonesia.

Pengalaman menarik lainnya yang tidak akan pernah saya lupa adalah bagaimana UPH menjadi tempat saya pertama kali naik lift, pertama kali menerima kue ulang tahun, dan pertama kali naik mobil mewah (yaitu Mercedes-Benz C180) juga milik teman saya di UPH. Saya berharap UPH tetap menjadi center of excellence yang mencetak lulusan yang unggul secara akademis, memiliki karakter yang baik dan cinta kepada tanah air,“ tutup Kerry. Salah satu pengalaman yang paling saya ingat adalah kesempatan untuk bisa bergabung satu periode Badan Eksekutif Mahasiswa UPH (BEM-UPH) dan satu periode Majelis Perwakilan Mahasiswa UPH (MPM-UPH).

Saya belajar banyak dari hidup berorganisasi, terutama kemampuan untuk membagi waktu antara menyelesaikan tugas kuliah dan berkontribusi di organisasi kemahasiswaan – hal ini masih saya aplikasikan juga di dunia pekerjaan Mengasah Kemampuan Time-Management Sejak Kuliah, Daniel Moeis Kini Dipercaya Beberapa Proyek Besar Bersamaan “Satu value yang sampai sekarang tetap saya pegang adalah motto yang saat saya kuliah dulu terpajang dipintu masuk UPH: ‘Responsibility Begins With Me’.

Zaman sekarang banyak orang yang memilih-milih pekerjaan, mau yang mudah, mau cepat untung dan lain sebagainya. Namun, bagi saya apapun pekerjaan yang saya hadapi, saya harus mulai bertanggung jawab dari diri saya sendiri. Saya harus bisa menunjukkan bahwa setiap pekerjaan yang diberikan bisa diselesaikan dengan cepat perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan juga baik.

Selebihnya ditunjang oleh etos kerja yang efektif, efisien, jujur dan terus mau belajar hal – hal yang baru,” ucap Daniel. Ialah Daniel Moeis, alumni Arsitektur UPH angkatan 2005 yang saat ini dipercaya sebagai Marketing Director of Triniti Land, dimana ia bertanggung jawab untuk pengembangan properti dengan luas lebih dari 150 hektar di sejumlah wilayah Indonesia termasuk Jakarta, Tangerang, Batam, Bogor dan juga Lampung.

Ia tidak hanya menghidupi prinsip yang dibawanya sejak kuliah tersebut, namun juga tetap mengutamakan Tuhan dan keluarga. Ia mengakui bahwa kerinduannya adalah untuk mempermudah dan membantu hidup orang lain.

“Kendala terbesar saya sebetulnya ada di dua area. Yang pertama adalah bagaimana membagi waktu untuk setiap project agar semua mendapatkan hasil yang maksimal. Project lama atau project baru mempunyai value prioritas yang memerlukan dedikasi yang terbaik, bukan hanya sekedar berjalan saja.

Yang kedua adalah bagaimana membawa perusahaan tidak hanya bersaing di pasar offline saja, tetapi juga dapat menjangkau pasar online yang semakin hari semakin berkembang. Keadaan saat ini membuat beberapa aktivitas tatap muka semakin terbatas, sehingga penting untuk perusahaan bisa tetap berjalan walaupun terkendala pada waktu dan tempat,” jelas Daniel. Daniel percaya bahwa pendidikannya di UPH telah melengkapi dirinya untuk bekerja dengan maksimal dalam bidang yang ditekuninya saat ini.

Baginya, UPH telah memberikan ilmu praktis berstandar global, network yang luas, serta kesempatan yang sangat luas untuk mengasah soft-skills yang masih ia pakai dalam pekerjaannya hari ini. “Banyak sekali pengalaman menarik dan berkesan selama saya berkuliah di UPH, salah satunya adalah kesempatan untuk bisa bergabung satu periode Badan Eksekutif Mahasiswa UPH (BEM-UPH) dan satu perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan Majelis Perwakilan Mahasiswa UPH (MPM-UPH).

Saya belajar banyak dari hidup berorganisasi, terutama kemampuan untuk membagi waktu antara menyelesaikan tugas kuliah dan berkontribusi di organisasi kemahasiswaan – hal ini masih saya aplikasikan juga di dunia pekerjaan. Maju terus UPH!” tutup Daniel dengan antusias. Selalu Bekerja Keras dan Memberikan yang Terbaik, Roberto Saputra Kini Dipercaya Menjadi Chief Brand Officer PT Smartfren Telecom Tbk.

Sebagai alumni angkatan pertama UPH tahun 1994, yang mengambil program studi Teknik Industri, Roberto Saputra memiliki kesan yang mendalam terhadap UPH.

Kedekatan antar mahasiswa membuat Roberto amat bersyukur mengambil keputusan untuk berkuliah di UPH. “Saat saya hendak kuliah dulu, tidak banyak universitas swasta yang membuka jurusan Teknik Industri. Pas sekali saat itu saya dengar UPH baru saja buka, ada jurusan Teknik Industri-nya, dan ditambah juga dengan visi misi UPH yang kuat membuat saya makin tertarik masuk UPH. Menjadi angkatan pertama sebuah universitas mungkin menjadi dilemma bagi banyak orang, namun saya malah sangat terkesan dengan kedekatan mahasiswa dan dosen diangkatan pertama dan kedua, dimana kelasnya kecil sehingga interaksi kita lebih fleksibel.

Saat itu, kami juga masih merasakan berkuliah di gedung Dynaplast dan gedung parkir yang disulap jadi kelas (sekarang gedung B), sehingga kami menjadi mudah mengenal teman-teman jurusan lain,” ucap Roberto. Saat ini Roberto dipercayakan tanggungjawab sebagai Chief Brand Officer di PT Smartfren Telecom Tbk., dimana ia mengemban tugas untuk meningkatkan minat konsumen terhadap produk dan solusi internet (brand building) serta memastikan bahwa produk yang ditawarkan perusahaannya bisa dikenal dan relevan untuk target market yang dibidik (marketing and communication).

Termasuk didalam tugas Roberto adalah untuk mencari cara agar dalam era digital saat ini, perusahaan dapat mengantisipasi consumer shift dari offline ke perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan, selalu up-to-date terhadap tren dan kemajuan teknologi, serta tangkas dalam menghadapi kompetitor.

“Pribadi yang berperan besar dalam memotivasi saya untuk maju dan berkarya adalah ayah saya, dimana beliau juga merupakan salah satu dosen UPH saat saya berkuliah dulu. Kami selalu berangkat bersama ke kampus dan meskipun tidak banyak berbincang, saya melihat apa yang beliau lakukan untuk keluarga. Ayah saya adalah pekerja keras, tidak banyak mengeluh dan selalu ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga,” ucap Roberto.

Roberto juga mengatakan bahwa dalam menjalani kariernya, nilai-nilai seperti integritas, keinginan untuk terus belajar, bekerja keras untuk mewujudkan mimpi, dan menjadi berkat bagi tempat kerja kita adalah faktor penting untuk diterapkan. Tanpa nilai-nilai ini, kita tidak akan mampu berkarya dengan maksimal.

“Dream high, believe that all things are possible! Kesulitan yang kita hadapi hari ini adalah kesempatan bagi kita untuk menjadi orang yang lebih baik.

Kita hanya perlu mengubah mindset dan respon kita terhadap setiap masalah yang datang,” tutupnya dengan semangat. Berkolaborasi Untuk Pendidikan yang Lebih Baik di Indonesia, Steven Sutantro Melatih & Mendampingi Komunitas 4.000 Pelatih Kutipan yang berkata “jika Anda ingin pergi cepat, Anda bisa pergi sendiri.

Jika Anda ingin pergi jauh, pergilah bersama-sama”, adalah prinsip yang dipegang teguh oleh Steven Sutantro, Google Certified Coach di REFO, partner professional development Google for Education di Indonesia. Steven, sapaan akrab pria kelahiran Jakarta ini yang merupakan alumni Teacher’s College UPH angkatan 2007, dimana saat ini ia dipercaya untuk mengelola pelatihan, pendampingan serta komunitas 4.000 trainer, innovator & educator bersertifikasi Google for Education pada 34 provinsi di Indonesia.

Steven percaya bahwa kolaborasi berbagai pihak dibutuhkan untuk membangun kualitas manusia Indonesia yang lebih baik, sehingga berkolaborasi dengan Kemendikbudristek menjadi pilihan terbaik Steven saat ini. Steven pun mengakui bahwa perjalanannya bersama REFO untuk mendidik trainer, innovator, dan educator yang berkualitas masih sangat panjang.

perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan

Ia melihat bahwa masih banyak sumber daya manusia di Indonesia yang belum memiliki pola pikir, pengalaman, dan keahlian digital yang dibutuhkan. Terinspirasi dari passion, karya, dan dampak dalam bidang teknologi yang dibawa oleh pendiri startup digital yang sukses memecahkan masalah lewat aplikasi digital, Steven terus berjuang untuk memberikan pelatihan dan pendampingan agar pendidikan di Indonesia dapat mengalami kemajuan pesat satu dekade mendatang.

Panggilan untuk mentransformasi pendidikan di Indonesia tentu tidak terbentuk dengan sendirinya. Dibutuhkan kurikulum dan kesempatan berkolaborasi dengan dosen dan rekan-rekan mahasiswa dalam melakukan penelitian maupun dalam menyelenggarakan kegiatan untuk memperlengkapi Steven.

Baginya, masa-masa kuliah di UPH menjadi batu loncatan penting yang mempertajam panggilan tersebut. “Pendidikan di UPH memberikan fondasi berupa nilai-nilai kepemimpinan dan keahlian yang relevan yang membentuk saya menjadi coach & pengajar profesional yang berdampak. UPH juga telah memberikan kesempatan pada saya untuk belajar dari dosen yang memberikan teladan hidup, perspektif yang baru, pengalaman nyata inspiratif, serta keahlian yang relevan yang dibutuhkan untuk mentransformasi pendidikan Indonesia,” ucap Steven.

Saya belajar banyak hal di UPH, terutama dalam hal organisasi dan kepemimpinan. Mengambil bagian dalam kepengurusan sebuah organisasi tidak hanya melatih kita untuk melakukan yang terbaik atau menyelesaikan sebuah kegiatan sampai selesai, tapi juga bagaimana kita saling membantu satu sama lain untuk bertumbuh, baik secara pribadi maupun bersama agar dapat mencapai tujuan yang lebih besar Mengembangkan Potensi & Mendidik Siswa Dibidang Teknologi, Juventia Vicky Responi Panggilan Melalui Hacktiv8 Perkembangan teknologi di Indonesia mengalami lompatan yang sangat besar dua dekade ini.

Dan tidak dapat dipungkiri, dengan kemajuan teknologi yang cepat ini, dibutuhkan developer-developer yang memahami sistem back-end dan mampu mengembangkannya dengan baik. Ialah Juventia Vicky, alumni Ilmu Komunikasi UPH angakatan 2007, yang dipercaya untuk mengkoordinasi admission, marketing, bisnis, operasional, dan departemen sumber daya manusia perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan mengembangkan Hacktiv8 Indonesia, sebuah program pendidikan online yang mempersiapkan pemula untuk menjadi developer yang siap kerja dalam bidang teknologi.

Mengembangkan potensi dan mendidik pribadi yang akan menjadi pemimpin masa depan dibidang teknologi merupakan sebuah panggilan yang Vicky responi melalui Hacktiv8. Vicky percaya bahwa salah satu cara untuk berdampak bagi sebuah tempat (atau bahkan negara) adalah dengan fokus terhadap pengembangan kepemimpinan.

“Kalau untuk saya pribadi, sangat penting untuk memahami the ‘why’ dibalik setiap hal yang saya lakukan. Dengan memahami alasan mengapa saya melakukan sesuatu itulah saya dapat terus memotivasi diri, karna saya meyakini dampak yang saya dapat berikan untuk masa depan yang lebih baik. Intinya, the ‘why’ memberikan saya energi untuk mencapai hal-hal yang saat ini menurut orang tidak mungkin.

Dalam tanggung jawab yang saya jalani di Hacktiv8, saya dan tim tidak hanya ingin memberikan hard-skill kepada teman-teman supaya mereka menjadi developer yang siap kerja – namun kami juga rindu melihat mereka memiliki mindset yang transformasional sehingga pada akhirnya mereka akan terpacu untuk memaksimalkan potensi yang mereka miliki.

Maka dari itu, di Hactiv8 kami memiliki counselor untuk membantu siswa/i untuk mengenal diri mereka juga,” ucap Vicky. Bagi wanita kelahiran Kalimantan ini, Vicky, menjalani pendidikan di UPH merupakan sebuah keputusan besar yang harus ia ambil. Ia mengakui bahwa keluar dari zona nyaman adalah sebuah hal yang menakutkan bagi banyak orang, apalagi untuk memutuskan merantau pada usia muda. Namun Vicky percaya bahwa pendidikan adalah faktor penting yang akan membantunya untuk berkembang dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik sehingga memilih UPH adalah keputusan terbaik yang diambilnya saat itu.

“Saya belajar banyak hal di UPH, terutama dalam hal organisasi dan kepemimpinan. Mengambil bagian dalam kepengurusan sebuah organisasi tidak hanya melatih kita untuk melakukan yang terbaik atau menyelesaikan sebuah kegiatan sampai selesai, tapi juga bagaimana kita saling membantu satu sama lain untuk bertumbuh, baik secara pribadi maupun bersama agar dapat mencapai tujuan yang lebih besar.

Kalau untuk saya pribadi, saya waktu itu dipercaya untuk menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) periode 2009.

Awalnya saya menolak ketika senior saya meminta saya untuk mengejar posisi tersebut, soalnya saya bukan tipe orang yang terampil berbicara didepan umum, apalagi untuk menikmati tampil didepan publik. Namun saya bersyukur beliau tidak berhenti meyakinkan saya bahwa saya mampu dan akan diperlengkapi untuk peran ini.

Bahkan, dosen-dosen saya ikut mendorong saya. Waktu itu, sembari bercanda, salah satu dosen saya berkata, ‘kalau kamu ga naik jadi ketua HMJ, saya ngga mau lagi ngomong sama kamu’,” kisah Vicky, sebuah tawa mengiringi ceritanya. Dimuridkan untuk Memuridkan, Heinz Wokaz Penuhi Panggilan Sebagai Seorang Guru & Mentor Bagi Murid-Muridnya Menjadi seorang guru, tidak hanya mengajarkan ilmu praktis kepada siswa/i, namun juga harus menjadi teladan sekaligus sahabat bagi anak didik, itulah komitmen yang terus dijalani dengan sepenuh hati, bertanggung jawab dan gigih oleh seorang Heinz Pearly Wokas, Alumni Magister Teknologi Pendidikan UPH angkatan 2008, dalam meresponi panggilan Tuhan dengan maksimal.

“Saya sangat beruntung mendapatkan kesempatan belajar dan bekerja di institusi yang sangat peduli dengan visi dan misinya.

Visi dan misi Yayasan Pendidikan Pelita Harapan (YPPH) sejalan dengan visi dan misi pribadi saya sehingga saya tidak terlalu kesulitan perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan menyesuaikan dua hal tersebut. Selain itu, saya pikir sebagai orang Kristen, kita diberikan hak istimewa untuk menjadi alat Tuhan untuk menjangkau dan mendidik mereka dalam kebenaran. Pekerjaan saya saat ini memungkinkan saya melakukan kedua hal tersebut dengan leluasa,” ucap Heinz yang saat ini menjabat sebagai Kepala SMA Dian Harapan Holland Village (HV) Manado sekaligus sebagai Head of School SDH HV.

Heinz memilih untuk melanjutkan pendidikan magisternya di UPH yang berawal dari tawaran beasiswa penuh. Seiring dengan berjalannya waktu, ia semakin yakin bahwa bukan kebetulan dirinya perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan dan menempuh pendidikan di UPH. “Seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa saya dibentuk secara intensional untuk menjadi guru Kristen. UPH sebagai universitas Kristen, telah berupaya sedemikian rupa menyiapkan para lulusannya untuk menjadi agen perubahan yang efektif di ladang pelayanan masing-masing.

Saya pun merasa sangat beruntung mendapatkan dosen-dosen yang bukan hanya peduli dengan perkembangan kompetensi saya sebagai mahasiswa, tetapi juga keseluruhan hidup saya sebagai murid Kristus yang perlu dimuridkan,” tutup Heinz. Saya beruntung mendapatkan beasiswa penuh yang ditawarkan oleh International Teachers College (ITC) UPH.

Awalnya, saya ragu untuk menjadi seorang guru, namun, pengalaman yang saya dapatkan – termasuk persahabatan dengan teman sekelas dari berbagai benua, bimbingan dengan profesor yang sangat peduli terhadap mahasiswanya, dan kesempatan magang yang luas – membuat saya jatuh cinta dengan pekerjaan saya saat ini sekaligus jatuh cinta dengan pendidikan yang ditawarkan oleh UPH.

Saya bangga telah berjuang dengan sampai akhir dan menjadi bagian dari alumni ITC UPH A Teacher and A Steward, Thomas F. Harefa Responds to God’s Calling At such a young age, Thomas Ferdinand Harefa, Alumnus to International Teacher’s College UPH cohort 2016 has been entrusted to be Life International School’s Secondary Principal, a Christian school located at Sihanoukville, Cambodia. This Balikpapan-born principal is responsible to co-lead a diverse international team of Christian educators in creating an optimal learning environment and spiritual climate for their Secondary students, one to which will support the community to meet the school’s vision, mission and expected student outcomes.

“For a Christian school administrator, the most important aspect of leadership is one’s relationship with God. I believe it is important (and to some extent rewarding) to become a ‘Martha’ in handling various things at a time, but the Lord calls us to be a ‘Mary’ — to commune with Him and love Him with all our heart, mind, soul, and strength.

I aim to exhibit Christ-like authenticity, accountability, and compassion as a school administrator. This is only possible through my daily commitment to be under His Word,” Thomas, or so is he known in his day-to-day errand, explains.

‘A smooth sea never made a skilled sailor’, so the saying goes. And the same applies for Thomas in his responsibility as a Secondary Principal. He makes use most of his time juggling day-to-day academic and administrative matters that pertains to our school community.

Ranges from setting strategic school-wide policies to pastoral care of the teaching staff. Despite the difficulties however, Thomas believed that the Lord works in all things and has provided meaningful milestones throughout the past academic year. Furthermore, Thomas believes that education has played in important role in his life. And as an administrator that strives to bring Shalom to wherever God calls him to administer, Thomas is humbled and grateful to have been able to attend UPH for his undergraduate education.

“I was fortunate enough to have attained the full scholarship offered by the International Teachers College (ITC) at UPH.

At first, I was hesitant to be a teacher, however, the experience that I was enabled to have – including friendship with classmates across continents, mentorship with caring professors, and purposeful internships – made me fell in love with the high level of meaningful education that was offered. I am proud to have fought the good fight and call myself an alumnus of ITC at UPH,” Thomas closes with a smile. Sebagai angkatan pertama di UPH, tentunya banyak pertimbangan saat hendak memilih UPH sebagai tempat studi.

Tapi pada akhirnya, saya meyakini bahwa UPH adalah perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan yang sangat memperhatikan kualitas lulusannya. Dimana hal itu tampak pada komitmen UPH dalam dunia pendidikan tinggi, bagaimana interaksi mahasiswa dan dosen, kualifikasi dosen pengajar, serta diikutsertakannya mahasiswa dan orang tua dalam memberikan penilaian terhadap kualitas pendidik serta metode pendidikan yang dirancang dengan baik Ricky Rizky, Business Director Rayspeed Asia Rencanakan, Implementasikan, serta Percepat Proses Akselerasi Perkembangan Human Resource “Sebagai angkatan pertama di UPH, tentunya banyak pertimbangan saat hendak memilih UPH sebagai tempat studi.

Tapi pada akhirnya, saya meyakini bahwa UPH adalah universitas yang sangat memperhatikan kualitas lulusannya. Dimana hal itu tampak pada komitmen UPH dalam dunia pendidikan tinggi, bagaimana interaksi mahasiswa dan dosen, kualifikasi dosen pengajar, serta diikutsertakannya mahasiswa dan orang tua dalam memberikan penilaian terhadap kualitas pendidik serta metode pendidikan yang dirancang dengan baik,” ucap Ricky, salah satu alumni Teknik Industri UPH angkatan 1994.

Saat ini, Ricky – sapaan pria kelahiran Malang ini – menjabat sebagai Business Development Director di Rayspeed Asia, salah satu perusahaan yang menyediakan jasa pengiriman barang secara internasional. Tanggung jawab utama Ricky terletak pada development services, dimana ia dituntut untuk selalu mempelajari perkembangan terbaru dan menyesuaikan jasa yang tersedia dengan cepatnya perkembangan yang terjadi – baik untuk layanan baru maupun yang layanan yang masih berjalan.

Dengan dukungan dari orang-orang terdekat, orang tua dan keluarganya, Ricky tetap berpegang untuk bekerja dengan kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab. Bagi Ricky, tantangan terbesar yang harus ia taklukkan di era ini terletak pada Human Capital Development. Kemudahan akses terhadap informasi menghasilkan perubahan besar-besaran, terutama dalam kultur tempat kerja.

Lingkup pekerjaan yang dulunya sudah diatur secara berkala kini memaksa Ricky untuk mampu menyesuaikan layanan perusahaan dan bahkan merencanakan, mengimplementasi, serta mempercepat akselerasi proses tersebut.

Metode baru dalam pengajaran dan training yang tepat saat ini adalah proses yang tidak bisa dikatakan statis namun harus bersifat dinamis. Ricky bersyukur bahwa pendidikannya di UPH telah memperlengkapinya untuk menjalani tanggung jawabnya hari perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan. Terlebih lagi, ia juga percaya bahwa sampai hari ini pun, UPH masih memberikan kualitas pendidikan yang sangat baik untuk mahasiswa/i-nya.

“Saya yakin bahwa UPH masih tetap pada komitmennya diawal dalam bidang pendidikan ini dengan fasilitas laboratorium, perpustakaan, serta dosen-dosen yang berkualitas yang ada. Sangat sayang sekali apabila mahasiswa yang berkesempatan kuliah di UPH tidak memanfaatkan semua resources yang ada itu dengan maksimal. Terutama dalam proses belajar mengajar, sistem dua arah dari awal sudah dibuktikan oleh UPH, dimana dosen dan mahasiswa bisa berdiskusi dan berdebat dalam hal akademis,” tutup Ricky.

Berkuliah di UPH memberikan banyak kenangan menyenangkan, terutama dalam berbagai macam event seperti UPH Festival maupun acara-acara fakultas selama 4 tahun saya berkuliah. Tetapi hal yang paling berkesan bagi saya adalah menjadi calon ketua senat pada periode 2006 dan bisa aktif bergorganisasi menjadi wakil ketua Majelis Perwakilan Mahasiswa (MPM-UPH). Pengalaman ini memberikan saya bekal yang luar biasa dalam hal bergorganisasi dan bekerja sama dengan berbagai macam karakter orang Alvin Jufitrick, Alumni Arsitektur UPH 2004, Menjalani Kehidupan yang Berintegritas dan Unggul Integritas dan spririt of excellence menjadi etos kerja yang selalu diutamakan oleh Alvin Jufitrick, Alumni Arsitektur UPH Angkatan 2004, dalam menjalani kariernya sebagai sebagai salah satu direktur UOB Asset Management Indonesia.

Dalam rangkaian kepercayaan yang diberikan kepadanya, terutama dalam bidang distribusi dan pengembangan produk investasi UOB asset management, Alvin dituntut untuk merencanakan dan memperhatikan perkembangan overseas distribution, digital partnership dan alternative investment – tiga area yang membutuhkan perhatian ekstra seiring dengan pengembangan literasi keuangan dan peningkatan kesadaran investasi terjadi secara eksponensial di Indonesia.

Alvin percaya bahwa dua nilai tersebut tidak hanya berlaku dalam kariernya, namun juga dalam menjalani kehidupan diluar dunia kerja. Baginya, dua nilai ini turut menjadi cerminan diri seseorang dalam setiap keputusan yang diambil, karena setiap keputusan akan berdampak bagi lingkungan sekitar. “Menurut saya, menjaga konsistensi dalam pekerjaan dan karir yang selaras dengan nilai-nilai yang saya pegang sangatlah penting karena saya sedang berjuang untuk keluarga dan menjadi pribadi yang berdampak positif bagi sesama.

Secara sadar ataupun tidak, setiap keputusan yang kita ambil akan memiliki dampak bagi lingkungan sekitar kita,” ucap Alvin. Pendidikan yang berkualitas turut mengambil andil dalam kehidupan Alvin hari ini. Dan menentukan pilihan untuk melanjutkan pendidikan S1 di UPH merupakan pilihan yang tepat baginya. Reputasi dan fasilitas yang ditawarkan oleh UPH tentu menjadi faktor penting selain dari bagaimana pengalaman berorganisasi yang ia jalani di UPH dulu menjadi bekal bagi kariernya hari ini.

“Berkuliah di UPH memberikan banyak kenangan menyenangkan, terutama dalam berbagai macam event seperti UPH Festival maupun acara-acara fakultas selama 4 tahun saya berkuliah. Tetapi hal yang paling berkesan bagi saya adalah menjadi calon ketua senat pada periode 2006 dan bisa aktif bergorganisasi menjadi wakil ketua Majelis Perwakilan Mahasiswa (MPM-UPH).

Pengalaman ini memberikan saya bekal yang luar biasa dalam hal bergorganisasi dan bekerja sama dengan berbagai macam karakter orang,” tutup Alvin Ni Putu Perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan Artati, Alumni Teknik Informatika UPH Mengkontribusikan Kemampuannya Untuk Masyarakat Luas “Perjalanan karir saya hari ini sebetulnya adalah cita-cita sejak remaja.

Saya ingin sekali dapat mengkontribusikan kemampuan saya kepada masyarakat luas, terutama setelah saya melihat masih banyak masyarakat yang belum mampu atau belum memiliki akses yang sama untuk pendidikan maupun hal yang lainnya,” kisah Ni Putu Sri Artati, alumni Teknik Informatika UPH angkatan 2001.

Sri, sapaan akrab wanita kelahiran Tabanan, Bali yang kini menjabat sebagai Vice President of Performance Measurement untuk PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, secara khusus untuk bidang Direktorat Keuangan & Strategi. Merupakan tanggung jawab Sri untuk mengelola Corporate Performance Management dan berfokus pada analisa kinerja finansial bank, serta membuat pedoman untuk menilai kontribusi unit business, product, branch, dan electronic channels dalam mendorong peningkatan return Bank.

“Perusahaan saya saat ini adalah perusahaan BUMN dan disana saya mendapat kesempatan untuk berbagi pada masyarakat Indonesia karena BUMN diberi mandat untuk tidak hanya run the business namun juga berkegiatan guna mendorong kemaslahatan masyarakat Indonesia,” Sri melanjutkan.

Tentu, kepercayaan yang diberikan kepada Sri hari ini tidak datang tanpa tantangan. Sebagai Vice President of Performance Measurement, ia dituntut untuk mampu berkolaborasi lintas bidang, mencari dan mengembangkan ide-ide baru agar timeline dan kualitas laporan kinerja keuangan terus meningkat, serta menghasilkan analisa dan strategi yang tajam agar perusahaannya dapat terus bersaing secara sehat.

Namun dengan selalu mengingat bahwa belajar merupakan bagian dari proses hidupnya, persisten, belajar dari pengalaman, dan juga menghormati adat istiadat di tempat kerjanya, Sri percaya bahwa ia akan terus berkembang. Bagi Sri, UPH seperti pelita yang berdayaguna untuk sesama. Fasilitas yang lengkap dan lingkungan yang hijau bukan menjadi fokus utama baginya, namun dalam uniknya persahabatan yang ditemukannya ketika menjalani kuliah. “UPH menurut saya unik, baik dari sisi lingkungan, mahasiswa-mahasiswanya, dan juga cara mengelola jalannya pendidikan.

Selain karena saya senang dengan perpustakaan UPH yang lengkap dan dosen yang selalu available on-time di kampus, saya belajar banyak hal dari teman-teman di UPH, khususnya untuk terus berjuang, pantang menyerah, dan selalu ada jalan untuk survive,” Sri menyimpulkan. Dosen-dosen yang ahli dibidangnya serta kesediaan mereka dalam membimbing dan memfasilitasi mahasiswa/i seperti saya untuk berkembang menjadi salah satu alasan saya kembali melanjutkan pendidikan S2 saya di UPH.

Saya tertarik untuk memahami pengelolaan SDM karena saya melihat dosen-dosennya memiliki pengalaman yang luar biasa dan saya merasa berada di tempat yang tepat Mariska Makmud, Regional Human Capital Business Partner Siloam Hospitals Group Terus Asah Kemampuan Berpikir Strategis Bekerja secara jarak jauh tentu memberikan tantangan tersendiri bagi Mariska Makmud, alumni UPH jurusan Hubungan Internasional 2006 & Magister Manajemen 2011.

Sejak pertengahan 2007 lalu, Mariska – sapaan wanita kelahiran Jakarta ini – bekerja untuk Siloam Hospitals Group dan saat ini dipercaya sebagai Regional Human Capital Business Partner (HCBP) untuk area Kalimantan dan Sulawesi. Selain dituntut untuk melakukan berbagai improvement dalam human capital agar mencapai Operational Excellence, Mariska juga diharapkan dapat menjadi business partner yang tidak hanya mendukung pimpinan Regional dan pimpinan unit rumah sakit, namun juga memberikan masukan dalam penerapan kebijakan dan prosedur human capital disetiap unit Siloam di area Kalimantan dan Sulawesi.

Maka dari itu, Mariska terus mengasah kemampuannya dalam berpikir strategis agar dapat mendukung dan memfasilitasi pimpinan regional serta direktur unit rumah sakit secara maksimal.

“Saya pribadi sangat menjunjung sikap profesionalisme dan integritas dalam menjalankan tanggung jawab yang dipercayakan kepada saya saat ini. Saya yakin bahwa untuk menjadi pribadi yang unggul dalam pekerjaan, saya harus menjadi contoh bagi human capital unit agar apa yang mereka lakukan juga sesuai dengan nilai yang benar.

Selain itu, saya percaya empati dan kepedulian juga penting. Saya ingin dapat terus menghargai kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh setiap orang dan berorientasi pada development mereka agar dimanapun mereka ditempatkan, mereka dapat memberikan layanan yang terbaik terhadap setiap orang yang datang, terlepas dari jabatan kami masing-masing,” kisah Mariska.

Mariska tidak pernah menyesali keputusannya untuk melanjutkan pendidikan di UPH. Baginya, UPH tidak hanya menjadi tempat yang tepat untuk belajar, namun juga untuk bertumbuh. Dengan banyaknya organisasi kemahasiswaan dan kegiatan character building, Mariska merasakan betul karakternya terasah melalui berbagai aktivitas seperti mentoring, tutor, serta program character building.

Dan terlebih penting, pengalaman dibimbing oleh dosen-dosen yang ahli dibidangnya menjadi alasan pendidikan Mariska di UPH begitu berkesan. “Dosen-dosen yang ahli dibidangnya serta kesediaan mereka dalam membimbing dan memfasilitasi mahasiswa/i seperti saya untuk berkembang menjadi salah satu alasan saya kembali melanjutkan pendidikan S2 saya di UPH. Saya tertarik untuk memahami pengelolaan SDM karena saya melihat dosen-dosennya memiliki pengalaman yang luar biasa dan saya merasa berada di tempat yang tepat.

Saya berdoa UPH selalu menjadi tempat terbaik untuk belajar dan bertumbuh bagi mahasiswa/i-nya,” tutup Mariska dengan hangat. Bagi saya, UPH sebetulnya sudah seperti rumah kedua, atau mungkin lebih tepatnya sekarang adalah kantor kedua karena saya masih aktif mengajar disini. Mulai dari saya berkuliah di UPH, saya melihat bahwa dengan visi misi UPH yang ada telah melahirkan banyak pemimpin-pemimpin baru, dan saya tidak pernah ragu atas kemampuan UPH dalam hal ini David Widyanto, Alumni Desain Produk UPH yang Terus Menantang Diri Untuk Keluar Dari Zona Nyaman “Salah satu pengalaman paling berkesan yang saya lalui di UPH adalah selama di workshop Desain Produk (sekarang School of Design), membangun suatu produk dari bahan-bahan mentah, dimana hal itu mempunyai kepuasan sendiri yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Semua keseruan itu harus dibayar dengan baju berlubang karena kena percikan las dan pulang kampus dengan aroma serbuk kayu,” kisah David, diiringi dengan sebuah tawa ringan. David Widyanto, Alumni Desain Produk UPH angkatan 2002 dan Magister Teknik Industri angkatan 2009, sampai saat ini masih aktif mengajar untuk Desain Produk UPH, ia juga mengisi kesehariannya dalam product development dan operasional workshop Axocraft – sebuah workshop yang menyediakan jasa produksi dalam skala kecil dan konsultasi desain produk yang ia dirikan sejak 2013 bersama rekannya.

David mengakui bahwa dengan latar belakang pendidikannya dibidang Desain Produk dan Teknik Industri, ia harus menyesuaikan diri lagi untuk mengurus administrasif, akuntansi, dan pemasaran Axocraft. Namun dengan minat yang besar dan kapabilitas yang ia percaya dapat terus dikembangkan, David tak henti belajar dan berkembang dalam bidang karier yang ditekuninya. Bagi David, UPH tidak hanya menjadi tempat mengemban ilmu, namun juga ditempa menjadi pemimpin yang berkontribusi bagi sekitarnya.

David percaya bahwa dengan support system yang memberikan masukan membangun serta mendukung keputusannya, ia dapat terus berdampak bagi sekitarnya. “Bagi saya, UPH sebetulnya sudah seperti rumah kedua, atau mungkin lebih tepatnya sekarang adalah kantor kedua karena saya masih aktif mengajar disini.

Mulai dari saya berkuliah di UPH, saya melihat bahwa dengan visi misi UPH yang ada telah melahirkan banyak pemimpin-pemimpin baru, dan saya tidak pernah ragu atas kemampuan UPH dalam hal ini. Harapan saya adalah pemimpin-pemimpin tersebut menjadi pemimpin yang berempati dan relevan dengan lingkungannya,” tutup David.

Direktur PT Gowa Makassar Tourism Development Tbk, Iqbal Farabi, Maksimalkan Peluang Melalui Penggunaan IT “Waktu saya bergabung, yang pertama kali saya benahi adalah penguatan teknologi informasi – yang kalau kata anak-anak sekarang sih, ‘ngonten’. Saya mulai mengerahkan tim untuk memanfaatkan media sosial, termasuk Instagram, TikTok, podcast, serta kanal-kanal lain yang mengikuti perkembangan jaman.

Ternyata hasilnya luar biasa, terutama dalam dua tahun belakangan ini ketika kita semua bergantung sekali dengan IT. Dari sana, perusahaan GMTD justru mendapatkan perhatian dan mendapat respon baik berupa peningkatan jumlah sales,” Kisah Iqbal, ketika diminta untuk menceritakan sedikit mengenai pendekatan yang ia gunakan untuk meningkatkan public awareness terhadap proyek terbaru yang dijalankannya.

Ialah Iqbal Farabi, Alumni UPH jurusan Hukum 1996 dan Magister Hukum 2002, yang saat ini dipercaya untuk mengembangkan PT Gowa Makassar Tourism Development Tbk (GMTD), salah satu proyek properti terbaru Lippo Group di area Makassar, Sulawesi Selatan. Kepercayaan ini tentu tidak mudah untuk siapapun, mengingat banyaknya kompetitor serta melambatnya daya beli masyarakat akibat pandemi yang melanda. Terlebih lagi, Iqbal juga harus beradaptasi dengan pola kerja yang memaksa dirinya untuk bekerja jarak perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan atau harus lebih fleksibel karena lokasi site berada di kawasan Indonesia Timur.

Bagi Iqbal, peran orang tua dan keluarga merupakan kunci baginya untuk terus memberikan yang terbaik dan berkontribusi bagi masyarakat.

Ia percaya, bahwa selain menjadi pribadi yang jujur, pekerja keras, keinginan untuk terus belajar, ikhlas, serta mengerjakan segala sesuatu sampai tuntas, orang tua dan keluarga menjadi titik berat fokusnya hari ini.

“Saya masuk UPH tahun 1996, orang tua saya yang mendorong untuk mengambil pendidikan hukum. Harapan mereka saat itu sangat besar supaya saya bisa sukses. Saat ini saya melihat bahwa harapan dan mimpi kedua orang tua saya tercapai, salah satunya dengan menyekolahkan saya di UPH,” lanjut Iqbal.

Bagi mahasiswa yang sedang melanjutkan pendidikan, Iqbal berpesan, “Jadilah mahasiswa yang pintar sekali atau aktif sekali berorganisasi karena UPH dengan network yang sudah dibangun sampai detik ini akan memberikan kemudahan bagi siswanya untuk bisa beraktualisasi di masyarakat. Sayang sekali jika ilmu yang kita dapat plus pergaulan yang dijalankan semasa kuliah, tidak bisa dimaksimalkan nilai nilai positifnya baik di kampus maupun saat nanti lulus.” Saya sangat bersyukur berkesempatan untuk dididik oleh dosen yang juga sangat perhatian.

Saat bimbingan di FISIP dengan dosen pembimbing, tidak hanya melulu soal akademik yang dibahas tapi dosen juga memberikan banyak nasehat yang berguna sebagai bekal hidup. Mereka tidak hanya mengajarkan akademik tapi moral, etika, teladan dan terus menginspirasi para mahasiswanya untuk menjadi pemimpin masa depan Bekerja Tanpa Mengorbankan Integritas, Sandra Rani Menjalani Tanggung Jawab Sebagai VP Sales PT.

Cempaka Kreasi Sekawan Sandra Rani Juwita, Alumni Ilmu Komunikasi UPH Angkatan 2003, saat ini menjabat sebagai VP Sales dari PT. Cempaka Kreasi Sekawan yang merupakan pemilik dari merk Artisan Professionnel dan Mercredi Beaute untuk penjualan produk bulumata dan kosmetik lokal ke kota-kota di seluruh Indonesia. Dengan persaingan ketat yang dihadapi Artisan Professionnel dan Mercredi Beaute, Sandra terus mengusahakan pemasaran produk yang kreatif agar produk perusahaannya dapat dipasarkan secara merata dan diterima dengan baik oleh pasar di Indonesia baik melalui jalur online maupun offline.

“Saya sangat bersyukur mendapat kesempatan perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan mengambil bagian dalam membangun perusahaan ini, terutama untuk melihat kemajuan masing-masing individu baik dari segi karier maupun kesejahteraan, baik founder maupun anggota tim lainnya, mengambil bagian untuk mencapai titik dimana kami berada saat ini, yaitu melihat produk kami diterima dan dipakai oleh Makeup Artist ternama baik dalam maupun luar negri.

Energi dan semangat merekalah yang memotivasi saya untuk terus memberikan yang terbaik dalam tugas dan tanggung jawab saya ini,” kisah Sandra dengan antusias. Sandra percaya bahwa keberadaannya saat ini tak lepas dari suatu keputusan penting yang pernah ia ambil dulu, yaitu keputusan untuk menempuh pendidikan di UPH. Baginya, UPH telah memperlengkapinya dengan ilmu praktis, nilai-nilai seperti keinginan untuk terus maju dan bertumbuh tanpa mengorbankan integritas, serta komunitas suportif yang terus mendorong Sandra untuk menjadi pemimpin yang membawa dampak positif bagi sekelilingnya.

“Saya tidak pernah lupa bagaimana saya bertemu dengan teman-teman yang saat ini masih memegang integritas dan nilai-nilai yang baik dalam hidup saat saya bergabung dengan kegiatan kemahasiswaan dulu.

Mereka adalah teman-teman sejati yang dulu saling mendukung dan saling menyemangati baik dalam segi akademik, sosial ataupun kerohanian. Di saat satu sibuk membuat tugas sampai kurang tidur, kita saling menyemangati. Saat bersama-sama berjibaku mencari dana yang dibutuhkan untuk pelaksanaan event kampus, kita sama-sama berjuang sekuat tenaga.

Saat salah seorang mengalami masalah keluarga, semua mendukung dan memberikan masukan-masukan positif. Belum lagi kakak kelas, dosen yang juga sangat perhatian. Kadang ketika bimbingan di FISIP dengan dosen pembimbing, tidak hanya melulu soal akademik yang dibahas tapi dosen juga memberikan banyak nasehat yang berguna sebagai bekal hidup.

Mereka tidak hanya mengajarkan akademik tapi moral, etika, teladan dan terus menginspirasi para mahasiswanya untuk menjadi pemimpin masa depan,” kenang Sandra sambil tersenyum. Menjalani pendidikan di UPH merupakan waktu yang menyenangkan untuk saya, dimana saya berkesempatan untuk bertemu dengan teman-teman yang luar biasa dan juga diajar pendidik yang berdedikasi.

Saya merasa bahwa gaya belajar yang dibawakan oleh beberapa dosen saya sangat menarik karena mereka datang dari latar belakang professional sehingga mampu memberikan contoh kasus yang nyata terjadi dalam pekerjaan mereka terkait materi yang sedang dibahas Young and Professional, Naomi Michelle is Entrusted To Grow Industry Lead, Brand Partnership at Indonesia’s Renowned Ride-hailing Company Age does not define what one achieves if they rely on God, work hard, work smart and always gives their best.

And for Naomi Michelle, UPH’s Applied Communication Science alumnus cohort 2013, being as young as 26 does not hinder her to be an Industry Lead & Brand Partnership for Indonesia’s well-known ride-hailing company.

In her day to day responsibilities, Naomi is required to be able to create blueprint and go-to market strategies for collaborative purposes, lead her team in achieving common goals, as well as work together across division to create business strategies and developing or innovate new products.

Naomi’s education at UPH has indeed become an important stepping stone in her career. UPH’s strategic location, complete facilities and also availability of international classes have provided Naomi more assurance to choose UPH. And more importantly, UPH has opened opportunities for her to develop spiritually, contribute to society and eagerness for high achievement in all aspects of her life. “My undergraduate years at UPH was few of the most exciting years for me.

I’ve had the opportunity to meet amazing friends and be taught by dedicated lecturers. Amongst the many lecture styles my lecturers had, I enjoyed learning from my lecturers who are also practitioners.

They provided real case examples that occur in their work as the course progresses,” Naomi concluded. Kezia Amelia, Solo-Violinist Asal Indonesia yang Konsisten dan Kreatif dalam Mengunggah Konten di Sosial Media Bermain musik seperti sudah menjadi denyut nadi bagi kehidupan seorang Kezia Amelia, Alumni UPH Conservatory of Music angkatan 2008.

Ia dan biolanya adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan, sebagaimana ia ingin menyampaikan musik dengan warnanya sendiri melalui biola seperti Vanessa Mae, David Garrett dan Ayasa.

Untuk mengembangkan karier solo violin-nya tersebut, Kezia tak hanya rutin mengunggah konten lagu-lagu terkenal di sosial media, namun juga berkolaborasi dengan rekan-rekan musisi lainnya. “Aku mulai belajar biola umur 14 tahun.

Waktu itu les privat di Surabaya, kota asalku. Agak terlambat memang, tapi untungnya sejak umur 6 tahun aku belajar piano, jadi sudah ada dasar teori musik. Setelah lulus SMA aku memutuskan untuk kuliah di UPH Conservatory of Music karena aku suka bermain musik dan juga sudah ikut perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan musik di Surabaya seperti orkestra, masterclass dan masih banyak lagi.

Awalnya aku masuk dengan major instrument piano, tapi setelah setahun aku memutuskan untuk pindah ke major instrument violin. Sebenarnya waktu itu tingkat permainan biolaku masih perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan ‘mumpuni’ untuk anak kuliah, tapi Alm.

Dr. Tomislav Dimov bersedia membimbing aku dan kami bekerja sama untuk mengejar ketinggalanku,” kisah Kezia dengan antusias. Konsistensi, kreativitas, dan juga manajemen emosi yang baik menjadi tiga dari banyaknya rintangan yang harus Kezia lalui dalam meniti karier dalam industri entertainment. Belum lagi harus berada jauh dari keluarga, Kezia terus berjuang agar dapat tetap produktif disituasi yang baik maupun buruk.

Dengan menyampaikan musik dengan warna mereka sendiri melalui biola Kezia percaya bahwa dengan excellence dalam apapun yang dikerjakannya, maka ia akan dapat terus memberikan yang terbaik – bahkan ketika client tidak meminta hal tersebut dari project yang sedang digarap. Dan Kezia bersyukur bahwa dengan menjalani pendidikan di UPH, ia telah dipertemukan dengan pendidik yang suportif dan rekan-rekan yang hingga saat ini aktif berkolaborasi dengannya.

“Bagi aku, bagian yang paling menyenangkan dari berkuliah di UPH adalah teman-teman yang aku dapatkan, karena sampai sekarang pun aku masih berkolaborasi bersama mereka dalam beberapa project. Selain itu, pengalaman dibimbing oleh dosen major Violin-ku, alm. Tomislav Dimov, sampai aku bisa menggelar 3 konser klasik untuk project kelulusan UPH adalah sesuatu yang akan selalu aku ingat,” tutup Kezia.

Menerapkan Pola Kerja “Amati, Temukan Solusi, dan Mengatur Kembali Strategi”, Janice Malinda Tingkatkan Traffic GoFresh Melakukan yang terbaik dalam setiap pekerjaan dan peran yang dipercayakan kepadanya merupakan nilai yang dijunjung tinggi oleh Janice Malinda, Alumni Ilmu Komunikasi UPH angkatan 2014, yang saat ini berkarier sebagai Product Marketing Manager pada perusahaan Gojek untuk produk GoFresh.

Menjadi tugas utama Janice untuk memikirkan, menyiapkan dan mengimplementasikan campaign serta communication plan agar pelaku usaha memiliki awareness terhadap platform ini, meningkatkan traffic dalam aplikasi, dan mengubah traffic tersebut menjadi kosumen tetap bagi GoFresh. Dalam peran ini, Janice juga banyak bekerja sama lintas divisi untuk memastikan seluruh jajaran divisi terkait sudah siap menghadapi campaign yang akan dijalankan. “Secara teknis, mencapai target yang sudah kita buat dalam tim adalah sebuah tantangan tersendiri,” ucap Janice.

“Saya dan teman-teman product marketing harus jeli untuk melihat jika ada hal-hal yang tidak berjalan dengan baik, mencari tahu apa yang salah, lalu kemudian menyesuaikan diri lagi untuk menentukan langkah selanjutnya,” kisah Janice ketika ditanya mengenai tantangan tersulit yang harus dihadapinya. Bagi Janice, pendidikan memiliki peranan penting dalam perjalanan self-actualization serta self-improvement.

Ilmu dan praktik yang diperolehnya selama masa studi di UPH tidak hanya mengukuhkan fondasi iman Kristen yang selaras dengan apa yang Janice dan keluarganya percayai, namun juga membentuk pola pikir yang dibutuhkan untuk kariernya saat ini. “Mungkin pekerjaan saya saat ini terkesan tidak selaras dengan peminatan jurnalistik yang saya ambil, tapi ada banyak hal yang saya pelajari saat kuliah yang kini bermanfaat untuk pekerjaan saya saat ini. Dari segi ilmu, kelas public speaking adalah kelas yang paling memorable.

Saya diminta bicara di depan semua orang pada saat kelas, jadi terasa betul praktiknya, dan skill yang diasah di kelas ini pun masih berguna hingga hari ini. Dari segi pengalaman organisasi, klub debat PHASED memainkan peran yang penting bagi saya. PHASED membuka kesempatan bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang dan menyediakan ruang bagi saya untuk membahas topik-topik yang real dan relevan secara terstruktur.

Terlebih dari itu, pendidikan di UPH banyak mengajarkan saya mengenai cara bekerja sama dengan orang lain, pentingnya memiliki target dan rencana terstruktur, melatih saya menjadi pribadi yang rajin dan bertanggungjawab, serta membuka peluang perkenalan dengan pribadi-pribadi hebat,” Janice menyimpulkan.

Ketertarikan saya terhadap audio engineering bermula ketika saya kuliah di COM UPH. Memahami science di balik dunia musik, merupakan hal yang sangat menarik bagi saya.

Mengerjakan tugas kuliah dan bertemu teman-teman yang memiliki ketertarikan serupa, pun punya peran penting dalam membentuk saya menjadi diri saya yang sekarang. Bahkan pertemanan kami berlanjut sampai sekarang dan berlangsung dengan baik sampai ke ranah professional Menghasilkan Karya Kelas Dunia, Perjalanan Ivan Gojaya Dimulai Dari Alat Seadanya Mahasiswa/i dan Alumni Conservatory of Music UPH (COM UPH) pasti akrab dengan nama ROEMAHIPONK, sebuah studio produksi musik dan audio yang berlokasi di Lippo Karawaci, Tangerang.

Bagaimana tidak, ROEMAHIPONK yang dirintis oleh Music Producer dan Audio Engineer, Ivan Gojaya, Alumni Conservatory of Music angkatan 2007 telah menjadi “rumah” bagi banyak mahasiswa/i sejak 2009 lalu untuk memenuhi kebutuhan rekaman mereka. ROEMAHIPONK tidak hanya telah menjadi saksi atas ratusan lagu diciptakan, namun juga telah mengasah kemampuan Ivan, atau yang lebih sering disapa Iponk, sebagai mahasiswa sound design dalam mempraktekkan ilmu yang dipelajarinya.

Pada tahun 2011, ROEMAHIPONK memperluas ruang lingkup kerjanya ke sebuah ruko, dan perlahan-lahan berkembang menjadi studio komersil. Iponk kini dipercaya untuk menangani berbagai macam kebutuhan produksi musik dan audio post, baik untuk artis independen, label rekaman, maupun untuk kebutuhan iklan, film, dan gambar bergerak lainnya.

“Saya menemukan ketertarikan terhadap instrumen musik yang bersifat ritmis, terutama drums, sejak usia 7 tahun. Namun, karena tidak memungkinkan bagi saya untuk memiliki drumset pada saat itu, saya akhirnya menekuni instrumen gitar dan kemudian menyadari bahwa yang saya cintai adalah music as a whole, tidak terpaut pada salah satu instrumen musik.

Sampai akhirnya dibangku SMA, saya mulai memproduksi musik di kamar dengan alat yang ada sampai kemudian orangtualah yang mendukung secara penuh dan meyakinkan saya untuk mengambil pendidikan formal di dalam bidang yang saya cintai, yaitu musik.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa kecintaan saya pada musiklah yang memotivasi saya untuk menjalani karier saya saat ini,” kisah Iponk dengan antusias.

Kerja keras, keinginan belajar, memahami dan mengerjakan setiap project dengan sepenuh hati, serta ketulusan menjadi nilai yang Iponk pegang dalam membangun kepercayaan dari para musisi, klien, dan calon klien yang selera dan preferensinya berbeda-beda.

Menurut Iponk, dalam bidang yang ia jalani, banyak hal ditentukan oleh selera dan selera tidak bisa dipaksakan kepada semua orang, sehingga menjadi sangat penting untuknya membangun kepercayaan tersebut.

Selain itu, komunikasi juga menjadi tantangan tersendiri bagi Iponk. Pemahaman dan pembahasaan teknis yang digunakan dalam industri musik masih berbeda-beda, sehingga tantangan komukasi seringkali muncul dan berpengaruh di dalam kultur kerja, mindset, dan ekspektasi klien terhadap peran producer/audio engineer. Bersyukur bagi Iponk, UPH telah memperlengkapinya dengan banyak ilmu dan networking yang kini menjadi support system baginya dalam industri musik.

“Ketertarikan saya terhadap audio engineering bermula ketika saya kuliah di COM UPH. Memahami science di balik dunia musik, merupakan hal yang sangat menarik bagi saya.

Mengerjakan tugas kuliah dan bertemu teman-teman yang memiliki ketertarikan serupa, pun punya peran penting dalam membentuk saya menjadi diri saya yang sekarang. Bahkan pertemanan kami berlanjut sampai sekarang dan berlangsung dengan baik sampai ke ranah professional,” tutup Iponk. Pendidikan MHI UPH ini merupakan hal yang di luar ekspektasi saya di awal. Ternyata, para Dosen pengajar sangat kompoten, kritis dan memiliki track record dan latar belakang professional yang luar biasa sehingga memberi pengalaman terhadap pengetahuan Politik, Ekonomi, Sosial, antropolgi hingga teori yang sangat memadai.

Selain itu, letak strategis kampus pascasarjana UPH serta jam kuliah yang sesuasi dalam adaptasi dengan kegiatan pekerjaan-pekerjaan saya menjadi nilai tambah untuk saya melanjutkan pendidikan saya Memanfaatkan Waktu Dengan Sebaik-baiknya, Abhiram Singh Yadav Berkontribusi untuk Indonesia Melalui Karir dan Pemikiran Pepatah yang mengatakan “ do it with passion or not at all” menjadi kutipan yang sangat menggambarkan Abhiram Singh Yadav, Alumni Magister Hubungan Internasional UPH 2018.

Saat ini, pria yang akrab disapa Abhi tak hanya aktif menjabat sebagai Staf Khusus Wakil Ketua DPR RI Bidang Politik dan Keamanan, namun juga mengemban tanggung jawab sebagai Founder & CEO dari PT. Arya Sinergy Yadavas (Yadavas Group), Komisaris di Archean Group Indonesia, Pengamat & Peneliti Politik Hubungan Internasional, dan juga Ketua Umum untuk IKA (Ikatan Alumni) Magister Hubungan Internasional UPH.

Sejak muda, Abhi memang menikmati kegiatan berorganisasi dan melalui pengalamannya inilah yang kemudian memperlengkapinya dengan network dan ilmu pengetahuan yang luas. Salah satu cara Abhi mengatur kesibukannya adalah mengoptimalkan berkegiatan dari pagi, lalu diikuti dengan mengatur ritme meeting sehingga berbagai agenda dapat terlaksana sesuai rencana setiap harinya.

Memiliki berbagai kesibukan tentunya tak luput dari berbagai tantangan yang harus dihadapi, terutama dalam menghadapi pandemi yang menghambat pertumbuhan diberbagai industri, dimana dibutuhkan kreatifitas tersendiri dalam mengelola investasi bisnis dan seni bekerja yang baru untuk mengoptimalkan kinerja dalam pemerintahan. Dengan dukungan dari orangtua dan istri, Abhi terus berpacu melawan waktu, bergerak dengan efisiensi serta berkontribusi secara intelektual dalam bentuk opini diberbagai media nasional.

Beberapa judul tulisan Abhi yang diterbitkan termasuk “Indonesia Dalam Diskursus Indo-Pasifik”; “Gotong Royong Melawan Pandemi“; dan “HAM dan Inklusivitas Indo-Pasifik”. Mendalami ilmu Hubungan Internasional telah memperlengkapi Abhi dalam perjalanannya berkiprah pada organisasi tingkat nasional dan internasional.

Selain itu, ia juga diasah untuk memiliki pola pandang yang konstruktif terhadap berbagai isu global yang terus terjadi, serta nilai-nilai yang selalu dipegangnya yakni kejujuran, kehausan untuk terus mencari ilmu, dan membantu orang lain tanpa pamrih. “Pendidikan MHI UPH ini merupakan hal yang di luar ekspektasi saya di awal. Ternyata, para Dosen pengajar sangat kompoten, kritis dan memiliki track record professional yang luar biasa. Latar belakang para Dosen pun sangat beragam, baik dari Pembuat Kebijakan, LIPI, Professor senior, hingga Lembaga-lembaga internasional sehingga memberi pengalaman terhadap pengetahuan Politik, Ekonomi, Sosial, antropolgi hingga teori yang sangat memadai.

Dan mereka semua sangat humanis dan memahami pebutuhan masing-masing mahasiswa. Sebagai hasil, selama menekuni ilmu di MHI UPH, para dosen telah mendorong dan menginspirasi saya untuk menulis dua jurnal berscopus. Selain itu, letak strategis kampus pascasarjana UPH serta jam kuliah yang sesuai dalam adaptasi dengan kegiatan pekerjaan-pekerjaan saya menjadi nilai tambah untuk saya melanjutkan pendidikan saya,” tutup Abhi. Ada dua hal yang sangat berkesan bagi saya dalam menjalani pendidikan Magister Administrasi Rumah Sakit: pertama adalah pembiasaan target waktu yang mepet.

Tugas-tugas perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan banyak dengan deadline pendek, sangat melatih saya pada posisi sekarang. Jadinya terbiasa dengan begitu banyak target dengan limited deadlines. Aspek kedua adalah Case Studies yang di bahas bersama team. Hal ini memberikan kesempatan dan tantangan dalam cara berpikir dari pemikiran sempit ke pemikiran yang lebih luas, lebih sistematis Abedneju G W Sangkaeng, Seorang Pembelajar Dalam Setiap Bidang Kehidupan Menjalani pendidikan Magister Administrasi Rumah Sakit di UPH 2014 silam telah memberikan kesan mendalam untuk seorang Abedneju G W Sangkaeng, kerap disapa Argo.

Bagi pria kelahiran Manado ini, pendidikan tidak hanya menjadi perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan masuk untuk pengetahuan, namun terlebih dalam pembentukan cara berpikir yang sistematis serta memberikan landasan untuk mengembangkan analytical perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan dan critical thinking.

“Ada dua hal yang sangat berkesan bagi saya dalam menjalani pendidikan Magister Administrasi Rumah Sakit: pertama adalah pembiasaan target waktu yang mepet. Tugas-tugas yang banyak dengan deadline pendek, sangat melatih saya pada posisi sekarang.

Jadinya terbiasa dengan begitu banyak target dengan limited deadlines. Aspek kedua adalah Case Studies yang di bahas bersama team. Hal ini memberikan kesempatan dan tantangan dalam cara berpikir dari pemikiran sempit ke pemikiran yang lebih luas, lebih sistematis dengan menggunakan energy team work.

Saya menjadi lebih terlatih dan terbuka bekerja secara team,” ucap Argo. Peran dan tanggung jawab Argo sebagai President Director di PT Raja Gunung Paksi Tbk adalah untuk memastikan agar seluruh kegiatan operasional perusahaan berjalan sesuai dengan visi dan misi yang telah ditetapkan. Beberapa tahun belakangan ini, Argo dan Board of Directors lainnya di PT Raja Gunung Paksi Tbk bertindak bersama-sama dalam satu tim untuk mereformasi 3 hal: transformasi tata kelola organisasi dari perusahaan yang berbasis pada manajemen keluarga menjadi perusahaan yang professional; mengimplementasi ESG (Environment, Social & Governance) sebagai salah satu persyaratan Green Initiative yang diterapkan Pasar International Green sebagai salah satu kriteria yang diminta dari semua produk baja yang mereka beli; dan juga beradaptasi pada industry 4,0 dimana PT Gunung Raja Paksi Tbk melanjutkan transformasi kearah digitalisasi semua aspek dalam organisasi.

Dalam menjalani seluk beluk dunia professional, Argo menemukan banyak sosok mentor luar biasa yang memberikan inspirasi dan teladan baginya. Dua diantaranya adalah Bapak Charlo Mamora, seorang mentor yang membantu Argo untuk memahami bahwa Human Resource adalah sebuah divisi yang tak ayalnya membutuhkan kemampuan berpikir kritis, holistik, dan strategis dan Bapak Paulus Bambang Widjanarko, pribadi yang menginspirasi Argo – sebagai seorang professional yang juga adalah seorang ayah – untuk terus berjuang dalam membagi waktu untuk Tuhan, keluarga, dan pekerjaan.

Dan terlebih dari itu, Argo juga percaya bahwa penting bagi dirinya untuk dapat menerapkan kerendahan hati, sifat dapat dipercaya, serta resiliensi. Argo percaya bahwa jika kita menyadari bahwa semua adalah pemberian Tuhan – bukan atas kuat gagah manusia, bertanggung jawab dan transparan atas setiap keputusan yang diambil, dan kemampuan untuk mencari solusi ketimbang mengeluh, maka kita akan berhasil dalam setiap tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita.

“Tahun ini adalah tahun yang sangat menantang pagi pencari kerja. Pertama karena banyak sekali lapangan kerja baru yang dapat dilakukan secara remote, dan kedua karena pasar tenaga kerja semakin banyak menghasilkan lulusan dari sekolah-sekolah terbaik dari seluruh penjuru dunia. Oleh karena itu, penting sekali bagi anak-anak muda untuk menemukan passionnya terlebih dulu.

Kedua kembangkan karakter yang baik. Karena knowledge without Character, will lead to destruction. Tapi sebaliknya Character without knowledge will lead you to nowhere,” tutup Argo, untuk teman-teman yang tahun ini akan memulai kariernya didunia professional.

Pengalaman terbaik dan paling berkesan saya selama di Teknologi Pangan UPH adalah saat saya berkesempatan untuk mengambil Dual Degree program ke University of Newcastle, Australia. Pengalaman tersebut yang membentuk profil terbaik diri saya yang membantu saya saat pertama melamar kerja di sebuah perusahaan setelah saya lulus kuliah Veliana Lim, Pribadi yang Memiliki Ide Kreatif Dalam Memasarkan Produk & Berkolaborasi Dengan Berbagai Tim Menjadi pribadi yang memiliki ide-ide kreatif untuk memikirkan cara memasarkan produk dengan unik dari yang sudah ada di pasar, jeli dalam melihat peluang pasar dan melakukukan riset mengenai apa yang dibutuhkan konsumen, serta menetapkan marketing treatment apa yang tepat dilakukan untuk meningkatkan market share menjadi tantangan yang harus ditaklukkan Veliana Lim, Alumni Teknologi Pangan UPH angkatan 2010.

Saat ini, Veliana dipercayakan tanggung jawab sebagai Brand Manager untuk PT Mayora Indah Tbk, dimana ia harus mampu berkolaborasi dengan berbagai tim dalam menciptakan, memonitor, dan mengevaluasi aktivitas pemasaran yang dilakukan untuk mendukung strategi yang telah ditetapkan sebelumnya serta berkolaborasi dengan berbagai tim yang berkaitan dengan produk dan pemasaran.

Tanggung jawab Veliana tentu perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan terlalu mudah jika hanya dirangkum dalam satu kisah singkat, namun membangun brand equity dengan strategi terbaik berlandaskan consumer and market research yang baik sejatinya adalah sebuah tugas panjang yang membutuhkan waktu dan ketelitian untuk dilaksanakan.

Dengan berbagai macam kesulitan yang ditemui Veliana sepanjang perjalanan kariernya, ia terus berjalan dengan integritas, rasa tanggung jawab yang tinggi, bekerja sepenuh hati, dan keinginan untuk terus belajar. Veliana percaya bahwa dengan menerapkan empat nilai ini, ia akan menjadi pribadi yang lebih baik dan terus melihat kemajuan dalam banyak sisi. Terlebih dari itu, Veliana juga percaya bahwa dukungan teknis dan moral yang diberikan oleh atasan, kolega, teman-teman dan keluarganya menjadi penyemangat yang Tuhan sediakan baginya.

Bagi Veliana, pendidikan merupakan sebuah asset penting yang harus dimiliki setiap orang, terlepas dari bidang pekerjaannya saat ini. Ditempa dengan hard-skill, soft-skill serta attitude didapatkan Veliana dari pendidikan lanjutan. Baginya, ketiga hal ini menjadi faktor pendukung yang krusial untuk membuka jendela dunia dan peluang kesempatan yang lebih besar untuk bisa mendapatkan pekerjaan dan bertemu orang-orang terbaik.

“Pengalaman terbaik dan paling berkesan saya selama di Teknologi Pangan UPH adalah saat saya berkesempatan untuk mengambil Dual Degree program ke University of Newcastle, Australia.

Pengalaman tersebut yang membentuk profil terbaik diri saya yang membantu saya saat pertama melamar kerja di sebuah perusahaan setelah saya lulus kuliah,” tutup Veliana.

UPH membuka gerbang saya untuk masuk ke dalam industri musik. Pendidikan formal yang didapat membuat saya paham bahwa musik sangatlah luas dan kompleks, baik dari segi praktik dan juga ilmunya. COM mengajarkan saya tidak hanya sekedar bermain gitar/musik namun lebih daripada itu. Filosofi, sejarah, dan ilmu lainnya membangun saya sebagai musisi yang berkarakter, berwawasan luas, dan professional Ibarat Kupu-Kupu yang Harus Bermetamorfosis, Demikianlah Karier Nathania Jualim Sebagai Musisi Wanita Indonesia “Mengingat kaum musisi wanita yang minoritas dibandingkan dengan pria khususnya di dunia pergitaran, seringkali memang musisi/gitaris wanita dianggap sebelah mata, dianggap tidak berkompeten untuk dapat bersaing di industri musik.

Masyarakat pun akhirnya mengganggap kalau musisi wanita itu hanya menggunakan ‘kekuatan fisik’ dan visual untuk dapat bertahan di industri musik Indonesia, padahal nyatanya ada saja musisi wanita yang memang mempunyai kemampuan bermusik yang setara atau bahkan melebihi kaum pria,” kisah Nathania Jualim, musisi sekaligus gitaris lulusan Conservatory of Music UPH angkatan 2014.

Perjalanan karier wanita kelahiran Bandung ini tidak semudah yang banyak orang bayangkan. Ia mulai diperkenalkan pada alat musik piano pada usia 9 tahun, lalu diikuti dengan drum pada usia 11, sampai akhirnya berlabuh pada gitar di usia 12 tahun.

Layaknya seekor kupu-kupu yang harus berevolusi dari seekor ulat, dibentuk melalui sebuah kepompong, lalu kemudian berubah menjadi kupu-kupu yang cantik, demikianlah filosofi dibalik album “Metamorfosa” karya Nathania.

“Metamorfosa adalah mini album perdana saya yang dirilis tahun 2019. Analogi proses seekor ulat menjadi kupu-kupu tersebut kemudian digambarkan lewat proses perjalanan diri seorang Nathania Jualim sebagai musisi/gitaris dari awal mula bermusik hingga saat ini. Sebuah album yang menjadi buah perkenalan akan musikalitas Nathania Jualim yang bermetamorfosis seiring menekuni karier bermusiknya. Metamorfosa berisikan 5 lagu (4 lagu instrumental dan 1 lagu bervokal) yang dimana kelima lagu tersebut diciptakan dan diaransemen oleh saya sendiri,” ucapnya.

Dengan dukungan penuh dari ayah, ibu, dan kakaknya, Nathania kemudian memutuskan untuk terjun sepenuh hati ke dunia musik dan melanjutkan pendidikan sarjananya di UPH setelah lulus SMA.

Dengan kerendahan hati, integritas, profesionalisme, Nathania terus mengasah kemampuannya dalam bermain gitar, untuk dapat ‘hidup’ dari musik dan berkembang diindustri musik. Baginya, pribadi yang mau bekerja sama, komunikatif, dan memiliki manajemen waktu yang baik akan membuktikan perjuangan yang kini diperjuangkannya. “UPH membuka gerbang saya untuk masuk ke dalam industri musik. Pendidikan formal yang didapat membuat saya paham bahwa musik sangatlah luas dan kompleks, baik dari segi praktik dan juga ilmunya.

COM mengajarkan saya tidak hanya sekedar bermain gitar/musik namun lebih daripada itu. Filosofi, sejarah, dan ilmu lainnya membangun saya sebagai musisi yang berkarakter, berwawasan luas, dan professional,” tutup Nathania.

Berkontribusi Pada Perkembangan Ilmu Data dan Kecerdasan Artifisial, Wandi Susanto Menjawab Panggilan Sebagai Senior Manager, Data Science Lazada South-East Asia Pada era yang semakin terdigitalisasi ini, peran seorang data scientist menjadi kian penting dalam perusahaan besar. Tanggung jawab inilah yang diambil oleh Wandi Susanto, Alumni Teknik Elektro UPH angkatan 2004, untuk mengembangkan proyek Ilmu Data seperti sistem rekomendasi dan kecerdasan kompetitif menggunakan AI (Machine Learning/Deep Learning).

Sebagai Senior Manager, Data Science untuk Lazada South East Asia, tantangan yang dihadapinya pun tidak main-main. Pertumbuhan pesat ilmu data serta kecerdasan artifisial membuat Wandi harus mampu mengikuti perkembangan teknologi dan makalah penelitian baru.

Dalam menjalani kariernya, dukungan orang tua menjadi motivasi utama Wandi untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Ia percaya, bahwa selain memiliki dorongan yang kuat untuk maju dari dalam diri sendiri, pendidikan juga menjadi elemen penting dalam kariernya saat ini.

Menurut Wandi, pendidikan menjadi sebuah faktor krusial dalam kariernya karena pendidikan meletakkan dasar dan mempersiapkan dirinya untuk menjadi profesional. “Saya belajar banyak selama masa pendidikan saya di Teknik Elektro UPH. Dosen-dosen saya selama kuliah telah membimbing saya untuk menjadi seorang sarjana yang kemudian mendapatkan beasiswa ke Jerman.

Itu adalah pengalaman yang mengubah hidup yang selalu saya syukuri,” ucap Wandi. Untuk teman-teman yang baru akan memulai karier didunia profesional, Wandi berpesan untuk kita dapat berpikiran terbuka dan mengenali peluang. Situasi yang kita hadapi telah berubah selama pandemi dan sekarang adalah waktunya untuk menjadi dunia pascapandemi bersama dengan teknologi & industri yang berubah dengan cepat.

Mengikuti Dinamika Perkembangan Zaman, Ansela Astrid Bayudi Beralih Menjual Perhiasan Emas Online Berbelanja online sudah menjadi seperti nafas kehidupan bagi masyarakat Indonesia. Semua produk, mulai dari pakaian, peralatan rumah tangga, sampai perhiasan sekalipun kini bisa kita dapatkan hanya dalam beberapa kali ketuk saja pada ponsel pintar.

Kesempatan inilah yang diambil oleh Ansela Astrid Bayudi, Alumni Usaha Perjalanan Wisata UPH angkatan 1997, dalam mengalihkan penjualan Toko Teguh Mas dan TM Diamond, dua toko miliknya yang menjual perhiasan emas, logam mulia dan juga perhiasan berlian dari offline menjadi online.

Astrid melihat bahwa dengan semakin besarnya minat masyarakat akan pembelanjaan online, maka akan semakin besar pula minat masyarakat untuk belanja perhiasan emas secara online. Toko Teguh Mas dan TM Diamond merupakan sebuah usaha yang yang dirintis oleh ayah Astrid pada tahun 1980-an. Bermodalkan ketekunan, mental baja dan kerja keras, beliau berhasil membesarkan Toko Teguh Mas bersama dengan sang istri.

Kini, saat usaha ayahnya dipercayakan kepadanya, Astrid terus berinovasi serta memberikan harga yang kompetitif untuk pelanggan Toko Teguh Mas. Astrid percaya bahwa kejujuran dan kerja keras yang ia terapkan dalam menjalani usahanya ini sangat membantunya saat menghadapi berbagai macam tantangan. “Intinya, janganlah takut untuk memulai sebuah bisnis baru, jatuh bangun dalam merintis usaha adalah hal yang biasa.

Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa bangun saat kita terjatuh, itu merupakan pengalaman yang paling berharga,” ucap Astrid. Inovasi yang berhasil Astrid terapkan dalam usahanya tentu tidak terlepas dari pendidikan yang ia dapatkan di UPH.

Walaupun usaha yang dijalaninya kini berbeda dari pendidikan yang diterimanya, Astrid tetap percaya bahwa pendidikanlah yang sejatinya telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang mampu berpikir dan menyelesaikan masalah yang dihadapi secara sistematis dan efisien. Menurut Astrid, bekal pendidikan yang baik memudahkan jalan seseorang menuju kesuksesan.

“Pendidikan Usaha Wisata UPH mengajarkan banyak hal kepada saya, antara lain bagaimana untuk selalu sabar dan tersenyum dalam menghadapi bermacam-macam jenis pelanggan. Hal ini menurut saya sangat penting dalam mengembangkan usaha toko yang saya miliki,” tutup Astrid. Pengalaman paling penting saat menjalani pendidikan pascasarjana di UPH menurut saya adalah bisa bertemu dengan berbagai karakter manusia, dan juga berdiskusi secara bebas dan terbuka.

Dosen pun memberikan ruang agar kita bisa berdiskusi, saling memberikan gambaran dan pola pikir baru – hal ini mengembangkan pemikiran dasar tentang bagaimana kita bisa melihat suatu permasalahan. Berkolaborasi dan Bersinergi, Aji Aditra Perdana Kelola Area Komersial Mandalika Grand Prix Association Aji Aditra Perdana, Alumni Magister Ilmu Komunikasi UPH angkatan 2017, saat ini mengemban tugas sebagai Head of Marketing di Mandalika Grand Prix Association, dimana ia mengelola semua area komersial Mandalika Grand Prix Association, termasuk sponsorship, ticketing, event, intelectual property, dan brand development acara Grand Prix, seri kejuaraan balap motor kelas utama yang diselenggarakan di sirkuit jalanan.

Tak hanya itu, ia juga harus menjalin hubungan baik dengan berbagai pihak yang terlibat, untuk melakukan kordinasi dan bersinergi dalam menyelenggarakan acara tahunan berskala internasional agar dapat mengembangkan intellectual property, dimana monetisasinya menjadi tantangan tersendiri yang dihadapi. Dalam menjalani kariernya, Aji percaya bahwa dukungan dari keluarga inti memberikan semangat dan dorongan yang luar biasa.

Keinginannya untuk memiliki banyak cerita dan juga pengalaman yang nantinya bisa menjadi pegangan hidup anak-anaknya kelak menjadi motivasi terbesarnya dalam meniti kariernya saat ini.

Dengan demikian, ia selalu melakukan yang terbaik bagi pekerjaan yang sedang dijalani, dengan nilai integritas yang tinggi serta kemauan untuk menjadikan pekerjaan adalah sebuah karya adalah nilai krusial yang ia pegang teguh dalam menjalani kepercayaan yang telah diberikan kepadanya.

“Saat ini dunia profesional mengalami banyak guncangan, diperlukan penetrasi kreatif yang akan mengubah dunia kedepannya. Bekerja tidak lagi memerlukan kehadiran fisik, hal ini bisa memaksimalkan waktu untuk lebih efisien bekerja. Berikan extra miles dan juga tunjukan terobosan baru di tengah dunia yang sedang beradaptasi ini,” saran Aji, terutama bagi anak muda yang akan terjun ke dunia bekerja. Bagi Aji, pendidikan memainkan peranan penting, tidak hanya bagi dirinya namun juga bagi semua orang.

Melalui pendidikan, seseorang akan bisa mendapatkan wawasan baru perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan juga landasan berpikir yang ilmiah. Dengan berlandaskan pemahaman tersebut, ia kemudian memilih untuk menempuh pendidikan pascasarjananya di UPH. “Pengalaman paling penting saat menjalani pendidikan pascasarjana di UPH menurut saya adalah bisa bertemu dengan berbagai karakter manusia, dan juga berdiskusi secara bebas dan terbuka.

Dosen pun memberikan ruang agar kita bisa berdiskusi, saling memberikan gambaran dan pola pikir baru – hal ini mengembangkan pemikiran dasar tentang bagaimana kita bisa melihat suatu permasalahan. Yang tidak kalah penting juga bagaimana berkuliah di UPH membuka banyak networking baru yang berperan untuk berkembangnya kita di masa depan,” tutup Perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan. Pendidikan di Magister Ilmu Komunikasi UPH sangat berkesan bagi saya karena diskusi dan interaksi dengan para pengajar berjalan dua arah secara efektif.

Saya diberikan ruang untuk menyampaikan argumen dari berbagai perspektif dan mendapatkan esensi dari pentingnya media dan komunikasi dari dosen yang profesional di bidangnya. Banyak konsep dan teori yang relevan bahkan hasil diskusi dengan para dosen menjadi inspirasi untuk pekerjaan sehari-sehari saya sebagai praktisi komunikasi Menerapkan Nilai Servant Leader, Vicky Dwi Saputra Menjalani Tanggung Jawab Sebagai Internal Communications Lead di Unilever Indonesia Dipercayakan tanggung jawab sebagai seorang Internal Communications Lead untuk Unilever Indonesia bukanlah sebuah perkara mudah, karena dibutuhkan kemampuan komunikasi yang efektif, relevan, dan kreatif agar pesan yang disampaikan oleh korporasi dapat diterima dengan baik oleh seluruh karyawan dari berbagai latar belakang yang berbeda.

Adalah tugas seorang Vicky Dwi Saputra, alumni Magister Ilmu Komunikasi UPH angkatan 2016, untuk memimpin divisi komunikasi internal di Unilever Indonesia, dimana ia diminta untuk menghidupkan nilai-nilai dari Unilever Indonesia serta memastikan setiap karyawan mengetahui dan memahami dinamika internal.

Melalui tanggung jawabnya ini, Vicky berharap dapat mendorong partisipasi aktif tim dan membangun kultur organisasi yang inklusif.

Bagi Vicky, orang-orang disekitarnya merupakan penyemangat yang krusial untuknya terus bertumbuh, baik secara personal maupun professional. Dengan dukungan dari orang tua, keluarga, serta teman-teman seperjuangan di Unilever Indonesia, Vicky terus berjuang untuk mengejar purpose hidupnya.

Vicky percaya bahwa tugas yang dipercayakan kepadanya ini memberinya ruang yang lebih luas untuk dapat membuat orang lain merasa lebih diakui dan berdaya. Nilai yang Vicky pegang, yakni seorang pemimpin yang melayani, telah membentuk dirinya dalam menjadi pribadi yang lebih bijak dalam menahan ego, bertoleransi, serta berempati saat berinteraksi dengan banyak orang dengan karakteristik yang berbeda.

Harapan Vicky dalam mengembangkan potensi diri telah menghantarkannya kepada pendidikan Magister Ilmu Komunikasi di UPH. Vicky yakin bahwa pendidikan adalah modal penting untuk dirinya dapat memaksimalkan potensi dan menguatkan purpose hidupnya. “Pendidikan di Magister Ilmu Komunikasi UPH sangat berkesan bagi saya karena diskusi dan interaksi dengan para pengajar berjalan dua arah secara efektif. Saya diberikan ruang untuk menyampaikan argumen dari berbagai perspektif dan mendapatkan esensi dari pentingnya media dan komunikasi dari dosen yang profesional di bidangnya.

Banyak konsep dan teori yang relevan bahkan hasil diskusi dengan para dosen menjadi inspirasi untuk pekerjaan sehari-sehari saya sebagai praktisi komunikasi,” ucap Vicky.

Untuk teman-teman yang akan memulai perjalanan kuliahnya tahun ini, Vicky berpesan agar teman-teman dapat jalani prosesnya dengan hati dan tetap menikmati dinamika perkuliahan dengan bahagia dan penuh rasa syukur. Selalu ingat tujuan awal menjalani perkuliahan bahkan saat menghadapi masa-masa sulit sekalipun dan terus jaga komitmen untuk lulus tepat waktu dengan hasil terbaik.

“Percaya bahwa dibalik kerja keras teman-teman, ada kebahagiaan dari orang-orang tercinta. Good luck!” tutup Vicky. Yang paling berkesan adalah pengalaman berorganisasi di kampus, karena dapat bertemu dengan individu dari jurusan lain sehingga bisa mendapatkan perspektif yang beragam, serta membangun relasi dengan banyak pihak. Tidak hanya murid dari jurusan lain, tapi juga para pemimpin kampus dan pihak luar lainnya.

Hal ini sangat mempersiapkan saya dalam memasuki dunia kerja Atasi Isu Lingkungan Indonesia, Christine Go dan RefillMyBottle Bangun RefillStation di Seluruh Indonesia Isu lingkungan yang terjadi di Indonesia menarik perhatian Christine Go, Alumni Management UPH angkatan 2008, untuk tergabung dalam gerakan RefillMyBottle, sebuah komunitas non-profit yang bergerak untuk mengurangi sampah botol plastik sekali pakai.

RefillMyBottle merupakan sebuah gerakan yang dimulai dari Bali, dimana jumlah wisatawan yang tinggi tiap tahunnya berdampak terhadap jumlah penggunaan botol minum plastik sekali pakai. Air keran yang tidak dapat langsung di minum membuat para wisatawan harus mengkonsumsi air minum dalam kemasan plastik, ditambah dengan manajemen sampah yang belum maksimal, maka jutaan sampah botol berakhir di TPA, terbuang ke laut atau dibakar dan menghasilkan gas beracun.

RefillMyBottle membangun jejaring dan membuat peta isi ulang yang menunjukkan lokasi di mana saja seseorang bisa mengisi botol air minum sehingga tidak lagi perlu membeli air kemasan plastik.

Saat ini, Christine dan rekan-rekan komunitas telah berhasil membangun jaringan RefillStation menjadi lebih dari 4,000 titik, dimana Christine bekerja sama dengan toko, restoran, hotel, kantor, dan tempat umum lainnya yang bersedia menjadi RefillStation. Berawal dari keresahan Christine terkait masalah sampah plastik yang ia lihat saat diving di laut, Christine kemudian memutuskan untuk memberikan edukasi kepada anak pesisir tentang kelestarian laut sekaligus melanjutkan pendidikan dibidang Climate Change and Development.

Dalam pedidikannya tersebut, Christine melakukan riset mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan barang-barang pakai perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan, salah satunya botol minum dan hasil risetnya tersebut menunjukkan bahwa faktor infrastruktur seperti ketersediaan mesin isi ulang menjadi salah satu alasan utama seseorang untuk membawa atau tidak membawa botol minum.

Melalui riset tersebut, Christine memutuskan untuk bergabung dengan RefillMyBottle dan bersama-sama membangun jejaring isi ulang air minum tanpa kemasan plastik sebagai solusi untuk permasalahan yang ingin ia selesaikan.

Bersama komunitas RefillMyBottle, Christine berharap bahwa ia dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan konsep keberlanjutan dan memberikan akses untuk hidup lebih selaras dengan bumi, karena sustainability adalah sebuah tujuan akhir yang harus diusahakan bersama-sama sebagai sebuah kesatuan.

Christine percaya bahwa pendidikan merupakan aset penting yang harus dimiliki setiap orang, baik itu pendidikan formal maupun informal. Selain berkomunitas di dalam dan di luar kampus serta pembelajaran mandiri melalui situs online, Christine melihat bahwa akses pendidikan formal yang berkualitas membuka opsi perjalanan karier yang lebih luas.

Melalui pendidikan yang didapatkannya di UPH, Christine semakin memahami pentingnya berkomunitas dan melihat sebuah isu dari sudut pandang lain.

perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan

“Yang paling berkesan adalah pengalaman berorganisasi di kampus, karena dapat bertemu dengan individu dari jurusan lain sehingga bisa mendapatkan perspektif yang beragam, serta membangun relasi dengan banyak pihak. Tidak hanya murid dari jurusan lain, tapi juga para pemimpin kampus dan pihak luar lainnya. Hal ini sangat mempersiapkan saya dalam memasuki dunia kerja,” tutup Christine. Pendidikan di UPH sangat berkesan untuk saya. Terutama, karena UPH mengajarkan para mahasiswa dan mahasiswi-nya untuk selalu mengutamakan Tuhan dan memiliki karakter yang saleh (Godly Character).

Menurut saya, penanaman nilai-nilai seperti inilah yang membedakan UPH dengan kebanyakan Perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan yang lain. Di UPH, selain dibimbing untuk meraih kesuksesan secara jasmani, mahasiswa dan mahasiswi juga diarahkan untuk memilki pengenalan dan pengertian akan Tuhan dengan benar Menjadi Berkat Melalui Sosial Media, Rachel Angela Rutin Unggah Cover Lagu Rohani Membawa dampak bagi anak muda adalah impian semua orang, termasuk Rachel Angela, alumni Fakultas Hukum UPH angkatan 2017.

Dengan suara merdu yang Tuhan berikan kepadanya, ia kini menjalani karier dibidang tarik suara, menyanyikan lagu-lagu rohani Kristen melalui platform sosial media yang dimilikinya. Dengan doa dan dukungan luar biasa dari keluarga terdekat, ia memantapkan hati untuk fokus membagikan konten rohani setelah mengumulkan jenis konten seperti apa yang akan dibawakan. “Keputusan itu merupakan mujizat bagi saya, karena tidak mungkin rasanya, kalau bukan Tuhan yang mengubah hati dan mimpi saya.

Impian yang saya pupuk sejak kecil berubah arah 180 derajat, tanpa adanya kekecewaan maupun penyesalan sampai hari ini. Saya perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan mencoba untuk menuruti saran teman-teman saya tersebut dengan hanya fokus menggunakan sosial media saya untuk keperluan pekerjaan saja tanpa melibatkan pelayanan (fokus untuk kover lagu sekuler saja), dengan pemikiran bahwa pelayanan tidak harus dilakukan lewat sosial media, tapi bisa dilakukan lewat tempat lain.

Tapi hati saya sangat-sangat tidak damai, malah lebih galau dari sebelumnya, sampai-sampai ‘fokus untuk pekerjaan saja’ itu hanya saya lakukan selama 2 hari. Dari situ saya berdoa lagi, saya terus berdoa sampai akhirnya pada suatu pagi Tuhan memberikan kemantapan hati kemana saya harus melangkah. Hari itu saya menelepon mama saya, saya bilang: ‘Ma, Rachel sudah tahu apa yang Rachel akan pilih, Rachel memilih untuk sepenuhnya melayani Tuhan, mengenai pekerjaan, Rachel yakin Tuhan sudah sediakan, bagi Tuhan terlalu mudah untuk memberkati Rachel lewat caraNya’,” kisah Rachel.

Rachel mengakui bahwa dalam melayani sekalipun, ia menemukan tantangan yang harus dihadapi. Namun dengan kedisiplinan, konsistensi, kreativitas, Rachel melawan rasa jenuh tersebut agar konten yang dihasilkannya tetap relate dan dapat menyampaikan pesan yang dititipkan kepadanya dengan baik kepada anak-anak muda seusianya. Rachel percaya, bahwa saat ia mengandalkan Tuhan, menjalani pelayanan dengan kasih, serta membangun hubungan pribadi yang dekat dengan Tuhan, maka pelayanan yang ia lakukan akan berbuah manis pada waktunya.

Selain itu, Rachel juga percaya bahwa pendidikan memegang peranan penting dalam perjalanan kariernya. Ia percaya bahwa melalui pendidikan yang ia dapatkan di UPH, ia belajar untuk menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah saat menghadapi kegagalan, lebih disiplin, konsisten, serta kreatif. Dan lebih dari itu, Rachel percaya bahwa sejalan dengan pelayanan yang dilakukannya ilmu hukum sangat bermanfaat untuk mengurus kontrak-kontrak tertulis ketika ia mendapat tawaran pekerjaan seperti endorsement dan Brand Ambassador.

“Pendidikan di UPH sangat berkesan untuk saya. Terutama, karena UPH mengajarkan para mahasiswa dan mahasiswi-nya untuk selalu mengutamakan Tuhan dan memiliki karakter yang saleh (Godly Character).

Menurut saya, penanaman nilai-nilai seperti inilah yang membedakan UPH dengan kebanyakan Universitas yang lain. Di UPH, selain dibimbing untuk meraih kesuksesan secara jasmani, mahasiswa dan mahasiswi juga diarahkan untuk memilki pengenalan dan pengertian akan Tuhan dengan benar” tutup Rachel dengan senyuman.

Masa kuliah di UPH sungguh berkesan bagi saya karena saya terekspos dengan banyaknya pengalaman dan pengetahuan yang membentuk diri sebagaimana pribadi saya saat ini. Menurut saya, selain tentunya pengalaman, yang paling berguna hingga saat ini adalah social skill kita, sebagai investasi dalam networking di masa mendatang dan seterusnya Memfasilitasi Pegiat Industri Kreatif untuk Berkolaborasi Elrica Sofridia Mengemban Tanggung Jawab Sebagai Chief Operating Officer untuk Creative Nest Indonesia Pepatah yang berkata “tidak ada kekuatan yang setara dengan seorang wanita yang bertekad untuk bangkit” – adalah pepatah yang sangat menggambarkan Elrica Sofridia, Alumni Desain Komunikasi Visual UPH 2004 sekaligus alumni Magister Teknik Industri UPH 2009.

Sebagai seorang Chief Operating Officer untuk Creative Nest Indonesia, adalah tugas Elrica – sapaan sehari-hari wanita kelahiran Malang ini – untuk memastikan bahwa setiap divisi berfungsi dengan baik dalam menjalankan tugasnya, mengarahkan perusahaan, dan juga mencari peluang lain yang lebih inovatif untuk mengembangkan perusahaan itu sendiri. Creative Nest Indonesia, sebuah creative hub dan juga training center yang memiliki visi untuk menjadi wadah sekaligus memfasilitasi para pelaku dan pegiat industri kreatif telah menjadi rumah kedua Elrica sejak 2019.

Ia berharap, melalui Creative Nest, banyak pelaku kreatif untuk dapat saling berkolaborasi, saling melengkapi, dan terus berkembang dalam membuat karya-karya yang berkualitas.

Dalam menjalani tugasnya, Elrica memegang teguh integritas, sikap kritis, dan adaptatif. Ia percaya bahwa dengan tuntutan zaman yang mengharuskannya selalu kreatif dan up-to-date untuk mengikuti kebutuhan, pergerakan, dan perkembangan zaman dalam industri kreatif ini, tiga nilai tersebut tidak boleh luput dari perhatiannya. Selain itu, dukungan dari keluarga, partner, serta team juga harus diakui Elrica memberi dorongan yang luar biasa baginya dari hari ke hari.

Bagi Elrica, pendidikan merupakan modal yang sangat penting untuk dimiliki. Jika pendidikan yang diterima baik, maka kerangka atau pola pikir dalam diri seseorang akan terbentuk dengan baik – dimana kerangka berpikir ini akan menghasilkan life-skill yang solutif.

Terlebih dari itu, pendidikan juga membantunya menjadi lebih open-minded dan mengolah informasi atau pengetahuan dengan lebih baik untuk dapat diaplikasikan. “Masa kuliah di UPH sungguh berkesan bagi saya karena saya terekspos dengan banyaknya pengalaman dan pengetahuan yang membentuk diri sebagaimana pribadi saya saat ini.

Menurut saya, selain tentunya pengalaman, yang paling berguna hingga saat ini adalah social skill kita, sebagai investasi dalam networking di masa mendatang dan seterusnya,“ tutup Elrica.

Psikologi UPH telah membantu saya tidak hanya dari segi pendidikan akan tetapi juga pengembangan karakter. Saya lebih percaya diri ketika saya bertemu dengan orang dalam hal bisnis maupun pribadi. Sebagai contoh, ketika ada konflik diantara karyawan-karyawan saya, bekal yg saya terima dari waktu saya kuliah bisa saya pakai untuk membantu menyelesaikan konflik tersebut Mengandalkan Tuhan dan Tidak Takut Perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan, Aviana Nastasia Jalani Mandat Sebagai Director of Operations I Can Read Indonesia – Solo Bahasa Inggris menjadi aset yang sangat penting dalam masa globalisasi ini.

Dan terutama bagi Aviana Nastasia, Alumni Psikologi UPH 2006, Director of Operations I Can Read Indonesia, cabang Solo, adalah panggilan hidupnya untuk dapat membantu anak-anak Indonesia memahami bahasa Inggris dengan lebih efektif dan efisien. Pertengahan 2020 lalu, Aviana bergabung dengan I Can Read, salah satu Lembaga Kursus Bahasa Inggris yang terkemuka di Asia, terutama di Indonesia. Sebagai Director of Operations di salah satu center mereka di Solo, Aviana mengatur semua kegiatan operasional center tersebut, termasuk proses perencanaan hingga pelaksanaan operasional.

Melalui metode pembelajaran yang menggabungkan berbagai gaya belajar seperti auditori, visual, dan kinestetik, Aviana percaya bahwa Bahasa Inggris akan lebih mudah dan lebih cepat dipahami anak-anak. Dalam menjalani kariernya saat ini, Aviana mengakui bahwa tantangan terbesar yang ia hadapi adalah menyesuaikan ide-ide marketing yang didapat dari I Can Read Pusat (Jakarta) dengan kondisi Solo yang adalah kota kecil, baik secara harga dan metodenya.

Namun melalui tantangan inilah Aviana belajar untuk semakin bergantung pada Tuhan, tidak takut pada kegagalan, dan juga secara rutin mengambil waktu untuk beristirahat dan menghabiskan waktu dengan keluarga. Ia percaya, bahwa ketika ia selalu melibatkan Tuhan dalam setiap pekerjaan yang dilakukannya, Tuhan akan bekerja dan membantunya untuk dapat bangkit dan belajar dari kegagalan yang dihadapinya. Aviana percaya bahwa pendidikan adalah modal penting yang harus dimiliki tiap orang, termasuk dirinya.

Dukungan yang diberikan oleh ayahnya untuk dapat terus belajar dan meraih mimpi setinggi-tingginya selaras dengan pendidikan yang dijalani Aviana di Psikologi UPH.

UPH diakuinya tidak hanya telah memperlengkapinya dengan ilmu praktis, namun juga pengembangan karakter. “Psikologi UPH telah membantu saya tidak hanya dari segi pendidikan akan tetapi juga pengembangan karakter. Saya lebih percaya diri ketika saya bertemu dengan orang dalam hal bisnis maupun pribadi. Sebagai contoh, ketika ada konflik diantara karyawan-karyawan saya, bekal yg saya terima dari waktu saya kuliah bisa saya pakai untuk membantu menyelesaikan konflik tersebut,” tutup Perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan.

Menyediakan Musik Berkualitas untuk Acara Pernikahan, Alumni Conservatory of Music UPH Cetuskan Joshua Setiawan Entertainment Memberikan dan menampilkan musik yang berkualitas dalam acara-acara seperti pernikahan dan lain sebagainya merupakan tujuan Joshua Setiawan, Alumni Conservatory of Music UPH 2010, dalam membangun Joshua Setiawan Entertainment, sebuah Music Entertainment yang bergerak dalam industri Wedding di Indonesia.

Dengan ketekunan, kekuatan mental, dan kegigihan dalam bekerja, Joshua memulai usahanya ini 2018 lalu, tak lama setelah dirinya menyelesaikan pendidikan di Conservatory of Music UPH. Joshua, sapaan akrab pria kelahiran Bali ini, mengakui bahwa merintis sebuah Music Entertainment di Indonesia bukanlah perkara mudah. Sebagai seorang seniman yang lahir dengan latar belakang keluarga yang bermusik, Joshua paham betul bahwa ada banyak music entertainment diluar sana yang tidak memahami musik namun sudah menawarkan jasa dengan harga sangat terjangkau.

Resikonya, ada banyak acara pernikahan yang memperdengarkan musik yang kurang berkualitas. Dengan demikian, Joshua ingin memperbaiki hal tersebut. Menurut Joshua, pendidikan adalah modal yang penting untuk dimiliki, terutama untuknya merintis usaha Joshua Setiawan Entertainment. Joshua percaya bahwa ia pertama-tama harus paham produk apa yang akan ia jual kepada konsumen, sehingga konsumen merasa keputusan yang diambil adalah keputusan yang terbaik dalam memberikan jasa tersebut.

Dan salah satu cara yang ia yakini untuk dapat mengetahui apa yang harus berikan adalah melalui pendidikan yang tepat, sesuai, benar, dan professional. “Semua yang saya dapatkan di Conservatory of Music UPH sangat penting dan berguna dalam dunia kerja saya sekarang ini, termasuk juga dosen-dosen pengajar saya yang berkualitas dan memang sudah teruji dalam bidang mereka masing-masing,” tutup Joshua.

Banyak yang menganggap pendidikan hanya didapat pada saat kita ada di kelas dan belajar, namun menurut saya pendidikan juga bisa didapat pada saat kita aktif berkegiatan dan berorganisasi di kampus.

Pengalaman dan pelajaran yang saya terima selama mengikuti organisasi di kampus masih saya bawa sampai sekarang Fadi Filip Anugerah, Alumni Hubungan Internasional 2012 Berkontribusi Untuk Meningkatkan Profil Dari Sektor Air dan Sanitasi Indonesia Satu lagi alumni UPH lulusan Hubungan Internasional angkatan 2012 memberikan sumbangsih bagi Indonesia dalam bentuk pemikiran.

Ialah Fadi Filip Anugerah, yang dipercaya sebagai salah satu tenaga ahli muda komunikasi di Bidang Air minum dan Sanitasi, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Dalam kesehariannya, Fadi – sapaan sehari-hari pemuda kelahiran Malang ini – dipercaya mencari cara untuk meningkatkan profil dari sektor air dan sanitasi, agar dapat menjadi isu prioritas baik itu di tingkat nasional sampai ke tingkat daerah.

Selain itu, ia dan rekan-rekan kerjanya juga dipercaya untuk mempersiapkan perhelatan Konferensi Sanitasi dan Air Minum Nasional (KSAN) pada bulan November 2021, sebuah wadah kolaborasi dan advokasi terbesar di sektor air dan sanitasi. Dalam menjalani perannya sebagai seorang tenaga ahli muda komunikasi, Fadi mengakui bahwa tantangan terbesar yang dihadapinya saat ini adalah untuk mengemas strategi komunikasi dan advokasi yang tepat agar dapat diterima dengan baik diseluruh lapisan masyarakat.

Berangkat dari data terkait capaian akses sanitasi yang aman di Indonesia, saat ini akses sanitasi dan air minum di rumah tangga hanya sekitar 7,6% dan air minum aman sekitar 11,9% – kedua angka ini masih jauh dari target nasional, sehingga diperlukan kerja ekstra untuk meningkatkan angka tersebut. Namun Fadi meyakini pepatah yang mengatakan, ‘sebuah hasil pasti tidak akan mengkhianati prosesnya’. Ia percaya bahwa dengan kerja keras, mau mengikuti proses dengan baik, dan pantang menyerah, maka hasil yang didapatkan pun akan baik.

Kepercayaan yang diberikan kepada Fadi di Bappenas tentu tidak terlepas dari pendidikan yang didapatnya selama di UPH. Fadi yang selalu menyempatkan waktu untuk belajar dari orang- orang hebat di lingkungannya, baik dari yang lebih senior maupun junior, meyakini bahwa pendidikan tidak hanya didapatkan melalui pelajaran dalam kelas, namun juga perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan kegiata- kegiatan lain yang diikutinya selama di kampus, seperti aktif dalam kepanitaan, kepengurusan dalam organisasi, dan pada saat ia berkesempatan magang di KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di Filipina.

“Banyak yang menganggap pendidikan hanya didapat pada saat kita ada di kelas dan belajar, namun menurut saya pendidikan juga bisa didapat pada saat kita aktif berkegiatan dan berorganisasi di kampus. Pengalaman dan pelajaran yang saya terima selama mengikuti organisasi di kampus masih saya bawa sampai sekarang. Selain itu, saya juga sangat terkesan dengan pengalaman saya menjadi anak magang di Kedutaan Besar Indonesia di Filipin tahun 2014 lalu – banyak hal yang saya pelajari dengan “terjun bebas” ke dunia pekerjaan saat itu, mulai dari bekerja dengan orang orang yang lebih dewasa, membangun relasi dengan teman-teman baru yang mempunyai latar belakang yang berbeda sampai bagaimana caranya memberikan hasil kerja yang baik walaupun dibawah tekanan.” tutup Fadi.

Saya ingat ketika pertama kali melangkahkan kaki masuk ke lobi kampus UPH, ada ukiran besar bertuliskan ‘Responsibility Begins With Me’. Ini menjadi slogan yang menjadi pedoman ketika saya menuntut ilmu maupun berinteraksi dengan para sahabat seperjuangan saya di UPH. Saya yang awalnya sangat academic mindset juga jadi lebih terbuka wawasannya akan berlimpahnya peluang di dunia bisnis dan investasi dari sesama kawan UPH lintas jurusan Bekerja Dengan Disiplin dan Optimisme, William O.

Mamudi Dipercaya Mengemban Tugas Sebagai Senior Technical Analyst di PT Samuel Sekuritas Indonesia Melakukan investasi pada pasar modal kini semakin diminati masyarakat Indonesia. Kesadaran mengenai perencanaan finansial yang baik untuk memenuhi kebutuhan dimasa depan kini sudah menjadi seperti kebutuhan utama. Dibalik hasil analisa yang dapat diakses nasabah PT Samuel Sekuritas Indonesia, adalah tugas William Oktafbipian Mamudi, Alumni Fisika UPH 2003 untuk memberikan update situasi pasar modal terbaru serta memberikan rekomendasi saham-saham dengan dinamika yang menarik bagi para nasabah.

Dengan kepercayaan yang diemban William sebagai Senior Technical Analyst, ia harus jeli membaca peluang, baik dari saham-saham pada sektor penggerak ekonomi tradisional maupun saham-saham yang luput dari radar para investor tetapi berpeluang memberikan nilai return lebih dimasa depan. Sejak duduk dibangku kuliah dulu, William memegang teguh nilai kedisiplinan dan optimisme.

Ia percaya, bahwa dengan menerapkan disiplin mengikuti strategi yang sudah dibangun susah payah, strategi investasi yang sudah teruji akan berhasil dalam jangka panjang.

William juga percaya bahwa optimisme harus dibangun dalam diri sendiri serta melalui networking yang baik. Ketika ia berdiskusi dengan rekan-rekan seperjuangannya di UPH, ia mulai terbiasa dengan ide bahwa orang Tionghoa percaya krisis memberikan bahaya sekaligus peluang, dimana ia kini percaya bahwa dalam keadaan krisis akan selalu bangkit investor generasi berikut yang berhasil karena berani mengambil peluang di tengah bahaya.

Dengan demikian, William terus merasa optimis dengan dunia investasi Indonesia. Dalam menjalani kariernya, William tentu menemukan kesulitan yang harus ia lalui. Sebagai seorang chartist professional, William pertama-tama harus mampu mempertahankan objektivitasnya, terutama dalam menghadapi karakter klien yang berbeda-beda.

Selain itu, William juga harus mampu menjelaskan dengan hasil analisa chart-nya dengan bijak jika rekomendasinya bertentangan dengan bias personal investor. William sangat percaya bahwa Indonesia akan mengarah lebih baik di masa depan.

Kesuksesan William saat ini dalam bidang analisa pasar modal tentu tidak lepas dari pendidikan yang dijalaninya di UPH. William yang saat itu mendapatkan kesempatan untuk menerima beasiswa fisika dan diajarkan langsung oleh Prof. Yohanes Surya mengakui bahwa ia percaya bahwa tanggung jawab dimulai dari diri sendiri dan ia terus mengingat pedoman ini dalam menjalani karier. “Saya ingat ketika pertama kali melangkahkan kaki masuk ke lobi kampus UPH, ada ukiran besar bertuliskan ‘Responsibility Begins With Me’.

Ini menjadi slogan yang menjadi pedoman ketika saya menuntut ilmu maupun berinteraksi dengan para sahabat seperjuangan saya di UPH. Saya yang awalnya sangat academic mindset juga jadi lebih terbuka wawasannya akan berlimpahnya peluang di dunia bisnis dan investasi dari sesama kawan UPH lintas jurusan,” tutup William.

Di pendidikan Magister Manajemen UPH, saya terkesan pada sesi presentasi proyek kelompok dimana dosen memberikan kami studi kasus yang real dan tidak berdasarkan text book. Disini saya belajar untuk menganalisis kasus secara comprehensive sekaligus berlatih cara mempresentasikan suatu proyek dengan baik di depan khalayak umum, yang mana amat sangat penting untuk role saya saat ini yaitu untuk convicing the professionals Mengubah Angka Menjadi Cerita, Yoselin Indrawati Menekuni Karier Sebagai Senior Research Executive Sekaligus C reative Expert Beberapa tahun belakangan ini, iklan-iklan yang bermunculan dihadapan konsumen Indonesia menjadi kian menarik dan meyakinkan.

Apalagi didukung dengan hadirnya platform belanja online yang memberikan banyak kemudahan, konsumen tentu tidak terhindarkan dari kegiatan berbelanja. Perubahan perilaku masyarakat ini membuat tugas Yoselin Indrawati, Alumni Magister Manajemen UPH angkatan 2018, menjadi semakin menantang. Sebagai Senior Research Executive sekaligus creative expert untuk salah satu firma yang memfasilitasi kebutuhan perusahaan-perusahaan di Indonesia terkait perilaku belanja konsumen, merupakan tugas Yoselin untuk memahami dinamika reaksi audience ketika terekspos terhadap jenis-jenis iklan tertentu kemudian mengolah serta menuangkan data tersebut dalam bentuk laporan yang didasarkan pada kombinasi human understanding dan big data.

Terlebih dari itu, Yoselin juga dituntut untuk mampu memberikan presentasi laporan, workshop, dan serta penulisan beberapa artikel terkait big data learning. Tentu perjalanan menjadi seorang Senior Research Executive yang sekaligus dipercayakan tugas seorang creative expert tidak mudah. Ternyata, mempresentasikan laporan hasil analisanya kepada klien merupakan tantangan terbesar yang Yoselin masih harus ia taklukkan sampai saat ini.

“Membuat report adalah satu tantangan tersendiri, tapi mempresentasikan di hadapan professionals dan panggung yang cukup besar, itu adalah tantangan saya yang sesungguhnya. Dulu saya berpikir bahwa presentasi hanya sebatas menceritakan angka: baik atau buruk – tapi ternyata, presentasi adalah bagaimana kita mengubah angka jadi suatu cerita yang saling terkait antara satu dengan yang lainnya, dan bagaimana mengubah angka jadi suatu keputusan yang dapat kita berikan tindakan setelah itu dan harus disesuaikan dengan human understanding,” ucap Yoselin, yang memegang teguh kerendahan hati dan sikap mau belajar.

Rasa ingin tahu dan sifat yang suka mengamati membuat Yoselin bersemangat dalam meniti kariernya dalam bidang consumer-behavior research dan creative. Baginya, menganalisa reaksi manusia terhadap commercial advertising yang saat ini bertebaran didunia maya merupakan sebuah kegiatan yang menyenangkan. Bagi Yoselin, ada kekaguman tersendiri ketika ia melihat iklan dengan dikemas dengan sangat baik dan terlebih pada pengiklan yang mampu membawa emosi konsumen dengan cara menuangkan suara kolektif masyarakat kedalam iklan tersebut.

Bagi Yoselin, pendidikan adalah modal penting yang harus dimiliki setiap orang, terlepas dari pekerjaannya. Selain memperlengkapinya dengan dasar-dasar untuk berkomunikasi serta cara jitu untuk memahami reaksi seseorang yang didasarkan oleh tingkat kebutuhan mereka, Pendidikan pasca-sarjana yang Yoselin jalani di UPH terlebih mengasah kemampuannya untuk menganalisa kasus secara lebih mendalam dan lengkap.

“Di pendidikan Magister Manajemen UPH, saya terkesan pada sesi presentasi proyek kelompok dimana dosen memberikan kami studi kasus yang real dan tidak berdasarkan textbook. Disini saya belajar untuk menganalisis kasus secara komprehensif sekaligus berlatih cara mempresentasikan suatu proyek dengan baik di depan khalayak umum, yang mana amat sangat penting untuk peran saya saat ini yaitu untuk meyakinkan para profesional,” tutup Yoselin.

Terus Belajar dan Pantang Menyerah, Karnika Grikanandini Terus Dorong Diri untuk Jadi Pribadi yang Membawa Nilai Tambah Bagi Perusahaan Dibalik promosi sebuah brand yang efektif, tentu ada banyak perencana hebat dibelakang layar yang mengatur strategi pemasaran produk tersebut. Karnika Grikanandini, Alumni Ilmu Komunikasi UPH angkatan 2012 adalah salah satunya. Sebagai Brand Manager di Unilever Indonesia, tugas Nika – sapaan wanita kelahiran Jakarta ini – adalah untuk mengembangkan berbagai jenis produk yang dijual Unilever dari end to end, mulai dari mencari consumer insights sampai mencari solusi untuk menjawab insights tersebut agar setiap brand yang dimiliki Unilever dapat terus menghasilkan produk yang diperlukan masyarakat.

Sebagai seorang Brand Manager, tentu ada banyak tantangan yang harus Nika hadapi, termasuk untuk memahami sisi pemasaran sekaligus sisi bisnis perusahaannya secara keseluruhan.

Ia harus belajar mengenai mesin yang ada di pabrik, kemasan, hingga proses pembuatan produk. Melalui pemahaman yang selalu diperbaharui ini, ia kemudian dapat memberikan solusi yang lebih maksimal untuk perkembangan brand-nya from end to end.

Melalui setiap tantangan maupun kegagalan yang dihadapinya, Nika terus bertekun dan pantang menyerah. Ia percaya bahwa setiap kesulitan yang dihadapinya akan menjadi batu loncatan yang berharga dimasa yang akan datang. Nika mengakui bahwa pendidikan adalah modal yang penting dalam kariernya saat ini. Menurutnya, pendidikan yang ia jalani di UPH telah memperlengkapinya dengan ilmu praktis serta soft-skill, termasuk problem solving, time management, dan juga semangat pantang menyerah.

Nika percaya bahwa dengan ilmu yang ia miliki, ia dapat menjadi pribadi yang bermanfaat untuk perusahaan, orang-orang sekitarnya, serta Indonesia. “Buat saya, yang paling berkesan saat kuliah dulu adalah banyaknya organisasi yang tersedia di UPH, mulai dari organisasi kemahasiswaan seperti HMJ atau BEM sampai organisasi club yang luar biasa di ilmu komunikasi seperti TV Club dan juga Radio Club.

Melalui pengalaman saya mengikuti BEM, club radio, dan membantu acara-acara HMJ ilkom lainnya, saya mempelajari time management dan project management yang saya terus pakai dalam pekerjaan saya sampai hari ini,” tutup Nika. Memanggang Kue Dengan Cinta, Iven Kawi, Founder Ivenoven, Ingin Selalu Memberikan yang Terbaik untuk Pelanggannya Kue – sebuah kue adalah representasi hari spesial seseorang atau keluarga yang biasanya tersedia dalam pesta perayaan keluarga Indonesia.

Kurang pas rasanya jika pada hari tersebut dirayakan tanpa kue. Selain rasa kue yang enak, tentu kue yang cantik dan bisa didekorasi khusus atau custom-design menjadi keinginan semua orang. Adalah Iven Kawi, alumni Akuntansi UPH angkatan 2004, founder IVENOVEN yang membuat semua harapan kue ulang tahun masyarakat Indonesia terwujud: selain andal membuat dekorasi kue menggunakan buttercream sesuai yang diinginkan oleh pembeli, ia juga menciptakan sendiri rasa kue berikut isi di setiap lapisan untuk menciptakan penggabungan rasa yang enak dan seimbang.

Perjalanan Iven dalam dunia cakery berawal ditahun 2014 ketika anak pertamanya memasuki usia balita dan meminta dibelikan kue dari toko kue untuk dinikmati sebagai kudapan. Iven yang sedari kecil memang menyukai kue dan sudah terbiasa membantu Ibunya membuat kue sendiri akhirnya memutuskan untuk melakukan hal yang sama untuk anaknya karena kue buatan sendiri dibuat menggunakan bahan-bahan yang terbaik termasuk penggunaan telur ayam kampung dan tidak menggunakan bahan artifisial dalam campuran kue.

Tidak berhenti pada membuatkan kue untuk anaknya, Iven kemudian mulai mencoba membuat berbagai macam jenis kue dan membaginya kepada teman-teman komunitas gereja. Dari salah satu teman gereja yang kemudian memesan kue secara profesional kepada Iven untuk ulangtahun-nya, Iven kemudian memutuskan untuk menekuni bisnis ini dengan bantuan suaminya untuk mengatur pemasaran IVENOVEN di media sosial sampai sekarang dan sudah membawahi kurang lebih 20 perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan tenaga kerja profesional lulusan di bidang pastry.

Dalam mengembangkan IVENOVEN, Iven bertekad untuk selalu memberikan yang terbaik. “ Bake with love; to bake as if it is for my own family,” ucap Iven – inilah prinsip yang menjadi landasannya untuk terus berkreasi dan memanggang kue. Iven percaya, dukungan dari mama, teman-teman yang menjadi pembeli pertamanya, serta suami dapat terus memberikan dirinya semangat untuk terus berkarya.

Dan betul saja, apa yang dimulai 1 sampai 2 kue dalam seminggu kemudian berkembang menjadi 10 sampai 15 kue, dan terus berkembang lagi menjadi 60 sampai 70 kue per minggu. Bahkan Iven juga diundang untuk membagikan kemampuannya dalam mendekorasi kue di beberapa negara. Kesuksesan Iven saat ini tentu tidak terlepas dari pendidikan yang dijalaninya di UPH.

Menurutnya, pendidikan tidak hanya membuka pintu akademis, namun terlebih pintu untuk mengembangkan diri serta untuk membangun relasi. “Hal penting yang saya pelajari saat kuliah dulu yang kini sangat bermanfaat dalam bisnis saya adalah cara membuat laporan keuangan. Sekecil apapun usaha kita, penting untuk membuat laporan, membuat anggaran dan manajemen biaya, menghitung harga pokok produksi, harga pokok penjualan, menghitung inventory, dan masih banyak lainnya.

Saya bersyukur, di UPH mendapatkan pengalaman-pengalaman yang baik termasuk di luar bidang akademis juga, seperti leadership dan spiritual,” cerita Iven. Iven berpesan untuk memulai dari apa yang kita punya sekarang, sekecil apapun itu. Era digital ini telah membantu setiap orang untuk dapat mengakses informasi menjadi lebih mudah sehingga bisa mendapatkan inspirasi dan belajar di mana saja kapan saja.

Oleh sebab itu setiap anak muda yang ingin sukses di bidang yang diminati agar terus belajar, sesuaikan, kembangkan, terapkan, lalu ulangi, karena dunia terus berputar, kita juga perlu terus-menerus belajar agar selalu bisa berkembang. Memenuhi Panggilan Menjadi Dokter Dengan Keterampilan dan Sikap yang Excellent Tentu tidak sedikit dari anak Indonesia yang ketika ditanya “apa cita-citamu kalau sudah besar nanti?”, jawabannya adalah “mau menjadi seorang dokter”.

Pun demikian bagi dr. Natalia M. Christina Sp.B, dokter Spesialis Bedah Umum Siloam Hospitals Lippo Village, Alumni Kedokteran UPH 2004. Baginya, menjadi seorang dokter tidak hanya menjadi sebuah cita-cita, namun juga sebuah upaya yang ia kejar terus sampai hari ini untuk dapat membantu anggota keluarganya yang membutuhkan pertolongan medis. dr. Natalia berkisah bahwa di keluarga besarnya, tidak ada anggota keluarganya yang memiliki latar belakang medis dan ia merasa sangat terpukul ketika harus kehilangan akibat kurangnya pemahaman maupun pertolongan medis yang tersedia saat itu.

dr. Natalia menyadari penuh bahwa menjadi seorang dokter merupakan tanggung jawab yang besar. Diperlukan kasih, sukacita, dan ikhlas yang sama besarnya saat ia bertemu pasien dan membantu mencari solusi terbaik terhadap kebutuhan pasien. Menurut dr. Natalia, tantangan terbesar yang dihadapinya merupakan keterbatasan obat, alat, maupun finansial yang tersedia sehingga ia tidak selalu dapat bergerak cepat.

Sebelum ia dipanggil untuk kembali melayani di Siloam Hospitals Lippo Village, dr. Natalia sempat bekerja dibeberapa rumah sakit dan disanalah ia melihat ada begitu banyak pasien yang membutuhkan tindakan segera, namun dengan sumber daya yang terbatas, ia tidak dapat membantu lebih banyak. Namun mengingat masa pendidikannya di UPH, dr.

Natalia terus menjalankan semuanya dengan tepat dan sukacita. Menurut dr.

perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan

Natalia, pendidikan merupakan modal yang penting bagi siapapun untuk meniti karier, terutama untuk seorang dokter. Ia bersyukur bahwa UPH tidak hanya menitikberatkan pendidikan pada ilmu (science), namun juga pada skill dan terlebih attitude. Selain itu, mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan Hospital Exposure ditahun pertamanya kuliah dulu juga merupakan tolok ukur penting. Melalui pengalaman tersebut, dr. Natalia dapat melihat lebih dekat kehidupan seorang dokter, mulai dari tuntutan waktu, tantangan, serta baik buruknya secara lebih dekat.

Hal-hal ini telah mempersiapkan dirinya lebih baik untuk menjadi dokter yang bertanggung jawab dimasa kini. “Pendidikan di UPH mengajarkan kami untuk tetap berusaha dan gigih, bertahan untuk melakukan yang terbaik ditengah banyaknya tantangan.

Pandemi Covid saat ini menggoda kami untuk diam saja dan tidak berbuat apa-apa, tapi pendidikan UPH memotivasi kami untuk tetap bertahan dalam pelayanan, dan bahkan ikut serta dalam bakti sosial untuk vaksin demi kesehatan masyarakat yang lebih lagi,” tutup wanita kelahiran Manado ini dengan senyuman. Pengalaman yang berkesan untuk saya ketika berkuliah di DKV UPH diantaranya adalah latihan ketahanan mental, dimana dalam tugas-tugas yang diberikan, saya dilatih untuk tidak mudah menyerah, teliti, fokus, presisi, rapih, cepat, namun di saat yang sama dituntut untuk hasil yang maksimal.

Sehingga, ketika keluar ke dunia kerja bidang apapun, nilai-nilai di atas masih selalu saya terapkan Berkreasi Sambil Menyampaikan Pesan Positif, Glory Josephine Immanuela Cetuskan Rupa Cerita Dibalik design warna-warni menarik hati Rupa Cerita, sebuah artwear apparel yang lahir 2018 lalu, adalah Glory Josephine Immanuela, alumni Desain Komunikasi Visual UPH angkatan 2016.

Berbagai jenis desain yang dituangkan pada media jaket denim karya Rupa Cerita-pun sudah eksis di panggung Indonesian Idol musim ke-sebelas. Nama-nama yang menghiasi panggung tersebut menyukai pesan positif yang disuarakan oleh Rupa Cerita. Kini, Rupa Cerita semakin banyak diminati masyarakat – termasuk gubernur Bank Indonesia di Singapura serta cucu presiden ke-7 Indonesia. “Waktu awal Rupa Cerita meluncurkan produk-produknya Agustus 2018, komunitas gereja kami sangat suportif dan mendukung.

Banyak dari teman kami yang membeli dan menggunakan diberbagai acara, sehingga gerakan ini sangat mempromosikan Rupa Cerita. Aku selalu percaya kalau Tuhan-lah yang menjadi akses utamaku. Ia yang dapat memegang pintu-pintu kesempatan.

Jadi kalau Rupa Cerita sudah berjalan sejauh ini, aku dapat saksikan bahwa Tuhan-lah yang menjadi penolongku,” kisah Glory, yang juga rindu untuk membuat orang tuanya senang dan bangga. Perjalanan Glory membangun Rupa Cerita sebagai sebuah custom artwear yang membawa nilai positif kepada generasi muda tentu bukannya tanpa tantangan.

Sebagai sebuah bisnis start-up, seluruh kegiatan Rupa Cerita dijalankan oleh Glory dan tim kecilnya. Ia mengakui, bahwa dengan pesanan yang kian hari kian bertambah, ia sempat merasa kewalahan untuk menentukan alur pekerjaan dalam tim.

Selain itu, menemukan partner pelukis yang memiliki kemampuan baik dalam mentransfer desain ke dalam lukisan jaket juga menjadi salah satu tantangan yang harus ditaklukkannya kini. Namun Glory percaya bahwa ketika ia setia dalam perkara kecil, baik itu project maupun client, maka satu saat nanti ia akan dipercayakan perkara besar. Maka dari itu, Glory tetap tekun, bekerja keras, dan selalu mengandalkan Tuhan di dalam langkah perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan ia lalui.

Glory percaya bahwa pendidikan yang dijalaninya di UPH merupakan sebuah aset penting yang dimilikinya sebagai seorang desainer. Menurut Glory, ilmu yang didapatkannya di Desain Komunikasi Visual (Desain Grafis) lebih dari sekedar pengetahuan dasar untuk membangun sebuah brand, mempresentasikan karya seni, ataupun untuk memasarkan produk tersebut, namun juga melatih ketahanan mentalnya sebagai seorang desainer. “Pengalaman yang berkesan untuk saya ketika berkuliah di DKV UPH perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan adalah latihan ketahanan mental, dimana dalam tugas-tugas yang diberikan, saya dilatih untuk tidak mudah menyerah, teliti, fokus, presisi, rapih, cepat, namun di saat yang sama dituntut untuk hasil yang maksimal.

Sehingga, ketika keluar ke dunia kerja bidang apapun, nilai-nilai di atas masih selalu saya terapkan,” tutup Glory. Bantu Rehabilitasi Motorik Pasien, Jessica Hariwijaya Jalani Panggilan sebagai Medical Music Therapist Musik – sebuah elemen kehidupan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari kita sebagai manusia. Dalam sejarah perkembangannya, musik tak hanya menjadi sarana untuk manusia mengungkapkan perasaan, namun juga untuk menyembuhkan kesehatan.

Adalah tugas Jessica Hariwijaya sebagai seorang Medial Music Therapist di Siloam Hospitals Lippo Village, Alumni Conservatory of Music UPH angkatan 2013, untuk membantu pemulihan fungsi motorik, bicara, kognisi, psikologis dan sosial, serta mengurangi kegelisahan dalam masa perawatan pasien rawat inap.

Setelah magang di rumah sakit yang sama tahun 2017 lalu, kinerja Jessica yang memuaskan membuat pihak rumah sakit menawarkan posisi tetap baginya didepartemen Rehabilitasi Medik untuk program Music Therapy.

Sejak saat itu, departemen rehabilitasi medik sudah jauh berkembang dan membantu banyak pasien selama masa pemulihannya. Menjadi seorang Medial Music Therapist tentu membutuhkan ketangguhan, determinasi dan intuisi dalam menangani pasien yang berbeda-beda. Jessica mengakui bahwa tekanan fisik dan psikologis yang bersamaan selalu ada telah membentuknya menjadi pribadi yang sabar dan berempati. “Secara fisik, kita dituntut harus selalu siap on-foot selama 6 hari seminggu.

Secara psikologis, pasien yang datang ke kita pastinya semua memiliki masalah dan stress yang sangat berat. Sebagai Medial Music Therapist, selain saya harus menghadapi stress yang diproyeksikan pasien, saya harus tetap mampu membantu pasien mencapai tujuan rehabilitasinya,” ucap wanita yang mencintai musik sejak kecil ini.

Panggilan hidup yang Jessica temukan untuk melayani sebagai seorang Medical Music Therapist tentu tidak lepas dari pendidikan yang dijalaninya di UPH. Ia merasa bahwa pendidikannya menjadi salah satu landasan penting yang membawa dirinya menjadi siapa dirinya hari ini, sebagaimana ia percaya bahwa making an impact is as important as making an income.

“Pengalaman yang berkesan selama saya di UPH adalah perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan praktikumya. Karena kita dapat langsung mempraktekkan teori yang dipelajari di kelas pada masyarakat yang membutuhkan,” tutup Jessica. Teknik Industri UPH mempersiapkan saya ke kondisi nyata ketika kami bekerja. Logika, organisasi, operational, prosedur, ergonomi, efektivitas dan efisisiensi merupakan hal-hal yang sangat unik yang hanya dipelajari di Teknik Industri.

Lulusan Teknik Industri sangat diuntungkan karena dapat dengan cepat beradaptasi dengan dunia pekerjaan di bidang apapun dengan menggunakan prinsip-prinsip ini. Mendi Susanto, Lulusan Teknik Industri UPH yang Memimpin Dengan Kejujuran, Kesetiaan, Integritas, dan Hidup Benar Kejujuran, kesetiaan, integritas, dan hidup benar dihadapan Tuhan adalah nilai yang dipegang teguh oleh seorang Mendi Susanto, presiden direktur untuk PT Data Labs Analytics sekaligus Alumnus Teknik Industri UPH angkatan 1996.

Dalam menjalani kariernya, Mendi, sapaan akrab pria kelahiran Bengkulu ini, dituntut untuk berjalan berdasarkan nilai-nilai tersebut terutama dalam mengambil keputusan penting dan strategis dalam perusahan, manajemen kegiatan operasional ataupun sumber daya perusahaan, dalam memastikan kepuasan stakeholder dan konsumen terhadap kinerja perusahaan, maupun dalam menjaga cashflow perusahaan agar tetap sehat.

Menurut Mendi, pikiran dan tindakan yang diambil berdasarkan nilai-nilai tersebut akan terlihat dari hasil, kualitas dan standar pekerjaan yang ia lakukan – pohon yang baik akan mengeluarkan buah yang baik pula. Sebagai salah satu orang yang merasakan perubahan kemajuan teknologi dari analog menjadi digital, sikap adaptif bukanlah sesuatu yang baru untuk Mendi.

Namun menurutnya, semua orang termasuk dirinya akan harus terus beradaptasi pada perubahan dan memikirkan cara-cara baru yang dapat diterapkan dalam kehidupan. Mengelola kondisi keuangan ditengah pandemi, ditambah dengan sumber daya manusia Indonesia yang belum terampil yang mempunyai integritas dalam pekerjaannya menjadikan tugas Mendi kian menantang. Namun berada ditengah keluarga, mentor, dan orang-orang hebat mendorong Mendi untuk selalu memberikan yang terbaik dalam berkarier.

Kesuksesan Mendi tentu tidak terlepas dari pendidikan yang dijalaninya di UPH dua puluh tahun silam. Sebagai salah satu angkatan awal UPH, Mendi percaya bahwa pendidikan merupakan faktor penting dalam hidupnya. Pendidikan telah mengajarkannya cara berpikir, bersikap, bertingkah laku dalam masyarakat dan pengetahuan mengenai dunia sekitarnya dan kemungkinan untuk mengubahnya menjadi lebih baik.

“Teknik Industri UPH mempersiapkan saya ke kondisi nyata ketika kami bekerja. Logika, organisasi, operational, prosedur, ergonomi, efektivitas dan efisisiensi merupakan hal-hal yang sangat unik yang hanya dipelajari di Teknik Industri. Lulusan Teknik Industri sangat diuntungkan karena dapat dengan cepat beradaptasi dengan dunia pekerjaan di bidang apapun dengan menggunakan prinsip-prinsip ini.

Maka tidak heran lulusan Teknik Industri dapat ditemui di berbagai bidang dari yang klasik seperti manufaktur, sampai ke bidang yang kekinian seperti Pengusaha Properti, Desainer, Pengusaha Kuliner, Banker, IT, Startup Founder, Venture Capital Stakeholder sampai ke jenjang nasional seperti politikus dan pejabat di Lembaga Pengelola Investasi Nasional,” tutup Mendi.

Alumni DKV UPH Tawarkan Jasa Desain yang Berkarakter dan Inovatif Melalui Fortelin Creative Studio Dengan perkembangan di berbagai sektor bisnis, teknologi, dan sosial media yang begitu pesat di Indonesia, peran desain yang berkarakter dan berdampak menjadi kian penting.

Melihat peluang dalam kebutuhan tersebut, Cindy Lim, Alumni Desain Komunikasi Visual (DKV) UPH angkatan 2009 melahirkan Fortelin Creative Studio – sebuah studio desain grafis dan kreatif yang berbasis di Jakarta dengan visi untuk menyediakan jasa solusi kreatif dan inovatif agar brand dari berbagai lini dapat berkembang melalui branding yang perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan. Berasal dari kata “Fortælling” yang memiliki makna cerita atau narasi, Fortelin memiliki visi untuk menjadi solusi bagi banyak brand dalam mengembangkan bisnis, membangun identitas, dan menceritakan kisah mereka melalui karya desain dan bahasa visual.

Cindy mengakui bahwa berkecimpung dalam dunia desain grafis dan seni berangkat dari kecintaannya terhadap bidang gambar dan lukis. Cindy yang sewaktu kecil senang menuangkan apa yang ada dalam imajinasinya pada secarik kertas kemudian memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di UPH setelah lulus SMA dan mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual untuk memperdalam dan mengeksplorasi passion dan skill di bidang seni. Tentu dalam perjalanannya sebagai designer dipenuhi dengan tantangan – tuntutan untuk terus memperbarui ilmu, beradaptasi, dan mengikuti perkembangan teknologi dan selera pasar menjadi beberapa kriteria yang menurut Cindy harus ia asah terus untuk bersaing di industri kreatif yang ketat.

Ia berharap dengan keunggulannya tersebut, ia dapat selalu memberikan servis yang terbaik dan menciptakan desain berkualitas tinggi. “Kepercayaan yang diberikan oleh klien-klien saya dalam mengerjakan desain untuk membantu bisnis mereka berkembang adalah motivasi utama saya dalam memperjuangkan Fortelin. Saya merasa sangat puas ketika saya dapat berkontribusi dan memberikan solusi untuk bisnis mereka dari segi visual atau desain.

Desain bukan hanya pekerjaan bagi saya – it’s who I am. Hal ini juga yang mendorong saya untuk terus berkarya, memberikan dan menciptakan desain yang terbaik,” ucap Cindy dengan penuh antusiasme.

Kesuksesan Cindy dalam mengembangkan sebuah studio kreatif tentu tidak terlepas dari pendidikan yang dijalaninya di UPH. Dengan memegang teguh kejujuran, integritas, konsistensi, menghormati orang lain, serta kerendahan hati, Cindy yang saat kuliah mendapat kesempatan untuk mengikuti program beasiswa ternyata juga turut aktif dalam kegiatan organisasi dan kepanitiaan yang diselenggarakan.

Cindy percaya bahwa melalui pengalaman akademis dan non-akademisnya selama di UPH membentuk dirinya saat ini dan merupakan proses yang sama penting dalam kehidupannya. “Saya yakin dengan nilai-nilai, kurikulum serta fasilitas yang sangat memadai dan baik yang dimiliki oleh UPH. UPH menjadi stepping stone bagi saya dalam berkarir, karena di UPH saya mendapat banyak sekali pelajaran dan pengalaman, karakter saya dibentuk, dan kemampuan saya diasah.

Semua itu menjadi bekal bagi saya ketika saya terjun ke dunia kerja yang sesungguhnya,” tutup Cindy. Music For Sleeping: Lelap, Sebuah Portable Speaker Karya Alumni CoM UPH untuk Dunia “Karya yang baik adalah yang menjawab perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan banyak orang, dibuat dari hati dan sampai ke hati”, begitu prinsip Nina Sari Ishak dalam berkarya lewat musik.

Alumni UPH Conservatory of Music angkatan 2006 ini baru saja meluncurkan karyanya, sebuah album musik pengantar tidur yang dikemas dalam bentuk portable speaker dan dilengkapi dengan lampu tidur. Album yang berjudul “Music for Sleeping: Lelap” ini juga telah dirilis secara digital bertepatan dengan World Sleep Day 2021 dan mendapat sambutan yang baik.

Sejak peluncurannya, produk Lelap Speaker Lamp telah terjual hampir 1,000 unit ke berbagai kota di Indonesia dan juga mancanegara seperti Taiwan, Singapura, Australia, hingga Amerika Serikat. “Lelap adalah ide yang muncul ketika saya mendengar banyak orang yang sering mengeluh karena susah tidur. Mereka yang mengalami stress, gangguan kecemasan, depresi dan kesepianlah yang menginspirasi saya untuk berbuat lewat musik. Komposisi musiknya dibuat berdasarkan siklus tidur manusia ketika tidur.

Mulai dari tahap relaksasi, mengantuk, tertidur pulas hingga bermimpi. Judul-judulnya sengaja saya tulis dalam bahasa Indonesia, agar bahasa Indonesia dapat dikenal di pasar musik internasional,” ujar Nina yang memulai kariernya sebagai seorang guru musik di UPH College. Di tengah masa sulit, Nina berusaha untuk konsisten menulis karya dengan inovasi dan semangat kreatifitas.

Lewat Stretta Music Production, rumah produksi musik yang dirintisnya, Nina kini berkarya di balik layar membuat musik untuk iklan, jingle, dan film. “Stretta merupakan proyek tugas akhir saya ketika masih berkuliah di UPH tahun 2010 silam.

Idenya kemudian berkembang menjadi Stretta Chamber Orchestra, komunitas musik untuk berkarya bersama teman-teman di kampus. Project pertama Stretta adalah mengiringi UPH Awards tahun 2011. Sebuah kenangan manis dan pencapaian membanggakan buat anak kampus kala itu. Sejak saat itu, Stretta Music berjalan dan tampil dari event ke event, dari pesta pernikahan kecil-kecilan hingga festival jazz seperti Locafore Jazz Festival di Bandung dan Java Jazz International Festival di Jakarta. Stretta Music pernah diundang ke Taiwan untuk merepresentasikan musik Indonesia di Taiwan,” kisah Nina mengenang perjalanan kariernya.

Keberhasilannya dalam meniti karier tidak lepas dari hubungan pertemanan tulus saat masa kuliah di UPH. Melalui kegiatan-kegiatan organisasi kampus yang diikutinya, Nina bertemu dengan teman-teman yang memiliki semangat dan kecintaan yang sama untuk membangun ekosistem seni yang sehat di Indonesia. “Nilai yang selalu saya pegang adalah lakukanlah apapun yang Tuhan percayakan untuk tangan kita kerjakan dengan terhormat dan belajarlah kepada siapapun yang datang ke dalam hidup kita dengan penuh hormat.

Karena masa depan kita ditentukan oleh dengan siapa kita bergaul dan belajar hari ini,” tutup Nina dengan senyuman. Mengaktivasi Desain Kreatif Melalui Studio Kreatif ‘Takita Fusion Art Studio Apa yang membuat Anda memutuskan membeli produk atau menggunakan jasa suatu brand?

Ternyata pengaruh dari brand image atau citra dari suatu perusahaan, bahkan termasuk personal brand, merupakan salah satu faktor yang penting bagi konsumen untuk dapat mempercayai suatu produk/jasa/perusahaan, sampai akhirnya memutuskan untuk membeli produk/jasa brand tersebut lalu akhirnya menjadi konsumen setia. Dalam membangun identitas sebuah brand, peran visual nyatanya menjadi bagian yang tidak terpisahkan, bukan sekedar menciptakan visual yang enak dilihat secara estetika semata, namun dapat berkomunikasi dengan baik, bahkan menjadi solusi.

Demikian diungkapkan oleh Anastasia Callista atau yang biasa dipanggil Anast—co-founder and creative director di ‘Takita by Fusion Art Studio, dan juga alumni Desain Komunikasi Visual (DKV) UPH 2006. Anast membagikan pengalaman studi dan kariernya kepada peserta webinar yang umumnya siswa/i SMA dari berbagai daerah di Indonesia, pada acara ‘Liburan Bareng Yuk,’ yang digelar Universitas Pelita Harapan (UPH).

Webinar ini bertujuan untuk menginspirasi dan membuka wawasan para siswa SMA yang akan melanjutkan kuliah. Anast memulai kisahnya dari bagaimana dia memilih program studi sesuai minatnya hingga awal memulai karier di bidang desain. Terinspirasi dari film-film animasi Walt Disney yang ditonton sejak kecil, membuat Anast tertarik untuk mempelajari lebih lanjut mengenai cara pembuatannya, bagaimana menuangkan imajinasi yang abstrak perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan dalam rupa visual (nyata), bagaimana cara menggambarnya, membuat gambar-gambar tersebut bergerak dan hingga akhirnya menjadi satu film animasi yang utuh.

Hal ini juga yang membawanya tertarik ke dunia seni dan desain, hingga memutuskan untuk berkuliah di program studi (prodi) Desain Komunikasi Visual (DKV) UPH dan akhirnya fokus ke dunia desain grafis. Bagi Anast, keputusan memilih DKV UPH juga punya alasan yang mendasar. Selain karena memiliki akreditasi A, prodi DKV UPH juga didukung dosen-dosen praktisi (pekerja profesional di bidangnya), sehingga akan dilengkapi oleh ilmu praktis dalam pengajarannya.

perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan

Selain itu, faktor lingkungan kampus yang nyaman serta adanya pelajaran character development, menjadi poin plus untuk UPH. “Ini menarik banget ya karena selain memang kita perlu ilmu pengetahuan, karakter yang baik juga diperlukan banget buat kita nanti bekerja ataupun di social life kita,” ungkap Anastasia. Setelah lulus kuliah, Anast bekerja di salah satu creative studio di Jakarta, kemudian pada tahun 2013 Anast dan partner mulai membangun creative studio sendiri perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan ‘Takita by Fusion Art Studio.

Berawal dari mulut ke mulut, di studio kecil, Anast mengerjakan pekerjaan-pekerjaan desain untuk bisnis milik keluarga, kerabat serta teman-teman dekat, sampai akhirnya sekarang Anast dan tim bekerjasama dengan brand-brand ternama, baik skala nasional maupun internasional. Menjadi lulusan dari Program Studi DKV, ada banyak hal menarik yang dapat dipelajari dan dikerjakan. Anast memberikan contoh, beberapa di antaranya perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan membangun identitas visual brand (logo dan aplikasinya), mendesain Point of Purchase (POP)—untuk membantu konsumen memutuskan dalam membeli produk/jasa dari suatu brand dibandingkan dengan kompetitornya, mendesain packaging (desain kemasan), menjadi illustrator, dan bahkan yang saat ini sedang berkembang pesat adalah ke arah digital media seperti desain website, social media, apps perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan lainnya.

Selain fokus membangun creative studio sendiri, Anast juga aktif berbagi ilmu dan keahlian praktis, sebagai dosen tamu di prodi DKV UPH. Tentunya kehadiran para praktisi seperti Anast menjadi salah satu nilai lebih dalam proses pendidikan di DKV UPH, guna menghasilkan lulusan desainer grafis yang mampu berkompetisi. Selama saya kuliah di UPH, saya diberikan kesempatan untuk mengikuti beberapa kompetisi matematika di luar kampus.

Hal ini memberikan pengalaman yang berharga untuk saya. Selain itu, saya juga merasakan keakraban dan kebersamaan lintas angkatan yang tinggi dengan teman-teman satu jurusan, bahkan satu fakultas Panji Widiarda Rabowo, Corporate Actuary yang Bekerja Dengan Integritas dan Profesionalisme Kecintaannya pada bidang matematika membawa pria dengan nama lengkap Panji Widiarda Rabowo, alumni jurusan Matematika UPH angkatan 2009, menjadi salah satu dari segelintir Corporate Actuary di PT Tugu Reasuransi Indonesia.

Sebagai satu-satunya aktuaris yang memiliki gelar FSAI atau kualifikasi seorang aktuaris, Panji – sebagaimana ia disapa, mengakui bahwa tanggung jawab yang diembannya sebagai aktuaris tidak mudah. Tugasnya termasuk pada menjaga dan meningkatkan kualitas data, melakukan perhitungan cadangan teknis, dan menyusun sekaligus menandatangani Laporan Aktuaris tahunan. “Tugas aktuaris sebenarnya sangat penting.

Dalam hal kualitas data, saya harus memastikan kualitasnya baik dan semakin baik agar keputusan yang diambil manajemen berdampak baik pada profitabilitas dan solvabilitas perusahaan. Dan dalam perhitungan cadangan teknis juga penting, karena besarnya cadangan teknis yang dihitung oleh aktuaris akan mempengaruhi profit perusahaan saat ini dan kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban klaim di masa yang akan datang,” jelas Panji.

Dalam menjalani kariernya sebagai seorang aktuaris, Panji mengakui bahwa banyak tantangan yang harus dilaluinya. Pertama, ia harus mampu menjaga profesionalitas dan etika profesi.

Hasil kerja aktuaris yang terkadang tidak sesuai dengan keinginan manajemen perusahaan, baik itu berupa hasil perhitungan maupun saran, mengharuskan Panji untuk harus mampu menjaga konsistensi hasil pekerjaannya serta mampu meyakinkan perusahaan bahwa hasil tersebut sudah tepat dan adalah demi kebaikan perusahaan. Kedua, penyesuaian teori dengan aplikasi industri reasuransi.

Perbedaan teori dan metode yang ada untuk bisnis asuransi dan reasuransi sering kali tidak dapat langsung diaplikasikan. Maka dari itu, tak jarang Panji harus menyesuaikan dahulu teori dengan bisnis sebenarnya. Panji merasa beruntung mendapat kesempatan untuk menjalani pendidikannya di UPH, terutama dengan mata kuliah Matematika Keuangan, Matematika Aktuaria, dan Teori Risiko yang disesuaikan dengan mata ujian PAI sehingga ia dapat mempelajari dan menyelesaikan 10 mata ujian PAI dengan lebih cepat.

Ilmu yang didapatkannya dari UPH, ditambah dengan profesionalitas yang diterapkannya dalam pekerjaan, ia percaya bahwa semua fasilitas yang didapatkannya ini membantu mendorong kariernya dalam bidang aktuaria. “Selama saya kuliah di UPH, kebetulan saya diberikan kesempatan untuk mengikuti beberapa kompetisi matematika di luar kampus, baik tingkat propinsi maupun tingkat nasional. Hal ini memberikan pengalaman yang berharga untuk saya dan teman-teman yang mengikuti kompetisi itu.

Selain itu, saya juga merasakan keakraban dan kebersamaan lintas angkatan yang tinggi dengan teman-teman satu jurusan, bahkan satu fakultas,” tutup Panji dengan senyuman. Bagi Agata Verencia, Setiap Kesempatan Menyanyi adalah Anugerah Suara merdu wanita kelahiran Jember satu ini pasti sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Selain berduet dengan Mike Mohede dalam lagu “Terlalu Besar” ditahun 2010, ia juga menyanyikan single berjudul “Anugerah Terindah” dalam album rohaninya “Ku Berserah” ditahun 2016.

Ialah Agata Verencia, alumni Ilmu Komunikasi UPH angkatan 2015, yang memulai perjalanan karier menyanyinya pada usia dini melalui sebuah kompetisi menyanyi. Lalu ketika umurnya menginjak usia 7 tahun, ia mendapat kesempatan untuk mempelajari teknik-teknik vokal yang baik. Sisanya, adalah sejarah. “Usia saya 12 tahun ketika saya pertama kali datang ke Impact Music Indonesia.

Saat itu saya diminta untuk menyanyikan sebuah lagu diiringi langsung oleh Produser di tempat tersebut. Kebetulan pada saat itu Impact Music sedang mengerjakan sebuah album dari Jason Irwan ‘Tuhan Selalu Punya Cara’. Beliau merasa cocok dengan karakter vokal saya dan langsung memberikan sebuah lagu untuk dipelajari dan direkam untuk masuk ke album tersebut.

Puji Tuhan, respon dari satu lagu itu cukup baik sehingga Impact Music memberikan saya kesempatan-kesempatan berikutnya,” kisah Veren dengan antusias. Seperti judul singlenya, ‘Anugerah Terindah,’ Veren mengakui bahwa banyak hal dalam hidupnya merupakan anugerah. Setiap kesempatan menyanyi yang dipercayakan kepadanya merupakan anugerah untuk mengucap syukur atas talenta yang Tuhan berikan. Keluarga dan mentornya juga merupakan anugerah Tuhan berikan agar ia bisa terus berkembang dan menjadi berkat bagi sekitarnya.

Pun, Veren percaya bahwa memilih program studi Ilmu Komunikasi di UPH merupakan sebuah anugerah yang tidak luput dari rencana Tuhan untuk hidupnya. Ilmu Komunikasi dirasa telah mengajarkannya banyak dan sangat relevan dengan kariernya. Ilmu Public Speaking, perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan satu kelas yang diambil pada tahun pertama kuliah, dirasa menjadi sangat berguna ketika ia diminta untuk bernyanyi dan berbagi Firman Tuhan.

Kemampuan untuk beradaptasi dengan jumlah dan target audience, situasi dan culture tempat, serta membangun karakter dalam berpakaian dan keunikan dalam gaya penyampaian juga dipelajarinya melalui kelas tersebut. Selain itu, cara membangun image dengan Media Sosial pribadi juga dipelajarinya selama menjalani kuliah. Dan yang paling berkesan baginya, adalah rasa kekeluargaan yang didapatkannya di UPH – baik dari dosen maupun organisasi yang dijalaninya.

“Saya merasa kuliah di UPH saya bisa dapat komunitas yang baik, jaringan yang luas. Dosen-dosen yang saya temui juga semuanya membangun.

Kekeluargaannya kental sekali. Kegiatan kemahasiswaannya juga banyak dan sangat membekali kita dengan soft skill yang dalam dunia karir sangat dibutuhkan,” tutup Veren. Eveline Wirawan, Alumni Management UPH, Cetuskan Usaha Piyama yang Nyaman dan Stylish “ The first step is always the hardest. Saya memulai Kitakita di tahun 2018.

Pada saat itu media sosial dan toko daring belum seramai saat ini sehingga brand kami sulit untuk ditemukan dan dikenal banyak orang,” kisah Eveline Wirawan, founder Kitakita, ketika ditanya mengenai kesulitan yang dihadapinya dalam merintis usahanya tersebut. Sebagai sebuah brand yang produk utamanya adalah piyama, Eveline – sapaan akrab wanita manis alumni Management UPH angkatan 2012 ini – mengakui bahwa peran sosial media serta minat masyarakat terhadap tren fashion sangat membantunya dalam mengembangkan piyama yang tidak hanya nyaman dipakai, namun juga memiliki desain up to date agar bisa dipakai keluar rumah.

Dengan menerapkan nilai produksi quality over quantity, Eveline berharap dapat terus berkontribusi membantu pekerja lokal dalam menciptakan karya-karya yang kreatif dan dapat diturunkan ke generasi selanjutnya. Menurut Eveline, UPH merupakan tempat yang membantunya bertumbuh secara emosional dan berkembang secara karakter menjadi pribadi yang lebih baik. Ia juga percaya bahwa pendidikan merupakan modal penting yang dimilikinya untuk menjalani usahanya. Melalui pendidikan yang dijalaninya di UPH, ia mendapatkan pandangan, gambaran, dan motivasi dunia berbisnis bahkan sebelum terjun ke dunia bisnis sesungguhnya.

“Selama menempuh pendidikan di UPH, saya sangat terkesan dengan pembelajaran yang dibawakan oleh para dosen. Materi yang disampaikan bersifat informatif dan sangat berguna untuk diterapkan dalam berbisnis maupun kehidupan sehari-hari,” tutup Eveline.

Menjalani pendidikan di UPH telah membentuk saya menjadi pribadi yang lebih tangguh dan gigih. Selain ilmu dari teori yang saya dapat dalam kelas, saya diperlengkapi dengan skill membangun relasi dan komunikasi dengan masyarakat, menjadi pribadi yang profesional, serta kemampuan untuk mengatasi masalah dengan baik melalui berbagai macam organisasi yang ada Kevin Addy Sjahputra, William’s Casual Dining Head Chef, Membawa Kreativitas dan Konsistensi Naik Level Industri FnB di Indonesia adalah salah satu bisnis yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Dengan banyaknya inovasi menu dan konsep restoran yang bermunculan, tidak heran jika seorang Kevin Addy Sjahputra, alumni Manajemen Perhotelan UPH angkatan 2011, juga menemukan denyut nadinya dalam dunia kuliner.

Sebagai Head Chef di William’s Casual Dining, restoran yang menyajikan hidangan rumahan Western-Asian di bilangan Jakarta Selatan, pria yang biasa disapa Kevin ini menikmati kehidupan dapur yang terus bergerak, serba cepat, dan penuh tantangan. “Menjadi seorang Head Chef menuntut saya untuk memiliki ide-ide terbaru sehingga pelanggan tidak merasa bosan terhadap makanan yang kami sajikan di William’s.

Dan terlebih penting, adalah tanggung jawab yang saya pegang untuk menjaga kepuasan pelanggan dengan standar kualitas restoran yang konsisten,” ungkap Kevin. Bagi Kevin, menjadi pribadi yang kreatif dan konsisten dalam menjaga kualitas adalah proses yang menyenangkan untuk ia jalani.

Apalagi mengingat juga bahwa tidak ada batas waktu yang mengharuskannya untuk berhenti berkarya sebagai seorang koki, Kevin yang berangkat dari masa kecil yang nakal membuatnya terus belajar dan termotivasi untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Dalam menjalani kariernya, Kevin mengakui bahwa menjalani pendidikan di UPH telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih tangguh dan gigih. Selain ilmu dari teori yang didapatkannya dalam kelas, Kevin merasa diperlengkapi dengan skill membangun relasi dan komunikasi dengan masyarakat, menjadi pribadi yang profesional, serta kemampuan untuk mengatasi masalah dengan baik melalui berbagai macam organisasi yang ada di UPH.

Pelajaran-pelajaran ini, ditambah dengan sikap jujur dan hasrat untuk menjadi pribadi yang lebih baik dalam keterampilan dan rohani, membuat langkahnya kian mantap untuk mengembangkan kariernya dalam dunia kuliner. “Untuk teman-teman yang juga ingin merintis usaha dibidang FnB, pesan saya, be creative and innovative!

Selama masih muda, jangan takut gagal. Dunia FnB akan selalu menuntut kita untuk menghasilkan produk-produk yang menarik dan tidak ada salahnya untuk mencoba dan mengeluarkan ide-ide yang ada,” tutup Kevin dengan senyuman.

Kesulitan Masa Kecil Rieke Caroline Menjadi Pemicu untuk Mencetuskan Kontrakhukum.com Kontrak Hukum adalah platform digital yang memberikan layanan legal untuk bisnis secara terpercaya, termudah, dan terjangkau; serta merupakan bukti nyata dari tekad seorang Rieke Caroline, alumni Ilmu Hukum UPH angkatan 2006, untuk memberikan akses kepada informasi dan layanan legal secara merata kepada seluruh masyarakat Indonesia.

Berangkat dari pengalaman masa kecil tentang kerugian bisnis yang dialami oleh sang ayah karena kurangnya pemahaman akan legal, Rieke bertekad mempelajari ilmu hukum dan berjanji untuk melindungi keluarganya dari kejadian serupa. Belasan tahun kemudian, Rieke mempunyai tujuan hidup yang lebih besar, yaitu untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya legalitas dalam membangun bisnis kepada masyarakat luas, sehingga kejadian pahit yang pernah menimpa keluarganya tidak terulang kepada orang lain.

Mengembangkan sebuah layanan legal berbasis digital pertama di Indonesia merupakan tantangan besar. Salah satu tantangan tersebut adalah mengubah persepsi masyarakat terkait proses legalitas yang selama ini rumit, mahal, dan memakan waktu.

Menurut Rieke, dengan bantuan inovasi teknologi yang dimanfaatkan oleh Kontrak Hukum, proses melengkapi legalitas bisnis dapat diselesaikan dalam waktu yang singkat. Meski demikian, Rieke berkomitmen untuk memberikan layanan yang tetap berkualitas dan terjangkau oleh masyarakat Indonesia.

Keberhasilan Rieke tidak terlepas dari pendidikan yang dia tempuh saat kuliah di UPH. Lulusan terbaik Fakultas Hukum pada wisuda 2010 ini mengakui bahwa standar tinggi pendidikan yang UPH berikan telah berpengaruh banyak akan kesuksesannya. “Standar tinggi yang saya dapatkan selama berpendidikan di UPH memicu saya untuk give back to the society dengan standar terbaik pula,” ucapnya.

Untuk teman-teman yang saat ini sedang menjalani pendidikan secara daring, Rieke berpesan untuk bersyukur bahwa selama pandemi ini kita tidak perlu menghabiskan waktu dalam perjalanan untuk mengejar pendidikan karena energi yang sama bisa kita alokasikan untuk berbagai hal yang lebih bermanfaat, seperti untuk pengembangan diri. Terlebih, pastikan kita selalu bertanggung jawab, disiplin dalam menyelesaikan tugas, tidak lupa bersenang-senang, dan menjaga kesehatan! Wehelpyou.id, Jasa Pengiriman barang Door to Door on Demand, Dicetuskan Oleh M.

Noor Sutrisno, Alumni Teknik Sipil UPH Aktivitas berbelanja online kini semakin mudah saja – dengan segala kemudahan yang tersedia dalam genggaman tangan kita, jasa pengiriman yang efisien dan berintegritas turut menjadi kunci kenyamanan berbelanja konsumen.

Efisiensi dan integritas inilah yang diberikan oleh Wehelpyou.id melalui Wehelpyou-Delivery, sebuah platform digital yang menyediakan pelayanan pengiriman barang door to door secara on-demand, untuk pengiriman barang dalam dan luar kota dan bahkan luar negeri. Diinisiasi oleh M. Noor Sutrisno, perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan Teknik Sipil UPH angkatan 2005, Wehelpyou.id mengorkestrasi consumer service platform yang ada di Indonesia.

Dan dalam kurun waktu beberapa tahun saja, Wehelpyou-Delivery telah mengorkestrasi 1.000.000 armada first mile dan lebih dari 14.000 drop point di seluruh Indonesia. Dalam mengembangkan Wehelpyou.id, Ino – sebagaimana ia biasa dipanggil, menemui beberapa tantangan menarik dalam perjalanannya.

Dengan latar belakang pendidikan yang cukup berbeda dengan bidang yang digelutinya kini, tantangan pertama yang harus dihadapi Ino adalah untuk menemukan sumber daya manusia IT yang berkualitas dan memiliki pengalaman di dalam membangun mobile apps.

Setelah tantangan tersebut berlalu dan aplikasi Wehelpyou sudah siap dipasarkan, tantangan berikutnya adalah strategi yang tepat untuk memperkenalkan aplikasi tersebut kepada masyarakat. Tantangan ketiga dan tidak kalah penting, adalah tahap penggalangan dana.

Diakuinya bahwa dalam proses penggalangan dana ini dibutuhkan koordinasi yang baik dan kesatuan hati dari berbagai divisi yang ada dalam perusahaan.

Selain dari memegang integritas, keinginan untuk terus berkembang, berinovasi, dan memiliki prinsip untuk selalu bersinergi dalam berkarier, Ino mengakui bahwa pendidikan memainkan peran penting dalam kesuksesannya.

“Pendidikan itu mengajarkan kita untuk memiliki pola kerja yang nantinya dibutuhkan di dunia kerja. Metode kita di dalam menyelesaikan setiap permasalahan itu yang setiap orang perlu pelajari. Kehidupan selama 4 tahun di UPH dan lingkungan sekitar Lippo Karawaci jelas memberikan pengalaman dan pola hidup positif yang terus saya gunakan sampai hari ini,” ucapnya.

Salah satu kesan Ino dalam menjalani pendidikannya di UPH adalah usahanya bersama teman-teman dari jurusan Teknik Sipil untuk membentuk tim sepak bola agar dapat bertanding dalam acara-acara olahraga kampus. “Ketika saya masuk di Teknik Sipil tahun 2005, jurusan tersebut bahkan tidak memiliki tim sepak bola untuk mengikuti Porseni.

Namun dengan sebuah visi sederhana, pelan-pelan kami membangun tim sepak bola sehingga sejak tahun 2007, Teknik Sipil menjadi sebuah tim sepak bola yang diperhitungkan. Ini mengajarkan saya untuk jangan pernah takut untuk membuat sesuatu dari nol,” tutup Ino.

Dea Tunggaesti, Lulusan Hukum UPH Aktif Berpartisipasi untuk Penegakan Hukum Lebih Baik Bagi seorang Dea Tunggaesti, alumni Ilmu Hukum UPH angkatan 2000, memenuhi panggilan untuk berkecimpung dalam bidang hukum merupakan sebuah kehormatan.

Kesibukannya dalam menjadi seorang Sekjen di PSI, Partner untuk Tungga Ramli, Counselor untuk Assegaf & Kawilarang Law Firm, Arbiter untuk BAORI, serta dosen disalah satu universitas swasta di Jakarta menjadi caranya untuk berkontribusi terhadap penegakan hukum di Indonesia.

Dengan segudang kesibukannya tersebut, Dea mengaku bahwa ia ingin memanfaatkan waktu yang ia miliki dengan sebaik-baiknya dan mengerjakan tanggung jawab setiap pekerjaan dengan maksimal. Menurut Dea, kariernya dalam menjadi seorang pengacara wanita di Indonesia tidak menjadi masalah.

Dimuka hukum, baik pengacara wanita maupun pria memiliki ruang gerak yang sama untuk membela kebenaran, walaupun menurutnya bagi sebagian besar wanita, harus beradu pendapat membela klien bukanlah sebuah kegiatan yang menyenangkan.

Tantangan terbesar baginya justru berakar pada sumber daya manusia Indonesia, dimana sebagian besar masyarakat dirasa masih memiliki kesadaran yang rendah terhadap hukum, ditambah lagi dengan aparat yang belum bekerja dengan “bersih”. Dengan demikian, Dea aktif berpartisipasi dalam berbagai gerakan untuk penegakan hukum yang lebih baik. “Saya mencoba menjalani peran yang saya lakukan dengan ikhlas. Saya yakin bahwa ini adalah jalan yang Tuhan berikan untuk saya, jadi tugas saya adalah untuk menjalaninya dengan sungguh-sungguh tanpa ada ambisi apapun dibaliknya,” ungkap Dea.

Dalam menjalani kariernya, Dea mengakui bahwa pendidikannya di UPH memegang peranan penting. Saat menjalani pendidikannya tersebut, Dea mengakui bahwa ia terkesan dengan pendidik yang tegas dan padat ilmu.

Melalui kelas tersebut, ia belajar untuk menyimak bahan bacaan yang diminta untuk dibaca sebelum kelas, siap jika sewaktu-waktu diminta untuk menjawab pertanyaan, sekaligus menjadi semakin kompak untuk brainstorming dengan teman-teman terkait dengan artikel yang diberikan. “Kuliah di UPH sangat mempengaruhi saya dalam berprofesi di bidang hukum.

Selain didukung dengan dosen-dosen yang handal dan sangat ahli dibidangnya, UPH memberikan saya kesempatan untuk memperluas jaringan pertemanan perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan sampai saat ini menjadi jaringan bisnis saya,” tutup Dea.

Puteri Indonesia Intelegensia 2020, Alumni Hubungan Internasional Indonesia, Bergerak Dibidang Kesejahteraan Sosial Tahun 2020 merupakan tahun yang bersejarah bagi wanita manis kelahiran Manado satu ini. Baru sebentar ia lulus pendidikan sarjana, ia dinobatkan menjadi Puteri Indonesia Intelegensia sekaligus Puteri Indonesia Favorit Sosial Media dalam ajang Puteri Indonesia 2020, kontes kecantikan skala nasional.

Adalah Desiree Magdalena Roring, alumni Hubungan Internasional Universitas Pelita Harapan angkatan 2015, yang kini mengemban tugas menjadi pembicara dalam berbagai acara terkait pendidikan, mencetuskan LEBIH DARI MIMPI, sekaligus melanjutkan pendidikan double degree dalam bidang bisnis dan kesejahteraan sosial.

Wanita yang dalam kesehariannya kerap disapa Esi mengakui bahwa keputusannya untuk mengikuti ajang Puteri Indonesia merupakan keputusan yang tepat dan juga berperan besar dalam kehidupannya. Melalui ajang tersebut, Esi membuktikan bahwa ia dapat menantang dirinya untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi, mendapatkan koneksi secara lebih luas dan strategis, serta membuka banyak kesempatan untuk berkarya lebih lagi untuk Indonesia.

Esi percaya bahwa latar belakang pendidikan dan kontes kecantikan yang diikutinya merupakan proses timbal balik yang saling melengkapi. Baginya, menjadi seorang duta bagi isu anak adalah bagian dari tanggung jawab yang ingin ia raih melalui LEBIH DARI MIMPI, sebuah organisasi non-profit yang memberikan pendidikan softskill untuk anak-anak berumur 6-12 tahundi area Tangerang. Passion yang dimiliki Esi dalam bidang child issues membuatnya rindu menjangkau lebih banyak anak-anak di Indonesia dan membekali mereka untuk bisa menjadi seperti yang mereka cita-citakan, terutama dalam mengembangkan kepercayaan diri masing-masing anak sehingga nantinya mereka memiliki bekal yang sama dalam proses mencapai cita-cita.

Selama menempuh pendidikannya di UPH, Esi mengakui bahwa ia senang dan sangat bersyukur telah mendapatkan kesempatan untuk turut aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan kampus.

“Nilai yang saya pelajari dari UPH adalah True Knowledge, Faith in Christ dan Godly Character. Menurut saya, dengan kesehatan rohani yang baik, karakter yang positif, ditambah dengan pengetahuan yang baik, maka saya bisa terus dan bahkan lebih lagi bermanfaat bagi banyak orang,” tutup Esi.

Komitmen untuk Menggunakan Waktu Sebaik-baiknya Adalah Kunci Bekerja Efektif Seorang Antakirana Fajar menyingsing, elang menyongsong, sebuah peribahasa yang sangat menggambarkan seorang Antakirana, alumni Magister Pendidikan Universitas Pelita Harapan angkatan 2010. Anta, sebagaimana ia biasa dipanggil, adalah seorang ayah, Founder dan CEO dari PT.

Komunika Cipta Performa, sekaligus penulis lima buku motivasi. Bagaimana ia mempunyai waktu dan semangat untuk melakukan semua kegiatan tersebut? “Kuncinya disini adalah komitmen mempergunakan waktu sebaik-baiknya dan tidak menunda-nunda. Saya mempraktekkan apa yang diajarkan oleh John C. Maxwell, yaitu Energy Management dimana saya perlu memutuskan kapan akan mengalokasikan waktu dan energi terbaik saya untuk bekerja. Begitupun dalam menulis buku – buku terakhir saya – Success Guides from A to Perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan, saya tulis selama 2 tahun.

Ini pun dengan disiplin memaksakan diri untuk menulis beberapa halaman tiap harinya,” sahutnya dengan antusias. Anta mengakui bahwa dalam kesehariannya, ia terbiasa membagi waktu untuk bekerja, keluarga, pengembangan diri, dan juga pelayanan. Menurutnya, justru tantangan terbesar yang ia hadapi adalah menemukan cara untuk terus dapat mengembangkan diri. Sebagai soerang coach dan trainer, tentu diperlukan pengetahuan dan keterampilan yang terbarukan dan relevan bagi klien-kliennya.

Maka dari itu, ia selalu berusaha untuk mengikuti program tersertifikasi, membaca buku, serta melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. “Saat itu saya terinspirasi dengan salah satu mentor saya yang juga lulusan dari Master Pendidikan di UPH.

Saya juga ingat pada waktu itu UPH memang memiliki akreditasi dan kualitas pembelajaran yang sangat baik saat saya mencari program S2 untuk Master Pendidikan. Dan yang paling berkesan saat berkuliah di UPH adalah networking-nya Bertemu dengan teman-teman dan orang-orang hebat, pasti selalu menyenangkan bagi saya.

Mereka banyak sekali memberikan saya masukan, inspirasi dan pengetahuan,” ucap Anta. Anta berpesan bagi mahasiswa/i dan semua anak muda Indonesia agar menerapkan prinsip ABC dalam kehidupannya. A untuk Accepting, yakni menerima diri sendiri dan perubahan yang terjadi; B untuk Believing, yakni mempercayai potensi dan kekuatan diri untuk berespon benar terhadap kehidupan; dan C untuk Connecting, yakni membangun hubungan, terkoneksi dan berkolaborasi dengan orang lain untuk pencapaian yang lebih besar.

Dengan menerapkan prinsip ABC ini, Anta percaya bahwa setiap individu akan dapat menjadi bagian yang dari sebuah visi dalam mewujudkan sesuatu yang lebih bermakna. Meresponi Panggilan Sampai Menjadi Tujuan, Samuel C. Tjahyadi Membangun Karier Sebagai Seorang Financial Advisor Menjadi seorang Financial Advisor di usia muda bukanlah sebuah hal yang mudah. Apalagi untuk menjabat sebagai Chief Marketing Officer di sebuah financial firm, tentu dibutuhkan lebih dari sekedar skill untuk dapat mencapai prestasi tersebut.

Adalah Samuel Christian Tjahyadi, alumni Sistem Informasi, Fakultas Ilmu Komputer UPH angkatan 2012 yang kini berkarier di SOC Financial sejak 2017. Dengan passion yang dimilikinya untuk dunia keuangan sejak duduk dibangku Sekolah Dasar, ia kemudian memutuskan untuk berkarier dibidang yang sama dan bahkan masuk dalam jajaran Global Premier Association of Financial Professionals: Million Dollar Round Table® dan Most Respected Advisor (MRA): Top 1000 Financial Advisor di Asia.

Sebagai seorang penasihat keuangan, Samuel percaya bahwa akumulasi kekayaan terletak pada pendapatan yang besar dan peran serta perencana dan penasihat keuangan yang kredibel. Baik untuk keuangan jangka panjang maupun jangka pendek, ketika disertai dengan perencanaan keuangan yang tepat, maka kekayaan yang dibangun dapat bertahan dan dimultiplikasi lebih lagi. Dengan pola pikir demikian, Samuel terbiasa menjadikan setiap hari sebagai tantangan terbesar sehingga ia selalu siap menerapkan perubahan demi perubahan yang terjadi.

Keberhasilan yang telah dicapai seorang Samuel tentu tidak lepas dari pembentukan yang dilalui sepanjang masa pendidikannya di UPH. Pola pikir kritis, analitis, dan matematis yang diterapkan selama menjalani pendidikan ilmu komputer telah membantu membentuk siapa dirinya kini dalam lingkup kerja. Ia percaya bahwa misi UPH yakni Faith in Christ, True Knowledge dan Godly Character menjadi fondasi dan akselerator dalam kehidupan kariernya.

“UPH selalu memukau saya secara pribadi, mulai dari sejak masa orientasi, hingga kelulusan. Rasa kagum tersebut memicu saya untuk ikut melayani melalui organisasi di UPH dan memperkuat koneksi dan support system dengan teman-teman alumni. Tak lupa hal utama, berkuliah dengan keharusan dan kehausan, dosen-dosen di UPH sangat suportif dan relevan dengan situasi kondisi dunia saat ini,” tutupnya.

Saya percaya, melalui kegagalan, kita paling banyak mendapatkan pelajaran. Jangan pernah takut untuk mengeluarkan ide dan jangan takut untuk gagal. Oleh karena itu, ketekunan untuk terus berusaha demi menghasilkan yang terbaik dan kerendahan hati adalah nilai yang menurut saya penting dimiliki saat ide atau strategi kita gagal.

Pradhana Harsaputera, Managing Director Magnus Digital Memegang Teguh Ketekunan dan Kerendahan Hati Dalam Bekerja “Saya percaya, melalui kegagalan, kita paling banyak mendapatkan pelajaran. Jangan pernah takut untuk mengeluarkan ide dan jangan takut untuk gagal. Oleh karena itu, ketekunan untuk terus berusaha demi menghasilkan yang terbaik dan kerendahan hati adalah nilai yang menurut saya penting dimiliki saat ide atau strategi kita gagal.

Perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan tidak boleh menyerah dan harus saling menolong sesama yang membutuhkan bantuan kita,” ucap Pradhana ketika ditanya mengenai nilai yang dipegangnya selama menjalani kuliah dan karier. Sebagai Managing Director dari Magnus Digital Agency & Consultancy, ketekunan dan kerendahan hati merupakan nilai yang diterapkan Pradhana Harsaputera, alumni Ilmu Komunikasi UPH angkatan 2005.

Dengan tanggung jawab yang diembannya, ia harus menguasai infomasi mengenai pengoptimalan pemasaran digital dan aktivasi brand, menjadi pendengar yang baik untuk dapat memahami berbagai permintaan klien, serta adaptif terhadap strategi dan teknis baru di dunia digital. Sudah tidak mengagetkan jika perkembangan digital esok hari sudah berbeda dengan hari ini – semua pelaku usaha harus adaptif dan beralih menjual barangnya secara daring, apalagi dengan situasi yang tidak menentu, seperti pandemi.

Menurut Pradhana, pendidikan juga menjadi fondasi penting di era yang berkembang pesat ini. Pendidikan menjadi modal utama seseorang untuk dipraktekkan di dunia professional, terutama untuk menerapkan nilai-nilai, teori, dan etika dalam menjalankan bisnis. Berlandaskan kesadaran tersebut, Pradhana yang kala itu menjalani pendidikan sarjananya di UPH turut mengakui bahwa momen paling berkesan adalah berkompetisi dengan rekan-rekan seangkatan untuk mencapai nilai terbaik.

Sebagai individu, ia merasa tertantang untuk memahami konten yang diajarkan sekaligus untuk menghasilkan kreasi membanggakan untuk UPH. Pradhana berpesan untuk semua pelajar yang sedang menghadapi pendidikan daring untuk menetapkan tujuan di awal semester dan melihat secara berkala apakah sudah sesuai dengan tujuan, membiasakan diri untuk membuat time-management schedule dengan baik (termasuk didalamnya daily, weekly, dan time-blocking schedule) agar dapat menetapkan prioritas pengerjaan, membuat ruang belajar senyaman mungkin untuk memperlancar kegiatan belajar online, aktif berpartisipasi dalam kelas online – termasuk bertanya dan berkomunitas, dan tidak lupa untuk berani gagal atau berani berbagi ide karena dari situlah kita akan mendapatkan ilmu terbaik.

Sagensie Corp., Advertising Agency Co-Founded by Karmela Christy “Go the extra mile, consistency, trustworthy and excellent services” adalah prinsip teguh yang dipegang oleh Karmela Christy, seorang co-founder Sagensie Corporation. Prinsip ini telah membawanya melahirkan karya terbaik yang diberikan kepada satu dan banyaknya client yang mempercayakan nama mereka pada Sagensie Corporation.

Salah satunya adalah Astra International. Lomba 17 Agustus yang mengusung konsep virtual untuk tetap merayakan semangat kemerdekaan, diikuti oleh selebritas ternama seperti Jerome Polin, Raffi Ahmad dan Enzy Storia menjadi terobosan terbaik Sagensie Corporation ditengah peliknya tahun 2020. Sagensie Corporation yang mengusung excellent services, memberikan pelayanan terbaiknya dalam bentuk full-service marketing, digital dan entertainment yang mencakup branding, visual strategist, social media dan ads management, digital commercials, short movies, web series, dan lainnya.

Berangkat dari ketertarikan sebuah mata kuliah Integrated Marketing Communication, Karmela Christy yang lulus mengantungi Sarjana Ekonomi, Fakultas Manajemen, Universitas Pelita Harapan angkatan 2005, memiliki mimpi yang kuat untuk bisa mendirikan sebuah Advertising & Digital Agency yang tak hanya melahirkan sebuah ide kreatif namun inovatif dan kompetitif.

Mimpi, tujuan dan doa yang kuat tersebut membuat Sagensie Corporation ada ditangannya kini. Menggabungkan kata Sage dan Agency, Sage yang memiliki arti bijak dalam refleksi dan pengalaman, Karmela berharap perusahaan dan tim-nya bersinergi untuk bisa menghasilkan karya dan inovasi terbaik serta mencetak generasi muda yang bijak, memiliki semangat untuk hasil yang excellent dan takut akan Tuhan. Bagi Karmela, ilmu yang paling berharga selama berkuliah di UPH adalah berorganisasi dan bekerja part-time.

Kedua hal ini mendorongnya secara maksimal untuk menjadi mahasiswi yang tak hanya aktif namun innovative. Baginya, hal itu adalah kesempatan berharga untuk bisa mengasah softskill dan hardskill yang saat ini menjadi landasan terkuat kesuksesannya dalam berkarir dan berbisnis.

Arsitek Merangkap Desainer, Ayudya Paramita Cetuskan Hlaii, Brand Pakaian Zero-Waste Pattern Segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang kebetulan, demikian kata pepatah bijak. Berangkat dari cita-cita masa kecilnya untuk menjadi seorang arsitek dan juga perancang busana, Ayudya Paramitha atau yang biasa disapa Mitha, alumni Arsitektur UPH angkatan 2006 telah mencapai kedua cita-citanya tersebut, yakni meniti karier di Andramatin, salah satu biro arsitek terbaik di Indonesia serta melahirkan Hlaii, sebuah lini usaha fashion yang mengedepankan teknik zero waste pattern.

Dengan segala keterbatasan sumber daya manusia, modal, dan pengetahuan Mitha pada bidang fashion, Mitha percaya bahwa tantangan tersebut menjadi nilai lebih bagi Hlaii.

Keterbatasan tersebut melahirkan ide sistem made by order, sehingga Hlaii tidak hanya menciptakan pakaian yang eksklusif bagi klien-kliennya, namun yang terpenting, berkontribusi dalam mengurangi limbah tekstil yang diproduksi industri fashion.

Berdiri sejak tahun 2016, Hlaii – yang dibaca “Helai”, memiliki makna “sehelai kain yang diolah sedemikian rupa namun dapat dikembalikan kepada bentuk awalnya” – yang berawal dari usaha Mitha untuk membuat pakaian untuk dikenakan pada sebuah acara kantor.

Bermodalkan intuisi, teknik folding dan draping, serta bantuan tukang jahit langanannya, Mitha mengolah 1 helai kain tersebut menjadi sebuah karya yang layak dikenakan.

Terlebih mengesankan, teman-teman kantor Mitha menyukai desain yang dibuatnya dan menawarkan untuk membeli pakaian buatan Mitha. Sejak saat itu, Mitha memberanikan diri untuk menjual baju buatannya ke pasar yang lebih luas dengan bantuan media sosial. Kepercayaan yang diberikan oleh klien-klien Hlaii terus mendorong Mitha untuk mengembangkan kemampuannya mengolah kain untuk beragam kebutuhan, terutama untuk gaun pernikahan dan lainnya. Dengan kepekaan terhadap lingkungan, rasa bertanggung jawab dalam mengelola bumi, serta usaha untuk terus menghasilkan pola-pola yang orisinil dan kreatif, Mitha terus maju dan menciptakan karya terbaiknya.

Keberhasilan Mitha kini tentu tidak terlepas dari pendidikan yang didapatkannya di UPH. Mata kuliah Studio Artsitektur terutama dalam kreativitas yang ditekankan bidang arsitektur mempertajam kepekaan Mitha terhadap proporsi dan komposisi, bahkan saat mendesain. Riset tugas akhir Mitha yang mengangkat topik revitalisasi pemukiman pemulung turut berkontribusi dalam mengembangkan kepekaannya terhadap pengelolaan limbah, sehingga dalam menciptakan karya-karya Hlaii, Mitha berusaha sebisa mungkin untuk mengurangi limbah yang dihasilkan.

Ia percaya, bahwa jika kita selalu memberikan yang terbaik, memiliki etika yang baik, dan bekerja dengan sepenuh hati, maka kita akan menggiring kita ke masa depan yang lebih baik. “Saya bersyukur bisa diberi berkat dan kesempatan kuliah arsitektur di UPH.

Segala bekal yang saya dapat selama berkuliah di UPH banyak menolong saya dari awal karier hingga saat ini, terutama untuk menjadi pribadi yang tangguh, mandiri, dan aktif. Dosen-dosen banyak menghadirkan dosen tamu yang merupakan praktisi dari dalam maupun luar negeri untuk berbagi ilmu, insight, serta memperluas koneksi yang baik di kemudian hari,” tutup Mitha.

Bekerja Dengan Kreativitas dan Fleksibilitas, Michael Handojo, Alumni Desain Interior UPH Dirikan Fuze Collective Sebagaimana medium komunikasi terus berkembang, demikian juga design dan style terus berubah untuk menyesuaikan gaya hidup generasi yang sedang berkembang di era digital ini.

Adalah Fuze Collective yang berkantor pusat di Bali, sebuah studio desain yang dicanangkan oleh Michael Handojo, alumni Desain Interior UPH angkatan 2013 bersama Francisca Simon, salah satu rekan kerja ditempat kerja sebelumnya, sejak awal 2020 ini. Dengan mengedepankan fleksibilitas waktu dan tempat bahkan jauh sebelum pandemi berlangsung, Fuze berusaha mengintegrasikan komposisi sesuai dengan konteks untuk berekspresi.

Dengan visi “an integrated design studio”, Fuze sudah dipercaya oleh beberapa klien besar, terutama oleh investor asing yang tertarik untuk membangun sebuah tempat persinggahan di Bali. Villa Massilia yang mendapat perhatian besar, merupakan salah satunya. Mengedepankan konsep interior yang modern sekaligus bersahaja, Villa Massilia menjadi salah satu hotel pamersatu di Bali yang memiliki desain kontemporer sekaligus natural.

Berbekal latar belakang dan minat yang besar pada setiap proyek, Fuze hadir untuk memberikan hasil terbaik dan keleluasaan lebih pada klien dalam merealisasikan desain interior pada bangunan yang diimpikan. Nilai-nilai seperti kreativitas, berpikiran terbuka, komunikasi, dan fleksibilitas dalam konteks professional yang dipegang oleh Michael tidak terlepas dari pendidikan yang dijalaninya di UPH.

Michael mengakui bahwa pendidikannya di UPH mempersiapkannya secara mental untuk dunia profesional, terutama untuk berimajinasi seluas-luasnya, menentukan sendiri kapan dan sampai dimana akan bekerja, serta untuk mengedepankan profesionalisme dalam bekerja.

Terlebih dari itu, kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Desain Interior membentuknya menjadi pribadi yang berpikir secara terintegrasi dan terstruktur. “Tentu bagi kebanyakan mahasiswa design, lembur dan kerja keras kami selama kuliah menjadi cerita dan pengalaman yang sangat berharga.

Salah satu pengalaman paling berharga selama saya kuliah adalah menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Desain Interior, disitu saya belajar untuk berkomunikasi dan membawa diri saya lebih jauh, dan tidak hanya berpatokan pada ilmu design, tetapi berpikir secara ter-integrasi dan terstruktur. Lenny Pariyanto, Lulusan Aristektur UPH Menyalurkan Kecintaannya Terhadap Bangunan dan Utilitasnya Melalui LITO LIGHTING Mengedepankan disain pencahayaan yang premium (premium lighting design) dengan perpaduan sempurna antara keindahan dan teknologi pada arsitektur, interior serta landscape dengan budget ekonomis merupakan jasa yang ditawarkan oleh Lito Lighting, perusahaan yang bergerak di bidang pencahayaan yang dipimpin oleh Lenny Pariyanto, Alumni Arsitektur UPHangkatan 1995.

Dengan visi untuk menyediakan jasa special lighting yang bermutu dengan harga yang kompetitif, Lenny dan tim telah dipercaya untuk menangani pencahayaan berbagai gedung ternama, termasuk beberapa hotel di Surabaya dan Bandung, gedung-gedung komersil di Jakarta, serta toko di pusat perbelanjaan.

Didirikan pada Maret 2004, Lenny terus berusaha menjaga kepuasan klien yang beragam dan terus beradaptasi dalam mengembangkan kualitas pekerjaan Lito sebagai sebuah perusahaan. Sejak kecil Lenny yang memang menyukai kegiatan menggambar, mengoleksi aneka senter, dan mengagumi betapa cahaya sangat berperan dalam tampilan suatu bangunan, mendapat kepercayaan diri untuk terjun pada ranah disain special lighting, berkat dukungan dari sang Ayah yang mengajarkan dan menginspirasi Lenny untuk selalu belajar tanpa henti, mengerjakan hal-hal yang ia sukai, dan selalu memberikan yang terbaik dalam hal apapun yang ia kerjakan, tanpa meninggalkan moral dan perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan dalam kehidupan.

Keberhasilan Lenny dalam mengembangkan Lito tidak terlepas dari pendidikan yang didapatkannya di UPH. Ilmu yang dipelajari mengenai bangunan dan utilitasnya sangat menunjang pekerjaannya kini. Dimulai dari memahami pola pikir dan konsep arsitektur, alur sirkulasi hingga penyelesaian ruang demi ruang secara detail memberikan Perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan nilai lebih yang ia butuhkan untuk mengerjakan desain pencahayaan secara maksimal.

Lenny percaya bahwa semua usaha yang dilakukannya akan membuahkan hasil yang manis jika berangkat dari hati yang tulus, ikhlas dan bersih, berintegritas, dan menjaga keharmonisan hubungan kekeluargaan dengan seluruh tim dan rekan kerja.

“Momen yang tak terlupakan sepanjang menjalani kuliah arsitektur di UPH adalah serunya sewaktu dateline yang sudah dekat untuk mengumpulkan tugas, entah kenapa selalu terjadi momen saat-saat begadang untuk mengejar setoran gambar, menyelesaikan maket, dan menyiapkan presentasi buat esok paginya, apalagi jika dikerjakan bersama teman – teman, rasa kebersamaan, tolong menolong, dan perasaan senasib sepenanggungan sebagai anak arsitek,” tutup Lenny.

Harta Sungana, Business Director Generali Indonesia yang terus perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan prestasi Menjadi inspirasi untuk mencapai financial freedom, serta keleluasaan untuk pensiun muda dan pensiun kaya merupakan cita-cita banyak orang. Demikian juga dengan Harta Sungana, Business Director Generali Indonesia Young and Dynamic, perusahaan asuransi jiwa asal Italia.

Jauh melampaui cita-cita tersebut, Harta juga mengemban misi untuk menjadi pribadi yang bermanfaat untuk masyarakat luas. Keinginannya untuk membuka lapangan pekerjaan, membawa timnya pada kesuksesan, membantu klien, keluarga, dan teman agar terhindar dari resiko keuangan ini membawanya untuk berkarier di Generali, salah satu dari 10 besar asuransi dunia yang memiliki pengaman investasi yang unik.

Memiliki segudang prestasi yang diperoleh tidak membuat Harta cepat puas dengan pencapaiannya. Dengan dorongan tersebut, Harta menyelesaikan pendidikan magisternya lebih awal. Ya, Harta adalah alumni Magister ManajemenUPH angkatan 2001. Harta turut mengakui bahwa pendidikannya di UPH telah melengkapi ilmu yang sudah dimilikinya, khususnya dalam ilmu pemasaran. Harta berpesan untuk para agen insuransi masa kini agar menjadi pribadi yang bisa diandalkan oleh klien, memiliki jiwa yang terdorong untuk terus menorehkan prestasi, sekaligus untuk selalu rendah hati dan memiliki tabiat yang baik.

Ia percaya, jika seorang agen memiliki tiga kualitas ini, maka dalam kondisi terburuk sekalipun, mereka akan mampu berjuang dan bangkit lagi hingga mencapai performa maksimal mereka selagi muda. Sembapur, Startup Buatan Sandiaga Uno, Seorang Doktor of Research in Management Startup Sembapur, yang merupakan singkatan dari Sembako dan Bahan Dapur, adalah program nyata dari social enterpreneurship Dr.

H. Sandiaga Salahuddin Uno, B.B.A., M.B.A. Pengusaha yang kini sudah menyandang gelar Doktor of Research in Manajemen (DRM) dari UPH menyatakan bahwa usaha yang diluncurkannya bulan Agustus 2020 ini sudah berhasil menggandeng ratusan mitra, termasuk UMKM dan perusahaan distributor.

Sebagai kewirausahaan yang terlahir dari kepedulian Sandi terhadap masyarakat yang kurang mampu, Sembapur sekaligus diharapkan dapat mendorong kelahiran pengusaha makanan dan meningkatkan daya jual UMKM kepada pasar yang lebih luas melalui penggunaan teknologi informasi yang tepat dan mudah diakses. Hanya melalui satu klik ke www.sembapur.com, bahan pangan seperti beras, minyak, mi instan, dan telur dapat dijangkau dengan harga yang stabil dan berkeadilan.

Dimulai dengan program ‘Oke Oce’ yang kemudian dilanjutkan dengan ‘Rumah Siap Kerja’, Sembapur adalah program ketiga karya Sandi untuk memberikan solusi bagi masyarakat Indonesia. Dengan inovasi, proaktivitas, serta keberanian untuk mengambil resiko, Sandi menghadirkan solusi untuk menyediakan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau sekaligus menjamin ketersediaan pasokan. Bahkan, saat ini Sembapur menjadi satu-satunya lokapasar di Indonesia yang terfokus pada kebutuhan pangan masyarakat Indonesia.

Dalam waktu dekat, Sembapur diharapkan dapat segera melebarkan sayapnya ke daerah-daerah lain di pulau Jawa dan menjangkau lebih banyak masyarakat yang membutuhkan. Selama menjalani studi di DRM UPH, Sandi mempelajari nilai kewirausahaan yang turut diterapkan pada startup Sembapur, seperti motivasi untuk memecahkan masalah yang ada disekitarnya dan mengukir prestasi, memiliki rasa peduli, serta memiliki orientasi kewirausahaan.

Dengan nilai-nilai ini, Sandi bergerak maju untuk memberikan dampak lebih luas serta menyulut semangat kewirausahaan pada generasi muda Indonesia. Sandi berpesan, “Kesempatan sekolah di UPH adalah sebuah kesempatan emas. You are learning the best from the best, with the best of the best. Gunakan kesempatan ini sebagai saluran berkat bagi kita untuk memberikan manfaat. Ilmu pada akhirnya harus bisa bermanfaat bagi masyarakat. Be the best of the best”.

Arvan Kusniawan: Lulusan Teknik Informatika UPH Bangun Usaha Optimalisasi Keuntungan “Pendidikan yang saya dapatkan dari Teknik Informatika UPH mendukung saya dan tim untuk membangun bisnis ini, terutama melalui kelas alogaritma, database, matematika, statistika, dan bahkan saat saya menulis skripsi yang saya dapatkan dulu.

Saya rasa, lingkungan UPH dan pendidikan yang up to date merupakan keunggulan jurusan ini,” buka Arvan. Wajah dibalik kesuksesan IT Solusi Digital adalah Arvan Kusniawan, alumni Teknik Informatika UPH angkatan 2007. Selain menyediakan jasa pembuatan website toko online, perusahaan, atau aplikasi mobile yang lengkap dan up to date, perusahaan digital yang didirikan Arvan pada tahun 2011 ini, namun juga dapat diakses setiap pebisnis yang mengembangkan usaha mereka, baik itu usaha kecil, menengah, maupun profesional.

Dengan visi dan misi Solusi dan Digital, Arvan percaya bahwa memahami kesulitan dan perjalanan pelanggan adalah kunci untuk terus berkembang dalam mengembangkan bisnis yang dimulainya.

Sejak tahun 2018, Arvan kembali merintis bisnisnya yang bernama Popkon Teknologi Indonesia. Arvan dipercaya untuk mengoptimalkan pendapatan usaha melalui produk Popkon, PopCorn Technology, untuk beberapa nama besar industri FnB Indonesia termasuk Kopi Soe, DumDum Group, Pick Cup, Wake Cup, dan S2 Group (restoran Seroeni, Merah Jambu, Tiger & Crane).

Menurut Arvan, memahami kesulitan pelanggan adalah kunci yang penting untuk mengembangkan bisnisnya. Arvan memutuskan untuk membuat satu aplikasi eksklusif untuk satu pelanggan sehingga dengan demikian perusahaannya mampu menyediakan solusi yang lebih efektif untuk memudahkan pengguna.

Dibalik setiap aplikasi yang dibuatnya, Arvan menerapkan kerendahan hati untuk terus mau belajar serta tidak lupa juga memberikan yang terbaik. Keberhasilan Arvan dalam membangun dan mengelola bisnisnya sampai pada titik ini berawal dari pendidikan yang holistis dan up to date juga. Arvan mengakui bahwa pendidikannya di UPH telah memperlengkapinya dengan ilmu yang dibutuhkan.

Arvan mengakui bahwa beberapa alumnus UPH juga kini bekerjasama dengan Arvan di PopCorn Technology adalah pribadi yang memiliki keinginan untuk terus belajar, pekerja keras, dan gigih dalam pekerjaan mereka sehingga output yang diberikan selalu memuaskan. Arvan berharap akan terus lahir pemuda yang bersikap seperti ini dalam pekerjaan mereka. Satu Lagi Lulusan Ilmu Komunikasi Menjadi Jurnalis Kompeten Jika Anda pernah menonton program TV semi-dokumenter sejarah berjudul “SINGKAP” atau acara kuliner “FOOD STORY” di salah satu stasiun televisi swasta Indonesia, maka Anda baru saja melihat hasil karya yang dicetuskan oleh alumni Ilmu Komunikasi UPH angkatan 2010, Retna Pramestiningrum.

Sebagai Associate Producer di KompasTV, ketertarikan Retna terhadap dunia komunikasi sudah ada sejak lama di bangku Sekolah Menengah Atas. Ia mengakui bahwa kesempatan untuk menjadi sosok dibalik pesan yang disampaikan melalui media cetak, media elektronik, maupun melalui media sosial memiliki daya pikat tersendiri baginya.

Retna melihat bahwa UPH memiliki fasilitas lengkap untuk menunjang mahasiswa/i jurnalistiknya, dan terlebih juga kesempatan untuk belajar langsung dari dosen yang berpengalaman dan kompeten.

Melalui proses belajar mengajar tersebut, ia didorong untuk mampu membuka pikiran seluas-luasnya serta memahami teori dan praktek jurnalistik didalam kelas. Terlebih penting, Retna merasa bahwa UPH menawarkan sifat kekeluargaan antara dosen dan mahasiswa/i, sehingga ia merasa lebih percaya diri untuk berkarya dan menuangkan kreativitasnya. “Bekal utama yang saya dapatkan selama berkuliah di UPH adalah berpikir kritis dan melihat sebuah masalah dari berbagai sudut pandang.

Itulah yang saya pegang hingga menjadi jurnalis sekarang. Jika saya mendapat informasi dari berbagai sumber, wajib bagi para jurnalis untuk criticize it! Apalagi dengan maraknya informasi di sosial media, berbagai perspektif hadir untuk diteliti dan ditelaah terlebih dahulu sebelum disampaikan kepada publik,” jawab Retna antusias.

Persaingan kerja yang ketat di industri media menjadikan Retna sebagai pribadi yang kreatif, disiplin, dan bertanggung jawab. Menurutnya, pengalaman mengikuti berbagai organisasi selama kuliah telah membantu membentuk kepribadiannya tersebut. Melalui klub UPH Radio dan UPH TV yang diikutinya, Retna mengasah ilmu, termasuk mencari berita, menulis naskah, hingga menjadi presenter.

Dari kedua organisasi tersebut, Retna mengaku tidak canggung lagi ketika masuk ke dunia televisi karena bekal pengalaman tersebut hampir sama ketika memasuki dunia kerja. Ia yakin, bahwa melalui latar belakang ilmu akademis yang dimilikinya, ia akan dapat memberikan dampak lebih luas terhadap lingkungan, termasuk kesempatan untuk berbagi pengalamannya selama di dunia pertelevisian.

Industrial Engineering Graduate Succeeds In Industrial Consultancy Field Learning Industrial Engineering isn’t only speaking about engineering. In Universitas Pelita Harapan’s Industrial Engineering (TI UPH), students will also gain valuable life skills.

This notion is supported Fanny Murhayati, TI UPH Alumni cohort 1999, who now Kantar Indonesia hires as their Marketing Director. Kantar is fundamentally a multinational company working on research and consultation, headquartered at the United Kingdom. Fanny’s 15 years experience in Industrial consultancy has given her the eye for company’s strategic or business plan.

From local to multi-national, from Fast Moving Consumer Goods (FMCG) to finance – you mention it. She will be able to tell how that one particular business runs.

According to Fanny, the knowledge she’s gained from UPH’s Industrial Engineering are applicative across industries. Among them, lessons about how the overall workflow in the factory or is commonly known as “supply chain” is the most advantageous. “These lessons taught me the overall process, beginning with procurement to marketing the end product,” Fanny, who started her career at The Nielsen Company Indonesia, says. Fanny further gain various life skills including how to prioritize work, create project management, and skills to organize work.

Furthermore, she also learns how to motivate others, working in harmony, speaking, independence, prioritizing, and time management both individually and through group setting through non-akademic activities. What started at TI UPH now transforms into a skillset Fanny keeps up her sleeve, especially in market research and competitive analysis field.

Enhanced by quality academic education, the aforementioned life skills are applied in her day-to-day work. Lulusan Musik UPH Menjadi Satu-satunya Pemegang Sertifikasi MMT, MTA, MT-BC di Indonesia Satu-satunya orang yang memegang sertifikasi MMT, MTA, MT-BC di Indonesia adalah Kezia Karnila Putri, alumni sekaligus dosen Conservatory of Music Universitas Pelita Harapan (CoM UPH) angkatan 2012.

Sertifikasi ini didapatkannya setelah ia memenuhi praktek klinis lapangan sebanyak 1,000 jam untuk membantu lansia yang menderita Alzheimer dan juga dewasa dengan isu mental seperti PTSD, borderline, bipolar di Kanada.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di UPH pada tahun 2015, Kezia langsung melanjutkan pendidikannya ke Kanada dimana ia kemudian menjalankan praktek klinis lapangan dan mendapatkan Certification Board of Music Therapy (America) maupun Canadian Association of Music Therapy (Canada), sebuah sertifikasi yang sudah diakui dunia.

Kezia yang kini juga dipercaya untuk menjabat sebagai Ethics & Research Team di World Federation of Music Therapy mengakui bahwa pendidikannya di UPH telah membentuknya untuk menjadi pribadi yang kreatif, toleran, dan gigih dalam menghadapi tantangan sebagai terapis.

Melalui pendidikan musik pula ia melihat bagaimana musik mempengaruhi manusia begitu dalam, bagaimana Tuhan menciptakan manusia begitu unik dan multilayered, dan bahkan bermanfaat untuk mengenal dirinya sendiri. “Saran saya, be open to learning. Dirimu sendiri yang akhirnya mementukan apa yang kamu mau pelajari. Sebaik-baiknya dosen, kalau kamu tertutup dengan pengetahuan, kamu akan dapat hanya sedikit dan sebaliknya. Dan, buatlah apa yang kamu lakukan bermanfaat untuk dirimu dan orang lain – bukan hanya salah satu.

Dengan demikian, kepuasan yang kamu dapatkan akan seimbang,” tutup Kezia dalam Alumni Homecoming session UPH Festival, Agustus 2020 lalu. Alumni Psikologi UPH Memenuhi Panggilan Sebagai Ketua Program Studi Menjadi pribadi yang berdampak bagi sekitar merupakan keinginan semua orang, termasuk Jessica Ariela, alumni Psikologi UPH angkatan 2007. Kerinduannya untuk bisa berbagi kepada lebih banyak orang dalam satu waktu membuatnya membulatkan tekad dan mengambil komitmen untuk menjadi Ketua Program Studi Psikologi Universitas Pelita Harapan (UPH).

Jessica percaya bahwa sebagai sarana untuk melatih calon konselor maupun psikolog, pendidikan memberikannya ruang gerak lebih luas sehingga ia dapat memberikan dampak yang lebih luas juga. Melalui sesi alumni sharing pada acara UPH Festival 2020 lalu, Jessica juga mengakui bahwa selain memberikannya energi, mengajar menjadi tempat baginya untuk menjadi wadah untuk berbagi kebaikan khususnya dalam memajukan kesehatan mental dan psikologis di Indonesia lewat lulusan-lulusan dari Fakultas Psikologi UPH.

Pengalaman positif yang didapatnya selama menempuh pendidikan di UPH, terutama kepedulian dan ketulusan dosen-dosen yang selama ini telah mendidiknya menjadi faktor penentu dalam menentukan tempat untuknya berkontribusi bagi almamaternya. “Dosen di UPH tidak menyulitkan mahasiswa ketika membutuhkan bantuan – saya betul merasakan bahwa mereka mengajar dengan peduli dan tulus selama kita sebagai mahasiswa tahu batasannya.

Di UPH, kita punya relasi yang baik antara dosen dengan mahasiswa,” kenang Jessica. “Jangan lupa juga untuk terus tanya Tuhan bagaimana ilmu psikologi bisa kalian manfaatkan sehingga kalian bisa pakai ilmu yang kalian punya untuk berdampak bagi orang lain,” tutupnya. Alumni Desain Interior yang Piawai Mendesain Program Community Development Bergabung dalam aktivitas Non-Governmental Organization (NGO), terlebih di bidang lingkungan dan budaya, menarik perhatian Dewie Anggaraini Putri, atau yang biasa disapa Dewie, alumni Desain Interior UPH 2013.

Dewie yang mendalami ilmu desain, kini terjun ke dalam profesi yang berhubungan dengan pelayanan untuk kemanusiaan dalam tim Bali Water Protection (BWP) yang merupakan proyek dari IDEP Foundation. Dalam menjalankan pekerjaannya, Dewie mengaku banyak pengetahuan dan skill yang didapat saat kuliah di School of Design UPH, dapat diimplementasikan ke dalam pekerjaannya di NGO.

Diantaranya, metode analisa dan pengumpulan data untuk mengatasi persoalan dalam suatu komunitas. “Kalau dulu saya belajar menganalisa ruang, sekarang skala-nya satu wilayah atau pulau. Kalau dulu mendesain ruang, sekarang mendesain program. Saya bersyukur metode design thinking yang di ajarkan di UPH sangat terpakai di pekerjaan saya sekarang ini,” ungkap Dewie.

Oleh karenanya, Ia sangat bersyukur berkesempatan bergabung di IDEP Foundation, sebuah organisasi yang berfokuskan pada community development melalui permakultur dimana ada pemahaman antropologi dan budaya di dalamnya, yang merupakan bidang yang sangat diminati Dewie.

Selain itu, melalui BWP ini ia dapat ikut memberikan kontribusi positif dalam tumbuh kembangnya komunitas lokal dan masyarakat luas. Bergabung dalam tim Bali Water protection di IDEP, tugas utama Dewie adalah untuk membangun hubungan dengan pemerintah, donor, partnerships, alliances, dan juga komunitas lokal.

Selain itu, Dewie kini piawai untuk mendesain dan mengembangkan program aktivitas yang mendukung program utama, yang berfokus pada konservasi air tanah, membuat proposal, hinga report proposal.

Bagi Dewie, sebagai lulusan Desain Interior School of Design UPH, pengetahuan dan skill yang didapat sangat membantu untuk terjun dalam berbagai bidang profesi.

Prinsipnya, jangan takut untuk belajar sesuatu yang baru, karena hal tersebut dapat membawa kita ke perspektif yang baru, menemukan berbagai macam peluang dan membawa kita ke pengalaman baru. Mahasiswa Fakultas Kedokteran UPH Dapat Banyak Kesempatan Hand-On Learning dan Soft Skill untuk Dukung Profesi Tuntutan profesi membuat mahasiswa kedokteran harus siap menjalani pendidikan untuk dapat menangani pasien dalam situasi apapun.

Selain banyak belajar teori, juga harus melakukan praktek menangani pasien di rumah sakit. Beruntung bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (FK UPH), memiliki sistem kuliah yang memberikan banyak kesempatan kepada mahasiswa mendapatkan pengalaman hands-on learning dan soft skill yang sangat mendukung profesi.

Manfaat kuliah di FK UPH ini diakui dr. Niken Ageng Rizki, Sp.THTKL, saat membagikan kisahnya sebagai mahasiswa FK UPH dan perjalan kariernya sebagai dokter spesialis THT bedah kepala dan leher kepada ratusan siswa SMA yang mengikuti webinar ‘Ceritaku’ yang diadakan UPH pada Sabtu, 20 Juni 2020. “Senangnya di FK UPH ada banyak kegiatan asistensi seperti misalnya bedah. Kami terjun ke pasiennya dan langsung hands-on. Beda dengan universitas-universitas lain yang tidak langsung dapat kesempatan tindakan,” cerita dr.

Niken, alumni FK UPH 2007. Selain mendapatkan pengetahuan yang mendalam di bidang kedokteran, mahasiswa FK UPH juga diperlengkapi dengan soft skill yang sangat berguna untuk menjalani profesinya sebagai dokter. Di antaranya, melalui mata kuliah non-akademis dan berbagai kegiatan dan kemahasiswaan baik di lingkungan universitas, tingkat nasional, hingga internasional.

“Waktu kuliah di FK UPH saya banyak diperlengkapi dengan mata kuliah non-akademis seperti kepemimpinan, critical thinking, dan kemampuan bahasa Inggris yang baik untuk menjadi batu loncatan menjalani pekerjaan saat ini. Saya juga aktif ikut di senat mahasiswa, dan ikut organisasi Asian Medical Student Association UPH (AMSA-UPH) di mana saya ditunjuk menjadi delegasi Indonesia buat konferensi luar negeri. Beruntung saya juga mendapat kesempatan mengikuti ajang Miss UPH Scholar tahun perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan ungkap dr.

Niken yang mengaku kegiatan-kegiatan ini membentuknya menjadi dokter yang punya hati. Terbukti, di masa pandemi ini dr. Niken terus aktif bertugas sebagai dokter spesialis di Siloam Hospitals dan RSU Cipto Mangun Kusumo, dan dikenal sebagai dokter yang ramah dan teliti dalam menangani pasien.

Baginya sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab profesi untuk menangani pasien dalam situasi apapun. Semua ini berawal saat menempuh pendidikan kedokteran di FK UPH. UPH Menolong Han Yoo Ra Menemukan Jati Diri Menemukan jati diri menjadi kunci penting dalam kehidupan seorang Han Yoo Ra, Youtuber dan Content Creator asal Korea Selatan, yang juga alumni Ilmu Komunikasi UPH 2010.

perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan

Bagi selebgram yang popular di kalangan anak muda Indonesia ini, studi di UPH tidak hanya memberinya kesempatan untuk mengikuti berbagai macam kegiatan organisasi yang sangat bermanfaat, namun juga membekali dia dengan ilmu serta integrasi iman Kristen yang aplikatif. Semua yang didapat di UPH inilah yang membantu Yoo Ra menemukan siapa dirinya. Yoo Ra, biasa Ia dipanggil, mengakui dirinya telah menemukan identitas dan tujuannya dalam Tuhan sehingga apapun yang orang lain katakan tentang dirinya tidak akan menggoyahkannya lagi.

Termasuk kecantikan yang melebihi apa yang terlihat, akan terpancar dari dalam dirinya. “Waktu aku kuliah dulu, aku berkesempatan mengikuti ajang Miss UPH Scholar (MUS) 2011.

Aku justru dari kuliah ngga merasa secantik atau sepintar teman-teman yang waktu itu ikut berkompetisi, tapi aku memanfaatkan ajang MUS ini untuk menantang diri sendiri,” ungkap Yoo Ra.

Pergumulan malah datang setelah penobatan dirinya menjadi Miss UPH Scholar 2011. Gaya hidup yang cukup berbeda di luar kegiatan yang dijalankan selama masa jabatannya di Miss UPH Scholar membuatnya bertanya-tanya mengenai apakah sebetulnya Ia layak menjadi sosok yang merepresentasikan UPH. Secara kasat mata, Yoo Ra mendapatkan semua yang seseorang bisa inginkan: ketenaran, gelar, dan kesempatan untuk membawa pengaruh bagi sekitar. Namun, Yoo Ra merasa bahwa pencapaiannya kini malah bukan sesuatu yang diinginkannya dalam hidup.

Ia terlalu sibuk menjadi sosok yang orang lain harapkan sehingga dirinya merasa kesepian dan kehilangan jati diri. Tampil cantik merupakan sesuatu yang sangat biasa bagi Yoo Ra. Banyak orang pun sering memberikan pujian terkait penampilannya. Walaupun demikian, Youtuber asal Korea Selatan yang tumbuh di Indonesia ini ternyata mengalami kesulitan dalam menerima pujian “cantik”.

Kisah perjalannya menemukan definisi beauty (cantik) kerap dibagikan Yoo Ra untuk menginspirasi anak-anak muda. Termasuk dia juga menjadi narasumber dalam berbagai acara yang diadakan UPH, di antaranya acara Summer Virtual Program “ Beauty Tamed the Beast” pada 30 Juni 2020 lalu, yang diikuti siswa/i SMA seluruh Indonesia. “Tidak ada definisi mutlak untuk beauty (kecantikan). Beauty adalah kompilasi dari kualitas diri seseorang atau sesuatu.

Kalau aku sendiri tidak tahu diri aku, bagaimana aku bisa menyebut diri aku cantik atau tidak? Kita harus selalu tanya lagi kepada Tuhan, siapa sih kita sebenernya? Tuhan, pencipta kita, yang tau seperti apa kita harus bertumbuh,” lanjut Yoo Ra.

Melalui kisahnya, Han Yoo Ra membukakan tentang pentingnya menemukan jati diri dan mengajak setiap anak muda untuk berani menjadi diri sendiri, berpegang pada prinsip dan tidak mentoleransi prinsip tersebut demi penerimaan orang lain. Ini yang membedakannya dari Youtuber lainnya, bahkan menjadikannya seorang influencer yang memiliki ciri khas.

Pasangan Lulusan TI dan DKV UPH Berbagi Kisah Sukses Bawa ‘Siomay LeeLoo’ Raih 5 Penghargaan Berawal dari passion untuk berbisnis di bidang Food and Beverage (F&B), Franky dan Yunita, pasangan suami istri alumni UPH, berhasil mengangkat produk lokal siomay menjadi bisnis dengan brand SIOMAY LEELOO dan telah mendapat 5 penghargaan bergengsi.

Kelima penghargaan tersebut; Indonesia Most Admired Award 2020, Indonesia Excellent Quality Award 2018, Indonesian Best Quality Award 2017, Anugerah Wirausaha Indonesia 2016, The Most Enjoyable QuickBites 2016 by GoFood. Kunci keberhasilan bisnis ini diakui keduanya ada pada 3C yaitu Commitment, Consistency dan Care.

Sehingga pelan-pelan Siomay LeeLoo bisa bertumbuh dan berkembang karena mendapat kepercayaan dan support dari para customer. Kemampuan menjalankan 3C ini diakui Franky dan Yunita, sangat didukung oleh apa yang mereka dapatkan dari pendidikan di UPH.

“Ilmu dari Teknik Industri sangat membantu untuk menjalankan bisnis ini. Apalagi usaha siomay ini dikelola sendiri dari produksi, sampai ke penjualan. Jadi semua ilmu yang dipelajari bisa terapkan mulai dari soal produksi, manajemen stok, sampai kepada manajemen penjualan, dan sebagainya,” Jelas Franky alumni Teknik Industri (TI) UPH 1995.

Sedangkan Yunita, istrinya, alumni Desain Komunikasi Visual (DKV) UPH 1995 menerapkan apa yang dipelajari saat kuliah ke dalam konsep desain untuk mendukung marketing Siomay LeeLoo, mulai dari desain packaging, desain logo/ brand, sampai semua materi display dan marketing.

Keberhasilan mengelola bisnis ini juga tidak terlepas dari kegigihan keduanya untuk terus bertahan dari membuka satu counter di tahun 2007, hingga saat ini Siomay LeeLoo telah membuka lebih dari 30 outlet di daerah Jakarta, Tangerang, Bogor dan Depok.

Keunggulan dari Siomay LeeLoo ini sendiri ada pada rasa siomay-nya yang khas dan berasa ikannya yakni dari bahan baku ikan tenggiri pilihan, tanpa bahan pengawet dan bumbu kacangnya yang disukai oleh pembelinya. Didukung kejelian dalam berbisnis, Franky dan Yunita mampu membawa Siomay LeeLoo menjadi produk favorit.

Lulusan Desain Interior UPH Raih Gelar “Asia Young Designer of The Year” Pertama dari Indonesia ‘Rumah Kopi’ sebuah konsep rumah komunal yang mengakomodir kearifan lokal sekelompok masyarakat kampung Buni Kasih di Jawa Barat, karya Greta Elsa, alumni Desain Interior UPH 2014, berhasil memenangkan kompetisi internasional Asia Young Designer Award (AYDA) 2019/2020 untuk kategori Interior Design. Prestasi Greta menjadi kebanggaan School of Design Universitas Pelita Harapan (SoD UPH) sekaligus Indonesia, karena menjadi Warga Negara Indonesia pertama yang memenangkan Asia Young Designer of The Year di ajang internasional AYDA Summit 2020.

Greta berhasil meraih prestasi tertinggi di ajang AYDA mengungguli 700 peserta lainnya dari 15 negara. Prestasi ini diakui Greta diperoleh berkat ilmu desain dan pembentukan karakter untuk menjadi desainer andal yang diajarkan di SoD UPH. “Studi di UPH tidak hanya mengembangkan ilmu desain yang saya miliki, namun juga membentuk karakter saya untuk menjadi desainer andal, melalui eksperimen, eksplorasi, berani gagal, berani mencoba hal baru, dan semangat terus mengejar yang lebih baik,” kata Greta antusias.

Greta berhasil menunjukkan kekuatan karakter dan budaya Indonesia yang luar biasa melalui karya desain yang dihasilkannya. Hal ini sekaligus membuktikan keunggulan pembelajaran di School of Design UPH, yang kuat dalam aspek disiplin ilmu desain serta dalam pembentukan karakter untuk menjadi designer yang andal.

Konsep Rumah Kopi ini berangkat dari tujuan mulia sekelompok pemuda kota untuk mensejahterakan masyarakat di kampung Buni Kasih, dengan memanfaatkan potensi agrikultur kopi yang tumbuh di area tersebut. Konsep rumah komunal yang dirancang Greta ditujukan untuk melestarikan kearifan lokal melalui penggunaan material lokal serta meminimalisir dampak lingkungannya. Melalui adanya Rumah Kopi, siklus keberlanjutan Kampung Buni Kasih diharapkan akan bertahan dan bahkan berkembang dalam aspek budaya, sosial, lingkungan, dan ekonomi.

Prinsip-prinsip untuk menjadi designer andal yang diajarkan di SoD UPH mendukung Greta menghasilkan karya ‘Rumah Kopi’ yang diakui tim juri mampu menunjukkan kekuatan karakter dan budaya Indonesia yang luar biasa. Bahkan mendapat penghargaan dan pujian dari tim juri sebagai karya yang melampaui harapan dengan tingkat detil dan visi dalam desainnya. Atas prestasinya, Greta mendapatkan beasiswa senilai USD 10.000 di Harvard Graduate School of Design di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat.

Cerita Koffie – Sukses Memanfaatkan Peluang Bisnis Kopi Kekinian Berbicara tentang kopi, tentu punya deskripsi yang berbeda-beda.

Ada yang mengatakan kopi ialah teman produktif ada juga yang mengatakan kopi itu seni. Dalam event virtual Liburan Bareng Yuk (LBY) pada tanggal 28 Mei 2020, yang digelar UPH untuk mengisi liburan para siswa SMA, hadir narasumber pebisnis muda yang merintis di bisnis kopi kekinian.

Nah, dia adalah Martin, owner Cerita Koffie dan juga alumni Manajemen Perhotelan UPH 2015. Berkecimpung dalam dunia kopi, ternyata berawal dari kegagalan Martin masuk dalam club Gastronomy saat kuliah. Kegagalannya tersebut tidak mematahkan semangatnya untuk mengikuti lomba-lomba memasak lainnya.

Sampai akhirnya Ia menemukan perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan untuk part timer di salah satu coffee shop di Gading Serpong.

Dari situ Martin mulai menemukan bahwa belajar kopi itu seru. November 2019 menjadi awal Martin memulai coffee shopnya sendiri dengan brand @ceritakoffie.id dengan tagline Every Cup Tells a Story, di Alam Sutera. Pengalaman menjadi barista memberikan Martin kemampuan membuat specialty coffee yang rasanya masih original misalnya Americano, Cappucino, Latte dan Manual Brew.

Martin melihat peluang bahwa bisnis specialty coffee itu trennya mulai turun karena harga di specialty coffee lumayan mahal. Martin berpikir bagaimana jika create kopi dengan harga yang lebih ekonomis, mengikuti tren bisnis yang ada di Indonesia. Hasilnya, sampai dengan saat ini, bisnis kopi Martin bisa merambah ke 8 kota di seluruh Indonesia.

Keberhasilan Martin dalam mengembangkan bisnisnya tentu tidak lepas dari ilmu yang Ia dapatkan dari pendidikannya di Manajemen Perhotelan UPH. Ada banyak ilmu yang didapat saat kuliah dan diaplikasikan dalam bisnisnya saat ini. Mulai dari bagaimana running bisnis dari awal sampai sukses, bagaimana cara buat produk yang disukai banyak orang melalui test panel dll.

Sampai dengan saat ini, Martin pun tetap menggunakan tes panel untuk mengembangkan menunya. Sebagai alumni dan seseorang yang sudah mulai mengembangkan bisnis sendiri, Martin tak lupa memberikan tips dan saran kepada para anak muda yang ingin memulai bisnis. Pertama, tentukan mau buka bisnis seperti apa? Jika kopi mau buka coffee shop mewah dengan dekorasi atau tempat duduknya yang bagus atau mau buka coffee shop dengan model take away seperti cerita koffie?

Kedua, harus punya signature menu dari bisnis kamu, yang unik dari coffee shop lainnya. Ketiga, baru cari modal, salah satunya bisa melalui investor dengan sistem bagi hasil 50:50.

Lewat pengalaman yang dibagikan Martin diharapkan dapat memotivasi para peserta webinar dan juga anak muda pada umumnya untuk tidak takut punya cita-cita. Tentunya harus didukung dengan pengetahuan yang mumpuni. Bisa dimulai dengan kuliah di fakultas yang tepat. Seperti Fakultas Pariwisata UPH, yang sudah banyak menghasilkan lulusan yang berhasil di bisnis kuliner. Yuk, cari tahu infonya di www.uph.edu.

ARSITEK & PENULIS BUKU “THE EXTRAORDINARY OF THE ORDINARY GURUSINA” Bondan Petra Diponegoro, alumni ArsitekturUPH 2011 adalah salah satu yang menjadi perwakilan bidang arsitektur untuk mendampingi revitalisasi kampung Adat Gurusina yang diselenggarakan oleh pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Tahun 2018 lalu, kampung yang terletak di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur dimana 27 dari 33 rumah tradisional ditambah 6 struktur bangunan adat lainnya terbakar.

Bantuan lebih jauh dari Pemerintah tidak hanya berfungsi untuk merevitalisasi area keberlangsungan hidup mereka, namun juga agar budaya setempat yang tertuang pada bangunan adat tidak hilang begitu saja. Dengan demikian, tugas Bondan dalam pekerjaan ini tidak terbatas pada pemantauan lebih jauh perkembangan pembangunan, tetapi juga merencanakan adaptasi dan mitigasi bencana untuk meminimalisir dampak bencana serupa dimasa depan. Selama masa pembangunan kembali Kampung Adat Gurusina, Bondan mengaku ada banyak pelajaran berharga yang Ia dapatkan dari terlibat langsung dalam proses pembangunan ini serta mampu untuk lebih menghargai material bangunan yang berasal dari alam sekitar.

Sementara masyarakat setempat diingatkan kembali untuk menghargai tradisi dan budaya yang mereka miliki. Pengalaman tersebut, Bondan tuangkan juga dalam buku yang Ia tulis bersama rekannya “The Extraordinary of the Ordinary Gurusina” Walaupun bukan pekerjaan pertama yang dipercayakan padanya, Pembangunan kembali Gurusina dirasa tepat bagi Bondan untuk dapat mengimplementasikan ilmu yang sudah didapatkannya selama menjajak kuliah di UPH.

Kolaborator di Formologix Lab ini merasa bahwa menjalani studi di UPH merupakan sebuah pengalaman yang menarik. “Banyak part dari pendidikan yang didapatkan perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan first hand experience dimana kita sendiri juga menjadi percobaan eksperimen dalam eksplorasi pendidikan arsitektur dalam konteks umumnya di Indonesia,” ungkapnya. Hubungan baik dengan teman dan para dosen sewaktu kuliah diakui oleh Bondan masih terus terjalin dan memberikan motivasi lebih untuk terus belajar dan tidak puas dengan satu proyek atau kegiatan yang dijalani.

Bondan bepesan agar mahasiswa UPH bisa lebih bebas dalam menentukan masa depannya sesuai dengan tujuannya masing-masing tanpa harus dibebani keterbatasan dalam mengembangkan diri. Bondan percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin dilakukan baik itu meneruskan yang sudah ada ataupun memulai kembali dari awal sebuah karir, dan tentunya pribadi yang terbentuk dari lingkungan pendidikan yang baik akan pula berdampak baik bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.

BELAJAR KUNCI UNTUK MENJADI ADAPTIF DAN MENCOBA HAL BARU Michael Susanto Pardi, alumni UPH Magister Manajemen 2017 yang saat ini memimpin 6 perusahaan sekaligus, mempunyai pengalaman karier yang menarik untuk dibagikan. Meskipun dia menjabat sebagai salah satu direksi dalam 6 perusahaan tersebut, namun mempunyai tanggung jawab yang berbeda-beda.

Ada yang di bidang Sales & Marketing, Procurement, HR, Manufacturing, Business Development, IT, dll. Perusahaan yang dipimpinnya juga bukan main-main, di mana 5 di antaranya merupakan perusahaan yang bergerak di bidang manufacturing dan 1 lainnya di bidang produsen bahan kimia yang memasok seluruh kebutuhan bahan kimia penjernih pada Perusahaan Air Minum di Indonesia dan juga export ke lebih dari 40 negara.

Selain untuk air bersih, target market dari perusahaan-perusahaan yang dipimpin Michael juga digunakan untuk industri-industri hilir, seperti makanan dan minuman, keramik, detergent, biodiesel, tekstil, minyak goreng, dsb. Karenanya, sangat penting untuk menjaga produksi tetap berlangsung bahkan dimasa PSBB seperti ini. Bagi Michael, memimpin 6 perusahaan tentu membutuhkan juggling brain dan fisik yang sehat. Disamping itu, dalam mengembangkan tiap perusahaan pasti memiliki strategi, manajemen, permasalahan operasional, teknologi bahkan sampai ke sub culture yang berbeda-beda.

Contohnya, secara umum Michael membangun culture perusahaan yang utama adalah People First, Kindness, Teamwork, Autonomy, dan Trust. “Dengan membangun culture tersebut, maka team management bisa menjalankan tugas dan direction dari Board of Directors dengan kreatifitas, freedom dan accountability,” ungkap Michael.

Hal tersebut diaplikasikan dari ilmu yang juga Ia dapatkan ketika kuliah di UPH. Terlebih, Ia diperlengkapi untuk melakukan riset mendalam dalam menganalisa suatu masalah sehingga jalan keluar yang diambil tidak hanya baik untuk perusahaannya, namun juga untuk segenap karyawan dan hasil akhir produk yang akan dikonsumsi masyarakat. “Belajar adalah kata kunci di saat krisis seperti krisis Covid-19 ini. Kita perlu menjadi manusia atau organisasi yang aktif belajar sehingga kita punya kemampuan adaptif dan mencoba hal-hal baru.

Belajar bisa dari mana saja, bisa dari rules, teori, data dari buku, podcast, atau youtube. Dengan memiliki perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan yang memadai, kita bisa melakukan eksekusi dengan cepat, eksekusi cepat adalah kunci keberhasilan.” pesan Michael.

Kesibukannya dalam dunia bisnis, ternyata tidak membuat Michael lupa untuk mangabdikan ilmunya bagi kemajuan bangsa dan negara. Selain menjadi Ketua Umum Asosiasi Kimia Dasar Anorganik Indonesia (AKIDA), ia juga rutin menjadi dosen tamu di beberapa kampus, terutama di jurusan engineering.

Semangat, terus belajar dan berkontribusi bagi bangsa! IEMM UPH JADI PILIHAN MIKHA UNTUK STUDI LANJUT DI HARVARD UNIVERSITY Selain memiliki paras cantik dan multitalenta, public figure Mikha Tambayong tetap mengutamakan pendidikannya. Hal ini dibuktikan dengan keinginan besarnya untuk menempuh S2 di Harvard University.

Alumni Ilmu Hukum UPH 2013 ini berhasil menyelesaikan pendidikannya dengan menyandang predikat cumlaude. Kini Mikha telah melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi di program International Executive Master of Management (IEMM) UPH.

Melalui program tersebut, Mikha mendapat kesempatan untuk mengikuti short course pada Juni 2020 serta akan mendapatkan professional certificate dari Harvard University. Mikha mengakui bahwa kesempatan kuliah magister di Harvard University datang setelah dia mendaftar dan melakukan tes pada program International Master di UPH untuk program studi Manajemen. Dia akan menjalani masa studinya di dua kampus, yaitu UPH dan Harvard University, dengan jangka waktu masing-masing satu tahun.

“Kebetulan aku ambil program IEMM di UPH. Alasannya, karena aku sudah pernah kuliah di UPH saat S1 dan dosennya sangat mendukung aku dalam menjalani studi sambil berkarir. Selain itu, relevan juga karena sekarang aku juga punya bisnis. Environment di sini juga sangat nyaman dan mendukung untuk studi,” ungkapnya. Pada studi magisternya ini, Mikha memilih program studi yang berbeda dari program studi pada program S1-nya yang membuat dirinya harus belajar lebih ekstra tentang mata kuliah dasar manajemen.

Namun, hal ini membuatnya semakin gigih dan tertantang untuk keluar dari zona nyamannya. Program ini dirasa sangat relevan sama pekerjaannya saat ini karena Ia juga punya bisnis. “Aku ambil kelas lain dulu sebelum ambil kelas manajemennya, karena nggak ada dasarnya cuma ya kebetulan aku lihat programnya bagus. Aku bisa dapat kelas di luar, terus juga mungkin lebih relevan sama pekerjaanku sekarang karena aku punya bisnis juga,” jelasnya. Mikha juga sekaligus memberikan pesan kepada generasi muda yang memiliki mimpi, tetapi belum terwujud.

“Bagi semua orang dengan mimpi yang mungkin mustahil, miliki keberanian untuk memulai dari yang kecil, dan yang paling penting hormati serta cintai orang tuamu setiap saat, karena doa mereka sangat membantumu,” tandas Mikha. Ilmu HI Membuka Jalan Terjun ke Profesi Jurnalis Ternyata lulusan Hubungan Internasional (HI) punya banyak peluang karier di berbagai bidang. Ilmu dan keterampilan dalam berkomunikasi yang dipelajari di program studi HI menjadi salah satu keunggulan dari bidang ini. Ternyata prodi HI justru menjadi jalan untuk untuk terjun ke profesi jurnalis, seperti pengalaman Mercy Widjaja, alumni HI UPH2014.

Menjadi jurnalis atau reporter adalah cita-cita Mercy sejak kecil dan Ia bersyukur ketika lulus langsung bekerja di Metro TV, stasiun televisi swasta terpercaya di Indonesia. Walau dalam perjalanannya ada banyak tantangan yang dilewati dan effort yang dilakukan secara khusus ketika Ia menjadi reporter di lapangan, namun tak membuatnya putus asa.

Hanya dalam waktu 1 tahun ia berhasil masuk ke studio. Sebagai fresh graduate HI UPH dan juga reporter muda, Mercy mengaku sebelum mendapat kesempatan tampil di studio, Ia harus benar-benar mengerti dan menguasai materi yang ada di lapangan sehingga Ia bisa mengkomunikasikannya kepada pendengar dengan jelas.

Dan hal tersebut cukup mudah diadaptasi, berkat bekal ilmu yang Ia dapatkan ketika kuliah di UPH. Satu hal yang semakin membuat Mercy yakin untuk bekerja di industri media dan jurnalistik adalah sistem kerja yang dinamis.

Baginya, setiap hari selalu ada hal baru yang bisa dipelajari baik dari kesempatan bertemu banyak orang dari berbagai latar belakang maupun dari materi-materi yang Ia mesti persiapkan.

Saat ini Ia bertanggung jawab mencari analisa dan prediksi perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan saham, serta melaporkannya di program Zona Bisnis dan Newsline Bisnis.

Selain itu, Ia juga melaporkan berita ekonomi terkini baik nasional maupun internasional. Mengawali Studi Hukum di FH UPH untuk Jadi Pengacara Terkenal Seperti anak muda umumnya, sejak di bangku sekolah Hendra Ong, alumni Fakultas HukumUPH Angkatan 2000, sudah bercita-cita menjadi pengacara terkenal. Cita-cita ini semakin kuat sejak ia lulus sebagai Sarjana Hukum dari FH UPH.

Setelah 14 tahun lebih berkiprah di bidang legal dan dalam memimpin berbagai proyek penting bagi perusahaan internasional dan multinasional terutama di industri penerbangan menjadikan Hendra seseorang yang strategis untuk digandeng Dentons HPRP, salah satu firma hukum terkemuka di Indonesia sebagai Corporate and Commercial and Resources & Infrastructure partner. Dalam menekuni kariernya, Hendra menyebutkan tiga hal utama yang menjadi kunci kesuksesannya, yaitu bekerja dengan smart, membina hubungan baik dengan setiap orang, serta memberikan pelayanan yang terbaik.

Setiap elemen dari kunci tersebut diterapkannya dengan tanggung jawab yang besar, dimulai dari proses mencari individu yang tepat dan membentuk tim yang maksimal untuk setiap pekerjaan yang dilakukan. Menurut Hendra, sudah tugasnya sebagai team leader harus mampu melihat titik tersebut dan menempatkan setiap individu di tempat yang tepat bagi mereka sehingga pekerjaan yang dilakukan dapat dicapai dengan lebih efisien dan efektif.

Hendra mengakui bahwa karier yang dijalaninya ini sudah diinginkannya sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pandangannya tentang bagaimana seorang advokat adalah seorang individu yang pandai dan sukses dalam hubungan sosial mejadi pemicu untuk Hendra bekerja keras dan mencapai milestones dalam kariernya saat ini.

Cita-cita ingin menjadi pengacara terkenal, kerja keras untuk dapat memecahkan permasalahan dari setiap klien yang diwakilkan. Selain itu, dalam menjalani kariernya ia selalu berpegang pada prinsip tanggung jawab, dapat dipercaya, dan disiplin.

Menurutnya, tiga hal ini adalah modal yang penting untuk dimiliki setiap individu selain memiliki pengetahuan yang dalam akan bidang yang dikerjakan dan tidak pernah berhenti dalam proses pengembangan diri. Dalam perjalanannya menuju sukses, pilihan Hendra untuk menyelesaikan pendidikan sarjananya di UPH menjadi pilihan integral.

Menurutnya, UPH tidak hanya memiliki dosen-dosen yang berpengalaman, namun juga lingkungan pendidikan yang mendukung proses belajar mengajar yang baik. Tidak kalah penting, network yang baik yang dimiliki teman-teman di UPH merupakan nilai tambah yang sangat berguna saat berkerja.

Menurut Hendra, saat ini UPH saat ini sudah menjadi salah satu universitas yang menghasilkan lulusan berkualitas digaet perusahaan-perusahaan besar, termasuk di firma hukum besar di Indonesia. “Khususnya di dunia hukum, banyak law firm besar di Indonesia yang selalu memberikan slot untuk lulusan UPH,” ucap Hendra.Belajar dari pengalamannya, Hendra berpesan untuk mahasiswa/i yang masih menyelesaikan pendidikannya untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab, dapat dipercaya, dan selalu disiplin dalam bekerja.

‘Proses tidak akan membohongi hasil’, pepatah ini sudah dibuktikan Hendra, demikian yang akan terjadi jika seseorang selalu memberikan yang terbaik untuk setiap pekerjaan yang dilakukan. COM UPH MELAHIRKAN MUSISI BERKUALITAS INTERNASIONAL BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif) menyatakan bahwa musik memiliki potensi industri yang besar dan menjanjikan, dapat menjadi jaminan untuk kamu yang ingin terjun di industri kreatif ini.

Misalnya, bermimpi jadi penyanyi ‘ superstar’ yang berprestasi. Kenapa harus ragu? Contohnya Dira Sugandi, jebolan Conservatory of Music UPH 2000 – penyanyi Jazz Indonesia yang tidak perlu diragukan kualitasnya baik nasional maupun internasional.

Beberapa musisi internasional kenamaan pun sudah pernah berduet dengan wanita kelahiran kota Bandung ini, sebut saja Jason Mraz, David Foster, dan musisi lainnya. Memiliki kualitas dan track record yang unggul, tidak menjadikan Dira enggan membagikan pengalaman dan tips ‘ How to Sing Like a Superstar’ kepada peserta seminar yang umumnya siswa/i SMA dari berbagai daerah, di acara UPH Featuring The Expert #dirumahajatetapseru, 10 Juni 2020 melalui ZOOM Meeting.

Menjadi seorang perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan menurut Dira artinya menjadi seorang yang profesional. Pengalamannya berduet dengan musisi internasional, membuat Dira semakin menyadari bagaimana seharusnya menjadi seorang profesional. Beberapa kriteria yang harus dimiliki diantaranya bersikap rendah hati, memiliki sikap yang baik, selalu lakukan persiapan maksimal, dan yang juga penting memiliki bekal pengetahuan praktis maupun teori di bidang musik.

Dira menyebutkan pengalaman pendidikan formal yang Ia dapat dari Conservatory of Music UPH, sebagai faktor penting dalam kariernya. Hal ini terbukti ketika dirinya berhasil lolos dan terpilih berduet dengan Andrea Bocelli.

Ia terpilih salah satunya karena Ia punya gelar sarjana formal yang didapatkan dari CoM UPH. Dira juga memberi tips dasar menjadi seorang penyanyi profesional. Pertama, passion, membuat seseorang nyaman dengan diri sendiri ketika di panggung, kuasai teknik dasar menyanyi, adalah dasar untuk melangkah menjadi penyanyi profesional.

Kedua, penguasaan materi, tentunya bukan sekadar hafal lirik dan melodi, tapi paham pesan apa yang ingin kita sampaikan. Penguasaan materi membuat kita memiliki penguasaan panggung yang baik, menyanyi dari hati, dan bisa menjadi story-teller yang dapat merebut perhatian penonton.

“Jangan lupa sempatkan diri untuk eye contact dengan penonton dan just have fun!” Melalui Webinar ini, Dira mengajak peserta untuk terus berlatih dan mempraktikan kemampuannya. “Bisa dimulai dengan melakukan imitating penyanyi favorit,” pesan Dira. Melalui CoM UPH, setiap lulusan dibekali menjadi pemusik dan artis handal serta profesional dengan kualitas yang unggul, karakter yang baik, dan mampu menjawab kebutuhan industri musik di Indonesia maupun dunia Internasional.

Pengalaman Berorganisasi dan Relasi Alumni Kunci Sukses Mengembangkan Karier “Building Brands, Telling Stories” adalah perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan yang dipegang teguh seorang Frebriansyah Hermawan dalam pengambilan keputusan karir maupun bisnisnya. Posisi kepemimpinan yang dipercayakan pada alumni Teknologi Pangan UPH 2009 ini membuatnya tak bisa main-main – terutama mengingat misi hidupnya, yakni untuk membangun dan mengembangkan brand Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dalam negeri.

Ia ingin bisnis-bisnis ini dapat mempunyai akses kepada strategi dan branding yang sama dengan merek-merek besar. Ia berharap dapat membantu bisnis-bisnis tersebut untuk tidak hanya mampu bertahan di zaman ini, namun juga untuk memiliki level persaingan sekelas merek-merek besar. Saat ini, Frebriansyah bergerak pada bidang marketing, branding, advertising. Beberapa perusahaan yang dipimpinnya termasuk Namakaze sebagai co-founder dan Managing Director Sabda Indonesia.

Perhatian utamanya akhir-akhir ini banyak diberikan terhadap Sabda Indonesia, sebuah perusahaan branding yang membantu klien ternama seperti Danone, Lumix, Sosro, dan Mayora. Sebagai sebuah perusahaan yang tergolong masih muda, Frebriansyah percaya Sabda Indonesia memiliki peluang berkembang kedepannya sehingga usaha dan fokus secara khusus akan sepadan dengan perkembangannya. Walaupun memiliki latar belakang yang sama sekali berbeda dengan dunia yang digelutinya kini, Frebriansyah merasa ilmu yang didapatkannya tidaklah sia-sia.

Kemampuan menulis laporan yang terasah selama kuliah menjadi ilmu yang membedakannya sebagai seorang marketer. Justru melalui penulisan hingga 5 laporan mingguan dan membaca ratusan jurnal, bermanifestasi sebagai analytical dan strategic thinking yang terasah.

Alhasil, Frebriansyah mampu memahami permasalahan dengan lebih cepat, tepat, dan rancangan pemikiran yang terstruktur dan jelas. Selain itu, pengalaman berorganisasi dan relasi alumni yang baik menjadi kunci penting bagi Frebriansyah. Menurutnya, pengalaman berorganisasi menjadi pemicu pilihan kariernya kini. Melalui kegiatan berorganisasi, Frebriansyah belajar untuk bekerjasama dengan banyak orang, “menjual” acara kepada pihak sponsor, hingga cara membuat event yang sukses.

Frebriansyah tidak luput memuji relasi alumni UPH yang bagus sehingga Ia mendapat kesempatan untuk bekerja di Nutrifood setelah lulus. Dalam menemukan panggilannya, Frebriansyah menerapkan kerangka berpikir “Ikigai” dari Negeri Sakura. Setelah menjelajah sebanyak-banyaknya dibawah usia 25 tahun, Ia memfokuskan diri terhadap pekerjaan yang Ia geluti berdasarkan 3 kerangka “Ikigai”; (1) apakah ada market untuk produk yang ingin Ia jual, perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan apakah Ia pandai melakukannya, (3) apakah Ia memiliki dalam bidang tersebut.

Menurutnya seseorang akan berhasil jika pribadi tersebut menjawab ‘ya’ untuk ketiga komponen ini. Lulusan UPH Mampu Bersaing dan Menjadi Pemimpin di Masyarakat Pada usia yang masih tergolong muda – yakni 25 tahun –Yuni Priskila Ginting tidak hanya sudah menjadi seorang legal advisor di 2 perusahaan besar, namun juga berhasil menyelesaikan studinya sampai mendapatkan gelar Doktor Ilmu Hukum. Keinginannya untuk menjadi pemimpin yang menjadi berkat bagi sekelilingnya membuatnya bergegas menyelesaikan studi doktoralnya.

Sebagai praktisi di bidang hukum, kesibukan Yuni cukup padat. Selain tugas utamanya sebagai legal advisor untuk PT. Wahana Kreator Nusantara dan di PT.

Meprofarm, ia juga aktif sebagai dosen tamu dan narasumber di bidang hukum pidana dan Haki. Baginya, menangani berbagai proyek baik di industri farmasi dan kreatif, seperti pengurusan ijin edar dan merek dagang serta pembuatan film/serial dengan beberapa perusahaan seperti PT.

KHARISMA STARVISION PLUS dan PT. DUNIA VISITAMA PRODUKSI (fremantlemedia), membuatnya selalu antusias, karena di setiap pekerjaannya Yuni menikmati setiap proses, target dan pencapaian yang berbeda dalam setiap penanganannya.

Di tengah kesibukannya, Yuni terus memiliki semangat belajar, bahkan ia tercatat sebagai Doktor Ilmu Hukum termuda di Indonesia. Melalui disertasinya berjudul “ Tindak Pidana Pencucian Uang Sebagai Tindak Pidana Lanjutan Dari Perdagangan Narkotika“, menjadi cerminan kepeduliannya terhadap upaya penerapan hukum di Indonesia. Dengan tegas Yuni menekankan bahwa masih maraknya perdagangan narkotika perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan Indonesia menjadi bukti bahwa negara masih belum menerapkan sanksi yang menimbulkan efek jera, sehingga negara mengalami kerugian dari segala lini.

Solusi yang Yuni tawarkan adalah penerapan dua sanksi bagi pelaku, yaitu sanksi menurut undang-undang narkotika dan sanksi menurut undang-undang tindak pidana pencucian uang. Berlandaskan desertasi ini pula Yuni kerap menjalankan sosialisasi anti narkoba dan mengingatkan mahasiswanya untuk menjauhi narkoba. Ia ingin mengubah pola pikir masyarakat terkait dengan berkembangnya jenis kejahatan yang bersangkutan dengan tidak pidana narkotika.

Kecintaan pada ilmu hukum tidak terlepas dari almamaternya Fakultas Hukum UPH yang telah membekalinya dengan ilmu pengetahuan, karakter, dan critical thinking, sehingga ia lebih siap terjun ke masyarakat. Yuni mengakui UPH mampu memenuhi kebutuhan mahasiswanya, sesuai dengan tingkatannya. Itu sebabnya ia konsisten memilih FH UPH untuk setiap jenjang pendidikan, dari S1, S2, hingga S3.

Bahkan mengikuti pendidikan advokat yang diselenggarakan di UPH dan lulus ujian Peradi. Menyelesaikan pendidikan setiap strata dengan tepat waktu adalah krusial bagi Yuni. Karenanya, meskipun selama studi di program Magister dan Doktor di UPH Yuni tetap bekerja, namun ia dapat menyelesaikan pendidikan tepat waktu.

Tidak lain, diakui Yuni, karena UPH memiliki program pascasarjana yang dirancang sangat baik, dengan pemilihan waktu belajar, lokasi yang tepat dan strategis, ditambah pengajar yang kompeten. Bukan hanya itu, ia juga mengakui banyak mendapatkan koneksi luas, yang sangat dibutuhkan dalam pekerjaannya. Semua yang ia dapatkan di UPH memberikan bekal yang lengkap, bukan hanya ilmu pengetahuan tetapi juga mental untuk terjun ke masyarakat. Bahkan Yuni membuktikan, tamatan UPH mampu untuk bersaing dan menjadi pemimpin di bidangnya, serta memberikan kontribusi sebagai agent of change di tengah masyarakat, sesuai dengan visi dan misi UPH yang sudah ditanamkan.

GIVE THE BEST, NEVER STOP LEARNING, AND BE GRATEFUL Prinsip give the best, never stop learning, and be grateful menjadi kunci keberhasilan Noviana, alumni Manajemen 2010, yang saat ini dipercaya sebagai Portfolio Manager di Salim Group, perusahaan konglomerasi terbesar di Indonesia. Dengan memegang prinsip tersebut, Ia dapat menghadapi setiap tantangan dalam menjalankan kariernya.

Sebagai Portfolio Manager, Noviana bertugas menangani investasi, termasuk mengembangkan dan menerapkan strategi untuk perusahaan-perusahaan yang dimiliki atau yang bekerjasama dengan Salim Group. Bagi Noviana, tugas ini sangat menarik. Tidak tanggung-tanggung, dia berhasil memanage kurang lebih 20+ perusahaan dengan membuat standarisasi laporan keuangan.

Melalui profesinya ini, Noviana belajar dari bermacam-macam industri dan bertemu dengan banyak owner perusahaan, mulai dari belajar berkolaborasi, berinteraksi, berbagi ide dan pemikiran serta mendapatkan cara pandang baru dalam menghadapi berbagai jenis masalah hingga menemukan solusi dari masalah-masalah tersebut. Berbekal ilmu yang didapat ketika kuliah di Business School UPH, menjadi modal terjun ke dunia finance dan management. Menurutnya, tugas-tugas di masa kuliah, melatih dia untuk dapat mengatur waktu dan memprioritaskan tugas.

Lingkungan kampus, serta komunitas yang baik dan dosen-dosen yang berkualitas, sangat berguna untuk membentuk dia menjadi individu yang bertumbuh dalam berbagai aspek. “Saya mendapatkan sudut pandang yang baru dari kelas-kelas yang diajarkan oleh dosen-dosen selama perkuliahan, yang akhirnya dapat saya pakai dalam menghadapi masalah yang ada di dunia kerja dan mengatur pola pikir saya dalam mengambil keputusan,” tutur Noviana.

Sebelum berkarier di Salim Group, Noviana memulai kariernya di PT Indofood Sukses Makmur sebagai Risk Analyst selama hampir 3 tahun. Project yang berhasil ia kerjakan saat itu adalah memegang project perbaikan SOP Risk Management secara keseluruhan.

Kemudian tahun 2016 lanjut berkarier di startup company bidang FnB selama 2 tahun sebagai sebagai Head of Financial and Administration. Dari mengurus 1 brand hingga berkembang menjadi 5 brand, dari memanage team dibawah 10 orang menjadi 60 orang. Perjalanan karier Noviana tak lepas dari prinsip yang terus Ia pegang yakni always give the best in everything, never stop learning and be grateful. Dengan memegang prinsip tersebut, Ia dapat menghadapi setiap tantangan dalam menjalankan kariernya.

Secara khusus dalam bidang pekerjaannya saat ini di Salim Group, diharapkan dengan management yang baik dan didukung dengan perhitungan finance yang matang, startup-startup yang dipegangnya dapat berkembang hingga mendukung perekonomian mikro, yang berdampak pada perkembangan perekonomian makro. COPA DE FLORES, BERANGKAT DARI DESAIN UNTUK MENCIPTAKAN KEHIDUPAN YANG LEBIH BAIK Desain bukan melulu soal keindahan, tetapi desain digunakan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Inilah salah satu sisi penting dari mempelajari desain yang diperoleh Dyandrastra Mairavida, Alumni Arsitektur2013, profesional Arsitek, yang juga c o-founder & creative director dari brand fashion Copa de Flores, sebuah social enterprise di bidang fashion.

Meskipun merupakan hal yang masih baru, namun Dyandra tertarik untuk memasuki dan mempelajari bisnis ini. Bersama dengan 7 partner, yang punya ketertarikan sama pada budaya, mereka ingin memperkenalkan warisan budaya Indonesia ke masyarakat luas, dimulai dari teman-teman anak muda disekitarnya. Copa de Flores adalah purposeful textile catalyst dengan misi untuk menanamkan nilai kepada para konsumen sehingga menjadikan mereka sebagai fashionably– humanist, dengan mengolah tenunan tangan tradisional untuk pemberdayaan para perempuan penenun Flores.

Terinspirasi oleh cinta ibu kepada anak-anak, Dyandra dan partners menamai kreasi mereka sebagai faithful companion, dengan harapan bahwa produk yang dipasarkan dapat menjadi teman yang dapat diandalkan dan dapat dipercaya untuk semua orang. “Kami mendedikasikan setiap kreasi Copa de Flores untuk menghormati kesetaraan, melindungi keberadaan warisan budaya maupun sastra Indonesia, dan untuk memenuhi gerakan fashion yang bertanggung jawab untuk kehidupan yang lebih baik dengan sistem ekonomi sirkular yang kami buat.

Karenanya, setiap koleksi yang dikeluarkan selalu memiliki story line dengan tema yang beda-beda. Tujuannya untuk meningkatkan awareness terhadap suatu peristiwa bersejarah yang pastinya memiliki banyak pelajaran bermakna. Sedangkan untuk tenunnya sendiri selalu memiliki pesan berdasarkan motifnya, yang biasanya merupakan curahan hati para mama-mama penenun. Poin-poin diatas, kami olah dan padupadankan sesuai tema setiap koleksi agar pesan yang diangkat tersampaikan dengan baik,” jelas Dyandra.

Kualitas dan orisinalitas kain tenun, menjadi keunggulan dan keunikan Copa de Flores. Bahan ditenun langsung oleh tangan mama-mama di desa Flores menggunakan alat tenun gedongan, dengan bahan-bahan alami, diolah menjadi produk dengan desain yang timeless with a twist and versatile. Setiap material post production juga dimanfaatkan kembali menjadi produk-produk turunan agar tidak terbuang percuma, sekaligus meminimalisir dampak negatif terhadap lingkungan.

Melalui Copa de Flores, Dyandra dan partners juga berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mewujudkan kesejahteraan ekonomi, kesetaraan gender perempuan di Flores dengan mengangkat potensi diri mereka. Di antaranya bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat untuk melakukan kolaborasi antara pengrajin desa, komunitas perempuan adat, perempuan dengan sindrom paska psikologis korban pelanggaran HAM dan pelecehan seksual, juga komunitas penyandang cacat, bersama-sama melakukan kegiatan menenun sebagai media pemulihan jiwa berbasis meditasi visual.

“Bagi kami kolaborasi adalah kunci agar kita dapat mencapai tujuan bersama, dan impact yang akan dihasilkan dari kolaborasi pun pasti lebih besar,” ungkap Dyandra. Meski sebelumnya Dyandra menempuh studi pada jurusan Arsitektur, Dyandra merasa mendapatkan apa yang Ia butuhkan untuk menjalankan usaha ini. Salah satunya adalah pelajaran bagaimana desain digunakan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Lewat beberapa mata kuliah saat belajar di UPH, Dyandra belajar menjadi lebih peka terhadap lingkungan sekitar dengan mengasah nilai nilai sosial.

‘PAKAI LAGI’ PRODUK YANG LAHIR DARI KEPEDULIAN PADA LINGKUNGAN Siapa sangka, berawal dari kesadaran memanfaatkan sampah plastik sekali pakai, perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan melahirkan bisnis. Nama produk yang sederhana tapi powerful, Pakai Lagi (@_pakailagi), yang digagas oleh Eliza Aristanto alumni Desain Produk UPH 2014. Persoalan yang disebabkan oleh sampah plastik memang menjadi masalah dunia. Data yang dipublikasikan The Asian Post, Juni 2018, menunjukkan Indonesia merupakan negara penyumbang sampah plastik nomor dua di dunia.

Ini bukanlah pencapaian yang dapat dibanggakan. Berangkat dari concern terhadap kondisi tersebut, Eliza berusaha mencari tahu bagaimana mengolah sampah plastik menjadi barang yang lebih bernilai dan dapat digunakan oleh masyarakat berkali-kali. Prosesnya tidak singkat, karena ada banyak eksplorasi plastik (fokusnya di kantong plastik) yang dilakukan oleh Eliza. Saat ini, produk-produk yang diproduksi Pakai Lagi kebanyakan dari jenis plastik konvensional yakni plastik bekas yang biasa digunakan sehabis belanja dari supermarket.

Plastik bekas tersebut diolah menjadi produk yang dapat digunakan kembali seperti contoh kotak pensil, clutch, pouch serbaguna, tas dan card wallet. Pakai Lagi juga berusaha untuk mengurangi penggunaan bahan baru, sehingga untuk packaging menggunakan barang-barang yang sudah ada, misalnya kertas bekas atau dus bekas makanan. “Pakai Lagi berusaha untuk menggunakan 100% material limbah plastik yang sudah diolah tersebut, tapi apabila ingin menggunakan kombinasi material lain, kami juga berusaha menggunakan material yang pembuatan aman untuk lingkungan serta sustainable,” ungkap Eliza.

Selain disibukan dalam mengembangkan Pakai Lagi, Eliza juga sedang juggling dalam 2 pekerjaan lainnya yakni sebagai junior designer di studio desain dan menjadi asisten dosen di Desain Produk UPH. Ilmu desain yang Ia dapatkan ketika kuliah, dapat diimplementasikan dalam bisnis dan pekerjaannya saat ini, seperti contoh proses desain, technical drawing, membuat 3D dengan aplikasi maupun prototype.

Bermodal keterampilan yang diperoleh, Eliza terus mengeksplore dalam berbagai bidang pekerjaan, hingga dapat bekerja dalam beberapa bidang. Kuncinya, terus melatih diri, tekun, mau berbagi dan menentukan prioritas pekerjaan serta mengatur waktu dengan sebaiknya. HI UPH MEMBEKALI ILMU DAN NETWORKING MENUJU KARIER DI DUNIA DIPLOMATIK Bekerja di Kedutaan merupakan pengalaman yang luar biasa bagi Masayu Octoria, alumni Hubungan Internasional (HI) UPH 2011.

Setelah melalui beberapa bidang pekerjaan, sejak lulus kuliah, kini Masayu mendapatkan kesempatan yang dia idam-idamkan, dunia diplomasi internasional. Sebagai seorang Commercial Adviser di bidang pangan dan pertanian di Kedutaan Denmark di Indonesia, tugasnya mengharuskan Ia untuk berinteraksi secara langsung dengan regulator dari kedua belah pihak.

Secara bersama, Masayu mengembangkan sektor pertanian Indonesia dengan tujuan untuk memperbaiki petani Indonesia. Bermodal keterampilan diplomasi dan pengetahuan di bidang ekonomi politik yang diperoleh saat kuliah di HI UPH, baginya bukan hal baru untuk menavigasi politik dan ekonomi Indonesia yang dapat diandalkan oleh para diplomat.

Melalui tugas yang diembannya, Masayu membantu untuk membangun dan mendorong hubungan kedua negara dengan mempromosikan kepentingan yang saling menguntungkan keduabelah pihak. Bukan hanya itu, ia juga dipercaya untuk memberikan masukan-masukan untuk pembuat keputusan tingkat tinggi dan regulator dari kedua negara.

Hal ini merupakan suatu kehormatan bagi Masayu. Tak heran jika ia memberikan hasil memuaskan dalam proyek-proyek yang dipimpinnya, baik dalam proyek pengembangan dan proyek komersial. Untuk proyek-proyek pengembangan, tugas Masayu adalah bekerja sama dengan para regulator Indonesia untuk mengidentifikasi bidang-bidang yang akan dikembangkan dan kerangka potensial untuk melaksanakan proyek-proyek tersebut.

Sedangkan untuk proyek komersial, tugasnya adalah untuk mempromosikan dan menyesuaikan pihak Denmark dengan sektor bisnis Indonesia. Keduanya terkait dengan sektor pangan dan pertanian.

Di balik keberhasilannya, Masayu belajar untuk menemukan makna di dalam setiap pekerjaannya, baik bagi masyarakat, maupun bagi orang-orang yang bekerja sama para regulator. “Prinsip saya dalam bekerja adalah: tekun, selalu ingin berkembang, dan tetap rendah hati.

Selalu berusaha untuk mengembangkan diri, dan jangan pernah membandingkan diri Anda dengan apa yang dilakukan orang lain, just continue and making your own path,” ungkap Masayu.

Perjalanan karier Masayu, salah satunya tak lepas dari dukungan dan bimbingan para dosen semasa kuliah yang memicu minatnya di bidang ekonomi politik, yang akhirnya mengantarnya mendapatkan kesempatan memperoleh tawaran dari salah satu universitas terkemuka dunia untuk melanjutkan pendidikan di bidang International Political Economics, London School of Economics and Social Science. Lingkungan kampus UPH juga berkontribusi mengembangkan potensinya dalam berbagai bidang khususnya di bidang diplomasi.

“Belajar dari pengalaman, saya juga mendorong para mahasiswa untuk selalu memanfaatkan waktu di semasa kuliah sebanyak-banyaknya, temukan apa passionmu, bekerja keras dan bangun network. Suatu saat network yang dibangun akan membuka pintu untuk opportunity,” demikian pesan Masayu terkhusus untuk adik-adik kelasnya, mahasiswa/I UPH.

BERANI KELUAR DARI ZONA NYAMAN DENGAN MENCOBA HAL BARU Mewakili provinsi Maluku dalam ajang Miss Indonesia 2019, Yolanda Luciana Tuasela berhasil menyisihkan 34 finalis lainnya dan meraih prestasi sebagai 5th runner up Miss Indonesia 2019.

Tak hanya bermodalkan paras yang cantik, lulusan UPH Surabaya Prodi Manajemen ini juga punya bakat karate. Ia mengaku telah berkecimpung dengan karate sejak kelas 3 SD dan terus digeluti hingga kuliah.

“Saya masih sering aktivitas karate sewaktu kuliah, malah saya bisa kuliah karena beasiswa karate,” ungkap Yolanda. Yolanda bercerita bahwa pengalamannya semasa kuliah sangat membantu dalam memperluas relasi dan pengetahuannya sehingga pola pikirnya pun menjadi lebih kritis, detail dan perfeksionis dalam mengambil suatu keputusan. Yolanda juga menunjukkan bahwa pendidikan adalah modal utama Yolanda dalam ajang ini karena Ia sama sekali tidak ada background modelling.

“Menurut saya, proses seleksi cukup ketat ketika tahap wawancara, di situlah kemampuan analisa saya diuji dan menurut saya apa yang saya dapat di bangku kuliah sangat terpakai,” ujar Yolanda. Melalui ajang ini, Yolanda memberanikan diri untuk keluar dari zona nyaman dengan mencoba hal baru. Bukan hal yang mudah, namun Yolanda tak menyerah. Selama masa karantina, tak hanya perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan potensi namun turut membentuk karakter Yolanda hingga akhirnya berhasil mengharumkan Provinsi Maluku dan tentunya membanggakan bagi UPH.

BANGUN KEPERCAYAAN DIRI DAN HARAPAN ANAK-ANAK MARGINAL LEWAT KOMUNITAS ‘KELAS GAMBAR’ Bagi sebagian orang, mengambar mungkin suatu hal yang biasa saja. Namun tidak bagi Galih Wismoyo, alumni dari Desain Interior UPH 2002 founder Kelas Gambar, sebuah komunitas sosial untuk anak-anak marginal. Berawal dari niat melakukan kegiatan sosial melalui kelas menggambar untuk anak-anak di panti asuhan di bulan Ramadan pada tahun 2017, Galih bersama rekannya, Teddy Afif, berhasil menjadikan aktivitas menggambar sebagai suatu kegiatan yang berguna dan berdampak bagi banyak anak-anak marginal di Jakarta.

Membangun kepercayaan diri dan harapan, itulah dampak nyata dari kegiatan Kelas Gambar yang dibangun Galih dan partner. Ini dibuktikan dari antusias anak-anak berusia 6-12 tahun yang tergabung dalam komunitas Kelas Gambar, seperti dikutip dari Intisari.grid.id, Galih bersama dengan 10 anak didiknya yang tinggal di kolong jembatan Kampung Melayu, Jakarta Timur, berhasil mengadakan pameran bertajuk “Krayon Kami Karya Kami” yang diselenggarakan di Atrium Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, menampilkan 43 karya, pada 23 Februari-3 Maret 2019.

Apa yang diajarkan lewat menggambar? Ternyata menurut Galih, lewat aktivitas menggambar bisa meningkatkan kemampuan anak-anak dalam melihat sesuatu, melakukan observasi, dan lebih dapat berempati baik dengan lingkungan maupun teman. Hasilnya dituangkan dalam gambar di atas kertas gambar menggunakan crayon.

Kegiatan komunitas Kelas Gambar kini tumbuh menjadi workshop rutin yang diberikan secara gratis, dan terus berkembang tidak hanya di satu tempat tetapi juga di berbagai tempat di Jakarta, bahkan di beberapa daerah di Indonesia. Menariknya, Galih tetap memfokuskan aktivitasnya untuk menjangkau anak-anak marginal dan korban bencana. Ini tidak tidak terlepas dari keyakinannya bahwa semua lapisan masyarakat berhak mendapatkan pendidikan seni yang layak. Dengan kata lain, seni adalah untuk semua kalangan dan bisa dilakukan oleh siapa saja.

Semangat dari aktivitas seni ini terbukti sangat efektif membangun kepercayaan diri dan harapan. Khusus pada anak-anak yang mengalami berbagai tekanan, Galih menjadikan kegiatan ini sebagai art theraphy. Seperti yang dilakukannya di lokasi bencana di Lombok tahun 2019, anak-anak diajak untuk sejenak melupakan trauma setelah gempa atau kejadian-kejadian yang menimpa lingkungan mereka. Kelas Gambar juga dilakukan di Batam, untuk anak-anak yang mengalami trauma kekerasan seksual akibat perdagangan anak-anak.

Metode yang digunakan adalah anak-anak bebas mengambar objek apa saja yang mereka lihat. Selain perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan dalam Kelas Gambar, Galih juga bekerja sebagai full time muralis/seniman dan seminggu sekali mengajar di UPH Prodi Desain Komunikasi Visual untuk mata kuliah Studio Pendukung, yang diajarkan yaitu basic storytelling and screenwriting.

Tidak hanya itu saja, dia juga menjalankan perusahaan keluarga di bidang tata boga yakni Proklamasi Catering. Dalam menjalani aktivitas yang beragam dan padat, Galih selalu memanfaatkan setiap waktu dengan maksimal. Ini sudah dilatih sejak dia kuliah di UPH. Apa yang dipelajari di Desain Interior UPH, sangat membantu untuk bekerja dalam tekanan, mengorganisasi load pekerjaan dalam jumlah banyak dan men- delivery-nya dalam deadline yang sudah ditentukan.

Bahkan disiplin ilmu Desain yang dipelajari, dapat diterapkan dalam hampir semua aspek kehidupan termasuk aspek sosial. “Yang terpenting, selalu berani mengeksplorasi minat dan bakat, serta jangan meletakkan diri sendiri di dalam box tertentu.

Dengan demikian kita akan selalu bisa mengejutkan diri kita sendiri dengan hal-hal hebat dan perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan yang bisa kita lakukan,” pesan Galih untuk mahasiswa/I UPH saat ini. Menuangkan Talenta dalam Rancangan Bermakna Mendalami ilmu desain pada program studi Desain Interior UPH 2009, menjadi awal bagi Levina Putri Limanjaya, untuk terjun ke profesinya saat ini sebagai interior designer.

Pengalamannya mengerjakan proyek-proyek design seperti ritel dan resto terkemuka, telah menghasilkan karya-karya desain yang out of the box. Hingga tahun 2016, Levina bersama 4 partnernya mendirikan Studio.talk, sebuah studio konsultan yang berbasis kolaboratif dalam bidang arsitektur, desain interior, dan desain produk. “Motivasi utamanya dalam bisnis ini bukan menghasilkan uang semata, melainkan sebagai sarana yang dapat mengasah dan menuang talenta untuk menghasilkan rancangan-rancangan yang bermakna dan memuaskan.” Rancangan bermakna menurut Levina adalah hasil desain yang berfungsi sesuai dengan kebutuhan klien (fungsi dan estetika).

“Jadi kita tidak hanya sekedar bekerja, tetapi saya mendapatkan kesempatan untuk terus belajar dari segi talenta dan personal self-growth,” ungkap Levina.

Motivasi tersebut, menurut Levina, menjadi keunggulan dari studio.talk yaitu terjalinnya sifat kekeluargaan yang erat di dalam satu tim, suka bereksperimen dengan hal-hal baru dan bertukar pikiran antar satu sama lain.

Selain itu, semangat berkolaborasi, menjadi kekuatan dari karya-karya yang dihasilkan studio.talk. Tidak hanya kolaborasi dengan tim tetapi juga dengan klien. Karena melalui diskusi, akan ada titik tengah antara desainer dan klien, menghasilkan rancangan yang harmonis tetapi tetap unik.

Sebagai Interior Designer, Levina telah menyelesaikan beberapa proyek di antaranya hotel, rumah tinggal, restoran, perkantoran, ruang Instalasi dan desain furnitur. Ada juga beberapa proyek yang langsung dipimpin Levina, di antaranya kantor MRT (Mass Rapid Transit) di Depo Lebak Bulus dan desain furnitur rotan yang berhasil di showcase di Maison Objet, Paris pada tahun 2019, di bawah naungan BEKRAF.

Setiap proyek sifatnya berbeda-beda. Levina menjelaskan, dalam setiap bagian yang dikerjakan, kita harus selalu all out dan mempunyai mindset yang positif, tekun, disiplin, dan mengerjakan pekerjaan sesuai dengan panggilan hidup. Untuk tantangannya tentu ada, namun hal tersebut tidak menjadi kendala asal selalu menjaga kualitas desain sesuai dengan keunikan masing-masing, terutama dalam segi teknis dan eksekusi.

Eksistensi Levina dalam bisnis design interior tidak terlepas dari modal pendidikan yang ditempuh di UPH. Menurutnya, ada banyak materi perkuliahan di UPH yang dapat diimplementasikan dalam profesinya saat ini, salah satunya yang krusial adalah proses pola pikir pada saat membuat suatu konsep ruang.

Jelas, pendidikan dan profesi yang berjalan linear menghasilkan produktivitas dan kreativitas yang lebih maksimal. Semangat berkarya Levina dan terus hasilkan rancangan-rancangan bermakna!

To do Something New is Always Exciting Lulusan Teknik Elektro tidak selalu terjun ke bidang yang serius. Aulia Mahariza, alumni Teknik Elektro UPH 1999 yang satu ini ternyata sukses di bisnis industry kreatif. Selama 15 tahun menjalankan bisnis di industry kreatif dengan perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan event, iklan dan film mengantarkan Aulia menjadi bagian dalam event besar Indonesia yakni Asian Para Games 2018.

Menjadi Director of Ceremony dari INAPGOC (Indonesia Asian Para Games Organizing Committee) saat Opening dan Closing Ceremony Asian Para Games 2018 merupakan project paling berkesan bagi Aulia. Hal ini juga yang menjadi kontribusi terbesarnya untuk bangsa Indonesia. “I’m part of history in the making.

Mulai dari mengurus, mengatur dan menjalankan Opening dan Closing Ceremony ini – ya tentunya bersama dengan semua tim yang terlibat. Mungkin kalau di Asian Games ada Wisnutama – di Asian Paragames ada saya lah,” ungkapnya dengan bangga. Dalam berbisnis, khususnya di industri kreatif, tentu ada banyak sekali tantangan yang dihadapi salah satunya yakni dituntut untuk selalu mengerti perkembangan zaman. Aulia juga memiliki kiat khusus untuk tetap eksis, diantaranya aktif mencari referensi perkembangan zaman, rajin nonton film, dan jalan-jalan.

Kedepannya, Aulia ingin mengembangkan sayap untuk mencoba sesuatu yang baru yang menjadi passionnya yakni berbisnis kuliner. Karena baginya, to do something new is always exciting. Selain Asian Para Games, ada beberapa proyek yang juga sukses di tangannya, dan banyak diantaranya menuntut kreativitas serta perhitungan yang berani, yakni: Musikal Lutung Kasarung sebagai produser (Bersama Didi Petet sebagai sutradara); 7 film layar lebar sebagai Produser dan produser eksekutif (Bersama Rudi Soedjarwo); Synchronize Festival sebagai tim awal dari Dyandra.

“Beruntung sekali saya bisa masuk UPH, banyak yang saya dapatkan dan mendukung pekerjaan saya. Mulai dari pelajaran di Elektro yang bermanfaat untuk diaplikasikan, khususnya dalam hitung-hitungan saya lumayan tajam dan yang utama adalah logika berfikir yang sangat berguna dalam kehidupan sebenernya.

Perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan itu, lingkungannya juga sangat kondusif karena dulu tahun 1998/1999 kan banyak banget demo-demo,” kenangnya. Oleh karenanya dia berharap mahasiswa/I UPH bisa lebih kreatif, perbanyak sosialisasi dengan teman-teman kuliah karena itu berguna di kehidupan setelah kampus. Berawal Mencari Solusi Kini Sukses Membangun Beragam Bisnis Berawal dari ide untuk menjual 100 produk terbaik IT saja, jadi tidak banyak produk atau bahkan ribuan atau jutaan item di website, Tritan Saputra, Alumni Teknik Industri UPH 1994, direktur utama limabenua.com, akhirnya berkembang membangun beragam anak perusahaan, diantaranya www.vcloudpointindonesia.com, www.primeresto.com, www.meeberpos.comwww.meeberian.com, www.makanabis.com.

Siapa sangka, bisnisnya dari satu menjadi lima dan terus berkembang. Bidang bisnis yang dikembangkan juga beragam, beberapa diantaranya ada yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan dan kebersihan kota yakni www.mazabuta.com, dengan beberapa group nya www.groen-indonesia.com, www.sewatoilet.com, www.reksoratan-indonesia.com.

Ada juga yang berkecimpung di bidang property dan management property seperti www.marketingproperti.com, dan www.menaramannamulia.com. Selain sibuk dengan bisnis-bisnisnya, ternyata Tritan juga aktif berkontribusi dalam berbagai organisasi bisnis dan organisasi profesi, seperti menjadi Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Ketua Bidang Industri Kreatif DPP Aosiasi Pengusaha Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Nasional (APTIKNAS), Ketua Bidang Industri Kreatif DPP Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo), Ketua Bidang DPD Asosiasi Real Estate Broker Indonesia Jatim (AREBI), serta Pengurus Ikatan Alumni Lemhannas.

Luar biasa! Kepiawaiannya untuk membangun bisnis berbasis teknologi tidak terlepas dari ilmu yang diperolehnya selama di bangku kuliah. Tidak hanya bertangan dingin dalam bisnis, dia juga memiliki hati untuk berdampak bagi banyak orang. “Semua profesi tentu ada tantangannya masing-masing. Namun harus tetap bersemangat di dalam setiap tantangan dan harus terus belajar untuk lebih baik lagi serta berupaya menjadi pemimpin yang mempunyai dampak sosial bagi banyak orang,” jelas Tritan.

Menariknya, Tritan selalu ingat apa yang disampaikan dosennya saat kuliah dulu untuk terus mencari solusi lebih efisien dan lebih efektif dalam memecahkan masalah. Pesan itu diterjemahkan Tritan sebagai falsafah hidupnya yaitu menjadi terus kreatif. “bahasa kerennya sekarang agile,” ungkapnya. Saat awal berdiri di tahun 1994, menurut Tritan, UPH masih sangat minim fasilitas dibanding saat ini, namun pendirinya sejak awal memiliki komitmen yang sangat luar biasa, yaitu menghadirkan pendidikan berkualitas, serta mendorong lulusannya terus maju dan berkarya.

Pendidik memberikan ilmu dengan lugas dan keakraban antar mahasiswa yang masih terasa karena jumlah mahasiswanya yang sangat sedikit. Lingkungan yang memadai, dulu masih sepi yang membuat suasana kampus menjadi sangat berkesan. “Jadi saat ini, dengan fasilitas yang sudah jauh lebih memadai dibanding tahun saya dulu kuliah, harusnya mahasiswa/i UPH lebih berhasil.

Manfaatkan kesempatan yang ada dan gunakan fasilitas yang disediakan lebih maksimal untuk menunjang pendidikan. Seperti ungkapan yang saya pegang ini: Orang awam menunggu kesempatan, orang pintar meraih kesempatan, orang cerdik menciptakan kesempatan,” pesan Tritan.

UPH Kampus Inovatif dan Visioner Dunia medis merupakan dunia yang terus berkembang. Ini juga yang membuat dr. Jonathan Satryautama, MMRS, alumni FK UPH 2007 dan Magister Manajemen Rumah Sakit 2016 UPH, yang berprofesi sebagai dokter umum di salah satu rumah sakit swasta di daerah Jakarta Utara, tak pernah berhenti untuk terus mendalami dan berencana melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Ia pun mengakui bidang kedokteran sesuai dengan passionnya. Dan itu dibangun sejak dia kuliah di FK UPH. Baginya, medicine is an art dan juga long-life learning karena banyak hal baru yang terjadi dan perkembangan dari waktu ke waktu mengenai dunia kedokteran juga bervariasi. Karenanya dalam mengedukasi pasien, ia selalu menggunakan pendekatan yang berbeda, sesuai dengan kondisi setiap pasien.

Misalnya, dalam menyampaikan pesan kesehatan perlu komunikasi yang baik agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik tanpa mengesampingkan nilai kejujuran dan manusiawi. Sebagai Alumni UPH, Jonathan selalu berusaha untuk mengimplementasikan ilmu yang ia peroleh dalam menjalankan tugasnya di RS untuk memberikan pelayanan yang optimal terhadap pasien, baik dalam memberikan pelayanan jasa medis dan managerial di RS.

Berusaha mewujudkan pelayanan medis yang profesional, strategis dan humanity dalam sisi pelayanan, merupakan mottonya. Sikap terhadap profesinya ini diakui ditanamkan sejak kuliah di FK UPH. Karenanya ia sangat tidak ragu mengakui UPH sebagai sebagai kampus yang memiliki visi sangat inovatif dan visioner. Semua itu diimplementasikan lewat kurikulum pendidikannya, didukung fasilitas dan teknologi yang modern serta tenaga pengajar yang profesional dan berkualitas, sehingga mendukung perkembangan dalam ilmu pengetahuan dan proses belajar.

Kepercayaannya pada UPH dibuktikan saat memutuskan studi lanjut S2nya. Ilmu manajemen yang diperolehnya pun diabdikan untuk mendukung tugas dalam menjalankan profesinya.

Berkat keterampilan yang dimiliki Ia dapat dipercaya sebagai salah satu asisten Prof.DR.dr.Satyanegara Sp.BS sehingga dapat mengembangkan keilmuan yang dimilikinya. “ If you are working something exciting, you don’t have to be pushed but the vision pulls you,” pesannya. KliniCard, Medical Reference ID Card Praktis Untuk Aktivitas Klinis Sehari-Hari Para praktisi medis, baik itu dokter, calon dokter dan atau perawat, saat ini dapat dipermudah dengan Klinicard.

Klinicard merupakan kartu referensi yang berisikan informasi rujukan medis. Sebagai contoh, Advanced Cardiac Life Support (ACLS), kartu yang berisi informasi algoritma atau langkah-langkah penanganan yang perlu dilakukan seorang dokter pada saat terjadi kasus kedaruratan medis jantung. Terobosan menarik ini merupakan yang pertama di Indonesia, oleh Aldoni Latumahina, alumni Fakultas Kedokteran UPH 2003.

“Sebelum KliniCard dikeluarkan pertama kali tahun 2016, saya belum pernah menemukan item dengan ide serupa dipasarkan ke kalangan praktisi medis di Indonesia,” ungkap Aldoni. Ide awal pembuatan produk ini bermula saat Ia mencari ECG ruler atau kartu yang bisa digunakan untuk membantu pembacaan hasil rekam jantung.

Barang ini memang jarang dijumpai dan Aldoni kesulitan untuk menemukan penjual di Indonesia, sehingga akhirnya Ia memutuskan untuk membuat sendiri. Beberapa teman sejawat lalu ikut tertarik untuk memiliki sehingga Ia memutuskan untuk membuat ‘ line of product’ yang mencakup topik-topik yang lazim dijumpai atau digunakan dalam aktivitas klinis sehari-hari. Tujuan utama dari produk ini tentu untuk memudahkan dokter saat memberikan referensi medis yang bisa diakses dengan cepat pada saat bekerja, memastikan terapi yang diberikan tepat dan ‘ patient safety’ terjaga.

Sejak mulai dipasarkan pada pertengahan 2016, KliniCard sudah digunakan oleh lebih dari 700 dokter, mahasiswa kedokteran dan praktisi medis lainnya di berbagai kota di Indonesia mulai dari Aceh hingga Jayapura. Strategi marketing yang digunakan saat ini menggunakan platform sosial media (@klinicard), berbagai platform marketplace Indonesia maupun pemasaran dari mulut ke mulut. Apa yang dilakukan Aldoni tidak terlepas dari bekal pendidikan di FK UPH.

Ia mengakui FK UPH tidak hanya memberikan pengetahuan akademis, tetapi juga membuka wawasan dunia kedokteran yang sangat berguna untuk karirnya. Dan yang membanggakan, sebagai lulusan FK UPH, ia merasa siap bersaing di dunia kedokteran Indonesia. “Bagi saya pribadi, saya sangat bersyukur karena tanpa berkuliah di UPH saya tidak mendapatkan pengalaman-pengalaman berharga yang membuka begitu banyak kesempatan untuk saya di dunia kerja, termasuk mengembangkan KliniCard,” tutup Aldoni.

Pengalaman Kuliah Membuka Jalan Sukses Berbisnis di Industri Tour & Travel Berawal dari ketertarikan dalam bidang Tour & Travel dan Manajemen airlines, mengantar Suryadi alumni UPH program studi Usaha Perjalanan Wisata 2006 ini, semakin eksis berbisnis di bidang yang sama.

Tidak tanggung-tanggung, saat ini memimpin di beberapa bidang bisnis Tour & Travel, diantaranya PT. Saung Bulian Tour & Travel (2013), IndoTravelStore Wholesaler (2017), dan Sales Touch For Trip Korea – Korea Land Operator (2018). Ternyata, kesuksesan bisnis Suryadi berawal dari jurusan yang dipilihnya saat kuliah di UPH.

Ia mengakui kariernya sangat relevan dengan apa yang dia dapat saat kuliah. Tidak heran bila pertama kali terjun ke dalam industri ini, dia dapat beradaptasi dengan cepat. “Hampir 70% pelajaran adalah praktek. Ditambah saat kuliah dulu, waktu masih duduk di Semester 2, saya terpilih sebagai Ketua HMJ Usaha Wisata Periode 2007-2008.

Saat itu saya menjabat Ketua HMJ paling muda dalam sejarah organisasi di UPH. Kesempatan itu semakin menambah peluang untuk belajar bersosialisasi, meningkatkan leadership, membuat keputusan, dan memperkuat jaringan,” kenang Suryadi. Lewat pengalaman kuliah dan bekarier di industri tour & travel, kemampuan leadershipnya semakin terasah. Ia juga mempunyai sejumlah kiat yang menjadikannya berhasil memimpin di industri ini, diantaranya menciptakan loyalitas konsumen, inovasi produk yang berkesinambungan sesuai trend pasar, serta integritas dan kepercayaan.

“Tidak kalah penting, kita juga harus memperhatikan nilai-nilai kejujuran serta kualitas pelayanan yang kita berikan. Karena bisnis di bidang tour & travel dengan produk yang sama sangat banyak diluaran sana namun hal tersebut jangan dianggap perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan suatu ancaman atau tantangan melainkan menjadi motivasi untuk meningkatkan mutu pelayanan yang terbaik bagi konsumen.

Ibaratnya satu konsumen puas maka dia akan membawa minimal 10 konsumen baru untuk kita,” jelasnya. Suryadi menyakini industri usaha wisata di Indonesia mempunyai peluang yang sangat besar.

Untuk berhasil di industri ini butuh spesialisasi dan profesionalitas. “Dengan begitu kita bisa mendapatkan kepercayaan konsumen maupun supplier. Walaupun bisnis usaha wisata juga sangat dipengaruhi dengan faktor eksternal situasi dan kondisi seperti keamanan, suhu politik maupun seperti disaat pandemi COVID-19 ini, kita harus yakin bahwa faktor eksternal bersifat sementara dan akan kembali normal pada saatnya,” ungkap Suryadi optimis. Sebagai lulusan UPH, Suryadi berharap mahasiswa/i UPH yang masa kini disebut milenial, agar terus mengikuti perkembangan dunia dari segala aspek termasuk teknologi dan lain-lain, agar mampu menciptakan peluang kerja baru (berwirausaha) walaupun jenis usaha tersebut mungkin belum terpikirkan oleh orang banyak.

“Saya sangat bangga jika ada banyak mahasiswa/i UPH mempunyai kecendrungan untuk berwirausaha sendiri dan menciptakan lapangan kerja bukan sebagai pencari kerja,” serunya dengan antusias. Berkarir Tak Hanya dari Prestasi, Namun Juga dari Interpersonal Skill yang Diasah di UPH Berawal dari kesempatan yang diberikan UPH menjadi salah satu Scholarship Grantee, Outstanding Freshman of the Year di UPH Award dan menjadi Resident Assistant termuda di UPH Dormitory, menjadi langkah awal bagi Lydia, alumni Akuntansi UPH 2010 dalam memulai perjalanan kariernya sebagai Auditor di salah satu Kantor Akuntan Publik Big Four, Deloitte.

Bekerja sebagai Auditor, Lydia didorong untuk bekerja dengan time management yang bagus sehubungan dengan deadline yang ketat dan pipeline yang banyak. Di Deloitte, Ia bekerja dekat dengan top level management dan klien perusahaan Jepang.

Sekarang Ia dipercayakan untuk berpartisipasi dalam memberikan social impact di salah satu perusahaan startup Decacorn, Gojek, sebagai Analyst. “Di Gojek saya bekerja dengan lingkungan multicultural yang mengasah cara berpikir, cara menyelesaikan masalah, sampai dengan cara berinteraksi dengan orang yang berbeda culture, background, dan experience”, ungkap Lydia menceritakan perjalanan kariernya hingga di posisinya saat ini.

Sebagai layanan berbasis teknologi, Gojek bukan hanya menjadi on-demand multi service platform dan teknologi pembayaran digital, akan tetapi juga telah menjadi bagian dari lifestyle masyarakat.

Dengan hadirnya Gojek, kini masyarakat dengan mobilitas yang tinggi dan jadwal yang padat dapat mempunyai efisiensi waktu yang lebih maksimal. Dengan demikian setiap solusi yang diberikan oleh Lydia dan tim di Gojek akan secara langsung atau tidak langsung berdampak kepada masyarakat. Misalnya dengan inovasi baru untuk menjawab kebutuhan masyarakat, dengan kata lain, mengisi gap antara supply yang minim dengan demand yang tinggi. Di Gojek, Lydia pernah sekaligus merangkap sebagai Analyst, Marketing Strategist dan Auditor yang berhasil meluncurkan dan mengembangkan unit bisnis baru dari nol di bidang food dengan ~6K transaksi, senilai IDR 300 juta sebulan, hanya dalam waktu 1,5 bulan.

Tak berhenti sampai di sini, sebagai Analyst, Ia juga berhasil menerapkan strategi pricing yang tepat dan analisis customer demand, yang mampu meningkatkan transaksi ~4x selama 3 bulan setelah brand diluncurkan. Saat berperan sebagai Marketing Strategist, Lydia berhasil menerapkan multiple channels marketing strategy, yang berhasil meningkatkan pertumbuhan user sebanyak ~3.5x selama 3 bulan setelah brand diluncurkan.

Dan saat berperan sebagai Auditor, Ia juga berhasil meningkatan efisiensi waktu sebanyak ~40% dan cost saving sebanyak ~20% dengan meningkatkan business improvement processes dan membuat rencana turn-around. Ia mengakui, prestasi dan kariernya tidak terlepas dari pendidikan yang diperoleh di UPH. Dimulai dari karirnya sebagai Auditor. Teori-teori yang didapatkan selama kuliah dapat diterapkan secara real di dunia kerja. Tak kalah penting, ia menggunakan kesempatan saat kuliah untuk meningkatkan interpersonal skill dan menjalin koneksi yang berguna.

“Mengadopsi sistem pembelajaran Harvard Business School, UPH membantu saya dalam mempertajam cara berpikir dan mempersiapkan saya untuk menjadi pemimpin yang tranformasional di masa depan. Harapannya kiranya UPH terus berkarya dalam memberikan pendidikan yang holistic dan menghasilkan lulusan yang menginspirasi dan memberikan dampak positif bagi lingkungan”, tuturnya. Lulusan DKV Sukses Bangun Brand Lokal Bercitarasa Global Anda pernah mendengar brand EATLAH?

Brand produk makanan dan minuman siap saji ini ternyata dibangun dari ide sekelompok anak muda yang ingin mengangkat produk lokal yang baik secara branding. Ide ini digagas Michael Chrisyanto, alumni DKV UPH2006, Founder sekaligus Chief Branding and Design EATLAH, bersama kedua partnernya. EATLAH diperkenalkan pada pertengahan tahun 2016, berawal dari sebuah resto di lokasi Pantai Indah Kapuk, dan dalam 3 tahun sudah memiliki lebih dari 26 cabang di dalam dan di luar Jakarta.

Michael meyakini pentingnya sebuah brand untuk memperkuat posisi produk di pasar. Dari hasil riset perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan rekannya, Ia melihat peluang di bisnis makanan cepat saji yang baik secara branding.

Dan tentunya dengan produk yang juga baik. EATLAH bukan bisnis pertama Michael, sebelumnya ia sudah membangun dua bisnis lainnya yaitu DRINKLAH dan CHIPSLAH. EATLAH menjadi booming dimulai dengan menu makanan Indonesia yaitu nasi, telur goreng dan ayam goreng yang dibalut dengan saus salted egg. Brand EATLAH sendiri terinspirasi dari cara Singaporean mengajak orang makan dengan kata-kata “EATLAH”. “Saya kebetulan bertemu dengan kedua partner yakni Charina sebagai Marketing dan Riesky sebagai Products Development.

Mereka tinggal di Singapore dan terbiasa memakan salted egg chicken dari resto cepat saji. Sementara saya juga sedang banyak mengerjakan restoran di Indonesia. Kemudian kami bersinergi membuat produk makanan siap saji dengan menu utama salted egg chicken ala Indonesia. Dari sana muncullah EATLAH,” lanjutnya. Selain unsur branding dan produk, packaging juga menjadi salah satu keunikan EATLAH. Awalnya EATLAH menggunakan kertas putih, karena saat itu sempat sulit mencari produsen craft paper.

Namun Michael yang sejak awal memiliki visi untuk menggunakan craft paper sebagai packaging produknya, berhasil menggandeng salah satu produsen craft paper, yang waktu itu sempat mau tutup karena pasarnya sepi, hingga sekarang menjadi supplier untuk packaging EATLAH. “Saya senang bisa membantu produsen craft paper ini, yang hingga kini permintaannya melonjak tinggi,” tutur Michael.

Michael menegaskan motivasi bisnis yang dia bangun bukan untuk mencari keuntungan pribadi, lebih utama dapat membuka lapangan kerja seluas-luasnya bagi banyak orang. Dan keinginan untuk mengangkat brand lokal yang bisa diterima luas. Produk inipun dapat berkompetisi di era digital dengan system pesan antara menggunakan ojek online (ojol). Pesan yang dibangun dari produk EATLAH adalah makanan siap saji yang lezat, direpresentasikan dari logo yang BOLD, SIMPLE, and FAST.

Tentu ini related dengan background pendidikan Michael yaitu Desain Komunikasi Visual. Semua yang Ia pelajari di DKV UPH sangat aplikatif di dunia bisnis yang dia tekuni.

Ia pun bersyukur selama kuliah dapat mengakses koleksi buku-buku desain yang baik di perpustakaan UPH. Hingga kini Ia terus belajar, mengikuti perkembangan teknologi, dan peluang bisnis untuk dapat menciptakan sebuah bisnis yang sesuai perkembangan jaman. Yang terpenting bagi Michael bukanlah untuk menjadi pemenang di pasar, tapi mengangkat produk lokal bersaing di pangsa global. “Mari kita bersama membangun rasa cinta produk lokal, instead makanan luar, sehingga brand Indonesialah yang menang,” ajak Michael.

Mengangkat Industri Musik Indonesia Lewat Profesi Sound Designer Perkembangan industri kreatif di Indonesia menyuburkan profesi-profesi baru di bidang musik. Salah satunya profesi sound designer. Karya-karya musik hasil olahan sound designer semakin tumbuh subur dan diminati.

Kontribusi seorang sound designer diperlukan dalam sebuah live performance maupun dalam proses produksi rekaman. Ternyata, ada proses panjang yang harus dilalui untuk menghasilkan sebuah sebuah karya musik yang dapat dinikmati oleh kita sebagai audience dan juga oleh musisi itu sendiri.

Terbukti, kontribusi sound designer mampu mengangkat industri musik Indonesia. Hal ini diakui salah seorang profesional sound design, yang ikut meramaikan dunia musik Indonesia yaitu Christian Edo Yuwono – Founder of Led’s Production, lulusan Seni Musik UPH 2013.

Menurut Edo, peran sound designer sangat penting dalam pembuatan sebuah karya musik. Musisi tentunya akan melalui proses perekaman, proses mixing, dan penguasaan perangkat teknis (technical stuff) dan mengangkat nilai estetik dari musik yang dihasilkan, sehingga menjadi sebuah karya musik bisa dinikmati oleh semua orang.

Sejak awal berkuliah, Edo sangat tertarik pada bidang music art dan teknologi. Karenanya, Ia merasa bisa mendapatkan keduanya dalam program peminatan sound design di Fakultas Seni Musik UPH.

Menjadi lulusan seni musik – sound designer, tentunya ada banyak sekali peluang bisnis yang dapat ditekuni. Beberapa contoh, dalam industri musik (music production) bisa menjadi Recording Engineer, Mixing Engineer, Mastering Engineer, dan Live Sound Engineer. Lalu dalam industri Film, sebagai Foley Artist, Editor Audio dan Mix Engineer tentunya.

“Prinsipnya, maksimalkan potensi diri dengan memberikan seluruh potensi dalam setiap acara dan dengan tetap rendah hati. Karena disaat kita memberikan yang terbaik dari versi kita, maka kita akan bisa memberikan energi positive untuk sekitar kita,” ungkap Edo.

Saat ini, Edo sedang fokus dalam mengembangkan Live Production Facilities (@ledsproduction), yang bergerak dibidang jasa rental dengan menyediakan semua kebutuhan produksi seperti sound system, audio production pencahayaan, dan dekorasi. Selain itu, Edo juga bekerja sebagai freelance engineer, untuk beberapa acara konser dan musical, dan bekerja di salah satu audio post di Jakarta sebagai mixing engineer.

Semua ini diakuinya tidak terlepas dari bekal yang diperoleh saat kuliah di UPH. “UPH memberikan dasar yang kuat, menjadi tempat untuk mengekspresikan diri dan mengoptimalkan potensi,” tutup Edo.

Earlitha, Kecintaan Pada Bidang Matematika Mengantarnya Ke Profesi Aktuaris Matematika merupakan sebuah bidang yang bersifat sangat kuantitatif. Sebagai sebuah pelajaran, Matematika memerlukan jawaban yang eksak untuk setiap pertanyaannya. Earlitha, biasa Ia disapa, sejak SD mengakui sudah mulai menyukai bidang Matematika. Ia sangat menyukai tantangan soal Matematika berapapun sulitnya. Bagi alumni Matematika UPH2015 ini, terdapat sebuah kesenangan tersendiri ketika sebuah soal berhasil diselesaikan.

Karenanya sejak SMA Earlitha memang berniat untuk masuk bidang Matematika. Setelah mencari banyak universitas, Earlitha merasa UPH paling sesuai karena Ia melihat UPH sangat konsen dengan bidang Matematika aktuaria.

Menurutnya, selama studi mahasiswa dipersiapkan sangat matang untuk menjadi Aktuaris terbaik. Ini diikuti dengan pembekalan baik berupa sertifikasi maupun keahlian yang dibutuhkan di dunia karir. Selain itu, UPH adalah satu-satunya universitas yang memiliki penyetaraan ke sertifikasi SOA (Society of Actuaries), poin ini membuat Earlitha sangat yakin bisa berkembang di bidang aktuaria.

Setelah lulus S1 Matematika, Earlitha ternyata sudah memiliki 11 sertifikasi SOA dan PAI (Persatuan Aktuaris Indonesia). Di usia yang masih muda, Ia telah mendapatkan gelar FSAI setengah tahun setelah itu. Ujian tersebut telah Ia ikuti bahkan sejak Ia masih kuliah di tingkat awal. Earlitha bersyukur UPH sudah memfasilitasi mahasiswanya dengan penyetaraan SOA, ini adalah salah satu nilai plus yang luar biasa bagi mahasiswa UPH, penyetaraan ini hanya ada di UPH.

Dengan mengikuti beberapa mata kuliah yang sudah ditentukan, mahasiswa sudah mendapatkan 3 penyetaraan SOA VEE. Selain itu kurikulum di Matematika UPH sangat sesuai dengan sertifikasi, hal ini sangat mempermudah mahasiswa untuk mengikuti ujian profesionalisme tersebut. Bidang Aktuaris saat ini masih sangat diperlukan dan menjanjikan di Indonesia. Saat ini masih banyak tenaga Aktuaris luar yang berkontribusi di Indonesia.

Untuk menjadi Aktuaris, sertifikasi profesional menjadi tiket. Oleh karenanya, Earlitha mendorong dan berbagi tips, untuk bisa berhasil dalam ujian sertifikasi, dimulai dari niat dari diri sendiri dan usaha yang besar untuk belajar mandiri.

“Mengambil ujian sambil kuliah bukan hal yang mudah tapi juga bukan tidak mungkin. Kita harus melakukannya dengan ketekunan dan dengan mengandalkan Tuhan dalam segala hal yang kita kerjakan. Ketika terjun di karir juga, tentu yang dinilai perusahaan tidak hanya pencapaian-pencapaian akademik, namun lebih kepada hasil kerja dan kontribusi yang bisa diberikan kepada perusahaan,” ungkap Earlitha yang berhasil mendapatkan apresiasi dari perusahaan tempatnya bekerja.

Selain berkarir sebagai Aktuaris, Ia juga rajin menulis di blog post di www.actuaryinreality.com, Earlitha juga memiliki online shop di bidang calligraphy, baik jasa tulis, live events maupun produk-produknya. Ternyata waktu dan semangatnya masih bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan aktivitas yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain serta memberikan keuntungan tambahan. Andi Martin, Kreator Animasi Superhero Indonesia Saat ini, industri konten di dunia sedang sangat menggairahkan karena makin banyaknya platform penyedia konten seperti Netflix, Disney plus, Amazon Prime Video, dsb.

Animasi merupakan salah satu konten yang sangat digemari untuk semua umur. Di Indonesia sendiri tahun 2020 ada 4 film animasi layar lebar. Serial animasi di platform youtube pun mulai bermunculan dengan jumlah subscriber yang makin banyak. Andi Martin, CEO Kratoon Channel, awalnya bergerak di bidang game developer, menggembangkan game online pertama buatan Indonesia bernama Inspirit: Arena.

Game atau film hanya salah satu media, passion-nya terletak di story telling, universe creation dan intellectual property creation. Dengan visi ingin menghadirkan Disney-nya Indonesia, Andi pun berevolusi dari sekedar studio menjadi perusahaan bergerak di character producing dan licensing. Perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan menghasilkan produk animasi ini, Andi mengaku tidak cukup hanya dibekali teori tetapi juga wawasan yang tentunya dari pelaku industri kreatif yang kian dinamis dan bergerak sangat cepat.

Sebelum meneruskan pendidikannya di Universitas Pelita Harapan (UPH), Andi sempat kuliah di Savannah College of Art and Design, jurusan Desain Komunikasi Visual. Tahun 1996, Ia memulai perkuliahannya, namun kemudian terpaksa berhenti dan pulang ke Indonesia dikarenakan krisis ekonomi.

Tahun 1997, Andi pun melanjutkan studinya ke jurusan yang sama di UPH. Saat itu, hanya Perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan yang bersedia menerima kredit perkuliahannya dari Amerika Serikat. “Semua saya belajar sendiri diluar pendidikan resmi untuk siap di industri kreatif, apalagi saat saya mulai belum banyak perusahaan yang bergerak di bidang game,” ungkap Andi.

Prinsipnya, jangan mudah menyerah. Justru bagi Andi, sering gagal itu bagus untuk kesehatan. Melalui animasinya, Andi berkontribusi terhadap Indonesia dengan membuat sosok jagoan super Indonesia bernama Hebring dan berhasil mendapatkan penghargaan 2nd prize dari Asean-Japan Centre dalam ajang Asean Character award 2014.

Kemudian awal tahun 2019 dipercaya membantu membuat cerita hidup bapak Jokowi dalam bentuk animasi adalah salah satu kebanggaan buat Andi. “Untuk jangka panjang, saya pengen bisa menghibur dan mendidik anak-anak Indonesia lewat animasi dan karakter-karakter asal Indonesia bisa berjaya di dunia adalah impian saya,” tutup Andi Martin. Titian Jewelry: Perhiasan hand-made Unik dari Material Alam Siapa sangka, Titian Jewelry terlahir dari tugas akhir 2 perempuan muda lulusan Desain Produk UPH.

Tugas akhir ini merupakan persyaratan kelulusan saat mereka kuliah di UPH dan kemudian terus dikembangkan hingga saat ini. Mereka adalah Michellie Danara dan partnernya Merlyn Awang.

Menurut Michellie, selling point dari brand Titian Jewelry adalah keunikan produknya yang menggunakan material tulang sapi, mother of pearl, dan batu-batuan. Inilah, katanya, yang memaksimalkan craftsmanship dari pengrajin. Disamping itu, desainnya sangat cocok untuk wanita Indonesia yang berusia 20 tahun ke atas. “Bisnis perhiasan ini sebenarnya memiliki potensi yang luar biasa dengan meningkatnya pendapatan perkapita Indonesia serta semakin tingginya awareness target market mengenai perhiasan hand-made.

Oleh karenanya berharap tidak hanya di Indonesia, tapi dapat menjangkau pasar internasional juga,” ungkap Michellie. Selain keunggulan produk, bagi Michellie, yang diperlukan dalam memulai suatu bisnis adalah tujuan dari bisnis itu sendiri.

Hal ini yang menjadi spirit dari hadirnya Titian Jewelry, yaitu bertujuan untuk mempertahankan dan mengembangkan pengrajin yang masih ada di Bali. Mulai dari mengedukasi pengrajin mengenai value yang mereka punya, memberikan rate yang lebih tinggi kepada pengrajin, dan memperkenalkan kepada target market akan craftsmanship yang dimiliki oleh pengrajin-pengrajin ini.

Michellie bercerita, memutuskan membuat produk di Bali berawal dari perjumpaan dengan pengrajin-pengrajin yang luar biasa pada saat internship di Bali. Dari hasil pengamatan, turunnya daya tarik usaha perhiasan dikarenakan hancurnya harga jasa yang ditawarkan, persaingan dengan barang impor dari China, dan alat-alat yang kurang mengikuti jaman.

Akhirnya banyak dari para pengrajin memutuskan bahwa menjadi pengrajin bukanlah pekerjaan yang memiliki masa depan yang cerah. Mereka berhenti mengajarkan keterampilan ini kepada anak-anak mereka dan mulai mencari alternatif pekerjaan lain. “Dari situ kami memutuskan perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan membuat Titian Jewelry, dengan memberikan timbal balik yang adil kepada pengrajin, kami berharap agar pengrajin-pengrajin mulai bisa melihat bahwa pekerjaan mereka dihargai, berani menaikkan jasa mereka, dan berani membuat workshop sendiri di rumah mereka,” ungkap Michellie.

Semakin berkembangnya suatu bisnis, hadirnya kompetitor menjadi hal yang biasa. Menyikapi hadirnya kompetitor, Titian Jewelry punya kiat sendiri, diantaranya terus mengikuti perubahan, melakukan hal-hal baru, seperti mengeluarkan desain baru, atau ikut mempelajari teknik marketing yang dilakukan kompetitor.

Sedangkan untuk tantangan terbesar yang saat ini dihadapi oleh Titian Jewelry, Michellie mengungkapkan, dengan cara mempertahankan standar dan kualitas produk, dikarenakan banyaknya step dan pihak yang terlibat untuk menghasilkan sebuah produk Titian Jewelry ini.

Selain itu, konsistensi juga harus terus dijaga. Hal yang tidak boleh diabaikan dalam menjalankan bisnisnya, kata Michellie, adalah dukungan dan dorongan dari keluarga, teman-teman, dosen dan staf UPH, yang memberikan banyak insight kepada Titian Jewelry. Selama berkuliah di UPH, pelajaran baik yang didapat dikelas maupun pengalaman di luar kelas sangat membantu Michellie dalam mengembangkan bisnisnya.

Mulai dari membentuk etika kerja, hingga hal-hal teknis seperti efisiensi dalam sistem produksi produk. Menjadi notaris dan PPAT merupakan sebuah anugerah dan berkat juga tanggung jawab bagi Nency, alumni Ilmu Hukum UPH 2007.

Proses panjang menjadi notaris dan PPAT tentu bukan hal yang mudah bagi Nency. Ada banyak lelah dan peluh yang mungkin orang lain tidak tahu, tapi Nency tidak menyerah, dan menikmati setiap proses. “Ada sebuah kutipan yang mengatakan semakin kamu mendekati puncak gunung, semakin berat jalan dan alur yang kamu hadapi, tingkat kecuraman, kadar oksigen, cuaca yang ekstrem, dan banyak hal lainnya.

Tetapi saat kamu berhasil sampai di puncak, kamu tidak akan pernah berhenti bersyukur, bukan hanya bersyukur karena akhirnya sudah tiba di puncak tetapi bersyukur karena kamu pernah melewati step by step untuk sampai di puncak.

Orang yang mendapat segala sesuatunya dengan instan akan berbeda dengan orang yang mendapatkan sesuatu melewati sebuah proses.

perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan

Karena proses itulah yang membentuk karakter seseorang saat dia dibenturkan oleh keadaan di sekelilingnya yang negative, dia tetap bisa positive,” ceritanya. Saat ini Nency juga aktif di dalam organisasi Ikatan Notaris Indonesia untuk mendukung segala langkah yang ditempuh pemerintah dalam bidang hukum. Menjalani profesi ini, Nency punya kiat yakni berusaha melakukan dan menjadi yang terbaik. Mendisiplinkan diri untuk bersikap jujur, baik, sopan, rendah hati, sehingga kehadirannya dalam memangku jabatan profesi maupun dalam kehidupan sehari-hari dapat diterima dan menjadi berkat bagi masyarakat.

Oleh karenanya, motto UPH selalu menjadi dasar ketika Ia bekerja. Bagi Nency, UPH bukan hanya sebagai Universitas tempat Ia berkuliah. UPH adalah sebuah tempat yang sudah berhasil membentuk Ia menjadi seorang wanita yang memiliki ilmu yang dapat menunjang profesinya saat ini, seorang wanita yang memiliki keyakinan kuat akan kuasa dan kehadiran Tuhan dalam setiap tindakan yang Ia lakukan dalam profesinya saat ini, serta menjadikan Ia notaris yang berilmu dan beretika.

Diproses Menjadi Perancang Produk Ramah Lingkungan sejak Kuliah Selain membekali mahasiswa dengan kemampuan akademik dan non-akademik, UPH berupaya menghasilkan lulusan yang memberikan sumbangsi yang baik bagi masyarakat. Karenanya, Perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan of Design UPH seperti program studi Desain Produk berupaya menghasilkan desain yang inovatif, kreatif, fungsional dan estetis menggunakan bahan ramah lingkungan dan berdampak baik bagi masyarakat.

Inilah salah satu dasar yang diajarkan program studi Desain Produk UPH. Ini menjadi nilai dasar yang juga diterapkan oleh lulusan Desain Produk UPH angkatan 2015 yakni Agnesia Cahaya, seorang freelance designer dan perintis brand Caleo dalam menekuni karirnya saat ini. Selama kuliah di UPH, Agnesia mengaku banyak terlibat dalam pengalaman kerja yang membantunya menemukan passionnya yaitu merancang tas.

Ia mulai benar-benar menekuni passionnya saat mengerjakan tugas akhir dan kemudian Ia teruskan menjadi perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan tas yang laris hingga saat ini.

Bisnisnya ini dapat ditemukan melalui akun Instagram @caleoofficial. Agnesia yang saat ini tengah menjalin kerjasama dan meningkatkan craftmanship dengan pengrajin dari Cirebon dan Tangerang, mengaku bahwa setiap pembelajaran yang Ia dapatkan di UPH masih terus ia pakai.

Pembelajaran seperti skill tangan, teknik menggambar, proses rendering, mengakses desain ke komputer, hingga proses pembuatan produk dan kerjasama dengan pengrajin merupakan proses yang saling berkesinambungan satu sama lain dan tidak bisa lepas dari dunia desain. Tentunya semua ini diusahakan dengan bahan ramah lingkungan. Bagi Agnesia, merancang produk dengan kualitas baik tidak harus merusak lingkungan. Proses ini juga yang membuatnya tekun dalam menjalankan karirnya. Bagi Agnesia, ini bukan semata-mata hanya untuk meraih keuntungan namun bagaimana mengembalikannya untuk kemuliaan Tuhan.

Inilah salah satu nilai yang selalu ditekankan di UPH yang masih terus Ia pegang sampai saat ini. Agnesia percaya, segala sesuatu yang dilakukan untuk kemuliaan Tuhan akan memberi hasil yang baik pula.

“Di UPH ini aku selalu diajarkan untuk selalu bersyukur pada Tuhan Yesus dalam setiap proses yang dialami baik di dalam maupun di luar kelas. Karena itu, aku selalu berpikir apakah yang aku lakukan ini terbaik untuk kemuliaan nama Tuhan? Bagaimana dampaknya pada perkembangan diri aku? Aku percaya kalo memang ini hal yang baik Tuhan percayakan, kedepannya pasti dapat berjalan dengan lancar,” tutur Agnesia.

Jam(u)an, Bisnis Kuliner Kekinian yang Berdampak Untuk Anak Indonesia Sociopreneur atau Wirausaha Sosial sekarang ini menjadi tren dikalangan milenial. Mendirikan bisnis tidak hanya soal keuntungan tetapi juga bagaimana dampak dan kontribusinya terhadap masyarakat.

Thea Magdalena merupakan salah satu millennial perempuan yang menjadi penggagas wirausaha sosial bagi anak-anak. Mottonya ialah “A business should not only be profitable but also positively impactful for all stakeholders.” Thea, yang merupakan alumni Manajemen UPH 2008, berkeyakinan kuat bahwa nasib bangsa berkaitan erat dengan kualitas generasi muda.

Setiap anak berhak memiliki impian dan kesempatan untuk mengejar impian tersebut. Untuk dapat mencapai apa yang di cita-citakan, setiap anak harus sehat secara tubuh dan jiwa. Keyakinan tersebut yang menjadi ide dibalik bisnis kuliner yang saat ini Ia kembangkan. Melalui pembelian bowl Jam(u)an, Thea ingin mengajak setiap konsumennya untuk bisa menjadi dampak bagi anak Indoneisa dengan berpartisipasi membantu angka perbaikan gizi di tempat-tempat yang saat ini masih memiliki angka kecukupan gizi rendah ( malnutrisi) khususnya desa-desa di Flores NTT bersama sociopreneur Duanyam.

“Jadi kalo membeli menu Jam(u)an, bukan hanya sekedar makan enak dan kenyang tapi ajak pembeli untuk turut beramal. Kita salurkan sebagian pendapatan dari setiap bowl yang dijual untuk membantu anak-anak malnutrisi di Indonesia,” ungkap Thea. Sekilas tentang Jam(u)an, ada cerita yang ingin disampaikan oleh Thea melalui gambar yang terlukis di setiap bowl. Thea mengungkapkan cerita tentang masa kecilnya dalam produknya, yaitu mengenai hati seorang keturunan Jawa-Manado yang ingin membawa dampak bagi Indonesia.

Thea percaya setiap usaha harus berdampak positif tidak hanya bagi perusahaan itu sendiri namun juga untuk orang lain, khususnya tempat Ia berada, Indonesia. Jam(u)an : Jawa Manado, karena Thea keturunan Jawa Manado. (u) : hashtag/ campaign purpose #jamuanuntukindonesia Selain Jam(u)an, Thea juga mengembangkan beberapa bisnis lainnya yakni Kana Catering, Kana Petite, dan Althea Memoirs.

Baginya, prinsip berbisnis sama halnya dengan kehidupan, seperti berlari marathon. Lakukan hal-hal yang akan berdampak baik kepada sustainability perusahaan dan endurance kita dengan integritas, keadilan, kerja keras dan keikhlasan untuk hal-hal yang diluar kuasa / otoritas kita. Diakui Thea, kuliah di UPH merupakan bagian positif yang besar dalam kehidupannya. Tidak hanya kuliah, dulu Thea juga aktif sebagai student athlete basket di kampus.

Thea belajar banyak hal termasuk bagaimana untuk hidup disiplin, taat kepada otoritas, dan seimbang dalam bertanggung jawab kepada Tuhan, tugas kuliah, dan team. Thea juga belajar bahwa apapun yang kita lakukan, baik belajar, berlatih ataupun bertanding basket, bertujuan untuk menjadikan kita sebagai pribadi yang lebih baik, bukan untuk earthly achievement, tetapi lebih kepada divine purpose of life. “Karakter saya terbangun dengan signifikan saat saya menjadi student athlete UPH, dan hal ini yang menjadi bekal buat saya ketika masuk ke dunia karier dan bisnis.

Saya sangat bersyukur bahwa saya memiliki musim hidup itu,” tutup Thea. Naskah UUD 1945, diterbitkan pada tahun 1946. Ikhtisar Yurisdiksi Indonesia Penyusunan 1 Juni – 18 Agustus 1945 Penyampaian 18 Agustus 1945 Tanggal berlaku 18 Agustus 1945 Sistem Kesatuan republik Struktur pemerintahan Cabang 3 Kepala negara Presiden Lembaga legislatif Bikameral ( MPR, terdiri dari DPR dan DPD) Lembaga eksekutif Presiden, dibantu oleh menteri kabinet Lembaga kehakiman MA, MK, dan KY Lembaga lain BPK Federalisme Kesatuan Kolese elektoral Tidak ada Pembatasan amendemen 1 Sejarah Pembentukan badan legislatif 29 Agustus 1945 ( KNIP) 15 Februari 1950 (DPR) Pembentukan badan eksekutif 18 Agustus 1945 Pembentukan badan peradilan 18 Agustus 1945 Amendemen 4 Amendemen terakhir 11 Agustus 2002 Referensi UUD 1945 Asli (PDF) UUD 1945 Satu Naskah (PDF) Lokasi dokumen Arsip Nasional, Jakarta Penetap PPKI Perumus BPUPK Jenis media Dokumen teks tercetak Naskah lengkap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 di Wikisource • l • b • s Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (disingkat UUD 1945; terkadang juga disingkat UUD '45, UUD RI 1945, atau UUD NRI 1945) adalah konstitusi dan sumber hukum tertinggi yang berlaku di Republik Indonesia.

UUD 1945 menjadi perwujudan dari dasar negara ( ideologi) Indonesia, yaitu Pancasila, yang disebutkan secara gamblang dalam Pembukaan UUD 1945. Perumusan UUD 1945 dimulai dengan kelahiran dasar negara Pancasila pada tanggal 1 Juni 1945 dalam sidang pertama BPUPK. Perumusan UUD yang rill sendiri mulai dilakukan pada tanggal 10 Juli 1945 dengan dimulainya sidang kedua BPUPK untuk menyusun konstitusi. UUD 1945 diberlakukan secara resmi sebagai konstitusi negara Indonesia oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945.

Pemberlakuannya sempat dihentikan selama 9 tahun dengan berlakunya Konstitusi RIS dan UUDS 1950. UUD 1945 kembali berlaku sebagai konstitusi negara melalui Dekret Presiden yang dikeluarkan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 5 Juli 1959.

Setelah memasuki masa reformasi, UUD 1945 mengalami empat kali perubahan (amendemen) dari tahun 1999–2002. UUD 1945 memiliki otoritas hukum tertinggi dalam sistem pemerintahan negara Indonesia, sehingga seluruh lembaga negara di Indonesia harus tunduk pada UUD 1945 dan penyelenggaraan negara harus mengikuti ketentuan UUD 1945. Selain itu, setiap peraturan perundang-undangan di Indonesia tidak boleh bertentangan dengan UUD 1945. Mahkamah Konstitusi berwenang melakukan pengujian atas undang-undang, sementara Mahkamah Agung atas peraturan di bawah undang-undang, yang bertentangan dengan ketentuan UUD 1945.

[1] Wewenang untuk melakukan pengubahan terhadap UUD 1945 dimiliki Majelis Permusyawaratan Rakyat, seperti yang telah dilakukan oleh lembaga ini sebanyak empat kali. Ketentuan mengenai perubahan UUD 1945 diatur dalam Pasal 37 UUD 1945. Daftar isi • 1 Struktur • 1.1 Pembukaan • 1.2 Batang Tubuh • 1.2.1 Bab I: Bentuk dan Kedaulatan • 1.2.2 Bab II: Majelis Permusyawaratan Rakyat • 1.2.3 Bab III: Kekuasaan Pemerintahan Negara • 1.2.4 Bab IV: Dewan Pertimbangan Agung • 1.2.5 Bab V: Kementerian Negara • 1.2.6 Bab VI: Pemerintahan Daerah • 1.2.7 Bab VII: Dewan Perwakilan Rakyat • 1.2.8 Bab VIIA: Dewan Perwakilan Daerah • 1.2.9 Bab VIIB: Pemilihan Umum • 1.2.10 Bab VIII: Hal Keuangan • 1.2.11 Bab VIIIA: Badan Pemeriksa Keuangan • 1.2.12 Bab IX: Kekuasaan Kehakiman • 1.2.13 Bab IXA: Wilayah Negara • 1.2.14 Bab X: Warga Negara dan Penduduk • 1.2.15 Bab XA: Hak Asasi Manusia • 1.2.16 Bab XI: Agama • 1.2.17 Bab XII: Pertahanan dan Keamanan Negara • 1.2.18 Bab XIII: Pendidikan dan Kebudayaan • 1.2.19 Bab XIV: Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial • 1.2.20 Bab XV: Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan • 1.2.21 Bab XVI: Perubahan Undang-Undang Dasar • 1.2.22 Aturan Peralihan • 1.2.23 Aturan Tambahan • 2 Sejarah • 2.1 Perumusan • 2.2 Pengesahan dan pemberlakuan • 2.3 Penangguhan • 2.4 Pemberlakuan kembali dan penyimpangan • 2.4.1 Masa Demokrasi Terpimpin • 2.4.2 Masa Orde Baru • 2.5 Proses perubahan • 3 Perubahan • 3.1 Latar belakang • 3.2 Asal dan tujuan • 3.3 Ketentuan perubahan • 3.4 Daftar • 3.4.1 Perubahan pertama • 3.4.2 Perubahan kedua • 3.4.3 Perubahan ketiga • 3.4.4 Perubahan keempat • 4 Catatan • 5 Referensi • 5.1 Daftar pustaka • 6 Pranala luar Struktur UUD 1945 telah mengalami perubahan struktur yang signifikan semenjak UUD 1945 diamendemen sebanyak empat kali.

Bahkan, diperkirakan hanya 11% dari keseluruhan isi UUD yang tetap sama seperti sebelum adanya perubahan UUD. Sebelum diamendemen, UUD 1945 terdiri atas: [2] • Pembukaan, yang terdiri dari empat alinea.

• Batang Tubuh, yang terdiri dari: • 16 bab, 37 pasal, atau 65 ayat aturan utama. • 4 pasal aturan peralihan. • 2 ayat aturan pertambahan. • Penjelasan, yang terdiri dari penjelasan umum dan penjelasan pasal demi pasal. Setelah diamendemen, UUD 1945 saat ini (menurut Pasal II Aturan Tambahan UUD 1945) terdiri atas: [2] • Pembukaan, yang terdiri dari empat alinea. • Pasal-Pasal, yang terdiri dari: • 21 bab, 73 pasal, atau 194 ayat aturan utama.

• 3 pasal aturan peralihan. • 2 pasal aturan tambahan. Meskipun bagian " Penjelasan UUD 1945" tidak disebutkan secara formal dari UUD 1945 setelah perubahan keempat, isi-isi dari bagian Penjelasan telah diintegrasikan secara materiel ke dalam Batang Tubuh dan masih menjadi bagian tidak terpisahkan dari UUD 1945. [3] Berikut ini merupakan struktur UUD 1945 dalam satu naskah (setelah amendemen keempat). Pembukaan Pembukaan UUD 1945 merupakan bagian pendahuluan dari UUD 1945 yang berupa teks empat alinea.

Setiap alinea dalam Pembukaan mempunyai makna yang berbeda-beda, yaitu: [4] • Alinea I bermakna bahwa bangsa Indonesia anti penjajahan, karena penjajahan tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Kemudian, bangsa Indonesia juga mengakui bahwa setiap bangsa berhak untuk merdeka. oleh karena itu bangsa Indonesia mendukung perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa di dunia. • Alinea II menggambarkan cita-cita luhur bangsa Indonesia yaitu ingin mewujudkan perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. • Alinea III berisi pernyataan kemerdekaan Indonesia, dan juga pengakuan bangsa Indonesia bahwa kemerdekaan yang dicapai adalah berkat rahmat Tuhan dan bukan semata-mata hasil perjuangan bangsa Indonesia sendiri.

• Alinea IV memuat tujuan dibentuknya pemerintahan dan negara Republik Indonesia, serta memuat dasar negara Pancasila.

Batang Tubuh Batang Tubuh UUD 1945 merupakan bagian isi dari UUD 1945 yang berupa pasal-pasal dan ayat-ayat. Batang Tubuh terdiri dari 16 bab, yang terdiri dari 37 pasal atau 194 ayat.

Materi muatan Batang Tubuh ini berisi garis-garis besar berupa identitas negara, lembaga tinggi negara, warga perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan, sosial ekonomi, hak asasi manusia, demografi, dan aturan perubahan UUD. Bab I: Bentuk dan Kedaulatan Bab I terdiri dari satu pasal atau 3 ayat. Bab I (yang hanya terdiri dari Pasal 1) menyatakan bentuk negara Indonesia sebagai negara kesatuan republik, kedaulatan negara berada di tangan rakyat, dan sistem negara Indonesia sebagai negara hukum.

Bab II: Majelis Permusyawaratan Rakyat Lambang MPR-RI Bab II terdiri dari dua pasal atau 5 ayat. Bab II mengatur hal-hal mengenai lembaga Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR-RI atau MPR). Isi Bab II berdasarkan pasal-pasal, yaitu: • Pasal 2: susunan, sidang, dan putusan MPR.

• Pasal 3: wewenang MPR. Bab III: Kekuasaan Pemerintahan Negara Lambang Presiden dan Wakil Presiden RI Bab III terdiri dari 17 pasal atau 38 ayat, sehingga menjadi bab dengan jumlah pasal dan ayat terbanyak di dalam UUD ini. Bab III mengatur hal-hal yang menyangkut Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Isi Bab III berdasarkan pasal-pasal, yaitu: • Pasal 4: Presiden sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan negara, dengan dibantu oleh Wakil Presiden.

• Pasal 5: wewenang Presiden mengenai peraturan perundang-undangan. • Pasal 6: syarat calon Presiden dan Wakil Presiden. • Pasal 6A: tata cara pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. • Pasal 7: periode jabatan Presiden dan Wakil Presiden. • Pasal 7A: alasan pemakzulan Presiden dan/atau Wakil Presiden. • Pasal 7B: tata cara pemakzulan Presiden dan/atau Wakil Presiden. • Pasal 7C: Presiden yang tidak dapat membekukan dan/atau membubarkan DPR.

• Pasal 8: prosedur bila terjadi kekosongan jabatan Presiden dan/atau Wakil Presiden. • Pasal 9: sumpah atau janji Presiden dan Wakil Presiden dalam pelantikan. • Pasal 10: kekuasaan tertinggi kemiliteran di tangan Presiden. • Pasal 11: hubungan internasional yang dibuat Presiden Indonesia. • Pasal 12: wewenang Presiden dalam menyatakan keadaan bahaya • Pasal 13: pengangkatan dan penerimaan duta dan konsul oleh Presiden.

• Pasal 14: pemberian grasi, rehabilitasi, amnesti, dan abolisi oleh Presiden. • Pasal 15: pemberian gelar, tanda jasa, dan tanda kehormatan lain oleh Presiden. • Pasal 16: pembentukan dewan pertimbangan. Bab IV: Dewan Pertimbangan Agung Setelah amendemen keempat, isi Bab IV dihapuskan. Dengan kata lain, keberadaan Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dihapuskan dari struktur Pemerintahan Indonesia. Peran DPA digantikan oleh suatu dewan pertimbangan seperti yang disebutkan dalam Bab III Pasal 16 UUD 1945.

Bab V: Kementerian Negara Bab V terdiri dari satu pasal atau 4 ayat. Bab V (yang hanya terdiri dari Pasal 17) mengatur hal-hal mengenai lembaga-lembaga Kementerian Negara. Bab VI: Pemerintahan Daerah Bab VI terdiri dari tiga pasal atau 4 ayat.

Bab VI mengatur hal-hal mengenai pemerintahan daerah di Indonesia, khususnya pemerintahan daerah provinsi, kabupaten, dan kota. Isi Bab VI berdasarkan pasal-pasal, yaitu: • Pasal 18: ciri-ciri wilayah admistratif di Indonesia beserta pemerintahan daerahnya.

• Pasal 18A: hubungan pemerintah pusat dan pemerintahan daerah. • Pasal 18B: satuan pememerintahan daerah khusus dan kesatuan masyarakat hukum adat. Bab VII: Dewan Perwakilan Rakyat Lambang DPR-RI Bab VII terdiri dari 7 pasal atau 18 ayat. Bab VI mengatur hal-hal utama mengenai lembaga Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI atau DPR) dan pembentukan undang-undang (UU). Isi Bab VII berdasarkan pasal-pasal, yaitu: • Pasal 19: pemilihan anggota, susunan, dan sidang DPR.

• Pasal 20: wewenang DPR dalam membuat UU. • Pasal 20A: fungsi, hak, dan hak anggota DPR. • Pasal 21: pengajuan UU oleh DPR. • Pasal 22: peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perpu). • Pasal 22A: tata cara pembentukan UU.

• Pasal 22B: pemberhentian anggota DPR. Bab VIIA: Dewan Perwakilan Daerah Lambang DPD-RI Bab VIIA terdiri dari dua pasal atau 8 ayat. Bab VIIA mengatur hal-hal mengenai lembaga Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI atau DPD). Isi Bab VIIA berdasarkan pasal-pasal, yaitu: • Pasal 22C: pemilihan anggota, susunan, dan sidang DPD. • Pasal 22D: wewenang dan pemberhentian anggota DPD. Bab VIIB: Pemilihan Umum Bab VIIB terdiri dari satu pasal atau 6 ayat. Bab VIIB (yang hanya terdiri dari Pasal 22E) mengatur pelaksanaan pemilihan umum di Perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan.

Bab VIII: Hal Keuangan Bab VIII terdiri dari 5 pasal atau 7 ayat. Bab VIII mengatur hal-hal yang berhubungan dengan keuangan negara. Isi Bab VIII berdasarkan pasal-pasal, yaitu: • Pasal 23: anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). • Pasal 23A: pajak dan pungutan lain.

• Pasal 23B: mata uang. • Pasal 23C: hal-hal keuangan negara lainnya. • Pasal 23D: bank sentral. Bab VIIIA: Badan Pemeriksa Keuangan Lambang BPK-RI Bab VIIIA terdiri dari tiga pasal atau 7 ayat. Bab VIIIA mengatur hal-hal mengenai lembaga Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI atau BPK).

Isi Bab VIIIA berdasarkan pasal-pasal, yaitu: • Pasal 23E: tugas BPK. • Pasal 23F: susunan BPK. • Pasal 23G: kedudukan BPK. Bab IX: Kekuasaan Kehakiman Lambang MA-RI, MK-RI, dan MK-RI. Lembaga MK-RI menggunakan lambang Garuda Pancasila tanpa embel-embel (atau terkadang disertai nama lembaga di bawahnya). Bab IX terdiri dari 5 pasal atau 19 ayat. Bab IX mengatur segala hal mengenai lembaga dan kekuasaan kehakiman di Indonesia.

Isi Bab IX berdasarkan pasal-pasal, yaitu: • Pasal 24: garis besar kekuasaan kehakiman di Indonesia. • Pasal 24A: Mahkamah Agung Republik Indonesia (MA-RI atau MA). • Pasal 24B: Komisi Yudisial Republik Indonesia (KY-RI atau KY). • Pasal 24C: Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (MK-RI atau MK). • Pasal 25: syarat-syarat menjadi hakim.

Bab IXA: Wilayah Negara Bab IXA terdiri dari satu pasal atau satu ayat. Bab IXA (yang hanya terdiri dari Pasal 25A) mengatur wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bab X: Warga Negara dan Penduduk Bab X terdiri dari tiga pasal atau 7 ayat. Bab X mengatur pengertian, hak, dan kewajiban dari warga negara dan penduduk Indonesia.

Isi Bab X berdasarkan pasal-pasal, yaitu: • Pasal 26: pengertian warga negara dan penduduk. • Pasal 27: hak dan kewajiban utama sebagai warga negara. • Pasal 28: kebebasan berserikat dan berpendapat. Bab XA: Hak Asasi Manusia Bab XA terdiri dari 10 pasal atau 26 ayat. Bab XA memuat segala hak asasi manusia (HAM) yang dijamin oleh UUD ini. Isi Bab XA berdasarkan pasal-pasal, yaitu: • Pasal 28A: hak hidup dan mempertahankan hidup • Pasal 28B: hak berkeluarga dan hak anak • Pasal 28C: hak mengembangkan diri, hak memanfaatkan pendidikan dan budaya, serta hak memajukan diri untuk memperjuangkan hak kelompoknya.

• Pasal 28D: hak keadilan dalam hukum, pekerjaan, dan pemerintahan, serta hak kewarganegaraan. • Pasal 28E: hak kebebasan memeluk agama atau meyakini kepercayaan, serta hak berserikat dan berpendapat. • Pasal 28F: hak berkomunikasi dan bertukar informasi.

• Pasal 28G: hak perlindungan individu dan kelompok, hak bebas dari perbudakan, dan hak mencari suaka. • Pasal 28H: hak hidup sejahtera, hak mendapat keadilan dan persamaan hak, hak jaminan sosial, serta hak milik pribadi. • Pasal 28I: HAM yang tidak dapat dikurangi, hak bebas dari diskriminasi, identitas budaya dan hak masyarakat tradisional, serta peran negara atas HAM.

• Pasal 28J: kewajiban menghormati HAM orang lain dan pembatasan HAM dalam kasus khusus oleh UU. Bab XI: Agama Bab XI terdiri dari satu pasal atau dua ayat.

Bab XI (yang hanya terdiri dari Pasal 29) menyatakan bahwa negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa dan mengatur jaminan kebebasan beragama dan beribadat sesuai agamanya. Bab XII: Pertahanan dan Keamanan Negara Lambang Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia Bab XII terdiri dari satu pasal dan 5 ayat.

Bab XII (yang hanya terdiri dari Pasal 30) mengatur sistem pertahanan dan keamanan negara, terutama mengenai satuan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), serta keterlibatan warga negara dalam usaha pertahanan dan keamanan negara.

Bab XIII: Pendidikan dan Kebudayaan Bab Perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan terdiri dari dua pasal dan 7 ayat. Bab XIII mengatur pendidikan nasional untuk warga negara dan kemajuan kebudayaan nasional. Isi Bab XIII berdasarkan pasal-pasal, yaitu: • Pasal 31: jaminan untuk warga negara memperoleh pendidikan dan kewajiban mengenyam pendidikan, serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). • Pasal 32: pengembangan nilai dan kekayaan budaya nasional.

Bab XIV: Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial Bab XIV terdiri dari dua pasal dan 9 ayat. Bab XIV mengatur garis-garis besar perekonomian nasional dan program kesejahteraan sosial.

Isi Bab XIV berdasarkan pasal-pasal, yaitu: • Pasal 33: mekanisme perekonomian nasional dan pengelolaan sumber daya vital dalam negeri. • Pasal 34: pemeliharaan orang miskin dan anak terlantar, serta pengadaan jaminan sosial, fasilitas kesehatan, dan fasilitas umum.

Bab XV: Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan Bendera Sang Merah Putih dan Garuda Pancasila Bab XIV terdiri dari 5 pasal dan 5 ayat. Bab XV memberi penjelasan atas beberapa identitas negara Indonesia.

Isi Bab XV berdasarkan pasal-pasal, yaitu: • Pasal 35: bendera negara Indonesia sebagai Sang Merah Putih. • Pasal 36: bahasa nasional Indonesia sebagai bahasa Indonesia.

• Pasal 36A: lambang negara Indonesia sebagai Garuda Pancasila dan semboyan negara sebagai Bhinneka Tunggal Ika. • Pasal 36B: lagu kebangsaan Indonesia sebagai lagu Indonesia Raya. • Pasal 36C: ketentuan lebih lanjut atas identitas-identitas negara yang disebutkan di atas. Bab XVI: Perubahan Undang-Undang Dasar Bab Perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan terdiri dari satu pasal dan 5 ayat. Bab XVI mengatur ketentuan-ketentuan untuk mengubah UUD ini.

Aturan Peralihan Aturan-aturan peralihan memberikan ketentuan-ketentuan kepada pemerintah agar penyesuaian dengan perubahan-perubahan pada UUD 1945 dapat berjalan dengan mulus.

Aturan-aturan tersebut, yaitu: • Pasal I memberikan legitimasi terhadap undang-undang yang berlaku sebelum perubahan UUD agar tetap berlaku hingga undang-undang pengganti disahkan menurut UUD.

• Pasal II memberikan legitimasi terhadap lembaga-lembaga yang telah usang setelah perubahan UUD untuk tetap berfungsi sepanjang melaksanakan aturan baru dari perubahan UUD, hingga dibentuknya lembaga yang baru menurut UUD.

• Pasal III memberikan legitimasi terhadap MA agar menjalankan kewenangan-kewenangan MK sebelum lembaga tersebut dibentuk selambat-lambatnya pada tanggal 17 Agustus 2003. Aturan Tambahan Aturan-aturan tambahan memberikan ketentuan-ketentuan tambahan yang tidak perlu disisipkan pada aturan utama dan aturan peralihan.

Aturan-aturan tersebut, yakni: • Pasal I memberi tugas pada MPR untuk menyaring Ketetapan MPR dan MPRS sebelum sidang umum berikutnya (pada tahun 2003). • Pasal II menegaskan bahwa UUD 1945 terdiri dari Pembukaan dan pasal-pasal.

Sejarah Perumusan Piagam Jakarta sebagai cikal bakal Pembukaan UUD 1945 Penyusunan rancangan UUD 1945 dilakukan secara bertahap oleh Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK), yaitu badan yang dibentuk dengan izin Jepang pada tanggal 29 April 1945. [5] Sidang pertama BPUPK, yang dilaksanakan dari tanggal 28 Mei hingga 1 Juni tersebut, menghasilkan gagasan "dasar negara", dengan mengacu pada rumusan " Pancasila" yang digagas oleh Soekarno.

Selain itu, sidang ini juga menghasilkan kesepakatan untuk membentuk Panitia Sembilan yang akan membahas lebih jauh mengenai gagasan tersebut agar menghasilkan rumusan yang matang. [6] Satu setengah bulan kemudian, tepatnya pada tanggal 22 Juni 1945, Panitia Sembilan yang telah mengadakan sidang-sidang akhirnya merampungkan rumusan dasar negara tersebut dan menamakannya Piagam Jakarta.

Naskah piagam inilah yang menjadi naskah Pembukaan UUD 1945. Setelah itu, sidang kedua BPUPK yang berlangsung dari tanggal 10–17 Juli membahas perihal piagam tersebut dan komponen-komponen negara, seperti bentuk negara, bentuk dan susunan pemerintahan, kewarganegaraan, bendera dan bahasa nasional, dan sebagainya.

Setelah beberapa perdebatan mengenai Piagam Jakarta, akhirnya BPUPK merampungkan naskah rancangan Undang-Undang Dasar (UUD) yang terdiri dari Pembukaan UUD yang mengacu pada Piagam Jakarta dan Batang Tubuh UUD yang berisi komponen-komponen tersebut. [7] [8] Pengesahan dan pemberlakuan Sidang pertama PPKI (18 Agustus 1945) yang menghasilkan salah satunya pengesahan UUD 1945 sebagai konstitusi negara.

Setelah Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang merupakan kelanjutan dari BPUPK mengadakan sidang pertamanya pada tanggal 18 Agustus. Sidang tersebut kemudian menghasilkan, salah satunya, penetapan rancangan Pembukaan dan Batang Tubuh UUD yang dihasilkan BPUPK sebagai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang sah.

Namun sebelum itu, PPKI melakukan beberapa perubahan pada naskah UUD hasil rancangan BPUPK, terutama pada bagian-bagian yang dianggap lebih menonjolkan agama Islam. Perubahan-perubahan tersebut di antaranya: [9] [10] • Kata "Mukadimah" diganti dengan kata "Pembukaan".

• Pada salah satu frasa (yang merupakan sila pertama Pancasila) dalam alinea keempat yang berbunyi, ". dengan berdasar kepada Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.

." diubah menjadi ". dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. .". • Frasa "yang beragama Islam" dalam Pasal 6 Ayat (1) yang berbunyi "Presiden ialah orang Indonesia asli yang beragama Islam" dihapuskan.

• Beberapa kata dalam kalimat "Negara berdasar atas Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya" dalam Pasal 28 Ayat (1) diganti, sehingga menjadi Pasal 29 Ayat (1) yang berbunyi "Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa". • Penyisipan Pasal 28 yang berbunyi "Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang".

Dalam kurun waktu 1945–1950, UUD 1945 tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya karena Indonesia sedang disibukkan dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan pada masa Revolusi Nasional Indonesia.

Maklumat Wakil Presiden Nomor X pada tanggal 16 Oktober 1945 memutuskan bahwa kekuasaan legislatif diserahkan kepada KNIP, karena MPR dan DPR masih belum terbentuk. Pada tanggal 14 November setelahnya, Soekarno membentuk kabinet semiparlementer yang pertama (karena adanya jabatan Perdana Menteri di dalamnya), sehingga peristiwa ini merupakan peristiwa perubahan pertama dari sistem pemerintahan Indonesia yang seharusnya seperti yang disebutkan dalam UUD 1945.

Setelah Indonesia dan Belanda beberapa kali melakukan pertempuran dan perjanjian gencatan senjata, pada tanggal 23 Agustus hingga 2 November 1949, perwakilan Republik Indonesia, Belanda, dan Majelis Permusyawaratan Federal (BFO) bentukan Belanda melakukan pertemuan di di Den Haag (Belanda) yang disebut Konferensi Meja Bundar (KMB) untuk perjanjian damai terakhir kalinya dengan Belanda. KMB tersebut menghasilkan kesepakatan bahwa kedaulatan negara Indonesia akan diberikan kepada Republik Indonesia Serikat (RIS) dan diakui oleh Belanda.

RIS kemudian terbentuk pada tanggal 27 Desember 1949. Oleh karena hal ini, UUD 1945 dibatalkan secara otomatis setelah negara tersebut berdiri. Penangguhan Artikel utama: Konstitusi Republik Indonesia Serikat dan Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia Setelah Republik Indonesia Serikat (RIS) dibentuk dan Indonesia menjadi negara federasi, konstitusi yang digunakan di Indonesia juga secara otomatis berubah. [11] Sejak hari terbentuknya, RIS menggunakan Konstitusi Republik Indonesia Serikat (Konstitusi RIS).

Konstitusi RIS ini tidaklah bertahan lama dan akhirnya dicabut pada tanggal 15 Agustus 1950, [12] yang diikuti dengan pembubaran negara RIS dan kembalinya Indonesia menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus. Setelah peralihan tersebut, Indonesia memberlakukan Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia (UUDS 1950) yang merupakan modifikasi dari UUD RIS.

Oleh karena itu, UUDS 1950 mengenal sistem pemerintahan Indonesia sebagai sistem parlementer. Setelah beberapa tahun berlaku, Indonesia pada tahun 1955 melaksanakan pemilihan umum untuk pertama kalinya dalam dua tahap, yaitu pemilihan anggota DPR pada tanggal 29 September dan pemilihan anggota konstituante pada tanggal 15 Desember. [13] [14] Konstituante Republik Indonesia yang terdiri atas anggota-anggota terpilih pemilu tahap kedua tersebut bertugas mengadakan sidang-sidang untuk membahas dan merumuskan rancangan UUD yang baru menggantikan UUDS 1950.

Namun badan tersebut tidak dapat menghasilkan rancangan UUD baru dan bahkan sebagian besar anggotanya berencana untuk menarik diri dari sidang konstituante. Keadaan genting ini memaksa Soekarno mengeluarkan Dekret Presiden 5 Juli 1959 yang membubarkan badan Konstituante Republik Indonesia, memberlakukan kembali UUD 1945 dan membatalkan UUDS 1950, serta membentuk MPR dan DPA sementara secepatnya.

[15] [16] Pemberlakuan kembali dan penyimpangan Masa Demokrasi Terpimpin Prangko "Kembali ke UUD 1945" dengan nominal 50 sen, untuk merayakan pemberlakuan kembali UUD 1945 sebagai konstitusi negara.

Setelah pemerintah mengeluarkan Dekret Presiden 5 Juli 1959, UUD 1945 yang sempat tidak berlaku selama sembilan tahun akhirnya kembali berlaku sebagai konstitusi negara. [17] Akibat pemberlakuan ini, jabatan Perdana Menteri Indonesia dihapuskan dan sistem pemerintahan Indonesia kembali menganut sistem presidensial sesuai amanat UUD 1945. Pada masa Demokrasi Terpimpin, terdapat berbagai penyimpangan terhadap UUD 1945. Penyimpangan-penyimpangan tersebut di antaranya ialah: [18] [19] • Konsep Pancasila ditafsirkan sepihak oleh Soekarno.

• Konsep demokrasi terpimpin yang digagas oleh Presiden Soekarno yang menekankan bahwa semua keputusan kenegaraan berpusat pada presiden, padahal Pemerintah Indonesia tersebut berdasarkan sistem konstitusional dan bukan sistem absolutisme (Penjelasan UUD [a]), sementara UUD 1945 menyiratkan bahwa kekuasaan pemerintahan di Indonesia menganut asas pembagian kekuasaan. • Presiden Soekarno membentuk Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS), padahal Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) adalah kekuasaan negara tertinggi dan lebih tinggi daripada posisi presiden (Penjelasan UUD [a]), sehingga presiden tidak berhak untuk mengatur MPR.

• Presiden Soekarno membubarkan DPR hasil pemilu 1955 dan membentuk DPR Gotong Royong yang anggotanya ditunjuk sendiri oleh Soekarno, padahal presiden tidak berhak untuk membubarkan DPR (Penjelasan UUD [a]).

• Presiden Soekarno membentuk Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS), padahal Dewan Pertimbangan Agung (DPA) bertugas memberi pertimbangan atas usulan presiden dan berhak memberi usulan kepada pemerintah (Pasal 16 [a]) serta menjadi penasihat pemerintah (Penjelasan UUD [a]). Presiden tidak seharusnya mengatur badan yang mengawasi pemerintah seperti hal tersebut. • Perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan menetapkan Soekarno sebagai presiden seumur hidup.

Hal ini bertentangan dengan UUD 1945 yang menyatakan bahwa jabatan Presiden Indonesia hanya boleh dipegang selama lima tahun (Pasal 5 [a]), dan setelah itu harus dipilih kembali oleh MPR (Pasal 6 [a]). • Manipol USDEK yang dijadikan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) oleh Soekarno, padahal yang berhak menentukan GBHN adalah MPR (Pasal 3 [a]). • Konsep nasakom (nasionalis, agama, dan komunis) yang digagas oleh Presiden Soekarno perlahan-lahan menggeser kedudukan Pancasila dan UUD 1945.

Masa Orde Baru Pada masa Orde Baru, pemerintah menyatakan akan menjalankan UUD 1945 dan Pancasila secara murni dan konsekuen. [20] UUD 1945 juga menjadi konstitusi yang sangat "sakral", di antara melalui sejumlah peraturan, yaitu: • Ketetapan MPR Nomor I/MPR/1983 dan Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1983 yang di antaranya berisi perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan bahwa MPR berketetapan untuk mempertahankan UUD 1945 dan tidak berkehendak akan melakukan perubahan terhadapnya • Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1985 tentang Referendum, yang salah satunya menyatakan bahwa bila MPR berkehendak mengubah UUD 1945, terlebih dahulu harus minta pendapat rakyat melalui referendum.

Meskipun penyimpangan UUD 1945 secara eksplisit tidak tampak pada zaman Orde Baru, terdapat beberapa penyimpangan Pancasila sebagai dasar dari UUD 1945 yang dilakukan oleh pemerintahan Orde Baru. Penyimpangan-penyimpangan tersebut, yakni: [21] [22] • Konsep Pancasila masih ditafsirkan sepihak oleh Soeharto, dan terlebih lagi digunakan sebagai alat legitimasi politik untuk menguasai rakyat.

• Pemusatan kekuasaan pada presiden yang masih terjadi di tangan Soeharto, meskipun pemusatan tersebut lebih terstruktur. Soeharto hanya mempercayakan orang-orang terdekatnya untuk menguasai perusahaan besar negara. • Pemerintahan Soeharto yang melarang adanya kritikan-kritikan untuk pemerintah dengan alasan menganggu kestablilan negara, termasuk juga pers.

• Hak-hak politik dibatasi oleh pemerintah dengan mengurangi jumlah partai politik yang resmi menjadi tinggal tiga. Proses perubahan Sistem politik Indonesia sebelum dan setelah amendemen (dalam bahasa Inggris). Setelah pemerintahan Orde Baru jatuh dan masa reformasi dimulai, terdapat banyak tuntutan untuk melakukan pengubahan pada naskah UUD 1945.

Alasan adanya tuntutan perubahan UUD 1945 tersebut antara lain karena kenyataan bahwa kekuasaan tertinggi bukan di tangan rakyat tetapi di tangan MPR yang dikuasai pemerintah, kekuasaan yang terlalu besar pada presiden, banyaknya pasal-pasal yang menimbulkan multitafsir, serta kenyataan bahwa isi rumusan UUD 1945 yang mengatur penyelenggaraan negara yang belum cukup.

Latar belakang dari tuntutan tersebut dapat dilihat dari bukti bahwa banyaknya penyimpangan-penyimpangan UUD 1945 yang dapat terjadi di masa-masa sebelumnya. Oleh sebab itu, MPR mengadakan sidang-sidang umum yang menghasilkan perubahan (amendemen) UUD 1945 sebanyak empat kali. [23] [24] [25] • Perubahan pertama dilakukan pada Sidang Umum MPR 1999 yang berlangsung antara 14–21 Oktober 1999. • Perubahan kedua dilakukan pada Sidang Umum MPR 2000 yang berlangsung antara 7–18 Agustus 2000.

• Perubahan ketiga dilakukan pada Sidang Umum MPR 2001 yang berlangsung antara 1–9 November 2001. • Perubahan keempat dilakukan pada Sidang Umum MPR 2002 yang berlangsung antara 1–11 Agustus 2002. Setelah amendemen, dampak yang paling terasa adalah pembagian kekuasaan yang lebih setara dan seimbang, tidak perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan lagi lembaga pemerintahan tertinggi, sehingga lembaga pemerintahan yang diatur di dalam UUD 1945 menjadi lembaga tinggi negara yang masing-masing dapat saling mengawasi dan bekerja sama tetapi tidak boleh mengontrol satu sama lain.

Lembaga-lembaga tersebut juga memiliki wewenang, batasan, dan cara pengangkatan yang lebih jelas setelah amendemen, sehingga lembaga-lembaga tersebut dapat menjalankan peran yang semestinya. Selain itu, adanya hak-hak asasi manusia (HAM) yang diatur dalam UUD 1945 menjadikan HAM sebagai salah satu tujuan konstitusi.

[26] Perubahan Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan proses untuk mengubah salah satu atau beberapa pasal yang terdapat dalam Batang Tubuh UUD 1945. Perubahan UUD ini merupakan salah satu wewenang dari MPR-RI yang diatur dalam UUD 1945. Sepanjang sejarah, MPR telah melakukan empat kali pengubahan pada UUD 1945. Latar belakang Meskipun Soekarno sendiri sebagai Presiden Indonesia pertama mengeluarkan dekret presiden untuk memberlakukan kembali UUD 1945, beliau selalu menganggap bahwa UUD 1945 merupakan konstitusi yang tidak lengkap.

Namun semenjak Soeharto menjabat sebagai presiden pada tahun 1967, pemerintahan rezim Orde Baru selalu menolak menyetujui bentuk perubahan (amendemen) apa pun itu terhadap UUD 1945. Mereka menganggap bahwa UUD 1945 merupakan konstitusi yang bersifat final dan "kemurniannya" harus tetap dilindungi. [27] Pada tahun 1983, MPR, melalui Ketetapan MPR Nomor I/MPR/1983, menetapkan posisi untuk tidak melakukan pengubahan pada UUD 1945. Meskipun begitu, MPR juga mengatur ketentuan untuk mengubah UUD 1945 pada ketetapan MPR yang sama.

Namun, ketentuan tersebut menyebutkan syarat keharusan untuk mengadakan referendum yang telah disetujui oleh Presiden atas rancangan amendemen UUD yang telah diloloskan oleh MPR. [28] Terlebih lagi, UU No. 5 Tahun 1985 yang mengatur tentang referendum atas perubahan UUD 1945 menyatakan bahwa referendum tersebut harus mencapai partisipasi pemilih minimum sebesar 90% dan hasil suara dukungan minimum sebesar 90% agar proses amendemen dapat dilanjutkan dan perubahan UUD dapat disahkan.

[29] Peraturan-peraturan ini membuat pengubahan UUD 1945 semakin sulit dilakukan, dan selain itu juga dianggap bertentangan dengan Pasal 37 UUD 1945 yang tidak pernah menyebutkan tentang referendum.

Setelah kejatuhan rezim Soeharto pada tahun 1998, ketetapan MPR dan UU tersebut dihapuskan, sehingga membuka jalan yang lebih lebar untuk dilakukannya amendemen UUD 1945. Akhirnya pada tahun 1999–2002, UUD 1945 mengalami perubahan (amendemen) sebanyak empat kali yang seluruhnya diputuskan dalam sidang-sidang umum MPR.

Asal dan tujuan Berkaca dari penyimpangan-penyimpangan UUD 1945 yang terjadi pada masa Demokrasi Terpimpin dan Orde Baru, salah satu tuntutan demonstrasi penuntut reformasi adalah dilakukannya perubahan (amendemen) terhadap UUD 1945.

Alasan-alasan terbesar UUD 1945 diamendemen, yaitu karena pasal-pasal dalam UUD 1945 asli yang jumlahnya terlalu sedikit dan mudah menimbulkan multitafsir. Sementara itu, tujuan dari perubahan-perubahan UUD 1945 tersebut sebagian besar berupa penyempurnaan atas aturan-aturan dasar seperti tatanan negara, kedaulatan rakyat, hak asasi manusia, pembagian kekuasaan, eksistensi negara demokrasi dan negara hukum, serta hal-hal lain yang sesuai dengan perkembangan aspirasi dan kebutuhan bangsa.

Perubahan UUD 1945 dilakukan dengan beberapa syarat, di antaranya adalah Pembukaan UUD 1945 tidak boleh berubah, bentuk negara tetap dalam bentuk negara kesatuan, serta sistem pemerintahan tetap dalam bentuk sistem presidensial. Ketentuan perubahan Sebelum amendemen, ketentuan perubahan di dalam UUD 1945 hanya memberikan syarat bahwa anggota MPR yang hadir dalam sidang pengubahan UUD harus berjumlah dua pertiga (2/3) dari keseluruhan anggota dan putusan perubahan UUD hanya bisa dilakukan bila mendapat persetujuan dari 2/3 anggota MPR.

Setelah perubahan keempat, ketentuan perubahan UUD tersebut menjadi lebih mendetail. Suatu usulan perubahan dapat diagendakan dalam sidang MPR bila diajukan oleh sepertiga (1/3) dari keseluruhan anggota dan usulan tersebut harus dituliskan secara mendetail.

Dan sama seperti sebelum amendemen, anggota MPR yang hadir dalam sidang pengubahan UUD harus setidaknya 2/3 dari jumlah anggota.

Namun tidak seperti sebelumnya, putusan perubahan UUD hanya bisa dilakukan bila mendapat persetujuan dari 50% ditambah satu anggota dari keseluruhan jumlah anggota MPR. Selain itu, terdapat ayat pembatasan perubahan UUD ( entrenchment clause) yang menyatakan bahwa khusus bentuk " Negara Kesatuan Republik Indonesia" tidak dapat diubah.

Daftar Berikut ini merupakan daftar perubahan UUD yang telah disahkan sebagai bagian dari UUD 1945 yang utuh dan tidak terpisahkan. Perubahan pertama Wikisource memiliki naskah asli yang berkaitan dengan artikel ini: Artikel utama: Perubahan Pertama Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Perubahan Pertama Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 disahkan dalam Rapat Paripurna MPR ke-12 pada tanggal 19 Oktober 1999, yang merupakan rangkaian dari Sidang Umum (Tahunan) MPR Tahun 1999 yang berlangsung pada tanggal 14– 21 Oktober 1999.

Perubahan ini secara garis besar bertujuan untuk membuat kekuasaan legislatif dan eksekutif lebih seimbang dan sejajar, serta membatasi masa jabatan Presiden. [30] [31] Dalam perubahan pertama ini, MPR mengubah beberapa pasal, yaitu Pasal 5 Ayat (1), Pasal perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan, Pasal 9, Pasal 13 Ayat (2), Pasal 14, Pasal 15, Pasal 17 Ayat (2) dan (3), Pasal 20, dan Pasal 21.

Perubahan kedua Wikisource memiliki naskah asli yang berkaitan dengan artikel ini: Artikel utama: Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 disahkan dalam Rapat Paripurna MPR ke-9 pada tanggal 18 Agustus 2000, yang merupakan rangkaian dari Sidang Umum (Tahunan) MPR Tahun 2000 yang berlangsung pada tanggal 7–18 Agustus 2000.

Perubahan tersebut utamanya bertujuan melakukan penguatan otonomi daerah, penguatan peran legislatif, jaminan HAM dalam konstitusi, penguatan peran TNI dan Polri, dan penambahan identitas nasional.

[30] [31] Dalam perubahan kedua tersebut, MPR mengubah dan/atau menambahkan beberapa pasal dan bab, yaitu Pasal 18, Pasal 18A, Pasal 18B, Pasal 19, Pasal 20 Ayat (5), Pasal 20A, Pasal 22A, Pasal 22B, Bab IXA, Pasal 25E, [b] Bab X, Pasal 26 Ayat (2) dan Ayat (3), Pasal 27 Ayat (3), Bab XA, Pasal 28A, Pasal 28B, Pasal 28C, Pasal 28D, Pasal 28E, Pasal 28F, Pasal 28G, Pasal 28H, Pasal 28I, Pasal 28J, Bab XII, Pasal 30, Bab XV, Pasal 36A, Pasal 36B, dan Pasal 36C.

Perubahan ketiga Wikisource memiliki naskah asli yang berkaitan dengan artikel ini: Artikel utama: Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 disahkan dalam Rapat Paripurna MPR ke-7 pada tanggal 9 November 2001, yang merupakan rangkaian dari Sidang Umum (Tahunan) MPR Tahun 2001 yang berlangsung pada tanggal 1–9 November 2001.

Perubahan ini terutama memberi penguatan pada kekuasaan kehakiman ( yudikatif) agar sejajar dengan kekuasaan legislatif dan eksekutif, menambah DPD ke dalam susunan lembaga legislatif, memperbarui kelembagaan BPK, dan memperjelas mekanisme demokrasi dalam tata negara. [30] [31] Dalam perubahan ketiga ini, MPR mengubah dan/atau menambahkan beberapa pasal dan bab, yaitu Pasal 1 Ayat (2) dan (3); Pasal 3 Ayat (1), (3), [b] dan (4); [b] Pasal 6 Ayat (1), dan (2); Pasal 6A Ayat (1), (2), (3), dan (5); Pasal 7A; Pasal 7B Ayat (1), (2), (3), (4), (5), (6), dan (7); Pasal 7C; Pasal 8 Ayat (1) dan (2); Pasal 11 Ayat (2) dan (3); Pasal 17 Ayat (4); Bab VIIA, Pasal 22C Ayat (1), (2), (3), dan (4); Pasal 22D Ayat (1), (2), (3), dan (4); Bab VIIB, Pasal 22E Ayat (1), (2), (3), (4), (5), dan (6); Pasal 23 Ayat (1), (2), dan (3); Pasal 23A; Pasal 23C; Bab VIIIA, Pasal 23E Ayat (1), (2), dan (3); Pasal 23F Ayat (1) dan (2); Pasal 23G Ayat (1) dan (2); Pasal 24 Ayat (1) dan (2); Pasal 24A Ayat (1), (2), (3), (4), dan (5); Pasal 24B Ayat (1), (2), (3), dan (4); serta Pasal 24C Ayat (1), (2), (3), (4), (5), dan (6).

Perubahan keempat Wikisource memiliki naskah asli yang berkaitan dengan artikel ini: Artikel utama: Perubahan Keempat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Perubahan Keempat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan dalam Rapat Paripurna MPR ke-6 pada tanggal 10 Agustus 2002, yang merupakan rangkaian dari Sidang Umum (Tahunan) MPR Tahun 2002 yang berlangsung pada tanggal 1– 11 Agustus 2002.

Perubahan tersebut menitiberatkan pada penyempurnaan ayat-ayat atau pasal-pasal tunggal yang hilang serta penyempurnaan pasal-pasal di bidang pendidikan, kebudayaan, perekonomian, keuangan, dan kesejahteraan sosial. [30] perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan Dalam perubahan keempat ini, MPR menetapkan beberapa hal, antara lain sebagai berikut.

• Pernyataan MPR mengenai naskah UUD 1945. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagaimana telah diubah dengan perubahan pertama, kedua, ketiga dan perubahan keempat ini adalah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945 dan diberlakukan kembali dengan Dekret Presiden pada tanggal perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan Juli 1959 serta dikukuhkan secara aklamasi pada tanggal 22 Juli 1959 oleh Dewan Perwakilan Rakyat.

• Penambahkan pernyataan penutup pada naskah perubahan kedua (sebelum kolom-kolom tanda tangan) yang hilang. • Perubahan penomoran pada Pasal 3 Ayat (3) dan (4) dalam perubahan ketiga menjadi Pasal 3 Ayat (2) dan (3), serta Pasal 25E menjadi Pasal 25A.

• Penghapusan Bab IV dan pemindahan Pasal 16 ke Bab III. • Pengubahan dan/atau penambahan Pasal 2 Ayat (1); Pasal 6A Ayat (4); Pasal 8 Ayat (3); Pasal 11 Ayat (1); Pasal 16; Pasal 23B; Pasal 23D; Pasal 24 Ayat (3); Bab XIII, Pasal 31 Ayat (1), (2), (3), (4), dan (5); Pasal 23 Ayat (1) dan (2); Bab XIV, Pasal 33 Ayat (4) dan (5); Pasal 34 Ayat (1), (2), (3), dan (4); Pasal 37 Ayat (1), (2), (3), (4), dan (5); Aturan Peralihan Pasal I, II, dan III; serta Aturan Tambahan Pasal I dan II.

Catatan • ^ "Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan". Pasal 9, Undang-Undang No. 12 Tahun 2011. • ^ a b Maarif, Syamsul Dwi (2021-09-27). "Sistematika UUD 1945 Sebelum dan Sesudah Amandemen".

Tirto.id. Diakses tanggal 2022-01-28. • ^ Asshiddiqie, Jimly. "Status Keberlakuan Penjelasan UUD 1945". Hukumonline.com. Diakses tanggal 2022-01-28. • ^ Lisfianti, Widya (2021-09-13). "Pembukaan UUD 1945: Sifat, Makna Tiap Alinea dan Pokok Pikiran Pancasila".

Tribunnews.com. Diakses tanggal 2022-01-28. • ^ Ricklefs 2005, hlm. 424. • ^ Adryamarthanino, Verelladevanka (2021-12-07). "Sidang Pertama BPUPKI: Tokoh, Kapan, Tujuan, Proses, dan Hasil".

Kompas.com. Diakses tanggal 2022-01-25. • ^ Adryamarthanino, Verelladevanka (2021-12-08). "Sidang Kedua BPUPKI: Kapan, Tujuan, Agenda, dan Hasil". Kompas.com. Diakses tanggal 2022-01-25.

• ^ Raditya, Iswara N. (2021-08-12). "Sejarah Hasil Sidang BPUPKI Kedua: Tanggal, Tujuan, Agenda, Anggota". Tirto.id. Diakses tanggal 2022-01-26. • ^ "Perubahan Naskah Piagam Jakarta dan Rancangan UUD oleh PPKI". Kumparan. 2021-11-24. Diakses tanggal 2022-01-27. • ^ Ardanareswari, Indira (2019-08-18). "Sidang Pertama PPKI dan Detik-Detik Pengesahan Undang Undang Dasar". Tirto.id. Diakses tanggal 2022-01-27. • ^ Ricklefs 2005, hlm.

466-468. • ^ "Perubahan Konstitusi Sementara Republik Indonesia Serikat menjadi Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia". Undang-Undang RIS No.

7 Tahun 1950. • ^ "Pemilu Pertama tahun 1955". Museum Kepresidenan Balai Kirti. 2020-09-29. Diakses tanggal 2022-01-26. • ^ Gischa, Serafica (2020-02-06). "Sejarah Pemilu 1955 di Indonesia".

Kompas.com. Diakses tanggal 2022-01-26. • ^ Adryamarthanino, Verelladevanka (2021-11-01). "Latar Belakang Dekrit Presiden 5 Juli 1959". Kompas.com. Diakses tanggal 2022-01-26. • ^ Raditya, Iswara N. (2022-01-05). "Isi Dekrit Presiden 5 Juli 1959: Sejarah, Alasan, Tujuan, perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan Dampak". Perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan. Diakses tanggal 2022-01-26.

• ^ Ricklefs 2005, hlm. 522-526. • ^ Wulandari, Trisna (2021-08-19). "Periode 1959 sampai 1966, Periode Demokrasi Terpimpin dan Penyimpangannya". Detikedu. Diakses tanggal 2022-01-27. • ^ Heryansyah, Tedy Rizkha (2021-07-05).

"7 Penyimpangan Demokrasi Terpimpin terhadap Pancasila dan UUD 1945: Sejarah Kelas 9". Ruang Guru. Diakses tanggal 2022-01-27. • ^ Ricklefs 2005, hlm. 593-623. • ^ Welianto, Ari (2021-12-17). "Penyimpangan terhadap Pancasila pada Masa Orde Baru". Kompas.com. Diakses tanggal 2022-01-27. • ^ Retno, Devita (2019-07-05). "8 Penyimpangan Pada Masa Orde Baru dalam Bidang Politik". Sejarah Lengkap.

Diakses tanggal 2022-01-27. • ^ Affifah, Farrah Putri (2021-09-14). "Amandemen UUD 1945: Pengertian, Latar Belakang, Tujuan, dan Hasil-hasilnya". Tribunnews.com. Diakses tanggal 2022-01-27. • ^ Raditya, Iswara N. (2020-12-01).

"Amandemen UUD 1945 Dilakukan 4 Kali, Sejarah, & Perubahan Pasal". Tirto.id. Diakses tanggal 2022-01-27. • ^ Rizal, Jawahir Gustav (2021-09-14). "Sejarah Amendemen UUD 1945 dari Masa ke Masa Halaman all". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2022-01-27. • ^ Prakoso, Juniarto (2020-12-29).

"Dampak Amandemen UUD 1945 Terhadap Masyarakat". Kumparan. Diakses tanggal 2022-01-27. • ^ Adnan Buyung Nasution (2001) • ^ "Peraturaan Tata Tertib Majelis Permusyawaratan Rakyat". Ketetapan MPR No. I/MPR/1983. • ^ "Referendum". Undang-Undang No. 5 Tahun 1985. • ^ a b c d Rizal, Jawahir Gustav (2021-09-14). "Sejarah Amendemen UUD 1945 dari Masa ke Masa". Kompas.com. Diakses tanggal 2022-01-30.

• ^ a b c d Welianto, Ari (2020-02-06). "Amandemen UUD 1945: Tujuan dan Perubahannya". Kompas.com. Diakses tanggal 2022-01-30. Daftar pustaka • Ricklefs, Merle Calvin (2005). Syawie, Husni; Ricklefs, Merle Calvin, ed. A History of Modern Indonesia since c.

1200 Third Edition [ Sejarah Indonesia Modern 1200-2004]. Diterjemahkan oleh Wahono, Satrio; Bilfagih, Bakar; Huda, Hasan; Helmi, Miftah; Sutrisno, Joko; Manadi, Has. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta. ISBN 9789791600125. OCLC 192076429. • Ricklefs, Merle Calvin (2008). A History of Modern Indonesia since c. 1200 (E-Book version) (edisi ke-4). New York: Palgrave Macmillan. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • Asshiddiqie, Jimly (2003).

Konsolidasi Naskah UUD 1945. Jakarta: Yarsif Watampone. • Adnan Buyung Nasution (2001) The Transition to Democracy: Lessons from the Tragedy of Konstituante in Crafting Indonesian Democracy, Mizan Media Utama, Jakarta, ISBN 979-433-287-9 • Dahlan Thaib, Dr.

H, (1999), Teori Hukum dan Konstitusi ( Legal and Constitutional Theory), Rajawali Press, Jakarta, ISBN 979-421-674-7 • Denny Indrayana (2008) Indonesian Constitutional Reform 1999-2002: An Evaluation of Constitution-Making in Transition, Kompas Book Publishing, Jakarta ISBN 978-979-709-394-5.

• Jimly Asshiddiqie (2005), Konstitusi dan Konstitutionalisme Indonesia (Indonesia Constitution and Constitutionalism), MKRI, Jakarta. • Jimly Asshiddiqie (1994), Gagasan Kedaulatan Rakyat dalam Konstitusi dan Pelaksanaannya di Indonesia (The Idea of People's Sovereignty in the Constitution), Ichtiar Baru - van Hoeve, Jakarta, ISBN 979-8276-69-8.

• Jimly Asshiddiqie (2009), The Constitutional Law of Indonesia, Maxwell Asia, Singapore. • Jimly Asshiddiqie (2005), Hukum Tata Negara dan Pilar-Pilar Demokrasi (Constitutional Law and the Pillars of Democracy), Konpres, Jakarta, ISBN 979-99139-0-X.

• R.M.A.B. Kusuma, (2004) Lahirnya Undang Undang Dasar 1945 ( The Birth of the 1945 Constitution),Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, ISBN 979-8972-28-7. • Nadirsyah Hosen, (2007) Shari'a and Constitutional Reform in Indonesia, ISEAS, Singapore • Saafroedin Bahar,Ananda B.Kusuma,Nannie Hudawati, eds, (1995) Risalah Sidang Badan Penyelidik Usahah Persiapan Kemerdekaan Indonesian (BPUPKI) Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) (Minutes of the Meetings of the Agency for Investigating Efforts for the Preparation of Indonesian Independence and the Preparatory Committee for Indonesian Independence), Sekretariat Negara Republik Indonesia, Jakarta • Sri Bintang Pamungkas (1999), Konstitusi Kita dan Rancangan UUD-1945 Yang Disempurnakan ( Our Constitution and a Proposal for an Improved Version of the 1945 Constitution), Partai Uni Demokrasi, Jakarta, No ISBN Pranala luar Wikisource memiliki naskah sumber yang berkaitan dengan artikel ini : Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (Naskah Asli) • Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ( Dokumen Asli) • Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ( Dokumen Satu Naskah) • Perubahan Pertama Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 • Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 • Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 • Perubahan Keempat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 • Kumpulan naskah UUD 1945 beserta perubahan-perubahannya • Hukum Pidana (KUHP) • Hukum Perdata (KUHPer/BW) • Acara Pidana (KUHAP) • Advokat • Aparatur Sipil Negara • Cipta Kerja ( Omnibus Law) • Desa • Hak Asasi Manusia • Informasi dan Transaksi Elektronik • Kementerian Negara • Keterbukaan Informasi Publik • Pelayanan Publik • Pemerintahan Aceh • Pemilihan Umum • Penanggulangan Keadaan Bahaya • Penyiaran • Pers • Pokok Agraria • Pornografi • Sistem Pendidikan Nasional • Telekomunikasi • Tindak Pidana Kekerasan Seksual Rancangan • Halaman ini terakhir diubah pada 25 April 2022, pukul 10.13.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
none Tim Penyusun:  Paristiyanti Nurwardani (Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan)  Hestu Yoga Saksama (Direktorat Jenderal Pajak)  Udin Sarifudin Winataputra (Universitas Terbuka)  Dasim Budimansyah (Universitas Pendidikan Indonesia)  Sapriya (Universitas Pendidikan Indonesia)  Winarno (Universitas Sebelas Maret)  Edi Mulyono (Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan)  Sanityas Jukti Prawatyani (Direktorat Jenderal Pajak)  Aan Almaidah Anwar (Direktorat Jenderal Pajak)  Evawany (Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan)  Fajar Priyautama (Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan) (7) DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .

Error! Bookmark not defined. DAFTAR ISI .vi BAB I BAGAIMANA HAKIKAT PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DALAM MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN UTUH SARJANA ATAU PROFESIONAL? . 1 A. Menelusuri Konsep dan Urgensi Pendidikan Kewarganegaraan dalam Pencerdasan Kehidupan Bangsa . 2 B. Menanya Alasan Mengapa Diperlukan Pendidikan Kewarganegaraan . 9 C. Menggali Sumber Historis, Sosiologis, dan Politik tentang Pendidikan Kewarganegaraan di Indonesia .11 D. Membangun Argumen tentang Dinamika dan Tantangan Pendidikan Kewarganegaraan .17 E.

Mendeskripsikan Esensi dan Urgensi Pendidikan Kewarganegaraan untuk Masa Depan .20 F. Rangkuman Hakikat dan Pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan .23 G. Praktik Kewarganegaraan 1 .24 BAB II BAGAIMANA ESENSI DAN URGENSI IDENTITAS NASIONAL SEBAGAI SALAH SATU DETERMINAN PEMBANGUNAN BANGSA DAN KARAKTER?.

25 A. Menelusuri Konsep dan Urgensi Identitas Nasional perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan B.

Menanya Alasan Mengapa Diperlukan Identitas Nasional .32 C. Menggali Sumber Historis, Sosiologis, Politik tentang Identitas Nasional Indonesia .33 1. Bendera negara Sang Merah Putih .

perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan

39 2. Bahasa Negara Bahasa Indonesia . 40 3. Lambang Negara Garuda Pancasila . 40 4. Lagu Kebangsaan Indonesia Raya . 41 5. Semboyan Negara Bhinneka Tunggal Ika . 41 6. Dasar Falsafah Negara Pancasila . 42 (9) E.

Mendeskripsikan Esensi dan Urgensi Identitas Nasional Indonesia .46 F. Rangkuman tentang Identitas Nasional .49 G. Praktik Kewarganegaraan 2 .51 BAB III BAGAIMANA URGENSI INTEGRASI NASIONAL SEBAGAI SALAH SATU PARAMETER PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA?

. 53 A. Menelusuri Konsep dan Urgensi Integrasi Nasional perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan 1. Makna Integrasi Nasional . 54 2. Jenis Integrasi . 57 3. Pentingnya Integrasi nasional . 62 4. Integrasi versus Disintegrasi . 64 B. Menanya Alasan Mengapa Diperlukan Integrasi Nasional.65 C. Menggali Sumber Historis, Sosiologis, Politik tentang Integrasi Nasional .66 1. Perkembangan sejarah integrasi di Indonesia . 67 2. Pengembangan integrasi di Indonesia .

70 D. Membangun Argumen tentang Dinamika dan Tantangan Integrasi Nasional .75 1. Dinamika integrasi nasional di Indonesia . 75 2. Tantangan dalam membangun integrasi . 78 E. Mendeskripsikan Esensi dan Urgensi Integrasi Nasional .81 F. Rangkuman tentang Integrasi Nasional Indonesia .83 G. Praktik Kewarganegaraan 3 .83 BAB IV BAGAIMANA NILAI DAN NORMA KONSTITUSIONAL UUD NRI 1945 DAN KONSTITUSIONALITAS KETENTUAN PERUNDANG-UNDANGAN DI BAWAH UUD?.

85 A. Menelusuri Konsep dan Urgensi Konstitusi dalam Kehidupan Berbangsa-Negara.86 B. Perlunya Konstitusi dalam Kehidupan Berbangsa-Negara Indonesia .91 C. Menggali Sumber Historis, Sosiologis, dan Politik tentang Konstitusi dalam Kehidupan Berbangsa-Negara Indonesia .92 D.

Membangun Argumen tentang Dinamika dan Tantangan Konstitusi dalam Kehidupan Berbangsa-Negara Indonesia . 100 E. Mendeskripsikan Esensi dan Urgensi Konstitusi dalam Kehidupan Berbangsa-Negara .

105 (10) G. Praktik Kewarganegaraan 4 . 114 BAB V BAGAIMANA HARMONI KEWAJIBAN DAN HAK NEGARA DAN WARGA NEGARA DALAM DEMOKRASI YANG BERSUMBU PADA KEDAULATAN RAKYAT DAN MUSYAWARAH UNTUK MUFAKAT? . 115 A. Menelusuri Konsep dan Urgensi Harmoni Kewajiban dan Hak Negara dan Warga Negara .

116 B. Menanya Alasan Mengapa Diperlukan Harmoni Kewajiban dan Hak Negara dan Warga Negara Indonesia . 122 C. Menggali Sumber Historis, Sosiologis, Politik tentang Harmoni Kewajiban dan Hak Negara dan Warga Negara Indonesia . 123 1. Sumber Historis . 123 2. Sumber Sosiologis . 127 3. Sumber Politik .

129 D. Membangun Argumen tentang Dinamika dan Tantangan Harmoni Kewajiban dan Hak Negara dan Warga Negara . 130 1. Aturan Dasar Ihwal Pendidikan dan Kebudayaan, Serta Ilmu Pengetahuan dan Teknologi . 130 2. Aturan Dasar Ihwal Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial 133 3. Aturan Dasar Ihwal Usaha Pertahanan dan Keamanan Negara . 135 4. Aturan Dasar Ihwal Hak dan Kewajiban Asasi Manusia.

136 E. Mendeskripsikan Esensi dan Urgensi Harmoni Kewajiban dan Hak Negara dan Warga Negara . 137 1. Agama . 137 2. Pendidikan dan Kebudayaan . 138 3. Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Rakyat . 141 4. Pertahanan dan Keamanan .

142 F. Rangkuman tentang Harmoni Kewajiban dan Hak Negara dan Warga Negara. 143 G. Praktik Kewarganegaraan 5 . 144 BAB VI BAGAIMANA HAKIKAT, INSTRUMENTASI, DAN PRAKSIS DEMOKRASI INDONESIA BERLANDASKAN PANCASILA DAN UUD NRI 1945?. 145 A. Menelusuri Konsep dan Urgensi Demokrasi yang Bersumber dari Pancasila 146 1. Apa Demokrasi Itu? . 146 (11) 3. Pemikiran tentang Demokrasi Indonesia . 152 4. Pentingnya Demokrasi sebagai Sistem Politik Kenegaraan Modern . 153 B. Menanya Alasan Mengapa Diperlukan Demokrasi yang Bersumber dari Pancasila .

155 C. Menggali Sumber Historis, Sosiologis, dan Politik tentang Demokrasi yang Bersumber dari Pancasila . 157 1. Sumber Nilai yang Berasal dari Demokrasi Desa . 157 2. Sumber Nilai yang Berasal dari Islam . 159 3. Sumber Nilai yang Berasal dari Barat .

161 D. Membangun Argumen tentang Dinamika dan Tantangan Demokrasi yang Bersumber dari Pancasila . 163 1. Majelis Permusyawaratan Rakyat . 163 2. Dewan Perwakilan Rakyat .

166 3. Dewan Perwakilan Daerah . 168 E. Mendeskripsikan Esensi dan Urgensi Demokrasi Pancasila . 170 1. Kehidupan Demokratis yang Bagaimana yang Kita Kembangkan? . 170 2. Mengapa Kehidupan yang Demokratis Itu Penting? . 172 3. Bagaimana Penerapan Demokrasi dalam Pemilihan Pemimpin Politik dan Pejabat Negara?

. 174 F. Rangkuman Demokrasi yang Bersumber dari Pancasila . 177 G. Praktik Kewarganegaraan 6 . 178 BAB VII BAGAIMANA DINAMIKA HISTORIS KONSTITUSIONAL, SOSIAL-POLITIK, KULTURAL, SERTA KONTEKS KONTEMPORER PENEGAKAN HUKUM YANG BERKEADILAN?. 179 A. Menelusuri Konsep dan Urgensi Penegakan Hukum yang Berkeadilan . 180 B. Menanya Alasan Mengapa Diperlukan Penegakan Hukum yang Berkeadilan 186 C. Menggali Sumber Historis, Sosiologis, Politis tentang Penegakan Hukum yang Berkeadilan di Indonesia .

188 1. Lembaga Penegak hukum . 192 2. Lembaga Peradilan . 197 D. Membangun Argumen tentang Dinamika dan Tantangan Penegakan Hukum yang Berkeadilan Indonesia. . 202 (12) F. Rangkuman Penegakan Hukum yang Berkeadilan .

206 G. Praktik Kewarganegaraan 7 . 208 BAB VIII BAGAIMANA DINAMIKA HISTORIS, DAN URGENSI WAWASAN NUSANTARA SEBAGAI KONSEPSI DAN PANDANGAN KOLEKTIF KEBANGSAAN INDONESIA DALAM KONTEKS PERGAULAN DUNIA?

. 209 A. Menelusuri Konsep dan Urgensi Wawawan Nusantara . 210 B. Menanya Alasan Mengapa Diperlukan Wawawan Nusantara .

216 C. Menggali Sumber Historis, Sosiologis, dan Politik tentang Wawasan Nusantara . 218 1. Latar Belakang Historis Wawasan Nusantara . 218 2.

Latar Belakang Sosiologis Wawasan Nusantara . 222 3. Latar Belakang Politis Wawasan Nusantara . 224 D. Membangun Argumen tentang Dinamika dan Tantangan Wawasan Nusantara . 227 E. Mendeskripsikan Esensi dan Urgensi Wawasan Nusantara . 230 1. Perwujudan Kepulauan Nusantara sebagai Satu Kesatuan Politik .

232 2. Perwujudan Kepulauan Nusantara sebagai Satu Kesatuan Ekonomi . 233 3. Perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan Kepulauan Nusantara sebagai Satu Kesatuan Sosial Budaya . 234 4. Perwujudan Kepulauan Nusantara Sebagai Satu Kesatuan Pertahanan dan keamanan . 234 F. Rangkuman tentang Wawasan Nusantara . 236 G. Praktik Kewarganegaraan 8 . 237 BAB IX BAGAIMANA URGENSI DAN TANTANGAN KETAHANAN NASIONAL DAN BELA NEGARA BAGI INDONESIA DALAM MEMBANGUN KOMITMEN KOLEKTIF KEBANGSAAN?.

239 A. Menelusuri Konsep dan Urgensi Ketahanan Nasional dan Bela Negara. Apa itu Ketahanan Nasional? Apa itu Bela Negara? . 240 1. Wajah Ketahanan Nasional Indonesia . 243 2. Dimensi dan Ketahanan Nasional Berlapis . 247 3. Bela Negara Sebagai Upaya Mewujudkan Ketahanan Nasional . 249 (13) D. Membangun Argumen tentang Dinamika dan Tantangan Ketahanan Nasional dan Bela Negara .

257 E. Mendeskripsikan Esensi dan Urgensi Ketahanan Nasional dan Bela Negara. 259 1. Esensi dan Urgensi Ketahanan Nasional . 259 2. Esensi dan Urgensi Bela Negara . 266 F. Rangkuman Ketahanan Nasional dan Bela Negara . 272 G. Praktik Kewarganegaraan 9 . 273 BAB X MENYELENGGARAKAN PROJECT CITIZEN UNTUK MATA KULIAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN . 275 Langkah 1: Mengidentifikasi Masalah. 275 Diskusi Kelas: Berbagi informasi tentang masalah yang ditemukan dalam masyarakat .

276 Pekerjaan Rumah . 280 Langkah 2: Memilih Masalah untuk Bahan Kajian Kelas . 281 Langkah 3: Mengumpulkan Informasi . 286 Aktivitas Kelas Mengidentifikasi Sumber-Sumber Informasi . 286 Contoh-Contoh Sumber Informasi . 287 Panduan untuk Memperoleh dan Mendokumentasikan Informasi . 290 Pekerjaan Rumah Meneliti Masalah yang Muncul dalam Masyarakat . 291 Langkah 4: Mengembangkan Portofolio Kelas . 297 Spesifikasi Portofolio .

297 Tugas Kelompok Portofolio . 298 Kriteria Penilaian Portofolio . 299 Beberapa Petunjuk bagi Kelompok Portofolio . 300 Checklist Kriteria Portofolio . 300 Kriteria Keseluruhan Portofolio . 300 Langkah 5: Menyajikan Portofolio . 312 Presentasi Awal . 314 Forum Tanya Jawab .

315 Persiapan Presentasi . 315 (14) BAB I BAGAIMANA HAKIKAT PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DALAM MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN UTUH SARJANA ATAU PROFESIONAL?

Belajar tentang Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) pada dasarnya adalah belajar tentang keindonesiaan, belajar untuk menjadi manusia yang berkepribadian Indonesia, membangun rasa kebangsaan, dan mencintai tanah air Indonesia.

Oleh karena itu, seorang sarjana atau profesional sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang terdidik perlu memahami tentang Indonesia, memiliki kepribadian Indonesia, memiliki rasa kebangsaan Indonesia, dan mencintai tanah air Indonesia. Dengan demikian, ia menjadi warga negara yang baik dan terdidik ( smartand good citizen) dalam kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara yang demokratis. (17) Mengapa Pendidikan Kewarganegaraan menjadi kriteria bagi pengembangan kemampuan utuh sarjana atau profesional?

Untuk mendapat jawaban atas pertanyaan ini, dalam Bab I ini, Anda akan mempelajari jati diri Pendidikan Kewarganegaraan. Sejalan dengan kaidah pembelajaran ilmiah dan aktif, maka Anda akan mengikuti proses sebagai berikut: (1) Menelusuri konsep dan urgensi Pendidikan Kewarganegaraan dalam pencerdasan kehidupan bangsa; (2) Menanya alasan mengapa diperlukan Pendidikan Kewarganegaraan; (3) Menggali sumber historis, sosiologis, dan politis tentang Pendidikan Kewarganegaraan di Indonesia; (4) Membangun argumen tentang dinamika dan tantangan Pendidikan Kewarganegaraan; (5) Mendeskripsikan esensi dan urgensi Pendidikan Kewarganegaraan untuk masa depan; (6) Merangkum tentang hakikat dan pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan; dan (7) Untuk pendalaman dan pengayaan pemahaman Anda tentang bab di atas, pada bagian akhir disediakan praktik Kewarganegaraan.

Setelah melakukan pembelajaran ini, Anda sebagai calon sarjana dan profesional, diharapkan: bersikap positif terhadap fungsi dan peran pendidikan kewarganegaraan dalam memperkuat jadi diri keindonesiaan para sarjana dan profesional; mampu menjelaskan tujuan dan fungsi pendidikan kewarganegaraan dalam pengembangan kemampuan utuh sarjana atau profesional; dan mampu menyampaikan argumen konseptual dan empiris tentang fungsi dan peran pendidikan kewarganegaraan dalam memperkuat jadi diri keindonesiaan para sarjana dan profesional.

A. Menelusuri Konsep dan Urgensi Pendidikan Kewarganegaraan dalam Pencerdasan Kehidupan Bangsa Pernahkah Anda memikirkan atau memimpikan menjadi seorang sarjana atau profesional? Seperti apa sosok sarjana atau profesional itu? Apa itu sarjana dan apa itu profesional?

Coba kemukakan secara lisan berdasar pengetahuan awal Anda. (18) Anda telusuri lebih lanjut pengertian sarjana dari berbagai dokumen kenegaraan.

Apa simpulan Anda? Selain itu, perlu jelas pula, mengapa pendidikan kewarganegaraan penting dalam pengembangan kemampuan utuh sarjana atau profesional?

Marilah kita kembangkan persepsi tentang karakteristik sarjana atau profesional yang memiliki kemampuan utuh tersebut dan bagaimana kontribusi pendidikan kewarganegaraan terhadap pengembangan kemampuan sarjana atau profesional. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, program sarjana merupakan jenjang pendidikan akademik bagi lulusan pendidikan menengah atau sederajat sehingga mampu mengamalkan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui penalaran ilmiah.

Lulusan program sarjana diharapkan akan menjadi intelektual dan/atau ilmuwan yang berbudaya, mampu memasuki dan/atau menciptakan lapangan kerja, serta mampu mengembangkan diri menjadi profesional. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dikemukakan bahwa profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dapat menjadi sumber penghasilan, perlu keahlian, kemahiran, atau kecakapan, memiliki standar mutu, ada norma dan diperoleh melalui pendidikan profesi.

Apakah profesi yang akan Anda capai setelah menyelesaikan pendidikan sarjana atau profesional? Perlu Anda ketahui bahwa apa pun kedudukannya, sarjana atau profesional, dalam konteks hidup berbangsa dan bernegara, bila memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dalam peraturan perundangan, maka Anda berstatus warga negara. Apakah warga negara dan siapakah warga negara Indonesia (WNI) itu? (19) “warga negara” dapat berarti warga, anggota ( member) dari sebuah negara. Warga negara adalah anggota dari sekelompok manusia yang hidup atau tinggal di wilayah hukum tertentu yang memiliki hak dan kewajiban.

Di Indonesia, istilah “warga negara” adalah terjemahan dari istilah bahasa Belanda, staatsburger. Selain istilah staatsburger dalam bahasa Belanda dikenal pula istilah onderdaan. Menurut Soetoprawiro (1996), istilah onderdaan tidak sama dengan warga negara melainkan bersifat semi warga negara atau kawula negara.

Munculnya istiah tersebut karena Indonesia memiliki budaya kerajaan yang bersifat feodal sehingga dikenal istilah kawula negara sebagai terjemahan dari onderdaan. Setelah Indonesia memasuki era kemerdekaan dan era modern, istilah kawula negara telah mengalami pergeseran. Istilah kawula negara sudah tidak digunakan lagi dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia saat ini. Istilah “warga negara” dalam kepustakaan Inggris dikenal dengan istilah “ civic”, “ citizen”, atau “ civicus”.

Apabila ditulis dengan mencantumkan “s” di bagian belakang kata civic mejadi “ civics” berarti disiplin ilmu kewarganegaraan. Gambar I.2 Apakah TNI merupakan warga negara Indonesia? Apa bedanya dengan warga lain? (Sumber: http://trend.co.id/wp-content/uploads/2015/09/peringkat-TNI.jpg) (20) Mereka dapat meliputi TNI, Polri, petani, pedagang, dan profesi serta kelompok masyarakat lainnya yang telah memenuhi syarat menurut undang-undang. Menurut Undang-Undang No.

12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Indonesia, yang dimaksud warga negara adalah warga suatu negara yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan. Lalu siapakah yang termasuk warga negara Indonesia itu? Telusuri kembali dari berbagai sumber, siapa saja yang termasuk warga negara Indonesia itu. Hasilnya dipresentasikan secara kelompok.

Sampailah pada pertanyaan apakah Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) itu? Agar lebih memahami Anda akan diajak menelusuri konsep dan urgensi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dalam pencerdasan kehidupan bangsa. Ada dua hal yang perlu diklarifikasi lebih dahulu tentang istilah PKn. Apa yang dimaksud dengan konsep PKn dan apa urgensinya? Untuk menelusuri konsep PKn, Anda dapat mengkajinya secara etimologis, yuridis, dan teoretis. Bagaimana konsep PKn secara etimologis? Untuk mengerti konsep PKn, Anda dapat menganalisis PKn secara kata per kata.

PKn dibentuk oleh dua kata, ialah kata “pendidikan” dan kata “kewarganegaraan”. Untuk mengerti istilah pendidikan, Anda dapat melihat Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) atau secara lengkap lihat definisi pendidikan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 Ayat (1). Mari kita perhatikan definisi pendidikan berikut ini. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

(UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 1). (21) Secara konseptual, istilah kewarganegaraan tidak bisa dilepaskan dengan istilah warga negara.

Selanjutnya ia juga berkaitan dengan istilah pendidikan kewarganegaraan. Dalam literatur Inggris ketiganya dinyatakan dengan istilah citizen, citizenship dan citizenship education.

Lalu apa hubungan dari ketiga istilah tersebut? Perhatikan pernyataan yang dikemukakan oleh John J. Cogan, & Ray Derricott dalam buku Citizenship for the 21st Century: An International Perspective on Education (1998), berikut ini: A citizen was defined as a ‘constituent member of society’. Citizenship on the other hand, was said to be a set of characteristics of being a citizen’. And finally, citizenship education the underlying focal point of a study, was defined as ‘the contribution of education to the development of those charateristics of a citizen’.

Apa yang dapat Anda kemukakan dari pernyataan di atas? Sudahkah Anda mampu membedakan konsep warga negara, kewarganegaraan, dan pendidikan kewarganegaraan? Gambar I.3 Untuk menjadi WNI, karakteristik apa saja yang perlu dipenuhi? Sumber: tribunnews.com Selanjutnya secara yuridis, istilah kewarganegaraan dan pendidikan kewarganegaraan di Indonesia dapat ditelusuri dalam peraturan perundangan berikut ini.

(22) yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air. (Undang-Undang RI No 20 Tahun 2003, Penjelasan Pasal 37) Adakah ketentuan peraturan perundangan lainnya yang memuat perihal pendidikan kewarganegaraan?

Telusuri dokumen peraturan lainnya dan adakah bedanya dengan pengertian di atas? Bagaimana konsep PKn secara teoritis menurut para ahli? Untuk menelusuri konsep PKn menurut para ahli, Anda dapat mengkaji karya M. Nu’man Somantri, 2001; Abdul Azis Wahab dan Sapriya, 2011; Winarno, 2013, dan lain-lain. Berikut ini ditampilkan satu definisi PKn menurut M. Nu’man Somantri (2001) sebagai berikut: Pendidikan Kewarganegaraan adalah program pendidikan yang berintikan demokrasi politik yang diperluas dengan sumber-sumber pengetahuan lainnya, pengaruh-pengaruh positif dari pendidikan sekolah, masyarakat, dan orang tua, yang kesemuanya itu diproses guna melatih para siswa untuk berpikir kritis, analitis, bersikap dan bertindak demokratis dalam mempersiapkan hidup demokratis yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Tentu masih banyak definisi pendidikan kewarganegaraan menurut para ahli. Anda dianjurkan untuk menelusuri definisi PKn menurut para ahli lainnya. Cobalah Anda telusuri melalui sumber pustaka atau melalui internet. Buatlah perbandingan pengertian PKn menurut tokoh, lalu analisis dan buat simpulan.

Apa hakikat pendidikan kewarganegaraan setelah Anda menelusuri dan mengkaji definisi pendidikan kewarganegaraan tersebut? Rumuskan pengertian PKn menurut Anda. Selanjutnya, bagaimana urgensi pendidikan kewarganegaraan di negara kita?

Mari kita telusuri pentingnya pendidikan kewarganegaraan menurut para ahli dan peraturan perundangan. Tujuan pendidikan kewarganegaraan di mana pun umumnya bertujuan untuk membentuk warga negara yang baik ( good citizen). Cobalah Anda diskusikan dalam kelompok apa sajakah kriteria good citizen itu? Tulislah hasil diskusi Anda pada tabel atau kolom. Kemudian, presentasikan hasil diskusi kelompok ini pada diskusi kelas.

(23) pendidikan dasar dan menengah wajib memuat pendidikan kewarganegaraan. Demikian pula pada ayat (2) huruf b dinyatakan bahwa kurikulum pendidikan tinggi wajib memuat pendidikan kewarganegaraan. Bahkan dalam UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi lebih eksplisit dan tegas dengan menyatakan nama mata kuliah kewarganegaraan sebagai mata kuliah wajib. Dikatakan bahwa mata kuliah kewarganegaraan adalah pendidikan yang mencakup Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika untuk membentuk mahasiswa menjadi warga negara yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air.

Apabila PKn memang penting bagi suatu negara, apakah negara lain memiliki PKn atau Civic (Citizenship) Education? Untuk menjawab pertanyaan ini, Anda dianjurkan untuk menelusuri sejumlah literatur dan hasil penelitian tentang pendidikan kewarganegaraan di sejumlah negara.

Ada istilah kunci yang sudah banyak dikenal untuk menelusuri pendidikan kewarganegaraan di negara lain. Berikut ini adalah istilah pendidikan kewarganegaraan hasil penelusuran Udin S. Winataputra (2006) dan diperkaya oleh Sapriya (2013) sebagai berikut:  Pendidikan Kewarganegaraan (Indonesia)  Civics, Civic Education (USA)  Citizenship Education (UK)  Ta’limatul Muwwatanah, Tarbiyatul Watoniyah (Timteng)  Educacion Civicas (Mexico)  Sachunterricht (Jerman)  Civics, Social Studies (Australia)  Social Studies (USA, New Zealand)  Life Orientation (Afrika Selatan)  People and Society (Hongaria)  Civics and Moral Education (Singapore)  Obscesvovedinie (Rusia)  Pendidikan Sivik (Malaysia)  Fuqarolik Jamiyati (Uzbekistan) (24)                Istilah-istilah di atas merupakan pengantar bagi Anda untuk menelusuri lebih lanjut tentang pendidikan kewarganegaraan di negara lain.

Gambar I.4 Belajar PKn, apa pentingnya? Sumber: http://freepik.com Adanya sejumlah istilah yang digunakan di sejumlah negara menunjukkan bahwa setiap negara menyelenggarakan pendidikan kewarganegaraan meskipun dengan istilah yang beragam. Apa makna dibalik fakta ini? Cobalah Anda kemukakan simpulan tersendiri tentang pentingnya pendidikan kewarganegaraan bagi suatu negara.

B. Menanya Alasan Mengapa Diperlukan Pendidikan Kewarganegaraan Setelah kegiatan menelusuri konsep PKn, tentu Anda menemukan persoalan dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab lebih lanjut. Misalnya, setelah Anda melakukan penelusuran istilah civic/citizenship education di negara lain, apakah Anda yakin bahwa setiap negara memiliki pendidikan kewarganegaran? Jika yakin, mengapa setiap negara mesti menyelenggarakan pendidikan kewarganegaraan kepada warganya?

(25) kewarganegaraan? Apakah sejak Indonesia merdeka ataukah sebelum proklamasi kemerdekaan? Coba Anda ajukan pertanyaan lainnya. Mencermati arti dan maksud pendidikan kewarganegaraan sebagaimana yang ditegaskan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menekankan pada pembentukan warga negara agar memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air, maka muncul pertanyaan bagaimana upaya para pendiri negara dan pemimpin negara membentuk semangat perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan dan cinta tanah air?

Setelah Anda menelusuri konsep warga negara dan kawula negara, mungkin Anda juga bertanya atau mempertanyakan, apakah benar Belanda yang memiliki tradisi Barat, yang dikenal Liberal, Egaliter memiliki istilah onderdaan?

Pertanyaan ini perlu diajukan mengingat istilah onderdaan sedikit kontroversial bila dibawa dan diberlakukan oleh Belanda yang memiliki tradisi Barat. Anda pun perlu mempertanyakan mengapa bangsa Indonesia dan negara umumnya perlu pendidikan kewarganegaraan? Secara lebih spesifik, perlukah sarjana atau profesional belajar pendidikan kewarganegaraan?

Untuk apakah sarjana atau profesional belajar pendidikan kewarganegaraan? Apabila memperhatikan hasil penelusuran konsep dan urgensi pendidikan kewarganegaraan di atas, terkesan bahwa PKn Indonesia banyak dipengaruhi oleh pendidikan kewarganegaraan dalam tradisi Barat.

Apakah benar demikian? Apakah keberadaan pendidikan kewarganegaraan di Indonesia karena mencontoh negara lain yang sudah lebih dahulu menyelenggarakan?

Adakah model pendidikan kewarganegaraan yang asli Indonesia? Bagaimana model yang dapat dikembangkan? Lanjutkan dengan membuat pertanyaan-pertanyaan sejenis perihal pendidikan kewarganegaraan. (26) C. Menggali Sumber Historis, Sosiologis, dan Politik tentang Pendidikan Kewarganegaraan di Indonesia Pada subbab ini, Anda akan diajak menggali pendidikan kewarganegaraan dengan menggali sumber-sumber pendidikan kewarganegaraan di Indonesia baik secara historis, sosiologis, maupun politis yang tumbuh, berkembang, dan berkontribusi dalam pembangunan, serta pencerdasan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara hingga dapat disadari bahwa bangsa Indonesia memerlukan pendidikan kewarganegaraan.

Masih ingatkah sejak kapan Anda mulai mengenal istilah pendidikan kewarganegaraan (PKn)? Bila pertanyaan ini diajukan kepada generasi yang berbeda maka jawabannya akan sangat beragam. Mungkin ada yang tidak mengenal istilah PKn terutama generasi yang mendapat mata pelajaran dalam Kurikulum 1975. Mengapa demikian? Karena pada kurikulum 1975 pendidikan kewarganegaraan dimunculkan dengan nama mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila disingkat PMP.

Demikian pula bagi generasi tahun 1960 awal, istilah pendidikan kewarganegaraan lebih dikenal Civics. Adapun sekarang ini, berdasar Kurikulum 2013, pendidikan kewarganegaraan jenjang pendidikan dasar dan menengah menggunakan nama mata pelajaran PPKn.

Perguruan tinggi menyelenggarakan mata kuliah Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan. (27) Buku pelajaran dapat perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan pendidikan kewarganegaraan suatu negara, mengapa? Untuk memahami pendidikan kewarganegaraan di Indonesia, pengkajian dapat dilakukan secara historis, sosiologis, dan politis. Secara historis, pendidikan kewarganegaraan dalam arti substansi telah dimulai jauh sebelum Indonesia diproklamasikan sebagai negara merdeka.

Dalam sejarah kebangsaan Indonesia, berdirinya organisasi Boedi Oetomo tahun 1908 disepakati sebagai Hari Kebangkitan Nasional karena pada saat itulah dalam diri bangsa Indonesia mulai tumbuh kesadaran sebagai bangsa walaupun belum menamakan Indonesia. Setelah berdiri Boedi Oetomo, berdiri pula organisasi-organisasi pergerakan kebangsaan lain seperti Syarikat Islam, Muhammadiyah, Indische Party, PSII, PKI, NU, dan organisasi lainnya yang tujuan akhirnya ingin melepaskan diri dari penjajahan Belanda.

Pada tahun 1928, para pemuda yang berasal dari wilayah Nusantara berikrar menyatakan diri sebagai bangsa Indonesia, bertanah air, dan berbahasa persatuan bahasa Indonesia. Perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan tahun 1930-an, organisasi kebangsaan baik yang berjuang secara terang-terangan maupun diam-diam, baik di dalam negeri maupun di luar negeri tumbuh bagaikan jamur di musim hujan.

Secara umum, organisasi-organisasi tersebut bergerak dan bertujuan membangun rasa kebangsaan dan mencita-citakan Indonesia merdeka. Indonesia sebagai negara merdeka yang dicita-citakan adalah negara yang mandiri yang lepas dari penjajahan dan ketergantungan terhadap kekuatan asing.

Inilah cita-cita yang dapat dikaji dari karya para Pendiri Negara-Bangsa (Soekarno dan Hatta). Akhirnya Indonesia merdeka setelah melalui perjuangan panjang, pengorbanan jiwa dan raga, pada tanggal 17 Agustus 1945. Soekarno dan Hatta, atas nama bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaan Indonesia. (28) diplomatis. Perjuangan mencapai kemerdekaan dari penjajah telah selesai, namun tantangan untuk menjaga dan mempertahankan kemerdekaan yang hakiki belumlah selesai. Prof.

Nina Lubis (2008), seorang sejarawan menyatakan, “. dahulu, musuh itu jelas: penjajah yang tidak memberikan ruang untuk mendapatkan keadilan, kemanusiaan, yang sama bagi warga negara, kini, musuh bukan dari luar, tetapi dari dalam negeri sendiri: korupsi yang merajalela, ketidakadilan, pelanggaran HAM, kemiskinan, ketidakmerataan ekonomi, penyalahgunaan kekuasaan, tidak menghormati harkat dan martabat orang lain, suap-menyuap, dll.” Dari penyataan ini tampak bahwa proses perjuangan untuk menjaga eksistensi negara-bangsa, mencapai tujuan nasional sesuai cita-cita para pendiri negara-bangsa (the founding fathers), belumlah selesai bahkan masih panjang.

Oleh karena itu, diperlukan adanya proses pendidikan dan pembelajaran bagi warga negara yang dapat memelihara semangat perjuangan kemerdekaan, rasa kebangsaan, dan cinta tanah air. PKn pada saat permulaan atau awal kemerdekaan lebih banyak dilakukan pada tataran sosial kultural dan dilakukan oleh para pemimpin negara-bangsa. Dalam pidato-pidatonya, para pemimpin mengajak seluruh rakyat untuk mencintai tanah air dan bangsa Indonesia. Seluruh pemimpin bangsa membakar semangat rakyat untuk mengusir penjajah yang hendak kembali menguasai dan menduduki Indonesia yang telah dinyatakan merdeka.

Perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan dan ceramah-ceramah yang dilakukan oleh para pejuang, serta kyai-kyai di pondok pesantren yang mengajak umat berjuang mempertahankan tanah air merupakan PKn dalam dimensi sosial kultural.

Inilah sumber PKn dari aspek sosiologis. PKn dalam dimensi sosiologis sangat diperlukan oleh masyarakat dan akhirnya negara-bangsa untuk menjaga, memelihara, dan mempertahankan eksistensi negara-bangsa.

(29) sewajarnya dilakukan pembaharuan pendidikan nasional. Tim Penulis diberi tugas perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan buku pedoman mengenai kewajiban-kewajiban dan hak-hak warga negara Indonesia dan sebab-sebab sejarah serta tujuan Revolusi Kemerdekaan Republik Indonesia. Menurut Prijono, buku Manusia dan Masjarakat Baru Indonesia identik dengan istilah “Staatsburgerkunde” (Jerman), “Civics” (Inggris), atau “Kewarganegaraan” (Indonesia).

Secara politis, pendidikan kewarganegaraan mulai dikenal dalam pendidikan sekolah dapat digali dari dokumen kurikulum sejak tahun 1957 sebagaimana dapat diidentifikasi dari pernyataan Somantri (1972) bahwa pada masa Orde Lama mulai dikenal istilah: (1) Kewarganegaraan (1957); (2) Civics (1962); dan (3) Pendidikan Kewargaan Negara (1968).

Pada masa awal Orde Lama sekitar tahun 1957, isi mata pelajaran PKn membahas cara pemerolehan dan kehilangan kewarganegaraan, sedangkan dalam Civics (1961) lebih banyak membahas tentang sejarah Kebangkitan Nasional, UUD, pidato-pidato politik kenegaraan yang terutama diarahkan untuk "nation and character building” bangsa Indonesia. Bagaimana sumber politis PKn pada saat Indonesia memasuki era baru, yang disebut Orde Baru?

Pada awal pemerintahan Orde Baru, Kurikulum sekolah yang berlaku dinamakan Kurikulum 1968. Dalam kurikulum tersebut di dalamnya tercantum mata pelajaran Pendidikan Kewargaan Negara. Dalam mata pelajaran tersebut materi maupun metode yang bersifat indoktrinatif dihilangkan dan diubah dengan materi dan metode pembelajaran baru yang dikelompokkan menjadi Kelompok Pembinaan Jiwa Pancasila, sebagaimana tertera dalam Kurikulum Sekolah Dasar (SD) 1968 sebagai berikut.

perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan Pembinaan Jiwa Pancasila ialah Kelompok segi pendidikan yang terutama ditujukan kepada pembentukan mental dan moral Pancasila serta pengembangan manusia yang sehat dan kuat fisiknya dalam rangka pembinaan Bangsa. Sebagai alat formil dipergunakan segi pendidikan-pendidikan: Pendidikan Agama, Pendidikan Kewargaan Negara, pendidikan Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah dan Olahraga.

Pendidikan Agama diberikan secara intensif sejak dari kelas I sampai kelas VI dan tidak dapat diganti pendidikan budi pekerti saja.

(30) berpikir dan kesadaran nasional. Sedangkan Bahasa Daerah digunakan sebagai langkah pertama bagi sekolah-sekolah yang menggunakan bahasa tersebut sebagai bahasa pengantar sampai kelas III dalam membina jiwa dan moral Pancasila. Olahraga yang berfungsi sebagai pembentuk manusia Indonesia yang sehat rohani dan jasmaninya diberikan secara teratur semenjak anak-anak menduduki bangku sekolah." Bagaimana dengan Kurikulum Sekolah Menengah?

Dalam Kurikulum 1968 untuk jenjang SMA, mata pelajaran Pendidikan Kewargaan Negara termasuk dalam kelompok pembina Jiwa Pancasila bersama Pendidikan Agama, bahasa Indonesia dan Pendidikan Olah Raga. Mata pelajaran Kewargaan Negara di SMA berintikan: (1) Pancasila dan UUD 1945; (2) Ketetapan-ketetapan MPRS 1966 dan selanjutnya; dan (3) Pengetahuan umum tentang PBB. Dalam Kurikulum 1968, mata pelajaran PKn merupakan mata pelajaran wajib untuk SMA.

Pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah pendekatan korelasi, artinya mata pelajaran PKn dikorelasikan dengan mata pelajaran lain, seperti Sejarah Indonesia, Ilmu Bumi Indonesia, Hak Asasi Manusia, dan Ekonomi, sehingga mata pelajaran Pendidikan Kewargaan Negara menjadi lebih hidup, menantang, dan bermakna.

Kurikulum Sekolah tahun l968 akhirnya mengalami perubahan menjadi Kurikulum Sekolah Tahun 1975. Nama mata pelajaran pun berubah menjadi Pendidikan Moral Pancasila dengan kajian materi secara khusus yakni menyangkut Pancasila dan UUD 1945 yang dipisahkan dari mata pelajaran sejarah, ilmu bumi, dan ekonomi.

Hal-hal yang menyangkut Pancasila dan UUD 1945 berdiri sendiri dengan nama Pendidikan Moral Pancasila (PMP), sedangkan gabungan mata pelajaran Sejarah, Ilmu Bumi dan Ekonomi menjadi mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (lPS). (31) “Pendidikan Moral Pancasila (PMP) secara konstitusional mulai dikenal dengan adanya TAP MPR No.

lV/MPR/1973 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara dan Ketetapan MPR No. II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Dengan adanya Ketetapan MPR No. II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Paneasila (P4), maka materi PMP didasarkan pada isi P4 tersebut. Oleh karena itu, TAP MPR No. II/ MPR/1978 merupakan penuntun dan pegangan hidup bagi sikap dan tingkah laku setiap manusia Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat serta bernegara.

Selanjutnya TAP MPR No. II/MPR?1978 dijadikanlah sumber, tempat berpijak, isi, dan evaluasi PMP. Dengan demikian, hakikat PMP tiada lain adalah pelaksanaan P4 melalui jalur pendidikan formal. Di samping pelaksanaan PMP di sekolah-sekolah, di dalam masyarakat umum giat diadakan usaha pemasyarakatan P4 lewat berbagai penataran.

“. dalam rangka menyesuaikan Kurikulum 1975 dengan P4 dan GBHN 1978. . mengusahakan adanya buku pegangan bagi murid dan guru Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) .

usaha itu yang telah menghasilkan Buku Paket PMP." Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa: (l) P4 merupakan sumber dan tempat berpijak, baik isi maupun cara evaluasi mata pelajaran PMP melalui pembakuan kurikulum 1975; (2) melalui Buku Paket PMP untuk semua jenjang pendidikan di sekolah maka Buku Pedoman Pendidikan Kewargaan Negara yang berjudul Manusia dan Masyarakat Baru lndonesia ( Civics) dinyatakan tidak berlaku lagi; dan (3) bahwa P4 tidak hanya diberlakukan untuk sekolah-sekolah tetapi juga untuk masyarakat pada umumnya melalui berbagai penataran P4.

Sesuai dengan perkembangan iptek dan tuntutan serta kebutuhan masyarakat, kurikulum sekolah mengalami perubahan menjadi Kurikulum 1994. Selanjutnya nama mata pelajaran PMP pun mengalami perubahan menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) yang terutama didasarkan pada ketentuan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No.

2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pada ayat 2 undang-undang tersebut dikemukakan bahwa isi kurikulum setiap jenis, jalur, dan jenjang pendidikan wajib memuat: (1) Pendidikan Pancasila; (2) Pendidikan Agama; dan (3) Pendidikan Kewarganegaraan. (32) Tugas Anda adalah membandingkan dua dokumen kurikulum 2006 dan 2013 dengan mengidentifikasi dan mengungkapkan apakah persamaan dan perbedaan yang ada dalam dua dokumen kurikulum tersebut.

Susunlah terlebih dahulu topik-topik atau unsur-unsur yang sama dan berbeda dalam dua dokumen kurikulum 2006 dan 2013 kemudian masukkan ke dalam tabel. Apa simpulan Anda tentang sumber historis, sosiologis, dan politis Pendidikan Kewarganegaraan? Susunlah simpulan yang telah Ada diskusikan, lalu sajikan di kelas. Sebagaimana telah diuraikan di atas, bahwa secara historis, PKn di Indonesia senantiasa mengalami perubahan baik istilah maupun substansi sesuai dengan perkembangan peraturan perundangan, iptek, perubahan masyarakat, dan tantangan global.

Secara sosiologis, PKn Indonesia sudah sewajarnya mengalami perubahan mengikuti perubahan yang terjadi di masyarakat. Secara politis, PKn Indonesia akan terus mengalami perubahan sejalan perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan perubahan sistem ketatanegaraan dan pemerintahan, terutama perubahan konstitusi.

D. Membangun Argumen tentang Dinamika dan Tantangan Pendidikan Kewarganegaraan Suatu kenyataan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) telah mengalami beberapa kali perubahan, baik tujuan, orientasi, substansi materi, metode pembelajaran bahkan sistem evaluasi. Semua perubahan tersebut dapat teridentifikasi dari dokumen kurikulum yang pernah berlaku di Indonesia sejak proklamasi kemerdekaan hingga saat ini.

(33) negara merdeka sampai dengan periode saat ini yang dikenal Indonesia era reformasi. Mengapa dinamika dan tantangan PKn sangat erat dengan perjalanan sejarah praktik kenegaraan/pemerintahan RI? Inilah ciri khas PKn sebagai mata kuliah dibandingkan dengan mata kuliah lain. Ontologi PKn adalah sikap dan perilaku warga negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Status warga negara dapat meliputi penduduk yang berkedudukan sebagai pejabat negara sampai dengan rakyat biasa. Tentu peran dan fungsi warga negara berbeda-beda, sehingga sikap dan perilaku mereka sangat dinamis.

perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan

Oleh karena itu, mata kuliah PKn harus selalu menyesuaikan/sejalan dengan dinamika dan tantangan sikap serta perilaku warga negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Gambar I.9 Apa kontribusi PKn terhadap dinamika dan tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti masalah perpajakan di atas?

(Sumber: pajak.go.id) (34) Aristoteles (1995) mengemukakan bahwa secara konstitusional “. different constitutions require different types of good citizen. because there are different sorts of civic function.” Apakah simpulan Anda setelah mengkaji pernyataan Aristoteles tersebut?

Mari kita samakan dengan argumen berikut ini. Secara implisit, setiap konstitusi mensyaratkan kriteria warga negara yang baik karena setiap konstitusi memiliki ketentuan tentang warga negara. Artinya, konstitusi yang berbeda akan menentukan perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan warga negara yang berbeda. Hal ini akan berdampak pada model pendidikan kewarganegaraan yang tentunya perlu disesuaikan dengan konstitusi yang berlaku.

Guna membentuk warga negara yang baik, pendidikan kewarganegaraan di Amerika Serikat (AS) membelajarkan warga mudanya tentang sistem presidensiil, mekanisme check and balances, prinsip federalisme, dan nilai-nilai individual.

Bentuklah kelompok kecil untuk mendiskusikan, apakah PKn di Indonesia juga perlu membelajarkan hal tersebut kepada warganya? Kemukakan alasanmu. Presentasikan hasil diskusi kelompok. Pendidikan kewarganegaraan tidak hanya didasarkan pada konstitusi negara yang bersangkutan, tetapi juga tergantung pada tuntutan perkembangan zaman dan masa depan. Misalnya, kecenderungan masa depan bangsa meliputi isu tentang HAM, pelaksanaan demokrasi, dan lingkungan hidup.

Sebagai warga negara muda, mahasiswa perlu memahami, memiliki kesadaran dan partisipatif terhadap gejala demikian. Apa saja dinamika perubahan dalam kehidupan masyarakat baik berupa tuntutan maupun kebutuhan? Pendidikan Kewarganegaraan yang berlaku di suatu negara perlu memperhatikan kondisi masyarakat. Walaupun tuntutan dan kebutuhan masyarakat telah diakomodasi melalui peraturan perundangan, namun perkembangan masyarakat akan bergerak dan berubah lebih cepat.

Dapatkah Anda perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan contoh perubahan masyarakat yang terkait dengan masalah kewarganegaraan?

Coba Anda kemukakan sejumlah kasus dan peristiwa dalam kehidupan sehari-hari. (35) Apakah contoh peristiwa yang Anda kemukakan merupakan tantangan bagi PKn dan perlu diakomodasi oleh PKn? Kemukakan pendapat Anda. Apa saja dinamika perubahan dalam perkembangan IPTEK yang mempengaruhi PKn? Era globalisasi yang ditandai oleh perkembangan yang begitu cepat dalam bidang teknologi informasi mengakibatkan perubahan dalam semua tatanan kehidupan termasuk perilaku warga negara, utamanya peserta didik.

Kecenderungan perilaku warga negara ada dua, yakni perilaku positif dan negatif. PKn perlu mendorong warga negara agar mampu memanfaatkan pengaruh positif perkembangan iptek untuk membangun negara-bangsa. Sebaliknya PKn perlu melakukan intervensi terhadap perilaku negatif warga negara yang cenderung negatif.

Oleh karena itu, kurikulum PKn termasuk materi, metode, dan sistem evaluasinya perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan selalu disesuaikan dengan perkembangan IPTEK. E. Mendeskripsikan Esensi dan Urgensi Pendidikan Kewarganegaraan untuk Masa Depan Pernahkah Anda berpikir apa yang akan terjadi dalam kehidupan bangsa Indonesia pada 10, 30, atau 100 tahun yang akan datang?

Apakah Anda berpikir bahwa kondisi bangsa masa depan akan sama saja dengan kondisi bangsa saat ini? Pertanyaan ini memerlukan jawaban analitis tentang kehidupan bangsa pada masa lampau dan kondisi bangsa saat ini. Dapatkah Anda mengidentifikasi kondisi bangsa Indonesia pada 10 tahun, 30 tahun, dan 100 tahun yang lalu?

Coba Anda bandingkan indikator-indikator berupa fakta, peristiwa yang pernah terjadi, kemudian bandingkan dengan kondisi saat ini. Apa yang berubah dalam pendidikan kewarganegaraan? Adakah hal-hal yang sama, identik, berupa fakta dan peristiwa masa lalu dengan kehidupan yang terjadi saat ini? Anda masukkan indikator-indikator berupa fakta dan peristiwa yang terjadi dalam pendidikan kewarganegaraan.

Untuk membuat laporan tugas di atas, Anda dapat mendiskusikannya dalam kelompok. Kemudian susunlah kondisi bangsa Indonesia pada 10 tahun, 30 tahun, dan 100 tahun yang lalu dalam tabel dan selanjutnya presentasikan. (36) Indonesia di masa depan? Apa gagasan berupa pemikiran hasil analisis Anda untuk masa depan?

Anda masukkan indikator-indikator berupa fakta dan peristiwa yang mungkin akan terjadi dalam pendidikan kewarganegaraan. Pernahkah Anda memprediksi apa yang akan terjadi dengan negara-bangsa Indonesia pada tahun 2045 yakni Indonesia Generasi Emas?

Pada tahun 2045, bangsa Indonesia akan memperingati 100 Tahun Indonesia merdeka. Bagaimana nasib bangsa Indonesia pada 100 Tahun Indonesia merdeka? Berdasarkan hasil analisis ahli ekonomi yang diterbitkan oleh Kemendikbud (2013) bangsa Indonesia akan mendapat bonus demografi ( demographic bonus) sebagai modal Indonesia pada tahun 2045 (Lihat gambar tabel di bawah). Indonesia pada tahun 2030-2045 akan mempunyai usia produktif (15-64 tahun) yang berlimpah.

Inilah yang dimaksud bonus demografi. Bonus demografi ini adalah peluang yang harus ditangkap dan bangsa Indonesia perlu mempersiapkan untuk mewujudkannya. Usia produktif akan mampu berproduksi secara optimal apabila dipersiapkan dengan baik dan benar, tentunya cara yang paling strategis adalah melalui pendidikan, termasuk pendidikan kewarganegaraan.

Bagaimana kondisi warga negara pada tahun 2045? Apa tuntutan, kebutuhan, dan tantangan yang dihadapi oleh negara dan bangsa Indonesia? Benarkah hal ini akan terkait dengan masalah kewarganegaraan dan berdampak pada kewajiban dan hak warga negara? (37) Memperhatikan perkembangan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di masa kontemporer, ada pertanyaan radikal yang dilontarkan, seperti “Benarkah bangsa Indonesia saat ini sudah merdeka dalam makna yang sesungguhnya?”, “Apakah bangsa Indonesia telah merdeka secara ekonomi?” Pertanyaan seperti ini sering dilontarkan bagaikan bola panas yang berterbangan.

Siapa yang berani menangkap dan mampu menjawab pertanyaan tersebut? Anehnya, kita telah menyatakan kemerdekaan tahun 1945, namun tidak sedikit rakyat Indonesia yang menyatakan bahwa bangsa Indonesia belum merdeka.

Tampaknya, kemerdekaan belumlah dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Anda perhatikan perubahan yang terjadi dalam bidang ekonomi Indonesia pada gambar di bawah ini. Perubahan yang sangat signifikan akan terjadi. Mari kita identifikasi. Gambar I.9 Ekonomi Indonesia kini dan tahun 2030. Akankah ekonomi Indonesia yang menjanjikan dapat terwujud pada tahun 2030? Bagaimanakah upaya yang harus dilakukan?

(Sumber: Kemendikbud perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan (38) juta dan jumlah penduduk produktif sebanyak 53%. Pada tahun 2030, jumlah konsumen akan meningkat menjadi 135 juta dan jumlah penduduk produktif akan meningkat menjadi 71%. Bagaimana perubahan lain akan terjadi pada masa depan Indonesia, khususnya pada Generasi Emas Indonesia?

Pernahkah Anda berpikir radikal, misalnya berapa lama lagi NKRI akan eksis? Apakah ada jaminan bahwa negara Indonesia dapat eksis untuk 100 tahun lagi, 50 tahun lagi, 20 tahun lagi? Atau bagaimana PKn menghadapi tantangan masa depan yang tidak menentu dan tidak ada kepastian? Nasib sebuah bangsa tidak ditentukan oleh bangsa lain, melainkan sangat tergantung pada kemampuan bangsa sendiri. Apakah Indonesia akan berjaya menjadi negara yang adil dan makmur di masa depan?

Indonesia akan menjadi bangsa yang bermartabat dan dihormati oleh bangsa lain? Semuanya sangat tergantung kepada bangsa Indonesia. Demikian pula untuk masa depan PKn sangat ditentukan oleh eksistensi konstitusi negara dan bangsa Indonesia.

PKn akan sangat dipengaruhi oleh konstitusi yang berlaku dan perkembangan tuntutan kemajuan bangsa. Bahkan yang lebih penting lagi, akan sangat ditentukan oleh pelaksanaan konstitusi yang berlaku.

F. Rangkuman Hakikat dan Pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan 1. Secara etimologis, pendidikan kewarganegaraan berasal dari kata “pendidikan” dan kata “kewarganegaraan”. Pendidikan berarti usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya, sedangkan kewarganegaraan adalah segala hal ihwal yang berhubungan dengan warga negara.

2. Secara yuridis, pendidikan kewarganegaraan dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air. (39) diproses guna melatih para siswa untuk berpikir kritis, analitis, bersikap dan bertindak demokratis dalam mempersiapkan hidup demokratis berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 4.

Negara perlu menyelenggarakan pendidikan kewarganegaraan karena setiap generasi adalah orang baru yang harus mendapat pengetahuan, sikap/nilai dan keterampilan agar mampu mengembangkan warga negara yang memiliki watak atau karakter yang baik dan cerdas (smart and good citizen) untuk hidup dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sesuai dengan demokrasi konstitusional. 5. Secara historis, PKn di Indonesia awalnya diselenggarakan oleh organisasi pergerakan yang bertujuan untuk membangun rasa kebangsaaan dan cita-cita Indonesia merdeka.

Secara sosiologis, PKn Indonesia dilakukan pada tataran sosial kultural oleh para pemimpin di masyarakat yang mengajak untuk mencintai tanah air dan bangsa Indonesia. Secara politis, PKn Indonesia lahir karena tuntutan konstitusi atau UUD 1945 dan sejumlah kebijakan Pemerintah yang berkuasa sesuai dengan masanya. 6. Pendidikan Kewarganegaraan senantiasa menghadapi dinamika perubahan dalam sistem ketatanegaraan dan pemerintahan serta tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara.

7. PKn Indonesia untuk masa depan sangat ditentukan oleh pandangan bangsa Indonesia, eksistensi konstitusi negara, dan tuntutan dinamika perkembangan bangsa G. Praktik Kewarganegaraan 1 Bentuklah kelompok terdiri 5-7 orang 1. Anda identifikasi sebuah masalah bangsa yang dapat diantisipasi melalui pendidikan kewarganegaraan. Apakah masalah itu muncul dari perkembangan IPTEKS, tuntutan dan kebutuhan masyarakat, ataukah tantangan global saat ini 2.

Kumpulkanlah data dan informasi untuk mendeskripsikan lebih lanjut tentang masalah tersebut 3. Kemukakan program pendidikan kewarganegaraan seperti apa yang dapat dilakukan guna mengantisipasi masalah tersebut (40) BAB II BAGAIMANA ESENSI DAN URGENSI IDENTITAS NASIONAL SEBAGAI SALAH SATU DETERMINAN PEMBANGUNAN BANGSA DAN KARAKTER?

Apabila Anda pergi ke luar negeri, apa yang membedakan Anda dengan orang luar? Apa ciri atau penanda Anda yang bisa dikenali bahwa Anda adalah orang Indonesia?

Ciri atau penanda yang dapat membedakan Anda itu dapat disebut sebagai identitas. Identitas umumnya berlaku pada entitas yang sifatnya personal atau pribadi. Sebagai contoh, orang dikenali dari nama, alamat, jenis kelamin, agama, dan sebagainya. Hal demikian umum dikenal sebagai identitas diri. Gambar II.1 Kartu Tanda Penduduk, identitas diri atau nasional? Sumber: adminduk.jatengprov.go.id (41) dengan keluarga yang lain.

Sebuah bangsa sebagai bentuk persekutuan hidup dan negara sebagai organisasi kekuasaan juga memiliki identitas yang berbeda dengan bangsa lain. Setiap negara yang merdeka dan berdaulat sudah dapat dipastikan berupaya memiliki identitas nasional agar negara tersebut dapat dikenal oleh negara-bangsa lain dan dapat dibedakan dengan bangsa lain. Identitas nasional mampu menjaga eksistensi dan kelangsungan hidup negara-bangsa.

Negara-bangsa memiliki kewibawaan dan kehormatan sebagai bangsa yang sejajar dengan bangsa lain serta akan menyatukan bangsa yang bersangkutan. Lalu apa esensi, urgensi serta mengapa identitas nasional itu penting bagi negara-bangsa Indonesia? Apa sajakah identitas nasional Indonesia itu? Untuk mendapat jawaban atas pertanyaan ini, pada Bab II ini, kita akan membahas konsep dan urgensi identitas nasional.

Sejalan dengan kaidah pembelajaran ilmiah yang aktif, Anda diminta untuk menelusuri, bertanya, menggali, membangun argumentasi, dan memdeskripsikan kembali esensi dan urgensi identitas nasional baik secara tulisan maupun lisan.

Untuk pendalaman dan pengayaan pemahaman Anda tentang kajian di atas, pada bagian akhir bab ini disediakan Proyek Kewarganegaraan untuk dikerjakan.

Melalui pembelajaran ini Anda sebagai calon sarjana dan profesional diharapkan memiliki sejumlah kompetensi, yakni peduli terhadap identitas nasional sebagai salah satu determinan dalam pembangunan bangsa dan karakter yang bersumber dari nilai-nilai Pancasila. Anda juga mampu menganalisis esensi dan urgensi identitas nasional sebagai salah satu determinan dalam pembangunan bangsa dan karakter yang bersumber dari nilai-nilai Pancasila, dan mampu menyajikan hasil kajian konseptual dan/atau empiris terkait esensi dan urgensi identitas nasional sebagai salah satu determinan dalam pembangunan bangsa dan karakter yang bersumber dari nilai-nilai Pancasila.

A. Menelusuri Konsep dan Urgensi Identitas Nasional (42) Indonesia dibandingkan dengan negara lain. Semua yang ditanyakan ini berkaitan dengan konsep identitas nasional. Apa itu identitas nasional? Secara etimologis identitas nasional berasal dari dua kata “identitas” dan “nasional”. Apa yang Anda ketahui dari kata identitas dan nasional? Telusurilah dari berbagai kamus dan referensi lain. Untuk melaksanakan tugas, Anda dapat bekerja dalam kelompok diskusi.

Susunlah hasil diskusi dengan mengelompokkan pengertian identitas dan nasional dalam bentuk tabel. Kemudian presentasikan hasil kerja kelompok tersebut untuk mendapat tanggapan atau komentar dari teman mahasiswa lain. Bandingkan hasil penelusuran Anda dengan uraian di bawah ini. Konsep identitas nasional dibentuk oleh dua kata dasar, ialah “identitas” dan “nasional”. Kata identitas berasal dari kata “ identity” (Inggris) yang dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary berarti: (1) (C,U) who or what sb/sth is; (2) (C,U) the characteristics, feelings or beliefs that distinguish people from others; (3) the state of feeling of being very similar to and able to understand sb/sth.

Dalam kamus maya Wikipedia dikatakan “identity is an umbrella term used throughout the social sciences to describe a person's conception and expression of their individuality or group affiliations (such as national identity and cultural identity).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), identitas berarti ciri-ciri atau keadaan khusus seseorang atau jati diri. Dengan demikian identitas menunjuk pada ciri atau penanda yang dimiliki oleh sesorang, pribadi dan dapat pula kelompok.

Penanda pribadi misalkan diwujudkan dalam beberapa bentuk identitas diri, misal dalam Kartu Tanda Penduduk, ID Card, Surat Ijin Mengemudi, Kartu Pelajar, dan Kartu Mahasiswa. (43) Gambar II.2 Dewasa ini NPWP termasuk identitas diri warga negara Indonesia yang penting. Apakah Anda sudah memiliki? Sumber: http://administrasipajak.wordpress.com Kata nasional berasal dari kata “ national” (Inggris) yang dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary berarti: (1) connected with a particular nation; shared by a whole nation; (2) owned, controlled or financially supported by the federal, government.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “nasional” berarti bersifat kebangsaan; berkenaan atau berasal dari bangsa sendiri; meliputi suatu bangsa. Dalam konteks pendidikan kewarganegaraan, identitas nasional lebih dekat dengan arti jati diri yakni ciri-ciri atau karakeristik, perasaan atau keyakinan tentang kebangsaan yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa lain.

Apabila bangsa Indonesia memiliki identitas nasional maka bangsa lain akan dengan mudah mengenali dan mampu membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa lain.

(44) Cobalah cari kembali definisi, pengertian atau pendapat para ahli tentang konsep identitas nasional. Hasil penelusuran Anda dapat dibuat dalam pemetaan tabel seperti berikut ini.

Pengertian identitas nasional Lalu apa makna identitas nasional menurut Anda? Diskusikan dan kemukakan hasilnya secara lisan. Bandingkanlah hasil temuan Anda tersebut dengan uraian di bawah ini.

Tilaar (2007) menyatakan identitas nasional berkaitan dengan pengertian bangsa. Menurutnya, bangsa adalah suatu keseluruhan alamiah dari seseorang karena daripadanyalah seorang individu memperoleh realitasnya. Artinya, seseorang tidak akan mempunyai arti bila terlepas dari masyarakatnya. Dengan kata lain, seseorang akan mempunyai arti bila ada dalam masyarakat. Dalam konteks hubungan antar bangsa, seseorang dapat dibedakan karena nasionalitasnya sebab bangsa menjadi penciri yang membedakan bangsa yang satu dengan bangsa lainnya.

BAB XV BENDERA, BAHASA, DAN LAMBANG NEGARA, SERTA LAGU KEBANGSAAN**) Pasal 35 Bendera Negara Indonesia Ialah Sang Merah Putih. Pasal 36 Bahasa Negara Ialah Bahasa Indonesia.

perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan

Pasal 36 A Lambang Negara Ialah Garuda Pancasila Dengan Semboyan Bhinneka Tunggal Ika. **) Pasal 36 B (45) Selanjutnya, marilah kita telusuri dengan cara mengidentifikasi apa yang menjadi ciri atau karakteristik yang membedakan negara-bangsa Indonesia dibandingkan dengan negara lain?

Untuk menjawab pertanyaan ini, Anda dapat menelusuri konsep identitas nasional menurut pendekatan yuridis. Silakan membuka Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945) pada Bab XV tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan Pasal 35, 36A, 36 B, dan 36 C. Bendera Negara Indonesia, Bahasa Negara, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan merupakan identitas nasional bagi negara-bangsa Indonesia.

Silakan Anda mencermati pasal-pasal tentang identitas nasional sebagaimana tertera dalam kotak sebelumnya. Untuk lebih memahami ketentuan tentang identitas nasional tersebut, Anda dianjurkan untuk mengkaji ketentuan Bendera Negara Indonesia, Bahasa Negara, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan yang telah diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009 Tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan.

Gambar II.3 Bendera Negara RI Gambar II.4 Lambang Negara RI Sumber: https://www.google.com/ Sumber: https://www.google.com/ Untuk mengenal lebih jauh tentang identitas nasional, Anda dapat menelusuri sejumlah literatur yang membahas identitas nasional sebagai jati diri bangsa seperti dalam salah satu buku karya Soedarsono (2002) yang berjudul Character Building: Membentuk Watak.

(46) tentu menunjukkan pribadi kita sesungguhnya. Soedarsono (2002) menyatakan “Jati diri adalah siapa diri Anda sesungguhnya.” Makna identitas dalam konteks ini digambarkan sebagai jati diri individu manusia.

Jati diri sebagai sifat dasar manusia. Dinyatakannya bahwa jati diri merupakan lapis pertama yang nantinya menentukan karakter seseorang dan kepribadian seseorang. Bagaimana jati diri sebuah bangsa atau identitas nasional bangsa Indonesia? Identitas nasional bagi bangsa Indonesia akan sangat ditentukan oleh ideologi yang dianut dan norma dasar yang dijadikan pedoman untuk berperilaku. Semua identitas ini akan menjadi ciri yang membedakan bangsa Indonesia dari bangsa lain.

Identitas nasional dapat diidentifikasi baik dari sifat lahiriah yang dapat dilihat maupun dari sifat batiniah yang hanya dapat dirasakan oleh hati nurani. Bagi bangsa Indonesia, jati diri tersebut dapat tersimpul dalam ideologi dan konstitusi negara, ialah Pancasila dan UUD NRI 1945. Pertanyaannya, apakah Pancasila dan UUD NRI 1945 telah terwujudkan dalam segenap pengetahuan, sikap, dan perilaku manusia Indonesia? Inilah yang menjadi pertanyaan besar dan seyogianya haruslah segera dijawab oleh seluruh rakyat Indonesia dengan jawaban “ya”.

Seluruh rakyat Indonesia telah melaksanakan Pancasila dan UUD NRI 1945 dalam setiap kehidupan sehari-hari, kapan saja dan di mana saja, sebagai identitas nasionalnya. Konsep jati diri atau identitas bangsa Indonesia dibahas secara luas dan mendalam oleh Tilaar (2007) dalam buku yang berjudul MengIndonesia Etnisitas dan Identitas Bangsa Indonesia.

Diakui bahwa mengkaji masalah jati diri bangsa Indonesia merupakan sesuatu yang pelik. Jati diri bangsa Indonesia merupakan suatu hasil kesepakatan bersama bangsa tentang masa depan berdasarkan pengalaman masa lalu. Jati diri bangsa harus selalu mengalami proses pembinaan melalui pendidikan demi terbentuknya solidaritas dan perbaikan nasib di masa depan.

(47) sifat religius, sikap menghormati bangsa dan manusia lain, persatuan, gotong royong dan musyawarah, serta ide tentang keadilan sosial. Nilai-nilai dasar itu dirumuskan sebagai Nilai-nilai-Nilai-nilai Pancasila sehingga Pancasila dikatakan sebagai jati diri bangsa sekaligus identitas nasional. Benarkah identitas nasional itu menjadi salah satu determinan dalam pembangunan bangsa dan karakter? Anda dianjurkan untuk menelusuri berbagai sumber rujukan tentang identitas nasional atau jati diri bangsa.

Kemukakan jawaban Anda secara individual di depan kelas. Berdasar uraian–uraian di atas, perlu kiranya dipahami bahwa Pancasila merupakan identitas nasional Indonesia yang unik.

Pancasila bukan hanya identitas dalam arti fisik atau simbol, layaknya bendera dan lambang lainnya. Pancasila adalah identitas secara non fisik atau lebih tepat dikatakan bahwa Pancasila adalah jati diri bangsa (Kaelan, 2002). Menurut Hardono Hadi (2002) jati diri itu mencakup tiga unsur yaitu kepribadian, identitas, dan keunikan. Pancasila sebagai jati diri bangsa lebih dimaknai sebagai kepribadian (sikap dan perilaku yang ditampilkan manusia Indonesia) yang mencerminkan perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan nilai Pancasila.

Pancasila dipahami bukan rumus atau statusnya tetapi pada isinya, yakni nilai-nilai luhur yang diakui merupakan pandangan hidup bangsa yang disepakati.

Sebagai sikap dan perilaku maka ia dapat teramati dan dinilai seperti apakah jati diri kita sebagai bangsa. Selain itu dengan sikap dan perilaku yang ditampilkan, Pancasila sebagai jati diri bangsa akan menunjukkan identitas kita selaku bangsa Indonesia yakni ada unsur kesamaan yang memberi ciri khas kepada masyarakat Indonesia dalam perkembangannya dari waktu ke waktu. Demikian juga dengan kepribadian tersebut mampu memunculkan keunikan masyarakat Indonesia ketika berhubungan dengan masyarakat bangsa lain.

Dengan demikian, Pancasila sebagai jati diri bangsa yang bermakna kepribadian, identitas dan keunikan, dapat terwujud sebagai satu kesatuan. B. Menanya Alasan Mengapa Diperlukan Identitas Nasional Setelah kita menelusuri konsep identitas nasional, apa simpulan Anda? Tentu Anda menyimpan sejumlah pertanyaan, misalnya terkait dengan Pancasila yang disebut dasar falsafah negara, way of life, kepribadian bangsa dan juga sebagai identitas atau jati diri bangsa.

  (48) Pertanyaan yang diajukan bukanlah terhadap hakikat dan kebenaran dari Pancasila melainkan sejauh mana Pancasila tersebut telah dipahami, dihayati, dan diamalkan oleh seluruh rakyat Indonesia sehingga manusia Indonesia yang berkepribadian Pancasila tersebut memiliki pembeda bila dibandingkan dengan bangsa lain. Pembeda yang dimaksud adalah kekhasan positif, yakni ciri bangsa yang beradab, unggul, dan terpuji, bukanlah sebaliknya yakni kekhasan yang negatif, bangsa yang tidak beradab, bangsa yang miskin, terbelakang, dan tidak terpuji.

Pertanyaan-pertanyaan dalam kotak di atas, dapat Anda kembangkan lebih jauh lagi dengan pertanyaan-pertanyaan yang lebih kritis dan kreatif untuk membangun bangsa dan karakter. C. Menggali Sumber Historis, Sosiologis, Politik tentang Identitas Nasional Indonesia Setelah Anda menyimpulkan konsep identitas nasional dan perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan sejumlah permasalahannya, selanjutnya kita akan menggali sejumlah sumber tentang identitas nasional yang meliputi sumber historis, sosiologis, dan politis.

Dengan menggali sumber-sumber identitas nasional diharapkan Anda akan dapat menjawab pertanyaan di atas seperti “Benarkah identitas nasional itu menjadi salah satu determinan dalam pembangunan bangsa dan karakter?” Sebelum kita membahas lebih jauh tentang identitas nasional menurut sumber historis, sosiologis, dan politis, kita terlebih dahulu akan mencermati dahulu dua jenis identitas, yakni identitas primer dan sekunder (Tilaar, 2007; Winarno, 2013).

Identitas primer dinamakan juga identitas etnis yakni identitas yang mengawali terjadinya identitas sekunder, Anda dapat mengajukan sejumlah pertanyaan tentang identitas nasional, seperti:  Mengapa sebuah bangsa perlu identitas?  Apakah bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa Indonesia benar-benar telah mampu menyatukan kita sebagai bangsa?  Apakah suatu identitas dalam kurun waktu tertentu bisa hilang?  Bolehkah kita meniru identitas orang lain? (49) sedangkan identitas sekunder adalah identitas yang dibentuk atau direkonstruksi berdasarkan hasil kesepakatan bersama.

Bangsa Indonesia yang memiliki identitas primer atau etnis atau suku bangsa lebih dari 700 suku bangsa telah bersepakat untuk membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan menyatakan proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945.

Identitas etnis yang terwujud antara lain dalam bentuk budaya etnis yang dikembangkan agar memberi sumbangan bagi pembentukan budaya nasional dan akhirnya menjadi identitas nasional. Gambar II.5 Sebuah suku dengan pakaian adatnya, identitas primer atau sekunder? Sumber: http://juntak-radio.blogspot.com/2012/05 Tahukah Anda identitas etnis itu apa?

Apa sajakah yang termasuk identitas etnis atau identitas primer tersebut? (50) Pembentukan identitas nasional melalui pengembangan kebudayaan Indonesia telah dilakukan jauh sebelum kemerdekaan.

Menurut Nunus Supardi (2007) kongres kebudayaan di Indonesia pernah dilakukan sejak 1918 yang diperkirakan sebagai pengaruh dari Kongres Budi Utomo 1908 yang dipelopori oleh dr.

Radjiman Widyodiningrat. Kongres ini telah memberikan semangat bagi bangsa untuk sadar dan bangkit sebagai bangsa untuk menemukan jati diri. Kongres Kebudayaan I diselenggarakan di Solo tanggal 5-7 Juli 1918 yang terbatas pada pengembangan budaya Jawa. Namun dampaknya telah meluas sampai pada kebudayaan Sunda, Madura, dan Bali.

Kongres bahasa Sunda diselenggarakan di Bandung tahun 1924. Kongres bahasa Indonesia I diselenggarakan tahun 1938 di Solo. Peristiwa-peristiwa yang terkait dengan kebudayaan dan kebahasaan melalui kongres telah memberikan pengaruh positif terhadap pembangunan jati diri dan/atau identitas nasional. Setelah proklamasi kemerdekaan, Kongres Kebudayaan diadakan di Magelang pada 20-24 Agustus 1948 dan terakhir di Bukittinggi Sumatera Barat pada 20-22 Oktober 2003.

Menurut Tilaar (2007) kongres kebudayaan telah mampu melahirkan kepedulian terhadap unsur-unsur budaya lain. Secara historis, pengalaman kongres telah banyak memberikan inspirasi yang mengkristal akan kesadaran berbangsa yang diwujudkan dengan semakin banyak berdirinya organisasi kemasyarakatan dan organisasi politik. Pada tahun 1920-1930-an pertumbuhan partai politik di nusantara bagaikan tumbuhnya jamur di musim hujan. (51) Pada uraian sebelumnya telah dijelaskan bahwa identitas nasional bersifat buatan, dan sekunder.

Bersifat buatan karena identitas nasional itu dibuat, dibentuk, dan disepakati oleh warga bangsa sebagai identitasnya setelah mereka bernegara. Bersifat sekunder karena identitas nasional lahir kemudian bila dibandingkan dengan identitas kesukubangsaan yang memang telah dimiliki warga bangsa itu secara askriptif. Jauh sebelum mereka memiliki identitas nasional, warga bangsa telah memiliki identitas primer yaitu identitas kesukubangsaan.

Gambar II.6 Lagu Kebangsaan Indonesia, termasuk identitas apa? Sumber: https://www.google.com/ search?q=lagu+indonesia+raya (52) pertikaian internal yang berlarut-larut untuk saling mengangkat identitas kesukubangsaan menjadi identitas nasional. Contoh; kasus negara Srilanka yang diliputi pertikaian terus menerus antara bangsa Sinhala dan Tamil sejak negara itu merdeka. Setelah bangsa Indonesia lahir dan menyelenggarakan kehidupan bernegara selanjutnya mulai dibentuk dan disepakati apa saja yang dapat dijadikan identitas nasional Indonesia.

Dengan perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara hingga saat ini, dapat dikatakan bangsa Indonesia relatif berhasil dalam membentuk identitas nasionalnya. Demikian pula dalam proses pembentukan ideologi Pancasila sebagai identitas nasional. Setelah melalui berbagai upaya keras dan perjuangan serta pengorbanan di antara komponen bangsa bahkan melalui kegiatan saling memberi dan menerima di antara warga bangsa, maka saat ini Pancasila telah diterima sebagai dasar negara.

Pekerjaan rumah yang masih tersisa dan seyogianya menjadi perhatian pemimpin bangsa dan seluruh rakyat Indonesia adalah perwujudan Pancasila dalam pengamalannya.

Dengan kata lain, sampai saat ini, Pancasila belumlah terwujud secara optimal dalam sikap dan perilaku seluruh rakyat Indonesia.

Bagaimana menurut Anda? Secara sosiologis, identitas nasional telah terbentuk dalam proses interaksi, komunikasi, dan persinggungan budaya secara alamiah baik melalui perjalanan panjang menuju Indonesia merdeka maupun melalui pembentukan intensif pasca kemerdekaan. Identitas nasional pasca kemerdekaan dilakukan secara terencana oleh Pemerintah dan organisasi kemasyarakatan melalui berbagai kegiatan seperti upacara kenegaraan dan proses pendidikan dalam lembaga pendidikan formal atau non formal.

Dalam kegiatan tersebut terjadi interaksi antaretnis, antarbudaya, antarbahasa, antargolongan yang terus menerus dan akhirnya menyatu berafiliasi dan memperkokoh NKRI. (53) warna dan bentuk rambut, dan lain-lain. Sedangkan aspek psikis dapat dikenali dari unsur-unsur seperti kebiasaan, hobi atau kesenangan, semangat, karakter atau watak, sikap, dan lain-lain. Mari kita perhatikan konsep jati diri atau identitas diri sebagai refleksi dari seorang ahli berikut ini.

Soemarno Soedarsono (2002) telah megungkapkan tentang jati diri atau identitas diri dalam konteks individual. Bagaimana dengan identitas nasional? Ada suatu ungkapan yang menyatakan bahwa baiknya sebuah negara ditentukan oleh baiknya keluarga, dan baiknya keluarga sangat ditentukan oleh baiknya individu.

Merujuk pada ungkapan tersebut maka dapat ditarik simpulan bahwa identitas individu dapat menjadi representasi dan penentu identitas nasional. Oleh karena itu, secara sosiologis keberadaan identitas etnis termasuk identitas diri individu sangat penting karena dapat menjadi penentu bagi identitas nasional.

Kemukakan komentar dan pendapat kritis Anda tentang pembentukan identitas nasional secara sosiologis menurut ungkapan di atas. Kemudian kaitkan ungkapan tersebut dengan kondisi faktual Indonesia dengan pembuktian empiris tentang kesesuaiannya. Lakukan dalam kelompok kecil dan hasilnya dirumuskan dalam tulisan. Figur Gambar I.9 Apa kontribusi PKn terhadap dinamika dan tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti masalah perpajakan di atas?

(Sumber: pajak.go.id) p.33 Gambar I.9 Ekonomi Indonesia kini dan tahun 2030. Akankah ekonomi Indonesia yang menjanjikan dapat terwujud pada tahun 2030? Bagaimanakah upaya yang harus dilakukan? (Sumber: Kemendikbud (2013)) p.37 Gambar II.2 Dewasa ini NPWP termasuk identitas diri warga negara Indonesia yang penting p.43 Gambar II.3 Bendera Negara RI Gambar II.4 Lambang Negara RI Sumber: https://www.google.com/ p.45 Gambar II.6 Lagu Kebangsaan Indonesia, termasuk identitas apa?

Sumber: https://www.google.com/ search?q=lagu+indonesia+raya p.51 Gambar II.8 Berlatih bahasa asing, apakah menjadi ancaman bagi identitas nasional? Sumber: http://merdeka.com/ p.59 Gambar III.9 Integrasi ekonomi saling menguntungkan dan sinergis p.76 Gambar III.8 Dimensi perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan integrasi politik p.76 Gambar III.13 Kesenjangan ekonomi dapat menyebabkan disintegrasi bangsa.

Hal ini disebabkan karena tidak stabilnya keuangan negara yang salah satunya disebabkan karena penerimaan negara yang belum memadai p.80 Gambar III.15 Perbatasan Malaysia dan Indonesia. Jalan yang menghubungkan antar p.87 Gambar IV.1 UUD NRI 1945 sebagai konstitusi negara Indonesia. Apa isinya? Sumber: http://kabarraja.blogspot.com p.100 Gambar IV.2 Saya mau bertanya apa?

Sumber: http://semesteberfikir.blogspot.com p.107 Gambar IV.3 Raja Raja John di Inggris menandatangani Magna Charta. Apa tujuannya? Sumber: https://static.guim.co.uk/ p.108 Gambar IV.4 Dalam sejarah Perancis, Raja p.109 Tabel IV.2 Dinamika Konstitusi Indonesia p.115 Gambar IV.5 Presiden menyatakan berhenti. Adakah aturannya dalam konstitusi? Sumber: http://liputan6.com/ p.116 Gambar IV.6 Pasar tradisional yang mulai berkurang sejak adanya market modern.

Apakah dijamin keberadaannya oleh UUD NRI 1945? Sumber: www.jogja.co p.119 Tabel IV.3 Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 p.120 Gambar IV.7 Tata Urutan Peraturan Perundang-Undangan di p.122 Gambar IV.8 Alur Penggunaan Pajak dalam Membiayai Belanja Negara 1 p.125 Gambar V.1 Kewajiban dan p.130 Gambar V.2 Cover buku Kalah dan Menang. p.134 Gambar V.3 Sutan Takdir p.136 Gambar V.4 Melaksanakan kewajiban perpajakan juga merupakan salah satu kewajiban warga negara p.136 Gambar V.5 Menikmati hasil pembangunan merupakan salah satu hak warga negara dalam mendapatkan manfaat membayar pajak p.137 Tabel V.1 Insan Indonesia Cerdas dan Kompetitif 2025 p.155 Gambar V.7 Perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan dan kewajiban warga negara melalui pembayaran pajak dan manfaat yang diterima p.156 Gambar VI.1 Dalam demokrasi, rakyat berdaulat, benarkah?

Sumber: ujiansma.com p.160 Gambar VI.2 Bung Hatta: “demokrasi Indonesia adalah kedaulatan rakyat berdasarkan kolektivitas yang bersifat desentralistik” p.168 Gambar VI.3 Pilih demokrasi atau nondemokrasi? Sumber: http://freepik.com p.169 Outline : Menelusuri Konsep dan Urgensi Identitas Nasional Mendeskripsikan Esensi dan Urgensi Identitas Nasional Indonesia Jenis Integrasi Menelusuri Konsep dan Urgensi Harmoni Kewajiban dan Hak Negara dan Tiga Tradisi Pemikiran Politik Demokrasi Bagaimana Penerapan Demokrasi dalam Pemilihan Pemimpin Politik Lainnya : Materi Kuliah Umum - Repositori Universitas Andalas Menelusuri Konsep dan Urgensi Pendidikan Menanya Alasan Mengapa Diperlukan Pendidikan Menggali Sumber Historis, Sosiologis, dan Politik tentang Membangun Argumen tentang Dinamika dan Tantangan Mendeskripsikan Esensi dan Urgensi Pendidikan Rangkuman Hakikat dan Pentingnya Pendidikan Praktik Kewarganegaraan 1 Materi Kuliah Umum - Repositori Universitas Andalas Menelusuri Konsep dan Urgensi Identitas Nasional Perilaku gotong royong telah dimiliki bangsa indonesia sejak kapan negara Sang Merah Putih Bahasa Negara Bahasa Indonesia Lambang Negara Garuda Pancasila Lagu Kebangsaan Indonesia Raya Semboyan Negara Bhinneka Tunggal Ika Dasar Falsafah Negara Pancasila Mendeskripsikan Esensi dan Urgensi Identitas Nasional Rangkuman tentang Identitas Nasional Praktik Kewarganegaraan 2 Materi Kuliah Umum - Repositori Universitas Andalas Makna Integrasi Nasional Menelusuri Konsep dan Urgensi Integrasi Nasional Integrasi Politik Jenis Integrasi Integrasi Ekonomi Integrasi sosial budaya Pentingnya Integrasi nasional Menelusuri Konsep dan Urgensi Integrasi Nasional Integrasi versus Disintegrasi Menelusuri Konsep dan Urgensi Integrasi Nasional Menanya Alasan Mengapa Diperlukan Integrasi Nasional Model integrasi imperium Majapahit Model integrasi kolonial Model integrasi nasional Indonesia Adanya ancaman dari luar Integrasi bangsa Integrasi wilayah Integrasi nilai Integrasi elit-massa Integrasi tingkah laku perilaku integratif.

Tantangan dalam membangun integrasi
none

DokuDrama UTS Pancasila (Peran dalam Masyarakat)




2022 www.videocon.com