Perbedaan lain antara pendinginan dan pembekuan adalah dalam hal pengaruhnya terhadap keaktifan mikroorganisme di dalam

perbedaan lain antara pendinginan dan pembekuan adalah dalam hal pengaruhnya terhadap keaktifan mikroorganisme di dalam

★ SMA Kelas 10 / Prakarya - SMA Kelas 10 Perbedaan lain antara pendinginan dan pembekuan adalah dalam hal pengaruhnya terhadap keaktifan mikroorganisme di dalam…. A. Kristal es B. suhu kamar C. sel-sel daging D.

bahan pangan E. hidupnya mikroorganisme Pilih jawaban kamu: A B C D E Soal Selanjutnya > Soal perbedaan lain antara pendinginan dan pembekuan adalah dalam hal pengaruhnya terhadap keaktifan mikroorganisme di dalam jawaban salah? klik disini untuk mengoreksi melalui kolom komentar Preview soal lainnya: Kerajaan Mataram Islam - Sejarah SMA Kelas 11 Mataram Islam merupakan kerajaan yang awal mulanya berdiri di daerah …. A. Kartasura B. Kerta C. Pleret D. Kotagede E. Pajang Cara Menggunakan : Baca dan cermati soal baik-baik, lalu pilih salah satu jawaban yang kamu anggap benar dengan mengklik / tap pilihan yang tersedia.

Materi Latihan Soal Lainnya: • PAT Penjaskes PJOK SD Kelas 4 • Vegetatif dan Generatif - IPA SD Kelas 6 • PTS Bahasa Indonesia SMA Kelas 10 • Bahasa Mandarin SMP Kelas 7 • Kisah Nabi - PAI • Satuan Panjang - Matematika SD Kelas 3 • PPKn Tema 7 SD Kelas 1 • Mean, Modus, Median - Matematika SD Kelas 6 • Ujian Semester 2 Genap PAI SD Kelas 3 • Evaluasi Listrik Statis - IPA SMP Kelas 9 Tentang LatihanSoalOnline.com Latihan Soal Online adalah website yang berisi tentang latihan soal mulai dari soal SD / MI Sederajat, SMP / MTs sederajat, SMA / MA Sederajat hingga umum.

Website ini hadir dalam rangka ikut berpartisipasi dalam misi mencerdaskan manusia Indonesia. Halaman Depan • Hubungi Kami • Kirim Soal • Privacy Policy • • BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Bahan pangan adalah hal yang sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup. Karena, kehidupan kita tidak luput dari kebutuhan untuk mengkonsumsi bahan pangan. Mengkonsumsi bahan pangan adalah kewajiban untuk memberikan nutrisi pada tubuh agar tetap sehat dan kuat.

Banyak kandungan bahan pangan yang diperlukan oleh tubuh kita. Seperti karbohidrat, vitamin, mineral, protein dan lemak. Semua kandungan yang terdapat pada bahan pangan tersebut sangat dibutuhkan oleh tubuh agar tetap bisa melaksanakan aktivitas sehari-hari. Pemilihan bahan pangan yang baik juga sangat dianjurkan, karena sudah banyak bahan pangan yang di buat hanya untuk pemenuhan materi seseorang saja tanpa memikirkan dampak yang ditimbulkan.

Seperti campuran zat yang berbahaya untuk kesehatan. Salah satunya adalah pengawetan. Pada dasarnya pengawetan adalah cara untuk membuat bahan pangan menjadi tahan lama. Karena, para konsumen lebih menyukai bahan pangan yang segar dibandingkan yang sudah berhari-hari disimpan.

Contohnya buah-buahan. Buah-buahan adalah salah satu bahan pangan yang mudah busuk jika disimpan disuhu ruangan. Untuk itu cara mengatasinya adalah dengan diawetkan pada suhu dingin agar buah tersebut tidak mudah mengalami browning.

Cara pengawetan yang sederhana adalah dengan melakukan chilling dan freezing. Proses pendinginan ini merupakan rangkaian dari berbagai tahapan pengolahan pangan atau makanan yang seringkali menjadi salah satu acuan dalam menentukan kualitas bahan pangan itu sendiri. Pendinginan tersebut sebenarnya dapat memperlambat kecepatan reaksi-reaksi metabolisme, dimana pada umumnya setiap penurunan suhu 80C, kecepatan reaksi akan berkurang menjadi kira-kira setengahnya.

Karena itu penyimpanan dapat memperpanjang masa hidup jaringan-jaringan dalam bahan pangan, karena keaktifan respirasi menurun (Winarno dkk, l982). Sama halnya dengan pendinginan, proses pembekuan makanan melibatkan pemindahan panas dari produk makanan. Hal ini akan menyebabkan membekunya kadar air di dalam makanan dan menyebabkan berkurangnya aktivitas air di dalamnya. Menurunnya temperatur dan menghilangnya ketersediaan air menjadi penghambat utama pertumbuhan mikroorganisme dan aktivitas enzim di dalam produk makanan, menyebabkan makanan menjadi lebih awet dan tidak mudah membusuk.

Keunggulan dari teknik pembekuan makanan adalah semua hal tersebut dapat dicapai dengan mempertahankan kualitas makanan seperti nilai nutrisi, sifat organoleptik, dan sebagainya 1.2. Tujuan Praktikum • Mahasiswa dapat mengidentifikasi alat pendinginan yang biasa digunakan dalam chilling dan freezing dan menggunakannya dengan tepat sesuai pengaturan suhu cooler.

• Mahasiswa mengetahui mekanisme pengawetan pangan dengan memanfaatkan aplikasi suhu rendah yaitu pendinginan dan pembekuan. • Mahasiswa memahami faktor yang mempengaruhi efektivitas pendinginan dan pembekuan dan mengetahui kerusakan bahan pangan akibat penyimpanan pada suhu rendah. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Teknologi pembekuan makanan adalah teknologi mengawetkan makanan dengan menurunkan temperaturnya hingga di bawah titik beku air. Hal ini berlawanan dengan pemProsesan termal, di mana makanan dipaparkan ke temperatur tinggi dan memicu tegangan termal terhadap makanan, dapat mengakibatkan hilangnya nutrisi, perubahan rasa, tekstur, dan sebagainya, atau pemrosesan kimia dan fermentasi yang dapat mengubah sifat fisik dan kimia makanan.

Teknik pembekuan makanan ini sudah dikenal sejak lama sekali, sedangkan teknik pembekuan dengan campuran garam-es diperkenalkan pada tahun 1800an di dua tempat, yaitu di Inggris (oleh H. Benjamin pada tahun 1842) dan di Amerika Sarikat (oleh Enoch Piper pada tahun 1861) yang keduanya memanfaatkannya untuk mendinginkan ikan. Komersialisasi teknik pembekuan makanan baru dimulai di akhir abad ke 19 ketika alat pendingin mekanis, yang saat ini disebut dengan lemari es, ditemukan.

Dan di pertengahan abad ke 20, makanan beku mulai ikut bersaing dengan makanan kalengan dan makanan kering. Pendinginan sendiri berarti suatu metode pengawetan yang ringan, pengaruhnya kecil sekali terhadap mutu bahan pangan secara keseluruhan.

perbedaan lain antara pendinginan dan pembekuan adalah dalam hal pengaruhnya terhadap keaktifan mikroorganisme di dalam

Oleh sebab itu pendinginan seperti di dalam lemari es sangat cocok untuk memperpanjang kesegaran atau masa simpan sayuran dan buah-buahan. Sayuran dan buah-buahan tropis tidak tahan terhadap suhu rendah dan ketahanan terhadap suhu rendah ini berbeda-beda untuk setiap jenisnya. Sebagai contoh, buah pisang dan tomat tidak boleh disimpan pada suhu lebih rendah dari 130C karena akan mengalami chilling injury yaitu kerusakan karena suhu rendah.

Buah pisang yang disimpan pada suhu terlalu rendah kulitnya akan menjadi bernoda hitam atau berubah menjadi coklat, sedangkan buah tomat akan menjadi lunak karena teksturnya rusak. Sedangkan pemebekuan berarti Pembekuan adalah proses penurunan suhu bahan pangan sampai bahan pangan membeku, yaitu jika suhu pada bagian dalamnya paling tinggi sekitar –180C, meskipun umumnya produk beku mempunyai suhu lebih rendah dari ini.

Pada kondisi suhu beku ini bahan pangan menjadi awet karena mikroba tidak dapat tumbuh dan enzim tidak aktif. Sayuran dan buah-buahan umumnya diblansir dahulu untuk menginaktifkan enzim sebelum dibekukan. Bahan pangan seperti daging dapat disimpan antara 12 sampai 18 bulan, ikan dapat disimpan selama 8 sampai 12 bulan dan buncis dapat disimpan antara 12 sampai 18 bulan. a. Prinsip dasar penyimpanan pada suhu rendah : • Menghambat pertumbuhan mikroba • Menghambat reaksi-reaksi enzimatis, kimiawi dan biokimiawi Penyimpanan pada suhu rendah dapat menghambat kerusakan makanan, antara lain kerusakan fisiologis, kerusakan enzimatis maupun kerusakan mikrobiologis.

Pada pengawetan dengan suhu rendah dibedakan antara pendinginan dan pembekuan. Pendinginan dan pembekuan merupakan salah satu cara pengawetan yang tertua. – Kisaran suhu yang digunakan dalam proses pendinginan biasanya antara – 1oC sampai + 4oC. Pada suhu tersebut, pertumbuhan bakteri dan proses biokimia akan terhambat. Pendinginan biasanya akan mengawetkan bahan pangan selama beberapa hari atau beberapa minggu, tergantung kepada jenis bahan pangannya.

Pendinginan yang biasa dilakukan di rumah-rumah tangga adalah dalam lemari es yang mempunyai suhu –2oC sampai + 16oC. – Pembekuan yang baik dapat dilakukan pada suhu kira-kira –17oC atau lebih rendah lagi. Pada suhu ini pertumbuhan bakteri sama sekali berhenti. Pembekuan yang baik biasanya dilakukan pada suhu antara – 12oC sampai – 24oC. Dengan pembekuan, bahan akan tahan sampai bebarapa bulan, bahkan kadang-kadang beberapa tahun. b. Perbedaan antara pendinginan dan pembekuan juga ada hubungannya dengan aktivitas mikroba.

– Sebagian besar organisme perusak tumbuh cepat pada suhu di atas 10oC – Beberapa jenis organisme pembentuk racun masih dapat hidup pada suhu kira-kira 3,3oC.

– Organisme psikrofilik tumbuh lambat pada suhu 4,4oC sampai – 9,4oC Jumlah mikroba yang terdapat pada produk yang didinginkan atau yang dibekukan sangat tergantung kepada penanganan atau perlakuan-perlakuan yang diberikan sebelum produk itu didinginkan atau dibekukan, karena pada kenyataannya mikroba banyak berasal dari bahan mentah/ bahan baku. Setiap bahan pangan yang akan didinginkan atau dibekukan perlu mendapat perlakuan-perlakuan pendahuluan seperti pembersihan, blansing, atau sterilisasi, sehingga mikroba yang terdapat dalam bahan dapat sedikit berkurang atau terganggu keseimbangan metabolismenya.

Pada umumnya proses-proses metabolisme (transpirasi atau penguapan, respirasi atau pernafasan, dan pembentukan tunas) dari bahan nabati seperti sayur-sayuran dan perbedaan lain antara pendinginan dan pembekuan adalah dalam hal pengaruhnya terhadap keaktifan mikroorganisme di dalam atau dari bahan hewani akan berlangsung terus meskipun bahan-bahan tersebut telah dipanen ataupun hewan telah disembelih.

Proses metabolisme ini terus berlangsung sampai bahan menjadi mati dan akhirnya membusuk. Suhu dimana proses metabolisme ini berlangsung dengan sempurna disebut sebagai suhu optimum. Penggunaan suhu rendah dalam pengawetan makanan tidak dapat mematikan bakteri, sehingga pada waktu bahan beku dikeluarkan dan dibiarkan hingga mencair kembali (“thawing”), maka pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroba dapat berlangsung dengan cepat.

Penyimpanan dingin dapat menyebabkan kehilangan bau dan rasa beberapa bahan bila disimpan berdekatan. Misalnya : • Mentega dan susu akan menyerap bau ikan dan bau buah-buahan • Telur akan menyerap bau bawang Bila memungkinkan sebaiknya penyimpanan bahan yang mempunyai bau tajam terpisah dari bahan lainnya, tetapi hal ini tidak selalu ekonomis.

Untuk mengatasinya, bahan yang mempunyai bau tajam disimpan dalam kedaan terbungkus. c. Faktor-faktor yang mempengaruhi pendinginan yaitu : – Suhu – Kualitas bahan mentah – Sebaiknya bahan yang akan disimpan mempunyai kualitas yang baik – Perlakuan pendahuluan yang tepat, Misalnya pembersihan/ pencucian atau blansing – Kelembaban Umumnya RH dalam pendinginan sekitar 80 – 95 %.

Sayur-sayuran disimpan dalam pendinginan dengan RH 90 – 95 % – Aliran udara yang optimum Distribusi udara yang baik menghasilkan suhu yang merata di seluruh tempat pendinginan, sehingga dapat mencegah pengumpulan uap air setempat (lokal). d. Keuntungan penyimpanan dingin : – Dapat menahan kecepatan reaksi kimia dan enzimatis, juga pertumbuhan dan metabolisme mikroba yang diinginkan.

Misalnya pada pematangan keju. – Mengurangi perubahan flavor jeruk selama proses ekstraksi dan penyaringan – Mempermudah pengupasan dan pembuangan biji buah yang akan dikalengkan.

– Mempermudah pemotongan daging dan pengirisan roti – Menaikkan kelarutan CO2 yang digunakan untuk ” soft drink ” Air yang digunakan didinginkan lebih dahulu sebelum dikarbonatasi untuk menaikkan kelarutan CO2. e. Kerugian penyimpanan dingin : – Terjadinya penurunan kandungan vitamin, antara lain vitamin C – Berkurangnya kerenyahan dan kekerasan pada buah-buahan dan sayur-sayuran – Perubahan warna merah daging – Oksidasi lemak – Pelunakan jaringan ikan – Hilangnya flavor f.

Pengaruh pendinginan terhadap makanan : 1. Penurunan suhu mengakibatkan penurunan proses kimia, mikrobiologidan biokimia yang berhubungan dengan kelayuan, kerusakan, pembusukandll. 2. Pada suhu kurang dari 0 oCair akan membeku kemudian terpisah dari larutan dan membentuk es. Jika kristal es yang terbentuk besar dan tajam akan merusak tekstur dan sifat pangantetapi di lain pihak kristal es yang besar dan tajam juga bermanfaat untuk mereduksi atau mengurangi mikroba jumlah mikroba.

perbedaan lain antara pendinginan dan pembekuan adalah dalam hal pengaruhnya terhadap keaktifan mikroorganisme di dalam

Pembentukan kristal es menjadi bagian penting dalam mekanisme pengawetan dengan pembekuan. Sebuah kristal es yang terbentuk misalnya, dapat menarik seluruh air bebas dalam sel bakteri dan khamir. Kristal-kristal ekstra seluler dapat menyebabkan pembekuan isi sel melalui perforasi.

perbedaan lain antara pendinginan dan pembekuan adalah dalam hal pengaruhnya terhadap keaktifan mikroorganisme di dalam

Tanpa kristal es ekstra seluler, sel masih bisa betahan (belum membeku) pada suhu – 25 oC, tetapi jika terdapat kristal es tersebut sel membeku pada – 5 oC.

g. Proses pembekuan yang terjadi pada makanan : Perubahan bahan sampai membeku tidak terjadi sekaligus dari cairan ke padatan. Contohnya sebotol susu yang disimpan pada ruang pembeku (freezer), maka cairan yang paling dekat dengan dinding botol akan membeku lebih dahulu. Kristal yang terjadi mula-mula ialah air murni (H2O). Ketika air terus berkristal, susu menjadi lebih pekat terutama pada komponen protein, lemak, laktosa, dan mineral. Pekatan ini akan berkristal secara perlahan-lahan sebanding dengan proses pembekuan yang berlangsung pada makanan.

h. Pada pembekuan akan terjadi beberapa proses sebagai berikut : Mula-mula terjadi pembentukan kristal es yang biasanya berlangsung cepat pada suhu dibawah 0 oC.

Kemudian diikuti proses pembesaran dari kristal-kristal es yang berlangsung cepat pada suhu – 2 oC sampai – 7 oC. Pada suhu yang lebih rendah lagi, maka pembesaran kristal-kristal es dihambat karena kecepatan pembentukan kristal es meningkat.

perbedaan lain antara pendinginan dan pembekuan adalah dalam hal pengaruhnya terhadap keaktifan mikroorganisme di dalam

Secara normal pembesaran kristal-kristal es dimulai di ruang ekstra seluler, karena viskositas cairannya relatif lebih rendah. Bila pembekuan berlangsung secara lambat, maka volume ekstra seluler lebih besar sehingga terjadi pembentukan kristal-kristal es yang besar di tempat itu. Kristal es yang besar akan menyebabkan kerusakan pada dinding sel. Kadar air bahan makin rendahmaka akan terjadi denaturasi protein terutama pada bahan nabati.

Proses ini bersifat irreversible. Pembekuan secara cepat akan menghambat kecepatan difusi air ke ruang ekstra seluler, akibatnya air akan berkristal di ruang intra seluler, sehingga massa kristal es akan terbagi rata dalam seluruh jaringan.

Kristal es yang terbentuk berukuran kecil-kecil. Keadaan ini mengakibatkan kehilangan air pada waktu ” thawing ” akan berkurang. Pembekuan menyebabkan terjadinya : – Perubahan tekstur – Pecahnya emulsi lemak – Perubahan fisik dan kimia dari bahan Perubahan yang terjadi tergantung dari komposisi makanan sebelum dibekukan.

Konsentrasi padatan terlarut yang meningkat, akan merendahkan kemampuan pembekuan. Bila dalam larutan mengandung lebih banyak garam, gula, mineral, dan protein, akan menyebabkan titik beku lebih rendah dan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk membeku.

Dibandingkan dengan pemanasan dan pengeringan, maka pembekuan dalam pengawetan sebenarnya lebih berorientasi pada usaha penghambatan tumbuhkembangnya mikroba serta pencegahan kontaminasi yang akan terjadi.

perbedaan lain antara pendinginan dan pembekuan adalah dalam hal pengaruhnya terhadap keaktifan mikroorganisme di dalam

Oleh karena itu jumlah mikroba dan kontaminasi atau kerusakan awal bahan pangan sangat penting diperhitungkan sebelum pembekuan. Jadi sanitasi dan higiene pra-pembekuan ikut menentukan mutu makanan beku. Produk pembekuan yang bahan asalnya mempunyai tingkat kontaminasi tinggi, akan lebih cepat rusak atau lebih cepat turun mutunya dibandingkan dengan bahan yang pada awalnya lebih rendah kadar kontaminasinya.

i. Teknik-teknik pembekuan 1. Penggunaan udara dingin yang diiupkan atau gas lain dengan suhu rendah kontak langsung dengan makanan. Contohnya alat pembeku terowongan (“tunnel freezer ” ). 2. Kontak tidak langsung 3. Makanan atau cairan yang telah dikemas kontak dengan permukaan logam (lempengan silindris) yang telah didinginkan dengan cara mensirkulasikan cairan pendingin.

Contohnya alat pembeku lempeng ( “plate freezer ” ). perbedaan lain antara pendinginan dan pembekuan adalah dalam hal pengaruhnya terhadap keaktifan mikroorganisme di dalam. Perendaman langsung makanan ke dalam cairan pendingin atau menyemprotkan cairan 5.

Pendingin di atas makanan, misalnya nitrogen cair, freon, atau larutan garam. 6. Dalam sistem pendingin diperlukan suatu medium pemindahan panas yang disebut “refrigeran “.

Yang dimaksud dengan refrigeran yaitu suatu bahan yang dapat menghilangkan atau memindahkan panas dari suatu ruang tertutup atau benda yang didinginkan. Sirkulasi udara dalam lemari es perlu dijaga untuk mencegah pengeringan dari produk dan menghilangkan panas dari produk dan dari dinding lemari es.

Sebagian besar makanan mengandung air dalam kadar yang tinggi, karena itu jangan dibiarkan bahan terbuka terhadap sirkulasi udara yang cepat. Kelembaban dalam ruang es perlu dikontrol karena perbedaan uap diantara lemari es dan makanan menyebabkan hilangnya air dari makanan yang tidak dibungkus, sehingga terjadi pengringan bahan. Pengeringan terutama terjadi pada bahan yang dibekukan tanpa dibungkus lebih dahulu atau dibungkus dengan bahan yang tidak tembus uap air serta waktu membungkusnya masih banyak ruang-ruang yang tidak terisi.

j. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengeringan : – Suhusuhu yang terlalu tinggi akan mengakibatkan pengeringan yang terjadi lebih besar – Kelembaban relatif atmosfir – Kontak dengan atmosfir – Intensitas sirkulasi udara k.

Perubahan-perubahan yang terjadi pada pendinginan, antara lain : – Perubahan warna pemucatan warna khlorofil –Pencoklatan – Perubahan tekstur kerusakan gel –pengerasan – Perubahan flavor hilangnya flavor asal (pembentukan flavor yang menyimpang) ketengikan – Perubahan zat gizi l. Kerusakan oleh bahan pendingin / refrigeran Bila lemari es menggunakan amonia sebagai refrigeran, misalnya terjadi kebocoran pada pipa dan ammonia masuk ke dalam ruang pendinginan, akan mengakibatkan perubahan warna pada bagian luar bahan yang didinginkan berupa warna coklat atau hitam kehijauan.

Kalau proses ini berlangsung terus, maka akan diikuti proses pelunakan jaringan-jaringan buah. Sebagai contoh : suatu ruangan pendingin yang mengandung amonia sebanyak 1 % selama kurang dari 1 jam, akan dapat merusak apel, pisang, atau bawang merah yang disimpan di dalamnya. Kehilangan air dari bahan yang didinginkan akibat pengeringan Kerusakan ini terjadi pada bahan yang dibekukan tanpa dibungkus atau yang dibungkus dengan pembungkus yang kedap uap air serta waktu membungkusnya masih banyak ruang-ruang yang tidak terisi bahan.

Pengeringan setempat dapat menimbulkan gejala yang dikenal dengan nama ” freeze burn ”yang terutama terjadi pada daging sapi dan daging unggas yang dibekukan. Pada daging unggas, hal ini tampak sebagai bercak-bercak yang transparan atau bercak-bercak yang berwarna putih atau kuning kotor.

Freeze burn disebabkan oleh sublimasi setempat kristal-kristal es melalui janganjaringan permukaan atau kulit. Maka terjadilah ruangan-ruangan kecil yang berisi udara, yang menimbulkan refleksi cahaya dan menampakkan warna-warna tersebut. Akibat terjadinya freeze burn, maka akan terjadi perubahan rasa pada bahanselanjutnya diikuti dengan proses denaturasi protein.

perbedaan lain antara pendinginan dan pembekuan adalah dalam hal pengaruhnya terhadap keaktifan mikroorganisme di dalam

m. Denaturasi protein Denaturasi protein berarti putusnya sejumlah ikatan air dan berkurangnya kadar protein yang dapat diekstrasi dengan larutan garam. Gejala denaturasi protein terjadi pada daging, ikan, dan produk-produk air susu. Proses denaturasi menimbulkan perubahan-perubahan rasa dan bau, serta perubahan konsistensi (daging menjadi liat atau kasap). Semua bahan yang dibekukan, kecuali es krim, sebelum dikonsumsi dilakukan “thawing”, maka untuk bahan yang telah mengalami denaturasi protein pada waktu pencairan kembali, air tidak dapat diabsorpsi (diserap) kembali.

Tekstur liat yang terjadi disebabkan oleh membesarnya molekul-molekul. BAB III METODE PRAKTIKUM 3.1 Waktu dan Tempat Praktikum Waktu pelaksanaan praktikum yaitu pada hari Selasa, 10 Februari 2015 di laboratorium Pendidikan Teknologi Agroindustri lantai 4 Gedung Baru Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Universitas Pendidikan Indonesia.

3.2 Alat dan Bahan Alat : – Cling wrap – Styrofoam – Thermometer – Neraca – Plastic – Perforator – Kulkas – Pisau Bahan : – Wortel – Tomat – Pisang – Mentimun – Daging ayam 3.3 Prosedur Kerja a. Identifikasi alat pendingin/kulkas – Amati bagian luar dan dalam alat pendingin (kulkas), perhatikan dan ukur suhu pada setiap bagian dalam kulkas – Gambarkan bagian-bagian dalam kulkas berikut peruntukkan jenis-jenis bahan pangan di setiap bagian dalam kulkas, berikan keterangan suhunya – Perhatikan bagian luar kulkas terutama bagian mesin pendinginnya.

Cari referensi mengenai mekanisme kerja kulkas – Gambarkan siklus pendinginan pada alat pendingin sejenis kulkas yang menjelaskan mekanisme kerja alat pendingin tersebut – Beri keterangan b.

Chilling dan freezing bahan pangan • Wortel – Bagi menjadi 5 bagian, ukur masing-masing beratnya. Dua bagian (A) adalah wortel tanpa treatment apapun (tidak dikupas/peeling, tidak dicuci). Satu bagian dimasukkan ke dalam plastik berlubang (A1) dan bagian lainnya ke dalam palstik tanpa lubang (A2). 3 bagian lain (B) adalah wortel yang dikupas, dicuci, ditiriskan dan dipotong bentuk dadu, kemudian satu bagian masukkan ke dalam plastik berlubang (B1) dan 2 bagian lainnya masukkan ke dalam plastik tanpa lubang (B2) dan (B3).

– Amati karakteristik sensori wortel (kenampakan, warna, aroma, tekstur) pada seiap kantung plastik, sebelum dimasukkan ke dalam kulkas dan hitung perbedaan lain antara pendinginan dan pembekuan adalah dalam hal pengaruhnya terhadap keaktifan mikroorganisme di dalam sebagai berat awal pada hari ke-0. – Masukkan wortel dalam plastik A1,A2,B1,B2 ke dalam kulkas bagian bawah (laci kulkas terbawah) sedangkan sampel B3 dimasukkan ke dalam freezer – Amati karakteristik sensori wortel (kenampakan, warna, aroma, tekstur) dan hitung beratnya sebagai berat akhir pada hari ke 7 • Tomat – Cuci hingga bersih dan tiriskan kemudian bagi menjadi 3 bagian, ukur masing-masing beratnya.

Satu bagian adalah tomat yang dimasukkan ke dalam palstik berlubang beri kode A, sedangkan 2 bagian lainnya masukkan kedalam plastik tanpa lubang beri kode B1 dan B2. Masukkan tomat dalam plastik A dan BI ke dalam kulkas bagian laci terbawah, sedangkan tomat dalam plastik B2 masukkan ke dalam freezer – Amati karakteristik sensori tomat (warna, aroma, tekstur, kenampakan) pada setiap kantung plasticsebelum dimasukkan ke dalam kulkas dan hitung beratnya sebagai berat awal pada hari ke-0 – Simpan dalam kulkas dan Amati karakteristik sensori tomat (warna, aroma, tekstur, kenampakan) dan hitung beratnya sebagai berat awal pada hari ke-7 • Pisang – Bersihkan pisang dan biarkan dalam kondisi utuh.

Bagi menjadi 2 bagian A dan B, ukur masing-masing beratnya. Bagian A adalah pisang yang dimasukkan ke dalam plastik berlubang dan disimpan dalam kulkas di bagian rak, sedangkan bagian B adalah pisang yang dimasukkan ke dalam plastic berlubang dan disimpan pada suhu ruang. – Amati karakteristik sensori pisang (kenampakan, warna, aroma, tekstur) pada setiap kantung plasticdan hitung beratnya sebagai berat awal pada hari ke-0. – Simpan selama 3hari dan Amati karakteristik sensori pisang (warna, aroma, tekstur) dan hitung beratnya sebagai berat akhir pada hari ke-3.

• Mentimun – Bersihkan mentimun dan biarkan dalam kondisi utuh. Bagi menjadi 3 bagian A, B, C, ukur masing-masing beratnya. Bagian A adalah mentimun yang tidak dikemas dalam plastic, bagian B adalah mentimun yang dimasukkan ke dalam plastic tanpa lubang sedangkan bagian C adalah mentimun yang dimasukkan ke dalam plastic berlubang.

– Amati karakteristik sensori mentimun (kenampakan, warna, aroma, tekstur) pada setiap kantung plastic, sebelum dimasukkan ke dalam kulkas dan hitung beratnya sebagai berat awal pada hari ke-0. – Masukkan semua sample mentimun ke dalam kulkas (bagian rak atau laci) Simpan selama 7hari dan Amati karakteristik sensori pisang (warna, aroma, tekstur) dan hitung beratnya sebagai berat akhir pada hari ke-7 • Daging ayam – Cuci daging hingga bersih dan tiriskan.

Bagi menjadi 4 bagian, ukur masing-masing beratnya. Dua bagian A adalah daging ayam yang dikemas dalam plastic tanpa lubang, satu bagian A beri kode A1, simpan di dalam freezer, bagian lainnya (A2) simpan di dalam kulkas bagian bawah (rak). Dua bagian B adalah daging ayam yang dikemas dalam Styrofoam, dialasi absorben/ penyerap, dan ditutupi clingwrap, satu bagian B beri kode B1, simpan di dalam freezer, bagian lainnya (B2) simpan di dalam kulkas bagian bawah (rak).

– Amati karakteristik sensori daging ayam (kenampakan, warna, aroma, tekstur) pada setiap kemasan, sebelum dimasukkan ke dalam kulkas dan hitung beratnya sebagai berat awal pada hari ke-0. – Simpan selama 7 hari dan Amati karakteristik sensori daging (kenampakan, warna, aroma, tekstur) dan hitung beratnya sebagai berat akhir pada hari ke-7.
Perbedaan lain antara pendingin dan pembekuan adalah dalam hal pengaruhnya terhadap keaktifan mikro organisme didalam.

d) bahan pangan Pembahasan Pendinginan pada makanan adalah sebuah bentuk dari metode pengawetan dari makanan yang dianggap paling mudah dan juga akan paling sering dilakukan oleh seseorang. Pendinginan maupun pembekuan dari makanan itu sendiri akan dilakukan untuk melakukan penurunan dari suhu sehingga akan mampu untuk melakukan penghambatan dari pertumbuhan mikro organisme yang ada.

Penghambatan itu sendiri akan membuat makanan yang ada menjadi tercegah dari ancaman membusuknya makanan dan basi. Berikut adalah metode agar menjaga makanan tetap segar: • Pemanasan • Pengalengan • Pengasapan • Pengeringan • Pengasinan • Fermentasi • Pemanisan, dan • Pendinginan Pelajari lebih lanjut 1.

Materi tentang pengawetan brainly.co.id/tugas/28304209 2. Materi tentang pengawetan brainly.co.id/tugas/29899377 3. Materi tentang pengawetan brainly.co.id/tugas/10230774 ----------------------------- Detil jawaban Kelas: 7 Mapel: Penjaskes Bab: Bab 10 - Pola Makan Sehat. Bergizi. Seimbang Kode: 7.22.10 #AyoBelajar Download Jenis-jenis teknik pengolahan dan pengawetan makanan Pendinginan Pendiginan adalah penyimpanan bahan pangan di atas suhu pembekuan bahan yaitu -2 sampai +10 0 C.

Cara pengawetan dengan suhu rendah lainya yaitu pembekuan. Pembekuan adalah penyimpanan bahan pangan dalam keadaan beku yaitu pada suhu 12 sampai -24 0 C. Pembekuan cepat (quick freezing) di lakukan pada suhu -24 sampai -40 0 C. Pendinginan biasanya dapat mengawetkan bahan pangan selama beberapa hari atau minggu tergantung pada macam bahan panganya, sedangkan pembekuan dapat mengawetkan bahan pangan untuk beberapa bulan atau kadang beberapa tahun.

perbedaan lain antara pendinginan dan pembekuan adalah dalam hal pengaruhnya terhadap keaktifan mikroorganisme di dalam

Perbedaan lain antara pendinginan dan pembekuan adalah dalam hal pengaruhnya terhadap keaktifan mikroorganisme di dalam bahan pangan. Penggunaan suhu rendah dalam pengawetan pangan tidak dapat membunuh bakteri, sehingga jika bahan pangan beku misalnya di keluarkan dari penyimpanan dan di biarkan mencair kembali (thawing), pertumbuhan bakteri pembusuk kemudian berjalan cepat kembali. Pendinginan dan pembekuan masing-masing juga berbeda pengaruhnya terhadap rasa, tekstur, nilai gizi, dan sifat-sifat lainya.

Beberapa bahan pangan menjadi rusak pada suhu penyimpangan yang terlalu rendah. Pengeringan Pengeringan adalah suatu cara untuk mengeluarkan atau mengilangkan sebagian air dari suatu bahan dengan menguapkan sebagian besar air yang di kandung melalui penggunaan energi panas.

perbedaan lain antara pendinginan dan pembekuan adalah dalam hal pengaruhnya terhadap keaktifan mikroorganisme di dalam

Biasanya, kandungan air bahan tersebut di kurangi sampai batas sehingga mikroorganisme tidak dapat tumbuh lagi di dalamya. Keuntungan pengeringan adalah bahan menjadi lebih awet dan volume bahan menjadi lebih kecil sehingga mempermudah dan menghemat ruang pengangkutan dan pengepakan, berat bahan juga menjadi berkurang sehingga memudahkan transpor, dengan demikian di harapkan biaya produksi menjadi lebih murah.

Kecuali itu, banyak bahan-bahan yang hanya dapat di pakai apabila telah di keringkan, misalnya tembakau, kopi, the, dan biji-bijian. Di samping keuntungan-keuntunganya, pengeringan juga mempunyai beberapa kerugian yaitu karena sifat asal bahan yang di keringkan dapat berubah, misalnya bentuknya, misalnya bentuknya, sifat-sifat fisik dan kimianya, penurunan mutu dan sebagainya. Kerugian yang lainya juga disebabkan beberapa bahan kering perlu pekerjaan tambahan sebelum di pakai, misalnya harus di basahkan kembali (rehidratasi) sebelum di gunakan.

Agar pengeringan dapat berlangsung, harus di berikan energi panas pada bahan yang di keringkan, dan di perlukan aliran udara untuk mengalirkan uap air yang terbentuk keluar dari daerah pengeringan. Penyedotan uap air ini daoat juga di lakukan secara vakum. Pengeringan dapat berlangsung dengan baik jika pemanasan terjadi pada setiap tempat dari bahan tersebut, dan uap air yang di ambil berasal dari semua permukaan bahan tersebut. Factor-faktor yang mempengaruhi pengeringan terutama adalah luas permukaan benda, suhu pengeringan, aliran udara, tekanan uap di udara, dan waktu pengeringan.

Pengemasan Pengemasan merupakan bagian dari suatu pengolahan makanan yang berfungsi untuk pengawetan makanan, mencegah kerusakan mekanis, perubahan kadar air. Teknologi pengemasan perkembangan sangat pesat khususnya pengemas plstik yang dengan drastic mendesak peranan kayu, karton, gelas dan metal sebagai bahan pembungkus primer. Berbagai jenis bahan pengepak seperti tetaprak, tetabrik, tetraking merupakan jenis teknologi baru bagi berbagai jus serta produk cair yang dapat dikemas dalam keadaan qaseptiis steril.

Sterilisasi bahan kemasan biasanya dilakukan dengan pemberian cairan atau uap hydrogen peroksida dan sinar UV atau radiasi gama. Jenis generasi baru bahan makanan pengemas ialah lembaran plstik berpori yang disebut Sspore 2226, sejenis platik yang memilki lubang – lubang.

Plastik ini sangat penting penngunaanya bila dibandingkan dengan plastic yang lama yang harus dibuat lubang dahulu. Jenis plastic tersebut dapat menggeser pengguanaan daun pisang dan kulit ketupat dalam proses pembuatan ketupat dan sejenisnya. Pengalengan Namun, karena dalam pengalengan makanan digunakan sterilisasi komersial (bukan sterilisasi mutlak), mungkin saja masih terdapat spora atau mikroba lain (terutama yang bersifat tahan terhadap panas) yang dapat merusak isi apabila kondisinya memungkinkan.

Itulah sebabnya makanan dalam kaleng harus disimpan pada kondisi yang sesuai, segera setelah proses pengalengan selesai. Pengalengan didefinisikan sebagai suatu cara pengawetan bahan pangan yang dipak secara hermetis (kedap terhadap udara, air, mikroba, dan benda asing lainnya) dalam suatu wadah, yang kemudian disterilkan secara komersial untuk membunuh semua mikroba patogen (penyebab penyakit) dan pembusuk.

Pengalengan secara hermetis memungkinkan makanan dapat terhindar dan kebusukan, perubahan kadar air, kerusakan akibat oksidasi, atau perubahan cita rasa. Penggunaan bahan kimia Bahan pengawet dari bahan kimia berfungsi membantu mempertahankan bahan makanan dari serangan makroba pembusuk dan memberikan tambahan rasa sedap, manis, dan pewarna.

Contoh beberapa jenis zat kimia : cuka, asam asetat, fungisida, antioksidan,in-package desiccant, ethylene absorbent, wax emulsion dan growth regulatory untuk melindungi buah dan sayuran dari ancaman kerusakan pasca panen untuk memperpanjangkesegaran masam pemasaran. Nitogen cair sering digunakan untuk pembekuan secara tepat buah dan sayur sehinnga dipertahankan kesegaran dan rasanya yang nyaman.

Suatu jenis regenerasi baru growth substance sintesis yang disebut morfaktin telah ditemuakan dan diaplikasikan untuk mencengah kehilangan berat secara fisiologis pada pasca panen, kerusakan karena kapang, pemecahan klorofil serta hilangnya kerennyahan buah. Scott dkk (1982) melaporkan bahwa terjadinya browning, kehilangan berat dan pembusukan buah leci dapat dikurangi bila buah – buahan tersebut direndam dalam larutan binomial hangat (0,05%, 520C ) selama 2 menit dan segera di ikuti dengan pemanasan PVC (polivinil klorida ) dengan ketebalan 0,001 mm.

Pemanasan Penggunaan panas dan waktu dalam proses pemanasan bahan pangan sangat berpengaruh pada bahan pangan. Beberapa jenis bahan pangan seperti halnya susu dan kapri serta daging, sangat peka terhadap susu tinggi karena dapat merusak warna maupun rasanya.

Sebaliknya, komoditi lain misalnya jagung dan kedelai dapat menerima panas yang hebat karena tanpa banyak mengalami perubahan. Pada umumnya semakin tinggi jumlah panas yang di berikan semakin banyak mikroba yang mati. Pada proses pengalengan, pemanasan di tujukan untuk membunuh seluruh mikroba yang mungkin dapat menyebabkan pembusukan makanan dalam kaleng tersebut, selama penanganan dan penyimpanan.

Pada proses pasteurisasi, pemanasan di tujukan untuk memusnahkan sebagian besar mikroba pembusuk, sedangkan sebagian besar mikroba yang tertinggal dan masih hidup terus di hambat pertumbuhanya dengan penyimpanan pada suhu rendah atau dengan cara lain misalnya dengan bahan pengawet. Proses pengawetan dapat di kelompokan menjadi 3 yaitu: pasteurisasi, pemanasan pada 1000 C dan pemanasan di atas 1000 C. g.Teknik fermentasi Fermentasi bukan hanya berfungsi sebagai pengawet sumber makanan, tetapi juga berkhasiat bagi kesehatan.

Salah satumya fermentasi dengan menggunakan bakteri laktat pada bahan pangan akan menyebabkan nilai pH pangan turun di bawah 5.0 sehingga dapat menghambat pertumbuhan bakteri fekal yaitu sejenis bakteri yang jika dikonsumsi akan menyebabkanakan muntah-muntah, diare, atau muntaber.

Bakteri laktat (lactobacillus) merupakan kelompok mikroba dengan habitat dan lingkungan hidup sangat luas, baik di perairan (air tawar ataupun laut), tanah, lumpur, maupun batuan. tercatat delapan jenis bakteri laktat, antara lain Lacobacillus acidophilus, L fermentum, L brevis,dll Asam laktat yang dihasilkan bakteri dengan nilai pH (keasaman) 3,4-4 cukup untuk menghambat sejumlah bakteri perusak dan pembusuk bahan makanan dan minuman.

Namun, selama proses fermentasi sejumlah vitamin juga di hasilnhkan khususnya B-12. Bakteri laktat juga menghasilkan lactobacillin (laktobasilin), yaitu sejenis antibiotika serta senyawa lain yang berkemampuan menontaktifkan reaksi kimia yang dihasilkan oleh bakteri fekal di dalam tubuh manusia dan bahkan mematikannyaSenyawa lain dari bakteri laktat adalah NI (not yet identified atau belum diketahui).

NI bekerja menghambat enzim 3-hidroksi perbedaan lain antara pendinginan dan pembekuan adalah dalam hal pengaruhnya terhadap keaktifan mikroorganisme di dalam glutaril reduktase yang akan mengubah NADH menjadi asam nevalonat dan NAD.

Dengan demikian, rangkaian senyawa lain yang akan membentuk kolesterol dan kanker akan terhambat. Di beberapa kawasan Indonesia, tanpa disadari makanan hasil fermentasi laktat telah lama menjadi bagian di dalam menu makanan sehari-hari.

Yang paling terkenal tentu saja adalah asinan sayuran dan buah-buahan. Bahkan selama pembuatan kecap, tauco, serta terasi, bakteri laktat banyak dilibatkan. Bekasam atau bekacem dari Sumatera bagian Selatan, yaitu ikan awetan dengan cara fermentasi bakteri laktat, bukan saja merupakan makanan tradisional yang digemari, tetapi juga menjadi contoh pengawetan secara biologis yang luas penggunaannya.

(F:\Suara Merdeka Edisi Cetak.mht) h.Teknik Iradiasi Iradiasi adalah proses aplikasi radiasi energi pada suatu sasaran, seperti pangan. Menurut Maha (1985), iradiasi adalah suatu teknik yang digunakan untuk pemakaian energi radiasi secara sengaja dan terarah. Sedangkan menurut Winarno et al. (1980), iradiasi adalah teknik penggunaan energi untuk penyinaran bahan dengan menggunakan sumber iradiasi buatan. Contoh radiasi pengion yang disebut terakhir ini paling banyak digunakan (Sofyan, 1984; Winarnodan gelombang elektromagnetik ,Jenis iradiasi pangan yang dapat digunakan untuk pengawetan bahan pangan adalah radiasi elektromagnetik yaitu radiasi yang menghasilkan foton berenergi tinggi sehingga sanggup menyebabkan terjadinya ionisasi dan eksitasi pada materi yang dilaluinya.

Jenis iradiasi ini dinamakan radiasi pengion, contoh radiasi pengion adalah radiasi partikel et al., 1980). Dua jenis radiasi pengion yang umum digunakan untuk pengawetan makanan adalah : sinar gamma yang dipancarkan oleh radio nuklida 60Co (kobalt-60) dan 137Cs (caesium-37) dan berkas elektron yang terdiri dari partikel-pertikel bermuatan listrik.

Kedua jenis radiasi pengion ini memiliki pengaruh yang sama terhadap makanan.

perbedaan lain antara pendinginan dan pembekuan adalah dalam hal pengaruhnya terhadap keaktifan mikroorganisme di dalam

Menurut Hermana (1991), dosis radiasi adalah jumlah energi radiasi yang diserap ke dalam bahan pangan dan merupakan faktor kritis pada iradiasi pangan. Seringkali untuk tiap jenis pangan diperlukan dosis khusus untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Kalau jumlah radiasi yang digunakan kurang dari dosis yang diperlukan, efek yang diinginkan tidak akan tercapai.

Sebaliknya jika dosis berlebihan, pangan mungkin akan rusak sehingga tidak dapat diterima konsumen Keamanan pangan iradiasi merupakan faktor terpenting yang harus diselidiki sebelum menganjurkan penggunaan proses iradiasi secara luas.

perbedaan lain antara pendinginan dan pembekuan adalah dalam hal pengaruhnya terhadap keaktifan mikroorganisme di dalam

Hal yang membahayakan bagi konsumen bila molekul tertentu terdapat dalam jumlah banyak pada bahan pangan, berubah menjadi senyawa yang toksik, mutagenik, ataupun karsinogenik sebagai akibat dari proses iradiasi. Tabel 5.

perbedaan lain antara pendinginan dan pembekuan adalah dalam hal pengaruhnya terhadap keaktifan mikroorganisme di dalam

Penerapan dosis dalam berbagai penerapan iradiasi pangan Tujuan Dosis (kGy) Produk Dosis rendah (s/d 1 KGy) Pencegahan pertunasan Pembasmian serangga dan parasit Perlambatan proses fisiologis 0,05 – 0,15 0,15 – 0,50 0,50 – 1,00 Kentang, bawang putih, bawang bombay, jahe, Serealia, kacang-kacangan, buah segar dan kering, ikan, daging kering Buah dan sayur segar Dosis sedang (1- 10 kGy) Perpanjangan masa simpan Pembasmian mikroorganisme perusak dan patogen Perbaikan sifat teknologi pangan 1,00 – 3,00 1,00 – 7,00 2,00 – 7,00 Ikan, arbei segar Hasil laut segar dan beku, daging unggas segar/beku Anggur(meningkatkan sari), sayuran kering (mengurangi waktu pemasakan) Dosis tinggi1 (10 – 50 kGy) Pensterilan industri Pensterilan bahan tambahan makanan tertentu dan komponennya 10 – 50 Daging, daging unggas, hasil laut, makanan siap hidang, makanan steril Hanya digunakan untuk tujuan khusus.

Komisi Codex Alimentarius Gabungan FAO/WHO belum menyetujui penggunaan dosis ini Hasil penelitian mengenai efek kimia iradiasi pada berbagai macam bahan pangan hasil iradiasi (1 – 5 kGy) belum pernah ditemukan adanya senyawa yang toksik.

Pengawetan makanan dengan menggunakan iradiasi sudah terjamin keamanannya jika tidak melebihi dosis yang sudah ditetapkan, sebagaimana yang telah direkomendasikan oleh FAO-WHO-IAEA pada bulan november 1980. Rekomendasi tersebut menyatakan bahwa semua bahan yang diiradiasi tidak melebihi dosis 10 kGy aman untuk dikonsumsi manusia. Untuk memastikan terdapatnya tingkat keamanan yang diperlukan, pemerintah perlu mengundangkan peraturan, baik mengenai pangan yang diiradiasi maupun sarana iradiasi.

Peraturan tentang iradiasi pangan yang sampai sekarang digunakan antara lain adalah Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 826 Tahun 1987 dan No.

152 Tahun 1995. Peraturan tersebut selanjutnya digunakan sebagai bahan acuan dalam penyusunan Undang-undang Pangan No. 7 Tahun 1996.
★ SMA Kelas 10 / Prakarya - SMA Kelas 10 Perbedaan lain antara pendinginan perbedaan lain antara pendinginan dan pembekuan adalah dalam hal pengaruhnya terhadap keaktifan mikroorganisme di dalam pembekuan adalah dalam hal pengaruhnya terhadap keaktifan mikroorganisme di dalam…. A. Kristal es B. suhu kamar C.

sel-sel daging D. bahan pangan E. hidupnya mikroorganisme Pilih jawaban kamu: A B C D E Soal Selanjutnya > Soal / jawaban salah? klik disini untuk mengoreksi melalui kolom komentar Preview soal lainnya: Penilaian Akhir Tema 3 Subtema 2 SD Kelas 2 Rani dan teman-temannya hari ini piket kelas Mereka sebaiknya mengerjakan tugas piket itu dengan …. _____ A.

Sendiri- sendiri B. Saling membantu C. Saling mengejek Materi Latihan Soal Lainnya: • Should - Bahasa Inggris SMA Kelas 10 • Perubahan Sosial Budaya dan Globalisasi - IPS SMP Kelas 9 • Bab Sholat - PAI SD Kelas 2 • Bahasa Jawa Semester 1 Ganjil SD Kelas 3 • Bahasa Spanyol • Ilmu Tajwid, Ikhtiar dan Tawakkal SMP MTs Kelas 9 • Fiqih - MTs Kelas 8 Semester 1 • PTS Ekonomi SMA Kelas 10 • Tema 7 Subtema 4 SD Kelas 3 • Perdagangan Internasional - IPS SMP Kelas 9 Cara Menggunakan : Baca dan cermati soal baik-baik, lalu pilih salah satu jawaban yang kamu anggap benar dengan mengklik / tap pilihan yang tersedia.

Tentang LatihanSoalOnline.com Latihan Soal Online adalah website yang berisi tentang latihan soal mulai dari soal SD / MI Sederajat, SMP / MTs sederajat, SMA / MA Sederajat hingga umum. Website ini hadir dalam rangka ikut berpartisipasi dalam misi mencerdaskan manusia Indonesia.

Halaman Depan • Hubungi Kami • Kirim Soal • Privacy Policy • Follow us: Facebook • Instagram • Twitter

Kuliah Mikrobiologi Pangan - Mikroba pada Pangan Fermentasi




2022 www.videocon.com