Bangunan masjid yang merupakan hasil akulturasi memiliki ciri-ciri

bangunan masjid yang merupakan hasil akulturasi memiliki ciri-ciri

Sebelum masuknya agama Selam ke Indonesia, di Indonesia terlebih lampau sudah lalu berkembang beberapa kebudayaan, baik peradaban asli Nusantara maupun kebudayaan nan bercorak Hindu – Budha.

bangunan masjid yang merupakan hasil akulturasi memiliki ciri-ciri

Ketika agama Islam masuk ke Indonesia terjadi proses perpaduan peradaban yang disebut dengan akulturasi. Akulturasi yaitu hasil perpaduan dua ataupun bertambah kebudayaan yang punya ciri-ciri peradaban asal. Bagan. Akulturasai Kebudayaan Islam pada Bangunan Masjid Di Indonesia proses akulturasi kebudayaan Selam terjadi pada bilang bidang seperti; permukaan gedung, abc dan seni sastra, seni ukir, kesenian alias seni pertunjukan dan sistem enumerasi hari.

Plong kali ini edusejarah akan mengulas hasil akulturasi Islam pada bidang bangunan.

bangunan masjid yang merupakan hasil akulturasi memiliki ciri-ciri

Privat seni bangunan di zaman perkembangan Islam, nampak ada perpaduan antara unsur Islam dengan kebudayaan praIslam yang sudah lalu ada. Seni bangunan Islam yang menonjol ialah zawiat dan panggar serta bangunan taman bahagia. Bangunan Sajadah dan Menara Faedah utama berasal musala, adalah kancah beribadah bagi mukminat. Masjid atau mesjid dalam bahasa Arab mungkin berasal dari bahasa Aramik maupun bentuk bebas bersumber congor sajada yang artinya membaringkan diri untuk bersujud.

Internal bahasa Ethiopia terdapat mulut mesgad yang dapat diartikan dengan kuil maupun dom. Di antara dua denotasi tersebut yang mungkin primer yaitu ajang orang hantar diri cak bagi bersujud ketika salat alias beribadat. Pengertian tersebut bisa dikaitkan dengan salah suatu hadis seremonial al-Bukhârî yang menyatakan bahwa “Bumi ini dijadikan bagiku buat langgar (panggung salat) dan perabot pensucian (buat tayamum) dan di tempat mana semata-mata seseorang semenjak umatku mendapat waktu salat, maka salatlah di situ.” Kalau signifikasi tersebut boleh dibenarkan bisa kembali diambil asumsi bahwa ternyata agama Selam telah memasrahkan pengertian perkataan masjid ataupun mesjid itu bersifat mondial.

Dengan sifat universal itu, maka sosok-turunan Muslim diberikan keleluasaan untuk mengamalkan ibadah salat di medan manapun asalkan suci.

Karena itu tidak mengganjilkan apabila ada insan Mukmin yang mengerjakan salat di atas batu di sebuah sungai, di atas batu di paruh sawah maupun tegal, di tepi jalan, di alun-alun rumput, di atas gubug penjaga sawah alias ranggon (Jawa, Sunda), di atas bangunan bangunan dan sebagainya.

Meskipun denotasi hadist tersebut mengasihkan keleluasaan bagi setiap Mukminat untuk salat, namun dirasakan perlunya mendirikan bangunan eksklusif yang disebut bandarsah sebagai bekas peribadatan umat Selam. Musala sebenarnya memiliki faedah nan luas yaitu ibarat trik bagi menyelenggarakan keyakinan Islam, taktik kerjakan mempraktikkan nubuat-ajaran persamaan nasib baik dan persahabatan di kalangan umat Selam.

Demikian lagi langgar bisa dianggap sebagai pusat kebudayaan bakal khalayak-bani adam Muslim. Di Indonesia sebutan sajadah serta gedung tempat peribadatan lainnya bangunan masjid yang merupakan hasil akulturasi memiliki ciri-ciri bermacam-tipe sesuai dan tersampir kepada umum dan bahasa setempat. Sebutan sajadah, intern bahasa Jawa jamak disebut mesjid, intern bahasa Sunda disebut masigit, dalam bahasa Aceh disebut meuseugit, internal bahasa Makassar dan Bugis disebut masigi.

Ciri-Ciri Bangunan Masjid Bersejarah di Indonesia Gedung masjid-masjid kuno di Indonesia punya ciri-ciri ibarat berikut: 1. Atapnya berupa sengkuap tumpangyaitu atap yang bersusun, semakin ke atas semakin kecil dan tingkat nan paling atas berbentuk piramida. Jumlah titip galibnya gegares gangsal/ ganjil, ada yang tiga, ada pula nan lima. Ada pula yang tumpangnya dua, cuma yang ini dinamakan titip satu, bintang sartan angka gasal juga.

Atap nan demikian disebut meru. Atap masjid biasanya masih diberi lagi sebuah kemuncak/ puncak nan dinamakan mustaka. Bagan. Mesjid Agung Demak Atapnya Berbentuk Titip Sumber. Munamadrah.com/wp-content/uploads/2015/04/ mesjid+agung+demak.jpg Susuk. Konstruksi Meru di Bali Atapnya Berbentuk Tumpang Mata air. Wisata.balitoursclub.com/wp-content/tumpang_meru.jpg Ranggon ataupun tarup yang berlapis diambil dari konsep ‘Meru’ dari tahun pra Islam (Hindu-Budha) yang terdiri berpangkal sembilan susun.

Sunan Kalijaga memotongnya menjadi tiga bangunan masjid yang merupakan hasil akulturasi memiliki ciri-ciri saja, hal ini melambangkan tiga tahap keberagamaan seorang muslim; iman, Selam dan ihsan. Sreg sediakala, orang baru berkepastian saja kemudian beliau melaksanakan Selam ketika mutakadim menyadari pentingnya hukum. Barulah anda memasuki tingkat yang lebih tinggi lagi (ihsan) dengan urut-urutan mendalami suluk, hakikat dan makrifat. 2) Enggak cak semau palas-palas yang berfungsi sebagai tempat mengumandangkan adzan.

Farik dengan masjid-masjid di luar Indonesia yang lazimnya terdapat menara. Pada bandarsah-masjid historis di Indonesia bakal men datangnya waktu salat dilakukan dengan menggampar beduk atau kentongan. Nan khas dari Masjid Kudus dan Masjid Banten yaitu menaranya yang bentuknya sejenis itu unik. Bentuk palas-palas Surau Tulus merupakan sebuah candi langgam Jawa Timur nan telah diubah dan disesuaikan penggunaannya dengan diberi atap tumpang.

Pada Sajadah Banten, menara tambahannya dibuat menyerupai mercusuar. Gambar: Panggar dan Mesjid Kudus nan Bercorak Langgam Candi Jawa Timur Sumber: 2bp.blogspot.com/skgjwkje0k9/mesjid_kudus.jpg Buram.

bangunan masjid yang merupakan hasil akulturasi memiliki ciri-ciri

Mesjid Agung Banten Memiliki Keunikan pada Para-para yang menyerupai mercusuar. Sumber. Upload.wikimedia.org/wikipedia/masjid_agung_banten.jp Buram. Bangunan Bale Kulkul di Bali Sebagai Sarana Alat Komunikasi oleh Warga.

Sumber. Upload.wikimedia.org/wikipedia/masjid_agung_banten.jpg 3) Masjid umumnya didirikan di ibu kota maupun hampir istana imperium. Terserah juga masjid-masjid yang dipandang keramat yang dibangun di atas giri atau dekat makam. Musala-masjid di zaman Penanggung jawab Sanga lazimnya berpasangan dengan kuburan. Buram. Masjid yang Disekitarnya terserah Makam Berada di Pekanbaru. Sendang.

bangunan masjid yang merupakan hasil akulturasi memiliki ciri-ciri

Radarpekanbaru.com/berita/masjid_raya_makam.jpg 4) Ada kolam/saluran di bagian depan atau samping. Demikianlah hasil a kulutrasi kebudayaan Islam pada bidang bangunan Masjid dan Menara. Selain Zawiat dan Palas-palas, bangunan lain yang mendapat akulturasi Islam ialah gedung Kuburan. • Baca Akulturasi Islam puas Bangunan Makam Perigi: • Kemdikbud. 2017. Memori Indonesia untuk SMA/SMK/MA Kelas X. Kemdikbuk:Jakarta Source: https://edusejarah.blogspot.com/2017/11/akulturasi-islam-dalam-bidang-bangunan.html Posted by: mikepn.my.id tirto.id - Akulturasi dalam perkembangan budaya Islam di Indonesia adalah hal yang tidak bisa dihindarkan saat terjadi kemajemukan di dalam masyarakat.

Budaya, suku, ras, golongan, hingga agama yang berbeda dari membaurnya masyarakat asli dan pendatang, berpeluang tinggi menciptakan akulturasi.

Persinggungan perbedaaan membuat sebuah ketertarikan untuk melakukan proses adaptasi di berbagai bentuk kebudayaan. Akulturasi, menurut sosiolog Gillin dan Raimy, merupakan proses budaya pada masyarakat yang dimodifikasi dengan budaya lain.

Adanya kontak sosial dengan budaya lain akan memicunya. Ciri khas akulturasi adalah proses adaptasi tersebut masih tetap mempertahannya kebudayaan lama. Terjadinya akulturasi dimaksudkan untuk mengembangkan budaya dan sekaligus mempertahankannya.

bangunan masjid yang merupakan hasil akulturasi memiliki ciri-ciri

Dr. Trina Harlow berpendapat bahwa cara ini dipakai sebagai sarana mempertahankan budaya sendiri sekaligus belajar memahami keberadaan budaya lain. Dr. Trina mencontohkan, akulutasi ibarat mangkuk salad yang di dalamnya diisi berbagai bahan makanan. Isian tersebut memang bercampur, namun masing-masing tetap menunjukkan independensinya dan saling meningkatkan posisi satu sama lain. Proses akulturasi tidak berjalan tunggal dan terjadi dengan dinamis.

bangunan masjid yang merupakan hasil akulturasi memiliki ciri-ciri

Contoh Akulturasi Budaya Islam Masuknya Islam di Nusantara juga turut memengaruhi akulturasi. Akulturasi tersebut nampak dalam berbagai hal. Ajaran Islam sebelum awalnya berkembang di Jazirah Arab, dibawa ke Nusantara melalui pedagang, dan terjadi perpaduan dengan budaya setempat. Islam turut memengaruhi adat yang berkembang di Indonesia. Adat dikenal sebagai al urf dalam Islam yang dipahami sebagai kebiasaan masyarakat yang dilakukan turun termurun.

Adat adalah hasil refleksi atau pematangan sosial. Abdul Wahab Khallaf, ahli fikih Islam, menilai urf muncul karena adanya saling pengertian banyak orang dengan tidak memandang stratifikasi sosial. Hadirnya urf tidak tergantung pada transmisi biologis dan pewarisan dari unsur genetik.

Dengan demikian, adat masyarakat dapat mengalami akulturasi saat bersinggungan dengan adat atau budaya lain yang bisa dimaklumi bersama.

Begitu juga saat Islam datang ke Nusantara lalu bersinggungan dengan adat setempat, muncul akulturasi termasuk adat yang berciri paduan dengan Hindu - Budha dari kerajaan berkuasa saat itu. Contoh pengaruh Islam ini sering muncul dalam upacara-upacara sosial budaya. Di adat Jawa, seperti Surakarta, muncul penanggalan Islam namun masih membawa sisi weton di dalamnya seperti Pahing, Pon, Wage, dan sebagainya.

Penanggalan itu bangunan masjid yang merupakan hasil akulturasi memiliki ciri-ciri dipakai sampai sekarang. Di Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta juga ada tradisi Sekaten. Sekaten adalah pesta rakyat yang konon untuk masuk ke dalamnya harus membaca dulu Syahadatain atau dua kalimat syahadat.

Sementara itu di Sumatera terdapat upcara tabut dalam memperingati maulid Nabi Muhammad shallallahu alaihi wassalam. Tradisi serupa hadir pula di Takalar dengan nama maudu' lompoa. Tradisi tahlil, barzanji, dan upacara peringatan untuk orang-orang yang baru meninggal, adalah bentuk konversi budaya masa lalu yang dinilai lebih jahiliah.

Sebagian da'i Islam masa lalu mencoba memberikan alternatif budaya pengganti dari budaya masa lalu yang dianggap menyimpang. Seni ukir dan bangunan tak luput dari akulturasi Islam.

Dalam seni ukir, hadir ukiran kaligrafi yang membawa bentuk kalimat bahasa arab dari potongan Al Quran dan Al Hadits. Kreasi ukiran yang melukiskan makhluk hidup, disamarkan dengan berbagai hiasan. Pada seni bangunan, paling kentara dari akulturasi Islam adalah bangunan masjid dan menara kuno.

Ciri masjid kuno di Indonesia yaitu memiliki atap bersusun yang berjumlah ganjil. Menara yang didirikan dipakai untuk mengumandangkan masjid, serta didahului dengan memukul beduk atau kentongan. Masjid kuno masih bisa ditemukan pada Masjid Kudus dan Masjid Banten.
KOMPAS.com - Pada perkembangan budaya Islam di Indonesia, terjadi akulturasi budaya pra-Islam dan budaya Islam dalam berbagai bentuk, antara lain seni bangunan, seni ukir atau seni pahat, kesenian, seni sastra dan kalender.

Mengutip Sumber Belajar Kemdikbud RI, seni bangunan dan arsitektur Islam di Indonesia bersifat unik dan akulturatif.

bangunan masjid yang merupakan hasil akulturasi memiliki ciri-ciri

Seni bangunan zaman perkembangan Islam yang menonjol terutama adalah: • masjid • menara • makam Berikut ini penjelasannya: Baca juga: Akulturasi dan Perkembangan Budaya Islam Masjid dan menara Dalam seni bangunan Islam, adaa perpaduan antara unsur Islam dengan budaya pra-Islam yang sudah lebih duku ada. Seni bangunan Islam yang menonjol adalah masjid. Sebab fungsi utama masjid adalah sebagai tempat ibadah umat Muslim.

Masjid dalam bahasa Arab mungkin berasal dari bahasa Aramik sajada yang artinya merebahkan diri untuk bersujud ketika salat atau sembahyang. Berdasarkan hadis shahih al Bukhari, Nabi Muhammad SAW menyatakan "Bumi ini dijadikan bagiku untuk masjid (tempat salat) dan alat pensucian (buat tayamum) dan di tempat mana saja seseorang dari umatku mendapat waktu salat, maka salatlah di situ. Menurut pengertian hadis itu, agama Islam memberi pengertian secara universal terhadap masjid.

Artinya, kaum Muslim leluasa beribadah salat di berbagai tempat yang bersih. Bangunan masjid yang merupakan hasil akulturasi memiliki ciri-ciri begitu, tetap dirasa perlu mendirikan bangunan khusus yang disebut masjid sebagai tempat peribadatan umat Islam.

Masjid juga berfungsi untuk pusat penyelenggaraan keagamaan Islam, pusat mempraktikkan persamaan hak dan persahabatan di kalangan umat Islam. Sehingga masjid dapat dianggap sebagai pusat kebudayaan orang-orang Muslim. Di Indonesia sebutan masjid serta bangunan tempat peribadatan lain, sesuai masyarakat dan bahasa setempat.

Masjid disebut mesjid di Jawa, masigit dalam bahasa Sunda, meuseugit dalam bahasa Aceh, dan masigi dalam bahasa Makassar dan Bugis. Baca juga: Pengaruh Islam di Indonesia Halo, Rahmat S. Kakak bantu jawab, ya. Jawaban untuk pertanyaan di atas adalah B. Untuk lebih jelasnya, simak penjelasan berikut ini. Pada masa berkembangnya agama Islam di Indonesia, agama Islam turut memengaruhi berbagai bidang dalam kehidupan masyarakat.

bangunan masjid yang merupakan hasil akulturasi memiliki ciri-ciri

Kebudayaan Islam berakulturasi dengan kebudayaan lama, yaitu kebudayaan Hindu-Buddha yang telah berkembang sebelumnya di masyarakat. Salah satu bentuk akulturasi tersebut terdapat dalam arsitektur masjid. Dalam arsitektur masjid, terdapat percampuran antara kebudayaan Islam dan kebudayaan lama. Kebudayaan lama dapat terlihat dari hal-hal berikut ini. • Terdapat hiasan lengkung pola makara. • Terdapat joglo. • Terdapat ukir-ukiran seperti mimbar. • Mustaka berbentuk bulat lengkung Semoga membantu.

Pada masa awal kemerdekaan Belanda melakukan blokade ekonomi terhadap Indonesia tujuan belanda melakukan aksi tersebut adalah A. memberikan semua hasil produksi dan komunitas Indonesia B. menyatukan Indonesia melalui permasalahan ekonomi C.menguasai Indonesia kembali melalui kekuatan ekonomi D.

menjadikan Indonesia sebagai tempat untuk menanamkan modal yang E. menghalangi Indonesia agar tidak berhubungan dengan negara lain
Masjid merupakan tempat ibadah utama bagi umat Islam.

bangunan masjid yang merupakan hasil akulturasi memiliki ciri-ciri

Dalam perkembangan Islamisasi di Nusantara, masjid mengalami akulturasi dalam segi bentuk bangunan dengan kebudayaan sebelumnya, yaitu kebudayaan Hindu-Buddha. Hal tersebut ditandai dengan adanya menara atau gapura pra-Islam seperti di Masjid Kudus, bentuk atap yang bersusun atau tumpang seperti Masjid Demak, dan warna bangunan yang serba merah dan kuning seperti Masjid Cheng Ho Dengan demikian, ciri-ciri masjid yang berakulturasi dapat dilihat dari menara, bentuk atap bersusun, hingga warna bangunan seperti merah dan kuning.
Ciri ciri bangunan masjid hasil akulturasi: 1.

Atapnya berupa atap tumpang,yaitu atap yg bersusun, semakin ke atas semakin kecil & tingkat yg paling atas berbentuk limas. 2. Tidak ada menara yang berfungsi sebagai tempat mengumandangkan adzan. Pada masjid-masjid kuno di Indonesia untuk menandai datangnya waktu salat dengan memukul bedhug atau kenthongan. 3.

Masjid umumnya didirikan di ibukota atau dekat istana kerajaan. Di zaman Wali Sanga umumnya berdekatan dengan makam. Khalifah Usman bin Affan membuat kebijakan membagi kota-kota yang ada di Jazirah Arab kebijakan ini merupakan kebijakan pemekaran wilayah hal ini dima … ksud agarA wilayah wilayah tersebut mendapat otonomi penuhb terjadi pemerataan pembangunan di semua wilayahC wilayah wilayah itu lebih mudah di kontrol d terjadi pembagian kekuasaan yang merata​ Jelaskan isi, bukti dasar, dan kelemahan dari teori Gujarat (India) !

* 20 points Jelaskan isi, bukti dasar, dan kelemahan dari teori Persia (Iran) ! … * 20 points Jelaskan isi, bukti dasar, dan kelemahan dari teori Mekah (Arab) ! * 20 points Jelaskan isi, bukti dasar, dan kelemahan dari teori Cina ! * 20 points Menurut anda manakah teori Islam yang paling akurat kebenarannya terkait proses masuknya Islam di Indonesia (pilih salah satu), dan tuliskan alasan anda bangunan masjid yang merupakan hasil akulturasi memiliki ciri-ciri teori tersebut secara singkat dan jelas !

* 20 pointsKOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA Keindahan arsitektur Menara Kudus di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah yang telah menjadi sebuah monumen peradaban masa lalu dan pusat spiritualisme Islam hingga kini, Senin (18/7/2011).

Masjid Al-Aqsa atau dikenal Masjid Menara Kudus yang didirikan tahun 1549 ini tidak terlepas dari Sunan Kudus yang menyebarkan Islam melalui alkulturasi budaya. JAKARTA, KOMPAS.com - Sejarah dan budaya di Indonesia punya kisah yang panjang. Perpaduan dan akulturasi budaya mewarnai berbagai hal di Indonesia, termasuk arsitektur bangunan, salah satunya masjid. Sejumlah masjid yang ada di Tanah Air menunjukkan hasil akulturasi budaya. Empat di antaranya adalah masjid-masjid di bawah ini.

Berikut 4 masjid yang menunjukkan akulturasi budaya dalam bangunannya. Masjid Menara Kudus KOMPAS.com/PUTHUT DWI PUTRANTO Masjid Menara Kudus di Kelurahan Kauman, Kecamatan Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Rabu (30/5/2018) sore.Sesuai namanya, masjid ini terletak di Kudus, Jawa Tengah. Masjid yang dibangun pada 1549 ini juga disebut sebagai Masjid Al-Aqsha.

Di dalamnya terdapat makam dari Sunan Kudus, oleh karenanya masjid ini kerap dijadikan sebagai tujuan ziarah. Baca juga: Menara Kudus Miliki Museum Sunan Kudus Tak seperti masjid kebanyakan yang bergaya Timur Tengah, masjid ini menampilkan corak kebudayaan pra-Islam seperti Jawa, Hindu, dan Budha. Hal itu terlihat dari menara dan gapura yang ada di sekitar masjid.

bangunan masjid yang merupakan hasil akulturasi memiliki ciri-ciri

Menara Kudu dibangun menggunakan bata merah tanpa perekat. Menara ini terdiri dari 3 bagian, yakni kaki, badan, dan kepala, yang menunjukkan corak Hindu-Majapahit yang ada di Jawa. Masjid Cheng Ho Surabaya Masjid ini berdiri di Jalan Gading, Ketabang, Genteng, Surabaya dan menjadi bentuk penghormatan kepada Laksamana Cheng Ho yang pernah datang menyebarkan agama Islam di kawasan Asia Tenggara. Berwarna merah, hijau, dan kuning nuansa Tionghoa begitu terasa di masjid ini.

bangunan masjid yang merupakan hasil akulturasi memiliki ciri-ciri

Baca juga: Masjid Cheng Ho Pertama Ada di Indonesia Masjid yang terletak di sebelah utara Balaikota Surabaya ini memiliki bangunan utama seluas 11x9 meter. Angka ini memiliki arti tersendiri. KOMPAS.COM / MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIA Wujud Masjid Laksamana Muhammad Cheng Hoo yang merupakan akulturasi antara arsitektur tionghoa, timur tengah dan Jawa.Angka 11 merupakan luas Ka’bah saat awal dibangun, sementara angka 9 melambangkan jumlah wali yang menyebarkan ajaran Islam di Jawa (Wali Sanga).

Karena keunikannya, masjid ini kerap dijadikan tujuan wisata di Surabaya bangunan masjid yang merupakan hasil akulturasi memiliki ciri-ciri menjadi objek menarik untuk mengambil gambar. Masjid Cheng Ho dibangun pada 2002 oleh arsitek Ir. Abdul Aziz. Masjid ini berkapasitas 200 jemaah. Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta Masjid yang terletak di dalam kawasan Kraton, tepatnya di barat Alun-alun Utara Yogyakarta ini memiliki arsitektur khas Jawa.

Baca juga: Berbuka Puasa dengan Gulai Kambing di Masjid Gedhe Kauman Bentuk bangunan utamanya adalah tajug lambang teplok dengan atap berbentuk tumpang tiga yang merupakan filosofi Jawa dengan nilai-nilai Islam seperti Hakekat, Ma’rifat, dan Syariat. KOMPAS/ISMAIL ZAKARIA Dai, ulama, serta warga mengikuti acara pembukaan Multaqo (Konferensi) Internasional Dai dan Ulama Se-Asia Tenggara di Masjid Raya Sumatera Barat di Padang, Senin (17/7/2017).Masjid Raya Sumatera Barat merupakan masjid modern tanpa kubah yang dibangun di kota Padang, Sumatera Barat.

Masjid ini digadang-gadang menjadi yang terbesar di Sumbar dan mampu menampung jamaah hingga sebanyak 5.000-6.000 jemaah. Masjid ini didesain menyerupai Rumah Gadang, rumah adat khas Sumbar dengan bentuk atap gonjong (semakin ke atas semakin lancip). Baca juga: Presiden Jokowi Laksanakan Shalat Id di Masjid Raya Sumbar Di dinding eksteriornya terdapat ukiran khas minang dan kaligrafi yang semakin menegaskan nuansa adat Minangkabau di bangunan ini.

Meski berkonsep rumah adat, masjid ini berdiri dengan megah, pembangunannya menelan dana hingga Rp 240 miliar. Desain masjid ini merupakan karya seorang arsitektur bernama Rizal Arifin yang berhasil memenangkan sayembara mengalahkan setelah 323 arsitek lainnya. Berita Terkait 5 Masjid Peninggalan Mataram Islam di Yogyakarta dan Solo Di Bangunan masjid yang merupakan hasil akulturasi memiliki ciri-ciri, Ada Masjid yang Disebut Mirip Taj Mahal Setiap Hari, Ada 2.500 Porsi Takjil di Masjid Jogokariyan Yogyakarta Mengejar Senja di Masjid Fatahilla Flores Upaya Masjid Kowloon Membangun Harmoni di Tengah Keberagaman Hongkong Berita Terkait 5 Masjid Peninggalan Mataram Islam di Yogyakarta dan Solo Di Malang, Ada Masjid yang Disebut Mirip Taj Mahal Setiap Hari, Ada 2.500 Porsi Takjil di Masjid Jogokariyan Yogyakarta Mengejar Senja di Masjid Fatahilla Flores Upaya Masjid Kowloon Membangun Harmoni di Tengah Keberagaman Hongkong
Jelaskan ciri-ciri bangunan masjid kuno di Indonesia ?

Masjid kuno di Indonesia pertama kali dibangun pada masa kerajaan Islam menyebar di Indonesia. Luas masjid tersebut digunakan para muslim untuk beribadah. Dengan proses akulturasi yang panjang, masjid kuno memiliki bentuk yang menyesuaikan diri dengan budaya yang telah ada sebelumnya di Indonesia, yaitu agama Buddha dan Hindu. Berikut ini akan dijelaskan beberapa ciri dari bangunan masjid kuno di Indonesia. • Memiliki atap bersusun yang tumpang, semakin ke atas akan semakin lancip dan kecil.

• Jumlah anak tangga atau tumpang di atap masjid berjumlah ganjil (tiga atau lima). Puncak atapnya dinamakan mustaka. • Tidak seperti masjid modern, masjid kuno tidak memiliki menara sebagai pengumandang adzan. Pada waktu dulu masjid kuno ini menggunakan kentongan dan bedug untuk mengingatkan waktu.

• Masjid kuno pada umumnya dibangun di dekat istana kerajaan.

bangunan masjid yang merupakan hasil akulturasi memiliki ciri-ciri

Akulturasi Islam denganBudaya Dalam BidangPemikiran dan RitualKeagamaan




2022 www.videocon.com