Allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun

allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun

ALLÂH MAHA MENGETAHUI Oleh Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari Manusia mengenal Allâh Azza wa Jalla dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna. Dengan memahai nama-nama dan sifat-sifat Allâh Subhanahu wa Ta’alakita akan lebih bisa mengenal Allâh Subhanahu wa Ta’ala. Semua nama Allâh pasti memuat sifat. DALIL SIFAT ILMU ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA Ahlus Sunnah wal Jama’ah sepakat menetapkan sifat ilmu (mengetahui) bagi Allâh Subhanahu wa Ta’ala.

Ini berdasarkan banyak dalil dari kitab suci al-Qur’an, hadits Nabi dan akal. Di antara ratusan dalil ayat al-Qur’an adalah: Bahwa di antara nama-nama Allâh adalah al-‘Al î m (Yang Maha Mengetahui), yang memuat sifat ilmu. Allâh Azza wa Jalla berfirman: تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ Diturunkan Kitab ini (Al Qur’an) dari Allâh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

[Al-Mukmin/40: 2] Demikian pula di antara nama Allâh Azza wa Jalla adalah ‘ All â mul Ghuy û b (Yang Maha Mengetahui perkara ghaib), yang memuat sifat ilmu.

allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun

Allâh Azza wa Jalla berfirman: أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ وَأَنَّ اللَّهَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allâh mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allâh amat mengetahui segala yang gaib?

[At-Taubat/9: 78] Dan di antara nama-nama Allâh adalah ‘ Â limul Ghaibi wasy Syah â dah (Yang Allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun Mengetahui perkara ghaib dan yang nampak), juga memuat sifat ilmu. عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْكَبِيرُ الْمُتَعَالِ Yang mengetahui semua yang gaib dan yang allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi. [Ar-Ra’du/13: 9] Dalil hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak sekali, antara lain hadits berikut ini: عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عِنْدَ الْكَرْبِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَلِيمُ الْحَلِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Kebiasaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada waktu kesusahan, ‘Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allâh, Pemilik singgasana yang agung.

Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allâh, Pemilik langit dan bumi, dan Pemilik singgasana yang mulia”. [HR. Al-Bukhâri, no. 6990] Dalil akal bahwa Allâh Azza wa Jalla memiliki ilmu adalah bahwa Allâh itu Pencipta, sedangkan selain-Nya adalah makhluk. Akal menetapkan bahwa Pencipta pasti mengetahui makhluk-Nya.

Allâh Azza wa Jalla telah mengisyaratkan hal ini dengan firman-Nya: أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ Apakah Allâh Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui? [Al-Mulk/67: 14] ILMU ALLAH AZALI DAN ABADI Ilmu Allâh itu sempurna, bersifat azali dan abadi.

Azali artinya ada semenjak dahulu, sedangkan abadi artinya selalu ada pada Allâh Subhanahu wa Ta’ala. Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Oleh karena itu ilmu Allâh Azza wa Jalla tidak didahului dengan ketidaktahuan, dan tidak disusul dengan lupa, sebagaimana Nabi Musa Alaihissalam berkata kepada Fir’aun: قَالَ عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي فِي كِتَابٍ ۖ لَا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنْسَى Musa menjawab, “Pengetahuan tentang (keadaan umat-umat yang dahulu) itu ada di sisi Rabbku, di dalam sebuah kitab, Rabb kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa”.

[Thaha/20: 52] Berbeda dengan ilmu (pengetahuan) makhluk yang didahului dengan ketidaktahuan, dan tidak disusul dengan lupa.” [ Syarah Aq î dah Was î thiyah, 1/194] ALLAH MENGETAHUI SEGALA SESUATU Allâh Azza wa Jalla memberitakan dalam beberapa ayat bahwa Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Allâh Azza wa Jalla berfirman: هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ Dia-lah Allâh, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit.

Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. [Al-Baqarah/2: 29] Allâh Azza wa Jalla juga berfirman: بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبَةٌ ۖ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu. [Al-An’am/6: 101] Baca Juga Berhukum Berdasarkan Apa Yang Diturunkan Allah Adalah Fardhu 'Ain Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah saat menjelaskan ayat (yang artinya), “ Dia mengetahui segala sesuatu”, beliau mengatakan bahwa ini termasuk bentuk umum yang tidak ada pengecualian selamanya.

Keumuman (ilmu Allâh) ini mencakup (ilmu terhadap) perbuatan-Nya, perbuatan para hamba-Nya, baik secara global maupun rinci. Allâh Azza wa Jalla mengetahui apa yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi. Ilmu Allâh Subhanahu wa Ta’ala mencakup sesuatu yang wajib ada, sesuatu yang mungkin ada, dan sesuatu yang mustahil ada.

Sehingga ilmu Allâh luas, mencakup, dan meliputi segala sesuatu tanpa kecuali. 1. Ilmu Allâh terhadap sesuatu yang wajib ada, seperti ilmu-Nya (pengetahuan-Nya) terhadap diri-Nya, dan terhadap semua sifat-Nya yang maha sempurna. 2. Ilmu Allâh terhadap sesuatu yang mustahil ada, seperti firman Allâh Azza wa Jalla : لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allâh, tentulah keduanya itu telah rusak binasa.

[Al-Anbiya’/21: 22] Demikian juga firmanNya: إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَاباً وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allâh sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. [Al-Hajj/22: 73] 3. Ilmu Allâh terhadap sesuatu yang mungkin ada, adalah semua makhluk yang telah Allâh Subhanahu wa Ta’ala beritakan, itu termasuk sesuatu yang mungkin.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ Dan Allâh mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan. [An-Nahl/16: 19] Dengan demikian, ilmu Allâh Subhanahu wa Ta’ala meliputi segala sesuatu”.

[ Syarah Aq î dah Was î thiyah, 1/184] Tidak ada apapun yang lepas dari ilmu Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang meliputi segala sesuatu. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ ah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz).

[Al-An’am/6: 59] DAMPAK DARI MENGIMANI BAHWA ALLAH MAHA MENGETAHUI Banyak sekali dampak keimanan manusia kepada ilmu Allâh Subhanahu wa Ta’ala. Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata: والثمرة التي ينتجها الإيمان بأن الله بكل شيء عليم: كمال مراقبة الله عز وجل وخشيته، بحيث لا يفقده حيث أمره، ولا يراه حيث نهاه.

Buah yang dihasilkan oleh keimanan bahwa Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu adalah kesempurnaan mur â qabah (pengawasan) kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan khasy-yah (takut) kepada-Nya, yang mana Allâh mendapatinya di tempat yang Allâh perintahkan dan Allâh tidak melihatnya di tempat yang Dia larang”. [ Syarah Aq î dah Was î thiyah, 1/184] Kemudian di antara dampak keimanan kepada ilmu Allâh, antara lain adalah: 1.

Mengetahui Kesempurnaan Agama Islam Karena Allâh Maha Mengetahui, sementara agama Islam datang dari sisi-Nya. Maka Islam adalah agama yang sempurna, beritanya benar dan hukum-hukumnya adil. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (al-Qur’an, sebagai kalimat yang benar dan adil.

Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [Al-An’am/6: 115] Oleh karena itu kita dapatkan banyak ayat al-Qur’an yang menjelaskan hukum syari’at kemudian di akhiri dengan menyebutkan nama Allâh ‘Al î m (Maha Mengetahui) dan Hak î m (Maha Bijaksana).

Contohnya adalah firman Allâh Azza wa Jalla : إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allâh dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allâh; dan Allâh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

[At-Taubat/9: 60] Kalau syari’at Islam ini datang dari Allâh Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, maka tentu kewajiban hamba untuk menerima dengan senang hati seluruh syari’at Islam dan meyakini kebaikannya di atas seluruh peraturan yang ada. Baca Juga Wala' wal Bara' dan Solidaritas yang Tidak Tepat 2. Bertawakkal Kepada Allâh Dalam Segala Perkara Karena Allâh Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Kasih Sayang, maka seorang hamba akan mendapatkan ketenanagan dan keyakinan dengan bertawakkal kepada-Nya dalam segala urusan.

Termasuk bertawakkal dalam masalah rezeki, karena sesungguhnya Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah menjamin rezeki seluruh makhluk-Nya. Yang penting adalah berusaha yang halal dan hasilnya disandarkan kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri.

Allâh-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [Al-‘Ankabut/29: 60] 3. Faktor Pendorong Taqwa Kepada Allâh Ketika seorang hamba mengetahui bahwa Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu, Maha Mengawasi semua perbuatan hamba-Nya, maka itu merupakan faktor terbesar yang mendorong seseorang untuk selalu bertaqwa kepada-Nya.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman: أَلَا إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ قَدْ يَعْلَمُ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ وَيَوْمَ يُرْجَعُونَ إِلَيْهِ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ Ketahuilah sesungguhnya kepunyaan Allâh lah apa yang di langit dan di bumi.

Sesungguhnya Dia mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya (sekarang). Dan (mengetahui pula) hari (manusia) dikembalikan kepada-Nya, lalu diterangkan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Dan Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu. [An-Nûr/24: 64] Allâh Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمِيثَاقَهُ الَّذِي وَاثَقَكُمْ بِهِ إِذْ قُلْتُمْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ Dan ingatlah karunia Allâh kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: “Kami dengar dan kami taati”.

Dan bertakwalah kepada Allâh, sesungguhnya Allâh Maha Mengetahui isi hati (mu). [Al-Mâidah/5: 7] 4. Faktor Pendorong Ketaan dan Ibadah Kepada Allâh Ketika seorang hamba mengetahui bahwa Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu, Maha Mengawasi semua perbuatan hamba-Nya, maka itu merupakan faktor terbesar untuk selalu taat kepada-Nya, melaksanakan amal shalih, dan beribadah dengan sebaik-baiknya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman: يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [Al-Mukminun/23: 51] Allâh Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ ۖ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan.

Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allâh Maha Mengetahuinya.

[Al-Baqarah/2: 215] 5. Mencegah Maksiat Kepada Allâh Ketika seorang hamba mengetahui bahwa Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu, Maha Mengawasi allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun perbuatan hambaNya, maka itu merupakan faktor terbesar untuk meninggalkan maksiat.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَلَا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ ۚ وَمَنْ يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ Dan barang siapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allâh Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. [Al-Baqarah/2: 283] Sesungguhnya Allâh Mengetahui pandangan mata khianat untuk berbuat maksiat, bahkan isi hati manusia Allâh juga mengetahuinya.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati. [Al-Mukmin/40: 19] Dengan keterangan ini kita mengetahi bagaimana pengaruh aqidah shahihah (yang benar) pada perilaku manusia di dunia ini, maka selayaknya kita memperhatikan masalah-masalah aqidah dengan perhatian yang besar, sehingga membawa keselamatan kehidupan dunia dan akhirat kita.

Semoga Allâh selalu membimbing kita allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun dalam kebaikan dan menjauhkan dari segala keburukan. [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XX/1437H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079] Sebagai Tuhan pencipta alam, sudah menjadi hal yang pasti bahwa Allah swt.

juga mengetahui segala sesuatu yang diciptakan-Nya. Baik itu yang nyata, bisa dilihat ataupun yang ghaib, alias tersembunyi (tidak terlihat oleh mata manusia) Selain itu pula, Allah swt. juga mendengarkan segala suara, baik itu suara yang terucapkan atau bisa didengar, atau suara yang masih tersimpan dalam hati manusia. Pada kesempatan kali ini kita akan belajar mengenal dua dari 99 jumlah Asmaul Husna yaitu tentang al-‘Aliim (Yang Maha Mengetahui) dan as- Saamii’ (Yang Maha Mendengar).

A. Allah Yang Maha Mengetahui اَلْعَليْمُ ( Al-‘Aliim) artinya adalah Allah Yang Maha Mengetahui Allah swt. sebagai Tuhan Pencipta mengetahui segala apa yang diciptakan-Nya. Sebagai manusia tentu segala amal dan perbuatan yang kita lakukan, baik ataupun buruk Allah swt. mengetahui semuanya.

Begitu pula apa-apa yang terjadi baik itu di darat, laut ataupun di udara. Tidak ada yang luput dari pengawasan Allah swt. Allah swt. juga mengetahui kejadian yang sudah terjadi, sedang terjadi ataupun yang akan terjadi. Dimanapun makhluk Allah swt. berada, baik itu manusia ataupun jin (yang tidak terlihat oleh mata) dan makhluk yang lainnya tidak ada yang bisa lepas dan bersembunyi dari pengetahuan Allah swt. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam al-Qur’an surat al-Anbiyaa’ (21) ayat empat yang berbunyi sebagai berikut ini: قَالَ رَبِّي يَعۡلَمُ ٱلۡقَوۡلَ فِي ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ ٤ Qaala robbii ya'lamul qaula fis samaawaati wal ardhi, wa huwas samii'ul 'aliim(u) Artinya: “Berkatalah Muhammad (kepada mereka): "Tuhanku mengetahui semua perkataan di langit dan di bumi dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" Dari keterangan ayat di atas, kita harus meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Allah swt.

adalah Tuhan Yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita berbuat berikut ini: • Berusaha semaksimal mungkin untuk tidak melakukan perbuatan yang kotor dan jelek. • Senantiasa berbuat baik • Menjauhkan pikiran-pikiran kotor yang menjerumuskan kepada hal-hal yang buruk • Menghindarkan dan membersihkan diri dari niat-niat yang tidak baik yang ada dalam hati.

allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun

B. Allah Yang Maha Mendengar السَّمِيْعُ ( As-Samii’) artinya adalah Allah Yang Maha Mendengar Allah swt. sebagai Tuhan Yang Maha Mendengar, sudah pasti mendengar segala sesuatu yang diciptakan-Nya.

Termasuk bisikan atau doa yang dipanjatkan oleh hamba-hamba-Nya. Meskipun hamba-Nya menyembunyikan suara dalam hatinya. Allah swt, tetap bisa mengetahui dan mendengarkan bisikan suara yang disembunyikan dalam hati tersebut. Suara apapun itu, baik gemericiknya air, gemerisiknya dedaunan manakala tertiup angin, bahkan sampai bunyi langkah semutpun Allah swt. tetap terdengarkan oleh-Nya. Kata as-Samii’, yang berarti Yang Maha Mendengar adalah sebuah kesempurnaan. Lawan kata dari mendengar ini adalah tuli yaitu sama sekali tidak dapat mendengarkan bunyi sesuatu.

Yang demikian ini tentu saja sangatlah tidak mungkin menjadi sifat Allah swt. Dalam al-Qur’an surat an-Nisaa’ (surat ke empat) ayat 148, Allah swt. dijelaskan : ۞لَّا يُحِبُّ ٱللَّهُ ٱلۡجَهۡرَ بِٱلسُّوٓءِ مِنَ ٱلۡقَوۡلِ إِلَّا مَن ظُلِمَۚ وَكَانَ ٱللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا ١٤٨ Laa yu(c)hibbullaahul jahra bis suu i minal qauli illaa man dzulim, wa kaanallaahu samii'an 'aliima(n) Artinya: "Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya.

Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" Dengan mengetahui bahwa Allah swt. adalah Tuhan Yang Maha Mendengar. Maka, sudah sepantasnya bagi kita untuk melakukan beberapa hal berikut ini: • Mendengar segala sesuatu yang baik-baik • Senantiasa berhati-hati dalam berbicara • Rajin membaca dan mendengarkan lantunan ayat-ayat al-Qur’an • Senantiasa berusaha menjauhkan dari perkataan-perkataan yang kotor dan jelek • Meyakini bahwa Allah swt.

mendengarkan dan mengetahui segala sesuatu, termasuk ketika sedang menjalankan ibadah dan berdoa memohon sesuatu kepada-Nya. Semoga dengan mempelajari tentang sifat Allah swt. tentang Yang Maha Mengetahui dan Allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun Maha Mendengar di atas.

Kita semua bisa belajar dan menjalankan sesuatu dengan baik, benar, waspada dan senantiasa yakin, bahwa apapun yang kita sembunyikan tetap dalam pengetahuan dan pengawasan-Nya. Semoga bermanfaat Sumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SD/MI Kelas III, (Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan), 2018 Software Qur'an in Ms. Word v. 2.2 Software Kamus Besar Bahasa Indonesia v.1.1 *Penulis: Abdul Wahid
assalamualaikum1.

Surah Al Ma'mun ada .ayat.2. Surah Al Ma'mun diturunkan di kota.3. Kata AL MAUN artinya.4.

allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun

Surah Al-Ma'un ayat ke 4 berbuny … i.5. Orang yang mendustakan agama dalam surah Al Ma'mun adalah.6. Orang yang dicelakakan Alloh dalam surah Al Ma'un adalah .7. Sikap terpuji yang dapat diambil dari surah Al Ma'un adalah.8. Arti surah Al Maun ayat ke satu.9. Rasulullah artinya.10. Tugas Rosul adalah .11. Sifat wajib bagi Rasul artinya.,12. Sebutkan sifat2 wajib bagi Rasul beserta artinya !13.

Sifat mustahil bagi Rasul artinya.14. Sebutkan sifat mustahil bagi Rosul beserta artinya!15. Menyampaikan pesan kebaikan kepada orang lain berarti telah mengamalkan sifat wajib Rasul.16. Rossi Ulul Azmi artinya.,17. Sebutkan nama nama Rasul Ulul Azmi!18.

Mu'jizat Nabi Nuh As adalah.19. Mu'jizat Nabi Ibrahim as adalah.20. Mu'jizat Nabi Musa as adalah.21. Mu'jizat Nabi Isa as. Isa as .22. Mu'jizat Nabi Muhammad SAW.23. Orang kafir kuraisy yang membenci Nabi Muhammad SAW bernama.24. Nabi Muhammad SAW disebut khotamul ambiyak. Arti khotamul ambiyak adalah.,25. Sikap terpuji yang dapat di ambil dari sifat wajib Rasul adalah.26. Sikap terpuji yang dapat diambil dari sifat Rosul Ulul Azmi adalah.27.

Hidup sederhana artinya.28. Sebutkan keuntungan sederhana!29. Qur'an surah Al Isrok ayat 27 menjelaskan.30. Ikhlas artinya.31. Memberi sesuatu tanpa mengharapkan imbalan dari hanya mengharap ridho Allah disebut.32. Beramal artinya.33. Alloh SWT tidak melihat bentuk tubuh mu, tetapi Alloh SWT melihat.34. Seseorang dianggap beragama dengan benar jika amal ibadahnya dilaksanakan dengan .35.

Ciri-ciri orang ya ng ikhlas antara lain.​ Setelah wafatnya Rasulullah SAWIslam dipimpin oleh para Khulafaur Rasyidin, yaitu para sahabat Rasullah SAW yang adil dan bijaksana sehingga perse … baran Islam sangat luas, salah satunya adalah sahabat Umar bin Khattab Radiyaullohu'an.

Dalam kepemimpinannya Islam berkembang ke berbagi belahan bumi dan Umar memiliki inovasi dalam ekonomi, negara dan lainnya.

Tuliskan 2 perkembangan yang terjadi di masa kepemimpinan khalifah Umar bin Khattab Radiyaullohu'an 5.Berikut ini yang bukan merupakan larangan ketika wukuf adalah. A.memakai pakaian berjahit B.memakai wewangian bagi perempuan C.membunuh hewa … n D.memakai pakaian berjahit bagi wanita 6.jamaah haji indonesia berangkat ke Padang Arafah satu hari menjelang wukuf.Hal itu untuk mengurangi kemacetan dan mempermudah pengaturan kendaraan dalam pemberangkatan jamaah haji.Wukuf dilaksanakan pada tanggal.zulhijah A.8 B.9 C.10 D.11 10.selama berada ditanah suci,pak ahmad mèlakasanakan tawaf bersama istrinta setelah selesai salat subuh.Tawaf yang mereka laksanakan adalah tawaf A.sunah B.qudum C.ifada D.wada TOLONG YA BANTU CEPAT, YG BANTU SAMA² PUNYA PENGALAMAN BELAJAR BARENG.MAKASIH Jawaban Kabar baiknya, dalam usaha menjawab pertanyaan ini, semakin banyak yang dapat kita ketahui mengenai Allah!

Anda yang membaca artikel ini mungkin akan lebih baik kalau membaca seluruh penjelasan ini terlebih dahulu dan kemudian baru mencari tahu kutipan Alkitab yang disebutkan, supaya mendapatkan pemahaman yang menyeluruh.

Rujukan dari Alkitab mutlak diperlukan karena tanpa didasari otoritas dari Alkitab, apa yang dikatakan di sini tidak lebih dari sekedar opini manusia yang justru sering salah dalam memahami Allah (Ayub 42:7).

Manusia tidak pernah dapat menyatakan betapa pentingnya bagi dirinya untuk mencoba mengerti siapa Allah itu. Kegagalan memahami siapa Allah itu akan menyebabkan kita mempunyai, mengikuti dan menyembah ilah yang salah, yang malah berlawanan dengan kehendakNya (Keluaran 20:3-5). Kita hanya dapat mengetahui apa yang Allah sendiri mau ungkapkan tentang dirinya. Salah satu dari atribut atau kualitas Allah adalah “terang”, yang artinya hanya Dia sendiri yang dapat mengungkapkan informasi mengenai diriNya (Yesaya 60:19; Yakobus 1:17).

Fakta bahwa Allah telah mewahyukan pengetahuan mengenai diriNya sendiri tidak boleh diabaikan begitu saja, ‘supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku” (Ibrani 4:1). Ciptaan di alam semesta ini, Alkitab dan Sang Firman yang telah menjadi daging (Yesus Kristus) akan menolong kita untuk mengenal siapakah sesungguhnya Allah itu. Mari kita mulai dengan memahami bahwa Allah adalah Pencipta dan kita adalah bagian dari ciptaanNya (Kejadian 1:1; Mazmur 24:1).

Allah berfirman bahwa manusia diciptakan menurut gambarNya sendiri. Manusia diciptakan melampaui segala ciptaan dan diberikan kuasa atas ciptaan lainnya (Kejadian 1:26-28). Walau ciptaan ini telah dikotori oleh “kejatuhan” namun tetap memberikan gambaran mengenai karya Allah (Kejadian 3:17-18; Roma 1:19-20). Dengan mempertimbangkan luasnya ciptaan Allah, kompleksitasnya, keindahan dan keteraturannya, kita dapat membayangkan kedahsyatan Allah.

Beberapa nama Allah berikut ini dapat menolong kita memahami siapakah sesungguhnya Allah itu. Elohim – Yang kuat, illahi (Kejadian 1:1) Adonai – Allah, mengindikasikan hubungan antara Majikan dan hamba (Keluaran 4:10, 13) El Elyon – Yang Mahatinggi, Yang paling perkasa (Yesaya 14:20) El Roi – Yang kuat Yang melihat (Kejadian 16:13) El Shaddai – Allah yang Mahakuasa (Kejadian 17:1) El Olam – Allah yang kekal (Yesaya 40:28) Yahweh – TUHAN yang “adalah Aku”, artinya Allah yang berada dengan sendirinya dalam kekekalan (Keluaran 3:13,14).

Mari kita melanjutkan mempelajari atribut-atribut lainnya dari Allah. Allah itu kekal, berarti Dia tidak berawal dan keberadaanNya tidak akan pernah berakhir.

Dia kekal, dan tak terbatas (Ulangan 33:27; Mazmur 90:2; 1 Timotius 1:17). Allah itu tidak berubah, yang berarti Allah dapat dipercaya dan diandalkan (Maleakhi 3:6; Bilangan 23:19; Mazmur 102:26, 27).

Allah tak terbandingkan, yang berarti tidak ada satupun yang seperti Dia dalam karya atau keberadaannya; Dia tidak ada taranya dan sempurna adanya (2 Samuel 7:22; Mazmur 86:8; Yesaya 40:25; Matius 5:48). Allah itu melampaui segala pengertian, yang berarti Dia tidak dapat diselami dan tidak dapat dipahami secara sempurna (Yesaya 40:28; Mazmur 145:3; Roma 11:33,34). Allah itu adil, artinya Dia tidak membeda-bedakan seseorang dengan yang lain (Ulangan 32:4; Mazmur 18:31).

Allah Mahakuasa, artinya Dia berkuasa atas segalanya, Dia dapat melakukan apa saja yang dikehendakiNya, namun apa yang dilakukanNya senantiasa sesuai dengan karakterNya (Wahyu 19:6; Yeremia 32:17, 27). Allah Mahahadir, artinya Dia senantiasa allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun dan Dia hadir di mana-mana, namun tidak berarti segalanya adalah Allah (Mazmur 139:7-13; Yeremia 23:23).

Allah Mahatahu, artinya Dia mengetahui masa dulu, sekarang dan akan datang, bahkan segala yang kita pikirkan. Karena Dia mengetahui segala sesuatu, keadilannya selalu ditegakkan (Mazmur 139:1-5; Amsal 5:21). Allah allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun Esa, yang berarti bukan saja tidak ada Allah lain, tapi juga berarti hanya Dia yang dapat memenuhi kebutuhan hati kita yang paling dalam, dan hanya Dia satu-satunya yang layak untuk kita sembah dan puja (Ulangan 6:4).

Allah itu benar adanya, yang berarti Dia tidak bisa dan tidak akan membiarkan kesalahan. Karena kebenaran dan keadilanNya, maka Yesus harus menanggung hukuman Allah Bapa terhadap dosa-dosa kita sehingga dosa-dosa kita dapat diampuni (Keluaran 9:27; Matius 27:45-46; Roma 3:21-26).

Allah berdaulat, yang berarti Dia adalah Pemegang kekuasaan tertinggi. Semua ciptaanNya, sadar atau tidak sadar, tidak dapat merusak rencana-rencanaNya (Mazmur 93:1; 95:3; Yeremia 23:20). Allah itu Roh, yang berarti Dia tidak kelihatan (Yohanes 1:18, 4:24).

Allah adalah Allah Tritunggal, yang berarti tiga Pribadi tapi satu Allah; sama secara substansi, setara dalam kuasa dan kemuliaan. Perhatikan bahwa dalam Matius 28:19, dalam bahasa Inggris, penulisan “nama” dalam bentuk tunggal sekalipun dipakai untuk merujuk tiga Pribadi berbeda-“Bapa, Anak, Roh Kudus” (Matius 28:19; Markus 1:9-11). Allah adalah kebenaran, yang berarti Dia tidak pernah bertentangan dengan diriNya sendiri, dan tidak bisa melakukan yang tidak benar dan tidak berbohong (Mazmur 117:2; 1 Samuel 15:29).

Allah itu suci, yang berarti Dia tidak dapat tercampur dengan segala kerusakan moral. Yang berarti Ia menentang segala yang berdosa. Allah melihat kejahatan dan marah karenanya. Sering kali Alkitab menyebutkan api bersama-sama dengan kesucian. Allah juga dilukiskan sebagai api yang menghanguskan (Yesaya 6:3; Habakuk 1:13; Keluaran 3:2,4,5; Ibrani 12:29).

Allah itu penuh anugerah – hal ini termasuk kebaikan, kemurahan, belas kasihan dan kasih – semua kata ini menggambarkan arti dari kebaikan Allah. Kalau bukan karena anugerah Allah, segala atribut Allah akan membuat kita terpisah daripadaNya. Kita bersyukur bahwa Dia ingin mengenal setiap dari kita secara pribadi (Keluaran 22:27; Mazmur 31:20; 1 Petrus1:3; Yohanes 3:16; 17:3).

Ini adalah suatu usaha yang sederhana untuk menjawab sebuah pertanyaan besar. Kiranya Anda terus bersemangat untuk lebih mengenal Dia (Yeremia 29:13). English Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia Apa sajakah atribut-atribut Allah itu? Siapakah sesungguhnya Allah itu? Bagikan halaman ini:
Termasuk yang harus diimani oleh umat Islam adalah bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, karena memang ini termasuk dari 20 sifat wajib Allah yang harus dipercayai.

Tidak hanya itu, kesadaran bahwa Allah mengetahui segala sesuatu membuat muslim yang sedang membersihkan hatinya bisa lebih waspada untuk bertindak, atau dalam bahasa tasawuf dikenal dengan muraqabah (sikap awas). Demikianlah Allah menyampaikan dalam Surat Al-Mulk ayat 12-14 bahwa Ia Maha mengetahui, sekalipun terhadap isi hati manusia.

Di samping juga menjanjikan kebaikan bagi yang dapat melaksanakan muraqabah. إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ “Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak terlihat oleh mereka, mereka memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” “Dan rahasiakanlah perkataanmu atau nyatakanlah.

Sungguh, Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” “Apakah (pantas) Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Mahahalus, Maha Mengetahui.” Baca juga: Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 8-11: Penyesalan Orang yang Ingkar di Hari Kiamat Janji Allah bagi yang takut dan selalu sadar terhadap pengawasanNya Seperti biasa, setelah menjelaskan orang yang tak patuh dan ancaman untuk mereka, Allah kemudian menunjukkan kebalikannya, yakni janji kepada hamba yang patuh, yang dalam konteks ini berupa orang-orang yang takut terhadap Allah.

Pendapat demikian sebagaimana yang diutarakan kebanyakan mufassir, yang antara lain Ar-Razi dalam Mafatihul Ghayb, Al-Biqa’i dalam Nudzm ad-Durar, dan Quraish Shihab dalam Al-Mishbah. Surat Al-Mulk ayat 14 mendeskripsikan perihal orang yang senantiasa takut terhadap Allah sekalipun Ia tidak terjangkau oleh penglihatan manusia.

Dalam istilah tasawuf, ini dikenal dengan muraqabah, yang termasuk satu dari enam maqam (tingkatan) untuk membentuk pribadi yang waspada. Mengutip Ihya’ ‘Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, muraqabah didefinisikan dengan sikap menjaga rahasia dengan senantiasa awas terhadap Allah Yang gaib allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun situasi bagaimana pun ( mura’atussirr bi mulahadzatil ghayb ma’a kulli lahdhatin wa lafzatin).

Artinya, seseorang selalu merasa diperhatikan gerak-geriknya oleh Allah, sehingga ia selalu menjaga tindakannya. Baca juga: Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 5-7: Balasan Bagi yang Tak Patuh Perintah Muraqabah ini juga termasuk manifestasi dari ihsan, berdasarkan penggalan hadis tentang iman Islam dan ihsan Nabi riwayat Abu Hurairah dalam Shahih Al-Bukhari: الإحْسَانُ أنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأنَّكَ تَرَاهُ، فإنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فإنَّه يَرَاكَ “Ihsan ialah ketika kamu menyembah Allah seakan kamu melihatNya, atau bila tidak, Allah Yang melihatMu” Ihsan adalah level tertinggi diantara iman dan Islam, karena untuk memraktikkannya, seorang hamba juga dituntut untuk ikhlas dan senantiasa sadar bahwa Allah senantiasa mengawasinya.

Sehingga, meski ia sedang sendiri, ia tetap takut untuk berbuat keburukan. Hal ini semakna dengan Quraish Shihab saat ia memaknai ayat 12 ini dengan orang yang kagum dan takut terhadap Allah walaupun mereka sedang sendiri atau Allah tidak tampak oleh penglihatannya. Balasan bagi orang yang takut dan sadar bahwa Allah selalu mengawasinya tak lain ialah ampunan dan ganjaran melimpah.

Ada satu rahasia mengapa ampunan ( al-maghfirah) disebut allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun dahulu daripada ganjaran ( ajrun) di ayat tersebut. Sebagaimana yang disampaikan Ibnu ‘Asyur dalam at-Tahrir allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun Tanwir, pendahuluan ampunan karena untuk melegakan hati umat Islam pada waktu itu yang takut akan tertimpa siksa atas perbuatan kufurnya sebelum masuk Islam.

Selain juga, lanjut Ibnu ‘Asyur, sebagai wujud daf’ud darr muqaddamun ‘ala jalbil mashalih ( menolak kemudaratan lebih didahulukan dari menarik manfaat). Baca juga: Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 1-2: Bukti Kuasa Allah dan Barometer Pribadi Berkualitas Penegasan keluasan ilmu Allah Ayat 13 dan 14 turun untuk merespons anggapan kaum musyrik Mekah bahwa Allah tidak mengetahui pembicaraan mereka yang samar.

Berdasarkan hadis riwayat Ibnu ‘Abbas dalam Asbabun Nuzul anggitan al-Wahidi, suatu ketika mereka (kaum musyrikin Mekah membicarakan Nabi), sementara Jibril memantau pembicaraan mereka itu. Kemudian mereka saling berkata: أَسِرُّوا قَوْلَكُمْ لِئَلَّا يَسْمَعَ إِلَهُ مُحَمَّدٍ “lirihkanlah suaramu agar Tuhannya Muhammad tidak dengar” Lalu, turunlah ayat ini untuk memberi tahu bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, sekalipun isi hati manusia. Perintah untuk melirihkan ( asirru) atau melantangkan suara ( ijharu) sejatinya bermakna taswiyyah (menyamaratakan).

Dengan mengacu pada sebab turunnya ayat dan frasa setelahnya yang berarti “Allah sungguh mengetahui segala isi hati”. Sehingga, adalah sama saja, mereka, orang-orang musyrik bicara lantang atau lirih, Allah pasti tahu segala detil perkataannya. Hal ini serupa dengan firman Allah dalam surat At-Tur ayat 16: ٱصۡلَوۡهَا فَٱصۡبِرُوٓاْ أَوۡ لَا تَصۡبِرُواْ سَوَآءٌ عَلَيۡكُمۡۖ إِنَّمَا تُجۡزَوۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ “Masuklah ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu; sesungguhnya kamu hanya diberi balasan atas apa yang telah kamu kerjakan.

” Bidzatis shudur diartikan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan ma khatara fil qulub (sesuatu yang terbersit dalam hati). Pengertian ini kemudian dikembangkan oleh Ibnu ‘Asyur dengan segala yang berlalu-lalang dalam hati manusia, baik itu niat, gertakan hati, dan lain sebagainya. Meskipun memiliki konteks khusus, ayat ini menyapa seluruh manusia. Sehingga, siapa pun yang main rahasia-rahasiaan baik berupa perkataan atau perbuatan, sesungguhnya Allah telah lebih dulu mengetahui rahasia itu, bahkan sejak dalam rencana.

Allah kemudian menegaskan kemaha-mengetahuiNya atas segala sesuatu pada ayat ke-14 dengan mengungkapkan pertanyaan bernada inkar. “Apakah pantas Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui?” Pengetahuan Allah terhadap segala sesuatu allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun keniscayaan, karena Ia Yang Maha menciptakan.

Sebagaimana yang disampaikan Ibnu ‘Asyur, sifat ilmu yang dimiliki Allah berhubungan dengan ciptaanNya dan keadaan ciptaanNya itu. Hal ini tak lain sebab proses penciptaan ialah mewujudukan sesuatu dengan bentuk tertentu.

allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun

Dan untuk itu, Sang Pencipta pasti memiliki kehendak dan pengetahuan terhadap yang akan Ia ciptakan. Lafadz lathif dan khabir yang menjadi pemungkas ayat 14 mempertegas ilmu Allah yang meliputi semua hal. Al-Ghazali mengartikan lathif dengan Dzat Yang mengetahui kemaslahatan secara detil dan seluk-beluk rahasianya. Sementara khabir berarti Yang mengetahui sesuatu hingga lini terkecilnya.

Demikianlah tafsir Surat Al-Mulk ayat 12-14 cukup kuat untuk menjadi dalil akan keluasan ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu.

Semoga, kita dapat belajar untuk sadar bahwa kita selalu dalam pantauan Allah, sehingga perbuatan baik dilakukan dengan ikhlas, tidak lagi pandang tempat, waktu, atau untuk siapa kita berbuat. Wallahu a’lam[] TENTANG KAMIDengan semangat membangun peradaban islami berbasis tafsir Al Quran, kami berusaha memenuhi asupan kebutuhan masyarakat terhadap kitab suci Al Quran, baik terjemah, tafsir tematik dengan materi yang aktual di masyarakat, maupun Ulumul Quran yang merupakan perangkat keilmuan dalam memahami Alquran
Jakarta - Iman kepada Qada dan Qadar berarti percaya serta meyakini sepenuh hati bahwa Allah SWT memiliki kehendak, ketetapan, keputusan atas semua makhluk-Nya.

Meski memiliki hubungan yang erat serta sama-sama mempengaruhi proses kehidupan manusia, Qada dan Qadar, arti serta pengertiannya berbeda. 1. Pengertian Qada Qada secara bahasa yang berarti hukum, ketetapan, dan kehendak Allah. Semua yang terjadi berasal dari Allah SWT, sang pemilik kehidupan.

Sebelum adanya proses kehidupan, Allah sudah menuliskan apa saja yang akan terjadi. Baik itu tentang kebaikan, keburukan dan juga tentang hidup atau mati. هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ يَأْتِيَهُمُ اللَّهُ فِي ظُلَلٍ مِنَ الْغَمَامِ وَالْمَلَائِكَةُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ ۚ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ Arab-Latin: Hal yanẓurụna illā ay ya`tiyahumullāhu fī ẓulalim allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun wal-malā`ikatu wa quḍiyal-amr, wa ilallāhi turja'ul-umụr Artinya: Tidak ada yang mereka tunggu-tunggu kecuali datangnya (azab) Allah bersama malaikat dalam naungan awan, sedangkan perkara (mereka) telah diputuskan.

Dan kepada Allah-lah segala perkara dikembalikan. Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa semua perkara-perkara, ketetapan yang terjadi sudah diputuskan oleh Allah SWT. 2. Pengertian Qadar Qadar secara bahasa diartikan sebagai sebuah ketentuan atau kepastian dari Allah.

Sedangkan secara istilah, qadar berarti sebuah penentuan yang pasti dan sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Baik yang sudah terjadi, sedang terjadi, maupun yang akan terjadi. Hadist tentang Qada dan Qadar: Diriwayatkan dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya seseorang diciptakan dari perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah, 40 hari menjadi segumpal darah, 40 hari menjadi segumpal daging, kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh didalamnya dan menuliskan empat ketentuan yaitu tentang rezeki, ajal, amal, dan (jalan kehidupan) sengsara atau bahagia." Hubungan Qada dan Qadar juga tidak bisa dipisahkan.

Qada merupakan rencana dan Qadar adalah perwujudan atau kenyataan yang akan terjadi seperti yang sudah ditetapkan Allah SWT. Dalam Al Qur'an surah Al-Hijr ayat 21 وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا عِنْدَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلَّا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ Arab-Latin: Wa im min syai`in illā 'indanā khazā`inuhụ wa mā nunazziluhū illā biqadarim ma'lụm Terjemah Arti: "Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kamu-lah khazanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu" Macam-macam Takdir 1.

Takdir Muallaq Takdir muallaq masih bisa berubah jika manusia berusaha mengubahnya. Misalnya seseorang yang miskin bisa menjadi kaya, ingin pintar, dan lain sebagainya. Semua itu harus melewati proses usaha yang keras untuk mencapai semuanya. Allah SWT dalam Al Qur'an Surah Ar-Ra'd Ayat 11 berfirman: إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ Arab-Latin: Innallāha lā yugayyiru mā biqaumin ḥattā yugayyirụ mā bi`anfusihim, wa iżā arādallāhu biqaumin sū`an fa lā maradda lah, wa mā lahum min dụnihī miw wāl Artinya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. Takdir Mubram Takdir Mubram adalah takdir yang tidak bisa diubah oleh manusia meskipun ikhtiar dan tawakal kepada Allah.

Contohnya seperti kematian dan jodoh, semua itu sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-A'raf ayat 34 وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ Arab-Latin: Wa likulli ummatin ajal, fa iżā jā`a ajaluhum lā yasta`khirụna sā'ataw wa lā yastaqdimụn Artinya: "Dan tiap-tiap umat memiliki, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat pula melanjutkannya." Hikmah Iman Kepada Qada dan Qadar · Selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT, sebab percaya bahwa takdir Allah merupakan ketetapan yang terbaik bagi seluruh makhluk-Nya.

· Selalu rendah hati bahwa segala sesuatu yang terjadi itu semua berkat kehendak Allah. · Selalu berjiwa optimis dan tidak putus asa saat merasakan kegagalan. Mungkin Allah akan menggantinya dengan cara lain yang lebih baik.

· Membiasakan diri untuk bersikap sabar dan tawakal kepada Allah SWT. · Jiwa lebih tenang.Berita Terkait • Bedakan !Antara Taqlid dan Ittiba’ • Buah Dari Sekulerisme : Saat Sholat berkiblat ke Ka’bah, Namun Mu’amalah & ‘Uqubat berkiblat ke Barat/Timur.

• Perhatikan Hal Ini, Sebelum Mengambil Ilmu dari Orang Lain • Umar Bin Khattab : Suatu Negeri akan Hancur Jika Para Penghianat Jadi Petinggi, dan Harta dikuasai Orang-orang Fasik • Kafir atau Non Muslim, Sebutan Quran untuk yang “Bukan” Muslim ?

(Tamat) Seandainya saat ini kita sedang duduk di kursi pengadilan, berhadapan dengan seorang hakim yang sedang mengadili kita atas kesalahan yang telah kita lakukan sebelumnya, disertai saksi yang siap menjawab pertanyaan-pertanyaan, maka mungkin kita pun akan bisa membayangkan betapa menyesal dan malunya kita saat itu. Atau, mungkin saja ada di antara kita yang justru merasa seperti tak bersalah sama sekali, hingga bahkan tanpa ragu untuk berbohong ataupun sampai membayar saksi untuk ikut berbohong juga, hanya demi sebuah keselamatan yang sementara.

Tapi memang demikianlah kenyataan pengadilan manusia di dunia ini, di mana kita bisa berbohong untuk menghindari hukuman, dan bahkan sang hakim sendiri pun juga terkadang bisa salah dalam memberikan keputusannya meskipun kita telah berusaha untuk mengatakan kebenaran. Namun, kelak di dalam pengadilan yang sesungguhnya pada hari yang sangat berat dan panjang, ketika Sang Maha Hakim justru sekaligus menjadi Saksi, yang mana telah menyaksikan sendiri segala perbuatan kita selama di dunia, maka ketika itulah kita tak mungkin bisa menghindar.

Kita tentu tidak mungkin menutup-nutupi sesuatu dari Saksi yang justru telah melihat sendiri tingkah laku kita. Saat itu tiada lagi yang akan bisa kita sembunyikan. Dan ketika itu, amal kebaikan orang-orang yang ingkar dan enggan beriman akan diperlihatkan tanpa pahala apapun, melainkan telah cukup bagi mereka pahala di dunia saja, dan sisanya adalah pertanggungjawaban atas keingkaran dan amal kejahatan mereka.

Sedangkan orang-orang yang beriman, akan ada yang amal baiknya diterima dan ada yang tidak, ada yang amal buruknya diampuni dan ada yang dibalas dengan hukuman. Dan semua itu akan menyesuaikan dengan amal perbuatan dan niat masing-masing selama di dunia ini. Sang Maha Hakim akan mengadili dengan sangat tepat, tanpa meleset sedikitpun meski hanya setitik maksiat di dalam hati kita. Pada hari yang berat tersebut, semua dari kita akan dikumpulkan setelah dibangkitkan dari kematian, lalu masing-masing dipanggil untuk diberi sebuah kitab catatan yang menceritakan dengan sangat terperinci segala amal perbuatannya selama di dunia ini.

Semuanya akan diperlihatkan dengan sangat jelas di dalam kitab catatan tersebut. Di dalam al-Qur’an disebutkan ayat-ayat tentang itu semua, di antaranya adalah yang artinya berikut ini: “Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan (singkirkan secara perlahan) gunung-gunung dan kamu akan melihat allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun itu menjadi datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak Kami tinggalkan satu orang pun dari mereka.” (Al-Kahfi: 47) “Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris, (dan dikatakan:) sesungguhnya kalian datang kepada Kami sebagaimana Kami menciptakan kalian pada kali yang pertama; bahkan kalian mengatakan bahwa Kami sekali-kali tidak akan menetapkan bagi kalian waktu (untuk memenuhi) perjanjian.” (Al-Kahfi: 48) “Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis di dalamnya).

Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun.” (Al-Kahfi: 49) Juga dalam surat lainnya yang artinya berikut ini: “Katakanlah: ‘Allah-lah yang menghidupkan kalian kemudian mematikan kaliansetelah itu mengumpulkan kalian pada hari kiamat yang tiada keraguan padanya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.’” (Al-Jaatsiyah: 26) “Dan hanya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dan pada hari terjadinya kebangkitan, akan me rugilah pada hari itu orang-orang yang mengerjakan kebatilan.” (Al-Jaatsiyah: 27) “Dan (pada hari itu) kamu melihat tiap-tiap ummat berlutut.

Tiap-tiap ummat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. (Lalu dikatakan:) ‘Pada hari allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun kalian diberi balasan terhadap apa yang telah kalian kerjakan (sebelumnya).’” (Al-Jaatsiyah: 28) “(Allah berfirman): ‘ Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan tentang kalian dengan benar.

Sesungguhnya Kami telah memerintahkan pencatatan atas apa yang telah kalian kerjakan.’” (Al-Jaatsiyah: 29) Dan juga yang artinya berikut ini: “Apabila bumi diguncangkan dengan guncangannya (yang dahsyat); dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya; dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (jadi begini)?”; pada hari itu bumi menceritakan beritanya; bahwa sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya; Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya (bangkit dari kematiannya) dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka amal perbuatan mereka; Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihatnya; Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihatnya pula.” (Al-Zalzalah: 1-8) Dan di sana masih banyak lagi ayat-ayat serupa yang menggambarkan tentang hari yang sangat berat tersebut.

Dan ketika itulah penyesalan yang mendalam akan dialami oleh orang-orang kafir non-Muslim dan orang-orang yang tak pernah mempedulikan urusan kehidupan setelah mati tersebut, di mana amal kebaikan yang telah diusahakannya selama di dunia ternyata tidak membuahkan pahala apapun di akhirat, dan mereka bahkan sangat berharap untuk menjadi debu atau tanah yang tak perlu merasakan nikmat apapun selama di dunia.

Allah SWT berfirman di dalam al-Qur’an yang artinya: “Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu (ternyata) dia tidak mendapati sesuatu apa pun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (An-Nuur: 39) “Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan; Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?” (Huud: 15-16) “Dan Kami hadapi segala amal (kebaikan) yang mereka (orang-orang kafir) kerjakan (selama di dunia), lalu Kami jadikan amal tersebut (bagaikan) debu yang beterbangan.” (Al-Furqaan: 23) “Itulah hari yang pasti terjadi.

Maka barang siapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya; Sesungguhnya Kami allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: ‘Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.’” (An-Nabaa’: 39-40) Demikianlah Allah SWT memberitakan tentang kehidupan yang nyata setelah mati.

Kesengsaraan yang kita alami di dunia ini ternyata tak akan berarti apa-apa jika dibandingkan dengan kesengsaraan di akhirat kelak. Kebahagiaan pun juga demikian; semuanya tak akan bertahan lama dan pasti akan berakhir.

Ketika kita telah dibangkitkan dari kematian kelak, maka seakan-akan waktu hidup kita selama di dunia ini hanyalah seperti waktu sore atau pagi hari saja. Dan apalah artinya sebuah waktu sore ataupun pagi yang hanya tak sampai sehari penuh atau hanya beberapa jam saja dibandingkan dengan ribuan tahun umur dunia dari awal diciptakannya hingga tiba hari kiamat nanti.

Tentu akan terbayang betapa pendek dan tak berartinya dunia ini. Dan demikianlah mungkin kurang lebih perumpamaan masa hidup di dunia dibandingkan dengan masa hidup di akhirat kelak. Allah SWT berfirman di dalam al-Qur’an yang artinya: “Pada hari mereka melihat hari kebangkitan itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar) di waktu sore atau pagi hari (saja).” (An-Naazi’aat: 46) Dan pada dasarnya, menumbuhkan rasa takut dan cemas terhadap hari yang sangat berat tersebut bukan dimaksudkan agar kita meninggalkan segala urusan duniawi, melainkan justru agar kita lebih berhati-hati dalam segala urusan tersebut dan agar justru semakin giat mengejar amal kebaikan demi akibat yang lebih kekal nantinya.

Mengenal hari yang besar tersebut tidak harus menjadikan kita menghina dan mencela dunia, karena sebenarnya dunia ini pun baru akan menjadi hina dan tercela jika memang hanya digunakan untuk bersenang-senang belaka atau bahkan untuk menanam keburukan dan kejahatan. Dan dia justru akan menjadi ladang yang baik jika memang ditanami kebaikan yang didasari iman dan rasa takut kepada Allah SWT, insyaa’Allaah. Dan dengan pemahaman yang demikian itu, maka kita pun akan dapat semakin bersemangat dalam menjalankan peran masing-masing.

Apapun peran kita, selama bukan untuk maksiat, melanggar syari’at, ataupun berbuat kerusakan di muka bumi ini, insyaa’Allaah allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun yang salah ataupun perlu dipermasalahkan. Bahkan, kita justru dilarang meninggalkan beragam peran yang saling melengkapi tersebut.

Kita sebagai ummat Islam diharuskan menerapkan nilai-nilai Islam dalam setiap lini kehidupan, sesuai kemampuan dan keterbatasan masing-masing. Mengenal kehidupan setelah mati bukan justru agar kita meninggalkan ilmu-ilmu duniawi, seperti ilmu fisika, kimia, biologi, geografi, dan semacamnya, melainkan justru agar kita lebih meningkatkan ilmu-ilmu tersebut dan mengarahkannya sesuai rambu-rambu Islam, agar iman kita justru semakin bertambah dengan mendalami ayat-ayat Allah SWT yang tersebar di alam semesta ini.

Mengenal kedahsyatan akhirat tidak harus berarti memisahkan antara perkara agama (Islam) dengan perkara dunia, hingga seakan-akan yang allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun sebut agama (Islam) itu pasti harus menjauh dari dunia. Padahal, justru agama (Islam) itulah yang diturunkan oleh Allah SWT untuk mengatur urusan dunia, demi keselamatan manusia di akhirat kelak.

Selama ini kita cenderung meyakini bahwa ummat Islam haruslah dipisahkan dari perkembangan sarana dunia seperti teknologi, media, ataupun kemajuan-kemajuan lainnya, yang mungkin itu semua adalah karena kita menyetujui istilah-istilah yang diciptakan oleh musuh-musuh Islam sendiri, seperti istilah pembedaan antara Islam dan Barat misalnya, yang mana dengan menerima istilah tersebut sebagai kenyataan, maka kita pun akan lantas menjaga jarak dan bahkan menjauhi Barat yang konon adalah tempat bagi para penguasa dunia.

Padahal, Timur ataupun Barat, semuanya hanyalah milik Allah SWT, dan bukan milik non-Muslim. Kita mungkin sering ketakutan sendiri dengan istilah ‘Islam versus Barat’ yang dibuat-buat oleh mereka, padahal bisa jadi itu akan justru membatasi jangkauan dakwah agama Islam itu sendiri, dan padahal istilah yang benar adalah ‘Islam versus kekafiran’, dan bukan ‘Islam versus Barat’ tersebut.

Kita justru seharusnya mendekati Barat agar dapat menyerukan Islam di sana, karena Barat adalah bumi Allah SWT juga. Kita tentu juga akan justru bergembira ketika semakin banyak ummat manusia di Barat yang turut bergabung dengan kita dalam agama yang lurus ini, agar kerusakan-kerusakan aqidah dan syari’at yang telah diperbuat oleh non-Muslim di sana dapat diluruskan. Adapun penyerupaan yang tidak diperbolehkan dalam Islam, maka itu adalah penyerupaan dengan sikap orang-orang kafir, bukan dengan Barat.

Karena di Barat maupun di Timur, pasti ada orang-orang yang ingkar dan kafir. Di Barat juga ada orang-orang yang beriman, sebagaimana di Timur juga ada orang-orang yang kafir. Jadi, Islam tidak seharusnya dipisah-pisah berdasarkan arah, tempat, ataupun ruang, melainkan yang menjadi pemisah adalah keimanan dan keingkaran.

Bumi ini dan segala arahnya hanyalah milik Allah SWT. Teknologi memang lebih banyak berkembang di Barat, namun teknologi bukan hanya milik orang-orang di Barat, melainkan dia adalah anugerah dari Allah SWT yang diperuntukkan bagi ummat manusia, yang seharusnya juga dikuasai oleh sebagian ummat Islam agar dapat dipergunakan ke arah yang lebih sesuai dengan aturan Islam.

Media pun juga demikian, jika orang kafir Yahudi menyerang kita dengan media, maka tentu kita pun harus menggunakan media juga untuk melawan mereka. Islam tidak pernah melarang perkara-perkara dunia yang baik, melainkan yang dilarang adalah membesar-besarkan perkara dunia tersebut hingga kita mengecilkan perkara akhirat yang sebenarnya lebih besar dan lebih berat.

Karena itulah, allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun sana memang harus ada yang sibuk mengembangkan perkara dunia, namun harus ada pula yang tetap fokus dengan urusan agama Islam ini, hingga detil-detilnya. Semuanya saling melengkapi dan mendukung.

Dan jika mengembangkan perkara dunia adalah ibarat perang, maka akan tidak semestinya semua orang-orang yang beriman ikut serta dalam peperangan tersebut. Seharusnyalah ada sebagian mereka yang menempuh perjuangan dalam bentuk yang lain berupa belajar agama.

Golongan inilah yang akan mempelajari agama secara detil, hingga bahkan masalah ibadah ritual yang tampak sederhana sekalipun, seperti mengalirkan air ke dalam hidung ketika berwudhu, dan seterusnya, karena jika tiada yang mengurusi hal-hal yang seperti itu, mungkin kita juga tidak akan pernah tahu seperti apakah sifat shalat Rasulullah SAW, yang mana tentunya tidak mungkin kita karang sesuka hati.

Bahkan dalam hal mempelajari agama pun akan harus ada juga pembagian tugas-tugas; ada yang harus menguasai ilmu warisan dalam Islam, ilmu Tafsir, ilmu Hadits, ilmu bahasa Arab, Fiqih dan seterusnya, di mana semuanya akan saling melengkapi. Dan kita yang hanya mengerti dasar-dasar agama pun akan bisa merujuk kepada para ahlinya untuk permasalahan yang lebih detil.

Semuanya akan saling menopang dan membantu. Intinya adalah agar kita semua tidak lupa dan melupakan tujuan hidup yang sejati, yang bukan selalu tentang pembangunan duniawi dalam bentuk fisik, melainkan justru lebih cenderung tentang pembangunan ruhani yang niscaya akan juga dengan sendirinya memperbaiki sisi fisik manusia. Karena setelah dunia ini akan masih ada hari berat yang panjang dan melelahkan, yang penuh dengan keluhan dan penyesalan yang tak berujung.

allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun

Maka sangat merugilah kita jika sampai meremehkan hari yang berat tersebut. Allah SWT menegaskan di dalam al-Qur’an yang artinya: “Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama (Islam) dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (At-Taubah: 122) “Sesungguhnya mereka menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat).” (Al-Insaan: 27) Dan dari semua itu, kita pun akan dapat lebih berhati-hati dalam berbuat sesuatu.

Kita akan berusaha menghindari perbuatan buruk dan akan lebih bersemangat dalam mengejar kebaikan untuk akhirat. Kita akan menjadi semakin yakin bahwa dunia ini adalah tempat menanam yang hasil panennya akan menyesuaikan dengan apa yang kita tanam. Maka betapa banyaknya keburukan amal yang telah kita tanam di sini.

Betapa banyaknya kekurangan diri kita yang tak diketahui oleh orang lain. Kita memang saat ini hanya diharuskan menyembunyikan aib masing-masing dari sesamanya. Tapi kelak pada hari yang berat tersebut, tiada lagi yang bisa disembunyikan dan ditutup-tutupi kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah SWT.

Pada hari itu, ketika catatan amal perbuatan ditampakkan, kita tak akan sempat mengingat orang-orang yang pernah menyakiti kita di dunia. Rakyat yang teraniaya tak akan sempat meneliti kabar para pemimpin yang menganiaya mereka. Bahkan, jika saja dengan memaafkan orang yang menyiksa dan menganiaya kita, kita lantas bisa selamat sepenuhnya ketika itu, niscaya detik ini pun kita akan lebih memilih untuk memaafkan, karena keselamatan di kampung abadi tersebut sangatlah mahal dibandingkan dengan kenikmatan semacam apapun di dunia ini.

Semuanya akan sibuk memikirkan keselamatan masing-masing. Semuanya sibuk dengan catatan amal perbuatannya. Kita tak lagi sempat allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun menggunjing, melainkan justru menyesali gunjingan-gunjingan yang telah kita lakukan.

Kita juga tak akan sempat berprasangka buruk kepada orang lain, melainkan segala prasangka buruk yang telah menjadi tuduhan akan dimintai pertanggungjawaban bukti yang justru akan menjadi beban yang sangat disesali. Semua berita yang telah kita sebarkan tanpa kebenaran akan justru menjadi bumerang yang mempersulit diri kita sendiri. Segala ucapan yang bermuatan kata-kata mengganggu akan justru menjadi gangguan bagi diri kita sendiri.

Ketika kita pernah menuduh saudara-saudara seiman kita sebagai orang-orang yang kafir, seperti menyamakannya dengan orang-orang Kristen, Yahudi, bahkan Dajjal ataupun iblis, padahal tidak demikian kenyataannya, maka ketika itulah tuduhan kita tersebut akan menjadi masalah besar bagi diri kita sendiri.

Memang, di dunia ini kita tampak lebih cenderung sibuk dengan kesalahan-kesalahan orang lain, bahkan menikmati kesibukan semacam itu hingga melupakan kesalahan-kesalahan kita sendiri. Padahal, jika saja setiap orang dari kita bersedia untuk melihat ke dalam hati, lalu menghitung setiap titik debu yang hinggap di situ, pasti kita pun akan tak sempat untuk mencari-cari kesalahan orang lain, karena menghitung debu yang menempel di hati kita sendiri saja juga tak akan ada habisnya.

Ini bukan berarti kita harus menghentikan kegiatan saling mengingatkan kesalahan sesama, karena tentu saling menasehati itu sangat diharuskan, namun tentu antara memberi nasehat dengan meneliti aib itu pasti akan berbeda. Yang pertama akan dilandasi dengan semangat memperbaiki, sedangkan yang kedua akan dilandasi semangat negatif yang bahkan bisa jadi tak akan ada ujungnya kecuali hanya kepuasan hati yang manfaatnya sangat sementara dan fana.

Nasehat akan dapat membantu mereka yang telah bersalah untuk dapat berbuat baik dan benar, sedangkan meneliti aib biasanya dimaksudkan untuk menghalang-halangi mereka dari memperoleh kebaikan, didasari oleh perasaan negatif kita. Dan hati kita sendiri pun pasti akan bisa membedakan sendiri mana yang nasehat dan mana yang bukan. Cukuplah Allah SWT sebagai saksi atas segala perbuatan kita selama ini. Dialah pihak ketiga ketika kita hanya berdua, Dialah yang kedua allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun kita hanya sendirian.

Dialah yang tak pernah salah dalam menilai. Allah SWT berfirman di dalam al-Qur’an yang artinya: “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada.

Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Mujaadilah: 7) “Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka.” (An-Nisaa’: 108) “Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang gaib?” (At-Taubah: 78) “Katakanlah: ‘Jika kalian menyembunyikan apa yang ada di dalam dada (hati) kalian atau kalian menampakkannya, pasti Allah mengetahui.

Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.’” (Aali ‘Imraan: 29) Semoga Allah SWT senantiasa menganugerahi kita ingatan akan kedekatan dan kebersamaan-Nya dengan kita, bahwa Dia senantiasa menyaksikan kita. Dan semoga Dia mengampuni kita atas segala kesalahan yang tidak kita sadari dan tidak kita maksudkan.

Kita memang terkadang tidak bermaksud berbuat salah dalam suatu sikap dan tindakan, dan tidak juga bermaksud mendzalimi orang lain, namun memang cara menilai manusia itu pasti akan beragam sesuai sudut pandang masing-masing, hingga yang telah kita usahakan benar pun bisa saja tetap salah dalam pandangan orang lain, allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun bahkan tiada yang pernah benar sama sekali, hanya karena tertutup sebagian kesalahan kita yang lainnya.

Dan itulah keridhaan seluruh manusia yang selamanya akan mustahil dapat berkumpul di satu titik. Maka dari itu, cukuplah Allah SWT sebagai Saksi yang tak pernah salah dalam menghukumi. Apapun amal perbuatan yang kita lakukan, setidaknya kita tidak sampai mendasarinya dengan niat berbuat kerusakan di muka bumi ini. Perkara apakah amal tersebut akan diterima ataukah tertolak, maka itu bukanlah wewenang kita. Kita serahkan saja semuanya kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman di dalam al-Qur’an yang artinya: “Katakanlah: ‘ Siapakah yang paling kuat persaksiannya?’ Katakanlah: ‘ Allah, (Dialah) Saksi antara aku dan kalian.’” (Al-An’aam: 19) “Katakanlah: ‘ Cukuplah Allah menjadi Saksi antara aku dan kalian.

Dia mengetahui apa yang di langit dan di bumi.’” (Al-‘Ankabuut: 52) Dan akhirnya, kita pun sama-sama bukan Tuhan yang mengetahui isi hati orang lain ataupun nasib masa depan mereka. Kita bahkan juga tidak pernah tahu akhir hidup kita sendiri. Maka sepantasnyalah kita tak perlu terlalu berlebihan meresahkan kesalahan orang lain, semenjak kita sendiri pun juga tak pernah terlalu berlebihan meresahkan kesalahan kita sendiri. Kita hanya diperintahkan untuk menyeru sesama manusia untuk kembali kepada kebaikan dan kebenaran dengan nasehat dan cara yang benar, sesuai al-Qur’an dan as-Sunnah, menurut kesanggupan dan keterbatasan masing-masing.

Dan tentu kita pun tak ada yang berniat untuk terjerumus ke dalam siksa neraka. Maka dari itu, semoga Allah SWT yang merupakan Saksi Nyata kehidupan kita, senantiasa menunjuki kita hidayah-Nya serta mengampuni segala kesalahan kita, terutama kesalahan yang tidak kita sadari dan tidak kita maksudkan.

Dan hanya dari dan milik Allah SWT sajalah segala kebenaran, hidayah dan taufiq. Wallaahu a’lam. Ibnu Anwar
1 Korintus 2:10 Konteks TB (1974) © SABDAweb 1Kor 2:10 Karena kepada kita Allah telah menyatakannya c oleh Roh, d sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah.

AYT (2018) Namun, Allah telah menyatakan hal-hal ini kepada kita melalui Roh karena Roh menyelidiki semua hal, bahkan kedalaman Allah. TL (1954) © SABDAweb 1Kor 2:10 Tetapi kepada kita Allah sudah menyatakan itu dengan Roh-Nya, karena Roh itulah menyelidik segala sesuatu, walaupun perkara Allah yang dalam-dalam.

BIS (1985) © SABDAweb 1Kor 2:10 Tetapi Allah sudah menyatakannya kepada kita dengan perantaraan Roh-Nya. Roh Allah itu menyelidiki segala sesuatu, sampai kepada rencana-rencana Allah yang paling tersembunyi sekalipun. TSI (2014) Tetapi sekarang Allah sudah menunjukkan hal-hal itu kepada kita melalui Roh-Nya! Karena Roh Kudus itu mengetahui segala sesuatu— bahkan rahasia Allah yang tersembunyi sekalipun. TSI3 (2014) Tetapi sekarang Allah sudah menunjukkan hal-hal itu kepada kita melalui Roh-Nya!

Karena Roh Kudus mengetahui segala sesuatu, bahkan rahasia Allah yang tersembunyi sekalipun. MILT (2008) Namun Allah Elohim 2316 menyingkapkan kepada kita melalui Roh-Nya, karena Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan kedalaman Allah Elohim 2316.

Shellabear 2011 (2011) Allah telah menyatakan hikmah-Nya kepada kita melalui Ruh-Nya, karena Ruh itu menyelidiki segala sesuatu, bahkan rahasia Allah yang terdalam sekalipun. AVB (2015) Akan tetapi kepada kita, Allah menyatakannya melalui Roh-Nya, kerana Roh itu yang menyoroti segala-galanya, termasuk rahsia Allah yang paling dalam.
Ini bukti Al-Quran bukan buatan Muhammad saw. Pertama harus dipahami dahulu bahwa Nabi Muhammad di utus pada abad ke 6 Masehi, jaman ini belum ada teleskop, mikroskop, dan peralatan canggih lainnya.

1. PEMISAHAN LANGIT DAN BUMI Satu ayat lagi tentang penciptaan langit adalah sebagaimana berikut: “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup.

Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (Al Qur’an, 21:30) Kata “ratq” yang di sini diterjemahkan sebagai “suatu yang padu” digunakan untuk merujuk pada dua zat berbeda yang membentuk suatu kesatuan.

Ungkapan “Kami pisahkan antara keduanya” adalah terjemahan kata Arab “fataqa”, dan bermakna bahwa sesuatu muncul menjadi ada melalui peristiwa pemisahan atau pemecahan struktur dari “ratq”. Perkecambahan biji dan munculnya tunas dari dalam tanah adalah salah satu peristiwa yang diungkapkan dengan menggunakan kata ini.

Marilah kita kaji ayat ini kembali berdasarkan pengetahuan ini. Dalam ayat tersebut, langit dan bumi adalah subyek dari kata sifat “fatq”. Keduanya lalu terpisah (“fataqa”) satu sama lain. Menariknya, ketika mengingat kembali tahap-tahap awal peristiwa Big Bang, kita pahami bahwa satu titik tunggal berisi seluruh materi di alam semesta.

Dengan kata lain, segala sesuatu, termasuk “langit dan bumi” yang saat itu belumlah diciptakan, juga terkandung dalam titik tunggal yang masih berada pada keadaan “ratq” ini. Titik tunggal ini meledak sangat dahsyat, sehingga menyebabkan materi-materi yang dikandungnya untuk “fataqa” (terpisah), dan dalam rangkaian peristiwa tersebut, bangunan dan tatanan keseluruhan alam semesta terbentuk.

Ketika kita bandingkan penjelasan ayat tersebut dengan berbagai penemuan ilmiah, akan kita pahami bahwa keduanya benar-benar bersesuaian satu sama lain.

allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun

Yang sungguh menarik lagi, penemuan-penemuan ini belumlah terjadi sebelum abad ke-20. 2.

allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun

MENGEMBANGNYA ALAM SEMESTA Dalam Al Qur’an, yang diturunkan 14 abad silam di saat ilmu astronomi masih terbelakang, mengembangnya alam semesta digambarkan sebagaimana berikut ini: “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (Al Qur’an, 51:47) Kata “langit”, sebagaimana dinyatakan dalam ayat ini, digunakan di banyak tempat dalam Al Qur’an dengan makna luar angkasa dan alam semesta.

Di sini sekali lagi, kata tersebut digunakan dengan arti ini. Dengan allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun lain, dalam Al Qur’an dikatakan bahwa alam semesta “mengalami perluasan atau mengembang”. Dan inilah yang kesimpulan yang dicapai ilmu pengetahuan masa kini. Hingga awal abad ke-20, satu-satunya pandangan yang umumnya diyakini di dunia ilmu pengetahuan adalah bahwa alam semesta bersifat tetap dan telah ada sejak dahulu kala tanpa permulaan.

Namun, penelitian, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan teknologi modern, mengungkapkan bahwa alam semesta sesungguhnya memiliki permulaan, dan ia terus-menerus “mengembang”. Pada awal abad ke-20, fisikawan Rusia, Alexander Friedmann, dan ahli kosmologi Belgia, George Lemaitre, secara teoritis menghitung dan menemukan bahwa alam semesta senantiasa bergerak dan mengembang. Fakta ini dibuktikan juga dengan menggunakan data pengamatan pada tahun 1929.

Ketika mengamati langit dengan teleskop, Edwin Hubble, seorang astronom Amerika, menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi terus bergerak saling menjauhi. Sebuah alam semesta, di mana segala sesuatunya terus bergerak menjauhi satu sama lain, berarti bahwa alam semesta tersebut terus-menerus “mengembang”. Pengamatan yang dilakukan di tahun-tahun berikutnya memperkokoh fakta bahwa alam semesta terus mengembang. Kenyataan ini diterangkan dalam Al Qur’an pada saat tak seorang pun mengetahuinya.

Ini dikarenakan Al Qur’an adalah firman Allah, Sang Pencipta, dan Pengatur keseluruhan alam semesta. 3. LANGIT YANG MENGEMBALIKAN Ayat ke-11 dari Surat Ath Thaariq dalam Al Qur’an, mengacu pada fungsi “mengembalikan” yang dimiliki langit.

“Demi langit yang mengandung hujan.” (Al Qur’an, 86:11) Kata yang ditafsirkan sebagai “mengandung hujan” dalam terjemahan Al Qur’an ini juga bermakna “mengirim kembali” atau “mengembalikan”. Sebagaimana diketahui, atmosfir yang melingkupi bumi terdiri dari sejumlah lapisan. Setiap lapisan memiliki peran penting bagi kehidupan.

Penelitian mengungkapkan bahwa lapisan-lapisan ini memiliki fungsi mengembalikan benda-benda atau sinar yang mereka terima ke ruang angkasa atau ke arah bawah, yakni ke bumi. Sekarang, marilah kita cermati sejumlah contoh fungsi “pengembalian” dari lapisan-lapisan yang mengelilingi bumi tersebut. Lapisan Troposfir, 13 hingga 15 km di atas permukaan bumi, memungkinkan uap air yang naik dari permukaan bumi menjadi terkumpul hingga jenuh dan turun kembali ke bumi sebagai hujan.

Lapisan ozon, pada ketinggian 25 km, memantulkan radiasi berbahaya dan sinar ultraviolet yang datang dari ruang angkasa dan mengembalikan keduanya ke ruang angkasa. Ionosfir, memantulkan kembali pancaran gelombang radio dari bumi ke berbagai belahan bumi lainnya, persis seperti satelit komunikasi pasif, sehingga memungkinkan komunikasi tanpa kabel, pemancaran siaran radio dan televisi pada jarak yang cukup jauh.

Lapisan magnet memantulkan kembali partikel-partikel radioaktif berbahaya yang dipancarkan Matahari dan bintang-bintang lainnya ke ruang angkasa sebelum sampai ke Bumi.

Sifat lapisan-lapisan langit yang hanya dapat ditemukan secara ilmiah di masa kini tersebut, telah dinyatakan berabad-abad lalu dalam Al Qur’an. Ini sekali lagi membuktikan bahwa Al Qur’an adalah firman Allah. 4. RAHASIA BESI Besi adalah salah satu unsur yang dinyatakan secara jelas dalam Al Qur’an. Dalam Surat Al Hadiid, yang allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun “besi”, kita diberitahu sebagai berikut: “…Dan Kami turunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia ….” (Al Qur’an, 57:25) Kata “anzalnaa” yang berarti “kami turunkan” khusus digunakan untuk besi dalam ayat ini, dapat diartikan secara kiasan untuk menjelaskan bahwa besi diciptakan untuk memberi manfaat bagi manusia.

Tapi ketika kita mempertimbangkan makna harfiah kata ini, yakni “secara bendawi diturunkan dari langit”, kita akan menyadari bahwa ayat ini memiliki keajaiban ilmiah yang sangat penting. Ini dikarenakan penemuan astronomi modern telah mengungkap bahwa logam besi yang ditemukan di bumi kita berasal dari bintang-bintang raksasa di angkasa luar. Logam berat di alam semesta dibuat dan dihasilkan dalam inti bintang-bintang raksasa.

Akan tetapi sistem tata surya kita tidak memiliki struktur yang cocok untuk menghasilkan besi secara mandiri. Besi hanya dapat dibuat dan dihasilkan dalam bintang-bintang yang jauh lebih besar dari matahari, yang suhunya mencapai beberapa ratus juta derajat. Ketika jumlah besi telah melampaui batas tertentu dalam sebuah bintang, bintang tersebut tidak mampu lagi menanggungnya, dan akhirnya meledak melalui peristiwa yang disebut “nova” atau “supernova”.

Akibat dari ledakan ini, meteor-meteor yang mengandung besi bertaburan di seluruh penjuru alam semesta dan mereka bergerak melalui ruang hampa hingga mengalami tarikan oleh gaya gravitasi benda angkasa.

Semua ini menunjukkan bahwa logam besi tidak terbentuk di bumi melainkan kiriman dari bintang-bintang yang meledak di ruang angkasa melalui meteor-meteor dan “diturunkan ke bumi”, persis seperti dinyatakan dalam ayat tersebut: Jelaslah bahwa fakta ini tidak dapat diketahui secara ilmiah pada abad ke-7 ketika Al Qur’an diturunkan.

5.LAPISAN-LAPISAN ATMOSFER Satu fakta tentang alam semesta sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an adalah bahwa langit terdiri atas tujuh lapis. “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al Qur’an, 2:29) “Kemudian Dia menuju langit, dan langit itu masih merupakan asap.

Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya.” (Al Qur’an, 41:11-12) Kata “langit”, yang kerap kali muncul di banyak ayat dalam Al Qur’an, digunakan untuk mengacu pada “langit” bumi dan juga keseluruhan alam semesta. Dengan makna kata seperti ini, terlihat bahwa langit bumi atau atmosfer terdiri dari tujuh lapisan.

Saat ini benar-benar diketahui bahwa atmosfir bumi terdiri atas lapisan-lapisan yang berbeda yang saling bertumpukan. Lebih dari itu, persis sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an, atmosfer terdiri atas tujuh lapisan. Dalam sumber ilmiah, hal tersebut diuraikan sebagai berikut: Para ilmuwan menemukan bahwa atmosfer terdiri diri beberapa lapisan. Lapisan-lapisan tersebut berbeda dalam ciri-ciri fisik, seperti tekanan dan jenis gasnya.

Lapisan atmosfer yang terdekat dengan bumi disebut TROPOSFER. Ia membentuk sekitar 90% dari keseluruhan massa atmosfer. Lapisan di atas troposfer disebut STRATOSFER.

LAPISAN OZON adalah bagian dari stratosfer di mana terjadi penyerapan sinar ultraviolet. Lapisan di atas stratosfer disebut MESOSFER. TERMOSFER berada di atas mesosfer. Gas-gas terionisasi membentuk suatu lapisan dalam termosfer yang disebut IONOSFER. Bagian terluar atmosfer bumi membentang dari sekitar 480 km hingga 960 km.

Bagian ini dinamakan EKSOSFER. (Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 319-322) Jika kita hitung jumlah lapisan yang dinyatakan dalam sumber ilmiah tersebut, kita ketahui bahwa atmosfer tepat terdiri atas tujuh lapis, seperti dinyatakan dalam ayat tersebut.

1. Troposfer 2. Stratosfer 3. Ozonosfer 4. Mesosfer 5. Termosfer 6. Ionosfer 7. Eksosfer Keajaiban penting lain dalam hal ini disebutkan dalam surat Fushshilat ayat ke-12, “… Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya.” Dengan kata lain, Allah dalam ayat ini menyatakan bahwa Dia memberikan kepada setiap langit tugas atau fungsinya masing-masing.

Sebagaimana dapat dipahami, tiap-tiap lapisan atmosfir ini memiliki fungsi penting yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia dan seluruh makhluk hidup lain di Bumi. Setiap lapisan memiliki fungsi khusus, dari pembentukan hujan hingga perlindungan terhadap radiasi sinar-sinar berbahaya; dari pemantulan gelombang radio hingga perlindungan terhadap dampak meteor yang berbahaya.

Salah satu fungsi ini, misalnya, dinyatakan dalam sebuah sumber ilmiah sebagaimana berikut: Atmosfir bumi memiliki 7 lapisan.

allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun

Lapisan terendah dinamakan troposfir. Hujan, salju, dan angin hanya terjadi pada troposfir. ( http://muttley.ucdavis.edu/Book/Atmosph … rs-01.html) Adalah sebuah keajaiban besar bahwa fakta-fakta ini, yang tak mungkin ditemukan tanpa teknologi canggih abad ke-20, secara jelas dinyatakan oleh Al Qur’an 1.400 tahun yang lalu. 6.FUNGSI GUNUNG Al Qur’an mengarahkan perhatian kita pada fungsi geologis penting dari gunung.

“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka…” (Al Qur’an, 21:31) Sebagaimana terlihat, dinyatakan dalam ayat tersebut bahwa gunung-gunung berfungsi mencegah goncangan di permukaan bumi. Kenyataan ini tidaklah diketahui oleh siapapun di masa ketika Al Qur’an diturunkan.

Nyatanya, hal ini baru saja terungkap sebagai hasil penemuan geologi modern. Menurut penemuan ini, gunung-gunung muncul sebagai hasil pergerakan dan tumbukan dari lempengan-lempengan raksasa yang membentuk kerak bumi. Ketika dua lempengan bertumbukan, lempengan yang lebih kuat menyelip di bawah lempengan yang satunya, sementara yang di atas melipat dan membentuk dataran tinggi dan gunung. Lapisan bawah bergerak di bawah permukaan dan membentuk perpanjangan yang dalam ke bawah.

Ini berarti gunung mempunyai bagian yang menghujam jauh ke bawah yang tak kalah besarnya dengan yang tampak di permukaan bumi. Dalam tulisan ilmiah, struktur gunung digambarkan sebagai berikut: Pada bagian benua yang lebih tebal, seperti pada jajaran pegunungan, kerak bumi akan terbenam lebih dalam ke dalam lapisan magma. (General Science, Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; Allyn and Bacon Inc.

Newton, Massachusetts, 1985, s. 305) Dalam sebuah ayat, peran gunung seperti ini diungkapkan melalui sebuah perumpamaan sebagai “pasak”: “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?” (Al Qur’an, 78:6-7) Dengan kata lain, gunung-gunung menggenggam lempengan-lempengan kerak bumi dengan memanjang ke atas dan ke bawah permukaan bumi pada titik-titik pertemuan lempengan-lempengan ini. Dengan cara ini, mereka memancangkan kerak bumi dan mencegahnya dari terombang-ambing di atas lapisan magma atau di antara lempengan-lempengannya.

Singkatnya, kita dapat menyamakan gunung dengan paku yang menjadikan lembaran-lembaran kayu tetap menyatu. Fungsi pemancangan dari gunung dijelaskan dalam tulisan ilmiah dengan istilah “isostasi”. Isostasi bermakna sebagai berikut: Isostasi: kesetimbangan dalam kerak bumi yang terjaga oleh aliran materi bebatuan di bawah permukaan akibat tekanan gravitasi.

(Webster’s New Twentieth Century Dictionary, 2. edition “Isostasy”, New York, s. 975) Peran penting gunung yang ditemukan oleh ilmu geologi modern dan penelitian gempa, telah dinyatakan dalam Al Qur’an berabad-abad lampau sebagai suatu bukti Hikmah Maha Agung dalam ciptaan Allah. “Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka…” (Al Qur’an, 21:31) 7.ANGIN YANG MENGAWINKAN Dalam sebuah ayat Al Qur’an disebutkan sifat angin yang mengawinkan dan terbentuknya hujan karenanya.

“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan dan Kami turunkan hujan dari langit lalu Kami beri minum kamu dengan air itu dan sekali kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” (Al Qur’an, 15:22) Dalam ayat ini ditekankan bahwa fase pertama dalam pembentukan hujan adalah angin.

Hingga awal abad ke 20, satu-satunya hubungan antara angin dan hujan yang diketahui hanyalah bahwa angin yang menggerakkan awan. Namun penemuan ilmu meteorologi modern telah menunjukkan peran “mengawinkan” dari angin dalam pembentukan hujan. Fungsi mengawinkan dari angin ini terjadi sebagaimana berikut: Di atas permukaan laut dan samudera, gelembung allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun yang tak terhitung jumlahnya terbentuk akibat pembentukan buih.

Pada saat gelembung-gelembung ini pecah, ribuan partikel kecil dengan diameter seperseratus milimeter, terlempar ke udara. Partikel-partikel ini, yang dikenal sebagai aerosol, bercampur dengan debu daratan yang terbawa oleh angin dan selanjutnya terbawa ke lapisan atas atmosfer. Partikel-partikel ini dibawa naik lebih tinggi ke atas oleh angin dan bertemu dengan uap air di sana. Uap air mengembun di sekitar partikel-partikel ini dan berubah menjadi butiran-butiran air.

Butiran-butiran air ini mula-mula berkumpul dan membentuk awan dan kemudian jatuh ke Bumi dalam bentuk hujan. Sebagaimana terlihat, angin “mengawinkan” uap air yang melayang di udara dengan partikel-partikel yang di bawanya dari laut dan akhirnya membantu pembentukan awan hujan.

Apabila angin tidak memiliki sifat ini, butiran-butiran air di atmosfer bagian atas tidak akan pernah allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun dan hujanpun tidak akan pernah terjadi. Hal terpenting di sini adalah bahwa peran utama dari angin dalam pembentukan hujan telah dinyatakan berabad-abad yang lalu dalam sebuah ayat Al Qur’an, pada saat orang hanya mengetahui sedikit saja tentang fenomena alam.

8.LAUTAN YANG TIDAK BERCAMPUR SATU SAMA LAIN Salah satu di antara sekian sifat lautan yang baru-baru ini ditemukan adalah berkaitan dengan ayat Al Qur’an sebagai berikut: “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tak dapat dilampaui oleh masing-masing.” (Al Qur’an, 55:19-20) Sifat lautan yang saling bertemu, akan tetapi tidak bercampur satu sama lain ini telah ditemukan oleh para ahli kelautan baru-baru ini. Dikarenakan gaya fisika yang dinamakan “tegangan permukaan”, air dari laut-laut yang saling bersebelahan tidak menyatu.

Akibat adanya perbedaan masa jenis, tegangan permukaan mencegah lautan dari bercampur satu sama lain, seolah terdapat dinding tipis yang memisahkan mereka. (Davis, Richard A., Jr. 1972, Principles of Oceanography, Don Mills, Ontario, Addison-Wesley Publishing, s. 92-93.) Sisi menarik dari hal ini adalah bahwa pada masa ketika manusia tidak memiliki pengetahuan apapun mengenai fisika, tegangan permukaan, ataupun ilmu kelautan, hal ini dinyatakan dalam Al Qur’an 9.KEGELAPAN DAN GELOMBANG DI DASAR LAUT “Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.” (Al Qur’an, 24:40) Keadaan umum tentang lautan yang dalam dijelaskan dalam buku berjudul Oceans: Kegelapan dalam lautan dan samudra yang allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun dijumpai pada kedalaman 200 meter atau lebih.

Pada kedalaman ini, hampir tidak dijumpai cahaya. Di bawah kedalaman 1000 meter, tidak terdapat cahaya sama sekali. (Elder, Danny; and John Pernetta, 1991, Oceans, London, Mitchell Beazley Publishers, s. 27) Kini, kita telah mengetahui tentang keadaan umum lautan tersebut, ciri-ciri makhluk hidup yang ada di dalamnya, kadar garamnya, serta jumlah air, luas permukaan dan kedalamannya. Kapal selam dan perangkat khusus yang dikembangkan menggunakan teknologi modern, memungkinkan para ilmuwan untuk mendapatkan informasi ini.

Manusia tak mampu menyelam pada kedalaman di bawah 40 meter tanpa bantuan peralatan khusus. Mereka tak mampu bertahan hidup di bagian samudra yang dalam nan gelap, seperti pada kedalaman 200 meter. Karena alasan inilah, para ilmuwan hanya baru-baru ini saja mampu menemukan informasi sangat rinci tersebut tentang kelautan.

Namun, pernyataan “gelap gulita di lautan yang dalam” digunakan dalam surat An Nuur 1400 tahun lalu. Ini sudah pasti salah satu keajaiban Al Qur’an, sebab infomasi ini dinyatakan di saat belum ada perangkat yang memungkinkan manusia untuk menyelam di kedalaman samudra.

Selain itu, pernyataan di ayat ke-40 surat An Nuur “Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan…” mengarahkan perhatian kita pada satu keajaiban Al Qur’an yang lain.

Para ilmuwan baru-baru ini menemukan keberadaan gelombang di dasar lautan, yang “terjadi pada pertemuan antara lapisan-lapisan air laut yang memiliki kerapatan atau massa jenis yang berbeda.” Gelombang yang dinamakan gelombang internal ini meliputi wilayah perairan di kedalaman lautan dan samudra dikarenakan pada kedalaman ini air laut memiliki massa jenis lebih tinggi dibanding lapisan air di atasnya.

Gelombang internal memiliki sifat seperti gelombang permukaan. Gelombang ini dapat pecah, persis sebagaimana gelombang permukaan. Gelombang internal tidak dapat dilihat oleh mata manusia, tapi keberadaannya dapat dikenali dengan mempelajari suhu atau perubahan kadar garam di tempat-tempat tertentu. (Gross, M. Grant; 1993, Oceanography, a View of Earth, 6. edition, Englewood Cliffs, Prentice-Hall Inc., s. 205) Pernyataan-pernyataan dalam Al Qur’an benar-benar bersesuaian dengan penjelasan di allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun.

Tanpa adanya penelitian, seseorang hanya mampu melihat gelombang di permukaan laut. Mustahil seseorang mampu mengamati keberadaan gelombang internal di dasar laut. Akan tetapi, dalam surat An Nuur, Allah mengarahkan perhatian kita pada jenis gelombang yang terdapat di kedalaman samudra.

Sungguh, fakta yang baru saja diketemukan para ilmuwan ini memperlihatkan sekali lagi bahwa Al Qur’an adalah kalam Allah. 10.KADAR HUJAN Fakta lain yang diberikan dalam Al Qur’an mengenai hujan adalah bahwa hujan diturunkan ke bumi dalam kadar tertentu. Hal ini disebutkan dalam Surat Az Zukhruf sebagai berikut; “Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).” (Al Qur’an, 43:11) Kadar dalam hujan ini pun sekali lagi telah ditemukan melalui penelitian modern.

Diperkirakan dalam satu detik, sekitar 16 juta ton air menguap dari bumi. Angka ini menghasilkan 513 trilyun ton air per tahun. Angka ini ternyata sama dengan jumlah hujan yang jatuh ke bumi dalam satu tahun.

Hal ini berarti air senantiasa berputar dalam suatu siklus yang seimbang menurut “ukuran atau kadar” tertentu. Kehidupan di bumi bergantung pada siklus air ini. Bahkan sekalipun manusia menggunakan semua teknologi yang ada di dunia ini, mereka tidak akan mampu membuat siklus seperti ini. Bahkan satu penyimpangan kecil saja dari jumlah ini akan segera mengakibatkan ketidakseimbangan ekologi yang mampu mengakhiri kehidupan di bumi. Namun, hal ini tidak pernah terjadi dan hujan senantiasa turun setiap tahun dalam jumlah yang benar-benar sama seperti dinyatakan dalam Al Qur’an.

11.PERGERAKAN GUNUNG Dalam sebuah ayat, kita diberitahu bahwa gunung-gunung tidaklah diam sebagaimana yang tampak, akan tetapi mereka terus-menerus bergerak. “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan.

(Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Qur’an, 27:88) Gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat. Pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.

Para ahli geologi memahami kebenaran pernyataan Wegener baru pada tahun 1980, yakni 50 tahun setelah kematiannya. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Wegener dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915, sekitar 500 juta tahun lalu seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea. Daratan ini terletak di kutub selatan.

Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia, kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.

Benua-benua yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada permukaan Bumi secara terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di Bumi.

Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Para ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagaimana berikut: Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan.

Terdapat enam lempengan utama, dan beberapa lempengan kecil. Menurut teori yang disebut lempeng tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya. Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun.

allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun

Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar. (Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 30) Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan.

(Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah “continental drift” atau “gerakan mengapung dari benua” untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13) Tidak dipertanyakan lagi, adalah salah satu kejaiban Al Qur’an bahwa fakta ilmiah ini, yang baru-baru saja ditemukan oleh para ilmuwan, telah dinyatakan dalam Al Qur’an.

12.PEMBUNGKUSAN TULANG OLEH OTOT Sisi penting lain tentang informasi yang disebutkan dalam ayat-ayat Al Qur’an adalah tahap-tahap pembentukan manusia dalam rahim ibu. Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa dalam rahim ibu, mulanya tulang-tulang terbentuk, dan selanjutnya terbentuklah otot yang membungkus tulang-tulang ini. “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging.

Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik” (Al Qur’an, 23:14) Embriologi adalah cabang ilmu yang mempelajari perkembangan embrio dalam rahim ibu. Hingga akhir-akhir ini, para ahli embriologi beranggapan bahwa tulang dan otot dalam embrio terbentuk secara bersamaan. Karenanya, sejak lama banyak orang yang menyatakan bahwa ayat ini bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Namun, penelitian canggih dengan mikroskop yang dilakukan dengan menggunakan perkembangan teknologi baru telah mengungkap bahwa pernyataan Al Qur’an adalah benar kata demi katanya.

Penelitian di tingkat mikroskopis ini menunjukkan bahwa perkembangan dalam rahim ibu terjadi dengan cara persis seperti yang digambarkan dalam ayat tersebut. Pertama, jaringan tulang rawan embrio mulai mengeras. Kemudian sel-sel otot yang terpilih dari jaringan di sekitar tulang-tulang bergabung dan membungkus tulang-tulang ini.

Peristiwa ini digambarkan dalam sebuah terbitan ilmiah dengan kalimat berikut: Dalam minggu ketujuh, rangka mulai tersebar ke seluruh tubuh dan tulang-tulang mencapai bentuknya yang kita kenal.Pada akhir minggu ketujuh dan selama minggu kedelapan, otot-otot menempati posisinya di sekeliling bentukan tulang.

(Moore, Developing Human, 6. edition,1998.) Singkatnya, tahap-tahap pembentukan manusia sebagaimana digambarkan dalam Al Qur’an, benar-benar sesuai dengan penemuan embriologi modern. 13.TIGA TAHAPAN BAYI DALAM RAHIM Dalam Al Qur’an dipaparkan bahwa manusia diciptakan melalui tiga tahapan dalam rahim ibunya. “… Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan.

Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?” (Al Qur’an, 39:6) Sebagaimana yang akan dipahami, dalam ayat ini ditunjukkan bahwa seorang manusia diciptakan dalam tubuh ibunya dalam tiga tahapan yang berbeda. Sungguh, biologi modern telah mengungkap bahwa pembentukan embrio pada bayi terjadi dalam tiga tempat yang berbeda dalam rahim ibu.

Sekarang, di semua buku pelajaran embriologi yang dipakai di berbagai fakultas kedokteran, hal ini dijadikan sebagai pengetahuan dasar. Misalnya, dalam buku Basic Human Embryology, sebuah buku referensi utama dalam bidang embriologi, fakta ini allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun sebagai berikut: “Kehidupan dalam rahim memiliki tiga tahapan: pre-embrionik; dua setengah minggu pertama, embrionik; sampai akhir minggu ke delapan, dan janin; dari minggu ke delapan sampai kelahiran.” (Williams P., Basic Human Embryology, 3.

edition, 1984, s. 64.) Fase-fase ini mengacu pada tahap-tahap yang berbeda dari perkembangan seorang bayi. Ringkasnya, ciri-ciri tahap perkembangan bayi dalam rahim adalah sebagaimana berikut: – Tahap Pre-embrionik Pada tahap pertama, zigot tumbuh membesar melalui pembelahan sel, dan terbentuklah segumpalan sel yang kemudian membenamkan diri pada dinding rahim. Seiring pertumbuhan zigot yang semakin membesar, sel-sel penyusunnya pun mengatur diri mereka sendiri guna membentuk tiga lapisan.

– Tahap Embrionik Tahap kedua ini berlangsung selama lima setengah minggu. Pada masa ini bayi disebut sebagai “embrio”. Pada tahap ini, organ dan sistem tubuh bayi mulai terbentuk dari lapisan- lapisan sel tersebut. – Tahap fetus Dimulai dari tahap ini dan seterusnya, bayi disebut sebagai “fetus”. Tahap ini dimulai sejak kehamilan bulan kedelapan dan berakhir hingga masa kelahiran.

Ciri khusus tahapan ini adalah terlihatnya fetus menyerupai manusia, dengan wajah, kedua tangan dan kakinya. Meskipun pada awalnya memiliki panjang 3 cm, kesemua organnya telah nampak. Tahap ini berlangsung selama kurang lebih 30 minggu, dan perkembangan berlanjut hingga minggu kelahiran. Informasi mengenai perkembangan yang terjadi dalam rahim ibu, baru didapatkan setelah serangkaian pengamatan dengan menggunakan peralatan modern.

Namun sebagaimana sejumlah fakta ilmiah lainnya, informasi-informasi ini disampaikan dalam ayat-ayat Al Qur’an dengan cara yang ajaib. Fakta bahwa informasi yang sedemikian rinci dan akurat diberikan dalam Al Qur’an pada saat orang memiliki sedikit sekali informasi di bidang kedokteran, merupakan bukti nyata bahwa Al Qur’an bukanlah ucapan manusia tetapi Firman Allah. 14.KEMENANGAN BIZANTIUM Penggalan berita lain yang disampaikan Al Qur’an tentang peristiwa masa depan ditemukan dalam ayat pertama Surat Ar Ruum, yang merujuk pada Kekaisaran Bizantium, wilayah timur Kekaisaran Romawi.

Dalam ayat-ayat ini, disebutkan bahwa Kekaisaran Bizantium telah mengalami kekalahan besar, tetapi akan segera memperoleh kemenangan. “Alif, Lam, Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang).” (Al Qur’an, 30:1-4) Ayat-ayat ini diturunkan kira-kira pada tahun 620 Masehi, hampir tujuh tahun setelah kekalahan hebat Bizantium Kristen di tangan bangsa Persia, ketika Bizantium kehilangan Yerusalem.

Kemudian diriwayatkan dalam ayat ini bahwa Bizantium dalam waktu dekat menang. Padahal, Bizantium waktu itu telah menderita kekalahan sedemikian hebat hingga nampaknya mustahil baginya untuk mempertahankan keberadaannya sekalipun, apalagi merebut kemenangan kembali.

Tidak hanya bangsa Persia, tapi juga bangsa Avar, Slavia, dan Lombard menjadi ancaman serius bagi Kekaisaran Bizantium. Bangsa Avar telah datang hingga mencapai dinding batas Konstantinopel. Kaisar Bizantium, Heraklius, telah memerintahkan agar emas dan perak yang ada di dalam gereja dilebur dan dijadikan uang untuk membiayai pasukan perang. Banyak gubernur memberontak melawan Kaisar Heraklius dan dan Kekaisaran tersebut berada pada titik keruntuhan.

Mesopotamia, Cilicia, Syria, Palestina, Mesir dan Armenia, yang semula dikuasai oleh Bizantium, diserbu oleh bangsa Persia. (Warren Treadgold, A History of the Byzantine State and Society, Stanford University Press, 1997, s. 287-299.) Pendek kata, setiap orang menyangka Kekaisaran Bizantium akan runtuh. Tetapi tepat di saat seperti itu, ayat pertama Surat Ar Ruum diturunkan dan mengumumkan bahwa Bizantium akan mendapatkan kemenangan dalam beberapa+tahun lagi.

Kemenangan ini tampak sedemikian mustahil sehingga kaum musyrikin Arab menjadikan ayat ini sebagai bahan cemoohan. Mereka berkeyakinan bahwa kemenangan yang diberitakan Al Qur’an takkan pernah menjadi kenyataan. Sekitar tujuh tahun setelah diturunkannya ayat pertama Surat Ar Ruum tersebut, pada Desember 627 Masehi, perang penentu antara Kekaisaran Bizantium dan Persia terjadi di Nineveh. Allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun kali ini, pasukan Bizantium secara mengejutkan mengalahkan pasukan Persia.

Beberapa bulan kemudian, bangsa Persia harus membuat perjanjian dengan Bizantium, yang mewajibkan mereka untuk mengembalikan wilayah yang mereka ambil dari Bizantium. (Warren Treadgold, A History of the Byzantine State and Society, Stanford University Press, 1997, s. 287-299.) Akhirnya, “kemenangan bangsa Romawi” yang diumumkan oleh Allah dalam Al Qur’an, secara ajaib menjadi kenyataan.

Keajaiban lain yang diungkapkan dalam ayat ini adalah pengumuman tentang fakta geografis yang tak dapat ditemukan oleh seorangpun di masa itu.

Dalam ayat ketiga Surat Ar Ruum, diberitakan bahwa Romawi telah dikalahkan di daerah paling rendah di bumi ini. Ungkapan “Adnal Ardli” dalam bahasa Arab, diartikan sebagai “tempat yang dekat” dalam banyak terjemahan.

Namun ini bukanlah makna harfiah dari kalimat tersebut, tetapi lebih berupa penafsiran atasnya. Kata “Adna” dalam bahasa Arab diambil dari kata “Dani”, yang berarti “rendah” dan “Ardl” yang berarti “bumi”. Karena itu, ungkapan “Adnal Ardli” berarti “tempat paling rendah di bumi”. Yang paling menarik, tahap-tahap penting dalam peperangan antara Kekaisaran Bizantium dan Persia, ketika Bizantium dikalahkan dan kehilangan Jerusalem, benar-benar terjadi di titik paling rendah di bumi.

Wilayah yang dimaksudkan ini adalah cekungan Laut Mati, yang terletak di titik pertemuan wilayah yang dimiliki oleh Syria, Palestina, dan Jordania. “Laut Mati”, terletak 395 meter di bawah permukaan laut, adalah daerah paling rendah di bumi. Ini berarti bahwa Bizantium dikalahkan di bagian paling rendah di bumi, persis seperti dikemukakan dalam ayat ini.

Hal paling menarik dalam fakta ini adalah bahwa ketinggian Laut Mati hanya mampu diukur dengan teknik pengukuran modern. Sebelumnya, mustahil bagi siapapun untuk mengetahui bahwasannya ini adalah wilayah terendah di permukaan bumi. Namun, dalam Al Qur’an, daerah ini dinyatakan sebagai titik paling rendah di atas bumi. Demikianlah, ini memberikan bukti lagi bahwa Al Qur’an adalah wahyu Ilahi. Kitab suci dari Yunani kuno dan kitab suci weda yg umurnya jauh lebih tua banyak memuat kebenaran dan sesuai dg ilmu modern.

Dalam Alquran dikatakan matahari mengitari bumi yg ternyata bumi yg mengitari matahari dan dalam weda dan kitab Yunani yg umurnya jauh lebih tua ternyata yg benar( bumi yg mengitari matahari) Iya anda benar, bahkan ada pula yang meyakini bahwa Aristoteles adalah salah satu nabi yg jumlahnya puluhan ribu itu.

Apa pula ulama tafsir yang membahas Agama Budha, yang mendapat pencerahan di pohon Budhi(pada bahasan Surat Tiin) Pohon Budhi itu ditafsirkan bahwa ia Pohon Tiin. Semoga membantu untuk menemukan KULA pada setiap kawula… Facebook Allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun Last Story • Fungsi dan perintah modifikasi tools Sketchup • Download ebook dan Kajian Tafsir Al-Mishbah 79.

Surah An-Nazi’aat • Download ebook dan Kajian Tafsir Al-Mishbah 80. Surah ‘Abasa • Download ebook Tafsir Al-Mishbah Surah An-Naba • Download MP3 Al-Qur’an – Murottal Mishary Rasyid Al-Afasy lengkap 30Juz • Allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun Al-Quran dan terjemahan MP3 lengkap 30Juz- Mishary Al-Ifasi • Download Murotal Al-Fatihah – Ya-sin – Al-Mulk allah mengetahui segala sesuatu termasuk yang titik-titik sekalipun Ar-Rohman – Al-Waqiah Yusuf Mansur mp3 • The ESQ WAY165 – Ary Ginanjar -> Penuntun Kehidupan • Kisah 25 Nabi dalam Al-Qur’an • Mengenal Sifat Wajib 20 Allah • 10 KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU AGAMA • 4 Hal yang Merusak Hati • Ilmu Tauhid • 10 Malaikat Wajib dan Tugasnya untuk diketahui • Bukti Ilmiah Tuhan itu Ada (Menguatkan Tauhid) • Download Ceramah Ustadz Yusuf Mansur • Sejarah Kaum Romawi dan Kaum Fir’aun di Al Quran yg terbukti Benar • 14 Fakta Pengetahuan Alam Bukti kebenaran Al-Qur’an • Puisi Renungan kalbu – Dungunya Jiwa Untuk Diingat • 10 Cara Kita Berhubungan baik dengan Semua Orang • Berbagai Penyebab Penyakit dan Penyembuhnya menurut Tafsir Al-Qur’an Asy-Syifa • Definisi tentang Khodam menurut Islam • Kata-Kalimat Motivasi hidup • Artikel tentang Tenis Meja (peraturan,trik, dsb) • 17 Kumpulan Berbagai Cerita Rakyat • Ceramah Sholat Jum’at Lengkap tentang Hari Kiamat • Ceramah Ustadz Wijayanto • Kehidupan Alam JIN (Jagad Lelembut) • Berbagai Penyebab Sakit Menurut Pandangan Islam (ustd.

Danu) • Membaca kepribadian dari tulisan tangan • Pandangan Umum dan Islam Mengenai Buku dan Film The Secret • Berbagai Contoh Surat Perjanjian Jual Beli • Berbagai contoh Surat Lamaran Kerja dan CV • Renungan Kalbu kita pada IBU • Kisah Inspirasi tentang Hubungan Kesalahan dan Maaf • Kisah Kalbu Mengenai Rencana Baik Allah yang Terselubung • Contoh (RKS) Rencana Kerja dan Syarat-syarat • Saluran televisi Indonesia UHF • Fakta Kebenaran Al-Quran dari Fase Terciptanya Manusia • Download Gambar Rumah Bestek CAD dwg + RAB • RukunTatacara dan Contoh Ceramah Sholat Jumat • Hikmah Pelajaran dari Kisah Laron Laron Terbang • Metode Praktis Menghafal Al-Qur’an • Rencana Kerja dan Syarat Perencanaan Bangunan • Kisah Kalbu dari Roman Kesetiaan percintaan • Kisah Penggobar Hati Persahabatan IP adress anda

Saat Teduh Bersama - BAHAGIA SEKALIPUN DITOLAK MANUSIA




2022 www.videocon.com