Alergi kolinergik

alergi kolinergik

Kabar mengejutkan datang dari salah satu anggota grup boyband fenomenal, V BTS. Pemilik nama asli Kim Taehyung tersebut dikabarkan menderita cholinergic urticaria.

Kim Taehyung alias V BTS mengaku menderita cholinergic urticaria Dilansir dari Soompi, V BTS mengaku menderita cholinergic urticaria. Hal itu diungkapkannya dalam aplikasi Weverse, sebuah komunitas online bagi BTS dan ARMY (fans BTS) dapat berkomunikasi bersama.

Awalnya, Kim Taehyung merespon sebuah unggahan salah satu penggemar di Weverse. Di dalam respon itulah ia mengakui menderita cholinergic urticaria atau urtikaria kolinergik, yakni munculnya ruam di kulit ketika suhu tubuh meningkat. Sumber: Soompi “Aku menderita alergi kolinergik. Aku gatal-gatal,” tulis pria kelahiran 1995 itu pada kolom komentar. Mengetahui hal itu, para alergi kolinergik BTS pun mengaku khawatir.

Mereka meminta V untuk tetap dapat beristirahat dan menjaga tubuhnya disela-sela aktivitasnya yang padat. Mereka juga ramai membagikan potongan video dan foto di media sosial.

Dimana V lebih sering berteduh ketika BTS melakukan geladi bersih di bawah terik matahari. alergi kolinergik ini alasannya dia gak suka panas-panasan? Cepat sembuh Kim Taehyung,” tulis salah satu penggemar.

“Pantes Taehyung suka pake baju longgar sama ga pake sepatu. Biar ga makin panas kan ya. Pasti ga nyaman banget. GWS Taehyung,” tulis penggemar yang lain.

Artikel terkait: Perjuangan bayi 9 bulan punya 50 jenis alergi yang mengancam nyawanya Mengenal lebih jauh penyakit urtikaria kolinergik yang dialami V BTS Cholinergic urticaria atau urtikaria kolinergik adalah ruam di kulit ketika suhu tubuh meningkat. Kata “cholinergic” mengacu pada bagian dari sistem saraf yang mengontrol kontraksi otot, pelebaran pembuluh darah, dan memperlambat detak jantung. Dalam kebanyakan kasus, kondisi ini dapat sembuh dengan sendirinya tanpa efek buruk.

Namun dalam beberapa kasus lainnya, kondisi ini dapat mempengaruhi kemampuan mereka untuk berolahraga. Urtikaria kolinergik cenderung terjadi dengan sangat cepat ketika seseorang mulai berkeringat dan menjadi sangat panas. Ruam dapat terjadi di mana saja pada tubuh seseorang tetapi lebih cenderung muncul pada badan dan lengan seseorang. Gejala Urtikaria Kolinergik Tanda dan gejala ruam alergi kolinergik kolinergik sangat khas, seperti: • Gatal atau kesemutan pada awal ruam • Sensasi terbakar atau gatal di area yang terkena ruam • Munculnya benjolan yang bisa semakin membesar Artikel terkait: Kulit gatal dan bentol karena alergi dingin?

Ini cara mengatasinya Meskipun sebagian besar urtikaria kolinergik tidak berbahaya tetapi beberapa orang mungkin akan memberikan alergi kolinergik yang lebih parah, seperti: • Sakit kepala • Diare • Mual • Kesulitan bernafas • Jantung berdebar • Kerap perut • Anafilaksis (reaksi alergi berat yang terjadi secara tiba-tiba dan dapat menyebabkan kematian) Urtikaria kolinergik dapat terjadi kapan saja saat seseorang berkeringat atau suhu tubuhnya meningkat.

Biasanya kondisi ini terjadi ketika alergi kolinergik • Berolahraga • Mandi air panas • Duduk di sauna • Berada di ruangan yang hangat • Terkena paparan cuaca panas • Demam • Marah alergi kolinergik kesal • Tertekan • Makan makanan pedas Para ilmuwan percaya bahwa situasi ini dapat meningkatkan suhu tubuh seseorang dan menyebabkan tubuh melepaskan histamin, yakni senyawa yang cenderung dilepaskan tubuh sebagai respons terhadap cedera.

Senyawa ini memicu beberapa orang untuk mengembangkan urtikaria kolinergik. Perawatan masalah kesehatan Urtikaria Kolinergik Pengobatan urtikaria kolinergik sangat bervariasi tergantung penyebabnya.

Namun umumnya, orang yang mengalami urtikaria kolinergik akan diminta untuk melakukan gaya hidup yang lebih sehat dan menghindari faktor alergi kolinergik. Misalnya seperti olahraga yang menyebabkan keringat berlebih atau panas.

Selain itu, beberapa spesialis merekomendasikan orang yang mengalami urtikaria kolinergik untuk mulai melakukan diet rendah histamin untuk membantu urtikaria kronis.

Histamin adalah bahan kimia yang terlibat dalam respons alergi tubuh. Biasanya mereka akan diminta untuk mengurangi dan menghindari makanan yang bisa memicu alergi seperti: • Makanan asin • Ikan dan kerang • Kacang • Cuka • Susu • Alkohol • Makanan tinggi pengawet atau aditif Semoga kondisi V BTS segera membaik. Referensi: Soompi, Medical News Today, WebMD Baca juga Rhinitis alergi pada anak, kenali penyebab, gejala dan cara mencegahnya • Kehamilan • Tips Kehamilan • Alergi kolinergik Pertama • Trimester Kedua • Trimester Ketiga • Melahirkan • Menyusui • Tumbuh Kembang • Bayi • Balita • Prasekolah • Praremaja alergi kolinergik Usia Sekolah • Parenting • Pernikahan • Berita Terkini • Seks • Keluarga • Kesehatan • Penyakit • Info Sehat • Vaksinasi • Kebugaran • Gaya Hidup • Keuangan • Travel • Fashion • Hiburan • Kecantikan • Kebudayaan • Lainnya • TAP Komuniti • Beriklan Dengan Kami • Hubungi Kami • Jadilah Kontributor Kami Tag Kesehatan Baca Juga • Nomor Darurat yang Mesti Dihubungi Saat Dilanda Kondisi Gawat • Suplemen Kreatin dan Manfaatnya untuk Performa Latihan • Paralayang Adalah Olahraga Pemacu Adrenalin yang Bisa Jadi Sumber Inspirasi Penyebab gatal di kaki dan badan saat olahraga Gatal atau dalam istilah medis dikenal dengan pruritus adalah sensasi yang timbul akibat sel kulit atau sel saraf yang mengalami iritasi.

Sensasi tersebut terjadi ketika ujung saraf yang disebut dengan pruriceptors terangsang oleh infeksi, cedera, paparan bahan kimia, suhu, atau respon kekebalan tubuh Anda sendiri. Ketika pruriceptors dirangsang, saraf akan mengirimkan pesan ke otak dan sumsum tulang belakang yang membuat Anda refleks untuk menggaruknya. Namun, menggaruk hanya meredakan rasa alergi kolinergik untuk sementara waktu. Maka dari itu, Anda perlu mengetahui penyebab gatal di kaki dan dan badan saat olahraga guna mendapatkan penanganan yang tepat.

Berikut adalah berbagai penyebab badan dan kaki gatal saat olahraga yang mungkin Anda alami. 1. Sirkulasi darah yang tidak lancar Kaki gatal saat olahraga bisa disebabkan oleh Anda yang jarang berolahraga Pada beberapa kasus, badan dan kaki gatal saat olahraga bisa disebabkan oleh intensitas waktu Anda yang jarang melakukan olahraga.

Jika Anda jarang berolahraga, pembuluh darah kapiler di kaki alergi kolinergik menyempit. Saat Anda berolahraga lagi, kaki membutuhkan pasokan darah yang cukup banyak. Ketika sirkulasi darah ke area tersebut meningkat maka pembuluh kapiler di kaki akan melebar. Pada saat yang bersamaan, saraf di sekitar kapiler darah akan mengirimkan sinyal gatal ke otak.

Umumnya, gejala ini akan berhenti setelah beberapa hari olahraga asalkan Anda membiasakan diri untuk jalan kaki santai secara teratur. 2. Kondisi urtikaria kolinergik Penyebab gatal di kaki saat olahraga berikutnya adalah urtikaria kolinergik. Urtikaria kolinergik adalah suatu kondisi saat peningkatan alergi kolinergik tubuh memicu pembengkakan pada kulit sehingga menyebabkan timbulnya rasa gatal. Kondisi ini bisa terjadi selama alergi kolinergik setelah Anda berolahraga, termasuk saat berlari.

Biasanya, kondisi urtikaria kolinergik membuat kulit tubuh Anda mengeluarkan tonjolan merah yang timbul dan memicu rasa gatal. Sebenarnya, penyebab urtikaria kolinergik masih belum dapat diketahui secara pasti, tetapi bisa jadi disebabkan oleh alergi makanan atau jenis olahraga yang Anda lakukan saat itu.

Walaupun rasa gatalnya cukup mengganggu, tetapi kondisi urtikaria kolinergik tidak mengancam nyawa. Umumnya, gejala akan menghilang 10 menit setelah Anda selesai berolahraga atau berlari.

3. Alergi Gatal di kaki saat olahraga seringkali dikaitkan dengan berbagai jenis kondisi alergi. Alergi adalah respon kekebalan tubuh yang abnormal sehingga tubuh akan melepaskan zat alami yang mengalami peradangan atau disebut dengan histamin, sebagai respons terhadap stimulus yang tidak berbahaya (alergen).

Ketika tubuh melepaskan histamin, maka dapat memicu rasa gatal. Namun, jika rasa gatal di kaki hanya muncul saat Anda berolahraga pada suhu dingin, seperti pagi atau malam hari, mungkin Anda mengalami alergi kolinergik dingin atau yang disebut pula dengan urtikaria dingin. Gejala alergi dingin mirip dengan urtikaria kolinergik, yakni kemerahan yang disertai dengan rasa gatal di permukaan kulit. Akan tetapi, kondisi ini bisa parah dan alergi kolinergik serius dengan gejala yang meliputi: menggigil, pembengkakan pada beberapa bagian tubuh, hingga pingsan.

4. Pelepasan histamin Saat berolahraga, otot-otot tubuh Anda akan bekerja sehingga menciptakan rasa panas. Rasa panas tersebut akan menyebar ke seluruh tubuh dan meningkatkan suhu internal tubuh Anda. Rasa panas berlebih terus membuat kulit “berpikir” bahwa ia sedang terluka.

Sebagai bentuk pembelaan diri, sel-sel kulit akan melepaskan histamin. Pada beberapa orang, pelepasan histamin dapat menimbulkan rasa gatal di kaki atau beberapa bagian tubuh lainnya. 5. Kondisi anafilaksis Selain gatal di kaki, anafilaksis bisa sebabkan Anda sulit bernapas Pada kasus yang cukup jarang, gatal di kaki bisa jadi merupakan tanda dari kondisi anafilaksis yang dipicu oleh olahraga atau dikenal pula dengan istilah exercise-induced anaphylaxis. Selain gatal-gatal di kaki dan bagian tubuh lainnya, Anda juga bisa mengalami berbagai masalah, seperti kesulitan bernapas, mual dan muntah, pusing, kram perut, denyut jantung tidak teratur, pembengkakan di wajah, kulit tubuh terasa dingin, hingga pingsan.

Jika Anda terus berlari atau melanjutkan olahraga, kondisi tersebut dapat mengancam nyawa. Pasalnya, aliran oksigen ke jantung dan otak akan Anda akan terhambat sehingga menyebabkan kematian. 6. Kulit sensitif Dilansir dari Healthline, kulit sensitif dapat menjadi penyebab paha gatal saat lari pagi.

Pasalnya, kulit yang sensitif rentan mengalami alergi terhadap deterjen, pelembut pakaian, hingga bahan pakaian. Hasilnya, rasa gatal pun datang. Kombinasi antara keringat dan kulit kering yang terjadi saat sedang berolahraga juga bisa memperparah iritasinya. Jika ini kasusnya, cobalah beli produk deterjen yang diformulasikan untuk kulit sensitif. Selain itu, gunakan pakaian yang mampu menyerap keringat dengan cepat.

Untuk mencegah kulit kering selama berolahraga, Anda juga boleh mengoleskan pelembap sebelum berlari. Cara mengatasi badan dan kaki gatal saat olahraga Ada beberapa cara mengatasi badan dan kaki gatal saat olahraga yang bisa Anda lakukan, yakni: • Jika Anda punya alergi terhadap suhu dingin, gunakan pakaian olahraga berlapis dan tutupi area kulit yang terbuka saat berolahraga.

alergi kolinergik

• Bawa handuk kecil saat olahraga guna menyeka keringat yang muncul agar tidak menyebabkan iritasi pada kulit sehingga dapat berujung pada timbulnya rasa gatal. • Lakukan pemanasan 10 menit sebelum memulai olahraga. • Istirahat sejenak selama Anda berlari atau berolahraga. Biarkan tubuh Anda menjadi alergi kolinergik rileks. • Jangan lupa melakukan pendinginan setelah berolahraga.

• Jika rasa gatal semakin parah karena Anda melakukan olahraga yang cenderung berat, sebaiknya kurangi intensitas olahraga menjadi lebih ringan. • Untuk mencegah kondisi anafilaksis yang dipicu oleh olahraga, sebaiknya pilih olahraga yang cenderung ringan, seperti berenang. • Minum antihistamin satu jam sebelum berolahraga guna mengurangi rasa gatal. Kendati demikian, langkah ini dapat dilakukan dengan catatan bila Anda melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

Catatan dari SehatQ Sebagian besar rasa gatal saat olahraga bukan hal yang perlu dikhawatirkan. Tapi, pada beberapa kasus, rasa gatal setelah olahraga bisa mengganggu dan alergi kolinergik tanda dari kondisi medis tertentu.

Jika Anda sering merasakan gatal di kaki saat olahraga, sebaiknya periksakan diri ke dokter guna mengetahui penyebab kondisi yang dialami. Dengan ini, dokter akan memberikan penanganan yang tepat sesuai kondisi Anda. Verywell Fit. https://www.verywellfit.com/itching-during-exercise-3120788 Diakses pada 9 Februari 2020 Live Strong. https://www.livestrong.com/article/211298-why-do-my-legs-itch-when-i-run/ Diakses pada 9 Februari 2020 Bottom Line Inc. https://bottomlineinc.com/health/diseases-conditions/when-your-workout-makes-you-itch Diakses pada 9 Februari 2020 Healthline.

https://www.healthline.com/health/fitness/runners-itch#causes Diakses pada 12 Agustus 2021
Suara.com - V BTS mengatakan dirinya menderita urtikaria kolinergik, sejenis gatal-gatal yang disebabkan oleh peningkatan suhu tubuh hingga membuat para penggemarnya, ARMY, cemas.

Hal ini diketahui saat V berinteraksi alergi kolinergik para penggemarnya melalui BTS Weverse. Ia mengaku sedang mengalami gejala kondisi kronisnya saat itu, tulis Soompi. "Tidak, aku memiliki alergi kolinergik. Aku gatal, gatal," kata V BTS. Melansir Medical News Today, urtikaria kolinergik adalah jenis ruam kulit yang biasa disebut gatal-gatal yang terjadi pada beberapa orang ketika tubuh mereka menjadi terlalu hangat dan berkeringat.

Baca Juga: Ngaku Alergi Panas Matahari, Maia Estianty Gatal-gatal Naik Sepeda Ruam biasanya berkembang sangat cepat setelah seseorang menjadi terlalu panas. V BTS (Instagram/@bts.bighitofficial) Urtikaria kolinergik cenderung terjadi dengan sangat cepat setelah seseorang mulai berkeringat atau menjadi terlalu panas.

Ruam dapat terjadi di mana saja pada tubuh, tetapi mungkin lebih cenderung muncul pada batang tubuh atau lengan. tirto.id - Personel boy group BTS, Kim Taehyung atau dikenal dengan nama panggung V mengungkapkan dirinya sedang terserang alergi kolinergik atau cholinergic urticaria.

Dilansir Soompi, V menyebut nama penyakitnya saat menanggapi pertanyaan penggemar dalam situs komunitas Weverse pada Minggu (14/7/2019). “Tidak, saya memiliki alergi kolinergik.

Saya gatal, gatal,” tulis V pada unggahan tersebut. Medical Alergi kolinergik Today memaparkan, cholinergic urticaria adalah alergi yang paling sering ditemukan pada orang dewasa muda.

Penyakit ini merupakan jenis ruam kulit yang mengakibatkan munculnya sejumlah benjolan merah kecil yang gatal.

alergi kolinergik

Dalam kasus terparah, gatal-gatal itu dapat menyebabkan sensasi menyengat dan menyebabkan sakit perut, pusing, atau kesulitan bernapas. Cholinergic urticaria terjadi disebabkan kenaikan suhu tubuh, kondisi ini dapat terjadi karena sejumlah alasan seperti berolahraga, makanan pedas, mandi air panas, terlalu lama di ruangan hangat seperti sauna, bahkan saat tubuh sedang stres emosional. Para ilmuwan percaya situasi di atas dapat meningkatkan suhu tubuh seseorang dan menyebabkan tubuh melepaskan histamine yang merupakan senyawa yang cenderung dilepaskan tubuh sebagai respons terhadap cedera.

Senyawa ini memicu beberapa orang untuk terkena cholinergic urticaria. Untuk sembuh dari cholinergic urticaria, dapat dimulai dari perubahan gaya hidup seperti menghindari alergi kolinergik berlebih yang banyak mengeluarkan keringat, makanan pedas, mandi air panas dan terkena paparan matahari dalam waktu lama.

Selain itu, dalam tahap pengobatannya, para penderita cholinergic urticaria juga harus mencari cara untuk mengurangi stres dan emosi kemarahan, seperti melakukan melalui meditasi atau menulis. Cholinergic urticaria dapat dicegah dengan cara paling sederhana yaitu menghindari aktivitas pemicunya, seperti menghindari latihan yang menyebabkan keringat atau panas berlebih.

Hal lainnya untuk membantu menghindari urtikaria kronis, beberapa spesialis merekomendasikan untuk mengadopsi diet rendah histamin. Saat mengurangi makanan yang mengandung histamin maka akan membantu tubuh menyerap lebih sedikit histamin.

Menyerap lebih sedikit histamin akan mengurangi respons alergi yang menyebabkan urtikaria. Orang yang sedang diet histamin rendah harus banyak makan buah alergi kolinergik sayur dan menghindari makanan seperti: makanan asin, ikan dan kerang, makanan tinggi pengawet, cuka, susu, dan alkohol.

Sebagian besar gejala cholinergic urticaria akan menghilang beberapa jam setelah pertama kali muncul. Orang yang mengalami gejala sering atau jangka panjang, terutama jika mengalami kesulitan bernapas saat berolahraga maka harus segera menemui dokter.
TRIBUNHEALTH.COM - Urtikaria kolinergik adalah jenis ruam kulit dan gatal-gatal yang terjadi pada beberapa orang ketika tubuh mereka menjadi terlalu hangat dan berkeringat.

Ruam biasanya berkembang sangat cepat setelah seseorang menjadi terlalu panas. Dalam kebanyakan kasus, kondisi ini akan sembuh dengan sendirinya dengan cepat tanpa efek jangka panjang. Namun, beberapa orang mungkin menemukan urtikaria kolinergik mempengaruhi kemampuan mereka untuk berolahraga, dilansir TribunHealth.com dari WebMD, Kamis (1/4/2022).

alergi kolinergik

Meski jarang, orang dengan urtikaria kolinergik dapat mengalami reaksi parah terhadap panas yang mengakibatkan reaksi alergi yang mengancam jiwa. Kata "kolinergik" sendiri mengacu pada bagian dari sistem saraf alergi kolinergik mengontrol kontraksi otot, pelebaran pembuluh darah, dan memperlambat detak jantung. Gejala Ilustrasi gatal (Freepik.com) Baca juga: Tips Cegah Ruam dan Gatal saat Berkeringat, Cukup Hindari Pemicunya Urtikaria kolinergik cenderung terjadi dengan sangat cepat setelah seseorang mulai berkeringat atau kepanasan.

Ruam dapat terjadi di mana saja di tubuh seseorang tetapi mungkin lebih sering muncul di batang tubuh atau lengan seseorang. Tanda dan gejala khas urtikaria kolinergik termasuk kombinasi dari berikut ini: • gatal atau kesemutan pada awal ruam • terbakar atau gatal di daerah yang terkena ruam • bentol yang lebih kecil, yang berwarna merah, tonjolan menonjol di kulit • mengarah ke area pembengkakan yang lebih signifikan.

Sebagian besar kasus urtikaria kolinergik tidak serius, dan ruam akan memudar dengan sendirinya dalam waktu satu jam setelah kemunculannya.

alergi kolinergik

Kemungkinan komplikasi Namun, beberapa orang mungkin memiliki reaksi yang lebih parah terhadap urtikaria kolinergik. Seseorang yang mengalami reaksi parah dapat mengembangkan gejala di tempat lain di tubuh mereka, termasuk: • sakit kepala • diare • mual • kesulitan bernapas • jantung berdebar • keram perut.

Dalam beberapa kasus, orang dengan reaksi parah terhadap urtikaria kolinergik dapat mengembangkan anafilaksis, reaksi alergi yang mengancam jiwa yang memerlukan perhatian medis darurat. Penyebab Ilustrasi gatal (Freepik) Baca juga: Wasir hingga Infeksi Seksual Menular Bisa Sebabkan Gatal pada Anus, Bisa Diatasi dengan Cara Berikut Urtikaria kolinergik dapat terjadi setiap kali seseorang berkeringat atau alergi kolinergik terlalu hangat.

Peristiwa atau situasi berikut dapat menyebabkan seseorang mengembangkan urtikaria kolinergik: • olahraga • mandi air panas • duduk di sauna atau bak mandi air panas • berada di ruangan yang hangat • paparan cuaca panas • demam • sedang marah atau kesal • stres • makan makanan pedas. Para ilmuwan alergi kolinergik situasi ini meningkatkan suhu tubuh seseorang dan menyebabkan tubuh melepaskan histamin, senyawa yang cenderung dilepaskan tubuh sebagai respons terhadap cedera.

Senyawa ini memicu beberapa orang untuk mengembangkan urtikaria kolinergik.
Baru baru ini penggemar dikejutkan dengan pengakuan salah satu member boyband KPop V BTS yang alergi kolinergik mengidap penyakit urtikaria kolinergik yang membuatnya gatal-gatal. Walau cukup asing didengar penyakit ini sebetulnya juga cukup banyak penderitanya meski memang tak semua orang mengerti dan paham bagaimana gejala penyakit ini sebetulnya.

Dan berikut ini 5 Fakta tentang urtikaria kolinergik yang harus kamu tahu.

alergi kolinergik

Simak ya! indiatoday.in Urtikaria kolinergik adalah sejenis penyakit gatal yang menyebabkan ruam pada kulit. Hal ini muncul sebagai reaksi alergi yang desebabkan oleh alergen berupa suhu panas. Meskipun begitu, urtikaria kolinergik bukanlah penyakit yang menular, karena biasanya merupakan penyakit bawaan seseorang.

Gejala penyakit ini biasanya muncul pada orang dewasa yang masih tergolong muda dan jarang ditemukan pada anak kecil atau orang lanjut usia. healthline.com Urtikaria kolinergik akan kambuh dan semakin terasa saat suhu tubuh naik. Pemicunya bisa dari berolahraga, kepanasan dan berkeringat, saat mandi air hangat, makan makanan pedas, demam, marah atau bisa juga timbul saat penderitanya sedang stress dan berada dalam kecemasan yang tinggi.

Baca Juga: Mudah Sekali Menular! Ini 6 Fakta Unik tentang Penyakit ISPA metroderm.org Urtikaria kolinergik biasanya muncul saat suhu tubuh naik dan kemudian akan reda dengan alergi kolinergik seiring dengan penurunan suhu tubuh juga.

Belum diketahui pasti apa yang menyebabkan seseorang menderita urtikaria kolinergik. Hanya saja jika kamu memiliki urtikaria kolinergik kronis sebaiknya segera periksakan ke dokter karena urtikaria kolinergik akaut dapat menyebabkan ketidaknyamanan jangka panjang. Unsplash/Christian Erfurt Selain gatal-gatal dan ruam pada kulit gejala urtikaria kolinergik pada seseorang juga bisa dibarengi dengan sakit perut, mual, muntah, diare alergi kolinergik dibarengi dengan produksi airliur berlebihan.

Dan tentunya gejala ini alergi kolinergik sama pada setiap penderita, maka dari itu jika anda merasa sesuatu yang salah terjadi pada tubuh anda, segeralah periksakan diri pada dokter untuk mendapat penanganan. cdc.gov Untuk pencegahan penyakit ini kamu bisa minum obat dengan kandungan antihistamin sebagai penghampat produksi pritein histamin yang menyebabkan alergi.

alergi kolinergik

Atau kamu bisa mulai mengurangi aktivitas atau kegiatan yang sekiranya akan membuat suhu tubuhmu naik dan membuat urtikaria kolinergikmu kambuh. Baca Juga: 6 Fakta Penyakit Hipersomnia, Kantuk Ekstrem Ini Sangat Berbahaya! Berita Terpopuler • Daftar Tanggal Alergi kolinergik Desember 2022: Libur Natal • 10 Potret Liburan Ayu Ting Ting dan Keluarga ke Alergi kolinergik, Ayah Rozak Hits • 10 Potret Baby Ameena dalam Berbagai Ekspresi, Gemasnya Kebangetan • Kamu Workaholic?

Waspadai 7 Tanda Kamu Terlalu Keras ke Diri Sendiri • Hamas Mulai Bangkit, Menkeu Israel: Ini Semua Kesalahan Netanyahu • 10 Fakta Elon Musk, Orang Terkaya di Dunia yang Baru Membeli Twitter • Menko Muhadjir: Biaya Pasien Hepatitis Akut Ditanggung BPJS Kesehatan • 9 Potret Atta Halilintar di Singapura, Berlibur sambil Momong Anak!

• 10 Momen Nagita Slavina Masak Makan Malam buat Teman-teman Artisnya • Hari Keberuntungan Tiap Zodiak di Bulan Mei 2022, Mohon Dicatat ya!Belakangan ini cuaca terasa sangat panas dan terik. Tak hanya membuat kulit kering, kondisi ini juga rentan memicu terjadinya reaksi alergi.

Ya, ketika kamu memiliki intoleransi terhadap panas, sering kali tubuh tidak dapat mengatur suhunya dengan benar sehingga menyebabkan munculnya berbagai gejala yang tidak diinginkan.

Untuk itu, penting untuk mengenali tanda-tanda alergi panas berikut, termasuk pemicu dan cara tepat dalam mengatasinya. Baca juga: Mengenali Beda Ruam Kulit Biasa dengan Gejala COVID-19 Apa itu alergi panas? Dilansir Healthline, alergi panas adalah kondisi di mana bagian otak bernama hipotalamus gagal mengirimkan sinyal kepada kulit untuk menghasilkan keringat di saat suhu terlalu panas. Ini menyebabkan peradangan yang menimbulkan gejala alergi seperti gatal maupun ruam.

Kondisi gatal akibat suhu alergi kolinergik juga dikenal dengan istilah urtikaria kolinergik. Kamu mungkin lebih rentan mengalaminya, jika sebelumnya telah memiliki eksim, asma, atau alergi lain.

alergi kolinergik

Meski bisa berlangsung ringan, namun dalam beberapa kasus, urtikaria kolinergik juga bisa menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa. Faktor pemicu alergi panas Alergi panas sangat berkaitan dengan peningkatan suhu tubuh. Secara umum beberapa hal yang dapat memicu alergi kolinergik ini antara lain adalah: 1.

Pengobatan tertentu Salah satu penyebab paling umum dari intoleransi panas adalah obat-obatan. Misalnya obat alergi yang dapat menghambat kemampuan tubuh untuk mendinginkan diri karena mencegah munculnya keringat.

Bisa juga akibat konsumsi obat tekanan darah yang dapat menurunkan aliran darah ke kulit, serta menghambat produksi keringat. Dekongestan atau obat yang umum dipakai untuk mengatasi hidung tersumbat, juga dapat menyebabkan peningkatan aktivitas otot dan meningkatkan suhu tubuh. 2. Konsumsi kafein Kafein adalah zat yang dapat meningkatkan detak jantung dan mempercepat alergi kolinergik.

Hal ini dapat menyebabkan suhu tubuh jadi meningkat dan menyebabkan intoleransi terhadap panas. 3. Hipertiroidisme Hipertiroidisme terjadi ketika kelenjar tiroid menghasilkan terlalu banyak hormon tiroksin. Kelebihan hormon alergi kolinergik dapat menyebabkan metabolisme tubuh meningkat, berujung pada peningkatan suhu tubuh secara signifikan. 4. Sklerosis ganda Multiple sclerosis (MS) adalah penyakit autoimun yang memengaruhi sistem saraf pusat.

Penyakit ini memengaruhi lapisan pelindung (myelin) dari sistem saraf pusat. Jika myelin rusak, sinyal saraf tubuh menjadi terganggu dan dapat menyebabkan alergi panas. Gejala alergi panas Gejala umum alergi panas adalah muncul benjolan merah pada kulit, serta rasa gatal pada kulit.

Ini terjadi karena peradangan pada lapisan superfisial kulit (epidermis). Dalam kasus yang parah, tanda dari urtikaria kolinergik meliputi: • Gatal-gatal di seluruh tubuh (urtikaria umum), ini ditandai dengan munculnya gatal-gatal kecil dikelilingi bercak besar kulit berwarna merah. • Pembengkakan di lapisan kulit yang lebih dalam (angioedema) di sekitar wajah dan bibir.

Jika pembengkakan menyumbat jalan napas, ini bisa mengancam jiwa. • Bronkospasme. Saluran udara menjadi kejang dan berkontraksi secara tidak normal, sehingga sulit untuk bernapas. • Mengi atau batuk • Tekanan darah rendah (hipotensi) Sebagian besar kasus gatal-gatal yang disebabkan oleh panas muncul dalam waktu satu jam setelah terpapar.

Gejalanya juga dapat terjadi secara bertahap, tetapi begitu intoleransi berkembang, biasanya berlangsung selama satu atau dua hari. Cara mengatasi alergi panas Banyak kasus gatal-gatal akibat alergi kolinergik memudar dengan sendirinya dalam waktu 24 jam. Tetapi pengobatan tertentu, dapat meredakan gejala dan meredakannya kambuh kembali.

alergi kolinergik

Beberapa jenis obat yang mungkin akan direkomendasikan oleh dokter antara lain adalah: • Fexofenadine (Allegra) • Desloratadin (Clarinex) • Loratadin (Claritin) Jika obat bebas tidak berhasil, dokter dapat merekomendasikan: • Penghambat histamin • Obat anti-inflamasi • Obat yang menekan sistem kekebalan tubuh Langkah pencegahan alergi panas Untuk mencegah terjadinya reaksi alergi, usahakan untuk tidak terlalu berkeringat dan mengurangi paparan ke area dengan kelembapan tinggi ataupun sinar matahari langsung saat beraktivitas.

Kamu juga bisa minum banyak air putih untuk menjaga diri tetap terhidrasi. Jika kamu memiliki intoleransi panas karena hipertiroidisme, bicarakan alergi kolinergik dokter tentang pilihan pengobatan yang dapat membantu mengurangi sensitivitas tubuh.

alergi kolinergik

Alergi kolinergik masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini !
Suara.com - Dalam sebuah unggahan Weverse belum lama ini, anggota BTS, V atau Kim Taehyung, mengungkapkan bahwa ia menderita kondisi yang disebut alergi kolinergik yang membuatnya merasa gatal. Alergi kolinergik terjadi ketika ada kenaikan suhu tubuh.

Lalu, berbahayakah kondisi ini, dan apa efeknya terhadap aktivitas V? Seperti yang kita tahu, BTS atau yang Bangtan Boys saat ini adalah idol grup paling populer di dunia saat ini. Seiring dengan hal tersebut, ketujuh anggotanya menjadi lebih sibuk dengan alergi kolinergik tanggung jawab dan kerja tanpa henti. Dan mengingat latihan tari yang keras, jadwal yang sibuk jelang konser, pasti sulit bagi V untuk menghadapi kondisi ini.

Tapi sebenarnya, apa sih alergi kolinergenik yang diderita V BTS? Berikut penjelasannya, seperti dilansir Pinkvilla. Baca Juga: Lirik Lagu BTS Stay Gold, ARMY Wajib Tahu Apa itu alergi kolinergik? Alergi kolinergik adalah jenis alergi yang menyebabkan gatal-gatal yang dipicu oleh peningkatan suhu tubuh. Menurut WebMD, kondisi ini biasanya berkembang ketika Anda banyak berolahraga atau berkeringat.

Sebagian besar waktu, kondisi ini muncul dan menghilang dalam beberapa jam. Namun, orang yang menderita penyakit ini dapat memengaruhi kemampuan mereka untuk aktif bergerak atau berolahraga.
Antikolinergik adalah kelompok obat untuk menangani berbagai kondisi, mulai dari inkontinensia urine, penyakit Parkinson, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), hingga diare. Antikolinergik bekerja dengan cara menghambat asetilkolin, yaitu zat kimia penghantar sinyal antara sel-sel saraf (neurotransmiter).

Cara kerja ini akan mempengaruhi banyak organ, termasuk otot jantung, paru-paru, saluran cerna, hingga saluran kemih, sehingga bisa digunakan untuk menangani beragam kondisi. Obat-obat yang termasuk ke dalam golongan antikolinergik bisa digunakan sebagai terapi tunggal atau dikombinasikan dengan obat lain.

Obat-obatan antikolinergik dapat digunakan untuk mengatasi kondisi-kondisi medis berikut ini: • Keluhan akibat kandung kemih terlalu aktif, seperti dorongan mendadak untuk buang air kecil, tidak mampu menahan keinginan berkemih, atau inkontinensia • Gangguan pencernaan, seperti mual dan muntah, diare, tukak lambung, atau irritable bowel syndrome • Tremor yang dialami penderita penyakit Parkinson • Asma atau PPOK • Sulit tidur, gangguan cemas, depresi, atau skizofrenia • Uveitis atau peradangan pada lapisan tengah mata • Keracunan makanan, obat, atau zat kimia tertentu, seperti insektisida • Gejala atau keluhan akibat reaksi alergi, khusus untuk obat antihistamin dengan yang memiliki efek antikolinergik Obat antikolinergik tersedia alergi kolinergik berbagai bentuk sediaan, di antaranya tablet, kapsul, sirop, gel, larutan, suntik, koyo, dan supositoria.

Obat ini hanya digunakan sesuai resep dokter. Peringatan Sebelum Menggunakan Obat Antikolinergik Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menggunakan obat antikolinergik, yaitu: • Jangan menggunakan obat-obatan antikolinergik bila Anda alergi terhadap golongan obat ini.

• Beri tahu dokter jika Anda menderita sumbatan usus, sumbatan di saluran kemih, pembesaran prostat jinak, glaukoma, penyakit Alzheimer, hipertiroid, atau myasthenia gravis. Obat golongan antikolinergik sebaiknya tidak digunakan oleh pasien dengan kondisi tersebut. • Beri tahu dokter jika Anda menderita mulut kering, konstipasi, gagal jantung, denyut jantung cepat, penyakit liver, hernia hiatal, atau sindrom Down. • Beri tahu dokter jika Anda sedang mengonsumsi suplemen, produk herbal, atau obat tertentu, seperti obat alergi atau obat antidepresan • Beri tahu dokter jika Anda sedang hamil, menyusui, atau merencanakan kehamilan.

• Batasi aktivitas pada suhu panas dan yang rentan memicu Anda berkeringat. Obat antikolinergik bisa mengurangi kemampuan tubuh untuk memproduksi keringat, sehingga bisa memicu terjadinya heat stroke. • Jangan melakukan aktivitas yang membutuhkan kewaspadaan, alergi kolinergik mengendarai kendaraan, karena obat ini dapat menyebabkan kantuk, pusing, atau penglihatan buram.

• Jangan mengonsumsi minuman berakohol selama menjalani pengobatan dengan obat antikolinergik, karena bisa meningkatkan risiko terjadinya efek samping. • Segera ke dokter jika muncul reaksi alergi obat, efek samping serius, atau overdosis setelah menggunakan obat antikolinergik.

Efek Samping dan Bahaya Obat Antikolinergik Beberapa efek samping yang mungkin terjadi setelah menggunakan obat antikolinergik adalah mulut kering, mata kering, denyut jantung cepat, pusing, kantuk, insomnia, sembelit, atau gelisah. Segera ke dokter jika efek samping yang telah disebutkan tidak kunjung mereda atau semakin alergi kolinergik.

Anda juga harus segera ke dokter jika muncul reaksi alergi obat, atau efek samping yang lebih serius, seperti: • Tidak bisa buang air kecil ( retensi urine) • Hilang ingatan • Kejang • Gangguan alergi kolinergik, seperti penglihatan buram atau pandangan kabur • Hipertermia • Halusinasi • Delirium Jenis Obat Antikolinergik Obat antikolinergik bisa dibagi menjadi obat antikolinergik primer dan obat-obat lain yang memiliki efek antikolinergik.

Dosis dan fungsinya akan berbeda-beda. Obat antikolinergik hanya boleh digunakan sesuai dengan resep dokter. Berikut ini adalah uraian jenis obat antikolinergik: Antikolinergik primer Antikolinergik primer sering juga disebut sebagai antikolinergik murni. Obat-obatan yang termasuk ke dalam jenis ini memang digunakan untuk menghambat kerja alergi kolinergik pada beberapa kondisi khusus.

alergi kolinergik

Contoh-contoh obat yang termasuk di dalamnya adalah: • Atropin, untuk mengatasi uveitis dan mengurangi produksi dan pengeluaran air liur dan lendir di saluran pernapasan, selama operasi • Darifenacin, untuk mengatasi inkontinensia urine • Aclidinium atau ipratropium untuk mengatasi gangguan pernapasan, seperti asma dan gejala radang paru kronis • Trihexyphenidyl dan benztropine mesylate, untuk meredakan gejala penyakit Parkinson atau mengobati efek samping dari obat antipsikotik • Oxybutynin, untuk mengobati akibat kandung kemih terlalu aktif ( overactive bladders).

• Scopolamine, untuk mengatasi kram perut dan meredakan gejala penyakit irritable bowel sydndrome • Glycopyrrolate, untuk mengurangi pengeluaran air liur berlebih akibat cerebral palsy Obat-obatan lain yang mengandung antikolinergik Obat-obatan yang termasuk ke dalam jenis ini memiliki aktivitas antikolinergik, tetapi umumnya digunakan untuk fungsi dan tujuan yang berbeda dengan jenis antikolinergik primer.

Beberapa contoh obat yang termasuk dalam jenis ini adalah: 1. Antihistamin Antihistamin merupakan obat yang ditujukan untuk meredakan gejala dan alergi kolinergik akibat reaksi alergi. Namun, beberapa jenis obat di dalam golongan ini memiliki aktivitas atau efek antikolinergik, sehingga bisa digunakan untuk meredakan mual atau muntah akibat mabuk perjalanan. Obat antihistamin yang memiliki efek antikolinergik adalah: • Brompheniramine • Doxylamine • Chlorpheniramine • Cyproheptadine • Alergi kolinergik • Meclizine • Dimenhydrinate • Promethazine • Hydroxyzine 2.

Antipsikotik Obat antipsikotik digunakan untuk membantu meredakan gejala psikosis akibat skizofrenia atau gangguan mental lain. Obat ini hanya boleh digunakan sesuai dengan resep dokter. Jenis obat antipsikotik yang memiliki efek antikolinergik antara lain: • Chlorpromazine • Mesoridazine • Clozapine • Olanzapine • Thioridazine • Quetiapine 3.

Antidepresan Trisiklik Antidepresan trisiklik ditujukan untuk meredakan gejala depresi dan bipolar. Selain itu, kelompok obat ini juga bisa digunakan dalam pengobatan gangguan obsesif kompulsif, gangguan cemas, post-traumatic stress disorder (PTSD), atau serangan panik.

Obat golongan antidepresan trisiklik yang memiliki efek antikolinergik adalah: • Amitriptyline • Amoxapine • Clomipramine • Desipramine • Doxepin • Nortriptyline • Imipramine • Protriptyline 4. Antispasmodik Antispasmodik umumnya diresepkan dokter untuk mengontrol gejala pada penderita sindrom iritasi usus.

Obat antispasmodik yang memiliki alergi kolinergik antikolinergik meliputi: • Clidinium • Dicyclomine • Hyoscyamine • Propantheline 5. Obat Midriatikum Midriatikum adalah kelompok obat yang digunakan untuk melebarkan pupil mata.

Obat ini biasanya digunakan sebelum pemeriksaan mata dan untuk alergi kolinergik uveitis atau peradangan mata. Jenis-jenis obat midriatikum yang mempunyai efek antikolinergik meliputi: • Cyclopentolate • Homatropine • Tropicamide Selain obat-obat di atas, masih ada lagi beberapa obat yang juga memiliki efek antikolinergik, misalnya carbamazepine, cyclobenzaprine, atau orphenadrine. Carbamazepine digunakan untuk mengontrol dan mencegah kejang akibat epilepsi, sedangkan cyclobenzaprine dan orphenadrine untuk meredakan kejang otot.

DOKTER MENJAWAB SEMUA PERTANYAAN TENTANG URTIKARIA / BIDURAN / ALERGI DINGIN




2022 www.videocon.com