Jaring untuk menangkap ikan

jaring untuk menangkap ikan

Menangkap Ikan di Laut – Cara penangkapan Ikan adalah metode yang biasa dipakai untuk menangkap ikan dengan menggunakan Jebakan, jaring, tombak dan lain lain. Istilah ini tidak hanya berlaku untuk ikan, tetapi juga untuk berburu hewan air lainnya seperti moluska, cumi, dan invertebrata lain yang dapat dimakan. Terdapat korelasi antara keefektifan metode penangkapan ikan dengan berbagai ilmu pengetahuan tentang ikan dan perilakunya, seperti migrasi ikan, cara mencari makan ikan, dan habitatnya, karena metode ini biasanya ditentukan oleh jenis dan perilaku spesiesnya.

Menggunakan Jaring (Penjaringan) Jaring ikan adalah jaring yang dibuat dengan sulaman atau tenunan benang halus sehingga membentuk jaring. Jaring adalah prinsip utama penangkapan ikan komersial.

Jaring ikan memiliki dampak lingkungan yang serius ketika semua atau sebagian dari jaring menghilang di laut dan menjadi jaring hantu. Jaring hantu akan mengapung di air setelah arus air dan berburu hewan laut, atau bisa dimakan oleh hewan laut besar karena mirip dengan ubur-ubur dan mengganggu sistem pencernaan. Jika jaring ikan terbuat dari plastik, maka mereka akan dapat hidup di laut selama ratusan tahun. iamge credit : medcom.com Tangkap Tangan Anda dapat mengumpulkan makanan laut secara manual seperti jaring untuk menangkap ikan kerang atau rumput laut dari pantai, menggali, dan bahkan mengejar kepiting.

Penombakan Ikan Menangkap ikan dengan tombak (penombakan ikan) adalah salah satu cara penangkapan ikan yang kuno. Beberapa jenis alat dikembangkan dengan menggunakan berbagai metode untuk menggerakkan tombak, seperti menggunakan pegas dan bubuk mesiu. Jebakan Cara Menangkap Ikan di Laut selanjutnya adalah dengan jebakan.

Jebakan ikan berkembang secara mandiri di beberapa budaya yang mempunyai bentuk yang bervariatif. Biasanya ada dua tipe jebakan, yakni permanen dan semi permanen.

Perangkap ditaruh di perairan dan mempunyai umpan untuk mengundang perhatian hewan laut. Perangkap diperiksa secara periodik untuk ambil hewan yang terperangkap. Kerjasama dengan Hewan lain Kerja-sama manusia dan ikan lumba-lumba dalam penangkapan ikan sudah diterangkan oleh filsuf Pliny the Elder di jaman Romawi Kuno.

Kegiatan ini sekarang banyak dilaksanakan di Brasil. Lumba-lumba menanti kehadiran nelayan Brazil di tepi pantai dan membawa kawanan ikan saat sebelum memberinya signal peristiwa yang bagus untuk melepaskan jaring untuk menangkap ikan.

Lumba-lumba diuntungkan dengan ikan yang terpisah dari sekawannya yang tertangkap jaring, jadi kurang terkoordinasi hingga tidak sanggup menghindari dari ikan lumba-lumba Sistem kami menemukan 25 jawaban utk pertanyaan TTS jaring untuk menangkap ikan.

Kami mengumpulkan soal dan jawaban dari TTS (Teka Teki Silang) populer yang biasa muncul di koran Kompas, Jawa Pos, koran Tempo, dll. Kami memiliki database lebih dari 122 ribu. Masukkan juga jumlah kata dan atau huruf yang sudah diketahui untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Gunakan tanda tanya ? untuk huruf yang tidak diketahui.

Contoh J?W?B
1. PENDAHULUAN 1.1 Pengantar • Salah satu alat tangkap yang dapat digunakan untuk menangkap ikan dengan jumlah tangkapan ikan cukup banyak adalah yang terbuat dari jaring yang membentuk kantong agar gerombolan ikan dapat terkurung.

• Purse Seine disebut juga “pukat cincin” karena alat tangkap ini dilengkapi dengan cincin untuk mana “tali cincin” atau “tali kerut” di lalukan di dalamnya. Fungsi cincin dan tali kerut / tali kolor ini penting terutama pada waktu pengoperasian jaring. Sebab dengan adanya tali kerut tersebut jaring yang tadinya tidak berkantong akan terbentuk kantong (cawan) pada saat selesai penarikan tali kerut tersebut. • Prinsip menangkap ikan dengan purse seine adalah dengan melingkari suatu gerombolan ikan dengan jaring, setelah itu jaring bagian bawah dikerucutkan, dengan demikian ikan-ikan terkumpul di bagian kantong.

• Dengan kata lain dengan memperkecil ruang lingkup gerak ikan. Ikan-ikan tidak dapat melarikan diri dan akhirnya tertangkap. Fungsi mata jaring dan jaring adalah sebagai dinding penghadang, dan bukan sebagai penjerat ikan.

• Penanamaan purse seine di Jepang didasarkan pada jenis ikan dan jumlah kapal yang digunakan dalam operasi penangkapan misalnya : (1) One Boat Horse Sardine Purse Seine, (2)Two Boat Sardine Purse Seine, (3)One Boat Horse Mackerel and Mackerel Purse Seine, (4)Two Boat Horse Mackerel and Mackerel Purse Seine, (5) One Boat Skipjack and Tuna Purse Seine, dan (6)Two Boat skipjack and Tuna Purse Seine.

• Purse seine, pertama kali diperkenalkan di pantai utara Jawa oleh BPPL (LPPL) pada tahun 1970 dalam rangka kerjasama dengan pengusaha perikanan di Batang (Bpk. Djajuri) dan berhasil dengan baik. Kemudian diaplikasikan di Muncar (1973/1974) dan berkembang pesat sampai sekarang.

Pada awal pengembangannya di Muncar sempat menimbulakan konflik sosial antara nelayan tradisional nelayan pengusaha yang menggunakan purse seine. Namun akhirnya dapat diterima juga. Purse seine ini memang potensial dan produktivitas hasil tangkapannya tinggi. Dalam perkembangannya terus mengalami penyempurnaan tidak hanya bentuk (kontruksi) tetapi juga bahan dan perahu / kapal yang digunakan untuk usaha perikanannya.

• Sasaran akhir yang dituju dalam studi purse seine adalah pengungkapan dan pemahaman pengoperasian salah satu alat tangkap yang terbuat dari jaring. Ini adalah landasan dasar dari upaya optimalisasi penguasaan materi tentang metode penangkapan ikan 1.2 Tujuan Penguasaan materi dalam modul ini, yang dirancang sebagai landasan untuk memahami metode penangkapan ikan, akan dapat • Menjelaskan pengertian alat tangkap jaring berkantong dalam menunjang metode penangkapan ikan • Menjelaskan metode pengoperasian alat tangkap jaring berkantong dalam proses penangkapan ikan 1.3 Definisi • Alat tangkap jaring berkantong adalah alat tangkap yang terbuat dari rangkaian helai jaring yang digabung menjadi satu.

Alat tangkap ini mempunyai ciri khas yaitu membentuk kantong baik sejak sebelum dioperasikan atau ketika operasi penangkapan selesai. Terdiri dari sayap (wing), badan (body), dan kantong (bag).

Bagian sayap dan badan mempunyai ukuran mata jaring (mesh size) yang sama (sekitar 1 inchi) tetapi bagian kantong mesh sizenya lebih kecil (3/4 inchi). Purse seine, pertama kali diperkenalkan di pantai utara Jawa oleh BPPL (LPPL) pada tahun 1970 dalam rangka kerjasama dengan pengusaha perikanan di Batang (Bpk. Djajuri) dan berhasil dengan baik. Kemudian diaplikasikan di Muncar (1973/1974) dan berkembang pesat sampai sekarang. Pada awal pengembangannya di Muncar sempat menimbulakan konflik sosial antara nelayan tradisional nelayan pengusaha yang menggunakan purse seine.

Namun akhirnya dapat diterima juga. Purse seine ini memang potensial dan produktivitas hasil tangkapannya tinggi. Dalam perkembangannya terus mengalami penyempurnaan tidak hanya bentuk (kontruksi) tetapi juga bahan dan perahu / kapal yang digunakan untuk usaha perikanannya • Pentingnya pukat cincin dalam rangka usaha penangkapan sudah tidak perlu diragukan untuk pukat cincin besar daerah penangkapannya sudah menjangkau tempat-tempat yang jauh yang kadang melakukan penangkapan mulai laut Jawa sampai selat Malaka dalam 1 trip penangkapan lamanya 30-40 hari diperlukan berkisar antara 23-40 orang.

Untuk operasi penangkapannya biasanya menggunakan “rumpon”. Sasaran penangkapan terutama jenis-jenis ikan pelagik kecil (kembung, layang, selat, bentong, dan lain-lain) 2. Purse seine One Boat Karakteristik Jaring untuk menangkap ikan menggunakan one boat sistem cara operasi menjadi lebih mudah. Pada operasi malam hari lebih mungkin menggunakan lampu untuk mengumpulkan ikan pada one boat sistem. Dengan one boat sistem memungkinkan pemakaian kapal lebih besar, dengan demikian area operasi menjadi lebih luas dan HP akan lebih besar, yang menyebabkan kecepatan melingkari gerombolan ikan juga akan lebih besar.

Oleh sebab itu dapat dikatakan tipe one boat akan lebih ekonomis dan efisien jika kapal mekaniser, karena dengan menggunakan sistem mekaniser pekerjaan menarik jaring, mengangkat jaring, mengangkat ikan dll pekerjaan di dek menjadi lebih mudah. Bahan dan Spesifikasinya  Bagian jaring Nama bagian jaring ini belum mantap tapi ada yang membagi 2 yaitu “bagian tengah” dan “jampang”.

Namun yang jelas ia terdiri dari 3 bagian yaitu: 1. jaring utama, bahan nilon 210 D/9 #1” 2. jaring sayap, bahan dari nilon 210 D/6 #1” 3. jaring kantong, #3/4” srampatan (selvedge), dipasang pada bagian pinggiran jaring yang fungsinya untuk memperkuat jaring pada waktu dioperasikan terutama pada waktu penarikan jaring. Bagian ini langsung dihubungkan dengan tali temali.

Srampatan (selvedge) dipasang pada bagian atas, bawah, dan samping dengan bahan dan ukuran mata yang sama, yakni PE 380 (12, #1”). Sebanyak 20,25 dan 20 mata.  Tali temali 1. tali pelampung. Bahan PE Ø 10mm, panjang 420m. 2. tali ris atas. Bahan PE Ø jaring untuk menangkap ikan dan 8mm, panjang 420m. 3. tali ris bawah. Bahan PE Ø 6mm dan 8mm, panjang 450m. 4. tali pemberat. Bahan PE Ø 10mm, panjang 450m. 5. tali kolor bahan. Bahan kuralon Ø 26mm, panjang 500m. 6. tali slambar bahan PE Ø 27mm, panjang bagian kanan 38m dan kiri 15m  Pelampung Ada 2 pelampung dengan 2 bahan yang sama yakni synthetic rubber.

Pelampung Y-50 dipasang dipinggir kiri dan kanan 600 buah dan pelampung Y-80 dipasang di tengah sebanyak 400 buah. Pelampung yang dipasang di bagian tengah lebih rapat dibanding dengan bagian pinggir.  Pemberat Terbuat dari timah hitam sebanyak 700 buah dipasang pada tali pemberat.

 Cincin Terbuat dari besi dengan diameter lubang 11,5cm, digantungkan pada tali pemberat dengan seutas tali yang panjangnya 1m dengan jarak 3m setiap cincin. Kedalam cincin ini dilakukan tali kolor (purse line).

Hasil Tangkapan Ikan yang menjadi tujuan utama penangkapan dari purse seine adalah ikan-ikan yang “Pelagic Shoaling Species”, yang berarti ikan-ikan tersebut haruslah membentuk shoal (gerombolan), berada dekat dengan permukaan air (sea surface) dan sangatlah diharapkan pula agar densitas shoal itu tinggi, yang berarti jarak antara ikan dangan ikan lainnya haruslah sedekat mungkin.

Dengan kata lain dapat juga dikatakan per satuan volume hendaklah jumlah individu ikan sebanyak mungkin. Hal ini dapat dipikirkan sehubungan dengan volume yang terbentuk jaring untuk menangkap ikan jaring (panjang dan lebar) yang dipergunakan. Jenis ikan yang ditangkap dengan purse seine terutama di daerah Jawa dan sekitarnya adalah : Layang (Decapterus spp), bentang, kembung (Rastrehinger spp) lemuru (Sardinella spp), slengseng, cumi-cumi dll.

Daerah Penangkapan Purse seine dapat dioperasikan pada fishing ground dengan kondisi sebagai berikut 1) A spring layer of water temperature adalah areal permukaan dari laut 2) Jaring untuk menangkap ikan ikan berlimpah dan bergerombol pada area permukaan air 3) Kondisi laut bagus Purse seine banyak digunakan di pantai utara Jawa / Jakarta, cirebon, Juwana dan pantai Selatan (Cilacap, Prigi, dll).

Alat Bantu Penangkapan • Lampu Fungsi lampu untuk penangkapan adalah untuk mengumpulkan kawanan ikan kemudian dilakukan operasi penangkapan dengan menggunakan berbagai alat tangkap, seperti purse seine.Jenis lampu yang digunakan bermacam-macam, seperti oncor (obor), petromaks, lampu listrik (penggunaannya masih sangat terbatas hanya untuk usaha penangkapan sebagian dari perikanan industri).

Ikan-ikan itu tertarik oleh cahaya lampu kiranya tidak terlalu dipermasalahkan sebab adalah sudah menjadi anggapan bahwa hampir semua organisme hidup termasuk ikan yang media hidupnya itu air terangsang (tertarik) oleh sinar / cahaya (phototaxis positif) dan karena itu mereka selalu berusaha mendekati asal / sumber cahaya dan berkumpul disekitarnya.

• Rumpon Rumpon merupakan suatu bangunan (benda) menyerupai pepohonan yang dipasang (ditanam) di suatu tempat ditengah laut. Pada prinsipnya rumpon terdiri dari empat komponen utama, yaitu : pelampung (float), tali panjang (rope) dan atraktor (pemikat) dan pemberat (sinkers / anchor). Rumpon umumnya dipasang (ditanam) pada kedalaman 30-75 m. Setelah dipasang kedudukan rumpon ada yang diangkat-angkat, tetapi ada juga yang bersifat tetap tergantung pemberat yang digunakan.

Dalam praktek penggunaan rumpon yang mudah diangkat-angkat itu diatur sedemikian rupa setelah purse seine dilingkarkan, maka pada waktu menjelang akhir penangkapan, rumpon secara keseluruhan diangkat dari permukaan air dengan bantuan perahu penggerak (skoci, jukung, canoes) Untuk rumpon tetap atau rumpon dengan ukuran besar, tidak perlu diangkat sehingga untuk memudahkan penangkapan dibuat rumpon mini yang disebut “pranggoan” (jatim) atau “leret” (Sumut, Sumtim).

Pada waktu penangkapan mulai diatur begitu rupa, diusahakan agar ikan-ikan berkumpul disekitar rumpon dipindahkan atau distimulasikan ke rumpon mini. Caranya ada beberapa macam misalnya dengan menggiring dengan menggerak-gerakkan rumpon induk dari atas perahu melalui pelampung-pelampungnya. Cara lain yang ditempuh yaitu seakan-akan meniadakan rumpon induk untuk sementara waktu dengan cara menenggelamkan rumpon induk atau mengangkat separo dari rumpo yang diberi daun nyiur ke atas permukaan air.

Terjadilah sekarang ikan-ikan yang semula berkumpul di sekitar rumpon pindah beralih ke rumpon mini dan disini dilakukan penangkapan. Sementara itu bisa juga digunakan tanpa sama sekali mengubah kedudukan rumpon yaitu dengan cara mengikatkan tali slambar yang terdapat di salah satu kaki jaring untuk menangkap ikan pada pelampung rumpon, sedang ujung tali slambar lainnya ditarik melingkar di depan rumpon. Menjelang akhir penangkapan satu dua orang nelayan terjun kedalam air untuk mengusir ikan-ikan di sekitar rumpon masuk ke kantong jaring.

Cara yang hampir serupa juga dapat dilakukan yaitu setelah jaring dilingkarkan di depan rumpon maka menjelang akhir penangkapan ikan-ikan di dekat rumpon di halau dengan menggunakan galah dari satu sisi perahu. Teknik Penangkapan (Setting dan hauling) Pada umumnya jaring dipasang dari bagian belakang kapal (buritan) sungguhpun ada juga yang menggunakan samping kapal.

Urutan operasi dapat digambarkan sebagai berikut : a) Pertama-tama haruslah diketemukan gerombolan ikan terlebih dahulu. Ini dapat dilakukan berdasarkan pengalaman-pengalaman, seperti adanya perubahan warna permukaan air laut karena gerombolan ikan berenang dekat dengan permukaan air, ikan-ikan yang melompat di permukaan terlihat riak-riak kecil jaring untuk menangkap ikan gerombolan ikan berenang dekat permukaan. Buih-buih di permukaan laut akibat udara-udara yang dikeluarkan ikan, burung-burung yang menukik dan menyambar-nyambar permukaan laut dan sebagainya.

Hal-hal tersebut diatas biasanya terjadi pada dini hari sebelum matahari keluar atau senja hari setelah matahari terbenam disaat-saat mana gerombolan ikan-ikan teraktif untuk naik ke permukaan laut. Tetapi dewasa ini dengan adanya berbagai alat bantu (fish finder, dll) waktu operasinyapun tidak lagi terbatas pada dini hari atau senja hari, siang haripun jika gerombolan ikan diketemukan segera jaring dipasang.

b) Pada operasi malam hari, mengumpulkan / menaikkan ikan ke permukaan laut dilakukan dengan menggunakan cahaya.

Biasanya dengan fish finder bisa diketahui depth dari gerombolan ikan, juga besar dan densitasnya. Setelah posisi ini tertentu barulah lampu dinyalakan (ligth intesity) yang digunakan berbeda-beda tergantung pada besarnya kapal, kapasitas sumber cahaya. Juga pada sifat phototxisnya ikan yang menjadi tujuan penangkapan.

c) Setelah fishing shoal diketemukan perlu diketahui pula swimming direction, swimming speed, density; hal-hal ini perlu dipertimbangkan lalu diperhitungkan pula arah, kekuatan, kecepatan angin, dan arus, sesudah hal-hal diatas diperhitungkan barulah jaring dipasang. Penentuan keputusan ini harus dengan cepat, mengingat bahwa ikan yang menjadi tujuan terus dalam keadaan bergerak, baik oleh kehendaknya sendiri maupun akibat dari bunyi-bunyi kapal, jaring yang dijatuhkan dan lain sebagainya.

Tidak boleh luput pula dari perhitungan ialah keadaan dasar perairan, dengan dugaan bahwa ikan-ikan yang terkepung berusaha melarikan diri mencari tempat aman (pada umumnya tempat dengan depth yang lebih besar) yang dengan demikian arah perentangan jaring harus pula jaring untuk menangkap ikan ikan-ikan yang terkepung dalam keadaan kemungkinan ikan-ikan tersebut melarikan diri ke depth lebih dalam. Dalam waktu melingkari gerombolan ikan kapal dijalankan cepat dengan tujuan supaya gerombolan ikan segera terkepung.

jaring untuk menangkap ikan

Setelah selesai mulailah purse seine ditarik yang dengan demikian bagian bawah jaring akan tertutup. Melingkari gerombolan ikan dengan jaring adalah dengan tujuan supaya ikan-ikan jangan dapat melarikan diri dalam arah horisontal. Sedang dengan menarik purse line adalah untuk mencegah ikan-ikan supaya ikan-ikan jangan dapat melarikan diri ke bawah. Antara dua tepi jaring sering tidak dapat tertutup rapat, sehingga memungkinkan menjadi tempat ikan untuk melarikan diri.

Untuk mencegah hal ini, dipakailah galah, memukul-mukul permukaan air dan lain sebagainya. Setelah purse line selesai ditarik, barulah float line serta tubuh jaring (wing) dan ikan-ikan yang terkumpul diserok / disedot ke atas kapal. Hal-hal yang Mempengaruhi Keberhasilan Penangkapan Kecerahan Perairan Transparasi air penting diketahui untuk menentukan kekuatan atau banyak sedikit lampu. Jika kecerahan kecil berarti banyak zat-zat atau jaring untuk menangkap ikan yang menyebar di dalam air, maka sebagian besar pembiasan cahaya akan habis tertahan (diserap) oleh zat-zat tersebut, dan akhirnya tidak akan menarik perhatian atau memberi efek pada ikan yang ada yang jaring untuk menangkap ikan agak berjauhan.

Adanya gelombang Angin dan arus angin. Arus kuat dan gelombang besar jelas akan mempengaruhi kedudukan lampu. Justru adanya faktor-faktor tersebut yang akan merubah sinar-sinar yang semula lurus menjadi bengkok, sinar yang terang menjadi berubah-ubah dan akhirnya menimbulkan sinar yang menakutkan ikan (flickering light).

Makin besar gelombang makin besar pula flickering lightnyadan makin besar hilangnya efisiensi sebagai daya penarik perhatian ikan-ikanmaupun biota lainnya menjadi lebih besar karena ketakutan. Untuk mengatasi masalah ini diperlukan penggunaan lampu yang kontruksinya disempurnakan sedemikian rupa, misalnya dengan memberi reflektor dan kap (tudung) yang baik atau dengan menempatkan under water lamp.

Sinar Bulan Pada waktu purnama sukar sekali untuk diadakan penangkapan dengan menggunakan lampu (ligth fishing) karena cahaya terbagi rata, sedang untuk penangkapan dengan lampu diperlukan keadaan gelap agar cahaya ;ampu terbias sempurna ke dalam air. Musim Untuk daerah tertentu bentuk teluk dapatmemberikan dampak positif untuk penangkapan yang menggunakan lampu, misalnya terhadap pengaruh gelombang besar, angin dan arus kuat. Penangkapan dengan lampu dapat dilakukan di daerah mana saja maupun setiap musim asalkan angin dan gelombang tidak begitu kuat.

Ikan dan Binatang Buas Walaupun semua ikan pada prinsipnya tertarik oleh cahay lampu, namun umumnya lebih didominasi oleh ikan-ikan kecil. Jenis-jenis ikan besar (pemangsa) umumnya berada di lapisan yang lebih dalam sedang binatang-binatang lain seperti ular laut, lumba-lumba berada di tempat-tempat gelap mengelilingi kawanan-kawanan ikan-ikan kecil tersebut. Binatang-binatang tersebut sebentar-sebentar menyerbu (menyerang) ikan-ikan yang bekerumun di bawah lampu dan akhirnya mencerai beraikan kawanan ikan yang akan ditangkap.

jaring untuk menangkap ikan

Panjang dan Kedalaman Jaring Untuk purse seine yang beroperasi dengan satu kapal digunakan jaring yang tidak terlalu jaring untuk menangkap ikan tetapi agak dalam karena gerombolan ikan di bawah lampu tidak bergerak terlalu menyebar.

jaring harus cukup dalam untuk menangkap gerombolan ikan mulai permukaan sampai area yang cukup dalam di bawah lampu. Kecepatan kapal pada waktu melingkari gerombolan ikan Jika kapal dijalankan cepat maka gerombolan ikan dapat segera terkepung. Kecepatan Menarik Purse Line Purse line harus ditarik cepat untuk mencegah agar ikan jangan sampai melarikan diri ke bawah. 2.

Purse seine Two Boats Definisi Purse seine Two Boats Prinsip umum menangkap ikan dengan purse seine adalah dengan melingkari sesuatu gerombolan ikan dengan jaring, setelah itu jaring bagian bawah dikerucutkan, dengan demikan ikan-ikan akan terkumpul di bagian kantong.

Dengan perkataan lain dengan memperkecil ruang lingkup gerak ikan, ikan-ikan tidak dapat melarikan diri dan ahirnya tertangkap (Subani dan Barus,1986) Purse seine merupakan alat tangkap ikan yang terbuat dari gabungan beberapa helai (piece) jaring yang dirangkai menjadi satu.

tepi bagian atas diapungkan dipermukaan perairan dengan sejumlah pelampung, sedangkan tepi bagian bawah diberi pemberat serta terdapat sejmlah tali yang dipasang melalui lubang-lubang cincin dimana dimana cincin ini telah terikat dengan tetap pada jaring bagian bawah.

Purse seine disebut juga sebagai pukat cincin karena alat tangkap ini dilengkapi dengan cincin atau tali kerut yang dilakukan didalamnya. Fungsi cincin dan tali kerut atau tali kolor ini penting terutama pada waktu pengoperasian jaring. Sebab dengan adanya tali kerut tesebut jaring tersebut jaring yang semula tidak berkantong akan terbentuk kantong pada akhir penangkapan. Jadi purse seine Two Boats merupakan alat tangkap purse seine yang pada waktu melakukan operasi penangkapan dilakukan dengan bantuan dua kapal, yang prinsip kerjanya yaitu dengan cara melingkari suatu gerombolan ikan oleh salah satu kapal dan kapal yang lain sebagai penarik.

Kapal-kapal ini sering disebut dengan kapal jaring dan kapal selerek. Sejarah Perse seine two boats Menurut Maryuto (1982), sebagian para ahli perikanan menganggap bahawa alat tangkap Purse seine berasal dari Amerika dan pertama kali digunakan pada tahun 1826, kemudian menyusul Swedia pada tahun 1880, yang selanjutnya barulah Jepang memperkenalkan purse seine yang digunakan untuk menangkap ikan sardine Purse seine yang sering disebut dengan Pukat cincin sejak lama telah dikenal oleh masarakat nelayan di indonesia walaupun dengan nama dan konstruksi yang berbeda di tiap daerah, seperti pukat lnggar, pukat sengin, gae dan giop.

Pukat cincin/ purse seine pertama kali dikenal di Indonesia yang diperkenalkan pertama kali di daerah pantai utara jawa oleh BPPL pada tahun 1970 dalam rangka kerjasama dengan para pengusaha perikanan di Batang (pak jadjuri) dan berhasil dengan baik. Kemudian diaplikasikan di Muncar (1973/1974) dan selanjutnya mengalami perkembangan pesat.

Purse seine dua kapal merupakan hasil perkembangan dari pengoperasian dengan satu kapal, nelayan mengembangkan purse seine dua kapal banyak terdapat daerah Pantai Utara Jawa/Jakarta, Cirebon, Batang, Pemalang, Tegal, Pekalongan, Muncar.

Nelayan mengembangkan purse seine yang semula dengan satu kapal menjadi dua kapal dalam pengoperasian dengan tujuan akan mendapatkan hasil tangkap yang lebih banyak dan pengoperasiannya lebih efisien dan melakukan Modifikasi terhadap alat tangkapnya tetapi prinsip kerjanya sama Prospektif Purse seine Two boats Prinsip utama pengoperasian perse seine dua kapal adalah dengan cara melingkari gerombolan ikan, gerombolan ikan biasanya memiliki kepadatan antar 0,5 – 5 Kg /m3.

suatu jumlah yang jutaan kali lebih padat dari pada kepadatan ikan yang terdapat diseluruh lautan dunia. (Fridman, 1988) pengoperasian purse seine menjadi lebih tidak menguntungkan apabila kepadatan gerombolan ikan didalam air dibawah 1 kg/m3, namun tergantung juga dari harga ikan dan kondisi techno economic yang lain. Banyaknya hasil tangkapan sekali setting (tebar) dari purse seine tergantung dari pada ukuran alat dan kapal.

Hasil tangkapan berkisar mulai dari 0,25 sampai 0,5 ton persetting (tebar) untuk alat ukuran kecil sampai mencapai ratusan ton ikan Hering Untuk purse seine ukuran besar dinegara Eropa Utara, Amerika dan Jepang hal ini telah menunjukkan bahwa begitu efektifnya hasil tangkapan ikan dengan menggunakan purse seine dengan dua kapal.

Untuk daerah-daerah di Indonesia alat tangkap Purse seine juga sama efektifnya dan tidak terlalu jauh dengan daerah-daerah di Eropa atau Jepang yang membedakan hanyalah penambahan teknologi atau alat bantu dalam pengoperasian sehingga menjadikan proses penangkapan lebih efisien.

Konstruksi Purse seine Konstruksi umum Purse seine merupakan alat tangkap yang ikan yang terbuat dari gabungan beberapa helai jaring yang dijahit menjadi satu. tapi bagian atas diapungkan dipermukaan perairan dengan sejumlah pelampung, sedangkan tepi bagian bawah diberi pemberat serta terdapat sejumlah tali yang dipasang melalui lubang-lubang cincin dimana dimana cincin ini telah terikat dengan tetap pada jaring bagian bawah.

Purse seine mempunyai bentuk kontruksi yang berbeda ditiap-tiap daerah, konstruksi umum berdasarkan fridman (1988) bahwa Purse seine secara umum terdiri atas beberapa komponen penting antara jaring untuk menangkap ikan bagian jaring, srampatan (selvedge), tali temali, pelampung, pemberat dan cicin. Banyak hal yang membedakan suatu bentuk dari tiap-tiap masing-masing komponen terutama ada jaring, pada bagian jaring bisa terdapat kantong (pocket), lama kelamaan berubah dan tenyata bahwa jaring tanpa kantong lebih praktis.

Pada garis besarnya jaring terdiri dari bag, cork line (floating line), win led line (sinker line), purse line, purse ring, bridle. Dengan menarik purse line, jaring pada bagian bawah akan menutup.

Bentuk purse seine pada umumnya adalah segi empat Kadangkala bentuk jaringnya lebih dalam pada bagian tengah kemudian mengecil setelah dekat pada bagian sayap dan kantong. Tali pemberat yang lebih panjang dari pada tali pelampung, lebih cepat tenggelam, tetapi tali pemberat yang lebih jaring untuk menangkap ikan dari tali pelampung akan dapat lebih cepat lebih dikerutkan dan dapat meningkatkan pengaruh menyerok dari purse seine.

Jaring yang diangkat dengan menggunakan power block memerlukan panjang yang harus relatif sama antara tali pemberat dan tali pelampung. Pada tiap-tiap konstuksi dari purse seine banyak mengalami perubahan tehadap bentuk konstruksi awal, hal ini disebabkan karena terjadi modifikasi terhadap konstruksi secara umum terhadap purse seine.

Bentuk-bentuk tersebut disesuaikan dengan kondisi dan lokasi penangkapan ikan, jika penangkapan dilakukan pada daerah dengan kedalaman yang semakin dalam maka kostruksinya akan mengalami modifikasi yang lebih baik terutama masalah kekutan jaring, kecepatan tenggelam, daya apung dan kekuatan tali penarik.

Sehingga dibutuhkan kekuatan pada masing-masing komponen utamanya. Detail Konstuksi Pada komponen utama pada purse seine adalah jaring, srampatan (selvedge), tali temali, pelampung, pemberat dan cincin. Sehingga dapat dijelaskan jaring untuk menangkap ikan detail pada tiap komponen konstuksi utama, antara lain adalah: Bagian jaring Pada bagian jaring, dalam pembentukan nama-nama dari komponenya belum jelas karena pada setiap daerah memiliki nama yang berbeda, pada jaring komponennya dibagi menjadi tiga bagian antara lain adalah: jaring utama (nillon 210 D/9,# 1inci 1”), Jaring sayap (Nillon 210 D/6,# 1 inci 1” ), jaring kantong (# ¾ inci ¾).

Serampatan Serampatan /selvedge dipasang pada bagian pingggiran jaring yang fungsinya untuk memperkuat jaring pada waktu dioperasikan terutama pada waktu penarikan jaring. bagian ini langsung dihubungkan dengan tali temali. Serampatan dipasang pada bagian atas, bawah dan samping dengan bahan dan ukuran mata yang sama yakni PE 380 (12,#1 Inci1”) sebanyak 20,25 dan 20 mata.

Tali temali Komponen pembentuknya adalah: Tali pelampung (PE,Ǿ10 mm,) dengan panjang 420 m, Tali ris atas (PE,Ǿ 6 mm dan 8 mm) dengan panjang 420 m, Tali ris bawah (PE,Ǿ 6mm dan 8 mm), Tali pemberat (PE,ø 10 mm) dengan panjang 450 m, Tali kolor (kuralon PE,ø 26 mm) dengan panjang 500 m, tali slmbar (PE,ø27mm ) Dengan panjang bagian kanan 38 m dan kiri 15 m. Pelampung Ada dua pelampung dengan bahan yang sama yakni sintetic rubber (SR) pelampung Y-50 di pasng di pinggir kiri dan kanan 600 buah dan pelampung Y- 80 dipasang ditengah 400 buah.

Pelampung yang di pasang dibagian tengah lebih rapat dibandingkan dengan bagian yang pinggirnya. Pemberat Pemberat pada purse seine terbuat dari besi dengan diameter lubang 11,5 cm, digantungkan pada tali pemberat dengan seutas tali yang yang panjangnya satu meter dengan dengan jarak tiga meter setiap cincin. Kedalam cincin ini dilakukan tali kolor (purse line). Karakteristik Jaring Purse seine mempunyai karakteristik tersendiri karena setiap daerah bentuk purse seine mempunyai perbedaan dengan daerah lainnya.

Pada umumnya di indonesia menggunakan tipe muncar karena awalnya purseine berkembang didaerah muncar dengan pesat. Sedangkan untuk secara umumnya bentuk yang dan dimuncar mengikuti bentuk jaring untuk menangkap ikan purse seine tipe Amerika, Tetapi dalam tiap waktu bentuk purse tidak akan tetap tetapi selalu mengalami perubahan akibat hasil dari modifikasi yang dilakukan oleh nelayan setempat.

Perbedaan antar bentuk dari tipe jepang dengan tipe Amerika adalah dilihat dari tali kolor bawahnya kalu tipe Amerika mempunyai bentuk tali kolor yang lurus sedangkan pada tipe Jepang membentuk gelombang.

Adapun teknis dari konstruksi purse seine adalah : Keterangan : a. Jaring untuk menangkap ikan j. Tali kang b. Sayap k. Tali Pelampung c. Kantong bagian atas l. Tali penguat ris atas d. Kantong bagian bawah m. Tali ris atas e. Selvegde bagian bawah n. Tali ris bawah f. Selvegde bagian atas o. Tali Penguat ris bawah g.

Pelampung p. Tali Pemberat. h. Pemberat q. Tali kolor i. Cincin Bahan dan Spesifikasi Bahan yang digunakan dalam pembuatan purse seine dua kapal adalah: a) Tali temali - Tali Pelampung Tali pelampung ini terbuat dari Polyetheline, berdiameter 8mm, dengan bentuk pintalan S dan panjangnya 350 m.

Tali pelampung ini dipasang terpisah dari tli ris atas dan berfungsi untuk menempatkan pelampung sehingga tersususun teratur sesuai dengan jarak yang kita inginkan. - Tali ris atas Tali ris atas terbuat dari bahan polyetelene, berdiameter 8 mm, warna biru dengan panjang 350 m, serta mempunyai arah pintalan ke kiri (Z). Yang berfungsi untuk untuk menempatkan tali penggantung jaring agar jaring berada pada posisi yang tepat. - Tali Ris bawah Tali ris bawah ini terbuat dari bahan nilon, berdiameter 8 mm, berwarna biru, dengan arah pintalan kekiri (Z).

Tali ris bawah termasuk tali samping pada purse seine bersama-sama dengan tali pemberat menempatkan pemberat pada kedudukan yang tetap. - Tali penguat ris atas Tali ris atas ini berbahan dari nilon yang ber diameter 6 mm. Dengan rah pintalan kekanan (S). yang berfungsi untuk memperkuat tali ris atas. - Tali Pemberat Tali ini berbahan dari poly eteline, yang berdiameter 10 mm, berwarna biru yang masing masing panjangnya 80 cm, mempunyai bentuk kaki tunggal dan berfungsi untuk menggantung cincin pada tali ris bawah dan pemberat.

- Tali Kolor Yaitu tali yang masuk kedalam lubang tiap cincin. Tali ini berfungsi untuk mengumpulkan ring atau jaring bagian bawah pada waktu operasi setelah jaring selesai dilingkarkan. Bahan dari tali ini adalah polyetelene dengan panjang 370 m. - Tali selambar Terbuat dari bahan polyetelene berdiameter 10 mm, berwarna biru dengan arah pintalan kekanan dan mempunyai panjang 370 m. b) kaki Penguat Kaki penguat ini mengelilingi jaring utama yang bertujuan agar jaring utama tiada cepat rusak atau cepat robek pada saat dioperasikan.

Bahan selvedge lebih kaku dari bahan jaring utama seperti Polyetelene (PE). d) Pemberat Bahan Pemberat yang digunakan terbuat dari timah hitam, dengan panjang 5,5 cm.berdiameter 3 cm, dan memiliki berat 250 gram. Jarak antara pemberat tali ris adalah 25 cm. e) Pelampung Bahan yang digunakan adalah KS 100. Bentuk umumnya adalah ovalpanjangnya 12 cm,diameter 9 cm dengan berat sekitar 150 gram.

f) Cincin Cincin yang digunakan adalah dari bahan besi yang dilapisi denagan kuningan, berbentuk lingkaran dengan diameter 9,8 cm, dipasang dengan tali cincin sepanjang tali ris bawah. HASIL TANGKAPAN Dalam melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan Purse seine dua kapal hal yang penting untuk diperhitungkan adalah bagaimana menentukan tempat gerombolan ikan, yang selanjutnya dilakukan pelingkaran jaring dan siap untuk melakukan penangkapan.

Hasil Tangkapan ikan yang utama didapat jaring untuk menangkap ikan menggunakan purse seine berdasarkan Subani dan Barus (1986) bahwa untuk didaerah Pulau Jawa dan sekitarnya purse seine digunakan untuk menangkap jenis ikan: Layang (Decapterus spp), Bentong (Caranx sp), kembung (Lasteriger sp), Lemuru (Sardinella lemuru), tembang ((Sardinella fimbriata) dan ikan pelagis lainnya.

DAERAH PENANGKAPAN Tujuan utama dalam melakukan penangkapan adalah mendapatkan hasil tangkapan yang maksimal, penagkapan dengan menggunakan alat purse seine dengan dua kapal dilakukan dengan cara mengintari/ mengelilingi gerombolan ikan, Infomasi tentang gerombolan ikan sebelumnya harus mengetahui sifat /karakteristik dari ikan tersebut.

Data yang berhubungan erat antara lain adalah bentuk gerombolan ikan, kecepatan migrasi ikan, serta mengetahui waktu pemijahannya. Informasi tentang daerah tangkapan digunakan untuk menentukan bentuk dan ukuran jaring serta kekuatanya. Data kedalaman, keadaan dasar perairan, Temokilin, perubahan salinitas, arus dan kondisi cuaca perlu dipakai.

Kedalaman dan keadaan dasar merupakan faktor yang penting dalam menentukan kedalaman dan rancangan jaring untuk setiap areal penangkapan, bila tali pemberat jaring bisa meyentuh dasar perairan. Termoklin dan perubahan salinitas dapat merupakan faktor kendala bagi beberapa species ikan dan kedalaman juga merupakan faktor dalam menentukan kedalaman dan kecepatan tenggelam (sinking speed) jaring.

Dan yang penting bahwa ikan muncul dalam jumlah yang banyak ketika musim yang cocok pada ikan tiba, misalkan pada suatu daerah ikan lemuru akan muncul lebih dalam jumlah yang banyak pada waktu musim penghujan akan dimulai sehingga dalam melakukan penangkapan perlu memperhitungkan waktu/musim ikan bermigrasi ataupun memijah dan dapat memperhitungkan tempat yang cocok atau dalam melakukan oprasi penangkapan.

ALAT BANTU PENANGKAPAN Dalam penangkapan ikan dengan menggunakan purse seine agar lebih efisien dalam melakukan penangkapan maka diperlukan alat bantu dalam melakukan pengoperasian.

Purse seine dua kapal membutuhkan jenis kapal yang cukup besar karena operasi yang dilakukan purse seine dengan dua kapal berada pada daerah yang relatif lebih dalam. Adapun spesifikasi kapal yang digunakan dalam purse seine dua kapal adalah untuk tipe Madura (golekan): Kapal Jaring berukuran P x L x D = 11 x 2,7 x 1,5 m yang dilengkapi dengan motor luar (out board motor).

Perahu ini digunakan untuk menjaring dan memuat hasil tangkapan, Kapal Slerek ukuran P x L x D = 13 x 2,8 x 1,5 m yang dilengkapi dengan dua buah motor luar (out board two motor), perahu pelak atau tempat lampu yang berukuran P x L x D = 4 x 0,5 x 0,6 m yang biasanya dipergunakan untuk lampu petromaks atau lampu lainya yang mempunyai daya terang lebih baik agar ikan terkumpul disekitar lampu tersebut yang selanjutnya siap untuk melakukan penangkapan. Jumlah anak buah kapal yang dibutuhkan untuk kapal slerek dibutuhkan 13 -15 orang sedangkan untuk perahui jaring dibutuhkan sekitar 8 – 11 orang.

Alat bantu yang digunakan dalam penangkapan dengan Purse seine adalah: a) Roller : yaitu alat tempat lewatnya tali kolor/ purse line saat ditarik oleh kapal, bertujuan agar tali kolor tersebut tidak seberapa besar menerima gesekan dengan perahu. b) Sampan/Perahu kecil : berfungsi untuk tempat lampu dalam pengumpulan ikan c) Serok : berfungsi untuk mengambil atau menyerok ikan-ikan hasil tangkapan dari bagian jaring keatas perahu TEKNIK OPERASI Purse seine yang pada umumnya merupkan jaring lingkar atau yang sering disebut dengan jaring cincin sehingga pada proses penangkapannya pun dilakukan dengan melingkari gerombolan ikan.

Pada mulanya jaring dipasang dari bagian belakang kapal (buritan) dan ada juga jaring diletakkan pada samping kapal. Adapun urutan dalam teknik operasi penangkapan ikan dengan menggunakan jaring cincin atau purse seine dua kapal adalah : 1. Pertama-tama haruslah diketemukan gerombolan ikan terlebih dahulu, hal ini dapat dilakukan berdasarkan pengalaman-pengalaman seperti adanya perubahan warna permukaan air laut karena gerombolan ikan berenang dekat pada permukaan air, ikan-ikan yang melompat-lompat dipermukaan, terlihat riak-riak kecil karena gerombolan ikan berenang dekat dengan permukaan, buih-buih dipermukaan laut akibat udara-udara yang dikeluarkan ikan.

Hal–hal tersebut dilakukan biasanya terjadi pada dini hari sebelum matahari terbenam, disaat–saat geromolan ikan-ikan teraktif untuk naik kepermukaan laut. Tetapi dewasa ini dengan adanya alat bantu seper GPS yang dapat mengetahui posisi ikan atau tempat gerombolan ikan sehingga lokasi penangkapannyapun mudah ditentukan.

Sehingga waktu pemberangkatan kapal dapat dilakukan sewaktu waktu tidak terbatas pada siang hari atau malam hari tetapi sewaktu waktu. 2. Hal biasa yang dilakukan oleh nelayan daerah adalah pengoperasian pada waktu malam hari, mengumpulkan ikan atau menaikkan ikan kepermukaan laut dilakukan dengan menggunakan cahaya. Biasanya dengan Fish finder bisa diketahui depth dari gerombolan ikan, juga besar densitasnya.

Setelah posisi ini tertentu barulah lampu dinyalakan. Kuat cahaya (light intensity) yang digunakan berbeda–beda, tergantung pada besarnya kapal, kapasitas sumber cahaya, juga pada sifat phototaxisnya ikan yang menjadi tujuan penangkapan. 3. Setelah schooling fish ditemukan perlu diketahui pula swimming direction, swimming speed, density, hal ini dipertimbangkan lalu diperhitungkan pula pola arah, kekuatan, kecepatan angin dan arus sesudah hal-hal tersebut diperhitungkan barulah jaring dipasang jaring dipasang harus lebih cepat agar ikan tidak cepat lari atau lepas.

Dalam waktu melingkari gerombolan ikan, kapal dijalankan dengan cepat dengan tujuan agar gerombolan ikan segera dapat terkepung, setelah selesai mulailah purse line ditarik dengan demikian bagian bawah jaring akan tertutup untuk mencegah agar ikan tidak melarikan diri ke bawah, dapat dilakukan dengan pemberat ataupun dengan menggerak-gerakkan galah, memukul-mukul permukaan air, setelah purse line selesai ditarik, barulah float line serta tubuh jaring (wing) dirapatkan ke kapal, dan ikan ikan diserok kekapal.

HAL-HAL YANG MEMPENGARUHI TANGKAPAN Pengoperasian penangkapan ikan pasti akan mengalami suatu kendala baik yang bersifat teknis ataupun non teknis yang dapat mengurangi hasil tangkapan ikan. Hal- hal yang bersifat teknis antara lain adalah kurang baiknya nelayan dalam melakukan operasi sedangkan untuk hal non teknis antara lain adalah lepas ikan dan kecepatan kapal untuk melingkari gerombolan ikan.

Fridman mengatakan bahwa ikan dapat lolos dari jaring disebabkan karena: a. keluar melalui celah-celah diantara dua ujung jaring b. Kebawah melalui tali pemberat ketika jaring sedang di tebar c. kebawah melalui tali pemberat ketika tali kerut sedang ditarik. Jaring yang lebih panjang akan memerlukan waktu lebih banyak waktu, yaitu mulai dari menurunkan jaring sampai dengan menarik tali kerut sehingga memberi kesempatan lebih besar pada ikan untuk meloloskan diri melalui celah, tetapi bisa juga karena ikan merasa berdesak-desakan, mereka diam secara secara pasif didalamnya sampai jaring selesai dikerutkan.

Meloloskan diri melalui tali pemberat tidak banyak dipengaruhi panjang tetapi dapat menunjukkan bahwa kedalaman jaring tadi jaring untuk menangkap ikan rendah atau kecepatan tenggelam dari jaring kurang baik.

Penangkapan dikatakan berhasil dapat diketahui dicari hasil ikan yang didapat setelah menangkap gerombolan ikan. Tatap Muka 13 4. PAYANG Payang adalah “Pukat Kantong Lingkar” yang secara garis besar terdiri atas bagian kantong (bag/belly), badan/perut (body), dan kaki/sayap (leg/wing). Pada bagian bawah kaki/sayap dan mulut jaring diberi pemberat, sedang pada bagian atas pada jarak tertentu diberi pelampung.

Besar mata mulai bagian ujung kantong sampai ujung kaki berbeda-beda, bervariasi mulai dari 1 cm sampai ± 40 cm. Berbeda dengan jaring trawl dimana bagian bawah mulut jaring lebih menonjol ke belakang, maka payang justru bagian atas mulut jaring yang menonjol ke belakang.

Hal ini disebabkan karena payang tersebut umumnya digunakan untuk menangkap jenis-jenis ikan pelagis yang biasanya hidup di bagian lapisan atas air atau di kolom air dan mempunyai sifat cenderung lari ke lapisan bawah bila telah terkurung jaring. Prinsip operasi penangkapan ikan dengan payang adalah dengan melingkari suatu gerombolan ikan dengan jaring. Mempunyai sayap yang panjang yang fungsinya untuk menakut-nakuti (frightening) gerombolan ikan agar lari ke bagian tengah jaring.

Bagian badan jaring hanya berfungsi sebagai penghalang pergerakan ikan. Payang merupakan alat tangkap jaring tradisional di Indonesia. penggunaan alat tangkap ini oleh nelayan skala kecil sudah dilakukan jauh sebelum Indonesia merdeka. Tak heran bahwa alat tangkap ini ada di hampir seluruh daerah pantai yang dihuni oleh nelayan tradisional.

Sasaran akhir yang dituju dalam studi payang adalah pengungkapan dan pemahaman jaring untuk menangkap ikan salah satu alat tangkap yang terbuat dari jaring. Ini adalah landasan dasar dari upaya optimalisasi penguasaan materi tentang metode penangkapan ikan.

Payang adalah alat tangkap yang terbuat dari beberapa helai jaring yang digabung menjadi satu. Terdiri dari sayap (wing), badan (body), dan kantong (bag). Mempunyai lebar mata jaring yang sangat bervariasi. Bagian sayap yang berfungsi untuk menakut-nakuti ikan mempunyai mesh size yang paling besar, yaitu sekitar 20 cm.

Sedangkan bagian badan mempunyai mesh size yang bervariasi mulai dari mesh size besar di ujung dekat bagian sayap sampai mesh size kecil di dekat bagian kantong.

Adapun bagian kantong mempunyai mesh size yang paling kecil yaitu 2 cm dan 1 cm. Payang adalah termasuk alat penangkap ikan yang sudah lama dikenal nelayan Indonesia. Munculnya Payang mungkin bersamaan atau jauh sebelumnya dengan berdirinya organisasi-organisasi “Perkumpulan Penangkapan Ikan Laut“ di pantai utara Jawa, seperti: Misoyo Mino (1912) di Tegal, Soyo Sari (1916) di Brebes, Upoyo Mino (1916) di Batang, Mino Soyo (1918) di Pekalongan, Soyo Sumitro (1918) di Indramayu, dan masih banyak lagi perkumpulan-perkumpulan perikanan lain yang tumbuh sekitar tahun 1920-1930an.

Selama kurun waktu tahun 1920 hingga sekarang, alat tangkap Payang telah mengalami perkembangan hingga menjadi Payang yang kita kenal sekarang ini. Di Sendang Biru, Payang jaring untuk menangkap ikan dikenal sekitar tahun 1974. Alat tangkap ini diperkenalkan oleh nelayan-nelayan andon dari Puger. Mereka beroperasi disekitar perairan Sendang Biru, dan kemudian menjual ikan hasil tangkapannya di daerah tersebut. Karena hasil tangkap Payang ini rata-rata lebih banyak, nelayan Sendang Biru tertarik untuk menggunakannya.

Payang adalah termasuk alat penangkap ikan yang sudah lama dikenal nelayan Indonesia. Munculnya Payang mungkin bersamaan atau jauh sebelumnya dengan berdirinya organisasi-organisasi “Perkumpulan Penangkapan Ikan Laut“ di pantai utara Jawa, seperti: Misoyo Mino (1912) di Tegal, Soyo Sari (1916) di Brebes, Upoyo Mino (1916) di Batang, Mino Soyo (1918) di Pekalongan, Soyo Sumitro (1918) di Indramayu, dan masih banyak lagi perkumpulan-perkumpulan perikanan lain yang tumbuh sekitar tahun 1920-1930an.

Selama kurun waktu tahun 1920 hingga sekarang, alat tangkap Payang telah mengalami perkembangan hingga menjadi Payang yang kita kenal sekarang ini. Di Sendang Biru, Payang mulai dikenal sekitar tahun 1974. Alat tangkap ini diperkenalkan oleh nelayan-nelayan andon dari Puger. Mereka beroperasi disekitar perairan Sendang Biru, dan kemudian menjual ikan hasil tangkapannya di daerah tersebut. Karena hasil tangkap Payang ini rata-rata lebih banyak, nelayan Sendang Biru tertarik untuk menggunakannya.

entingnya pukat cincin dalam rangka usaha penangkapan sudah tidak perlu diragukan untuk pukat cincin besar daerah penangkapannya sudah menjangkau tempat-tempat yang jauh yang kadang melakukan penangkapan mulai laut Jawa sampai selat Malaka dalam 1 trip penangkapan lamanya 30-40 hari diperlukan berkisar antara 23-40 orang. Untuk operasi penangkapannya biasanya menggunakan “rumpon”. Sasaran penangkapan terutama jenis-jenis ikan pelagik kecil (kembung, layang, selat, bentong, dan lain-lain).

Prospektif Alat Tangkap Payang termasuk alat tangkap yang produktifitasnya tinggi dan dikenal hampir di seluruh daerah perikanan laut di Indonesia. Meskipun termasuk alat tangkap tradisional, keberadaannya untuk perikanan laut di Indonesia sampai saat ini tetap dianggap penting baik dilihat dari produktifitasnya maupun penyerapan tenaga kerja. Hal ini terlihat dalam statistik perikanan (1986) dimana payang tercatat 14.617 unit, sedangkan Pukat Cincin yang dianggap produktif jumlahnya hanya 5.762 unit.

Jumlah seluruh alat penangkap ikan laut Indonesia tercatat 425.845 unit (1986).

jaring untuk menangkap ikan

Konstruksi Alat Tangkap 1. Konstruksi Umum Konstruksi Alat Tangkap Payang Keterangan: - 1 : Kantong - 2 : Kantong - 3 : Badan - 4 : Badan - 5 : Badan - 6 : Badan - 7 : Badan - 8 : Sayap ada 3 bagian dari ujung badan - 9,10 : Selambar - 11,12,13,14,15 : Pelampung bola - 16 : Tali ris atas - 17 : Tali ris bawah - 18 : Pemberat 2.

Detail Konstruksi Keterangan : A. Kantong B. Perut C. Kaki / Sayap i. Kantong, bahan dari karuna ii. Ranggamanis, # 1 cm, 700 mata iii. Rang tetik, # 1,5 cm, 700 mata iv. Rang petak, # 2 cm, 700 mata v. Rang bagat, # 7,5 cm, 700 mata vi. Rang halam, # 4,5 cm, 700 mata vii. Rang alet, # 6,5 cm, 600 mata viii. Empat nyare, # 7,5 cm, 500 mata ix.

Klobang, # 8,5 cm, 500 mata x. Sulam, # jaring untuk menangkap ikan cm, 400 mata xi. Dasar: - dasar, # 13 cm, 300 mata - dasar, # 18 cm, 300 mata 3. Karakteristik Alat tangkap payang berupa “Pukat kantong lingkar” yang secara garis besar terdiri jaring untuk menangkap ikan bagian kantong ( bag ), badan / perut ( body or belly ) dan kaki / sayap (leg/wing). Namun ada juga pendapat yang hanya membagi bagian Payang menjadi dua bagian, yaitu bagian kantong dan kaki. Bagian kantong umumnya terdiri dari bagian-bagian kecil yang tiap bagian mempunyai nama sendiri-sendiri, sesuai dengan kebiasaan di daerahnya masing-masing.

Besar mata jaring dari ujung kantong sampai ujung kaki berbeda-beda, bervariasi mulai dari 1 cm sampai kurang lebih 40 cm. Sesuai dengan fungsinya, yaitu untuk menangkap ikan pelagis yang bergerombol yang nampak diatas perairan, baik yang tidak menggunakan alat Bantu pengumpul ikan maupun yang menggunakan alat Bantu pengumpul ikan berupa jaring untuk menangkap ikan ataupun rumpon, maka bagian bawah mulut jaring lebih menonjol ke depan, sehingga dapat menghadang ikan yang melarikan diri ke bawah.

Agar gerombolan ikan dapat masuk ke dalam kantong, maka mulut jaring harus dapat membuka dengan baik mulai dari permukaan perairan sampai kedalaman tertentu, sehingga ikan-ikan yang berada dalam area lingkaran tidak dapat meloloskan diri melebihi kedalaman mulut jaring bagian bawah. Membukanya mulut jaring disebabkan oleh adanya dua buah gaya yang berlawanan, yaitu gaya apung dari pelampung yang terdapat pada tali ris dan gaya berat ( tenggelam ) dari pemberat yang terdapat pada tali ris bawah.

Untuk menghadang gerombolan ikan yang terdapat pada area lingkaran agar masuk ke dalam kantong maka digunakan dua buah sayap. 4. Gambar Teknis 5. Bahan dan Spesifikasinya Alat tangkap Payang terbuat dari berbagai bahan, jaring berbahan PVC ( Polyvinileclorine ), pelampungnya adalah plastik berbentuk bola dan pemberatnya adalah batu.

A. Bagian Kantong - Panjang : 5-6 meter - Mesh size : 0,3-0,6 cm - Bahan : PVC ( Polyvinileclorine ) - Warna : Hijau B. Bagian Badan - Panjang : 25 meter - Mesh size : 1,6-8 cm - Bahan : PE (Polyethilene) - Warna : Coklat C.

Bagian Sayap - Panjang : 90 meter - Mesh size : 10-30 cm - Bahan : PE (Polyethilene) - Nomor benang : 400 D/15 D. Pelampung - Berat : 2 ons - Diameter : 15 cm - Bahan : Plastik berbentuk bola - Jumlah : 12 buah per sayap - Jarak antar pelampung : 1,5 meter E. Pemberat - Bahan : Batu - Berat : 2 kg - Jumlah : 10 buah per sayap - Jarak antar pemberat : 8 meter Hasil Tangkap Hasil tangkap dari jaring Payang adalah ikan-ikan permukaan.

Terutama ikan-ikan pelagis kecil, yaitu ikan Jaring untuk menangkap ikan, Selar, Kembung, Lemuru, Tembang, Japuh, dan lain-lain. Hasil tangkapan Payang untuk tahun 1986 berjumlah 152.782 ton, sedang produksi perikanan laut secara nasional sebanyak 1.922.781 ton (1986).

Daerah Penangkapan Daerah penangkapan ikan di Indonesia hampir seluruhnya merupakan daerah operasi jaring Payang.

Namun yang paling banyak dipakai di pantai utara Jawa, termasuk Madura, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Payang dikenal di seluruh daerah perikanan laut Indonesia dengan nama yang berbeda-beda, antara lain : Payang (Jakarta, Tegal, Pekalongan, Batang, dan daerah lain di pantai utara Jawa), Payang Uras (Selat Bali dan sekitarnya), Payang Ronggeng (Bali utara), Payang Gerut (Bawean), Payang Puger (Puger), Payang Jabur (Padelengan/Madura, Lampung), Pukat Nike (Gorontalo), Pukat Banting Aceh (Sumatera Utara, Aceh), Pukat Tengah (Sumatera Barat), Jala Lompo (Kalimantan Tomur, Sulawesi Selatan), Panja/Pajala Muna, Buton, Luwuk, Banggan),dan lain-lain.

Alat Bantu Penangkapan Pengoperasian alat tangkap Payang dapat menggunakan alat Bantu berupa lampu petromaks yang digunakan pada malam hari dan alat Bantu rumpon untuk pengumpul ikan. Pada malam hari penggunaan lampu petromaks dapat menarik ikan supaya menggerombol disekitar lampu sehingga alat tangkap payang dapat digunakan secara efisien. Begitu juga dengan rumpon yang banyak digunakan oleh nelaya-nelayan Indonesia.

Penggunaan rumpon sebagai alat Bantu penangkapan dengan payang meliputi 95 persen lebih. Teknik Operasi Penangkapan dengan Payang dapat dilakukan demgan kapal layar maupun dengan kapal motor, tapi pada masa sekarang pada umumnya menggunakan kapal bermotor. Penggunaan tenaga berkisar antara 6 orang untuk Payang berukuran kecil, dan 16 orang untuk Payang berukuran besar. Prinsip pengoperasian alat tangkap Payang adalah melingkari gerombolan ikan. Pada saat terdapat gerombolan ikan yang terlihat, kapal mendekati gerombolan ikan tersebut lalu menurunkan jaring pada jarak dan waktu yang tepat sehingga pada waktu jaring melewati gerombolan ikan, jaring dapat membuka dengan maksimal sehingga kemungkinan ikan untuk lolos kecil.

Pada saat setelah jaring diturunkan, tali selambar / tali hela ditarik sehingga jaring tertarik kearah gerombolan ikan. Hal-hal yang Mempengaruhi Hasil Penangkapan Hasil penangkapan dengan Payang dapat dipengaruhi oleh kecepatan membukanya jaring, timing pelepasan jaring, dan kondisi / keadaan laut pada saat pelepasan jaring.

Jaring Payang harus dapat membuka dengan cepat agar ikan tidak mempunyai kesempatan untuk lolos. Waktu membukanya jaring secara maksimal juga harus tepat pada saat jaring dekat dengan gerombolan ikan, jika terlalu lambat jaring belum membuka maksimal pada saat melewati gerombolan ikan dan jika terlalu cepat, jaring akan butuh waktu lebih lama untuk sampai pada gerombolan ikan, hal ini akan menyebabkan ikan dapat lebih mudah untuk lolos.

Kondisi alam seringkali berubah-ubah, terutama di lautan yang sering berubah dalam waktu yang relatif singkat. Pada waktu pengoperasian Payang, keadaan ombak, arah dan kecepatan arus air laut, angin, hujan dan bulan sangat berpengaruh terhadap keberadaan ikan, jauh-dekatnya ikan dari permukaan dan teknis pengoperasian jaring. Hal lain yang mempengaruhi hasil penangkapan adalah keberuntungan/ nasib nelayan.

Pada suatu saat hasil penangkapan nelayan bisa melimpah dan mendapatkan banyak ikan, namun pada saat yang lain para nelayan tidak mendapat hasil tangkapan. Tatap Muka 14 5.TRAWL “trawl“ berasal dari bahasa prancis “troler“ dari kata “trailing“ adalah dalam bahasa inggris, mempunyai arti yang bersamaan, dapat diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan kata “tarik“ ataupun “mengelilingi seraya menarik“.

Ada yang menterjemahkan “trawl” dengan “jaring tarik”, tapi karena hampir semua jaring dalam operasinya mengalami perlakuan tarik ataupun ditarik, maka selama belum ada ketentuan resmi mengenai peristilahan dari yang berwenang maka digunakan kata ”trawl” saja.

Dari kata “trawl” lahir kata “trawling” yang berarti kerja melakukan operasi penangkapan ikan dengan trawl, dan kata “trawler” yang berarti kapal yang melakukan trawling.

Jadi yang dimaksud dengan jaring trawl (trawl net) disini adalah suatu jaring kantong yang ditarik di belakang kapal (baca : kapal dalam keadaan berjalan) menelusuri permukaan dasar perairan untuk menangkap ikan, udang dan jaring untuk menangkap ikan demersal lainnya. Jaring ini juga ada yang menyangkut sebagai “jaring tarik dasar”.Stern trawl adalah otter trawl yang cara operasionalnya (penurunan dan pengangkatan) jaring dilakukan dari bagian belakang (buritan) kapal atau kurang lebih demikian.

Penangkapan dengan system stern trawl dapat menggunakan baik satu jaring atau lebih. Sejarah Alat Tangkap Jaring trawl yang selanjutnya disingkat dengan “trawl” telah mengalami perkembangan pesat di Indonesia sejak awal pelita I. Trawl sebenarnya sudah lama dikenal di Indonesia sejak sebelum Perang Dunia II walaupun masih dalam bentuk (tingkat) percobaan.

Percobaan-percobaan tersebut sempat terhenti akibat pecah Perang Dunia II dan baru dilanjutkan sesudah tahun 50-an (periode setelah proklamasi kemerdekaan). Penggunaan jaring trawl dalam tingkat percobaan ini semula dipelopori oleh Yayasan Perikanan Laut, suatu unit pelaksana kerja dibawah naungan Jawatan Perikanan Pusat waktu itu.

Percobaan ini semula dilakukan oleh YPL Makassar (1952), kemudian dilanjutkan oleh YPL Surabaya. Menurut sejarahnya asal mula trawl adalah dari laut tengah dan pada abad ke 16 dimasukkan ke Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, dan negara Eropa lainnya. Bentuk trawl waktu itu bukanlah seperti bentuk trawl yang dipakai sekarang yang mana sesuai dengan perkembangannya telah banyak mengalami perubahan-perubahan, tapi semacam trawl yang dalam bahasa Belanda disebut schrol net.

Prospektif Alat Tangkap Perkembangan teknologi menyebabkan kemajuan-kemajuan pada main gear, auxillary gear dan equipment lainnya. Pendeteksian letak jaring dalam air sehubungan depth swimming layer pada ikan, horizontal opening dan vertical opening dari mulut jaring, estimate catch yang berada pada cod end sehubungan dengan pertambahan beban tarik pada winch, sudut tali kekang pada otter board sehubungan dengan attack angel, perbandingan panjang dan lebar dari otter board, dan lain-lain perlengkapan.

Demikian pula fishing ability dari beberapa trawler yang beroperasi jaring untuk menangkap ikan perbagai perairan di tanah air, double ring shrimp trawler yang beroperasi di perairan kalimantan, irian jaya dan lain-lain sebagainya. Perhitungan recources sehubungan dengan fishing intensity yang akan menyangkut perhitungan-perhitungan yang rumit, konon kabarnya sudah mulai dipikirkan. Semakin banyak segi pandangan, diharapkan perikanan trawl akan sampai pada sesuatu bentuk yang diharapkan.

Karakteristik Berdasarkan letak penarikan jaring yang dilakukan di kapal kita mengenal adanya stern trawl, dimana jaring ditarik dari buritan (dalam segi operasionalnya). Dimana banyak kapal trawl yang menggunakan cara ini, adapun karakteristik dari stern trawl ini antara lain:  Stern trawl tidak seberapa dipengaruhi oleh angin dan gelombang dalam pelepasan jaring, tidak memerlukan memutar letak kapal  Warp berada lurus pada garis haluan buritan sehingga tenaga trawl winch dapat menghasilkan daya guna maksimal sehingga pekerjaan melepas/ menarik dari jaring memerlukan waktu yang lebih sedikit, yang berarti waktu untuk jaring berada dalam air (operasi) lebih banyak  Trawl winch pada stern trawl terpelihara dari pengaruh angin dan gelombang, dengan demikian dalam cuaca buruk sekalipun operasi masih dapat dilakukan dengan mudah  Pada stern trawl akibat dari screw current jaring akan segera hanyut, demikian pula otter boat segera setelah dilepas akan terus membuka  Karena letak akan searah dengan garis haluan-buritan, maka di daerah fishing ground yang sempit sekalipun operasi masih mungkin dilakukan, dengan perkataan lain posisi jaring sehubungan dengan gerakan kapal lebih mudah diduga  Pada stern trawl, pada waktu hauling ikan-ikan yang berada pada cod end tidak menjadikan beban bagi seluruh jaring, karena cod end tersendiri ditarik melalui slip way, dengan demikian jaring dapat terpelihara.

Hasil Tangkapan Yang menjadi tujuan penangkapan pada bottom trawl adalah ikan-ikan dasar (bottom fish) ataupun demersal fish. Termasuk juga jenis-jenis udang (shrimp trawl, double ring shrimp trawl) dan juga jenis-jenis kerang. Dikatakan untuk periran laut jawa, komposisi catch antara lain terdiri dari jenis ikan patek, kuniran, pe, manyung, utik, ngangas, bawal, tigawaja, gulamah, kerong-kerong, patik, sumbal, layur, remang, kembung, cumi,kepiting, rajungan, cucut dan lain sebagainya.

Catch yang dominan untuk sesuatu fish ground akan mempengaruhi skala usaha, yang kelanjutannya akan juga menentukan besar kapal dan gear yang akan dioperasikan.

Daerah Penangkapan Didalam alat tangkap trawl yang memiliki syarat-syarat fishing ground, antara lain sebagai berikut: • Dasar fishing ground terdiri dari pasir, lumpur ataupun campuran pasir dan Lumpur. • Kecepatan arus pada mid water tidak besar (dibawah 3 knot) juga kecepatan arus pasang tidak seberapa besar • Kondisi cuaca, laut, (arus, topan, gelombang, dan lain-lain) memungkinkan keamanan operasi • Perubahan kondisi oceanografi terhadap mahluk dasar laut relatif kecil dengan perkataan jaring untuk menangkap ikan kontinyuitas recources dijamin untuk diusahakan terus-menerus • Perairan mempunyai daya produktifitas yang besar serta recources yang melimpah.

Alat Bantu Penangkapan Pada umumnya kapal-kapal trawl ini digerakkan oleh diesel ataupun steam. Kapal dilengkapi dengan trawl winch, sebagai tenaga penggerak ada yang menggunakan steam engine ( 45-75 HP ) bagi stream trawl dan ada pula yang memakai motor dari 60-90 HP bagi diesel trawl.

Winch ini dihubungkan dengan warp, dan untuk mengontrol panjang warp dipasang brake. Jaring untuk menangkap ikan jaring yang dipakai berbeda-beda, dan untuk menyatakan besar jaring dipakai penunjuk “panjang dari head rope“ yang biasanya dengan satuan feet atau meter. Teknik Operasional ( Shooting & Hauling ) (1) kecepatan/lama waktu menarik jaring Adalah ideal jika jaring dapat ditarik dengan kecepatan yang besar, tapi hal ini sukar untuk mencapainya, karena kita dihadapkan pada beberapa hal, antara lain keadaan terbukanya mulut jaring, apakah jaring berada di air sesuai dengan yang dimaksudkan (bentuk terbukanya), kekuatan kapal untuk menarik (HP), ketahanan air terhadap tahanan air, resistance yang makin membesar sehubungan dengan catch yang makin bertambah, dan lain sebagainya.

Faktor-faktor ini berhubungan antara satu dengan yang lainnya dan masing-masing menghendaki syarat tersendiri. Pada umumnya jaring ditarik dengan kecepatan 3-4 knot.

Kecepatan inipun berhubungan pula dengan swimming speed dari ikan, keadaan dasar laut, arus, angin, gelombang dan lain sebagainya, yang setelah mempertimbangkan faktor-faktor ini, kecepatan tarik ditentukan. Lama waktu penarikan didasarkan kepada pengalaman-pengalaman dan factor yang perlu diperhatikan adalah banyak sedikitnya ikan yang diduga akan tertangkap., pekerjaan di dek, jam kerja crew, dan lain sebagainya. Pada umumnya berkisar sekitar 3-4 jam, dan kadangkala hanya memerlukan waktu 1-2 jam.

(2) panjang warp Factor yang perlu diperhatikan adalah depth, sifat dasar perairan (pasir, Lumpur), kecepatan tarik. Biasanya panjang warp sekitar 3-4 kali depth. Pada fishing ground yang depthnya sekitar 9M (depth minimum). Panjang warp sekitar 6-7 kali depth. Jika dasar laut adalah Lumpur, dikuatirkan jaring akan mengeruk lumpu, maka ada baiknya jika warp diperpendek, sebaliknya bagi dasar laut yang terdiri dari pasir keras (kerikil), adalah baik jika warp diperpanjang. Pengalaman menunjukkan bahwa pada depth yang sama dari sesuatu Fishing ground adalah lebih baik jika kita menggunakan warp yang agak panjang, daripada menggunakan warp yang terlalu pendek.

Hal ini dapat dipikirkan sebagai berikut; bentuk warp pada saat penarikan tidaklah akan lurus, tetapi merupakan suatu garis caternian. Pada setiap titik –titik pada warp akan bekerja gaya- gaya berat pada warp itu sendiri, gaya resistance dari air, gaya tarik dari kapal/ winch, gaya ke samping dari otter boat dan gaya-gaya lainnya.

Resultan dari seluruh gaya yang complicated ini ditularkan ke jaring (head rope and ground rope), dan dari sini gaya-gaya ini mengenai seluruh tubuh jaring.

Pada head rope bekerja gaya resistance dari bottom yang berubah-ubah, gaya berat dari catch yang berubah-ubah semakin membesar, dan gaya lain sebagainya. Gaya tarik kapal bergerak pada warp, beban kerja yang diterima kapal kadangkala menyebabkan gerak kapal yang tidak stabil, demikian pula kapal sendiri terkena oleh gaya-gaya luar (arus, angin, gelombang). Kita mengharapkan agar mulut jaring terbuka maksimal, bergerak horizontal pada dasar ataupun pada suatu depth tertentu.

Gaya tarik yang berubah-ubah, resistance yang berubah-ubah dan lain sebagainya, menyebabkan jaring naik turun ataupun bergerak ke kanan dan kekiri. Rentan yang diakibatkannya haruslah selalu berimbang. Warp terlalu pendek, pada kecepatan lebih besar dari batas tertentu akan menyebabkan jaring bergerak naik ke atas (tidak mencapai dasar), warp terlalu panjang dengan kecepatan dibawah batas tertentu akan menyebabkan jaring mengeruk lumpur. Daya tarik kapal (HP dari winch) diketahui terbatas, oleh sebab itulah diperoleh suatu range dari nilai beban yang optimal.

Apa yang terjadi pada saat operasi penarikan, pada hakikatnya adalah merupakan sesuatu keseimbangan dari gaya-gaya yang complicated jika dihitung satu demi satu. Hal Yang Mempengaruhi Kegagalan Tangkapan Pada saat operasi, dapat terjadi hal-hal yang dapat menggagalkan operasi antara lain:  Warp terlalu panjang atau speed terlalu lambat atau juga hal lain maka jaring akan mengeruk lumpur  Jaring tersangkut pada karang / bangkai kapal  Jaring atau tali temali tergulung pada screw  Warp putus  Otterboat tidak jaring untuk menangkap ikan dengan baik, misalnya terbenam pada lumpur pada waktu permulaan penarikan dilakukan  Hilang keseimbangan, misalnya otterboat yang sepihak bergerak ke arah pihak yang lainnya lalu tergulung ke jaring  Ubur-ubur, kerang-kerangan dan lain-lain penuh masuk ke dalam jaring, hingga cod end tak mungkin diisi ikan lagi.

 Dan lain sebagainnya. Tatap Muka 15 CANTRANG Definisi Alat Tangkap Cantrang George et al, (1953) dalam Subani dan Barus (1989). Alat tangkap cantrang dalam pengertian umum digolongkan pada kelompok Danish Seine yang terdapat di Eropa dan beberapa di Amerika. Dilihat dari bentuknya alat tangkap tersebut menyerupai payang tetapi ukurannya lebih kecil. Cantrang merupakan alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan demersal yang dilengkapi dua tali penarik yang cukup panjang yang dikaitkan pada ujung sayap jaring.

Bagian utama dari alat tangkap ini terdiri dari kantong, badan, sayap atau kaki, mulut jaring untuk menangkap ikan, tali penarik (warp), pelampung dam pemberat.

Sejarah Alat tangkap Cantrang Danish seine merupakan salah satu jenis alat tangkap dengan metode penangkapannya tanpa menggunakan otterboards, jaring dapat ditarik menyusuri dasar laut dengan menggunakan satu kapal.

Pada saat penarikan kapal dapat ditambat (Anchor Seining) atau tanpa ditambat (Fly Dragging). Pada anchor seining, para awak kapal akan merasa lebih nyaman pada waktu bekerja di dek dibandingkan Fly dragging. Kelebihan fly dragging adalah alat ini akan memerlukan sedikit waktu untuk pindah ke fishing ground lain dibandingkan Anchor jaring untuk menangkap ikan (Dickson, 1959). Setelah perang dunia pertama, anchor seining dipakai nelayan Inggris yang sebelumnya menggunakan alat tangkap Trawl. Dari tahun 1930 para nelayan Skotlandia dengan kapal yang berkekuatan lebih besar dan lebih berpengalaman jaring untuk menangkap ikan waktu dan masalah pada anchor seining pada setiap penarikan alat dengan mengembangkan modifikasi operasi dengan istilah Fly Dragging atau Scotish Seining.

Pada Fly Dragging kapal tetap berjalan selagi penarikan jaring dilakukan. Dilihat dari bentuknya alat tangkap cantrang menterupai payang tetapi ukurannya lebih kecil. Dilihat dari fungsi dan hasil tangkapannya cantrang menyerupai trawl, yaitu untuk menangkap sumberdaya perikanan demersal terutama ikan dan udang. Dibanding trawl, cantrang mempunyai bentuk yang lebih sederhana dan pada waktu penankapannya hanya menggunakan perahu motor ukuran kecil. Ditinjau dari keaktifan alat yang hampir sama dengan trawl maka cantrang adalah alat tangkap yang lebih memungkinkan untuk menggantikan trawl sebagai sarana untuk memanfaatkan jaring untuk menangkap ikan perikanan demersal.

Di Indonesia cantrang banyak digunakan oleh nelayan pantai utara Jawa Timur dan Jawa Tengah terutama bagian utara (Subani dan Barus, 1989) Prospektif Alat Tangkap Cantrang Setelah dikeluarkannya KEPRES tentang pelarangan penggunaan alat tangkap Trawl di Indonesia tahun 1980, maka cantrang banyak dipilih nelayan untuk menangkap ikan demersal, karena dilihat dari fungsi dan hasil tangkapannya cantrang ini hampir memiliki kesamaan dengan jaring trawl.

Konstruksi Alat Tangkap Cantrang 2. Konstruksi Umum Dari segi bentuk (konstruksi) cantrang ini terdiri dari bagian-bagian : a) Kantong (Cod End) Kantong merupakan bagaian dari jaring yang merupakan tempat terkumpulnya hasil tangkapan. Pada ujung kantong diikat dengan tali untuk menjaga agar hasil tangkapan tidak mudah lolos (terlepas). b) Badan (Body) Merupakan bagian terbesar dari jaring, terletak antara sayap dan kantong.

Bagian ini berfungsi untuk menghubungkan bagian sayap dan kantong untuk menampung jenis ikan-ikan dasar dan udang sebelum masuk ke dalam kantong. Badan tediri atas bagian-bagian kecil yang ukuran mata jaringnya berbeda-beda. c) Sayap (Wing) Sayap atau kaki adalah bagian jaring yang merupakan sambungan atau perpanjangan badan sampai tali salambar.

Fungsi sayap adalah untuk menghadang dan mengarahkan ikan supaya masuk ke dalam kantong. d) Mulut (Mouth) Alat cantrang memiliki bibir atas dan bibir bawah yang berkedudukan sama. Pada mulut jaring terdapat: 1) Pelampung (float): tujuan umum penggunan pelampung adalah untuk memberikan daya apung pada alat tangkap cantrang yang dipasang pada bagian tali ris atas (bibir atas jaring) sehingga mulut jaring dapat terbuka.

2) Pemberat (Sinker): dipasang pada tali ris bagian bawah dengan tujuan agar bagian-bagian yang dipasangi pemberat ini cepat tenggelam dan tetap berada pada posisinya (dasar perairan) walaupun mendapat pengaruh dari arus. 3) Tali Ris Atas (Head Rope) : berfungsi sebagai tempat mengikatkan bagian sayap jaring, badan jaring (bagian bibir atas) dan pelampung.

4) Tali Ris Bawah (Ground Rope) : berfungsi sebagai tempat mengikatkan bagian sayap jaring, bagian badan jaring (bagian bibir bawah) jaring dan pemberat. e) Tali Penarik (Warp) Berfungsi untuk menarik jaring selama di operasikan.

3. Detail Konstruksi 1. Umbal dari bambu (panjang 1,2 m, Ø 14 cm); 2. Antang dari bambu (panjang 0,8, Ø 10 cm); 4. Kolo dari bambu (panjang 0,6, Ø 8 cm); 5. Pemberat jaring untuk menangkap ikan batu/timah (berat 0,4 kg). Tali-temali dan lain-lain : a. Penganjuran dari ijuk, panjang 150 m, Ø 1,4 cm b. Kelatan dari ijuk, panjang 300 m (lebih kecil dari kelatan) c.

jaring untuk menangkap ikan

Ris atas (headrope) d. Ris bawah (footrope) e. Cakak bawah f. Cakak atas Karakteristik Menurut George et al, (1953) jaring untuk menangkap ikan Subani dan Barus (1989). Dilihat dari bentuknya alat tangkap cantrang menyerupai payang tetapi ukurannya lebih kecil. Dilihat dari fungsi dan hasil tangkapan cantrang menyerupai trawl yaitu untuk menangkap sumberdaya perikanan demersal terutama ikan dan udang, tetapi bentuknya lebih sederhana dan pada waktu penangkapannya hanya menggunakan perahu layar atau kapal motor kecil sampai sedang.

Kemudian bagian bibir atas dan bibir bawah pada Cantrang berukuran sama panjang atau kurang lebih demikian. Panjang jaring mulai dari ujung belakang kantong sampai ujung kaki sekitar 8-12 m. 4. Gambar Teknis D F 1 2 3 4 5 6 E 7 8 9 A B C Keterangan: Bagian Bahan Jaring untuk menangkap ikan size A. Kantong Polyethylene 2 cm B. Badan 1. Pejasan 2. Sontek 3. Setonjuk 4. Sampok 5. Kelobung 6.

Cangkeman Polyethylene Polyethylene Polyethylene Polyethylene Polyethylene Polyethylene 2,5 cm 3 cm 3 cm 4 cm 5 cm 6 cm C. Sayap 7 8 9 Polyethylene Polyethylene Polyethylene 7 cm 8 cm 8 cm D. Bibir Bawah E. Bibir Atas F. Tali Selambar Kuralon Ø tali 1 inchi G. Pelampung Tanda Bola 5. Bahan Dan Spesifikasinya a. Kantong Bahan terbuat dari polyethylene. Ukuran mata jaring pada bagian kantong 1 inchi. b. Badan Terbuat dari polyethylene dan ukuran mata jaring minimum 1,5 inchi.

c. Sayap Sayap terbuat dari polyethylene dengan ukuran mata jaring sebesar 5 inchi. d. Pemberat Bahan pemberat terbuat dari timah atau bahan lain.

e. Tali ris atas Terbuat dari tali dengan bahan polyethylene. f. Tali ris bawah Terbuat dari tali dengan bahan polyethylene. g.

jaring untuk menangkap ikan

Tali penarik Terbuat dari tali dengan bahan polyethylene dengan diameter 1 inchi. Hasil Tangkapan Hasil tangkapan dengan jaring Cantrang pada dasarnya yang tertangkap adalah jenis ikan dasar (demersal) dan udand seperti ikan petek, biji nangka, gulamah, kerapu, sebelah, pari, cucut, gurita, bloso dan macam-macam udang (Subani dan Barus, 1989). Daerah Penangkapan Langkah awal dalam pengoperasian alat tangkap ini adalah mencari daerah penangkapan (Fishing Ground). Menurut Damanhuri (1980), suatau perairan dikatakan sebagai daerah penangkapan ikan yang baik apabila memenuhi persyaratan dibawah ini: 1.

Di daerah tersebut terdapat ikan yang melimpah sepanjang tahun. 2. Alat tangkap dapat dioperasikan dengan mudah dan sempurna. 3. Lokasi tidak jauh dari pelabuhan sehingga mudah dijangkau oleh perahu. 4. Keadaan daerahnya aman, tidak biasa dilalui angin kencang dan bukan daerah badai yang membahayakan. Penentuan daerah penangkapan dengan alat tangkap Cantrang hampir sama dengan Bottom Trawl. Menurut Ayodhyoa (1975), syarat-syarat Fishing Ground bagi bottom trawl antara lain adalah sebagai berikut:  Karena jaring ditarik pada dasar laut, maka perlu jika dasar laut tersebut terdiri dari pasir ataupun Lumpur, tidak berbatu karang, tidak terdapat benda-benda yang mungkin akan menyangkut ketika jaring ditarik, misalnya kapal yang tenggelam, bekas-bekas tiang dan sebagainya.

 Dasar perairan mendatar, tidak terdapat perbedaan depth yang sangat menyolok.  Perairan mempunyai daya produktivitas yang jaring untuk menangkap ikan serta resources yang melimpah. Alat Bantu Penangkapan Alat bantu penangkapan cantrang adalah GARDEN. (Mohammad et al. 1997) dengan alat bantu garden untuk menarik warp memungkinkan penarikan jaring lebih cepat. Penggunaan garden tersebut dimaksudkan agar pekerjaan anak buah kapal (ABK) lebih ringan, disamping lebih banyak ikan yang terjaring sebagai hasil tangkapan dapat lebih ditingkatkan.

Gardanisasi alat tangkap cantrang telah membuka peluang baru bagi perkembangan penangkapan ikan, yaitu dengan pemakaian mesin kapal dan ukuran jaring yang lebih besar untuk di operasikan di perairan yang lebih luas dan lebih dalam.

Teknik Operasi (Setting Dan Hauling) 1. Persiapan Operasi penangkapan dilakukan pagi hari setelah keadaan terang. Setelah ditentukan fishing ground nelayan mulai mempersiapkan operasi penangkapan dengan meneliti bagian-bagian alat tangkap, mengikat tali selambar dengan sayap jaring. 2. Setting Sebelum dilakukan penebaran jaring terlebih dahulu diperhatikan terlebih dahulu arah mata angin dan arus. Kedua faktor ini perlu diperhatikan karena arah angin akan mempengaruhi pergerakan kapal, sedang arus akan mempengaruhi pergerakan ikan dan alat tangkap.

Ikan biasanya akan bergerak melawan arah arus sehingga mulut jaring harus menentang pergerakan dari ikan. Untuk mendapatkan luas area sebesar mungkin maka dalam melakukan penebaran jaring dengan membentuk lingkaran dan jaring ditebar dari lambung kapal, dimulai dengan penurunan pelampung tanda yang berfungsi untuk memudahkan pengambilan tali selambar pada saat akan dilakukan hauling.

Setelah pelampung tanda diturunkan kemudian tali salambar kanan diturunkan → sayap sebelah kanan → badan sebelah kanan → kantong → badan sebelah kiri → sayap sebelah kiri → salah satu ujung tali salambar kiri yang tidak terikat dengan sayap dililitkan pada gardan sebelah kiri. Pada saat melakukan setting kapal bergerak melingkar menuju pelampung tanda. 3. Hauling Setelah proses setting selesai, terlebih dahulu jaring dibiarkan selam ± 10 menit untuk memberi kesempatan tali salambar mencapai dasar perairan.

Kapal pada saat hauling tetap berjalan dengan kecepatan lambat. Hal ini dilakukan agar pada saat penarikan jaring, kapal tidak bergerak mundur karena berat jaring. Penarikan alat tangkap dibantu dengan alat gardan sehingga akan lebih menghemat jaring untuk menangkap ikan, selain itu keseimbangan antara badan kapal sebelah kanan dan kiri kapal lebih terjamin karena kecepatan penarikan tali salambar sama dan pada jaring untuk menangkap ikan yang bersamaan.

Dengan adanya penarikan ini maka kedua tali penarik dan sayap akan bergerak saling mendekat dan mengejutkan ikan serta menggiringnya masuk kedalam kantong jaring. Setelah diperkirakan tali salambar telah mencapai dasar perairan maka secepat mungkin dilakukan hauling.

Pertama-tama pelampung tanda dinaikkan ke atas kapal → tali salambar sebelah kanan yang telah ditarik ujungnya dililitkan pada gardan sebelah kanan → mesin gardan mulai dinyalakan bersamaan dengan mesin pendorong utama hingga kapal bergerak berlahan-lahan → jaring mulai ditarik → tali salambar digulung dengan baik saat setelah naik keatas kapal → sayap jaring naik keatas kapal → mesin gardan dimatikan → bagian jaring sebelah kiri dipindahkan kesebelah kanan kapal → jaring ditarik keatas kapal → badan jaring → kantong yang berisi hasil tangkapan dinaikkan keatas kapal.

Dengan dinaikkannya jaring untuk menangkap ikan tangkapan maka proses hauling selesai dilakukan dan jaring kembali ditata seperti keadaan semula, sehingga pada saat melakukan setting selanjutnya tidak mengalami kesulitan. Hal-Hal Yang Mempengaruhi Keberhasilan Penangkapan 1. Kecepatan dalam menarik jaring pada waktu operasi penangkapan. 2. Arus Arus akan mempengaruhi pergerakan ikan dan alat tangkap. Ikan biasanya akan bergerak melawan arah arus sehingga mulut jaring harus menentang pergerakan dari ikan.

3. Arah angin Arah angin akan mempengaruhi pergerakan kapal pada saat operasi penangkapan dilakukan. PUKAT PANTAI (BEACH SEINE) Definisi Alat Tangkap Pukat Pantai Pukat pantai atau beach seine adalah salah satu jenis alat tangkap yang masih tergolong kedalam jenis alat tangkap pukat tepi. Dalam arti sempit pukat pantai yang dimaksudkan tidak lain adalah suatu alat tangkap yang bentuknya seperti payang, yaitu berkantong dan bersayap atau kaki yang dalam operasi penangkapanya yaitu setelah jaring dilingkarkan pada sasaran kemudian dengan tali panjang (tali hela) ditarik menelusuri dasar perairan dan pada akhir penangkapan hasilnya didaratkan ke pantai.

Pukat pantai juga sering disebut dengan krakat. Di beberapa daerah di jawa jaring untuk menangkap ikan dikenal dengan nama “puket”, “krikit”, dan atau “kikis”. Sejarah Alat Tangkap Jaring untuk menangkap ikan Pantai Daerah penyebaran alat tangkap pukat pantai terdapat hampir di seluruh daerah perikanan laut Indonesia, walaupun di tiap daerah punya nama dan ciri tersendiri, namun hal ini pada dasarnya hanya bertujuan untuk memudahkan pengenalan alat tangkap ini di masing-masing daerah.

Misalnya alat tangkap pukat pantai yang beroperasi di teluk Segara Wedi yang labih dikenal dengan krakat prigi karena terdapat di perairan prigi kabupaten Trenggalek Jawa Timur. Krakat ini sudah digunakan untuk menangkap ikan sejak jaman belanda atau sekitar tahun 30-an.

Pada masa itu harga bahannya masih relative mahal, oleh karena itu baru para pegawai pemerintah Hindia Belanda saja yang memiliki. Sedangkan bahan untuk membuatnyapun masih sederhana, alat ini pada masa itu terbuat dari benang kapas dicampur dengan getah bakau pada bagian jaringnya, dan tali penarik terbuat dari penjalin dengan daya awet alat yang hanya dapat mencapai kurang labih selama 2 tahun. Daerah penangkapan yang bertambah luas dan jauh jaraknya disebabkan dengan adanya persaingan dengan alat tangkap pukat cincin dan payang yang beroperasi di perairan yang sama sehingga jumlah ikan menjadi terbatas.

Selain itu derasnya erosi di wilayah pesisir karena kurangnya pelindung menyebabkan perairan pantai terdekat menjadi dangkal. Bagian pelampung pada pukat pantai pada masa pemerintahan Hindia Belanda itu masih terbuat dari kayu dan pemberatnya dari batu dan tanah liat yang dibakar, tatapi sekarang sudah berkembang menjadi bahan sintetis karena lebih awet dan mudah perawatanya.

Jumlah pemilik pukat pantai dan nelayan buruh yang mengoperasikan juga bertambah banyak dan terus berkembang. Prospektif Alat Tangkap Pukat Pantai Dalam perkembanganya pukat pantai terus mengalami kemajuan baik dalam hal distribusinya maupun bentuknya. Walaupun di masing-masing daerah mungkin akan mempunyai nama yang berbeda-beda dan mengalami perubahan sesuai dengan keinginan penduduk setempat.

Penggunaan tenaga kerja yang cukup banyak sekitar 36 orang merupakan ciri positif dari pukat pantai bila dikaitkan dengan lapangan kerja dan perluasan kesempatan kerja.

jaring untuk menangkap ikan

Mereka biasanya tidak dituntut untuk memiliki ketrampilan tertentu kecuali tenaga yang cukup untuk menarik jaring. Meskipun tergolong dalam alat tangkap tradisional namun pukat pantai termasuk dalam alat tangkap tradisional penting yang dapat memberikan hasil tangkap yang cukup baik. Menurut data statistik perikanan tahun 1986 jumlah pukat tapi mencapai 9.740 unit dengan jumlah seluruh alat penangkap 452.845 unit dan dengan jumlah produksi mencapai 75.363 ton.

Daerah penyebaranya hampir terdapat di seluruh daerah perikanan laut Indonesia. Hal tersebut dapat menunjukkan perkembangan dari alat tangkap pukat pantai yang cukup baik. Konstruksi Alat Tangkap Konstruksi Umum Alat Tangkap Pukat Pantai Pada prinsipnya krakat atau pukat pantai terdiri dari bagian bagian seperti : kantong, sayap atau kaki dan tali panjang (slambar, hauling line).

Bagian kantong berbentuk kerucut, bisa dibuat dari bahan waring, katun maupun bahan sintetis seperti waring karuna, nilon, dan bahan dari plastik. Pada mulut di kantong kanan-kirinya dihubungkan dengan kaki atau sayap, sedang pada bagian ujung belakang yang disebut ekor diberi tali yang dapat dengan mudah dibuka dan diikatkan untuk mengeluarkan hasil tangkapn.

Bagian kaki atau sayap dibuat dari bahan benang katun atau bahan sintetis lainnya. Besar mata bagian kaki bervariasi mulai dari 6,5 cm pada ujung depan dan mengecil pada bagian pangkalnya. Pada bagian ujung depan kaki diberi atau dihubungkan dengan kayu cengkal (brail or preader). Pada tiap ujung kaki, yaitu pada ris jaring untuk menangkap ikan dan bawah diikatkan tali yang telah diikatkan pada kayu cengkal kemudian disambungkan dengan tali hela (tali slambar, hauling line) yang panjang dan dapat dibuat menurut kebutuhan.

Pada bagian atas mulut dan kaki diikatkan pelampung. Ada tiga macam pelampung yang sering digunakan yaitu: pelampung raja, pelampung biasa dan pelampung.

Sedangkan pada ris bawah diikatkan dua macam pemberat yaitu dari timah dan pemberat dari rantai besi yang jarak antara satu dengan yang lainnya saling berjauhan. Detail Konstruksi Alat Tangkap Pukat Pantai Pukat pantai terdiri dari tiga bagian penting yaitu kantong (bag), badan (shoulder) dan sayap (wings).

Masing-masing bagian masih terdiri atas beberapa sub bagian lagi. 1. Sayap (Wings) Sayap merupakan perpanjangan dari bahan jaring, berjumlah sepasang terletak pada masing-masing sisi jaring.

Masing-masing sayap terdiri atas: a. Ajuk-ajuk, yang berada di ujung depan jaring untuk menangkap ikan biasanya terbuat dari polyethyline b. Gembungan, yang terdapat di tengah dan biasanya juga terbuat dari polyethyline c. Clangap, yang berada di dekat badan dan biasanya juga terbuat dari polyethyline atau bahan sintetis lainnya.

jaring untuk menangkap ikan

2. Kantong (Bag) Kantong berfungsi sebagai tampat ikan hasil tangkapan, berbentuk kerucut pada ujungnya diikat sebuah tali sehingga ikan-ikan tidak lolos. Jaring untuk menangkap ikan masih dibantu dengan kebo kaos untuk membantu menampung hasil tangkapan. Kantong terdiri atas bagian-bagian yang mempunyai ukuran mata yang berbeda-beda. Kantong terdiri dari dua bagian, pada umumnya bagian depan berukuran mata sekitar 14 mm, berjumlah sekitar 290 dan panjang sekitar 2,20 m.

Bagian belakang kira-kira memiliki ukuran mata 13 mm, dengan jumlah sekitar 770, dan panjang sekitar 4 m. 3. Badan (Shoulder) Bagian badan jaring terletak di tengah-tengah antara kantong dan kedua sayap. Berbentuk bulat panjang berfungsi untuk melingkupi ikan yang sudah terperangkap agar masuk ke kantong. Badan terdiri atas bagian depan yang mempunyai ukuran mata yang lebih jaring untuk menangkap ikan daripada bagian belakang dan dengan panjang serta jumlah mata yang lebih banyak daripada bagian belakang.

Kedudukan pukat pantai di perairan sangat ditentukan oleh keberadaan pelampung dan pemberat pukat pantai. 1. Pemberat (Sinker) Pemasangan pemberat pada umumnya ditempatkan pada bagian bawah alat tangkap. Fungsinya agar bagian-bagian yang dipasangi pemberat ini cepat tenggelam dan tetap pada posisinya meskipun mendapat pengaruh dari arus serta membantu membuka mulut jaring kearah bawah.

2. Pelampung (Floats) Sesuai dengan namanya fungsi pelampung digunakan untuk memberi daya apung atau untuk mengapungkan dan merentangkan sayap serta membuka mulut jaring ke atas pada alat tangkap pukat pantai. Selain hal-hal yang telah disebutkan diatas pukat pantai juga menggunakan tali temali. Tali tamali yang terdapat dalam pukat pantai ada tiga jenis, yaitu: 1. Tali Penarik (Warps) dan Tali Goci (Bridles) Terletak pada dua ujung sayap, berfungsi untuk menarik jaring pukat pantai pada setiap operasi penangkapan.

Tali ini ditarik dari pantai oleh nelayan dengan masing-masing sayap ditarik oleh sekitar 13 nelayan atau tergantung dengan panjang dan besarnya pukat pantai. 2. Tali Ris Atas (Lines) Berfungsi sebagai tempat untuk melekatnya jaring pada bagian atas dan pelampung.

Tali ini terletak pada kedua sayap 3. Tali Ris Bawah (Ground Rope) Tali ini berfungsi sebagai tempat melekatnya jaring pada bagian bawah dan pemberat.

Tali ini terletak pada kedua sayap jaring. Karakteristik Alat Tangkap Pukat Pantai Alat tangkap pukat pantai termasuk jenis pukat yang berukuran besar. Banyak dikenal di daerah pantai utara Jawa, Madura, Cilacap, Pangandaran, Labuhan, Pelabukan Ratu, Maringge (Sumatra Selatan).

jaring untuk menangkap ikan

Bentuknya seperti payang dan bersayap. Prinsip pengoperasiannya adalah menelusuri dasar perairan dan pada akhir penangkapan hasilnya didaratkan ke pantai. Dalam pengoperasiannya pukat pantai yang berukuran besar memerlukan tenaga sampai puluhan orang lebih. Kantong pada pukat pantai biasanya berbentuk kerucut dan terbuat dari katun maupun bahan sintetis lain.

Hasil tangkapan yang diperoleh dengan alat tangkap pukat pantai biasanya jenis-jenis ikan pantai yang hidup di dasar dan termasuk juga jenis udang.

Dalam pengoperasiannya kapal atau perahu yang digunakan bervariasi. Sampai sekarang penggunaan alat tangkap pukat pantai ini terus menerus mengalami perkembangan baik dalam hal perubahan model maupun penyebaran atau distribusinya. Bahan dan Spesifikasinya Seperti yang telah disebutkan pada konstruksi maupun detail konstruksi, pada prinsipnya pukat pantai terdiri dari bagian-bagian kantong yang berbentuk kerucut yang bisa dibuat dari bahan waring, katun maupun bahan sintetis lain seperti waring karuna, nilon bahan dari plastic maupun polyethylene (PE).

Bagian kaki atau sayap dibuat dari bahan benang katun atau bahan sintetis lainnya. Pada bagian atas mulut dan kaki diikatkan pelampung. Pelampung ini kebanyakan terbuat dari bahan sintetis yang bersifat mudah mengapung atau tidak tenggelam dan biasanya berbentuk silinder. Sedangkan pada ris bawah diikatkan pemberat yang bisa terbuat dari timah atau dapat pula digunakan rantai besi. Pada masa dahulu masih digunakan pemberat yang terbuat dari bahan liat maupun batu. Namun sekarang sudah jarang digunakan karena daya awetnya rendah.

Hasil Tangkapan Hasil tangkapan yang diperoleh dengan alat tangkap pukat pantai terutama jenis-jenis ikan dasar atau jenis ikan demersal dan udang antara lain yaitu; pari (rays), cucut (shark),teri (Stolepharus spp), bulu ayam (Setipinna spp), beloso (Saurida spp), manyung (Arius spp), sembilang (Plotosus spp), krepa (Epinephelus spp), kerong-kerong (Therapon spp), gerot-gerot (Pristipoma spp), biji nangka (Parupeneus spp), kapas-kapas (Gerres spp), petek (Leiognathus spp), ikan jaring untuk menangkap ikan dan sebelah (Psettodidae), dan jenis jenis udang (shrimp).

Sedangkan untuk pembagian hasil tangkapan, hal ini sudah diatur sesuai dengan undang-undang no. 16 tahun 1964 tentang pembagian hasil usaha perikanan tangkap untuk operasi penangkapan ikan di laut dengan menggunakan perahu layar, nelayan penggarap minimal mendapat 75% dari hasil usaha bersih. Daerah Penangkapan Daerah penangkapan ikan adalah suatu daerah perairan yang cocok untuk penangkapan ikan dimana alat tangkap dapat kita operasikan secara maksimum. Syarat-syarat suatu daerah dapat dikatakan sebagai daerah penangkapan ikan bila : 1.

Terdapat ikan yang berlimpah jumlahnya 2. Alat tangkap dapat dioperasikan dengan mudah 3. Secara ekonomis daerah sangat berharga atau kondisi dan posisi daerah perlu diperhitungkan. Pada umumnya krakat atau pukat pantai banyak dikenal dan dipergunakan di daerah pantai utara Jawa, Madura, Cilacap, Pangandaran, Labuhan, Pelabuhan Ratu, Marigge (Sumatra Selatan), dan banyak pula digunakan di daerah Jawa. Sedangkan distribusi pukat pantai ini meliputi daerah Labuhan, Teluk Panganten, Jakarta, Cirebon, Brebes, Pemalang, Tegal, Pekalongan, Semarang, Jepara, Juana, Rembang, Tuban, Bojonegoro, Pasuruan, Probolinggo, Panarukan, Banyuwangi, Muncar, Sepanjang Pantai Madura, Lampung, Prigi, Pangandaran, Teluk Betung, Maringge, Seputih dan lain-lainnya.

Biasanya daerah penangkapan untuk alat pukat pantai ditentukan berdasarkan tanda-tanda alamiah seperti terlihatnya buih-buih dipermukaan perairan atau adanya burung yang menyambar-nyambar, namun kebanyakan nelayan menggunakan cara dengan mencoba menurunkan jaring pada daerah yang sudah biasa dijadikan daerah penangkapan oleh nelayan pukat pantai di masing-masing daerah.

Dulu ketika jumlah unit pukat pantai masih terbatas, penggunaan daerah penangkapan tidak pernah menjadi permasalahan antara pemilik pukat pantai. Namun seiring dengan berkembangnya jumlah pemilik pukat pantai maka pada masing-masing daerah atau jaring untuk menangkap ikan penangkapan dikenal adanya sistem pembagian daerah penangkapan pukat pantai dengan membagi daerah penangkapan menjadi beberapa bagian dan pada tiap bagian berlaku adanya pembagian jadwal operasi.

Alat Bantu Penangkapan Selain bagian-bagian dari pukat pantai sendiri, dalam pengoperasiannya pukat pantai masih menggunakan alat jaring untuk menangkap ikan penangkapan diantaranya adalah : 1. Perahu Perahu yang dipergunakan dalam pengoperasian pukat pantai ini bervariasi. Akan tetapi biasanya berukuran panjang 5-6 m, lebar 0.6 m dan dalam atau tinggi 0.7 m.

Perahu ini ada yang dilengkapi dengan katir/sema (outriggers) maupun tidak. Ada yang dilengkapi dengan motor dan ada juga yang tanpa motor (perahu dayung). Untuk perahu dayung biasanya terbuat dari bahan kayu. Kelebihan dari material kayu selain harganya lebih murah, tehnologinya sederhana, material mudah didapat, pembentukannya mudah ringan dan perawatanya juga mudah. 2. Pelampung Berbendera Pelampung berbendera ini berfungsi sebagai tanda posisi kantang pukat pantai di perairan dan sebagai petunjuk bagi mandor tentang keseimbangan posisi jaring antara kiri dan kanan.

Sehingga dengan melihat bendera, mandor dapat dengan mudah mengetahui kapan posisi penarik harus bergeser dan seberapa jauhnya jarak pergeseran. 3. Kayu Gardan Kayu garden ditancapkan dengan kokoh di pantai. Fungsi dari kayu ini adalah sebagai penggulung tali penarik dan sebagai tempat untuk menambatkan tali penarik. Kayu ini terbuat dari kayu pohon yang kuat misalnya kayu kopi, kayu waru dan sebagainya. Teknik Operasi Alat Tangkap Pukat Pantai Tahap Persiapan Kira-kira sebanyak 6 orang nelayan naik ke perahu yang ditambat di dekat pantai untuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan bagi operasional penangkapan.

Jaring dan tali disusun sedemikian rupa dengan dibantu para nelayan penarik untuk mempermudah operasi penangkapan terutama pada waktu penawuran (setting). Urut-urutan susunan alat dalam perahu mulai dari dasar adalah sebagai berikut : gulungan tali penarik I, sayap I, badan, kantong, sayap II dan teratas adalah gulungan tali penarik II.

Diatur pula letak pelampung pada bagian sisi kanan jaring untuk menangkap ikan kearah laut dan pemberat di sebelah kiri menghadap kearah pantai. Salah satu ujung tali hela (penarik) jaring untuk menangkap ikan pada patok kayu di pantai kemudian perahu dikayuh menjauhi pantai.

Tahap Penawuran (Setting) Perahu dikayuh menjauhi pantai sambil menurunkan tali hela II yang ujungnya telah diikatkan pada patok di daratan pantai. Apabila syarat-syarat fishing ground telah ditemukan dan jarak sudah mencapai sekitar 700 m (sepanjang tali hela) dari pantai, perahu mulai bergerak ke kanan sambil menurunkan jaring. Penurunan jaring diusahakan agar membentuk setengah lingkaran menghadap garis pantai. Urutan penurunan dari perahu sebelah kiri berturut-turut sayap II, badan dan kantong serta sayap I, kemudian tali hela diulur sambil mengayuh perahu mendekati pantai dan pada saat mendekati pantai ujung tali penarik yang lain dilempar ke pantai dan diterima oleh sekelompok nelayan yang lain.

Setelah kedua ujung tali penarik berada di pantai, masing-masing ujung ditarik oleh sekelompok nelayan yang berjumlah sekitar 13 orang per kelompok. Pada saat itu perahu kembali kelaut untuk mengambil tali kantong dan mengikuti jaring hingga ke pantai selama penarikan jaring.

Kecapatan perahu dalam menebarkan jaring dapat dihitung dengan mengetahui jarak yang telah ditempuh perahu dan lamanya waktu penebaran. Sedangkan kecepatan penawuran dapat diperoleh dengan menghitung panjang pukat pantai dibagi dengan lama penawuran.

Tahap Penarikan (Hauling) Ketika ujung tali hela I telah sampai di pantai, penarikan jaring dimulai. Jarak antara ujung tali penarik I dan II kurang lebih 500 m, masing-masing ditarik oleh nelayan berjumlah sekitar 13 orang. Sambil secara bertahap saling mendekat bersamaan dengan mendekatnya jaring ke pantai.

Perpindahan dilakukan kira-kira sebanyak 4 kali dengan perpindahan ke 4 pergeseran dilakukan terus menerus hingga akhirnya bersatu. Ketika sayap mulai terangkat di bibir pantai, penarikan di komando oleh seorang mandor untuk mengatur posisi jaring agar ikan tidak banyak yang lepas.

Bersamaan dengan itu perahu dikayuh menuju ujung kantong yang diberi tanda dengan bendera yang terpasang pada pelampung. Salah satu dari crew penebar mengikatkan kebo kaos pada bagian ujung kantong.

Kebo kantong tersebut dimaksudkan sebagai tempat ikan hasil tangkapan agar jaring tidak rusak akibat terlalu banyak muatan. Sambil memegang kebo kaos tersebut nelayan berenang mengikuti jaring sampai ke pinggir pantai. Kecepatan penarikan dapat dihitung dengan cara membagi panjang keseluruhan dengan lamanya penarikan. Tahap Pengambilan Hasil Tangkap Sayap dan badan pukat pantai terus ditarik dan bila kedua bagian ini telah berada di daratan pantai, kantong ditarik dan hasil tangkapan dikeluarkan dari kantong.

Selanjutnya ikan yang jenisnya bermacam-macam tersebut jaring untuk menangkap ikan dengan memisahkan dan memasukkanya kedalam keranjang tempat yang telah disediakan. Selain itu sebagian nelayan ada yang menaikkan tali penarik dan jating ke daratan untuk dirawat atau mempersiapkan pengoperasian tahap berikutnya.

Hal-Hal Yang Mempengaruhi Keberhasilan Penangkapan Hal-hal yang mempengaruhi berhasil atau tidaknya suatu operasi penangkapan diantaranya adalah : 1. Penentuan fishing ground yang tepat 2. Pengaturan posisi pukat pantai yang digunakan 3.

Kecepatan penebaran dan penaikkan jaring 4. perawatan, daya awet serta efektifitas pukat pantai yang digunakan 5. Lamanya waktu pengoperasian 6. Kondisi perahu dan alat bantu lainnya. Penulis Dr. Ir. Gatut Bintoro, M.Sc dan Ir. Sukandar, MP Agrobisnis Perikanan, FPIK Universitas Brawijaya Jaring untuk menangkap ikan Gery Purnomo Aji Sutrisno Fpik Universitas Brawijaya Angkatam 2015 DAFTAR PUSTAKA Anonymous,1976, Fisherman’s Manual, World Fishing, England.

__________,1975, FAO Catalogue of Smail Scale Fishing Gier, FAO of UN. Ayodyoa, A.U., 1972, Kapal Perikanan, Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. ___________, 1975, Fishing Methods Diktat Kuliah Ilmu Tekhnik Penangkapan Ikan, Bagian Penangkapan Fakultas Perikanan IPB, Bogor. ___________, 1983, Metode Penangkapan Ikan.

Cetakan pertama. Fakultas Perikanan. IPB. Bogor. Damanhuri, 1980, Diktat Fishing Ground Bagian Tehnik Penangkapan Ikan, Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya, Malang. Dickson, 1959, The Use Of Danish Seine, Modern Fishing Gear Of The World, Japan International Cooperation Agency, Tokyo. Fridman, !988, Perhitungan Dalam Merancang Alat Tangkap Ikan, Balai Pengembangan Penangkapan Ikan, Semarang. Martosubroto, 1987, Penyebaran Beberapa Sumber Perikanan Di Indonesia, Direktorat Bina Sumberdaya Hayati, Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian, Jakarta.

Muhammad, S. Sumartoyo, M. Mahmudi, Sukandar dan Agus Cahyono, 1997, Studi Pengembangan Paket Teknologi Alat Tangkap Jaring Dogol (Danish Seine) Dalam Rangka Pemanfaatan Sumberdaya Ikan-Ikan Demersal Di Perairan Lepas Pantai Utara Jawa Timur, Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya, Malang.

Nedelec W., 2000, Definisi dan Klasifikasi Alat Tangkap Ikan, Balai Pengembangan Penangkapan Ikan, Semarang. Schmidt, Peter G.Jr., 1989, Fish Boats 2, Mc hills, London. Subani, W., 1978, Alat dan Cara Penangkapan Ikan di Indonesia, jilid I, LPPL, Jakarta.

Subani, W dan H.R. Barus, 1989, Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia, Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian, Jakarta. Swandaru, 2000, Pengoperasian Alat Tangkap Purse seine dua Kapal di Perairan Selat Bali.

Laporan PKl, Fakultas Perikanan Unibraw, Malang The Gourack Ropework, Co., ltd., 1961. Deep Sea Trawling and Wing Trawling. Ward, george, ed., 1964. Stern trawling Widodo, S., 2002, Identifikasi, Klasifikasi dan Inventarisasi Alat Penangkapan dan Armada Perikanan di Kabupaten Jember, Fakultas Perikanan Unibraw, Malang. Www. Fao/Purseseine.Com Www. Fisheries.Com Www. Marine Aquarium.Com Www. Pursenet.Com PROPAGASI A. Latihan dan Diskusi 1. Mengapa purse seine di Laut Jawa dan Selat Madura dapat menangkap jenis ikan-ikan dasar?

2. Mengapa penarikan tali kolor purse seine harus berlangsung cepat? B. Pertanyaan (Evaluasi mandiri) 1. What is the function of ring? 2. Where was purse seine first introduced in Indonesia? 3. What does it mean by potential energy? 4. How important is the purse line? 5. What kind of fish is ussually caught by trawl?

C. QUIZ -mutiple choice (Evaluasi) D. PROYEK (menghitung volume area perairan yang dilingkari purse seine) 1. PENDAHULUAN 1.1 Pengantar · Gill net sering diterjemahkan dengan “jaring insang”, “jaring rahang”, dan lain sebagainya. Istilah “gill net” didasarkan pada pemikiran bahwa ikan-ikan yang tertangkap “gilled-terjerat” pada sekitar operculum nya jaring untuk menangkap ikan mata jaring. Gill net dioperasikan dimana kedudukan jaring pada fishing ground direntangkan pada permukaan maupun dasar laut, yang disesuaikan dengan ikan swimming layer ikan target.

· Dalam bahasa Jepang gill net disebut dengan istilah “sasi jaring untuk menangkap ikan, yang berdasarkan pemikiran bahwa tertangkapnya ikan-ikan pada gill net ialah dengan proses bahwa ikan-ikan tersebut “menusukkan diri-sasu” pada “jaring-ami”. Di Indonesia penamaan gill net ini jaring untuk menangkap ikan ragam, ada yang menyebutkan nya berdasarkan jenis ikan yang tertangkap (jaring kuro, jaring udang dsb nya), ada pula yang disertai dengan nama jaring untuk menangkap ikan (jaring udang Bayeman), dan lain sebagainya.

Tertangkapnya ikan ikan-ikan dengan gill net ialah dengan cara bahwa ikan-ikan tersebut terjerat (gilled) pada mata jaring atupun terbelit-belit (entangled) pada tubuh jaring.

· Semakin berkembangnya usaha penangkapan ikan, maka berkembang pula bentuk macam alat penangkap ikan yang makin maju ke arah spesifikasi.

Gill Net merupakan salah satu jenis yang banyak digunakan oleh nelayan dan usaha penangkapan ikan karena merupakan alat tangkap yang selektif dibanding alat tangkap lainnya. Setelah dikeluarkannya Keppres No. 39 Tahun 1980 Tentang Pelarangan Penggunaan Alat Tangkap Trawl, maka semakin banyak alat tangkap lain yang digunakan oleh nelayan tradisional, salah satunya alat tangkap jenis Bottom Gill Net.

· Prinsip menangkap ikan dengan gillnet adalah dengan membiarkan ikan secara pasif untuk melewati jaring gillnet yang terbentang. Sehingga dapat dikatakan alat tangkap ini merupakan alat tangkap pasif yang sangat bergantung pada pergerakan ikan target. Fungsi mata jaring dan jaring adalah sebagai penjerat ikan dinding penghadang, dan bukan sebagai dinding penghadang seperti pada alat tangkap purse seine. · Prospektif gill net dasar atau bottom gill net di Indonesia sangat baik, hal ini dikarenakan secara kuantitatif, jumlahnya cukup besar di Indonesia.

Hal-hal yang mempengaruhi besarnya bottom gill net secara kuantitatif di Indonesia: (a) Bahan dasar (material) pembuatan bottom gill net mudah diperoleh; (b) Proses pembuatan bottom gill net mudah (c) Harganya relatif murah (d) Fishing method dari bottom gill net mudah (e) Biaya relatif murah sehingga dapat dimilliki oleh siapa saja.

· Jaring insang termasuk alat tangkap potensial. Terutama jika materialnya adalah monofilamen karena benangnya sangat licin sehingga bila ada kotoran yang menempel mudah dibersihkanmaka jaring mudah membuka. Selain itu alat tangkap ini bersifat selektif yaitu besar mata jaring dapat disesuaikan dengan ukuran ikan yang akan ditangkap, sehingga alat tangkap ini sering dijadikan standart perhitungan selektivitas alat tangkap yang lainnya.

· Sasaran akhir yang dituju dalam studi gillnet adalah pengungkapan dan pemahaman pengoperasian salah satu alat tangkap yang terbuat dari jaring yang akan mengarah pada selektivitas alat tangkap. Ini adalah landasan dasar dari upaya optimalisasi penguasaan materi tentang efektivitas dan keramahan pengoperasian suatu alat tangkap.

1.2 Tujuan Penguasaan materi dalam modul ini, yang dirancang sebagai landasan untuk memahami metode penangkapan ikanakan dapat · Menjelaskan pengertian alat tangkap gill net dalam menunjang metode penangkapan ikan · Menjelaskan metode pengoperasian alat tangkap gillnet dalam proses penangkapan ikan 1.3 Definisi · Gill Net berbentuk empat persegi panjang yang dilengkapi dengan pelampung, pemberat ris atas, ris bawah (kadang tanpa ris bawah). Seluruh mata jaring sama ukurannya,lebar jaringnya lebih pendek dibanding panjangnya.

Pada lembaran-lembaran jaring, pada bagian atas diletakkan pelampung (pelampung) dan pada bagian bawah dilekatkan pemberat (pemberat). Pada kedua ujung jaring diikatkan jangkar, sehingga letak jaring telah tertentu.

Posisi jaring dapat diperkirakan pada pelampung berbendera / bertanda yang dilekatkan pada kedua bagian ujung jaring, tetapi tidak dapat diketahui baik buruknya rentangan jaring itu sendiri, karena letaknya di dasar laut. · Besar mata jaring pada alat tangkap gillnet bervariasi, disesuaikan dengan sasaran yang akan ditangkap (selektif) seperti untuk ikanudang. Jaring ini terdiri dari satuan–satuan jaring disebut tinting / piece.

Dalam operasi penangkapannya terdiri dari beberapa tinting yang digabung menjadi satu unit yang panjangnya (300 – 500 m). Ikan –ikan yang ditangkap gill net umumnya tersangkut/ terjerat (gilled) pada tutup insangnya, jika ikannya besar maka akan terpuntal / terbelit – belit (entangled) pada tubuh jaring.

· Menurut FAO (Nedelec & Prado, 1990) gillnet merupakan jaring berdinding tunggal dengan ukuran bukaan mata jaring yang ukurannya disesuaikan dengan ukuran ikan yang jaring untuk menangkap ikan target spesies. Alat tangkap ini merupakan alat tangkap pasif namun ikan-ikan dapat digiring menujunya.

Jaring dapat digunakan secara tunggal atau dalam satuan jumlah besar (fleets). · Menurut Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No. 06/MEN/2010, gillnet atau kelompok jaring insang merupakan kelompok jaring yang berbentuk empat persegi panjang yang dilengkapi dengan pelampung, pemberat, tali ris atas dan talu ris bwah untuk menghadang ikan sehingga ikan tertangkap dengan cara terjerat dan/atau terpuntal dioperasikan di permukaan, pertengahan dan dasar secara menetap, hanyut dan melingkar dengan tujuan menangkap ikan pelagis dan demersal (SNI 7277.8: 2008) 1.4 Klasifikasi · Menurut FAO (Nedelec & Prado, 1990), gillnet diklasifikasikan menjadi 4 jenis, yaitu: a.

Set gillnets (dioperasikan di dasar laut, kadang dihanyutkan. b. Driftnets (dengan atau tanpa kapal motor) c. Dragged gillnets d. Encircling gillnets (ikan diarahkan menuju jaring, umumnya menggunakan rangsangan bunyi). · Menurut Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No. 06/MEN/2010, gillnet atau jaring insang diklasifikasikan menjadi: a. Jaring insang tetap (set gillnets (anchored)) atau Jaring Liong Bun b.

Jaring insang tetap (set gillnets (anchored)) atau Jaring Liong Bun · Menurut Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan. No. Jaring untuk menangkap ikan Kegiatan penangkapan ikan di perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) dapat dilakukan dengan menggunakan 2 jenis jaring insang: a. Jaring insang hanyut (drift gillnets) b. Jaring insang tetap (set gillnets) 1.5 Persyaratan bahan gillnets v Persyaratan Bahan dari gill net harus mempunyai daya tampak sekecil mungkin dalam air, terutama sekali untuk penangkapan di siang hari pada air jernih.

Serat jaring juga harus sehalus dan selunak mungkin untuk mengurangi daya penginderaan dengan organ side line. Serat jaring yang lebih tipis juga kurang terlihat. Sebaliknya bahan harus cukup kuat untuk menahan rontaan ikan yaang tertangkap dan dalam upayanya untuk membebaskan diri. Selain itu diperlukan kemuluran dan elastisitas yang tepat untuk menahan ikan yang terjerat atau terpuntal sewaktu alat dalam air atau sewaktu penarikan keatas kapal tetapi tidak jaring untuk menangkap ikan sewaktu ikan itu diambil dari jaring.

Bahan yang daya mulurnya tinggi untuk beban kecil tidak sesuai untuk gull net karena ukuran ikan yang terjerat pada insang tergantung pada ukuran mata jaring. Jaring perlu memiliki kekuatan simpul yang stabil dan ukuran mata jaring tidak boleh dipengaruhi air.

v Macam dan Ukuran benang PA continous filament adalah bahan yang paling lunak dari semua bahan sintetis dalam kondisi basah, warna putih mengkilat yang alami adalah jauh lebih terlihat dalam air jernih. Warna hijau, biru, abu-abu dan kecoklatan merupakan warna-warna yang nampak digunakan paling umum pada perikanan komersial.

Sebab banyaknya macam dari gill net sesuai dengan ukuran, ukuran mata jaring, jenis ikan, pola operasi, kondisi penangkapan, dll tidak mungkin memberi rekomendasi yang menyeluruh untuk seleksi bahan jaring. Semua nilai R tex adalah nominal dan berkenaan dengan netting yarn yang belum diselup dan belum diolah. v Warna Jaring Warna jaring yang dimaksudkan disini adalah terutama dari jaring.

Warna pelampung, tali, pemberat dan lain-lain diabaikan, mengingat bahwa bagian terbesar dari gill net adalah jaring.

Pada synthetic fibres, perawatan jaring dalam bentuk pencelupan telah tidak diperlukan, kemudian pula warna dari pilinan dapat dibuat sekehendak hati, yang dengan demikian kemungkinan mengusahakan warna jaring untuk memperbesar kemampuan menangkap akan dapat lebih ditingkatkan. Dengan perkataan lain, warna jaring yang sesuai untuk tujuan menangkap jenis-jenis ikan yang menjadi tujuan dapat diusahakan. Warna jaring dalam air akan dipengaruhi oleh faktor-faktor kedalaman perairan, transparansi, sinar matahari, sinar bulan dan lain-lain faktor, dan pula sesuatu warna akan mempunyai perbedaan derajat “terlihat” oleh ikan –ikan yang berbeda-beda.

Karena tertangkapnya ikan-ikan pada gill net ini ialah dengan cara gilled (terjerat) dan entangled (terpuntal), yang kedua-duanya ini barulah akan terjadi jika ikan tersebut menubruk atau menerobos jaring, maka hendaklah diusahakan bahwa efek jaring sebagai penghadang, sekecil mungkin.

2. Jaring insang hanyut (Drift gillnets) Karakteristik Jaring untuk menangkap ikan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No. PER.08/MEN/2008 tentang penggunaan alat penangkapan ikan jaring insang (gillnets) di zona ekonomi eksklusif Indonesia, jaring insang hanyut adalah jaring insang yang memiliki daya apung lebih besar daripada daya tenggelamnya, dan dioperasikan dengan cara dihanyutkan di suatu di permukaan dan atau pertengahan perairan.

Bahan dan Spesifikasinya Berikut adalah gambar teknis Jaring insang hanyut (Drift gillnets) berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No. PER.08/MEN/2008: 1. Komponen utama jaring insang hanyut (drift gillnet) terdiri dari: a. Jaring berbentuk empat persegi panjang; b. Memiliki tali ris atas (seutas tali yang dipergunakan untuk menggantungkan badan jaring) dengan dan/atau tanpa tali ris bawah; c.

Pada tali ris atas dilengkapi pelampung (sesuatu benda yang mempunyai daya apung dan dipasang pada jaring bagian atas dan berfungsi sebagai pengapung jaring); d.

Pada bagian tali ris bawah (seutas tali yang dipergunakan untuk membatasi gerakan jaring ke bawah) dilengkapi dengan dan/atau tanpa pemberat (benda yang mempunyai daya tenggelam dan dipasang di jaring bagian bawah, berfungsi sebagai penenggelam jaring) 2. Panjang jaring insang hanyut tidak lebih dari 10000 meter 3.

Lebar jaring (mesh depth) jaring insang hanyut tidak lebih dari 30 meter 4. Ukuran mata jaring (mesh size) jaring insang hanyut tidak kurang dari 10 cm. Hasil tangkapan Alat tangkap ini menangkap ikan-ikan pelagis yang berenang secara bergerombol maupun satu persatu. Jenis ikan yang tertangkap antara lain kembung, layang, lemuru, tongkol, herring, cod, flat fish, halibut, mackarel, yellow tail, sea bream, udang, lobster, dll.

Jenis-jenis ikan seperti cucut, tuna, yang mempunyai tubuh sangat besar sehingga tak mungkin terjerat pada mata jaring ataupun ikan-ikan seperti flat fish yang mempunyai tubuh gepeng lebar, yang bentuk tubuhnya sukar terjerat pada mata jaring, ikan-ikan seperti ini akan tertangkap dengan cara terbelit-belit (entangled). Daerah Penangkapan Jaring insang hanyut dapat di operasi kan pada fishing ground dengan kondisi sebagai berikut: a. Permukaan laut yang tenang b.

Jumlah ikan yang berlimpah dan bergerombol di permukaan/pertengahan perairan c. Kondisi cuaca di perairan bagus 3. Jaring insang tetap (Set gillnets) Karakteristik Menurut Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No. PER.08/MEN/2008 tentang penggunaan alat penangkapan ikan jaring untuk menangkap ikan insang (gillnets) di zona ekonomi eksklusif Indonesia, jaring insang tetap adalah jaring insang yang dilengkapi jangkar, dan dioperasikan secara menetap di suatu perairan.

Bahan dan Spesifikasinya Berikut adalah gambar teknis Jaring insang tetap (Set gillnets) berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No. PER.08/MEN/2008: 1. Komponen utama jaring insang tetap (set gillnet) terdiri dari: a. Jaring berbentuk empat persegi panjang; b. Memiliki tali ris atas dengan dan/atau tanpa tali ris bawah c. Pada tali ris atas dilengkapi dengan pelampung; d. Pada bagian tali ris bawah dilengkapi dengan dan/atau tanpa pemberat 2. Panjang jaring insang tetap tidak lebih dari 10000 meter 3.

Lebar jaring insang tetap tidak lebih dari 30 meter 4. Ukuran mata jaring insang tetap tidak kurang dari 20 cm. Hasil tangkapan Alat tangkap gill net dasar monofilament ini menangkap ikan-ikan dasar / d e mersal / bottom fish yang berenang secara bergerombol maupun satu persatu. Jenis ikan yang tertangkap antara lain manyung, herring, cod, flat fish, halibut, mackarel, yellow tail, sea bream, udang, lobster, dll. Pada umumnya sifat dari ikan-ikan dasar antara lain pergerakannnya lamban, biasanya menempati daerah dasar laut, meskipun ada beberapa jenis diantaranya berada di lapisan yang lebih atas.

Daerah Penangkapan Pada umumnya yang menjadi fishing ground dari gill net dasar ini adalah pantai, teluk, muara sungai. Daerah penangkapan yang baik untuk penangkapan ikan dengan menggunakan gill net jaring untuk menangkap ikan adalah bukan daerah pelayaran umum dan dasar perairan yang tidak berkarang.

4. Alat Bantu Penangkapan Alat bantu penangkapan merupakan faktor penting untuk mengumpulkan ikan pada suatu tempat yang kemudian dilakukan operasi penangkapan. Alat bantu yang digunakan dalam operasi penangkapan ikan dengan menggunakan bottom gill net adalah v LAMPU / LIGHT FISHING Kegunaan lampu untuk alat penangkapan adalah untuk mengumpulkan kawanan ikan kemudian melakukan operasi penangkapan dengan menggunakan gill net. Jenis-jenis lampu yang digunakan bermacam-macam antara lain : - Ancor / obor - Lampu petromak / starmking - Lampu listrk ( penggunaannya masih terbetas ) Faktor yang paling berpengaruh dalam penggunaan lampu adalah kekuatan cahaya lampu yang digunakan, selain itu juga ada beberapa faktor lain : o Kecerahan : Jika kecerahan kecil, berarti banyak partikel-partikel dalam air maka pembiasan cahaya terserap dan akhirnya tidak menarik perhatian dari ikan yang ada disekitarnya.

Jadi kecerahan menentukan kekuatan lampu. o Gelombang, angin, arus : Akan mempengaruhi kedudukan lampu. Adanya faktor-fakttor itu menyebabkan kondisi sinar yang semula lurus menjadi bengkok.

o Sinar bulan : Pada waktu bulan purnama sukar sekali mengadakan penangkapan menggunakan lampu karena cahaya terbagi rata, sadangkan penangkapan menggunakan lampu diperlukan keadaan gelap agar cahaya lampu terbias sempurna dalam air. v PAYAOS atau rumpon laut dalam Payaos merupakan rumpon laut dalam yang berperan dalam pengumpulan ikan pada tempat tertentu dan dilakukan operasi penangkapan.

Payaos pelampungnya terdiri dari 60-100 batang bambu yang disusun dan diikat menjadi satu sehingga membentuk rakit (raft), selain dari bambu pelampung juga terbuat dari alumunium.

Tali pemberat (tali yang menghubungkan antara pelampung dan pemberat) mencapai 1000-1500 m, terbuat dari puntalan rotan, bahan syntetik seperti polyethylene, nylon, polyester, polypropylene. Sedangkan pemberat berkisar 1000-3500 kg yang terbuat dari batu dimasukkan dalam keranjang rotan dan cor-coran semen. Dan untuk rumbai-rumbainya digunakan daun nyiur dan bekas tali polyethylene dan ban bekas.

5. Teknik Penangkapan (Setting and Hauling) § Setting Pada saat melakukan setting, kapal diarahkan ke tengah kemudian dilakukan pemasangan jaring insang oleh Anak Buah Kapal (ABK). Jaring dipasang tegak lurus terhadap arus sehingga nantinya akan dapat menghadang gerombolan ikan yang sebelumnya telah dipasangi rumpon, dan gerombolan ikan tertarik lalu mengumpul di sekitar rumpon maupun light fishing dan akhirnya tertangkap karena terjerat pada bagian operculum (penutup insang) atau dengan cara terpuntal.

§ Hauling Setelah dilakukan setting dan ikan yang telah terkumpul dirasa sudah cukup banyak, maka dilakukan hauling dengan menarik jaring jaring untuk menangkap ikan dasar perairan ke permukaan ( jaring ditarik keatas kapal ). Lama penarikan jaring ditentukan oleh banyaknya hasil tangkapan yang diperoleh. Waktu penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap ini umumnya dilakukan pada waktu malam hari terutama pada waktu bulan gelap.

Setelah semua hasil tangkap dan jaring ditarik ke atas kemudian baru dilakukan kegiatan penyortiran. 5. Hal-hal yang mempengaruhi keberhasilan penangkapan 1. Bahan Jaring Supaya ikan mudah dapat terjerat pada mata jaring, maka bahan jaring harus dibuat sebaik mungkin. Bahan atau pilinan yang paling banyak digunakan adalah yang terbuat dari syntetis.

Pilinan yang digunakan adalah cotton, hennep, linen, amylan, nylon, kremona, dan lain-lain sebagainya, dimana pilinan ini mempunyai serat yang lembut. Bahan-bahan dari manila hennep, sisal, jerami dan lain-lain yang serat-nya keras tidak digunakan. Untuk mendapatkan pilinan yang lembut, ditempuh cara yang antara lain dengan memperkecil diameter pilinan ataupun jumlah pilin per-satuan panjang dikurangi, ataupun bahan-bahan celup pemberi warna ditiadakan. 2. Ketegangan rentangan tubuh jaring Yang dimaksud rentangan disini ialah baik rentangan ke arah lebar demikian pula rentangan ke arah panjang.

Ketegangan rentangan ini, akan mengakibatkan terjadinya tension baik pada pelampung line ataupun pada tubuh jaring. Dengan perkataan lain, jika jaring direntang terlalu tegang maka ikan akan sukar terjerat, dan ikan yang telah terjeratpun akan mudah lepas.

Ketegangan rentangan tubuh jaring akan ditentukan terutama oleh bouyancy dari pelampung, berat tubuh jaring, tali temali, sinking force dari pemberat dan juga shortening yang digunakan. 3. Shortening atau shrinkage Supaya ikan-ikan mudah terjerat (gilled) pada mata jaring dan juga supaya ikan-ikan tersebut setelah sekali terjerat pada jaring tidak akan mudah terlepas, maka pada jaring perlulah diberikan shortening yang cukup.

4. Tinggi Jaring Yang dimaksud dengan istilah tinggi jaring disini ialah jarak antara pelampung line ke pemberat line pada saat jaring tersebut terpasang di perairan. Jenis jaring yang tertangkapnya ikan secara gilled, lebih lebar jika dibandingkan dengan jaring yang tertangkapnya ikan secara entangled.

Hal ini tergantung pada swimming layer dari pada jenis-jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan. 5. Mesh size Dari percobaan-percobaan terdapat kecenderungan bahwa sesuatu mesh size mempunyai sifat untuk menjerat ikan hanya pada ikan-ikan yang besarnya tertentu batas-batasnya.

Dengan perkataan lain, gill net akan bersikap selektif terhadap besar ukuran dari catch yang diperoleh. Oleh sebab itu untuk mendapatkan catch yang besar jumlahnya pada pada suatu fishing ground, hendaklah mesh size disesuaikan besarnya dengan besar badan ikan yang jumlahnya terbanyak pada fishing ground tersebut.

Penulis Ledhyane Ika Harlyan, S.Pi, M.Sc Agrobisnis Perikanan, FPIK Universitas Brawijaya Publisher Gery Purnomo Aji Sutrisno FPIK Universitas Brawijaya Angkatan 2015 DAFTAR PUSTAKA Anonymous,1976, Fisherman’s Manual, World Fishing, England.

__________,1975, FAO Catalogue of Smail Scale Fishing Gier, FAO of UN. Ayodyoa, A.U., 1972, Kapal Perikanan, Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. ___________, 1975, Fishing Methods Diktat Kuliah Ilmu Tekhnik Penangkapan Ikan, Bagian Penangkapan Fakultas Perikanan IPB, Bogor.

___________, 1983, Metode Penangkapan Ikan. Cetakan pertama. Fakultas Perikanan. IPB. Bogor. Damanhuri, 1980, Diktat Fishing Ground Bagian Tehnik Penangkapan Ikan, Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya, Malang. Fridman, !988, Perhitungan Dalam Merancang Alat Tangkap Ikan, Balai Pengembangan Penangkapan Ikan, Semarang.

Martosubroto, 1987, Penyebaran Beberapa Sumber Perikanan Di Indonesia, Direktorat Bina Sumberdaya Hayati, Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian, Jakarta. Muhammad, S. Sumartoyo, M. Mahmudi, Sukandar dan Agus Cahyono, 1997, Studi Pengembangan Paket Teknologi Alat Tangkap Jaring Dogol (Danish Seine) Dalam Rangka Pemanfaatan Sumberdaya Ikan-Ikan Demersal Di Perairan Lepas Pantai Utara Jawa Timur, Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya, Malang.

Nedelec W., 2000, Definisi dan Klasifikasi Alat Tangkap Ikan, Balai Pengembangan Penangkapan Ikan, Semarang. Schmidt, Peter G.Jr., 1989, Fish Boats 2, Mc hills, London.

Subani, W., 1978, Alat dan Cara Penangkapan Ikan di Indonesia, jilid I, LPPL, Jakarta. Subani, W dan H.R. Barus, 1989, Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia, Jaring untuk menangkap ikan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian, Jakarta. Ward, george, ed., 1964. Stern trawling Widodo, S., 2002, Identifikasi, Klasifikasi dan Inventarisasi Alat Penangkapan dan Armada Perikanan di Kabupaten Jember, Fakultas Perikanan Unibraw, Malang.

http://infohukum.kkp.go.id/files_permen/PER%2008%20MEN%202008.pdf B. Pertanyaan (Evaluasi mandiri) 1. What is the function of rumpon? 2. Why should the twine diameter of gillnet be as small as possible? 3. Which part of gillnet that determine catch size? 4. What are differences of drift gillnet and set gillnet? 5. How important to know fish swimming layer? C. QUIZ -mutiple choice (Evaluasi) D. PROYEK (menggambar konstruksi gillnet menetap) Propagasi A. Latihan dan Diskusi 1.

Mengapa gillnet dapat dikatakan sebagai alat tangkap pasif? 2. Mengapa gillnet dijadikan standar selektivitas alat tangkap?
• Selain menangkap ikan, memperbaiki jaring merupakan keahlian yang harus dimiliki nelayan, salah satunya seperti di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Desa Kranji, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. • Alat yang digunakan untuk memperbaiki ini hampir sama dengan alat untuk membuat jaring. Diantaranya seperti kedapang, gunting, coban dan benang nilon.

• Penyebab kerusakan jaring beragam, ada yang rusak karena tersangkut karang, bangkai kapal, tertancap di dalam lumpur, dan kapasitas ikan terlalu banyak juga bisa menyebabkan jaring jebol. • Harga jaring untuk menangkap ikan selalu mengalami kenaikan. Sementara, kualitasnya semakin menurun. Dulu, jaring yang digunakan nelayan masih kuat bertahan 4-5 tahun. Sekarang ini bisa bertahan 3 tahun saja sudah bagus. Alunan musik dangdut koplo terdengar nyaring di atas perahu yang berlabuh di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Desa Kranji, Kecamatan Paciran, Jaring untuk menangkap ikan Lamongan, Jawa Timur.

Seperti sudah menjadi syarat wajib bagi nelayan setempat, musik dangdut koplo sudah biasa menemani aktivitas mereka.

Salah satunya seperti aktivitas menyulam jaring. Selain menangkap ikan, memperbaiki jaring merupakan keahlian yang harus dimiliki nelayan setempat. Hal ini terlihat dari jari-jari sejumlah nelayan yang lincah menyulam, menyaling-nyilang benang jaring yang sobek. “Kalau di kami proses penyulaman seperti ini dinamakan ngayum,” kata Sutomo, nelayan setempat kepada Mongabay Indonesia disela-sela aktivitasnya menyulam jaring, Sabtu (13/06/2020). baca : Pelegalan Cantrang Jadi Bukti Negara Berpihak kepada Investor Nelayan saat memperbaiki jaring di kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI), Desa Kranji, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Lebih lanjut pria berusia 42 menjelaskan, secara manual, alat yang digunakan untuk memperbaiki ini hampir sama dengan alat untuk membuat jaring. Diantaranya seperti kedapang, gunting, coban dan benang nilon. Alat-alat ini memiliki fungsi masing-masing. Kedapang misalnya, digunakan untuk menentukan besar kecil mata jaring yang akan dibuat.

Supaya mata jaring bisa teratur dan rapi. Lazimnya alat ini terbuat dari kayu dan bambu. Kemudian coban digunakan untuk menyulam jaring. Bentuknya seperti jarum, gunanya untuk menyimpan atau menggulung benang yang akan digunakan membuat jaring. Ukuran dan bentuknya, kata Tomo, berbeda-beda sesuai dengan penggunaan. Tergantung pada ukuran benang dan ukuran mata jaring yang akan dibuat. Berikutnya adalah benang nilon yang dipilih dengan ukuran tertentu.

Disesuaikan dengan jaring yang akan disulam atau dibuat. Sedangkan gunting digunakan untuk memotong bekas benang nilon. baca juga : Terdampak COVID-19, Nelayan Harus Diberi Perhatian Khusus Seorang nelayan sedang memperbaiki jaring dengan disulam.

Dalam bahasa lokal proses penyulaman ini disebut dengan “ngayom”. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Butuh Ketelitian Disaat memperbaiki jaring, hal utama yang perlu dimiliki nelayan yaitu kesabaran dan ketelitian.

Zainal Abidin (47), nelayan lain mengatakan, memperbaiki jaring ikan adalah kombinasi dari memotong dan menyambung jaring ikan. Melihat jaring yang rusak dibutuhkan ketelitian, karena jaring yang digunakan untuk menangkap ikan mempunyai ukuran panjang sekitar 600 meter. Sementara lebarnya sekitar 80 meter.

Ukuran kerusakannya juga relatif berbeda-beda antara 10-30 meter. Untuk itu selain ketelitian juga diperlukan kesabaran saat membentuk kembali pola jaring. Hal ini dilakukan agar bisa sesuai dengan jaring yang tidak sobek.

Saat memperbaiki jaring terkadang lebih sulit daripada membuat jaring yang baru. perlu dibaca : Pandemi COVID-19 Menurunkan Pendapatan Nelayan di NTT.

Apa Solusinya? Nelayan saat jaring untuk menangkap ikan melaut. Selain menangkap ikan, memperbaiki jaring merupakan keahlian yang harus dimiliki nelayan setempat.

Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Waktu memperbaiki, lanjutnya, tergantung kerusakan. Jika jaring rusak parah, tingkat perbaikanya semakin lama, antara 3-5 hari.

Sistem perbaikannya gotong royong sesama Anak Buah Kapal (ABK) dengan jumlah 25-30 orang. Sementara itu, untuk perbaikan jaring ini menghabiskan jaring untuk menangkap ikan antara Rp5-10 juta. “Berat jaring paling tidak 3 ton untuk satu perahu. Jaring dengan ukuran 100 meter per biji harganya Rp2,4 juta,” ujar pria berkulit sawo matang ini.

Lanjutnya, untuk sisa jaring yang tidak bisa diperbaiki dijual dengan harga murah sekitar Rp6 ribu/kg. Zainal, panggilan akrabnya, membeberkan, masing-masing mata jaring ikan ini juga mempunyai ukuran sendiri, tergantung jenis ikan yang akan ditangkap. Kalau di TPI Kranji tangkapan utamanya yaitu ikan tongkol dan ikan kembung.

Jika beruntung ada juga yang dapat ikan ajahan. Mata jaring yang digunakan untuk menangkap ikan tongkol ukuranya antara 2-3 in. Sementara ikan kembung ukuran mata jaringnya 1 in. Tangkapan ikan ini juga tergantung arah angin.

Kalau musim angin timur ikan hasil tangkapannya yaitu ikan kembung atau dengan nama latin Rastrelliger. Pada bulan jaring untuk menangkap ikan musim angin barat, ikan hasil tangkapannya yaitu tongkol atau nama latinya Euthynnus affinis. baca : Nasib Nelayan Semakin Terpuruk di Saat Pandemi COVID-19 Nelayan memindahkan ikan hasil tangkapan dari perahu ke Tempat Pelelangan Ikan.

Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Faktor Kerusakan Fianto (40), nelayan lain bercerita, setiap kali melaut jaring pasti ada yang rusak.

Penyebab kerusakannya pun beragam, ada yang rusak karena tersangkut karang, tersangkut bangkai kapal atau tertancap di dalam lumpur. Kemudian, kapasitas ikan terlalu banyak juga bisa menyebabkan jaring jebol. “Setiap kali melaut pasti ada jaring yang rusak, jaring untuk menangkap ikan tingkat kerusakannya berbeda-beda. Parahnya lagi jika jaring hilang, kerugiannya minimal Rp100 juta,” kata pria bertopi ini.

Kerusakan atau kehilangan jaring membuat nelayan semakin rugi. Apalagi saat ini biaya operasional dan pendapatan tidak sebanding. Harga jaring selalu mengalami kenaikan. Sementara, kualitasnya semakin menurun. “Dulu jaring yang digunakan nelayan masih kuat bertahan 4-5 tahun. Sekarang ini bisa bertahan 3 tahun saja sudah bagus,” imbuh Fianto. Nelayan setempat, kata dia, sekali melaut untuk biaya perbekalannya paling tidak Rp1 juta.

jaring untuk menangkap ikan

baca juga : Perjuangan Industri Perikanan Tangkap Keluar dari Jurang COVID-19 Nelayan di Jaring untuk menangkap ikan sedang menangkap ikan.

Selain ikan tongkol, jaring ini juga digunakan untuk menangkap ikan kembung. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Nelayan biasanya berangkat melaut mulai jam 07.00 WIB, pulang jam 17.00 WIB.

Jika tangkapan beruntung bisa sampai jam 20.00 WIB. Hasil tangkapan beragam antara 3-5 ton. Sedikitnya 1 ton. Bahkan, kadang juga pulang hanya membawa ikan cukup buat makan. Sementara itu, perahu yang digunakan mempunyai ukuran 21 Gross tonnage. Alat tangkap yang dipakai para nelayan ini disebut dengan pukat cincin atau purse seine. Pukat cincin ini, lanjut Fianto, dioperasikan dengan cara melingkari jaring terhadap gerombolan ikan.

Pelingkaran dilakukan dengan cepat, kemudian secepatnya pula menarik purse line diantara cincin-cincin yang ada, sehingga jaring ini akan membentuk seperti mangkok. Saat menarik, dibutuhkan kecepatan yang tinggi agar ikan-ikan yang sudah terperangkap tidak bisa lolos.

Perahu nelayan saat akan bersandar di di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Desa Kranji, Kecamatan Paciran, Lamongan, Jatim. Perahu yang digunakan nelayan ini mempunyai ukuran 21 gross tonnage. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia
Alat untuk Menangkap Ikan – Ada berbagai jenis ikan di laut yang tersebar di beberapa lokasi di Indonesia. Dengan berbagai jenis ikan laut, ada juga berbagai jenis alat tangkap yang tersedia.

1. Jaring Lingkar Alat tangkap satu set adalah jaring berbentuk segi empat yang terdiri dari sayap, lambung, stock, weight, top exit line, kerut/tali jangkar atau tanpa bottom, yang bagiannya berupa kantong, yang berfungsi sebagai berikut: mengelilingi gerombolan ikan pelagis. Kelompok alat tangkap ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu: a. Purse Seine b. Lampara (Without Purse Line) Alat jaring lingkar dioperasikan dengan cara mengelilngi gerombolan ikan yang tertangkap membentuk lingkaran untuk menghalangi arah renang ikan hingga terperangkap dalam lingkaran jaring.

image credit jaring untuk menangkap ikan kapaldanlogistik.com Operasi dilakukan di permukaan sampai kolom air memiliki kedalaman yang cukup (Net Water Depth 0,75), umumnya untuk penangkapan ikan pelagis. Jaring kantong menyasar ikan pelagis, yaitu ikan yang hidup di permukaan pada kedalaman kurang dari 200 meter. Jenis ikan pelagis seperti: tuna, layang-layang, tenggiri, tenggiri, lemuru, slingseng, cumi-cumi, dan ikan biasa digunakan sebagai umpan.

2. Jaring Pukat image credit : kapaldanlogistik.com Kelompok jenis jaring ikan adalah seperangkat alat tangkap yang dibungkus (cod-end) tanpa alat pembuka jaring, yang berjalan melingkar di sekitar gerombolan (sekolah) ikan dan ditarik ke perahu yang diparkir / ditambatkan atau ke darat / pantai.

melalui sayap. dan tali. Contoh kelompok alat tangkap ini antara lain: Dogol Pair Seine Payang Cantrang Lampara Dasar Pengoperasian jaring ini dilakukan dengan mengelilingi ikan pelagis atau demersal dengan perahu atau tanpa perahu. Pukat-hela (trawl) udang ditarik ke perahu yang diparkir, di jangkar, atau ke darat/pantai dengan tali di sisi sayapnya.

Proses yang dilakukan di permukaan, kolom atau dasar perairan umumnya untuk menangkap ikan pelagis dan demersal tergantung dari jenis pukat yang digunakan. Contoh trawl adalah Cantrange, yang dilarang karena dapat menangkap semua jenis ikan, termasuk ikan kecil. Hella trawl Pukat-hela (trawl) jenis pukat-hela (trawl) adalah seperangkat alat penangkap ikan yang dibungkus atau tanpa jaring dan dioperasikan dengan cara ditarik dari samping atau jaring untuk menangkap ikan perahu yang melaju kencang.

image credit : kapaldanlogistik.com Pada umumnya perahu-perahu ini memiliki geladak yang dapat digunakan di buritan kecuali perahu tersebut diubah dari perahu lain yang digunakan untuk mengoperasikan pukat-hela (trawl) udang.

Trawl kasar dan trawl samping dapat digunakan untuk mengoperasikan trawl dasar, trawl sedang, dan trawl permukaan. Berikut ini adalah jenis-jenis alat pengait dari Hela Trawl Group: Penggunaan alat tangkap ini dilarang karena merusak ekosistem. Pukat dan trawl tidak hanya menangkap ikan dengan berbagai ukuran tetapi juga merusak terumbu karang dan ekosistem dasar laut. Penggaruk / Degres image credit : kapaldanlogistik.com Kapal keruk adalah kelompok alat penangkap ikan dengan rangka kayu atau besi kasar atau diikat pada dasarnya, dipasang atau tanpa jaring/bahan lain, dioperasikan dengan menggali dasar air dengan atau tanpa perahu untuk menangkap kerang dan makhluk hidup.

tinggal. Jenis alat tangkap yang termasuk dalam kelompok ini adalah: a. Penggaruk Kapal / Boat Degres b. Penggaruk tanpa Kapal / Hand Degres Alat tangkap ini umumnya terdapat di perairan dangkal yang tidak jauh dari pantai.

Sendok biasanya ditujukan untuk kerang, teripang, dan organisme menetap lainnya.

Tangkap ikan menggunakan jaring




2022 www.videocon.com