Akulturasi budaya lokal dengan budaya islam dalam seni aksara tercermin pada

akulturasi budaya lokal dengan budaya islam dalam seni aksara tercermin pada

KOMPAS.com - Pada perkembangan budaya Islam di Indonesia, terjadi akulturasi budaya pra-Islam dan budaya Islam dalam berbagai bentuk, antara lain seni bangunan, seni ukir atau seni pahat, kesenian, seni sastra dan kalender. Tahukah kamu bentuk akulturasi budaya Islam di bidang aksara dan seni sastra? Seni sastra akulturasi budaya Islam Mengutip Sumber Belajar Kemdikbud RI, penyebaran Islam di Indonesia menimbulkan dampak akulturasi antara budaya pra-Islam dengan unsur Islam di bidang aksara dan seni sastra.

Terlihat dari abjad Arab untuk menulis bahasa Arab mulai digunakan di Indonesia, huruf Arab digunakan di bidang seni ukir, dan berkaitan dengan perkembangan seni kaligrafi.

Perkembangan sastra di zaman madya terpengaruh dari sastra Islam dan Persia serta unsur sastra sebelumnya. Sehingga terjadi akulturasi antara sastra Islam dengan sastra zaman pra-Islam.

Bentuk akulturasi seni sastra budaya Islam dengan budaya pra-Islam antara lain: Baca juga: Akulturasi dan Perkembangan Budaya Islam Hikayat Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hikayat adalah karya sastra lama Melayu berbentuk prosa yang berisi cerita, undang-undang, dan silsilah bersifat rekaan, keagamaan, historis, biografis atau gabungan sifat-sifat itu, dibaca untuk pelipur lara, pembangkit semangat juang, atau sekadar untuk meramaikan pesta.

Singkatnya, hikayat adalah karya sastra yang berisi cerita sejarah atau dongeng.

akulturasi budaya lokal dengan budaya islam dalam seni aksara tercermin pada

Hikayat berisi berbagai peristiwa yang menarik, keajaiban atau hal-hal yang tidak masuk akal. Hikayat ditulis dalam bentuk gancaran yaitu karangan bebas atau prosa. Contoh hikayat yang terkenal adalah Hikayat Iskandar Zulkarnain, Hikayat Raja-raja Pasai, Hikayat Khaidir, Hikayat si Miskin, Hikayat 1001 Malam, Hikayat Bayan Budiman dan Hikayat Amir Hamzah.

akulturasi budaya lokal dengan budaya islam dalam seni aksara tercermin pada

Baca juga: Akulturasi dan Perkembangan Budaya Islam Seni Bangunan Kemdikbud Hikayat Bayan Budiman, salah satu karya seni sastra akulturasi budaya Islam di Indonesia. Babad Menurut KBBI, babad adalah kisahan berbahasa Jawa, Sunda, Bali, Sasak dan Madura yang berisi peristiwa sejarah.

Babad sama dengan cerita sejarah, riwayat, sejarah tambo, salasilah atau hikayat. Penulisan babad seperti tulisan sejarah tetapi isinya tidak selalu berdasarkan fakta. Isi babad campuran antara fakta sejarah, mitos dan kepercayaan. Wujud akulturasi antara budaya lokal, Hindu-Budha dan Islam pada bangunan masjid tercermin dalam…. A. Arah kiblat B. Atap tumpang C. Tempat pengimaman D. Bahan bangunan dari batu bata E. Tempat wudhu di samping masjid Pembahasan soal Di Indonesia, bangunan mesjid mengikuti seni arsitektur yang berkembang sebelumnya, seperti Mesjid Agung Cirebon, Agung Banten, Demak, Kudus, Jepara dan mesjid-mesjid lainnya.

Mesjid-mesjid tersebut memiliki ciri atap yang bertumpuk-tumpuk yang banyak pengaruh dari budaya lokal dan Hindu-Buddha seperti konsep meru pada bangunan candi. Dilihat dari segi arsitekturnya, masjid-masjid di Indonesia kuno menampil-kan gaya arsitektur asli Indonesia, yakni dengan ciri-ciri sebagai berikut. • Atapnya bertingkat/tumpang dan ada puncaknya (mustaka). • Pondasinya kuat dan agak tinggi. • Ada serambi di depan atau di samping. • Ada kolam/parit di bagian depan atau samping.

• Gaya arsitektur bangunan yang mendapat pengaruh Islam ialah : Hiasan kaligrafi, Kubah, dan Bentuk masjid Jadi: Wujud akulturasi akulturasi budaya lokal dengan budaya islam dalam seni aksara tercermin pada budaya lokal, Hindu-Budha dan Islam pada bangunan masjid tercermin dalam….B [ Atap tumpang] Untuk materi lebih lengkap tentang MASUKNYA AGAMA ISLAM DI INDONESIA silahkan kunjungi link youtube berikut ini. Kalau bermanfaat jangan lupa subscribe, like dan share.

Terimakasih • • Katagori • Ayo Kerja • Barisan6 • IPS Terpadu • Kumpulan Soal • Masa Awal Kemerdekaan • Masa Demokrasi Liberal • Masa Demokrasi Terpimpin • Masa Hindu-Budha • Masa Islam • Masa Kolonial Barat • Masa Orde Baru • Masa Pendudukan Jepang • Masa Pergerakan Nasional • Masa Pra-Aksara • Masa Reformasi • Materi Daring Sejarah • Pakar Kejombloan • PembaTIK 2021 • Pemberontakan di Indonesia • Pendidikan • Perjuangan Bangsa Indonesia • Sejarah Dunia • Sejarah Indonesia • Soal EHB BKS Sejarah Peminatan • Soal IPS Terpadu • Soal OSN IPS • Soal PAS Sejarah • Soal PAT Sejarah • Soal Sejarah SMA • Soal Tes Wawasan Kebangsaan • Soal USBN IPS • Soal USBN Sejarah • soal UTBK Sejarah • Toeri-Teori • Uncategorized • Pos-pos Terbaru • Kisi Tes Potensi Akademi Pretest PPG 2022 Matapelajaran Sejarah • Sebelum keluarnya Undang Undang Agraria tahun 1870 • Peran Marthen Indey • Kontribusi Indonesia dalam OKI • Tokoh yang memprakarsai Gerakan Non Blok • Negara Pelopor ASEAN • Tokoh pendiri Dinasti Isyana • Fungsi peninggalan Megalitikum • Saluran persebaran Islam di Indonesia • Dasar Teori Persia • Faktor pendorong adanya penjelajahan samudera • Bentuk pelaksanaan politik etis • Ciri perjuangan bangsa Indonesia sebelum tahun 1908 • Akhir dari Demokrasi Liberal • Tokoh Indonesia yang berjasa ikut mendirikan ASEAN • Pasal terkait jabatan presiden • Prinsip Gerakan Non Blok • Latar belakang pembentukan Romusa • Hasil Konferensi Meja Bundar • Kerajaan Islam di Pulau Sumatera • Isi Kapitulasi Kalijati • 3 Peserta Peraih Suara Terbesar Pemilu 1971 • Penyelesaian masalah Timor Timur • Asal usul nenek moyang Indonesia • Memilih Sumber • Partai yang tergabung dalam PDI • Provinsi Baru di Sulawesi Pasca Reformasi • Negara yang hadir dalam Konferensi Asia di New Delhi • Pengaruh Portugis dalam Bidang Kesenian • Gerakan bawah tanah masa pendudukan Jepang
• Home • Tentang Kami • Pengertian • artikel ekonomi • Artikel Biologi • Pendidikan kewarganegaraan ( PKN ) • Artikel Agama • sejarah • Bahasa Indonesia • Artikel Sosiologi • Artikel Seni • Kontak Kami • Privacy Policy • Covid-19 Home » Artikel Sosiologi » Akulturasi » Wujud Akulturasi Ajaran Islam Dengan Budaya Lokal Wujud Akulturasi Ajaran Islam Dengan Budaya Lokal – Dalam menjelaskan atau menyebutkan tentang apa bentuk dari akulturasi ajaran islam dengan budaya lokal dalam hal ini budaya Indonesia adalah hal yang menarik untuk diulas bersama sebab dengan mengetahui wujud akulturasi ajaran Islam dengan budaya lokal, adalah memahami salah satu ciri atau karakteristik bangsa Indonesia.

Namun pertama-tama tahukah anda apa yang dimaksud dengan Akulturasi? Secara umum yang dimaksud dengan pengertian akulturasi adalah percampuran dan perpaduan budaya-budaya setempat dengan budaya arah di satu sisiserta nilai-nilai dan ajaran islam di sisi yang lain.

Sedangkan yang dimaksud dengan budaya lokal adalah seluruh ide, aktivitas dan hasil aktivitas manusia dalam suatu kelompok masyarakat di lokasi tertentu. Budaya lokal ini tumbuh dan berkembang dan disepakati bersama, yang sumbernya dari nilai aktivitas dan hasil tradisional atau warisan nenek moyang, komponen dan unsur budaya yang menjadi ciri khas dan atau hanya berkembang dalam masyarakat tertentu.

akulturasi budaya lokal dengan budaya islam dalam seni aksara tercermin pada

Dari hal ini, pemahaman dalam membahas tentang wujud akulturasi ajaran Islam dengan budaya lokal bisa sedikit terarah dengan berpedoman pada definisi diatas sebagai topik utama pada kali ini. Perlu diketahui bersama bahwa sejak awal perkembangan Islam telah menerima akomodasi budaya. Hal itu bisa dipahami dalam dua bagian yaitu, islam sebagai konsepsi sosial budaya dan islam sebagai realitas budaya.

Membahas tentang wujud akulturasi ajaran Islam dengan budaya lokal yang paling cocok dari kedua hal itu adalah isla msebagai realitas budaya yang sering disebut tradisi kecil yang berarti kawasan yang berada di bawah pengaruh Islam yang mencakup konsep atau norma, aktivitas serta tindakan manusia, dan berupa karya-karya yang dihasilkan masyarakat.

Sehingga budaya-budaya local yang terdapat dalam masyarakat tidak serta merta hilang dari kehadiran Islam, melainkan berkembang dengan mendapat warna Islam. Demikian inilah yang dikenal dengan “akulturasi budaya” antara budaya local dan Islam.

Daftar Isi • 1 Wujud Akulturasi islam Dengan Budaya Lokal Adalah • 1.1 1. Akulturasi Seni Bangunan • 1.2 2. Akulturasi Makam • 1.3 3. Akulturasi Sistem Penanggala/Kalender • 1.4 4. Akulturasi Perayaan Keagamaan • 1.5 5. Akulturasi Seni Rupa Wayang • 1.6 6. Akulturasi Seni aksara • 1.7 7. Seni Tari dan Musik • 1.8 8.

akulturasi budaya lokal dengan budaya islam dalam seni aksara tercermin pada

Sistem Pemerintahan Wujud Akulturasi islam Dengan Budaya Lokal Adalah Islam melakukan pengembangan dalam budaya local dengan memasukkan nilainya seperti menghapuskan perbuatan-perbuatan syirik dan mengkultuskan sesuatu hal dan hanya menjadikan suatu kebudayaan sebagai peninggalan nenek moyang yang harus dijaga sebagai ciri khas suatu daerah atau sejarah atau bisa dilakukan dengan mencampurkan seperti macam-macam wujud akulturasi Islam dengan budaya lokal yang ada dibawah ini: • Masjid seperti Masjid Demak dengan atap yang berlapis diambil dari konsep ‘Meru’ dari Hindu-Budha yang yang terdiri Sembilan susun namun dipotong Sunan Kalijaga menjadi tiga susun saja • Menara seperti menara mesjid kudus yang terdapat sebuah candi jawa timur yang telah diubah dan disesuaikan penggunaannya serta diberi atap tumpang.

• Letak masjid yang berdekatan dengan istana. 2. Akulturasi Makam Kuburan atau makan dalam Islam diperkuat dengan bangunan dari batu yang disebut jirat atau kijing dan bertuliskan kaligrafi dari ayat al-qur’an maupun hadist. Seperti pada makam Maulana Malik Ibrahim dan ratu Nahrasyiah di aceh serta makam Fatimah binti maimunyang membuktikan bahwa pada abad ke-11 M masyarakat masih terikat pada bentuk candi. 3. Akulturasi Sistem Penanggala/Kalender Kalender saka adalah sistem penanggalan dengan perpaduan jawa asli dan hindu sampai dengan tahun 1633 M.

Kalender saka berdasarkan peredaran matahari di ubah ke peredaran bulan yang sesuai dengan penanggalan islam hijriyah. Begitu juga dari nama dan bulan pun mengalami perubahan, seperti: srawanabhadraasujikartika dll. 4. Akulturasi Perayaan Keagamaan • Selametan adalah semacam pesta yang melibatkan sekelompok orang atau masyarakat untuk tujuan berdoa memohon tujuan keselamatan kepada tuhan. Acara selametan terdiri atas pembaca doa, pembaca al-Qur’an dan sholawat yang kemudian dipadu dengan unsur adat yang dilambangkan dalam makanan.

• Sekaten acara maulid dan yakni memperingati hari lahir nabi Muhammad SAW yang dilakukan di Yogyakarta dan Surakartayang di jadikan juga sebagai ajang untuk kekuatan dan pawai patriotisme. 5. Akulturasi Seni Rupa Wayang Pertunjukan wayang adalah bentuk pendalangan yang popular di Indonesia sejak masa pra islam.

Namun ini digunakan penyebaran agama sebagaimana dilakukan oleh para wali dalam memperkenalkan ajaran-ajaran islam dengan menceritakan tentang kepahlawanan Islam. yang di pagelarkan dengan cara yang sama melalui wayang golek.

akulturasi budaya lokal dengan budaya islam dalam seni aksara tercermin pada

6. Akulturasi Seni aksara • Khat/ kaligrafi adalah huruf arab yang ditulis dengan indah yang tampak pada peninggalan batu nisan kuno makam Malik Al-saleh di aceh dan makam marmer Ratu Nahrasiyah Samudera Pasai, Aceh yang bergaya islam Gujarat india.

• Aksara Arab Pegon adalah tulisan berhuruf arab (hijaiyah) dengan tanda bacanya (harakat/sandangan) yang berbahasa Jawa pada sekitar awal islam abad 15-16 M. Sunan Bonang dan Sunang Gunung Jati banyak mengembangkan kesusasteraan ini dalam proses islamisasi di jawa.

7. Seni Tari dan Musik Contoh ini pada Tari zapin dari kepulauan riau, yang namanya berasal dari bahasa arab Zaffan, berarti penari atau langkah kaki.

akulturasi budaya lokal dengan budaya islam dalam seni aksara tercermin pada

Tari daerah Hadramaut (yaman), arab selatan dibawah saudagar yaman abad ke-13 Masehi yang menjadi media dakwah di nusantara saat itu.

8. Sistem Pemerintahan Kerajaan yang menerapkan sistem pemerintahan yang menerapkan hukum islam adalah samudera pasaimajapahit, demak dll. Adapun contohnya adalah penggunaan mata uang emas dinar di kerajaan samudera pasai, pelaksanaan kewajiban sholat, hukuman potong tangan bagi pencuri diatas 1 dinar di kerajaan Bantendan masih banyak contoh lainnya. 9. Kosa Kata Kosa kata bahasa jawa maupun melayu banyak mengadopsi konsep-konsep islam seperti istilah hukum dan politik: halal, haram, hakim, mahkamah dan banyak di istilah-istilah lainnya.

Demikianlah informasi mengenai topik yang berjudul Wujud Akulturasi Ajaran Islam Dengan Budaya Lokal. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Sekian dan terima kasih. Salam berbagi teman-teman.

akulturasi budaya lokal dengan budaya islam dalam seni aksara tercermin pada

Recent Posts • Pengertian Kimia, Fungsi, Cabang Ilmu, Manfaat, & Kimia Menurut Para Ahli • Pengertian Kronologi, Fungsi, dan Contoh Kronologi Dalam Sejarah • Pengertian Presipitasi, Fungsi, Arti Presipitasi Menurut Para Ahli dan Kimia, Biologi • Pengertian Periodisasi, Tujuan, Komponen & Contoh Periodisasi • Pengertian Perusahaan Manufaktur, Karakteristik/Ciri, & Fungsi Perusahaan Manufaktur Jauh sebelum Islam datang ke Indonesia, di negara kita telah berkembang banyak agama seperti agama Hindu, Budha dan agama-agama primitif animistis lainnya, serta tradisi sosial kemasyarakatan.

Dengan masuknya islam di negara kita ini, Indonesia kembali mengalami proses bercampurnya dua atau lebih kebudayaan karena percampuran unsur unsur yang saling mempengaruhi satu sama lain sehingga kebudayaan asing lambat laun akan diterima oleh masyarakat atau yang biasa dikenal dengan nama akulturasi. Meskipun begitu, masuknya Islam tersebut tidak berati kebudayaan kebudayaan sebelumnya hilang.http://ejournal.radenintan.ac.id/index.php/analisis/article/view/641 Pertama,atap masjid berupa tumpang atau bersusun.

Semakin ke atas semakin kecil, tingkat paling atas berbentuk limas, jumlah tumpang selalu ganjil (gasal) tiga atau lima. Atap tersebut dikenal dengan meru. Atap masjid biasanya masih diberi puncak (kemuncak) yang disebut mustaka. Contohnya yaitu masjid Demak dan masjid agung Cirebon. Seni hias yang menunjukkanakulturasi budaya adalah huruf Arab yang disebut kaligrafi. Untuk seni pahat,di Indonesia terdapat banyak bangunan-bangunan Islam berhiaskan berbagai motif ukir-ukiran yang terletak pada pintu atau tiang di bangunan keraton, masjid, gapura atau pintu gerbang.

Pada masa ini juga dikembangkan seni hias seni ukir dengan bentuk tulisan Arab yang dipadukan dengan ragam hias lain. Termasuk seni kaligrafi dengan bentuk orang, binatang,tumbuhan atau wayang.
none
KOMPAS.com - Akulturasi budaya pra-Islam dan budaya Islam di Indonesia terjadi dalam beberapa bidang, yaitu seni bangunan, seni ukir (seni pahat), kesenian, seni sastra dan aksara, serta kalender.

Tahukah kamu bagaimana akulturasi dan perkembangan budaya Islam pada sistem penanggalan atau kalender? Kalender akulturasi budaya Islam Mengutip Sumber Belajar Kemdikbud RI, khalifah Umar bin Khattab membenahi kalender Islam menjelang tahun ketiga pemerintahannya. Perhitungan tahun yang dipakai atas dasar peredaran bulan (komariyah) yang kemudian disebut tahun Hijriyah. Umar menetapkan tahun 1 Hijriyah bertepatan dengan 14 September 622 Masehi.

Sistem penanggalan di Arab tersebut juga berpengaruh di nusantara. Baca juga: Akulturasi dan Perkembangan Budaya Islam Bukti akulturasi budaya Islam di sistem penanggalan (kalender) yang paling nyata adalah sistem kalender yang diciptakan oleh Sultan Agung. Ia melakukan perubahan nama-nama bulan pada tahun Saka.

akulturasi budaya lokal dengan budaya islam dalam seni aksara tercermin pada

Bulan Muharam diganti dengan Sura dan Ramadhan diganti dengan Pasa. Kalender ini dimulai pada 1 Muharam 1043 Hijriyah. Kalender Sultan Agung dimulai tepat dengan 1 Sura 1555 Jawa atau 8 Agustus 1633 M. Melansir Kraton Jogja, Sultan Agung adalah raja ketiga dari Kerajaan Mataram Islam. Pada masa itu, masyarakat Jawa menggunakan kalender Saka yang berasal dari India.

Kalender Saka didasarkan pergerakan matahari (solar), berbeda dengan kalender Islam yang berdasarkan pada pergerakan bulan (lunar) yaitu kalender Hijriyah.

akulturasi budaya lokal dengan budaya islam dalam seni aksara tercermin pada

Baca juga: Akulturasi dan Perkembangan Budaya Islam Seni Bangunan Maka dari itu, perayaan-perayaan adat yang diselenggarakan oleh keraton tidak selaras dengan perayaan-perayaan hari besar Islam. Sultan Agung menginginkan agar perayaan-perayaan tersebut dapat bersamaan waktu. Untuk itulah ia menciptakan sistem penanggalan baru yang merupakan perpaduan kalender Saka dan kalender Hijriyah.Akulturasi Kebudayaan Indonesia dan Islam (Seni Bangunan, Sistem Kalender, dan Pemerintahan) - Materi SMA Online • Home • Materi SMA • • Materi Kelas 10 • • Biologi • Ekonomi • Geografi • Sejarah • Sosiologi • Materi Kelas 11 • • Antropologi • Biologi • Ekonomi • Geografi • Sejarah • Sosiologi • Materi Kelas 12 • • Antropologi • Biologi • Ekonomi • Geografi • Sejarah • Sosiologi • Penjaskes • Materi SMP • • Materi Kelas 7 • • Materi IPA • Materi IPS • Materi Kelas 8 • • Materi IPA • Materi IPS • Materi Kelas 9 • • Materi IPA • Materi IPS • Daftar Isi Makam khususnya untuk para raja bentuknya seperti istana disamakan dengan orangnya yang dilengkapi dengan keluarga, pembesar, dan pengiring terdekat.

Budaya asli Indonesia terlihat pada gugusan cungkup yang dikelompokkan menurut hubungan keluarga. Pengaruh budaya Islam terlihat pada huruf dan bahasa Arab, misalnya Makam Puteri Suwari di Leran (Gresik) dan Makam Sendang Dhuwur di atas bukit (Tuban). Akulturasi bidang seni rupa terlihat pada seni kaligrafi atau seni khot, yaitu seni yang memadukan antara seni lukis dan seni ukir dengan menggunakan huruf Arab yang indah dan penulisannya bersumber pada ayat-ayat suci Al Qur'an dan Hadit. Adapun fungsi seni kaligrafi adalah untuk motif batik, hiasan pada masjid-masjid, keramik, keris, nisan, hiasan pada mimbar dan sebagainya.

1) Suluk, yaitu kitab yang membentangkan ajaran tasawuf. Contohnya ialah Suluk Wujil, Suluk Sukarsa, dan Suluk Malang Sumirang. Karya sastra yang dekat dengan suluk ialah primbon yang isinya bercorak kegaiban dan ramalan penentuan hari baik dan buruk, pemberian makna kepada sesuatu kejadian dan sebagainya.

Pada zaman Khalifah Umar bin Khatab ditetapkan kalender Islam dengan perhitungan atas dasar peredaran bulan yang disebut tahun Hijriah. Tahun 1 Hijrah (H) bertepatan dengan tahun 622 M. Sementara itu, di Indonesia pada saat yang sama telah menggunakan perhitungan tahun Saka (S) yang didasarkan atas peredaran matahari. Tahun 1 Saka bertepatan dengan tahun 78 M. Pada tahun 1633 M, Sultan Agung raja terbesar Mataram menetapkan berlakuknya tahun Jawa (tahun Nusantara) atas dasar perhitungan bulan ( 1 tahun =354 hari).

Dengan masuknya Islam maka muncul sistem kalender Islam dengan menggunakan nama-nama bulan, seperti Muharram (bulan Jawa; Sura),Shafar (bulan Jawa; Sapar), dan sebagainya sampai dengan Dzulhijah (bulan Jawa; Besar) dengan tahun Hijrah (H).

Pada zaman Hindu pusat kekuasaan adalah raja sehingga raja dianggap sebagai titisan dewa. Oleh karena itu, muncul kultus “dewa raja”.

Apa yang dikatakan raja adalah benar. Demikian juga pada zaman Islam, pola tersebut masih berlaku hanya dengan corak baru. Raja tetap sebagai penguasa tunggal karena dianggap sebagai khalifah, segala perintahnya harus dituruti. 3. Agama Islam mudah diterima oleh masyarakat Indonesia dan berkembang pesat.

Islam mempengaruhi pelbagai segi kehidupan sehingga lahir kebudayaan Islam. Wujud akulturasi tersebut meliputi seni bangunan, seni rupa dan aksara, seni sastra, sistem kalender, akulturasi budaya lokal dengan budaya islam dalam seni aksara tercermin pada musik dan tari, serta sistem pemerintahan.

• Antropologi Kelas 11 [11] • Antropologi Kelas 12 [12] • Biologi Kelas 10 [36] • Biologi Kelas 11 [34] • Biologi Kelas 12 [21] • Ekonomi Kelas 10 [5] • Ekonomi Kelas 11 [15] • Ekonomi Kelas 12 [6] • Geografi Kelas 10 [20] • Geografi Kelas 11 [25] • Geografi Kelas 12 [10] • IPA Kelas 8 [14] • IPA Kelas 9 [3] • IPS Kelas 8 [6] • IPS Kelas 9 [4] • PAI Kelas 10 [4] • Penjaskes Kelas 12 [20] • Sejarah Kelas 10 [29] • Sejarah Kelas 11 [71] • Sejarah Kelas 12 [9] • Sosiologi Kelas 10 [7] • Sosiologi Kelas 11 [14] • Sosiologi Kelas 12 [4] • TIK Kelas 7 [3] Materi SMA Online adalah sebuah blog pendidikan yang berisikan kumpulan materi-materi pelajaran yang dikhususkan untuk pelajaran Sekolah Menengah Atas (SMA).

Walaupun ada materi Pelajaran Sekolah Menengah Pertama (SMP) hal ini dimaksudkan untuk menunjang materi pelajaran yang ada, sehingga siswa tidak terlalu sulit untuk mencari bahan pelajaran yang diinginkan.


tirto.id - Akulturasi dalam perkembangan budaya Islam di Indonesia adalah hal yang tidak bisa dihindarkan saat terjadi kemajemukan di dalam masyarakat.

Budaya, suku, ras, golongan, hingga agama yang berbeda dari membaurnya masyarakat asli dan pendatang, berpeluang tinggi menciptakan akulturasi. Persinggungan perbedaaan membuat sebuah ketertarikan untuk melakukan proses adaptasi di berbagai bentuk kebudayaan.

Akulturasi, menurut sosiolog Gillin dan Raimy, merupakan proses budaya pada masyarakat yang dimodifikasi dengan budaya lain. Adanya kontak sosial dengan budaya lain akan memicunya. Ciri khas akulturasi adalah proses adaptasi tersebut masih tetap mempertahannya kebudayaan lama.

Terjadinya akulturasi dimaksudkan untuk mengembangkan budaya dan sekaligus mempertahankannya. Dr. Trina Harlow berpendapat bahwa cara ini dipakai sebagai sarana mempertahankan budaya sendiri sekaligus belajar memahami keberadaan budaya lain.

Dr. Trina mencontohkan, akulutasi ibarat mangkuk salad yang di dalamnya diisi berbagai bahan makanan. Isian tersebut memang bercampur, namun masing-masing tetap menunjukkan independensinya dan saling meningkatkan posisi satu sama lain. Proses akulturasi tidak berjalan tunggal dan terjadi dengan dinamis. Contoh Akulturasi Budaya Islam Masuknya Islam di Nusantara juga turut memengaruhi akulturasi. Akulturasi tersebut nampak dalam berbagai hal. Ajaran Islam sebelum awalnya berkembang di Jazirah Arab, dibawa ke Nusantara melalui pedagang, dan terjadi perpaduan dengan budaya setempat.

Islam turut memengaruhi adat yang berkembang di Indonesia. Adat dikenal sebagai al urf dalam Islam yang dipahami sebagai kebiasaan masyarakat yang dilakukan turun termurun. Adat adalah hasil refleksi atau pematangan sosial. Abdul Wahab Khallaf, ahli fikih Islam, menilai urf muncul karena adanya saling pengertian banyak orang dengan tidak memandang stratifikasi sosial.

akulturasi budaya lokal dengan budaya islam dalam seni aksara tercermin pada

Hadirnya urf tidak tergantung pada transmisi biologis dan pewarisan dari unsur genetik. Dengan demikian, adat masyarakat dapat mengalami akulturasi saat bersinggungan dengan adat atau budaya lain yang bisa dimaklumi bersama. Begitu juga saat Islam datang ke Nusantara lalu bersinggungan dengan adat setempat, muncul akulturasi termasuk adat yang berciri paduan dengan Hindu - Budha dari kerajaan berkuasa saat itu.

Contoh pengaruh Islam ini sering muncul dalam upacara-upacara sosial budaya. Di adat Jawa, seperti Surakarta, muncul penanggalan Islam namun masih membawa sisi weton di dalamnya seperti Pahing, Pon, Wage, dan sebagainya.

akulturasi budaya lokal dengan budaya islam dalam seni aksara tercermin pada

Penanggalan itu masih dipakai sampai sekarang. Di Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta juga ada tradisi Sekaten. Sekaten adalah pesta rakyat yang konon untuk masuk ke dalamnya harus membaca dulu Syahadatain atau dua kalimat syahadat. Sementara itu di Sumatera terdapat upcara tabut dalam memperingati maulid Nabi Muhammad shallallahu alaihi wassalam. Tradisi serupa hadir pula di Takalar dengan nama maudu' lompoa. Tradisi tahlil, barzanji, dan upacara peringatan untuk orang-orang yang baru meninggal, adalah bentuk konversi budaya masa lalu yang dinilai lebih jahiliah.

Sebagian da'i Islam masa lalu mencoba memberikan alternatif budaya pengganti dari budaya masa lalu yang dianggap menyimpang. Seni ukir dan bangunan tak luput dari akulturasi Islam. Dalam seni ukir, hadir ukiran kaligrafi yang membawa bentuk kalimat bahasa arab dari potongan Al Quran dan Al Hadits. Kreasi ukiran yang melukiskan makhluk hidup, disamarkan dengan berbagai hiasan. Pada seni bangunan, paling kentara dari akulturasi Islam adalah bangunan masjid dan menara kuno. Ciri masjid kuno di Indonesia yaitu memiliki atap bersusun yang berjumlah ganjil.

Menara yang didirikan dipakai untuk mengumandangkan masjid, serta didahului dengan memukul beduk atau kentongan. Masjid kuno masih bisa ditemukan pada Masjid Kudus dan Masjid Banten.

akulturasi budaya lokal dengan budaya islam dalam seni aksara tercermin pada

VIDEO SMA : Akulturasi Kebudayaan Lokal Hindu-Budha&Islam




2022 www.videocon.com