Penanganan saturasi oksigen rendah

penanganan saturasi oksigen rendah penanganan saturasi oksigen rendah

Peran oksigen dalam tubuh kita sangat penting lho. Maka dari itu penting untuk memastikan tingkat saturasi oksigen. Nah ada berbagai cara untuk meningkatkan saturasi oksigen dalam darah. Untuk mengetahui berapa kadar saturasi oksigen yang aman dan bagaimana cara meningkatkan tingkat oksigen dalam darah, simak penjelasan berikut ini! Berapa tingkat oksigen yang normal? Melansir Healthline, tingkat oksigen darah normal bervariasi antara 75 dan 100 milimeter merkuri (mm Hg). Tingkat oksigen darah di bawah 60 mm Hg dianggap rendah dan mungkin memerlukan suplementasi oksigen, tergantung pada keputusan dokter dan kasus individu.

Ketika kadar oksigen dalam darah terlalu rendah dibandingkan dengan rata-rata orang sehat, itu bisa menjadi tanda dari suatu kondisi yang disebut hipoksemia. Ini berarti tubuh mengalami kesulitan untuk mengalirkan oksigen ke semua sel, jaringan, dan organnya. Baca Juga : Kekurangan Oksigen dalam Darah: Penyebab, Ciri-ciri dan Cara Mengatasinya Penyebab hipoksemia atau kadar oksigen rendah Hipoksemia adalah kondisi di mana kadar oksigen dalam darah kamu rendah.

Hipoksemia dapat disebabkan oleh berbagai kondisi. Mulai dari asma, pneumonia, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Ini adalah situasi medis yang serius dan membutuhkan perhatian medis segera. Hipoksemia atau kadar oksigen di bawah nilai normal, dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti: • Tidak cukup oksigen di udara • Ketidakmampuan paru-paru untuk menghirup dan mengirim oksigen ke semua sel dan jaringan • Ketidakmampuan aliran darah untuk bersirkulasi ke paru-paru, mengumpulkan oksigen, dan mengangkutnya ke seluruh tubuh Penanganan saturasi oksigen rendah Juga : Benarkah Memakai Masker Bisa Pengaruhi Kadar Oksigen?

Gejala saturasi oksigen dalam darah kamu rendah Kadar oksigen dalam darah yang rendah dapat mengakibatkan sirkulasi yang tidak normal.

Saat ini terjadi, kamu mungkin akan mengalami beberapa gejala berikut: • Sesak napas • Sakit dada • Kebingungan • Sakit kepala • Detak jantung cepat • Mengalami Kegelisahan • Pusing • Pernapasan cepat Jika kamu terus mengalami kadar oksigen yang rendah dalam darah, kamu mungkin menunjukkan gejala sianosis.

Tanda khas dari kondisi ini adalah perubahan warna biru pada bantalan kuku, kulit, dan bibir. Baca Juga : Pulse Oximeter Bisa Deteksi Gejala Happy Hypoxia COVID-19, Apakah Wajib Punya? Cara meningkatkan saturasi oksigen dalam darah Jika kamu mengalami kadar oksigen yang rendah dalam darah dan penanganan saturasi oksigen rendah kesulitan saat bernapas, coba beberapa trik meningkatkan saturasi oksigen dalam darah secara alami berikut ini!

1. Biarkan udara mengalir ke dalam ruangan Cara meningkatkan saturasi oksigen dalam darah yang pertama adalah memastikan rumah punya ventilasi yang baik. Jika cuaca dan kondisi di luar rumah sedang baik, jangan lupa untuk membiarkan jendela dan jalur ventilasi udara lainnya masuk ke dalam rumah.

penanganan saturasi oksigen rendah

Namun apabila kamu tinggal di daerah perkotaan dan tidak dapat membuka jendela karena asap, pertimbangkan untuk membeli sistem penyaringan udara dalam ruangan, atau barang yang bisa memurnikan udara di rumah secara alami. Tapi kamu harus memilih pembersih udara elektronik dengan hati-hati, sebab banyak di antaranya menghasilkan ozon yang mengiritasi paru-paru. Baca Juga : 7 Manfaat Air Purifier, Benarkah Mampu Membunuh Virus Corona? 2. Manfaatkan tanaman hijau Selain memastikan ventilasi udara yang baik, kamu juga bisa menambahkan beberapa tanaman hijau di dalam rumah.

Tanaman hijau di dalam rumah dapat meningkatkan ketersediaan oksigen dalam ruangan. Pakis adalah pilihan bagus untuk produksi oksigen ekstra di rumah. Tanaman ini relatif mudah untuk untuk dirawat dan tidak membutuhkan banyak sinar matahari. 3. Jangan lupa olahraga! Cara meningkatkan saturasi oksigen dalam darah yang berikutnya adalah dengan olahraga.

Olahraga dan aktivitas fisik dapat membantu mengelola kesehatan tubuh kamu secara menyeluruh. Sebaiknya libatkan dokter kamu dalam merencanakan jenis olahraga apa yang tepat. Tanyakan kepada dokter tentang jenis dan jumlah olahraga yang harus kamu lakukan setiap hari. Saat kecepatan dan kedalaman pernapasan meningkat, paru-paru dapat menyerap lebih banyak oksigen, dan itu berarti kamu akan merasa lebih baik.

4. Coba untuk meditasi Latihan meditasi juga bisa jadi alternatif cara untuk meningkatkan saturasi oksigen dalam darah. Mulailah meditasi harian atau yoga yang menekankan pernapasan dalam. Melakukan latihan selama lima hingga sepuluh menit per hari dengan pernapasan yang rileks dan fokus dapat meningkatkan asupan oksigen dan mengurangi stres. 5. Jangan lupa makan sehat! Cara meningkatkan saturasi oksigen dalam darah yang berikutnya adalah memperbaiki pola makan. Kamu harus mulai memperbanyak konsumsi makanan dengan kandungan zat besi yang tinggi.

Apa yang penanganan saturasi oksigen rendah makan dapat memengaruhi kemampuan darah untuk menyerap oksigen. Makanan tertentu dapat membantu meningkatkan kadar oksigen dalam darah. Fokus pada makanan kaya zat besi seperti daging merah, daging unggas, ikan, kacang-kacangan, dan sayuran berdaun hijau. Pilihan diet tadi dapat memperbaiki kekurangan zat besi, yang dapat meningkatkan kemampuan tubuh untuk memproses oksigen dan membuat kamu merasa lebih energik.

Punya pertanyaan lebih lanjut seputar cara meningkatkan saturasi oksigen dalam darah? Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini !

Medical News Today. Diakses pada 29 Januari 2021. Low and normal blood oxygen levels: What to know Healthline.

Diakses pada 29 Januari 2021. What Is Hypoxemia? Verywell Health. Diakses pada 29 Januari 2021. Understanding Oxygen Saturation Lung Institute. Diakses pada 29 Januari 2021. 5 Tips to Increase your Blood Oxygen Naturally Sebagian besar pasien COVID-19 yang bergejala ringan atau tanpa gejala dianjurkan untuk menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah.

Bagi pasien yang menjalani isoman, penting untuk memantau kondisi diri sendiri selama menjalani isoman. Salah satu yang penting untuk diamati adalah saturasi oksigen, yaitu persentase kadar oksigen yang terikat dengan Hemoglobin (Hb) atau zat merah darah. Cara mengukur Saturasi Oksigen Saturasi oksigen menggambarkan persentase kadar oksigen yang terikat dengan Hemoglobin (Hb) atau zat merah darah. Hemoglobin di dalam sel darah merah mengikat dan membawa oksigen untuk kemudian diedarkan ke seluruh tubuh.

Ketika saturasi oksigen dalam darah berkurang, maka fungsi biologis dalam jaringan tubuh juga akan berkurang. Pada pasien COVID-19 yang menjalani isoman, penting penanganan saturasi oksigen rendah untuk terus memantau kadar gula darah untuk mencegah perburukan.

Untuk mengukur kadar oksigen dalam darah bisa dilakukan dalam dua cara, yaitu menggunakan tes analisis gas darah (AGD) dan menggunakan alat pulse oximeter.

Tes AGD membutuhkan pemeriksaan laboratorium sedangkan yang lainnya hanya membutuhkan alat pulse oximeter. Itulah sebabnya WHO menganjurkan pasien yang sedang isoman untuk memiliki alat pulse oximeter sendiri di rumah.

Dengan alat pulse oximeter, Anda hanya perlu menjepitkan jari pada alat pulse oximeter, lalu alat akan menunjukkan saturasi oksigen dan denyut nadi per menit ( bpm). Normalnya, saturasi oksigen pada orang yang sehat ialah 99-100%. Saturasi oksigen Anda dianggap baik jika berada di kisaran angka 95% atau lebih, sedangkan ketika saturasi Anda di bawah 92% maka pertanda Anda kekurangan oksigen dan perlu segera mendapatkan penanganan dengan tepat.

Jika tidak ditangani dengan tepat, menurunnya kadar oksigen dalam darah bisa menyebabkan komplikasi seperti sesak, gagal napas dan hingga kematian.

penanganan saturasi oksigen rendah

Ciri-ciri rendahnya angka Saturasi Oksigen Rendahnya kadar oksigen dalam darah dapat ditunjukkan dengan gejala seperti sesak napas, sakit kepala, pusing, napas tersengal-sengal, kebingungan dan detak jantung meningkat. Kadar oksigen dalam darah rendah dapat ditandai dengan kesulitan bernapas, kebingungan, lemah, dan tampak sediki kebiruan di wajah dan bibir. Pada dewasa, gejala ini mungkin dapat disertai nyeri dada yang tidak kunjung hilang. Sedangkan pada pasien happy hypoxia kondisi ini dapat terjadi tanpa gejala.

Ketika Anda mengalami gejala tersebut, segera periksa kadar oksigen dengan menggunakan pulse oximeter.

penanganan saturasi oksigen rendah

Apabila berada di bawah 93 persen, maka perlu segera mendapat bantuan oksigen. Penanganan pasien Covid-19 dengan kadar saturasi rendah Dengan berpedoman pada CDC, jika pasien menunjukkan saturasi oksigen di bawah 90 persen maka pasien membutuhkan terapi oksigen meskipun tanpa menunjukkan gejala apa pun. Saat kondisi ini terjadi, Anda perlu untuk tetap tenang dan jangan panik, mencoba atur napas dan memastikan hidung tidak tersumbat.

Setelah tenang, Anda dapat memulai terapi oksigen dengan tabung oksigen yang tersedia, baik dalam kemasan kaleng portabel maupun tabung oksigen besar. Setelah nafas cukup stabil, periksa kembali saturasi oksigen Anda. Jika masih berada di bawah 90 persen maka sebaiknya hubungi faskes terdekat Anda.

penanganan saturasi oksigen rendah

Writer: Ratih Edited by: dr. Anita Larasati Priyono Last updated: 4-August-2021 Sumber: • Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. Buku Panduan Isolasi Mandiri.

2021. • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/4829/2021 Tentang Pedoman Pelayanan Kesehatan Melalui Telemedicine Pada Masa Pandemi Coronavirus Disease (COVID-19). 2021. • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Protokol Isolasi Mandiri. 2020. • Dhont S, Derom E, Van Braeckel E, Depuydt P, Lambrecht BN. The pathophysiology of 'happy' hypoxemia in COVID-19. Respir Res. 2020 Jul 28;21(1):198. doi: 10.1186/s12931-020-01462-5.

PMID: 32723327; PMCID: PMC7385717. • Silva JC, Murrell D. Low and normal blood oxygen levels: What to know. Medical News Today. 2021 March. https://www.medicalnewstoday.com/articles/321044 • CDC. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19): The Basics of Oxygen Monitoring and Oxygen Therapy during the COVID-19 Pandemic. https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/videos/oxygen-therapy/Basics_of_Oxygen_Monitoring_and_Oxygen_Therapy_Transcript.pdf
Suara.com - Salah satu yang harus diperhatikan saat terpapar Coronavirus Covid-19 adalah tingkat saturasi oksigen.

Nah, untuk mengetahui tingkat saturasi oksigen, pasien Covid-19 isolasi mandiri alias isoman harus menggunakan oximeter. Oximeter merupakan alat tes non-invasif yang berguna untuk mengukur tingkat saturasi oksigen atau kadar oksigen dalam darah.

Hasil pengukurannya akan terlihat dalam satuan persen. Normalnya, kadar oksigen berkisar antara 95 sampai 100 persen, yang menandakan organ tubuh seperti jantung, paru-paru, dan peredaran darah berfungsi penanganan saturasi oksigen rendah baik. Namun, Anda tidak perlu panik jika saturasi oksigen Anda berada di bawah normal. Pasalnya, ketika penanganan saturasi oksigen rendah oksigen Anda mengalami penurunan, ada beberapa cara meningkatkan saturasi oksigen yang bisa dilakukan sebagai pertolongan pertama.

Baca Juga: Anak yang Terinfeksi Covid-19 Juga Bisa Alami Komplikasi Pertolongan pertama jika saturasi oksigen rendah. (TikTok/@doktermedok) Seorang influencer kesehatan yang juga seorang dokter umum yakni dr. Adrian Setiaji belum lama ini mengunggah sebuah video pertolongan pertama saat saturasi oksigen turun di akun TikToknya @doktermedok yang mengungkapkan beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk menaikkan saturasi oksigen Anda. Ia pun mengimbau kepada masyarakat untuk tidak panik saat mengetahui saturasi oksigen Anda mengalami penurunan.

Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan pengecekan ulang saturasi oksigen menggunakan oximeter dalam kondisi jari yang tidak basah. Pertolongan pertama jika saturasi oksigen rendah. (TikTok/@doktermedok) Kedua adalah melakukan prone atau tengkurap dengan meletakkan bantal atau guling pergelangan kaki dan perut agar punggung terasa rileks. Menurutnya, berdasarkan hasil penelitian posisi ini dapat meningkatkan oksigenasi tubuh. Lakukan prone selama 30 menit. Ketiga adalah posisikan tubuh Anda setengah duduk, bisa dilakukan ditempat tidur.

Hal ini bisa Anda lakukan selama 30 menit. Keempat adalah latihan pengembangan dada atau chest expansion dengan cara tarik nafas melalui hidung dan buang lewat mulut. Lakukan secara perlahan 10 sampai 15 kali. Lakukan 4 hal ini secara bergantian dan Anda bisa kembali mengecek saturasi oksigen yang ada dalam tubuh Anda.

penanganan saturasi oksigen rendah

Darah punya banyak peranan bagi tubuh, salah satunya yaitu untuk menyalurkan oksigen ke seluruh sel dan jaringan tubuh. Oksigen diperlukan oleh makhluk hidup untuk bernapas dan menjalankan fungsi tubuh, sehingga ketersediaannya harus tercukupi. Namun, ada suatu kondisi kadar oksigen di dalam darah terlalu rendah, yaitu hipoksemia atau hypoxemia.

penanganan saturasi oksigen rendah

Ini merupakan kondisi serius yang harus segera mendapat penanganan medis. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang hipoksemia, simak ulasannya berikut ini, ya!

ilustrasi pulse oximeter untuk mengukur kadar oksigen dalam darah. (pixabay.com/fernando zhiminaicela) Dilansir Mayo Clinic, hipoksemia adalah kondisi kadar oksigen di dalam darah kurang dari batas normal, terutama pada pembuluh darah arteri. Kadar oksigen darah yang terlalu rendah dapat mengganggu organ tubuh untuk berfungsi dengan baik. Dalam pemeriksaannya, hipoksemia ditentukan melalui serangkaian tes, seperti pengukuran kadar oksigen dalam sampel darah dari arteri. Oksigen arteri normal yaitu berkisar antara 75 hingga 100 mmHg, sedangkan nilai di bawah 60 mmHg biasanya mengindikasikan bahwa tubuh membutuhkan oksigen tambahan.

Kadar oksigen darah juga bisa diperkirakan dengan mengukur saturasi oksigen menggunakan pulse oximeter. Hasil pengukuran yang normal berada pada rentang 95 hingga 100 persen. Nilai di bawah 90 persen menunjukkan bahwa darah memiliki kadar oksigen yang rendah. freepik.com/KamranAydinov Gejala hipoksemia yang muncul pada setiap penderita bisa berbeda-beda tergantung tingkat keparahan kondisinya.

Mengutip Cleveland Clinic, berbagai gejala yang umum terjadi pada penderita hipoksemia meliputi: • Sakit kepala • Sesak napas • Jantung berdetak cepat • Batuk • Napas berbunyi (mengi atau wheezing) • Merasa kebingungan atau linglung • Warna kulit, kuku, dan bibir menjadi biru Jika merasakan gejala tersebut, segera periksakan ke dokter untuk menghindari perburukan kondisi.

Baca Juga: Mengenal Happy Hypoxia, Gejala Tak Biasa COVID-19 yang Ancam Nyawa ilustrasi paru-paru happy hypoxia (loyolamedicine.org) Sama-sama menunjukkan kondisi kekurangan oksigen dalam tubuh, hipoksemia dan hipoksia sering kali dianggap sama.

Padahal, keduanya merupakan kondisi yang berbeda. Seperti dijelaskan di laman Healthline, hipoksemia mengacu pada rendahnya kadar oksigen dalam darah.

Sementara itu, hipoksia merupakan kondisi rendahnya kadar oksigen di dalam jaringan tubuh. Hipoksia bisa terjadi akibat hipoksemia. Sebab, jika darah kekurangan oksigen, jaringan tubuh juga mungkin tidak mendapatkan oksigen yang cukup. Hipoksia muncul disertai dengan beberapa gejala, salah satunya sesak napas.

Namun, pada beberapa kasus, penanganan saturasi oksigen rendah bisa terjadi tanpa menimbulkan gejala apa pun yang disebut dengan happy hypoxia. Kondisi ini juga disebut-sebut menjadi salah satu gejala dari COVID-19 yang bisa mengancam jiwa. Penyakit paru obstruktif kronis. freepik.com/brgfx Berbagai kondisi dan masalah kesehatan dapat memengaruhi tubuh dalam menjaga kadar oksigen dalam darah tetap normal.

Dirangkum dari beberapa sumber, beberapa kondisi penyebab hipoksemia di antaranya: • Gangguan pernapasan penanganan saturasi oksigen rendah paru-paru, di antaranya acute respiratory distress syndrome (ARDS), asma, pneumonia, sleep apnea, edema paru, emboli paru, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Mengutip studi dalam International Journal of Chronic Obstructive Pulmonary Disease tahun 2011, hipoksemia relatif umum terjadi pada pasien PPOK yang dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup, berkurangnya toleransi terhadap latihan, mengurangi fungsi otot rangka, dan akhirnya meningkatkan risiko kematian.

• Anemia, yaitu kekurangan sel darah merah yang berfungsi untuk menyalurkan oksigen ke seluruh tubuh. • Penyakit atau kelainan pada jantung.

• Obat-obatan tertentu yang bisa memperlambat pernapasan, seperti beberapa obat bius dan narkotika. • Berada di lingkungan dengan kadar oksigen dalam udara rendah, contohnya saat mendaki gunung. • Lingkungan yang terpapar polusi udara. ilustrasi wrist oximeter (commons.wikimedia.org/UusiAjaja) Dalam diagnosis hipoksemia, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk memeriksa jantung dan paru-paru.

Kelainan yang terjadi pada organ-organ tersebut dapat menjadi tanda dari kadar oksigen yang rendah dalam darah. Di samping itu, dokter juga akan memeriksa apakah kulit, bibir, atau kuku pasien terlihat biru atau tidak. Selain fisik, dilakukan pula tes lainnya untuk menentukan kadar oksigen dalam darah seperti: • Pulse oximetry: tes ini menggunakan sensor dengan menjepitnya ke jari pasien untuk mengukur kadar oksigen dalam darah. • Tes gas darah arteri: pemeriksaan ini dilakukan dengan cara mengambil sampel darah dari pembuluh darah arteri pasien menggunakan jarum.

• Tes pernapasan: pasien mengembuskan napas ke dalam tabung yang terhubung dengan komputer atau mesin lain. ilustrasi terapi oksigen untuk menangani hipoksemia (oxygensafety.weebly.com) Pengobatan hipoksemia bertujuan untuk meningkatkan kadar oksigen di dalam darah. Beberapa upaya yang penanganan saturasi oksigen rendah dilakukan meliputi: • Obat-obatan: pemberian obat untuk mengobati hipoksemia biasanya diberikan melalui inhaler dengan cara dihirup untuk bisa sampai paru-paru.

• Terapi oksigen: diberikan pada kasus hipoksemia yang lebih parah agar pasien bisa mendapat tambahan oksigen. Pasien akan menggunakan masker atau selang yang dialiri oksigen. ilustrasi seorang pasien COVID-19. (ANTARA FOTO/REUTERS/Marko Djurica) Bila dibiarkan tanpa penanganan medis, hipoksemia dapat menyebabkan gagal napas tipe 1, yaitu kegagalan pernapasan yang melibatkan oksigen rendah, dan kadar karbon dioksida normal atau rendah, mengutip Physiopedia.

Ini bisa mengakibatkan gejala lebih lanjut yang dapat mengancam jiwa, seperti: • Asidosis respiratorik • Aritmia jantung • Hipoksemia serebral • Perubahan kondisi mental termasuk koma • Henti jantung Hipoksemia tidak boleh disepelekan.

penanganan saturasi oksigen rendah

Jika darah tidak memiliki cukup oksigen, maka organ penanganan saturasi oksigen rendah jaringan tubuh akan kekurangan oksigen. Kondisi ini bisa makin memburuk apabila dibiarkan begitu tanpa penanganan. Oleh sebab itu, penderita hipoksemia perlu segera mendapatkan pertolongan penanganan saturasi oksigen rendah yang tepat dan cepat. Baca Juga: Hipoventilasi: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Perawatan Berita Terpopuler • Hamas Mulai Bangkit, Menkeu Israel: Ini Semua Kesalahan Netanyahu • 10 Potret Liburan Ayu Ting Ting dan Keluarga ke Jogja, Ayah Rozak Hits • Kamu Workaholic?

Waspadai 7 Tanda Kamu Terlalu Keras ke Diri Sendiri • 10 Fakta Elon Musk, Orang Terkaya di Dunia yang Baru Membeli Twitter • Kemenag Sebut Kriteria Jemaah Haji Reguler yang Berangkat Tahun Ini • 10 Potret Baby Ameena dalam Berbagai Ekspresi, Gemasnya Kebangetan • BMKG: Waspada, Suhu Panas Terik Terjadi hingga Pertengahan Mei • Libur Lebaran Usai, Jakarta Kembali Terapkan Ganjil Genap Hari Ini • 10 Momen Nagita Slavina Masak Makan Malam buat Teman-teman Artisnya
Jakarta - Saturasi oksigen menjadi hal penting untuk diperhatikan pada pasien COVID-19.

Pada pasien yang melakukan isolasi mandiri (isoman), kadar saturasi oksigen bisa diukur sendiri menggunakan oksimeter. Lantas, berapa angka minimal saturasi oksigen? Apa yang harus dilakukan jika saturasi oksigen di bawah 90 persen? Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), FISR, FAPSR menjelaskan bahwa di samping adanya gejala sesak napas, saturasi oksigen adalah salah satu parameter objektif untuk menentukan perlu atau tidaknya pemberian suplementasi oksigen.

penanganan saturasi oksigen rendah

Jika saturasi oksigen sudah kurang dari atau sama dengan 93 persen, suplementasi oksigen harus diberikan, misalnya menggunakan tabung oksigen pada kasus pasien isoman. "Kalau kurang dari atau sama dengan 93 persen, sebaiknya diberikan suplementasi oksigen. Hanya saja untuk oksigen ini kan cara pemberiannya bervariasi. Ada yang tabung oksigen, ada yang masker, ada yang tekanan tinggi sampai ventilator. Itu sangat tergantung derajat beratnya kekurangan oksigen," terang dr Agus pada detikcom, Selasa (6/7/2021).

Pada pasien COVID-19, jika saturasi oksigen di bawah 90 persen, maka derajat kekurangan oksigen pasien tersebut sudah tergolong berat dan perlu penanganan rumah sakit. Baca juga: Melonjak Gila-gilaan! Daftar Terbaru 96 Zona Merah COVID-19 di Indonesia "Cara pemberian tabung oksigen hanya di rumah jikalau mungkin sebagai pertolongan pertama penanganan saturasi oksigen rendah dilakukan di rumah kalau memang tersedia, tapi segera ke rumah sakit.

Pada kasus COVID ini, apabila pasien sudah membutuhkan oksigen berarti dia sudah derajatnya berat.

penanganan saturasi oksigen rendah

Pasien ini tidak bisa dirawat di rumah. Harus di rumah sakit," lanjutnya. Coba posisi proning Jika saturasi oksigen terdeteksi rendah, dr Agus merekomendasikan posisi proning sebagai langkah pertama.

Saat posisi tubuh tidur telentang, fungsi paru di bagian punggung cenderung tidak maksimal karena tertekan di belakang. Namun ditekankan, posisi proning harus dibarengi suplementasi oksigen dan penanganan rumah sakit jika saturasi tak kunjung kembali normal.

"Prone position pada kondisi seperti ini disarankan untuk membuka area-area belakang supaya daerah paru di belakang terjadi fungsi maksimal sehingga oksigenasi bertambah," jelas dr Agus. Berikut urutan hal yang perlu dilakukan jika saturasi oksigen di bawah 90 persen: • Jangan panik • Atur napas yang baik • Mencoba prone position • Berikan oksigen bila ada • Cek kembali saturasi • Bila masih rendah, segera ke rumah sakit Berita Terkait • WHO: Angka Kematian Tak Langsung Pasien COVID-19 RI Tertinggi Ketiga di Dunia • DKI Jakarta Tertinggi, Ini Sebaran 227 Kasus Baru COVID-19 RI 8 Mei • Update Corona RI 8 Mei: Tambah 227 Kasus Baru, 10 Meninggal • DKI Paling Tinggi, Ini Sebaran 218 Kasus Baru COVID-19 RI 7 Mei • Ini Jenis Masker Paling Mempan Cegah Corona Jika Mudik Naik Transportasi Umum • Riset Temukan Efektivitas Vaksin COVID-19 Lebih Lemah pada Orang Obesitas • China Klaim Wabah COVID-19 di Shanghai 'Terkendali', Tetap Lanjut Lockdown • DKI Jakarta Terbanyak, Ini Sebaran 245 Kasus Baru COVID-19 RI 6 Mei MOST POPULAR • 1 Anak di Jatim Meninggal Diduga karena Hepatitis Misterius, Ini Gejala Awalnya • 2 Kemenkes Buka Suara Kasus Anak Jatim Meninggal Diduga Hepatitis Misterius • 3 Eks Bos WHO Bicara soal Potensi Hepatitis 'Misterius' Jadi Pandemi • 4 Dijalani Raja Salman, Apa Itu Kolonoskopi yang Bisa Deteksi Kanker Usus Besar?

• 5 Hasil Kolonoskopi Diungkap, Begini Kondisi Raja Salman Usai Masuk RS • 6 Benarkah Long COVID 'Biang Kerok' Hepatitis Misterius?

Ini Penjelasan Pakar IDI • 7 Hepatitis Akut 'Misterius' Menular Lewat Pernapasan dan Pencernaan, Begini Mencegahnya • 8 Mengenal Cacar Monyet: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan • 9 Masih Misterius, IDAI Ungkap Kemungkinan Cara Penularan Hepatitis Akut • 10 Tips Curi-curi Waktu untuk Bercinta di Pagi Hari • SELENGKAPNYA
Jakarta - Penyakit pernapasan seperti COVID-19 dapat memicu penurunan saturasi oksigen penanganan saturasi oksigen rendah darah.

Kondisi ini dapat menyebabkan sel dan jaringan di tubuh tidak berfungsi dengan baik, bahkan bisa berisiko fatal jika tak segera ditangani. Bagaimana ciri saturasi oksigen rendah? Dikutip dari Medical News Today, kekurangan oksigen dalam darah dapat disebut juga sebagai hipoksemia. Seseorang yang saturasi oksigennya rendah dapat diukur menggunakan alat oximeter.

Berikut cara mengetahui saturasi oksigen dalam darah menggunakan oximeter. • Saturasi oksigen di dalam darah normal: 95-100 persen • Saturasi oksigen di dalam darah rendah: kurang dari 90 persen. Selain itu, ciri saturasi oksigen rendah juga bisa dilihat dari gejala-gejala yang dialami oleh pasien. Berikut beberapa di antaranya. • Sesak napas • Sakit kepala • Gelisah • Pusing • Napas penanganan saturasi oksigen rendah • Nyeri dada • Kebingungan • Tekanan darah naik • Penglihatan kabur • Mengigau • Detak jantung cepat.

Baca juga: Saturasi Oksigen Pasien COVID-19 Sering Drop, Normalnya Berapa Sih? Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun telah menyarankan setiap pasien COVID-19 yang menjalani isolasi mandiri untuk memiliki oximeter. Alat ini berguna untuk memantau saturasi oksigen sang pasien. "Hal lain dalam pedoman yang baru adalah bahwa pasien COVID-19 di rumah harus menggunakan oximeter nadi, yang mengukur kadar oksigen. Sehingga Anda dapat mengidentifikasi apakah di rumah kondisinya memburuk, atau akan lebih baik dirawat di rumah sakit," kata juru bicara WHO Margaret Harris beberapa waktu lalu seperti dikutip dari Reuters.

Apa yang harus dilakukan jika saturasi oksigen rendah? Menurut Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), FISR, FAPSR, jika saturasi oksigen sudah berada di bawah 93 persen, pasien perlu segera mendapat suplementasi oksigen. "Kalau kurang dari atau sama dengan 93 persen, sebaiknya diberikan suplementasi oksigen.

Hanya saja untuk oksigen ini kan cara pemberiannya bervariasi. Ada yang tabung oksigen, ada yang masker, ada yang tekanan tinggi sampai ventilator.

Itu sangat tergantung derajat beratnya kekurangan oksigen," terang dr Agus pada detikcom, Selasa (6/7/2021). Namun, sebagai penanganan awal, pasien bisa menerapkan posisi proning untuk melancarkan sirkulasi pernapasan.

Menurut dr Agus, cara ini dapat memaksimalkan fungsi paru-paru untuk mendapat oksigen tambahan. Apabila tingkat saturasi oksigen pasien tak kunjung membaik, maka segera cari pertolongan medis di rumah sakit.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui ciri saturasi oksigen rendah agar dapat menentukan langkah apa yang harus dilakukan.

Berita Terkait • WHO: Angka Kematian Tak Langsung Pasien COVID-19 RI Tertinggi Ketiga di Dunia • DKI Jakarta Tertinggi, Ini Sebaran 227 Kasus Baru COVID-19 RI 8 Mei • Update Corona RI 8 Mei: Tambah 227 Kasus Baru, 10 Meninggal • DKI Paling Tinggi, Ini Sebaran 218 Kasus Baru COVID-19 RI 7 Mei • Ini Jenis Masker Paling Mempan Cegah Corona Jika Mudik Naik Transportasi Umum • Riset Temukan Efektivitas Vaksin COVID-19 Lebih Lemah pada Orang Obesitas • China Klaim Wabah COVID-19 di Shanghai 'Terkendali', Tetap Lanjut Lockdown • DKI Jakarta Terbanyak, Ini Sebaran 245 Kasus Baru COVID-19 RI 6 Mei MOST POPULAR • 1 Anak di Jatim Meninggal Diduga karena Hepatitis Misterius, Ini Gejala Awalnya • 2 Kemenkes Buka Suara Kasus Anak Jatim Meninggal Diduga Hepatitis Misterius • 3 Eks Bos WHO Bicara soal Potensi Hepatitis 'Misterius' Jadi Pandemi • 4 Dijalani Raja Salman, Apa Itu Kolonoskopi yang Bisa Deteksi Kanker Usus Besar?

• 5 Hasil Kolonoskopi Diungkap, Begini Kondisi Raja Salman Usai Masuk RS • 6 Benarkah Long COVID 'Biang Kerok' Hepatitis Misterius? Ini Penjelasan Pakar IDI • penanganan saturasi oksigen rendah Hepatitis Akut 'Misterius' Menular Lewat Pernapasan penanganan saturasi oksigen rendah Pencernaan, Begini Mencegahnya • 8 Mengenal Cacar Monyet: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan • 9 Masih Misterius, IDAI Ungkap Kemungkinan Cara Penularan Hepatitis Akut • 10 Tips Curi-curi Waktu untuk Bercinta di Pagi Hari • SELENGKAPNYA

KENALI TANDA SATURASI OKSIGEN RENDAH




2022 www.videocon.com