Penyebab buang air besar terus menerus

penyebab buang air besar terus menerus

Penyebab buang air besar cair seringkali muncul akibat terjadi gangguan kesehatan diseputar jaringan perut yang meningkatkan intensitas pelunakan tinja. Buang air besar yang terlalu cair merupakan kondisi umum yang bisa dialami anak anak, Orang dewasa bahkan orangtua yang dapat mempengaruhi kualitas daya tahan tubuh. Penyebab 1. Virus, Bakteri dan kuman. Masuknya virus, Bakteri dan kuman melalui udara, Makanan atau minuman dapat mencederai bagian pencernaan, Khususnya usus yang bertanggung jawab mengelola makanan yang telah dikonsumsi.

Bagian pencernaan yang mengalami luka dan peradangan dapat menyebabkan fungsinya menjadi terganggu sehingga tinja menjadi lunak dan bahkan membentuk cairan.

(Baca juga: Bahaya Jajan Sembarangan untuk Anak SD) 2. Alkohol, Kafein dan obat obatan. Minuman yng mengandung alkohol, kafein dan zat kimia pada obat mampu melukai usus dan menurunkan kualitas sistem pencernaan sehingga meningkatkan asam lambung dan melukai dinding usus. Kondisi ini menyebabkan mual, Sakit perut dan menyebabkan tinja gagal untuk membentuk pengerasan secara normal.

Baca Juga: • Makanan dan Minuman Yang Mengandung Kafein Tinggi • Efek Bahaya Kafein Bagi Tubuh 3. Infeksi parasit. Infeksi parasit dapat muncul akibat usus mengalami peradangan setelah operasi atau akibat kondisi usus yag sensitif.

Usus akan mudah dihinggapi parasit yang akhirnya menyebabkan jaringan usus tidak mampu mengontrol tinja dalam keadaan penyebab buang air besar terus menerus normal ketika dikeluarkan. Infeksi parasit merupakan penyebab paling berbahaya ketika gejala buang air besar cair berlangsung terus menerus selama lebih dari tiga hari karena dapat menyebabkan seseorang terserang gejala dehidrasi akut dan kemunduran kesadaran.

(Baca Juga: Penyebab Infeksi Usus dan Pencegahan Penularannya) Salah satu penyebab buang air besar cair dikarenakan zat laktosa meningkat dalam usus maka usus kehilangan kemampuan untuk mengelola cairan tubuh secara normal terhadap feses (kotoran) didalam saluran pembuangan terakhir, akibatnya tinja akan melunak.

5. Makanan terlalu pedas, Asam dan penggunaan pemanis buatan. 6. Kanker usus. Ketika organ usus ditumbuhi tumor atau kanker maka pertumbuhan sel yang abnormal disekitar jaringan dapat meningkatkan cairan didalam tinja sehingga tinja akan lebih lunak dan gagal untuk mengeras secara normal. Kondisi ini menyebabkan munculnya gejala buang air besar cair yang tidak mudah disemnbuhkan dengan cepat.

7. Keracunan makanan basi. Makanan yang basi akan mengeluarkan bau yang tak sedap dn telah teruai dengan bakteri tertentu sehingga dapat merusak usus, Lambung atau saluran tinja yang menyebabkan kondisi air dalam tubuh terlalu cepat masuk dalam usus dan dalam jumlah yang berlebihan sehingga muncuknya gejala buang air besar cair terus menerus tidak dapat dihindari.

(Baca juga: cara mengatasi keracunan makanan) 8. Gangguan kantung empedu. Kantung empedu yang mengalami luka, Iritasi, Radang atau mengalami pendarahan maka akan menyebabkan kinerja jaringan usus menjadi terlalu aktif dalam mengelola dan memproses cairan tubuh dalam membasahi tinja didalam saluran pembuangan. 9. Karena penyakit tiroiditis. Penyakit tiroid yang kronis dapat mempengaruhi kondisi tinja menjadi lebih lunak akibat fungsi usus ikut menjadi terganggu. Kondisi yang berlarut larut dapat memicu munculnya gejala buang air besar cair atau diare.

10. Gangguan kelenjar endrokin. Kelenjar endokrin bertangguang djawab dalam mengontrol dan mengatur fungsi hormon dalam tubuh, Jika ada gangguan didalamnya maka akan menyebabkan munculnya berbagai masalah kelainan fungsi organ tubuh termasuk kerusakan jaringan pencernaan yang menyebabkan munculnya gejala buang air besar cair atau diare. (Baca juga: Akibat Kekurangan dan Kelebihan Kelenjar Endokrin pada Tubuh) Gejala • Perut mual dan mulas • Keringat dingin • Frekwensi buang air besar terlalu sering • Keadaan tinja sangat lunak • Sering merasa haus • Perut kembung • Panas dalam /masuk angin • Terserang sakit kepala • Demam dan menggigil • Nafsu makan berkurang • Kesulitan tidur pada malam hari • Nyeri pada perut bagian bawah Baca juga: • Cara Menyembuhkan Mual • Cara Menghilangkan Perut Kembung Penanganan secara umum.

Pertolongan pertama terhadap gejala buang air besar cair dapat segera dilakukan sejak seseorang mendapat beberapa gejala diatas dengan tujuan agar tinja dapat segera dikembalikan dalam kondisi normal. • Minum larutan oralit Larutan oralit adalah obat khusus yang didalamnya mengandung zat tertentu untuk mengatasi diare agar pelunakan tinja yang berlebihan dapat dihentikan dari dalam dan mencegah tubuh terserang dehidrasi akibat banyak cairan tubuh yang keluar.

• Jahe dan madu Rimpang jahe dapat di parut lalu seduhkah kedalam segelas air panas matang lalu tambahkan madu secukupnya. Aduk sampai rata, Disaring dan tunggulah sampai air menjadi hangat untuk kemudian dikonsumsi 2 kali sehari. Baca juga: • Efek Samping Jahe • Khasiat Madu untuk Penderita Diare • Daun jambu biji muda.

Pucuk daun jmbu biji dapat dimakan langsung dengan atau penyebab buang air besar terus menerus garam. Daun jambu biji mampu mengurangi intensitas tinja yang terlalu penyebab buang air besar terus menerus keluar dan mengurangi rasa mual, Melilit dan menghentikan keiinginan muntah. • Rimpang kunyit. Kunyit memiliki kandungan antibiotik dan anti bakteri yang dapat membantu memblokir pergerakan bakteri, Virus dan parasit penyebab iritasi organ pencernaan, Termasuk lambung dan usus.

(Baca juga: Efek samping kunyit) • Kayu manis. Batang kayu manis atau yang berbentuk bubuk dapat diseduh kedalam air panas untuk kemudian diminum 2 kali sehari. Kayu manis mampu menghentikan diare, Mengembalikan fungsi usus menjadi lebih baik, Mengurangi mual dan rasa nyeri pada bagian pencernaan.

Penggunaan kayu manis merupakan salah satu cara tradisional paling sederhana untuk penanggulanagn gejala buang air besar cair atau diare. • Wortel dan garam. Wortel dapat dibuat jus yang bisa ditambahkan dengan garam sesuai selera. Jus wortel dan garam mampu menghentikan frekwensi tinja yang terlalu lunak sekaligus mengurangi rasa sakit pada perut.

(Baca juga: Jenis Sakit Perut) • Daun sendok. Daun sendok dapat direbus lalu saring airnya penyebab buang air besar terus menerus kemudian dinginkan dan dikonsumsi 2 kali sehari seacra rutin. Daun sendok memiliki kandungan zat anti daire yang secara klinis dapat menyembuhkan penyakit diare atau gejala buang air besar cair pada orang dewasa. • Daun tanaman kayu putih. Daun kayu putih memiliki zat anti nyeri pada perut akibat serangan diare atau gejala buang air besar cair yang telah berlangsung 3 hari.

Daun kayu putih dapat di haluskan untuk kemudian diborehkan pada permukaan kulit perut. Cara ini dapat menenangkan jaringan perut termasuk usus agar rasa nyerinya berkurang dan mengurangi pelunakan tinja secara perlahan. Gunakan daun kayu putih untuk mengolesi perut 3 kali sehari. Pagi Siang dan sebelum tidur malam. Manfaat air putih untuk gejala buang air besar cair Selama gejala buang air besar cair masih berlangsung, Maka dianjurkan untuk terus minum air putih secara berkala tetapi sering, Hal ini untuk pencegahan tubuh terserang penurunan daya tahan tubuh akibat dehidrasi.

Ketika diare berlangsung, maka daya tahan tubuh akan semakin menurun. Jika diimbangi dengan kekurangan cairan tubuh terus menerus dan tidak segera diatasi maka bisa menyebabkan kematian pada anak anak. (Baca juga: Bahaya Akibat Terlalu Banyak Minum Air Putih) Related Posts • Coritrope – Fungsi – Obat Apa – Dosis Dan Efek Samping • Asam Mefenamat Indo Farma – Fungsi – Obat Apa – Dosis Dan Efek Samping • 19 Obat Disentri Medis dan Alami • Acitral – Obat Apa – Fungsi Obat – Dosis – Efek Samping Dan Kontraindikasi • 6 Penyebab Radang Usus – Komplikasi dan Pengobatannya Recommended Post • Usai Libur Panjang, Ini 6 Persiapan Untuk Memulai Diet Lagi • Usai Lebaran, Begini 3 Cara Hilangkan Lemak Perut Dengan Cepat • Apakah Hepatitis Misterius di Indonesia Terkait Covid-19 dan Vaksinnya?

• 3 Tips Berkeringat Lebih Banyak Saat Berolahraga Cepat • Hepatitis Akut Sebabkan 3 Anak Meninggal, Masyarakat Perlu Waspadai Gejalanya! Kebiasaan buang air besar (BAB) menunjukkan banyak hal tentang kesehatan dan seberapa baik fungsi tubuh kita.

Meski bicara tentang BAB mungkin memalukan, tetapi ini bisa memberi petunjuk berharga tentang apa yang terjadi dalam tubuh. Intensitas BAB setiap orang berbeda-beda. Dari yang susah BAB sampai terlalu sering BAB dalam sehari. Penelitian dalam Scandinavian Journal of Gastroenterology tahun 2010 yang berjudul "Assessment of Normal Bowel Habits in the General Adult Population: The Popcol Study" menunjukkan, dari 268 partisipan usia 18-70 tahun, ditemukan 98 persen di antaranya BAB sebanyak 3 kali seminggu hingga 3 kali sehari.

Tahun 2017, Healthline mengadakan survei tentang kesehatan pencernaan terhadap lebih dari 2.000 orang Amerika Serikat (AS). Dari situ, berikut ini data yang didapat: • Sebanyak 47,7 persen orang BAB sekali sehari, sebanyak 28 persen hanya dua kali sehari, sebanyak 11,1 persen BAB setiap dua hari sekali, sejumlah 7,6 persen BAB lebih dari tiga kali sehari, dan sebanyak 5,6 persen BAB satu atau dua kali dalam seminggu.

• Pada partisipan yang mengalami masalah pencernaan, sebanyak 23 persen memiliki intoleransi makanan, sejumlah 21 persen punya penyakit sistem pencernaan, sebanyak 14 persen pernah menjalani kolonoskopi, dan 16 persen pernah mengunjungi ahli gastroenterologi. Kalau kamu sering BAB dalam sehari tidak seperti biasanya, apalagi terjadi selama berhari-hari, bisa jadi itu adalah tanda adanya masalah dalam tubuh. Meski umumnya bisa sembuh sendiri, tetapi ada pula yang butuh penanganan serius. Nah, apa saja penyebab sering buang air besar?

Simak daftarnya di bawah ini! Perbanyak konsumsi makanan berserat. pexels.com/Trand Doan BAB secara teratur adalah tanda bahwa sistem pencernaan berfungsi dengan baik. Jika baru-baru ini kamu mengubah kebiasaan makan dengan banyak makan buah, sayuran, dan biji-bijian, mungkin kamu mengalami perubahan pergerakan usus. Ini serupa dengan sebuah laporan berjudul "Improving Your Bowel Function" yang diterbitkan oleh lembaga Pelvic Obstetric and Gynaecological Physiotherapy, Inggris, tahun 2017.

Penyebabnya, karena jenis makanan tersebut mengandung serat. Menurut keterangan dari National Institute of Diabetes Digestive and Kidney Disease (NIDDK), serat adalah elemen penting dalam makanan, karena dapat membantu makanan bergerak melalui sistem pencernaan. Asupan air yang lebih tinggi juga dapat menyebabkan BAB berlebihan, karena air diserap oleh serat dan membantu membuang limbah dari tubuh. pexels.com/cottonbro Melansir Harvard Health Publishing, Dr.

Norton Greenberger, profesor gastroenterologi dari Harvard Medical School mengatakan bahwa 75 persen orang yang mengonsumsi lebih dari 40-80 gram fruktosa per hari akan mengalami diare. Gula merangsang usus untuk mengeluarkan air dan elektrolit. Salah satu penyebab utamanya adalah fruktosa, yang ditemukan secara alami dalam buah-buahan (seperti persik, pir, ceri, dan apel) atau ditambahkan ke makanan dan minuman, seperti saus apel, soda, dan minuman jus. Pemanis buatan seperti penyebab buang air besar terus menerus, manitol, dan xylitol (ditemukan dalam permen karet, permen, dan obat bebas gula).

Melansir dari laman International Foundation for Gastrointestinal Disorders (IFGD), beberapa gula bisa menyebabkan diare. Fruktosa adalah gula yang mengandung kalori alami yang ditemukan dalam buah. Itulah salah satu alasan mengapa buah dalam jumlah banyak dapat menyebabkan diare. Baca Juga: 7 Cara Melancarkan Buang Air Besar, Solusi Mudah Anti Sembelit Ilustrasi olahraga (IDN Times/Mardya Shakti) Olahraga teratur memang sangat baik karena dapat mengatur pergerakan usus.

Hal ini bisa meningkatkan kontraksi otot di usus besar yang membantu mengeluarkan tinja lebih teratur dari biasanya. Ini tertuang dalam studi berjudul "Exercise Modifies the Gut Microbiota with Positive Health Effects" dalam jurnal Oxidative Medicine and Cellular Longevity tahun 2017. Akan tetapi, olahraga yang terlalu keras juga tidak baik. Beberapa dampaknya bisa menyebabkan diare, sakit perut, dan mual. Ini dikemukakan dalam penelitian berjudul "Systematic Review: Exercise‐induced Gastrointestinal Syndrome—implications for Health and Intestinal Disease" dalam jurnal Alimentary Pharmacology & Therapeutics tahun 2017.

pixabay.com/plooploe Melansir dari laman IFGD, minuman yang mengandung kafein memiliki potensi pencahar, sehingga bisa membantu mengeluarkan tinja lewat usus besar. Lebih dari 2-3 cangkir kopi atau teh setiap hari sering kali menimbulkan diare.

Sebuah studi berjudul "The Clinical Toxicology of Caffeine: A Review and Case Study" dalam jurnal Toxicology Reports tahun 2018 mengungkapkan gambaran klinis dari keracunan kafein yang bervariasi, termasuk gejala gastrointestinal yang ditandai dengan mual, muntah, sakit perut, dan diare. unsplash.com/kchance8 Alkohol bisa berdampak langsung pada jumlah buang air besar.

Berdasarkan keterangan dari IFGD, alkohol yang berlebihan terutama bir dan wine, bisa membuat feses jadi encer keesokan harinya. Mengacu pada sebuah penelitian di Jepang berjudul "Impact of Diarrhea after Drinking on Colorectal Tumor Risk: A Case Control Study" dalam Asian Pacific Journal of Cancer Prevention tahun 2019, mereka yang mengalami diare setelah minum minuman beralkohol berisiko tinggi terkena tumor usus besar.

Unsplash/Lacie Slezak Stres bisa mengubah jadwal dan keteraturan BAB. Ketika kamu mengalami stres berat, fungsi tubuh menjadi tidak seimbang dan dapat mengubah proses dan kecepatan pencernaan. Ada yang mengalami susah buang air besar atau sembelit, ada pula yang diare.

Penelitian dalam jurnal Experimental and Clinical Sciences tahun 2017 berjudul "The Impact of Stress on Body Function: A Review" menyebutkan bahwa diare akibat stres disebabkan oleh sumbu otak-usus atau jaringan yang menghubungkan sistem saraf pusat dengan saraf saluran gastrointestinal (GI). Sumbu usus-otak bertanggung jawab atas sensasi perasaan cemas sebelum melakukan sesuatu yang berdampak ke perut ( butterflies in the stomach).

unsplash.com/Erol Ahmed Menstruasi dapat memicu lebih banyak BAB. Kondisi ini diterangkan lewat sebuah penelitian berjudul "Do Fluctuations in Ovarian Hormones Affect Gastrointestinal Symptoms in Women With Irritable Bowel Syndrome?" dalam jurnal HHS Author Manuscripts tahun 2012.

Di situ, diungkapkan bahwa kadar hormon ovarium yang lebih rendah (estrogen dan progesteron) di sekitar masa haid berkaitan dengan prostaglandin rahim, sehingga bisa memicu kram rahim, gejala di usus besar. Lebih lanjut, studi berjudul "Gastrointestinal Symptoms Before and During Menses in Healthy Women" dalam jurnal BMC Women's Health tahun 2014 menyebutkan, perempuan lebih mungkin mengalami sakit perut dan diare pada hari-hari menjelang menstruasi.

Mereka melaporkan gejala emosional dan kelelahan sebelum atau selama menstruasi lebih cenderung mengalami beberapa gejala di saluran gastrointestinal. Para peneliti menyimpulkan ini mungkin karena jalur bersama antara otak, usus, dan hormon.

Gejala biasanya hilang setelah menstruasi selesai. Ilustrasi Obat-Obatan (IDN Times/Mardya Shakti) Beberapa obat, seperti antibiotik tertentu, dapat mengubah kondisi saluran pencernaan, termasuk bakteri yang ada dalam perut.

Efeknya adalah sering BAB atau diare sebagai. Menurut keterangan dari IFGD, obat-obatan yang dimaksud adalah misoprostol, antasida yang penyebab buang air besar terus menerus magnesium hidroksida, obat pencahar, dan pelunak feses.

Sebagai tambahan dari laman Crohn's & Colitis UK, obat yang dimaksud adalah mesalazine, sulfasalazine, azathioprine, methotrexate, omeprazole, dan lansoprazole. Ada baiknya sebelum obat apa pun, termasuk yang diresepkan dokter, tanyakan tentang potensi efek samping penggunannya. unsplash.com/Evgeni Tcherkasski Mengacu pada ketarangan di laman Celiac Disease Foundation, penyakit seliak ( celiac disease) adalah penyakit autoimun yang terjadi pada orang-orang yang memiliki kecenderungan genetik, yang mana ketika mereka mengonsumsi gluten bisa menyebabkan kerusakan pada usus kecil.

Ketika orang dengan penyakit seliak makan gluten (protein yang ditemukan dalam gandum, gandum hitam, dan barley), tubuh mereka meningkatkan respons imun yang menyerang usus kecil. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan pada vili, proyeksi seperti jari kecil yang melapisi usus kecil, yang mendorong penyerapan nutrisi.

Ketika vili rusak, nutrisi tidak dapat diserap dengan baik ke dalam tubuh. Menurut World Gastroenterology Organization, penyakit seliak dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu klasik dan non klasik. Pada jenis klasik, pasien memiliki tanda dan gejala malabsorpsi, termasuk diare, feses berlemak, penurunan berat badan, atau kegagalan pertumbuhan pada anak-anak.

Sementara itu, pada jenis non klasik, pasien memiliki gejala gastrointestinal ringan tanpa tanda malabsorpsi yang jelas, atau mungkin memiliki gejala yang tampaknya tidak berhubungan. pexels.com/Polina Zimmerman Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), seseorang yang punya penyakit radang usus ( inflammatory bowel disease atau IBD).

IBD adalah istilah untuk dua kondisi penyakit (penyakit Crohn dan kolitis ulseratif) yang ditandai dengan peradangan kronis saluran gastrointestinal. Penyakit Crohn dapat memengaruhi bagian mana pun dari saluran GI (dari mulut ke anus). Sebagian besar memengaruhi bagian usus halus sebelum usus besar, sedangkan pada kolitis ulseratif terjadi di usus besar dan rektum.

Gejala IBD umumnya diare terus-menerus, tinja berdarah, sakit perut, penurunan berat badan, dan kelelahan. Tertulis di laman Chron's & Colitis UK, penyebab IBD masih belum diketahui pasti, tetapi sebagian besar terjadi akibat sistem kekebalan tubuh yang terganggu. Sistem kekebalan yang berfungsi dengan baik menyerang organisme asing, seperti virus dan bakteri, untuk melindungi tubuh.

Dalam IBD, sistem kekebalan merespons secara tidak benar terhadap pemicu lingkungan, yang menyebabkan peradangan pada saluran pencernaan. Jika kamu memiliki riwayat keluarga IBD, risiko kamu mengalaminya juga lebih besar. medicalnewstoday.com Melansir Women's Health, sindrom iritasi usus besar ( irritable bowel syndrome atau IBS)didefinisikan sebagai sakit perut bersama dengan kebiasaan buang air besar yang berubah (seperti diare atau sembelit), selama 3 bulan atau lebih. Sampai saat ini, para ilmuwan tidak yakin apa penyebab pasti IBS.

Namun, ada bukti yang berkembang bahwa mikroba yang ada selama gastroenteritis menular dapat memicu reaksi jangka panjang. Hal ini tertuang dalam penelitian berjudul "Microbiome and Its Role in Irritable Bowel Syndrome" dalam jurnal Digestive Disease and Sciences tahun 2020. unsplash.com/Hans Reniers Hipertiroidisme adalah kelainan autoimun yang menyebabkan ketidakseimbangan hormon tiroid dalam darah.

Melansir dari laman NIDDK, hipertiroidisme, juga disebut tiroid yang terlalu aktif, terjadi saat kelenjar tiroid menghasilkan lebih banyak hormon tiroid daripada yang dibutuhkan oleh tubuh. Tiroid adalah kelenjar kecil berbentuk kupu-kupu di bagian depan leher. Hormon ini mengontrol cara tubuh menggunakan energi, sehingga memengaruhi hampir setiap organ di tubuh, bahkan cara jantung berdetak. Melansir Women's Health, Scharles Konadu, MD, seorang ahli gastroenterologi di Huguley Medical Associates di Texas, AS, mengatakan bahwa ketidakseimbangan produksi hormon tiroksin yang berlebihan oleh kelenjar tiroid dapat menyebabkan beberapa gejala.

Di antaranya adalah penurunan berat badan, rambut rapuh, berkeringat, detak jantung meningkat, dan gangguan usus yang paling sering adalah diare. Itulah daftar kemungkinan penyebab kamu sering buang air besar. Hindari diagnosis sendiri.

penyebab buang air besar terus menerus

Bila mengalami gejala-gejala yang disebutkan di atas tadi, sebaiknya periksakan ke dokter agar bisa diketahui pasti penyebabnya dan mendapat penanganan yang tepat. Baca Juga: Normalkah Buang Air Penyebab buang air besar terus menerus setelah Makan? Ini Penjelasannya Berita Terpopuler • Hamas Mulai Bangkit, Menkeu Israel: Ini Semua Kesalahan Netanyahu • 10 Fakta Elon Musk, Orang Terkaya di Dunia yang Baru Membeli Twitter • 10 Potret Liburan Ayu Ting Ting dan Keluarga ke Jogja, Ayah Rozak Hits • 10 Momen Nagita Slavina Masak Makan Malam buat Teman-teman Artisnya • [LINIMASA-5] Perkembangan Terkini Vaksinasi COVID-19 Indonesia • 10 Potret Menawan Arlova, Anak Bungsu Andre Taulany, Beranjak Remaja • Libur Lebaran Usai, Jakarta Kembali Terapkan Ganjil Genap Hari Ini • 10 Mei Hari Lupus Sedunia: Cara Merayakannya • 10 Potret Alternatif Pengganti Sarung Ini Bikin Geleng-geleng Kepala
Jakarta - Lebih sering mondar-mandir buang air besar?

Selain karena paparan bakteri dan virus, ternyata ada hal lainnya lho yang buat frekuansi buang air kamu bertambah. Berikut adalah kemungkinan yang jadi sumber masalah pencernaanmu, dikutip dari Women's Health, Kamis (2/10/2017).

Hmm apa saja ya? Cek selengkapnya di bawah ini. 1.

penyebab buang air besar terus menerus

Makan lebih sehat Saat kamu beralih memakan makanan yang lebih sehat dari biasanya dengan konsumsi sayur dan buah yang kaya serat maka kemungkinan untuk buang air besar (BAB) lebih sering dari biasanya dapat saja terjadi, demikian disampaikan Rudy Bedford, M.D., gastroenterologis di Providence Saint John's Health Center, Santa Monica, California.

2. Infeksi perut Entah virus atau bakteri bisa saja menginfeksi perut sehingga kamu menjadi terus menerus pergi ke kamar mandi. Jika kondisi tidak kunjung membaik hingga kotoran kamu berdarah atau sudah tidak padat lagi, segera periksakan diri ke dokter. 3. Olahraga makin sering Olahraga meningkatkan kontraksi otot pada usus besar sehingga bekerja dua kali lebih keras dari biasanya menurut Bedford. Karena itulah saat sembelit, dokter menyarankan untuk berolahraga dengan rajin.

Baca juga: Diare Karena Gastroenteritis, Tidak Cukup dengan Minuman Elektrolit 4. Iritasi usus Kyle Staller, M.D., gastroenterologis dari Massachusetts General Hospital mengatakan sindrom iritasi usus merupakan salah satu alasan lainnya, dan biasanya masalah ini terjadi pada wanita muda.

Ciri gangguan usus ini seperti adanya rasa sakit di perut, kembung, dan kram, dan juga diare. 5. Stres "Banyak orang yang jadi lebih sering bab karena sedang stres," ujar Staller.

Ya, buang air besar memang bisa dipicu karena adanya rasa stres. Jika kamu merasa banyak pikiran, alihkan dengan sedikit meditasi dan yoga. 6. Mendekati menstruasi Perubahan hormon progesteron pada siklus haid dapat mempengaruhi seberapa sering seorang wanita buang air besar dan menurut Penyebab buang air besar terus menerus ini adalah penyebab buang air besar terus menerus yang normal terjadi.

Baca juga: Pengobatan yang Tepat untuk Diare (up/up) Berita Terkait • Anus Sering Menonjol Keluar Saat BAB, Apakah Tanda Ambeien Dok? • Apa Itu Penyakit Fisura Ani? BAB Terlalu Keras Bisa Jadi Pemicunya • Jadi Sering BAB Usai Positif COVID-19, Apakah Efek dari Virus Dok? • Pernah Iseng Amati Diameter Feses? Waspadai Gejala Kanker Jika Ada Keanehan Ini • 6 Penyebab Keluar Darah saat BAB, Ambeien hingga Kanker Usus • BAB Berwarna Hijau, Normalkah? Ini 7 Kemungkinan Penyebabnya • Kapan Sembelit Harus Mulai Dianggap Serius?

Ini 5 Tandanya • Janin dalam Kandungan Juga Bisa BAB, Bahaya Nggak? MOST POPULAR • 1 Hepatitis Akut 'Misterius' Menular Lewat Pernapasan dan Pencernaan, Begini Mencegahnya • 2 Masih Misterius, IDAI Ungkap Kemungkinan Cara Penularan Hepatitis Akut • 3 Tips Curi-curi Waktu untuk Bercinta di Pagi Hari • 4 Benarkah Long COVID 'Biang Kerok' Hepatitis Misterius?

Ini Penjelasan Pakar IDI • 5 Post Holiday Blues Bikin Tak Semangat Bekerja? Psikolog Sarankan Ini • 6 Perlengkapan Main Sepatu Roda, Penting agar Tetap Aman Saat Meluncur • 7 5 Tips Foreplay yang Bikin Seks Makin Panas • 8 WHO: Angka Kematian Tak Langsung Pasien COVID-19 RI Tertinggi Ketiga di Dunia • 9 Wajib Dicoba! Ini 4 Posisi yang Bikin Seks Makin Enak • 10 Ssst! Ternyata Ini Lho Alasan Seks Terasa Enak • SELENGKAPNYA Sesekali mengalami buang air besar sakit merupakan hal yang normal.

Namun, jika nyeri terus-menerus terasa setiap kali buang air besar, hal tersebut patut untuk diwaspadai. Pasalnya, ada beberapa penyakit serius yang dapat menyebabkan timbulnya rasa sakit saat buang air besar.

Sebagian penyakit penyebab buang air besar sakit memang dapat diobati dengan mudah. Namun, Anda juga perlu waspada, karena beberapa penyakit lainnya merupakan masalah kesehatan serius. Oleh karena itu, mengetahui macam-macam penyakit di balik buang air besar sakit beserta gejalanya merupakan hal yang penting agar penyakit tersebut dapat segera diatasi dengan cara yang tepat. Penyebab Buang Air Besar Sakit Berikut ini adalah beberapa penyakit yang dapat menyebabkan rasa sakit saat buang air besar: 1.

Konstipasi Konstipasi atau sembelit merupakan kondisi ketika buang air besar (BAB) menjadi lebih jarang daripada biasanya. Hal ini akan menyebabkan tinja yang ada di dalam usus besar menjadi lebih kering, keras, dan menumpuk menjadi lebih besar sehingga lebih sulit dikeluarkan dari anus.

Sembelit biasanya disertai dengan beberapa gejala, seperti nyeri pada anus saat buang air besar, rasa belum tuntas setelah buang air besar, kembung, hingga rasa kram pada perut atau punggung bagian bawah.

Sembelit biasanya dapat diatasi dan dicegah dengan banyak minum air, berolahraga yang cukup, mengurangi konsumsi kafein dan alkohol, dan memperbanyak asupan makanan tinggi serat. Jika sembelit tak kunjung membaik, dokter mungkin akan meresepkan obat pelancar BAB untuk mengatasi sembelit Anda. 2. Fisura ani Fisura ani adalah kondisi ketika terjadi robekan kecil pada kulit di sekitar anus.

Umumnya, kondisi ini disebabkan oleh tinja yang keras dan besar akibat konstipasi, sehingga kulit di sekitar anus sangat meregang ketika BAB. Fisura ani biasanya diikuti oleh rasa gatal, nyeri, bahkan pendarahan di sekitar anus. Minum air putih yang banyak dan konsumsi makanan yang mengandung banyak serat akan melunakkan tinja, sehingga buang air besar tidak sakit lagi.

Untuk mengurangi peradangan dan nyeri di sekitar anus, dokter mungkin akan meresepkan krim atau salep hidrokortison. 3. Hemoroid Hemoroid atau yang biasa dikenal dengan wasir merupakan kondisi ketika terdapat pembengkakan pada pembuluh darah di anus atau rektum. Kondisi ini umumnya terjadi karena konstipasi kronis, kehamilan, dan obesitas.

Wasir biasanya disertai dengan nyeri, gatal, atau benjolan di sekitar anus. Kondisi ini bahkan dapat menyebabkan pendarahan saat buang air besar. Merendam wasir dengan air hangat, mengonsumsi banyak air dan asupan yang mengandung banyak serat, menggunakan krim pereda nyeri, dan mengompres wasir dengan air dingin dapat mempercepat penyembuhan wasir. Dokter juga mungkin akan meresepkan obat pereda nyeri seperti naproxen dan ibuprofen untuk mengurangi peradangan dan mengurangi rasa sakit.

Pada beberapa kasus, penyebab buang air besar terus menerus yang tergolong parah harus diangkat melalui proses pembedahan.

4. Inflammatory bowel disease Inflammatory bowel disease (IBD) merupakan kondisi yang meliputi peradangan pada saluran pencernaan, misalnya kolitis ulseratif, penyakit Crohn, atau irritable bowel syndrome. Peradangan pada usus besar bisa menyebabkan rasa sakit saat BAB. Kondisi ini biasanya disertai dengan diare, rasa tidak nyaman pada perut, pendarahan saat buang air besar, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, dan rasa tidak lapar walau belum makan. Mengonsumsi makanan rendah lemak dan kaya penyebab buang air besar terus menerus merupakan hal yang penting bagi penderita IBD.

Selain itu, dokter juga mungkin akan meresepkan obat antiradang, obat diare, imunosupresan, antibiotik, obat pereda nyeri, suplemen zat besi, dan suplemen kalsium. 5. Diare Diare merupakan kondisi yang membuat penderitanya menjadi sering buang air besar dengan kondisi tinja yang lunak atau encer. Buang air besar saat diare sendiri sebenarnya tidak menyebabkan sakit. Namun jika sudah terlalu sering, kulit sekitar anus bisa iritasi, sehingga BAB menjadi sakit. Menjaga kebersihan tangan dan makanan dapat mencegah diare.

Selama diare, Anda dapat meminum larutan elektrolit untuk mengganti cairan tubuh yang hilang. Selain itu, dokter juga mungkin akan meresepkan obat diare dan antibiotik untuk Anda. 6. Endometriosis di usus besar Endometriosis terjadi ketika jaringan yang membentuk dinding rahim tumbuh di luar tempat yang seharusnya.

Endometriosis dapat terjadi pada usus besar wanita, sehingga menyebabkan buang air besar sakit khususnya saat menstruasi. Selain buang air besar sakit, kondisi ini biasanya juga disertai dengan beberapa gejala lainnya, seperti nyeri perut dan punggung bagian bawah, kram sebelum menstruasi, dan nyeri selama berhubungan seks ( dispareunia). Endometriosis dapat dicegah dengan cara mengonsumsi sekurang-kurangnya 2 liter air per hari, membatasi minuman berkafein dan beralkohol, dan rajin berolahraga.

engobatan yang mungkin disarankan dokter kepada penderita penyakit ini meliputi obat penghilang rasa sakit, terapi hormon, atau operasi. 7. Infeksi Beberapa infeksi dapat menyebabkan rasa sakit saat buang air besar, di antaranya adalah: • Abses anal, yaitu pembengkakan yang berisi nanah di sekitar anus • Infeksi menular seksual (IMS), seperti chlamydia, gonore, herpes, dan sifilis • Infeksi jamur Menggunakan pelindung setiap Anda berhubungan seks dan melakukan tes IMS secara teratur selama Anda aktif berhubungan seksual dapat mencegah Anda terhindar dari infeksi seperti di atas.

Segera berkonsultasi dengan dokter jika Anda mengalami infeksi tersebut. Dokter mungkin akan meresepkan obat antibiotik dalam bentuk pil atau krim untuk mengatasinya. 8. Kanker anus atau rektum Kanker anus termasuk salah satu kondisi yang dapat menyebabkan buang air besar terasa sakit.

Selain itu, kanker anus biasanya juga disertai dengan: • Perdarahan saat buang air besar • Gatal pada anus • Diare yang bergantian dengan konstipasi • Perubahan pada warna atau bentuk tinja • Benjolan yang tidak biasa di sekitar anus dan terasa sakit saat disentuh • Kembung • Penurunan berat badan drastis • Sakit atau kram terus-menerus pada perut Pengobatan yang mungkin diberikan pada penderita kanker anus antara lain adalah kemoterapi, perawatan radiasi, atau operasi pengangkatan tumor.

Pengobatan yang dilakukan sedini mungkin dapat membantu menghentikan pertumbuhan sel kanker dan mengurangi kemungkinan terjadinya komplikasi. Buang air besar sakit dapat disebabkan berbagai macam penyakit sehingga gejala ini perlu diwaspadai. Secara umum, gejala ini dapat dicegah dan diatasi dengan menjaga pola hidup yang sehat, minum air yang cukup sekitar 6–8 gelas per hari, mengonsumsi makanan yang kaya akan serat, dan aktif berolahraga.

penyebab buang air besar terus menerus

Namun jika Anda merasakan sakit berkelanjutan setiap kali penyebab buang air besar terus menerus air besar, apalagi jika disertai demam, kelelahan yang tidak biasa, nyeri berat pada perut dan punggung, benjolan di sekitar anus, dan perdarahan atau keluarnya cairan dari anus sekitar anus, segera konsultasikan dengan dokter.
Buang air besar berlendir bukanlah perkara yang harus dikhawatirkan jika jumlah lendirnya tidak banyak atau tidak disertai keluhan lain.

Akan tetapi, jika jumlah lendir saat BAB meningkat atau disertai adanya darah, maka bisa jadi Anda mengalami gangguan pencernaan. Tubuh yang sehat rata-rata bisa menghasilkan 1–1,5 liter lendir setiap hari. Lendir ini bisa ditemukan pada berbagai bagian tubuh, seperti lapisan dalam hidung, tenggorokan, mata, telinga, mulut, hingga usus.

Dalam keadaan normal, lendir saat buang air besar berjumlah sedikit dan berwarna jernih atau sedikit kekuningan. Hal ini sering kali tidak Anda sadari, karena lendir dalam saluran cerna adalah hal yang normal pada tiap orang, baik itu lendir di saluran cerna bayi maupun orang dewasa. Fungsi Lendir di Dalam Tubuh Berikut ini adalah beberapa fungsi lendir di dalam tubuh, antara lain: • Melindungi dan melumasi jaringan serta organ tubuh • Menangkap dan mengeluarkan bakteri, virus, dan jamur penyebab penyakit dari dalam tubuh • Melindungi saluran cerna dari asam lambung dan cairan berbahaya lainnya • Membantu makanan dan feses agar dapat melewati usus dengan lancar Meski keberadaan lendir di dalam usus adalah hal yang normal, Anda tetap perlu waspada jika lendir yang ikut keluar dari saluran cerna saat BAB berjumlah sangat banyak atau disertai keluhan lain, seperti BAB berdarah, nyeri perut, dan diare.

Hal tersebut bisa menjadi pertanda Anda mengalami gangguan pencernaan. Penyakit yang Menyebabkan B uang A ir B esar Berlendir Ada beberapa penyakit yang bisa menyebabkan BAB berlendir banyak, penyebab buang air besar terus menerus lain: 1.

Radang usus Penyakit radang usus, seperti kolitis ulseratif dan penyakit Crohn, bisa menyebabkan BAB berlendir dalam jumlah yang banyak.

Penyakit kolitis ulseratif bisa menimbulkan luka di dinding usus besar hingga menyebabkan tinja bercampur darah. Sedangkan penyakit Crohn menyebabkan terjadinya peradangan yang lebih luas pada dinding saluran cerna, termasuk di mulut dan anus.

2. Infeksi Infeksi virus, bakteri, atau parasit yang menyebabkan keracunan makanan bisa membuat Anda mengalami diare. Infeksi pada saluran cerna ini dapat membuat usus meradang, sehingga lendir akan meningkat jumlahnya ketika buang air besar. 3. Irritable bow e l syndrome (IBS) Irritable bowe l syndrome (IBS) adalah penyakit yang menyerang usus dalam waktu yang cukup lama dan bisa kambuh kapan saja.

Penyebab penyakit ini tidak diketahui, tetapi diduga karena adanya kelainan saraf usus atau usus yang terlalu sensitif.

penyebab buang air besar terus menerus

Penyakit ini dapat menimbulkan rasa tidak nyaman di perut atau mulas, perut kembung, BAB menjadi lebih sering atau jarang dari biasanya, hingga tinja berlendir saat buang air besar. 4. Malabsorbsi makanan Malabsorbsi makanan adalah masalah pencernaan di mana saluran cerna tidak dapat menyerap nutrisi dan cairan dari makanan atau minuman yang dikonsumsi.

Gejala gangguan ini dapat berupa penurunan berat badan, kulit kering dan kemerahan, serta buang air besar berlendir dan tinja bertekstur lengket. 5. Kanker usus besar Kanker usus besar umumnya memiliki gejala buang air besar berdarah, nyeri perut, dan penurunan berat badan. Selain itu, tinja penderita penyakit ini juga biasanya mengalami perubahan bentuk, warna, dan berlendir.

Penanganan B uang A ir B esar Berlendir Untuk menangani lendir berlebih saat buang air besar, Anda harus berkonsultasi dengan dokter guna menentukan penyebabnya.

penyebab buang air besar terus menerus

Dalam memastikan diagnosis penyebab BAB berlendir, selain pemeriksaan fisik, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang, seperti: • Tes darah • Analisis tinja • Tes urine • Kolonoskopi dan endoskopi • Tes pencitraan, seperti foto Rontgen, MRI, USG, dan CT scan saluran cerna Setelah didapatkan hasil pemeriksaannya, dokter akan memberikan pengobatan sesuai diagnosis penyakit yang menyebabkan BAB berlendir.

Selain itu, dokter juga mungkin akan menyarankan Anda untuk melakukan perubahan gaya hidup. Berikut ini adalah beberapa langkah yang bisa Anda lakukan untuk mulai menjalani gaya hidup sehat: • Banyak minum air agar tidak mengalami dehidrasi dan sembelit • Konsumsi makanan yang kaya prebiotik dan probiotik, misalnya buah-buahan dansayuran, atau bisa juga mengonsumsi suplemen yang mengandung probiotik, seperti Bifidobacterium atau Lactobacillus, bila perlu • Hindari makanan yang menyebabkan radang atau iritasi saluran cerna, seperti makanan yang asam, pedas, atau mengandung alkohol • Konsumsi makanan yang bersih, sehat, dan bergizi seimbang Penanganan buang air besar berlendir sangat bergantung pada penyakit yang mendasarinya.

Jika Anda mengalami peningkatan lendir dalam tinja, terutama yang bercampur darah atau nanah, segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Buang air besar cair atau mencret air bisa disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, pola makan yang salah, serta penyakit-penyakit seperti radang saluran pencernaan, ulcerative collitis, penyakit Chron dan penyakit celiac.

Karena penyebabnya beragam, maka cara mengatasinya pun perlu disesuaikan dengan kondisi penderita. Advertisement Diare bagi sebagian besar orang bukanlah kondisi yang berbahaya. Namun, jika tidak kunjung reda, cairan yang hilang akibat buang air terus menerus bisa memicu terjadinya dehidrasi. Maka dari itu, Anda perlu mengetahui lebih penyebab buang air besar terus menerus soal BAB cair agar bisa mengatasinya dengan tepat.

Penyebab buang air besar cair Kondisi buang air besar (BAB) cair bisa terjadi baik pada anak-anak maupun orang dewsaa. Konsistensi tinja yang cair bisa menandakan penyakit, bisa juga tidak. Jika BAB cair tapi Anda tidak merasa sakit perut, maka kondisi tersebut mungkin saja tidak menandakan gangguan kesehatan yang parah. Lantas, apa saja sebenarnya penyebab BAB cair? Berikut ini penjelasannya. Diare cair bisa dipicu oleh infeksi virus 1.

Infeksi virus Masuknya virus ke saluran pencernaan juga bisa membuat tekstur tinja menjadi cair. Diare yang disebabkan oleh virus biasanya juga akan disertai gejala lain seperit mual dan kram perut. Beberapa infeksi virus yang bisa menyebabkan buang air besar cair antara lain adalah rotavirus, norovirus, dan adenovirus 2.

Infeksi bakteri Buang air besar cair juga bisa terjadi akibat infeksi bakteri seperti salmonella, E.coli, hingga shigella. Biasanya, bakteri-bakteri ini ada pada makanan maupun minuman yang tidak terjaga kebersihannya. Infeksi bakteri-bakteri tersebut juga bisa memicu keracunan makanan. Sehingga, tidak hanya diare, gejala lain seperti mual dan muntah juga bisa muncul. 3. Pola makan yang salah Beberapa makanan dan minuman, meski sudah disiapkan dengan kebersihan yang baik, tetap bisa memicu diare bagi sebagian orang.

Pada orang yang punya riwayat intoleransi laktosa, misalnya, mengonsumsi sesuatu yang dibuat dari susu bisa membuatnya buang air besar cair. Selain itu, terlalu banyak mengonsumsi makanan pedas dan kopi juga bisa memicu sakit perut dan diare.

penyebab buang air besar terus menerus

IBS bisa menyebabkan seseorang buang air besar cair 4. Irritable bowel syndrome (IBS) IBS adalah kondisi gangguan pencernaan kronis, yang membuat penderitanya sering mengalami diare. Selain BAB cair, pengidap penyakit ini juga dapat mengalami gejala berupa perut kembung, sembelit, dan sakit perut. 5. Ulcerative colitis Ulcerative colitis merupakan gangguan pencernaan yang disebabkan oleh inflamasi atau peradangan di usus besar dan rektum. Gejala lain yang menyertai kondisi ini antara lain adalah kehilangan nafsu makan dan berat badan, iritasi di kulit dan mata, hingga nyeri sendi.

6. Penyakit Crohn Penyakit crohn juga dapat memicu BAB cair. Sebab pada penyakit ini, dinding saluran pencernaan mengalami peradangan. Gejala lain yang menandakan penyakit crohn di antaranya adalah BAB berdarah, badan terasa lemas, dan nafsu makan serta berat badan menurun. 7.

Penyakit celiac Penyakit celiac merupakan gangguan yang muncul saat saluran pencernaan seseorang tidak dapat mengonsumsi gluten. Sehingga saat penderitanya tidak sengaja mengonsumsi gluten yang banyak pada roti, pasta, maupun olahan tepung lainnya, saluran pencernaannya akan mengalami iritasi. Baca Juga:Â Mengenal Diet Gluten Free yang Baik untuk Pengidap Penyakit Celiac Cara mengatasi buang air besar cair Banyak minum air putih perlu dilakukan saat sedang mencret air Penyebab BAB cair yang beragam membuat pengobatannya pun bisa berbeda tiap orangnya.

Secara umum, berikut ini langkah yang dapat Anda lakukan. 1. Banyak minum air putih Saat mengalami mencret air, Anda disarankan untuk banyak minum air putih untuk mencegah terjadinya dehidrasi.

Selain itu, perhatikan juga jenis penyebab buang air besar terus menerus dan minuman lain yang masuk ke tubuh. Hindari mengonsumsi asupan yang berasal dari olahan susu kecuali yogurt, setidaknya hingga 48 jam setelah diare berhenti. Penuhi juga asupan cairan dengan konsumsi makanan berkuah, seperti sup ayam. Hindari mengonsumsi alkohol dan kafein, karena dapat mengiritasi lambung dan membuat dehidrasi.

2. Jaga pola makan Orang yang sedang dalam masa penyembuhan diare dengan konsistensi cair, tidak disarankan untuk makan terlalu banyak. Lebih baik kurangi porsi makan tapi perbanyak frekuensinya, misalnya makan lima kali sehari namun dalam porsi kecil. Pilihlah makanan yang mudah dicerna, seperti bubur, pisang, atau roti panggang. Jangan mengonsumsi makanan pedas, gorengan, atau yang mengandung banyak gas seperti kol, karena bisa mengiritasi lambung.

Saat kondisi sudah lebih baik, Anda dapat mulai mengonsumsi makanan padat secara perlahan-lahan. 3. Periksakan diri ke dokter Jika cara di atas tak juga redakan BAB cair yang Anda alami, maka sudah saatnya Anda memeriksakan diri ke dokter. Sebab, tidak semua obat diare tepat untuk mengatasi kondisi ini. Jika BAB cair yang keluar disertai darah atau saat diare merasa demam, maka Anda tidak disarankan untuk mengonsumsi obat-obatan diare biasa. Selain itu, pada diare yang disebabkan oleh bakteri atau parasit, misalnya, dokter dapat meresepkan antibiotik.

Pada beberapa kasus yang cukup menghkawatirkan, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan tambahan menggunakan metode kolonoskopi maupun sigmoidoskopi. Cara mencegah buang air besar cair kembali terjadi Rajinlah mencuci tangan untuk mencegah gangguan buang air besar cair Setelah mengetahui penyebab dan cara mengatasinya, Anda tentu tidak mau penyakit ini kembali terjadi. Berikut ini langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk membantu mencegahnya.

• Selalu buang air pada tempatnya. • Rajin mencuci tangan, terutama sebelum makan dan setelah keluar dari kamar mandi. • Cuci bahan makanan hingga bersih sebelum memasaknya. • Masak makanan hingga benar-benar matang. • Tidak jajan sembarangan. • Pastikan lingkungan rumah bersih dari lalat maupun binatang-binatang lain yang bisa jadi sumber penyakit.

• Penuhi vaksin yang diperlukan agar terlindung dari berbagai infeksi. • Konsumi makanan yang sehat. • Rutin berolahraga Baca Juga • Makan Pisang untuk Diare Sangat Dianjurkan, Ternyata Ini Manfaatnya • Cara Tepat Cegah Mual Setelah Olahraga yang Patut Anda Coba • 11 Cara Ampuh Penyebab buang air besar terus menerus Perut Berbunyi yang Mengganggu Intinya, buang air besar cair bisa dihindari apabila Anda selalu menjaga kebersihan kapanpun dan di manapun Anda berada.

Kebiasaan baik ini tidak hanya akan melindungi Anda dari diare, tapi juga penyakit lain yang bisa membahayakan kesehatan.Buang air besar cair sering kali terjadi saat diare. Kondisi ini dapat disebabkan oleh banyak hal, mulai dari infeksi hingga masalah pada penyerapan nutrisi dari makanan.

penyebab buang air besar terus menerus

Untuk mengatasi keluhan buang air besar cair, ada beberapa cara sederhana yang bisa Anda lakukan di rumah. Ketika terkena diare, seseorang dapat mengalami buang air besar (BAB) cair hingga lebih dari 3 kali dalam sehari. Kondisi ini biasanya juga disertai gejala lain, seperti mulas, kram atau sakit perut disertai perut kembung, serta mual dan muntah.

Diare umumnya bisa sembuh sendiri dalam waktu beberapa hari. Namun, terkadang orang yang mengalami buang air besar cair akibat diare bisa mengalami dehidrasi karena banyaknya cairan yang keluar saat BAB atau karena penurunan nafsu makan. Ragam Penyebab Buang Air Besar Cair Ada banyak hal yang bisa menyebabkan seseorang mengalami buang air besar cair atau diare, di antaranya: 1.

Intoleransi atau alergi makanan Orang yang memiliki alergi makanan dapat mengalami buang air besar cair ketika mengonsumsi makanan pencetus alergi, misalnya makanan laut dan kacang-kacangan. Selain itu, mengonsumsi makanan tertentu yang tidak dapat dicerna dengan baik oleh tubuh juga dapat memicu diare.

Kondisi ini disebut intoleransi makanan. Contoh makanan yang cukup sering menyebabkan intoleransi adalah susu ( intoleransi laktosa). 2. Infeksi Infeksi virus, bakteri, dan parasit merupakan salah satu penyebab buang air besar cair yang cukup sering terjadi. Diare yang disebabkan infeksi umumnya terjadi akibat konsumsi air atau makanan yang telah terkontaminasi virus, kuman, atau parasit. Selain itu, diare akibat infeksi juga bisa terjadi akibat kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum makan atau memasak.

Beberapa contoh virus yang dapat menyebankan diare adalah norovirus, penyebab buang air besar terus menerus (CMV), virus hepatitis A, adenovirus, dan rotavirus. Diare akibat infeksi bakteri bisa disebabkan oleh bakteri Eschericia coli, Salmonella, dan Shigella, sedangkan parasit yang dapat menyebabkan diare adalah amoeba penyebab disentri. 3. Gangguan saluran pencernaan Ada beberapa jenis penyakit pada saluran pencernaan yang dapat membuat Anda mengalami diare, yaitu irritable bowel syndrome, penyakit celiac, kolitis ulseratif, atau penyakit Crohn.

4. Efek samping obat-obatan Salah satu obat yang dapat menimbulkan efek samping berupa BAB cair atau diare adalah antibiotik, khususnya jika antibiotik tersebut digunakan dalam jangka panjang. Tak hanya antibiotik, BAB cair juga dapat disebabkan oleh obat-obatan lainnya, misalnya kemoterapi, antasida, dan obat antiinflamasi nonsterois (OAINS).

Selain karena beberapa penyebab di atas, BAB cair juga biasanya terjadi pada orang yang baru penyebab buang air besar terus menerus menjalani operasi pada saluran pencernaan, misalnya operasi usus buntu, kantong empedu, hati, pankreas, usus kecil, limpa, dan usus besar. Bila Anda mengalami BAB cair setelah operasi atau mengonsumsi obat-obatan tertentu, sebaiknya konsultasikan masalah tersebut ke dokter agar kondisi Anda dapat ditangani dengan tepat.

Cara Sederhana M enangani Buang Air Besar Cair Meski diare atau buang air besar cair biasanya dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan dokter, ada beberapa cara yang bisa Anda ikuti untuk meringankan gejala dan mempercepat pemulihan, yaitu: Minum cukup air Untuk menggantikan cairan yang hilang akibat diare dan mencegah risiko terjadinya dehidrasi, konsumsilah air putih setidaknya 8 gelas atau 2 liter sehari.

Anda juga disarankan untuk mengonsumsi minuman elekterolit khusus untuk diare sehabis BAB atau muntah. Bila bayi atau anak Anda mengalami buang air besar cair atau muntah-muntah karena diare, Anda dapat memberikannya ASI lebih sering dari biasanya atau minuman elektrolit setiap kali ia muntah atau BAB.

Hal ini penting dilakukan untuk mencegah bayi atau anak Anda mengalami dehidrasi. Pastikan juga anak banyak beristirahat dan kurangi aktivitasnya agar diare yang dialami cepat pulih, terlebih jika buang air besar cair disertai dengan demam, mual, muntah, atau jika Anak tampak lemas.

penyebab buang air besar terus menerus

Perhatikan asupan makanan Untuk memudahkan pencernaan dan mencukupi kebutuhan energi, orang yang mengalami BAB cair disarankan untuk mengonsumsi makanan yang bertekstur lunak dan rendah serat, seperti telur, nasi, atau daging ayam. Penderita diare juga dapat mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung probiotik untuk mempercepat pemulihan diare. Selama pemulihan diare, hindari konsumsi makanan berlemak, berbumbu tajam atau pedas, susu, atau makanan berserat tinggi, seperti buah dan sayuran.

Minuman tertentu, seperti kopi atau minuman berenergi yang tingg kafein dan minuman beralkohol, juga sebaiknya dihindari ketika diare. Hindari olahraga secara berlebihan Selama masa pemulihan, Anda dianjurkan untuk membatasi kegiatan olahraga. Pasalnya, terlalu sering berolahraga dapat menyebabkan tubuh Anda semakin lemas dan berisiko terkena dehidrasi. Jika ingin berolahraga ketika mengalami diare, konsultasikanlah dengan dokter perihal durasi dan jenis olahraga yang aman dilakukan sesuai kondisi Anda.

Apabila buang air besar cair tak kunjung membaik setelah 2 hari atau bahkan muncul gejala dehidrasi, tinja disertai darah atau berwarna gelap, muntah-muntah, dan tidak nafsu makan sama sekali, segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Advertisement Sebenarnya, buang air besar terus-menerus dapat diakibatkan oleh berbagai macam kondisi medis atau penyakit.

Oleh karena itu, mengenali penyebab kondisi ini dapat membantu Anda untuk mencari pengobatan terbaiknya. Buang air besar terus-menerus, ini dia penyebabnya Tak ada takaran atau parameter jelas mengenai seberapa banyak seseorang harus buang air besar setiap harinya. Faktanya, memang tak semua orang rutin buang air besar setiap hari, sedangkan sebagian lainnya bisa buang air besar sebanyak 1-2 kali dalam sehari. Apa yang normal untuk Anda, belum tentu normal untuk orang lain.

Dalam sebuah penelitian yang dirilis dalam Scandinavian Journal of Gastroenterology, ditemukan bahwa 98 persen partisipan mengalami buang air besar sebanyak 3 kali dalam seminggu, tapi ada juga yang harus buang air besar sebanyak 3 kali dalam sehari. Namun yang harus dipertanyakan adalah saat buang air besar terlalu sering terjadi. Sebab, ada beberapa kebiasaan dan kondisi medis yang bisa menyebabkan sering buang air besar. 1. Pola makan Jangan salah, tak selamanya penyebab buang air besar terus-menerus adalah hal yang buruk.

Contohnya, ketika kita mengonsumsi lebih banyak buah dan sayur, tentu sistem pencernaan jadi lebih sehat sehingga buang air besar jadi lebih lancar. Sebab, buah dan sayur sangat kaya akan serat. Hal ini menyebabkan penyebab buang air besar terus menerus lebih halus dan mudah dikeluarkan.

Ditambah lagi, serat dapat mencegah sembelit, jadi tak mengherankan kalau sering buang air besar pun terjadi. Minum air lebih teratur juga bisa menyebabkan buang air besar terus-menerus. Sebab, air akan dicerna oleh serat dan membantu tubuh membuang segala limbah dari dalam tubuh, termasuk feses. 2. Olahraga Olahraga teratur dapat menyebabkan kita buang air penyebab buang air besar terus menerus terus-menerus. Sebab, berolahraga dapat melancarkan proses pencernaan dan meningkatkan kontraksi otot di dalam usus.

Akibatnya, buang air besar jadi lebih lancar. Itulah mengapa para penderita sembelit disarankan untuk lebih rajin berolahraga untuk melancarkan buang air besar mereka. 3. Mengonsumsi kopi berlebihan "Overdosis" kopi bisa bikin buang air besar terus-menerus Buang air besar terus-menerus dapat terjadi saat Anda mengonsumsi kopi berlebihan. Sebab, kandungan kafein di dalam kopi akan merangsang pergerakkan otot di usus besar. Ditambah lagi, kafein memiliki efek pencahar yang membuat feses bergerak lebih mudah di dalam usus besar.

4. Stres Tak melulu kesehatan fisik, ternyata buang air besar terus-menerus dapat terjadi saat kesehatan mental kita terganggu. Misalnya, saat pikiran diterpa oleh stres, fungsi tubuh akan menjadi tidak stabil sehingga proses pencernaan akan terganggu. Hal ini pada akhirnya dapat mengundang diare dan membuat Anda lebih sering buang air besar. 5. Menstruasi Menstruasi yang terjadi pada wanita dapat memicu buang air besar terus-menerus.

Para peneliti percaya, kadar hormon estrogen dan progesteron yang lebih rendah saat fase menstruasi dapat memicu kram pada usus besar.

penyebab buang air besar terus menerus

Saat usus besar Anda mengalami kram, maka buang air besar akan sering terjadi. 6. Obat-obatan Jika Anda baru pertama kali mengonsumsi obat-obatan tertentu, hal ini dapat menyebabkan perubahan pada kebiasaan buang air besar. Contohnya, beberapa obat-obatan antibiotik dapat mengganggu kestabilan bakteri yang hidup di dalam sistem pencernaan Anda.

Selain itu, ada juga obat-obatan yang memicu Anda untuk sering buang air besar. Â Jika penyebab buang air besar terus menerus buang air besar Anda tak kunjung normal setelah mengonsumsi obat-obatan ini, datanglah ke dokter. Apalagi saat gejala-gejala ini juga Anda derita: • Sakit perut • Demam • Mual • Muntah • Tinja berdarah. Dokter bisa membantu Anda mencari tahu penyebabnya dan merekomendasikan obat-obatan lain yang tidak akan menimbulkan gangguan pada sistem pencernaan.

7. Penyakit Celiac Buang air besar terus-menerus bisa disebabkan Celiac Penyakit Celiac adalah gangguan sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan tubuh seseorang tak mampu mengolah gluten karena bisa merusak usus halus mereka. Jika Anda mengidap penyakit Celiac dan tetap mengonsumsi gluten, maka sistem tubuh akan meresponsnya dengan merusak usus halus. Selain mengganggu kinerja usus halus, penyakit Celiac juga bisa menyebabkan penderitanya buang air besar terus-menerus.

Jika tidak segera ditangani, Penyakit Celiac bisa menyebabkan malnutrisi. 8. Penyakit Crohn Penyakit Crohn termasuk dalam golongan penyakit autoimun yang menyebabkan peradangan dan rasa tak nyaman pada sistem pencernaan. Peradangan ini dapat menyebabkan berbagai gejala, seperti: • Buang air besar terus-menerus • Diare • Feses berdarah • Luka di mulut • Nyeri perut • Hilangnya nafsu makan • Turunnya berat badan Penyakit Crohn harus segera ditangani oleh dokter.

Jika tidak, banyak komplikasi merugikan yang bisa mengganggu kehidupan Anda. 9. Irritable bowel syndrome (IBS) Irritable bowel syndrome atau IBS adalah penyakit gastrointestinal yang berdampak pada frekuensi buang air besar Anda. Tidak heran kalau IBS dapat menyebabkan Anda sering buang air besar. Selain buang air besar terus-menerus, IBS juga bisa memunculkan gejala perut kembung, nyeri perut, hingga feses encer (diare). Baca Juga • Penyebab Sakit Saat BAB dan Cara Mengatasinya • Kondisi Mata Berdarah, Berbahayakah?

• Benjolan di Ketiak Kiri Sakit Bila Ditekan, 8 Hal Ini Mungkin Jadi Pemicu Catatan dari SehatQ: Pengobatan untuk mengatasi kondisi sering buang air besar tentu berbeda-beda, tergantung dari kondisi medis yang menyebabkannya. Dalam beberapa kasus, buang air besar terus-menerus berdampak baik untuk kesehatan. Namun jika muncul gejala, seperti feses berdarah, nyeri perut, dan demam, maka barulah kondisi ini perlu mendapatkan penanganan. Jika Anda masih ragu, penyebab buang air besar terus menerus ke dokter untuk berkonsultasi.

Sebab, tim medis dapat membantu Anda mencari tahu apa penyebabnya. Healthline. https://www.healthline.com/health/pooping-a-lot Diakses pada 25 Agustus 2020 Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/319879#how-many-times-a-day-should-you-poop Diakses pada 25 Agustus 2020 Medline Plus.

https://medlineplus.gov/celiacdisease.html#:~:text=Celiac%20disease%20is%20an%20immune,wheat%2C%20rye%2C%20and%20barley. Diakses pada 25 Agustus 2020

Penanganan Diare Cair Akut Di Rumah




2022 www.videocon.com