Penyembelihan yang sesuai cara islam syaratnya adalah kecuali

penyembelihan yang sesuai cara islam syaratnya adalah kecuali

Oleh : Yudi Yansyah S.Pd.i Penyuluh Agama Islam Kecamatan Bojong Genteng Kementerian Agama Kabupaten Sukabumi Assalamu’alaikum Wr.Wb. اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِى مَزِيْدَهُ يَارَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَايَنْبَغِى لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى خَاتَمِ اْلاَنْبِيَآءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ مُحَمَّدٍ وَّعَلى الِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ penyembelihan yang sesuai cara islam syaratnya adalah kecuali وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ Hadirin rohimakumulloh Pertama-tama marilah kita bersyukur kepada Allah Swt yang telah memberikan kepada kita keimanan, ketaqwaan kesehatan, kenikmatan dan kesejahteraan.

Kemudian tak lupa kita haturkan shalawat dan salam atas junjunan kita, Nabi Muhammad SAW., kepada keluarganya, shohabatnya dan kita sebagai umatnya. Saya mengajak hadirin untuk selalu meningkatkan keimanan dan ketakwaan agar kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntung. Hadirin rahimakumullah Semua jenis hewan yang dihalalkan bagi manusia, untuk bisa dinikmati dagingnya secara halal harus menyembelihnya terlebih dahulu, kecuali jenis ikan air atau belalang.

Hewan yang mati tanpa disembelih termasuk bangkai dan haram untuk dimakan. Menyembelih binatang harus memenuhi ketentuan syara’ (hukum Islam). Apabila menyembelih hewan tidak sesuai dengan ketentuan syara’, daging hewan tersebut haram hukumnya. Penyembelihan adalah mematikan hewan dengan cara memotong saluran nafas dan saluran makanan serta urat nadi utama yang terdapat pada leher hewan.

Tujuannya agar hewan tersebut menjadi halal dimakan dagingnya. Hadirin rohimakumulloh Ketentuan dalam penyembelihan binatang, sebagai berikut: Pertama, rukun penyembelihan, yaitu orang yang menyembelih, hewan yang disembelih dan alat yang digunakan untuk menyembelih Kedua, syarat orang yang menyembelih, yaitu: beragama Islam; sembelihan orang kafir atau musyrik hukumnya tidak sah atau haram, berakal sehat; bukan orang gila atau sedang mabuk dan mumayiz; sudah dapat membedakan antara yang haq dan yang batil.

Ketiga, syarat hewan yang disembelih, yaitu dalam keadaan hidup dan termasuk binatang yang halal menurut syara’. Keempat, syarat alat yang digunakan menyembelih, yaitu: benda tajam, terbuat dari baja, besi, batu, dan tidak sah menyembelih penyembelihan yang sesuai cara islam syaratnya adalah kecuali menggunakan kuku, tulang, dan gigi. Menggunakan pisau yang tajam, bertujuan agar hewan lekas mati. Tetapi jangan mengasah pisau tersebut dihadapan hewan yang akan disembelih karena bisa membuat hewan ketakutan.

Hal ini berdasarkan hadits dari Ibnu Umar RA: أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحَدِّ الشِّفَارِ ، وَأَنْ تُوَارَى عَنِ الْبَهَائِمِ “Rasulullah SAW memerintahkan untuk mengasah pisau, tanpa memperlihatkannya kepada hewan.” (HR.

Ahmad, Ibnu Majah ) Kelima, sunah dalam penyembelihan hewan, yaitu: hewan qurban diikat lalu direbahkan di atas lambung sebelah kiri dan menghadap ke arah kiblat serta menginjakkan kaki di leher hewan. Sebagaimana dalam hadits dari Anas bin Malik: “Rasulullah SAW berqurban dengan dua ekor domba.

Aku lihat beliau meletakkan kaki beliau di leher hewan tersebut, kemudian membaca basmalah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Kemudian membaca takbir: اَللهُ اَكْبَرُ x9اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. لاَاِلهَ إِلاَّاللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ Membaca sholawat : "Allahumma shalli ala sayyidina muhammad, wa alaa aali sayyidina muhammad" Membaca doa menyembelih hewan kurban: "Allahumma hadzihi minka wa ilaika, fataqabbal minni ya karim" (Ya Tuhanku, hewan ini adalah nikmat dari-Mu dan dengan ini aku bertaqarrub kepada-Mu.

Karenanya hai Tuhan yang Maha Pemurah, terimalah taqarrabku). Doa menyembelih : “بِسْمِ اَللَّهِ, اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ, وَمِنْ أُمّةِ مُحَمَّدٍ Perintah menyembelih hewan kurban ada pada hadits dalam shahih Muslim dari ‘Aisyah. أَمَرَ بِكَبْشٍ أَقْرَنَ, يَطَأُ فِي سَوَادٍ, وَيَبْرُكُ فِي سَوَادٍ, وَيَنْظُرُ فِي سَوَادٍ; لِيُضَحِّيَ بِهِ, فَقَالَ: “اِشْحَذِي اَلْمُدْيَةَ”ثُمَّ أَخَذَهَا, فَأَضْجَعَهُ, ثُمَّ ذَبَحَهُ, وَقَالَ: “بِسْمِ اَللَّهِ, اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ, وَمِنْ أُمّةِ مُحَمَّدٍ” – Nabi pernah memerintahkan agar diambilkan gibas (domba jantan) bertanduk, kuku dan perutnya hitam dan sekeliling matanya hitam.

Lalu gibas tersebut dibawa ke hadapan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dijadikan kurban. Beliau pun bersabda, “Asahlah dengan batu pengasah.” Kemudian ‘Aisyah mengasahnya dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaringkan hewan tersebut lalu menyembelihnya.

Saat menyembelih, beliau mengucapkan: “Bismillah, Allahumma taqobbal min Muhammad wa aali Muhammad, wa min ummati Muhammad (dengan menyebut nama Allah, Ya Allah terimalah kurban ini dari Muhammad, keluarga Muhammad dan umat Muhammad).” (HR.

Muslim No. 1967) Membaca basmallah sebelum memulai menyembeli hewan. Allah berfirman: وَ لاَ تَأْكُلُواْ مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ الله عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ “Janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya.

Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan.” (QS. Al-An’am: 121) Membaca basmallah ketika menyembelih: بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ “Dengan nama Allah dan Allah itu Maha Besar.” (HR.

Muslim) Mempercepat penyembelihan, berlaku baik dalam menyembelih, tidak kasar dan tidak pula lamban. Hadirin rohimakumulloh Keenam, tempat anggota tubuh hewan yang disembelih adalah hewan jinak disembelih di bagian lehernya, tepatnya dipotong di bagian saluran nafas, saluran makan, dan urat nadi utama. Hewan liar atau yang terperosok ke dalam lubang sehingga sulit dijangkau lehernya cukup dengan cara melukai tubuh di bagian yang dapat dijangkau, dengan catatan dapat mematikan hewan tersebut.

Ketujuh, hal yang makruh dalam penyembelihan hewan adalah menyembelih sampai putus lehernya dan menyembelih dengan menggunakan alat tumpul. Kedelapan, penyembelihan secara tradisional dan mekanik. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan daging, ada penyembelihan yang sesuai cara islam syaratnya adalah kecuali cara penyembelihan hewan, yaitu secara tradisional (manual), seperti penyembelihan yang selama ini dilaksanakan oleh masyarakat pada umumnya, yakni penyembelihan dengan menggunakan alat-alat tajam tradisional (pisau, golok, badik, dan sebagainya) Penyembelihan hewan secara mekanik yang dilakukan dengan bantuan alat (mesin) adalah penyembelihan yang dilakukan dengan menggunakan mesin di rumah pemotongan hewan.

Hal ini dimaksudkan agar kerja lebih cepat dan hasilnya lebih banyak karena untuk memenuhi kebutuhan yang sangat banyak (masyarakat perkotaan) Beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam penyembelihan hewan secara mekanik adalah orang yang menjalankan mesin potong harus beragama Islam dan harus menyebut asma Allah ketika mulai menghidupkan mesin, yaitu dengan membaca basmallah (bismillahi Allohu Akbar).

Hewan yang disembelih dalam keadaan masih hidup ketika akan dilakukan penyembelihan dan hewan tersebut adalah hewan yang halal. Alat mekanik yang digunakan untuk penyembelihan disyaratkan benda tajam yang terbuat dari besi, logam, batu, atau lainnya. Hadirin rohimakumulloh Pembahasan tentang qurban saat Idul Adha sebagaimana Firman Alloh: وَلِكُلِّ اُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۗ فَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ فَلَهٗٓ اَسْلِمُوْاۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِيْنَ ۙ Dan bagi tiap-tiap umat telah kami syariatkan penyembelihan (qurban) supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserahdirilah kamu kepada-Nya, dan berilah kabar gembira pada orang-orang yang tunduk (patuh) pada Allah.

(QS.Al-Hajj : 34) Ayat di atas dikuatkan lagi dengan firman Allah yang dalam QS.Al-Hajj ayat 36-37 yaitu: “Maka makanlah sebagiannya (daging qurban) dan berilah makan orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (orang yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Daging qurban dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhaan Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.

Hadits tentang waktu berqurban yang dianjurkan : ”Barangsiapa menyembelih sebelum shalat, hendaknya ia menyembelih seekor kambing lagi sebagai gantinya. Barangsiapa belum menyembelih, hendaknya ia menyembelih dengan nama Allah.” Cara penyembelihan hewan Qurban pada dasarnya sama dengan penyembelihan hewan biasa, yaitu: harus sesuai dengan syariat Islam. Yang berqurban disunatkan menyembelih sendiri atau jika tidak cukup menyaksikan saja.

Digulingkan ke sebelah kiri tulang rusuknya agar mudah saat penyembelihan. Dihadapkan ke arah kiblat. Disunahkan membaca basmallah, shalawat, takbir dan berdoa. Daging qurban boleh dimakan sebagian dan sebagiannya lagi dibagikan kepada fakir miskin. Demikianlah semoga bermanfaat. Wassalamu’alaikum Wr.Wb. Dibaca: 11.006 Kali Bagaimana sebuah paragraf dinyatakan menjadi sebuah paragraf yang baik dan utuh unsur-unsur apa saja yang harus ada di dalamnya?

Suara.com - Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, paragraf adalah poin yang wajib dipelajari. Apalagi saat ditugaskan membuat wacana seperti novel, cerpen, hingga buku biografi. Wacana adalah satuan . Tahap keempat proses pengolahan sederhana yang dapat dilakukan untuk bahan limbah secara umum adalah tirto.id - Limbah organik basah adalah limbah organik yang bersifat lembut, mudah dibentuk, dan lekas terurai. Karena itu, limbah organik lunak merupakan limbah organik basah.

Umumnya, limbah organik . Ketentuan penyembelihan hewan menurut syariat Islam agar hewan halal dimakan dan wajib dilaksanakan oleh semua ummat Islam. Ketentuan ini agar selain daging yang dimakan menjadi halal, daging tersebut juga menjadi sehat dan layak untuk dikonsumsi. Pengertian Penyembelihan Menyembelih hewan tidak sama dengan mematikan. Mematikan hewan dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti dipukul, disabet dengan sengaja, disiram dengan air panas atau dibakar.

Namun cara-cara tersebut tidak dicontohkan oleh Rasulullah saw. karena termasuk tindakan kejam. Penyembelihan hewan adalah memutuskan jalan makan, minum, napas, dan urat nadi pada leher hewan yang disembelih dengan pisau, pedang atau alat lain yang tajam sesuai dengan ketentuan syarak (syari’at).

Hewan di dunia ini ada yang halal dimakan oleh orang muslim, ada yang harus disembelih terlebih dahulu dan ada yang tidak eperti ikan dan belalang. Hewan yang harus disembelih hendaknya diperhatikan tata cara, syarat dan rukun penyembelihannya agar hewan tersebut menjadi halal hukumnya.

Menyembelih hewan tidak boleh sembarangan, melainkan harus memerhatikan syarat-syarat yaitu, niat dengan sengaja menyembelih hewan, penyembelih harus seorang muslim, atau ahli kitab, berakal sehat dan dapat melihat.

Hewan yang disembelih adalah hewan darat yang halal dan ketika disembelih masih hidup atau dapat bergerak, dan alat yang digunakan untuk menyembelih harus tajam dan dapat melukai, seperti besi, tembaga, dan sejenisnya. Sabda Rasulullah saw. yang artinya : Sesuatu yang dapat mengucurkan darah, dan disebutkan asma Allah (ketika menyembelih), makanlah olehmu, kecuali gigi dan kuku.

(H.R. Bukhari dan Muslim). Cara Menyembelih Hewan Ada dua cara dalam menyembelih hewan, yaitu secara tradisional dan mekanik. 1. Menyembelih Hewan Secara Tradisional Tata cara menyembelih hewan, yaitu secara tradisional adalah 1) Menyiapkan terlebih dahulu lubang penampungan darah. 2) Menyiapkan peralatan yang akan digunakan untuk menyembelih. 3) Hewan yang akan disembelih dibaringkan menghadap kiblat, lambung kiri di bawah. 4) Leher hewan yang disembelih diletakkan di atas lubang penampungan darah yang sudah disiapkan.

5) Kaki hewan yang akan disembelih dipegang kuat-kuat atau diikat, kepalanya ditekan ke bawah agar tanduknya menancap ke tanah. 6) Mengucapkan basmalah, kemudian alat penyembelih digoreskan pada leher hewan yang disembelih sehingga memutuskan jalan makan, minum, napas, serta urat nadi kanan dan kiri pada leher hewan.

b. Menyembelih Hewan Secara Mekanik Tata cara menyembelih hewan secara mekanik adalah: 1) Mempersiapkan peralatan untuk menyembelih. 2) Memasukkan hewan ke dalam ruangan yang sudah dipenuhi gas sehingga hewan tersebut tidak sadarkan diri. 4) Dengan mengucapkan basmalah, hewan yang telah pingsan tersebut disembelih dengan alat penyembelihan yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Penyembelihan hewan dengan alat mekanik dibolehkan dan halal dagingnya, asalkan memenuhi persyaratan dalam penyembelihan. Penyembelihan hewan secara mekanik memperingan rasa sakit hewan yang akan disembelih. Syarat Penyembelihan Hewan Orang yang menyembelih hewan harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu sebagai berikut.

penyembelihan yang sesuai cara islam syaratnya adalah kecuali

1. Beragama Islam atau Ahli Kitab Mengonsumsi sembelihan orang ahli kitab (orang Yahudi dan Nasrani) adalah halal hukumnya selama proses penyebelihan sesuai dengan aturan keagamaan. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Maidah ayat 5 yang artinya. . makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Alkitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka . (QS. Al-Maidah : 5) 2.

penyembelihan yang sesuai cara islam syaratnya adalah kecuali

Menyebut Nama Allah Allah SWT berfirman dalam Surah Al-An’am ayat 121 yang artinya : Dan janganlah kamu memakan hewan-hewan yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. (QS. Al-An’am : 121) 3. Berakal Sehat Mengonsumsi daging yang disembeli orang gila atau orang mabuk hukumnya haram 4. Mumayiz Mumayiz adalah orang yang dapat membedakan antara yang benar dan yang salah. Penyembelihan hewan yang dilakukan oleh anak belum mumayiz dinyatakan tidak sah Sunnah dalam Menyembelih Hewan Ada beberapa perbuatan dalam penyembelihan hewan, antara lain: 1) Menghadap kiblat.

2) Menyembelih pada bagian pangkal hewan, terutama hewan berleher panjang. Hal itu dimaksudkan agar pisau tidak mudah bergeser dan urat-urat leher serta kerongkongan cepat putus. 3) Menggunakan alat tajam agar mengurangi kadar rasa sakit. 4) Mempercepat proses penyembelihan agar hewan tidak tersiksa.

4) Hewan hendaknya dibaringkan ke sebelah rusuknya yang kiri, agar mudah bagi penyembelih untuk memotongnya. 5) Anak hewan yang berada di dalam perut induknya, tidak harus disembelih lagi, cukup dengan menyembelih induknya saja. Rasulullah saw. bersabda yang artinya : Dari Abu Sa’id, Nabi Muhammad SAW bersabda tentang urusan penyembelihan anak hewan yang dalam perut induknya, kata beliau, “menyembelih cukuplah dengan menyembelih induknya”.

(HR. Ahmad dan At-Tirmizi) Demikianlah postingan kali ini tentang Ketentuan penyembelihan hewan menurut syariat Islam, semoga postingan ini dapat berbanfaat dalam kehidupan sehari-hari yaitu pada penyembelihan hewan yang sesuai dengan ketentuan syari'at.
Syarat-Syarat Penyembelihan • 9 Years ago Dalam hal menyembelih, ada beberapa perkara yang harus terpenuhi: Pertama, hendaknya penyembelih adalah orang waras dan mumayyiz ‘mampu memahami pembicaraan dan menjawab pertanyaan dengan benar’.

Hal ini berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla, إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ “Kecuali (hewan) yang sempat ka lian sembelih .” [ Al-Mâ`idah: 3] Ayat di atas adalah pembicaraan yang ditujukan kepada mukallaf dan orang yang memahami pembicaraan [1]. Ibnul Mundzir rahimahullâh berkata, “Seluruh ulama, yang kami hafal, bersepakat akan bolehnya sembelihan perempuan dan anak kecil yang telah mumayyiz.” [2] Ked ua, penyembelih haruslah seorang muslim atau kitabi ‘orang yang bernisbah kepada Yahudi atau Nashrani, dan penyembelihan mereka berdasarkan tuntunan kitab mereka’.

Hal ini berdasarkan firman Allah Subhânahû wa Ta’âlâ, الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ “Pada hari inisegala sesuatu yang baik dihalalkan bagi kalian. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-Kitab itu halal bagi kalian, dan makanan (sembelihan) kalian halal (pula) bagi mereka.” [ Al-Mâ`idah: 5] Keterangan yang telah sah dari Nabi radhiyallâhu ‘anhâ adalah bahwa beliau memakan sembelihan orang-orang Yahudi.

Ket iga, si penyembelih memaksudkan penghalalan melalui penyembelihan hewan tersebut. Adapun kalau dia tidak bermaksud menghalalkan sembelihan, seperti ia memotong leher hewan lantaran membela diri, sembelihannya tidak sah karena Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ “Kecuali (hewan) yang sempat kalian tadzkiyah .” [ Al-Mâ`idah: 3] Kata tadzkiyah ‘penyembelihan’ dalam ayat di atas adalah sebuah perbuatan yang disertai dengan niat dan maksud.

Keempat, seseorang tidak menyembelih untuk yang bukan Allah, yakni tidak menyembelih untuk berhala, kuburan, tempat yang dikeramatkan, dan sejenisnya, karena Allah Subhânahû wa Ta’âlâ berfirman, وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ “Dan (diharamkan bagimu) segala sesuatu yang disembelih untuk berhala.” [ Al-Mâ`idah: 3] Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ “Allah melaknat siapa pun yang menyembelih untuk yang bukan Allah.” [3] Kelima, penyembelihan harus dilakukan dengan membaca nama Allah.

Syarat ini berdasarkan firman Allah Subhânahû wa Ta’âlâ, فَكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ بِآيَاتِهِ مُؤْمِنِينَ “Maka makanlah segala (daging hewan, yang disembelih) dengan menyebut nama Allah, jika kalian beriman kepada ayat-ayat-Nya.” [ Al-An’âm: 118] Juga firman-Nya ‘Azza wa Jalla, وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ “Dan janganlah kalian memakan segala (daging hewan, yang disembelih) tanpa menyebut nama Allah.

Sesungguhnya perbuatan itu adalah suatu kefasikan.” [ Al-An’âm: 121] Jika seseorang lupa membaca basmalah saat menyembelih, insya Allah, hal tersebut tidaklah mengapa menurut pendapat kebanyakan ulama penyembelihan yang sesuai cara islam syaratnya adalah kecuali bin Abi Thalib, Ibnu ‘Abbâs, Mujâhid, ‘Athâ`, Ibnul Musayyab, Az-Zuhry, Thâwus, Abu Hanifah, Malik, salah satu riwayat dari Ahmad, dan selainnya.

Hal tersebut berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla, لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya,” [ Al-Baqarah: 286] Kelupaan tidaklah tergolong ke dalam kemampuan manusia. Juga telah dimaklumi bahwa Allah telah mengabulkan doa kaum mukminin dalam firman-Nya, رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا “Wahai Rabb kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau bersalah.” [ Al-Baqarah: 286] Juga berdasarkan hadits Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ bahwa beliau berkata, أَنَّ قَوْمًا قَالُوا لِلنَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِنَّ قَوْمًا يَأْتُونَا بِاللَّحْمِ لاَ نَدْرِيْ أَذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ أَمْ لاَ فَقَالَ سَمُّوا عَلَيْهِ أَنْتُمْ وَكُلُوهُ “Sekelompok kaum berkata kepada Nabi bahwa ada kaum yang membawakan daging kepada kami, tetapi kami tidak mengetahui apakah disebut nama Allah terhadapnya atau tidak.

Maka, Nabi menjawab, ‘Sebutlah nama Allah oleh kalian, lalu makanlah.’.” [4] Hadits ini menunjukkan bahwa, andaikata penyebutan nama Allah merupakan syarat mutlak –dalam keadaan ingat maupun lupa- sembelihan yang disebut di dalam hadits, yang mengandung bentuk keraguan akan penyebutan nama Allah terhadapnya, tidak akan dihalalkan.

Keenam, seseorang tidak boleh melafazhkan nama apapun, kecuali nama Allah, dalam penyembelihan. Barangsiapa yang menyembelih dengan menyebut nama nabi, wali, malaikat, maupun nama lain yang bukan nama Allah, sembelihannya tidaklah halal menurut kesepakatan para ulama. Hal ini berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla, حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ “Diharamkan bagimu ( untuk memakan) bangkai, darah, daging ba b i, dan (daging he w an) yang disembelih atas nama yang bukan Allah.” [ Al-Mâ`idah: 3] Ketujuh, hewan harus disembelih dengan menggunakan benda tajam, baik berupa besi, kayu, kaca, maupun benda lain, tetapi dengan ketentuan bukan benda tajam berupa gigi dan kuku.

Kriteria ini berdasarkan hadits Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, مَا أَنْهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ فَكُلْ ، لَيْسَ الظُّفُرَ وَالسِّنَّ ، أَمَّا الظُّفُرُ فَمُدَى الْحَبَشَةِ ، وَأَمَّا السِّنُّ فَعَظْمٌ. “ Segala sesuatu yang tertuangkan darah dan telah disebut nama Allah terhadapnya maka makanlah, kecuali (sesuatu yang disembelih dengan menggunakan) kuku dan gigi. Adapun kukuitu adalah pisau orang-orang Habasyah.

Adapun gigi, itu adalah tulang.” [5] Juga berdasarkan hadits [6] tentang kisah budak perempuan milik Ka’b bin Malik bahwa perempuan itu mengembala kambing pada suatu tempat, lalu kambing tersebut tertimpa musibah, kemudian perempuan tersebut memecah batu lalu menyembelih kambing itu dengan menggunakan batu. Kejadian ini diceritakan kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam maka Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam memerintah mereka untuk memakan kambing tersebut.

Ibnu Qudâmah menyebut tujuh faidah dari kisah di atas: • Pembolehan perempuan untuk menyembelih, • Pembolehan budak perempuan untuk menyembelih, • Pembolehan perempuan haid untuk menyembelih karena Nabi tidak meminta rincian keadaan budak perempuan tersebut, bahwa dia haid atau tidak saat menyembelih.

• Pembolehan menyembelih dengan menggunakan batu. • Pembolehan menyembelih hewan yang dikhawatirkan akan mati, • Pembolehan penyembelihan oleh orang yang bukan pemilik hewan bila hewan tersebut dikhawatirkan mati. • Halalnya sembelihan orang yang bukan pemilik hewan, walaupun hewan itu disembelih tanpa seizing sang pemilik. Tersimpul dari keterangan di atas bahwa hewan yang disembelih dengan sesuatu yang bukan benda tajam, yakni dengan cara disengat listrik, membenturkan kepala hewan, atau cara lain yang semisal, adalah hewan yang haram dimakan.

Ked elapan, darah telah mengalir dari hewan sembelihan. Syarat ini berdasarkan hadits Râfi’ bin Khajîd radhiyallâhu ‘anhu di atas. Dalam hal menentukan bagian tubuh hewan yang harus disembelih, terdapat silang pendapat di kalangan ulama.

Namun, sikap yang paling hati-hati dalam hal menyembelih adalah memotong empat bagian: kerongkongan (saluran nafas), tenggorokan (saluran makan dan minum), dan kedua urat tebal yang berada di sekitar kerongkongan dan tenggorokan.

Kesembilan, hendaknya orang yang menyembelih diizinkan secara syar’i untuk menyembelih hewan tersebut. Perihal tidak diizinkan ini karena dua hal: – Karena berkaitan dengan hak Allah, seperti menyembelih hewan buruan di tanah haram atau menyembelih pada saat berihram. – Karena berkaitan dengan hak makhluk, yakni menyembelih hewan milik orang lain, hewan rampasan, dan semisalnya. Kesepuluh, hendaknya penyembelihan terjadi pada saat hewan masih hidup.

Hal ini berdasarkan ketentuan yang telah dimaklumi tentang keharaman bangkai. Selamat datang di Dosen.co.id, web digital berbagi ilmu pengetahuan. Kali ini PakDosen akan membahas tentang Penyembelihan? Mungkin anda pernah mendengar kata Penyembelihan? Disini PakDosen membahas secara rinci tentang pengertian, tujuan, syarat, sunnah dan tata caranya. Simak Penjelasan berikut secara seksama, jangan sampai ketinggalan. Penyembelihan yang sesuai cara islam syaratnya adalah kecuali ada yang halal dimakan dan yang haram dimakan, kita tidak boleh menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.

Didalam al-Qur’an maupun hadits Nabi Muhammad Saw., telah dijelaskan hal-hal yang haram dimakan: “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih selain atas nama Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan.

Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.

Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. al-Maidah : 3) Dari Q.S. al-Maidah: 3 di atas dapat diambil kesimpulan, bahwa terdapat 10 jenis makanan yang dilarang Allah Swt., yakni: Baca Lainnya : Hormon Tumbuhan Di dalam Hadits Nabi Muhammad Saw. dijelaskan: • “Tiap-tiap binatang buas yang mempunyai taring adalah haram dimakan” penyembelihan yang sesuai cara islam syaratnya adalah kecuali.

Muslim At-Turmudzi) • Dari Ibnu Abbas berkata: “Rasulullah melarang dari setiap hewan buas yang bertaring dan berkuku tajam” (HR. Muslim) • Dari hadist tersebut diatas dapat diambi kesimpulan bahwa hewan yang bertaring dan berkuku tajam adalaha haram dimakan, seperti: harimau, serigala, anjing, kucing, kera, elang, dan lain sebagainya. Tujuan Penyembelihan Tujuan penyembelihan adalah untuk membedakan apakah hewan yang telah mati tersebut halal atau haram dimakan.

Hewan yang disembelih sesuai dengan ketentuan syara’ (hukum agama) halal dimakan. Hewan yang disembelih tetapi tidak sesuai dengan ketentuan syara’, haram dimakan, misalnya: menyembelih tidak menyebut nama Allah tetapi menyebut selain-Nya.

Hewan yang mati tidak karena disembelih juga haram untuk dimakan, seperti bangkai (kecuali ikan dan belalang). Rukun Penyembelihan 1. Penyembelih • Penyembelih atau orang yang menyembelih haruslah • Beragama Islam • Baligh • Berakal sehat • Tidak dalam keadaan Umrah atau Haji • Membaca basmalah, sebagaimana firman Allah surat al-An’aam, ayat 118.

2. Binatang sembelihan • Binatang Halal • Binatang itu masih hidup pada saat disembelih • Mati dengan sekali sembelih • Wajib putus urat pernapasa 3. Alat untuk menyembelih • Alat yang sangat tajam • Tidak dibenarkan menggunakan tulang 4. Tempat penyembelihan • Tempat hewan yang disembelih jangan berdekatan dengan hewan lain yang hendak disembelih juga Syarat-Syarat Penyembelihan Berikut ini terdapat beberapa syarat-syarat penyembelihan, yakni sebagai berikut: Syarat orang yang menyembelih Didalam kitab Biadayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd disebutkan bahwa orang yang boleh menyembelih itu ada 5 syarat : • Islam • Laki-laki • Penyembelihan yang sesuai cara islam syaratnya adalah kecuali • Berakal sehat • Tidak menyia-nyiakan shalat Ijmak ulama dalam hal penyembelihan hewan : Tidak halal sembelihan dari orang musyrik.

Orang musyrik adalah orang yang menyekutukan Allah Swt., baik itu beragama Islam maupun ahli kitab. Hal ini sesuai dengan Q.S. al-Maidah : 3. Syarat-syarat hewan yang disembelih • Masih dalam keadaan hidup • Hewan yang halal zatnya maupun cara memperolehnya Baca Lainnya : Plakat adalah Syarat alat menyembelih hewan Rasulullah Saw.

bersabda, bahwa apa saja yang dapat mengalirkan darah, selain kuku dan tulang (gigi) adalah boleh untuk menyembelih. Para ulama menyimpulkan, alat untuk menyembelih hewan: • Alatnya tajam • Terbuat dari besi, baja, bambu, batu dan lain sebagainya selain kuku dan tulang (gigi) Sunnah Penyembelihan Hewan Hal-hal yang disunatkan dalam menyembelih binatang, yakni sebagai berikut: • Menghadapkan hewan ke kiblat • Meniatkan semata-mata karena Allah Swt.

dan sesuai dengan ketentuan syara’ • Membiarkan hewan yang disembelih sampai mati. Setelah jelas penyembelihan yang sesuai cara islam syaratnya adalah kecuali barulah dibersihkan dan dipotong-potong • Alat yang digunakan untuk menyembelih tajam • Memperoleh proses penyembelihan Tata Cara Penyembelihan Ada dua cara penyembelihan hewan yaitu dengan cara tradisional dan mekanik. Kedua cara ini diperbolehkan dan hasil sembelihannya halal dimakan dengan catatan syara-syarat yang telah ditentukan syara’ harus terpenuhi, seperti ketentuan hewan yang disembelih, alat yang dipergunakan, dan ketentuan orang yang menyembelih semuanya harus memenuhi syarat yang telah ditentukan syara’.

Penyembelihan secara tradisional adalah penyembelihan yang biasa dilakukan oleh masyarakat dengan mempergunakan alat sederhana seperti pisau yang tajam.

Biasanya dalam penyembelihan tradisional jumlah hewan yang disembelih sangat sedikit dan hanya untuk dikonsumsi kalangan terbatas. Sedangkan penyembelihan secara mekanik adalah penyembelihan dengan cara menggunakan mesin dan alat-alat moderen.

Karena dalam penyembelihan ini menggunakan mesin maka hasil yang diperolehpun cukup banyak dan beban kerja lebih ringan, dan yang mengkonsumsipun bukan kalangan terbatas tetapi masyarakat luas. Cara menyembelih binatang dengan cara tradisional • Menyiapkan terlebih dahulu lubang penampung darah.

• Peralatan yang akan digunakan untuk menyembelih disiapkan terlebih dahulu. • Binatang yang akan disembelih dibaringkan menghadap kiblat, lambung kiri bawah.

• Leher binatang yang akan disembelih diletakkan di atas lubang Penampung darah yang sudah disiapkan. • Kaki binatang yang akan disembelih dipegang kuat-kuat atau diikat, kepalanya ditekan ke bawah agar tanduknya menancap ke tanah. • Mengucap basmalah, kemudian alat penyembelihan digoreskan pada leher binatang yang disembelih sehingga memutuskan, jalan makan, minum, nafas, serta urat nadi kanan dan kiri pada leher binatang.

Baca Lainnya : Erosi Adalah Cara menyembelih binatang secara mekanik • Mempersiapkan peralatan terlebih dahulu. • Memasukkan hewan ke dalam ruangan yang sudah dipenuhi gas sehingga hewan tersebut tidak sadarkan diri dan mati. • Dengan mengucap basmalah, binatang yang telah pingsan tersebut disembelih dengan alat penyembelihan yang sudah disiapkan sebelumnya.

• Penyembelihan binatang dengan alat mekanik dibolehkan dan halal dagingnya, asalkan memenuhi persyaratan dalam penyembelihan. Binatang yang dapat disembelih lehernya, dipotong urat tempat makanan dan urat tempat keluar nafasnya, kedua urat ini harus diputus. Binatang yang tidak dapat disembelih lehemya, karena liar atau jatuh ke dalam lubang, sehingga tidak dapat disembelih lehernya, maka menyembelinya dilakukan dimana saja dari badanya, asal dia mati karena luka itu.

عن رافع قال كنا مع رسول الله صلى الله عليهوسلم فى سفر فند بعير من إبل القوم ولميكن معهم خيل فرماه رجل بسهم فحبسهفقال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن لهذهالبهائم أوابد كأوابد الوحش فما فعل منها هذافأفعلوا به هكذا ) رواه الجماعة( Artinya : “ Dari Rafi” ia berkata: Kami bersama Rosululloh SAW dalam perjalanan kami bertemu seekor unta milik seseorang kaum (unta itu sedang lari) sedang mereka tidak menunggang kuda untuk mengejarnya maka seorang laki-laki telah melempar dengan anak panahnya dan matilah unta itu, maka Nabi SA W bersabda : Sesunggunya binatang ini mempunyai tabiat binatang liar, terhadap binatang-binatang seperti ini berbuatlah kamu demikian.” (HR.

Jama’ah). Demikian Penjelasan Materi Tentang Penyembelihan: Pengertian, Tujuan, Syarat, Sunnah dan Tata Caranya Semoga Materinya Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi dan Mahasiswa Sebarkan ini: • Facebook • Twit • WhatsApp Posting pada S1, SD, SMA, SMK, SMP Ditag adab penyembelihan hewan, apa yang dimaksud penyembelihan secara an-nahru, apakah yang dimaksud hukum pada hewan, bagaimana cara membagikan daging kurban, cara menyembelih sapi, dalil penyembelihan hewan, golongan yang berhak menerima daging kurban, hal yang makruh dalam menyembelih, jelaskan rukun penyembelihan hewan dan ketentuannya, jelaskan syarat hewan hewan kurban dan akikah, jelaskan tata cara penyembelihan binatang, ketentuan penyembelihan hewan, kewajiban menyembelih, kriteria hewan yang sah dikurbankan, makalah penyembelihan hewan, pengertian penyembelihan hewan, pengertian penyembelihan hewan qurban, pisau untuk menyembelih harus tajam agar, qurban menurut syariat islam, rukun dan syarat penyembelihan, rukun orang yang berkurban, rukun penyembelihan, rukun qurban, rukun qurban dan aqiqah, sebutkan macam macam penyembelihan, sebutkan rukun qurban, sebutkan sunah penyembelihan hewan, sunnah menyembelih hewan, sunnah penyembelihan hewan, syarat alat yang digunakan untuk menyembelih, syarat dan rukun penyembelihan hewan qurban, syarat hewan untuk qurban dan aqiqah, syarat menyembelih, syarat orang yang menyembelih, syarat orang yang menyembelih brainly, syarat orang yang menyembelih hewan qurban, syarat sunah berkurban, syarat syarat penyembelihan, tata cara menyembelih ayam, tata cara menyembelih hewan brainly, tata cara menyembelih hewan qurban dan doanya, tata cara penyembelihan hewan qurban beserta gambarnya, tujuan penyembelihan Pos-pos Terbaru • Bimbingan Konseling adalah • Peradaban Awal Masyarakat Indonesia • Penyimpangan Sosial • Komunikasi Bisnis • Lembaga Keuangan • ISP adalah • Laut Adalah • Akhlak Adalah • Peramalan Adalah • Sedimentasi adalah • Sel Elektrolisis • Higgs domino mod apk speeder tanpa iklan • Dataran adalah • Good Governance • Kenakalan Remaja
Penyembelihan hewan qurban menjadi intisari dari perayaan Idul Adha.

Selain menjadi bagian dari ibadah, penyembelihan hewan qurban juga menjadi simbol kasih sayang antar umat Islam. Baik yang berqurban maupun tidak, semuanya dapat turut merasakan manfaat dari hewan sembelihan. Islam telah mengatur ketentuan dan cara menyembelih qurban yang baik dan tidak menyakiti hewan. Nah, bagi yang hendak melaksanakan qurban, tidak ada salahnya untuk mengetahui tata cara sembelih qurban agar dapat memastikan proses penyembelihan berjalan sesuai syariat yang telah ditentukan.

Untuk lebih jelasnya, simak pembahasan lengkap seputar tata cara penyembelihan hewan qurban di bawah ini. • Nahr, menyembelih hewan dengan menyayat pangkal leher. Nahr biasanya diterapkan dalam penyembelihan unta. Tata cara penyembelihan semacam ini tertuang dalam Surat Al-Hajj ayat 36, yang artinya: “Telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagai bagian dari syiar Allah agar kamu memperoleh kebaikan darinya. Maka sebutlah nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri dan telah terikat.

Kemudian apabila telah rubuh, maka makanlah dagingnya .” • Dzabh, menyembelih hewan dengan memotong ujung leher. Metode ini jamak dilakukan pada kambing, sapi, dan ayam. Orang Indonesia lebih sering menerapkan dzabh pada proses penyembelihan. Penyembelihan tidak boleh dilakukan dengan cara yang menyakiti hewan. Ada beberapa adab yang harus diperhatikan, seperti: 1. Menggunakan pisau tajam Ada baiknya untuk menggunakan pisau setajam mungkin agar tidak menyakiti hewan sembelihan terlalu lama. Perintah untuk menajamkan pisau dalam proses penyembelihan yang sesuai cara islam syaratnya adalah kecuali pun sesuai sabda Rasulullah yang artinya: “Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan (baik) dalam segala hal.

Jika kalian membunuh, maka bunuhlah dengan ihsan, jika kalian menyembelih maka sembelihlah dengan ihsan. Hendaknya kalian mempertajam pisaunya dan menyenangkan sembelihannya .” (Hadis Riwayat Muslim) 2.

Jangan mengasah pisau di hadapan hewan Hewan bisa saja merasa takut atau justru stres saat melihat pisau di penyembelihan yang sesuai cara islam syaratnya adalah kecuali. Rasulullah pun memerintahkan untuk tidak mengasah pisau di hadapan hewan yang akan disembelih.

Dalam riwayat lain, Rasulullah pernah menegur seseorang yang mengasah pisaunya di hadapan sembelihannya. Beliau bersabda: “Mengapa engkau tidak menajamkannya sebelumnya? Apakah engkau membuatnya mati dua kali?” (Hadis Riwayat Ath-Thabrani) 3.

Menghadapkan hewan ke arah kiblat Baringkan hewan ke arah kiblat dalam keadaan perutnya menyentuh tanah. Hal ini dimaksudkan agar organ dalam hewan lebih mudah dibedah. 4. Tata cara sembelih qurban dengan menyebut asma Allah Sesaat sebelum menyembelih, pastikan untuk membaca basmalah, sesuai perintah Allah dalam Surat Al-An’am ayat 121 yang artinya: “Janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebutkan nama Allah saat menyembelihnya.

Sesungguhnya perbuatan itu merupakan tindakan fasik .” Setelah membaca basmalah, ikuti dengan mengucapkan kalimat takbir dan dibarengi dengan nama orang yang berqurban.

penyembelihan yang sesuai cara islam syaratnya adalah kecuali

Pelaksanaan qurban harus dibarengi niat karena Allah semata. Karenanya, selama berqurban, tidak diperkenankan membaca bacaan selain ditujukan kepada Allah, seperti salawat Rasul misalnya. 5. Pastikan agar bagian tenggorokan, kerongkongan, dan dua urat leher terpotong dengan sempurna Terputusnya tenggorokan, kerongkongan, dan dua urat leher merupakan syarat sah qurban.

Adapun jika hanya dua syarat yang terpenuhi, qurban tetap dinyatakan halal dan sah. 6. Tidak boleh mematahkan leher sebelum hewan benar-benar mati Mematahkan leher hewan sebelum napasnya benar-benar habis merupakan perbuatan yang dibenci, sama halnya dengan menguliti hewan saat masih hidup.

Baca juga: Apa Syarat Hewan yang Boleh Diqurbankan? Begini Tata Cara dan Doa Menyembelih Hewan Qurban Laksanakan qurban tahun ini bersama Kitabisa. Kitabisa menggandeng sejumlah lembaga amal tepercaya dalam pelaksanaan qurban tahun ini. Kamu dapat tetap menjalankan qurban sesuai syariat, sekalipun dilakukan secara online.

Qurban yang terkumpul melalui Kitabisa nantinya akan dibagikan kepada saudara muslim kita di 53 lokasi berbeda. Selain berqurban, kamu juga bisa sempurnakan ibadah dengan sedekah untuk sesama yang membutuhkan.

Yuk, sedekah sekarang lewat aplikasi Kitabisa!
Oleh : Muhammad Karim Hidayatullah.com - ISLAM adalah agama (din) yang sempurna. Syariat menuntun penganutnya di setiap aspek kehidupan untuk menjadi manusia unggul dan berkualitas. Di antara syariat tersebut, agama Islam memiliki konsep kebersihan atau yang biasa disebut dalam istilah fikihnya dengan Thaharah, islam juga mempunyai konsep ekonomi atau yang biasa dikenali dengan fikih mu’amalah.

Dan kita juga memiliki konsep pembagian harta warisan yang masyhur disebut dengan istilah fara’id. Banyak sekali hal yang sangat menarik apabila mengaji fikih ini, kenikmatan itu akan semakin menarik apabila mengajinya sampai mendalam (tadqiq). Salah satu contohnya adalah cara penyembelihan hewan.

penyembelihan yang sesuai cara islam syaratnya adalah kecuali

Berlandaskan hadis Nabi Muhammad ﷺ: عَنْ أَبِيْ يَعْلَى شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ اللهَ كَتَبَ اْلإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ.

فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوْا الذِّبْحَةَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus Radhiyallahu anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah mewajibkan berlaku baik terhadap segala sesuatu. Maka jika kalian membunuh, hendaklah membunuh dengan cara yang baik.

Jika kalian menyembelih, hendaklah menyembelih dengan cara yang baik. Hendaklah seorang dari kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya.” [HR: Muslim].

Menyembelih artinya menghilangkan ruh dengan cara memutus urat saluran pernafasan (hulqum) dan saluran makanan (mari’) dengan menggunakan benda tajam. (Lihat : al-Qomus al-Fiqh Lughatan wa Isthilahan, karya Dr Sa’di Abu Habib, juz 1. Hlm.135). Apabila hewan yang halal dimakan telah disembelih dengan ketentuan syariat Islam maka boleh dimakan. Artinya hewan yang telah dihalalkan oleh syariat, namun tidak disembelih sesuai syariat maka hukumnya haram.

Begitu juga haram dimakan hewan yang yang tidak dihalalkan oleh Islam, walaupun penyembelihannya sesuai syariat Islam. (Lihat: Umdah al-Salik wa Uddah an-Nasik, ditulis oleh Ibn Naqib, hlm.205). Oleh sebab itu bagi umat Islam harus mengetahui fikih penyembelihan, di antara rukun dan syarat penyembelihan terbagi menjadi beberapa kelompok, yaitu. Terkait dengan orang yang menyembelihnya, metode penyembelihannya, hewan yang akan disembelih, dan terkait alat yang digunakan untuk menyembelih.

(Lihat: Syarah Yaqut al-Nafis, ditulis oleh al-Habib Muhammad bin Ahmad al-Syathiri. hlm 815). Berikut penjelasan terkait rukun-rukun atau syarat penyembelihan hewan di dalam fikih. Pertama, orang yang menyembelih. Orang yang menyembelih binatang harus memenuhi syarat. Adapun syarat-syaratnya adalah.

penyembelihan yang sesuai cara islam syaratnya adalah kecuali

• Orang yang melakukan penyembelihan disyaratkan harus beragama Islam,(lihat: surat al-Maidah ayat 5). Artinya sembelihan dari orang non Muslim hukumnya tidak halal • Penyembelihannya dilakukan oleh orang yang sudah baligh atau mumayyiz. Maka tidak sah sembelihan yang dilakukan oleh anak kecil yang belum mumayyiz.

• Sembelihan harus dilakukan dengan niat atau kesengajaan. Artinya tidak sah sembelihan orang yang sedang mabuk, meskipun sudah penyembelihan yang sesuai cara islam syaratnya adalah kecuali urat yang wajib terputus, karena tidak ada niat atau kesengajaan.

• Orang yang akan menyembelih hewan tersebut, mampu menguasai hewan yang akan disembelih atau dapat memegangnya. Dan jika tidak bisa memegang hewan atau menguasainya, maka disyaratkan dapat melihat hewan yang akan disembelih. • Orang yang menyembelih disyaratkan mampu atau sanggup menjalankan tugasnya. Artinya, orang yang menyembelih tidak harus laki-laki, bagi wanita juga dibolehkan dengan syarat mampu. Kedua, metode penyembelihan Apabila hewan yang akan disembelih dapat dikuasai atau dapat dipegang, maka sembelihan harus dilakukan pada bagian leher hewan tersebut.

Adapun syaratnya penyembelihannya harus dilakukan dengan sengaja, harus memutuskan urat saluran pernafasan (hulqum), dan harus memutuskan urat saluran makanan (mari’). (Lihat: Umdah al-Salik wa Uddah an-Nasik, ditulis oleh Ibn Naqib. hlm.205). Oleh sebab itu, penyembelihan yang dilakukan tanpa ada kesengajaan, penyembelihan yang sesuai cara islam syaratnya adalah kecuali penyembelihan tersebut hukumnya tidak sah dan dagingnya dihukumi haram.

Begitu juga sembelihan yang tidak memutuskan dua atau salah satu saluran pernafasan dan saluran makanan, maka sembelihannya dihukumi tidak sah. Kemudian dalam pemotongan hewan tersebut tidak disyaratkan sekali ayun harus dapat memutuskan urat saluran pernafasan dan saluran makanan. Artinya diperbolehkan mengayunkan pisau berulangkali pada leher hewan sampai saluran nafas dan makanan terputus, dengan syarat alat yang digunakan untuk menyembelih tidak diangkat dari leher hewan yang disembelih.

Jika di saat melakukan penyembelihan pisaunya jatuh atau alat sembelihannya itu diganti dengan yang lebih bagus atau tajam, maka sembelihan tersebut tetap dihukumi sah dengan ketentuan bahwa sembelihan pertama dan kedua dilakukan dengan segera (tidak terpisah waktu yang lama).

Namun, apabila antara sembelihan pertama dan kedua terpisah dalam waktu yang lama, maka hukumnya tergantung kondisi hewan sembelihan tersebut. Jika saat sembelihan yang kedua hewan tersebut masih hidup (hayat mustaqirroh), maka hukumnya halal.

Namun apabila di saat sembelihan yang kedua kalinya hewan tersebut tidak ada lagi tanda-tanda hidup (hayat mustaqirroh), maka hewan tersebut dihukumi bangkai dan sembelihannya tidak sah. (Baca : Fathu al-Mu’in, ditulis oleh Syeikh Zainuddin Abdul Aziz, Juz 1.hlm. 306). Kemudian, apabila hewan yang akan disembelih tersebut tidak terkuasai atau tidak dapat dipegang, contohnya hewan yang akan disembelih tersebut lari dan masuk kedalam sumur.

Sehingga terdapat kesulitan untuk menyembelih pada lehernya, maka cara penyembelihannya adalah sebagaimana menyembelih bintang buruan, yaitu melukai dengan alat khusus pada bagian manapun dari tubuh hewan tersebut, sekira luka tersebut dapat mempercepat kematiannya. Namun apabila setelah dilukai, hewan tersebut ternyata masih hidup juga dan dapat tangkap, maka wajib disembelih lagi pada lehernya. (Lihat : Fath al-Mu’in, ditulis oleh Syeikh Zainuddin Abdul Aziz, Juz 1.hlm.

306). Adapun penyembelihan dengan cara memutuskan leher secara keseluruhan itu dihukumi sah dan hewannya yang disembelih hukumnya halal, namun penyembelihan dengan cara tersebut dihukumi makruh.

Dan sebaiknya penyembelihan dilakukan pada leher yang jauh dari kepala, karena jika sembelihan terlalu dekat dengan kepala, dikhawatirkan yang putus adalah lidah hewan tersebut, bukan urat saluran pernafasan dan makanannya.

Ketiga, binatang yang disembelih Melihat dari sisi kondisi binatang sebelum disembelih terbagi menjadi dua pengelompokkan, yaitu: • Hayat Mustaqirroh, artinya hewan yang akan disembelih tersebut masih hidup. Adapun tanda-tanda hewan yang masih mempunyai hayat mustaqirrah, adalah ketika saluran pernafasan dan saluran makanan terputus, darahnya keluar dengan memancar atau menyembur. Namun kalau darahnya hanya sekedar menetes, maka pastikan ia bergerak dengan keras setelah disembelih.

(lihat: Syarah Yaqut al-Nafis, ditulis oleh al-Habib Muhammad bin Ahmad al-Syathiri. hlm.820.) • Hayat Mustamirroh, adapun tanda hewan tersebut terdapat hayat mustamirroh adalah sekiranya hewan tersebut masih bernafas, sekalipun sudah tidak sanggup bergerak. Keempat, di antara rukun penyembelihan adalah alat untuk menyembelih Adapun syarat dari benda yang digunakan untuk menyembelih hewan adalah harus tajam, sekiranya dengan ketajaman tersebut mampu memutuskan urat tanpa menggunakan daya tekan yang kuat.

Perlu juga diketahui bahwa tidak boleh menggunakan alat pemotongan hewan dengan tulang dan kuku, hal ini sesuai dengan hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Rafi’ bin Khudaij, Nabi Muhammad ﷺ bersabda: إنَّ نَرْجُوْ أَوْ نَخَافُ الْعَدُوَّ غَدًا وَلَيْسَتْ مَعَنَا مُدًى, أَفَنَذْبَحُ بِالْقَصَبِ ؟ قَالَ مَا أَنْهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ فَكُلُوْهُ لَيْسَ السِّنَّ والظُّفُرَ, وَسَأُحَدِّثكُمْ عَنْ ذَلِكَ أَمَّا السِّنَّ فّعّظْمٌ وّأمَّا الظُّفُرَ فَمُدَى الْحَبَشَةِ “Sesungguhnya kami berharap atau khawatir bertemu lawan esok hari, sedangkan kami tidak membawa pisau.

Bolehkah kami menyembelih dengan bambu? Nabi ﷺ menjawab, ‘Semua benda yang dapat mengalirkan darah dan dibacakan nama Allah, maka makanlah sembelihan itu, kecuali dengan gigi dan kuku.

penyembelihan yang sesuai cara islam syaratnya adalah kecuali

Akan aku ceritakan kepadamu alasannya, yaitu; gigi itu tulang dan kuku itu pisau orang-orang habsyi.” Adapun menyembelih hewan dengan menggunakan mesin hukumnya boleh dan dagingnya halal, jika cara penyembelihan telah memenuhi syarat-syaratnya yang telah ditetapkan oleh syariat, yaitu orang yang memotong atau operator mesinnya orang Islam dan mesin yang digunakan mempunyai ketajaman yang sesuai dengan standar alat penyembelihan.

Kemudian terkait dengan pemukulan binatang yang akan disembelih atau pemingsanan dengan menggunakan sengatan listrik dan sejenisnya, prilaku tersebut hukumnya haram, karena hal tersebut merupakan penganiayaan dan penyiksaan terhadap hewan yang akan disembelih.

Akan tetapi daging binatang yang disembelih melalui proses pemingsanan hukumnya tetap halal, apabila masih menetapi syarat-syarat penyembelihan dan pastikan hewan tersebut masih hidup atau terdapat hayat mustaqirroh sebelum dilakukan proses pemotongan. Kemudian disunnahkan juga memotong dua urat leher ketika menyembelih hewan, dan mengasah alat atau pisau setajam-tajamnya, menghadapkan sembelihan ke arah kiblat.

Dan hendaklah yang menyembelih itu seorang lelaki berakal sehat, kalau tidak ada maka wanita, kemudian anak kecil yang mumayyiz. Dan sunnahkan juga waktu menyembelih membaca basmallah dan sholawat kepada Nabi Muhammad ﷺ (Lihat : Fathu al-Mu’in, ditulis oleh Fath al-Mu’in, ditulis oleh Syeikh Zainuddin Abdul Aziz, Juz 1.hlm.

307). Semoga tulisan singkat ini bermanfaat bagi saudara-saudaraku yang akan menyembelih hewan kurbannya suatu saat nanti.* Club Asatidz Tafaqquh Pekanbaru Rep: ~ Editor: Rofi' Munawwar Raja Salman Masuk Rumah Sakit, Ada Apa? Obesitas Mengancam Kesiapan Militer Amerika Serikat Jelang Hari Pendirian Negara Penjajah ‘Israel’ 14 Mei, MUI Imbau Umat Islam Baca Qunut Nazilah Daftar Jama’ah Haji 2022 Resmi Dirilis, Kemenag Minta Persiapkan Diri dan Segera Konfirmasi An-Nūr Kemenag Bantah Narasi Menag Minta Dana Haji untuk IKN: Hoaks dan Fitnah Berita LainnyaPENYEMBELIHAN YANG SESUAI SYARI’AT Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi Definisi adz-Dzakaah (Penyembelihan) Adz-Dzakaah makna sebenarnya adalah membuat baik dan wangi, di antara penggunaannya seperti raa-ihatun dzakiyyatun maksudnya bau yang harum.

Penyembelihan disebut sebagai adz-dzakaah karena pembolehannya secara syari’at membuatnya menjadi baik. Maksud penyembelihan di sini adalah menyembelih hewan, baik dengan cara dzabh maupun nahr.• Sebab hewan yang boleh dimakan kecuali ikan dan belalang, tidak boleh langsung dimakan sesuatu pun darinya kecuali setelah disembelih.

Orang Yang Sembelihannya Halal Dimakan Sembelihan setiap muslim dan Ahlul Kitab boleh dimakan, baik laki-laki maupun perempuan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَّكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَّهُمْ “ Makanan (sembelihan) orang-orang ahlul Kitab itu halal bagimu…” [Al-Maa-idah/5: 5] Imam al-Bukhari berkata, “Berkata Ibnu ‘Abbas, ‘Tha’aamuhum (makanan mereka) maksudnya dzabaahuhum (sembelihan mereka).’” [1] Dari Ka’ab bin Malik Radhiyallahu ‘anhu: أَنَّ امْرَأَةً ذَبَحَتْ شَاةً بِحَجَرٍ، فَسُئِلَ النَّبِيُّ صلى اللَّه عليه وسل عَنْ ذلِكَ فَأَمَرَ بِأَكْلِهَا.

“ Bahwasanya ada seorang wanita menyembelih kambing dengan batu, kemudian hal itu ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau pun memerintahkan untuk memakannya.” [2] Alat Untuk Menyembelih Dari ‘Abayah bin Rifa’ah dari kakeknya, bahwasanya ia berkata, “Wahai Rasulullah, kami tidak mempunyai pisau.” Maka beliau bersabda: مَا أَنْهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسْمُ اللهِ فَكُلْ، لَيْسَ الظُّفُرَ وَالسِّنَّ أَمَّا الظُّفُرُ فَمُدَى الْحَبَشَةِ، وَأَمَّا السِّنُّ فَعَظْمٌ.

‘ (Alat) apa saja yang dapat mengalihkan darah dan disebut Nama Allah (pada saat menyembelih) maka makanlah (sembelihan itu), asalkan tidak menggunakan kuku dan gigi. Adapun kuku adalah pisaunya orang Habasyah sedangkan gigi merupakan tulang.’” [3] Dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Dua hal yang aku hafal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: إِنَّ اللهَ كَتَبَ اْلإِحْسَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ.

فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ. وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَ. وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ. فَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ. ‘ Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik kepada segala sesuatu. Apabila engkau membunuh, maka hendaklah membunuh dengan cara yang baik, dan jika engkau menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik, dan hendaknya seorang menajamkan pisau dan menenangkan hewan sembelihannya itu.’” [4] Cara Dan Sifat Menyembelih Hewan ada dua macam, ada yang bisa untuk disembelih dan ada yang tidak bisa disembelih.

Hewan yang bisa disembelih, maka hewan tersebut disembelih pada lehernya dan pangkal lehernya. Adapun hewan yang tidak bisa disembelih, maka hewan tersebut dilukai sesuai dengan kemampuan. Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu a’nhu, ia berkata: اَلذَّكَاةُ فِي الْحَلْقِ وَاللَّبَّةِ. “ Menyembelih itu pada leher dan pangkal lehernya.” Dari Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas dan Anas, رضي الله عنهم: إِذَا قَطَعَ الرَّأْسَ فَلاَ بَأْسَ.

“ Apabila ia memotong lehernya, maka tidak mengapa.” Dari Rafi’ bin Khudaij, ia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami besok akan bertemu musuh dan kami tidak mempunyai pisau.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda: أَعْجَلْ -أَوْ أَرْنِى- مَا أَنْهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسْمُ اللهِ فَكُلْ، لَيْسَ السِّنَّ وَالظُّفُرَ، وَسَأُحَدِّثُكَ: أَمَّا السِّنَّ فَعَظْمٌ، وَأَمَّا الظُّفُرُ فَمُدَى الْحَبَشَةِ.

“ Cepatkanlah dan ringankanlah (gerakan alat) apa saja yang dapat mengalirkan penyembelihan yang sesuai cara islam syaratnya adalah kecuali dan disebut Nama Allah (pada saat menyembelih), maka makanlah (sembelihan itu), asalkan tidak menggunakan gigi dan kuku.

Aku akan memberitahu kalian, adapun gigi, ia merupakan tulang sedangkan kuku adalah pisau orang Habasyah.” Kami pun mendapatkan unta dan kambing sebagai harta rampasan. Salah seekor unta menjadi liar dan lari, kemudian seorang laki-laki memanahnya dan tepat mengenainya sehingga unta itu diam. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّ لِهَذِهِ اْلإِبِلِ أَوَابِدَ كَأَوَابِدِ الْوَحْشِ، فَإِذَا غَلَبَكُمْ مِنْهَا شَيْءٌ فَافْعَلُوْا بِهِ هكَذَا. “ Sesungguhnya unta ini mempunyai sifat liar seperti sifat liar hewan liar, apabila ada unta yang lari lagi, maka perlakukanlah unta itu seperti ini.” [5] Cara Menyembelih Anak Hewan Yang Masih Dalam Kandungan Induknya Apabila ada anak hewan yang baru keluar dari perut induk-nya dan masih dapat hidup, maka wajib disembelih.

Apabila anak hewan itu keluar dalam keadaan sudah mati, maka penyembelihan terhadap induknya merupakan penyembelihan terhadap anak hewan itu juga (bukan bangkai dan tidak perlu disembelih lagi). Dari Abu Sa’id Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang janin, maka beliau bersabda: كُلُوْهُ إِنْ شِئْتُمْ، فَإِنَّ ذَكَاتَهُ ذَكَاةُ أُمِّهِ.

‘ Makanlah jika kalian menghendaki, sesungguhnya menyembelihnya adalah dengan menyembelih induknya.’” [6] Menyebut Nama Allah Pada Saat Menyembelih Menyebut Nama Allah pada saat menyembelih adalah syarat kehalalan hewan sembelihan tersebut.

Barangsiapa yang tidak menyebut Nama Allah dengan sengaja, maka sembelihannya tidak halal. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ إِن كُنتُم بِآيَاتِهِ مُؤْمِنِينَ “ Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut Nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya.” [Al-An’aam/6: 118] Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ ۗ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰ أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ ۖ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ “ Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut Nama Allah ketika menyembelihnya.

Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” [Al-An’aam/6: 121] Dari Rafi’ bin Khudaij Radhiyallahu ‘anhu, ia menerangkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salalm berkata kepadanya: مَا أَنْهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسْمُ اللهِ فَكُلْ.

“ (Alat) apa saja yang dapat mengalirkan darah dan disebut-kan Nama Allah (pada saat menyembelih), maka makanlah (sembelihan itu).” [7] Baca Juga Al-Udh-hiyah (Hewan Kurban) Menghadap Kiblat Disunnahkan menghadapkan hewan sembelih ke arah Kiblat dan membaca seperti apa yang dibaca oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits berikut.

Dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyembelih dua ekor domba yang mempunyai tanduk bagus dan bewarna putih serta telah dikebiri (dipukul dua biji pelirnya agar syahwatnya untuk kawin hilang-penj).

Ketika beliau menghadapkan keduanya (ke arah Kiblat) beliau berdo’a: إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمٰوَاتِ وَاْلأَرْضَ عَلَى مِلَّةِ إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ، إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ، اَللّهُمَّ مِنْكَ وَلَكَ عَنْ مُحَمَّدٍ وَأُمَّتِهِ بِاسْمِ اللهِ وَالله أَكْبَرُ.

‘ Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi di atas agama Nabi Ibrahim yang lurus dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku (sembelihanku), hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku termasuk orang-orang menyerahkan diri (kepada Allah).

Ya Allah, ini adalah dari-Mu dan untuk-Mu dari Muhammad dan umatnya, bismillaahi wa Allaahu akbar (dengan Nama Allah (aku menyembelih) dan Allah Mahabesar).’ Kemudian beliau menyembelihnya.” [8] Hewan Buruan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا “… Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu.” [Al-Maa-idah/5: 2] Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ ۖ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۙ وَمَا عَلَّمْتُم مِّنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ ۖ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ “ Mereka menanyakan kepadamu, penyembelihan yang sesuai cara islam syaratnya adalah kecuali yang dihalalkan bagi mereka.’ Katakanlah, ‘Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang-binatang buas yang telah kamu ajarkan dengan melatihnya untuk berburu, kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu, maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah Nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepasnya).” [Al-Maa-idah/5: 4] Binatang buruan laut adalah halal dalam keadaan apa pun, demikian pula binatang buruan darat kecuali dalam keadaan ihram.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ ۖ وَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُمًا “ Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ke-adaan ihram.…” [Al-Maa-idah/5: 96] Orang Yang Buruannya Halal Untuk Dimakan Orang yang sembelihannya halal dimakan, maka hasil buruannya pun halal untuk dimakan.

Alat Untuk Berburu Berburu dapat dilakukan dengan senjata yang dapat melukai seperti pedang, pisau atau panah, dan bisa juga dilakukan dengan binatang pemburu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَيَبْلُوَنَّكُمُ اللَّهُ بِشَيْءٍ مِّنَ الصَّيْدِ تَنَالُهُ أَيْدِيكُمْ وَرِمَاحُكُمْ penyembelihan yang sesuai cara islam syaratnya adalah kecuali Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah akan mengujimu dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu.”.

[Al-Maa-idah/5: 94] Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: وَمَا عَلَّمْتُم مِّنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ ۖ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ “… Dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang-binatang buas yang telah kamu ajarkan dengan melatihnya untuk berburu, kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu…” [Al-Maa-idah/5: 4] Disyaratkan merobek jasad binatang buruan dan menembuskan senjata ke badannya pada saat berburu dengan senjata.

Sedangkan berburu dengan binatang disyaratkan binatang pemburu tersebut yang terlatih dan binatang tersebut tidak memakan binatang buruannya (jika ia mendapatkannya) serta tidak ada bintang lain yang ikut memburu binatang tersebut. Menyebut Nama Allah pada saat hendak memanah atau melepas binatang pemburu juga merupakan syarat halalnya hewan buruan.

Dari ‘Adi bin Abi Hatim Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku telah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang al-mi’raadh (panah yang tidak mempunyai bulu dan tumpul)•, maka beliau menjawab: إِذَا أَصَبْتَ بِحَدِّهِ فَكُلْ، فَإِذَا أَصَابَ بِعَرْضِهِ فَقَتَلَ فَإِنَّهُ وَقِيْذٌ فَلاَ تَأْكُلْ. فَقُلْتُ: أُرْسِلُ كَلْبِي. قَالَ: إِذَا أَرْسَلْتَ كَلْبَكَ وَسَمَّيْتَ فَكُلْ. قُلْتُ: فَإِنْ أَكَلَ؟ قَالَ: فَلاَ تَأْكُلْ، فَإِنَّهُ لَمْ يُمْسِكْ عَلَيْكَ، إِنَّمَا أَمْسَكَ عَلَى نَفْسِهِ.

قُلْتُ: أُرْسِلُ كَلْبِي فَأَجِدُ مَعَهُ كَلْباً آخَرَ؟ قَالَ: لاَ تَأْكُلْ، فَإِنَّكَ إِنَّما سَمَّيْتَ عَلَى كَلْبِكَ، وَلَمْ تُسَمِّ عَلَى آخَرِ.

penyembelihan yang sesuai cara islam syaratnya adalah kecuali

‘ Apabila yang mengenai hewan itu adalah bagian yang tajam, maka makanlah dan apabila yang mengenai hewan itu adalah batang panah kemudian mati maka hewan itu mati terbentur, jangan dimakan.’ Aku bertanya lagi, ‘Aku melepaskan anjingku.’ Beliau menjawab, ‘Apabila engkau melepaskan anjingmu dan engkau menyebut Nama Allah, maka makanlah.’ Kemudian aku bertanya lagi, ‘Apabila anjing itu memakan (hewan buruan itu)?’ ‘Jangan dimakan, sesungguhnya ia tidak menangkap (hewan itu) untukmu, ia menangkapnya untuk dirinya sendiri,’ jawab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Aku bertanya lagi, ‘Aku melepaskan anjingku dan aku menjumpai anjing lain bersamanya?’ Rasulullah menjawab, ‘Jangan dimakan, sesungguhnya engkau menyebut Nama Allah untuk anjingmu saja dan tidak menyebut Nama Allah untuk anjing yang lain.’”[9] Berburu Dengan Anjing Yang Tidak Terlatih Hewan yang ditangkap oleh anjing yang tidak terlatih tidak halal untuk dimakan kecuali hewan itu masih hidup dan disembelih.

Dari Abi Tsa’labah al-Khusyani, ia berkata, “Aku pernah bertanya, ‘Wahai Nabiyullah, kami pernah berada di sebuah negeri orang-orang Ahli Kitab, apakah kami boleh makan dengan bejana-bejana mereka? Kami juga pernah berada di daerah berburu, aku berburu dengan panah dan anjingku yang tidak terlatih serta anjing yang terlatih, manakah yang baik bagiku?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Baca Juga Aqiqah أَمَّا مَا ذَكَرْتَ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَإِنْ وَجَدْتُمْ غَيْرَهَا فَلاَ تَأْكُلُوْا فِيْهَا، وَإِنْ لَمْ تَجِدُوْا فَاغْسِلُوْهَا وَكُلُوْا فِيْهَا.

وَمَا صِدْتَ بِقَوْسِكَ فَذَكَرْتَ اسْمَ اللهِ فَكُلْ؛ وَمَا صِدْتَ بِكَلْبِكَ الْمُعَلَّمِ فَذَكَرْتَ اسْمَ اللهِ فَكُلْ، وَمَا صِدْتَ بِكَلْبِكَ غَيْرَ مُعَلَّمٍ فَأَدْرَكْتَ ذَكَاتَهُ فَكُلْ. ‘ Adapun apa yang engkau ceritakan mengenai Ahli Kitab, apabila engkau mendapatkan bejana selain bejana mereka janganlah engkau makan dengan bejana mereka, apabila engkau tidak mendapatkan selain bejana mereka, maka cucilah bejana itu kemudian makanlah dengannya.

Adapun binatang yang engkau buru dengan panahmu dan engkau menyebut Nama Allah maka makanlah, dan binatang yang engkau buru dengan anjingmu yang terlatih dan engkau menyebutkan Nama Allah, maka makanlah, sedangkan binatang yang engkau buru dengan anjingmu yang tidak terlatih kemudian engkau dapat menyembelihnya, maka makanlah.’” [10] Hewan Buruan Yang Jatuh ke Air Apabila hewan buruan itu jatuh ke dalam air, maka hewan tersebut haram dimakan.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Adi bin Hatim: إِذَا رَمَيْتَ سَهْمَكَ فَاذْكُرِ اسْمَ اللهِ، فَإِنْ وَجَدْتَهُ قَدْ قُتِلَ فَكُلْ، إِلاَّ أَنْ تَجِدَهُ قَدْ وَقَعَ فِي مَاءٍ، فَإِنَّكَ لاَ تَدْرِي، الْمَاءُ قَتَلَهُ أَوْ سَهْمُكَ.

“ Apabila engkau penyembelihan yang sesuai cara islam syaratnya adalah kecuali anak panahmu dan menyebut Nama Allah, kemudian mendapatkan (binatang buruan)nya telah mati, maka makanlah kecuali jika engkau mendapatkannya jatuh ke dalam air karena sesungguhnya engkau tidak tahu apakah air atau panahmu yang telah membunuhnya.” [11] Apabila Hewan Buruan Hilang Dua Atau Tiga Hari kemudian Didapatkan Kembali Apabila seseorang melepaskan anak panahnya tepat mengenai hewan buruannya dan hewan itu lari menghilang dua atau tiga hari kemudian ia menemukannya kembali, maka ia boleh memakannya selama belum membusuk.

Penyembelihan yang sesuai cara islam syaratnya adalah kecuali ‘Adi bin Hatim Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: وَإِنْ رَمَيْتَ الصَّيْدَ فَوَجَدْتَهُ بَعْدَ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ لَيْسَ بِهِ إِلاَّ أَثَرُ سَهْمِكَ فَكُلْ. “ Apabila engkau memanah hewan buruanmu (kemudian hewan itu lari-pent) dan engkau menemukan hewan itu setelah satu atau dua hari, dan engkau tidak menemukan pada hewan tersebut kecuali bekas panah, maka makanlah.” [12] Dari Abi Tsa’labah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: إِذَا رَمَيْتَ بِسَهْمِكَ، فَغَابَ عَنْكَ، فَأَدْرَكْتَهُ، فَكُلْهُ، مَا لَمْ يُنْتِنْ.

“ Apabila engkau melepaskan anak panahmu dan (hewan itu) hilang kemudian engkau mendapatkannya kembali, maka makanlah selama (hewan itu) belum membusuk.” [13] [Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 – September 2007M] _______ Footnote • Dzabh adalah memotong tenggorokan, kerongkongan dan dua urat nadi dengan pisau atau yang lainnya, Adapun nahr yaitu memasukkan tombak atau pedang pada leher binatang, biasanya nahr ini dilakukan pada unta.-pent.

[1]. Shahih: [Irwaa-ul Ghaliil (no. 2528)), Shahiih al-Bukhari (IX/236) sedangkan ayat yang disebutkan di atas adalah ayat 5 dari surat al-Maa-idah.

[2]. Shahih: [Irwaa-ul Ghaliil (no.

penyembelihan yang sesuai cara islam syaratnya adalah kecuali

2527)], Shahiih al-Bukhari (IX/632, no. 5504). [3]. Muttafaq ‘alaih: Shahiih al-Bukhari (IX/631, no. 5503), Shahiih Muslim (III/ 1558, no. 1968), Sunan Abi Dawud (VIII/17, no. 2804), Sunan at-Tirmidzi (III/25, no.

1522), Sunan an-Nasa-i (VII/226), Sunan Ibni Majah (II/1061, no. 3178). [4]. Shahih: [Irwaa-ul Ghaliil (no. 2540)], Shahiih Muslim (III/1548, no. 1955), Sunan at-Tirmidzi (II/431, no. 1430), Sunan Abi Dawud (VIII/10, no. 2797), Sunan an-Nasa-i (VII/227), Sunan Ibni Majah (II/1058, no. 3170). [5]. Muttafaq ‘alaih: [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 2185)], Shahiih al-Bu-khari (no. 5503, 2448), Shahiih Muslim (no. 1986). Awaabid adalah bentuk jamak dari aabidah yaitu hewan yang menjadi liar dan lari dari manusia.

Adapun maksud sabda beliau j: “Perlakukanlah unta itu seperti ini,” mak-sudnya panahlah unta itu sehingga engkau dapat menyembelihnya, jika ti-dak bisa juga, maka bunuhlah unta tersebut kemudian makanlah.

[6].Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 2451)], Sunan Abi Dawud (VIII/26, no. 2811). [7]. Muttafaq ‘alaih: [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 2185)], Shahiih al-Bukhari (no. 5503, 2448), Shahiih Muslim (no. 1986).

penyembelihan yang sesuai cara islam syaratnya adalah kecuali

{INSERTKEYS} [8]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 2425)], Sunan Abi Dawud (VII/496, no. 2778). Makna sabda beliau: “Ketika beliau menghadapkan keduanya,” yaitu ke arah Kiblat.

• Al-mi’radh, ada yang mengatakan bahwa al-mi’radh adalah anak panah yang tidak mempunyai bulu dan tumpul (ujungnya), ada juga yang mengatakan bahwa al-mi’radh adalah anak panah yang panjang berat dan berbobot, ada juga yang mengatakan bahwa al-mi’radh adalah sebatang kayu dengan bagian ujungnya terbuat dari besi yang ditajamkan dan terkadang tidak ditajamkan.

Ibnu at-Tin berkata, “Al-mi’radh adalah tongkat yang tajam ujungnya dipakai oleh pemburu untuk melempar buruannya. Jika yang mengenai (hewan itu) adalah bagian yang tajam, maka hewan itu dapat dimakan, dan jika yang mengenai (hewan itu) bukan bagian yang tajam, maka hewan itu adalah al-waqidz.” Al-Waqidz adalah hewan yang terbunuh karena terbentur tongkat atau kayu atau sesuatu yang tidak tajam, al-mauqudzah adalah hewan yang dipukul dengan kayu sampai mati.

[9]. Muttafaq ‘alaih: Shahiih al-Bukhari (IX/603, no. 5476), Shahiih Muslim (III/ 1529, no. 1929 (3)), Sunan an-Nasa-i (VII/183). [10]. Muttafaq ‘alaih: Shahiih al-Bukhari (IX/604, no. 5478), Shahiih Muslim (III/ 1532, no. 1930), Sunan Ibni Majah (II/1069, no. 3207), Sunan an-Nasa-i (VII/ 81), tanpa menyebutkan ahli Kitab.

[11]. Shahih: [Irwaa-ul Ghaliil (no. 2556)], Shahiih Muslim (III/1531, no. 1929 (7)). [12]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 1239)], Shahiih al-Bukhari (IX/610, no. 5484). [13]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 1242)], Shahiih Muslim (III/1532, 1931 (10)).
tirto.id - Hewan ternak merupakan binatang yang halal dikonsumsi umat Islam.

Berkaitan dengan hal itu, Islam mengatur mengenai ketentuan menyembelih hewan tersebut sesuai syariat. Lantas, apa doa, adab, dan tata cara penyembelihannya agar daging hewan berkah dan pengonsumsinya menuai pahala di sisi Allah SWT? Secara umum, ajaran Islam menyatakan bahwa setiap hewan yang dikonsumsi (kecuali ikan dan belalang) harus disembelih dengan baik dan benar.

Binatang ternak yang tidak disembelih sesuai syariat atau tidak disebut nama Allah saat disembelih terlarang dikonsumsi. Hal itu tertera dalam firman Allah SWT dalam surah Al-An'am ayat 121: "Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan ... " (QS. Al-An'am: [6]: 121). Menyembelih hewan yang benar adalah dengan memutuskan saluran napas dan saluran makanan beserta urat nadi pada leher hewan dengan senjata tajam, selain gigi atau tulang.

Penyembelihan hewan dapat dilakukan dengan dua cara: tradisional atau mekanik (modern). Penyembelihan tradisional adalah menggunakan cara sederhana, misalnya pisau atau parang tajam. Sementara itu, penyembelihan secara mekanik adalah menggunakan mesin pemotong hewan. Biasanya, penyembelihan mekanik atau modern dilakukan di pabrik atau usaha peternakan besar untuk mempersingkat waktu. Bagaimanapun tata cara penyembelihannya, ketentuannya harus sesuai syariat Islam agar daging binatang ternak itu halal dikonsumsi.

Dalam Islam, ketentuan menyembelih hewan terbagi menjadi empat, yakni ketentuan orang yang menyembelih, ketentuan hewan yang akan disembelih, ketentuan alat yang digunakan untuk menyembelih, dan tata cara saat penyembelihan tersebut. {/INSERTKEYS}

penyembelihan yang sesuai cara islam syaratnya adalah kecuali

Baca juga: • Cara Menyembelih Ayam agar Halal untuk Dikonsumsi Menurut Islam • Umur Minimal Kambing Kurban, Syarat, Tata Cara Menyembelih dan Doa A. Ketentuan Orang yang Menyembelih Hewan Berikut ini sejumlah ketentuan bagi penyembelih hewan yang harus terpenuhi: 1. Penyembelih beragama Islam atau ahli kitab Penyembelih hewan harus beragama Islam atau ahli kitab. Dalam hal ini, ahli kitab yang dimaksud adalah orang-orang beragama Nasrani (Kristen dan Protestan) serta Yahudi. Selain dari ahli kitab, penganut agama lainnya tidak halal dimakan sembelihan mereka.

Hal itu tergambar dalam firman Allah SWT dalam surah Al-Maidah ayat 5: "Makanan [sembelihan] Ahli Kitab itu halal bagimu, dan makananmu halal bagi mereka," (QS. Al-Maidah [5]:5) 2. Penyembelih adalah orang yang berakal Orang yang menyembelih hewan tersebut dalam kondisi berakal, tidak gila, mabuk, atau dalam keadaan lingling. 3. Penyembelih adalah orang yang sudah balig atau tamyiz Orang yang menyembelih hewan adalah sosok yang sudah bisa membedakan hal baik dan buruk atau tamyiz.

Alangkah lebih baik lagi, ia sudah balig. 4. Penyembelih harus menyembelih dengan sengaja Sosok penyembelih melakukan sembelihan dengan sengaja, bukan dalam keadaan mabuk atau kondisi terpaksa. 5. Penyembelih harus menyebut nama Allah SWT ketika menyembelih Sebagaimana disebutkan dalam surah Al-An'am ayat 121 di atas, penyembelih harus menyebut nama Allah SWT ketika menyembelih. Untuk kesempurnaan penyembelihan, ia dianjurkan membaca doa menyembelih hewan sebagai berikut: بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ Bacaan latinnya: "Bismillahi wallahu akbar" Artinya: “Dengan nama Allah dan Allah itu Maha Besar,” (HR.

Muslim) B. Ketentuan Hewan yang Disembelih Ketentuan hewan yang disembelih haruslah dalam keadaan hidup, serta hewan itu tergolong hewan yang halal dikonsumsi. 1. Hewan dalam keadaan masih hidup Hewan yang disembelih harus dalam kondisi hidup dan belum menjadi bangkai. Jika seseorang menemukan hewan yang terluka, tercekik, terpukul, terjatuh, ditanduk oleh hewan lain atau yang diserang hewan buas, tetapi hewan tersebut belum mati, dianjurkan untuk segera menyembelihnya sehingga hewan tersebut hukumnya halal dimakan.

"Diharamkan bagimu [memakan] bangkai, darah, daging babi, dan [daging] hewan yang disembelih bukan atas [nama] Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam hewan buas, kecuali yang sempat kamu sembelih," (QS.

Al-Māidah [5]:3). 2. Hewan tersebut termasuk jenis hewan yang halal Hewan yang akan disembelih harus hewan yang masuk kategori hewan halal, baik dari segi zatnya (bukan anjing, babi, dan sebagainya) atau cara memperolehnya (bukan hasil curian atau taruhan judi). Dalam hal ini, apabila hewan itu adalah hewan haram, meskipun sudah mengikuti tata cara penyembelihan yang benar tetap haram dikonsumsi.

C. Ketentuan Alat yang Digunakan Menyembelih Ketentuan selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah alat-alat yang akan digunakan menyembelih. Setidaknya, alat yang dipakai menyembelih hewan ternak mesti dalam kondisi tajam dan tidak terbuat dari tulang, kuku, atau gigi.

1. Alat tajam dan dapat melukai Alat yang tajam dimaksudkan agar hewan tidak terlalu tersiksa dan memudahkannya untuk mati. Islam mengajarkan agar kita memperlakukan hewan dengan baik, termasuk ketika menyembelihnya.

Alat yang tajam biasanya terbuat dari besi, baja, bambu, atau alat apa pun yang bisa ditajamkan, kecuali tulang, kuku, atau gigi. 2. Tidak terbuat dari tulang, kuku, atau gigi Alat yang digunakan menyembelih tidak terbuat dari tulang, kuku, atau gigi. Hal itu tergambar dalam hadis yang diriwayatkan Raft’ bin Khadis bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Segala sesuatu yang mengalirkan darah dan disebut nama Allah SWT ketika menyembelihnya, dibolehkan untuk dikonsumsi, dengan penyembelihan yang sesuai cara islam syaratnya adalah kecuali alat yang digunakan bukan gigi dan kuku," (H.R.

Bukhari). D. Ketentuan Proses Menyembelih Yang patut diperhatikan dalam proses penyembelihan adalah hal-hal yang disunahkan dan dimakruhkan selama menyembelih hewan ternak. Selain itu, agar proses penyembelihan menjadi sah, ketentuan yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut. • Penyembelihan dilakukan pada bagian leher hewan. • Ketika menyembelih, pastikan sudah memotong dan memutuskan tenggorokan (saluran pernafasan), saluran makanan, dan dua urat leher yang ada di tenggorokan.

Selanjutnya, ada juga beberapa sunah dalam penyembelihan hewan, yaitu: • Mengasah alat menyembelih setajam mungkin. penyembelihan yang sesuai cara islam syaratnya adalah kecuali Hewan yang disembelih diihadapkan ke kiblat, digulingkan ke sebelah kiri rusuknya, supaya mudah bagi orang yang menyembelihnya.

• Menyembelih pada bagian pangkal leher hewan. Hal itu dimaksudkan agar mempercepat proses kematian binatang yang disembelih. • Mempercepat proses penyembelihan agar hewan tidak tersiksa. Sementara itu, hal-hal yang dimakruhkan dalam proses penyembelihan adalah sebagai berikut: • Menyembelih dengan alat tumpul. • Memukul hewan sebelum disembelih.

• Mulai menyembelih dari bagian belakang leher. • Memutuskan leher hewan atau mengulitinya sebelum benar-benar mati. Tata Cara dan Adab Menyembelih Hewan Ternak Berikut ini adab-adab dan tata cara menyembelih hewan sesuai syariat Islam: • Menyiapkan lubang penampung darah. • Hewan yang akan disembelih sebaiknya dihadapkan kiblat. Posisikan lambung kiri hewan berada di bawah.

• Pegang kaki hewan kuat-kuat atau diikat. Kepala hewan, khususnya bagian leher diarahkan tempat penampung darah yang sudah disiapkan. • Berniat menyembelih dan membaca basmalah dan takbir (doa menyembelih hewan di atas). • Mulai menyembelih hewan sampai tenggorokan, saluran makanan, dan urat lehernya terputus. Adab dan tata cara pembelihan hewan di atas berdasarkan hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik: "Nabi SAW berkurban dengan dua ekor domba yang warna putihnya lebih dominan dibanding warna hitamnya, dan bertanduk, beliau menyembelih domba tersebut dengan tangan beliau sendiri sambil menyebut nama Allah dan bertakbir dan meletakkan kaki beliau di atas rusuk domba tersebut," (H.R.

Bukhari).

Pelatihan Tata Cara Penyembelihan Sapi Sesuai Syariat Islam, Qurban Idul Adha




2022 www.videocon.com