Hukum tabur tuai adalah

hukum tabur tuai adalah

none • Tentang Kami • Jadwal Kebaktian • Kontak Kami • Visi & Misi GPBB • Menikah • Baptisan & Sidi • Menjadi Anggota GPBB • Kemajelisan • Kepercayaan • Komunitas • Kelompok Kecil (K2) / Bible Study • Komisi Anak • Komisi Remaja hukum tabur tuai adalah Komisi Pemuda • Komisi Keluarga • Komisi Wanita • Persekutuan Maria Marta • Persekutuan Pelaut • Resources • Youtube Channel • Warta Mingguan (Gempita) • Renungan Mingguan • Mobile App • Formulir • Pesan Pastoral • Jendela Doa • Ringkasan Kotbah • Photo Album (Media GPBB) • Kebijakan Privasi • Persembahan • Events • Registrasi Kebaktian On-Site • Perjamuan Kudus • Pelayanan • Persembahan Pujian Gereja Tamu • Paduan Suara MAGNIFICAT • Paduan Suara Nafiri • Paduan Suara Gita Agape • Paduan Suara Narwastu • Tim Pembuat Liturgi • Tim Coram Deo • Tim Peringkas Khotbah Mingguan (Perban) • Tim Renungan • Tim Musik • Tim Penyambut & Usher • Tim Jaringan Jemaat • Tim Audio Visual • Tim Digital • Panitia Ad-hoc • Tentang Kami • Jadwal Kebaktian • Kontak Kami • Visi & Misi GPBB • Menikah • Baptisan & Sidi • Menjadi Anggota GPBB • Kemajelisan • Kepercayaan • Komunitas • Kelompok Kecil (K2) / Bible Study • Komisi Anak • Komisi Remaja • Komisi Pemuda • Komisi Keluarga • Komisi Wanita • Persekutuan Maria Marta • Persekutuan Pelaut • Resources • Youtube Channel • Warta Mingguan (Gempita) • Renungan Mingguan • Mobile App • Formulir • Pesan Pastoral • Jendela Doa • Ringkasan Kotbah • Photo Album (Media GPBB) • Kebijakan Privasi • Persembahan • Events • Registrasi Kebaktian On-Site • Hukum tabur tuai adalah Kudus • Pelayanan • Persembahan Pujian Gereja Tamu • Paduan Suara MAGNIFICAT • Paduan Suara Nafiri • Paduan Suara Gita Agape • Paduan Suara Narwastu • Tim Pembuat Liturgi • Tim Coram Deo • Tim Peringkas Khotbah Mingguan (Perban) • Tim Renungan • Tim Musik • Tim Penyambut & Usher • Tim Jaringan Jemaat • Tim Audio Visual • Tim Digital • Panitia Ad-hoc Ada sebuah pepatah Tionghoa yang berkata 种 瓜 得 瓜 种 豆 得 豆 ( zhòng guâ de guâzhòng dòu de dòu) yang artinya, tanam labu dapat labu, tanam kacang dapat kacang.

Bandingkan pepatah ini dengan Galatia 6:7, “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diriNya dipermainkan karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” Amsal 22:8, “Orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana,…” Banyak kesamaan kebenaran antara pepatah Tionghoa dengan firman Tuhan.

Alkitab mengajarkan bahwa jangan sesat! Artinya adalah jangan menyesatkan diri sendiri.

hukum tabur tuai adalah

Jangan kita marah, tersinggung, menyalahkan orang hukum tabur tuai adalah, melempar tanggung jawab jika sesuatu yang buruk terjadi dalam hidup kita. Sebab sesuatu yang buruk itu tidak datang dengan tiba-tiba, jauh hari sebelumnya kita sudah melakukan penanaman benih bencana itu.

Ketika bencana banjir, tanah longsor, tanggul jebol, pemanasan global, sakit penyakit menimpa hidup kita, maka kita tidak bisa mengatakan ini cobaan dari Tuhan atau kita berteriak, “Mengapa Tuhan ijinkan semua ini terjadi dalam hidup kita?” Semua bencana terjadi karena ulah kita sendiri.

Kita tanam apa, kita tuai apa. Apa yang kita perbuat, kita harus tanggung resikonya. Ketika bencana datang, harusnya kita salahkan diri sendiri dan kemudian berbenah diri supaya tidak melakukan segala perbuatan yang akan menuai bencana lagi.

Memori kita seringkali pendek, begitu bencana berlalu, kita kembali melakukan segala sesuatu yang kelak akan kembali menuai bencana. Itulah arti, “Jangan sesat!

Jangan ulangi lagi perbuatan apapun yang bisa menuai bencana. Banyak manusia ketika melakukan sesuatu tidak bicara dengan siapa-siapa, tidak minta nasihat siapa-siapa, dia menikmati sendiri kenikmatan perbuatan itu.

Tetapi, ketika harus menangung akibat dari perbuatannya itu, ia baru cerita kepada orang lain, minta nasihat sana-sini, menyesal ini-itu, seolah-olah mau berbagi akibat dengan orang lain.

Adilkah itu? Ketika berbuat dia lakukan sendiri, ketika ada akibat, dia minta semua orang ikut menanggung akibat. Orang Jakarte bilang, “ kalo lagi seneng gak ingat kite-kite, begitu susah, kite-kite juga nyang repot. Die nyang makan nangka, kite nyang kena getahnye” Pepatah Tionghoa zhòng guâ de guâ, zhòng dòu de dòu dan Galatia 6:7 sungguh indah.

Pepatah dan firman Tuhan itu mengajar kita supaya berhati-hati dalam setiap perbuatan dan perkataan kita. Pikir berulang-ulang kali sebelum melakukan satu perbuatan atau perkataan. Pikirkan apa dampaknya buat diri sendiri apalagi buat keluarga, orang lain, gereja dan Tuhan.

Waspadalah atas kehidupan ini, jangan jalani hidup dengan sembarangan, karena kita juga yang akan menuai segala sesuatunya. Kita juga diajar berani bertanggung jawab atas semua yang sudah kita perbuat dan katakan.

Kita tanam labu tidak mungkin menuai kacang atau kita tanam kacang tidak mungkin menuai labu. Jika kita ingin labu, tanamlah labu. Jika ingin kacang, tanamlah kacang. Jika ingin bahagia, tanamlah bahagia. Jika ingin berkat tanamlah berkat.

Jika ingin dilayani tanamlah melayani. Jika ingin diberi, tanamlah memberi. Tuhan berkata, “Apa yang kau ingin orang lain lakukan untukmu, lakukan itu dulu kepada orang lain.” (Matius 7:12) Hidup kita akan bahagia jika kita menanam bahagia. Ingat selalu, apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai.

zhòng guâ de guâ, zhòng dòu de dòu. Selamat menanam dan selamat menuai. (J.Th) Image courtesy of Lovepik
Dalam kehidupan sehari-hari, kita jelas melakukan banyak tindakan.

Untuk beberapa orang, sebelum bertindak mereka pastinya akan memikirkan dampaknya terlebih dahulu. Akan tetapi, ada juga kumpulan orang yang tidak berpikiran panjang mengenai hal tersebut. Apalagi jika dampak yang dapat terjadi sama sekali tidak merugikannya, bahkan menguntungkannya. Keuntungan memanglah hal yang lazim disukai banyak orang. Hukum tabur tuai adalah tetapi, sadarkah Anda bahwa segala sesuatu yang Anda lakukan, sangat berdampak akan kejadian di masa mendatang?

Bahkan aktivitas sekecil apapun itu, akan memiliki dampak juga bahkan dampak buruk yang sangat kecil. Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam bertingkah laku. Pastikan bahwa Hukum tabur tuai adalah sudah memikirkannya dengan matang sebelumnya.

Begitu juga saat Anda berhubungan dengan orang lain. Memang, tidak bia dipungkiri bahwa manusia memiliki sifat egoisnya sendiri. Sifat yang tidak mau hukum tabur tuai adalah masih lekat di diri setiap insan manusia.

Hal inialah yang membuat seseorang mengingkari kejujuran hati. Banyak yang rela membohongi orang lain, bahkan membohongi dirinya sendiri hanya untuk menutupi kelemahannya. Memang, tidak ada yang tidak menginginkan pujian. Akan tetapi, berbuat curang bukanlah satu-satunya cara yang dapat Anda lakukan untuk memperoleh pujian tersebut.

Harus diakui, kebohongan memang akan menyelamatkanmu. Tapi, itu bersifat sementara. Akan banyak hal yang menunggumu merasakan akibat yang akan kamu terima akibat tingkah lakumu itu. Hal ini kerap dikenal dengan hukum tabur tuai. Apa yang kamu tabur, itulah yang akan kamu tuai juga. Baca juga: • Dosa Turunan Menurut Kristen • Penyaliban Yesus • Arti Bersyukur dalam Alkitab • Janji Pernikahan Kristen • Etika Kristen Pengertian Hukum Tabur Tuai Sebenarnya hukum tabur tuai memang sudah layak untuk dirasakan keberadaannya.

Bahkan di dalam agama pun, sering diperbincangkan mengenai hal ini.

hukum tabur tuai adalah

Sebagai contohnya agama Hindu dan Buddha. Di dalam kedua agama ini, para umuat mempercayai bahwa ada kehidupan setelah kematian. Di kehidupan selanjutnya inilah yang sangat dipengaruhi oleh kegiatan yang dilakukan mereka saat ini. Itulah yang menyebabkan mereka berlomba-lomba untuk melakukan sebuah kebaikan. Akan tetapi, hal ini cukup berbeda dengan kepercayaan yang dianggap oleh umat Kristiani.

Di dalam kristen, tidak mengenal adanya kehidupan baru atau inkarnasi setelah kematian. Namun, bukan berarti umat kristen mempercayai bahwa tidak ada hukum tabur tuai yang berlaku bagi mereka. Ada. Hukum tabur tuai juga biasa dikenal di kalangan masyarakat sebagai karma. Karma yang bisa datang kapan saja dia mau. Biasanya karma membuat seseorang belajar untuk lebih berhati-hati dalam bertindak.

Apalagi, jika karma telah mengajari seseorang lewat kematian seseorang yang dia sayangi. Selain belajar dari kesalahan yang kita lakukan, kita juga bisa belajar mengenai hukum tabur tuai lewat alam.

Alam memang akan selalu berkata jujur tentang apapun itu, termasuk tentang tingkah laku Anda. Pernahkah Anda menanam biji mangga tetapi yang tumbuh malah biji semangka? Itulah salah satu pelajaran yang dapat dipetik dari alam. Apa yang kamu lakukan, itu jugalah yang akan kamu terima. (baca juga: Ekklesia) Arti Hukum Tabur Tuai Menurut Alkitab Di kehidupan yang fana ini, kita dapat menggunakan Alkitab sebagai mata angin kita.

Banyak orang yang belum mengerti tentang bagaimana seharusnya seorang kristen hidup dan menjalankan hidupnya. Bahkan setelah Tuhan Yesus wafat pun, mereka masih saja tidak bertobat akan perilakunya. Meskipun sudah ada Hukum Taurat yang mengingatkan mereka, masih saja melakukan kesalahan. Di dalam Alkitab, terdapat berbagai macam kejadian yang dialami oleh Tuhan Yesus sewaktu di dunia, yang dialami para nabi maupun yang dialami oleh orang biasa.

Banyak pesan yang terdapat di sana. Salah satunya adalah mengenai hukum tabur tuai. Salah satu contohnya adalah perkataan rasul Paulus di 2 Korintus 9 : 6. Di ayat tersebut dijelaskan bahwa sedikit banyaknya tuaian yang dituai seseorang sangat dipengaruhi oleh banyak tidaknya yang ditabur oleh seseorang tersebut, sebagai berikut: • Pada saat itu, rasul Paulus mencontohkan bagaimana masyarakat Makedomia yang hidup dalam kebaikan.

Mereka senantiasa bermurah hati untuk tetap berbagi kepada sesama meskipun kenyataannya mereka sedang hidup dalam kemiskinan dan kekurangan.

Rasul Paulus mengingkan hal yang sama untuk dilakukan oleh Jemaat Korintus. (baca juga: Tri Hari Suci ) • Pekerjaan dalam melayani Tuhan hendaknya tidak dilakukan dengan setengah hati. Ini jugalah yang dapat kita renungkan di dalam kehidupan sehari-hari.

(baca juga: Kematian Menurut Kristen) • Banyak di antara kita yang masih berpikir panjang untuk memberikan lebih kepada sesama. Sadarkah Anda bahwa apa yang Anda lakukan untuk manusia lainnya sama halnya dengan Anda memberikan ucapan syukur kepada Allah?

Memang, untuk hidup di dunia ini, kita membutuhkan dorongan materi. Akan tetapi, bukankah lebih baik untuk hukum tabur tuai adalah kecukupan juga kepada orang lain? Rasul Paulus juga mengajarkan mengenai hukum tabur tuai di kitab Galatia yakni Galatia 6 : 7. Pada ayat tersebut Rasul Paulus menyatakan agar kita tidak tersesat. Dia mengungkapkan bahwa Allah tidak bisa dipermainkan. Apa yang kamu lakukan itu jugalah yang akan kamu terima.

Hal ini dapat kita saksikan refleksinya sebagai sebuah usaha. Misalkan Anda ingin masuk di Perguruan Tinggi ternama. Akan tetapi, Anda malas-malasan belajar. Bukankah saat itu juga Anda sedang mempermainkan Tuhan? Memang, Anda berdoa setiap hari, bergereja setiap minggu dan mengikuti perkumpulan-perkumpulan di gereja.

Akan tetapi, mengertikah Anda bahwa Tuhan juga mengharapkan usaha dari Anda? Bagaimana mungkin Anda iri terhadap orang lain hukum tabur tuai adalah lulus di Perguruan Tinggi ternama tersebut semantara dia memang mati-matian berusaha? Bukankah tingkah laku juga merupakan wujud dari doa? Baca juga: • Buah Buah Roh Kudus • Peranan Roh Kudus dalam Gereja • Hukum Kasih dalam Alkitab • Hari Besar Agama Kristen • Kumpulan Doa Kristen Contoh Hukum Tabur Tuai di Kehidupan Pada ayat tersebut juga diingatkan supaya umat Kristen tidak hidup dengan mengikuti perkataan daging.

Manusia akan erat kaitannya dengan keinginan daging. Bukan hanya itu, sadarkah Anda bahwa memanjakan daging juga dapat mengakibatkan dosa? Biasanya banyak orang yang berbuat jahat karena tuntutan daging, hal manusiawi. Contohnya adalah keinginan tidur sepanjang hari.

Siapa yang tidak ingin hidup bersantai-santai? Tidur sepanjang hari tanpa dibebani tugas apapun. Akan tetapi, kegiatan demikian tidak layak dilakukan oleh seorang Kristen. Bagaimana mungkin Anda mengorbankan darah dan tubuh Kristus hanyaa untuk bermalas-malasan? Tuhan juga sudah menyiapkan berkat untuk Anda jadi mengapa Anda hanya berdiam diri di kamar saja?

Inilah beberapa contoh kehidupan dalam terkena hukum tabur yang harus dituai: • Setiap orang juga menginginkan untuk hidup bergelimang harta. Akan tetapi, ada pola pikir yang salah pada beberapa orang mengenai bagaimana caranya supaya memiliki banyak harta. (baca juga: Sejarah Alkitab Indonesia) • Sebagian dari mereka menghalalkan segala sesuatu, termasuk korupsi.

Korupsi merupakan salah satu hal buruk yang diakibatkan oleh keinginan daging. Uang yang seharusnya menghidupi banyak orang tersebut malah Anda gunakan untuk bersenang-senang, sementara orang lain sedang berada di penghujung hidupnya.

Banyak anak yang terancam tidak bersekolah, jalanan rusak dan lain sebagainya. Bahkan yang lebih parahnya hukum tabur tuai adalah jika seseorang melakukan tindakan yang menduakan Tuhan, seperti pergi ke dukun.

Mendapatkan hasil yang maksimal namun dengan usaha yang minimum adalah keinginan setiap orang. (baca juga: Makna Paskah) Di dalam Alkitab juga dengan jelas dikatakan bahwa Tuhan membenci hal tersebut, Anda menduakanNya.

Dia mengungkapkan bahwa Dia adalah Allah yang pencemburu. Dengan menyembah Allah lain itu berarti Anda meragukan kuasa dan kemampuanNya dalam mencukupi hidup Anda, dalam mengenyangkan roh Anda. (baca juga: Bahasa Roh) Tuhan memang sangat bermurah hati dalam mengampuni setiap dosa dan kesalahan manusia.

Bahkan Ia rela mengorbankan satu-satunya AnakNya ke dunia. Itupun tidak hidup dalam kemewahan melainkan dalam kesederhanaan bahkan penderitaan.

Banyak orang yang menyalahartikan anugerah dari Tuhan tersebut. Sesungguhnya tidak ada manusia yang layak di hadapan Allah, semua hanyalah yang dilayakkanNya.

Namun, meskipun sudah diampuni, masih saja melakukan kesalahan bahkan kesalahan yang sama.

hukum tabur tuai adalah

“Tuhan pasti mengerti dan mengampuniku” itulah yang mungkin berada di benak manusia saat mereka mengingat Tuhan ketika melakukan dosa. Baca juga: • Peran Roh Kudus dalam Kehidupan Orang Percaya • Pengertian Dosa Menurut Alkitab • Kematian Menurut Kristen • Gambaran Neraka Menurut Kristen • Perceraian Dalam Kristen Tanggung Jawab Manusia dalam Hukum Tabur Tuai Karena banyak orang yang berpikir bahwa apa yang dilakukan itu juga yang dihasilkan, banyak orang yang mendadak berlaku kebaikan.

Hal tersebut terjadi karena mereka menginginkan berkat dari Allah. Padahal sesungguhnya hal tersebut dilakukan seharusnya atas dasar ucapan terima kasih kepada Allah yang telah memberi.

Memang, mungkin saja Anda telah banyak melakukan kebaikan, melakukan pertolongan bagi orang lain. Akan tetapi apakah guna dari semua itu jika Anda mengingkinkan sebuah balasan?

hukum tabur tuai adalah

Termasuk balasan dari Allah. Perbuatan baikpun tidak bisa langsung dikategorikan sebagai perbuatan benar. Banyak kebaikan dilakukan dengan hal yang salah. Akan tetapi, meskipun banyak sekali kekurangan manusia, dosa, dan kenajisan lainnya, Tuhan masih tetap melayakkan Anda, masih menyayangi Anda dan menginginkan Anda untuk mengikuti roh bukan daging. Demikian informasi mengenai hukum tabur tuai. Dengan artikel ini diharapkan Anda semakin berbuat baik sebagai ucapan syukur pribadi Anda kepada Allah.

Semoga bermanfaat. Related Posts • Bahasa Roh: Asal, Macam, dan Maknanya • 7 Cara Hukum tabur tuai adalah Ayat Alkitab Rutin Setiap Hari Dalam Ajarannya • 9 Karakter dan Keteladanan Daud dalam Kehidupan Sehari-hari di Alkitab • 3 Contoh Demokrasi Dalam Alkitab yang Sejati Dalam Kristus • Pengertian Kafir Menurut Kristen dan Ayat Alkitabnya Berpijak pada pernyataan Paulus dalam Galatia 6:7: “ Jangan sesat ”dalam teks asli Alkitab ditulis: me planasthe ( Μὴ πλανᾶσθε ).

Maka kita harus sungguh-sungguh berhati-hati terhadap fakta penyesatan berkenaan dengan hukum ini. Dalam terjemahan Alkitab New International Version diterjemahkan : be not deceive, dalam terjemahan Good News Bible diterjemahkan: hukum tabur tuai adalah not deceive your selves.

Terjemahan bahasa Inggris tersebut bisa diartikan sebagai: Jangan tertipu atau menipu diri sendiri. Kata planasthe, dapat diterjemahkan “ astray ” yang berarti sesat atau di luar jalur yang benar atau jalan yang salah. Jadi kalimat me planasthe bisa diterjemahkan “ not led be astray ”.

Pemikiran yang salah dalam diri kita itu merupakan potensi penyesatan yang harus diwaspadai. Kalau Tuhan sendiri yang memperingatkan itu berarti suatu bahaya besar akibat penyesatan tersebut.

Oleh sebab itu betapa pentingnya kita mengerti kebenaran Firman Tuhan dan selalu mengalami pembaharuan pikiran setiap hari (Roma 12:2). Hukum tabur tuai ini mirip dengan konsep "karma" dalam suatu agama. Mirip bukan berarti sama persis. Hendaknya kita tidak menyamakan. Dalam hukum karma tidak ada solusi penebusan oleh darah Tuhan Yesus, tetapi dalam hukum tabur tuai masih ada penopangan, dimana Allah Bapa masih memakai tuaian yang kita tabur (sekalipun salah) menjadi alat untuk menyempurnakan kita.

Di tengah penderitaan hasil taburan kita, selama kita masih mau mengasihi Tuhan, Dia akan menjadikan sarana untuk menyempurnakan kita. Kecuali kalau sampai mati tidak mau bertobat, maka semua menjadi sia-sia. Hukum tabur tuai adalah bahwa segala sesuatu yang kita lakukan mempunyai akibat. Kenyataan ini berangkat dari 2 hal: KeduaAllah adalah Allah yang adil yang menuntut pertanggungjawaban.

Oleh sebab itu manusia adalah makhluk yang hidup dibawah bayang-bayang keadilan Allah. Itulah sebabnya Tuhan Yesus yang disalib untuk memenuhi hukum keadilan. Pelanggaran harus mendatangkan hukuman. Dosa mendatangkan maut. Manusia yang berdosa harus menerima ganjaran. Tetapi Tuhan Yesus yang telah menanggung ganjaran hukuman. Dalam hal inilah yang memuaskan hati Allah Bapa dalam menggenapi tuntutan keadilan Allah tersebut.

Demikian pula dalam kenyataan hidup ini sekarang dibumi selagi kita masih hidup. Apa yang kita alami ada dalam koridor hukum tabur tuai. Orang yang bekerja keras pasti diberkati tetapi yang malas tidak pantas diberkati. Dengan penjelasan ini maka dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia adalah makhluk yang harus bertanggungjawab (Roma 14:12) atas hidupnya dihadapan Tuhan, yaitu atas semua perbuatannya.

Konsep takdir yang sering kita dengar dalam pergaulan bukanlah konsep Alkitab, bahkan itu bertentangan dengan kebenaran Firman Tuhan. Manusia bertanggungjawab atas perbuatannya sendiri.

hukum tabur tuai adalah

Keadaan manusia bukanlah hasil dari penentuan nasib atau takdir. Oleh karenanya dunia ini bukan panggung sandiwara, tetapi medan pergumulan antara memilih yang jahat atau yang baik. Keberuntungan atau kemalangan. Kehidupan atau kebinasaan. Tuaian dari apa yang kita tabur itu bisa kita tuai baik selama hidup dalam dunia maupun sesudah mati (2Kor 5:10).

Apa yang kita tuai persis seperti yang kita tabur. Perhitungan Allah tepat (a person will reap exactly what he plants). Oleh sebab itu kita tidak boleh hidup ceroboh.

Dalam Galatia 6:7 Alkitab berkata: “ Allah tidak dapat dipermainkan ”(no one makes a fool of God, God is not mocked). Manusia berurusan dengan Allah dan tidak dapat menghindarinya. Semua yang kita lakukan dalam hidup ini menimbulkan reaksi dan tindakan Allah atas diri kita. • ► 2015 (25) • ► Desember (1) • ► Oktober (2) • ► September (4) • ► Agustus (2) • ► Mei (1) • ► April (3) • ► Maret (7) • ► Februari (5) • ► 2014 (34) • ► Agustus (3) • ► Juli (2) • ► Juni (6) • ► Mei (4) • ► April (4) • ► Maret (7) • ► Februari (8) • ▼ 2013 (79) • ► November (3) • ► Oktober (5) • ► September (2) • ► Agustus (2) • ► Juli (14) • ▼ Juni (8) • LOKASI K3R MINGGU INI : RABU 19 JUNI 2013, PUKUL 2.

• PROFIL : NELSON PARULIAN TAMBUNAN • Apa yang dimaksud dengan Hukum Tabur Tuai? • PERJUANGAN IBU DEMI KELUARGA. • MEMAKNAI PERGUMULAN HIDUP • PROFIL : RICKY SURYANA • KEJAHATAN IBLIS • REHOBOT PEDULI JEMAAT MELALUI KREDIT LUNAK REHOBOT. • ► Mei (10) • ► April (10) • ► Maret (8) • ► Februari (8) • ► Januari (9) • ► 2012 (22) • ► Desember (7) • ► November (7) • ► Oktober (8)
HUKUM TUAI - TABUR BERITA LAINNYA - 03 December 2020 HUKUM TUAI - TABUR Hukum "Tabur-Tuai" adalah sebuah hukum yang dikenal di dalam kekristenan.

Hukum ini sudah disuarakan, bahkan dari zaman Perjanjian Lama (sebelum masehi). "Orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana" (Amsal 22:8a). Atau di dalam Perjanjian Baru, Galatia 6:7 "Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Prinsip yang sering disamakan dengan karma ini, juga bisa dilihat secara universal--dengan mengabaikan prinsip teologis tentunya! Hal ini dapat kita jabarkan dengan sederhana, dengan apa yang kita alami dalam keseharian.

Dalam kondisi normal, seorang yang menanam padi, pada akhirnya akan menuai padi, bukan gandum, apalagi berlian! Dalam kondisi normal, seorang yang memelihara ikan di kolam, pada akhirnya akan panen ikan, bukan panen udang.

Atau, orang yang melompat akan naik sedangkan orang yang terjun akan turun, dan seterusnya. Jika yang terjadi adalah sebaliknya, kemungkinan akan disebut dengan dua nama, yaitu "keajaiban" atau "kemustahilan." Dalam ilmu fisika, ada aksi maka ada reaksi. Dalam ilmu ekonomi, kita mengenal istilah utang dan piutang. Dalam logika kebahasaan, ada sebab dan ada akibat. Segala sesuatu akan berdampak secara normal, dalam hubungan sebab-akibat yang mengikuti kelaziman.

Logika sebab-akibat inilah yang biasanya digunakan oleh manusia untuk melakukan setiap tindakan di dalam hidupnya. Analisis dampak yang dilakukan sepanjang hidup, bahkan sudah dimulai sejak manusia dilahirkan. Seorang bayi yang menangis akan segera didatangi oleh ibu atau pengasuhnya. Sang ibu atau pengasuh akan segera mengganti popok, memberi hukum tabur tuai adalah, atau menggendong si bayi hingga tangisannya berhenti. Sang bayi dalam hal ini tidak memiliki pengetahuan tentang arti tangis.

Akan tetapi, pengalamanlah yang mengajarkannya bahwa jika ia menangis, akan ada seseorang yang datang dan memberinya minum, mengganti popok, atau mengangkatnya ke dalam gendongan. Pengalaman ini melewati proses penalaran yang menghasilkan sebuah tindakan. Jika berikutnya si bayi merasa lapar atau tidak nyaman karena popoknya yang basah, atau karena hal lain, ia akhirnya akan memutuskan untuk menangis.

Judul tulisan ini bukanlah typo atau salah ketik. Inilah prinsip yang justru menjiwai iman kekristenan, yaitu prinsip tuai -- tabur.

Bukan bermaksud mengubah isi Alkitab, tulisan hukum tabur tuai adalah justru ingin mengajak kita melihat prinsip lain yang ternyata berjalan "seiring" dengan hukum "Tabur-Tuai." Prinsip ini bukan tanpa dasar. Prinsip ini sama logisnya dengan prinsip atau hukum "tabur-tuai" yang selama ini sudah kita kenal. Ketika kita menabur benih padi di sawah, kita akan bekerja dengan keras, menjaga tanah dan ketersediaan air, serta menjaga tanaman kita dari berbagai hal yang mungkin akan mengakibatkan gagal panen.

Setelah padi mulai tumbuh, kita masih terus bekerja, menghindarkan padi dari hama, gulma, dan binatang-binatang pengganggu.

Setelah mendekati masa panen, kita terus bekerja untuk menjaganya, termasuk menjaga dari kemungkinan pencurian. Kita melakukan semua itu karena kita tentunya berharap bahwa pada saatnya nanti, kerja keras kita tersebut membuahkan hasil, yaitu panen padi. Seorang pekerja akan melakukan pekerjaannya karena ia mengharapkan imbalan yang setimpal. Jika ingin imbalan yang lebih, berarti sang pekerja pun harus bekerja lebih (baca: lembur).

Datang tepat waktu, bekerja sesuai aturan yang dibuat perusahaan, juga berpenampilan sesuai tuntutan perusahaan. Jika tidak terlalu menginginkan imbalan, sang pekerja juga bisa memilih untuk tidak bekerja dan menerima risiko pemotongan atau pengurangan upah yang akan diterima, atau bahkan pemberhentian.

Akan tetapi, prinsip hukum tabur tuai adalah kekristenan tidak demikian. Seorang pengikut Kristus, memilih untuk mengikut Kristus, bukan karena mengharapkan imbalan apapun. Kalau hanya imbalan yang diharapkan, para misionaris yang mempertaruhkan nyawanya untuk melakukan penginjilan ke tempat-tempat yang belum pernah mereka datangi dan tidak ada jaminan keselamatan, tentu tidak akan undur. Apa yang lebih berharga bagi manusia selain nyawanya?

Kita adalah anak! Sebagaimana layaknya seorang anak, sejak dilahirkan kita sudah mendapat kasih sayang orangtua. Setiap hari kita dibesarkan dengan kasih sayang dan perhatian. Kita mematuhi perintah orangtua, kita melakukan hal-hal yang menyenangkan hati mereka, bukan karena mengharapkan imbalan, melainkan sebagai bentuk ucapan terima kasih kita atas segala kebaikan, segala kerja keras dan pengorbanan yang telah mereka lakukan untuk kita.

Seberapa keras pun kita berusaha menyenangkan hati orang tua, tidak akan menentukan besaran perhatian dan kasih sayang yang akan mereka berikan kepada kita.

Di antara anak dan orang tua juga tidak pernah ada kontrak yang mengatur tentang hal itu. Berbeda dengan prinsip "Tabur-Tuai," prinsip "Tuai-Tabur" lahir dari sebuah kesadaran bahwa hidup hukum tabur tuai adalah adalah anugerah.

Prinsip ini tidak menekankan pada hasil, melainkan pada alasan. Kita wajib menabur hal-hal yang baik karena kita menyadari bahwa kita telah terlebih dahulu menerima kebaikan berupa kehidupan, kesempatan, dan penebusan. Ibarat utang, kebaikan yang sudah kita terima tersebut haruslah kita bayar---tentunya dengan kebaikan juga---bagaimanapun caranya.

Kita tidak punya pilihan untuk berkata iya atau tidak. Kita tidak punya kesempatan untuk bersantai dan memilih untuk tidak bekerja. Kita telah terlebih dahulu menuai maka inilah saatnya kita mulai menabur! Suryani Waruwu Guru Bahasa Indonesia Sekolah Kristen Terbaik dengan Karakter Kristiani Sekolah dengan pendidikan Kristen yang unggul dalam Iman, Ilmu, Pelayanan dan membina karakter peserta didik melalui pengajaran hukum tabur tuai adalah nilai kristiani YAYASAN BPK PENABUR • Gedung UKRIDA Blok E, Lt.

5 JL. Tanjung Duren Raya No. 4 Jakarta Barat, 11470, Indonesia • Tel : (021) 5606772 - 76 0819 1907 1950 Fax : (021) 5666 968 • email : pengurus@bpkpenabur.or.id
Apabila permasalahan ini dikontekskan dalam bercocok tanam atau berkebun, pasti kebanyakan orang sudah mengerti abgaimana hukum tabur tuai yang dijalani.

Contohnya adalah, apabila kita menabur bening jagung di ladang maka jelas yang akan tumbuh di ladang saudara adalah batang jagung dan akan menghasilkan jagung yang sehat apabila memang dirawat dengan baik.

Jika menabur dengan baik dan dirawat dengan teliti pasti akan menghasilkan panen yang diinginkan sesuai dengan bagaimana kita merawatnya. Bahkan apabila kita menabur satu benih, dapat dimungkinkan untuk kita mendapatkan banyak buah. Dalam sejarah agama kristen yang terpenting adalah untuk mendekatkan diri dengan Tuhan dan menjalankan amanatnya sesuai dengan hukum kasih dalam Alkitab. Tabur Tuai Mungkin penjelasan diatas tidak semudah itu, dan mungkin penjelasan seperti itu saudara banyak yang mengerti dan tidak perlu dijelaskan kembali.

Tetapi yang anda ketahui tidak meliputi keseluruhan arti dari tabur tuai. Esensial dari sebuah makna tabur tuai dapat diartikan secara luas.

hukum tabur tuai adalah

Konsep dari bagaimana tanah dapat memberikan kehidupan kepada benih-benih tersebut. Karena apabila benih itu kita harus memberikan batu dan dapat memberikan kehidupan kepada setiap benih tersebut. Butuhnya perawatan dan ketelitian dalam merawat benih yang kita tanam merupakan cerminan dari hasil tuai yang akan didapatkan. Apabila diletakkan pada air maka benih bisa membusuk, apabila diberikan kepada batu maka benih tidak mungkin akan tumbuh.

Tetapi apabila kita merawat dan menabur dalam tanah yang subur, niscaya maka akan dituai maka akan ada kehidupan yang akan tumbuh. Dengan ini maka adanya prinsip tabur tunai yang akan berkaitan dengan konsep kehidupan yang kita lakukan sehari-hari. Dengan menjalankan prinsip tabur tuai maka terdapat prinsip-prinsip yang harus diterapkan. Hukum tabur tuai adalah adalah beberapa prinsip hukum tabur tuai yang dimaksud.

• Adanya pengorbanan Saat dimana sebelum benih akan tumbuh, ia memang harus mati terlebih dahulu, maka dengan adanya proses yang seperti ini adalah makna dari arti sebuah pengorbanan. Tuhan Yesus Kristus harus rela wafat terlebih dahulu di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Saat menabur memang bukan saat yang membahagiakan, karena pada saat penaburan kita harus berusaha dengan bercucuran keringat dan derai air mata untuk harus berbuat baik, menjadi berkat untuk kebutuhan oranglain dan harus mematuhi perintah Tuhan demi mencerminkan karakter Kristen sejati.

• Faktor waktu Proses penaburan benih dan bertumbuh hingga dewasa merupakan proses yang akan menghasilkan buah dan hal itu akan membutuhkan waktu untuk merawatnya. Hasil dari bening yang ditabur bergantung juga dari kualitas benih yang dihasilkan, kualitas tanah, dan bagaimana kuliatias pemeliharanya dan bagaimana perawatannnya. Hal inilah yang mengajarkan kita bahwa tidak ada yang instan dan memang harus membutuhkan waktu. Maka dari itu haruslah memerlukan kesabaran dan adanya ketekunan.

Hal ini mengajarkan tentang manfaat berdoa bagi orang kristen untuk menjadikan tujuan hidup orang kristen. • Berlipat ganda Dari satu benih yang di tabur maka akan tumbuh pohon yang akan menghasilkan banyak buah. Maka dari itu dari semua perbuatan baik yang telah dilakukan dan dengan taat ibadah kepada Tuhan yang selalu dipertahankan dan akan mendapatkan balasan hukum tabur tuai adalah Tuhan dengan sesuatu yang luar biasa dahsyatnya. Demikian penjelasan mengenai prinsip tabur tuai dalam Kristen.

Dengan penjelasan diatas ini maka memberikan kita pembelajaran untuk memberikan dan menaburkan segala kebaikan yang memang sudah diajarkan Tuhan Yesus melalui Firman Tuhan atau memang ada kehidupan sehari-hari, jangan sampai menggunakan dan melakukan sesuatu untuk menabur kata-kata kebencian yang kotor karena hal ini akan menabur yang jahat.

Kita harus menabur sesuai dengan Tuhan telah menempatkan kita untuk dituai dengan hasil yang memang diharapkan hukum tabur tuai adalah Tuhan. firman tuhan adalah obat firman tuhan akulah jalan kebenaran dan hidup firman tuhan alkitab firman tuhan bagi orang percaya merupakan prinsip tabur tuai tabur tuai timbal balik Navigasi pos• Tebar Hikmah Ramadan • Life Hack • Ekonomi • Ekonomi • Bisnis • Finansial • Fiksiana • Fiksiana • Cerpen • Novel • Puisi • Gaya Hidup • Gaya Hidup • Fesyen • Hobi • Karir • Kesehatan • Hiburan • Hiburan • Film • Humor • Media • Musik • Humaniora • Humaniora • Bahasa • Edukasi • Filsafat • Sosbud • Kotak Suara • Analisis • Kandidat • Lyfe • Lyfe • Diary • Entrepreneur • Foodie • Love • Viral • Worklife • Olahraga • Olahraga • Atletik • Balap • Bola • Bulutangkis • E-Sport • Politik • Politik • Birokrasi • Hukum • Keamanan • Pemerintahan • Ruang Kelas • Ruang Kelas • Ilmu Alam & Teknologi • Ilmu Sosbud & Agama • Teknologi • Teknologi • Digital • Lingkungan • Otomotif • Transportasi • Video • Wisata • Wisata • Kuliner • Travel • Pulih Bersama • Pulih Bersama • Indonesia Hi-Tech • Indonesia Lestari • Indonesia Sehat • New World • New World • Cryptocurrency • Metaverse • NFT • Halo Lokal • Halo Lokal • Bandung • Joglosemar • Makassar • Medan • Palembang • Surabaya • SEMUA RUBRIK • TERPOPULER • TERBARU • PILIHAN EDITOR • TOPIK PILIHAN • K-REWARDS • KLASMITING NEW • EVENT Hukum "Tabur-Tuai" adalah sebuah hukum yang dikenal di dalam kekristenan.

Hukum ini sudah disuarakan, bahkan dari zaman Perjanjian Lama (SEBELUM MASEHI).

hukum tabur tuai adalah

"Orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana" (Amsal 22:8a). Atau di dalam Perjanjian Baru, Galatia 6:7 "Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Prinsip yang sering disamakan dengan karma ini, juga bisa dilihat secara universal--dengan mengabaikan prinsip teologis tentunya! Hal ini dapat kita jabarkan dengan sederhana, dengan apa yang kita alami dalam keseharian. Dalam kondisi normal, seorang yang menanam padi, pada akhirnya akan menuai padi, bukan gandum, apalagi berlian!

Dalam kondisi normal, seorang yang memelihara ikan di kolam, pada akhirnya akan panen ikan, bukan panen udang. Atau, orang yang melompat akan naik sedangkan orang yang terjun akan turun.

Dan seterusnya.

hukum tabur tuai adalah

Jika yang terjadi adalah sebaliknya, kemungkinan akan disebut dengan dua nama, yaitu "keajaiban" atau "kemustahilan." Dalam ilmu fisika, ada aksi maka ada reaksi.

Dalam ilmu ekonomi, kita mengenal istilah utang dan piutang. Hukum tabur tuai adalah logika kebahasaan, ada sebab dan ada akibat. Segala sesuatu akan berdampak secara normal, dalam hubungan sebab-akibat yang mengikuti kelaziman.

Logika sebab-akibat inilah yang biasanya digunakan oleh manusia untuk melakukan setiap tindakan di dalam hidupnya. Hasil analisis yang dilakukan sepanjang hidup, bahkan sudah dimulai sejak manusia dilahirkan. Seorang bayi yang menangis akan segera didatangi oleh ibu atau pengasuhnya.

Sang ibu atau pengasuh akan segera mengganti popok, memberi susu, atau menggendong si bayi hingga tangisannya berhenti. Sang bayi dalam hal ini tidak memiliki pengetahuan tentang arti tangis. Akan tetapi, pengalamanlah yang mengajarkannya bahwa jika ia menangis, akan ada seseorang yang datang dan memberinya minum, mengganti popok, atau mengangkatnya ke dalam gendongan. Pengalaman ini melewati proses penalaran yang menghasilkan sebuah tindakan.

Jika berikutnya si bayi merasa lapar atau tidak nyaman karena popoknya yang basah, atau karena hal lain, ia akhirnya akan memutuskan untuk menangis. Judul tulisan ini bukanlah typo atau salah ketik. Inilah prinsip yang justru menjiwai iman kekristenan, yaitu prinsip tuai -- tabur. Bukan bermaksud mengubah isi Alkitab, tulisan ini justru ingin mengajak kita melihat prinsip lain yang ternyata berjalan "seiring" dengan hukum "Tabur-Tuai." Prinsip ini bukan tanpa dasar. Prinsip ini sama logisnya dengan prinsip atau hukum "tabur-tuai" yang selam ini sudah kita kenal.

Ketika kita menabur benih padi di sawah, kita akan bekerja dengan keras, menjaga tanah dan ketersediaan air, serta menjaga tanaman kita dari berbagai hal yang mungkin akan mengakibatkan gagal panen. Setelah padi mulai tumbuh, kita masih terus bekerja, menghindarkan padi dari hama, gulma, dan binatang-binatang pengganggu.

Setelah mendekati masa panen, kita terus bekerja untuk menjaganya, termasuk menjaga dari kemungkinan pencurian. Kita melakukan semua itu karena kita tentunya berharap bahwa pada saatnya nanti, kerja keras kita tersebut membuahkan hasil, yaitu panen padi.

Seorang pekerja akan melakukan pekerjaannya karena ia mengharapkan imbalan yang setimpal. Jika ingin imbalan yang lebih, berarti sang pekerja pun harus bekerja lebih (baca: lembur). Datang tepat waktu, bekerja sesuai hukum tabur tuai adalah yang dibuat perusahaan, bahkan berpenampilan sesuai tuntutan perusahaan. Jika tidak terlalu menginginkan imbalan, sang pekerja juga bisa memilih untuk tidak bekerja dan menerima risiko pemotongan atau pengurangan upah yang akan diterima, atau bahkan pemberhentian.

Akan tetapi, prinsip hidup kekristenan tidak demikian---meskipun di beberapa bagian Alkitab dituliskan bahwa kita adalah kawan sekerja Allah. Seorang pengikut Kristus, hukum tabur tuai adalah untuk mengikut Kristus, bukan karena mengharapkan imbalan apapun. Kalau hanya imbalan yang diharapkan, para misionaris yang mempertaruhkan nyawanya untuk melakukan penginjilan ke hukum tabur tuai adalah yang belum pernah mereka datangi dan tidak ada jaminan keselamatan, tentu tidak akan dijalani. Apa yang lebih berharga bagi manusia selain nyawanya?
Pembahasan tema “Kita menuai dari apa yang kita tabur” (What we sow, what we reap) mengesankan suatu pembahasan yang mengarah kepada konsep hukum karma yang umumnya dihayati oleh umat Hindu atau Budha.

Sebab bukankah hanya agama Hindu atau juga Budha yang sangat terkenal dengan hukum karma? Sebab karma dalam agama Hindu dihayati sebagai: “The total effect of a person’s actions and conduct during the successive phases of the person’s existence, regarded as determining the person’s destiny, especially, in his next incarnation”.

Hukum karma dipahami sebagai suatu akibat menyeluruh dari seluruh dan perbuatan seseorang yang dilakukan selama hidupnya, yang mana hasil dari perbuatannya tersebut akan menentukan nasib dirinya khususnya dalam inkarnasi pada kehidupan seseorang di masa mendatang. Mungkin itu sebabnya selaku orang Kristen jarang mengulas hukum “tabur-tuai” karena dengan tegas iman Kristen menyatakan bahwa tidak ada inkarnasi pada masa mendatang setelah seseorang meninggal.

Dalam konteks ini iman Kristen memang tidak sejalan dengan ajaran hukum tabur tuai adalah Hindu atau Budha soal kehidupan di masa mendatang. Sebab dalam iman Kristen setelah kematian, seseorang tidak mengalami inkarnasi (kelahiran kembali) lagi, tetapi dia harus mempertanggungjawabkan di hadapan pengadilan Allah atas apa yang telah dia lakukan dan imani sepanjang dia hidup. Sebaliknya agama Hindu atau Budha umumnya berpikir secara siklis, yang mana kehidupan seseorang di masa kini menentukan kualitas inkarnasinya di masa mendatang.

Tetapi bagaimana sikap iman Kristen dan sikap agama Hindu atau agama-agama lain dengan hukum “apa yang kita tabur itulah yang akan kita tuai”? Hukum tabur tuai adalah hukum “tabur-tuai” merupakan hukum yang telah dikenal secara umum dan alamiah dalam kehidupan ini. Lima puluh tahun sebelum Kristus lahir, hukum tabur tuai adalah filsuf bangsa Romawi yaitu Marcus T.

Cicero, berkata, “As you have sown so shall you reap” (sebagaimana kamu telah menabur, demikian pula kamu akan menuainya). Alam juga mengajarkan hal yang sama. Kita hanya menuai buah mangga ketika kita menabur benih atau biji buah mangga, dan tidak mungkin kita menuai buah yang lain. Hukum Tabur-Tuai Di Alkitab Manakala kita memperhatikan dengan cermat beberapa bagian dari ayat-ayat Alkitab, kita juga menjumpai ide yang hampir senada.

Di II Kor. 9:6 rasul Paulus berkata: “Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga”. Dalam hal ini rasul Paulus menempatkan hukum “tabur-tuai” dalam konteks bagaimana jemaat Makedonia yang tetap menunjukkan kemurahan hati dan kasih mereka walaupun mereka saat itu sedang menghadapi kekurangan dan kemiskinan. Atas dasar itu rasul Paulus mengharapkan pula kemurahan hati jemaat di Korintus untuk ambil bagian secara tulus dalam pekerjaan Tuhan.

Juga di Gal. 6:7 hukum tabur tuai adalah Paulus berkata: “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diriNya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu”.

Di surat Galatia ini, rasul Paulus dengan tegas menyatakan bahwa Allah akan menghukum setiap orang menurut tindakan atau perbuatannya. Apabila orang tersebut menabur dalam hidup ini berbagai hawa-nafsu dan keinginan duniawi, maka dia juga akan menuai kebinasaan; sebaliknya apabila seseorang menabur dalam keinginan Roh, maka dia akan menuai hidup yang kekal.

Dari ayat-ayat Alkitab tersebut sangat jelas bahwa hukum “tabur-tuai” bukanlah konsep Hinduisme atau suatu agama tertentu. Tetapi konsep hukum “tabur-tuai” sebenarnya juga telah diberlakukan dalam Alkitab sejak awal.

Bahkan Allah yang bernama Yahweh adalah Allah yang cemburu, sehingga Dia akan menghukum setiap orang yang beribadah atau menyembah kepada illah lain.

Perhatikan Kel. 20:5-6, Allah berfirman: “Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku”. Yahweh yang penuh anugerah dan kasih itu juga Allah yang dapat membalas kesalahan dan dosa kepada umatNya dengan hukuman yang begitu berat apabila mereka menyimpang dari kehendakNya.

Kecenderungan umat Kristen adalah terlalu sering hanya menekankan segi kerahiman Allah, yaitu kasih-karunia dan anugerah pengampunanNya, sehingga kita kurang memberikan tempat yang proporsional kepada pembalasan atau hukuman Allah yang lahir dari keadilanNya. Itu sebabnya kita hanya mengedepankan anugerah Allah yang begitu agung sehingga Dia bersedia membenarkan umat yang berdosa karena iman kepada Kristus.

Tetapi pada sisi lain kita masih kurang memperhatikan segi tanggungjawab manusia dalam menyikapi anugerah pengampunan yang dikaruniakan di dalam iman kepada Kristus.

Karena kita terlalu menekankan anugerah Allah yang begitu agung dengan mengabaikan keadilan dan kekudusanNya, maka tidak mengherankan jikalau banyak orang Kristen kemudian menempatkan makna anugerah Allah tersebut menjadi anugerah yang murah (the cheap grace).

Akibatnya mereka kurang menunjukkan sikap tanggungjawab yang optimal dan serius terhadap anugerah Allah yang telah berkenan membenarkan mereka dalam iman kepada Kristus.

Fenomena ini menunjukkan telah terjadi suatu kesalahpahaman yang sangat besar terhadap makna anugerah pengampunan Allah di dalam Kristus. Anugerah Allah justru dipertentangkan dengan tanggungjawab perbuatan manusia. Padahal seharusnya makna anugerah Allah menjadi nyata dan efektif ketika diwujudkan tanggungjawab perbuatan; dan pada pihak lain tanggungawab perbuatan menjadi berarti dan benar di hadapan Allah ketika didasari oleh kuasa anugerah Allah yang menyelamatkan. Sehingga sangatlah tepat ketika rasul Yakobus berkata: “Sebab sama seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yak.

2:26). Hukum Tabur-Tuai Sebagai Sikap Etis Tanggungjawab Manusia Hukum “tabur-tuai” menjadi tidak Alkitabiah atau bertentangan dengan iman Kristen ketika hukum “tabur-tuai” dihayati sebagai jalan keselamatan untuk memperoleh hidup yang kekal.

Dengan pemahaman tersebut orang-orang akan berlomba-lomba untuk menabur berbagai perbuatan baik, kebajikan, amal, ibadah dan berbagai hal yang mulia dengan tujuan untuk memperoleh pahala atau dapat menuai keselamatan dari Allah. Makna perbuatan baik (menabur hal-hal yang baik) pada akhirnya hanya dijadikan oleh manusia sebagai sarana untuk mencapai suatu tujuan (menuai hal-hal yang baik) bagi kepentingan dirinya sendiri. Dengan perkataan lain, orang melakukan perbuatan baik atau hukum tabur tuai adalah yang baik karena dia takut menerima atau menuai karma yang buruk.

Itu sebabnya mereka mencoba dan berjuang untuk mengumpulkan berbagai perbuatan baik sebagai pahala agar mereka dapat berkenan di hadapan Allah. Namun satu hal yang sangat prinsip sering dilupakan oleh manusia, yaitu bahwa hakikat dan kodrat manusia telah jatuh di bawah kuasa dosa. Sehingga manusia di hadapan Allah pada hakikatnya tidak mampu berbuat benar, walaupun mungkin dia mampu berbuat baik atau melakukan banyak amal di hadapan sesamanya. Dengan perkataan lain, dalam iman Kristen sebenarnya manusia tidak mungkin mampu menyelamatkan dirinya melalui perbuatan baik dan berbagai kebajikan yang dia lakukan.

Status keberdosaan manusia telah menjadikan kita lumpuh, najis, dan tidak berdaya untuk berkenan di hadapan Allah. Itu sebabnya seluruh umat manusia hukum tabur tuai adalah Juru-selamat, yang telah hadir di dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Melalui iman kepada Kristus, kita yang gagal, lemah, najis dan berdosa dibenarkan serta diampuni oleh Allah.

Jika demikian, bagaimanakah kita selaku orang percaya menyikapi hukum “tabur-tuai”? Sejauh hukum “tabur-tuai” dihayati sebagai bentuk tanggungjawab manusia beriman kepada anugerah pengampunan Allah yang menyelamatkan, sesungguhnya hukum “tabur-tuai” dapat memberikan landasan etis yang kokoh agar kita makin bijaksana dalam menyikapi makna dan tujuan kehidupan ini.

Pepatah mengatakan: “ Sow a thought you reap an act. Sow an act, you reap a habit. Sow a habit, you reap a character. Sow a character, you reap a consequence” (taburlah gagasan maka kamu akan menabur tindakan. Taburlah tindakan maka kamu akan menabur kebiasaan. Taburlah kebiasaan, maka kamu akan menabur karakter. Taburlah karakter maka kamu akan menabur nasib).

Sesungguhnya dalam kehidupan ini kita seperti seorang yang sedang merajut serat-serat dari kabel-kabel kehidupan, sehingga ketika serat-serat dari kabel-kabel itu menjadi jalinan yang kokoh maka kita tidak mampu untuk memutuskannya. Itu sebabnya ketika “kabel-kabel keburukan” yang kita rajut menjadi semakin kuat, maka kita tidak akan mampu untuk memutuskan sampai akhir hayat hidup kita.

Tetapi sebaliknya ketika kita merajut serat-serat dari “kabel-kabel kebenaran dan kebaikan” maka dalam kepribadian kita akan terbentuk suatu nilai diri yang mulia dan tidak mudah dipatahkan oleh lingkungan yang buruk dan tidak kondusif. Dengan demikian kualitas diri kita sebenarnya terbentuk dalam proses kehidupan yang sangat panjang, yaitu apakah kepribadian kita benar-benar terbentuk secara murni dari hukum “tabur-tuai” yang positif, ataukah hukum “tabur-tuai” yang buruk; atau mungkin campuran dari hukum “tabur-tuai” yang baik dan buruk.

Realita hidup menunjukkan bahwa umat manusia hanya berada dalam kemungkinan hukum “tabur-tuai” yang buruk” dan hukum “tabur-tuai” campuran dari yang baik dan yang buruk. Sebab tidak ada seorangpun yang mampu berbuat baik dan benar sejak dia lahir sampai akhir hidupnya, kecuali satu pribadi bernama Yesus Kristus.

Karena itu oleh malaikat Allah, Yesus disebut: “kudus, Anak Allah” (Luk. 1:35). Surat Ibrani juga menyatakan tentang diri Kristus, yaitu: “Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (Ibr. 4:15). Sehingga dengan iman kepada Kristus, kita dilayakkan dan dibenarkan di hadapan Allah karena pengorbanan diriNya. Kita juga dikaruniakan oleh kuasa Roh Kudus untuk mematahkan serat-serat kuasa dosa yang telah melilit dan membelenggu kehidupan kita begitu kuat, sehingga kita dimampukan untuk hidup sebagai ciptaan baru, yaitu sebagai anak-anak Allah.

Hukum “Tabur-Tuai” Dalam Ciptaan Baru Manakala kita hidup dalam prinsip hukum “tabur-tuai” menurut pola dan ukuran dari dunia ini, maka kehidupan kita saat ini hanya merupakan rangkaian pembalasan dari berbagai perbuatan buruk dan jahat dari nenek-moyang kita.

Para leluhur kita sebagai manusia secara faktual teologis dan moral telah melakukan begitu banyak hal yang buruk, dan kita semua mewarisi pula berbagai sifat dan karakter yang buruk tersebut. Kemudian kita mewariskan DNA kita pula kepada anak-anak kita, lalu diwariskan pula kepada para cucu sampai kepada generasi mendatang. Dengan pola pewarisan sifat, karakter atau DNA manusia turun-temurun maka kehidupan manusia akan terus terjebak kepada hukuman dan pembalasan Allah yang tiada habis-habisnya.

Siapakah di antara kita yang dapat mengklaim memiliki DNA yang baik dan unggul? Rasul Paulus berkata: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rom. 3:23). Apabila kehidupan ini hanya ditentukan oleh situasi keberdosaan manusia, maka kita semua dalam kehidupan saat ini dan selanjutnya hanya dapat memetik dan menuai hukuman/murka Allah.

Dalam keadilan dan kekudusanNya, Allah akan memberi pembalasan dan hukuman terhadap segala hal yang telah dituai oleh umat manusia. Sebab semua orang telah gagal melakukan atau menabur apa yang baik dan benar serta berkenan di hadapan Allah; sehingga semua orang hanya menuai apa yang telah dia tabur. Melalui berbagai agama, Allah berkenan menyatakan kehendak dan firmanNya agar manusia dapat melepaskan diri dari kuasa dosa.

Namun firman Allah yang diwahyukan kepada agama-agama yang ada sepanjang zaman telah terbentur oleh tembok yang kokoh, yaitu suatu kenyataan teologis, yaitu bahwa semua manusia berada di bawah kuasa dosa; sehingga tidak ada seorangpun yang mampu melakukan firman Allah tersebut.

Hidup manusia akan tetap berada dalam lingkaran hukum “tabur-tuai” yang mana manusia hanya menuai hal-hal yang buruk karena manusia selalu menabur hal-hal yang buruk dan jahat. Itu sebabnya Allah pada akhirnya memilih cara yang khusus dan unik, yaitu dengan mengaruniakan Kristus agar kita dibenarkan oleh kehidupan dan kematianNya.

Surat Ibrani berkata: “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan naabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan AnakNya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada” (Ibr.

1:1-2). Jadi dengan pengorbanan dan kematian Kristus di atas kayu salib, Allah secara definitif telah mematahkan “karma” dari hukum “tabur-tuai” agar manusia dapat hidup dalam damai-sejahtera dengan Allah dan dengan sesama serta dirinya. Melalui Kristus, Allah telah menyediakan keselamatan kepada setiap orang agar mereka dapat hidup sebagai ciptaan yang baru. Rasul Paulus berkata: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (II Kor.

5:17). Jadi iman kepada Kristus seharusnya ditandai oleh sikap pertobatan sebagai transformasi spiritualitas dan kehidupan yang baru. Transformasi spiritualitas hidup tersebut bagi orang yang percaya bukan hanya sebagai suatu kemungkinan tetapi diimani sebagai suatu jaminan, bahwa di dalam Kristus kita dimampukan untuk menjadi ciptaan baru.

Rahasia kekuatan dari transformasi spiritualitas ciptaan baru tersebut terletak pada realita teologis dan iman yaitu bahwa Kristus telah menebus kita dari cara hukum tabur tuai adalah kita yang sia-sia yaitu cara hidup yang telah kita warisi dari nenek-moyang kita. Makna dari penebusan Kristus adalah bahwa Dia telah ditetapkan oleh Allah untuk menggantikan atau menebus segenap dosa termasuk pula dosa warisan yang tidak mampu kita pikul dengan kekuatan kita sendiri.

Sehingga ketika kita ditebus oleh kematian Kristus, sesungguhnya segenap dosa warisan dari nenek-moyang kita telah dipatahkan oleh Kristus; sehingga dalam perjalanan hidup ke depan kita tidak lagi memikul beban dosa yang begitu berat. Itu sebabnya penulis surat Petrus berkata: “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat” (I Petr.

1:18-19). Dengan demikian iman Kristen menempatkan pengorbanan dan kematian Kristus sebagai penentu keselamatan yang definitif bagi seluruh umat manusia. Sebab tanpa darah dan kematian Kristus, umat manusia akan tetap terus memikul segenap dosa warisan dari nenek-moyang mereka sehingga tidak tersedia kemungkinan bagi umat manusia untuk memperoleh keselamatan dari Allah.

Perspektif Yang Baru Dari “Hukum Tabur-Tuai” Kristus adalah sumber dan kekuatan dari transformasi hidup, sehingga dengan hidup di dalam Kristus, kita dikaruniakan memiliki perspektif yang baru untuk menyikapi kehidupan ini secara lebih arif dan benar.

Melalui kematianNya, kita telah dibebaskan dari kutuk dosa sehingga kita dipulihkan dan dijadikan sebagai anak-anak Allah.

Anugerah keselamatan dari Allah ini menjadi titik balik yang menentukan sehingga kita tidak lagi menghabiskan enersi spiritualitas, akali-budi, dan kekuatan manusiawi yang ada untuk berdamai dan berkenan di hadapan Allah. Tetapi di dalam Kristus, kita dibimbing dan dimampukan oleh kuasa anugerah Allah untuk hidup yang baru. Itu sebabnya rasul Paulus berkata: “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Ef.

2:8-9). Namun apakah setelah itu kita boleh menyerahkan segala kewajiban dan tanggungjawab etis kita kepada Kristus? Pertanyaan tersebut perlu direnungkan secara mendalam dan serius, karena begitu banyak orang Kristen yang terlalu mudah berkata bahwa “Kristuslah yang akan menentukan kehidupan mereka” atau mereka gampang berkata: “kini kami hidup dengan anugerah keselamatan dari Kristus” tetapi dengan pengertian: mereka ingin melepaskan diri tanggungjawab etis dengan melalaikan makna hukum “tabur-tuai” secara etis!

Memang di Ef. 2:8-9 rasul Paulus menyatakan bahwa kita diselamatkan karena kasih karunia Allah yang terjadi bukan karena hasil usaha dan pekerjaan kita. Namun buah keselamatan dari anugerah Allah tersebut kemudian dinyatakan oleh rasul Paulus pada ayat berikutnya, yaitu: “ Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya.

Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Ef. 2:10). Jadi dalam Ef. 2:10, rasul Paulus menegaskan bahwa setelah kita menerima anugerah keselamatan dari Allah yang telah dikerjakan oleh Kristus, maka kini kita wajib untuk melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya. Jadi setiap orang Kristen pada hakikatnya tetap terikat oleh hukum “tabur-tuai” yaitu apakah mereka menabur hal-hal yang benar dan mulia sebagai respon mereka terhadap anugerah keselamatan Allah; ataukah sebaliknya justru mereka menabur hal-hal yang buruk dan jahat karena mereka sama sekali tidak menghargai anugerah keselamatan Allah.

Manakala mereka menyadari dirinya sebagai buatan atau ciptaan Allah yang baru, maka mereka akan merajut setiap serat kebenaran firman dan hikmat Allah agar terbentuk suatu pola hidup iman yang makin sehat dan menjadi berkat bagi sesamanya.

Kepada mereka yang telah memiliki spiritualitas diri sebagai ciptaan baru yang diwujudkan dengan melakukan berbagai pekerjaan baik, maka pastilah mereka juga akan menuai hal-hal yang benar dan mulia. Tetapi kepada mereka yang hanya menjadikan kekristenan sekedar suatu predikat atau simbol belaka hukum tabur tuai adalah disertai tindakan dan perbuatan yang seharusnya, maka mereka juga akan menuai dari apa yang telah mereka tabur.

Dengan demikian nama atau label “kekristenan” yang dinyatakan dalam sakramen baptis-sidi tidak secara otomatis menyelamatkan apabila tidak disertai oleh perbuatan sebagai manifestasi dari tanggungjwab imannya. Itu sebabnya Tuhan Yesus berkata: “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga” (Mat.

hukum tabur tuai adalah

7:21). Hukum “tabur-tuai” tetap berlaku bagi setiap umat Kristen. Bahkan hukum “tabur-tuai” menjadi lebih dituntut secara kualitatif etis kepada umat Kristen, karena mereka telah menerima anugerah keselamatan Allah melalui pengorbanan Kristus.

Ibr. 10:26-27 berkata: “Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu.

Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka”. Jadi tidaklah benar ajaran yang menyatakan bahwa setiap orang Kristen hukum tabur tuai adalah diselamatkan! Pernyataan tersebut sangat berbahaya dan menyesatkan, sebab selain tidak bersikap realistis terhadap perilaku buruk/jahat dari oknum-oknum yang beragama Kristen; pernyataan tersebut juga tidak memberi motivasi yang sehat dan menyadarkan umat untuk sungguh-sungguh melaksanakan tanggungjwab etis dan imannya secara konkrit.

Namun kepada setiap orang Kristen yang hidup secara berkualitas, dan memiliki spiritualitas serta integritas yang tinggi dan etis sebagaimana yang diajarkan oleh Kristus, maka pastilah mereka akan memperoleh keselamatan dan hidup yang kekal. Padahal di sinilah tuntutan Kristus yang paling berat. Sebab makna hukum “tabur-tuai” tidak lagi dihayati sebagai rangkaian perbuatan dan akibatnya secara lahiriah hukum tabur tuai adalah ritual keagamaan belaka.

Orang Kristen tidak hanya dituntut untuk melakukan kehendak Allah sebagaimana yang diperintahkan dalam Sepuluh Firman, tetapi mereka juga dituntut sempurna secara batiniah dalam spiritualitas mereka. Dalam hal ini kita diajar oleh Tuhan Yesus agar tidak melakukan kekerasan fisik, tetapi juga kita dilarang oleh Tuhan Yesus untuk marah dan berkata-kata yang jahat sebab dianggap sama dengan tindakan membunuh.

Tuhan Yesus berkata: “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata keapdamu: setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir!

harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala” (Mat. 5:21-22). Perspektif yang baru dari Kristus tentang hukum “tabur-tuai” adalah terletak pada kecermatan Kristus terhadap sumber yang terdalam dari hati manusia, yang mana dalam sumber mental tersebut terletak seluruh akar dari berbagai perbuatan jahat.

Itu sebabnya setiap orang Kristen dipanggil untuk selalu hidup cermat, jeli, kritis dan mengutamakan segi kedalaman serta kematangan spiritualitasnya agar hidup mereka dapat terus-menerus diterangi oleh Roh Kudus. Sebab apabila mereka hanya benar melakukan tuntutan firman Allah secara fisik, mereka masih harus diadili oleh Allah karena belum melakukan tuntutan firman Allah secara rohaniah sebagaimana yang telah diajarkan dan diteladani oleh Tuhan Yesus Kristus.

Filosofi Hidup Tentang Tabur Tuai




2022 www.videocon.com