Contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah

contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah

MENU • Home • SMP • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • IPS • IPA • SMA • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • IPA • Biologi • Fisika • Kimia • IPS • Ekonomi • Sejarah • Geografi • Sosiologi • SMK • S1 • PSIT • PPB • PTI • E-Bisnis • UKPL • Basis Data • Manajemen • Riset Operasi • Sistem Operasi • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • Agama • Bahasa Indonesia • Matematika • S2 • Umum • (About Me) 3.8.

Sebarkan ini: Dalam masa demokrasi parlementer kabinet jatuh bangun dalam tenggang waktu relatif singkat dan ini berakibat pada instabilitas pemerintahan. Keadaan ini mencerminkan “kekurang mampuan” pelaku-pelaku utama demokrasi dalam mengalola pemerintahan negara yang barangkali karena miskinnya pengalaman dan terpolarisasinya masyarakat dalam kelompok-kelompok ideologis politis yang kuat.

Tidak ada satu kabinet pun dalam masa demokrasi parlementer ini mampu memberi jaminan untuk dapat melaksanakan fungsi-fungsi pelayanan dan pembangunan masyarakat secara memadai, serta fungsi memelihara persatuan bangsa. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Sejarah BPUPKI : Pengertian, Anggota, Tugas, Sidang, Dan Tujuan Barangkali pertimbangan-pertimbangan praktikal dan moral dan kenyataan berlarutnya sidang konstituante untuk menetapkan UUD, menjadi alasan bagi Presiden Soekarno untuk mengusulkan rencana tentang pelaksanaan “demokrasi terpimpin” dalam rangka kembali ke UUD 1945.

Serta mengajukan “konsepsi Presiden” tanggal 22 Februari 1957, yang kemudian berturut turut diikuti langkah Presiden menyatakan “keadaan darurat nasional” tanggal 14 maret 1957, membentuk kabinet “Gotong Royong” tanggal 9 April 1957, mengajukan usul kepada konstituante untuk kembali ke UUD 1945 tanggal 22 April 1957 dan akhirnya mengeluarkan dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959.

Selain itu adanya keinginan Soekarno untuk mempunyai kekuasaan yang lebih besar. Undang-Undang Dasar yang berlaku di Indonesia secara langsung telah membatasi kekuasaan Presiden Soekarno. Munculnya militer terutama Angkatan Darat di bawah pimpinan KSAD Abdul Haris Nasution, yang mempunyai kemahiran dalam politikmereka tidak hanya dijadikan alat, tetapi menginginkan perwakilan tetap dalam lembaga pemerintahan.

Melihat ketegangan politik pada masa demokrasi liberal, Nasution mengusulkan suatu penyelesaian yaitu kembali ke UUD 1945, Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Isi Tritura : Latar Belakang Tritura, Tokoh, Tujuan, Dampak, Aksi Bahkan Soekarno merasa takut bahwa usulan ini merupakan suatu cara untuk menciptakan suatu sistem yang di dalam kenyataanya tentaralah yang akan berkuasa.

Pada saat itu telah disepakati bahwa angkatan bersenjata sendiri merupakan golongan fungsional, sehingga percekcokan-percekcokan yang panjang meliputi persoalan tentang apakah proporsi diri setiap badan perwakilan baru harus terdiri atas golongan-golongan semacam itu.

Nasution menginginkan tentara bebas dari campur tangan partai politik, tetapi terwakili secara langsung di segala tingkat pemerintahan melalui golongan fungsional militer.

Pada bulan November 1958 Nasution merumuskan usulan ini sebagi doktrin jalan tengah; dimana tentara tidak akan disisihkan dari aturan aturan politik atau tidak akan mengambil alih pemerintahan. Dengan perasaan yang cemas atas kekuasaan Nasution. Akhirnya Soekarno menerima usul Nasution itu.

Pada tanggal 5 Juli 1959. Soekarno membubarkan Majelis Konstituante dan memberlakukan kembali Undang-Undang Dasar yang lama. Pada tanggal 9 Juli 1959 diumumkan suatu “Kabinet Kerja” dengan Soekarno sebagai Perdana Menteri dan Djuanda sebagai menteri utama.

Pada bulan Juli itu juga lembaga-lembaga demokrasi terpimpin pun diumumkan, Dewan Nasional dibubarkan dan dibentuk dewan Pertimbangan Agung. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Sejarah PPKI : Pengertian, Tugas, Anggota, Sidang Lengkap Faktor lain yang melatar belakangi munculnya dekrit Presiden adalah kegagalan konstituante dalam menetapkan UUD 1945 sebagai pengganti UUDS 1950. Konstituante merupakan badan yang bertugas untuk membuat UUD (konstituante).

Di dalam konstituante terdapat tiga kelompok yang berbeda prinsip, yaitu : • Golongan islam yang menghendaki dasar negara Islam • Golongan nasionalis yang menghendaki dasar negara pancasila • Golongan komunis yang menghendaki dasar negara komunis (Suprapto, 1985:200) Prinsip ketiga kelompok ini sulit untuk dikompromikan, sehingga sidang konstituante untuk menetapkan UUD mengalami jalan buntu.

Dalam amanatnya tanggal 22 April 1959 di depan sidang konstituante, Presiden Soekarno mengharapkan agar kembali kepada UUD 1945. Tentu saja anjuran Presiden ini ada yang setuju dan ada pula yang tidak menyetujuinya. Untuk itu harus diadakan permusyawaratan dalam konstituante guna mendapatkan suatu mufakat. Tetapi hal ini berkali kali dijalankan tanpa hasil yang memuaskan. Satu satunya jalan ialah pemungutan suara untuk mengetahui anggota yang setuju dan anggota yang tidak setuju.

Pada tanggal 30 mei 1959 diadakan pemungutan suara (voting). Dari 468 anggota yang hadir, yang setuju kembali ke UUD 1945 adalah 269 orang dan yang tidak setuju ada 199 orang, hasil ini belum memenuhi syarat. Pemungutan suara seperti ini diadakan sampai tiga kali, meskipun angkanya tidak sama namun hasilnya tetap tidak memenuhi persyaratan dalam menentukan keputusan. Keadaan bertambah sulit, karena anggota konstituante sudah menjalani masa reses, dan sulit untuk dikumpulkan.

Ditambah lagi sudah banyak anggota konstituante yang malas untuk datang menghadiri sidang. Keadaan seperti ini akan membawa kepada situasi dan kondisi yang tidak menentu. Sebagai akhir kemelut ini Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit tanggal 5 Juli 1959 yang terkenal dengan nama “dekrit presiden”.

Yang isinya menetapkan : • Pembubaran konstituante • Tidak berlakunya UUDS 1950 • Berlakunya kembali UUD 1945 • Pembentukan MPRS dan DPAS dalam waktu yang singkat. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Isi Trikora ( Tri Komando Rakyat ) : Tujuan, Latar Belakang, Sejarah Awal Hingga Akhir Namun demikian, dekrit presiden ini sudah memenuhi syarat-syarat suatu dekrit, karena : • Dikeluarkan oleh penguasa tertinggi yaitu Presiden Soekarno • Secara sepihak yaitu menurut kehendak dari Presiden sendiri tanpa ada suatu musyawarah atau persetujuan terlebih dulu dari lembaga legislative • Demi keselamatan bangsa dan negara Isi Dekrit Presiden 5 Juli 1959 Isi dari Dekrit Presiden tersebut diatas dapat disimpulkan antara lain : • Pembubaran Konstituante • Pemberlakuan kembali UUD ’45 dan tidak berlakunya UUDS 1950 • Pembentukan MPRS dan DPAS dalam waktu contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah sesingkat-singkatnya Bunyi Isi Dekrit Presiden Lengkap Pada 5 Juli 1959 pukul 17.00 WIB, Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit yang diumumkan dalam upacara resmi di Istana Merdeka.

Isi Dekrit Presiden tersebut secara lengkap adalah : DEKRIT PRESIDEN Dengan Rachmat Tuhan Yang Maha Esa, KAMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA/PANGLIMA TERTINGGI ANGKATAN PERANG, Dengan ini menyatakan dengan khidmat : Bahwa anjuran Presiden dan Pemerintah untuk kembali kepada Undang-Undang Dasar 1945 yang disampaikan kepada segenap rakyat Indonesia dengan amanat Presiden pada tanggal 22 April 1959 tidak memperoleh keputusan dari Konstituante sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang Dasar Sementara; Bahwa berhubung dengan pernyataan sebagian besar anggota-anggota Sidang Pembuat Undang-Undang Dasar untuk tidak lagi menghadiri siding.

Konstituante tidak mungkin lagi menyelesaikan tugas yang dipercayakan oleh rakyat kepadanya; Bahwa hal yang demikian menimbulkan keadaan keadaan ketatanegaraan yang membahayakan persatuan dan keselamatan Negara, Nusa, dan Bangsa, serta merintangi pembangunan semesta untuk mencapai masyarakat yang adil makmur; Bahwa dengan dukungan bagian terbesar rakyat Indonesia dan didorong oleh keyakinan kami sendiri, kami terpaksa menempuh satu-satunya jalan untuk menyelamatkan Negara Proklamasi; Bahwa kami berkeyakinan bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai Undang-Undang Dasar 1945 dan adlah merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan Konstitusi tersebut, Maka atas dasar-dasar tersebut di atas, KAMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA/PANGLIMA TERTINGGI ANGKATAN PERANG, Menetapkan pembubaran Konstituante; Menetapkan Undang-Undang Dasar 1945 berlaku lagfi bagi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia terhitung mulai hari tanggal penetapan dekrit ini dan tidak berlakunya lagi Undang-Undang Dasar Sementara.

Pembentukan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara, yang terdiri atas anggota-anggota Dewan Perwakilan Rakyat ditambah dengan utusan dari daerah-daerah dan golongan-golongan serta pembentukan Dewan Pertimbangan Agung Sementara akan diselenggarakan dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Ditetapkan di : Jakarta pada tanggal 5 Juli 1959. Atas nama Rakyat Indonesia Presiden Republik Indonesia/Panglima Tertinggi Angkatan Perang SOEKARNO Isi dan Penjelasan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 Penjelasan Dekrit Preisden (5 Juli 1959), Pada Pemilu I tahun 1955 rakyat selain memilih anggota DPR juga memilih anggota badan Konstituante.

Badan Ini bertugas menyusun Undang-Undang Dasar sebab ketika Indonesia kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia sejak tahun 1950 menggunakan Undang-Undang Dasar Sementara (1950). Sejak itu pula di negara kita diterapkan Demokrasi Liberal dengan sistem Kabinet Parlementer. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Peristiwa Rengasdengklok Lengkap Hingga Proklamasi Kemerdekaan Pertentangan antarpartai politik seringkali terjadi.

Situasi politik dalam negeri tidak stabil dan di daerah-daerah mengalami kegoncangan karena berdirinya berbagai dewan, seperti Dewan Manguni di Sulawesi Utara, Dewan Gajah di Sumatera Utara, Dewan Banteng di Sumatera Tengah, Dewan Garuda di Sumatera Selatan, Dewan Lambung Mangkurat di Kalimantan Selatan yang kemudian menjadi gerakan yang ingin memisahkan diri Karena keadaan politik yang tidak stabil maka Presiden Soekarno pada tanggal 21 Februari 1957 mengemukakan konsepnya yang terkenal dengan “Konsepsi Presiden” yang isinya antara lain sebagai berikut: Isi Konsepsi Presiden • Sistem Demokrasi Liberal akan diganti dengan Demokrasi Terpimpin.

• Akan dibentuk “Kabinet Gotong Royong”, yang menteri-menteriflya terdiri atas orang-orang dan empat partai besar (PNI, Masyumi, NU, dan PKI). • Pembentukan Dewan Nasional yang terdiri atas golongan-golongan fungsional dalam masyarakat. Dewan mi bertugas memberi nasihat kepada kabinet baik diminta maupun tidak. Partai-partai Masyumi, NU, PSII, Katholik, dan PRI menolak konsepsi ini dan berpenadapat bahwa merubah susunan ketatanegaraan secara radikal harus diserahkan kepada konstituante.

Karena keadaan politik semakin hangat maka Presiden Soekarno mengumumkan Keadaan Darurat Perang bagi seluruh wilayah Indonesia. Gerakan-gerakan di daerah kemudian memuncak dengan pemberontakan PRRI dan Permesta. Setelah keadaan aman maka Konstituante mulai bersidang untuk menyusun Undang-Undang Dasar. Sidang Konstituante in berlangsung sampai beberapa kali yang memakan waktu kurang lebih tiga tahun, yakni sejak sidang pertama di Bandung tanggal 10 November 1956 sampai akhir tahun 1958.

Akan tetapi contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah tersebut tidak membuahkan hasil yakni untuk merumuskan Undang-Undang Dasar dan hanya merupakan perdebatan sengit.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Sejarah Terbentuknya Tentara Nasional Indonesia Menurut Ahli Sejarah Perdebatan-perdebatan itu semakin memuncak ketika akan menetapkan dasar negara. Persoalan yang menjadi penyebabnya adalah adanya dua kelompok yakni kelompok partai-partai Islam yang menghendaki dasar negara Islam dan kelompok partai-partai hon-Islam yang menghendaki dasar negara Pancasila.

Kelompok pendukung Pancasila mempunyai suara lebih besar dari pada golongan Islam akan tetapi belum mencapai mayoritas 2/3 suara untuk mengesahkan suatu keputusan tentang Dasar Negara (pasal 137 UUD S 1950). Pada tanggal 22 April 1959 di hadapan Konstituante, Presiden Soekarno berpidato yang isinya menganjurkan untuk kembali kepada Undang-Undang Dasar 1945.

Pihak yang pro dan militer menginginkan Presiden Soekarno untuk segera mengundangkan kembali Undang-Undang Dasar 1945 melalui dekrit. Akhirnya pada tanggal 5 juli 1959 Presiden Soekarno menyampaikan dekrit kepada seluruh rakyat Indonesia.

Adapun isi dekrit presiden tersebut adalah : Alasan dan Pengaruh Dikeluarkannya Dekrit 5 Juli 1959 Alasan Dikeluarkannya Dekrit 5 Juli 1959 • Kegagalan konstituante dalam menetapkan undang-undang dasar sehingga membawa Indonesia ke jurang kehancuran sebab Indonesia tidak mempunyai pijakan hukum yang mantap.

• Situasi politik yang kacau dan semakin buruk • Konflik antar partai politik yang mengganggu stabilitas nasional • Banyaknya partai dalam parlemen yang saling berbeda pendapat • Masing-masing partai politik selalu berusaha untuk menghalalkan segala cara agar tujuan partainya tercapai. • Undang-undang Dasar yang menjadi pelaksanaan pemerintahan negara belum berhasil dibuat sedangkan Undang-undang Dasar Sementara (UUDS 1950) dengan sistem pemerintahan demokrasi liberal dianggap tidak sesuai dengan kondisi kehidupan masyarakat Indonesia.

• Terjadinya sejumlah pemberontakan di dalam negeri yang contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah bertambah gawat bahkan menjurus menuju gerakan sparatisme.

Pengaruh Dikeluarkannya Dekrit 5 Juli 1959 Dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 maka negara kita memiliki kekuatan hukum untuk menyelamatkan negara dan bangsa Indonesia dan ancaman perpecahan.Sebagai tindak lanjut dan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 maka dibentuklah beberapa lembaga negara yakni: Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS), Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS) maupun Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR – GR).

Dalam pidato Presiden Soekarno berpidato pada tanggal 17 Agustus 1959 yang berjudul “Penemuan Kembali Revolusi Kita”. Pidato yang terkenal dengan sebutan “Manifesto Politik Republik Indonesia” (MANIPOL) ini oleh DPAS dan MPRS dijadikan sebagai Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN). Menurut Presiden Soekarno bahwa inti dan Manipol ini adalah Undang- Undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia.

Kelima inti manipol ini sering disingkat USDEK. Dengan demikian sejak dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan bemegara ini baik di bidang politik, ekonomi maupun sosial budaya. Dalam bidang politik, semua lembaga negara harus berintikan Nasakom yakni ada unsur Nasionalis, Agama, dan Komunis.

Dalam bidang ekonomi pemerintah menerapkan ekonomi terpimpin, yakni kegiatan ekonomi terutama dalam bidang impor hanya dikuasai orang- orang yang mempunyai hubungan dekat dengan pemerintah. Sedangkan dalam bidang sosial budaya, pemerintah melarang budaya-budaya yang berbau Barat dan dianggap sebagai bentuk penjajahan baru atau Neo Kolonialis dan imperalisme (Nekolim) sebab dalam hal ini pemerintah lebih condong ke Blok Timur. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Bhinneka Tunggal Ika : Pengertian, Fungsi, Dan Makna Beserta Sejarahnya Lengkap Dampak Dikeluarkannya Dekrit 5 Juli 1959 Dampak Positif Dampak positif diberlakukannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959: • Menyelamatkan negara dari perpecahan dan krisis politik berkepanjangan.

• Memberikan pedoman yang jelas, yaitu UUD 1945 bagi kelangsungan negara. • Merintis pembentukan lembaga tertinggi negara, yaitu MPRS dan lembaga tinggi negara berupa DPAS yang selama masa Demokrasi Parlemen tertertunda pembentukannya. Dampak Negatif Dampak negatif diberlakukannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959: • Ternyata UUD 1945 tidak dilaksanakan secara murni dan konsekuen. UUD 45 yang harusnya menjadi dasar hukum konstitusional penyelenggaraan pemerintahan pelaksanaannya hanya menjadi slogan-slogan kosong belaka.

• Memberi kekeuasaan yang besar pada presiden, MPR,dan lembaga tinggi negara. Hal itu terlihat pada masa Demokrasi terpimpin dan berlanjut sampai Orde Baru. • Memberi peluang bagi militer untuk terjun dalam bidang politik. Sejak Dekrit, militer terutama Angkatan Darat menjadi kekuatan politik yang disegani. Hal itu semakin terlihat pada masa Orde Baru dan tetap terasa sampai sekarang.

Partai partai yang menolak KONSEPSI PRESIDEN • Masyumi • Nadatul Ulama • PSII • Partai Katolik • Partai Rakyat Indonesia Alasan Penolakan Konsepsi Presiden • Hak mengubah tata negara secara radikal ada pada Dewan Konstituante. • Secara prinsipial partai-partai menolak Konsepsi Presiden karena PKI diikutsertakan dalam pemerintahan. Pendukung Dekrit Presiden : • Makamah Agung • DPR (hasil Pemilu 1955) • KSAD • Berbagai golongan masyarakat DAFTAR PUSTAKA Alian.

2004. Sejarah Nasional Indonesia IV. Palembang : Modul. M.C. Ricklefs. 2005. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gajah Mada _____University Press. Rahardjo, Iman Toto dan Herdianto. 2001. Bung Karno Wacana Konstitusi dan _____Demokrasi. Jakarta : Grasindo. http://www.artikelsiana.com/2014/09/isi-dan-penjelasan-dekrit-presiden-5.html#_ _____Diakses pada tanggal 30 Maret 2015.

http://www.katailmu.com/2011/03/sejarah-dekrit-presiden-5-juli-1959.html Diakses _____pada tanggal 30 Maret 2015. Sebarkan ini: • • • • • Posting pada Sejarah Ditag 3 dekrit presiden, 3 isi dekrit presiden, Alasan Dikeluarkannya Dekrit 5 Juli 1959, apa latar belakang dekrit dan isi dekrit, apa yang dimaksud demokrasi terpimpin, ciri ciri demokrasi terpimpin, ciri demokrasi terpimpin, Dampak Dikeluarkannya Dekrit 5 Juli 1959, dekrit 5 juli 1956, dekrit presiden gusdur 23 juli 2001, hal yang paling pokok dari isi dekrit presiden 5 juli 1959 adalah, isi dekrit presiden 23 juli 2001, isi dekrit presiden 5 juli 1959 brainly, isi dekrit presiden 5 juli 1959 yang menandai lahirnya sistem demokrasi terpimpin, isi dekrit presiden 5 juli 1965, isi dekrit presiden brainly, isi dekrit presiden dan tritura, isi dwikora, Isi Konsepsi Presiden, isi sidang konstituante, isi trikora, isi tritura, konstituante, Latar Belakang Dekrit Presiden, partai yang menolak KONSEPSI PRESIDEN, pelaksanaan demokrasi terpimpin, Pendukung Dekrit Presiden, Pengaruh Dikeluarkannya Dekrit 5 Juli 1959, penggolongan hukum berdasarkan waktu, penyimpangan demokrasi terpimpin, penyimpangan pada masa demokrasi terpimpin, politik mercusuar, ppki mengesahkan uud 1945 pada tanggal, sebutkan 3 isi dekrit presiden 5 juli 1955, sebutkan fungsi pengadilan negeri, sebutkan isi dari trikora, sebutkan isi dekrit presiden yang dikeluarkan oleh ir soekarno, sebutkan isi dwikora, tujuan dekrit presiden, tuliskan isi trikora, tuliskan isi tritura Navigasi pos Pos-pos Terbaru • Pengertian Gerakan Antagonistic – Macam, Sinergis, Tingkat, Anatomi, Struktur, Contoh • Pengertian Dinoflagellata – Ciri, Klasifikasi, Toksisitas, Macam, Fenomena, Contoh, Para Ahli • Pengertian Myxomycota – Ciri, Siklus, Klasifikasi, Susunan Tubuh, Daur Hidup, Contoh • “Panjang Usus” Definisi & ( Jenis – Fungsi – Menjaga ) • Pengertian Mahasiswa Menurut Para Ahli Beserta Peran Dan Fungsinya • “Masa Demokrasi Terpimpin” Sejarah Dan ( Latar Belakang – Pelaksanaan ) • Pengertian Sistem Regulasi Pada Manusia Beserta Macam-Macamnya • Rangkuman Materi Jamur ( Fungi ) Beserta Penjelasannya • Pengertian Saraf Parasimpatik – Fungsi, Simpatik, Perbedaan, Persamaan, Jalur, Cara Kerja, Contoh • Higgs domino apk versi 1.80 Terbaru 2022 • Contoh Soal Psikotes • Contoh CV Lamaran Kerja • Rukun Shalat • Kunci Jawaban Brain Out • Teks Eksplanasi • Teks Eksposisi • Teks Deskripsi • Teks Prosedur • Contoh Gurindam • Contoh Kata Pengantar • Contoh Teks Negosiasi • Alat Musik Ritmis • Tabel Periodik • Niat Mandi Wajib • Teks Laporan Hasil Observasi • Contoh Makalah • Alight Motion Pro • Alat Musik Melodis • 21 Contoh Paragraf Deduktif, Induktif, Campuran • 69 Contoh Teks Anekdot • Proposal • Gb WhatsApp • Contoh Daftar Riwayat Hidup • Naskah Drama • Memphisthemusical.Com Interaksi Sosial – Manusia tidak luput dengan perannya sebagai makhluk sosial yang tak pernah lepas berinteraksi, tidak hanya pembicaraan hal yang penting namun pembicaraan ringan terkadang menjadi hal yang sangat penting untuk menambah informasi.

Contohnya jika ketika seseorang menghadapi masalah, pasti akan bercerita entah itu teman, orang tua, saudara atau siapapun itu untuk mencurahkan isi hati dan perasaan semakin lega untuk mendapatkan saran yang terbaik. Jadi apa itu Interaksi sosial? Daftar Isi • A. Pengertian Interaksi Sosial • B. Pengertian Interaksi Sosial Menurut Para Ahli • 1. Gilin • 2. Bonner • 3. Walgito • 4.

Soerjono Soekanto • 5. Murdiyatmo dan Handayani • C. Ciri-ciri Interaksi Sosial • Anda Mungkin Juga Menyukai • D. Syarat Interaksi Sosial • 1. Kontak Sosial • 2. Komunikasi • E. Jenis dan Contoh Interaksi Sosial • 1. Interaksi Sosial Individu dengan Individu • 2. Interaksi Sosial Individu dengan Kelompok • 3. Interaksi Kelompok dengan kelompok • F. Pola Interaksi Sosial • G. Faktor-Faktor Terbentuknya Interaksi Sosial • 1. Imitasi • 2. Sugesti • 3. Simpati • 4. Identifikasi • 5.

Empati • H. Bentuk Interaksi Sosial • Interaksi Sosial Asosiatif (Positif) • 1. Kerjasama • 2. Akomodasi • a. Ajudikasi • b.

Arbitrase • c. Kompromi • d. Konsiliasi • e. Mediasi • f. Stalemate • 3. Toleransi • 4. Akulturasi • 5. Asimilasi • Interaksi Sosial Disosiatif(Negatif) • 1. Persaingan (Kompetisi) • 2. Kontravensi • 3. Pertentangan • Kesimpulan A. Pengertian Interaksi Sosial Interaksi sosial berasal dari kata interaksi artinya tindakan yang terjadi secara dua orang atau lebih yang bereaksi akan timbal balik melalui kontak langsung maupun tidak langsung.

Sosial yang berarti mencakup saling berkesinambungan atau bekerja sama seperti halnya manusia merupakan makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri dan akan membutuhkan orang lain.

Secara sederhana, pengertian interaksi sosial adalah hubungan timbal balik antara individu maupun kelompok untuk menjalin hubungan pertemanan, diskusi, kerjasama yang diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. B. Pengertian Interaksi Sosial Menurut Para Ahli Adapun pengertian Interaksi sosial menurut 5 para ahli: 1.

Gilin Interaksi sosial dijelaskan oleh gillin sebagai hubungan sosial yang dinamis antara individu dengan individu lain atau dengan kelompok atau hubungan antar kelompok. Hubungan ini tercipta karena pada dasarnya manusia tidak bisa hidup tanpa orang lain.

2. Bonner Interaksi sosial menurut Bonner adalah hubungan antara dua orang atau lebih yang aksinya dari individu dapat mempengaruhi / mengubah kehidupan individu lain.

3. Walgito Walgito berpendapat bahwa adanya hubungan timbal balik dalam interaksi sosial dapat memberikan pengaruh terhadap individu atau kelompok lain.

Interaksi sosial juga berpengaruh terhadap kelompok dengan kelompok lain yang saling berhubungan. 4. Soerjono Soekanto Soerjono Soekanto berpendapat bahwa interaksi sosial adalah proses sosial yang berkaitan dengan cara berhubungan antara individu dan kelompok untuk membangun sistem dalam hubungan sosial.

5. Murdiyatmo dan Handayani Murdiyatmo dan Handayani menjelaskan pengertian interaksi sosial sebagai hubungan yang dibangun seseorang dengan orang lain yang dalam proses kehidupan tersebut terbangun struktur sosial. Pada struktur sosial tersebut juga terbangun hubungan yang saling mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya. Rp 66.500 C. Ciri-ciri Interaksi Sosial Menurut Sosiologi Charles P.

Loomis ciri-ciri interaksi sosialyaitu: • Jumlah pelaku lebih dari seorang bahkan lebih • Adanya komunikasi diantara para pelaku dengan menggunakan simbol-simbol. • Adanya tujuan-tujuan tertentu, terlepas dari sama atau tidak sama dengan yang diperkirakan oleh para pengamat. D. Syarat Interaksi Sosial Sebagai manusia tidak lepas dengan interaksi dalam kegiatan sehari-hari, karena sudah pasti manusia akan membutuhkan seseorang untuk saling bertahan hidup. Namun agar lebih jelas dalam interaksi sosial ada 2 syarat yang akan terjadinya interaksi sosial, yaitu: 1.

Kontak Sosial Dalam pengertian sosiologi, kontak sosial tidak hanya interaksi melalui tatap muka saja namun adapun melakukan kontak tanpa bertemu langsung seperti informasi melalui, radio, telepon bahkan surat elektronik ini termasuk interaksi sosial yang sudah berkembang di kemajuan zaman.

Kontak sosial dibagi menjadi dua: • Kontak Sosial bersifat Primer: Kontak terjadi secara langsung seperti bertatap muka. • Kontak Sosial bersifat Sekunder: Kontak terjadi secara tidak langsung atau menggunakan media penghubung seperti telepon, surat elektronik bahkan melalui pesan media sosial. 2. Komunikasi Dalam interaksi sosial komunikasi merupakan hal yang contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah penting dengan maksud adanya saling mengungkapkan perilaku entah itu dalam berbicara, sikap bahkan gesture untuk menyampaikan pesan.

Namun ada beberapa unsur pokok dalam Komunikasi yaitu: • Komunikator adalah seorang atau sekelompok orang yang menyampaikan pesan untuk menjadi sumber dalam sebuah hubungan atau keterkaitan. • Komunikan adalah seorang atau kelompok yang menerima pesan dari komunikator. • Pesan adalah sesuatu hal yang disampaikan oleh komunikator.

Pesan biasanya berisikan informasi, pertanyaan, bahkan pengungkapan emosi dan perasaan. • Media adalah perantara untuk menyampaikan pesan. Media komunikasi dapat berupa lisan, contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah, gambar bahkan film biasanya memberikan pesan tersurat.

• Efek adalah perubahan yang diharapkan terjadi pada komunikan, setelah mendapatkan pesan dari komunikator. Komunikasi yang terjadi antara satu individu dengan individu lainnya dapat disebut sebagai komunikasi interpersonal yang memiliki banyak teori di dalamnya. Jika kamu ingin memahaminya lebih dalam, buku berjudul Teori Komunikasi Interpersonal Disertai Contoh Fenomena Praktis oleh Dr.

Ali Nurdin, S.Ag., M.Si. akan sesuai untuk kamu. E. Jenis dan Contoh Interaksi Sosial Interaksi mempunyai beberapa jenis, untuk mudah dipahami mari simak berikut ini: 1. Interaksi Sosial Individu dengan Individu Interaksi sosial individu merupakan pertemuan antara seseorang dengan individu lain yang bertujuan untuk memberikan aksi atau respon untuk menjadi teman dan mengarah ke arah bekerja sama jika reaksinya positif, namun jika reaksinya negatif kemungkinan akan muncul konflik atau pertentangan.

Contoh: • Ketika bertemu saling menyapa, bertanya dan menginformasikan tentang apa yang dibutuhkan. • Mengajak bermain main sepeda bersama adik • Guru mengajari les bahasa pada seorang murid.

2. Interaksi Sosial Individu dengan Kelompok Interaksi sosial individu dengan kelompok pada salah satu bahkan kelompok yang lebih besar biasanya terdiri lebih dari 3 orang yang dimana akan memberikan informasi entah itu promosi, bahkan seminar. Selain itu, biasanya interaksi sosial ini disampaikan oleh beberapa orang saja yang kemudian informasi yang disampaikan akan didengarkan oleh banyak orang atau kelompok.

Contoh: • Menjadi seorang narasumber dalam kegiatan seminar • Menyampaikan informasi promosi kepada komunitas • Kepala sekolah sedang berbicara pada murid-murid sewaktu upacara 3. Interaksi Kelompok dengan kelompok Interaksi Kelompok dengan kelompok merupakan pertemuan antara dua kelompok atau lebih dengan kelompok yang berbeda, untuk mengkomunikasikan hal yang berkaitan namun sifatnya bukan hal pribadi namun untuk kepentingan kelompok itu sendiri.

Namun untuk berkomunikasi antar kelompok terkadang menghadapi pro dan kontra harus lebih berhati-hati, karena setiap pendapat seseorang bisa saja menyerang kelompok lainnya. • Para pemuda karang taruna memberi informasi kepada masyarakat untuk saling bekerjasama membersihkan halam rumah agar menjadi juara perlombaan kebersihan di acara HUT-RI 17 Agustus. • Kelompok TNI dan kelompok Polisi melakukan kerjasama interaksi sosial untuk memberantas kejahatan di daerahnya.

Menyatukan individu dengan karakter yang berbeda tidak mudah dilakukan, namun ada baiknya untuk saling berinteraksi secara baik, sopan dan jelas to the point apa tujuannya. Karena komunikasi yang baik akan memberikan ketenangan dan kesepakatan yang mungkin dapat menjadi suatu hal yang berjangka panjang. Misalnya, keterkaitan tentang usaha bisnis menjadi pelanggan, menjadi seseorang yang dipercaya, dan hal lainnya. Saat ini, kita juga dapat melakukan interaksi melalui internet atau tepatnya media sosial yang memudahkan kita untuk bertukar informasi.

Jika Grameds tertarik untuk memahami topik ini lebih dalam, buku Media Sosial, Interaksi, Identitas dan Modal Sosial oleh Shiefti Dyah Alyusi sangat tepat untuk mempelajari topik ini. F. Pola Interaksi Sosial Pola Interaksi Sosial Interaksi sosial yang terjadi antara individu maupun kelompok yang bersifat dinamis dan mempunyai pola tertentu, sebagaimana kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan secara pengulangan hingga berjangka panjang maka akan bertahan terwujudnya hubungan sosial yang baik.

Pola interaksi sosial memiliki ciri-ciri sebagai berikut: • Berdasarkan kedudukan sosial (status) dan peranannya. Contohnya, seorang guru yang mengajar bersama muridnya harus mencerminkan perilaku seorang guru.

Sebaliknya, siswa harus menaati gurunya. • Kegiatan yang terus berlanjut hingga menemukan titik tujuan untuk menghasilkan suatu hal yang terbaik dan terus mengembangkan pemikiran atau ide.Contohnya, dari adanya interaksi, seseorang melakukan terjalin kerjasama bisnis, muncul suatu pertentangan, adanya persaingan, dan lain sebagainya. • Interaksi sosial dapat terjadi pada siapapun tidak mengenal waktu, tempat dan keadaan biasanya akan terlibat sebagaimana pola pikir masyarakat akan terbentuk.Contohnya:Salah satu sekolah mempunyai penilaian yang baik dalam hal disiplin, kebersihan dan prestasi siswa yang begitu berpengaruh di salah satu daerah.

Namun kepercayaan masyarakat pada sekolah tersebut selalu baik, hanya saja di suatu waktu sekolah tersebut tercemar tidak baik karena kelakuan siswa yang melakukan tindakan tidak terpuji. G. Faktor-Faktor Terbentuknya Interaksi Sosial 1. Imitasi Imitasi adalah seseorang atau lebih melakukan untuk meniru seseorang dalam hal gaya, sikap, perilaku hingga penampilan terlihat menyerupai fisik seseorang.

Biasanya faktor interaksi sosial ini dapat terjadi pada indvidu yang ngefans dengan salah satu idolanya. 2. Sugesti Sugesti merupakan seseorang yang terpengaruh karena adanya suatu dorongan diberikan orang lain dengan beberapa cara tertentu yang dimana seseorang tersebut akan melaksanakan dengan apa yang di sugestikan terkadang tanpa berfikir rasional.

Faktor ini dapat kita lihat ketika ada seorang anak yang diberikan nasihat oleh orang tuanya. 3. Simpati Simpati adalah bagaimana kita memperlihatkan sikap akan rasa tertarik pada seseorang akan sesuatu hal atau sikap yang menarik pada dirinya seperti penampilan, pola pikirnya bahkan kebijaksanaannya dengan menerapkan nilai-nilai yang dianut oleh orang yang menaruh simpati. Dengan adanya faktor ini, maka seseorang akan tergerak hatinya untuk membantu orang lain.

4. Identifikasi Identifikasi merupakan suatu pemberian tanda ciri khas sehingga sebenarnya ini berkaitan dengan imitasi seseorang dengan keinginan sama atau identik bahkan serupa dengan orang lain yang ditiru (idolanya), hingga menghilangkan jati dirinya sendiri.

5. Empati Empati merupakan merasakan sesuatu yang dialami oleh orang lain, baik itu kebahagiaan maupun kesedihan. Contohnya, ketika seorang siswa masuk ke PTN yang diharapkan, orang tua bahkan temannya akan ikut merasakan kebahagiaan. Interaksi dalam masyarakat akan menumbuhkan bentuk hubungan saling mempererat dan mengubah suatu kondisi masyarakat di suatu daerah, misalnya dalam interaksi sosial positif melakukan gotong royong ini merupakan suatu bentuk Interaksi sosial.

Bentuk interaksi sosial terbagi menjadi dua yaitu Asosiatif dan Disosiatif. Apa perbedaanya, mari kita pelajari lebih mendalam. H. Bentuk Interaksi Sosial Interaksi Sosial Asosiatif (Positif) Bentuk interaksi sosial asosiatif adalah interaksi sosial yang positif, untuk mengarah kebaikan akan kerjasama dan menciptakan sesuatu antara seseorang dengan yang lain untuk mencapai tujuan yang positif. Namun, interaksi sosial asosiatif ini terbagi lagi menjadi empat, yaitu: 1.

Kerjasama Suatu pekerjaan yang dikerjakan oleh sekelompok individu atau saling membantu yang bertujuan mewujudkan kegiatan yang positif. Dalam kehidupan selalu memerlukan bantuan orang lain namun tetap dalam batas yang wajar. Contohnya, seperti gotong royong antar tetangga. 2. Akomodasi Akomodasi merupakan penyesuaian diri seseorang bahkan kelompok manusia yang sebelumnya saling bertentangan, supaya mengatasi ketegangan dengan antara pihak yang bertentangan dibutuhkanlah akomodasi.

Tujuannya untuk menciptakan keseimbangan interaksi sosial yang akan berkaitan dengan norma dan nilai-nilai dalam lingkup masyarakat. Namun akomodasi ini terbagi lagi menjadi beberapa bagian, diantaranya: a. Ajudikasi Ajudikasi merupakan proses cara penyelesain konflik sosial yang juga dikenal dengan akomodasi. Perselisihan ini terjadi karena interaksi sosial antar individu atau suatu kelompok dengan kelompok lainnya dengan berbagai macam cara.

Contoh: Dalam kasus perceraian, kasus korupsi, kasus penipuan, kasus pencemaran nama baik, kasus pembunuhan bahkan kasus pelanggaran hak cipta. b. Arbitrase Upaya untuk menyelesaikan konflik dengan pihak ketiga sebagai keputusan yang mengikat tidak bisa diganggu gugat oleh kedua pihak yang berselisih. Contoh: Seorang guru BK memberi hukuman kepada kedua murid yang bertengkar karena kalah pertandingan sepak bola.

c. Kompromi Kompromi merupakan suatu upaya untuk mendapatkan kesepakatan di antara dua pihak yang berbeda pendapat atau berselisih paham, tujuannya untuk menyelesaikan perselisihan. d. Konsiliasi Suatu upaya dalam menyelesaikan sengketa atau perselisihan dari pihak-pihak dengan melibatkan pihak netral yang dinamakan konsiliator yang mencari titik tengah (penyelesaian atau persetujuan) yang mempertemukan keinginan dari pihak-pihak yang berselisih.

e. Mediasi Mediasi merupakan upaya untuk menyelesaikan konflik dengan melibatkan pihak ketiga yang netral, hampir serupa seperti arbitrase namun hanya sebagai penengah (mediator). Contoh: Pertikaian GAM (Gerakan Aceh Merdeka) di mediator oleh Swedia pada tanggal 15 Agustus 2005. f. Stalemate Stalemate merupakan ketika dua pihak saling memiliki konflik yang bertentangan namun konflik tersebut berhenti karena menghadapi suatu peristiwa sehingga keduanya saling berhenti untuk menyerang.

Contoh: Berakhirnya perang dingin antara Blok Barat yang dipimpin Amerika dan Blok Timur dipimpin oleh Uni Soviet pada saat di era !990-an. 3. Toleransi Toleransi adalah sikap saling menghargai dan menghormati dalam bermasyarakat baik individu maupun berkelompok.

Dalam hal ini seperti saling tolong menolong antar sesama tanpa memandang suku, agama, ras maupun antar golongan. Hal ini sendiri dapat kita lihat pada masyarakat Indonesia yang telah menjadi warisan budaya bangsa termanifestasi ke dalam unsur budaya yang ada sedperti simbol, praktik sosial, adat istiadat, dan masih banyak lagi yang dijelaskan pada buku Harmoni Dalam KERAGAMAN : Jejak Budaya Toleransi oleh Muhammad Nur Prabowo Setyabudi, Dkk.

4. Akulturasi Akulturasi adalah penerimaan segala unsur–unsur baru dimasa kini menjadi suatu kebudayaan baru tanpa menghilangkan ciri khas / hal yang berkaitan dengan unsur lama. Contohnya: – Pertunjukan wayang-wayang yang mengisahkan cerita dari India tentang Mahabarata (sejarah), – Bagunan masjid Kudus yang mencerminkan adanya interaksi budaya Jawa, Islam dan Hindu – Lifestyle gaya hidup seseorang yang mengikuti tren entah dari berpakaian, model rambut dan lain-lain.

5. Asimilasi Asimilasi merupakan percampuran suatu budaya dengan menghilangkan ciri khas kebudayaan aslinya lalu membentuk kebudayaan baru dan menerapkan dalam keseharian. Contohnya: • Asimilasi Ras Mongoloid dan Ras Negroid di Benua Asia membentuk ras baru. • Pernikahan beda ras dan etnis • Corak rumah di sebagian kota mengkombinasikan dengan corak khas modern seperti arsitektur Eropa Interaksi Sosial Disosiatif(Negatif) Disosiatif merupakan Interaksi sosial yang mengarah kepada konflik serta perpecahan dalam individu maupun kelompok, biasanya Disosiatif akan mengarah ke hal negatif.

Seperti: 1. Persaingan (Kompetisi) Pasti sudah tak asing dengan kata ‘Kompetisi’. Kompetisi merupakan interaksi sosial untuk saling bersaing secara individu maupun kelompok biasanya akan mencari keuntungan di bidang-bidang tertentu tanpa menggunakan ancaman kekerasan. Contohnya: Pertandingan Bulu tangkis Olympic 2020 Anthony Ginting melawan antonsen anders.

2. Kontravensi Kontravensi adalah upaya seseorang untuk menentang suatu perkara secara tersembunyi supaya tidak terjadi perselisihan. Adapun biasanya seseorang akan bersikap ragu, tidak pasti, penyangkalan bahkan penolakan dengan tidak mengungkap secara terbuka.

Ini disebabkan karena perbedaan pendirian di kalangan-kalangan tertentu. Contohnya: Membocorkan rahasia teman pada orang lain. Adapun perbuatan dalam bentuk kontravensi taktis, contohnya: Membuat tuduhan tiba-tiba tanpa alasan, menipu seseorang dengan berbagai alasan dan lain sebagainya.

3. Pertentangan Konflik adalah sebuah pertentangan atau bisa lanjutan dari kontravensi yang sifatnya terbuka yang biasanya akan menyebabkan pertikaian. Penyebabnya adanya perbedaan argumentasi yang membuat rasa marah hingga benci dan dapat menimbulkan untuk saling menyerang bahkan melukai seseorang bahkan kelompok Kesimpulan Interaksi sosial ini sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat dimanapun berada, tujuannya untuk menjalin hubungan baik pertemanan bahkan bisnis untuk mencari keuntungan.

Interaksi sosial merupakan suatu kemampuan yang bisa diasah. Dengan kata lain, setiap orang bisa memiliki kemampuan untuk berinteraksi sosial dengan baik selama ia selalu terus mengasah kemampuan interaksi sosialnya.

Selain itu, kerja sama atau kolaborasi dengan individu bahkan kelompok akan mengembagkan pemikiran atau ide-ide yang sebelumnya tidak ada dalam pikiran kita. Dengan kerja sama atau kolaborasi, suatu pekerjaan akan lebih mudah untuk diselesaikan dengan optimal. Maka dari itu, menjaga interaksi sosial yang baik adalah kunci saling membantu dan menghargai. Baca juga artikel terkait : • Globalisasi Ekonomi • Ekonomi Kerakyatan • Pelaku Ekonomi • Masalah Ekonomi di Indonesia • Ilmu Ekonomi • Macam Sistem Ekonomi • Ekonomi Kerakyatan [sc_fs_faq html=”true” headline=”h4″ img=”” question=”Apa saja contoh interaksi sosial?” img_alt=”” css_class=””] 1.

Ketika bertemu saling menyapa, bertanya dan menginformasikan tentang apa yang dibutuhkan. 2. Mengajak bermain main sepeda bersama adik. 3. Guru mengajari les bahasa pada seorang murid. [/sc_fs_faq] [sc_fs_faq html=”true” headline=”h4″ img=”” question=”Jelaskan apa yang dimaksud dengan interaksi sosial?” img_alt=”” css_class=””] Pengertian interaksi sosial adalah hubungan timbal balik antara individu maupun kelompok untuk menjalin hubungan pertemanan, diskusi, kerjasama yang diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.

[/sc_fs_faq] [sc_fs_faq html=”true” headline=”h4″ img=”” question=”Interaksi sosial ada berapa?” img_alt=”” css_class=””] Interaksi sosial asosiatif dan interaksi sosial disosiatif [/sc_fs_faq] Kategori • Administrasi 5 • Agama Islam 126 • Akuntansi 37 • Bahasa Indonesia 95 • Bahasa Inggris 59 • Bahasa Jawa 1 • Biografi 31 • Biologi 101 • Blog 23 • Business 20 • CPNS 8 • Desain 14 • Design / Branding 2 • Ekonomi 152 • Environment 10 • Event 15 • Feature 12 • Fisika 30 • Food 3 • Geografi 62 • Hubungan Internasional 9 • Hukum 20 • IPA 82 • Kesehatan 18 • Kesenian 10 • Kewirausahaan 9 • Kimia 19 • Komunikasi 5 • Kuliah 21 • Lifestyle 9 • Manajemen 29 • Marketing 17 • Matematika 20 • Music 9 • Opini 3 • Pendidikan 35 • Pendidikan Jasmani 32 • Penelitian 5 • Pkn 69 • Politik Ekonomi 15 • Profesi 12 • Psikologi 31 • Sains dan Teknologi 30 • Sastra 32 • SBMPTN 1 • Sejarah 84 • Sosial Budaya 98 • Sosiologi 53 • Statistik 6 • Technology 26 • Teori 6 • Tips dan Trik 57 • Tokoh 59 • Uncategorized 31 • UTBK 1
• Аԥсшәа • Afrikaans • Alemannisch • አማርኛ • Aragonés • Ænglisc • العربية • مصرى • অসমীয়া • Asturianu • अवधी • Azərbaycanca • تۆرکجه • Башҡортса • Basa Bali • Boarisch • Žemaitėška • Bikol Central • Беларуская • Беларуская (тарашкевіца) • Български • भोजपुरी • বাংলা • བོད་ཡིག • বিষ্ণুপ্রিয়া মণিপুরী • Brezhoneg • Bosanski • Буряад • Català • Mìng-dĕ̤ng-ngṳ̄ • Нохчийн • Cebuano • کوردی • Qırımtatarca • Čeština • Чӑвашла • Cymraeg • Dansk • Deutsch • Zazaki • डोटेली • ދިވެހިބަސް • Ελληνικά • English • Esperanto • Español • Eesti • Euskara • فارسی • Suomi • Français • Nordfriisk • Frysk • Gaeilge • 贛語 • Galego • Avañe'ẽ • गोंयची कोंकणी / Gõychi Konknni • 𐌲𐌿𐍄𐌹𐍃𐌺 • ગુજરાતી • 客家語/Hak-kâ-ngî • עברית • हिन्दी • Fiji Hindi • Hrvatski • Magyar • Հայերեն • Interlingua • Ilokano • Ido • Íslenska • Italiano • 日本語 • Patois • Jawa • ქართული • Адыгэбзэ • Kabɩyɛ • Қазақша • ភាសាខ្មែរ • ಕನ್ನಡ • 한국어 • कॉशुर / کٲشُر • Kurdî • Коми • Kernowek • Кыргызча • Latina • Лезги • Lingua Franca Nova • Limburgs • Ligure • Lombard • ລາວ • Lietuvių • Latviešu • मैथिली • Malagasy • Minangkabau • Македонски • മലയാളം • Монгол • ꯃꯤꯇꯩ ꯂꯣꯟ • मराठी • Bahasa Melayu • မြန်မာဘာသာ • Эрзянь • Nāhuatl • Plattdüütsch • नेपाली • नेपाल भाषा • Nederlands • Norsk nynorsk • Norsk bokmål • Occitan • ଓଡ଼ିଆ • ਪੰਜਾਬੀ • Kapampangan • पालि • Polski • Piemontèis • پنجابی • پښتو • Português • Runa Simi • Română • Tarandíne • Русский • Русиньскый • Ikinyarwanda • संस्कृतम् • Саха тыла • ᱥᱟᱱᱛᱟᱲᱤ • Sardu • Sicilianu • Scots • سنڌي • Srpskohrvatski / српскохрватски • සිංහල • Simple English • Slovenčina • سرائیکی • Slovenščina • Shqip • Српски / srpski • Sunda • Svenska • Kiswahili • Ślůnski • தமிழ் • ತುಳು • తెలుగు • ไทย • Tagalog • Türkçe • Татарча/tatarça • Тыва дыл • Удмурт • Українська • اردو • Oʻzbekcha/ўзбекча • Vepsän kel’ • Tiếng Việt • Volapük • Winaray • 吴语 • Хальмг • მარგალური • ייִדיש • Vahcuengh • 中文 • 文言 • Bân-lâm-gú • 粵語 India ( Bahasa Jadwal Kedelapan) Kode bahasa ISO 639-1 sa ISO 639-2 san ISO 639-3 san Bahasa Sanskerta (ejaan tidak baku: Sansekerta, Sangsekerta, Sanskrit, [4] aksara Dewanagari: संस्कृतम्, saṃskṛtam [5]) adalah bahasa kuno Asia Selatan yang merupakan cabang Indo-Arya dari rumpun bahasa Indo-Eropa.

[6] [7] [8] Bahasa ini berkembang di Asia Selatan setelah moyangnya mengalami difusi trans-budaya di wilayah barat laut Asia Selatan pada Zaman Perunggu. [9] [10] Bahasa Sanskerta adalah bahasa suci umat Hindu, Buddha, dan Jain. Bahasa ini merupakan basantara Asia Selatan pada zaman kuno dan pertengahan, dan menjadi bahasa agama, kebudayaan, dan politik yang tersebar di sejumlah wilayah di Asia Tenggara, dan Tengah.

[11] [12] Bahasa ini memberikan banyak pengaruh bahasa di Asia Selatan, Tenggara, dan Timur, khususnya melalui kosakata yang dipelajari. [13] Bahasa Sanskerta masih mempertahankan ciri-ciri bahasa Indo-Arya kuno. [14] [15] Bentuk arkaisnya adalah bahasa Weda yang ditemukan dalam Regweda, kumpulan 1.028 himne yang disusun oleh masyarakat suku Indo-Arya yang bermigrasi di wilayah yang kini Afganistan hingga Pakistan dan kemudian India Utara.

[16] [17] Bahasa Weda ini berakulturasi dengan bahasa kuno yang telah ada di anak benua India, menyerap kosakata yang berkaitan dengan nama-nama hewan dan tumbuhan; dan tambahannya, rumpun bahasa Dravida kuno mempengaruhi fonologi dan sintaksis Sanskerta. [18] "Sanskerta" dapat juga merujuk pada bahasa Sanskerta klasik yang tata bahasanya dibakukan pada pertengahan milenium pertama SM secara sangat lengkap, [b] yang termuat dalam kitab Aṣṭādhyāyī ("Delapan Bab") karya Pāṇini.

[20] Pujangga dan dramawan besar Kalidasa menulis menggunakan bahasa Sanskerta klasik, dan dasar-dasar aritmetika klasik pertama kalinya dideskripsikan dalam bahasa Sanskerta klasik. [c] [21] Dua wiracarita besar Mahabharata dan Ramayana, disusun menggunakan gaya bahasa cerita lisan yang digunakan di India Utara antara 400 SM dan 300 SM, dan kira-kira sezaman dengan bahasa Sanskerta klasik.

[22] Pada abad-abad berikutnya bahasa Sanskerta mulai terikat tradisi, berhenti dipelajari sebagai bahasa ibu, dan akhirnya berhenti berkembang sebagai bahasa yang hidup. [23] Nyanyian Regweda sangat mirip dengan puisi arkais berbahasa Iran dan Yunani, Gathas dalam bahasa Avesta dan Illiad karya Homeros. [24] Karena Regweda mengalir dari mulut ke mulut dengan cara rajin menghafal, [25] [26] dan dianggap sebagai sebuah teks tunggal tanpa varian apa pun, [27] Regweda melestarikan morfologi dan sintaksis yang mendorong rekonstruksi moyang dari bahasa tersebut, bahasa Proto-Indo-Eropa.

[24] Bahasa Sanskerta tidak memiliki sistem tulisan yang spesifik: sekitar peralihan milenium pertama Masehi, bahasa ini ditulis dalam aksara-aksara berumpun Brahmi dan saat ini menggunakan aksara Dewanagari. [a] [2] [3] Status, fungsi, dan penempatan bahasa Sanskerta sebagai warisan sejarah dan budaya India diakui dalam bahasa resmi di Jadwal Kedelapan dari Konstitusi India.

[28] [29] Namun, di luar kebangkitannya, [30] [31] tidak ada masyarakat yang mengakui bahasa ini sebagai bahasa ibu di India. [31] [32] [33] Pada sensus terakhir di India, sekitar ribuan warga negara India mengakui bahasa Sanskerta sebagai bahasa ibu mereka, [d] dan angka itu dianggap menandakan harapan penyelarasan dengan prestise berbahasa. [31] [35] Bahasa Sanskerta diajarkan di gurukula sejak zaman kuno; dan kini diajarkan pada sekolah menengah pertama. Sekolah modern bahasa Sanskerta tertua adalah Sampurnanand Sanskrit Vishwavidyalaya, didirikan pada 1791 pada masa pemerintahan Perusahaan Hindia Timur Britania.

[36] Bahasa Sanskerta menjadi bahasa liturgi bagi umat Hindu dan Buddha, digunakan untuk membacakan nyanyian dan mantra. Daftar isi • 1 Etimologi dan penamaan • 2 Sejarah • 2.1 Asal usul dan perkembangan • 2.2 Bahasa Weda • 2.3 Bahasa Sanskerta Klasik • 2.4 Bahasa Sanskerta dan Prakerta • 2.5 Pengaruh rumpun Dravida • 3 Distribusi geografis • 3.1 Status resmi • 4 Penelitian oleh bangsa Eropa • 5 Beberapa ciri-ciri • 5.1 Kasus • 5.1.1 Skema dasar tasrifan (deklensi) sufiks untuk kata-kata benda dan sifat • 5.1.2 Pokok-a • 5.1.3 Pokok -i dan -u • 5.1.4 Pokok vokal panjang • 5.2 Hukum sandhi • 6 Pembentukan kata majemuk • 7 Bahasa Sanskerta di Indonesia • 8 Bahasa Sanskerta dalam beberapa aksara • 9 Lihat pula • 10 Catatan kaki • 11 Referensi • 11.1 Daftar pustaka • 12 Daftar pustaka Etimologi dan penamaan [ sunting - sunting sumber ] Manuskrip Sanskerta kuno: kitab suci keagamaan (atas), dan teks pengobatan (bawah) Dalam bahasa Sanskerta ajektiva verbal sáṃskṛta- adalah kata majemuk yang tersusun dari sam (berbudaya, bagus, baik, sempurna) dan krta- (tersusun).

[37] [38] Maksudnya adalah suatu bahasa yang "tersusun dengan baik, murni, sempurna, suci, dan berbudaya". [39] [40] [41] Menurut Biderman, kesempurnaan yang dimaksud dari etimologi tersebut cenderung memiliki kualitas tonal bukannya semantik.

Tradisi lisan dianggap berharga di India Kuno, dan resi-resinya menyusun alfabet, struktur kata, dan tata bahasanya menjadi "sebuah kumpulan suara, semacam cetakan musikal yang bernilai luhur", sebagaimana yang disebut Biderman, sebagai sebuah bahasa yang disebut Sanskerta. [38] Dari akhir periode Weda, sebagaimana yang disebut Annette Wilke dan Oliver Moebus, landasan resonansi dan musikalnya membangun "literatur linguistik, filosofis, dan religius dengan jumlah yang sangat besar" di India.

Suara-suara itu divisualisiasikan "meliputi seluruh ciptaan", representasi lain dari dunia itu sendiri; sebuah "magna misterius" dari pemikiran Hindu. Pencarian kesempurnaan dalam pemikiran dan tujuan kebebasan berada di antara dimensi suara sakral, benang merah itu merangkai semua ide dan inspirasi menjadi apa yang diyakini masyarakat India kuno sebagai bahasa yang sempurna, sehingga terciptalah "epistema fonosentris" bahasa Sanskerta.

[42] [43] Bahasa ini dianggap sebagai lawan dari bahasa-bahasa rakyat ( prākṛta-). Kata prakrta secara literal berarti "asli, alami, normal, tak berseni", menurut Franklin Southworth. [44] Keterkaitan antara bahasa Prakerta dan Sanskerta ditemukan dalam naskah India berangka milenium pertama Masehi. Patañjali mengakui bahasa Prakerta sebagai bahasa pertama, yang secara naluriah diadopsi oleh anak-anak yang berujung pada masalah interpretasi dan kesalahpahaman.

Pemurnian struktur bahasa Sanskerta menghapus ketidaksempurnaan itu. Tatabahasawan Sanskerta awal Daṇḍin menyatakan, sebagai contoh, banyak kata bahasa Prakerta berasal dari Sanskerta, tetapi memunculkan "kehilangan suara" dan penyalahgunaan makna yang merupakan hasil dari "pengabaian tata bahasa". Daṇḍin mengakui ada kata-kata dan struktur membingungkan dari bahasa Prakerta yang lepas dari bahasa Sanskerta. Pandangan ini tampak pada gaya penulisan Bharata Muni yang mengarang naskah Natyasastra.

Namisādhu, salah satu cendekiawan Jaina, mengakui adanya perbedaan tersebut, tetapi tidak setuju kalau bahasa Prakerta adalah hasil penyalahgunaan makna dari Sanskerta.

Namisādhu menyatakan bahwa bahasa Prakerta bersifat pūrvam (alamiah) bagi anak-anak, dan Sanskerta adalah penyempurnaan bahasa Prakerta melalui sebuah "pemurnian tata bahasa". [45] Sejarah [ sunting - sunting sumber ] Asal usul dan perkembangan [ sunting - sunting sumber ] Kiri: Hipotesis Kurgan yang berkaitan dengan migrasi Indo-Eropa antara 4000–1000 SM. Kanan: sebaran geografis rumpun bahasa Indo-Eropa dengan Sanskerta di Asia Selatan.

Bahasa Sanskerta termasuk dalam rumpun bahasa Indo-Eropa. Bahasa ini menjadi salah satu dari tiga bahasa Indo-Eropa tertua yang didokumentasikan serta lahir dari suatu bahasa purba yang direkonstruksi yaitu bahasa Proto-Indo-Eropa: [7] [8] [46] • Bahasa Weda ( ca.

1500–500 SM). • Bahasa Yunani Mikenai ( ca. 1450 SM) [47] dan Yunani Kuno ( ca. 750–400 SM). • Bahasa Het ( ca. 1750–1200 SM). Bahasa Indo-Eropa lainnya yang berhubungan dengan Sanskerta antara lain bahasa Latin arkais dan klasik ( ca. 600 SM–100 M, Italia zaman kuno), bahasa Gotik ( bahasa Jermanik arkais, ca. 350 SM), bahasa Norse Kuno ( ca. 200 SM ke atas), bahasa Avesta Kuno ( ca. akhir milenium ke-2 SM [48]), dan bahasa Avesta Muda ( ca.

900 SM). [7] [8] Bahasa kuno terdekat dengan bahasa Weda adalah rumpun Nuristan yang ditemukan di wilayah Hindu Kush, timur laut Afganistan dan barat laut Himalaya, [8] [49] [50] serta bahasa Avesta dan Persia Kuno yang punah — keduanya berumpun Iran.

[51] [52] [53] Bahasa Sanskerta adalah kelompok bahasa satem Indo-Eropa. Sejumlah sarjana zaman kolonial yang menguasai bahasa Latin dan Yunani terkejut dengan kemiripan bahasa-bahasa klasik Eropa dengan Sanskerta, baik dari kosakata dan tata bahasanya. Dalam The Oxford Introduction to Proto-Indo-European and the Proto-Indo-European World, Mallory dan Adams menjelaskan kemiripan tersebut dalam beberapa contoh berikut: [54] Inggris Latin Yunani Sanskerta mother māter mētēr mātár- father pater pater pitár- brother frāter phreter bhrātar- sister soror eor svásar- son fīlius huius sūnú- daughter fīlia thugátēr duhitár- cow bōs bous gáu- house domus do dām- Kedekatan kosakata tersebut menunjukkan adanya sebuah akar kata, serta kaitan historis antara sejumlah bahasa-bahasa kuno besar di dunia.

[e] Teori migrasi Indo-Arya menjelaskan bagaimana bahasa Sanskerta dan bahasa Indo-Eropa lainnya saling berkaitan serta menyatakan bahwa penutur asli bahasa yang kelak menjadi Sanskerta tiba di Asia Selatan dari asalnya, kemungkinan barat laut wilayah Indus pada awal milenium ke-2 SM. Bukti sejarah yang ada dalam teori tersebut adalah kedekatan antara bahasa Indo-Iran dengan rumpun bahasa Baltik dan Slavik, pertukaran dengan kosakata non-Indo-Eropa seperti rumpun bahasa Ural, dan kosakata Indo-Eropa yang berkaitan dengan flora-fauna.

[56] Masa prasejarah rumpun bahasa Indo-Arya sebagai moyang bahasa Sanskerta tidak jelas dan hipotesisnya diajukan dalam batas yang cukup luas. Menurut Thomas Burrow, dengan menghubungkannya dengan bahasa rumpun Indo Eropa, asal usul bahasa tersebut mungkin bermula dari Eropa Tengah atau Timur, dan rumpun Indo-Iran muncul dari Rusia Tengah. [57] Cabang rumpun bahasa Indo-Iran, Indo-Arya dan Iran, berpisah.

Bahasa Sanskerta adalah cabang Indo-Arya yang berpindah menuju Iran timur, kemudian mengarah ke Asia Selatan pada paruh pertama milenium ke-2 SM. Begitu permulaan India Kuno, bahasa Indo-Arya mengalami perubahan lingustik dan terciptalah bahasa Weda. [58] Bahasa Weda [ sunting - sunting sumber ] Regweda ditulis dalam aksara Dewanagari, awal abad ke-19.

Garis merah horizontal dan vertikal mewakili tangga nada rendah dan tinggi dalam pembacaannya. Bentuk praklasik bahasa Sanskerta adalah bahasa Weda. Naskah tertulis paling awal yang menggunakan bahasa Sanskerta adalah salah satu dari kitab suci umat Hindu yang empat, Regweda, ditulis pada pertengahan hingga akhir abad ke-2 SM.

Tak ada catatan tertulis dari masa-masa awal yang dilestarikan, bahkan jika ada, sejumlah sarjana percaya bahwa Regweda turun-temurun secara lisan: teks tersebut adalah teks upacara keagamaan, dengan ekspresi fonetis yang pasti dan pelestariannya menjadi bagian dari tradisi.

[59] [60] [61] Regweda adalah kumpulan kitab suci yang dibuat oleh banyak pengarang secara terpisah di wilayah India kuno. Penulis-penulisnya berada pada generasi yang berbeda-beda: Mandala 2 hingga 7 adalah yang tertua, sedangkan mandala 1 dan 10 adalah yang termuda.

[62] [63] Namun bahasa Weda dalam kitab-kitab Rigveda "hampir tidak menyajikan keragaman dialektika", menurut Louis Renou — seorang Indolog yang dikenal karena penelitiannya tentang sastra Sanskerta dan khususnya Rigveda.

Menurut Renou, ini menunjukkan bahwa bahasa Weda memiliki "pola linguistik yang teratur" pada paruh kedua milenium ke-2 SM. [64] Setelah Regweda, Weda lainnya yang bertahan adalah Samaweda, Yajurweda, dan Atharwaweda, bersama naskah-naskah lain seperti Brahmana, Aranyaka, dan Upanisad.

[59] Dokumen Weda merefleksikan dialek bahasa Sanskerta pada sejumlah wilayah barat laut, utara, dan timur anak benua India. [65] [66] (hlm. 9) Bahasa Weda adalah bahasa lisan sekaligus tertulis pada zaman India Kuno. Menurut Michael Witzel, bahasa Weda adalah bahasa lisan suku seminomaden Arya yang kelak bertempat tinggal di satu tempat dan tetap memelihara kebiasaan sehari-hari mereka seperti beternak sapi, bertani terbatas, dan menjalankan gerobak yang disebut grama.

[66] (hlm. 16–17) [67] Bahasa Weda atau varian Indo-Eropa terdekatnya diakui di seluruh wilayah India Kuno yang dibuktikan dengan "Traktat Mitanni" antara bangsa Het dan Mitanni, dipahat pada batu, di suatu wilayah yang kini menjadi Suriah dan Turki. [68] [f] Bagian dari traktat tersebut seperti nama-nama pangeran Mitanni dan istilah teknis yang berhubungan dengan perkudaan, dengan alasan yang tak dipahami, ditulis dalam bentuk awal bahasa Weda. Traktat ini juga memuat Dewa Baruna, Mitra, Indra, dan Nasatya yang ditemukan dalam lapisan awal literatur Weda.

[68] [70] Bahasa Weda yang ada dalam Regweda lebih arkais daripada Weda-Weda lainnya, dan dalam banyak hal, gaya bahasa Regweda diketahui lebih mirip dengan salah satu kitab umat Majusi Gathas dan juga Iliad dan Odisseia karya Homeros. [71] Menurut Stephanie W. Jamison dan Joel P. Brereton — Indolog yang dikenal karena penerjemahan Regweda — literatur Weda "telah jelas diwariskan" dari struktur sosial zaman Indo-Iran dan Indo-Eropa seperti peranan penyair dan pendeta, ekonomi patronasi, kemiripan frasa, dan sejumlah metrum puisi.

[72] [g] Meski contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah kemiripan, menurut Jamison dan Brereton, ada perbedaan antara sastra Weda, Avesta Kuno, dan Yunani Mikenai. Misalnya, tak seperti penggunaan majas simile dalam Regweda, teks Gathas tak memiliki simile, dan jarang digunakan pada versi bahasa yang kemudian. Bahasa Yunani Homeros, seperti Sanskerta Regweda, banyak menggunakan simile, tetapi secara struktural sangat berbeda.

[74] Bahasa Sanskerta Klasik [ sunting - sunting sumber ] Naskah tata bahasa Sanskerta Pāṇini abad ke-17 dari Kashmir Bentuk bahasa Weda kurang homogen, dan kemudian berevolusi menjadi bahasa yang lebih terstruktur dan homogen, yang disebut bahasa Sanskerta Klasik pada pertengahan milenium pertama SM. Menurut Richard Gombrich—Indolog dan sarjana bahasa Sanskerta, Pāli, dan studi agama Buddha—bahasa Weda yang arkais dalam Regweda sudah berevolusi pada periode Weda, seperti dibuktikan dalam karya sastra Weda berikutnya.

Bahasa dalam Upanisad Hindu awal dan karya sastra Weda berikutnya menggunakan bahasa Sanskerta Klasik, sedangkan bahasa Weda yang arkais pada zaman Buddha menjadi tak bisa dipahami oleh semua orang kecuali para Resi, menurut Gombrich.

[75] Orang yang dikredit berjasa dalam formalisasi bahasa Sanskerta adalah Pāṇini, juga Mahabhasya karya Patanjali serta komentar Katyayana yang mendahului karya Patanjali. [76] Panini menyusun kitab Aṣṭādhyāyī ("Delapan Bab Tata Bahasa Sanskerta").

Masa hidupnya sering diperdebatkan, tetapi umumnya disepakati bahwa karyanya dibuat antara abad ke-6 hingga ke-4 SM. [77] [78] [79] Aṣṭādhyāyī bukanlah karya pertama yang mendeskripsikan tata bahasa Sanskerta, tetapi merupakan karya paling awal yang masih bisa dilestarikan secara utuh.

Pāṇini mengutip sepuluh orang resi terkait aspek tata bahasa dan fonologi Sanskerta sebelumnya, serta varian penggunaan bahasa Sanskerta di wilayah India yang berbeda. [80] Ia mengutip sepuluh orang resi yaitu Apisali, Kasyapa, Gargya, Galawa, Cakrawarmana, Bharadwaja, Sakatayana, Sakalya, Senaka, dan Sphotayana. [81] Aṣṭādhyāyī menjadi peletak dasar salah satu Wedangga, Wyakarana. [82] Dalam Aṣṭādhyāyī, bahasa dipandang dengan cara yang tidak sejalan dengan tatabahasawan Yunani atau Latin.

Tata bahasa Pāṇini, menurut Renou dan Filliozat, mendefinisikan ekspresi linguistik dan klasika yang menjadi acuan dari bahasa Sanskerta. [83] Pāṇini menggunakan metabahasa teknis, seperti sintaksis, morfologi, dan leksikon. Metabahasa ini terorganisasi menurut deret aturan-meta, beberapa di antaranya dijelaskan langsung, sedangkan lainnya dapat disimpulkan sendiri. [84] Teori komprehensif dan ilmiah tata bahasa Pāṇini kelak menjadi awal permulaan bahasa Sanskerta Klasik.

[85] Risalahnya yang sistematis mengilhami dan menjadikan bahasa Sanskerta sebagai bahasa utama dalam pembelajaraan dan sastra India selama dua milenium. [86] Tak jelas apakah Pāṇini menulisnya sendiri, atau memberikan penjelasannya kepada murid-muridnya secara turun temurun.

Sejumlah sarjana menyetujui bahwa ia sudah mengenal penulisan, berdasarkan rujukan kata lipi ("aksara") atau lipikara ("penulis") pada subbab 3.2 Aṣṭādhyāyī. [87] [88] [89] [h] Bahasa Sanskerta Klasik yang diformalkan oleh Pāṇini, menurut Renou, "bukan bahasa yang dimiskinkan", melainkan "bahasa yang diatur dan ditata dengan mengabaikan arkaisme dan alternatif formal yang tidak perlu". [96] Bentuk klasik Sanskerta menyederhanakan hukum sandhi tetapi tetap mempertahankan ciri-ciri bahasa Weda, serta menambahkan ketelitian dan fleksibilitas, sehingga memiliki ruang yang cukup untuk mengekspresikan pikiran serta "mampu menjawab tuntutan literatur yang beragam di masa mendatang", menurut Renou.

Pāṇini juga membuat "aturan pilihan" di luar kerangka kerja bahasa Weda bahulam, untuk menghargai kebebasan dan kreativitas sehingga para penulis yang berada di wilayah geografis atau waktu yang berbeda dapat bebas mengekspresikan fakta dan pandangannya sendiri. [97] Perbedaan fonetika bahasa Weda dan Sanskerta Klasik dapat diabaikan, bila dibandingkan dengan perubahan yang terjadi pada masa pra-Weda antara bahasa Indo-Arya dan bahasa Weda.

[98] Yang membuat bahasa Weda dan Sanskerta klasik berbeda adalah tata bahasa dan kategori gramatikal yang diperluas, serta perbedaan aksen, semantik, dan sintaksis. [99] Ada juga perbedaan bagaimana akhir dari kata benda dan kata kerja, serta juga hukum sandhi, baik internal maupun eksternal. [99] Banyak sekali contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah dalam bahasa Weda tidak ditemukan dalam literatur bahasa Weda akhir atau Sanskerta Klasik, sedangkan ada kata Sanskerta Klasik yang maknanya berbeda dan baru jika dibandingkan dengan literatur bahasa Weda.

[99] Arthur Macdonell adalah salah satu sarjana zaman kolonial yang telah merangkum sejumlah perbedaan bahasa Weda dan Sanskerta Klasik. [99] [100] Publikasi berbahasa Prancis kary Louis Renou tahun 1956, berisi pembahasan yang lebih rinci terkait kemiripan, perbedaan, dan evolusi bahasa Weda pada periode Weda dengan bahasa Sanskerta Klasik beserta pandangan pribadinya. Karyanya kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Jagbans Balbir. [101] Bahasa Sanskerta dan Prakerta [ sunting - sunting sumber ] Kata Saṃskṛta dalam aksara Gupta: Saṃ-skṛ-ta Prasasti Mandsaur, 532 M.

[102] Kata Saṃskṛta sebagai sebuah bahasa, ditemukan dalam ayat 5.28.17–19 kitab Ramayana. [103] Di luar bahasa Sanskerta yang tertulis dan dipelajari, sejumlah bahasa rakyat ( Prakerta) muncul. Bahasa Sanskerta hadir bersama Prakerta pada zaman India kuno. Bahasa Prakerta memiliki akar bahasa Sanskerta yang disebut Apabhramsa, artinya "bahasa yang mengabaikan tata bahasa".

[104] [105] Weda memiliki kata-kata yang ekuivalensi fonetiknya tidak ditemukan dalam bahasa Indo-Eropa lain tetapi ditemukan dalam bahasa Prakerta, yang menandai mulainya interaksi berbagi kata dan gagasan pada sejarah awal India. Semenjak pemikiran bangsa India terdiversifikasi dan ajaran awal Hindu mengalami tantangan, khususnya lahirnya agama Buddha dan Jain, bahasa Prakerta seperti Pali yang dipertuturkan umat Buddha Theravāda dan Ardhamagadhi yang dipertuturkan umat Jain bersaing dengan bahasa Sanskerta pada zaman kuno.

[106] [107] [108] Namun, menurut Paul Dundas, sarjana Jaina, bahasa-bahasa Prakerta kuno "dikira-kira memiliki hubungan yang dekat dengan Sanskerta, sama seperti halnya bahasa Italia pertengahan dengan Latin." [108] Tradisi India mengakui bahwa Buddha dan Mahawira memilih bahasa Prakerta sehingga siapa pun dapat memahaminya.

Namun, sarjana seperti Dundas mempertanyakan hipotesis ini. Mereka mengaku tidak ada bukti dan bahkan jika ada buktinya pada awal masa itu, orang-orang sulit mempelajari bahasa Prakerta kuno seperti Ardhamagadhi kecuali para biksu atau rahib. [108] [i] Sarjana era kolonial mempertanyakan apakah Sanskerta itu bahasa lisan, atau hanya bahasa sastra. [110] Salah satu aliran menyebut bahwa Sanskerta tak pernah sebagai bahasa lisan, sedangkan yang lain dan kebanyakan sarjana India justru tidak setuju.

[111] Mereka yang menegaskan Sanskerta adalah bahasa daerah menyatakan bahwa bahasa ini dahulu adalah bahasa lisan yang dilestarikan dalam naskah-naskah tertulis Sanskerta di India kuno. Selain itu, bukti tekstual karya Yaksa, Panini, dan Patanajali menyatakan bahwa bahasa Sanskerta Klasik pada masa itu adalah bahasa yang dituturkan oleh orang terpelajar dan berbudaya.

Sejumlah sutras menguraikan bentuk-bentuk bahasa Sanskerta lisan dan tertulis. [111] Biksu pelancong abad ke-7 Xuanzang menulis dalam memoarnya bahwa perdebatan filosofis resmi di India adalah bahasa Sanskerta, bukan bahasa daerah di wilayah itu. [111] Pakar linguistik Madhav Deshpande menyatakan bahwa bahasa Sanskerta adalah bahasa lisan sehari-hari pada pertengahan milenium pertama SM yang berdampingan dengan bahasa Sanskerta sastra yang lebih formal dan tertata.

[112] Menurut Deshpande, dibenarkan bahwa bahasa modern juga memiliki bahasa sehari-hari dan dialek yang dipertuturkan dan dipahami, bersama dengan bentuk tertulis yang "tertata, lengkap, dan akurat dari segi tata bahasa". [112] Tradisi India, menurut Moriz Winternitz, adalah belajar dan menggunakan bermacam-macam bahasa sejak zaman dahulu.

Bahasa Sanskerta adalah bahasa kaum terpelajar dan terpandang, tetapi juga bahasa yang harus dipahami dalam lingkungan sosial yang lebih luas karena wiracarita yang populer seperti Ramayana, Mahabharata, Bhagawatapurana, Pancatantra, dan teks lainnya juga ditulis dalam bahasa Sanskerta. [113] Bahasa Sanskerta dengan tata bahasanya yang ada, menjadi bahasa kaum terpelajar India, dan yang lainnya berkomunikasi dengan bahasa sehari-hari yang dapat saja mengabaikan tata bahasa.

[112] Bahasa Sanskerta sebagai bahasa yang terpelajar, hadir bersama bahasa daerah Prakerta. [112] Seni drama berbahasa Sanskerta juga mengindikasikan bahasa itu berdampingan dengan Prakerta.

Benares, Paithan, Pune, dan Kanchipuram adalah pusat studi dan debat publik bahasa Sanskerta hingga awal mula kolonialisme di India. [114] Menurut Étienne Lamotte, Indolog dan sarjana ilmu agama Buddha, bahasa Sanskerta menjadi dominan sebagai bahasa resmi tertulis karena presisi komunikasinya. Menurut Lamotte, bahasa ini adalah instrumen yang cukup ideal untuk menampilkan gagasan serta pengetahuan sehingga menjadi tersebar dan berpengaruh. [115] Bahasa Sanskerta dianggap sebagai sarana gagasan yang berkebudayaan, artistik, dan mendalam.

Pollock tidak setuju Lamotte, tetapi yakin bahwa pengaruh bahasa Sanskerta bertumbuh menjadi sebuah "kosmopolis" yang mencakup seluruh wilayah Asia Selatan dan sebagian besar Asia Tenggara. Kosmopolis tersebut berkembang pesat di luar India antara 300 dan 1300 M. [116] Pengaruh rumpun Dravida [ sunting - sunting sumber ] Reinöhl menyebut rumpun bahasa Dravida tidak hanya menyerap kosakata Sanskerta, tetapi juga mempengaruhi bahasa Sanskerta berkaitan strukturnya, "misalnya asal usul fonologi retrofleks Indo-Arya, dikaitkan dengan pengaruh rumpun bahasa Dravida".

[117] Hock et al. mengutip George Hart yang menyatakan bahwa ada pengaruh bahasa Tamil Kuno dalam bahasa Sanskerta. [118] Hart membandingkan bahasa Tamil Kuno dan Sanskerta Klasik dan menyimpulkan bahwa ada bahasa Prakerta yang diturunkan dari kedua-duanya – "baik Tamil dan Sanskerta mendapatkan kaidah, metrum, dan teknik yang dibagi rata dari satu sumber, serta jelas tidak ada yang langsung diserap dari bahasa lainnya." [119] Reinöhl menyatakan bahwa ada keterkaitan secara simetris antara bahasa berumpun Dravida seperti bahasa Kannada atau Tamil dengan bahasa Indo-Arya seperti Bengali atau Hindi, dibandingkan dengan bahasa Persia atau Inggris terhadap bahasa berumpun non-Indo-Arya.

Dikutip dari Reinöhl – "Kalimat dalam bahasa rumpun Dravida seperti Tamil atau Kannada dapat diubah menjadi bahasa Bengali atau Hindi dengan mengganti kosakata Bengali atau Hindi yang ekuivalen dengan kata dan bentuk Dravida, tanpa mengubah urutan kata, tetapi hal yang sama tidak bisa digunakan untuk mengubah kalimat bahasa Persia atau Inggris menjadi bahasa non-Indo-Arya".

[117] Shulman menyebutkan, "Bentuk kata kerja contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah Dravida (disebut juga vinaiyeccam dalam bahasa Tamil) mempengaruhi kata kerja nonfinit Sanskerta (aslinya berasal dari bentuk infleksi kata benda perbuatan dalam Weda).

Kasus yang sangat menonjol dari pengaruh bahasa Dravida dalam bahasa Sanskerta hanyalah satu dari banyaknya asimilasi sintaktis, tak terkecuali repertoar yang besar dari aspek dan modalitas morfologis yang, jika diamati teliti, dapat ditemukan di mana saja dalam bahasa Sanskerta klasik dan pascaklasik". [120] Distribusi geografis [ sunting - sunting sumber ] Sebaran historis bahasa Sanskerta yang dituturkan di banyak negara. Bukti-buktinya antara lain manuskrip dan prasasti yang ditemukan di Asia Selatan, Tenggara, dan Tengah.

Bukti-bukti tersebut bertanggal antara 300 hingga 1800 M. Kehadiran bahasa Sanskerta secara historis telah terbukti dalam lingkup geografi yang luas di Asia Selatan. Prasasti dan karya-karya sastra menunjukkan bahwa bahasa Sanskerta telah digunakan di Asia Tenggara dan Tengah pada milenium pertama SM, melalui para brahmana, peziarah, dan pedagang. [121] [122] [123] Asia Selatan merupakan daerah yang kaya akan manuskrip dan prasasti berbahasa Sanskerta pada zaman kuno hingga sebelum abad ke-18.

[124] Di luar wilayah India Kuno, manuskrip dan prasasti berbahasa Sanskerta telah ditemukan di Tiongkok (terutama di Tibet), [125] [126] Myanmar, [127] Indonesia, [128] Kamboja, [129] Laos, [130] Vietnam, [131] Thailand, [132] dan Malaysia.

[130] Prasati dan manuskrip Sanskerta, maupun pecahan-pecahannya, termasuk sejumlah teks tertulis berbahasa Sanskerta tertua yang diketahui, telah ditemukan di gurun-gurun kering dan pegunungan seperti di Nepal, [133] [134] [j] Tibet, [126] [135] Afganistan, [136] [137] Mongolia, [138] Uzbekistan, [139] Turkmenistan, Tajikistan, [139] dan Kazakhstan.

[140] Sejumlah teks berbahasa Sanskerta juga ditemukan di kuil-kuil Jepang dan Korea. [141] [142] [143] Status resmi [ sunting - sunting sumber ] Di India, bahasa Sanskerta diakui sebagai 22 bahasa resmi yang ada dalam Jadwal Kedelapan Konstitusi India.

[144] Pada 2010, Uttarakhand menjadi negara bagian India pertama yang menetapkan bahasa Sanskerta sebagai bahasa resmi kedua. [145] Selanjutnya sejak 2019, Himachal Pradesh menjadi negara bagian kedua yang menetapkan bahasa tersebut sebagai bahasa resmi kedua. [146] Penelitian oleh bangsa Eropa [ sunting - sunting sumber ] Penelitian bahasa Sanskerta oleh bangsa Eropa dimulai oleh Heinrich Roth (1620–1668) dan Johann Ernst Hanxleden (1681–1731), dan dilanjutkan dengan proposal rumpun bahasa Indo-Eropa oleh Sir William Jones.

Hal ini memainkan peranan penting pada perkembangan ilmu perbandingan bahasa di Dunia Barat. Sir William Jones, pada kesempatan berceramah kepada Asiatick Society of Bengal di Calcutta, 2 Februari 1786, berkata: “ "Bahasa Sanskerta, bagaimanapun kekunoannya, memiliki struktur yang menakjubkan; lebih sempurna daripada bahasa Yunani, lebih luas daripada bahasa Latin dan lebih halus dan berbudaya daripada keduanya, tetapi memiliki keterkaitan yang lebih erat pada keduanya, baik dalam bentuk akar kata-kata kerja maupun bentuk tata bahasa, yang tak mungkin terjadi hanya secara kebetulan; sangat eratlah keterkaitan ini sehingga tak ada seorang ahli bahasa yang bisa meneliti ketiganya, tanpa percaya bahwa mereka muncul dari sumber yang sama, yang kemungkinan sudah tidak ada." ” Memang ilmu linguistik (bersama dengan fonologi, dsb.) pertama kali muncul di antara para tata bahasawan India kuno yang berusaha menetapkan hukum-hukum bahasa Sanskerta.

Ilmu linguistik modern banyak berhutang kepada mereka dan saat ini banyak contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah kunci seperti bahuvrihi dan suarabakti diambil dari bahasa Sanskerta.

Beberapa ciri-ciri [ sunting - sunting sumber ] Kasus [ sunting - sunting sumber ] Salah satu ciri-ciri utama bahasa Sanskerta ialah adanya kasus dalam bahasa ini, yang berjumlah 8. Dalam bahasa Latin yang masih serumpun hanya ada 5 kasus. Selain itu ada tiga jenis kelamin dalam bahasa Sanskerta, maskulin, feminin dan netral dan tiga modus jumlah, singular, dualis dan jamak: • kasus nominatif • kasus vokatif • kasus akusatif • kasus instrumentalis • kasus datif • kasus ablatif • kasus genetif • kasus lokatif Contoh tulisan Sanskerta.

Di bawah ini disajikan sebuah contoh semua kasus sebuah kata maskulin singular deva (Dewa, Tuhan atau Raja). Singular: • nom. devas arti: "Dewa" • vok. (he) deva arti: "Wahai Dewa" • ak. devam arti: "ke Dewa" dsb. • inst. devena arti: "dengan Dewa" dsb. • dat. devāya arti: "kepada Dewa" • ab. devāt arti: "dari Dewa" • gen. devasya arti: "milik Dewa" • lok. deve arti: "di Dewa" Dualis: • nva devau • ida devābhyām • gl devayos Jamak: • nv devās • a devān • i devais • da devebhyas • g devānām • l deveṣu Lalu di bawah ini disajikan dalam bentuk tabel.

Skema dasar tasrifan (deklensi) sufiks untuk kata-kata benda dan sifat [ sunting - sunting sumber ] Skema dasar tasrifan bahasa Sanskerta untuk kata-kata benda dan sifat disajikan di bawah ini. Skema ini berlaku untuk sebagian besar kata-kata. Tunggal Dualis Jamak Nominatif -s (-m) -au (-ī) -as (-i) Akusatif -am (-m) -au (-ī) -as (-i) Instrumentalis -ā -bhyām -bhis Datif -e -bhyām -bhyas Ablatif -as -bhyām -bhyas Genitif -as -os -ām Lokatif -i -os -su Vokatif -s (-) -au ( -ī) -as (-i) Pokok-a [ sunting - sunting sumber ] Pokok-a ( /ə/ or /ɑː/) mencakup kelas akhiran kata benda yang terbesar.

Biasanya kata-kata yang berakhir dengan -a pendek berkelamin maskulin atau netral. Kata-kata benda yang berakhirkan -a panjang ( /ɑː/) hampir selalu feminin. Kelas ini sangatlah besar karena juga mencakup akhiran -o dari bahasa proto-Indo-Eropa. Maskulin ( kā́ma- 'cinta') Netral ( āsya- 'mulut') Feminin ( kānta- 'tersayang') Tunggal Dualis Jamak Tunggal Dualis Jamak Tunggal Dualis Jamak Nominatif kā́mas kā́māu kā́mās āsyàm āsyè āsyā̀ni kāntā kānte kāntās Akusatif kā́mam kā́māu kā́mān āsyàm āsyè āsyā̀ni kāntām kānte kāntās Instrumentalis kā́mena kā́mābhyām kā́māis āsyèna āsyā̀bhyām āsyāìs kāntayā kāntābhyām kāntābhis Datif kā́māya kā́mābhyām kā́mebhyas āsyā̀ya āsyā̀bhyām āsyèbhyas kāntāyai kāntābhyām kāntābhyās Ablatif kā́māt kā́mābhyām kā́mebhyas āsyā̀t āsyā̀bhyām āsyèbhyas kāntāyās kāntābhyām kāntābhyās Genitif kā́masya kā́mayos kā́mānām āsyàsya āsyàyos āsyā̀nām kāntāyās kāntayos kāntānām Lokatif kā́me kā́mayos kā́me ṣu āsyè āsyàyos āsyè ṣu kāntāyām kāntayos kāntāsu Vokatif kā́ma kā́mau kā́mās ā́sya āsyè āsyā̀ni kānte kānte kāntās Pokok -i dan -u [ sunting - sunting sumber ] pokok-i Mas.

dan Fem. ( gáti- 'kepergian') Netral ( vā́ri- 'air') Tunggal Dualis Jamak Tunggal Dualis Jamak Nominatif gátis gátī gátayas vā́ri vā́ri ṇī vā́rī ṇi Akusatif gátim gátī gátīs vā́ri vā́ri ṇī vā́rī ṇi Instrumentalis gátyā gátibhyām gátibhis vā́ri ṇā vā́ribhyām vā́ribhis Datif gátaye, gátyāi gátibhyām gátibhyas vā́ri ṇe vā́ribhyām vā́ribhyas Ablatif gátes, gátyās gátibhyām gátibhyas vā́ri ṇas vā́ribhyām vā́ribhyas Genitif gátes, gátyās gátyos gátīnām vā́ri ṇas vā́ri ṇos vā́ri ṇām Lokatif gátāu, gátyām gátyos gáti ṣu vā́ri ṇi vā́ri ṇos vā́ri ṣu Vokatif gáte gátī gátayas vā́ri, vā́re vā́ri ṇī vā́rī ṇi pokok-u Mas.

dan Fem. ( śátru- 'seteru, musuh') Netral ( mádhu- 'madu') Tunggal Dualis Jamak Tunggal Dualis Jamak Nominatif śátrus śátrū śátravas mádhu mádhunī mádhūni Akusatif śátrum śátrū śátrūn mádhu mádhunī mádhūni Instrumentalis śátru ṇā śátrubhyām śátrubhis mádhunā mádhubhyām mádhubhis Datif śátrave śátrubhyām śátrubhyas mádhune mádhubhyām mádhubhyas Ablatif śátros śátrubhyām śátrubhyas mádhunas mádhubhyām mádhubhyas Genitif śátros śátrvos śátrū ṇām mádhunas mádhunos mádhūnām Lokatif śátrāu śátrvos śátru ṣu mádhuni mádhunos mádhuṣu Vokatif śátro śátrū śátravas mádhu mádhunī mádhūni Pokok vokal panjang [ sunting - sunting sumber ] Pokok ā ( jā- 'kepandaian') Pokok ī ( dhī- 'pikiran') Pokok ū ( bhū- 'bumi') Tunggal Dualis Jamak Tunggal Dualis Jamak Tunggal Dualis Jamak Nominatif jā́s jāú jā́s dhī́s dhíyāu dhíyas bhū́s bhúvāu bhúvas Akusatif jā́m jāú jā́s, jás dhíyam dhíyāu dhíyas bhúvam bhúvāu bhúvas Instrumentalis jā́ jā́bhyām jā́bhis dhiyā́ dhībhyā́m dhībhís bhuvā́ bhūbhyā́m bhūbhís Datif jé jā́bhyām jā́bhyas dhiyé, dhiyāí dhībhyā́m dhībhyás bhuvé, bhuvāí bhūbhyā́m bhūbhyás Ablatif jás jā́bhyām jā́bhyas dhiyás, dhiyā́s dhībhyā́m dhībhyás bhuvás, bhuvā́s bhūbhyā́m bhūbhyás Genitif jás jós jā́nām, jā́m dhiyás, dhiyā́s dhiyós dhiyā́m, dhīnā́m bhuvás, bhuvā́s bhuvós bhuvā́m, bhūnā́m Lokatif jí jós jā́su dhiyí, dhiyā́m dhiyós dhīṣú bhuví, bhuvā́m bhuvós bhūṣú Vokatif jā́s jāú jā́s dhī́s dhiyāu dhíyas bhū́s bhuvāu bhúvas Hukum sandhi [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Kata majemuk dalam bahasa Sanskerta Kata-kata majemuk dalam bahasa Sanskerta sangat banyak digunakan, terutama menyangkut kata-kata benda.

Kata-kata ini bisa menjadi sangat panjang (lebih dari 10 kata). Nominal majemuk terjadi dengan beberapa bentuk, tetapi secara morfologis mereka sejatinya sama. Setiap kata benda (atau kata sifat) terdapat dalam bentuk akarnya (bentuk lemah), dengan unsur terakhir saja yang ditasrifkan sesuai kasusnya.

Beberapa contoh kata benda atau nominal majemuk termasuk kategori-kategori yang diperikan di bawah ini. • Avyayibhāva • Tatpuruṣa • Karmadhāraya • Dvigu • Dvandva • Bahuvrīhi Bahasa Sanskerta di Indonesia [ sunting - sunting sumber ] Lihat pula: Nama Indonesia § Nama India dan Sansekerta Bahasa Sanskerta telah lama hadir di Nusantara sejak ribuan tahun lalu, bahkan banyak nama orang Indonesia yang menggunakan nama-nama India atau Hindu (Sanskerta), meskipun tidak berarti bahwa mereka beragama Hindu.

Ini karena pengaruh budaya India yang datang ke Nusantara sejak ribuan tahun yang lalu selama pengindiaan kerajaan-kerajaan Asia Tenggara (Hindu-Buddha), dan sejak itu, budaya India ini dilihat sebagai bagian dari budaya Indonesia, terutama dalam budaya Jawa, Bali, dan beberapa bagian dari Nusantara lainya. Dengan demikian, budaya Hindu atau India yang terkait di Indonesia hadir tidak hanya sebagai bagian dari agama, tetapi juga budaya.

Akibatnya, adalah umum untuk menemukan orang-orang Indonesia muslim atau Kristen dengan nama-nama yang bernuansa India atau Sanskerta.

Tidak seperti nama-nama yang berasal dari bahasa Sanskerta dalam bahasa Thai dan Khmer, pengucapan nama-nama Sanskerta dalam bahasa Jawa atau Indonesia mirip dengan pelafalan India asli, kecuali bahwa "v" diubah menjadi "w", contoh: "Vishnu" di India berubah menjadi "Wisnu" jika di Indonesia.

Di kawasan Nusantara khususnya di Indonesia, Bahasa Sanskerta sangat berpengaruh penting dan sangat memiliki peran tinggi di dalam perbahasaan di Indonesia. Bahasa Sanskerta yang masuk ke Indonesia sejak ribuan tahun lalu (masa kerajaan Hindu-Buddha) datang dari India ke Indonesia melalui para kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha pada masa kuno ribuan tahun yang lalu di bumi Nusantara. Sangat banyak kata-kata dalam Bahasa Indonesia yang diserap dari Bahasa Sanskerta, contohnya dari kata "bahasa" भाषा ( bhāṣa) itu sendiri berasal dari bahasa sanskerta berarti: "logat bicara".

Bahkan, banyak nama-nama lembaga, istilah, moto, dan semboyan di pemerintahan Indonesia menggunakan bahasa Sanskerta, seperti pangkat jenderal di Angkatan Laut Indonesia (TNI AL), menggunakan kata "Laksamana" (dari tokoh Ramayana yang merupakan adik dari Rama). " Penghargaan Adipura" yang merupakan penghargaan yang diberikan kepada kota-kota di seluruh Indonesia dari pemerintah pusat untuk kebersihan dan pengelolaan lingkungan juga menggunakan bahasa Sanskerta yaitu dari kata Adi (yang berarti "panutan") dan Pura (yang berarti "kota), menjadikan arti: "Kota Panutan" atau "kota yang layak menjadi contoh".

Ada juga banyak moto lembaga-lembaga Indonesia yang menggunakan bahasa Sanskerta, seperti moto Akademi Militer Indonesia yang berbunyi "Adhitakarya Mahatvavirya Nagarabhakti" ( अधिकाऱ्या महत्व विर्य नगरभक्ति), dan beberapa istilah-istilah lain dalam TNI juga menggunakan bahasa Sanskerta, contoh: "Adhi Makayasa", "Chandradimuka", "Tri Dharma Eka Karma", dll.

Bahasa Sanskerta dalam beberapa aksara [ sunting - sunting sumber ] Kalimat Semoga Batara Siwa meraksa para penggemar bahasa Dewata. ( Kalidasa) dalam bahasa Sanskerta menggunakan beberapa aksara turunan Brahmi.

Lihat pula [ sunting - sunting sumber ] • Bahasa Weda • Romanisasi bahasa Sanskerta • Kata-kata serapan dari bahasa Sanskerta dalam bahasa Melayu dan bahasa Indonesia Modern • Daftar kata serapan dari bahasa Sanskerta dalam bahasa Indonesia • Daftar nama yang mengandung unsur Sanskerta Catatan kaki [ sunting - sunting sumber ] • ^ a b "In conclusion, there are strong systemic and paleographic indications that the Brahmi script derived from a Semitic prototype, which, mainly on historical grounds, is most likely to have been Aramaic.

However, the details of this problem remain to be worked out, and in any case, it is unlikely that a complete letter-by-letter derivation will ever be possible; for Brahmi may have been more of an adaptation and remodeling, rather than a direct derivation, of the presumptive Semitic prototype, perhaps under the influence of a preexisting Indian tradition of phonetic analysis.

However, the Semitic hypothesis 1s not so strong as to rule out the remote possibility that further discoveries could drastically change the picture. In particular, a relationship of some kind, probably partial or indirect, with the protohistoric Indus Valley script should not be considered entirely out of the question." Salomon 1998, hlm. 30 • ^ Meski semua capaian itu dikerdilkan oleh tradisi linguistik Sanskerta yang berpuncak pada tata bahasa terkenal dari Panini, yang berjudul Astadhyayi.

Keanggunan dan kelengkapan arsitektur (tata bahasanya) belum bisa dilampaui oleh bahasa manapun, dan metode cerdasnya dalam mengelompokkan pemakaian dan penyebutannya, bahasa dan metabahasanya, dan teorema dan metateoremanya, mengungguli penemuan-penemuan penting dalam filsafat Barat selama beribu-ribu tahun.

[19] • ^ Tradisi gramatikal Sanskerta juga merupakan asal-usul ditemukannya angka "nol", yang begitu diadopsi sebagai sistem angka Arab, memungkinkan kita untuk melampaui notasi rumit aritmetika Romawi.

[19] • ^ Orang India yang melaporkan bahasa Sanskerta sebagai bahasa ibu mereka sebanyak 6.106 pada 1981, 49.736 pada 1991, 14.135 pada 2001, dan 24.821 pada 2011. [34] • ^ William Jones (1786), dikutip oleh Thomas Burrow dalam The Sanskrit Language: [55] Bahasa Sanskerta, di samping kekunoannya, memiliki struktur yang menarik; lebih sempurna daripada Yunani, lebih lengkap daripada Yunani, lebih halus daripada keduanya, tetapi kedekatannya kuat, baik dalam akar kata kerja dan tata bahasanya, daripada yang dihasilkan secara kebetulan, sehingga tidak ada filolog yang mampu menguji ketiganya, sebelum meyakini bahwa ketiganya berasal dari "satu sumber yang sama", yang mungkin sudah tiada lagi.

Ada alasan yang mirip, meski tak dipaksakan, untuk menganggap bahwa bahasa Got dan Kelt, meski berpadu dengan idiom berbeda, memiliki asal yang sama dengan Sanskerta dan Persia Kuno mungkin bisa dimasukkan dalam rumpun yang sama." • ^ Traktat Mitanni diduga berangka abad ke-16 SM, tetapi masih diperdebatkan. [69] • ^ Contoh kemiripan kosakata yang disorot dalam Weda adalah kata Dyaus Pita dalam bahasa Weda yang bermakna "Bapak Langit". Ekuivalen dengan bahasa Yunani Mikenai Zeus Pater, yang berevolusi menjadi Jupiter dalam Latin.

Kesamaan frasa "Bapak Langit" juga ditemukan dalam bahasa Indo-Eropa lainnya. [73] • ^ Pāṇini's use of the term lipi has been a source of scholarly disagreements. Harry Falk in his 1993 overview states that ancient Indians neither knew nor used writing script, and Pāṇini's mention is likely a reference to Semitic and Greek scripts.

[90] In his 1995 review, Salomon questions Falk's arguments and writes it is "speculative at best and hardly constitutes firm grounds for a late date for Kharoṣṭhī. The stronger argument for this position is that we have no specimen of the script before the time of Ashoka, nor any direct evidence of intermediate stages in its development; but of course this does not mean that such earlier forms did not exist, only that, if they did exist, they contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah not survived, presumably because they were not employed for monumental purposes before Ashoka".

[91] According to Hartmut Scharfe, Lipi of Pāṇini may be borrowed from the Old Persian Dipi, in turn derived from Sumerian Dup. Scharfe adds that the best evidence, at the time of his review, is that no script was used in India, aside from the Northwest Indian subcontinent, before around 300 BCE because Indian tradition "at every occasion stresses the orality of the cultural and literary heritage." [92] Kenneth Norman states writing scripts in ancient India evolved over the long period of time like other cultures, that it is unlikely that ancient Indians developed a single complete writing system at one and the same time in the Maurya era.

It is even less likely, states Norman, that a writing script was invented during Ashoka's rule, starting from nothing, for the specific purpose of writing his inscriptions and then it was understood all over South Asia where the Ashoka pillars are found.

[93] Jack Goody states that ancient India likely had a "very old culture of writing" along with its oral tradition of composing and transmitting knowledge, because the Vedic literature is too vast, consistent and complex to have been entirely created, memorized, accurately preserved and spread without a written system. [94] Falk disagrees with Goody, and suggests that it is a Western presumption and inability to imagine that remarkably early scientific achievements such as Pāṇini's grammar (5th to 4th century BCE), and the creation, preservation and wide distribution of the large corpus of the Brahmanic Vedic literature and the Buddhist canonical literature, without any writing scripts.

Johannes Bronkhorst disagrees with Falk, and states, "Falk goes too far. It is fair to expect that we believe that Vedic memorisation—though without parallel in any other human society—has been able to preserve very long texts for many centuries without losing a syllable.

[.] However, the oral composition of a work as complex as Pāṇini's grammar is not only without parallel in other human cultures, it is without parallel in India itself.

[.] It just will not do to state that our difficulty in conceiving any such thing is our problem". [95] • ^ Pali is also an extinct language. [109] • ^ The oldest surviving Sanskrit inscription in the Kathmandu valley is dated to 464 CE.

[134] Referensi [ sunting - sunting sumber ] • ^ Uta Reinöhl (2016). Grammaticalization and the Rise of Configurationality in Indo-Aryan. Oxford University Press. hlm. xiv, 1–16. ISBN 978-0-19-873666-0.

• ^ a b Jain, Dhanesh (2007). "Sociolinguistics of the Indo-Aryan languages". Dalam George Cardona; Dhanesh Jain. The Indo-Aryan Languages. Routledge. hlm. 47–66, 51. ISBN 978-1-135-79711-9.

In the history of Indo-Aryan, writing was a later development and its adoption has been slow even in modern times. The first written word comes to us through Asokan inscriptions dating back to the third century BC. Originally, Brahmi was used to write Prakrit (MIA); for Sanskrit (OIA) it was used only four centuries later (Masica 1991: 135). The MIA traditions of Buddhist and Jain texts show greater regard for the written word than the OIA Brahminical tradition, though writing was available to Old Indo-Aryans.

• ^ a b Salomon, Richard (2007). "The Writing Systems of the Indo-Aryan Languages". Dalam George Cardona; Dhanesh Jain. The Indo-Aryan Languages. Routledge. hlm. 67–102. ISBN 978-1-135-79711-9. Although in modern usage Sanskrit is most commonly written or printed in Nagari, in theory, it can be represented by virtually any of the main Brahmi-based scripts, and in practice it often is.

Thus scripts such as Gujarati, Bangla, and Oriya, as well as the major south Indian scripts, traditionally have been and often still are used in their proper territories for writing Sanskrit.

Sanskrit, in other words, is not inherently linked to any particular script, although it does have a special historical connection with Nagari. • ^ Sanskerta di Kamus Besar Bahasa Indonesia • ^ Apte, Vaman Shivaram (1957). Revised and enlarged edition of Prin.

V.S. Apte's The practical Sanskrit-English Dictionary. Poona: Prasad Prakashan. hlm. 1596. from संस्कृत saṃskṛitə past passive participle: Made perfect, refined, polished, cultivated.

-तः -tah A word formed regularly according to the rules of grammar, a regular derivative. -तम् -tam Refined or highly polished speech, the Sanskṛit language; संस्कृतं नाम दैवी वागन्वाख्याता महर्षिभिः ("named sanskritam the divine language elaborated by the sages") from Kāvyadarśa.1. 33. of Daṇḍin • ^ Roger D. Woodard (2008). The Ancient Languages of Asia and the Americas. Cambridge University Press. hlm. 1–2. ISBN 978-0-521-68494-1. The earliest form of this 'oldest' language, Sanskrit, is the one found in the ancient Brahmanic text called the Rigveda, composed c.

1500 BC. The date makes Sanskrit one of the three earliest of the well-documented languages of the Indo-European family – the other two being Old Hittite and Myceanaean Greek – and, in keeping with its early appearance, Sanskrit has been a cornerstone in the reconstruction of the parent language of the Indo-European family – Proto-Indo-European.

• ^ a b c Bauer, Brigitte L.M. (2017). Nominal Apposition in Indo-European: Its forms and functions, and its evolution in Latin-romance. De Gruyter. hlm. 90–92. ISBN 978-3-11-046175-6. for detailed comparison of the languages, see pages 90–126 • ^ a b c d Ramat, Anna Giacalone; Ramat, Paolo (2015). The Indo-European Languages. Routledge.

hlm. 26–31. ISBN 978-1-134-92187-4. • ^ Dyson, Tim (2018). A Population History of India: From the First Modern People to the Present Day. Oxford University Press. hlm. 14–15. ISBN 978-0-19-882905-8. Although the collapse of the Indus valley civilization is no longer believed to have been due to an ‘Aryan invasion’ it is widely thought that, at roughly the same time, or perhaps a few centuries later, new Indo-Aryan-speaking people and influences began to enter the subcontinent from the north-west.

Detailed evidence is lacking. Nevertheless, a predecessor of the language that would eventually be called Sanskrit was probably introduced into the north-west sometime between 3,900 and 3,000 years ago. This language was related to one then spoken contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah eastern Iran; and both of these languages belonged to the Indo-European language family.

• ^ Pinkney, Andrea Marion (2014). "Revealing the Vedas in 'Hinduism': Foundations and issues of interpretation of religions in South Asian Hindu traditions". Dalam Bryan S. Turner; Oscar Salemink. Routledge Handbook of Religions in Asia.

Routledge. hlm. 38–. ISBN 978-1-317-63646-5. According to Asko Parpola, the Proto-Indo-Aryan civilization was influenced by two external waves of migrations. The first group originated from the southern Urals (c. 2100 BCE) and mixed with the peoples of the Bactria-Margiana Contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah Complex (BMAC); this group then proceeded to South Asia, arriving around 1900 BCE.

The second wave arrived in northern South Asia around 1750 BCE and mixed with the formerly arrived group, producing the Mitanni Aryans (c. 1500 BCE), a precursor to the peoples of the Ṛgveda.

Michael Witzel has assigned an approximate chronology to the strata of Vedic languages, arguing that the language of the Ṛgveda changed through the beginning of the Iron Age in South Asia, which started in the Northwest (Punjab) around 1000 BCE. On the basis of comparative philological evidence, Witzel has suggested a five-stage periodization of Vedic civilization, beginning with the Ṛgveda.

On the basis of internal evidence, the Ṛgveda is dated as a late Bronze Age text composed by pastoral migrants with limited settlements, probably between 1350 and 1150 BCE in the Punjab region. • ^ Michael C. Howard 2012, hlm.

21 • ^ Pollock, Sheldon (2006). The Language of the Gods in the World of Men: Sanskrit, Culture, and Power in Premodern India. University of California Press. hlm. 14. ISBN 978-0-520-24500-6. Once Sanskrit emerged from the sacerdotal environment . it became the sole medium by which ruling elites expressed their power .

Sanskrit probably never functioned as an everyday medium of communication anywhere in the cosmopolis—not in South Asia itself, let alone Southeast Asia . The work Sanskrit did do . was directed above all toward articulating a form of . politics . as celebration of aesthetic power. • ^ Burrow (1973), hlm.

62–64. • ^ Cardona, George; Luraghi, Silvia (2018). "Sanskrit". Dalam Bernard Comrie. The World's Major Languages. Taylor & Francis. hlm. 497–.

contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah

ISBN 978-1-317-29049-0. Sanskrit (samskrita- 'adorned, purified') refers to several varieties of Old Indo-Aryan whose most archaic forms are found in Vedic texts: the Rigveda (Ṛgveda), Yajurveda, Sāmveda, Atharvaveda, with various branches.

• ^ Alfred C. Woolner (1986). Introduction to Prakrit. Motilal Banarsidass. hlm. 3–4. ISBN 978-81-208-0189-9. If in 'Sanskrit' we include the Vedic language and all dialects of the Old Indian period, then it is true to say that all the Prakrits are derived from Sanskrit. If on the other hand 'Sanskrit' is used more strictly of the Panini-Patanjali language or 'Classical Sanskrit,' then it is untrue to say that any Prakrit is derived from Sanskrit, except that Sauraseni, the Midland Prakrit, is derived from the Old Indian dialect of the Madhyadesa on which Classical Sanskrit was mainly based.

• ^ Lowe, John J. (2015). Participles in Rigvedic Sanskrit: The syntax and semantics of adjectival verb forms. Oxford University Press. hlm. 1–2. ISBN 978-0-19-100505-3. It consists of 1,028 hymns (suktas), highly crafted poetic compositions originally intended for recital during rituals and for the invocation of and communication with the Indo-Aryan gods.

Modern scholarly opinion largely agrees that these hymns were composed between around 1500 BCE and 1200 BCE, during the eastward migration of the Indo-Aryan tribes from the mountains of what is today northern Afghanistan across the Punjab into north India.

• ^ Witzel, Michael (2006). "Early Loan Words in Western Central Asia: Indicators of Substrate Populations, Migrations, and Trade Relations". Dalam Victor H. Mair. Contact And Exchange in the Ancient World. University of Hawaii Press. hlm. 158–190, 160. ISBN 978-0-8248-2884-4.

The Vedas were composed (roughly between 1500-1200 and 500 BCE) in parts of present-day Afghanistan, northern Pakistan, and northern India. The oldest text at our disposal is the Rgveda (RV); it is composed in archaic Indo-Aryan (Vedic Sanskrit). • ^ Shulman, David (2016). Tamil. Harvard University Press. hlm. 17–19. ISBN 978-0-674-97465-4. (p. 17) Similarly, we find a large number of other items relating to flora and fauna, grains, pulses, and spices—that is, words that we might expect to have made their way into Sanskrit from the linguistic environment of prehistoric or early-historic India.

. (p. 18) Dravidian certainly influenced Sanskrit phonology and syntax from early on . (p 19) Vedic Sanskrit was in contact, from very ancient times, with speakers of Dravidian languages, and that the two language families profoundly influenced one another. • ^ a b Evans, Nicholas (2009).

Dying Words: Endangered languages and what they have to tell us. John Wiley & Sons. hlm. 27–. ISBN 978-0-631-23305-3. • ^ Kesalahan pengutipan: Tag tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Evans-20092 • ^ Glenn Van Brummelen (2014). "Arithmetic". Dalam Thomas F. Glick; Steven Livesey; Faith Wallis. Medieval Science, Technology, and Medicine: An Encyclopedia. Routledge. hlm. 46–48. ISBN 978-1-135-45932-1. The story of the growth of arithmetic from the ancient inheritance to the wealth passed on to the Renaissance is dramatic and passes through several cultures.

The most groundbreaking achievement was the evolution of a positional number system, in which the position of a digit within a number determines its value according to powers (usually) of ten (e.g., in 3,285, the "2" refers to hundreds). Its extension to include decimal fractions and the procedures that were made possible by its adoption transformed the abilities of all who calculated, with an effect comparable to the modern invention of the electronic computer.

Roughly speaking, this began in India, was transmitted to Islam, and then to the Latin West. • ^ Lowe, John J. (2017). Transitive Nouns and Adjectives: Evidence from Early Indo-Aryan. Oxford University Press. hlm. 58. ISBN 978-0-19-879357-1. The term ‘Epic Sanskrit’ refers to the language of the two great Sanskrit epics, the Mahabharata and the Ramayana. . It is likely, therefore, that the epic-like elements found in Vedic sources and the two epics that we have are not directly related, but that both drew on the same source, an oral tradition of storytelling that existed before, throughout, and after the Vedic period.

• ^ Lowe, John J. (2017). Transitive Nouns and Adjectives: Evidence from Early Indo-Aryan. Oxford University Press. hlm. 53. ISBN 978-0-19-879357-1. The desire to preserve understanding and knowledge of Sanskrit in the face of ongoing linguistic change drove the development of an indigenous grammatical tradition, which culminated in the composition of the Astadhyayi, attributed to the grammarian Panini, no later than the early fourth century BCE.

In subsequent centuries, Sanskrit ceased to be learnt as a native language, and eventually ceased to develop as living languages do, becoming increasingly fixed according to the prescriptions of the grammatical tradition.

• ^ a b Lowe, John J. (2015). Participles in Rigvedic Sanskrit: The Syntax and Semantics of Adjectival Verb Forms. Oxford University Press. hlm. 2–. ISBN 978-0-19-100505-3. The importance of the Rigveda for the study of early Indo-Aryan historical linguistics cannot be underestimated.

. its language is . notably similar in many respects to the most archaic poetic texts of related language families, the Old Avestan Gathas and Homer's Iliad and Odyssey, respectively the earliest poetic representatives of the Iranian and Greek language families.

Moreover, its manner of preservation, by a system of oral transmission which has preserved the hymns almost without change for 3,000 years, makes it a very trustworthy witness to the Indo-Aryan language of North India in the second millennium BC. Its importance for the reconstruction of Proto-Indo-European, particularly in respect of the archaic morphology and syntax it preserves. . is considerable. Any linguistic investigation into Old Indo-Aryan, Indo-Iranian, or Proto-Indo-European cannot avoid treating the evidence of the Rigveda as of vital importance.

• ^ Staal 1986. • ^ Filliozat 2004, hlm. 360–375. • ^ Filliozat 2004, hlm. 139. • ^ Gazzola, Michele; Wickström, Bengt-Arne (2016). The Economics of Language Policy. MIT Press. hlm. 469–. ISBN 978-0-262-03470-8. The Eighth Schedule recognizes India's national languages as including the major regional languages as well as others, such as Sanskrit and Urdu, which contribute to India's cultural heritage. . The original list of fourteen languages in the Eighth Schedule at the time of the adoption of the Constitution in 1949 has now grown to twenty-two.

• ^ Groff, Cynthia (2017). The Ecology of Language in Multilingual India: Voices of Women and Educators in the Himalayan Foothills. Palgrave Macmillan UK. hlm. 58–. ISBN 978-1-137-51961-0. As Mahapatra says: “It is generally believed that the significance for the Eighth Schedule lies in providing a list of languages from which Hindi is directed to draw the appropriate forms, style and expressions for its enrichment” . Being recognized in the Constitution, however, has had significant relevance for a language's status and functions.

• ^ "Indian village where people speak in Sanskrit". BBC News (dalam bahasa Inggris). 22 December 2014. Diakses tanggal 30 September 2020. • ^ a b c Sreevastan, Ajai (10 August 2014). Where are the Sanskrit speakers?. Chennai: The Hindu. Diakses tanggal 11 October 2020.

Sanskrit is also the only scheduled language that shows wide fluctuations — rising from 6,106 speakers in 1981 to 49,736 in 1991 and then falling dramatically to 14,135 speakers in 2001. “This fluctuation is not necessarily an error of the Census method.

People often switch language loyalties depending on the immediate political climate,” says Prof. Ganesh Devy of the People's Linguistic Survey of India. . Because some people “fictitiously” indicate Sanskrit as their mother tongue owing to its high prestige and Constitutional mandate, the Census captures the persisting memory of an ancient language that is no longer anyone's real mother tongue, says B. Mallikarjun of the Center for Classical Language.

Hence, the numbers fluctuate in each Census. . “Sanskrit has influence without presence,” says Devy. “We all feel in some corner of the country, Sanskrit is spoken.” But even in Karnataka's Mattur, which is often referred to as India's Sanskrit village, hardly a handful indicated Sanskrit as their mother tongue.

• ^ Kesalahan pengutipan: Tag tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Ruppel2017 • ^ Annamalai, E. (2008). "Contexts of multilingualism". Dalam Braj B. Kachru; Yamuna Kachru; S. N. Sridhar. Language in South Asia. Cambridge University Press. hlm. 223–. ISBN 978-1-139-46550-2. Some of the migrated languages . such as Sanskrit and English, remained primarily as a second language, even though their native speakers were lost.

Some native languages like the language of the Indus valley were lost with their speakers, while some linguistic communities shifted their language to one or other of the migrants’ languages.

• ^ Kesalahan pengutipan: Tag tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama sreevastan-thehindu-sanskrit • ^ Distribution of the 22 Scheduled Languages – India / States / Union Territories – Sanskrit (PDF), Census of India, 2011, hlm. 30diakses tanggal 4 October 2020 • ^ Seth, Sanjay (2007).

Subject Lessons: The Western Education of Colonial India. Duke University Press. hlm. 171–. ISBN 978-0-8223-4105-5. • ^ Angus Stevenson & Maurice Waite 2011, hlm. 1275 • ^ a b Shlomo Biderman 2008, hlm. 90. • ^ Will Durant 1963, hlm. 406. • ^ Sir Monier Monier-Williams (2005). A Sanskrit-English Dictionary: Etymologically and Philologically Arranged with Special Reference to Cognate Indo-European Languages.

Motilal Banarsidass. hlm. 1120. ISBN 978-81-208-3105-6. • ^ Louis Renou & Jagbans Kishore Balbir 2004, hlm. 1-2. • ^ Annette Wilke & Oliver Moebus 2011, hlm.

62–66 with footnotes. • ^ Guy L. Beck 2006, hlm. 117–123. • ^ Southworth, Franklin (2004), Linguistic Archaeology of South Asia, Routledge, hlm. 45, ISBN 978-1-134-31777-6 • ^ Jared Klein; Brian Joseph; Matthias Fritz (2017). Handbook of Comparative and Historical Indo-European Linguistics: Contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah International Handbook.

Walter De Gruyter. hlm. 318–320. ISBN 978-3-11-026128-8. • ^ Kesalahan pengutipan: Tag tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Woodard12 • ^ "Ancient tablet found: Oldest readable writing in Europe". National Geographic. 1 April 2011. • ^ Rose, Jenny (18 August 2011). Zoroastrianism: A guide for the perplexed. Bloomsbury Publishing. hlm. 75–76. ISBN 978-1-4411-2236-0. • ^ Dani, Ahmad Hasan; Masson, Vadim Mikhaĭlovich (1999). History of Civilizations of Central Asia.

Motilal Banarsidass. hlm. 357–358. ISBN 978-81-208-1407-3. • ^ Colin P. Masica 1993, hlm. 34. • ^ Levin, Saul (24 October 2002). Semitic and Indo-European. Current Issues in Linguistic Theory #226. II: Comparative morphology, syntax, and phonetics. John Benjamins Publishing Company. hlm. 431. ISBN 9781588112224. OCLC 32590410. ISBN 1588112225 • ^ Bryant, Edwin Francis; Patton, Laurie L.

The Indo-Aryan Controversy: Evidence and inference in Indian history. Psychology Press. hlm. 208. • ^ Robins, R.H. (2014). General Linguistics. Routledge. hlm. 346–347. ISBN 978-1-317-88763-8. • ^ J. P. Mallory & D. Q. Adams 2006, hlm.

6. • ^ Burrow 1973, hlm. 6. • ^ Colin P. Masica 1993, hlm. 36-38. • ^ Burrow 1973, hlm. 30–32. • ^ Burrow 1973, hlm. 30–34. • ^ a b Meier-Brügger, Michael (2003). Indo-European Linguistics. Walter de Gruyter. hlm. 20. ISBN 978-3-11-017433-5. • ^ MacDonell 2004. • ^ Keith, A. Berriedale (1993). A History of Sanskrit Literature. Motilal Banarsidass. hlm. 4. ISBN 978-81-208-1100-3. • ^ Barbara A. Holdrege 2012, hlm. 229–230. • ^ Bryant 2001, hlm.

66–67. • ^ Louis Renou & Jagbans Kishore Balbir 2004, hlm. 5–6. • ^ Cardona, George (2012). Sanskrit Language. Encyclopaedia Britannica. • ^ a b Witzel, M. (1997). Inside the Texts, Beyond the Texts: New approaches to the study of the Vedas (PDF). Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press.

Diakses tanggal 17 July 2018. • ^ Harold G. Coward 1990, hlm. 3–12, 36–47, 111–112, Note: Sanskrit was both a literary and spoken language in ancient India. • ^ a b Cohen, Signe (2017). The Upanisads: A complete guide. Taylor & Francis. hlm. 11–17. ISBN 978-1-317-63696-0. • ^ Bryant 2001, hlm. 249. • ^ Robinson, Andrew (2014). India: A Short History. Thames & Hudson. hlm. 56–57. ISBN 978-0-500-77195-2. • ^ Lowe, John Jeffrey (2015).

Participles in Rigvedic Sanskrit: The syntax and semantics of adjectival verb forms. Oxford University Press. hlm. 2–3. ISBN 978-0-19-870136-1. • ^ Stephanie W. Jamison & Joel P. Brereton 2014, hlm. 10–11, 72. • ^ Stephanie W. Jamison & Joel P.

Brereton 2014, hlm. 50. • ^ Stephanie W. Jamison & Joel P. Brereton 2014, hlm. 66–67. • ^ Richard Gombrich (2006). Theravada Buddhism: A Social History from Ancient Benares to Modern Colombo.

Routledge. hlm. 24–25. ISBN 978-1-134-90352-8. • ^ Gérard Huet; Amba Kulkarni; Peter Scharf (2009). Sanskrit Computational Linguistics: Contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah and Second International Symposia Rocquencourt, France, October 29–31, 2007 Providence, RI, USA, May 15–17, 2008, Revised Selected Papers. Springer. hlm. v–vi. ISBN 978-3-642-00154-3. • ^ Cardona, George (1998), Pāṇini: A Survey of Research, Motilal Banarsidass, hlm.

268, ISBN 978-81-208-1494-3 • ^ The Editors of Encyclopaedia Britannica (2013). Ashtadhyayi, Work by Panini. Encyclopædia Britannica. Diakses tanggal 23 October 2017. Ashtadhyayi, Sanskrit Aṣṭādhyāyī ("Eight Chapters"), Sanskrit treatise on grammar written in the 6th to 5th century BCE by the Indian grammarian Panini. • ^ Staal, Frits (April 1965). "Euclid and Pāṇini". Philosophy East and West. 15 (2): 99–116. • ^ Harold G.

Coward 1990, hlm. 13–14, 111. • ^ Pāṇini; Sumitra Mangesh Katre (1989). Aṣṭādhyāyī of Pāṇini. Motilal Banarsidass. hlm. xix–xxi. ISBN 978-81-208-0521-7. • ^ Harold G. Coward 1990, hlm. 13-14, 111. • ^ Louis Renou & Jean Filliozat. L'Inde Classique, manuel des etudes indiennes, vol.II pp.86–90, École française d'Extrême-Orient, 1953, reprinted 2000. ISBN 2-85539-903-3. • ^ Angot, Michel. L'Inde Classique, pp.213–215. Les Belles Lettres, Paris, 2001.

ISBN 2-251-41015-5 • ^ Yuji Kawaguchi; Makoto Contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah Wolfgang Viereck (2011).

Corpus-based Analysis and Diachronic Linguistics. John Benjamins Publishing Company. hlm. 223–224. ISBN 978-90-272-7215-7. • ^ John Bowman (2005). Columbia Chronologies of Asian History and Culture. Columbia University Press. hlm. 728. ISBN 978-0-231-50004-3. • ^ Salomon 1998, hlm.

contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah

11. • ^ Juhyung Rhi (2009). "On the Peripheries of Civilizations: The Evolution of a Visual Tradition in Gandhāra". Journal of Central Eurasian Studies. 1: 5, 1–13. • ^ Rita Sherma; Arvind Sharma (2008). Hermeneutics and Hindu Thought: Toward a Fusion of Horizons. Springer. hlm. 235. ISBN 978-1-4020-8192-7. • ^ Falk, Harry (1993). Schrift im alten Indien: ein Forschungsbericht mit Anmerkungen (dalam bahasa German). Gunter Narr Verlag. hlm. 109–167. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui ( link) • ^ Salomon, Richard (1995).

"Review: On the Origin of the Early Indian Scripts".

contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah

Journal of the American Oriental Society. 115 (2): 271–278. doi: 10.2307/604670. JSTOR 604670. • ^ Scharfe, Hartmut (2002), Education in Ancient India, Handbook of Oriental Studies, Leiden, Netherlands: Brill, hlm.

10–12 • ^ Oskar von Hinüber (1989). Der Beginn der Schrift und frühe Schriftlichkeit in Indien. Akademie der Wissenschaften und der Literatur. hlm. 241–245. ISBN 9783515056274. OCLC 22195130. • ^ Jack Goody (1987). The Interface Between the Written and the Oral. Cambridge University Press. hlm. 110–124. ISBN 978-0-521-33794-6. • ^ Johannes Bronkhorst (2002), Literacy and Rationality in Ancient India, Asiatische Studien / Études Asiatiques, 56(4), pages 803–804, 797–831 • ^ Louis Renou & Jagbans Kishore Balbir 2004, hlm.

53. • ^ Louis Renou & Jagbans Kishore Balbir 2004, hlm. 53–54. • ^ Burrow 1973, hlm. 33–34. • ^ a b c d A. M. Ruppel 2017, hlm. 378–383. • ^ Arthur Anthony Macdonell (1997). A Sanskrit Grammar for Students. Motilal Banarsidass. hlm. 236–244. ISBN 978-81-208-0505-7. • ^ Louis Renou & Jagbans Kishore Balbir 2004, hlm. 1–59. • ^ Fleet, John Faithfull (1907). Corpus Inscriptionum Indicarum Vol 3 (1970)ac 4616.

hlm. 153, Contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah 14 of the inscription. • ^ Kesalahan pengutipan: Tag tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama wright-sanskrit-first • ^ Alfred C. Woolner (1986). Introduction to Prakrit. Motilal Banarsidass.

hlm. contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah, context: 1–10. ISBN 978-81-208-0189-9. • ^ Clarence Maloney (1978). Language and Civilization Change in South Asia. Brill Academic. hlm. 111–114. ISBN 978-90-04-05741-8.

• ^ Shastri, Gaurinath Bhattacharyya (1987). A Concise History of Classical Sanskrit Literature. Motilal Banarsidass. hlm. 18–19. ISBN 978-81-208-0027-4. • ^ Johansson, Rune Edvin Anders (1981). Pali Buddhist Texts: Explained to the beginner. Psychology Press. hlm. 7. ISBN 978-0-7007-1068-3. Pali is known mainly as the language of Theravada Buddhism. . Very little is known about its origin. We do not know where it was spoken or if it originally was a spoken language at all.

The ancient Ceylonese tradition says that the Buddha himself spoke Magadhi and that this language was identical to Pali. • ^ a b c Dundas, Paul (2003). The Jains. Routledge. hlm. 69–70. ISBN 978-0-415-26606-2. • ^ "Ethnologue report for language code: pli". Ethnologue. Diakses tanggal 20 July 2018. • ^ P.S. Krishnavarma (1881).

Sanskrit as a living language in India: Journal of the National Indian Association. Henry S. King & Company. hlm. 737–745. • ^ a b c Gaurinath Bhattacharyya Shastri (1987). A Concise History of Classical Sanskrit Literature.

Motilal Banarsidass. hlm. 20–23. ISBN 978-81-208-0027-4. • ^ a b c d Deshpande 2011, hlm. 218–220. • ^ Moriz Winternitz (1996). A History of Indian Literature. Motilal Banarsidass. hlm. 42–46. ISBN 978-81-208-0264-3. • ^ Deshpande 2011, hlm. 222–223. contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah ^ Etinne Lamotte (1976), Histoire du buddhisme indien, des origines à l'ère saka, Tijdschrift Voor Filosofie 21 (3):539–541, Louvain-la-Neuve: Université de Louvain, Institut orientaliste • ^ Sheldon Pollock (1996).

"The Sanskrit Cosmopolis, A.D. 300–1300: Transculturation, Vernacularization, and the Question of Ideology". Dalam Jan Houben. Ideology and Status of Sanskrit: Contributions to the history of the Sanskrit language. Leiden New York: E.J. Brill. hlm. 197–199; for context and details, please see 197–239. ISBN 978-90-04-10613-0. • ^ a b Reinöhl, Uta (2016). Grammaticalization and the rise of configurationality in Indo-Aryan. Oxford University Press.

hlm. 120–121. • ^ Hock, Hans Henrich; Bashir, E.; Subbarao, K.V. (2016). The languages and linguistics of South Asia a comprehensive guide. Berlin de Gruyter Mouton. hlm. 94–95.

• ^ Hart, George (1976). The relation between Tamil and classical Sanskrit literature. Wiesbaden: O. Harrassowitz. hlm. 317–320. ISBN 3447017856. • ^ Shulman, David Dean (2016). Tamil : a biography. London, UK: The Belknap Press Of Harvard University Press. hlm. 12–14, 20. • ^ Sheldon Pollock (1996). Jan E. M. Houben, ed. Ideology and Status of Sanskrit. BRILL Academic.

hlm. 197–223 with footnotes. ISBN 978-90-04-10613-0. • ^ William S.-Y. Wang; Chaofen Sun (2015). The Oxford Handbook of Chinese Linguistics. Oxford University Press. hlm. 6–19, 203–212, 236–245. ISBN 978-0-19-985633-6. • ^ Burrow 1973, hlm. 63-66. • ^ Kesalahan pengutipan: Tag tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama scharf233 • ^ Jinah Kim (2013).

Receptacle of the Sacred: Illustrated Manuscripts and the Buddhist Book Cult in South Asia. University of California Press. hlm. 8, 13–15, 49. ISBN 978-0-520-27386-3. • ^ a b Pieter C. Verhagen (1994). A History of Sanskrit Grammatical Literature in Tibet. BRILL.

hlm. 159–160. ISBN 978-90-04-09839-8. • ^ Salomon 1998, hlm. 154-155. • ^ Salomon 1998, hlm. 158-159. • ^ Salomon 1998, hlm. 155-157. • ^ a b Salomon 1998, hlm. 158. • ^ Salomon 1998, hlm. 157. • ^ Salomon 1998, hlm.

155. • ^ William M. Johnston (2013). Encyclopedia of Monasticism. Routledge. hlm. 926. ISBN 978-1-136-78716-4. • ^ a b Todd T. Lewis; Subarna Man Tuladhar (2009). Sugata Saurabha An Epic Poem from Nepal on the Life of the Buddha by Chittadhar Hridaya. Oxford University Press. hlm. 343–344. ISBN 978-0-19-988775-0. • ^ Salomon 1998, hlm. 159-160. • ^ Patrick Olivelle (2006). Between the Empires: Society in India 300 BCE to 400 CE. Oxford University Press. hlm. 356. ISBN 978-0-19-977507-1.

• ^ Salomon 1998, hlm. 152-153. • ^ Rewi Alley (1957). Journey to Outer Mongolia: a diary with poems. Caxton Press. hlm. 27–28. • ^ a b Salomon 1998, hlm. 153–154. • ^ Gian Luca Bonora; Niccolò Pianciola; Paolo Sartori (2009). Kazakhstan: Religions and Society in the History of Central Eurasia. U. Allemandi. hlm. 65, 140.

ISBN 978-88-42217-558. • ^ Bjarke Frellesvig (2010). A History of the Japanese Language. Cambridge University Press. hlm. 164–165, 183. ISBN 978-1-139-48880-8. • ^ Donald S. Lopez Jr. (2017). Hyecho's Journey: The World of Buddhism.

University of Chicago Press. hlm. 16–22, 33–42. ISBN 978-0-226-51806-0. • ^ Salomon 1998, hlm. 160 with footnote 134.

• ^ Cynthia Groff (2013). Jo Arthur Shoba and Feliciano Chimbutane, ed. Bilingual Education and Language Policy in the Global South. Routledge. hlm. 178. ISBN 978-1-135-06885-1. • ^ "Sanskrit second official language of Uttarakhand". The Hindu. 21 January 2010. ISSN 0971-751X. Diakses tanggal 2 October 2018.

• ^ "HP Assy clears three Bills, Sanskrit becomes second official language". Daftar pustaka [ sunting - sunting sumber ] • H. W. Bailey (1955). "Buddhist Sanskrit". The Journal of the Royal Asiatic Society of Great Britain and Ireland. Cambridge University Press.

87 (1/2): 13–24. doi: 10.1017/S0035869X00106975. JSTOR 25581326. • Banerji, Sures (1989). A Companion to Sanskrit Literature: Spanning a period of over three thousand years, containing brief accounts of authors, works, characters, technical terms, geographical names, myths, legends, and several appendices.

Delhi: Motilal Banarsidass. ISBN 978-81-208-0063-2. • Guy L. Beck (1995). Sonic Theology: Hinduism and Sacred Sound. Motilal Banarsidass. ISBN 978-81-208-1261-1. • Guy L. Beck (2006). Sacred Sound: Experiencing Music in World Religions. Wilfrid Laurier Univ. Press. ISBN 978-0-88920-421-8. • Robert S.P. Beekes (2011). Comparative Indo-European Linguistics: An introduction (edisi ke-2nd). John Benjamins Publishing. ISBN 978-90-272-8500-3. • Benware, Wilbur (1974).

The Study of Indo-European Vocalism in the 19th Century: From the Beginnings to Whitney and Scherer: A Critical-Historical Account. Benjamins. ISBN 978-90-272-0894-1. • Shlomo Biderman (2008). Crossing Horizons: World, Self, and Language in Indian and Western Thought.

Columbia University Press. ISBN 978-0-231-51159-9. • Claire Bowern; Bethwyn Evans (2015). The Routledge Handbook of Historical Linguistics. Routledge. ISBN 978-1-317-74324-8. • John L. Brockington (1998).

The Sanskrit Epics. BRILL Academic. ISBN 978-90-04-10260-6. • Johannes Bronkhorst (1993). "Buddhist Hybrid Sanskrit: The Original Language". Aspects of Buddhist Sanskrit: Proceedings of the International Symposium on the Language of Sanskrit Buddhist Texts, 1–5 Oct. 1991. Sarnath. hlm. 396–423. ISBN 978-81-900149-1-5. • Bryant, Edwin (2001). The Quest for the Origins of Vedic Culture: The Indo-Aryan Migration Debate. Oxford, UK: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-513777-4. • Edwin Francis Bryant; Laurie L.

Patton (2005). The Indo-Aryan Controversy: Evidence and Inference in Indian History. Psychology Press. ISBN 978-0-7007-1463-6. • Burrow, Thomas (1973). The Sanskrit Language (edisi ke-3rd, revised). London: Faber & Faber.

• Robert E. Buswell Jr.; Donald S. Lopez Jr. (2013). The Princeton Dictionary of Buddhism. Princeton University Press. ISBN 978-1-4008-4805-8.

• George Cardona (2012). Sanskrit Language. Encyclopaedia Britannica. • James Clackson (18 October 2007). Indo-European Linguistics: An Introduction. Cambridge University Press.

ISBN 978-1-139-46734-6. • Coulson, Michael (1992). Richard Gombrich; James Benson, ed. Sanskrit : an introduction to the classical language (edisi ke-2nd, revised by Gombrich and Benson).

Random House. ISBN 978-0-340-56867-5. OCLC 26550827. • Michael Coulson; Richard Gombrich; James Benson (2011). Complete Sanskrit: A Teach Yourself Guide. Mcgraw-Hill. ISBN 978-0-07-175266-4. • Harold G. Coward (1990). Karl Potter, ed. The Philosophy of the Grammarians, in Encyclopedia of Indian Philosophies.

5. Princeton University Press. ISBN 978-81-208-0426-5. • Suniti Kumar Chatterji (1957). "Indianism and Sanskrit". Annals of the Bhandarkar Oriental Research Institute. Bhandarkar Oriental Research Institute. 38 (1/2): 1–33. JSTOR 44082791. • Peter T. Daniels (1996). The World's Writing Systems. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-507993-7. • Deshpande, Madhav (2011). "Efforts to vernacularize Sanskrit: Degree of success and failure". Dalam Joshua Fishman; Ofelia Garcia.

Handbook of Language and Ethnic Identity: The success-failure continuum in language and ethnic identity efforts. 2. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-983799-1. • Will Durant (1963). Our oriental heritage. Simon & Schuster. ISBN 978-1567310122. • Eltschinger, Vincent (2017). "Why Did the Buddhists Adopt Sanskrit?". Open Linguistics. 3 (1). doi: 10.1515/opli-2017-0015. ISSN 2300-9969. • J. Filliozat (1955). "Sanskrit as Language of Communication".

Annals of the Bhandarkar Oriental Research Institute. Bhandarkar Oriental Research Institute. 36 (3/4): 179–189.

JSTOR 44082954. • Filliozat, Pierre-Sylvain (2004), "Ancient Sanskrit Mathematics: An Oral Tradition and a Written Literature", dalam Chemla, Karine; Cohen, Robert S.; Renn, Jürgen; et al., History of Science, History of Text (Boston Series in the Philosophy of Science), Dordrecht: Springer Netherlands, hlm.

360–375, doi: 10.1007/1-4020-2321-9_7, ISBN 978-1-4020-2320-0 • Pierre-Sylvain Filliozat (2000). The Sanskrit Language: An Overview : History and Structure, Linguistic and Philosophical Representations, Uses and Users. Indica. ISBN 978-81-86569-17-7. • Benjamin W.

Fortson, IV (2011). Indo-European Language and Culture: An Introduction. John Wiley & Sons. ISBN 978-1-4443-5968-8. • Robert P. Goldman; Sally J Sutherland Goldman (2002). Devavāṇīpraveśikā: An Introduction to the Sanskrit Language. Center for South Asia Studies, University of California Press. • Thomas V. Gamkrelidze; Vjaceslav V. Ivanov (2010). Indo-European and the Indo-Europeans: A Reconstruction and Historical Analysis of a Proto-Language and Proto-Culture.

Part I: The Text. Part II: Bibliography, Indexes. Walter de Gruyter. ISBN 978-3-11-081503-0. • Thomas V. Gamkrelidze; V. V. Ivanov (1990). "The Early History of Indo-European Languages". Scientific American. Nature America. 262 (3): 110–117. Bibcode: 1990SciAm.262c.110G. doi: 10.1038/scientificamerican0390-110. JSTOR 24996796. • Jack Goody (1987). The Interface Between the Written and the Oral. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-33794-6. • Reinhold Grünendahl (2001). South Indian Scripts in Sanskrit Manuscripts and Prints: Grantha Tamil, Malayalam, Telugu, Kannada, Nandinagari.

Otto Harrassowitz Verlag. ISBN 978-3-447-04504-9. • Houben, Jan (1996). Ideology and status of Sanskrit: contributions to the history of the Sanskrit language. Brill. ISBN 978-90-04-10613-0. • Hanneder, J. (2002). "On 'The Death of Sanskrit '". Indo-Iranian Journal. Brill Academic Publishers. 45 (4): 293–310. doi: 10.1023/a:1021366131934. Parameter -s2cid= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • Hock, Hans Henrich (1983).

Kachru, Braj B, ed. "Language-death phenomena in Sanskrit: grammatical evidence for attrition in contemporary spoken Sanskrit". Studies in the Linguistic Sciences. 13:2. • Barbara A. Holdrege (2012). Veda and Torah: Transcending the Textuality of Scripture. State University of New York Press. ISBN 978-1-4384-0695-4. • Michael C. Howard (2012). Transnationalism in Ancient and Medieval Societies: The Role of Cross-Border Trade and Travel.

McFarland. ISBN 978-0-7864-9033-2. • Dhanesh Jain; George Cardona (2007). The Indo-Aryan Languages. Routledge. ISBN 978-1-135-79711-9. • Stephanie W. Jamison; Joel P. Brereton (2014). The Rigveda: 3-Volume Set, Volume I. Oxford University Press.

ISBN 978-0-19-972078-1. • A. Berriedale Keith (1993). A history of Sanskrit literature. Motilal Banarsidass. ISBN 978-81-208-1100-3. • Damien Keown; Charles S. Prebish (2013). Encyclopedia of Buddhism. Taylor & Francis. ISBN 978-1-136-98595-9. • Anne Kessler-Persaud (2009).

Knut A. Jacobsen; et al., ed. Brill's Encyclopedia of Hinduism: Sacred texts, ritual traditions, arts, concepts. Brill Academic. ISBN 978-90-04-17893-9. • Jared Klein; Brian Joseph; Matthias Fritz (2017). Handbook of Comparative and Historical Indo-European Linguistics: An International Handbook. Walter De Gruyter. ISBN 978-3-11-026128-8. • Dalai Lama (1979). "Sanskrit in Tibetan Literature".

The Tibet Journal. 4 (2): 3–5. JSTOR 43299940. • Winfred Philipp Lehmann (1996). Theoretical Bases of Indo-European Linguistics. Psychology Press. ISBN 978-0-415-13850-5. • Donald S. Lopez Jr. contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah. "Authority and Orality in the Mahāyāna" (PDF). Numen. Brill Academic. 42 (1): 21–47. doi: 10.1163/1568527952598800. hdl: 2027.42/43799. JSTOR 3270278. • Mahadevan, Iravatham (2003). Early Tamil Epigraphy from the Earliest Times to the Sixth Century A.D.

Harvard University Press. ISBN 978-0-674-01227-1. • Malhotra, Rajiv (2016). The Battle for Sanskrit: Is Sanskrit Political or Sacred, Oppressive or Liberating, Dead or Alive?. Harper Collins. ISBN 978-9351775386. • J.

P. Mallory; Douglas Q. Adams (1997). Encyclopedia of Indo-European Culture. Taylor & Francis. ISBN 978-1-884964-98-5. • Mallory, J. P. (1992). "In Search of the Indo-Europeans / Language, Archaeology and Myth".

Praehistorische Zeitschrift. Walter de Gruyter GmbH. 67 (1). doi: 10.1515/pz-1992-0118. ISSN 1613-0804. Parameter -s2cid= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • Colin P. Masica (1993).

contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah

The Indo-Aryan Languages. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-29944-2. • Michael Meier-Brügger (2003). Indo-European Linguistics. Walter de Gruyter. ISBN 978-3-11-017433-5. • Michael Meier-Brügger (2013). Indo-European Linguistics. Walter de Gruyter. ISBN 978-3-11-089514-8. • Matilal, Bimal (2015). The word and the world : India's contribution to the study of language. New Delhi, India Oxford: Oxford University Press.

ISBN 978-0-19-565512-4. OCLC 59319758. • Maurer, Walter (2001). The Sanskrit language: an introductory grammar and reader. Surrey, England: Curzon. ISBN 978-0-7007-1382-0. • J. P. Mallory; D. Q. Adams (2006). The Oxford Introduction to Proto-Indo-European and the Proto-Indo-European World. Oxford University Press.

ISBN 978-0-19-928791-8. • V. RAGHAVAN (1965). "Sanskrit". Indian Literature. Sahitya Akademi. 8 (2): 110–115. JSTOR 23329146. • MacDonell, Arthur (2004). A History Of Contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah Literature. Kessinger Publishing. ISBN 978-1-4179-0619-2. • Sir Monier Monier-Williams (2005). A Sanskrit-English Dictionary: Etymologically and Philologically Arranged with Special Reference to Cognate Indo-European Languages.

Motilal Banarsidass. ISBN 978-81-208-3105-6. • Tim Murray (2007). Milestones in Archaeology: A Chronological Encyclopedia. ABC-CLIO. ISBN 978-1-57607-186-1. • Ramesh Chandra Majumdar (1974). Study of Sanskrit in South-East Asia.

Sanskrit College. • Nedi︠a︡lkov, V. P. (2007). Reciprocal constructions. Amsterdam Philadelphia: J. Benjamins Pub. Co. ISBN 978-90-272-2983-0. • Oberlies, Thomas (2003). A Grammar of Epic Sanskrit. Berlin New York: Walter de Gruyter. ISBN 978-3-11-014448-2. • Petersen, Walter (1912). "Vedic, Sanskrit, and Prakrit". Journal of the American Oriental Society. American Oriental Society. 32 (4): 414–428.

doi: 10.2307/3087594. ISSN 0003-0279. JSTOR 3087594. • Sheldon Pollock (2009). The Language of the Gods in the World of Men: Sanskrit, Culture, and Power in Premodern India. University of California Press. ISBN 978-0-520-26003-0. • Pollock, Sheldon (2001). "The Death of Sanskrit".

Comparative Studies in Society and History. Cambridge University Press. 43 (2): 392–426. doi: 10.1017/s001041750100353x. JSTOR 2696659. Parameter -s2cid= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • V. RAGHAVAN (1968). "Sanskrit: Flow of Studies". Indian Literature. Sahitya Akademi.

11 (4): 82–87. JSTOR 24157111. • Colin Renfrew (1990). Archaeology and Language: The Puzzle of Indo-European Origins. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-38675-3. • Louis Renou; Jagbans Kishore Balbir (2004). A history of Sanskrit language. Ajanta. ISBN 978-8-1202-05291. • A. M. Ruppel (2017). The Cambridge Introduction to Sanskrit. Cambridge University Press. ISBN 978-1-107-08828-3. • Salomon, Richard (1998). Indian Epigraphy: A Guide to the Study of Inscriptions in Sanskrit, Prakrit, and the other Indo-Aryan Languages.

Oxford University Press. ISBN 978-0-19-535666-3. • Salomon, Richard (1995). "On the Origin of the Early Indian Scripts". Journal of the American Oriental Society. 115 (2): 271–279. doi: 10.2307/604670. JSTOR 604670. • Salomon, Richard (1995). "On the Origin of the Early Indian Scripts". Journal of the American Oriental Society. 115 (2): 271–279. doi: 10.2307/604670. JSTOR 604670. • Malati J.

Shendge (1997). The Language of the Harappans: From Akkadian to Sanskrit.

contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah

Abhinav Publications. ISBN 978-81-7017-325-0. • Seth, Sanjay (2007). Subject lessons: the Western education of colonial India. Durham, NC: Duke University Press. ISBN 978-0-8223-4105-5. • Staal, Frits (1986), The Fidelity of Oral Tradition and the Origins of Science, Mededelingen der Koninklijke Nederlandse Akademie von Wetenschappen, Amsterdam: North Holland Publishing Company • Staal, J.

F. (1963). "Sanskrit and Sanskritization". The Journal of Asian Studies. Cambridge University Press. 22 (3): 261–275. doi: 10.2307/2050186. JSTOR 2050186. • Angus Stevenson; Maurice Waite (2011). Concise Oxford English Dictionary.

Oxford University Press. ISBN 978-0-19-960110-3. • Southworth, Franklin (2004). Linguistic Archaeology of South Asia. Routledge. ISBN 978-1-134-31777-6. • Philipp Strazny (2013). Encyclopedia of Linguistics. Routledge. ISBN 978-1-135-45522-4. • Paul Thieme (1958).

"The Indo-European Language". Scientific American. 199 (4): 63–78. Bibcode: 1958SciAm.199d.63T. doi: 10.1038/scientificamerican1058-63. JSTOR 24944793. • Peter van der Veer (2008). "Does Sanskrit Knowledge Exist?". Journal of Indian Philosophy. Springer. 36 (5/6): 633–641. doi: 10.1007/s10781-008-9038-8. JSTOR 23497502. Parameter -s2cid= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • Umāsvāti, Umaswami (1994).

That Which Is. Diterjemahkan oleh Nathmal Tatia. Rowman & Littlefield. ISBN 978-0-06-068985-8. • Wayman, Alex (1965). "The Buddhism and the Sanskrit of Buddhist Hybrid Sanskrit". Journal of the American Oriental Society. 85 (1): 111–115. doi: 10.2307/597713. JSTOR 597713. • Annette Wilke; Oliver Moebus (2011).

Sound and Communication: An Aesthetic Cultural History of Sanskrit Hinduism. Walter de Gruyter. ISBN 978-3-11-024003-0. • Whitney, W.D.

(1885). "The Roots of the Sanskrit Language". Transactions of the American Philological Association. JSTOR. 16: 5–29. doi: 10.2307/2935779. ISSN 0271-4442. JSTOR 2935779. • Witzel, M. (1997). Inside the texts, beyond the texts: New approaches to the study of the Vedas (PDF). Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press.

• Jamison, Stephanie (2008). Roger D. Woodard, ed. The Ancient Languages of Asia and the Americas. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-68494-1. Daftar pustaka [ sunting - sunting sumber ] • Jan Gonda. 1952. Sanskrit in Indonesia, New Delhi: International Academy of Indian Culture. • Jan Gonda. 1963.

Kurze Elementar-Grammatik der Sanskrit-Sprache, Leiden: E.J. Brill • Jan Gonda. 1966. A Concise Elementary Grammar of the Sanskrit Language, Tuscaloosa and London. Translated from the German by Gordon B. Ford Jr. • Haryati Soebadio.

1983. Tata Bahasa Sanskerta Ringkas. Jakarta: Djambatan. Kategori tersembunyi: • Halaman dengan kesalahan referensi • CS1 sumber berbahasa Inggris (en) • Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui • Artikel bahasa dengan kode ISO 639-2 • Artikel bahasa dengan kode ISO 639-1 • Artikel bahasa tanpa referensi • Artikel bahasa tanpa kode Glottolog • Semua artikel bahasa • Artikel bahasa dengan field infobox yang tidak didukung • Halaman dengan rujukan yang menggunakan parameter yang tidak didukung • Artikel Wikipedia dengan penanda GND • Artikel Wikipedia dengan penanda BNF • Artikel Wikipedia dengan penanda LCCN • Artikel Wikipedia dengan penanda NDL • Artikel Wikipedia dengan penanda MA • Halaman ini terakhir diubah pada 1 Mei 2022, pukul 02.43.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • • • Afrikaans • Alemannisch • አማርኛ • Aragonés • Ænglisc • العربية • الدارجة • مصرى • Asturianu • Aymar aru • Azərbaycanca • تۆرکجه • Башҡортса • Boarisch • Žemaitėška • Bikol Central • Беларуская • Беларуская (тарашкевіца) • Български • भोजपुरी • বাংলা • བོད་ཡིག • Brezhoneg • Bosanski • Буряад • Català • Chavacano de Zamboanga • Mìng-dĕ̤ng-ngṳ̄ • Нохчийн • Cebuano • کوردی • Corsu • Čeština • Kaszëbsczi • Чӑвашла • Cymraeg • Dansk • Deutsch • Zazaki • Dolnoserbski • डोटेली • Ελληνικά • Emiliàn e rumagnòl • English • Esperanto • Español • Eesti • Euskara • Estremeñu • فارسی • Suomi • Võro • Na Vosa Vakaviti • Føroyskt • Français • Nordfriisk • Frysk • Gaeilge • Gàidhlig • Galego • گیلکی • Avañe'ẽ • गोंयची कोंकणी / Gõychi Konknni • 𐌲𐌿𐍄𐌹𐍃𐌺 • Gaelg • 客家語/Hak-kâ-ngî • Hawaiʻi • עברית • हिन्दी • Fiji Hindi • Hrvatski • Hornjoserbsce • Kreyòl ayisyen • Magyar • Հայերեն • Արեւմտահայերէն • Interlingua • Interlingue • Ilokano • Ido • Íslenska • Italiano • 日本語 • Jawa • ქართული • Qaraqalpaqsha • Kabɩyɛ • Қазақша • ភាសាខ្មែរ • ಕನ್ನಡ • 한국어 • Къарачай-малкъар • Ripoarisch • Kurdî • Коми • Kernowek • Кыргызча • Latina • Ladino • Lëtzebuergesch • Lingua Franca Nova • Limburgs • Ligure • Lombard • Lingála • ລາວ • Lietuvių • Latviešu • Malagasy • Māori • Minangkabau • Македонски • മലയാളം • Монгол • ꯃꯤꯇꯩ ꯂꯣꯟ • ဘာသာ မန် • मराठी • Bahasa Melayu • Malti • မြန်မာဘာသာ • مازِرونی • Plattdüütsch • Nedersaksies • नेपाली • Nederlands • Norsk nynorsk • Norsk bokmål • Novial • Nouormand • Occitan • Ирон • ਪੰਜਾਬੀ • Kapampangan • Papiamentu • Picard • Norfuk / Pitkern • Polski • Piemontèis • پنجابی • Português • Runa Simi • Rumantsch • Română • Armãneashti • Русский • Русиньскый • ᱥᱟᱱᱛᱟᱲᱤ • Sardu • Sicilianu • Scots • سنڌي • Srpskohrvatski / српскохрватски • ၽႃႇသႃႇတႆး • සිංහල • Simple English • Slovenčina • Slovenščina • Gagana Samoa • Anarâškielâ • ChiShona • Soomaaliga • Shqip • Српски / srpski • SiSwati • Seeltersk • Sunda • Svenska • Kiswahili • Ślůnski • தமிழ் • తెలుగు • Tetun • Тоҷикӣ • ไทย • Tagalog • Lea faka-Tonga • Tok Pisin • Türkçe • Татарча/tatarça • Удмурт • ئۇيغۇرچە / Uyghurche • Українська • اردو • Oʻzbekcha/ўзбекча • Vèneto • Vepsän kel’ • Tiếng Việt • West-Vlams • Volapük • Walon • Winaray • 吴语 • Хальмг • მარგალური • ייִדיש • Yorùbá • Zeêuws • 中文 • 文言 • Bân-lâm-gú • 粵語 • IsiZulu • Sering disingkat dengan "In Defens".

• Flower of Scotland, Scotland the Brave, dan Scots Wha Hae digunakan sebagai pengganti lagu kebangsaan resmi (lihat Lagu Kebangsaan Skotlandia). • Inggris adalah bahasa resmi di Britania Raya. [9] Bahasa Skots dan Gaelik Skotlandia secara resmi juga diakui sebagai bahasa pribumi di bawah Piagam Eropa untuk Bahasa Daerah atau Minoritas. [10] Melalui Undang-Undang Bahasa Gaelik 2005, Bòrd na Gàidhlig ditugaskan untuk melindungi Gaelik sebagai bahasa resmi Skotlandia dengan "penghormatan yang setara" dengan bahasa Inggris.

[11] • Secara historis, penggunaan "Scotch" sebagai kata sifat sebanding dengan "Scottish" atau "Scots", terutama di luar Skotlandia. Saat ini, istilah ini digunakan untuk menyebut "produk-produk" Skotlandia (biasanya makanan atau minuman yang berasal dari Skotlandia). • Kepala negara Skotlandia adalah raja/ratu Britania Raya (saat ini Ratu Elizabeth II, sejak 1952). Skotlandia memiliki pemerintahan sendiri yang terbatas di dalam Britania Raya dan perwakilan di Parlemen Britania.

Skotlandia juga memiliki daerah pemilihan untuk Parlemen Eropa. Kekuasaan eksekutif dan legislatif tertentu telah didevolusikan kepada Pemerintah Skotlandia dan Parlemen Skotlandia di Holyrood, Edinburgh.

• .scot bukan ccTLD, tetapi gTLD, bebas digunakan oleh seluruh rakyat Skotlandia. .uk dan .eu, sebagai bagian dari Britania Raya dan Uni Eropa, juga digunakan. ISO 3166-1 adalah GB, tetapi .gb tidak digunakan. Skotlandia ( bahasa Inggris dan Skots: Scotland, / ˈ s k ɒ t. l ə n d/; bahasa Gaelik Skotlandia: Alba [ˈal̪ˠapə] ( simak)) adalah negara konstituen dari negara resmi Britania Raya.

[12] [13] [14] Mencakup sepertiga bagian utara Pulau Britania, Skotlandia berbatasan dengan Inggris di sebelah selatan, Laut Utara di sebelah timur, Samudera Atlantik di sebelah utara dan barat, serta Selat Utara dan Laut Irlandia di sebelah barat daya. Selain daratan utama, Skotlandia juga terdiri dari 790 pulau lebih, [15] termasuk Kepulauan Utara dan Hebrides.

Edinburgh, ibu kota negara dan kota terbesar kedua, adalah salah satu pusat keuangan terbesar di Eropa. [16] Edinburgh pernah menjadi pusat Pencerahan Skotlandia pada abad ke-18, yang mengubah Skotlandia menjadi salah satu kekuatan industri, perdagangan, dan intelektual di Eropa.

Glasgow, kota terbesar di Skotlandia, [17] pernah menjadi salah satu kota industri terkemuka di dunia dan saat ini berlokasi di pusat konurbasi Glasgow Raya.

Perairan Skotlandia terdiri dari sejumlah besar sektor [18] Atlantik Utara dan Laut Utara, mengandung cadangan minyak terbesar di Uni Eropa.

Karena contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah ini, Aberdeen, kota terbesar ketiga di Skotlandia, dijuluki dengan ibu kota minyak Eropa. [19] Kerajaan Skotlandia menjadi negara berdaulat yang merdeka pada Abad Pertengahan Awal dan masih berdiri hingga tahun 1707. Setelah James VI, Raja Skotlandia mewarisi takhta Inggris dan Irlandia pada 1603, Skotlandia bersatu secara politik dengan Kerajaan Inggris pada tanggal 1 Mei 1707, yang kemudian membentuk Kerajaan Britania Raya.

[20] [21] Penyatuan ini disahkan melalui Undang-Undang Penyatuan yang disepakati oleh Parlemen kedua negara pada tahun 1707, diikuti oleh penentangan rakyat Skotlandia dan pecahnya kerusuhan anti-penyatuan di Edinburgh, Glasgow, dan di tempat lain. [22] [23] Kerajaan Britania Raya kemudian juga bersatu secara politik dengan Kerajaan Irlandia pada 1 Januari 1806 dan membentuk Kerajaan Bersatu Britania Raya dan Irlandia. Meskipun tergabung dalam satu negara berdaulat, sistem hukum Skotlandia terpisah dari sistem hukum yang digunakan di Inggris dan Wales serta Irlandia Utara; Skotlandia memiliki yurisdiksi hukum publik dan hukum privat yang berbeda dengan negara konstituensi Britania lainnya.

[24] Terpisahnya lembaga hukum, pendidikan, dan keagamaan Skotlandia dari negara konstituensi Britania lainnya turut bersumbangsih terhadap kesinambungan budaya dan identitas nasional Skotlandia sejak Penyatuan 1707.

[25] Setelah referendum 1997, dibentuk badan legislatif devolutif bernama Parlemen Skotlandia pada tahun 1999. Parlemen ini memiliki kewenangan yang luas untuk menangani urusan-urusan dalam negeri Skotlandia yang tidak menjadi kewenangan Britania Raya.

Pada bulan Mei 2011, Partai Nasional Skotlandia menang mutlak di parlemen dan berencana untuk melaksanakan referendum kemerdekaan [26] pada tangal 18 September 2014.

[27] Hasil referendum ini menunjukkan bahwa mayoritas rakyat Skotlandia menolak merdeka dari Britania Raya. [26] [27] [28] Skotlandia adalah negara anggota Dewan Britania–Irlandia, [29] Majelis Parlementer Britania–Irlandia, dan juga ikut serta dalam perjanjian Kawasan Perjalanan Umum. [30] Skotlandia juga terwakili di Uni Eropa dan memiliki enam anggota Parlemen Eropa.

[31] Daftar isi • 1 Etimologi • 2 Sejarah • 2.1 Sejarah awal • 2.2 Pengaruh Romawi • 2.3 Periode Pertengahan • 2.4 Era modern awal • 2.5 Abad ke-18 • 2.6 Abad ke-19 • 2.7 Awal abad ke-20 • 2.8 Sejak 1945 • 3 Geografi • 3.1 Geologi dan geomorfologi • 3.2 Iklim • 3.3 Flora dan fauna • 4 Politik • 4.1 Pemerintahan • 4.2 Pembagian administratif • 4.3 Skotlandia di Britania Raya • 4.4 Hukum dan peradilan pidana • 4.5 Militer • 5 Ekonomi • 5.1 Mata uang • 5.2 Transportasi • 6 Demografi • 6.1 Pendidikan • 6.2 Agama • 6.3 Kesehatan • 7 Budaya • 7.1 Olahraga • 7.2 Simbol nasional • 8 Lihat juga • 9 Referensi • 10 Bacaan lanjutan • 10.1 Monografi • 11 Pranala luar Etimologi [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Etimologi Skotlandia Kata "Scotland" berasal dari Scoti, bahasa Latin untuk Gael (Gaelik).

Kata Latin Akhir Scotia (tanah bangsa Gael) awalnya digunakan untuk menyebut Irlandia. [32] Pada abad ke-11, Scotia mulai digunakan untuk menyebut penduduk berbahasa Gaelik yang berdiam di sebelah utara Sungai Forth, bersama dengan Albania atau Albany, keduanya berasal dari bahasa Gaelik, Alba.

[33] Penggunaan kata Scots dan Scotland untuk menyebut keseluruhan wilayah yang saat ini menjadi Skotlandia dimulai pada Abad Pertengahan Akhir. [20] Sejarah [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Skotlandia prasejarah Wilayah modern yang saat ini menjadi Skotlandia telah mengalami glasiasi secara berulang, memunahkan seluruh jejak kehidupan yang mungkin telah ada sebelum periode Mesolitikum. Kelompok pertama manusia pemburu dan pengumpul makanan diyakini telah tiba di Skotlandia kira-kira 12.800 tahun yang lalu, setelah surutnya lapisan es pada masa glasiasi akhir.

[34] [35] Kelompok pemukim pertama kali mulai membangun rumah permanen di daratan Skotlandia sekitar 9.500 tahun yang lalu, dan kemudian mulai membentuk desa-desa 3.500 tahun kemudian. Desa yang kondisinya cukup terawat salah satunya terdapat di Skara Brae, Orkney, yang berasal dari periode ini. Hunian Neolitik, permakaman, dan situs ritual dengan kondisi terawat baik juga terdapat di Pulau Utara dan Pulau Barat, meskipun kurangnya pepohonan menyebabkan sebagian besar struktur berubah menjadi batuan.

[36] Makam kuno dan harta karun berusia 4000 tahun yang ditemukan di Forteviot, di dekat Perth, ibu kota Kerajaan Pict pada abad ke-8 contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah ke-9, merupakan penemuan prasejarah yang tak tertandingi di Britania Raya.

Makam ini berisi jasad penguasa Skotlandia pada masa Zaman Perunggu awal yang ditimbun dengan batu kuarsa putih dan kerikil. Penemuan ini juga membuktikan bahwa untuk pertama kalinya, manusia meletakkan bunga di makam mereka pada Zaman Perunggu awal. [37] [38] Skotlandia diperkirakan turut serta dalam aktivitas perdagangan pada Zaman Perunggu akhir, yang dikenal dengan Zaman Perunggu Atlantik.

Perdagangan ini juga melibatkan bangsa Keltik lainnya, serta berlangsung di wilayah-wilayah yang saat ini membentuk Inggris, Prancis, Spanyol, dan Portugal. [39] [40] [41] [42] Pada musim dingin 1850, badai hebat yang melanda Skotlandia menyebabkan kerusakan parah dan jatuhnya lebih dari 200 korban jiwa.

[43] Di Teluk Skaill, badai melongsorkan tanah perbukitan Skerrabra. Ketika penduduk desa setempat membersihkan sisa-sisa badai, mereka menemukan puing-puing perdesaan yang terdiri dari sejumlah rumah kecil tanpa atap. [43] [44] William Watt, pemimpin desa setempat, segera memulai penggalian di Teluk Skaill, namun penggalian ini dihentikan pada tahun 1868. [44] Situs ini tetap tak tersentuh dan sempat dijarah pada tahun 1913.

[43] Pada tahun 1924, badai sekali lagi menyapu lokasi situs dan setelah itu barulah diputuskan bahwa situs prasejarah tersebut harus dilindungi dan diteliti. [43] Pekerjaan ini diamanatkan kepada Profesor Universitas Edinburgh, Vere Gordon Childe, yang pertama kali mengunjungi lokasi situs pada pertengahan 1927.

[43] Pengaruh Romawi [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Skotlandia pada masa Kekaisaran Romawi Masa protosejarah Skotlandia diawali dengan kedatangan pasukan Kekaisaran Romawi ke Pulau Britania bagian tengah dan selatan. Romawi menduduki wilayah yang saat ini menjadi Inggris dan Wales dan menjadikannya sebagai Provinsi Britannia.

Pada masa ini, Romawi juga menduduki Skotlandia bagian selatan. Kastil Edinburgh. Permukiman manusia di tempat ini diperkirakan mulai dibangun pada abad ke-9 SM, meskipun bentuk permukimannya masih tidak diketahui. Menurut sejarawan Romawi Tacitus, pada masa Britania Romawi, tentara Kaledonia "mengadakan perlawanan bersenjata dalam skala besar" untuk menyerang benteng-benteng Romawi dan bertempur dengan para legiun.

Dalam serangan kejutan pada malam hari, tentara Kaledonia nyaris menyapu bersih seluruh legiun sampai diselamatkan oleh kavaleri Agricola. [45] Pada tahun 83 – 84 M, Jenderal Gnaeus Julius Agricola mengalahkan tentara Kaledonia dalam Pertempuran Mons Graupius.

Tacitus menulis bahwa sebelum pertempuran, pemimpin Kaledonia, Calgacus, berpidato kepada para pasukannya. Ia menyebut pasukannya sebagai orang "terakhir yang bebas", dan menuduh Romawi telah "membuat dunia menjadi padang gurun dan menyebutnya sebagai perdamaian".

[45] Setelah kemenangan Romawi, benteng-benteng Romawi didirikan di sepanjang Gask Ridge. Tiga tahun kemudian, tentara Romawi mundur ke Southern Uplands. [46] Romawi membangun Tembok Hadrian untuk mengontrol suku-suku pribumi yang berdiam di masing-masing sisi tembok, [47] dan Limes Britannicus ditetapkan sebagai perbatasan utara wilayah kekuasaan Kekaisaran Romawi. Romawi juga membangun Tembok Antonine di Central Lowlands, namun tembok ini tidak berumur lama dan hanya bertahan dari tahun 208-210 pada masa pemerintahan Kaisar Septimius Severus.

[48] Pendudukan militer Romawi menjadi bagian penting dalam sejarah Skotlandia. Meskipun hanya berlangsung selama 40 tahun dan hanya berhasil menduduki Skotlandia bagian selatan yang dihuni oleh suku-suku Britonik seperti Votadini dan Damnonii, pengaruh Romawi masih cukup besar hingga abad ke-1 dan ke-5.

Istilah Hen Ogledd ("Utara Lama") dalam bahasa Wales digunakan oleh para pakar untuk menyebut wilayah-wilayah yang saat ini membentuk Inggris Utara dan Skotlandia Selatan saat dihuni oleh bangsa Britonik pada tahun 500-800 M.

[47] Menurut tulisan yang berasal dari abad ke-8 dan ke-9, Kerajaan Gaelik bernama Dál Riata didirikan pada abad ke-6 di Skotlandia bagian barat. [49] [50] Teori 'tradisional' menyatakan bahwa kerajaan ini didirikan oleh para pendatang Irlandia, yang turut serta membawa bahasa dan kebudayaan Gaelik bersama mereka.

Namun, baru-baru ini para arkeolog menentang teori ini, menyatakan bahwa tidak ada bukti arkeologi atau penamaan tempat yang membuktikan bahwa wilayah tersebut dikuasai oleh sekelompok kecil penduduk. [51] Periode Pertengahan [ sunting - sunting sumber ] Replika batu Pictish Kerajaan Pictish yang berlokasi di Fortriu pada abad ke-16 adalah kerajaan yang kelak menjadi cikal bakal "Alba" atau "Skotlandia". Menurut sejarawan Peter Heather, berkembangnya "Pictland" merupakan bentuk respon alami terhadap imperialisme Romawi.

[52] Pendapat lainnya menyatakan bahwa perkembangan kerajaan ini dipicu oleh kesuksesan Pertempuran Dun Nechtain pada masa pemerintahan Bridei m. Beli (671–693), dan kemudian dlanjutkan oleh pemerintahan Óengus mac Fergusa (732–761). [53] Kerajaan Pict mulai terbentuk pada awal abad ke-8.

Beda menulis bahwa kerajaan ini mencapai masa kejayaan pada masa pemerintahan Aleksander I. Namun, pada abad ke-10, kerajaan Pictish mulai didominasi oleh budaya yang kemudian dikenal dengan budaya Gaelik, dan secara tradisional diyakini bahwa Irlandia telah menaklukkan nenek moyang penerus dinasti Pict, Cináed mac Ailpín (Kenneth MacAlpin).

[54] [55] [56] Berawal dari basis di wilayah timur Skotlandia, tepatnya di sebelah utara Sungai Forth dan di sebelah selatan Sungai Oykel, kerajaan Pict perlahan juga mulai memperluas wilayah kekuasaannya hingga ke Pulau Britania bagian tengah dan selatan. Pada abad ke-12, kerajaan Pict berhasil menguasai wilayah Inggris di sebelah tenggara, serta wilayah Gaelik di Galloway dan Norse di Caithness; pada abad ke-13, kerajaan telah menguasai wilayah-wilayah yang saat ini membentuk Skotlandia.

Pada masa ini juga terjadi proses perubahan budaya dan ekonomi yang dimulai pada abad ke-12. Perubahan ini berlangsung pada masa pemerintahan David I melalui Revolusi Davidian. Feodalisme, reorganisasi pemerintah, dan pengakuan kota secara hukum (disebut burgh) dimulai pada periode ini. Perubahan ini, serta maraknya imigrasi yang berasal dari Inggris dan Prancis, menyebabkan perubahan budaya Skotlandia.

Penduduk yang berdiam di dataran rendah dan pesisir Skotlandia mulai menggunakan bahasa Inggris, sedangkan selebihnya tetap mempertahankan bahasa Gaelik, termasuk Pulau Utara dan Shetland, yang tetap diperintah oleh Norse sampai tahun 1468. [57] [58] [59] Skotlandia mengalami periode kejayaan dan kesuksesan antara abad ke-12 dan 14, dengan hubungan yang relatif damai dengan Inggris, berkembangnya pendidikan dan perdagangan dengan benua Eropa, dan lahirnya sejumlah filsuf-filsuf ternama seperti John Duns Scotus.

Monumen Wallace untuk mengenang William Wallace, pahlawan Skotlandia pada abad ke-13. Kematian Alexander III pada bulan Maret 1286, yang disusul oleh cucunya Margaret, memunahkan garis keturunan monarki Skotlandia yang telah bertahan selama berabad-abad sekaligus meruntuhkan 200 tahun masa keemasan yang dimulai sejak pemerintahan David I. Edward I dari Inggris diminta untuk memutuskan pewaris takhta yang sah, dan ia menggelar sebuah proses yang dikenal dengan Great Cause untuk menentukan siapa pewaris takhta Skotlandia yang paling sah.

John Balliol dinyatakan sebagai raja Skotlandia di aula Kastil Berwick pada 17 November 1292 dan dinobatkan pada 30 November di Scone. Sementara itu, Edward I, yang menobatkan dirinya sendiri sebagai Lord Paramount, terus menggerogoti pemerintahan John.

[60] Pada 1294, Balliol dan bangsawan Skotlandia lainnya menolak tuntutan Edward yang meminta agar tentara Skotlandia berperang untuk Inggris dalam melawan Prancis.

Parlemen Skotlandia malah mengirim utusan ke Prancis untuk melakukan negosiasi. Skotlandia dan Prancis akhirnya menandatangani perjanjian kerjasama pada 23 Oktober 1295, yang dikenal dengan Aliansi Auld (1295-1560). Perang pun pecah dan Raja John digulingkan oleh Edward I, yang dengan segera merebut kendali atas Skotlandia.

Andrew Moray dan William Wallace kemudian memimpin perlawanan terhadap Inggris dalam peristiwa yang kelak dikenal dengan Perang Kemerdekaan Skotlandia (1296–1328). [61] Perjuangan rakyat Skotlandia berubah setelah Rober Bruce, Earl Carrick, membunuh saingannya, John Comyn, pada 10 Februari 1306 di Greyfriars Kirk, Dumfries. [62] Ia dinobatkan sebagai raja baru dengan nama penyandang kekuasaan Robert I kurang dari tujuh minggu kemudian.

Robert I berjuang untuk mengembalikan kemerdekaan Skotlandia selama lebih dari 20 tahun, merebut kembali tanah Skotlandia dari penjajah Inggris sebidang demi sebidang. Kemenangannya dalam Pertempuran Bannockburn pada tahun 1314 membuktikan bahwa Skotlandia telah berhasil merebut kembali kerajaannya. Pada tahun 1315, Edward Bruce, saudara Robert I, sempat diangkat sebagai Raja Tinggi Irlandia setelah Skotlandia menginvasi Irlandia dalam upayanya untuk memperkuat posisi dalam peperangan melawan Inggris, namun invasi ini gagal.

Pada tahun 1320, kemerdekaan Skotlandia disahkan melalui Deklarasi Arbroath. Deklarasi ini merupakan deklarasi kemerdekaan pertama di dunia, yang pada saat itu didukung oleh Paus Yohannes XXII dan menyebabkan Inggris secara hukum mengakui kedaulatan Skotlandia. Peperangan dengan Inggris terus bergejolak selama beberapa dekade setelah kematian Bruce. Perang saudara antara dinasti Bruce dan Comyn-Balliol berlangsung sampai pertengahan abad ke-14. Meskipun dinasti Bruce memenangkan pertempuran, David II tidak memiliki penerus.

Oleh sebab itu, keponakan tirinya, Robert II, ditunjuk sebagai penerus takhta dan mendirikan Dinasti Stewart. [58] [63] Stewart memerintah Skotlandia selama sisa Abad Pertengahan. Pada masa pemerintahannya, Skotlandia mengalami kemakmuran yang pesat pada akhir abad ke-14 dengan terjadinya Pencerahan Skotlandia dan Reformasi Skotlandia.

[63] [64] Pada periode ini, hubungan antara Prancis dengan Skotlandia mencapai puncaknya. The Scots Guard – la Garde Écossaise – dibentuk oleh Charles VII pada contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah 1418.

Tentara Skotlandia dari Garde Écossaise bertempur bersama Joan of Arc melawan Inggris dalam Perang Seratus Tahun. [65] Pada bulan Maret 1421, pasukan Prancis-Skotlandia di bawah pimpinan John Stewart dan Gilbert de Lafayette mengalahkan tentara Inggris dalam Pertempuran Baugé.

Tiga tahun kemudian, dalam Pertempuran Verneuil, Prancis dan Skotlandia kehilangan sekitar 7.000 prajurit. [66] Keikutsertaan Skotlandia dalam kancah peperangan turut bersumbangsih terhadap kemenangan Prancis dalam melawan Inggris. Era modern awal [ sunting - sunting sumber ] James VI mewarisi takhta Inggris dan Skotlandia (sebagai James I) pada tahun 1603. Pada tahun 1502, James IV dari Skotlandia menandatangani Perjanjian Perdamaian Abadi dengan Henry VII dari Inggris. Ia juga menikahi putri Henry, Margaret Tudor.

Bagi Henry, pernikahan ini menjadi semacam Penyatuan Mahkota yang memberi Tudor kekuasaan baru. [67] Satu dekade kemudian, James, dengan bantuan Prancis, memutuskan untuk menginvasi Inggris. Ia adalah raja Skotlandia terakhir yang gugur dalam pertempuran, yakni dalam Pertempuran Flodden. [68] Persekutuan antara Skotlandia dengan Prancis diakhiri contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah disahkannya Traktat Edinburgh pada 1560. Prancis sepakat untuk menarik semua pasukannya dari dataran Britania.

Pada tahun yang sama, John Knox bertekad untuk mengubah Skotlandia menjadi sebuah negara Protestan dan Parlemen Skotlandia mulai mencabut wewenang kepausan atas Skotlandia. [69] Mary, Ratu Skotlandia yang beragama Katolik dan mantan ratu Prancis, dipaksa untuk turun takhta pada tahun 1567. [70] Pada tahun 1603, James VI, Raja Skotlandia mewarisi takhta Kerajaan Inggris dan Kerajaan Irlandia. Ia memindahkan istananya dari Edinburgh ke London dan memerintah dengan nama James I dari Inggris dan Irlandia.

[71] Dengan pengecualian pada masa Protektorat, Skotlandia tetap menjadi kerajaan terpisah dan merdeka dari Kerajaan Inggris, meskipun ada konflik antara kerajaan dengan Covenanters sehubungan dengan pembentukan pemerintahan gereja. Revolusi Agung yang meletus pada 1688-1689 menyebabkan tergulingnya James II dari Inggris (atau James VII dari Skotlandia) oleh Parlemen Inggris yang mendukung William dan Mary.

Pada akhir 1690-an, Skotlandia dilanda oleh musibah kelaparan, yang mengurangi populasi negara hampir 20 persen.

contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah

{INSERTKEYS} [72] Pada tahun 1698, Skotlandia mengupayakan sebuah proyek ambisius untuk menguasai koloni perdagangan di Tanah Genting Panama. Hampir semua rakyat Skotlandia yang memiliki uang dikabarkan telah berinvestasi dalam proyek tersebut, yang dikenal dengan Skema Darien. Kolonisasi ini gagal, dan para pemilik modal mengalami kebangkrutan. Pada akhirnya, kegagalan kolonisasi ini berperan penting dalam penyatuan Skotlandia dengan Inggris di kemudian hari.

[73] [74] Pada tanggal 22 Juli 1706, Traktat Penyatuan disepakati oleh Parlemen Inggris dan Parlemen Skotlandia, dan setahun kemudian, Undang-Undang Penyatuan disahkan oleh kedua parlemen untuk menciptakan Kerajaan Britania Raya, yang mulai diberlakukan pada 1 Mei 1707. [21] Abad ke-18 [ sunting - sunting sumber ] Lukisan David Morier mengenai Pertempuran Culloden. Ditiadakannya bea perdagangan dengan Inggris membuat aktivitas perdagangan Skotlandia semakin berkembang, terutama dengan koloni Amerika.

Kapal milik Glasgow Tobacco Lords menjadi kapal tercepat pada rute pelayaran menuju Virginia. Hingga Perang Kemerdekaan Amerika pada 1776, Glasgow merupakan pelabuhan tembakau utama di dunia dan mendominasi perdagangan dunia.

[75] Kesenjangan kekayaan antara kelas pedagang dari Dataran Rendah Skotlandia (Lowland) dengan klan kuno dari Dataran Tinggi Skotlandia (Highland) memunculkan perbedaan selama berabad-abad.

Stuart Jacobite yang telah digulingkan tetap populer di wilayah dataran tinggi bagian timurlaut, terutama di kalangan non- Presbyterian, termasuk Katolik Roma dan Protestan Episkopalian.

Namun, dua Kebangkitan Jacobite yang berlangsung pada 1715 dan 1745 gagal menyingkirkan Wangsa Hanover dari takhta Britania. Ancaman dari Jacobite terhadap Britania Raya dan kerajaannya berakhir dalam Pertempuran Culloden, pertempuran takhta terakhir yang dihadapi Britania Raya.

Kekalahan ini menyebabkan terjadinya pengusiran besar-besaran penduduk pribumi dari Highland dan Kepulauan, yang dikenal dengan peristiwa Pembersihan Dataran Tinggi. Pencerahan Skotlandia dan Revolusi Industri menjadikan Skotlandia sebagai salah satu kekuatan intelektual, perdagangan, dan industri [76] – seperti yang dikatakan Voltaire, "Kami meniru Skotlandia untuk seluruh ide-ide peradaban kami".

[77] Dengan runtuhnya Jacobite dan munculnya Uni, ribuan rakyat Skotlandia, terutama penduduk dataran rendah, mengisi berbagai jabatan dalam bidang politik, pegawai negeri sipil,angkatan darat dan angkatan laut, perekonomian, pada perusahaan-perusahaan kolonial, dan bidang lainnya di seluruh Imperium Britania.

Sejarawan Neil Davidson menyatakan "setelah 1746 terdapat tingkatan baru sehubungan dengan keikutsertaan Skotlandia dalam kehidupan politik, terutama di luar Skotlandia." Davidson juga menyatakan "jauh dari 'periferal' perekonomian Britania, Skotlandia – atau Dataran Rendah lebih tepatnya – bersemayam pada inti Britania." [78] Abad ke-19 [ sunting - sunting sumber ] Shipping on the Clyde karya John Atkinson Grimshaw, 1881 Undang-Undang Reformasi Skotlandia 1832 meningkatkan jumlah Anggota Parlemen Skotlandia dan memperluas hak untuk menyertakan lebih banyak kalangan kelas menengah dalam pemerintahan.

[79] Dari pertengahan abad ke-19 terjadi peningkatan jumlah Home Rule (peraturan daerah) yang disahkan untuk Skotlandia, dan jabatan Sekretaris Negara untuk Skotlandia dibentuk kembali.

[80] Menjelang akhir abad ke-19, terdapat beberapa Perdana Menteri yang berdarah Skotlandia, yakni William E. Gladstone, [81] dan Earl Rosebery. [82] Pada akhir abad ke-19, pertumbuhan kelas buruh semakin meningkat, yang ditandai oleh kemenangan Keir Hardie dalam pemilihan umum Mid Lanarkshire 1888. Kemenangannya ini menyebabkan didirikannya Partai Buruh Skotlandia, yang bergabung dengan Partai Buruh Independen pada 1895, dengan Hardie sebagai pemimpin pertamanya.

[83] Glasgow menjadi salah satu kota terbesar di dunia, dan dijuluki dengan "Kota Kedua Imperium" setelah London. [84] Galangan kapal uap Clydeside dibangun pada 1860, yang khusus memproduksi kapal uap besi (setelah 1870 terbuat dari baja), yang dengan cepat menggantikan penggunaan kapal layar kayu para pedagang dan angkatan laut di dunia.

Galangan ini menjadi pusat pembuatan kapal terkemuka di dunia. [85] Perkembangan industri, yang menelurkan kekayaan dan lapangan pekerjaan, tidak diiringi oleh pembangunan perumahan, perencaan perkotaan, dan penyediaan perawatan kesehatan yang memadai bagi masyarakat. Kondisi hidup di kota-kota besar buruk, dengan kepadatan penduduk dan angka kematian bayi yang tinggi serta meningkatnya angka tuberkulosis. [86] Walter Scott melalui karyanya Waverley Novels membantu mendefinisikan jati diri Skotlandia pada abad ke-19.

Meskipun Pencerahan Skotlandia dianggap telah berakhir menjelang abad ke-18, [87] sumbangsih Skotlandia terhadap sastra dan sains Britania tetap berlanjut selama 50 tahun ke depan berkat tokoh-tokoh seperti fisikawan James Clerk Maxwell dan Lord Kelvin, dan para penemu dan pakar industri seperti James Watt dan William Murdoch, yang karya-karyanya berperan penting dalam perkembangan Revolusi Industri di seluruh Britania Raya.

[88] Dalam kesusastraan, tokoh yang paling sukses pada pertengahan abad ke-19 adalah Walter Scott. Karya prosa perdananya, Waverley pada 1814, kerap disebut sebagai novel sejarah pertama. [89] Ia berkarier dengan sangat sukses dan membantu mendefinisikan dan memopulerkan identitas budaya Skotlandia pada abad ke-19. [90] Pada akhir abad ke-19, sejumlah penulis kelahiran Skotlandia berhasil meraih ketenaran internasional, termasuk Robert Louis Stevenson, Arthur Conan Doyle, J. M. Barrie, dan George MacDonald.

[91] Skotlandia juga memainkan peran penting dalam pengembangan seni dan arsitektur. Glasgow School, yang dikembangkan pada akhir abad ke-19 dan berjaya pada awal abad ke-20, telah melahirkan seni perpaduan yang khas, termasuk Kebangkitan Keltik Arts and Crafts Movement, dan Japonisme, yang diagung-agungkan dalam dunia seni modern Eropa dan juga membantu mendefinisikan gaya Seni Nouveau.

Sedangkan arsitek dan seniman kenamaan Skotlandia yang berasal dari periode ini di antaranya Charles Rennie Mackintosh. [92] Pada periode ini terjadi proses rehabilitasi kebudayaan Highland. Pada 1820-an, seiring dengan kebangkitan Romantisisme, tartan dan kilt dikenakan oleh kalangan elit sosial, tidak hanya di Skotlandia tetapi juga di seluruh Eropa, [93] [94] yang didorong oleh popularitas puisi Ossian karya Macpherson, [95] [96] dan diikuti oleh novel Waverley karya Walter Scott.

[97] Meskipun demikian, rakyat Highland masih melarat dan sangat terbelakang. [98] Tekad pemerintah Britania untuk memperluas lahan pertanian menyebabkan pengusiran penduduk yang berdiam di Highland. Banyak penduduk Highland yang diusir atau terpaksa pindah karena tanah mereka diambil untuk dimanfaatkan sebagai peternakan domba. Pengusiran warga Highland dipicu oleh berubahnya pola pertanian di seluruh daratan Britania, serta kurangnya perlindungan hukum bagi mereka.

[99] Sebagai akibatnya, terjadi eksodus berkepanjangan penduduk Highland ke kota-kota besar, terutama ke Inggris, bahkan lebih jauh hingga ke Kanada, Amerika Serikat, atau Australia. [100] Penduduk Skotlandia meningkat pesat pada abad ke-19, dari 1.608.000 pada 1801 menjadi 2.889.000 pada 1851, dan membengkak menjadi 4.472.000 pada 1901. [101] Di sisi lain, pertumbuhan industri tidak cukup menghasilkan lapangan pekerjaan yang layak.

Sebagai hasilnya, selama periode 1841-1931, sekitar 2 juta warga Skotlandia bermigrasi ke Amerika Utara dan Australia, dan 750.000 lainnya pindah ke Inggris. [102] Disruption Assembly karya David Octavius Hill. Setelah bertahun-tahun memperjuangkan Kirk (gereja Skotlandia), pada 1834 kaum Evangelis berhasil meraih kendali gereja dari Majelis Umum dan mengesahkan Undang-Undang Veto, yang mengizinkan kongregasi untuk menolak maklumat "gangguan" yang tidak dikehendaki oleh patron.

"Konflik Sepuluh Tahun" yang berlangsung sesudahnya sehubungan dengan perselisihan politik dan hukum berakhir dengan kekalahan kaum nonintrusionis di pengadilan sipil. Akibatnya, nonintrusionis yang dipimpin oleh Dr. Thomas Chalmers memisahkan diri dari gereja; peristiwa ini dikenal dengan Kekacauan Besar 1843. Sepertiga agamawan, kebanyakan berasal dari Utara dan Highland, mendirikan Gereja Bebas Skotlandia. [103] Pada akhir abad ke-19, perselisihan antara pengikut Calvinis fundamentalis dengan liberal teologis menyebabkan terjadinya perpecahan dalam tubuh Gereja Bebas setelah Calvinis hengkang dan mendirikan Gereja Presbyterian Bebas pada tahun 1893.

[104] Emansipasi Katolik pada 1829 dan masuknya sejumlah besar imigran Irlandia setelah dilanda musibah kelaparan pada akhir 1840-an, terutama ke pusat Lowland seperti Glasgow, mengakibatkan berubahnya nasib penganut Katolik.

Pada 1878, meski ditentang, hierarki Gereja Katolik Roma dikembalikan kepada negara, dan Katolik perlahan menjadi denominasi yang signifikan di Skotlandia.

[104] Industrialisasi, urbanisasi, dan Kekacauan 1843 menyebabkan terhambatnya perkembangan sekolah paroki. Sejak 1830, negara mulai mendanai pembangunan sekolah-sekolah; lalu pada 1846 pegelolaan sekolah didanai langsung oleh sponsor; dan pada 1872 Skotlandia meniru sistem pendidikan Inggris yang mendanai sebagian besar sekolah yang dikelola oleh dewan sekolah. [105] Universitas Glasgow yang bersejarah menjadi salah satu pelopor sistem pendidikan tinggi di Britania dengan menyediakan kebutuhan pendidikan bagi para pemuda yang berasal dari kalangan perkotaan dan komersial, tidak hanya bagi kelas atas.

[106] Universitas St Andrews menjadi universitas Skotlandia pertama yang menerima murid putri. Universitas-universitas di Skotlandia yang menerima dan mengakui lulusan wanita terus meningkat hingga awal abad ke-20. [107] Awal abad ke-20 [ sunting - sunting sumber ] Royal Scots memamerkan bendera Kekaisaran Jepang yang disita, Birma, Januari 1945. Skotlandia memainkan peran penting bagi perjuangan Britania dalam Perang Dunia I, khususnya dalam menyediakan tentara, kapal, mesin, makanan, dan uang.

[108] Dengan jumlah penduduk 4,8 juta pada 1911, Skotlandia mengirim setengah juta lebih prajurit ke medan perang, seperempat di antaranya gugur dalam pertempuran atau dikarenakan penyakit, dan 150.000 selebihnya terluka parah. [109] Field Marshal Sir Douglas Haig bertindak sebagai komandan Britania di Front Barat. Perang menyebabkan munculnya gerakan radikal bernama " Red Clydeside" yang dipimpin oleh militan serikat buruh. Kawasan industri dan markas yang dikuasai oleh Partai Liberal beralih menjadi milik Buruh pada tahun 1922, yang berpusat di distrik kelas pekerja Katolik Irlandia.

Kaum wanita juga terlibat aktif membangun solidaritas dalam masalah perumahan. Namun, kelompok "Reds" yang mekar di dalam tubuh Partai Buruh dan sedikitnya pengaruh di Parlemen menyebabkan merosotnya pengaruh Buruh pada akhir 1920.

[110] Pengembangan kembali industri perkapalan tidak sesuai dengan harapan. Sebaliknya, depresi parah menghantam perekonomian Skotlandia pada tahun 1922 dan tidak sepenuhnya pulih hingga 1939. Periode antarperang ditandai oleh stagnasi perekonomian di kawasan perdesaan dan perkotaan, serta angka pengangguran yang tinggi.

[111] Perang memang menimbulkan dampak yang mendalam dalam bidang sosial, ekonomi, budaya, dan politik. Namun, para tokoh Skotlandia mulai merenungkan kemerosotan mereka, terutama mengenai masalah kesehatan yang buruk, perumahan yang tidak layak, dan pengangguran massal jangka panjang. Pekerjaan di luar negeri untuk melayani Imperium Britania tidak lagi menarik bagi kalangan muda yang ambisius, yang malah pergi meninggalkan Skotlandia secara permanen. Ketergantungannya yang sangat besar pada industri berat dan pertambangan merupakan masalah utama stagnasi perekonomian Skotlandia, dan tak ada pihak yang menawarkan solusi terbaik.

Situasi ini, menurut Finlay (1991) mencerminkan "meluasnya rasa keputusasaan yang menyebabkan para pebisnis dan pemimpin politik menerima ortodoksi baru perencanaan ekonomi pemerintah yang terpusat pada masa Perang Dunia II." [112] Pada masa Perang Dunia II, Skotlandia kembali mengalami sedikit kemakmuran, meskipun kota-kota Skotlandia luluh lantak akibat pengeboman yang dilancarkan oleh Luftwaffe. Pada masa ini, kebangkitan Skotlandia ditandai dengan penemuan radar oleh Robert Watson-Watt, yang sangat bermanfaat dalam Pertempuran Britania, begitu juga dengan peran RAF Fighter Command Air Chief Marshal Sir Hugh Dowding.

[113] Sejak 1945 [ sunting - sunting sumber ] Setelah tahun 1945, perekonomian Skotlandia semakin terpuruk karena ketatnya persaingan di luar negeri, industri yang tidak efisien, dan kesenjangan industri.

[114] Hanya dalam beberapa dekade terakhir negara ini baru bisa menikmati kebangkitan budaya dan ekonomi. Faktor ekonomi yang bersumbangsih terhadap kebangkitan ini antara lain adalah industri jasa keuangan yang semakin meningkat, manufaktur elektronik (lihat Silicon Glen), [115] serta industri gas dan minyak Laut Utara.

[116] Diperkenalkannya Pajak Komunitas (atau Pajak Pungutan) oleh pemerintahan Margaret Thatcher pada 1989 setahun lebih awal dari negara lainnya di Britania Raya menyebabkan berkembangnya gerakan-gerakan yang mendukung agar Skotlandia secara langsung berhak mengontrol urusan dalam negerinya sendiri.

[117] Setelah referendum rencana devolusi pada 1997, Undang-Undang Skotlandia 1998 [118] disahkan oleh Parlemen Britania Raya, yang kemudian membentuk Pemerintahan dan Parlemen Skotlandia terdevolusi yang berwenang atas sebagian besar undang-undang yang secara spesifik diperuntukkan bagi Skotlandia.

[119] Geografi [ sunting - sunting sumber ] Pulau Cumbre Kecil dengan Pulau Arran di latar belakang (kiri). Pantai Traigh Seilebost di Pulau Harris (kanan) Daratan utama Skotlandia mencakup sepertiga daratan Pulau Britania Raya, yang terletak di sebelah baratlaut lepas pantai Benua Eropa.

Luas total Skotlandia adalah 78.772 km 2 (30.414 sq mi) * , [120] atau sekitar tiga perempat dari ukuran Pulau Jawa. Inggris adalah satu-satunya perbatasan darat Skotlandia, dengan panjang perbatasan 96 kilometer (60 mi) * yang membentang dari basin Sungai Tweed di pantai timur hingga ke Solway Firth di pantai barat. Di sebelah barat, Skotlandia berbatasan dengan Samudera Atlantik, dan Laut Utara di sebelah timur. Pulau Irlandia berjarak 30 kilometer (19 mi) * dari baratdaya semenanjung Kintyre, [121] sedangkan Norwegia berjarak 305 kilometer (190 mi) * di sebelah timur, dan Kepulauan Faroe 270 kilometer (168 mi) * di sebelah utara.

Luas wilayah Skotlandia ditetapkan melalui Traktat York 1237 antara Skotlandia dengan Kerajaan Inggris, [122] serta melalui Traktat Perth 1266 antara Skotlandia dan Norwegia. [21] Wilayah Skotlandia lepas atau bertambah di kemudian hari, misalnya Pulau Man, yang jatuh ke tangan Inggris pada abad ke-14 dan saat ini menjadi Dependensi Kerajaan Britania Raya; kepulauan Orkney dan Shetland diakuisisi dari Norwegia pada 1472; [120] dan Berwick-upon-Tweed jatuh ke tangan Inggris pada 1482.

Pusat geografis Skotlandia terletak beberapa mil dari desa Newtonmore di Badenoch. [123] Dengan ketinggian 1.344 meter (4.409 ft) * di atas permukaan laut, Ben Nevis menjadi titik tertinggi di Skotlandia, sedangkan sungai terpanjang adalah Sungai Tay, yang mengalir sejauh 190 kilometer (118 mi) * . [124] [125] Geologi dan geomorfologi [ sunting - sunting sumber ] Peta relief Skotlandia Seluruh wilayah Skotlandia tertutup oleh lapisan es pada zaman es Pleistosen, dan lanskap Skotlandia banyak dipengaruhi oleh glasiasi.

Dari sudut pandang geologi, Skotlandia digolongkan menjadi tiga bagian. Dataran Tinggi dan Kepulauan terletak di sebelah utara dan barat Sesar Batas Dataran Tinggi, yang membentang mulai dari Arran hingga ke Stonehaven. Daratan Skotlandia yang ini sebagian besarnya terdiri dari batuan kuno Cambrian dan Precambrian, yang terangkat pada masa Caledonian Orogeny. Terdapat juga batuan beku yang terbentuk dari letusan gunung api seperti Cairngorms dan Skye Cuillins.

Pengecualian ada pada batu fosil Old Red Sandstone yang ditemukan di sepanjang pantai Moray Firth. Dataran Tinggi umumnya terdiri dari pegunungan, dan titik tertinggi di Kepulauan Britania terdapat di dataran ini.

Skotlandia memiliki lebih dari 790 pulau yang dibagi menjadi empat kepulauan utama, yakni Shetland, Orkney, Hebrides Dalam, dan Hebrides Luar. Terdapat pula sejumlah danau air tawar seperti Loch Lomond dan Loch Ness. Sebagian garis pantai terdiri dari machair, gundukan padang rumput di dataran rendah. Dataran Rendah Sentral adalah kawasan lembah yang telah terbentuk sejak zaman Paleozoikum.

Banyak batuan sedimen di kawasan ini yang bernilai ekonomis, terutama batu bara dan batu besi, yang telah memicu lahirnya Revolusi Industri di Skotlandia. Kawasan ini juga mengalami vulkanisme hebat, Arthur's Seat di Edinburgh adalah salah satu sisa-sisa letusan gunung api, begitu juga dengan Ochils dan Campsie Fells.

Dataran Tinggi Selatan dijejeri oleh bukit yang membentang hampir sepanjang 200 kilometer (124 mi) * dengan lembah yang luas, yang membentang di sepanjang garis patahan dari Girvan hingga Dunbar.

[126] [127] [128] Fondasi geologi kawasan ini sebagian besarnya terdiri dari lapisan Silur yang terbentuk sekitar 4-500 juta tahun yang lalu. Titik tertinggi di Dataran Tinggi Selatan berada di Merrick dengan ketinggian 843 m (2.766 ft) * . [20] [129] [130] [131] Kawasan ini juga menjadi lokasi dari desa tertinggi di Britania Raya, yakni Wanlockhead (430 m or 1.411 ft di atas permukaan laut). [128] Iklim [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Iklim di Skotlandia Skotlandia beriklim laut yang cenderung berubah-ubah.

Karena udara hangat yang dihantarkan oleh Arus Teluk dari Samudera Atlantik, Skotlandia mengalami musim dingin yang lebih ringan (lebih dingin, sedangkan musim panas lembap) jika dibandingkan dengan wilayah-wilayah yang berada di garis lintang yang sama, misalnya Labrador, Skandinavia selatan, Moskow di Rusia, dan Semenanjung Kamchatka di sisi belakang Eurasia.

Meski demikian, suhu udara pada umumnya lebih rendah dari wilayah Britania lainnya, dengan suhu terdingin −27,2 °C (−17,0 °F) yang tercatat di Braemar, Pegunungan Grampian, pada 11 Februari 1895. [132] Suhu rata-rata musim dingin di Lowland adalah 6 °C (42,8 °F), dan suhu rata-rata musim panas 18 °C (64,4 °F). Suhu tertinggi yang pernah tercatat adalah 32,9 °C (91,2 °F) di Greycrook, Perbatasan Skotlandia pada 9 Agustus 2003. [133] Secara umum, Skotlandia barat lebih hangat daripada Skotlandia timur, terutama karena pengaruh arus laut Atlantik dan suhu permukaan Laut Utara yang lebih dingin.

Tiree, di Hebrides Dalam, adalah salah satu tempat tercerah di Skotlandia; tempat ini menerima sinar matahari lebih dari 300 jam pada bulan Mei 1975. [133] Curah hujan bervariasi di seluruh Skotlandia. Highland barat merupakan kawasan terbasah di Skotlandia, dengan curah hujan tahunan mencapai 3.000 mm (118,1 in) * . [134] Sedangkan sebagian besar kawasan Lowland menerima curah hujan kurang dari 800 mm (31,5 in) * pertahun. [135] Hujan salju padat jarang terjadi di Lowland, namun biasa terjadi di kawasan yang lebih tinggi.

Braemar memiliki rata-rata hari bersalju 59 hari pertahun, [136] sedangkan sebagian besar kawasan pesisir dilanda salju kurang dari 10 hari pertahun. [135] Flora dan fauna [ sunting - sunting sumber ] Terwelu gunung ( Lepus timidus) difoto di Findhorn Valley, Mei 2004.

Satwa liar Skotlandia merupakan satwa khas Eropa baratlaut, meskipun beberapa mamalia yang lebih besar seperti lynx, beruang coklat, serigala, kijang, dan walrus sudah punah karena perburuan. Terdapat juga populasi anjing laut dan beraneka burung laut seperti gannet. [137] Elang emas adalah satwa yang telah menjadi ikon nasional. [138] Spesies yang hidup di puncak-puncak gunung antara lain ptarmigan, terwelu gunung, dan cerpelai. [139] Sisa-sisa hutan pinus Skotlandia masih bisa ditemukan, [140] dan di kawasan lintasan Skotlandia hidup spesies burung endemik dan vertebrata, serta capercaillie, kucing hutan, tupai merah, dan marten pinus.

[141] [142] [143] Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa satwa telah muncul kembali, termasuk elang laut ekor putih pada tahun 1975, layang-layang merah pada 1980-an, [144] [145] dan baru-baru ini digalakkan proyek eksperimental terhadap berang-berang dan babi hutan.

Saat ini, sisa-sisa Hutan Hujan Kaledonia terdapat di Taman Nasional Cairngorms dan di 84 lokasi lainnya di Skotlandia.

Di pantai barat, Hutan Hujan Keltik masih bisa ditemukan, terutama di Semenanjung Taynish di Argyll. Hutan di kawasan ini sangat jarang karena tingginya tingkat deforestasi. [146] [147] Flora Skotlandia bervariasi, terdiri dari spesies hutan gugur dan hutan konifer, serta padang rumput dan tundra.

Penanaman pohon komersial dalam skala besar dan pengelolaan padang rumput di dataran tinggi untuk kepentingan peternakan domba dan kegiatan olahraga komersial berdampak terhadap persebaran satwa dan tumbuhan asli. [148] Pohon tertinggi di Britania Raya adalah cemara besar yang ditanam di sekitaran Loch Fyne, Argyll, pada 1870-an, dan Fortingall Yew yang berusia 5.000 tahun diduga adalah makhluk hidup tertua di Eropa.

[149] [150] [151] Meskipun sejumlah tumbuhan vaskular asli Skotlandia dinilai rendah menurut standar dunia, flora birofit Skotlandia cukup penting secara global. [152] [153] Politik [ sunting - sunting sumber ] Ruang rapat gedung Parlemen Skotlandia (kiri) dan gedung Parlemen tampak depan (kanan).

Kepala negara Skotlandia adalah raja/ratu Britania Raya, saat ini Ratu Elizabeth II (sejak 1952). Nama penyandang kekuasaan "Elizabeth II" memicu kontroversi pada saat penobatannya karena Skotlandia sebelumnya tak pernah diperintah oleh Elizabeth I. Elizabeth I memerintah Inggris dan Irlandia ketika Skotlandia masih menjadi negara merdeka.

Kasus ini sampai ke pengadilan, dikenal dengan kasus MacCormick v. Lord Advocate (1953 SC 396), yang menggugat Ratu karena menggunakan nama Elizabeth II dan menyatakan bahwa hal ini merupakan pelanggaran terhadap Pasal 1 Traktat Penyatuan. Kerajaan memenangkan kasus tersebut. Pengadilan memutuskan bahwa penguasa monarki Britania berikutnya berhak memakai penomoran yang sesuai dengan pendahulu penguasa monarki Inggris ataupun Skotlandia, yang berarti penomorannya akan lebih tinggi.

[154] Sebagai contoh, raja masa depan yang bernama James akan menggunakan nama regnal James VIII, karena James terakhir yang memerintah Skotlandia adalah James VII (atau James II di Inggris), begitu juga dengan raja Henry berikutnya, yang akan menyandang nama regnal Henry IX di seluruh Britania dan Persemakmuran, meskipun tidak ada raja Skotlandia yang bernama Henry. Skotlandia memiliki pemerintahan sendiri yang terbatas di dalam Britania Raya, serta perwakilan di Parlemen Britania.

Kekuasaan eksekutif dan legislatif dilimpahkan ( devolusi) kepada Pemerintahan Skotlandia dan Parlemen Skotlandia yang berkedudukan di Holyrood, Edinburgh. Meski demikian, Parlemen Britania Raya tetap memiliki kekuasaan atas urusan-urusan tertentu yang tidak dimaksudkan untuk menjadi wewenang Pemerintah dan Parlemen Skotlandia, sesuai dengan Undang-Undang Skotlandia 1998, misalnya seperti pemungutan pajak Britania, keamanan sosial, pertahanan, hubungan luar negeri, dan penyiaran.

[155] Parlemen Skotlandia memiliki kewenangan legislatif atas semua permasalahan yang terkait dengan Skotlandia, termasuk kewenangan terbatas untuk memungut pajak penghasilan. Pada tahun 2008, dalam wawancara di stasiun televisi BBC Scotland, perdana menteri Gordon Brown menyatakan bahwa Parlemen Skotlandia akan diberi kewenangan lebih untuk memungut pajak.

[156] Parlemen Skotlandia dapat memberi persetujuan legislatif atas urusan-urusan yang dilimpahkan kepadanya dan menyerahkannya kembali kepada Westminster melalui pengesahan Mosi Persetujuan Legislatif jika undang-undang Britania Raya dianggap lebih tepat untuk menangani urusan tersebut.

Karena Parlemen Skotlandia memiliki hak untuk mengesahkan undang-undang, penyediaan pelayanan publik di Skotlandia berbeda dengan Inggris yang tidak memiliki hak devolutif. Sebagai contoh, Skotlandia menggratiskan biaya pendidikan tinggi dan perawatan kesehatan bagi penduduk usia tua, sedangkan Inggris tidak. Skotlandia adalah negara Britania Raya pertama yang menerapkan peraturan larangan merokok di tempat umum tertutup. [157] Parlemen Skotlandia adalah badan legislatif unikameral yang beranggotakan 129 anggota parlemen (MP), 73 di antaranya mewakili konstituensi masing-masing dan dipilih lewat sistem pemilihan suara terbanyak, sedangkan 56 selebihnya mewakili delapan daerah pemilihan berbeda yang dipilih dengan sistem anggota tambahan.

Anggota parlemen Skotlandia menjabat selama empat tahun (kecuali pada periode 2011–2016). Ratu Britania Raya menunjuk salah satu anggota parlemen Skotlandia yang dicalonkan oleh Parlemen untuk menjadi Menteri Pertama.

Sedangkan menteri lainnya ditunjuk oleh Menteri Pertama untuk membantu pelaksanaan kebijakannya. Bersama-sama, mereka membentuk Pemerintahan Skotlandia, yang berperan sebagai badan eksekutif. [158] Bute House, kediaman resmi Menteri Pertama Skotlandia, berlokasi di 6 Charlotte Square, Edinburgh Dalam pemilihan umum 2011, Partai Nasional Skotlandia (SNP) membentuk pemerintahan mayoritas setelah memenangkan 69 dari 129 kursi di Parlemen.

Ini adalah pemerintahan mayoritas pertama sejak Parlemen Skotlandia modern dibentuk pada tahun 1999. Pemimpin SNP, Alex Salmond, ditunjuk sebagai Menteri Pertama. Partai Buruh Skotlandia merupakan partai oposisi utama, bersama dengan Partai Konservatif, Demokrat Liberal, dan Partai Hijau, yang juga memiliki perwakilan di parlemen.

Margo MacDonald adalah satu-satunya anggota parlemen independen yang duduk di Parlemen Skotlandia. Pemilihan umum Parlemen Skotlandia berikutnya akan digelar pada 5 Mei 2016.

Rancangan Undang-Undang Skotlandia, yang diajukan oleh Komisi Calman kepada Dewan Rakyat Britania, mengusulkan pelimpahan kekuasaan yang lebih besar kepada Skotlandia. Meskipun RUU tersebut masih harus disahkan sebagai undang-undang, Partai Nasional Skotlandia percaya bahwa RUU tersebut tidak akan melimpahkan kekuasaan yang cukup besar kepada Parlemen Skotlandia.

[159] Dalam Dewan Rakyat Britania ( House of Commons), Skotlandia diwakili oleh 59 MP yang dipilih dari wilayah konstituensi Skotlandia. Scotland Office berperan sebagai perwakilan pemerintah Britania Raya di Skotlandia dan juga mewakili kepentingan Skotlandia dalam pemerintahan Britania Raya.

[160] Scotland Office dikepalai oleh Sekretaris Negara Skotlandia yang duduk di Kabinet Britania Raya; Sekretaris Negara saat ini adalah Michael Moore. Pembagian administratif [ sunting - sunting sumber ] Glasgow City Chambers, dipandang dari George Square Unit administratif bersejarah Skotlandia meliputi mormaerdom, stewartry, earldom, burgh, paroki, county, serta region dan distrik. Beberapa nama-nama ini masih digunakan sebagai penunjuk geografis.

Skotlandia modern terbagi menjadi berbagai unit administratif untuk berbagai tujuan. Dalam pemerintahan daerah, terdapat 32 wilayah dewan sejak 1996, [161] dengan dewan yang memiliki kewenangan uniter untuk menyediakan seluruh pelayanan pemerintah daerah. Dewan komunitas adalah organisasi tidak resmi yang mewakili wilayah dewan tertentu.

Dalam Parlemen Skotlandia, terdapat 73 daerah konstituensi dan delapan region. {/INSERTKEYS}

contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah

Sedangkan untuk Parlemen Britania Raya terdapat 59 daerah konstituensi. Hingga 2013, pasukan pemadam kebakaran dan kepolisian Skotlandia disesuaikan dengan sistem region yang diperkenalkan pada 1975. Untuk masalah perawatan kesehatan, penomoran kode pos, serta pembagian organisasi pemerintah dan nonpemerintah semisal gereja, Skotlandia menggunakan pembagian lama untuk keperluan administrasi. Status kota di Britania Raya ditetapkan melalui surat paten.

[162] Terdapat tujuh tempat di Skotlandia yang telah berstatus kota, yakni Aberdeen, Dundee, Edinburgh, Glasgow, Inverness, Stirling, dan Perth. [163] Pembagian administratif Skotlandia • Inverclyde • Renfrewshire • West Dunbartonshire • East Dunbartonshire • Glasgow • East Renfrewshire • North Lanarkshire • Falkirk • West Lothian • Edinburgh • Midlothian • East Lothian • Clackmannanshire • Fife • Dundee • Angus • Aberdeenshire • Aberdeen • Moray • Highland • Na h-Eileanan Siar • Argyll and Bute • Perth and Kinross • Stirling • North Ayrshire • East Ayrshire • South Ayrshire • Dumfries and Galloway • South Lanarkshire • Scottish Borders • Orkney • Shetland Skotlandia di Britania Raya [ sunting - sunting sumber ] Tanda selamat datang di A1 di perbatasan Skotlandia yang ditulis dalam bahasa Gaelik dan Inggris.

Sepanjang sejarahnya, kebijakan devolusi telah dianjurkan oleh tiga partai utama di Britania dengan berbagai antusiasme. Pemimpin Partai Buruh terakhir, John Smith, berpendapat bahwa pembentukan Parlemen Skotlandia adalah "kehendak rakyat Skotlandia".

[164] Status konstitusional Skotlandia terus menjadi sumber perdebatan selama bertahun-tahun. Pada tahun 2007, Pemerintah Skotlandia membentuk " National Conversation" untuk membicarakan masalah-masalah konstitusional, yang mengusulkan sejumlah opsi seperti peningkatan kewenangan Parlemen Skotlandia, federalisme, atau pelaksanaan referendum kemerdekaan Skotlandia dari Britania Raya.

Menolak opsi terakhir, tiga partai oposisi utama di Parlemen Skotlandia mengusulkan pembentukan Komisi Konstitusional Skotlandia untuk menyelidiki pelimpahan kekuasaan dari Britania kepada Skotlandia. [165] Pada Agustus 2009, Partai Nasional Skotlandia mengusulkan RUU untuk melaksanakan referendum kemerdekaan pada bulan November 2010.

Namun karena ditentang oleh partai utama lainnya, RUU ini batal disahkan. [166] [167] Rencana untuk melaksanakan referendum ditunda oleh Partai Nasional Skotlandia (SNP) hingga pemilihan umum Parlemen 2011. [168] Pemilu Parlemen yang digelar pada bulan Mei 2011 dimenangkan secara mayoritas oleh SNP, yang berencana untuk melaksanakan referendum kemerdekaan Skotlandia pada 18 September 2014 setelah berkonsultasi dengan Pemerintah Skotlandia pada tanggal 25 Januari 2012.

[169] Hukum dan peradilan pidana [ sunting - sunting sumber ] Pengadilan Tinggi Yustisi, Edinburgh Hukum Skotlandia berlandaskan pada hukum Romawi, [170] menggabungkan unsur-unsur Corpus Juris Civilis hukum sipil dan hukum umum abad pertengahan. Dalam Traktat Penyatuan 1707, disepakati bahwa Skotlandia tetap diperkenankan untuk mempertahankan sistem hukum yang terpisah dari sistem hukum Inggris dan Wales. [171] Sebelum tahun 1611, ada beberapa sistem hukum regional di Skotlandia, terutama hukum Udal di Orkney dan Shetland, yang berlandaskan pada hukum Norse.

Sistem hukum Skotlandia lainnya semisal hukum Keltik atau hukum Brehon umum tetap digunakan di Highland hingga tahun 1800-an. [172] Hukum Skotlandia memiliki tiga jenis peradilan yang bertanggung jawab untuk menyelenggarakan pengadilan, yakni peradilan perdata, pidana, dan heraldik.

Pengadilan perdata tertinggi adalah Pengadilan Sesi, namun banding juga dapat dibawa ke Mahkamah Agung Britania Raya (atau ke Dewan Pertuanan sebelum 1 Oktober 2009).

Sedangkan fungsi pengadilan pidana tertinggi di Skotlandia dipegang oleh Pengadilan Tinggi Yustisi. Pengadilan Sesi bertempat di Parliament House, Edinburgh, sedangkan Pengadilan Tinggi Yustisi berlokasi di Lawnmarket. Pengadilan sheriff adalah pengadilan pidana dan perdata utama yang menangani sebagian besar kasus.

Terdapat 49 pengadilan sheriff di seluruh Skotlandia. [173] Pengadilan distrik diperkenalkan pada 1975 untuk menangani kasus pelanggaran hukum yang ringan dan kecil. Pengadilan ini secara bertahap digantikan oleh hakim pengadilan setempat dari tahun 2008-2010. Kasus-kasus heraldik ditangani oleh Pengadilan Lord Lyon. Selama puluhan tahun, sistem hukum Skotlandia tergolong unik karena merupakan satu-satunya sistem hukum tanpa parlemen di dunia.

Hal ini berakhir dengan dibentuknya Parlemen Skotlandia pada 1999, yang berfungsi sebagai badan legislatif di Skotlandia. Contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah unsur sistem hukum lama tetap dipertahankan. Dalam hukum pidana, sistem hukum Skotlandia unik karena memiliki tiga putusan, yakni "bersalah", "tidak bersalah", dan " tidak terbukti".

[174] Putusan "tidak bersalah" dan "tidak terbukti" akan berakibat vonis bebas, biasanya tidak ada kemungkinan untuk menyelenggarakan pengadilan ulang, sesuai dengan aturan risiko ganda. Meskipun demikian, pengadilan ulang bisa saja digelar jika bukti baru ditemukan di kemudian hari, atau jika pihak yang dibebaskan mengakui kesalahannya, atau jika vonis bebas tersebut diketahui menghambat penegakan keadilan – lihat ketentuan Undang-Undang Risiko Ganda Skotlandia 2011.

Sebagian hukum Skotlandia berbeda dengan hukum negara Britania lainnya, dan banyak juga istilah yang berbeda konsep hukumnya. Sebagai contoh, kasus pembunuhan tak direncana di Inggris dan Wales secara umum sebanding dengan pembunuhan bersalah di Skotlandia, contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah pembakaran sengaja disebut dengan "membesarkan api yang disengaja" di Skotlandia.

Selain itu, beberapa hal yang dianggap sebagai tindak kejahatan di Inggris dan Wales tidak berlaku di Skotlandia, misalnya pemalsuan. Prosedur peradilan Skotlandia juga berbeda; hakim Skotlandia yang menangani kasus-kasus kriminal berjumlah lima belas orang, bukannya dua belas seperti yang umum digunakan di negara-negara Anglosfir. Sistem hukum perdata Skotlandia telah dikritik oleh para Hakim Senior, yang menganggapnya terlalu "Victoria" dan kuno.

[175] Layanan Penjara Skotlandia bertanggung jawab untuk mengelola penjara di Skotlandia, yang secara keseluruhan dihuni oleh 8.500 tahanan lebih. [176] Sekretaris Kabinet untuk Keadilan bertanggung jawab atas Layanan Penjara Skotlandia di Skotlandia. Militer [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Militer Skotlandia Dari keseluruhan pengeluaran pertahanan yang dianggarkan oleh Britania Raya pada tahun 2013, £3,3 miliar di antaranya dialokasikan untuk Skotlandia.

Biaya tersebut akan dikurangi menjadi sekitar £1,8 miliar, dengan asumsi pengurangan peran global dan peniadaan contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah nuklir. [177] Meskipun Skotlandia telah memiliki angkatan militer bahkan sebelum disahkannya Traktat Penyatuan dengan Inggris, angkatan bersenjata Skotlandia saat ini merupakan bagian dari Angkatan Bersenjata Britania Raya, kecuali Atholl Highlanders, yang merupakan satu-satunya angkatan bersenjata swasta di Eropa.

Pada tahun 2006, resimen infanteri dari Divisi Skotlandia digabungkan menjadi Royal Regiment of Scotland. Resimen Skotlandia lainnya pada Angkatan Darat Britania Raya adalah Scots Guards, Royal Scots Dragoon Guards, dan Scottish Transport Regiment. Karena kondisi topografi dan keterpencilannya, sebagian wilayah Skotlandia telah dimanfaatkan sebagai lokasi pengembangan militer. [178] [179] [180] Antara 1960 dan 1991, Holy Loch dijadikan sebagai pangkalan kapal selam rudal balistik Polaris milik Amerika Serikat.

[181] Saat ini, HMNB Clyde, yang berlokasi 40 km di sebelah baratlaut Glasgow, adalah pangkalan utama bagi empat kapal selam rudal balistik kelas Vanguard Trident yang memuat penangkal nuklir Britania Raya. Scapa Flow juga menjadi pangkalan utama Armada Angkatan Laut Britania Raya hingga tahun 1956. Dua pangkalan utama Angkatan Udara Britania Raya (RAF) juga terletak di Skotlandia, yakni RAF Leuchars dan RAF Lossiemouth, pangkalan pesawat tempur paling utara di Britania Raya.

Ada rencana untuk mengubah RAF Leuchars menjadi barak militer, yang akan mengakhiri keberadaan RAF di Fife. [182] Satu-satunya lokasi pengujian uranium udara terbuka di Kepulauan Britania terletak di dekat Dundrennan, Skotlandia.

[183] Akibatnya, lebih dari 7.000 amunisi beracun mengendap di dasar laut Solway Firth. [184] [185] Ekonomi [ sunting - sunting sumber ] Rig pengeboran yang terletak di Laut Utara. Skotlandia menerapkan sistem perekonomian campuran terbuka gaya barat yang sangat terkait dengan Eropa dan seluruh dunia.

Secara tradisional, perekonomian Skotlandia didominasi oleh industri berat yang disokong oleh industri galangan kapal di Glasgow, pertambangan batu bara, dan industri baja. Industri minyak bumi yang terdapat di Laut Utara juga telah menjadi sumber perekonomian penting sejak 1970-an, terutama di Skotlandia timurlaut.

Deindustrialisasi pada 1970-an dan 1980-an menyebabkan terjadinya pergeseran dari sektor manufaktur ke sektor perekonomian yang berorientasi jasa. Edinburgh adalah pusat jasa keuangan Skotlandia dan merupakan salah satu dari enam pusat keuangan terbesar di Eropa dalam hal pengelolaan dana, di belakang London, Paris, Frankfurt, Zurich, dan Amsterdam.

[186] Banyak perusahaan keuangan besar yang berlokasi di Edinburgh, termasuk Lloyds Banking Group (pemilik Halifax Bank of Scotland); bank pemerintah Royal Bank of Scotland, dan Standard Life. Pada tahun 2005, total ekspor Skotlandia (tidak termasuk perdagangan dalam negeri) diperkirakan sebesar £17,5 miliar, dengan 70% (£12,2 miliar) di antaranya berasal dari sektor manufaktur.

[187] Ekspor utama Skotlandia adalah wiski, barang elektronik, dan jasa keuangan. Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Prancis, dan Spanyol merupakan pasar ekspor utama Skotlandia. [187] Produk Domestik Bruto (PDB) Skotlandia, termasuk nilai minyak dan gas alam yang diproduksi di perairan Skotlandia, diperkirakan mencapai £150 miliar pada tahun 2012. [4] Jika Skotlandia merdeka, sekitar 95% cadangan minyak dan gas alam Britania Raya akan dimiliki oleh Skotlandia.

Jika cadangan minyak ini dibagi dengan jumlah penduduk, angka tersebut akan berkurang menjadi 9%. [188] Skotlandia juga menguasai hampir 25% potensi energi terbarukan Eropa. [189] Skotlandia pernah, dan masih, menjadi pusat industri perkapalan yang memproduksi kapal-kapal berkelas dunia seperti RMS Queen Elizabeth II (foto) Wiski mungkin adalah produk manufaktur Skotlandia yang paling terkenal.

Ekspor wiski telah meningkat sebesar 87% dalam beberapa dekade terakhir, yang menyumbangkan lebih £4,25 miliar bagi perekonomian Britania, atau seperempat dari penerimaan makanan dan minuman di negara tersebut.

[190] Wiski juga menjadi salah satu dari lima produk ekspor unggulan Britania Raya, yang menciptakan kurang lebih 35.000 lapangan pekerjaan. [191] Pariwisata juga turut bersumbangsih terhadap perekonomian Skotlandia. Laporan yang ditebitkan oleh Scottish Parliament Information Centre (SPICe) untuk Scottish Parliament's Enterprise and Life Long Learning Committee pada tahun 2002 menunjukkan bahwa sektor pariwisata menyumbang hampir 5% bagi PDB Skotlandia dan menciptakan 7,5% lapangan kerja.

[192] Dengan menyertakan pendapatan minyak dan gas alam di Laut Utara, rata-rata tarif pajak Skotlandia adalah £10.700 perkepala, lebih besar jika dibandingkan dengan tarif pajak Inggris yang hanya £9.000 perkepala.

[193] Skotlandia juga menerima belanja umum perkepala yang lebih besar jika dibandingkan dengan negara lainnya di Britania Raya; pada Februari 2012, Pusat Riset Ekonomi dan Bisnis menyatakan bahwa "Skotlandia tidak menerima subsidi bersih".

[194] Secara keseluruhan, Skotlandia menyumbangkan 9,9% (£56,9 m) bagi pendapatan pajak Britania Raya, meskipun penduduknya hanya 8,4% dari total penduduk Britania. Sedangkan pengeluaran Skotlandia sebesar 9,3% (£64,5 m) dari total belanja Britania Raya. Meskipun mengalami defisit anggaran, angka ini masih lebih kecil jika dibandingkan dengan negara lainnya di Britania Raya. Selama tiga puluh tahun belakangan, Skotlandia juga bersumbangsih menghasilkan surplus anggaran hampir £20 miliar bagi perekonomian Britania.

[195] Data terakhir pada bulan Oktober 2013 menunjukkan bahwa pada kuartal II 2013, perekonomian Skotlandia telah tumbuh sebesar 0,6%, sebanding dengan pertumbuhan ekonomi Britania Raya pada periode tersebut. [196] [197] Angka pengangguran dan jumlah angkatan kerja di Skotlandia lebih rendah jika dibandingkan dengan Britania Raya secara keseluruhan; angka pengangguran Skotlandia pada Oktober 2013 adalah 7,1%, sedangkan Britania 7,4%, [198] dan angka ketenagakerjaan di Skotlandia adalah 72,6%, lebih tinggi dari Britania Raya secara keseluruhan yang sebesar 72,0%.

[199] Angka pengangguran pemuda juga sedikit lebih rendah: 21,1% di Skotlandia dan 21,3% di Britania Raya pada periode Agustus-Oktober 2013. [199] Mata uang [ sunting - sunting sumber ] Meskipun Bank of England adalah bank sentral Britania Raya, tiga bank kliring Skotlandia masih diperkenankan untuk menerbitkan uang kertas pound sterling sendiri, ketiga bank tersebut yaitu Bank of Scotland, Royal Bank of Scotland, dan Clydesdale Bank.

Nilai uang kertas Skotlandia yang beredar saat ini adalah £3,5 miliar. [200] Transportasi [ sunting - sunting sumber ] Bandar Udara Barra, satu-satunya bandar udara di dunia yang menggunakan pantai sebagai landasan untuk jasa penerbangan terjadwal. [201] Skotlandia memiliki lima bandar udara utama, yakni Glasgow, Edinburgh, Aberdeen, Prestwick, dan Inverness, yang secara keseluruhan melayani 150 tujuan internasional dengan beragam jadwal dan jasa penerbangan carteran.

[202] GIP bertugas untuk mengoperasikan Bandar Udara Edinburgh, BAA mengoperasikan Aberdeen dan Glasgow, sedangkan Highland and Islands Airports mengoperasikan 11 bandar udara regional, termasuk Inverness, yang melayani jasa penerbangan ke lokasi-lokasi yang lebih terpencil.

[203] Jalan motor dan jalan utama di Skotlandia dikelola oleh Transport Scotland. Jalan raya yang selebihnya dikelola oleh pemerintah daerah masing-masing.

Angkutan feri beroperasi melayani daratan Skotlandia dengan banyak pulau. Angkutan feri ini sebagian besarnya dioperasikan oleh Caledonian MacBrayne, dan selebihnya dioperasikan oleh pemerintah daerah.

Jasa feri lainnya yang dikelola oleh perusahaan swasta juga menghubungkan Skotlandia dengan Irlandia Utara, Belgia, Norwegia, Kepulauan Faroe, dan Islandia. Network Rail Infrastructure Limited memiliki dan mengoperasikan infrastruktur transportasi kereta di Skotlandia, sedangkan Pemerintah Skotlandia bertanggung jawab atas strategi dan pendanaan angkutan rel secara keseluruhan.

[204] Jaringan rel Skotlandia terdiri dari sekitar 340 stasiun kereta dan jalur rel sepanjang 3.000 kilometer. Lebih dari 63 juta penumpang menggunakan jasa angkutan ini setiap tahunnya. [205] Bandar Udara Edinburgh adalah salah satu bandara tersibuk di Skotlandia.

Angkutan kereta api di Skotlandia dikelola oleh Transport Scotland. [206] Jalur rel Pantai Timur dan Pantai Barat saling menghubungkan kota-kota besar di Skotlandia, juga dengan kota-kota di Inggris. Jasa kereta domestik di Skotlandia dioperasikan oleh First ScotRail. Saat dikelola oleh British Rail, jalur Pantai Barat yang menghubungkan London Euston dengan Glasgow Central telah dielektrifikasi pada 1970-an, diikuti oleh jalur Pantai Timur pada 1980-an. British Rail membentuk dan melimpahkan tugasnya pada ScotRail.

Saat masih berada di tangan British Rail, sebagian besar jalur di Strathclyde telah dielektrifikasi. Strathclyde Passenger Transport Executive diakui sebagai "jaringan kereta listrik terbesar di luar London". Sebagian besar angkutan kereta di Skotlandia sudah dielektrifikasi, namun masih ada yang belum, misalnya di Highland, Angus, Aberdeenshire, kota Dundee dan Aberdeen, serta Perth & Kinross, dan tidak ada pulau-pulau yang dilayani oleh angkutan kereta. Glasgow juga telah memiliki sistem kereta bawah tanah yang terintegrasi sejak tahun 1986.

contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah

Setelah diperbarui dan dimodernisasi antara tahun 1977 hingga 1980, 15 stasiunnya hanya mampu melayani kurang dari 40.000 penumpang perhari. Ada rencana untuk memperbarui sistem secara ekstensif untuk menyambut Pesta Olahraga Persemakmuran 2014. Jalur Utama Pantai Timur melintasi Firth of Forth dengan melewati Forth Bridge. Selesai pada tahun 1980, jembatan kantilever ini dianggap sebagai "salah satu markah tanah Skotlandia yang diakui secara internasional".

[207] Demografi [ sunting - sunting sumber ] • l • b • s % dari total Populasi Populasi Skotlandia kulit putih 84.0 4,446,000 Britania kulit putih lainnya 7.9 417,000 Irlandia kulit putih 1.0 54,000 Gipsi kulit putih/pengembara 0.1 4,000 Polandia kulit putih 1.2 61,000 Kulit putih lainnya 1.9 102,000 Total kulit putih 96.0 5,084,000 Pakistan 0.9 49,000 India 0.6 33,000 Bangladesh 0.1 4,000 Tionghoa 0.6 34,000 Lainnya 0.4 21,000 Asia 2.7 141,000 Karibia 0.1 3,000 Kulit hitam 0.0 2,000 Kulit hitam atau Karibia lainnya 0.0 1,000 Kulit hitam atau Karibia 0.1 7,000 Afrika 0.6 29,000 Afrika lainnya 0.0 <1,000 Afrika 0.6 30,000 Etnik campuran 0.4 20,000 Arab 0.2 9,000 Lainnya 0.1 5,000 Etnik lainnya 0.3 14,000 Total populasi 100.00 5,295,000 Lihat pula: Bahasa di Skotlandia dan Bangsa Skotlandia Jumlah penduduk Skotlandia menurut sensus 2001 adalah 5.062.011.

Angka ini meningkat menjadi 5.295.400 pada tahun 2011. [2] Meskipun Edinburgh adalah ibu kota Skotlandia, ia bukanlan kota terbesar.

Dengan jumlah penduduk lebih dari 584.000 jiwa, Glasgow menyandang predikat sebagai kota terbesar di Skotlandia. Konurbasi Glasgow Raya, dengan jumlah penduduk hampir 1,2 juta, adalah tempat tinggal bagi hampir seperempat penduduk Skotlandia.

[208] Central Belt adalah tempat sebagian besar kota-kota di Skotlandia berlokasi. Glasgow terletak di sebelah barat, Edinburgh dan Dundee di sebelah timur, sedangkan Perth (yang diberi status kota pada 2012) membentang sepanjang 20 mil dari hulu Sungai Tay hingga ke Dundee.

Kota besar di Skotlandia yang terletak di luar Central Belt hanyalah Aberdeen, yang berlokasi di pantai barat bagian utara. Kawasan Highland sangat jarang penduduknya, meskipun kota Inverness telah mengalami pertumbuhan penduduk yang pesat dalam beberapa tahun terakhir. [ per kapan?] Secara umum, hanya pulau-pulau besar yang bisa diakses yang masih dihuni oleh manusia.

Saat ini, pulau yang dihuni jumlahnya kurang dari 90 pulau. Kawasan Upland selatan umumnya terdiri dari wilayah perdesaan yang didominasi oleh sektor pertanian dan kehutanan.

[209] [210] Karena masalah perumahan di Glasgow dan Edinburgh, lima kota baru didirikan pada tahun 1947 hingga 1966. Kota-kota tersebut adalah East Kilbride, Glenrothes, Livingston, Cumbernauld, dan Irvine. [211] Kartogram populasi Skotlandia. Imigrasi yang berlangsung sejak Perang Dunia II menyebabkan kota-kota seperti Glasgow, Edinburgh, dan Dundee didiami oleh sejumlah kecil warga Asia Selatan.

[212] Pada 2011, diperkirakan terdapat sekitar 49.000 warga Pakistan yang tinggal di Skotlandia, menjadikan mereka sebagai kelompok etnis non-kulit putih terbesar di negara ini. [1] Sejak Perluasan Uni Eropa, semakin banyak penduduk yang berasal dari Eropa Timur dan Tengah yang pindah ke Skotlandia; sensus 2011 menunjukkan sekitar 61.000 warga Polandia tinggal di Skotlandia.

[1] [213] Skotlandia memiliki tiga bahasa yang diakui secara resmi, yakni bahasa Inggris, Skots, dan Gaelik Skotlandia. Hampir keseluruhan warga Skotlandia menuturkan bahasa Inggris, [ butuh rujukan] dan pada tahun 1996, General Register Office for Scotland memperkirakan bahwa sekitar 17 hingga 33% penduduk Skotlandia bisa berbahasa Skots.

[214] Bahasa lainnya adalah bahasa Inggris Dataran Tinggi. Gaelik umumnya dituturkan di Kepulauan Barat, namun jika dihitung secara nasional, hanya 1% penduduk Skotlandia yang masih menuturkan bahasa Gaelik.

[215] Jumlah penutur bahasa Gaelik di Skotlandia merosot dari 250.000 pada 1881 menjadi 60.000 pada 2008. [216] Terdapat lebih banyak penduduk keturunan Skotlandia yang menetap di luar negeri jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Skotlandia sendiri.

Menurut sensus 2000, sebanyak 9,2 juta warga Amerika Serikat mengaku berdarah Skotlandia, [217] penduduk Protestan Ulster umumnya memiliki darah Lowland Skotlandia, [218] dan diperkirakan terdapat lebih dari 27 juta warga keturunan Irlandia-Skotlandia yang saat ini tinggal di Amerika Serikat. [219] [220] Di Kanada, penduduk Kanada-Skotlandia berjumlah 4,7 juta jiwa.

[221] Sekitar 20% bangsa Eropa yang tinggal di Selandia Baru juga berasal dari Skotlandia. [222] Pada Agustus 2012, jumlah penduduk Skotlandia mencapai angka tertinggi, yakni 5,25 juta jiwa. [223] Alasan peningkatan jumlah penduduk ini terutama adalah karena besarnya angka kelahiran daripada angka kematian, dan semakin banyaknya imigran asing yang pindah ke Skotlandia.

Pada tahun 2011, sebanyak 43.700 warga Wales, Irlandia Utara, dan Inggris pindah ke Skotlandia. [223] Angka kematian total (AKT) di Skotlandia adalah 2,1 (1,73 pada 2011 [224]). Saat ini, mayoritas kelahiran berasal dari wanita yang tidak menikah (51,3% kelahiran pada tahun 2012 adalah di luar nikah [225]). Perkiraan General Register Office for Scotland 2010 [226] No.

Wilayah dewan Pop. Peringkat Wilayah dewan Pop. Glasgow Edinburgh 1 Glasgow Glasgow City 589,900 11 Kirkcaldy Fife 49,560 Aberdeen Dundee 2 Edinburgh City of Edinburgh 468,720 12 Dunfermline Fife 48,240 3 Aberdeen Aberdeen City 201,680 13 Ayr South Ayrshire 46,060 4 Dundee Dundee City 144,170 14 Perth Perth and Kinross 45,770 5 Paisley Renfrewshire 74,570 15 Kilmarnock East Ayrshire 44,830 6 East Kilbride South Lanarkshire 73,590 16 Greenock Inverclyde 43,450 7 Inverness Highland 57,960 17 Coatbridge North Lanarkshire 41,610 8 Livingston West Lothian 55,070 18 Glenrothes Fife 38,940 9 Hamilton South Lanarkshire 51,640 19 Airdrie North Lanarkshire 35,950 10 Cumbernauld North Lanarkshire 50,470 20 Falkirk Falkirk 35,170 Pendidikan [ sunting - sunting sumber ] Gedung utama Universitas Glasgow.

Sistem pendidikan Skotlandia berbeda dengan negara lainnya di Britania Raya, dengan penekanan pada karakteristik pendidikan menyeluruh. [227] Pada abad ke-15, kaum Humanis menekankan pendidikan terakumulasi dengan mengesahkan Undang-Undang Pendidikan 1496, yang menyatakan bahwa semua putra baron dan pekerja bebas harus menghadiri sekolah tata bahasa untuk mempelajari "perfyct Latyne", yang menyebabkan meningkatnya angka melek huruf di kalangan pria dan elit kaya. [228] Dalam First Book of Discipline 1560, ada rencana untuk mendirikan sebuah sekolah di setiap paroki, namun rencana ini gagal karena kendala finansial.

[229] Dalam Undang-Undang Pendirian Sekolah 1616, setiap paroki diperintahkan untuk mendirikan sebuah sekolah. [230] Pada akhir abad ke-17, sejumlah besar sekolah paroki telah selesai dibangun di Lowland, namun banyak wilayah di Highland masih belum memiliki sekolah dasar.

[231] Meskipun demikian, pendidikan masih dikelola oleh gereja, bukannya oleh negara, sampai dikeluarkannya Undang-Undang Pendidikan 1872. [232] " Curriculum for Excellence" menyediakan kerangka kerja kurikuler bagi anak-anak yang berusia antara 3 sampai 18 tahun. [233] Semua anak-anak yang berusia antara 3 – 18 tahun di Skotlandia berhak menerima pendidikan gratis. Pendidikan wajib secara resmi dimulai pada usia sekitar 5 tahun dan ditempuh selama 7 tahun (P1-P7); saat ini, anak-anak di Skotlandia menjalani kelas Standard Grades atau Intermediate pada saat berusia 14 sampai 16 tahun.

Sistem ini rencananya akan dihapus dan digantikan oleh Kualifikasi Nasional Curriculum for Excellence. Usia tamat sekolah umumnya adalah 16 tahun, setelah itu siswa dapat memilih untuk tetap bersekolah dan menempuh kelas Access, Intermediate, dan Higher Grade, atau melanjutkan ke perguruan tinggi. Sejumlah kecil pelajar bersekolah di sekolah swasta.

Beberapa sekolah swasta menggunakan sistem yang serupa dengan sistem Inggris, dan menempuh ujian GCSE, A-Level, dan AS-Level. [234] Ada lima belas universitas di Skotlandia, beberapa di antaranya tergolong dalam universitas-universitas tertua di dunia, [235] [236] termasuk Universitas St Andrews, Universitas Glasgow, Universitas Aberdeen, Universitas Edinburgh, dan Universitas Dundee – beberapa di antaranya merupakan universitas dengan peringkat terbaik di Britania.

[237] [238] Secara keseluruhan, Skotlandia memiliki lebih banyak universitas yang menempati 100 besar daftar Peringkat Universitas Dunia THE-QS jika dibandingkan dengan negara lainnya di dunia. [239] Negara ini bersumbangsih terhadap 1% dari total penerbitan riset di dunia, meskipun jumlah penduduknya kurang dari 0,1% dari populasi dunia, dan lembaga pendidikan tinggi di Skotlandia juga menyumbangkan 9% bagi ekspor sektor jasa Skotlandia.

[240] [241] Scotland's University Courts adalah badan pendidikan yang berwenang untuk memberikan gelar akademik. Agama [ sunting - sunting sumber ] Biara Iona, pusat Kekristenan awal di Skotlandia. Hanya sekitar dua pertiga (67%) warga Skotlandia yang dilaporkan beragama pada tahun 2001, 65% di antaranya adalah Kristiani. [242] Sebaliknya, 28% penduduk Skotlandia dilaporkan tidak beragama. Sejak Reformasi Skotlandia pada 1560, gereja nasional Skotlandia ( Gereja Skotlandia, atau Kirk) adalah Protestan.

Sejak 1689, Presbyterian juga telah diberi kebebasan oleh negara. [20] Saat ini, sekitar 12% penduduk Skotlandia merupakan anggota Gereja Skotlandia, dan 40% selebihnya mengaku tertarik untuk bergabung. Gereja mengelola gereja paroki daerah, dengan setiap komunitas di Skotlandia memiliki kongregasi lokal.

Terdapat sekitar 19% penduduk Skotlandia yang menganut Katolik Roma, terutama di bagian barat. [243] Setelah Reformasi, Katolik Roma di Skotlandia tetap memiliki pijakan yang kuat di Highland dan di beberapa pulau bagian barat seperti Uist dan Barra, dan semakin kuat pada abad ke-19 setelah masuknya para pendatang dari Irlandia.

Denominasi Kristen lainnya di Skotlandia adalah Gereja Bebas Skotlandia, cabang Presbyterian lainnya, dan Gereja Episkopal Skotlandia. Islam adalah agama nonkristen terbesar di Skotlandia, dengan jumlah penganut diperkirakan 40.000, atau 0,9% dari jumlah penduduk Skotlandia.

[244] Ada juga sejumlah kecil penganut Yahudi, Hindu, dan Sikh, khususnya di Glasgow. [244] Biara Samyé Ling di dekat Eskdalemuir, yang merayakan hari jadinya ke-40 pada tahun 2007, adalah biara Buddha pertama di Eropa Barat. [245] Kesehatan [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Perawatan kesehatan di Skotlandia Perawatan kesehatan di Skotlandia utamanya disediakan oleh NHS Skotlandia, lembaga perawatan kesehatan masyarakat di Skotlandia.

NHS dibentuk melalui Undang-Undang National Health Service (Skotlandia) 1947 (kemudian digantikan oleh Undang-Undang National Health Service (Skotlandia) 1978), yang mulai diberlakukan pada 5 Juli 1948, bersamaan dengan peresmian NHS di Inggris dan Wales.

Meskipun demikian, sebelum tahun 1948, setengah daratan Skotlandia telah dijangkau oleh perawatan kesehatan yang dibiayai oleh negara, yang disediakan oleh Highlands and Islands Medical Service. [246] Pada tahun 2008, NHS Skotlandia memiliki sekitar 158.000 staff, termasuk 47.500 perawat, bidan, dan lebih dari 3.800 konsultan. Selain itu, terdapat pula lebih dari 12.000 dokter, praktisi keluarga, dan serikat profesional kesehatan, termasuk dokter gigi, apoteker, dan ahli farmasi, yang bekerja sebagai pegawai independen yang bertanggung jawab untuk menyediakan berbagai pelayanan kesehatan di NHS dengan imbalan gaji dan tunjangan.

Tunjangan telah ditiadakan pada bulan Mei 2010, dan biaya resep digratiskan sepenuhnya, meskipun dokter gigi dan apoteker bisa saja mengenakan biaya jika pendapatan pasien lebih dari £30.000 pertahun. [247] Kebijakan dan pembiayaan kesehatan merupakan tanggung jawab Direktorat Kesehatan Pemerintah Skotlandia. Sekretaris Kabinet untuk Kesehatan dan Kesejahteraan saat ini adalah Alex Neil, sedangkan Direktur Jenderal Kesehatan dan kepala eksekutif NHS Skotlandia adalah Derek Feeley.

[248] Budaya [ sunting - sunting sumber ] Seorang pemain Pipe memainkan Great Highland Bagpipe. Musik merupakan salah satu aspek penting dalam kebudayaan Skotlandia, baik musik tradisional maupun musik modern.

Alat musik tradisional asal Skotlandia yang terkenal adalah Great Highland Bagpipe, alat musik tiup yang terdiri dari tiga lubang udara dan sebuah pipa melodi (disebut chanter). Kelompok musik Bagpipe yang memainkan bagpipe dengan diiringi oleh berbagai jenis drum telah menyebar ke berbagai penjuru dunia. Clàrsach (kecapi), fiddle (sejenis biola), dan akordeon juga merupakan alat musik tradisional Skotlandia, dua yang terakhir sering kali ditampilkan oleh pemusik tarian country Skotlandia.

Saat ini, terdapat sejumlah grup musik dan penyanyi solo asal Skotlandia yang sukses secara internasional, termasuk Annie Lennox, Runrig, Boards of Canada, Cocteau Twins, Franz Ferdinand, Susan Boyle, Emeli Sande, Texas, The View, The Fratellis, Twin Atlantic, dan Biffy Clyro. Musisi Skotlandia lainnya yang sukses baru-baru ini adalah Paolo Nutini dan Calvin Harris. [249] J.

M. Barrie, salah seorang penulis kenamaan Skotlandia. Warisan sastra Skotlandia dapat ditelusuri sejak Abad Pertengahan. Sastra paling awal yang disusun di Skotlandia berupa pidato yang ditulis dalam bahasa Britonik pada abad ke-6, namun saat ini dianggap sebagai bagian dari sastra Wales.

[250] Sastra Abad Pertengahan umumnya ditulis dalam bahasa Latin, [251] Gaelik, [252] bahasa Inggris Kuno, [253] dan bahasa Prancis. [254] Teks pertama yang ditulis dalam bahasa Skots adalah syair Brus yang ditulis oleh John Barbour pada abad ke-14, yang menceritakan mengenai kehidupan Robert I, [255] dan segera diikuti oleh serangkaian karya prosa dan roman vernakular.

[256] Pada abad ke-16, patronase kerajaan membantu pengembangan puisi dan drama Skots, [257] namun setelah James VI naik takhta sebagai raja Inggris, ia memusnahkan pusat-pusat sastra utama, dan perkembangan sastra Skotlandia agak terhambat.

[258] Sastra Skotlandia mengalami kebangkitan pada abad ke-18 melalui tokoh-tokoh seperti James Macpherson; karyanya, Ossian Cycle, menjadikannya sebagai penyair Skotlandia pertama yang diakui secara internasional dan berpengaruh besar terhadap Pencerahan Eropa.

[259] Karyanya juga berpengaruh besar pada Robert Burns, yang dianggap oleh banyak pihak sebagai penyair nasional, [260] dan Walter Scott dengan karya terbesarnya, Waverley Novels, yang sangat membantu mendefinisikan identitas nasional Skotlandia pada abad ke-19.

[261] Menjelang akhir era Victoria, sejumlah penulis kelahiran Skotlandia berhasil meraih ketenaran internasional dengan karya-karya yang ditulis dalam bahasa Inggris, termasuk Robert Louis Stevenson, Arthur Conan Doyle, J. M. Barrie, dan George MacDonald. [262] Pada abad ke-20, Pencerahan Skotlandia menyebabkan terjadinya lonjakan aktivitas kesusastraan dan upaya untuk mempromosikan bahasa Skots sebagai bahasa sastra.

[263] Era ini diikuti oleh lahirnya generasi penyair-penyair baru pada masa pascaperang, termasuk Edwin Morgan, yang dinobatkan sebagai Scots Makar pertama oleh pemerintah Skotlandia pada tahun 2004.

[264] Sejak 1980-an, sastra Skotlandia mengalami kebangkitan besar dengan munculnya sejumlah penulis, termasuk Irvine Welsh.

[263] Penyair Skotlandia yang muncul pada periode yang sama antara lain adalah Carol Ann Duffy, yang pada Mei 2009 menjadi warga Skotlandia pertama yang dianugerahi UK Poet Laureate.

[265] Ibu kota Skotlandia, Edinburgh, adalah kota pertama di dunia yang dinobatkan oleh UNESCO sebagai Kota Sastra. [266] Kontribusi Glasgow di dunia musik diakui pada tahun 2008 saat UNESCO menobatkannya sebagai salah satu dari tiga Kota Musik Dunia. [267] Skotlandia terkenal dengan aliran “Filsafat Skotlandia” atau ‘ Aliran Akal Sehat Skotlandia’.

[268] Filsuf-filsuf terkenal yang berasal dari Aliran 'Akal Sehat Skotlandia' adalah Dugald Stewart, Thomas Reid dan William Hamilton.

[269] Pertelevisian di Skotlandia umumnya sama dengan pertelevisian Britania Raya secara keseluruhan. Lembaga penyiaran nasional di Skotlandia adalah BBC Scotland, cabang dari British Broadcasting Corporation, lembaga penyiaran publik Britania Raya yang didanai oleh pemerintah. BBC Scotland memiliki tiga stasiun televisi nasional dan sejumlah stasiun radio nasional seperti BBC Radio Scotland dan BBC Radio nan Gaidheal.

Skotlandia juga memiliki beberapa program dalam bahasa Gaelik. BBC Alba adalah saluran televisi nasional berbahasa Gaelik. Stasiun televisi komersial utama di Skotlandia adalah STV. Surat kabar nasional seperti Daily Record, The Herald, dan The Scotsman diterbitkan di Skotlandia.

[270] Surat kabar harian daerah di antaranya adalah Evening News di Edinburgh, The Courier di Dundee, dan The Press and Journal di Aberdeen. [270] Skotlandia contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah rutin mengikuti Festival Media Keltik yang menampilkan acara televisi dan film dari negara-negara Keltik. Wakil Skotlandia telah memenangkan banyak penghargaan sejak festival ini dimulai pada tahun 1980.

[271] Sebagai salah satu negara Keltik, kebudayaan Skotlandia telah diikutsertakan dalam berbagai ajang interkeltik, baik di dalam negeri maupun di berbagai penjuru dunia.

Skotlandia telah menyelenggarakan beberapa festival musik, termasuk Celtic Connections (Glasgow), dan Hebridean Celtic Festival (Stornoway). Ragam festival yang mempersembahkan kebudayaan Keltik seperti Festival Interceltique de Lorient ( Brittany), Pan Celtic Festival (Irlandia), dan National Celtic Festival ( Portarlington, Australia) secara rutin menampilkan unsur kebudayaan Skotlandia seperti bahasa, musik, dan tarian.

[272] [273] [274] [275] [276] [277] [278] Olahraga [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Olahraga di Skotlandia Olahraga adalah salah satu elemen penting dalam kebudayaan Skotlandia. Negara ini menyelenggarakan banyak kompetisi olahraga nasional dan juga diperkenankan untuk berlaga atas nama Skotlandia dalam sejumlah ajang olahraga internasional, termasuk Piala Dunia FIFA, Piala Dunia Uni Rugbi, Piala Dunia Liga Rugbi, Piala Dunia Kriket, dan Pesta Olahraga Persemakmuran, namun tidak dalam ajang Olimpiade, yang mana atlet Skotlandia bertanding di bawah nama tim Britania Raya.

Skotlandia memiliki badan pemerintah tersendiri yang mengatur masalah keolahragaan, misalnya Asosiasi Sepak bola Skotlandia (asosiasi sepak bola tertua kedua di dunia) [279] dan Uni Rugbi Skotlandia.

Meskipun sepak bola modern dikatakan berasal dari Inggris, variasi sepak bola telah dimainkan di Skotlandia selama berabad-abad, yang bisa ditelusuri sejak tahun 1424.

[280] Saat ini, sepak bola adalah cabang olahraga yang paling populer di Skotlandia, dan Scottish Cup adalah trofi nasional tertua di dunia. [281] Skotlandia pertama kali berkompetisi dalam dalam ajang sepak bola internasional pada tahun 1872 dengan bermain imbang 0-0 melawan Inggris. Pertandingan tersebut digelar di Hamilton Crescent, Glasgow, kandang dari Klub Kriket Skotlandia Barat.

Klub-klub sepak bola Skotlandia telah meraih kesuksesan dalam kompetisi sepak bola Eropa; Celtic menjuarai Piala Eropa pada 1967, Rangers dan Aberdeen menjuarai Piala Winners UEFA pada 1972 dan 1983, dan Aberdeen juga menjuarai Piala Super UEFA pada 1983.

Dundee United juga telah berhasil mencapai Final Piala UEFA pada 1987, tetapi kalah 2-1 oleh IFK Göteborg. Kota Fife di St. Andrews dikenal secara internasional sebagai Rumah Golf, [282] dan bagi contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah besar pegolf, Old Course, lapangan golf kuno tempat kelahiran golf pada tahun 1574, dianggap sebagai tempat "ziarah".

[283] Ada banyak lapangan golf terkenal lainnya di Skotlandia, termasuk Carnoustie, Gleneagles, Muirfield, dan Royal Troon. Cabang dan ajang olahraga khas Skotlandia lainnya adalah olahraga Dataran Tinggi, curling, dan shinty. Dalam cabang tinju, Skotlandia telah menelurkan 13 juara dunia: Alex Arthur, Ken Buchanan, Ricky Burns, Pat Clinton, Scott Harrison, Johnny Hill, Tancy Lee, Benny Lynch, Walter McGowan, Jackie Paterson, Murray Sutherland, Jim Watt, dan Paul Weir.

Ricky Burns adalah juara dunia tinju kelas ringan WBO saat ini. Skotlandia secara rutin telah berkompetisi dalam ajang Pesta Olahraga Persemakmuran sejak 1930 dan telah mendulang 356 medali, dengan rincian 91 medali emas, 104 perak, dan 161 perunggu.

[284] Edinburgh menyelenggarakan Pesta Olahraga Persemakmuran pada tahun 1970 dan 1986, dan Glasgow menjadi tuan rumah Pesta Olahraga Persemakmuran 2014. [285] Simbol nasional [ sunting - sunting sumber ] Santo Andreas pada lambang burgh St. Andrews dari abad ke-16. Sosok St. Andreas, martir yang terikat pada salib berbentuk X, pertama kali muncul pada masa Kerajaan Skotlandia saat diperintah oleh William I.

[286] Setelah kematian Raja Alexander III pada 1286, gambar Andreas digunakan pada stempel Guardians of Scotland, yang memegang kendali kerajaan pada masa interegnum. [286] Sedangkan penggunaan saltire (salib St. Andreas) berawal pada abad ke-14; Parlemen Skotlandia memutuskan pada tahun 1385 bahwa tentara Skotlandia harus mengenakan Salib Santo Andrew berwarna putih di bagian depan dan belakang tunik mereka. [287] Penggunaan latar belakang biru pada Salib Santo Andras diduga berawal pada abad ke-15.

[288] Sejak 1606, saltire juga membentuk bagian dari desain Union Flag. Terdapat sejumlah simbol dan artefak simbolis lainnya, baik yang resmi ataupun tidak resmi, termasuk widuri, flora identitas Skotlandia (diperingati dalam lagu The Thistle o' Scotland); Deklarasi Arbroath, pernyataan kemerdekaan politik yang ditetapkan pada tanggal 6 April 1320; pola tekstil tartan yang sering kali mencirikan klan Skotlandia tertentu; dan bendera Singa Mengamuk.

[289] [290] [291] Penduduk Highland bisa berterima kasih kepada James Graham, Adipati Montrose III, karena berkat dirinya, larangan untuk mengenakan tartan dicabut pada tahun 1782. [292] Widuri, flora identitas Skotlandia. Meskipun tidak memiliki lagu kebangsaan resmi, [293] Flower of Scotland dikumandangkan sebagai lagu kebangsaan Skotlandia dalam kesempatan tertentu dan dalam ajang olahraga internasional seperti pertandingan sepak bola dan rugbi yang melibatkan tim nasional Skotlandia.

Sejak 2010, lagu ini juga dikumandangkan dalam ajang Pesta Olahraga Persemakmuran setelah dipilih oleh sebagian besar atlet Skotlandia yang berpartisipasi.

[294] Kandidat lagu kebangsaan Skotlandia lainnya yang kurang begitu populer adalah Scotland the Brave, Highland Cathedral, Scots Wha Hae, dan A Man's A Man for A' That. Hari St. Andrew setiap tanggal 30 November diperingati sebagai hari nasional, meskipun Burns' Night lebih cenderung dirayakan secara luas, terutama di luar Skotlandia. Hari Tartan adalah perayaan terkini yang bermula dari Kanada. Pada 2006, Parlemen Skotlandia memutuskan bahwa Hari St. Andrew akan diperingati sebagai hari libur resmi.

[295] Satwa nasional Skotlandia adalah unicorn. Meskipun hanya makhluk fiksi, ia telah menjadi simbol heraldik Skotlandia sejak abad ke-12. [296] • ^ a b c d "Ethnic groups, Scotland, 2001 and 2011" (PDF). The Scottish Government. 2013. Diakses tanggal 9 December 2013. Kesalahan pengutipan: Tanda tidak sah; nama "ethnicity" didefinisikan berulang dengan isi berbeda • ^ a b "Scotland's Population at its Highest Ever".

National Records of Scotland. 30 April 2014. Diakses tanggal 30 April 2014. • ^ "Population estimates by sex, age and administrative area, Scotland, 2011 and 2012". National Records of Scotland. 8 August 2013. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-10-17. Diakses tanggal 8 Contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah 2013. • ^ a b Scottish Government. "Key Economy Statistics". Diakses tanggal 17 June 2013. • ^ " St Andrew—Quick Facts".

Scotland. org—The Official Online Gateway. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2007-11-11. Diakses tanggal 2 December 2007. • ^ "St Andrew". Catholic Online. Diakses tanggal 15 November 2011. • ^ "St Margaret of Contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah. Catholic Online. Diakses tanggal 15 November 2011.

"Patron saints". Catholic Online. Diakses tanggal 15 November 2011. • ^ "St Columba". Catholic Online. Diakses tanggal 15 November 2011. • ^ "Directgov: English language – Government, citizens and rights". Directgov. Diakses tanggal 23 August 2011. • ^ "European Charter for Regional or Minority Languages".

Scottish Government. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-12-24. Diakses tanggal 23 October 2011. • ^ Macleod, Angus "Gaelic given official status" (22 April 2005) The Times. Contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah. Retrieved 2 August 2007.

• ^ "The Countries of the UK". Office for National Statistics. Diakses tanggal 24 June 2012. • ^ "Countries within a country". 10 Downing Street. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2010-04-16. Diakses tanggal 24 August 2008. The United Kingdom is made up of four countries: England, Scotland, Wales and Northern Ireland • ^ "ISO 3166-2 Newsletter Date: 28 November 2007 No I-9. "Changes in the list of subdivision names and code elements" (Page 11)" (PDF).

International Organization for Standardization codes for the representation of names of countries and their subdivisions – Part 2: Country subdivision codes. Diakses tanggal 31 May 2008. SCT Scotland country • ^ "Scottish Executive Resources" (PDF).

Scotland in Short. Scottish Executive. 17 February 2007. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2012-09-04. Diakses tanggal 14 September 2006.

• ^ "Global Financial Centres Index". City of London. September 2008. Diakses tanggal 30 June 2010. • ^ "A quick guide to glasgow". Glasgow City Contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-06-23. Diakses tanggal 20 June 2012. • ^ The Scottish Adjacent Waters Boundaries Order. London: The Stationery Office Limited.

1999. ISBN 0-11-059052-X. Diakses tanggal 20 September 2007. • ^ "Our City". Aberdeen City Council. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2010-09-22.

Diakses tanggal 1 December 2009. Aberdeen's buoyant modern economy – is fuelled by the oil industry, earning the city its epithet as 'Oil Capital of Europe' • ^ a b c d Keay, J. & Keay, J. (1994) Collins Encyclopaedia of Scotland. London. HarperCollins. • ^ a b c Mackie, J.D. (1969) A History of Scotland. London. Penguin. • ^ Devine, T. M. (1999). The Scottish Nation 1700–2000. Penguin Books. hlm. 9. ISBN 0-14-023004-1.

From that point on anti-union demonstrations were common in the capital. In November rioting spread to the south west, that stronghold of strict Calvinism and covenanting tradition. The Glasgow mob rose against union sympathisers in disturbances that lasted intermittently for over a month • ^ "Act of Union 1707 Mob unrest and disorder".

London: The House of Lords. 2007. Diarsipkan dari versi asli tanggal 1 January 2008. Diakses tanggal 23 December 2007. • ^ Collier, J. G. (2001) Conflict of Laws (Third edition)(pdf) Cambridge University Press. "For the purposes of the English conflict of laws, every country in the world which is not part of England and Wales is a foreign country and its foreign laws.

This means that not only totally foreign independent countries such as France or Russia. are foreign countries but also British Colonies such as the Falkland Islands. Moreover, the other parts of the United Kingdom – Scotland and Northern Ireland – are foreign countries for contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah purposes, as are the other British Islands, the Isle of Man, Jersey and Guernsey." • ^ Devine, T.

M. (1999), The Scottish Nation 1700–2000, P.288–289, ISBN 0-14-023004-1 "created a new and powerful local state run by the Scottish bourgeoisie and reflecting their political and religious values. It was this local state, rather than a distant and usually indifferent Westminster authority, that in effect routinely governed Scotland" • ^ a b Gardham, Magnus (2 May 2011). "Holyrood election 2011: Alex Salmond: Referendum on Scottish independence by 2015". Daily Record. Scotland.

Diakses tanggal 14 October 2011. • ^ a b "Scotland: Independence Referendum Date Set". BSkyB. 21 March 2013. Diakses tanggal 4 May 2013. • ^ "Scottish referendum: Scotland votes no to independence". BBC News. 19 September 2014. Diakses tanggal 19 September 2014. • ^ "Scotland / Alba". British-Irish Council. Diakses tanggal 4 May 2013. • ^ http://www.ukba.homeoffice.gov.uk/sitecontent/documents/policyandlaw/IDIs/idischapter1/section2/section2.pdf?view=Binary • ^ "Scottish MEPs".

Europarl.org.uk. Diakses tanggal 2013-09-14.

contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah

• ^ The History Of Ireland Stephen Gwynn • ^ Ayto, John (2005). Brewer's Britain & Ireland: The History, Culture, Folklore and Etymology of 7500 Places in These Islands. WN. ISBN 0-304-35385-X. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan) • ^ The earliest known evidence is a flint arrowhead from Islay.

See Moffat, Alistair (2005) Before Scotland: The Story of Scotland Before History. London. Thames & Hudson. Page 42. • ^ Sites at Cramond dated to 8500 BC and near Kinloch, Rùm from 7700 BC provide the earliest known evidence of human occupation in Scotland. See "The Megalithic Portal and Megalith Map: Rubbish dump reveals time-capsule of Scotland's earliest settlements" megalithic.co.uk.

Retrieved 10 February 2008 and Edwards, Kevin J. and Whittington, Graeme "Vegetation Change" in Edwards, Kevin J. & Ralston, Ian B.M. (Eds) (2003) Scotland After the Ice Age: Environment, Archaeology and History, 8000 BC–AD 1000. Edinburgh. Edinburgh University Press. Page 70. • ^ Pryor, Francis (2003). Britain BC. London: HarperPerennial.

hlm. 98–104 & 246–250. ISBN 978-0-00-712693-4. • ^ Keys, David (14 August 2009). "Ancient royal tomb found in Scotland". The Independent. London. Diakses tanggal 16 August 2009. • ^ Brophy, Kenneth; Noble, Gordon; Driscoll, Stephen (2010). "The Forteviot dagger burial". History Scotland. 10 (1): 12–13. ISSN 1475-5270. • ^ Koch, John. "O'Donnell Lecture 2008 Appendix" (PDF).

University of Wales. Diakses tanggal 27 May 2010. • ^ Koch, John (2009). Tartessian: Celtic from the Southwest at the Dawn of History in Acta Palaeohispanica X Palaeohispanica 9 (2009) (PDF). Palaeohispanica. hlm. 339–351. ISSN 1578-5386. Diakses tanggal 17 May 2010. • ^ Koch, John. "New research suggests Welsh Celtic roots lie in Spain and Portugal". The Megalithic Portal. Diakses tanggal 10 May 2010. • ^ Cunliffe, Barry (2008).

A Race Apart: Insularity and Connectivity in Proceedings of the Prehistoric Society 75, 2009, pp. 55–64. The Prehistoric Society. hlm. 61. • ^ a b c d e Bryson 2010 • ^ a b "Skara Brae: The Discovery of the Village".

Orkneyjar. Retrieved 29 September 2012. • ^ a b "The Romans in Scotland". BBC. • ^ Hanson, William S. The Roman Presence: Brief Interludes, in Edwards, Kevin J. & Ralston, Ian B.M. (Eds) (2003) Scotland After the Ice Age: Environment, Archeology and History, 8000 BC — AD 1000. Edinburgh. Edinburgh University Press • ^ a b Snyder, Christopher A. (2003). The Britons. Blackwell Publishing. ISBN 0-631-22260-X. • ^ Robertson, Anne S. (1960) The Antonine Wall. Glasgow Archaeological Society. • ^ " Dalriada: The Land of the First Scots".

BBC – Legacies. Retrieved 4 January 2014. • ^ " Scot (ancient people)". Encyclopædia Britannica. • ^ Campbell, Ewan. " Were the Scots Irish?" in Antiquity No. 75 (2001). • ^ Peter Heather, "State Formation in Europe in the First Millennium A.D.", in Barbara Crawford (ed.), Scot in Dark Ages Europe, (Aberdeen, 1994), pp.

47–63 • ^ For instance, Alex Woolf, "The Verturian Hegemony: a mirror in the North", in M. P. Brown & C. A. Farr, (eds.), Mercia: an Anglo-Saxon Kingdom in Europe, (Leicester, 2001), pp. 106–11. • ^ Brown, Dauvit (2001). "Kenneth mac Alpin". Dalam M. Lynch. The Oxford Companion to Scottish History. Oxford: Oxford University Press.

hlm. 359. ISBN 978-0-19-211696-3. • ^ Brown, Dauvit (1997). "Dunkeld and the origin of Scottish identity". Innes Review.

Glasgow: Scottish Catholic Historical Association (48): 112–124. reprinted in Dauvit Broun and Thomas Owen Clancy (eds.), (1999) Spes Scotorum: Hope of Scots, Edinburgh: T.& T.Clark, pp.

95–111. ISBN 978-0-567-08682-2 • ^ Foster, Sally (1996). Picts, Gaels and Scots (Historic Scotland). London: Batsford. ISBN 978-0-7134-7485-5. • ^ Withers, Charles, W.J. (1984). Gaelic in Scotland, 1698–1981. Edinburgh: John Donald. hlm. 16–41. ISBN 978-0-85976-097-3. • ^ a b Barrow, Geoffrey, W. S. (2005) [1965]. Robert Bruce & the Community of the Realm of Scotland (edisi ke-4th).

Edinburgh University Press. ISBN 0-7486-2022-2. • ^ Thomas Owen Clancy. "Gaelic Scotland: a brief history". Bòrd na Gàidhlig. Diarsipkan dari versi asli tanggal 11 September 2007. Diakses tanggal 21 September 2007. • ^ "Scotland Conquered, 1174–1296".

National Archives. • ^ "Scotland Regained, 1297–1328". National Archives of the United Kingdom. • ^ Murison, A. F. (1899). King Robert the Bruce (edisi ke-reprint 2005). Kessinger Publishing. hlm. 30. ISBN 9781417914944. • ^ a b Grant, Alexander (6 June 1991) [1984].

Independence and Nationhood: Scotland, 1306–1469 (edisi ke-New). Edinburgh University Press. hlm. 3–57. ISBN 978-0-7486-0273-5. • ^ Wormald, Jenny (6 June 1991) [1981]. Court, Kirk and Community: Scotland (edisi ke-New). Edinburgh University Press.

ISBN 978-0-7486-0276-6. • ^ "Medieval life Garde Ecossaise". Learning Scotland. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-01-02. • ^ The Illustrated Encyclopedia of Warfare. DK Publishing. 2012. hlm. 391. • ^ "James IV, King of Scots 1488–1513". BBC. • ^ "Battle of Flodden, (Sept. 9, 1513),". Encyclopædia Britannica. • ^ "The Scottish Reformation,". BBC Scotland. • ^ "Religion, Marriage and Power in Scotland, 1503–1603". The National Archives of the United Kingdom. • ^ Ross, David (2002). Chronology of Scottish History.

Geddes & Grosset. hlm. 56. ISBN 1-85534-380-0. 1603: James VI becomes James I of England in the Union of the Crowns, and leaves Edinburgh for London • ^ " Famine in Scotland: The 'Ill Years' of the 1690s".

Karen Cullen,Karen J. Cullen (2010). Edinburgh University Press. p.2. ISBN 0-7486-3887-3 • ^ "Why did the Scottish parliament accept the Treaty of Union?" (PDF). Scottish Affairs. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2011-10-03. Diakses tanggal 1 May 2013. • ^ "Popular Opposition to the Ratification of the Treaty of Anglo-Scottish Union in 1706-7". University of St Andrews. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-12-17. Diakses tanggal 2014-01-11. • ^ "The Tobacco Lords: A study of the Tobacco Merchants of Glasgow and their Activities".

Virginia Historical Society. JSTOR 4248011. • ^ " Some Dates in Scottish History from 1745 to 1914 Diarsipkan 2013-10-31 di Wayback Machine.", The University of Iowa.

• ^ "Enlightenment Scotland". Learning and Teaching Scotland. • ^ Neil Davidson(2000). The Origins of Scottish Nationhood. London: Pluto Press.

hlm. 94–95. • ^ T. M. Devine and R. J. Finlay, Scotland in the Twentieth Century (Edinburgh: Edinburgh University Press, 1996), pp. 64–5. • ^ F. Requejo and K-J Nagel, Federalism Beyond Federations: Asymmetry and Processes of Re-symmetrization in Europe (Aldershot: Ashgate, 2011), p. 39. • ^ R. Quinault, "Scots on Top? Tartan Power at Westminster 1707–2007", History Today, 2007 57(7): 30–36. Issn: 0018-2753 Fulltext: Ebsco.

• ^ K. Kumar, The Making of English National Identity (Cambridge: Cambridge University Press, 2003), p. 183. • ^ D. Howell, British Workers and the Independent Labour Party, 1888–1906 (Manchester: Manchester University Press, 1984), p.

144. • ^ J. F. MacKenzie, "The second city of the Empire: Glasgow – imperial municipality", in F. Driver and D. Gilbert, eds, Imperial Cities: Landscape, Display and Identity (2003), pp. 215–23. • ^ J. Shields, Clyde Built: a History of Ship-Building on the River Clyde (1949).

• contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah C. H. Lee, Scotland and the United Kingdom: the Economy and the Union in the Twentieth Century (1995), p.

43. • ^ M. Magnusson (10 November 2003), "Review of James Buchan, Capital of the Mind: how Edinburgh Changed the World", New Statesman, diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-05-29diakses tanggal 2014-01-13 • ^ E. Wills, Scottish Firsts: a Celebration of Innovation and Achievement (Edinbugh: Mainstream, 2002). • ^ K. S. Whetter (2008), Understanding Genre and Medieval Romance, Ashgate, hlm. 28 • ^ N. Davidson (2000), The Origins of Scottish Nationhood, Pluto Press, hlm.

136 • ^ "Cultural Profile: 19th and early 20th century developments", Visiting Arts: Scotland: Cultural Profile, diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-11-05diakses tanggal 2014-01-13 • ^ Contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah Tschudi-Madsen, The Art Nouveau Style: a Comprehensive Guide (Courier Dover, 2002), pp.

283–4. • ^ J. L. Roberts, The Jacobite Wars, pp. 193–5. • ^ M. Sievers, The Highland Myth as an Invented Tradition of 18th and 19th century and Its Significance for the Image of Scotland (GRIN Verlag, 2007), pp.

22–5. • ^ P. Morère, Scotland and France in the Enlightenment (Bucknell University Press, 2004), pp. 75–6. • ^ William Ferguson, The identity of the Scottish Nation: an Historic Quest (Edinburgh: Edinburgh University Press, 1998), p. 227. • ^ Divine, Scottish Nation pp. 292–95. • ^ M. Gray, The Highland Economy, 1750–1850 (Greenwood, 1976). • ^ E. Richards, The Highland Clearances: People, Landlords contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah Rural Turmoil (2008).

• ^ J. Wormald, Scotland: a History (2005), p. 229. • ^ A. K. Cairncross, The Scottish Economy: A Statistical Account of Scottish Life by Members of the Staff of Glasgow University (Glasgow: Glasgow University Press, 1953), p. 10. • ^ R. A. Houston and W. W. Knox, eds, The New Penguin History of Scotland (Penguin, 2001), p. xxxii. • ^ G. Robb, "Popular Religion and the Christianization of the Scottish Highlands in the Eighteenth and Nineteenth Centuries", Journal of Religious History, 1990, 16(1): 18–34.

• ^ a b J. T. Koch, Celtic Culture: a Historical Encyclopedia, Volumes 1–5 (ABC-CLIO, 2006), pp. 416–7. • ^ T. M. Devine, The Scottish Nation, pp. 91–100. • ^ Paul L. Robertson, "The Development of an Urban University: Glasgow, 1860–1914", History of Education Quarterly, Winter 1990, vol.

30 (1), pp. 47–78. • ^ M. F. Rayner-Canham and G. Rayner-Canham, Chemistry was Their Life: Pioneering British Women Chemists, 1880–1949, (Imperial College Press, 2008), p. 264. • ^ Richard J. Finlay, Modern Scotland 1914–2000 (2006), pp 1–33 • ^ R. A. Houston and W.W. J. Knox, eds. The New Penguin History of Scotland (2001) p 426. [1] Niall Ferguson points out in "The Pity of War" that the proportion of contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah Scots who died was third highest in the war behind Serbia and Turkey and a much higher proportion than in other parts of the UK.

[2] [3] • ^ Iain McLean, The Legend of Red Clydeside (1983) • ^ Finlay, Modern Scotland 1914–2000 (2006), pp 34–72 • ^ Richard J. Finlay, "National identity in Crisis: Politicians, Intellectuals and the 'End of Scotland', 1920–1939," History, June 1994, Vol.

79 Issue 256, pp 242–59 • ^ Finlay, Modern Scotland 1914–2000 (2006), pp 162–197 • ^ Harvie, Christopher No Gods and Precious Few Heroes (Edward Arnold, 1989) pp 54–63. • ^ See Stewart, Heather, " Celtic Tiger Burns Brighter at Holyrood, The Guardian, 6 May 2007 for an account of Scotland's economic challenges, especially after the dotcom downturn, as it competes with the emerging Eastern European economies. • ^ "National Planning Framework for Scotland" Diarsipkan 2012-01-20 di Wayback Machine.

Scottish Government publication, (web-page last updated 6 April 2006), which states "Since the 1970s, the development of North Sea oil and gas fields has made an important contribution to the Scottish economy, and underpinned prosperity in the North-East.". Retrieved 7 November 2007. • ^ "The poll tax in Scotland 20 years on" BBC, • ^ "The Scotland Act 1998" Office of Public Sector Information. Retrieved 22 April 2008. • ^ "Devolution > Scottish responsibilities" Diarsipkan 2013-12-30 di Wayback Machine.

Scottish Government publication, (web-page last updated November 2010) • ^ a b Whitaker's Almanack (1991) London. J. Whitaker and Sons. • ^ Munro, D (1999). Scotland Atlas and Gazetteer. Harper Collins. hlm. 1–2. • ^ "Uniting the Kingdoms?" National Archives. Retrieved 21 November 2006. • ^ See "Centre of Scotland" Newtonmore.com.

Retrieved 7 September 2012. • ^ Keay, J. & Keay, J. (1994) Collins Encyclopaedia of Scotland. London. HarperCollins. Pages 734 and 930. • ^ "Tay". Encarta. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2008-05-17. Diakses tanggal 21 March 2008. • ^ "Southern Uplands". Tiscali.co.uk. 16 November 1990. Diakses tanggal 11 June 2009. • ^ "Education Scotland – Standard Grade Bitesize Revision – Ask a Teacher – Geography – Physical – Question From PN". BBC. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2010-12-02.

Diakses tanggal 11 June 2009. • ^ a b "Scotland Today " ITKT". Intheknowtraveler.com. 28 December 2006. Diarsipkan dari versi asli tanggal 6 January 2007. Diakses tanggal 11 June 2009. • ^ Murray, W.H. (1973) The Islands of Western Scotland. London. Eyre Methuen ISBN 978-0-413-30380-6 • ^ Murray, W.H.

(1968) The Companion Guide to the West Highlands of Scotland. London. Collins. ISBN 0-00-211135-7 • ^ Johnstone, Scott et al. (1990) The Corbetts and Other Scottish Hills. Edinburgh. Scottish Mountaineering Trust.

Page 9. • ^ "BBC Weather: UK Records". BBC.co.uk. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2010-12-02. Diakses tanggal 21 September 2007. The same temperature was also recorded in Braemar on 10 January 1982 and at Altnaharra, Highland, on 30 December 1995. • ^ a b "Weather extremes" Diarsipkan 2012-04-03 di Wayback Machine. Met Office. Retrieved 20 April 2010. • ^ "Western Scotland: climate" Met Office. Retrieved 20 April 2010. • ^ a b "Eastern Scotland: climate" Diarsipkan 2014-10-08 di Wayback Machine.

Met Office. Retrieved 20 April 2010. • ^ "Scottish Weather Part One". BBC. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-01-26. Diakses tanggal 21 September 2007. • ^ Fraser Darling, F. & Boyd, J.M. (1969) Natural History in the Highlands and Islands. London. Bloomsbury. • ^ Benvie, Neil (2004) Scotland's Wildlife. London. Aurum Press. ISBN 1-85410-978-2 p. 12. • ^ "State of the Park Report. Chapter 2: Natural Resources"(pdf) (2006) Cairngorms National Park Authority.

Retrieved 14 October 2007. • ^ Preston, C.D., Pearman, D.A., & Dines, T.D. (2002) New Atlas of the British and Irish Flora. Oxford University Press. • ^ Gooders, J. (1994) Field Guide to the Birds of Britain and Ireland. London. Kingfisher. • ^ Matthews, L.H. (1968) British Mammals. London. Bloomsbury. • ^ WM Adams (2003). Future nature:a vision for conservation.

hlm. 30. ISBN 978-1-85383-998-6. Diakses tanggal 10 January 2011. • ^ "East Scotland Sea Eagles" Diarsipkan 2011-04-20 di Wayback Machine. RSPB. Retrieved 3 January 2014.

• ^ Ross, John (29 December 2006). "Mass slaughter of the red kites". The Scotsman. Edinburgh. • ^ Ross, David (26 November 2009) "Wild Boar: our new eco warriors" The Herald. Glasgow. • ^ "Beavers return after 400-year gap". BBC News. 29 May 2009. Diakses tanggal 5 December 2009. • ^ Integrated Upland Management for Wildlife, Field Sports, Agriculture & Public Enjoyment (pdf) (September 1999) Scottish Natural Heritage. Retrieved 14 October 2007. • ^ "The Fortingall Yew" Forestry Commission.

Retrieved 24 June 2007. • ^ "Scotland remains home to Britain's tallest tree as Dughall Mor reaches new heights". Forestry Commission. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-10-03. Diakses tanggal 26 April 2008. • ^ Copping, Jasper (4 June 2011) "Britain's record-breaking trees identified" Diarsipkan 2013-12-29 di Wayback Machine. London. The Telegraph. Retrieved 10 July 2011. • ^ "Why Scotland has so many mosses and liverworts" SNH.

Retrieved 14 May 2008. • ^ "Bryology (mosses, liverworts and hornworts)" Royal Botanic Garden Edinburgh. Retrieved 15 May 2008. • ^ Winston Churchill, House of Commons Official Report cols 199–201, 15 April 1953 • ^ "Government of Scotland Facts" Scotland.org — The Official Online Gateway.

Retrieved 26 September 2007. • ^ "Brown opens door to Holyrood tax powers". Sunday Herald. 16 February 2008. Diakses tanggal 4 January 2014. • ^ BBC Scotland News Online " Scotland begins pub smoking ban", BBC Scotland News, 26 March 2006. Retrieved 17 July 2006. • ^ "About Scottish Ministers" Diarsipkan 2013-11-19 di Wayback Machine.

Scottish Government. Retrieved 26 September 2007. • ^ "Commons clears transfer of power". The Herald. Glasgow. January 2011. Diakses tanggal 4 October 2011. • ^ "Scotland Office Charter". Scotland Office website. 9 August 2004. Diarsipkan dari versi asli tanggal 30 October 2007.

Diakses tanggal 22 December 2007. • ^ "Local Government etc. (Scotland) Act 1994" Office of Public Sector Information. Retrieved 26 September 2007. • ^ "City status" Department for Constitutional Affairs. Retrieved 26 September 2007. • ^ "UK Cities" Department for Constitutional Affairs. Retrieved 26 September 2007. • ^ Cavanagh, Michael (2001) The Campaigns for a Scottish Parliament.

University of Strathclyde. Retrieved 12 April 2008. • ^ Party people confront new realities. BBC News. Retrieved 18 January 2008. • ^ "Referendum Bill". Official website, About > Programme for Government > 2009–10 > Summaries of Bills > Referendum Bill. Scottish Government.

2 September 2009. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-06-07. Diakses tanggal 10 September 2009. • ^ MacLeod, Angus (3 September 2009). "Salmond to push ahead with referendum Bill". The Times. London. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2009-09-10. Diakses tanggal 10 September 2009. • ^ "Scottish independence plan 'an election issue '".

BBC News. 6 September 2010. • ^ Black, Andrew (21 March 2013). "Scottish independence: Referendum to be held on 18 September, 2014". London: BBC News. Diakses tanggal 21 March 2013. • ^ "Tradition and Environment in a time of change", J.

A. Lillie (1970). "The law of Scotland has many roots in and affinities with the law of the Romans, the 'Civil Law' ": "History of the Faculty of Law". The University of Edinburgh School of Law. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2007-11-22. Diakses tanggal 22 October 2007. • ^ The Articles: legal and miscellaneous, UK Parliament House of Lords (2007). "Pasal 19: Sistem hukum dan pengadilan Skotlandia tetap tak berubah": "Act of Union 1707".

House of Lords. Diarsipkan dari versi asli tanggal 14 November 2007. Diakses tanggal 22 October 2007. • ^ "Law and institutions, Gaelic" & "Law and lawyers" in M. Lynch (ed.), The Oxford Companion to Scottish History, (Oxford, 2001), pp. 381–382 & 382–386. Udal Law remains relevant to land law in Orkney and Shetland: "A General History of Scots Law (20th century)" (PDF). Law Society of Scotland. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 25 September 2007.

Diakses tanggal 20 September 2007. • ^ "Court Information" www.scotcourts.gov.uk. Retrieved 26 September 207. • ^ The case for keeping 'not proven' verdict The Times. Retrieved 7 August 2008. • ^ Forsyth, John. "Senior judge hits out at 'Victorian' Scots courts". The Scotsman. Diakses tanggal 8 July 2009. • ^ "Prisoner Population". Sps.gov.uk. Diakses tanggal 8 July 2009.

• ^ "Scottish Independence: 'Lower defence bill' after independence" • ^ The large number of military bases in Scotland has led some to use the euphemism "Fortress Scotland".

See Spaven, Malcolm (1983) Fortress Scotland. London. Pluto Press in association with Scottish CND. • ^ "Pensioner, 94, in nuclear protest" BBC. Retrieved 29 July 2007. • ^ "Reprieve for RAF Lossiemouth base" BBC.

Retrieved 29 July 2007. • ^ "Dunoon and the US Navy" Argyll online. Retrieved 4 January 2014. • ^ "Scotland to get new Army barracks at Kinloss base" [ pranala nonaktif permanen], The Herald, 18 July 2011, Kate Devlin and Michael Settle • ^ "DU shell test-firing resumes" BBC Scotland News, 21 February 2001.

Retrieved 13 September 2006. • ^ Depleted Uranium (Shelling) Parliament of the United Kingdom: Science and Technology Committee—Debates 7 February 2001. Hansard. Retrieved 26 September 2007 • ^ Miller, AC; Stewart, M; Brooks, K; Shi, L; Page, N (2002). "Depleted uranium-catalyzed oxidative DNA damage: absence of significant alpha particle decay".

Journal of Inorganic Biochemistry. 91 (1): 246–52. doi: 10.1016/S0162-0134(02)00391-4. PMID 12121782. Parameter -month= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Milner M. and Treanor J. (2 June 1999). "Devolution may broaden financial sector's view". The Guardian. London. Diakses tanggal 8 August 2006. • ^ a b "Global Connections Survey" (PDF). Scottish Executive. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2008-05-27. Diakses tanggal 3 December 2006.

• ^ Macalister, Terry (2 March 2012). "Who would get the oil revenues if Scotland became independent?". The Guardian. Diakses tanggal 14 October 2012. • ^ Scottish Government. "Energy in Scotland: Get the facts". Diakses tanggal 17 June 2013. • ^ Scotch Whisky Association. "Scotch Whisky Exports Hit Record Level".

Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-05-23. Diakses tanggal 12 June 2013. • ^ Scotch Whisky Association. "Scotch Whisky Briefing 2013". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-05-07. Diakses tanggal 12 June 2013. • ^ "The Economics of Tourism" (PDF). SPICe. 2002. Diakses tanggal 22 October 2007. • ^ Scottish Government. "Scottish Historical Tax Receipts" (PDF). Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2014-01-13. Diakses tanggal 31 July 2013. • ^ Centre for Economics and Business Research. "How money in some regions subsidises others".

Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-10-12. Diakses tanggal 31 July 2013. • ^ Scottish Government. "Scotland's Balance Sheet" (PDF). Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2014-03-25. Diakses tanggal 12 June 2013.

• ^ BBC. "Scottish economy grows by 0.6%". Diakses tanggal 30 December 2013. • ^ BBC. "UK economy 'on the mend' after 0.6% growth, says chancellor". Diakses tanggal 30 December 2013. • ^ BBC. "UK unemployment rate at lowest since 2009". Diakses tanggal 30 December 2013. • ^ a b Scottish Government. "Labour Market Briefing - December 2013" (PDF).

Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2013-12-31. Diakses tanggal 30 December 2013. • ^ "Banknote History". Scottish Clearing Banks. Diakses tanggal 26 October 2007. • ^ "Barra Airport Today".

Barra Airport. Highlands and Islands Airports. Diakses tanggal 19 September 2010. [ pranala nonaktif permanen] • ^ The Scotsman 27 March 2007.

"Special Report—Business Class" • ^ "Highlands and Islands Airports – Airport Information" Highlands and Islands Airports Limited. Retrieved 26 September 2007.

• ^ "Disaggregating Network Rail's expenditure and revenue allowance and future price control framework: a consultation (June 2005)" Office of Rail Regulation. Retrieved 2 November 2007. • ^ Transport Scotland – Rail www.transportscotland.gov.uk. Retrieved 10 July 2008. • ^ "Rail" Diarsipkan 2007-12-12 di Wayback Machine. Transport Scotland. Retrieved 26 September 2007. • ^ Keay, J. & Keay, J. (1994) Collins Encyclopaedia of Scotland.

London. HarperCollins. ISBN 0-00-255082-2 • ^ "Did You Know?—Scotland's Cities" rampantscotland.com. Retrieved 26 September 2007. • ^ Clapperton, C.M. (ed) (1983) Scotland: A New Study. London. David & Charles. • ^ Miller, J. (2004) Inverness. Edinburgh. Birlinn.

ISBN 978-1-84158-296-2 • ^ "New Towns" BBC Scotland. Retrieved 24 July 2007. • ^ "Scotland speaks Urdu" (2004)Urdustan.net. Retrieved 26 September 2007. • ^ The Pole Position (6 August 2005). Glasgow. Sunday Herald newspaper. • ^ "Scotland's Census 2001, Part 1: Census User Needs and Legislation" (PDF). General Register Office for Scotland. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2013-11-02. Diakses tanggal 26 September 2007.

• ^ Dr. Kenneth MacKinnon. "A Century on the Census—Gaelic in Twentieth Century Focus". University of Glasgow. Diarsipkan dari versi asli tanggal 5 September 2007. Diakses tanggal 26 September 2007. • ^ " Can TV's evolution ignite a Gaelic revolution?". The Scotsman.

16 September 2008. • ^ The US Census 2000 Diarsipkan 2020-02-12 di Archive.is. The [4] Diarsipkan 2020-02-11 di Archive.is American Community Survey 2004 by the US Census Bureau estimates 5,752,571 people claiming Scottish ancestry and 5,323,888 people claiming Scotch-Irish ancestry. • ^ "The Scotch-Irish".

American Heritage Magazine. 22 (1). December 1970. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2010-10-20. • ^ "Born Fighting: How the Scots-Irish Shaped America". Powells.com. 12 August 2009. Diakses tanggal 30 April 2010. • ^ "Scots-Irish By Alister McReynolds, writer and lecturer in Ulster-Scots studies". Nitakeacloserlook.gov.uk. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2009-02-16. Diakses tanggal 30 April 2010. • ^ 2006 Canadian Census Diarsipkan 2009-11-01 di Wayback Machine.

gives a total of 4,719,850 respondents stating their ethnic origin as Scottish. • ^ Linguistic Archaeology: The Scottish Input to New Zealand English Phonology Trudgill et al.

Journal of English Linguistics.2003; 31: 103–124 • ^ a b "Scotland's population reaches record of high of 5.25 million". The Courier. 3 August 2012. Diakses tanggal 3 January 2014. • ^ "Scotland's Population 2011: The Registrar General's Annual Review of Demographic Trends 157th Edition".

Gro-scotland.gov.uk. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-01-16. Diakses tanggal 1 May 2013. • ^ "Table Q1: Births, stillbirths, deaths, marriages and civil partnerships, numbers and rates, Scotland, quarterly, 2002 to 2012" (PDF). General Register Office for Scotland. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2013-06-17.

Diakses tanggal 1 May 2013. • ^ Mid-2010 Population Estimates for Settlements and Localities in Scotland, General Register Office for Scotland. Retrieved 6 September 2012. • ^ "A Guide to Education and Training in Scotland – "the broad education long regarded as characteristic of Scotland "". Scottish Government. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-01-19. Diakses tanggal 18 October 2007.

• ^ P. J. Bawcutt and J. H. Williams, A Companion to Medieval Scottish Poetry (Woodbridge: Brewer, 2006), ISBN 1-84384-096-0, pp. 29-30. • ^ R. A. Houston, Scottish Literacy and the Scottish Identity: Illiteracy and Society in Scotland and Northern England, 1600-1800 (Cambridge: Cambridge University Press, 2002), ISBN 0-521-89088-8, p.

5. • ^ "School education prior contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah 1873", Scottish Archive Network, 2010, diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-07-02diakses tanggal 2014-01-16. • ^ R. Anderson, "The history of Scottish Education pre-1980", in T. G. K. Bryce and W. M. Humes, eds, Scottish Education: Post-Devolution (Edinburgh: Edinburgh University Press, 2nd edn., 2003), ISBN 0-7486-1625-X, pp.

219-28. • ^ "Schools and schooling" in M. Lynch (ed.), The Oxford Companion to Scottish History, (Oxford, 2001), pp. 561–563.

• ^ "Curriculum for Excellence – Aims, Purposes and Principles". Scottish Government. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2010-08-01. Diakses tanggal 2014-01-16. • ^ "The Scottish Exam System" Scottish Council of Independent Schools. Retrieved 26 September 2007.

• ^ "Welcome to the Carnegie Trust for the Universities of Scotland". Carnegie Trust for the Universities of Scotland. Diarsipkan dari versi asli tanggal 11 October 2007. Diakses tanggal 18 October 2007. • ^ "Understanding Scottish Qualifications". Scottish Agricultural College. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-05-22. Diakses tanggal 18 October 2007. • ^ "RAE 2008: results for UK universities". The Guardian. London. 18 December 2008. Diakses tanggal 11 June 2009.

• ^ Foster, Patrick. "The Times Good University Guide 2009 – league table". The Times. London. Diakses tanggal 30 April 2010. • ^ "Scotland tops global university rankings". Newsnet Scotland. Diakses tanggal 11 January 2013. • ^ "A Framework for Higher Education in Scotland: Higher Education Review Phase 2".

Scottish Government. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-01-19. Diakses tanggal 18 October 2007. • ^ "What is higher education?" (PDF). Universities Scotland. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 30 September 2006.

Diakses tanggal 18 October 2007. • ^ Analysis of Religion in the 2001 Census: Summary Report scotland.gov.uk. Retrieved 27 November 2008. • ^ Andrew Collier, "Scotland's Confident Catholics," The Tablet 10 January 2009, 16.

• ^ a b "Analysis of Religion in the 2001 Census". General Register Office for Scotland. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2007-09-27. Diakses tanggal 26 September 2007.

• ^ "In the Scottish Lowlands, Europe's first Buddhist monastery turns 40" The Buddhist Channel. Retrieved 24 June 2007. • ^ Highlands and Islands Medical Service (HIMS) www.60yearsofnhsscotland.co.uk.

Retrieved 28 July 2008. • ^ About the NHS in Scotland Diarsipkan 2014-06-28 di Wayback Machine. NHS Scotland • ^ "Strategic Board of the Scottish Government". Scottish Government. Diakses tanggal 1 January 2008.

• ^ "Best Scottish Band of All Time". The List. Diakses tanggal 2 August 2006. • ^ R. T. Lambdin and L. C. Lambdin, Encyclopedia of Medieval Literature (London: Greenwood, 2000), ISBN 0-313-30054-2, p.

508. • ^ I. Brown, T. Owen Clancy, M. Pittock, S. Manning, eds, The Edinburgh History of Scottish Literature: From Columba to the Union, until 1707 (Edinburgh: Edinburgh University Press, 2007), ISBN 0-7486-1615-2, p. 94. • ^ J. T. Koch, Celtic Culture: a Historical Encyclopedia (ABC-CLIO, 2006), ISBN 1-85109-440-7, p. 999. • ^ E. M. Treharne, Old and Middle English c.890-c.1400: an Anthology (Wiley-Blackwell, 2004), ISBN 1-4051-1313-8, p. 108. • ^ M. Fry, Edinburgh (London: Pan Macmillan, 2011), ISBN 0-330-53997-3.

• ^ N. Jayapalan, History of English Literature (Atlantic, 2001), ISBN 81-269-0041-5, p. 23. • ^ J. Wormald, Court, Kirk, and Community: Scotland, 1470–1625 (Edinburgh: Edinburgh University Press, 1991), ISBN 0-7486-0276-3, pp.

60–7. • ^ I. Brown, T. Owen Clancy, M. Pittock, S. Manning, eds, The Edinburgh History of Scottish Literature: From Columba to the Union, until 1707 (Edinburgh: Edinburgh University Press, 2007), ISBN 0-7486-1615-2, pp. 256–7. • ^ R. D. S. Jack, "Poetry under King James VI", in C. Cairns, ed., The History of Scottish Literature (Aberdeen University Press, 1988), vol.

1, ISBN 0-08-037728-9, pp. 137–8. • ^ J. Buchan (2003). Crowded with Genius. Harper Collins. hlm. 163. ISBN 0-06-055888-1. • ^ L. McIlvanney (Spring 2005).

"Hugh Blair, Robert Burns, and the Invention of Scottish Literature". Eighteenth-Century Life. 29 (2): 25–46. • ^ N. Davidson (2000). The Origins of Scottish Nationhood. Pluto Press. hlm. 136. ISBN 0-7453-1608-5. • ^ "Cultural Profile: 19th and early 20th century developments".

Visiting Arts: Scotland: Cultural Profile. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-11-05. Diakses tanggal 2014-01-13. • ^ a b "The Scottish 'Renaissance' and beyond". Visiting Arts: Scotland: Cultural Profile. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-11-05.

Diakses tanggal 2014-01-16. • ^ "The Scots Makar". The Scottish Government. 16 February 2004. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-11-05. Diakses tanggal 28 October 2007. • ^ "Duffy reacts to new Laureate post". BBC News. 1 May 2009. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-11-05. Diakses tanggal 2014-01-16. • ^ Edinburgh, UK appointed first UNESCO City of Literature UNESCO. Retrieved 20 August 2008. • ^ "Glasgow gets city of music honour".

BBC News. 20 August 2008. Diakses tanggal 2 August 2009. • ^ Fieser, James, ed. (2000). A bibliography of Scottish common sense philosophy: Sources and origins (PDF). Bristol: Thoemmes Press. Diakses tanggal 17 December 2010. • ^ Palmer, Michael (1999).

Moral Problems in Medicine: A Practical Coursebook. Cambridge: Lutterworth Press. hlm. 66. ISBN 978-0-7188-2978-0. Diakses tanggal 30 December 2010. • ^ a b "Newspapers and National Identity in Scotland" (PDF). IFLA University of Stirling. Diakses tanggal 12 December 2006. • ^ "About Us::Celtic Media Festival". Celtic Media Festival website.

Celtic Media Festival. 2014. Diakses tanggal 3 January 2014. • ^ Harvey (2002). Celtic geographies: old culture, new times. Stroud, Gloucestershire: Routledge. hlm. 142. ISBN 978-0-415-22396-6. Parameter -first1= tanpa -last1= di Editors list ( bantuan) • ^ Pittock (1999). Celtic identity and the British image. Manchester: Manchester University Press. hlm. 1–5. ISBN 0-7190-5826-0.

Parameter -first1= tanpa -last1= di Editors list ( bantuan) • ^ "Celtic connections:Scotland's premier winter music festival". Celtic connections website. Celtic Connections. 2010. Diakses tanggal 23 January 2010. • ^ " 'Hebridean Celtic Festival 2010 – the biggest homecoming party of the year". Hebridean Celtic Festival website. Hebridean Celtic Festival. 2009. Diakses tanggal 23 January 2010.

• ^ "Site Officiel du Festival Interceltique de Lorient". Festival Interceltique de Lorient website. Festival Interceltique de Lorient.

2009. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2010-03-05. Diakses tanggal 23 January 2010. • ^ "Welcome to the Pan Celtic 2010 Home Page". Pan Celtic Festival 2010 website. Fáilte Ireland. 2010. Diakses tanggal 26 January 2010. • ^ "About the Festival". National Celtic Festival website. National Celtic Festival. 2009. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-01-19. Diakses tanggal 23 January 2010.

• ^ Soccer in South Asia: Empire, Nation, Diaspora. By James Mills, Paul Dimeo: Page 18 – Oldest Football Association is England's FA, then Scotland and third oldest is the Indian FA. • ^ Gerhardt, W. "The colourful history of a fascinating game. More than 2000 Years of Football". FIFA. Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 August 2006. Diakses tanggal 11 August 2006. • ^ "Official site of the Tennents Scottish Cup". The Tennents Scottish Cup. Diakses tanggal 10 December 2006. • ^ Keay (1994) op cit page 839.

"In 1834 the Royal and Ancient Golf Club declared St. Andrews 'the Alma Mater of golf'". • ^ Cochrane, Alistair (ed) Science and Golf IV: proceedings of the World Scientific Congress of Golf. Page 849. Routledge. • ^ "Medal Tally". Commonwealth Games Scotland. Diakses 6 Augustus 2012. • ^ "Overview and History". Commonwealth Games Scotland. Diakses 3 Januari 2014. • ^ a b "Feature: Saint Andrew seals Scotland's independence" Diarsipkan 2013-09-16 di Wayback Machine., The National Archives of Scotland, 28 November 2007, retrieved 12 September 2009.

Kesalahan pengutipan: Tanda tidak sah; nama "NAS" didefinisikan berulang dengan isi berbeda • ^ Dickinson, Donaldson, Milne (eds.), A Source Book Of Scottish History, Nelson and Sons Ltd, Edinburgh 1952, p.205 • ^ G.

Bartram, www.flaginstitute.org British Flags & Emblems Diarsipkan 2012-11-09 di Wayback Machine. (Edinburgh: Tuckwell Press, 2004), ISBN 1-86232-297-X, p.

10. • ^ "National identity" in M. Lynch (ed.), The Oxford Companion to Scottish History, (Oxford, 2001), pp. contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah. • ^ Keay, J. & Keay, J. (1994) Collins Encyclopaedia of Scotland. London.

HarperCollins. Page 936. • ^ "Symbols of Scotland—Index" Rampant Scotland. Retrieved 20 September 2007. • ^ Contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah, Robert (1959). Margaret O. MacDougall (ed.), ed. Clans & Tartans of Scotland (revised). P.E. Stewart-Blacker (heralidic advisor), forward by The R. Hon. C/refountess of Erroll.

William Collins Sons & Co., Ltd. hlm. 108. Pemeliharaan CS1: Teks tambahan: editors list ( link) • ^ "Action call over national anthem". BBC News. 21 March 2006. Diakses tanggal 3 November 2011. • ^ "Games team picks new Scots anthem". BBC. 9 January 2010. • ^ "Explanatory Notes to St. Andrew's Day Bank Holiday (Scotland) Act 2007" Office of Public Sector Information.

Retrieved 22 September 2007. • ^ Scottish fact of the week: Scotland’s official animal, the Unicorn Diarsipkan 2015-10-16 di Wayback Machine. The Scotsman, 29 June 2013 Bacaan lanjutan [ sunting - sunting sumber ] • Devine, T.

M. [1999] (2000). The Scottish Nation 1700–2000 (New Ed. edition). London:Penguin. ISBN 0-14-023004-1 • Donnachie, Ian and George Hewitt. Dictionary of Scottish History. (2001). 384 pp. • Keay, John, and Julia Keay. Collins Encyclopedia of Scotland (2nd ed. 2001), 1101pp; 4000 articles; emphasis on history • Koch, J.

T. Celtic Culture: a Historical Encyclopedia (ABC-CLIO, 2006), ISBN 1-85109-440-7, 999pp • Tabraham, Chris, and Colin Baxter. The Illustrated History of Scotland (2004) excerpt and text search • Trevor-Roper, Hugh, The Invention of Scotland: Myth and History, Yale, 2008, ISBN 0-300-13686-2 • Watson, Fiona, Scotland; From Prehistory to the Present. Tempus, 2003. 286 pp. • Wilson, Neil. Lonely Planet Scotland (2013) excerpt and text search • Wormald, Jenny, The New History of Scotland (2005) excerpt and text search Monografi [ sunting - sunting sumber ] • Brown, Dauvit, (1999) Anglo-French acculturation and the Irish element in Scottish Identity in Smith, Brendan (ed.), Insular Responses to Medieval European Change, Cambridge University Press, pp.

135–53 • Brown, Michael (2004) The Wars of Scotland, 1214–1371, Edinburgh University Press., pp. 157–254 • Dumville, David N. (2001). "St Cathróe of Metz and the Hagiography of Exoticism". Irish Hagiography: Saints and Scholars. Dublin: Four Courts Press. hlm. 172–176. ISBN 978-1-85182-486-1. • Flom, George Tobias. Scandinavian influence on Southern Lowland Scotch. A Contribution to the Study of the Linguistic Relations of English and Scandinavian ( Columbia University Press, New York.

1900) • Herbert, Maire (2000). "Rí Érenn, Rí Alban, kingship and identity in the ninth and tenth centuries". Dalam Simon Taylor (ed.). Kings, Clerics and Chronicles in Scotland, 500–1297. Dublin: Four Courts Press. hlm. 63–72. ISBN 1-85182-516-9.

Pemeliharaan CS1: Teks tambahan: editors list ( link) • MacLeod, Wilson (2004) Divided Gaels: Gaelic Cultural Identities in Scotland and Ireland: c.1200–1650. Oxford University Press. • Pope, Robert (ed.), Religion and National Identity: Wales and Scotland, c.1700–2000 ( University of Wales Press, 2001) • Sharp, L.

W. The Expansion of the English Language in Scotland, (Cambridge University PhD thesis, 1927), pp. 102–325; Pranala luar [ sunting - sunting sumber ] Cari tahu mengenai Scotland pada proyek-proyek Wikimedia lainnya: Definisi dan terjemahan dari Wiktionary Gambar contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah media dari Commons Berita dari Wikinews Kutipan dari Wikiquote Teks sumber dari Wikisource Buku dari Wikibuku Panduan wisata di Scotland dari Wikivoyage • Visit Scotland, official site of Scotland's national tourist board.

• Your Scotland, Your Referendum, official website on the independence referendum consultation. • Maps and digital collections Diarsipkan 2006-02-06 di Wayback Machine. at the National Library of Scotland. • National Archives of Scotland Diarsipkan 2000-08-16 di Wayback Machine., official site of the National Archives of Scotland.

• Skotlandia di Curlie (dari DMOZ) • Scottish Census Results On Line Diarsipkan 2008-07-04 di Wayback Machine., official government site for Scotland's census results. • Scottish economic statistics 2005 Diarsipkan 2006-11-07 di Wayback Machine. (pdf) from the Scottish Executive. • Scottish Government, official site of the Scottish Government. • Scotland.org, the official online gateway to Scotland managed by the Scottish Government. • Scottish Parliament, official site of the Scottish Parliament.

• ScotlandsPeople, official government resource for Scottish genealogy. • Scottish Neighbourhood Statistics Diarsipkan 2003-11-30 di Wayback Machine., the Scottish Government's programme of small area statistics in Scotland. • Gazetteer for Scotland, an extensive guide to the places and people of Scotland by the Royal Scottish Geographical Society and University of Edinburgh.

• Streets of Scotland, photos from Scotland's streets. • Garis waktu • Prasejarah • Masa Romawi • Abad Pertengahan Awal • Kerajaan • Abad Pertengahan Atas • Revolusi Davidian • Perang Kemerdekaan • Abad Pertengahan Akhir • Pencerahan • Reformasi • Kolonisasi Amerika • Undang-Undang Penyatuan 1707 • Jacobitisme • Lowland Clearances • Highland Clearances • Romantisisme • Modern Geografi • Albania • Andorra • Armenia 1 • Austria • Azerbaijan 1 • Belanda • Belarus • Belgia • Bosnia dan Herzegovina • Britania Raya • Inggris • Irlandia Utara • Skotlandia • Wales • Bulgaria • Ceko • Denmark • Estonia • Finlandia • Georgia 1 • Hongaria • Republik Irlandia • Islandia • Italia • Jerman • Kazakhstan 2 • Kroasia • Latvia • Liechtenstein • Lituania • Luksemburg • Makedonia Utara • Malta • Moldova • Monako • Montenegro • Norwegia • Polandia • Portugal • Prancis • Rumania • Rusia 2 • San Marino • Serbia • Siprus 1 • Slovenia • Slowakia • Spanyol • Swedia • Swiss • Turki 2 • Ukraina • Vatikan • Yunani Negara dengan pengakuan terbatas Kategori tersembunyi: • Halaman dengan galat skrip • Halaman dengan argumen formatnum non-numerik • Halaman dengan kesalahan referensi • Halaman dengan argumen ganda di pemanggilan templat • Halaman dengan rujukan yang menggunakan parameter yang tidak didukung • Templat webarchive tautan wayback • Artikel dengan pranala luar nonaktif • Artikel dengan pranala luar nonaktif permanen • Templat webarchive tautan archiveis • Galat CS1: tidak memiliki penulis atau penyunting • Pemeliharaan Contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah Teks tambahan: editors list • Halaman yang menggunakan pranala magis ISBN • Artikel mengandung aksara Gaulia • Artikel mengandung aksara non-Indonesia • Pages using infobox country with unknown parameters • Pages using infobox country or infobox former country with the symbol caption or type parameters • Convert invalid options • Artikel yang memiliki kalimat yang harus diperbaiki • Artikel dengan pernyataan contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah tidak disertai rujukan • Artikel dengan pernyataan yang tidak disertai rujukan April 2022 • Artikel berpranala Curlie • Halaman ini terakhir diubah pada 11 April 2022, pukul 03.04.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
BAB I PENDAHULUAN • Latar Belakang Sistem keadilan dan demokrasi yang berlaku di Indonesia selalu mengacu dan berbasis kepada Pancasila dan didukung oleh UUD 1945. Pancasila menjadi sebuah landasan dalam penentuan prinsip dan pandangan hidup serta dasar negara Indonesia.

Namun dewasa ini semakin banyak penyimpangan nilai-nilai Pancasila berdasarkan butir-butir yang terkandung didalamnya. Namun nilai tersebut serasa hilang jika dibandingkan dengan kehidupan bangsa pada zaman ini. Penyimpangan pun sudah dianggap hal yang biasa dilakukan, dianggap sebagai sesuatu yang “bisa dilanggar” menjadi “biasa dilanggar”. Namun butir/nilai yang terkandung dalam sila tersebut semakin hilang dan tersamarkan artinya.

Contoh kecil adalah semakin berkurangnya demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai Negara Indonesia, kita menganut sistem Demokrasi Pancasila. Demokrasi Pancasila merupakan demokrasi konstitusional dengan mekanisme kedaulatan rakyat dalam penyelenggaraan negara dan penyelengaraan pemerintah berdasarkan konstitusi yaitu Undang-Undang Dasar 1945.

Sebagai demokrasi pancasila terikat dengan UUD 1945 dan pelaksanaanya harus sesuai dengan UUD 1945. • Rumusan Masalah • Bagaimana kajian filosofis Pancasila? • Apa saja contoh kasus yang tidak sesuai dengan Pancasila? • Bagaimana analisis kasus yang tidak sesuai dengan Pancasila? • Tujuan • Mengetahui bagaimana kajian filosofis Pancasila • Memahami contoh kasus yang tidak sesuai dengan Pancasila • Memahami Bagaimana analisis kasus yang tidak sesuai dengan Pancasila BAB II PEMBAHASAN • Kajian Filosofis Pancasila Pancasila adalah sebagai dasar filsafat negara dan pandangan filosofis bangsa Indonesia.

Oleh karena itu sudah merupakan suatu keharusan moral untuk secara konsisten merealisasikannya dalam setiap aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Hal ini berdasarkan pada pada suatu kenyataan secara filosofis dan objektif bahwa bangsa Indonesia dalam hidup bermasyarakat dan bernegara mendasarkan pada nilai-nilai yang tertuang dalam sila-sila Pancasila yang secara filosofis merupakan filosofi bangsa Indonesia sebelum mendirikan negara.

Secara filosofis, bangsa Indonesia sebelum mendirikan negara adalah sebagai bangsa yang berketuhanan dan berkemanusiaan, hal ini berdasarkan kenyataan objektif bahwa manusia adalah makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Syarat mutlak suatu negara adalah adanya persatuan yang terwujudkan sebagai rakyat (merupakan unsur pokok negara), sehingga secara filosofis negara berpersatuan dan berkerakyatan konsekuensinya rakyat adalah merupakan dasar ontologism demokrasi, karena rakyat merupakan asal mula kekuasaan negara atas dasar pengertian filosofis tersebut maka dalam hidup bernegara nilai-nilai pancasila merupakan dasar filsafat negara.

Konsekuensinya dalam setiap aspek penyelenggaraan negara harus bersumber pada nilai-nilai pancasila merupakan dasar filsafat negara. Konsekuensinya dalam setiap aspek penyelenggaraan negara harus bersumber pada nilai-nilai pancasila termasuk sistem peraturan perundang-undangan di Indonesia.

Oleh karena itu dalam realisasi kenegaraan termasuk dalam proses reformasi dewasa ini merupakan suatu keharusan bahwa pancasila merupakan sumber nilai dalam pelaksanaan kenegaraan baik dalam pembangunan nasional, ekonomi, politik, hukum, sosial budaya, maupun pertahanan dan keamanan.

Ir. Soekarno ( 1 juni 1945) “Pancasila adalah hasil perenungan jiwa yang mendalam. Pancasila itu adalah isi jiwa bangsa Indonesia.kalau filsafat itu adalah “isi jiwa (sesuatu) bangsa”, maka filsafat itu adalah filsafat bangsa. Jadi, Pancasila itu adalah filsafat bangsa Indonesia.” Fridrich Hegel: “Pancasila adalah satu sintesa negara yang lahir daripada satu anti tesa”.

Anjuran Pancasila adalah suatu sistem filsafat semua kelima sila adalah tersusun dalam suatu perumusan fikiran filsafat yang harmonis. • Contoh Kasus Pancasila • Sila Ketuhanan Yang Maha Esa Maksudnya adalah tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain, yaitu tidak boleh memaksakan orang lain memeluk agama kita atau memaksa seseorang untuk berpindah dari agama satu ke agama yang lain.

Negara memberikan jaminan kebebasan kepada warga negara untuk memeluk salah satu agama atau kepercayaan sesuai dengan keyakinan masing-masing. Kasus yang bertentangan dengan adanya sila pertama adalah : Bom Bali Jakarta, Kompas – Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat (AS) menyatakan kesediaannya membantu Kepolisian Daerah (Polda) Bali untuk mengungkap kasus peledakan bom di Jalan Legian, Kuta, Bali, yang menewaskan sedikitnya 182 orang, Sabtu (12/10) malam.

Bantuan serupa juga datang dari Polisi Federal Australia (AFP). Selain kedua tim tersebut, Polda Bali juga dibantu Polda Jawa Timur dan Jawa Tengah untuk menuntaskan kasus peledakan bom di Kuta itu.

“Kita terbuka terhadap berbagai bentuk kerja sama bilateral atau kolektif dengan negara lain dalam upaya memerangi terorisme, termasuk joint investigation ataupun pertukaran informasi intelijen,” kata Menteri Luar Negeri (Menlu) Hassan Wirajuda usai mengadakan pertemuan dengan para perwakilan asing di Departemen Luar Negeri, Jakarta, Senin (14/10). Perihal adanya bantuan FBI itu juga dibenarkan Kepala Badan Hubungan Masyarakat (Humas) Mabes Polri Inspektur Jenderal Saleh Saaf.

Akan tetapi, ia belum mengetahui detail dari bantuan tersebut. Ia mengatakan, jajaran Kepolisian Negara RI (Polri), tambah Saleh, terbuka bagi negara mana pun yang ingin memberikan bantuan tenaga penyidiknya. “Tidak ada masalah soal itu, sebab kami pun selama ini juga sudah memiliki hubungan Interpol.” Ditegaskan, “Cuma kalau mereka datang diam-diam dan melakukan penyidikan sendiri, itu yang tidak boleh.” Sedangkan Pemerintah Australia maupun Inggris sejauh ini, menurut Saleh, baru menyampaikan kesediaan mereka untuk memberi bantuan kemanusiaan.

“Seperti Contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah, selain memberi bantuan tenaga medis, bahkan mereka juga sudah mengevakuasi 41 warga negaranya yang menjadi korban dalam ledakan tersebut,” ujarnya.

Dari kasus tersebut diatas menandakan bahwa sudah tidak relevannya warga indonesia dengan nilai pancasila khususnya pada sila pertama. Dari kasus pertama dikatakan bahwa pelaku melakukan hal tersebut dengan alasan jihad, sedangkan pada kasus kedua yaitu menunjukkan bahwa adanya pendangkalan iman seseorang. Hal tersebut jelas sangat bertentangan dengan nilai pada sila pertama tentang Ketuhanan Yang Maha Esa yaitu menghilangkan nyawa seseorang sekalipun alasannya adalah berjihad dan membela agama islam.

Belajar dari kasus pengeboman yang sering terjadi di berbagai daerah seharusnya pemerintah mengadakan tindakan yang tegas kepada pelaku bom, memberikan hukuman kepada pelaku. Pada kasus pengeboman yang semakin marak ini terlihat pemerintah yang seolah jalan ditempat,tidak adanya tindakan yang pasti. Tindakan dari pemerintah sangat diperlukan untuk menghindari terjadinya bentuk tindakan provokasi terhadap kerukunan umat beragama. Banyaknya kasus bom menunjukkan kegagalan pemerintah dalam memayungi keamanan pada masyarakat, kegagalan dalam menjaga kerukunan umat beragama yang notabennya indonesia terdiri dari beragam agama’ • Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab Pada sila kedua ini memiliki makna manusia diakui dan diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa, yang sama derajatnya, yang sama haknya dan kewajiban-kewajiban azasinya, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, dan keparcayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.

Karena itu dikembangkanlah sikap saling ,mencintai sesama manusia, sikap tenggang rasa serta sikap tidak terhadap orang lain. Kemanusiaan yang adil dan beradab berarti menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, melakukan kegiatan-kegiatan kemanusiaan dan berani membela kebenaran dan keadilan. Manusia adalah sederajat, maka bangsa Indonesia merasakan dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia, karena itu dikembangkan sikap hormat menghormati dan bekerja sama dengan bangsa lain.

Kasus yang bertentangan dengan sila kedua ini adalah : Hutang Ciptakan Ketidakadilan bagi Rakyat Miskin JAKARTA – Upaya pemerintah untuk memenuhi kewajiban pembayaran utang yang dinilai sudah mencapai taraf membahayakan telah memunculkan ketidakadilan bagi rakyat kecil pembayar pajak.

Pasalnya, saat ini, penerimaan pajak, baik dari pribadi maupun pengusaha, digenjot untuk bisa membayar pinjaman, termasuk utang yang dikemplang oleh pengusaha hitam obligor Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

Hal ini berarti rakyat kecil pembayar pajak seakan dipaksa menyubsidi pengusaha kaya pengemplang BLBI. Akibatnya, kemampuan penerimaan negara dari pajak justru kian berkurang untuk program peningkatan kesejahteraan pembayar pajak seperti jaminan sosial, pendidikan, dan kesehatan. “Kebijakan pajak negara sangat tidak adil bagi rakyat karena penerimaan pajak tidak mampu mendorong peningkatan kesejahteraan rakyat,” ujar pengamat Koalisi Anti Utang (KAU), Dani Setiawan, Kamis (5/5).

Ia mengungkapkan persentase pembayaran cicilan pokok dan bunga utang telah menyerap 31 persen penerimaan perpajakan pada 2010. “Angkanya diperkirakan tidak banyak berkurang pada tahun 2011,” imbuh dia. Pada 2011, target penerimaan pajak dipatok sekitar 764,49 triliun rupiah, naik dari penerimaan tahun lalu sekitar 590,47 triliun rupiah.

Sementara itu, tren kewajiban pembayaran cicilan dan bunga utang pemerintah terus meningkat dan pada 2011 mencapai 247 triliun rupiah, melebihi penarikan utang baru tahun ini sekitar 184 triliun rupiah. • Sila Persatuan Indonesia Sila Persatuan Indonesia, menempatkan manusia Indonesia pada persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan Bangsa dan Negara di atas kepentingan pribadi dan golongan. Menempatkan kepentingan negara dan bangsa di atas kepentingan pribadi, berarti manusia Indonesia sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan Negara dan Bangsa, bila diperlukan.

Sikap rela berkorban untuk kepentingan negara dan Bangsa, maka dikembangkanlah rasa kebangsaan dan bertanah air Indonesia, dalam rangka memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Persatuan dikembangkan tas dasar Bhineka Tunggal Ika, dengan memajukan pergaulan demi kesatuan dan persatuan Bangsa Indonesia. Kasus yang menyimpang dari nilai sila ketiga ini diantaranya adalah : Papua Keluar dari NKRI Jakarta, PelitaOnline — KETUA Solidaritas Kemanusiaan untuk Papua, Frans Tomoki meminta agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bertanggung jawab atas pelanggaran HAM di Papua.

Jika Pemerintahan SBY-Boediono ini tidak bertanggung jawab, maka ia mengancam akan keluar dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Kami ingin Papua berdiri di atas kakinya sendiri untuk menantukan nasib rakyatnya. Kalau pemerintah tidak memperhatikan kami, biarkan kami keluar dari NKRI,” kata Frans saat jumpa pers di Kontras, Jakarta, Selasa (1/11).

Menurutnya, para anggota contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah yang ada di Papua, hanya bisa membuat rakyat Papua menjadi tidak aman lantaran terlalu represif dalam bertindak demi kepentingan PT Freeport Indonesia. Militer, kata dia, juga tidak membawa kesejahteraan bagi rakyat di Bumi Cendrawasih. “Militer terlalu diskriminatif untuk warga Papua. Seharusnya berlaku adil. Kami hanya ingin mandiri,” pintanya tegas.

Dia menjelaskan, Kapolsek Mulia Papua, Dominggus Awes, yang ditembak di bandara merupakan jaringan Organisasi Papua Merdeka (OPM) gadungan yang dipelihara oleh militer. Dari kasus perpecahan diatas memang harus dilakukan tindakan tegas dari pihak berwenang. Adanya tindakan tegas untuk membubarkan aliran yang dapat menyesatkan umat islam, dan jika tetap membantah maka harus diberikan hukuman yang dapat menimbulkan efek jera.

Bisa juga dilakukan dengan melakukan pendekatan secara spiritual. Sedangkan dalam kasus keluarnya papua seharusnya pemerintah dapat menghimbau kepada seluruh menteri-menterinya untuk Menciptakan kondisi yang mendukung komitmen, kesadaran dan kehendak untuk bersatu dan membiasakan diri untuk selalu membangun konsensus, menghilangkan kesempatan untuk berkembangnya primodialisme sempit pada setiap kebijaksanaan dan kegiatan, agar tidak terjadi KKN,dan juga menumpas setiap gerakan separatis secara tegas dan tidak kenal kompromi.

• Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan dan Perwakilan. Artinya manusia Indonesia sebagai warga negara dan warga masyarakat Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama. Dalam menggunakan hak-haknya ia menyadari perlunya selalu memperhatikan dan mengutamakan kepentingan negara dan kepentingan masyarakat. Karena mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama, maka pada dasarnya tidak boleh ada suatu kehendak yang dipaksakan kepada pihak lain.

Sebalum diambil keputusan yang menyangkut kepentingan bersama terlebih dahulu diadakan musyawarah. Keputusan iusakan secara mufakat. Musyarwarah untuk mencapai mufakat ini, diliputi oleh semangat kekluargaan, yang merupakan ciri khas Bangsa Indonesia.

Manusia Indonesia menghormati dan menjunjung tinggi setiap hasil keputusan musywarah, karena semua pihak yang bersangkutan harus menerimanya dan melaksankannya dengan baik dan tanggung jawab. Kasus yang menyimpang dari sila ini adalah : Prita Dipenjara, tapi Kejahatan Pornografi?

Prita Mulyasari, seorang ibu dari dua orang anak yang masih kecil harus mendekam dibalik jeruji karena didakwa atas pelanggaran Pasal 27 ayat 3 Undang-Undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Dari pengakuannya, ia menjadi korban oknum perusahaan RS Omni International Alam Sutera yang memperlakukan dia bak sapi perahan. Pasien yang harusnya mendapat prioritas pelayanan kesehatan yang prima, justru menjadi obyek eksploitasi finansial dan bahkan jika apa yang diungkapkan oleh ibu Priya Mulyasari dalam email/surat pembaca itu benarmaka secara insitusi RS Omni Internasional melindungi oknum dokter yang melakukan mal-praktik.

Pihak manajemen RS Omni telah menggunakan kekuasaan jaringan dan keuangan untuk mendukung perbuatan yang tidak semestinya. UU ITE mengatur banyak aspek dalam dunia internet, mulai dari etika-moral dalam menggunakan internet hingga transaksi bisnis internet. Perbuatan yang pertama dilarang dalam UU 11/2008 adalah tindakan penyebaran konten asusila [ditegaskan dalam UU 44/2008 tentang Pornografi], lalu perjudian (2), pencemaran nama baik (3), dan pemerasan/ancaman (4), hal-hal berbau SARA dan seterusnya.

Bila kita melihat urutannya, maka semestinya UU ITE yang disahkan pada April 2008 digunakan untuk membersihkan konten porno dari dunia internet demi melindungi generasi muda dari degradasi moralitas.

Namun, adakah perubahan berarti informasi dan industri pornografi via internet di Indonesia sejak diterbitnya UU ITE April 2008 dan UU Pornografi Oktober 2008 silam?

Bukankah kasus pelanggaran Pasal 27 ayat 1 lebih banyak daripada ayat 3 UU 11/2008? Mengapa pula seorang ibu yang menyampaikan unek-unek menjadi korban mal praktik perusahaan rumah sakit harus kembali menjadi korban sementara para oknum rumah sakit berleha-leha? Apakah dengan kekuasaan jaringan dan finansial, maka manajemen Omni bisa menyewa pengacara (bahkan jaksa) membuat yang benar jadi salah, salah jadi benar?

Mengapa kepolisian tidak menyelidiki siapa yang menyebarluaskan email private dari Bu Prita? Itulah gambaran hukum yang terjadi di Indonesia. Tidak adanya keadilan hukuman antara rakyat miskin dengan orang yang berkuasa. Hal in menunjukkan bahwa hukum di Indonesia dapat dengan mudahnya diperjual belikan bagi mereka contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah mempunyai uang.

Memang sungguh ironis ini terjadi dinegara kita, yang notabennya adalah negara hukum, tetapi hukum yang berjalan sangatlah amburadul. Seharusnya pemerintah lebih tegas kepada mafia hukum, yang telah banyak mencuri hak-hak rakyat kecil.

Satgas pemberantasan mafia hukum seharusnya segera melakukan langkah-langkah penting. Salah satu yang perlu dilakukan adalah memberikan efek jera kepada para pejabat yang ketahuan memberikan fasilitas lebih dan mudah kepada mereka yang terlibat dalam kejahatan. Selain itu, kepada para pelaku kejahatan yang terbukti mencoba atau melakukan transaksi atas nama uang, harus diberikan hukuman tambahan.

Memberikan efek jera demikian akan membuat mereka tidak ingin berpikir melakukan hal demikian lagi. • Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia Maksudnya yaitu manusia Indonesia menyadari hak dan kewajiban yang sama untuk menciptakan keadilan soial dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Dalam rangka ini dikembangkan perbuatan luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan. Untuk itu dikembangkan sikap adil terhadap sesama, menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban, serta menghormati hak-hak orang lain. Kasus yang terjadi dari penyimpangan sila kelima ini diantaranya adalah : Kehidupan antara warga Jakarta dengan Papua Kehidupan masyarakat papua dengan masyarakat jakarta tentulah sangat berbeda, yang penduduknya juga merupakan penduduk Indonesia juga, tetapi kehidupan mereka sangat jauh berbeda.

Masih banyak masyarakat papua yang memakai koteka, pembangunan di derah tersebut juga tidak merata. Kita bandingkan saja dengan kehidupan masyarakat di Jakarta, banyak orang-orang memakai pakaian yang berganti-ganti model, banyak bangunan menjulang tinggi. Jayapura, Kompas – Jumlah penduduk miskin di sejumlah provinsi diperkirakan meningkat sejalan dengan melonjaknya harga pelbagai kebutuhan dan tarif transportasi. Kemiskinan itu makin terasa karena pendapatan penduduk umumnya tidak meningkat–kalaupun ada peningkatan hal itu tidak signifikan.

Menurut data yang diperoleh di Papua, Senin (21/3), jumlah penduduk miskin di pulau yang amat kaya sumber daya alam itu 80,07 persen atau sekitar 1,5 juta jiwa dari 1,9 juta penduduk Papua (data tahun 2001).

Angka ini tidak berubah karena sejak diberlakukannya Undang-Udnang (UU) Otonomi Khusus sejak akhir 2001-Maret 2005, sejumlah daerah belum memberi kontribusi bagi pemberantasan sejumlah kategori kemiskinan. Angka kemiskinan di Papua diperkirakan akan meningkat dengan kenaikan harga BBM.

Provinsi lain yang juga kaya sumber daya alam seperti Kalimantan Timur (Kaltim) menghadapi masalah berat dari tingginya angka warga miskin. Di Kaltim jumlah penduduk miskin mencapai 12 persen (328.000 orang dari 2,7 juta jiwa).

• Analisis Pelanggaran Nilai-Nilai Pancasila Dengan mengutip salah satu berita yang di post di website detik.com mengenai pembunuhan seorang ibu RT oleh perampok, dapat diketahui bahwa kasus tersebut telah melanggar nilai Pancasila. Untuk lebih memahami nilai Pancasila mana yang telah dilanggar, maka diperlukan analisis terlebih dahulu. Kasus yang terjadi pada ibu RT tersebut merupakan kasus pembunuhan dan perampokan yang dilakukan secara sengaja.

Peristiwa tersebut menimbulkan satu korban jiwa dan juga merugikan keluarga korban atas perampokan dan pembunuhan yang terjadi. Karena selain membunuh, perampok tersebut juga mengambil beberapa harta benda korban dan keluarga korban, seperti perhiasan dan ponsel.

Kemudian, jika kita perhatikan, pada kasus pembunuhan dan perampokan tersebut telah terjadi pelanggaran Hak Asasi Manusia dimana si perampok telah mengambil secara paksa atau tanpa izin sesuatu yang bukan haknya dalam konteks ini adalah harta benda, dan juga terdapat pelanggaran nilai moral yang berlaku di lingkungan masyarakat yaitu dengan melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan nilai moral yang dianut masyarakat Indonesia, serta melanggar nilai-nilai Pancasila.

Nilai pancasila yang telah dilanggar dalam kasus ini adalah nilai Pancasila poin ke-2 yaitu ‘kemanusiaan yang adil dan beradab’. Sudah sangat jelas sekali bahwa kasus pembunuhan dan perampokan yang terjadi pada ibu RT tersebut merupakan perbuatan yang tidak beradab dan tidak berperikemanusiaan. Jadi, dari kedua analisis tersebut yaitu analisis kasus dan analisis pelanggaran nilai Pancasila, dapat diambil kesimpulan bahwa kasus pembunuhan dan perampokan yang terjadi pada ibu RT tersebut telah melanggar HAM, nilai moral, dan terutama telah melanggar Pancasila yang merupakan dasar negara Indonesia yang selalu menjadi pedoman hidup bangsa Indonesia.

Nilai Pancasila yang telah dilanggar terdapat pada poin ke-2 yang berbunyi ‘kemanusiaan yang adil dan beradab’. Dari kasus tersebut, banyak pelajaran yang dapat diambil, bahwa kita sebagai masyarakat Indonesia yang memiliki dasar negara Pancasila harus bisa lebih mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila tersebut. Tidak seharusnya kita sebagai bangsa Indonesia melanggar nilai-nilai Pancasila terutama jika pelanggaran tersebut merugikan orang lain atau pun lingkungan di sekitar kita.

BAB III PENUTUP • Kesimpulan Tugas dan kewajiban manusia Indonesia yang ber-Pancasila adalah sebagai berikut: 1) Menjunjung tinggi dan mematuhi serta setia dengan penuh keimanan dan ketakwaan akan ajaran agama sesuai dengan keyakinannya masing-masing. 2) Menghormati dan menaati serta harus juga setia pada dasar negara Pancasila, yang merupakan konsesus nasional. Dari contoh kasusbanyak pelajaran yang dapat diambil, bahwa kita sebagai masyarakat Indonesia yang memiliki dasar negara Pancasila harus bisa lebih mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila tersebut.

Tidak seharusnya kita sebagai bangsa Indonesia melanggar nilai-nilai Pancasila terutama jika pelanggaran tersebut merugikan orang lain atau pun lingkungan di sekitar kita. • Saran Kita harus menetapkan nilai-nilai yang terkandung pada pancasila dalam kehuidupan sehari-hari.

Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia sangat cocok untuk dijadikan pedoman dalam melakukan setiap perbuatan yang sesuai dengan aturan yang berlaku didalam masyarakat. DAFTAR PUSTAKA Ita,D.2011.”Prilaku Yang Bertentangan Dengan Nilai Nilai Pancasila.”http://rumahsehatkiita.wordpress.com/2011/12/09/prilaku-yang-bertentangan-dengan-nilai-nilai-pancasila/(diakses pada 3 Okteber 2013) http://kuliahade.wordpress.com/2010/07/30/pancasila-penjelasan-sila-sila (diakses pada 3 Oktober 2013).

http://www.pengertianahli.com/2013/05/pengertian-pancasila-sebagai-dasar.html /(diakses pada 3 Okteber 2013). http://sithi.blogspot.com/2011/04/nilai-nilai-yang-terkandung-dalam.html /(diakses pada 3 Okteber 2013).
MENU • Home • SMP • Matematika • Agama • Bahasa Indonesia • Pancasila • Biologi • Kewarganegaraan • IPS • IPA • Penjas • SMA • Matematika • Agama • Bahasa Indonesia • Pancasila • Biologi • Akuntansi • Matematika • Kewarganegaraan • IPA • Fisika • Biologi • Kimia • IPS • Sejarah • Geografi • Ekonomi • Sosiologi • Penjas • SMK • Penjas • S1 • Agama • IMK • Contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah Teknologi Informasi • Uji Kualitas Perangkat Lunak • Sistem Operasi • E-Bisnis • Database • Pancasila • Kewarganegaraan • Akuntansi • Bahasa Indonesia • S2 • Umum • About Me 2.9.

Sebarkan ini: Masyarakat Multikultural – Pengertian, Ciri, Manfaat Dan Contoh – Masyarakat multikultural adalah suatu masyarakat yang terdiri dari beberapa macam kumunitas budaya dengan segala kelebihannya, dengan sedikit perbedaan konsepsi mengenai dunia, suatu sistem arti, nilai, bentuk organisasi sosial, sejarah, adat serta kebiasaan.Acuan utama bagi terwujudnya masyarakat Indonesia yang multikultural adalah multikulturalisme, yaitu sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan.

Dalam model multikulturalisme ini, sebuah masyarakat dilihat sebagai mempunyai sebuah kebudayaan yang berlaku umum dalam masyarakat tersebut yang coraknya seperti sebuah mozaik. Di dalam mozaik tercakup semua kebudayaan dari masyarakat-masyarakat yang lebih kecil yang membentuk terwujudnya masyarakat yang lebih besar, yang mempunyai kebudayaan yang seperti sebuah mozaik tersebut.

Model multikulturalisme ini sebenarnya telah digunakan sebagai acuan oleh para pendiri bangsa Indonesia dalam mendesain apa yang dinamakan sebagai kebudayaan bangsa, sebagaimana yang terungkap dalam penjelasan Pasal 32 UUD 1945, yang berbunyi “Kebudayaan bangsa (Indonesia) adalah puncak-puncak kebudayaan di daerah”. Indonesia adalah salah satu negara multikultural terbesar di dunia. Kenyataan ini dapat dilihat dari kondisi sosio-kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Pada prinsipnya, pendidikan multikultural adalah pendidikan yang mengharagai perbedaan.

Sehingga nantinya perbedaan tersebut tidak menjadi sumber konflik dan perpecahan. Sikap saling toleransi inilah yang nantinya akan menjadikan keberagaman yang dinamis, kekayaan budaya yang menjadi jati diri bangsa yang patut untuk dilestarikan.

Dalam pendidikan multikultural, setiap peradapan dan kebudayaan yang ada berada dalam posisi yang sejajar dan sama, tidak ada kebudayaan yang lebih tinggi atau dianggap lebih tinggi (superior) dari kebudayaan yang lain, dialog meniscayakan adanya persamaan dan kesamaan diantara pihak-pihak yang terlibat, anggapan bahwa kebudayaan tertentu lebih tinggi dari kebudayaan yang lain akan melahirkan fasisme, nativisme dan chauvinism, dengan dialog, diharapkan terjadi sumbang pemikiran yang pada gilirannya akan memperkaya kebudayaan atau peradaban yang bersangkutan sehingga nantinya terwujud masyarakat yang makmur, adil, sejahtera yang saling menghargai perbedaan.

Pengertian Masyarakat Multikultural Masyarakat multikultural adalah suatu masyarakat yang terdiri dari beberapa macam kumunitas budaya dengan segala kelebihannya, dengan sedikit perbedaan konsepsi mengenai dunia, suatu sistem arti, nilai, bentuk organisasi sosial, sejarah, adat serta kebiasaan. Dalam suatu masyarakat pasti akan menemukan banyak kelompok masyarakat yang memiliki karakteristik berbeda-beda.

Perbedaan-perbedaan karakteristik itu berkenaan dengan tingkat diferensiasi dan stratifikasi sosial. Masyarakat seperti ini disebut sebagai masyarakat multikultural. Masyarakat Multikultural disusun atas tiga kata, yaitu Masyarakat, Multi, dan Kultural. “ Masyarakat” artinya adalah sebagai satu kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut sistem adat istiadat tertentu yang bersifat terus menerus dan terikat oleh rasa toleransi bersama, “ Multi” berarti banyak atau beranekaragam, dan “ Kultural” berarti Budaya.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa masyarakat multikultural adalah suatu masyarakat yang terdiri atas banyak struktur kebudayaan. Hal tersebut disebabkan karena banyaknya suku bangsa yang memilik struktur budaya sendiri yang berbeda dengan budaya suku bangsa yang lainnya. Multikultural juga dapat diartikan sebagai keragaman atau perbedaan terhadap suatu kebudayaan dengan kebudayaan yang lain. Sehingga masyarakat multikultural dapat diartikan sebagai sekelompok manusia yang tinggal dan hidup menetap di suatu tempat yang memiliki kebudayaan dan ciri khas tersendiri yang mampu membedakan antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain.

Setiap masyarakat akan menghasilkan kebudayaannya masing-masing yang akan menjadi ciri khas bagi masyarakat tersebut. Pengertian Masyarakat Multikultural Menurut Para Ahli Nah berikut ini ialah pengertian masyarakat multikultural menurut para ahli yaitu: • Menurut J.

S. Furnivall Masyarakat multikultural ialah masyarakat yang terdiri atas dua elemen atau lebih yang hidup sendiri-sendiri, tanpa melakukan kontak satu sama lain dalam kehidupan politik. • Menurut Clifford Geertz Masyarakat multikultural ialah masyarakat yang terbagi menjadi beberapa subsistem, dimana masing-masing subsistem tersebut terikat oleh ikatan primordial. • Menurut Parekh Masyarakat multikultural ialah masyarakat yang memiliki berbagai jenis komunitas budaya dengan segala manfaat dan sedikit perbedaan yang ada, sejarah, adat-istiadat dan kebiasaan yang ada.

Baca Juga: “Keragaman” Pengertian & ( Macam – Unsur ) Ciri-Ciri Masyarakat Multikultural • Terjadi segmentasi ke dalam kelompok sub budaya yang saling berbeda (Primordial). Masyarakat multikultural yang tersegmentasi dalam kelompok subbudaya saling berbeda adalah masyarakat yang terbagi-bagi dalam kelompok-kelompok kecil berdasarkan ras, suku, agama masing-masing dan dalam pergaulan terpisahkan karena individu lebih memilih berinteraksi dengan orang satu suku, ras, atau agamanya saja.

Dalam pengertian lain, masyarakat multikultural terlihat hidup bersama meski berbeda ras, agama, dan etnis (tersegmentasi), akan tetapi dalam kesehariannya mereka lebih sering memilih bersahabat atau bergaul dengan orang-orang berasal dari daerah mereka saja karena dianggap lebih mudah berkomunikasi, memiliki ikatan batin yang sama, dan memiliki banyak kesamaan.

• Mempunyai struktur yang terbagi ke dalam lembaga non komplementer. Dalam masyarakat multikultural tidak hanya mempunyai lembaga formal yang harus ditaati, tetapi mereka juga mempunyai lembaga informal (nonkomplementer) yang harus ditaati.

Dengan kata lain, mereka lebih taat dan hormat pada lembaga nonkomplementer tersebut karena dipimpin oleh tokoh adat yang secara emosional lebih dekat. • Kurang mengembangkan konsensus di contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah anggota terhadap nilai yang bersifat dasar. Masyarakat multikultural dengan berbagairagam ras, etnik, dan agama menyebabkan perbedaan persepsi, pengalaman, kebiasaan, dan pengetahuan akan menyebabkan sulitnya mendapatkan kesepakatan terhadap nilai maupun norma yang menjadi dasar pijakan mereka.

Singkatnya, masyarakat ini sulit menyatukan pendapat karena perbedaan-perbedaan yang mereka pegang. • Secara relatif integrasi sosial tumbuh di atas paksaan dan saling tergantung secara ekonomi. Dengan berbagai perbedaan, masyarakat multikultural susah mendapatkan kesepakatan dalam berbagai hal. Dengan itulah, untuk menyatukannya harus ada pemaksaan demi tercapainya integrasi sosial.

Selain itu, masyarakat ini saling tergantung secara ekonimi diakibatkan oleh kedekatannya hanya dengan kelompok-kelompok mereka saja. • Adanya dominasi politik suatu kelompok atas kelompok lain Masyarakat multikultural mempunyai kelompok-kelompok berbeda-beda secara ekonomi dan politik. Tak bisa dipungkiri akan terdapat kelompok yang mendominasi politik dan dengan sendirinya kelompok tersebut biasanya memaksakan kebijakan politiknya demi keuntungan kelompoknya sendiri.

Baca Juga: Pengertian Budaya Lengkap Dengan Wujud Dan Komponennya Karakteristik Masyarakat Multikultural • Indonesia adalah negara yangmempunyai sumber daya alam yang melimpah terutama dalam hal rempah-rempah.

Sehingga banyak negara-negara asing ingin menjajah seperti Portugis, Belanda, Inggris, dan Jepang. Dengan demikian mereka tinggal dalam jangka waktu yang lama bahkan ada yang menikah dengan bangsa Indonesia. Kondisi inilah yang menambah kekayaan budaya dan ras yang di Indonesia. • Globalisasi adalah suatu proses penting dalam penyebaran budaya dalam masyarakat dunia terutama Indonesia dengan sitem demokrasinya menjadi negara ini merupakan negara yang terbuka. Dengan keterbukaan tersebut, masyarakat mudah menerima budaya yang datang dari luar meski sering terjadi benturan budaya asing dengan budaya lokal.

Masuknya budaya asing inilah salah satu faktor memperkaya budaya dan membuat masyarakat menjadi masyarakat multikultural. • Selain itu negara kaya rempah-rempah, Indonesia juga mempunyai letak geografis yang strategis yaitu diantara dua benua dan dua samudra sehingga Indonesia dijadikan sebagai jalur perdagangan internasional.

Karena sebagai jalur perdagangan, banyak negara-negara asing datang ke Indonesia dengan tujuan berdagang seperti Cina, India, Arab, dan negara-negara Eropa. Kondisi inilah memambah budaya yang masuk ke Indonesia dan terciptanya masyarakat multikultural. • Kalau dilihat dari struktur geologi Indonesia terletak diantara tigal lempeng yang berbeda yaitu Asia, Australia, dan Pasifik.

Kondisi ini menjadikan Indonesia menjadi negara berpulau-pulau dan mempunyai beberapa tipe geologi seperti: tipe Asiatis, tipe peralihan, dan tipe Australis. Dengan berpulau-pulau maka kehidupan masyarakat setiap pulau berbeda-beda sesuai dengan kondisi pulauanya. Masyarakat yang berada di pulau kecil akan mengalami kesulitan sumber daya alam, dan pulau besar memiliki sumber daya alam yang banyak.

Hal ini lah membuat budaya setiap pulau berbeda pula. • Selain mempunyai berbagai pulau di Indonesia yang mempengaruhi kebudayaan masyarakat, iklim juga sangat mempengaruhi kebudayaan di Indonesia seperti: orang yang berada di daerah pegunungan dengan iklim sejuk membentuk kebudayaan masyarakat yang ramah. Sedangkan orang yang berada di tepi pantai yang mempunyai iklim panas membentuk kontrol emosi seseorang lebih cepat marah. Sifat Masyarakat Multikultural Menurut Pierre L.

Van den Berghe, masyarakat multikultural memiliki beberapa sifat sebagai berikut: • Adanya segmentasi dalam bentuk kelompok sub kebudayaan yang berbeda satu sama lain.

• Mempunyai struktur sosial yang terbagi dalam lembaga yang sifatnya non-komplementer. • Kurang mengembangkan konsensus di antara anggota contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah nilai yang bersifat dasar.

• Adanya integrasi sosial yang tumbuh karena adanya paksaan dan adanya saling ketergantungan dalam bidang ekonomi. • Adanya dominasi politik yang dilakukan oleh suatu kelompok kepada kelompok lainnya.

Baca Juga: Sikap Dan Toleransi Antar Umat Beragama Di Indonesia Faktor Yang Mempengaruhi Terbentuknya Masyarakat Multikultural Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya masyarakat multikultural ialah sebagai berikut: • Faktor Sejarah Negara kita memiliki sumber daya alam yang begitu melimpah.

Tak heran bila banyak bangsa asing yang berdatangan karena ingin menguasai sumber daya alam Indonesia, seperti Belanda, Inggris, Portugis dan juga Jepang. Bangsa asing ini menjajah dan menetap di Indonesia dalam kurun waktu yang cukup lama, bahkan tak sedikit yang akhirnya menikah di Indonesia.

Kondisi ini menimnbulkan kekayaan budaya dan rasa di Indonesia sehingga terbentuklah masyarakat multikultural. • Faktor Pengaruh Kebudayaan Asing Globalisasi ialah proses penting dalam penyebaran budaya di dunia, tak terkecuali di Indonesia.

Karena keterbukaannya masyarakat Indonesia lebih mudah untuk menerima budaya contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah walaupun harus terjadi gesekan atau benturan dengan budaya lokal.

• Faktor Geografis Indonesia diapit oleh dua benua dan dua samudra, kondisi geografis ini menjadikan Indonesia sebagai jalur perdagangan Internasional. Karena itulah banyak negara asing yang datang ke Indonesia untuk berdagang, seperti Arab, Cina, India dan lain sebagainya.

Kondisi ini akan menambah budaya asing yang masuk ke Indonesia sehingga terbentuklah masyarakat multikultural. • Faktor Fisik Dan Geologi Jika dilihat dari struktur geologi, Indonesia terletak di antara tiga lempeng yaitu lempeng Asia, Australia dan Pasifik. Karena itulah Indonesia sebagai negara kepulauan mempunyai tiga tipe geologi yakni tipe Asiatis, Australia dan Peralihan. Kehidupan masyarakat yang tinggal disuatu pulau saja berbeda dengan kehidupan masyarakat di pulau lain.

Biasanya masyarakat yang tinggal dipulau yang kecil akan sulit untuk memperoleh sumber daya. Berbeda dengan masyarakat yang tinggal di pulau besar. Hal ini membuat kebudayaan setiap pulau berbeda-beda. • Faktor Agama Selama ini agama turut membentuk interaksi antara manusia dalam suatu tetanan kehidupan. Agama juga menjadi simbol dan sejarah yang memperkuat manusia dalam aturan sesuai ajaran kitab suci. Indonesia sendiri memiliki masyarakat yang berbeda-beda agama dan kepercayaannya sehingga terbentuklah masyarakat multikultural.

Baca Juga: Pengertian, Fungsi Dan 5 Asas Sistem Sosial Budaya Indonesia • Faktor Iklim Kondisi geografis, iklim ataupun cuaca yang berbeda-beda bisa berpengaruh terhadap pola perilaku masyarakat dalam menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan kondisi yang ada.

• Faktor Keanekaragaman Ras Ras merupakan sistem klasifikasi untuk mengelompokkan manusia berdasarkan fisik, asal usul geografis dan lain sebagainya. Perbedaan ras juga menjadi contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah satu faktor timbulnya masyarakat multikultural.

Jenis-Jenis Masyarakat Multikultural Berdasarkan kecenderungan perkembangan dan praktik multikulturalisme, masyarakat multikultural dibedakan menjadi beberapa jenis: • Multikulturalisme Isolasionis Multikulturalisme isolasionis ialah kelompok masyarakat multikultural yang menjalani kehidupan secara otonom dengan interaksi antar kelompok seminimal mungkin.

• Multikulturalisme Akomodatif Multikulturalisme akomodatif merupakan jenis masyarakat yang mempunyai kultur dominan yang membuat penyesuaian tertentu untuk kaum minoritas. Masyarakat ini memberi kebebasan kepada kaum minoritas untuk mempertahankan apa yang menjadi kebudayaan mereka. • Multikultural Otonomis Multikultural otonomis merupakan masyarakat multikultural yang hidup bersama dan berupaya menciptakan kesetaraan budaya mereka.

• Multikultural Kritikal Atau Interaktif Multikultural kritikal atau interaktif merupakan jenis masyarakat yang tidak fokus terhadap kehidupan kultural otonom, tapi lebih kepada menciptakan kultur bersama yang mencerminkan dan menegaskan perspektif masing-masing kelompok masyarakat. • Multikulturalisme Kosmopolitan Multikulturalisme kosmopolitan merupakan jenis masyarakat yang berusaha menghilangkan batas kultural dalam kehidupan mereka sehingga terciptalah masyarakat yang tak terikat pada budaya tertentu.

Baca Juga: Konformitas Adalah Masalah Timbul Dalam Masyarakat Multikultural Sebagaimana telah dijelaskan di depan bahwa keragaman suku bangsa yang dimiliki Indonesia adalah letak kekuatan bangsa Indonesia itu sendiri. Selain itu, keadaan ini menjadikan Indonesia memiliki nilai tambah di mata dunia.

Namun, di sisi lain realitas keanekaragaman Indonesia berpotensi besar menimbulkan konflik sosial berbau sara (suku, agama, ras, dan adat). Oleh karena itu, kemampuan untuk mengelola keragaman suku bangsa diperlukan guna mencegah terjadinya perpecahan yang mengganggu kesatuan bangsa.

Konflik-konflik yang terjadi di Indonesia umumnya muncul sebagai akibat keanekaragaman etnis, agama, ras, dan adat, seperti konflik antaretnis yang terjadi di Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Papua, dan lain-lain.

Di Kalimantan Barat adanya kesenjangan perlakuan aparat birokrasi dan hukum terhadap suku asli Dayak dan suku Madura menimbulkan kekecewaan yang mendalam. Akhirnya, perasaan ini meledak dalam bentuk konflik horizontal. Masyarakat Dayak yang termarginalisasi semakin terpinggirkan oleh kebijakan-kebijakan yang diskriminatif. Sementara penegakan hukum terhadap salah satu kelompok tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Sedangkan di Poso, Sulawesi Tengah konflik bernuansa sara mula-mula terjadi pada tanggal 24 Desember 1998 yang dipicu oleh seorang pemuda Kristen yang mabuk melukai seorang pemuda Islam di dalam Masjid Sayo.

Kemudian pada pertengahan April 2000, terjadi lagi konflik yang dipicu oleh perkelahian antara pemuda Kristen yang mabuk dengan pemuda Islam di terminal bus Kota Poso. Perkelahian ini menyebabkanterbakarnya permukiman orang Pamona di Kelurahan Lambogia. Selanjutnya, permukiman Kristen melakukan tindakan balasan. Dari dua kasus tersebut terlihat betapa perbedaan mampu memicu munculnya konflik sosial.

Perbedaan-perbedaan yang disikapi dengan antisipasi justru akan menimbulkan kesengsaraan dan penderitaan banyak orang. Oleh karena itu, bagaimana kita bersikap dalam keanekaragaman benar-benar perlu diperhatikan. Wujud Atau Bentuk Masyarakat Multikultural Masyarakat multkultural merupakan masyarakat yang memiliki beragam kebudayaan tanpa membedakan suku, ras, agama, dan sebagainya.

Multikulturalisme menjadi sebuah ideologi yang mengakui dan mengangungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan. Masyarakat majemuk ( plural society) belum tentu dapat dinyatakan sebagai masyarakat multikultural ( multicultural society), karena bisa saja di dalamnya terdapat hubungan antarkekuatan masyarakat varian budaya yang tidak simetris yang selalu hadir dalam bentuk dominasi, hegemoni dan kontestasi.

Dari masyarakat bali ini kita akan mendapatkan cermin dan pembelajaran dari sebuah masyarakat multikultural, dimana masyarakat disana sangat toleran terhadap agama yang lainnya.

Bali sangat terkenal sebagai satu-satunya wilayah di Indonesia dengan pemeluk Hindu terbesar. Ini merupakan berkah Tuhan yang memperkaya keragaman di Bumi Nusantara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Promosi Bali sebagai daerah tujuan wisata sering kali membuat kita lupa akan satu hal yang penting, bahwa Pulau Dewata ini sebenarnya juga merupakan cermin bagi toleransi dan kerukunan hidup beragama.

Baca Juga: Pengertian Status Beserta Peran Dan Kelas Sosial Menurut Para Ahli Toleransi kehidupan beragama di Contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah telah berlangsung berabad-abad dan memiliki fondasi kultural yang sangat kuat, sehingga tidak mudah terkoyak.

Sejauh ini kita tidak pernah mendengar ada masalah dalam hubungan antaragama di Bali. Umat Hindu dan Islam di Bali hidup berdampingan dengan damai, saling tolong, dan saling menghargai. Mereka berbaur dengan masyarakat dan budaya setempat.

Karena itu, lembagalembaga adat yang tumbuh dan hidup di kalangan masyarakat Hindu di Bali juga tumbuh dan hidup di kalangan masyarakat Islam di Bali, semisal tradisi subak atau penggunaan nama-nama sesuai dengan urutan kelahiran seperti Wayan, Made, Ketut, dan seterusnya.

Ujian berat bagi hubungan antaragama di Bali pernah muncul ketika terjadi peledakan bom pada 2002 (dan kemudian ledakan bom pada 2005). Saat itu Bali luluh lantak oleh serangan yang dilakukan orang-orang yang mengklaim sedang berjihad atas nama Islam. Lebih dari satu tahun setelah serangan bom Bali pertama (2002), suasana Bali benar-benar sunyi dan mencekam. Orang bali tentu marah dengan kajadian tersebut. Namun, kemarahan mereka tidak membabi buta.

Mereka tahu membedakan antara Islam dan terorisme. Orang Bali mengerti benar bahwa Islam adalah agama yang menganjurkan perdamaian. Umat Hindu Bali adalah orang-orang yang terbuka terhadap agama Islam. Meskipun Islam agama minoritas, mereka sangat menghargainya. Orang Hindu Bali sangat concerned dengan posisi, kelas, dan pembagian tugas. Politik dan agama masing-masing ada tempatnya sendiri-sendiri.

Politik sejajar dengan pasar, rumah sakit, restoran, bandara, sekolah, gelanggang olahraga; sementara agama mempunyai posisi ”di atas” yang berisi kitab suci, pura, dan para ulama (sulinggih). Penempatan (positioning) inilah yang menjadikan agama begitu terhormat dan tidak mudah diseret-seret ke politik. Sebaliknya, provokasi berbau politik tidak mudah memasuki wilayah agama. Di tengah-tengah kehidupan masyarakat Hindu, terdapat sebuah desa yang bernama Pegayaman.

Penduduk desa ini hampir semuanya muslim. Kehidupan sehari-hari desa ini menunjukkan warna Islam yang kuat. Desa Pegayaman oleh sebagian masyarakat Bali disebut sebagai Nyama Selam yang artinya ‘masyarakat Islam.

contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah

Di Desa Pegayaman inilah orang-orang Jawa dan Bugis mengem-bangkan ajaran Islam dan berhasil mendirikan Masjid Safinatus Salam yang diprakarsai Kumpi Haji Yahya. Safinatus Salam merupakan masjid tertua dan terbesar di Buleleng, Bali. Masjid Safinatus Salam oleh masyarakat Pegayaman dan sekitarnya dijadikan pusat pengembangan Islam di daerah Bali. Di desa ini telah dibentuk jamaah-jamaah pengajian yang bersifat rutin. Semua kegiatan, baik itu pengajian maupun hal-hal yang menyangkut ajaran Islam, pelaksanaannya dipusatkan di Masjid Safinatus Salam.

Dalam hubungan kemasyarakatan, tidak pernah ada konflik yang disebabkan perbedaan agama. Membangun rumah dan sarana umum, mereka tetap bergotong-royong walaupun berbeda agama.

Bahkan, ketika Masjid Safinatus Salam direnovasi pada 11 Maret 1986, tukang atau buruh contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah memperbaiki Masjid Safinatus Salam juga banyak dari orang-orang yang beragama Hindu. Selain itu wujud nyata multikulturalisme di Bali juga tercermin dari sikap masyarakat bali yang masyoritas hindu tetap memperbolehkan warga bali muslim untuk melaksanakan ibadah sholat jum’at di hari raya nyepi.

Baca Juga: Angka Harapan Hidup adalah Sikap toleran masyarakat bali memang dapat kita jadikan sebagai contoh. Jika sebuah kelompok mayoritas dapat menempatkan kelompok minoritas untuk mendapatkan indentitas dan pengakuan maka dengan hal itu akan terbentuk kesederajatan dalam kehidupan yang harmonis. Meskipun masyarakat bali kental dengan tradisi dan kebudayaan nenek moyang mereka, hal itu tindak menjadikan masyarakat disana menjadi primodial dan apatis terhadap agama maupun budaya yang lainnya.

Seiring perkembangan jaman dan meningkatnya pendidikan dibali juga menumbuhkan kesedaran dan semangat persatuan masyarakat untuk saling menghargai dan toleran terhadap kelompok minoritas. Itulah salah satu wujud masyarakat multikultural di indonesia yaitu masyarakat bali yang sangat menghargai kaum minoritas agama islam disana, mereka tahu benar bagaimana seharusnya mereka bersikap terhadap kelompok minoritas agar selalu terjalin persatuan dan kehidupan yang harmonis.

Manfaat Masyarakat Multikultural Pengaruh yang paling dominan dalam terbentuknya masyarakat multikultural adalah sikap mental masyarakat itu sendiri. Sikap masyarakat yang cenderung primordial dan tidak adil akan menjadi faktor penghambat terciptanya masyarakat multikultural tersebut. Kondisi itu dapat diminimalisasi atau bahkan dapat dihilangkan apabila manfaat dari terciptanya masyarakat multikultural disadari oleh semua pihak. Manfaat yang dapat dipetik dari masyarakat multikultural adalah sebagai berikut: • Melalui hubungan yang harmonis antarmasyarakat, dapat digali kearifan budaya yang dimiliki oleh setiap budaya.

• Munculnya rasa penghargaan terhadap budaya lain sehingga muncul sikap toleransi yang merupakan syarat utama dari masyarakat multikultural. • Merupakan benteng pertahanan terhadap ancaman yang timbul dari budaya kapital yang cenderung melumpuhkan budaya yang beragam.

Paham kapitalisme cenderung diskriminatif dan cenderung mengabaikan eksistensi budaya setempat. • Multikulturalisme merupakan alat untuk membina dunia yang aman dan sejahtera. Dengan multikulturalisme, bangsa-bangsa duduk bersama, saling menghargai, dan saling membantu untuk menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi.

Masalah yang dihadapi oleh suatu masyarakat secara langsung atau tidak langsung akan berpengaruh pada masyarakat lain pula. • Multikulturalisme mengajarkan suatu pandangan bahwa kebenaran itu tidak dimonopoli oleh satu orang atau kelompok saja, tetapi kebenaran itu ada di mana-mana, tergantung dari sudut pandang setiap orang. Masyarakat multikultural mengganggap bahwa dengan saling mengenal dan saling menghargai budaya orang lain, dapat tercipta kehidupan yang penuh toleransi untuk terciptanya masyarakat yang aman dan sejahtera.

Baca Juga: Sifat Dan Bentuk Kontak Sosial Dalam Sosiologi Demikianlah pembahasan mengenai Masyarakat Multikultural – Pengertian, Ciri, Manfaat Dan Contoh semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan kalian semua, terima kasih banyak atas kunjungannya.

🙂 🙂 🙂 Sebarkan ini: • • • • • Posting pada IPS, Sosiologi Ditag alat pencegahan konflik, apa kata alkitab mengenai multikulturalisme, apa yang kamu ketahui mengenai konsep ras, artikel masyarakat multikultural di indonesia, bentuk bentuk masyarakat multikultural, bentuk bentuk multikulturalisme, bentuk masyarakat multikultural, berikut adalah ciri-ciri masyarakat multikultural kecuali, buku multikultural pdf, buku multikulturalisme pdf, cara mensyukuri multikulturalisme, ciri ciri masyarakat multikultural, ciri ciri masyarakat multikultural menurut para ahli, ciri masyarakat multikultural, ciri masyarakat multikulturalisme isolasi, ciri-ciri masyarakat multikultural dan penjelasannya, ciri-ciri masyarakat primordialisme, contoh masyarakat multikultural, contoh masyarakat multikultural di indonesia, contoh multikulturalisme brainly, dasar pendidikan multikultural, definisi multikulturalisme menurut para ahli, eliminasi dalam sosiologi, faktor masyarakat multikultural, fenomena multikultural di indonesia, hambatan terwujudnya masyarakat multikultural, isu multikulturalisme di indonesia, jelaskan mengenai kesetaraan sosial, jelaskan perbedaan konsep masyarakat multikultural dengan masyarakat majemuk, jelaskan yang dimaksud dengan primordialisme, jurnal multikulturalisme di indonesia pdf, karakteristik masyarakat multikultural, kasus kasus multikultural di dunia, kasus multikultural di indonesia, kondisi masyarakat multikultural di indonesia pada saat ini, konsekuensi masyarakat multikultural, konsep multikulturalisme, macam macam masyarakat multikultural, makalah masyarakat multikultural, makalah masyarakat multikultural di indonesia, makalah multikulturalisme, makalah multikulturalisme pdf, manfaat masyarakat multikultural, masyarakat indonesia dapat dikatakan sebagai masyarakat yang multikulturalisme, masyarakat majemuk, masyarakat multikultural adalah, masyarakat multikultural adalah brainly, masyarakat multikultural di indonesia, multikultural adalah brainly, multikultural dalam bidang ekonomi, multikulturalisme dalam islam, multikulturalisme di indonesia pdf, pendidikan multikultural, pengertian kesatuan campuran, pengertian masyarakat multikultural, pengertian masyarakat multikultural dan ciri cirinya, pengertian masyarakat multikultural menurut para ahli, pengertian multikultural, peran agama dalam masyarakat multikultural, perbedaan kultural dan multikultural, peristiwa multikulturalisme di indonesia, pola perilaku masyarakat multikultural, potensi pendidikan masyarakat multikultural, relevansi multikulturalisme untuk nkri, sebutkan ciri-ciri masyarakat multikultural, sebutkan sifat atau karakteristik dari masyarakat multikultural, suku bangsa masyarakat multikultural di indonesia, tipe tipe masyarakat multikultural, tuliskan karakteristik konflik, tuliskan lima contoh unsur-unsur kebudayaan, unsur pokok multikulturalisme Navigasi pos • Contoh Teks Editorial • Contoh Teks Laporan Hasil Observasi • Teks Negosiasi • Teks Deskripsi • Contoh Kata Pengantar • Kinemaster Pro • WhatsApp GB • Contoh Diksi • Contoh Teks Eksplanasi • Contoh Teks Berita • Contoh Teks Negosiasi • Contoh Teks Ulasan • Contoh Teks Eksposisi • Alight Motion Pro • Contoh Alat Musik Ritmis • Contoh Alat Musik Melodis • Contoh Teks Cerita Ulang • Contoh Teks Prosedur Sederhana, Kompleks dan Protokol • Contoh Karangan Eksposisi • Contoh Pamflet • Pameran Seni Rupa • Contoh Seni Rupa Murni • Contoh Paragraf Campuran • Contoh Seni Rupa Terapan • Contoh Karangan Deskripsi • Contoh Paragraf Persuasi • Contoh Paragraf Eksposisi • Contoh Paragraf Narasi • Contoh Karangan Narasi • Teks Prosedur • Contoh Karangan Persuasi • Contoh Karangan Argumentasi • Proposal • Contoh Cerpen contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah Pantun Nasehat • Cerita Fantasi • Memphisthemusical.ComMENU • Home • SMP • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • IPS • IPA • SMA • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • IPA • Biologi • Fisika • Kimia • IPS • Ekonomi • Sejarah • Geografi • Sosiologi • SMK • S1 • PSIT • PPB • PTI • E-Bisnis • UKPL • Basis Data • Manajemen • Riset Operasi • Sistem Operasi • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • Agama • Bahasa Indonesia • Matematika • S2 • Umum • (About Me) Integrasi berasal dari “integrasi” dari Inggris, yang berarti kesempurnaan atau keseluruhan.

Integrasi sosial didefinisikan sebagai proses penyesuaian di antara unsur-unsur yang berbeda satu sama lain dalam kehidupan masyarakat sehingga menghasilkan pola masyarakat yang memiliki fungsi kompatibilitas. Definisi lain dari integrasi adalah suatu kondisi di mana kelompok-kelompok etnis untuk beradaptasi dan menjadi komformitas terhadap kebudayaan mayoritas, namun tetap mempertahankan budaya mereka sendiri. Integrasi memiliki rasa kedua, yaitu: • Kontrol atas konflik dan penyimpangan sosial dalam suatu sistem sosial tertentu.

• Menciptakan keseluruhan dan menyatukan unsur-unsur tertentu. Sedangkan yang disebut integrasi sosial adalah ketika dikontrol, dikombinasikan, atau terhubung satu sama lain itu adalah unsur-unsur sosial atau kemasyarakatan. Integrasi sosial mensyaratkan bahwa orang tidak bubar meski menghadapi banyak tantangan, baik tantangan merupa fisik dan konflik sosial-budaya. • Masyarakat selalu terintegrasi dalam konsensus (kesepakatan) di antara sebagian besar anggota masyarakat tentang nilai-nilai sosial fundamental (dasar) • Masyarakat terpadu untuk anggota masyarakat serta anggota berbagai kesatuan sosial (cross-cutting affiliation).

Konflik antara kesatuan sosial dengan kesatuan sosial lainnya akan dinetralisir oleh adanya loyalitas ganda (cross-cutting loyalities) dari anggota masyarakat terhadap berbagai kesatuan sosial. Penganut konflik ditemukan di paksaan publik terintegtrasi dan karena saling ketergantungan antara berbagai kelompok. 1.12. Sebarkan ini: • Menurut Soerjono Soekanto : Intergrasisosial merupakan Sebuah proses sosial individu atau kelompok yang berusaha memenuhi gol melawan lawan yang disertai dengan ancaman dan / atau kekerasan.

• Menurut Gillin : Integrasi Sosial adalah Bagian dari proses sosial yang terjadi karena perbedaan fisik, emosional, budaya dan perilaku. • Menurut Banton (dalam Sunarto, 2000 : 154) :mendefinisikan integrasi sebagai suatu pola hubungan yang mengakui adanya perbedaan ras dalam masyarakat, tetapi tidak memberikan makna penting pada perbedaan ras tersebut. • Dalam KBBI di sebutkan bahwa integrasi adalah pembauan sesuatu yang tertentu hingga menjadi kesatuan yang utuh dan bulat.

Istilah pembauran tersebut mengandung arti masuk ke dalam, menyesuikan, menyatu, atau melebur sehingga menjadi satu. Pengertian Integrasi Sosial • Menurut William F. Ogburn da Mayer Nimkoff, syarat berhasilnya suatu integrasi sosial adalah: • Anggota-anggota masyarakat merasa bahwa mereka berhasil saling mengisi kebutuhan-kebutuhan satu dengan yang lainnya. Hal ini berarti kebutuhan fisik berupa sandang dan pangan serta kebutuhan sosialnya dapat di penuhi oleh budayanya.

Terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan ini menyebabkan masyarakat perlu saling menjaga keterikatan antara satu dengan lainnya. • Masyarakat berhasil menciptakan kesepakatan (consensus) bersama mengenai norma-norma dan nilai-nilai social yang di lestarikan dan di jadikan pedoman dalam berinteraksi satu dengan yang lainnya, termasuk menyepakati hal-hal yang di larag menurut kebudayaannya. • Norma-norma dan nilai social itu berlaku cukup lama dan di jalankan secara konsisten serta tidak mengalami perubahan sehingga dapat menjadi aturan baku dalam melangsungkan proses interaksi sosial.

Bentuk Proses Integrasi Sosial Bentuk integrasi social dalam masyarakat dapat dibagi menjadi dua bentuk yakni: • Asimilasi, yaitu pembaruan kebudayaan yang disertai dengan hilangnya cirrikhas kebudayaan asli. Dalam masyarakat bentuk integrasi social ini terlihat Dari pembentukan tatanan social yang baru yang menggantikan budaya asli. Biasanya bentuk integrasi ini diterapkan pada kehidupan social yang primitive dan rasis.

Maka dari itu budaya asli yang bertentangan dengan norma yang mengancam disintegrasi masyarakat akan digantikan dengan tatanan social barau yang dapat menyatukan beragam latar belakang social. • Akulturasi, yaitu penerimaan sebagian unsure- unsure asing tanpa menghilangkan kebudayaan asli. Akulturasi menjadi alternative tersendiri dalam menyikapi interaksi social, hal ini didasarkan pada nilai- nilai social masyarakat yang beberapa dapat dipertahankan.

Sehingga nilai- nilai baru yang ditanamkan pada masyarakat tersebut akan menciptakan keharmonisan untuk mencapai integrasi soaial. Macam-macam Integrasi sosial : • a) Integrasi keluarga Didalam kehidupan keluarga terdapat anggota-anggota keluarga yang antara anggota satu dan lainya memiliki peranan dan fungsi.

Integrasi keluarga akan tercapai jika antar-anggota keluarga satu dan lainya menjalankan kedudukan, peranatau fungsinya sebagaimana mestinya.

Apabila antar-anggota keluarga sudah tidak lagi memerankan peranannya sesuai dengan kedudukannya, maka keluarga tersebut sudah dianggap tidak terintegrasi lagi. • b) Integrasi kekerabatan Yang dimaksud dengan kekerabatan adalah hubungan sosial yang diikat oleh pertalian darah dan hubungan perkawinan sehingga menghasilkan nilai-nilai, norma-norma, kedudukan serta peranan sosial yang diakui dan ditaati bersama oleh seluruh anggota kekerabatan yang ada.

Integarsi antar-anggota kekerabtan akan terjadi jika masing-masing anggota kerabat yang ada mematuhi norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku didalam sistem kekerabatan tersebut. • c) Integrasi asosiasi (perkumpulan) Asosiasi adalah satuan sosial yang ditandai oleh adanya kesamaan kepentingan, atau dengan lain perkata dapat dikatakan bahwa asosiasi merupakan perkumpulan yang didirikan oleh orang-orang yang memiliki kesamaan minat, tujuan, kepentingan, dan kegemaran.

• d) Integrasi masyarakat J.P gillin dan J.L gillin dalam bukunya Cultural Sosiology mendefinisikan masyarakat sebagai “the largest grouping in which common customs, traditions, attitudes, dan felling of unity are operative”. Berangkat dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa masyarakat adalah : (1) sekelompok manusia yang menempati wilayah tertentu, (2) bertempat tinggal dalam waktu yang relatif lama, (3) terdapat tata aturan hidup seperti adat, kebiasaan, sikap, dan perasaan kesatuan, (4) rasa identitas di antara para warganya.

integrasi masyarakat akan tercapai jika kehidupan masyarakat tersebut telah terpenuhi semua unsur-unsur yang tadi begitupun sebaliknya jika salah satu unsur tidak terpenuhi maka keadaan masyarakat tersebut tidak terintegrasi lagi. • e) Integrasi suku bangsa Suku bangsa adalah golongan sosial yang dibedakan dari golongan sosial lainya karena memiliki ciri-ciri yang mendasar dan umum berkaitan dengan asl-usul dan tempat asal kebudayaan.

Dalam beberapa kepustakaan sosiologi ditekankan bahwa suku bangsa merupakan kesatuan penduduk yang memiliki ciri-ciri : (1) secara tertutup berkembang biak dalam kelompoknya, (2) memiliki nila-nilai dasar yang termanifestasikan dalam kebudayaan, (3) mewujudkan arena komunikasi dan interaksi, dan (4) setiap anggota mengenali dirinya serta dikenal oleh lainya sebagai satu bagian dari kategori yang dapat dibedakan dengan kategori lainnya.

• f) Integrasi bangsa Yang disebut bangsa adalah kelompok manusia yang heterogen sifatnya tetapi memiliki kehendak yang sama dengan menempati daerah tertentu dan bersifat permanen. Ernest renan lebih menekankan bahwa bangsa terbentuk dari orang orang yang mempunyai latar belakang sejarah, pengalaman sejarah, dan perjuangan serta hasrat untuk bersatu.

Syarat Integrasi Sosial Integrasi social akan terbentuk di masyarakat apabila sebagian besar anggota masyarakat tersebut memiliki kesepakatan tentang batas-batas territorial dari suatu wilayah atau Negara tempat mereka tinggal.

Selain itu, sebagian besar masyarakat tersebut bersepakat mengenai struktur kemasyarakatan yang di bangun, termasuk nilai-nilai, norma-norma, dan lebih tinggi lagi adalah pranata-pranata sosisal yang berlaku dalam masyarakatnya, guna mempertahankan keberadaan masyarakat tersebut. Selain itu, karakteristik yang di bentuk sekaligus manandai batas dan corak masyarakatnya. Menurut William F. Ogburn da Mayer Nimkoff, syarat berhasilnya suatu integrasi sosial adalah: • Anggota-anggota masyarakat merasa bahwa mereka berhasil saling mengisi kebutuhan-kebutuhan satu dengan yang lainnya.

Hal ini berarti kebutuhan fisik berupa sandang dan pangan serta kebutuhan sosialnya dapat di penuhi oleh budayanya. Terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan ini menyebabkan masyarakat perlu saling menjaga keterikatan antara satu dengan lainnya. • Masyarakat berhasil menciptakan kesepakatan (consensus) bersama mengenai norma-norma dan nilai-nilai social yang di lestarikan dan di jadikan pedoman dalam berinteraksi satu dengan yang lainnya, termasuk menyepakati hal-hal yang di larag menurut kebudayaannya.

c. Norma-norma dan nilai social itu berlaku cukup lama dan di jalankan secara konsisten serta tidak mengalami perubahan sehingga dapat menjadi aturan baku dalam melangsungkan proses interaksi social. Contoh Integrasi Sosial Masyarakat Indonesia dalam kehidupan sehari hari, dan di sekolah baik individu, sosial ataupun kelompok : • Tidak mengutamakan ego dan kepentingannya • Bersilahturami • Beribadat • Saling tolong-menolong • Mengikuti upacara bendera dengan hikmat • Melestarikan kebudayaan bangsa dengan mengikuti setiap pementasan • Ikut berperan aktif melaksanakan kegiatan siskamling • Mengembangkan akhlak dan kepribadian masing masing • Bermain dengan teman sebaya.Cth : bermain sepak bola • Mengisi kemerdekaan dengan kegiatan positif • Memberi salam pada orang yang dikenal • Mengikuti setiap kegiatan di dalam maupun di luar sekolah • Sekaten • Akulturasi antara budaya Jawa, Islam dan Hindu • Bergotong royong • Berdiskusi atau kerja kelompok • Kebutuhan harus utama bukan keinginan • Menanamkan nilai – nilai luhur berbangsa dan bernegara • Tidak memaksakan kehendak orang lain • Bersosialisasi • Mengikuti kegiatan/perlombaan di sekolah dan masyarakat • Tidak mengikuti pergaulan yang buruk,seperti narkoba dan diskotek • Menjaga dan memelihara lingkungan sekitar • Tidak KKN (Korupsi,Kolusi,dan Nepotisme) • Menjadi orang yang berguna di masa akan datang,seperti pejabat negara Faktor Penentu Integrasi Sosial Faktor integrasi bangsa Indonesia rasa senasib dan sepenanggungan serta rasa seperjuanagan di masa lalu ketika mengalami penjajahan.

Penjajahan menimbulkan tekanan baik mental ataupun fisik. Tekanan yang berlarut-larut akan melahirkan reaksi dari yang ditekan ( di jajah ).

Sehingga muncul kesadaran ingin memperjuangkan kemerdekaan. Yang bisa menjadi faktor integrasi bangsa adalah semboyan kita yang terkenal yaitu bhineka tunggal ika, dimana kita terpisah-pisah oleh laut tetapi kita mempunyai ideologi yang sama yaitu pancasila.

Dengan kata lain yang dapat menjadi faktor integrasi bangsa Indonesia adalah; (1)Pancasila, (2)Bhineka Tunggal Ika, (3) Rasa cinta tanah air, (4) Perasaan senasib sepenanggungan. Dengan menyadari keadaan bangsa Indonesia yang majemuk itu, setiap warga negara harus waspada agar jangan sampai melakukan hal-hal negatif yang dapat memperlemah persatuan dan kesatuan bangsa.

Adapun faktor- faktor internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi integrasi social dalam masyarakat, antara lain sebagai berikut: A. Faktor Internal : • Kesadaran diri sebagai makhluk sosial • Tuntutan kebutuhan • Jiwa dan semangat gotong royong B. Faktor External : • Tuntutan perkembangan zaman • Persamaan kebudayaan • Terbukanya kesempatan berpartisipasi dalam kehidupan bersama • Persaman visi, misi, dan tujuan • Sikap toleransi • Adanya konsensus nilai • Adanya tantangan dari luar Munurut Prof.

Dr. Ramlan Surbakti,ada 9 faktor yang dapat mempengaruhi kelompok masyarakat terintegrasi dalam komunitas bersama. Faktor faktor ini diantaranya : • Primodial Identitas bersama komunitas dapat terbentuk karena adanya ikatan keaslian kedaerahan, kekerabatan, kesamaan suku, ras, tempat tinggal, bahasa dan istiadat.

• Sakral Yang dimaksud sakral dalam konsep ini adalah ikatan-ikatan religius yang dipercayai sebagai hal yang berkaitan dengan kebenaran mutlak karena dipercayai sebagai wahyu ilahiyah.

Keyakinan masyarakat yang bersifat sakral terwujud dalam agama dan kepercayaan kepada hal-hal yang bersifat supranatural. • Tokoh Integrasi bisa tercipta manakala dalam suatu masyarakat terdapat seorang atau beberapa tokoh pemimpin yang disegani dan dihormati karena kepemimpinannya yang bersifat karismatik. • Bhineka tunggal ika Bhineka tunggal ika dilihat sebagai pemersatu suatu bangsa yang majemuk untuk mencapai integritas suatu bangsa.

Dalam konsep ini biasanya bangsa di dalam suatu negara terdiri atas kelompok-kelompok atas dasar suku, agama, ras, dan antargolongan yang tersegmentasi ke dalam kelompok-kelompok yang antara kelompok satu dan lainnya tidak saling melengkapi akan tetapi justru lebih bersifat kompetitif. • Perkembangan ekonomi Perkembangan ekonomi melahirkan pembagian kerja dan spesialisasi pekerjaan yang mendukung kelangsungan hidup suatu fungsi sistem ekonomi, yaitu menghasilkan barang dan jasa.

• Homogenitas kelompok Kemajemukan sosial selalu mengisi setiap contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah kehidupan sosial hanya tiap-tiap kehidupan sosial akan memiliki intensitas (tingkat tinggi dan rendah) yang berbeda-beda. Integrasi antar kemajemukan sosial ini akan tercapai jika antar elemen pembentuk struktur sosial tersebut berusaha membentuk integritas sosial dengan menekankan kesadaran untuk mengurangi intensitas perbedaan masing-masing elemen sosial tersebut.

• Besar kecilnya kelompok Jika kehidupan sosial relativ kecil, maka akan mudah mencapai integrasi sosial dibandingkan dengan kelompok yang memiliki intensitas perbedaanya lebih besar. • Mobilitas sosiogeografis Mobilitas sosial artinya perpindahan manusia dari tempat yang satu ke tempat yang lain dengan berbagai latar belakang tujuan. Pada umumnya mobilitas sosial di indonesia di dominasi oleh tingginya tingakat urbanisasi, yaitu perpindahan penduduk dari daerah pedesaan ke daerah perkotaan.

• Efektifitas dan efesiensi komunikasi Cepat lambatnya integrasi sosial akan sangat dipegaruhi oleh tingkat efektivitas dan efesiensi komunikasi sosial, sebab komunikasi merupakan salah satu prasyarat terjadinya interaksi, sedangkan interaksi merupakan prasyarat terjadinya integrasi maupun konflik sosial.

Tahapan Integrasi Sosial Sebuah proses sosial dalam masyarakat selalu memiliki tahapan-tahapan tertentu yang harus dilalui. Begitu pula pada integrasi sosial. Tahapan-tahapan yang ada dalam integrasi sosial adalah tahap akomodasi, kerja sama, koordinasi, dan asimilasi.

Untuk lebih jelasnya, mari kita pelajari bersama pada pembahasan berikut ini : 1) Tahap Akomodasi • Akomodasi adalah suatu bentuk proses sosial yang di dalamnya terdapat dua atau lebih individu atau kelompok yang berusaha untuk saling menyesuaikan diri, tidak saling mengganggu dengan cara mencegah, mengurangi, atau menghentikan ketegangan yang akan timbul atau yang sudah ada, sehingga tercapai kestabilan (keseimbangan).

• Akomodasi bertujuan untuk mengurangi pertentangan antara dua kelompok atau individu, mencegah terjadinya suatu pertentangan secara temporer, memungkinkan terjadinya kerja sama di antara individu atau kelompok sosial, serta mengupayakan peleburan antara kelompok sosial yang berbeda (terpisah), misalnya melalui perkawinan campur (amalgamasi).

• Dengan akomodasi, kelompok-kelompok sosial yang ada dalam masyarakat multikultural seperti masyarakat kita ini, dapat hidup berdampingan secara damai tanpa menimbulkan perpecahan. Selain itu juga memungkinkan terjadinya kerjasama di antara kelompokkelompok sosial yang yang ada dalam masyarakat tersebut.

Hal ini karena di antara kelompok-kelompok sosial yang berbeda dalam masyarakat dapat saling menyesuaikan diri satu sama lain. Dengan demikian akan mendorong lahirnya integrasi dalam masyarakat tersebut.

2) Tahap Kerja Sama • Kerja sama merupakan bentuk interaksi sosial yang pokok. Kerja sama dapat menggambarkan sebagian besar bentuk interaksi sosial. Kerja sama dimaksudkan sebagai suatu usaha bersama antarpribadi atau antarkelompok manusia untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama. • Menurut Charles H. Cooley, kerja sama akan timbul apabila orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan yang sama dan pada saat yang bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk mencapai kepentingan kepentingan bersama.

Kerja sama di antara kelompok-kelompok sosial yang berbeda dalam masyarakat multikultural mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam integrasi sosial. Mengapa? Dengan kerja sama berarti kelompokkelompok sosial yang berbeda itu saling menyesuaikan diri, melengkapi, membutuhkan, serta tidak memaksakan kehendak masing-masing yang dapat menimbulkan prasangka-prasangka yang memicu lahirnya konflik dalam masyarakat. 3) Tahap Koordinasi contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah Kerja sama yang dilakukan oleh kelompok-kelompok sosial yang berbeda dalam masyarakat multicultural harus dikoordinasi agar lebih terarah dan bisa mencapai tujuan demi kebaikan bersama.

• Koordinasi adalah pengaturan secara sentral untuk mencapai integrasi dengan mempersatukan individu maupun kelompok agar tercapai keseimbangan dan keselarasan dalam hubungan di masyarakat. Dalam organisasi kemasyarakatan, koordinasi merupakan factor yang paling dominan.

• Tanpa koordinasi, suatu organisasi tidak dapat berjalan dengan baik, mengingat organisasi merupakan suatu kelompok yang terdiri dari orangorang dengan sifat dan kepribadian yang berbeda-beda.

Dengan demikian kelancaran jalannya organisasi ditentukan faktor pendekatan antaranggotanya. Proses koordinasi mencakup berbagai aspek kemasyarakatan, seperti aspek ekonomi, politik, sosial budaya, pendidikan, dan lain sebagainya. 4) Tahap Asimilasi Kelompok-kelompok sosial yang berbeda dalam masyarakat multikultural setelah tahap koordinasi akan tercapai atau tercipta suatu pemahaman bersama, sehingga di antara kelompok-kelompok tersebut dapat saling menyesuaikan diri. Proses ini disebut dengan asimilasi.

Asimilasi adalah sebuah proses yang ditandai oleh adanya usaha-usaha untuk mengurangi perbedaanperbedaan yang terdapat di antara orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia guna mencapai satu kesepakatan berdasarkan kepentingan dan tujuan-tujuan bersama.

Menurut Koentjaraningrat, proses asimilasi akan terjadi apabila berikut ini. • a) Ada kelompok-kelompok yang berbeda kebudayaannya. • b) Saling bergaul secara langsung dan intensif dalam waktu yang cukup lama.

• c) Kebudayaan dari kelompok-kelompok tersebut masing-masing mengalami perubahan dan saling menyesuaikan diri. Dalam asimilasi ini terdapat faktor-faktor yang dapat mendorong maupun menghambat terjadinya asimilasi di antara kelompok-kelompok sosial yang berbeda. Adapun beberapa faktor yang dapat mempermudah atau mendorong terjadinya asimilasi, di antaranya adalah sebagai berikut.

• a) Toleransi, keterbukaan, saling menghargai, dan menerima unsur-unsur kebudayaan. • b) Kesempatan yang seimbang dalam bidang ekonomi yang dapat mengurangi adanya kecemburuan sosial. • c) Sikap menghargai orang asing dengan kebudayaannya. • d) Sikap terbuka dari golongan penguasa.

• e) Adanya perkawinan campur dari kelompok yang berbeda (amalgamation). • f) Adanya musuh dari luar yang harus dihadapi bersama. Sementara itu, beberapa faktor yang dapat menghambat atau memperlambat terjadinya asimilasi adalah sebagai berikut. • a) Perbedaan yang sangat mencolok, seperti perbedaan ras, teknologi, dan perbedaan ekonomi. • b) Kurangnya pengetahuan terhadap kebenaran kebudayaan lain yang sedang dihadapi. • c) Kecurigaan dan kecemburuan sosial terhadap kelompok lain.

• d) Perasaan primordial sehingga merasa kebudayaan sendiri lebih baik dari kebudayaan bangsa atau kelompok lainnya. Melalui asimilasi, kelompok-kelompok sosial yang berbeda dalam masyarakat multikultural saling berinteraksi dan bergaul secara langsung dan intensif dalam waktu yang lama, sehingga masing-masing kelompok sosial itu berubah dan saling menyesuaikan diri. Dengan demikian integrasi dalam masyarakat akan tercipta. Pengaruh Interseksi dan Konsolidasi terhadap Integrasi Sosial Penggolongan masyarakat secara vertical ( stratifikasi / pelapisan sosial ) maupun secara horizontal ( diferensiasi sosial / kemajemukan ) tidaklah menggunakan dasar –dasar atau faktor – faktor yang tunggal atau terdiri sendiri tetapi bersifat kumulatif, sehingga sering terjadi interseksi ( persidangan ) dan konsolidasi ( tumpang – tindih ) keanggotaan masyarakat dalam berbagi kelompok sosial yang ada didalam masyarakat.

Untuk memahami persoalan ini secara jelas lebih dahulu perlu disampaikan pengertian interseksi, konsolidasi, dan kelompok sosial. • Interseksi Interseksi ( intersection ) dalam Kamus Inggris – Indonesia yang disusun oleh Hasan Shadily, antara lain diartikan sebagai titik potong atau pertemuan ( of two lines ) dapat pula disebut persilangan. Sedangkan istilah section ( seksi ) menurut Kamus Sosiologi yang disusun oleh Soerjono Soekanto antara lain diartikan sebagai suatu golongan etnik dalam masyarakat yang masing – masing adalah seksi.

Dari uraian ini maka dapat dirumuskan bahwa interseksi merupakan persilangan atau pertemuan titik potong keanggotaan dari dua suku bangsa atau lebih dalam kelompok – kelompok sosial didalam suatu masyarakat yang majemuk. • Konsolidasi Konsolidasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, diartika sebagai perbuataan ( hal, dan sebagainya ) memperteguh atau memperkuat ( perhubungan, persatuan, dan sebagainya). Berdasarkan pengertian tersebut maka konsolidasi diartikan sebagai penguatan atau peneguhan keanggotaan anggota – anggota masyarakat dalam kelompok – kelompok sosial melaui tumpah – tindih keanggotaan.

• Kelompok sosial Kelompok sosial atau sosial group merupakan pengumpulan ( agregasi ) manusia yang teratur. Kelompok sosial atau sosial group adalah himpunan atau kesatuan – kesatuan manusia yang menyangkut hubungan timbal – balik yang saling mempengaruhi dan adanya kesadaran untuk saling menolong. Kriteria yang sistematika tentang kelompok sosial ini dikemukakan oleh Soerjono Soekanto dalam bukunya Sosiologi Suatu Pengantar, yaitu sebagi berikut.

• Setiap anggota kelompok harus sadar bahwa ia merupakan bagian dari kelompok yang bersangkutan. • Ada hubungan timbal – balik antara anggota yang satu dengan yang lain.

• Ada suatu factor yang dimiliki bersama sehingga hubungan antara mereka bertambah erat. Factor yang sama ini dapat berupa nasib yang sama, tujuan yang sama, idelogi yang sama, musuh bersama, atau merupakn kelompok etnik ( suku bangsa ). • Kelompok tersebut mempunyai struktur, kaidah, dan pola perilaku tertentu.

• Memiliki suatu sistem dan proses tertenu. • Faktor faktor konflik sosial Menurut Turner ada beberapa faktor yang memicu terjadinya konflik sosial, diantaranya : • Ketidakmerataan distribusi sumber daya yang sangat terbatas di dalam masyarakat. • Ditariknya kembali legitimasi pengusa politik oleh masyarakat kelas bawah. • Adanya pandangan bahwa konflik merupakan cara untuk mewujudkan kepentingan. • Sedikitnya saluran untuk menampung keluhan-keluhan masyarakat kelah bawah serta lambatnya mobilitas sosial atas.

• Melemahnya kekuasaan negara yang disertai dengan mobilitas masyarakat bawah oleh elite. • Kelompok masyarakat kelas bawah menerima ideologi radikal. Pengertian Disintegrasi Menurut Para Ahli • Disintegrasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Disintegrasi adalah suatu keadaan tidak bersatu padu atau keadaan terpecah belah; hilangnya keutuhan atau persatuan; perpecahan.

Disintegrasi secara harfiah difahami sebagai perpecahan suatu bangsa menjadi bagian-bagian yang saling terpisah ( Webster’s New Encyclopedic Dictionary 1994). Pengertian ini mengacu pada kata kerja disintegrate, “to lose unity or intergrity by or as if by contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah into parts”. Potensi disintegrasi bangsa Indonesia menurut data empiris relatif tinggi. Salah satu indikasi dari potensi ini adalah homogenitas ethnik dan linguistic yang rendah.

• Faktor Disintegrasi Yang menjadi faktor desintegrasi bangsa adalah kurang adanya rasa nasionalisme yang tinggi, kurangnya rasa toleransi sesama bangsa, campur tangan pihak asing dalam masalah bangsa. Selain faktor kemajemukan budaya, penyebab disintegrasi bangsa Indonesia juga terpicu oleh sentralisasi pembangunan yang selama ini lebih terfokus di pulau Jawa, sehingga menyebabkan kesenjangan dan kecemburuan dari daerah lain, sehingga timbul keinginan untuk memisahkan diri dari NKRI.

• Upaya Mencegah Disintegrasi Untuk mencegah disintegrasi, soal pertama yang harus diselesaikan adalah membangun kesadaran politik umat. Kedua, Kaum Muslim selayaknya jangan mau didikte oleh pihak asing dan tunduk pada negara-negara kafir seperti AS. Ketiga, umat Islam harus bersikap menolak penguasa yang menjadi kepanjangan tangan AS maupun negara-negara kafir penjajah lain.

Keempat, harus ada sistem yang dapat mensejahterakan rakyat. Tingkat kesejahteraan masyarakat merupakan parameter yang berpotensi melahirkan disintegrasi. Oleh karena itu diperlukan landasan pemikiran yang terkait, diantaranya • Pancasila sebagai landasan Idiil.

• UUD 1945 sebagai Landasan Konstitusional. • Wawasan Nusantara sebagai landasan visional. • Ketahanan Nasional sebagai Landasan Konsepsional. • Ketetapan MPR Nomor : V / MPR / 2000 tentang Pemantapan Persatuan dan Kesatuan Nasional. DAFTAR PUSTAKA Susanto phil astrid.s, Pengantar sosiologi dan perubahan sosial, karya nusantara, bandung 1977, hal 124 Elly m setiadi dan usman kolip, pengantar sosiologi, kencana prenada media group, jakarta 2011, hal 347 http//id.m.wikipedia.org/wiki/integrasi_sosial/ M, Idianto.

2005. Sosiologi Untuk SMA Kelas XI. Jakarta: Erlangga. Maryati, Kun dan Juju Suriawati. 2007. Sosiologi Untuk SMA dan MAKelas XI. Bandung: PT.Gelora Aksara Pratama Anonimus.2006.Disintegrasi dan Integrasi Masyarakat.(online). http://akarsejarah.wordpress.com/2010/09/30/disintegrasi-integrasi-dan-tipologi-masyarakat/ Diakses Jumat, 3 Juni 2011. Pukul 14.22 wib. Anonimus.2009.Disintegrasi Sosial Kampus.(online). http://matanews.com/2008/10/09/disintegrasi-sosial-kehidupan-kampus/ Diakses Jumat, 3 Juni 2011.

Pukul 14.50 wib. Adhi.2009.Mencegah Disintegrasi.(online). http://mradhi.com/sosial-politik/mencegah-disintegrasi.html Diakses Jumat, 3 Juni 2011. Pukul 14.06 wib. Saeful, Hadi.1980.Integrasi Nasional di Indonesia pada Penataran MKDU ISD.

Bandung: Universitas: Padjajaran Universitas http://nilanikisari97.blogspot.co.id/2013/01/interseksi-dan-konsolidasi.html Demikian Penjelasan Tentang Makalah Integrasi Sosial : Pengertian, Tahapan, Contoh Dan Faktornya Menurut Para Ahli Semoga Bermanfaat Untuk Semua Pembaca GuruPendidikan.Com 😀 Sebarkan ini: • • • • • Posting pada Kewarganegaraan Ditag 10 pengertian integrasi sosial menurut para ahli, 5 definisi integrasi menurut para ahli, Contoh Integrasi Sosial, Contoh Integrasi Sosial brainly, contoh integrasi sosial dalam kehidupan sehari hari, contoh integrasi sosial dalam masyarakat, contoh integrasi sosial di indonesia, definisi disintegrasi menurut para ahli, Faktor Integrasi Sosial, faktor pendorong integrasi sosial, faktor pendorong integrasi sosial dan contohnya, faktor penghambat integrasi sosial, Konflik dan integrasi sosial, materi integrasi sosial, pengertian contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah dan disintegrasi menurut para ahli, pengertian integrasi menurut para ahli brainly, pengertian integrasi menurut para ahli pdf, Pengertian Integrasi Sosial, pengertian terintegrasi menurut para ahli, proses integrasi sosial, syarat terjadinya integrasi sosial, upaya menuju integrasi sosial Navigasi pos Pos-pos Terbaru • “Masa Demokrasi Terpimpin” Sejarah Dan ( Latar Belakang – Pelaksanaan ) • Pengertian Sistem Regulasi Pada Manusia Beserta Macam-Macamnya • Rangkuman Materi Jamur ( Fungi ) Beserta Penjelasannya • Pengertian Saraf Parasimpatik – Fungsi, Simpatik, Perbedaan, Persamaan, Jalur, Cara Kerja, Contoh • Higgs domino apk versi 1.80 Terbaru 2022 • Pengertian Gizi – Sejarah, Perkembangan, Pengelompokan, Makro, Mikro, Ruang Lingkup, Cabang Ilmu, Para Ahli • Proses Pembentukan Urine – Faktor, Filtrasi, Reabsorbsi, Augmentasi, Nefron, zat Sisa • Peranan Tumbuhan – Pengertian, Manfaat, Obat, Membersihkan, Melindungi, Bahan Baku, Pemanasan Global • Diksi ( Pilihan Kata ) Pengertian Dan ( Fungsi – Syarat – Contoh ) • Penjelasan Sistem Ekskresi Pada Manusia Secara Lengkap • Contoh Soal Psikotes • Contoh CV Lamaran Kerja • Rukun Shalat • Kunci Jawaban Brain Out • Teks Eksplanasi • Teks Eksposisi • Teks Deskripsi • Teks Prosedur • Contoh Gurindam • Contoh Kata Pengantar • Contoh Teks Negosiasi • Alat Musik Ritmis • Tabel Periodik • Niat Mandi Wajib • Teks Laporan Hasil Observasi • Contoh Makalah • Alight Contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah Pro • Alat Musik Melodis • 21 Contoh Paragraf Deduktif, Induktif, Campuran • 69 Contoh Teks Anekdot • Proposal • Gb WhatsApp • Contoh Daftar Riwayat Hidup • Naskah Drama • Memphisthemusical.Com
A.

Pengantar Topik ini berisi pembahasan tentang masalah keimanan dan pengkajian kembali dalam masalah tersebut. Sebagian aspek keimanan mendapat perhatian dan pengkajian yang begitu intensif, sehingga mudah didapat di tengah masyarakat.

Aspek yang akan dikaji dalam tulisan ini adalah aspek kejiwaan dan nilai. Aspek ini belum mendapat perhatian seperti perhatian terhadap aspek lainnya. Kecintaan kepada Allah, ikhlas beramal hanya karena Allah, serta mengabdikan diri dan tawakal sepenuhnya kepada-Nya, merupakan nilai keutamaan yang perlu diperhatikan dan harus diutamakan dalam menyempurnakan cabang-cabang keimanan.

Sesungguhnya amalan lahiriah berupa ibadah mahdhah dan muamalah tidak akan mencapai kesempurnaan, kecuali jika didasari dan diramu dengan nilai keutamaan tersebut. Sebab nilai-nilai tersebut senantiasa mengalir dalam hati dan tertuang dalam setiap gerak serta perilaku keseharian. Pendidikan modern telah mempengaruhi peserta didik dari berbagai arah dan pengaruhnya telah sedemikian rupa merasuki jiwa generasi penerus. Jika tidak pandai membina jiwa generasi mendatang, “dengan menanamkan nilai-nilai keimanan dalam nalar pikir dan akal budi mereka”, maka mereka tidak akan selamat dari pengaruh negatif pendidikan modern.

Mungkin mereka merasa ada yang kurang dalam sisi spiritualitasnya dan berusaha menyempurnakan dari sumber-sumber lain. Bila ini terjadi, maka perlu segera diambil tindakan, agar pintu spiritualitas yang terbuka tidak diisi oleh ajaran lain yang bukan berasal dari ajaran spiritualitas Islam.

Seorang muslim yang paripurna adalah yang nalar dan hatinya bersinar, pandangan akal dan hatinya tajam, akal pikir dan nuraninya berpadu dalam berinteraksi dengan Allah dan dengan sesama manusia, sehingga sulit diterka mana yang lebih dahulu berperan kejujuran jiwanya atau kebenaran akalnya. Sifat kesempurnaan ini merupakan karakter Islam, yaitu agama yang membangun kemurnian akidah atas dasar kejernihan akal dan membentuk pola pikir teologis yang menyerupai bidang-bidang ilmu eksakta, karena dalam segi akidah, Islam hanya menerima hal-hal yang menurut ukuran akal sehat dapat diterima sebagai ajaran akidah yang benar dan lurus.

Pilar akal dan rasionalitas dalam akidah Islam tercermin dalam aturan muamalat dan dalam memberikan solusi serta terapi bagi persoalan yang dihadapi. Selain itu Islam adalah agama ibadah. Ajaran tentang ibadah didasarkan atas kesucian hati yang dipenuhi dengan keikhlasan, cinta, serta dibersihkan dari dorongan hawa nafsu, egoisme, dan sikap ingin menang sendiri.

Agama seseorang tidak sempurna, jika kehangatan spiritualitas yang dimiliki tidak disertai dengan pengalaman ilmiah dan ketajaman nalar. Pentingnya akal bagi iman ibarat pentingnya mata bagi orang yang sedang berjalan. B. Siapakah Tuhan itu? Perkataan ilah, yang selalu diterjemahkan “Tuhan”, dalam al-Qur’an dipakai untuk menyatakan berbagai objek yang dibesarkan atau dipentingkan manusia, misalnya dalam surat al-Furqan ayat 43.

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya ? Dalam surat al-Qashash ayat 38, perkataan ilah dipakai oleh Fir’aun untuk dirinya sendiri: Dan Fir’aun berkata: ‘Wahai para pembesar hambaku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku’. Contoh ayat-ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa perkataan ilah bisa mengandung arti berbagai benda, baik abstrak (nafsu atau keinginan pribadi maupun benda nyata (Fir’aun atau penguasa yang dipatuhi dan dipuja).

Perkataan ilah dalam al-Qur’an juga dipakai dalam bentuk tunggal (mufrad: ilaahun), ganda (mutsanna: ilaahaini), dan banyak (jama’: aalihatun). Bertuhan nol atau atheisme tidak mungkin. Untuk dapat mengerti tentang definisi Tuhan atau Ilah yang tepat, berdasarkan logika al-Qur’an adalah sebagai berikut: Tuhan ( ilah) ialah sesuatu yang dipentingkan (dianggap penting) oleh manusia sedemikian rupa, sehingga manusia merelakan dirinya dikuasai olehnya.

Perkataan dipentingkan hendaklah diartikan secara luas. Tercakup di dalamnya yang dipuja, dicintai, diagungkan, diharap-harapkan dapat memberikan kemaslahatan atau kegembiraan, dan termasuk pula sesuatu yang ditakuti akan mendatangkan bahaya atau kerugian.

Ibnu Taimiyah memberikan definisi al-ilah sebagai berikut: Al-ilah ialah: yang dipuja dengan penuh kecintaan hati, tunduk kepadanya, merendahkan diri di hadapannya, takut, dan mengharapkannya, kepadanya tempat berpasrah ketika berada dalam kesulitan, berdo’a, dan bertawakkal kepadanya untuk kemaslahatan diri, meminta perlindungan dari padanya, dan menimbulkan ketenangan di saat mengingatnya dan terpaut cinta kepadanya.

(M. Imaduddin, 1989: 56). Berdasarkan definisi tersebut di atas dapat dipahami, bahwa Tuhan itu bisa berbentuk apa saja, yang dipentingkan oleh manusia. Yang pasti ialah manusia tidak mungkin atheis, tidak mungkin tidak ber-Tuhan. Berdasarkan logika al-Qur’an setiap manusia pasti mempunyai sesuatu yang dipertuhankannya. Dengan demikian, orang-orang komunis pada hakikatnya ber-Tuhan juga. Adapun Tuhan mereka ialah ideologi atau angan-angan (utopia) mereka.

Dalam ajaran Islam diajarkan kalimat “ Laa illaha illaa Allah”. Susunan kalimat tersebut dimulai dengan peniadaan, yaitu “tidak ada Tuhan”, kemudian baru diikuti dengan suatu penegasan “melainkan Allah”. Hal itu berarti bahwa seorang muslim harus membersihkan dari segala macam Tuhan terlebih dahulu, yang ada dalam hatinya hanya satu Tuhan yang bernama Allah.

C. Sejarah Pemikiran Manusia tentang Tuhan 1. Pemikiran Barat Yang dimaksud konsep Ketuhanan menurut pemikiran manusia adalah konsep yang didasarkan atas hasil pemikiran baik melalui pengalaman lahiriah maupun batiniah, baik yang bersifat penelitian rasional maupun pengalaman batin. Dalam literatur sejarah agama, dikenal teori evolusionisme, yaitu teori yang menyatakan adanya proses dari kepercayaan yang amat sederhana, lama kelamaan meningkat menjadi sempurna. Teori tersebut mula-mula dikemukakan oleh Max Muller, kemudian dikemukakan oleh EB Taylor, Robertson Smith, Lubbock, dan Jevens.

Proses perkembangan pemikiran tentang Tuhan menurut teori evolusionisme adalah sebagai berikut: a. Dinamisme Menurut paham ini, manusia sejak zaman primitif telah mengakui adanya kekuatan yang berpengaruh dalam kehidupan. Mula-mula sesuatu yang berpengaruh tersebut ditujukan pada benda. Setiap benda mempunyai pengaruh pada manusia, ada yang berpengaruh positif dan ada pula yang berpengaruh negatif. Kekuatan yang ada pada benda disebut dengan nama yang berbeda-beda, seperti mana (Melanesia), tuah (Melayu), dan syakti (India).

Mana adalah kekuatan gaib yang tidak dapat dilihat atau diindera dengan pancaindera. Oleh karena itu dianggap sebagai sesuatu yang misterius. Meskipun mana tidak dapat diindera, tetapi ia dapat dirasakan pengaruhnya. b. Animisme Di samping kepercayaan dinamisme, masyarakat primitif juga mempercayai adanya peran roh dalam hidupnya. Setiap benda yang dianggap benda baik, mempunyai roh.

Oleh masyarakat primitif, roh dipercayai sebagai sesuatu yang aktif sekalipun bendanya telah mati. Oleh karena itu, roh dianggap sebagai sesuatu yang selalu hidup, mempunyai rasa senang, rasa tidak senang, serta mempunyai kebutuhan-kebutuhan.

Roh akan senang apabila kebutuhannya dipenuhi.

contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah

Menurut kepercayaan ini, agar manusia tidak terkena efek negatif dari roh-roh tersebut, manusia harus menyediakan kebutuhan roh. Saji-sajian yang sesuai dengan advis dukun adalah salah satu usaha untuk memenuhi kebutuhan roh.

c. Politeisme Kepercayaan dinamisme dan animisme lama-lama tidak memberikan kepuasan, karena terlalu banyak yang menjadi sanjungan dan pujaan. Roh yang lebih dari yang lain kemudian disebut dewa. Dewa mempunyai tugas dan kekuasaan tertentu sesuai dengan bidangnya. Ada Dewa yang bertanggung jawab terhadap cahaya, ada yang membidangi masalah air, ada yang membidangi angin dan lain sebagainya.

d. Henoteisme Politeisme tidak memberikan kepuasan terutama terhadap kaum cendekiawan. Oleh karena itu dari dewa-dewa yang diakui diadakan seleksi, karena tidak mungkin mempunyai kekuatan yang sama. Lama-kelamaan kepercayaan manusia meningkat menjadi lebih definitif (tertentu). Satu bangsa hanya mengakui satu dewa yang disebut dengan Tuhan, namun manusia masih mengakui Tuhan ( Ilah) bangsa lain.

kepercayaan satu Tuhan untuk satu bangsa disebut dengan henoteisme (Tuhan tingkat Nasional). e. Monoteisme Contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah dalam bentuk henoteisme melangkah menjadi monoteisme. Dalam monoteisme hanya mengakui satu Tuhan untuk seluruh bangsa dan bersifat internasional. Bentuk monoteisme ditinjau dari filsafat Ketuhanan terbagi dalam tiga paham yaitu: deisme, panteisme, dan teisme. Evolusionisme dalam kepercayaan terhadap Tuhan sebagaimana dinyatakan oleh Max Muller dan EB.

Taylor (1877), ditentang oleh Andrew Lang (1898) yang menekankan adanya monoteisme dalam masyarakat primitif. Dia mengemukakan bahwa orang-orang yang berbudaya rendah juga sama monoteismenya dengan orang-orang Kristen. Mereka mempunyai kepercayaan pada wujud yang Agung dan sifat-sifat yang khas terhadap Tuhan mereka, yang tidak mereka berikan kepada wujud yang lain. Dengan lahirnya pendapat Andrew Lang, maka berangsur-angsur golongan evolusionisme menjadi reda dan sebaliknya sarjana-sarjana agama terutama di Eropa Barat mulai menantang evolusionisme dan memperkenalkan teori baru untuk memahami sejarah agama.

Mereka menyatakan bahwa ide tentang Tuhan tidak datang secara evolusi, tetapi dengan relevansi atau wahyu. Kesimpulan tersebut diambil berdasarkan pada penyelidikan bermacam-macam kepercayaan yang dimiliki oleh kebanyakan masyarakat primitif. Dalam penyelidikan didapatkan bukti-bukti bahwa asal-usul kepercayaan masyarakat primitif adalah monoteisme dan monoteisme adalah berasal dari ajaran wahyu Tuhan.

(Zaglul Yusuf, 1993: 26-37). 2. Pemikiran Umat Islam Dikalangan umat Islam terdapat polemik dalam masalah ketuhanan. Satu kelompok berpegang teguh dengan Jabariah, yaitu faham yang mengatakan bahwa Tuhan mempunyai kekuatan mutlah yang menjadi penentu segalanya. Di lain pihak ada yang berpegang pada doktrin Qodariah, yaitu faham yang mengatakan bahwa manusialah yang menentukan nasibnya.

Polemik dalam masalah ketuhanan di kalangan umat Islam pernah menimbulkan suatu dis-integrasi (perpecahan) umat Islam, yang cukup menyedihkan. Peristiwa al-mihnah yaitu pembantaian terhadap para tokoh Jabariah oleh penguasa Qadariah pada zaman khalifah al-Makmun (Dinasti Abbasiah). Munculnya faham Jabariah dan Qadariah berkaitan erat dengan masalah politik umat Islam setelah Rasulullah Muhammad meninggal. Sebagai kepala pemerintahaan, Abu Bakar Siddiq secara aklamasi formal diangkat sebagai pelanjut Rasulullah.

Berikutnya digantikan oleh Umar Ibnu Al-Khattab, Usman dan Ali. Embrio ketegangan politik sebenarnya sudah ada sejak khalifah Abu Bakar, yaitu persaingan segitiga antara sekompok orang Anshar (pribumi Madinah), sekelompok orang Muhajirin yang fanatik dengan garis keturunan Abdul Muthalib (fanatisme Ali), dan kelompok mayoritas yang mendukung kepemimpinan Abu Bakar.

Pada periode kepemimpinan Abu Bakar dan Umar gejolak politik tidak muncul, karena sikap khalifah yang tegas, sehingga kelompok oposisi tidak diberikan kesempatan melakukan gerakannya. Ketika khalifah dipegang oleh Usman Ibn Affan (khalifa ke 3), ketegangan politik menjadi terbuka. Sistem nepotisme yang diterapkan oleh penguasa (wazir) pada masa khalifah Usman menjadi penyebab adanya reaksi negatif dari kalangan warga Abdul Muthalib.

Akibatnya terjadi ketegangan,yang menyebabkan Usman sebagai khalifah terbunuh. Ketegangan semakin bergejolak pada khalifah berikutnya, yaitu Ali Ibn Abi Thalib. Dendam yang dikumandangkan dalam bentuk slogan bahwa darah harus dibalas dengan darah, menjadi motto bagi kalangan oposisi di bawah kepemimpinan Muawiyah bin Abi Sufyan.

Pertempuran antara dua kubu tidak terhindarkan. Untuk menghindari perpecahan, antara dua kubu yang berselisih mengadakan perjanjian damai. Nampaknya bagi kelompok Muawiyah, perjanjian damai hanyalah merupakan strategi untuk memenangkan pertempuran. Amru bin Ash sebagai diplomat Muawiyah mengungkapkan penilaian sepihak. Pihak Ali yang paling bersalah, sementara pihaknya tidak bersalah. Akibat perjanjian itu pihak Ali (sebagai penguasa resmi) tersudut.

contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah

Setelah dirasakan oleh pihak Ali bahwa perjanjian itu merugikan pihaknya, di kalangan pendukung Ali terbelah menjadi dua kelompok, yaitu : kelompok yang tetap setia kepada Ali, dan kelompok yang menyatakan keluar, namun tidak mau bergabung dengan Muawiyah.

Kelompok pertama disebut dengan kelompok SYIAH, dan kelompok kedua disebut dengan KHAWARIJ. Dengan demikian umat Islam terpecah menjadi tiga kelompok politik, yaitu: 1) Kelompok Muawiyah (Sunni), 2) Kelompok Syi’ah, dan 3) Kelompok Khawarij. Untuk memenangkan kelompok dalam menghadapi oposisinya, mereka tidak segan-segan menggunakan konsep asasi.

Kelompok yang satu sampai mengkafirkan kelompok lainnya. Menurut Khawarij semua pihak yang terlibat perjanjian damai baik pihak Muawiyah maupun pihak Ali dinyatakan kafir. Pihak Muawiyah dikatakan kafir karena menentang pemerintah, sedangkan pihak Ali dikatakan kafir karena tidak bersikap tegas terhadap para pemberontak, berarti tidak menetapkan hukum berdasarkan ketentuan Allah. Mereka mengkafirkan Ali dan para pendukungknya, berdasarkan Al-Quran Surat Al-Maidah (5) : 44 وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ Siapa yang tidak menegakkan hukum sesuai dengan apa yang diturunkan Allah (Al-Quran), maka mereka dalah orang-orang kafir.

Munculnya doktrin saling mengkafirkan antara satu kelompok dengan kelompok lain membuat pertanyaan besar bagi kalangan cendikiawan. Pada suatu mimbar akademik (pengajian) muncul pertanyaan dari peserta pengajian kepada gurunya yaitu Hasan Al-Bashry. Pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan adanya perbedaan pendapat tentang orang yang berbuat dosa besar. Sebagian pendapat mengatakan bahwa mereka itu adalah mukmin, sedangkan pendapat lain mengatakan kafir.

Para pelaku politik yang terlibat tahkim perjanjian antara pihak Ali dan pihak Muawiyah, mereka dinilai sebagai pelaku dosa besar. Alasan yang mengatakan mereka itu mukmin beralasan bahwa iman itu letaknya di hati, sedangkan orang lain tidak ada yang mengetahui hati seseorang kecuali Allah. Sedangkan pendapat lainnya mengatakan bahwa iman itu bukan hanya di hati melainkan berwujud dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Berarti orang yang melakukan dosa besar dia adalah bukan mukmin. Kalau mereka bukan mukmin berarti mereka kafir.

Sebelum guru besarnya memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang dimajukan tentang dosa besar tersebut, seorang peserta pengajian yang bernama Wasil ibnu Atha mengajukan jawaban, bahwa pelaku dosa besar bukan mukmin dan bukan kafir melainkan diantara keduanya. Hasan Al-Bashry sebagai pembina pengajian tersebut memeberikan komentar, terhadap jawaban Wasil. Komentarnya bahwa pelaku dosa besar termasuk yang terlibat dalam perjanjian damai termasuk kelompok fasik.

Wasil membantah komentar gurunya itu, karena orang yang fasik lebih hina dimata Allah ketimbang orang yang kafir. Akibat polemik tersebut Wasil bersama beberapa orang yang sependapat dengannya memisahkan diri dari kelompok pengajian Hasal Al-Bashry. Peserta pengajian yang tetap bergabung bersama Hasan Al-Bashry mengatakan, “I’tazala Wasil ‘anna.” (Wasil telah memisahkan diri dari kelompok kita.) Dari kata-kata inilah Wasil dan pendukungnya disebut kelompok MUKTAZILAH.

(Lebih jelasnya lihat Harun Nasution dalam Teologi Islam). Kelompok Muktazilah mengajukan konsep-konsep yang bertentangan dengan konsep yang diajukan golongan Murjiah (aliran teologi yang diakui oleh penguasa politik pada waktu itu, yaitu Sunni.

Berarti Muktazilah sebagai kelompok penentang arus). Doktrin Muktazilah terkenal dengan lima azas (ushul al-khamsah) yaitu: • meniadakan (menafikan) sifat-sifat Tuhan dan menetapkan zat-Nya • Janji dan ancaman Tuhan (al-wa’ad dan al-wa’id) • Keadilan Tuhan (al-‘adalah) • Al-Manzilah baina al-manzilatain (posisi diatara dua posisi) • Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar.

Dari lima azas tersebut – menurut Muktazilah – Tuhan terikat dengan kewajiban-kewajiban. Tuhan wajib memenuhi janjinya. Ia berkewajiban memasukkan orang yang baik ke surga dan wajib memasukkan orang yang jahat ke neraka, dan kewajiban-kewajiban lain. Pandangan-pandangan kelompok ini menempatkan akal manusia dalam posisi yang kuat.

Sebab itu kelompok ini dimasukkan ke dalam kelompok teologi rasional dengan sebutan Qadariah. Sebaliknya, aliran teologi tradisional (Jabariah) berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat (sifat 20, sifat 13, dan maha sifat). Ia maha kuasa, memiliki kehendak mutlak. Kehendak Tuhan tidak terikat dengan apapun. Karena itu ia mungkin saja menempatkan orang yang baik ke dalam neraka dan sebaliknya mungkin pula ia menempatkan orang jahat ke dalam surga, kalau Ia menghendaki.

Dari faham Jabariah inilah ilmu-ilmu kebatinan berkembang di sebagaian umat Islam. 3. Konsep Ketuhanan dalam Islam Istilah Tuhan dalam sebutan Al-Quran digunakan kata ilaahun, yaitu setiap yang menjadi penggerak atau motivator, sehingga dikagumi dan dipatuhi oleh manusia. Orang yang mematuhinya di sebut abdun (hamba). Kata ilaah (tuhan) di dalam Al-Quran konotasinya ada dua kemungkinan, yaitu Allah, dan selain Allah. Subjektif (hawa nafsu) dapat menjadi ilah (tuhan).

Benda-benda seperti : patung, pohon, binatang, dan lain-lain dapat pula berperan sebagai ilah. Demikianlah seperti dikemukakan pada surat Al-Baqarah (2) : 165, sebagai berikut: وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ Diantara manusia ada yang bertuhan kepada selain Allah, sebagai tandingan terhadap Allah.

Mereka mencintai tuhannya itu sebagaimana mencintai Allah. Sebelum turun Al-Quran dikalangan masyarakat Arab telah menganut konsep tauhid (monoteisme). Allah sebagai Tuhan mereka. Hal ini diketahui dari ungkapan-ungkapan yang mereka cetuskan, baik dalam do’a maupun acara-acara ritual. Abu Thalib, ketika memberikan khutbah nikah Nabi Muhammad dengan Khadijah (sekitar 15 tahun sebelum turunya Al-Quran) ia mengungkapkan kata-kata Alhamdulillah. (Lihat Al-Wasith,hal 29). Adanya nama Abdullah (hamba Allah) telah lazim dipakai di kalangan masyarakat Arab sebelum turunnya Al-Quran.

Keyakinan akan adanya Allah, kemaha besaran Allah, kekuasaan Allah dan lain-lain, telah mantap. Dari kenyataan tersebut timbul pertanyaan apakah konsep ketuhanan yang dibawakan Nabi Muhammad?

Pertanyaan ini muncul karena Nabi Muhammad dalam mendakwahkan konsep ilahiyah mendapat tantangan keras dari kalangan masyarakat. Jika konsep ketuhanan yang dibawa Muhammad sama dengan konsep ketuhanan yang mereka yakini tentu tidak demikian kejadiannya. Pengakuan mereka bahwa Allah sebagai pencipta semesta alam dikemukakan dalam Al-Quran surat Al-Ankabut (29) ayat 61 sebagai berikut; وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ Jika kepada mereka ditanyakan, “Siapa yang menciptakan lagit dan bumi, dan menundukkan matahari dan bulan?” Mereka pasti akan menjawab Allah.

Dengan demikian seseorang yang mempercayai adanya Allah, belum tentu berarti orang itu beriman dan bertaqwa kepada-Nya.

Seseorang baru laik dinyatakan bertuhan kepada Allah jika ia telah memenuhi segala yang dimaui oleh Allah. Atas dasar itu inti konsep ketuhanan Yang Maha Esa dalam Islam adalah memerankan ajaran Allah yaitu Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari.

Tuhan berperan bukan sekedar Pencipta, melainkan juga pengatur alam semesta. Pernyataan lugas dan sederhana cermin manusia bertuhan Allah sebagaimana dinyatakan dalam surat Al-Ikhlas. Kalimat syahadat adalah pernyataan lain sebagai jawaban atas perintah yang dijaukan pada surat Al-Ikhlas tersebut. Ringkasnya jika Allah yang harus terbayang dalam kesadaran manusia yang bertuhan Allah adalah disamping Allah sebagai Zat, juga Al-Quran sebagai ajaran serta Rasullullah sebagai Uswah hasanah.

Kepustakaan 1. Abdurrahim, Muhammad, Imaduddin, Kuliah Tauhid, (Jakarta: Yayasan Sari Insan, 1989), h. 16-21, 54-56. 2. Al-Ghazali, Muhammad Selalu Melibatkan Allah, (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2001), h. 28-39. 3. Jusuf, Zaghlul, Dr, SH., Studi Islam, (Jakarta: Ikhwan, 1993), h. 26-37. 4. Kadir, Muhammad Mahmud Abdul, Dr. Biologi Iman, (Jakarta: al-Hidayah, 1981), h. 9-11. 5. Khan, Waheduddin, Islam Menjawab Tantangan Zaman, (Bandung: Penerbit Pustaka, 1983), h. 39-101. 6. Suryana, Toto, Pendidikan Agama Islam, (Bandung: Tiga Mutiara, contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah, h.

67-77. 7. Daradjat, ZakiahDasar-dasar Agama Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1996), h. 55-152.
Pengertian dan Contoh Masalah Sosial di Indonesia – Di dalam suatu negara atau masyarakat, pasti tidak selalu berjalan dengan mulus.

Pasti ada sesuatu yang tidak diharapkan terjadi oleh masyarakat. Ada situasi-situasi yang merugikan banyak orang dan tidak diinginkan terjadi. Situasi tersebut sangat berdampak bagi masyarakat banyak. Itu akan mengganggu keseimbangan kehidupan masyarakat.

Sehingga fungsi-fungsi kehidupan juga akan terganggu. Situasi tersebut adalah masalah sosial. Sebagai masyarakat di suatu negara, pasti kita pernah merasakan bahwa negara tidak selalu baik-baik saja. Ada beberapa masalah yang mengganggu dan harus ditangani. Masalah-masalah tersebut sudah masuk kategori masalah sosial. Artikel ini akan membahas mengenai pengertian serta contoh-contoh masalah sosial yang terjadi di masyarakat.

Daftar Isi • Pengertian Masalah Sosial • 1. Soerjono Soekanto • 2. Vincent Parillo • 3. Soetomo • 4. Weinberg dan Rubington • 5. Lesli • Anda Mungkin Juga Menyukai • 6. Pincus dan Minahan • 7. Raab Dan Selznick • 8. Zastrow • 9. Coleman, J.W dan Cressey, D.R • 10. Gillin dan Gillin • Contoh Masalah Sosial di Indonesia • 1. Kesenjangan sosial • 2.

Kemiskinan • 4. Pengangguran • 5. Kriminalitas • 6. Penyakit yang menular • 7. Kenakalan remaja • 8. Aliran sesat • 9. Konflik sara • 10. Lingkungan hidup • 11. Pelecehan seksual • 12. Korupsi • 13. Kesenjangan hukum Pengertian Masalah Sosial Masalah sosial adalah sebuah kondisi di suatu masyarakat yang tidak diinginkan terjadi. Masalah yang ada tersebut harus segera dihadapi dan dicari solusinya.

Masalah sosial tidak hanya menyangkut pada satu atau dua orang saja. Akan tetapi menyangkut banyak orang atau masyarakat luas. Berikut ini adalah pengertian masalah sosial menurut beberapa para ahli sosiologi: 1.

Soerjono Soekanto Menurut Soerjono Contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah masalah sosial adalah suatu permasalahan yang timbul di dalam masyarakat. Masalah sosial berhubungan erat dengan nilai-nilai sosial yang ada di masyarakat. Selain itu masalah sosial juga berhubungan erat dengan lembaga-lembaga kemasyarakatan. Masalah sosial yang terjadi di masyarakat bersifat sosial.

Selain itu, Soerjono Soekanto juga menyebutkan pendapat lain mengenai masalah sosial. Menurutnya, masalah sosial adalah sesuatu yang tidak sesuai antara unsur-unsur masyarakat atau sebuah kebudayaan.

Masalah sosial akan membahayakan suatu kelompok sosial. 2. Vincent Parillo Vincent memberikan pendapatnya yang tercantum dalam Soetomo (2013). Menurut Vincent Parillo, masalah sosial adalah masalah yang contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah terjadi dan bertahan pada waktu tertentu.

Situasi tertentu pada masyarakat tidak dapat dikatakan sebagai masalah sosial. Situasi tersebut bila terjadi hanya dalam waktu yang singkat. 3. Soetomo Pakar sosiologi lain yaitu Soetomo menjelaskan, masalah sosial adalah suatu situasi yang terjadi di masyarakat. Situasi tersebut adalah situasi yang tidak diinginkan oleh kebanyakan, atau sebagian besar masyarakat. 4. Weinberg dan Rubington Menurut Weinberg dan Rubington, masalah sosial adalah kondisi di dalam suatu masyarakat yang tidak sesuai dengan nilai.

Ketika terdapat situasi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dan dianut oleh masyarakat, maka kondisi tersebut dinamakan sebagai masalah sosial.

Perlu adanya kesepakatan dari masyarakat untuk suatu kegiatan, yang digunakan untuk mengubah kondisi yang tidak sesuai tersebut. Rp 130.000 5. Lesli Masalah sosial menurut Lesli adalah suatu kondisi atau situasi yang berpengaruh. Masalah sosial tersebut akan berpengaruh terhadap kehidupan sebagian besar suatu masyarakat. Masalah sosial adalah situasi yang tidak disukai, bahkan tidak diinginkan.

Oleh karena itu, masalah sosial perlu diatasi dan diperbaiki. Pengendalian Masalah Sosial Melalui Kearifan Lokal 6. Pincus dan Minahan Pincus dan Minahan berpendapat, bahwa masalah sosial adalah kondisi sosial atau situasi yang dievaluasi oleh sebagian besar masyarakat.

Masalah sosial adalah sesuatu yang menurut masyarakat memiliki situasi yang tidak mengenakkan. Selain itu, masalah sosial adalah situasi yang problematik. 7. Raab Dan Selznick Raab dan Selznick menyatakan pendapatnya di dalam Soetomo. Menurut Raab dan Selznick, masalah sosial adalah masalah yang terjadi di dalam suatu hubungan antar sesama masyarakat.

Lebih lanjut, Raab dan Selznick mengatakan bahwa semua masalah yang terjadi di dalam suatu masyarakat adalah masalah sosial. 8. Zastrow Masalah sosial menurut Zastrow adalah suatu situasi di dalam masyarakat. Situasi tersebut akan mempengaruhi sebagian besar masyarakat. Menurutnya, masalah sosial harus diperbaiki. Cara untuk memperbaikinya adalah dengan menggunakan suatu tindakan-tindakan. 9. Coleman, J.W dan Cressey, D.R Menyebutkan bahwa masalah sosial adalah suatu fenomena atau gejala.

Gejala atau fenomena tersebut memiliki dimensi dan aspek kajian yang luas sekali. Selain itu, masalah sosial juga sangat kompleks. Lebih lanjut, Coleman, J.W dan Cressey, D.R berpendapat bahwa masalah sosial bisa ditinjau dari banyak perspektif baik secara teori atau hanya sudut pandang saja. 10. Gillin dan Gillin Menurut Gillin dan Gillin, masalah sosial adalah suatu kondisi yang tidak sesuai. Dikatakan tidak sesuai karena situasi tersebut tidak sesuai dengan unsur-unsur yang ada di dalam masyarakat.

Hal tersebut akan membahayakan kehidupan suatu kelompok masyarakat. Selain itu, masalah sosial juga akan menghambat masyarakat dalam memenuhi keinginan masyarakat. Situasi seperti itu akan menyebabkan kepincangan sosial di dalam suatu masyarakat. Hal lain akan terjadi ketika bidang-bidang seperti Pendidikan, agama, ekonomi dan politik berbenturan. Itu akan menyebabkan hubungan sosial terganggu, sehingga kegoyahan dalam kehidupan suatu masyarakat akan ikut terganggu. Pengertian masalah sosial menurut perspektif sosiologi juga tidak jauh berbeda.

Masalah sosial adalah sebuah situasi yang tidak sesuai dengan suatu nilai-nilai yang dianut dalam masyarakat. Situasi seperti itu perlu adanya pemecahan masalah dan harus diatasi. Menurut pandangan pekerja sosial, masalah sosial adalah terganggunya fungsi sosial. Itu akan mempengaruhi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Serta akan mempengaruhi peran-peranan suatu masyarakat. Masalah sosial adalah situasi yang dipandang oleh masyarakat sebagai sesuatu yang tidak diharapkan terjadi.

Contoh Masalah Sosial di Indonesia Ada banyak masalah yang sering terjadi. Masalah tersebut bisa dikatakan sebagai masalah sosial. Akan tetapi, banyak masyarakat yang belum menyadari bahwa masalah-masalah tersebut adalah masalah sosial. Berikut ini adalah contoh-contoh masalah sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat 1. Kesenjangan sosial Kesenjangan sosial adalah masalah sosial yang akan banyak memiliki dampak negatif. Kesenjangan sosial adalah suatu kondisi dimana tidak adanya keseimbangan antara masyarakat.

Kesenjangan sosial sering sekali dikaitkan dengan adanya perbedaan yang sangat jelas terlihat di antara masyarakat. Dalam hal ini, kesenjangan sosial yang sangat banyak terjadi adalah dalam bidang ekonomi.

“Si miskin semakin miskin, si kaya semakin kaya”. Ungkapan itu sangat tepat, untuk menjelaskan bagaimana kondisi kesenjangan sosial dalam bidang ekonomi di masyarakat. Ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kesenjangan sosial. Faktor-faktor tersebut meliputi kebijakan pemerintah, pengaruh dari adanya globalisasi, perbedaan dari sumber daya alam yang ada di daerah-daerah tersebut, letak dan kondisi geografis, dan karena faktor demografis.

Dalam mengurangi kesenjangan sosial ini, ilmy kesejahteraan dapat diterapkan dalam upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Buku berjudul Kesejahteraan Sosial oleh Isbandi Rukminto Adi ini membahas berbagai isu kesenjangan sosial yang berkembang saat ini. Jika dilihat dari sudut pandang kerugian. Banyak sekali yang dirugikan dari masalah sosial kemiskinan ini. Dalam hal orang yang masuk kategori kemiskinan, ia akan sulit memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dalam sudut pandang negara, kemiskinan ini dapat disebut sebagai beban di negara Indonesia. Memang tidak ada tindakan yang langsung bisa menghapus kemiskinan di Indonesia. Terlebih masalah sosial kemiskinan ini seperti mendarah daging.

Seseorang yang masuk dalam kategori miskin bisa karena dua faktor. Faktor internal, karena orang yang masuk dalam kategori miskin ini tidak berusaha. Ia tidak berusaha untuk mengubah hidupnya dan keluar dari lingkaran kemiskinan. Faktor kedua yaitu faktor eksternal, kemiskinan yang disebabkan oleh faktor internal biasakan karena adanya masalah. Contohnya seperti adanya perubahan iklim, perubahan struktur sosial, kebijakan dari program pemerintah, kerusakan alam dan bisa terjadi karena hal-hal lainya.

Dalam menangani permasalahan kemiskinan ini, pemerintah berusaha melakukan pembangun sosial serta pengorganisasian masyarakat yang dijelaskan pada buku Menangani Kemiskinan oleh Bambang Rustanto, Dr., M.Hum yang memiliki tingkat keefektifan tinggi dalam menangani masalah kemiskinan.

4. Pengangguran Pengangguran juga termasuk ke dalam masalah sosial yang sangat besar di Indonesia. Pengangguran terjadi karena berbagai faktor. Salah satunya adalah karena persaingan dari sumber daya manusia. Persaingan ini terjadi dalam hal mencari lapangan pekerjaan. Biasanya orang yang tidak memiliki pendidikan yang cukup akan kalah dengan orang yang memiliki pendidikan tinggi.

Banyak para pencari kerja menjadikan Pendidikan sebagai syarat utama dalam membuka lowongan pekerjaan. Hal tersebutlah yang menjadi faktor pengangguran jadi masalah sosial. Sama dengan kemiskinan, pengangguran selalu meningkat dari tahun ke tahun. Faktor lainnya yang menyebabkan pengangguran adalah karena masyarakat tidak produktif. Jika dibiarkan terus-menerus, pengangguran akan menimbulkan masalah baru.

Harus ada solusi untuk pengangguran. Salah satu solusi yang tepat dalam menghadapi pengangguran adalah dengan menciptakan pelatihan kerja. Pelatihan kerja supaya orang-orang yang menganggur tidak kalah dalam hal keterampilan dengan masyarakat produktif lain. Hal lain yang dapat dilakukan adalah dengan membuka banyak lowongan pekerjaan. Akan tetapi, lowongan yang tersedia tidak hanya mengandalkan Pendidikan yang tinggi dan banyak pengalaman.

Maka itu tidak akan memecahkan masalah pengangguran ini. Masalah pengangguran ini pada umumnya sering dihadapi oleh negara berkembang. Di Indonesia, salah satunya di Provinsi Sulawesi Tenggara, permasalahan ini sudah semakin besar seperti yang ditunjukkan di buku Database Pengangguran Berpendidikan Tinggi di Sulawesi Tenggara oleh Achmad Selamet Aku, S.Pt., M.Si.

Dr. La Ode Suriadi, S.E., M.Si. Dr. hj. Sitti Whirdhana A. Bakareng, S.Si., M.Si. Dr. Muh. Amrullah Pagala, S.Pt., M.Si. Deki Zulkarnain, S.Pt., M.Si. Ir. Natsir Sandiah, M.P. 5. Kriminalitas Kriminalitas adalah masalah sosial yang timbul karena masalah yang belum bisa terselesaikan sebelumnya. Contohnya seperti masalah pengangguran. Jika pengangguran terus dibiarkan, tetapi tidak ada solusinya maka akan menciptakan banyak tindakan kriminalitas.

Orang-orang yang terlibat dalam tindak kriminalitas biasanya tidak memiliki tempat yang membantunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tentu saja kriminalitas merugikan semua pihak. Tidak ada pihak yang tidak dirugikan karena kriminalitas, bahkan pelaku sekalipun. Kriminalitas juga akan menimbulkan masalah baru. Pelaku tindak kriminalitas akan berurusan dengan hukum. Dalam mempelajari kriminalitas, terdapat ilmu kriminologi yang dapat memberi manfaat bagi masyarakat tempat kriminologi tersebut dikembangkan.

Untuk memahami lebih dalam, buku berjudul KRIMINOLOGI oleh Muhammad Mustofa dapat kamu jadikan referensi. Benjamin Franklin looking COVID-19 newspaper headlines on One Hundred Dollar Bill Contoh masalah sosial lainnya yaitu penyakit yang menular.

Penyakit yang menular akan sangat berdampak dalam berbagai sektor. Contohnya seperti penyakit Covid-19 yang disebabkan oleh virus corona.

Penyakit menular mematikan ini berdampak pada segala bidang di Indonesia. Bidang ekonomi juga terpengaruh akibat adanya penyakit menular ini. Ekonomi menjadi lumpuh, sebab pelaku ekonomi banyak yang terjangkit virus penyakit menular tersebut. Sama halnya dengan bidang pendidikan, pendidikan berjalan tidak lancar seperti biasanya akibat penyakit menular ini.

Banyak masalah-masalah yang terjadi akibat dari masalah sosial ini. Banyak pihak yang dirugikan. Pemerintah dan masyarakat harus bahu-membahu dalam mengatasi masalah sosial ini. 7. Kenakalan remaja Tawuran antar remaja adalah salah satu bentuk kenakalan remaja. Dari peristiwa itu, bisa dilihat bahwa kenakalan remaja adalah salah satu contoh masalah sosial.

Peristiwa tersebut adalah pelanggaran dari norma-norma yang ada dan seharusnya dianut oleh para remaja. Dampak yang sangat berpengaruh dari kenakalan remaja adalah pada remaja itu sendiri. Kenakalan remaja akan membuat mental dari remaja tersebut rusak. Jika banyak remaja yang mentalnya rusak, ini adalah ancaman yang serius untuk Indonesia untuk generasi yang akan datang. Cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi kenakalan remaja adalah dengan selalu mengawasinya.

Banyak pihak yang harus ikut terlibat dalam upaya ini. Seperti pihak sekolah, pemerintah, masyarakat umum, dan yang sangat berpengaruh adalah keluarga atau orang tua. Untuk melakukan perubahan, memang harus terjadi dari luar dan dalam diri remaja itu sendiri. Akan tetapi, dengan melakukan dorongan-dorongan maka kenakalan yang terjadi di kalangan remaja bisa segera teratasi. 8. Aliran sesat Aliran sesat memang tidak selalu dapat dilihat langsung di masyarakat. Aliran sesat juga sudah terjadi sejak zaman dahulu.

Namun, hal ini adalah salah satu contoh dari masalah sosial yang ada di Indonesia. Aliran sesat adalah suatu doktrin atau kepercayaan, yang bertentangan atau tidak sejalan dengan yang seharusnya. Terkadang ada aliran sesat yang menganjurkan untuk bertentangan dengan agama atau pemerintah.

Hal tersebut akan mengganggu dan merugikan beberapa pihak. 9. Konflik sara Masalah sosial ini memang tidak selalu muncul di Indonesia. Akan tetapi, masalah ini bisa muncul sewaktu-waktu. Masalah ini juga termasuk masalah sosial yang serius. Selain itu, juga perlu tindakan yang cepat untuk mengatasinya. Akibat dari masalah sosial konflik sara ini, dapat terjadinya sebuah perpecahan. Selain perpecahan, akibat yang timbul karena konflik sara ini adalah terganggunya pembangunan-pembangunan yang ada.

Karena akan memicu hubungan antara 2 kelompok yang terlibat. Konflik sara ini berbagai macam. Ada yang mempermasalahkan negara, ras, agama, warna kulit, suku bangsa, dan lain-lain. Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya konflik sara seperti ini adalah karena tidak dapat menerima sebuah perbedaan yang terjadi di masyarakat. 10. Lingkungan hidup Masalah sosial yang masuk kedalam kategori lingkungan hidup contohnya seperti pencemaran lingkungan.

Contoh lainnya seperti banjir. Meskipun masuk ke dalam kategori bencana alam, tetapi salah satu faktor penyebab banjir juga berhubungan dengan manusia. Banjir yang disebabkan karena manusia bisa terjadi karena seringnya membuang sampah ke sungai. Selain itu, kurangnya daerah resapan air untuk menampung air dengan volume yang banyak. Permasalahan ini sangat berdampak pada keberlangsungan hidup masyarakat. Meskipun terkadang perilaku manusia lah yang menyebabkan banjir terjadi. Akan tetapi, kehadiran banjir tersebut adalah situasi yang tidak diinginkan oleh manusia.

11. Pelecehan seksual kasus pelecehan seksual adalah kasus yang meningkat dari tahun ke tahun. Kasus ini adalah masalah sosial yang sangat serius yang ada di Indonesia. Sudah banyak sekali kasus yang terungkap dan masuk ke jalur hukum untuk pelecehan seksual. Namun, pelecehan seksual di luar sana masih sangat banyak. Banyak korban-korban yang tidak berani untuk melapor jika mengalami pelecehan seksual. Pelecehan seksual tidak selalu terjadi secara langsung.

Zaman sekarang, di media sosial pun banyak ditemukan pelecehan seksual. Pelecehan seksual sering sekali dialami oleh para wanita dan anak-anak. Hal ini sudah pasti sangat mengganggu masyarakat. 12. Korupsi Masalah sosial yang selalu saja ada di Indonesia, korupsi. Korupsi adalah masalah sosial yang harus diatasi dengan serius. Masalah korupsi ini seperti tidak ada habisnya di Indonesia. Setiap tahun, masyarakat Indonesia selalu saja harus menghadapi pemerintahnya sendiri yang melakukan korupsi.

Salah satu cara untuk membantu memberantas korupsi adalah dengan mempertegas kembali hukum mengenai tindakan korupsi. Jika dilihat dari kasus-kasus sebelumnya, hukuman yang dijatuhkan kepada para maling uang rakyat ini sering kali tidak adil.

13. Kesenjangan hukum “Hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah”. Kesenjangan hukum adalah masalah sosial yang sangat terpampang jelas di Indonesia. Hukum yang seharusnya adil kepada masyarakat justru tidak membela rakyat kecil. Ini adalah masalah yang tidak ada habisnya di Indonesia.

Satu-satunya yang bisa mengatasi hal ini adalah pemerintah itu sendiri. Jika pemerintah selalu berpihak kepada golongan atas, maka masalah ini tidak akan pernah selesai. Konsep Dasar Sosiologi Hukum Inilah beberapa informasi mengenai masalah sosial dan contoh-contoh masalah sosial yang ada di Indonesia. Temukan hal-hal menarik lainnya mengenai masalah sosial di www.gramedia.com. Gramedia sebagai #SahabatTanpaBatas akan selalu membantu Grameds menemukan buku-buku yang dicari.

Baca juga artikel “Contoh Sosial” : • Pengertian Perubahan Sosial • Pengertian Lembaga Sosial • Pengertian Struktur Sosial • Daftar Suku Bangsa di Indonesia • Pengertian Diferensiasi Sosial Sumber: berbagai sumber Penulis: Wida Kurniasih Kategori • Administrasi 5 • Agama Islam 126 • Akuntansi 37 • Bahasa Indonesia 95 • Bahasa Inggris 59 • Bahasa Jawa 1 • Biografi 31 • Biologi 101 • Blog 23 • Business 20 • CPNS 8 • Desain 14 • Design / Branding 2 • Ekonomi 152 • Environment 10 • Event 15 • Feature 12 • Fisika 30 • Food 3 • Geografi 62 • Hubungan Internasional 9 • Hukum 20 • IPA 82 • Kesehatan 18 • Kesenian 10 • Kewirausahaan 9 • Kimia 19 • Komunikasi 5 • Kuliah 21 • Lifestyle 9 • Manajemen 29 • Marketing 17 • Matematika 20 • Music 9 • Opini 3 • Pendidikan contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah • Pendidikan Jasmani 32 • Penelitian 5 • Pkn 69 • Contoh ancaman dari dalam diri sendiri yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa adalah Ekonomi 15 • Profesi 12 • Psikologi 31 • Sains dan Teknologi 30 • Sastra 32 • SBMPTN 1 • Sejarah 84 • Sosial Budaya 98 • Sosiologi 53 • Statistik 6 • Technology 26 • Teori 6 • Tips dan Trik 57 • Tokoh 59 • Uncategorized 31 • UTBK 1

Tugas PKN kelompok 3




2022 www.videocon.com