Upacara adat jawa timur

upacara adat jawa timur

Upacara adat daerah Jawa Timur disertai gambar dan keterangan atau penjelasannya merupakan uraian yang menarik untuk di baca.

upacara adat jawa timur

Hal ini karena ada banyak tradisi di propinsi Jawa Timur yang belum kita ketahui bersama. Mulai dari kebiasaan adat kelahiran, pernikahan sampai kematian, semua ada diatur dan sampai kini masik lestari didaerah tersebut. Beberapa tradisi atau upacara di daerah Jawa Timur ada yang asli warisan budaya masyarakat lokal, dan ada pula yang sudah terjadi pembauran dengan budaya lain.

Tidak jarang ditemukan nuansa religi ada pada saat pelaksanaan upacaranya. Selain mengetahui, sebaiknya kita sebagai warga negara Indonesia yang baik juga ikut berpartisipasi dalam menjaganya, jangan sampai di klaim oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Apapun ceritanya, budaya nusantara adalah kekayaan Indonesia yang tidak bisa di nilai oleh materi. Pemerintah setempat sebaiknya mulai berpikir bagaimana kebiasaan adat di Jawa Timur dapat menambah kenaikan ekonomi daerah.

Misalnya dikemas semenarik mungkin sehingga mendatangkan para turis untuk mengunjunginya. Ini berdampak pada ekonomi sekitar wilayah tersebut, baik dari sisi alat transportasi darat, alat transportasi laut dan alat transportasi udara serta penginapan. Kita berpikir positif saja, semoga hal ini sudah terpikirkan oleh pejabat yang kini sedang menjabat.

Diblog ini kami sudah menuliskan banyak informasi mengenai upacara adat Indonesia yang meliputi: upacara adat Aceh, upacara adat Sumatera Utara, upacara adat Sumatera Barat, upacara adat Lampung, upacara adat Sumatera Selatan, upacara adat Jawa Tengah dan upacara adat jawa timur adat Jawa Barat.

Semua ini kami sampaikan kepada pembaca supaya pengetahuan Anda mengenai budaya Indonesia tidak parsial alias sepotong – sepotong. Ada yang memiliki kesamaan, namun ada juga yang berbeda antar tradisi satu daerah dengan daerah lainnya. Semua menjadi satu bingkai khazanah Indonesia. Oke, tanpa berlama – lama lagi, langsung saja kita bahas satu persatu topik tulisan kita kali ini. Kumpulan Mengenai Upacara Adat Jawa Timur yang Menarik Untuk sementara, ada belasan yang kami kumpulkan. Kedepannya akan terjadi perbaikan atau penambahan sesuai dengan kebutuhan.

Sumber : Starjogja Upacara yang pertama di Jawa Timur adalah terkait dengan kelahiran bayi. Dimana ketika bayi sudah lahir, masyarakat Jawa Timur umumnya menggelar acara selametan yang dikenal dengan sebutan acara Brokohan. Digelarnya acara ini dengan mengundang orang orang terdekat, sanak famili serta jiran tetangga. Semua dilibatkan pada acara guna mensyukuri kedatangan bayi. Ari-ari jabang bayi upacara adat jawa timur hanyutkan ke laut dilengkapi dengan bunga.

Ada bunga 7 rupa jenisnya yang sudah ditentukan, kendi, kain putih dan jarum. Nyanyian daerah selalu ikut mengeligi ketika ari-ari dihanyutkan. Jika tidak terdapat laut, sungai menjadi alternatif untuk menghanyutkan ari-ari. Meski begitu, laut menjadi pilihan utama dalam menerapkan upacara ini. 3. Upacara Adat Kasada Sumber : WordPress Selanjutnya adalah tradisi Kasada.

upacara adat jawa timur

Dimana masyarakat Suku Tengger di Jawa Timur yang sering melakukannya. Tradisi ini merupakan salah satu wujud rasa syukur masyarakat Tengger kepada Tuhan. Tujuan dari tradisi ini ialah : meminta berkah, menjauhkan malapetaka, wujud syukur atas karunia yang diberikan Tuhan kepada masyarakat Tengger. Informasi lain menyebutkan, upacara ini ialah upacara untuk memperingati pengorbanan seorang Raden Kusuma anak Jaka Seger dan lara Anteng. Adapun untuk waktu pelaksanaanya, kegiatan adat ini dilaksanakan pada tanggal 14 sampai 16 bulan Kasada atau saat bulan purnama tampak di langit secara utuh.

Cuma setahun sekali digelar oleh masyarakat setempat. 4. Tradisi Temu Manten Pegon Sumber : Pagiberbicara Tradisi Temu Manten Pegon yang berlaku di Jawa Timur merupakan proses pertemuan dari kedua mempelai, pria dan wanita. Manten Pegon (Pengantin Pegon) adalah pengantin yang dilakukan secara khusus, yaitu dirias sedemikian rupa.

Penganten ini dirias berdasarkan akulturasi budaya antara Arab, Jawa, Belanda, dan China yang memang menjadi warna dominan dalam busana para pengantin dan rombongan pengantin. Surabaya menjadi daerah yang sering melakukan kebiasaan adat ini. Hal yang membuat unik adalah, saat prosesi pertemuan pengantin ini digelar, yaitu dengan cara mengarak pihak pengantin pria dan rombongan untuk menjemput pengantin wanita.

Sampai dilokasi wanita, kedua pengantin selanjutnya juga diarak bersama-sama. Suasana ini membuat semakin meriah. upacara adat jawa timur. Upacara Tahlilan Kematian Kebiasaan adat Tahlilan Kematian dapat dijumpai pada daerah kota Surabaya yang dikenal sebagai kota pelabuhan. Makna dari Tahlilan sendiri ialah prosesi kirim doa kepada pihak yang sudah terlebih dahulu meningga dunia.

Tujuan dari kebiasaan atau hukum adat ini supaya arwahnya mendapatkan ketenangan dan tempat terbaik di sisi Tuhan. Diampuni segala dosanya dan diterima amal ibadahnya. Bagi sebagian umat Islam tidak sepaham dengan kegiatan tahlilan ini. Mereka mempunyai alasan untuk tidak sepaham. Umumnya, upacara Tahlilan ini dilakukan pada hari ke-1, ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, 1 tahun, dan 3 tahun usai kematian dari pihak yang meninggal. Kebiasaan ini memang perpaduan antara budaya Islam dengan budaya Hindu dimana dahulu memang terjadi proses akulturasi budaya yang hingga kini masih tetap terjaga keberadaannya di kalangan masyarakat Kota Surabaya.

Proses pembauran budaya Islam dengan Hindu dan Budha menandakan terjadinya sebuah dialog peradaban di sejarah Indonesia. 6. Tradisi Larung Ari –Ari Bukan cuma di Jawa Barat saja, tradisi Larung Ari – Ari ternyata ada di Jawa Timur. Kebiasaan Larung Ari-ari ini merupakan prosesi upacara adat melarung atau menghanyutkan ari – ari si jabang bayi yang dikenal di Kota Surabaya.

Ari – ari si bayi akan dilarung bersama dengan bunga 7 rupa, kendil, kain putih, dan jarum ke laut. Prosesi upacara Larung Ari – Ari ini digelar dengan diiringi proses menyanyikan tembang Macapat yaitu Dhandhang Gula disertai alunan alat musik tradisional Indonesia. Usai kebiasaan adat ini dilaksanankan, kemudian akan ditutup dengan pesta merayakan kelahiran si bayi dengan meriah.

Selain sebagai kebiasaan, tradisi ini bertujuan untuk mengharapkan anak bisa hidup aman sentosa ketika dewasa kelak. Diauhkan dari mara bahaya, upacara adat jawa timur rezekinya. Sebagian masyarakat tidak sampai begitu ketika memperlakukan larung ari-ari sang bayi. Cukup sekedar ditanam saja didalam tanah. Beda daerah beda perlakukan. 7. Tradisi Nakokake Tradisi Nakokake merupakan prosesi dimana seorang laki – laki yang ingin melamar seorang gadis pujaannya dengan cara menanyakan atau dalam Bahasa Jawa “Nakokake”.

Hal yang ditanyakan ialah menanyakan kondisi status upacara adat jawa timur sang gadis pujaan hati apakah dirinya sudah memiliki pasangan pendamping atau belum alias single. Nah, jika sang gadis memberikan jawabannya berupa keterangan bahwa dirinya belum memiliki suami, maka yang dilakukan pihak lelaki ialah meneruskannya dengan prosesi lamaran ke rumah sang upacara adat jawa timur.

Nakokake ini dilaksanakan dengan cara mengirimkan wakil atau utusan ke pihak keluarga sang gadis. 8. Tradisi Peningsetan Sumber : WordPress Tradisi Peningsetan merupakan upacara melamar gadis yang biasa dilakukan di Kota Surabaya. Saat prosesi upacara Nakokake sudah selesai dan hasilnya positif bahwa sang gadis masih single, maka Peningsetan akan segera dilaksanakan bagi pihak keluarga laki – laki dengan datang ke pihak keluarga perempuan. Biasanya rumah tempat tianggalnya yang jadi tujuan kedatangan kaum pria.

Adapun kegiatan Peningsetan ialah proses ramah tamah yang disertai dengan acara makan bersama antara rombongan pihak pelamar lelaki dengan pihak yang dilamar perempuan dimana hal ini wajib dilakukan sebelum proses pernikahan digelar. Hanya saja, momen ini sudah menjadi momen yang serisu bagi pihak pria dan wanita.

9. Kebiasaan Adat Tingkeban Sumber : Instagram Tradisi Tingkeban merupakan upacara selametan yang berlaku kepada ibu yang sedang hamil. Namun tidak semua ibu hamil dapat melakukan kebiadaan ini. Hanya dilakukan kepada ibu hamil yang usia kehamilannya sudah memasuki usia tujuh bulan.

Selain itu, Tingkeban umumnya dilakukan kepada anak pertama. Serangkaian prosesi acara adat dimana si ibu hamil ini akan dilakukan. Tujuannya upacara adat jawa timur anak dalam kandungan lahir dengan selamat dan sehat wal afiat serta dijauhkan dari segala macam penyakit. 10. Tradisi Babaran Tradisi yang berlaku di Jawa Timur pada poin ini adalah bernama Babaran. Babaran ialah upacara sebagai respon dari kelahiran bai yang sudah selamat.

Babaran ditujukan kepada tanda syukur kepada Sang Pencipta bahwa ibu dan anak yang diberikan keselamatan selama dalam proses melahirkan sang buah hati. Kebiasaan ini dikenal sebagai upacara adat yang sangat kental di kalangan warga Kota Surabaya.

Arti dari Babaran sendiri ialah melahirkan. Tidak heran jika upacara untuk merayakan kelahiran sang anak dan keselamatan sang ibu dikenal dengan kata tersebut. Seiring berjalan waktu, sebagian masyarakat sudah mulai meninggalkan kebiasaan ini. Mereka berpadangan bahwa kegiatan tersebut bukanlah menjadi hal yang penting untuk dilaksanakan.

Sumber : BudayaJawa.id Upacara adat jawa timur Sepasaran merupakan kegiatan syukuran yang dilaksanakan oleh keluarga yang sudah dikaruniai momongan. Hanya saja kegiatan adat ini ditujukan kepada momongan yang sudah menginjak usia 5 hari. Pada tahap ini, pihak keluarga yang merayakannya akan meggelar sebuah proses syukuran sebagai ungkapan tanda syukurnya karena telah dikaruniai momongan.

Kabarnya, tradisi Sepasaran juga bisa dijumpai di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Sepertinya memang kebiasaan adat asli Jawa yang sudah mengakar di tengah – tengah masyarakat. 12.

Tradisi Pitonan Sumber : Pojokpitu Pada poin ini kita masuk pada pembahasan yang bernama Pitonan. Tradisi Pitonan ialah upacara selametan yang digelar oleh masyarakat Kota Surabaya guna merayakan kelahiran anaknya dimana usia sang anak sudah menginjak usia tujuh bulan. Tujuan dari digelarnya Pitonan ialah sebagai wujud simbol rasa syukur mereka atas kelahiran sang buah hati sang sudah diberkahi hingga umur 7 bulan. 13. Tradisi Labuhan Pantai Ngliyep Sumber : Blogger Upacara Labuhan Pantai Ngliyep berlaku pada warga yang dekat dengan daerah laut.

Kebiasaan ini memiliki tujuan untuk menjaga keselamatan para nelayan dari ganasnya ombak pantai Selatan serta memohon berkah dengan cara mempersembahkan upeti kepada penguasa gaib sesuai dengan kepercayaan masyarakat setempat.

Kabarnya, tradisi yang mengandung mistis ini sudah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu, meskipun dulunya tidak sebesar sekarang ini. Ketika puncak acara yang disebut Labuh atau Larung, aneka sesaji berupa makanan lezat serta berbagai hidangan sakral lainnya diceburkan ke laut. Umumnya dalam pemilihan waktu labuh ini, yaitu pada pertengahan bulan Maulud. 14. Tradisi Tedhak Siten Sumber : Nyonyamelly Tradisi Tedhak Siten dilakukan karena adanya kepercayaan sebagian warga setempat bahwa tanah mempunyai kekuatan gaib.

Selain itu, adanya kepercayaan bahwa tanah dijaga oleh Bethara Kala. Dan karena itu si anak perlu dikenalkan kepa­da Bathara Kala sipenjaga tanah, melalui upacara yang disebut Tedhak Siten, agar Bathara Kala tidak marah. Sebab apabila Bathara Kala marah, akan menimbulkan suatu bencana bagi si- anak itu.

Sumber : Detik.com Setiap tahun masyarakat Banyuwangi berupaya keras mempertahankan kemurnian dan kesakralan kebudayaan mereka. Munculnya tradisi ritual kebo-keboan berawal karena terjadinya musibah Pagebluk. Ketika itu, semua warga diserang penyakit dan tanaman diserang hama yang merugikan manusia. Ada banyak warga kelaparan dan mati akibat penyakit misterius. Nah, seorang sesepuh, bernama Mbah Karti kabarnya mendapat wangsit dari semedinya di bukit untuk menggelar ritual kebo-keboan dan mengagungkan Dewi Sri.

Keajaiban yang tidak disangka muncul ketika ramai warga menggelar ritual Kebo-Keboan. Ada warga yang sakit mendadak sembuh dan hama yang menyerang tanaman padi sirna. Sejak saat itu, ritual kebo-keboan dilestarikan oleh masyarakat setempat.

Muncul perasaan takut bagi mereka akan terkena musibah kembali jika tidak melaksanakannya. Sumber : Blogger Tradisi Labuh Sesaji merupakan salah satu kegiatan tahunan yang digelar di Telaga Sarangan. Waktu pelaksanaan tradisi ini pada bulan Ruwah, hari Jum’at Pon. Upacara Labuh Sesaji bertujuan sebagai ucapan terima kasih dari masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Masyarakat setempat beranggapan bahwa Telaga Sarangan merupakan hadiah dari Tuhan. Telaga tersebut dianggap bisa mendatangkan kemakmuran bagi masyarakat Magetan khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

17. Tradisi Kasodo Pada poin ini, kita sampai di tradisi Kasodo yang digelar setiap tahun pada bulan purnama. Melalui kebiasaan adat ini, harapan masyarakat adalah memohon panen yang berlimpah atau meminta tolak bala dan kesembuhan atas berbagai penyakit. Kegiatan ini dilakukan dengan mempersembahkan sesaji, yaitu dengan melemparkannya ke kawah Gunung Bromo. Masyarakat Tengger lainnya harus berada di tebing kawah dan meraih untuk menangkap sesaji yang dilemparkan ke dalam kawah.

Baca : Permainan Tradisional Jawa Timur Demikian sudah uraian mengenai upacara adat khas Jawa Timur kami sampaikan pada kesempatan yang baik ini.

upacara adat jawa timur

Semoga bermanfaat kepada para pembaca. Jangan sungkan untuk menyampaikan kritik dan saran untuk pengembangan blog ini kedepannya. Related posts: • 16 Alat Musik Tradisional Khas Jawa Timur, Nama dan Gambar • 12+ Alat Musik Tradisional Khas Jawa Barat beserta Gambar dan Penjelasan • 13 Nama Senjata Tradisional Sumatera Utara, Gambar dan Penjelasan • 35+ Tarian Adat Daerah Jawa Timur dan Penjelasannya serta Gambar Posted in Adat, Daerah, Sosial Budaya Tagged Adat, Jawa Timur, Tradisi, Upacara Post navigation Upacara adat Jawa Timur itu ada banyak.

Bukan cuma yang sering kita lihat sehari-jari aja. Ternyata ada banyak nama upacara adat yang jarang banget kita ketahui. Kalau kamu ditanya tentang upacara adat yang ada di Jawa Timur, kira-kira jawabanmu apa?

Mungkin yang paling sering diadakan aja, seperti ruwatan atau tahlilan kematian. Padahal, ada lebih banyak lagi lho upacara adat ini. Tingkeban atau disebut juga dengan mitoni.

Seperti namanya, mitoni berasal dari kata pitu atau tujuh. Maksudnya, upacara ini dilakukan pada saat usia kehamilan tujuh bulan. Dan, dilaksanakan pada kehamilan yang pertama. Tingkeban dilaksanan dengan cara berikut ini: Siraman, dilakukan oleh 7 orang sesepuh, termasuk ayah dan ibu wanita yang sedang hamil, serta suami dari perempuan yang hamil.

Proses ini bermakna memohon doa restu agar persalinan lancar dan anak yang dilahirkan selamat serta sehat jasmani dan rohani. Tahapan upacara selanjutnya adalah memasukkan telur ayam dan cengkir gading. Calon bapak memasukkan telur ayam mentah ke dalam sarung atau kain yang digunakan calon ibu melalui perut sampai telur pecah.

majalahlangitan.com Lalu, menyusul kedua cengkir gading yang diteroboskan dari atas ke dalam kain yang digunakan calon ibu. Di bawah sarung, calon nenek menerima dua cengkir gading kemudian digendong dan diletakkan sementara di kamar. Prosesi ini adalah simbol harapan, semoga bayi yang akan dilahirkan dengan mudah dan lancar. Ganti Pakaian, calon ibu akan mengenakan kain putih yang digunakan sebagai dasaran pakaian pertama. Kain putih tersebut sebagai lambang kalau bayi yang akan dilahirkan adalah suci dan mendapat berkah.

Lalu, calon ibu akan berganti baju sebanyak 6 kali dan diiringi dengan pertanyaan, “Sudah pantas belum?”. Kemudian dijawab oleh ibu-ibu yang hadir upacara adat jawa timur pantas.”, sampai yang ketujuh kali dan dijawab “Pantas.”.

Oia, kain yang digunakan dalam upacara ganti busana ini dipilih motif yang semuanya bermakna baik. Upacara Adat Jawa Timur Kasada newshub.id Upacara Yadnya Kasada atau Kasodo, tradisi ada yang selalu dilaksanakan oleh masyarakat Suku Tengger di kawasan Bromo, Tengger, Jawa Timur. Masyarakat Tengger biasanya melakukan upacara Kasada di Pura Luhur Poten yang letaknya di Kaki Gunung Bromo.

Bagi masyarakat Suku Tengger, Gunung Bromo atau disebut Brahma merupakan gunung suci. Nah, di gunung inilah upacara Kasada rutin dilakukan tiap tahunnya. Biasanya dilaksanakan saat tengah malam sampai dini hari di bulan kesepuluh (kasodo) pada penanggalan Jawa.

Upacara ini dimaksudkan untuk memberikan penghormatan kepada leluhur. Selain itu, biasanya dilakukan juga pengangkatan seorang tabib atau dukun di tiap desa. Biasanya, beberapa hari sebelum upacara Kasada dimulai, masyarakat Tengger akan membuat sesajen. Isinya macam-macam, berbagai hasil pertanian dan ternak.

tribunnews.com Saat malam upacara berlangsung, masyarakat akan membawa ongkek yang isinya sesaji menuju ke pura. Kalau waktu sudah menunjukkan tepat tengah malam, upacara pelantikan dukun dan pemberkatan umat akan berlangsung. Dan, ketika upacara selesai, ongkek-ongkek akan dibawa ke puncak gunung.

Di puncak Gunung Bromo, sesaji akan dilemparkan ke kawah sebagai simbol pengorbanan. Itu sebagai tanda wujud terimakasih mereka kepada Tuhan atas upacara adat jawa timur pertanian dan ternak yang melimpah. Upacara Adat Jawa Timur Labuh Sesaji tripjalanjalan.com Labuh sesaji biasanya dilakukan oleh masyarakat di sekitar Telaga Sarangan, Magetan, Upacara adat jawa timur Timur. Sebenarnya, upacara ini adalah bentuk syukur kepada Tuhan dari masyarakat sekitar Telaga Sarangan.

Tradisi labuh sesasi atau larung sesaji biasanya dilaksanakan tiap bulan Sya’ban. Tepatnya di hari Jum’at Pon. Pada hari Sabtu sampai Minggu Kliwon-nya, diadakan ritual ini oleh Pemda Magetan yang bisa dilihat seluruh warga. Upacara labuh sesaji diawali dengan kirab tumpeng gono bahu. Kirab ini dimulai dari Kelurahan Sarangan menuju kepanggung di pinggir Telaga Sarangan. Biasanya, pemberangkatan kirab dimulai pukul 10 pagi dari balai kelurahan. Perjalanan kirab ini peserta akan membawa sesaji dengan berjalan kaki, kecuali empat pasukan berkuda.

antarafoto.com Tradisi ruawatan merupakan upacara atau ritual upacara adat jawa timur yang sampai saat ini masih dilakukan oleh masyarakat Jawa. Upacara ini biasanya dikhususkan bagi orang yang nandang sukerta (orang yang ada di dalam dosa). Nama ruwatan atau meruwat bisa diartikan sebagai mengatasi atau menghindari sesuatu kesulitan batin dengan cara mengadakan ritual.

lakumanah.com Biasanya, ritual yang dilakukan menggunakan media wayang kulit. Dan, cerita yang dibawakan biasanya Murwakala. Kalau kata ruwat sendiri berasal dari istilah Ngaruati. Makananya adalah menjaga kesialan Dewa Batara. Jadi, upacara ruwatan biasanya dilakukan ketika seseorang atau masyarakan mengalami kesulitan hidup. Misalnya seperti anak sakit, anak tunggal yang tidak punya saudara, sulit jodoh, dan lain sebagainya.

Tahlilan Kematian umroh.com Untuk masyarakat muslim, tahlilan mungkin sudah tidak asing lagi. Hampir di tiap daerah di Indonesia ada upacara ini.

Termasuk di Jawa Timur tentunya. Dalam Islam, tahlil adalah bacaan laa ilaaha illallaah atau kalimat tauhid yang menyatakan tidak ada Illah selain Allah. Bacaan tersebut terdapat dalam syahadat dan biasanya digunakan untuk berdzikir. Dalam tradisi Jawa kalimat tahlil ini biasanya digunakan untuk salah satu acara, yaitu tahlilan.

upacara adat jawa timur

Sebagai bacaan dzikir untuk mendoakan orang yang sudah meninggal dunia. Selain membaca tahlil, tahlilan juga diisi dengan membaca al-Qur’an dan juga doa bersama. Biasanya, tahlilan kematian ini diadakan oleh pihak keluarga yang ditinggalkan. Acara tahlilan pun biasanya dihadiri keluarga, tetangga, dan kerabat. Tradisi ini diadakan untuk peringatan pada hari ke 1, 3, 7, 40, 100, dan 1000 hari setelah hari kematian seseorang. Konon, tahlilan ini awalnya upacara adat jawa timur oleh Walisongo saat menyebarkan agama Islam di Indoensia.

Tradisi ini adalah perpaduan ajaran islam dengan budaya Hindu. Ya, karena dulu, sebelum kedatangan Walisongo, di Nusantara ini, sebagian besar masyarakat Jawa masih menganut agama Hindu. Itu karena pengaruh dari kerajaan-kerajaan Hindu di Pulau Jawa. Kalau dalam agama Hindu, ada ritual penghormatan untuk orang yang sudah meninggal.

Peringatan diadakan pada hari ke 1, 3, 7, dan seterusnya. Sementara itu, Walisongo menyebarkan agama Islam dengan perlahan. Sebab, masyarakat Jawa, dulu masih belum dapat terbuka dengan hal-hal baru. Karena itulah, agar dakwah Islam bisa diterima masyarakat Jawa, Walisongo menyelipkan nilai-nilai Islam dalam ritual yang sudah ada. Seperti tahlilan ini, diisi dengan doa-doa yang disyariatkan dalam Islam. Kebo-Keboan photobanyuwangi.blogspot.com Upacara kebo-keboan adalah upacara adat yang diadakan oleh masyarakat Banyuwangi.

Biasanya, upacara ini diadakan untuk memohon turunnya hujan saat terjadi kemarau panjang. Kebo-keboan juga dimaksudkan untuk penolak bala. Dalam upacara ini, selain sebuah ritual, juga ada atraksi yang menarik. Sehingga, atraksi tersebut menjadi menarik untuk dilihat dan dijadikan event wisata tahunan di Banyuwangi. Kebo-keboan diadakan dengan mendandani orang menjadi mirip kerbau. Mereka diberi tanduk dan seluruh tubuhnya diwarnai hitam.

etnis.id Mendandani manusia menjadi kerbau ini melambangkan kalau kerbau adalah binatang yang kuat. Selain itu, kerbau menjadi tumpuan masyarakat yang berprofesi upacara adat jawa timur petani.

Upacara kebo-keboan ini biasanya dilaksanakan di hampir semua Desa Osing, Kecamatan Singojuruh. Misalnya saja di Desa Alasmalang dan Desa Aliyan. Kalau di Desa Aliyan, penentuan siapa yang menjadi kerbau tidak ditentukan oleh sesepuh. Di desa ini, orang yang didandani sebagai kerbau ditentukan oleh arwah leluhur. Berbeda dengan Desa Alasmalang, di desa ini orang yang menjadi kerbau dipilih oleh pemuka adat. Penutup Upacara adat Jawa Timur dan penjelasannya lengkap dengan gambarnya di atas semoga dapat menambah wawasan tentang khasanah budaya nusantara ya.
Zainul Arifin • 08/01/2022 • Subscribe • Berita Baru, Surabaya – Upacara adat adalah sebuah upacara atau kebiasaan yang telah diwariskan oleh nenek moyang pada suatu daerah tertentu, umumnya tidak terlepas dari sebuah peristiwa yang terjadi pada zaman dahulu.

Oleh karena itu upacara adat suatu daerah biasanya berbeda-beda, disebabkan sejarah dari daerah pasti berbeda, pada hal ini khusus upacara adat yang ada pada daerah Jawa Timur banyak berkaitan dengan sumber mata air maupun pertanian. Upacara digelar sebagai wujud syukur kepada leluhur maupun Upacara adat jawa timur Yang Maha Esa.

Berikut 10 upacara adat di Jawa Timur: • Labuh Sesaji dan Larung Sesaji Tradisi Labuh Sesaji merupakan upacara adat Jawa Timur yang waktunya tahunan diselenggarakan di Telaga Sarangan. Tradisi ini diadakan pada bulan Ruwah, hari Jum’at Pon yang bertujuan sebagai ucapan terima kasih dari masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Masyarakat Jawa Timur beranggapan Telaga Sarangan merupakan hadiah dari Tuhan. Telaga tersebut dianggap mendatangkan kemakmuran bagi masyarakat Magetan khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Larung sesaji adalah sebuah tradisi upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat Jawa Timur yang berada di daerah pesisir pantai utara dan pantai selatan. Upacara adat Larung sesaji berbeda dengan upacara adat Labuh sesaji. Berita Terkait : Lansia Rentan Covid-19, Gubernur Jatim: Beri Mereka Dukungan Untuk Melewati Masa Sulit Pandemi Ini Upacara ini dapat dilakukan dengan cara menghanyutkan sesajen ke laut dalam rangka sebagai tanda rasa syukur dari hasil tangkapan ikan selama mereka melaut.

Upacara larung sesaji ini umumnya dilaksanakan pada tanggal 1 muharram atau satu suro. • Upacara Adat Ngurit Upacara Ngurit adalah upacara yang berhubungan dengan pertanian. Upacara dimaksudkan untuk permohonan perlindungan dan ucapan terima kasih kepada Sang Pencipta. Upacara ini dilakukan pada saat menaburkan benih. Pada saat benih ditabur diadakan selamatan dengan sajian nasi golong, jenang abang, jenang sengkolo, cok bakal, dan jeroan ayam (isi perut ayam). Cok bakal merupakan sajian inti dalam budaya Jawa.

Upacara dimaksudkan agar benih yang ditaburkan dapat subur. Penduduk Desa Sawo dan Grogol, Ponorogo, Jawa Timur yang sebagian besar menganut Islam masih melaksanakan upacara ini. • Yadnya Kasada Upaca adat ini merupakan ritual yang digelar oleh orang-orang Suku Tengger, Bromo, Jawa Timur.

Konon kabarnya, kebiasaan ini adalah upacara untuk memperingati pengorbanan seorang Raden Kusuma anak Jaka Seger dan lara Anteng. Upacara adat Kasada Bromo diadakan setiap setahun sekali saat datangnya bulan purnama pada bulan Kasada atau kesepuluh menurut kalender Jawa.

Namun, menurut kalender Tengger, upacara dilakukan pada bulan ke 12. Warga yang ikut upacara berkumpul di hamparan pasir (segara wedhi) untuk berdoa dan memberi sesaji di kaki Gunung Bromo.

Tujuan upacara ini adalah sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, memohon agar hasil panen melimpah, dan menolak bala atau bahaya. • Upacara Adat Kebo-keboan Upacara adat ini merupakan tradisi turun temurun yang dilakukan masyarakat Suku Osing, Banyuwangi, Jawa Timur. Asal-usul tradisi kebo-keboan ini bersaal karena banyaknya sebuah musibah pageblok. Pada saat waktu itu masyarakat terkena wabah penyakit dan juga tanaman yang dapat merugikan warga daerah tersebut.

Banyak dari warga yang meninggal dan juga kelaparan akibat adanya penyakit misterius tersebut. Berita Terkait : Semangat Perangi Hoax, Beritabaru.co Launching Biro Tuban Nah, pada saat terjadi bencana wabah tersebut, salah satu dari sesepuh bernama mbah Karti mendapat wangsit atau mimpi dari semedinya di sebuah bukit untuk melakukan kebo-keboan dan juga mengangungkan Dewi Sri. Singkat cerita ada sebuah keajaiban yang tak disangka muncul ketika waga upacara adat jawa timur melaksanakan ritual Kebo-Keboan.

Banyak dari warga yang sakit mendadak menjadi upacara adat jawa timur, juga hama yang menyerang tanaman warga hilang tidak tau kemana. Akhirnya mulai saat itu ritual kebo-keboan terus dilestarikan oleh masyarakat daerah itu, kemudian muncul perasaan resah dan juga takut jika tidak melakukan tradisi kebo-keboan tersebut. Upacara dilakukan dengan cara merias diri hingga menyerupai hewan Kerbau lengkap dengan tanduk buatan. Kerbau yang dirias digambarkan tengah membajak sawah.

Selain itu, upacara yang berusia ratusan tahun ini sebagai permintaan atau harapan supaya mendapatkan tanah yang subur, panen melimpah dan tidak terserang hama. Upacara ini dilakukan setiap awal bulan suro sesuai penanggalan Jawa. • Upacara Adat Dam Bagong Upacara Dam Bagong dilakukan oleh petani di Kabupaten Trenggalek sebagai bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan memperingati jasa pembuatan DAM Bagong, yaitu Manak Sopal.

Upacara dilakukan saat peringatan bersih DAM Bagong yang dilakukan dengan melempar kepada upacara adat jawa timur yang baru disembelih ke Bendungan Dam Bagong.

upacara adat jawa timur

Kepala kerbau tersebut lalu diperebutkan masyarakat sekitar. Berita Terkait : Minta Pemerintah Cabut Larangan Mudik, PWNU Jatim: Vaksinasi Berhasil Upacara dilanjutkan dengan Ruwatan Wayang Kulit dengan cerita Udan Mintoyo serta ziarah ke makam Menak Sopal. Tradisi Bersih Dam dilakukan setiap memasuki bulan Selo, tepatnya Jumat Kliwon.

• Upacara Adat Keduk Beji Upacara Adat Keduk Beji adalah upacara bersih sendang. Upacara ini digelar warga Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Tradisi leluhur ini dilakukan sejak lama hingga sekarang. Upacara sebagai wujud peringatan hilangnya Raden Ludrojoyo yang hilang saat Tapa Kungkum (berendam) di Sendang Tawun. Upacara ini biasanya digelar setiap hari Selasa Kliwon jelang bulan Suro berdasarkan perhitungan kalender Jawa Islam.

Upacara diawali dengan pengedukan atau dibersihkannya sendang (kolam) dari kotoran. Uniknya, pembersihkan ini hanya boleh dilakukan oleh laki-laki dengan mengambil semua kotoran dengan upacara adat jawa timur memukul menggunakan ranting yang diiringi tabuhan gendang. Saling memukul difilosofikan sebagai sikap legowo, tidak boleh mendendam satu sama lain. Lalu, upacara dilanjutkan dengan tari persemahan Galih Nogo Seno dan penyileman (menyelam ke pusat sumber air, untuk menggantikan kendi yang dilakukan oleh keturunan Ludrojoyo).

• Upacara Adat Grebegan Grebegan adalah salah satu tradisi upacara adat yang memiliki sifat kesyukuran, dilakukan bersama-sama oleh masyarakat suku Jawa dengan tokoh upacara adat jawa timur yaitu seorang raja. Upacara adat Grebegan ini dilaksanakan selama tiga kali dalam datu tahun, diantaranya yaitu pada tanggal 12 Mulud, 1 Syawal, dan juga tanggal 10 bulan ke-12 Masehi.

Pada saat upacara grebegan ini raja mengeluarkan sedekahnya berupa hasil alam seperti sayuran dan juga sejenisnya, umumnya sedekah ini dibentuk seperti bidang kerucut seperti gunung, yang akan di rebutkan oleh masyakat. • Upacara Temu Manten Pegon Upacara adat Temu Manten Pegon Jawa Timur adalah proses pertemuan antara pihak mempelai pengantin laki – laki dengan pihak mempelai pengantin perempuan.

upacara adat jawa timur

Tradisi ini terkenal di Kota Surabaya. Manten Pegon atau Pengantin Pegon merupakan pengantin yang dirias sedemikian rupa. Riasan yang dilakukan merupakan akulturasi budaya antara Arab, Jawa, Belanda, dan China.

Gabungan budaya tersebut menjadi warna dominan dalam busana para pengantin dan rombongan pengantin. Saat prosesi pertemuan pengantin ini dilaksanakan ternyata dengan cara diarak yaitu mengarak pihak pengantin pria dan rombongan guna menjemput pengantin perempuan dimana setelah ditemukan keduanya kembali diarak keliling oleh rombongan.

Kegiatan ini menarik perhatian warga karena berlangsung cukup meriah. • Tedhak Siten Tedhak Siten merupakan upacara adat Jawa Timur yang diadakan karena adanya kepercayaan sementara orang bahwa tanah mempunyai kekuatan gaib.

Selain itu adanya kepercayaan bahwa tanah dijaga oleh Bethara Kala. Karenanya si anak perlu dikenalkan kepa­da Bathara Kala sipenjaga tanah melalui upacara yang disebut Tedhak Aiten supaya Bathara Kala tidak marah.

Keyanikan masyarakat sekitar, jika Bathara Kala marah, maka akan menimbulkan suatu bencana bagi si- anak itu. • Upacara Adat Ruwah Desa Ruwah Desa adalah salah satu jenis upacara adat Jawa Timur yang dilaksanakan pada Bulan Ruwah sebelum masuk bulan Ramadhan.

Tujuan dari tradisi Ruwah Desa ini yaitu untuk mendoakan nenek moyang mereka yang telah mendirikan atau Babad desa tersebut.

Selain untuk tujuan mendoakan nenek moyang tersebut, tradisi Ruwahan juga mempunyai tujuan untuk meminta agar selalu upacara adat jawa timur beri keselamatan dan ketentraman bagi penduduk desa. Demikian sedikit ulasan tentang Upacara Adat Jawa Timur yang harus kalian ketahui. Semoga dapat membantu semua masyarakat Indonesia khususnya para generasi muda agar dapat mengenal dan sekaligus melestarikan kebudayaan asli Negara Indonesia tercinta ini.

• Tags: Berita Baru Berita Baru Jatim Berita Jatim Beritabaru.co jatim.beritabaru.co Upacara Adat Jawa Timur KOMPAS.com - Upacara adat di Jawa Timur banyak berkaitan dengan sumber mata air maupun pertanian.

Upacara digelar sebangi wujud syukur kepada leluhur maupun Tuhan Yang Maha Esa. Sebagian upacara adat juga menyertakan sesaji dalam mengiringi doa. Berikut upacara adat di Jawa Timur: 1. Upacara Adat Ngurit Upacara Ngurit adalah upacara yang berhubungan dengan pertanian.

Upacara dimaksudkan untuk permohonan perlindungan dan ucapan terima kasih kepada Sang Pencipta. Upacara ini dilakukan pada saat menaburkan benih. Pada saat benih ditabur diadakan selamatan dengan sajian nasi golong, jenang abang jenang sengkolo cok bakal, dan jeroan ayam (isi perut ayam). Cok bakal merupakan sajian inti dalam budaya Jawa. Baca juga: 7 Upacara Adat di Bali, dari Ngaben hingga Galungan Upacara dimaksudkan agar benih yang ditaburkan dapat subur.

Berita Terkait Yadnya Kasada dan Janji Tengger kepada Bromo Upacara Yadnya Kasada, Ritual Warga Tengger Larung Kurban ke Kawah Gunung Bromo Mengenal Pahlawan Nasional dari Jawa Timur, dari Bung Karno hingga HOS Tjokroaminoto Mengenal Upacara Sudhi Wadani, Ritual Pindah Agama Hindu yang Dijalani Sukmawati di Buleleng Bali 7 Rumah Adat Jawa Timur, Keunikan, Ciri Khas, dan Fungsi Berita Terkait Yadnya Kasada dan Janji Tengger kepada Bromo Upacara Yadnya Kasada, Ritual Warga Tengger Larung Kurban ke Kawah Gunung Bromo Mengenal Pahlawan Nasional dari Jawa Timur, dari Bung Karno hingga HOS Tjokroaminoto Mengenal Upacara Sudhi Wadani, Ritual Pindah Agama Hindu yang Dijalani Sukmawati di Buleleng Bali 7 Rumah Adat Jawa Timur, Keunikan, Ciri Khas, dan Fungsi Ricuh Petani dan TNI di Deli Serdang, Ini Penjelasan Kodam Bukit Barisan https://medan.kompas.com/read/2022/01/05/225102178/ricuh-petani-dan-tni-di-deli-serdang-ini-penjelasan-kodam-bukit-barisan https://asset.kompas.com/crops/4hGJgnPaCP_k3oEPvR0OXYM0dQY=/30x0:619x393/195x98/data/photo/2022/01/05/61d5b456642e0.jpg
Upacara Adat Jawa Timur Upacara adat di Provinsi Jawa Timur dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu upacara adat yang berhubungan dengan daur hidup atau lingkaran hidup serta upacara upacara adat jawa timur yang berhubungan dengan keagamaan, kepercayaan, dan peristiwa alam.

upacara adat jawa timur

Jenis upacara adat yang berhubungan dengan daur hidup masyarakat Provinsi Jawa Timur, yaitu: • Masa kehamilan terdiri atas dua macam tahap upacara yaitu nglimani dan mitoni ( tingkeban). Nglimani dilaksanakan pada usia kandungan lima bulan, sedangkan mitoni ( tingkeban) dilaksanakan pada waktu kandungan si ibu berusia tujuh bulan.

• Masa kelahiran terdiri atas empat tahap upacara yaitu brokohan, puputan, sepasaran, dan selapanan. Brokohan dilaksanakan segera setelah bayi lahir untuk memohon keselamatan dan agar bayi menjadi anak baik.

Puputan yaitu upacara pada saat tali pusar bayi putus yang dilaksanakan setelah lepas Maghrib. Sepasaran yaitu upacara pada waktu bayi memasuki hari kelima setelah kelahiran. Upacara selapanan dilaksanakan pada hari ke-35 setelah kelahiran sesuai dengan weton.

• Masa kanak-kanak terdiri atas dua tahap upacara yaitu tedhak siten dan sapihan. Tedhak siten yaitu upacara turun tanah atau si bayi menginjakkan kakinya ke tanah untuk pertama kalinya. Upacara sapihan dilaksanakan bila si bayi sudah tidak menyusu pada ibunya lagi. • Masa dewasa meliputi tetesan yaitu upacara anak menamatkan Alquran dan khitanan yaitu upacara sunatan (khitanan). • Masa perkawinan, terdiri atas empat tahap upacara yaitu lamaran, asok tukon, ijab kabul, dan panggih.

• Masa kematian, terdiri atas upacara surtanah, nelung dina, mitung dina, matang puluh dina, nyatus dina, dan nyewu. Upacara surtanah diadakan setelah penguburan jenazah dengan tujuan agar arwah/roh mendapatkan tempat yang layak di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

Upacara nelung upacara adat jawa timur, mitung dina, matang puluh dina, dan nyatus dina dimaksudkan untuk memohonkan pengampunan bagi almarhum kepada Tuhan Yang Maha Esa. Upacara nyewu merupakan rangkaian penutup dari seluruh upacara kematian seseorang. Dalam upacara adat perkawinan suku Madura di Kabupaten Sumenep terdiri atas beberapa tahap, yaitu tahap upacara ngangini atau memberi angin (memberi kabar), arabar pagar atau membabat pagar (perkenalan antar orang tua), alamar nyaba "jaIan", ater tolo (mengantar bedak perlengkapan kecantikan, beras, pakaian adat untuk Lebaran), dan nyeddek temmo (penentuan tanggal dan hari pelaksanaan perkawinan).

Jenis upacara adat Provinsi Jawa Timur yang berhubungan dengan keagamaan, kepercayaan, dan peristiwa alam antara lain Mayang Kubro di Kabupaten Mojokerto; Nyadar di Kabupaten Sumenep; Karo, Kapat, Kawulu, Kasanga, dan Kasodo di Tengger; Ngarah Jodang, Rebo Wekasan, Kebo-Keboan, Gredoan, dan Pagerwesi di Kabupaten Banyuwangi; Mekiyis di Pulau Merah; Komantan Soddu’ di Kabupaten Bondowoso; nyadran di Kabupaten Sidoarjo; serta Larung Sesaji di Kabupaten Blitar dan Magetan.

Baca juga: Beberapa Makanan dan Minuman Khas Jawa Timur Rumah Adat Jawa Timur Lengkap, Gambar dan Penjelasannya Bahasa Daerah Jawa Timur Lengkap Penjelasannya Upacara Kasodo diselenggarakan setiap tahun pada bulan purnama.

Melalui upacara tersebut, masyarakat Tengger memohon panen yang berlimpah atau meminta tolak bala dan kesembuhan atas berbagai penyakit. Upacara tersebut dilakukan dengan mempersembahkan sesaji upacara adat jawa timur melemparkannya ke kawah Gunung Bromo.

Masyarakat Tengger lainnya harus berada di tebing kawah dan meraih untuk menangkap sesaji yang dilemparkan ke dalam kawah. Upacara labuh sesaji salah satu acara tahunan yang diselenggarakan di Telaga Sarangan.

Upacara tersebut diadakan pada bulan Ruwah, hari Jum’at Pon. Upacara labuh sesaji bertujuan sebagai ucapan terima kasih dari masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Masyarakat beranggapan Telaga Sarangan merupakan hadiah dari Tuhan. Telaga tersebut dianggap mendatangkan kemakmuran bagi masyarakat Magetan khususnya dan Indonesia pada umumnya.
Setiap daerah di Jawa Timur memiliki adat istiadatnya masing-masing, salah satunya adalah upacara.

Upacara adat adalah tradisi yang masih dilestarikan dan memiliki nilai bagi masyarakatnya. Setiap daerah dengan daerah yang lain memiliki upacara adat dan nilainya masing-masing. Berikut adalah upacara adat di beberapa daerah di Jawa Timur. Upacara Kebo-keboan/ Instagram @nusaku.id Kebo-keboan merupakan upacara adat yang dilakukan oleh Suku Osing, Banyuwangi, Jawa Timur.

Nama upacara diambil dari kegiatan yang dilakukan saat upacara tersebut, yakni merias diri seperti hewan kerbau, yang mana dilakukan seperti sedang membajak sawah. Tujuannya adalah sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen yang melimpah. Juga sebagai permohonan agar mendapat tanah yang subur dan tidak diserang oleh hama. Upacara turun temurun ini dilakukan setiap awal bulan suro, antara tanggal satu sampai sepuluh.

Mulanya upacara ini dilakukan ketika daerah Dusun Krajan mengalami pagebluk, yaitu adanya hama yang mengakibatkan rusaknya hasil tani dan penyakit yang diderita oleh warga sekitar.

Buyut Karti, seorang tokoh masyarakat mendapat wangsit atau mimpi untuk menirukan perilaku kerbau yang sedang membajak sawah. Ajaibnya, ketika melakukan upacara ini, hama mendadak hilang dan warga yang sakit menjadi sembuh.

Maka dari itu, upacara ini dilakukan setiap tahun dan dilestarikan hingga saat ini. Baca Juga: 7 Rekomendasi Cafe dengan Spot Instagramable di Bangkalan Upacara DAM Bagong/ Instagram @budayaaku Masih berkaitan dengan hewan kerbau, petani di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur juga memiliki upacara adatnya sendiri.

Dilakukan pelemparan kepala kerbau yang baru disembelih ke Bendungan DAM Bagong, yang nantinya akan diperebutkan oleh masyarakat. Setelah itu dilanjutkan dengan ruwatan wayang kulit dengan membawakan cerita Udan Mintoyo.

Langkah terakhirnya adalah melakukan ziarah ke makam Menak Sopal, seorang leluhur pahlawan tani yang membuat DAM Bagong. Upacara ini dilakukan pada Jumat Kliwon, diawal Bulan Selo. Upacara ini merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Juga sebagai peringatan terhadap jasa yang telah dilakukan oleh Menak Sopal karena telah membuat pusat irigasi persawahan.

Upacara Keduk Beji/ Instagram @kampoengngawi Selanjutnya terdapat upacara yang dilakukan setiap hari Selasa Kliwon menjelang Bulan Suro oleh warga Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Upacara yang hanya boleh dilakukan oleh laki-laki ini diawali dengan pengedukan atau dibersihkannya sendang (kolam) dari kotoran seperti sampah dan dedaunan, serta melakukan adegan saling memukul menggunakan ranting. Ketika melakukan hal tersebut, terdapat iringan tabuhan gendang.

Selanjutnya terdapat tari persemahan Galih Nogo Seno. Lalu ada penyileman yang dilakukan oleh keturunan Raden Ludrojoyo. Penyileman adalah kegiatan penyelaman ke pusat sumber air untuk mengganti kendi yang berada dalam goa.

Kendi tersebut harus diganti setiap tahun agar sumber air tetap bersih. Selanjutnya dilakukan dengan penyiraman air legen ke dalam sumber air beji dan adanya penyeberangan sesaji dari timur ke barat sumber. Rangkaian upacara yang terakhir adalah melakukan selametan (makan bersama). Raden Ludrojoyo adalah seorang tokoh masyarakat yang hilang saat melakukan Tapa Kungkum (berendam) di Sendang Tawun untuk mencari ketenangan dan kesejahteraan hidup. Upacara ini dilakukan sebagai bentuk peringatan atas hilangnya Raden Ludrojoyo.

www.freepik.com Sandhur adalah upacara berupa tarian yang bertujuan untuk meminta hujan, menjamin sumur penuh dengan air, dan menghindari bencana yang akan terjadi. Tarian dilakukan dengan iringan musik dan nyanyian. Gerakannya seperti gerakan tarian daerah setempat yang mengikuti irama.

Masyarakat yang melakukan upacara ini terkadang sampai mengalami kesurupan, sehingga diperlukan adanya dukun yang menjadi mediator dalam dialog dengan makhluk tak kasat mata. Sebelum melakukan upacara, terdapat dukun yang membacakan doa dalam Bahasa Madura dan Arab. Upacara yang dilakukan oleh masyarakat Madura, Jawa Timur upacara adat jawa timur dilakukan di persimpangan jalan.

Tujuannya adalah untuk membuang pengaruh negatif yang ada. Beberapa daerah di Madura yang melestarikan upacara ini adalah daerah batuputih, Pasongsongan, Saronggi, dan lain-lain.

Instagram Tidak hanya di Madura, upacara meminta hujan juga ada di Tulungagung, tepatnya yaitu di Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat. Upacara ini dilakukan saat musim kemarau yang panjang. Upacara manten kucing tidak memiliki tujuan untuk mengawinkan sepasang kucing. Nama tersebut merujuk pada sepasang kucing yang diarak menuju Telaga Coban untuk dimandikan.

upacara adat jawa timur

Tidak sembarang kucing yang digunakan dalam upacara ini, melainkan harus kucing jantan dari sisi timur dan kucing betina dari sisi barat Desa Pelem. Upacara telah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Dimana pada saat itu terdapat seorang pendatang bernama Eyang Sangkrah.

Ia berada di Telaga Coban untuk memandikan dua ekor kucing. Tak lama setelah itu, turunlah hujan. Hal tersebut diyakini dan dipercaya hingga saat ini.

Upacara Manten Pegon/ Instagram @arviandm Upacara yang satu ini barulah tentang rangkaian dari sebuah pernikahan, yang mana pihak mempelai pengantin laki-laki menemui pihak mempelai pengantin perempuan dengan cara diarak.

Setelah pengantin laki-laki bertemu dengan pasangannya, mereka kembali diarak keliling oleh rombongan yang ada. Tak hanya itu, terdapat beberapa rangkaian dalam upacara ini, yaitu adanya perebutan ayam jago, penyerahan mahar, penciuman tangan, dan perebutan bubak kawah (perlengkapan dapur). Sepasang pengantin tersebut mengenakan busana dan riasan yang merupakan gabungan dari budaya Jawa, China, Belanda, dan Arab. Untuk pengantin perempuannya mengenakan rok dan blouse panjang berwarna soft, seperti kuning, merah muda, atau biru muda.

Juga dilengkapi dengan sarung tangan dan stocking berwarna senada. Sedangkan untuk pengantin laki-laki mengenakan celana panjang dan jubah. Juga dilengkapi dengan topi berbentuk sorban dan selempang. Upacara temu manten pegon terkenal di Kota Surabaya, Jawa Timur. Upacara Kungkum Sinden/ Instagram @official_dutapemudajombang Yang terakhir adalah upacara kungkum sinden, yaitu proses wisuda para sinden yang telah berlatih dan siap untuk tampil ke hadapan publik.

Para sinden tersebut melakukan kungkum (berendam) di Sendang Made, yang mana dipercaya memiliki khasiat untuk membuat wajah para sinden menjadi lebih bersinar. Dalam prosesnya, para sinden berbaris dan berjalan beriringan menuju area Sendang.

Kemudian kepala mereka disiram dengan air sendang satu persatu. Upacara ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Airlangga. Raja Airlangga datang ke Pulau Jawa untuk menikah dengan putri dari Raja Dharmawangsa. Namum di hari pernikahannya mereka mendapat serangan dari Raja Wura Wari.

Mereka dan dayang-dayangnya upacara adat jawa timur kabur ke beberapa daerah, salah satunya adalah Sendang Made. Mereka menyamar menjadi pelaku seni dan mengamen setiap melintas desa-desa. Paras cantik dan suara merdu yang mereka miliki membuat upacara adat jawa timur terpanah. Hingga Airlangga memiliki pekerjaan baru untuk melatih putri-putri desa bernyanyi dan menjadi sinden seperti dayang-dayangnya.

Karena telah menyusuri banyak hutan, mereka disuruh untuk membersihkan diri di sendang. Hingga saat ini, upacara tersebut terus dilestarikan. Baca Juga: 7 Tarian Jawa Timur dengan Ciri Khas yang Menggambarkan Daerah Asalnya TRENDING • Bak Sultan!

Para Pedagang Pecel Lele di Lamongan Tebarkan Uang • Katib Syuriah PWNU Jatim Wafat • Viral Video Remaja Tuban Mesum di Atas Motor, Ini Kata Polisi • Sengaja Tabrakkan Diri, Pemuda Tuban Tewas • 12 Korban Perosotan Masih Dirawat di RS, 5 Sudah Boleh Pulang • Balita di Tulungagung Ditemukan Tewas di Kolam Ikan • Korban Perosotan Ambrol Kenpark Jadi 17 Orang • Investigasi Perosotan Ambrol Kenpark Libatkan Perusahaan Kanada • Polisi Periksa 5 Saksi Tragedi Perosotan Ambrol di Kenpark • Puluhan Kios di Pasar Tradisional Kediri Ludes TerbakarUpacara adat Jawa Timur (Surabaya) dan gambar serta penjelasannya informasi penting yang harus dibaca oleh semua warga Indonesia.

Dibaca oleh mereka yang cinta terhadap khazanah budaya Indonesia, mulai dari sebelum masa penjajahan, masa penjajahan sampai era kemerdekaan. Upacara adat Jawa Timur dalam bahasa Jawa banyak juga dicari oleh para siswa yang belajar di sekolah. Baik utuk membuat kliping atau ulasan terkait tradisi Indonesia.

Harapannya, para siswa itu tidak sekedar tahu saja, namun lebih mau sadar budaya sehingga tumbuh dalam dirinya untuk terus merawat dari masa ke masa. Sebelum datangnya agama Islam di nusantara, ada banyak tradisi, kebiasaan yang sudah menjadi hukum adat di masyarakat Indonesia. Sampai saat ini masih ada budaya tersebut yang terus dijaga eksistensinya.

Meski ada juga yang sudah tinggal nama saja. Pada kesempatan ini, kami akan mengulas tradisi atau kebiasaan yang ada di Jawa Timur guna melengkapi artikel sebelumnnya. Dahulu kami pernah menulis artikel upacara adat Aceh, upacara adat Sumatera Utara dan upacara adat Lampung serta upacara adat Sumatera Barat.

Anda bisa membacanya usai selesai membaca yang ini. Berikut adalah nama-nama upacara adat Jawa Timur disertai gambarnya. Daftar Isi • 1. Labuh Sesaji • 2. Kasodo • 3. Kasada • 4. Temu Manten Pegon • 5. Tahlilan Kematian • 6. Larung Ari –Ari • 7. Nakokake • 8. Peningsetan • 9. Tingkepan • 10. Babaran • 11. Sepasaran • 12. Pitonan • 13. Labuhan Pantai Ngliyep • 14. Tedhak Siten • 15.

Upacara Kebo-Keboan Di Banyu Wangi 1. Labuh Sesaji Labuh Sesaji via Okezone Tradisi Labuh Sesaji merupakan upacara adat Jawa Timur yang waktunya tahunan diselengarakan di Telaga Sarangan. Tradisi ini diadakan pada bulan Ruwah, hari Jum’at Pon yang bertujuan sebagai ucapan terima kasih dari masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Masyarakat Jawa Timur beranggapan Telaga Sarangan merupakan hadiah dari Tuhan. Telaga tersebut dianggap mendatangkan kemakmuran bagi masyarakat Magetan khususnya dan Indonesia pada umumnya.

2. Kasodo Kasodo via wisatabromotour.com Upacara Kasodo adalah salah satu upacara adat Jawa Timur yang diselenggarakan setiap tahun pada bulan purnama. Tujuan upacara tersebut, masyarakat Tengger memohon panen yang berlimpah atau meminta tolak bala dan kesembuhan atas berbagai penyakit. Tradisi ini dilakukan dengan mempersembahkan sesaji dengan melemparkannya ke kawah Gunung Bromo.

Masyarakat Tengger lainnya harus berada di tebing kawah dan meraih untuk menangkap sesaji yang dilemparkan ke dalam kawah. 3. Kasada Kasada termasuk salah satu upacara adat Jawa Timur bagi masyarakat Suku Tengger. Tujuan tradisi ini adalah salah satu wujud rasa syukur masyarakat Tengger kepada Tuhan.

Konon kabarnya, kebiasaan ini adalah upacara untuk memperingati pengorbanan seorang Raden Kusuma anak Jaka Seger dan lara Anteng. Biasanya, upacara ini dilaksanakan pada tanggal 14 sampai 16 bulan Kasada atau saat bulan purnama tampak di langit secara utuh setiap setahun sekali.

Baca : Permainan dan Olahraga Tradisional Jawa Timur Serta Cara Memainkannya 4. Temu Manten Pegon Temu Manten Pegon via Kompasiana.com Upacara adat Temu Manten Pegon Jawa Timur adalah proses pertemuan antara pihak mempelai pengantin laki – laki dengan pihak mempelai pengantin perempuan.

Tradisi ini terkenal di Kota Surabaya. Manten Pegon atau Pengantin Pegon merupakan pengantin yang dirias sedemikian rupa.

Riasan yang dilakukan merupakan akulturasi budaya antara Arab, Jawa, Belanda, dan China. Gabungan budaya tersebut menjadi upacara adat jawa timur dominan dalam busana para pengantin dan rombongan pengantin. Saat prosesi pertemuan pengantin ini dilaksanakan ternyata dengan cara diarak yaitu mengarak pihak pengantin pria dan rombongan guna menjemput pengantin perempuan dimana setelah ditemukan keduanya kembali diarak keliling oleh rombongan.

Kegiatan ini menarik perhatian warga karena berlangsung cukup meriah. 5. Tahlilan Kematian Tahlilan Kematian via WordPress Kegiatan ini juga ditemukan di Jawa Timut tepatnya di Kota Upacara adat jawa timur. Tahlilan sendiri merupakan prosesi kirim doa kepada pihak yang sudah meninggal dunia supaya arwahnya mendapatkan ketenangan dan tempat terbaik di sisi Tuhan.

Kebiasaan Tahlilan ini biasanya dilakukan pada hari ke-1, ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, 1 tahun, dan 3 tahun usai kematian dari pihak yang meninggal.

Tradisi ini merupakan perpaduan antara budaya Islam dengan budaya Hindu dimana dahulu memang terjadi proses akulturasi budaya yang hingga kini masih tetap terjaga keberadaannya di kalangan masyarakat Kota Surabaya. Tidak semua warga Jawa Timur ikut melaksanakan tradisi Tahlilan. 6. Larung Ari –Ari Larung Ari –Ari via budayajawa.id Aksi Larung Ari – Ari adalah prosesi upacara adat Jawa Timur dalam bentuk kegiatan Melarung atau menghanyutkan ari – ari si jabang bayi. Ari – ari si bayi akan dilarung bersama dengan bunga 7 rupa, kendil, kain putih, dan jarum ke laut.

Tradisi atau kebiasaan Larung Ari – Ari ini dilaksanakan dengan diiringi proses menyanyikan tembang Macapat yaitu Dhandhang Gula. Usai acara melarung Ari – Ari ini selesai maka akan ditutup dengan pesta merayakan kelahiran si bayi dengan meriah. Sebagian masyarakat masih membudayakan tradisi ini hingga sekarang. 7. Nakokake Nakokake via Blogger Acara Nakokake merupakan upacara Jawa Timur. Tradisi ini adalah sebuah prosesi dimana seorang laki – laki yang ingin melamar seorang gadis pujaannya dengan cara menanyakan atau dalam Bahasa Jawa “Nakokake”.

Menanyakan dalam hal ini adalah menanyakan kondisi status dari sang gadis pujaan hati apakah dirinya sudah memiliki pasangan pendamping atau belum. Apabila sang wanita memberikan jawabannya bahwa dirinya belum memiliki suami, maka pihak lelaki akan meneruskannya dengan prosesi lamaran ke rumah sang gadis. Nakokake ini dilakukan dengan cara mengirimkan wakil atau utusan ke pihak keluarga sang gadis. 8. Peningsetan Peningsetan via Blogger Budaya Peningsetan adalah upacara adat Jawa Timur melamar gadis yang ada di Kota Surabaya.

Saat prosesi upacara Nakokake sudah selesai dan hasilnya positif bahwa sang gadis masih single, maka Peningsetan akan segera digelar oleh pihak keluarga laki – laki dengan berkunjung ke pihak keluarga perempuan. Peningsetan sendiri adalah proses ramah tamah yang upacara adat jawa timur dengan acara makan bersama antara rombongan pihak pelamar lelaki dengan pihak yang dilamar perempuan.

Kebiasaan ini lazim dilakukan sebelum proses pernikahan digelar. Baca : Tarian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur 9. Tingkepan Tingkepan via Youtube Kebiasaan Tingkepan ialah upacara adat Jawa Timur, tepatnya didaerah Selametan. Tradisi ini dilakukan kepada ibu hamil yang usia kehamilannya sudah memasuki usia tujuh bulan. Keniasaan ini umumnya dilakukan kepada anak pertama. Alasan dilaksanakannya tradisi ini adalah pembersihan dan pemohonan doa agar anak dalam kandungannya bisa lahir dengan selamat hingga ke dunia tentunya menjadi tujuan utama dari prosesi Tingkepan ini.

10. Babaran Babaran merupakan upacara adat Jawa Timur guna merayakan kelahiran dari si anak yang sudah selamat hingga mengirup udara pertamanya di dunia ini.

Tradisi ini sebagai ungkapan atau tanda syukur kepada Sang Pencipta bahwa ibu dan anak yang diberikan keselamatan selama dalam proses melahirkan sang buah hati. Kebiasaan Babaran dikenal sebagai upacara adat yang sangat kental di kalangan warga Kota Surabaya. Tradisi ini sendiri memang merupakan kata dalam Bahasa Jawa yang berarti melahirkan. Jadi Anda tidak usah heran jika upacara untuk merayakan kelahiran sang anak dan keselamatan sang ibu dikenal dengan kata tersebut di Jawa Timur.

11. Sepasaran Sepasaran via JogjaLand.net Upacara Sepasaran Jawa Timur adalah syukuran yang dilakukan oleh keluarga yang sudah dikaruniai momongan. Pada saat sang buah hati sudah menginjak usia 5 hari. Disini pihak keluarga yang merayakannya akan membuat sebuah acara proses syukuran sebagai ungkapan tanda syukurnya karena telah dikaruniai momongan. Ada yang mengundang tetangganya dan sanak famili.

Kabarnya, tradisi ini tidak cuma dilakukan oleh masyarakat yang ada di Jawa Timur. Di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta upacara Sepasaran ini juga bisa kita temui. 12. Pitonan Pitonan via budayajawa.id Kebiasaan Pitonan termasuk salah satu upacara adat Jawa Timur. Tradisi ini adalah upacara Selametan yang digelar oleh masyarakat Kota Surabaya. Kebiasaan ini dikenal dengan tujuan merayakan kelahiran anaknya dimana usia sang anak sudah menginjak usia tujuh bulan.

Setiap ada kelahiran sang buah hati, maka upacara Pitonan sebagai wujud simbol rasa syukur mereka atas kelahiran sang buah hati sang sudah diberkahi hingga umur 7 bulan. Kebiasaan Selametan ini juga bertujuan mendoakan keselataman, rejeki, serta masa depan sang anak agar menjadi baik dan sejahtera dalam perkembangan kedepannya. Baca : Alat Musik Tradisional Jawa Timur 13. Labuhan Pantai Ngliyep Labuhan Pantai Ngiliyep via malangkab.go.id Upacara adat jawa timur ada Jawa Timur yang bernama Labuhan Pantai Ngliyep ini bertujuan untuk menjaga keselamatan para nelayan dari ganasnya ombak pantai selatan serta memohon berkah.

Kegiatan ini biasa mereka lakukan dengan cara mempersembahkan upeti kepada penguasa gaib sesuai dengan kepercayaan masyarakat setempat. Konon, upacara adat jawa timur ini sudah berlangsung sejak ratusan tahun yang silam, meskipun dulunya tidak sebesar sekarang ini. Ketika puncak acara yang disebut Labuh atau Larung, aneka sesaji makanan lezat serta berbagai hidangan sakral lainnya diceburkan ke laut.

Untuk waktu pelaksanaannya, Labuh umumnya dilaksanakan pada pertengahan bulan Maulud. 14. Tedhak Siten via Blogger Tedhak Siten merupakan upacara adat Jawa Timur yang diadakan karena adanya kepercayaan sementara orang bahwa tanah mempunyai kekuatan gaib. Selain itu adanya kepercayaan bahwa tanah dijaga oleh Bethara Kala.

Karenanya si anak perlu dikenalkan kepa­da Bathara Kala sipenjaga tanah melalui upacara yang disebut Tedhak Aiten supaya Bathara Kala tidak marah. Keyanikan masyarakat sekitar, jika Bathara Kala marah, maka akan menimbulkan suatu bencana bagi si- anak itu. 15. Upacara Kebo-Keboan Di Banyu Wangi Setiap tahun masyarakat Banyuwangi berupaya keras mempertahankan kemurnian dan kesakralan kebudayaan mereka yang bernama upacara adat Kebo-Keboan Di Banyu Wangi. Munculnya ritual kebo-keboan berawal terjadinya musibah pagebluk.

Ketika itu semua warga diserang penyakit dan tanaman diserang hama. Banyak warga kelaparan dan mati akibat penyakit misterius. Seorang sesepuh, bernama Mbah Karti mendapat wangsit dari semedinya di bukit untuk menggelar ritual kebo-keboan dan mengagungkan Dewi Sri. Keajaiban muncul ketika warga menggelar ritual kebo-keboan. Warga yang sakit mendadak sembuh. Hama yang menyerang tanaman padi sirna. Sejak itu, ritual kebo-keboan dilestarikan. Mereka takut terkena musibah jika tidak melaksanakannya.

Baca : Senjata Tradisional Jawa Timur Demikian ulasan mengenai upacara adat Jawa Timur dan gambar serta penjelasannya kami sampaikan. Ada banyak lagi upacara tradisional di Indonesia. Untuk membacanya, terus pantau perksmbngan blog ini ya.

Pos-pos Terbaru • Jual Dimsum Daerah Kecamatan Medan Tembung • Constitutional Theory: Arguments and Perspectives 4th Edition by Michael J Gerhardt • Sejarah dan Langkah Penyuguhan Dimsum Yang Enak • 5 Alamat Distributor Dimsum Medan yang terkenal dan Enak Serta Murah Halal • Waspada CUiT Aplikasi Penipuan ?
Daftar isi • 1.

Kasada Bromo • 2. Upacara Ruwatan • 3. Keduk Beji • 4. Sandhur Pantel • 5.

upacara adat jawa timur

Upacara Kebo-keboan Jawa Timur merupakan salah provinsi di Pulau Jawa yang kaya akan kebudayaannya termasuk berbagai upacara adat di dalamnya. Apa saja upacara adat yang ada di Jawa Timur? Simak pembahasannya berikut ini. 1.

upacara adat jawa timur

Kasada Bromo Upacara Kasada Bromo memiliki nama lain Yadnya Kasada yaitu upacara yang dilaksanakan oleh suku Tengger yang tinggal di kawasan pegunungan Bromo-Tengger-Semeru, Jawa Timur. Masyarakat di sana umumnya adalah pemeluk agama Hindu. Namun berbeda dengan umat Hindu lainnya yang melakukan ibadah di candi, masyarakat Hindu Tengger beribadah di kaki gunung Bromo yaitu di Pura Luhur Poten.

Bagi masyarakat Tengger, Bromo adalah gunung yang suci. Tradisi ini dilakukan setiap setahun sekali pada bulan purnama di bulan kasada atau kesepuluh menurut kalender Jawa. Tradisi ini dilaksanakan tengah malam hingga dini hari. Adapun tujuan dilakukannya upacara ini adalah sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur, memohon agar hasil panen melimpah, menolak bala, dan juga pengangkatan tabib.

Prosesi acara adat ini yaitu dengan mempersembahkan berbagai sesaji yang kemudian dilempar ke kawah gunung Bromo. Sesaji tersebut akan ditangkap oleh masyarakat Tengger lainnya yang berada di tebing kawah tersebut. 2. Upacara Ruwatan Tradisi ruwatan adalah tradisi yang ada di daerah Jawa termasuk Jawa Timur.

Tradisi ini sudah ada sejak dahulu dan masih upacara adat jawa timur hingga saat ini. “Ruwatan” diambil dari kata “ruwat” yang mempunyai makna “membuang sial”. Jadi tujuan dari upacara ruwatan adalah untuk memperoleh berkah, keselamatan, kesehatan, kedamaian, kebahagiaan, dan kesejahteraan. Pada tradisi ruwatan biasanya juga terdapat pagelaran wayang yang dipimpin oleh seorang dalang.

Dalang tersebut yang akan mencukur rambut anak-anak dalam upacara adat. Dalang dianggap sebagai penanggung jawab terhadap kesialan dan kemalangan anak tersebut karena sudah menjadi anaknya. Untuk melangsungkan upacara ruwatan membutuhkan biaya yang cukup besar, sehingga untuk memudahkan yang tidak mampu upacara ini digelar dalam lingkup desa atau dusun.

3. Keduk Beji Keduk beji adalah tradisi yang dilakukan untuk membersihkan sendang atau danau. Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat di Jawa Timur khususnya di desa Tawun, kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi.

Beji adalah nama danau yang dibersihkan karena dianggap sakral. Sendang atau danau ini merupakan sumber mata air yang mengairi kolam renang di tempat wisata dan mengairi sawah-sawah petani di sana. Rangkaian dari ritual ini adalah diawali dengan pembersihan ai sendang kemudian dilanjutkan dengan penyilepan. Pada proses penyilepan dilakukan oleh upacara adat jawa timur juru kunci ke dalam sendang untuk meletakkan kendi di dasar sendang. Kendi tersebut akan diambil pada prosesi ritual tahun berikutnya.

Ritual ini ditutup dengan pertunjukan tarian kecetan dan selamatan atau kenduri. 4. Sandhur Pantel Sandhur pantel adalah sebuah tarian yang dilakukan oleh masyarakat Madura yang diiringi oleh nyanyian penuh doa dan kekuatan mistis.

Ritual ini masih bertahan hingga kini di daerah Sampang. Tarian yang dilengkapi dengan sesajen dan tak ketinggalan air suci ini dilakukan untuk memohon hujan, persediaan air terpenuhi, menghormati makam keramat, membuang kesialan, dan menolak penyakit berbahaya. Ritual ini mengandung pesan bahwa manusia harus menjaga keselarasan serta keharmonisannya dengan alam sekitar.

Jika tidak maka akan terjadi musibah yang bisa mendatangkan bahaya bagi manusia itu sendiri. Ritual sandhur pantel biasanya dibagi ke dalam beberapa tahap yang pertama adalah tahap pementasan yang berdurasi 3-4 jam. Rangkaian selanjutnya adalah pembacaan doa-doa dan pujian yang dilakukan dalam bahasa Madura dan Arab. 5. Upacara Kebo-keboan Kebo-keboan adalah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Banyuwangi terutama oleh suku Osing (Using).

Tradisi ini memiliki hubungan erat dengan pertanian sebab ritual ini dimaksudkan untuk memohon kesuburan tanah, hasil panen yang melimpah, serta dihindarkan dari bahaya baik untuk tanaman mereka maupun para petani.

Tradisi ini bermula di dusun Krajan yang pada saat itu ladang mereka di serang oleh hama atau pagebluk yang menyebabkan petani gagal panen. Seorang tokoh masyarakat bernama Buyut Karti mencoba untuk menangani masalah tersebut dengan melakukan ritual menirukan perilaku seekor kerbau yang sedang membajak sawah.

Ritual tersebut ternyata berhasil dan sejak saat itulah ritual yang diberi nama “kebo-keboan” ini rutin diadakan setiap tahun.

Umumnya upacara ini akan dilangsungkan pada tanggal 1-10 suro karena dianggap sebagai bulan yang suci. Satu minggu sebelum diadakan upacara ini, seluruh masyarakat akan membersihkan dusun secara bersama-sama.

Recommended • 9 Prospek Kerja Lulusan Cyber Security Beserta Penjelasannya • 7 Prospek Kerja Lulusan Sastra Perancis yang Perlu diketahui • 7 Prospek Kerja Lulusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Beserta Penjelasannya • 8 Prospek Kerja Lulusan Sastra Korea yang Perlu diketahui • 10 Prospek Kerja Lulusan Sastra Mandarin Beserta Kisaran Gajinya

Upacara adat istiadat jawa timur Indonesia




2022 www.videocon.com